Author Topic: Our Daily Bread / RBC Indonesia  (Read 125947 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

June 13, 2019, 04:16:14 PM
Reply #2310
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22581
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Hanya Bocah Gelandangan
  13/06/2019 
Hanya Bocah Gelandangan
Baca: 1 Petrus 2:4-10 | Bacaan Alkitab Setahun: Ezra 6–8 ; Yohanes 21
00:00
Unduh MP3


https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-06-13.mp3

Kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri. —1 Petrus 2:9

“Oh, hanya bocah gelandangan,” bisik seseorang dengan nada menghina ketika Rodney Smith berjalan ke depan kapel untuk menerima Kristus dalam sebuah kebaktian di tahun 1877. Tidak ada yang memperhitungkan anak remaja dari sepasang gelandangan yang tidak berpendidikan itu. Namun, Rodney tidak menggubrisnya. Ia yakin Allah memiliki tujuan atas hidupnya sehingga ia membeli sendiri Alkitab dan kamus bahasa Inggris, serta belajar membaca dan menulis secara mandiri. Ia pernah berkata, “Jalan kepada Yesus bukanlah melalui Cambridge, Harvard, Yale, atau lewat para pujangga. Hanya . . . melalui bukit kuno bernama Golgota.” Di luar perkiraan banyak orang, Rodney dipakai Allah dengan luar biasa sebagai penginjil yang membawa banyak jiwa percaya kepada Yesus di Inggris dan Amerika Serikat.

Petrus juga orang yang sederhana—tidak berpendidikan dalam agama (Kis. 4:13), seorang nelayan dari Galilea—ketika Yesus memanggilnya dengan dua kata yang singkat: “Ikutlah Aku” (Mat. 4:19). Namun Petrus yang sama, sekalipun tidak terpelajar dan pernah gagal di tengah jalan, kemudian menegaskan bahwa semua yang mengikut Yesus adalah “bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri” (1Ptr. 2:9).
Melalui Yesus Kristus, semua orang dapat menjadi bagian dari keluarga Allah dan dipakai oleh-Nya.

Melalui Yesus Kristus, semua orang—apa pun latar belakang pendidikan, lingkungan, jenis kelamin, atau etnik mereka—dapat menjadi bagian dari keluarga Allah dan dipakai oleh-Nya. Semua yang percaya kepada Yesus Kristus adalah “umat kepunyaan Allah sendiri”.
Apa artinya bagi Anda menjadi bagian dari bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, umat kepunyaan Allah sendiri? Bagaimana Anda dikuatkan oleh kenyataan bahwa Allah dapat memakai Anda untuk memuliakan nama-Nya?
Ya Allah, aku berterima kasih karena identitasku yang sejati ditemukan di dalam Engkau.
Oleh Estera Pirosca Escobar | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Tulisan Petrus dalam Perjanjian Baru menunjukkan bahwa ia tahu banyak tentang Kitab Suci Yahudi (yang kita kenal sebagai Perjanjian Lama). Dalam 1 Petrus 2 saja, Petrus mengutip atau menyinggung setidaknya lima bagian kitab yang berbeda. Pada ayat 6, rujukannya adalah Yesaya 28:16, ayat ke-7 diambil dari Mazmur 118:22, dan ayat ke-8 dari Yesaya 8:14. Pilihan kata-kata dalam ayat ke-9, yang merujuk pada para orang percaya, berasal Keluaran 19:5-6 untuk menggambarkan bangsa Israel: “Kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, . . . Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus." Tulisan Nabi Hosea (Hosea 1:6, 9-10) pun dipakai Petrus ketika ia menulis 1 Petrus 2:10, “Kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan.”

Arthur Jackson





June 14, 2019, 01:49:20 PM
Reply #2311
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22581
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Komunikasi yang Jelas
  14/06/2019 
Komunikasi yang Jelas
Baca: Roma 8:18-27 | Bacaan Alkitab Setahun: Ezra 9–10 ; Kisah Para Rasul 1
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-06-14.mp3

Roh membantu kita dalam kelemahan kita. Sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. —Roma 8:26

Saat sedang bepergian di Asia, iPad saya (yang berisi bahan bacaan dan banyak dokumen kerja) tiba-tiba mati total. Saat mencari bantuan, saya menemukan toko komputer tetapi mengalami masalah lain—saya tidak dapat berbicara bahasa Mandarin dan si teknisi toko tidak dapat berbicara bahasa Inggris. Solusinya? Dia membuka suatu program lalu mengetik dalam bahasa Mandarin, lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Sebaliknya, ketika saya menjawab dalam bahasa Inggris dan ia pun dapat membacanya dalam bahasa Mandarin. Program itu memungkinkan kami untuk berkomunikasi dengan jelas, bahkan dalam bahasa yang berbeda.

Adakalanya saya merasa kesulitan untuk berkomunikasi dan menyampaikan isi hati saya kepada Allah Bapa di surga. Banyak orang juga merasa sulit berdoa. Namun, Rasul Paulus menulis, “Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus” (Rm. 8:26-27).
ROH KUDUS memampukan kita berdoa!

Betapa menakjubkannya karunia ROH KUDUS! Lebih baik daripada program komputer apa pun, Dia menyampaikan pikiran-pikiran dan keinginan-keinginan saya dengan jelas hingga selaras dengan maksud Allah Bapa. ROH KUDUS memampukan kita berdoa!
Tantangan apa yang Anda alami dalam kehidupan doa? Bagaimana cara Anda bersandar kepada ROH KUDUS dalam kerinduan untuk berdoa dengan lebih sungguh?
Bapa, aku berterima kasih kepada-Mu atas karunia Roh-Mu dan hak istimewa untuk berdoa. Tolonglah aku bersandar kepada Roh-Mu di saat-saat aku tidak tahu bagaimana harus berdoa.
Oleh Bill Crowder | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Dalam surat Roma pasal 8, Paulus menggunakan kata “keluh” tiga kali (“mengeluh” ay.22-23; “keluhan” ay.26). Akan tetapi, setiap keluhan disertai dengan pengharapan: segala makhluk mengeluh seperti seorang ibu yang sakit bersalin (ay.22). Setelah mengecap “karunia sulung” dari Roh Kristus, kita mengeluh menantikan hari esok yang lebih baik (ay.23-25; lihat juga Galatia 5:22-23). Selagi kita mengeluh, Roh Allah pun mengeluh bersama kita dan untuk kita (Roma 8:26-27)—sebab Dia jauh lebih mengerti bahwa tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah dalam Yesus Kristus (ay.31-39).

Mart DeHaan





June 15, 2019, 06:18:15 AM
Reply #2312
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22581
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Kata-kata Yang Melukai
  15/06/2019 
Kata-kata Yang Melukai
Baca: 1 Samuel 1:1-8 | Bacaan Alkitab Setahun: Nehemia 1–3 ; Kisah para rasul 2:1-21
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-06-15.mp3

Ada orang yang lancang mulutnya seperti tikaman pedang, tetapi lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan. —Amsal 12:18

“Tulang belulang,” ejek seorang anak. “Kerempeng,” yang lain menimpali. Saya bisa saja membalas mereka dengan mengatakan bahwa kata-kata tidak akan bisa menyakiti saya. Namun, walaupun waktu itu saya masih kecil, saya tahu itu tidak benar. Kata-kata kasar yang dilontarkan dengan seenaknya memang menyakitkan—bahkan meninggalkan luka yang lebih dalam dan membekas lebih lama daripada rasa pedih akibat kekerasan fisik.

Hana mengalami sendiri bagaimana kata-kata kasar dapat begitu menyakitkan hati. Suaminya, Elkana, mencintainya, tetapi Hana tidak memiliki anak, sementara Penina, si istri kedua, memiliki banyak anak. Dalam budaya yang sering menilai wanita dari kesanggupannya memberi keturunan, Penina terus “menyakiti hati” Hana karena kemandulannya. Hana pun menangis dan tidak mau makan (1Sam. 1:6-7).
Tuhan, terima kasih untuk pemulihan dan pengharapan dari-Mu!

Meskipun bermaksud baik, Elkana menunjukkan respons yang kurang peka dengan bertanya, “Hana, mengapa engkau menangis? . . . Bukankah aku lebih berharga bagimu dari pada sepuluh anak laki-laki?” (ay.8). Tanggapan Elkana tidak juga meringankan kepedihan hati Hana.

Seperti Hana, banyak dari kita pernah disakiti oleh kata-kata yang menyakitkan. Ada di antara kita yang menanggapi perasaan sakit hati itu dengan melontarkan kata-kata kasar yang juga menyakiti orang lain. Akan tetapi, kita semua boleh datang kepada Allah untuk memohon kekuatan dan pemulihan dari-Nya. Karena Allah sayang dan berbelaskasihan atas kita (Mzm. 27:5,12-14), Dia senang mengucapkan kata-kata yang penuh dengan kasih dan berkat kepada kita.
Kapan Anda pernah dilukai oleh kata-kata kasar? Bagaimana Anda mengatasinya? Adakah seseorang yang saat ini perlu mendengar kata-kata Anda yang penuh kasih?
Tuhan, terima kasih untuk pemulihan dan pengharapan dari-Mu! Tolonglah kami membawa luka hati kami kepada-Mu—dan selalu menjaga perkataan kami. Berilah kami hikmat dan kesabaran untuk berpikir sebelum berbicara.
Oleh Alyson Kieda | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Latar belakang sejarah di balik 1 Samuel pasal 1 sangatlah penting untuk memahami kejadian-kejadian yang dicatat dalam kitab ini. Peristiwa 1 Samuel terjadi pada akhir masa hakim-hakim, tetapi belum memasuki zaman raja-raja. Menjembatani celah antara kedua zaman tersebut adalah Samuel, putra yang dilahirkan oleh Hana doa-doanya di kemah suci di Silo (1:9-20). Peran Samuel dalam masa peralihan dari hakim-hakim sampai raja-raja menjadikannya hakim yang terakhir sekaligus nabi yang pertama. Sebagai nabi, ia kelak bertanggungjawab mengurapi dua raja Israel yang pertama: Saul, raja yang dikehendaki rakyat (10:17-24); dan Daud, seseorang yang berkenan di hati Allah (13:14).

Bill Crowder





June 16, 2019, 04:53:37 AM
Reply #2313
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22581
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Juruselamat yang Mengenal Kita
  16/06/2019 
Juruselamat yang Mengenal Kita
Baca: Yohanes 1:43-51 | Bacaan Alkitab Setahun: Nehemia 4–6 ; Kisah Para Rasul 2:22-47
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-06-16.mp3

Kata Natanael kepada-Nya: “Bagaimana Engkau mengenal aku?” —Yohanes 1:48

“Ayah, jam berapa sekarang?” tanya putra saya dari kursi belakang. “Jam setengah enam.” Saya tahu pasti apa yang akan ia katakan selanjutnya. “Salah! Sekarang masih setengah enam kurang dua menit!” Saya perhatikan wajahnya yang sangat gembira, seakan hendak mengatakan, “Kena deh!” Saya juga merasa senang, karena sebagai orangtua, saya mengenal persis kebiasaan anak saya.

Seperti orangtua mana pun yang penuh perhatian, saya mengenal anak-anak saya. Saya tahu bagaimana reaksi mereka ketika saya membangunkan mereka dari tidur. Saya tahu apa yang mereka inginkan untuk makan siang. Saya tahu minat, keinginan, dan pilihan mereka yang begitu beragam.
Yesus mengenal kita masing-masing dengan sangat baik, utuh, dan sempurna.

Namun demikian, saya tidak akan pernah benar-benar mengenal mereka dengan sempurna seperti Tuhan mengenal kita masing-masing.

Di Yohanes 1, kita dapat melihat sekilas pengetahuan mendalam yang Yesus miliki atas murid-murid-Nya. Natanael didesak Filipus untuk menemui Yesus, dan ketika ia menghampiri-Nya, Yesus berseru: “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!” (ay.47). Dengan terkejut, Natanael berkata kepada-Nya, “Bagaimana Engkau mengenal aku?” Dengan jawaban yang agak misterius, Yesus berkata bahwa Dia telah melihat Natanael di bawah pohon ara (ay.48).

Kita mungkin tidak mengerti alasan Yesus mengungkapkan fakta tersebut, tetapi kelihatannya Natanael mengerti! Karena takjub, ia pun menjawab, “Rabi, Engkau Anak Allah!” (ay.49).

Yesus mengenal kita masing-masing dengan sangat baik, utuh, dan sempurna—sesuatu yang selalu kita rindukan. Dia pun menerima kita sepenuhnya, dan mengundang kita, bukan hanya menjadi pengikut-Nya, melainkan juga menjadi sahabat terkasih-Nya (Yoh. 15:15).
Bagaimana perasaan Anda setelah menyadari bahwa Anda dikenal seutuhnya oleh Yesus, Tuhan kita?
Tuhan Yesus, terima kasih sudah mengundangku untuk mengikut-Mu di sepanjang lika-liku hidupku.
Oleh Adam Holz | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Dua belas rasul (para murid Yesus) disebutkan namanya dalam Matius 10:2-4, Markus 3:16-19, dan Lukas 6:14-16 (ketiganya dikenal sebagai Injil Sinoptik karena serupa dalam isi dan urutan), tetapi tidak dalam Injil Yohanes. Namun, Yohanes menceritakan bagaimana lima murid Yesus (hanya empat yang disebut namanya: Andreas, Petrus, Filipus, dan Natanael) bertemu dengan Dia untuk pertama kalinya (Yohanes 1:35-51). Karena Natanael tidak disebut sebagai salah satu dari dua belas rasul dalam Sinoptik, hal ini membangkitkan pertanyaan mengenai identitasnya. Para pakar Alkitab berpendapat bahwa Natanael adalah orang yang sama dengan Bartolomeus. Ada dua alasan pendukung. Pertama, Natanael tidak disebutkan dalam Injil Sinoptik dan Bartolomeus tidak disebutkan dalam Injil Yohanes (artinya, kemungkinan dua tulisan itu memakai nama berbeda untuk menyebut orang yang sama). Kedua, karena Filipus dan Bartolomeus selalu disebutkan bersamaan, sementara Filipus disebutkan bersama dengan Natanael dalam Yohanes1:43-45, para ahli menyimpulkan bahwa Bartolomeus dan Natanael adalah orang yang sama.




June 17, 2019, 05:35:16 AM
Reply #2314
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22581
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Pelajaran Gambar Orang-Orangan
  17/06/2019 
Pelajaran Gambar Orang-Orangan
Baca: 2 Korintus 10:1-11 | Bacaan Alkitab Setahun: Nehemia 7–9 ; Kisah Para Rasul 3
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-06-17.mp3

Tindakan kami, bila berhadapan muka, sama seperti perkataan kami dalam surat-surat kami, bila tidak berhadapan muka. —2 Korintus 10:11

Konselor saya pernah menggambar orang-orangan di atas sehelai kertas. Ia menamai gambar itu sebagai aspek “pribadi” dirinya. Kemudian ia menggambar garis yang mengelilingi orang-orangan tadi, kira-kira satu setengah sentimeter lebih besar, dan menyebut itu sebagai aspek dirinya “di depan umum”. Perbedaan kedua sosok orang-orangan tersebut, yang pribadi dan yang di depan umum, menggambarkan tingkat integritas yang kita miliki.

Saya pun mencerna hal tersebut, sambil bertanya dalam hati, Apakah diri saya di depan umum sama dengan diri saya saat sedang sendirian? Apakah saya mempunyai integritas?
Jalanilah hidup agar saat orang memikirkan kejujuran dan integritas, mereka dapat melihatnya dalam hidup Anda.

Paulus menulis surat-surat untuk jemaat di Korintus, memadukan kasih dan disiplin dalam pengajaran-pengajarannya tentang menjadi serupa dengan Yesus. Di dalamnya, ia pernah menegur orang-orang yang meragukan integritasnya dan mengatakan bahwa tulisannya “tegas dan keras, tetapi bila berhadapan muka sikapnya lemah” (2Kor. 10:10). Para pengecamnya menggunakan kefasihan berbicara untuk mendapatkan uang dari para pendengar. Walaupun Paulus cakap secara akademis, ia memberitakan firman Allah dengan sederhana dan lugas. Ia menulis, “Perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh” (1Kor. 2:4). Di surat berikutnya, ia menegaskan integritasnya: “Hendaklah orang-orang yang berkata demikian menginsafi, bahwa tindakan kami, bila berhadapan muka, sama seperti perkataan kami dalam surat-surat kami, bila tidak berhadapan muka” (2Kor. 10:11).

Paulus menunjukkan bahwa dirinya sama di depan umum maupun ketika sedang sendirian. Bagaimana dengan kita?
Dengan cara apa Anda menyatukan aspek pribadi dengan aspek umum kehidupan Anda? Bagaimana Anda dapat lebih memuliakan Allah dengan integritas diri Anda?
Ya Allah, tolong aku untuk jujur dan menjadi diriku sendiri di hadapan-Mu, supaya aku bisa hidup dengan integritas yang sama di hadapan sesamaku.
Oleh Elisa Morgan | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Dalam 2 Korintus 10:4, Paulus menulis, “Senjata [orang Kristen] dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng” (rintangan dari dosa dan kejahatan yang melawan kebenaran Allah). Senjata rohani ini termasuk kebenaran, keadilan, iman, ROH KUDUS, firman Allah, kasih, dan pengharapan akan keselamatan (Efesus 6:11-17; 1 Tesalonika 5:8). Kita melawan kejahatan melalui hubungan dengan Allah Anak dan kuasa doa serta firman Allah.

Alyson Kieda






June 18, 2019, 05:22:51 AM
Reply #2315
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22581
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Menyelamatkan Penjahat
  18/06/2019 
Menyelamatkan Penjahat
Baca: Daniel 3:26-30 | Bacaan Alkitab Setahun: Nehemia 10–11 ; Kisah Para Rasul 4:1-22
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-06-18.mp3     

Terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego! Ia telah mengutus malaikat-Nya dan melepaskan hamba-hamba-Nya! —Daniel 3:28

Para pahlawan dari cerita-cerita komik masih tetap populer sampai sekarang. Di tahun 2017 saja, enam film pahlawan super tercatat meraih pendapatan total lebih dari empat milyar dolar AS. Mengapa orang begitu tertarik pada film-film laga seperti itu?

Salah satunya, mungkin, karena ada bagian-bagian dalam cerita-cerita tersebut yang mirip dengan Kisah Agung Allah yang luar biasa. Di dalamnya ada pahlawan, penjahat, orang-orang yang butuh pertolongan, dan banyak aksi yang seru.
Yesus berdoa bagi mereka yang menganiaya Dia. Kita pun bisa melakukannya.

Dalam kisah Allah, Iblis, musuh jiwa kita, adalah penjahat terbesarnya. Namun, banyak penjahat “kecil” lain di sana. Salah satunya adalah Nebukadnezar dalam kitab Daniel. Raja adikuasa pada masanya itu memutuskan untuk menghabisi siapa pun yang tidak menyembah patung raksasanya (Dan. 3:1-6). Ketika ada tiga pejabat Ibrani berani menolaknya (ay.12-18), Allah menyelamatkan mereka secara dramatis dari perapian yang menyala-nyala (ay.24-27).

Kemudian terjadilah yang tidak disangka-sangka—hati si penjahat mulai berubah. Setelah melihat peristiwa menakjubkan itu, Nebukadnezar berkata, “Terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego!” (ay.28).

Namun, ia masih mengancam akan membunuh siapa pun yang menghina Allah (ay.29). Rupanya ia belum paham bahwa Allah tidak membutuhkan bantuannya. Kelak, Nebukadnezar akan belajar lebih banyak tentang Allah di pasal 4.

Kita melihat bahwa Nebukadnezar bukan hanya seorang penjahat, melainkan juga seseorang yang sedang berada dalam perjalanan rohani. Dalam kisah tentang karya penebusan Allah, pahlawan kita, Yesus Kristus, datang kepada setiap orang yang membutuhkan pertolongan—termasuk orang-orang jahat di sekitar kita.
Apakah Anda tahu seseorang yang perlu ditolong Allah? Apa yang bisa Anda lakukan untuk menolongnya?
Yesus berdoa bagi mereka yang menganiaya Dia. Kita pun bisa melakukannya.
Oleh Tim Gustafson | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Ada hal menarik dalam Daniel 3, yakni kontrasnya pengakuan terhadap kuasa Allah . Ketika Sadrakh, Mesakh, dan Abednego akan dilemparkan ke dalam perapian yang menyala-nyala, Nebukadnezar tidak percaya bahwa Allah mereka dapat menyelamatkan, ia berkata, “Dewa manakah yang dapat melepaskan kamu dari dalam tanganku?” (ay.15). Namun, ketiganya mendeklarasikan kuasa Allah dan komitmen mereka kepada-Nya dengan berani, “Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami” (ay.17). Akhirnya, ketika mereka keluar dari perapian dan berdiri di hadapan raja beserta pembesarnya tanpa terluka—“rambut di kepala mereka tidak hangus” (ay.27)—Nebukadnezar sendirilah yang dengan tegas mengakui kuasa dan kemuliaan Allah: “Terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego! Ia telah mengutus malaikat-Nya dan melepaskan hamba-hamba-Nya” (ay.28).





June 19, 2019, 05:48:26 AM
Reply #2316
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22581
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


https://santapanrohani.org/

Dalam Kelemahan Kita
  19/06/2019 
Dalam Kelemahan Kita
Baca: Roma 8: 1- 2, 10- 17 | Bacaan Alkitab Setahun: Nehemia 12– 13 ; Kisah Para Rasul 4: 23- 37
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-06-19.mp3

Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita. —Roma 8:26

Anne Sheafe Miller meninggal dunia pada tahun 1999 dalam usia 90 tahun, tetapi ia pernah hampir kehilangan nyawanya pada tahun 1942 setelah menderita septicemia (keracunan darah) dari peristiwa keguguran yang dialaminya. Pada saat itu semua perawatan yang diberikan tidak membuahkan hasil. Saat salah seorang pasien di rumah sakit yang merawat Anne bercerita tentang seorang ilmuwan kenalannya yang sedang meneliti obat baru yang sangat manjur, dokter yang menangani Anne mendesak pemerintah untuk memberikan sedikit dari obat baru itu kepada Anne. Hanya dalam satu hari, suhu tubuhnya kembali normal! Obat bernama penisilin itu telah menyelamatkan nyawa Anne.

Sejak kejatuhannya ke dalam dosa, seluruh umat manusia menjadi bobrok secara rohani karena dosa (Rm. 5:12). Hanya kematian dan kebangkitan Yesus serta kuasa ROH KUDUS yang sanggup memulihkan kita (8:1-2). ROH KUDUS memampukan kita menikmati kehidupan yang berlimpah di dunia dan untuk selamanya di dalam hadirat Allah (ay.3-10). “Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu” (ay.11).
Hanya kematian dan kebangkitan Yesus serta kuasa ROH KUDUS yang sanggup memulihkan kita (Roma 8:1-2).

Ketika watak dosa mengancam untuk menguras semangat hidup Anda, pandanglah sumber keselamatan Anda, Yesus Kristus, dan kiranya Anda dikuatkan oleh kuasa Roh-Nya (ay.11-17). “Roh membantu kita dalam kelemahan kita” dan “sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus” (ay.26-27).
Pada bagian apa Anda perlu mengalami Kristus dan kuasa ROH KUDUS? Bagaimana Anda bisa lebih peka terhadap kehadiran dan karya ROH KUDUS?
Bapa di surga, terima kasih untuk Anak-Mu yang Kau karuniakan dan kuasa ROH KUDUS yang memampukanku menikmati kehidupan sejati di dalam-Mu.
Oleh Ruth O’Reilly-Smith | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Dalam kekaisaran Romawi abad pertama, surat Paulus kepada jemaat Roma adalah pernyataan publik yang berani dan berbahaya. Ia menulis kepada para pengikut Yesus yang tinggal dalam ibukota kerajaan, menyatakan ketaatan terhadap Kristus melebihi Kaisar (1:7). Paulus menjelaskan bagaimana kebangkitan Anak Allah telah mengalahkan maut (ps.1–5)—suatu kabar yang lebih baik daripada kemenangan militer Roma. Untuk memperoleh kehidupan kekal, ia menawarkan jalan masuk kepada identitas baru dalam Kristus (ps.6), kebebasan dari kegagalan dari hidup berdasarkan Taurat (ps.7), dan satu jalan untuk hidup selamanya dalam Roh dan kasih Allah (ps.8).

Mart DeHaan



June 20, 2019, 07:32:43 AM
Reply #2317
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22581
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Hadir dalam Badai
  20/06/2019 
Hadir dalam Badai
Baca: Mazmur 46 | Bacaan Alkitab Setahun: Ester 1–2 ; Kisah Para Rasul 5:1-21
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-06-20.mp3


Tuhan semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub. —Mazmur 46:8

Api melahap habis rumah sebuah keluarga yang beranggotakan enam orang jemaat gereja kami. Walaupun ayah dan anak laki-lakinya selamat, sang ayah masih dirawat di rumah sakit ketika istri, ibu, dan dua anaknya yang masih kecil dimakamkan. Sayangnya, peristiwa-peristiwa memilukan hati seperti itu masih terus terjadi, lagi dan lagi. Ketika hal seperti itu terjadi, muncul pula pertanyaan yang terus-menerus ditanyakan manusia: Mengapa hal-hal buruk terjadi kepada orang-orang baik? Kita pun tidak lagi heran saat mendapati bahwa jawaban atas pertanyaan itu tidak selalu memuaskan.

Namun, kebenaran yang dinyatakan oleh pemazmur di Mazmur 46 juga sudah disampaikan, dinyanyikan, dan diyakini berulang kali. “Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti” (ay.2). Kondisi-kondisi yang digambarkan di ayat 3-4 merupakan bencana-bencana besar—bumi dan gunung berguncang serta air laut mengamuk. Kita bergidik saat membayangkan berada di tengah badai yang digambarkan dalam mazmur ini. Namun, terkadang kita memang terhisap dalam pusaran kesulitan—diguncang oleh penyakit mematikan, babak belur dihajar krisis keuangan, atau tenggelam dalam rasa duka yang mendalam karena kepergian orang yang dicintai.
Allah sungguh baik, penuh kasih, dan dapat dipercaya.

Mungkin kita sempat berpikir bahwa masalah yang datang bertubi-tubi menjadi bukti Allah tidak hadir. Namun, kebenaran Alkitab menyanggah pemikiran itu. “Tuhan semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub” (ay.8,12). Dia hadir pada saat kita tidak lagi sanggup menanggung beban yang ada, dan penghiburan pun kita terima dengan mempercayai sifat-sifat-Nya, yakni bahwa Dia sungguh baik, penuh kasih, dan dapat dipercaya.
Kapan tantangan dalam hidup ini membuat Anda mempertanyakan kehadiran Allah? Apa yang telah menolong Anda berbalik dari situasi tersebut?
Bapa, tolonglah aku untuk mempercayai kebenaran firman-Mu di saat aku sulit merasakan pemeliharaan dan kehadiran-Mu.
Oleh Arthur Jackson | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Mazmur 46 berbicara tentang keamanan dan keteguhan yang disediakan Allah di tengah masa sulit. Bencana alam (ay.3-4) dan konflik peperangan (ay.7-8) akan selalu ada di dunia ini. Gempa, badai, taifun, dan konflik militer telah menyebabkan kehancuran dan kerusakan yang tak terperi. Namun, betapa pun ngerinya, orang yang menjadikan Allah sebagai “tempat perlindungan dan kekuatan” (ay.1) “tidak akan takut” (ay.3). Dasar dari keyakinan ini diutarakan dalam ayat 8 dan 12: “TUHAN semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub.” Berdasarkan mazmur ini, Martin Luther sang reformator menulis salah satu himnenya yang paling terkenal: “Allah Bentengku yang Teguh.” Seperti sang pemazmur yang tinggal di dunia yang penuh ketidakpastian dan berbahaya, kita pun diajak untuk berdiam tenang dan mengetahui bahwa Dialah Allah (ay.11). Dengan kepercayaan teguh, kita menghayati kata-kata Luther, “Allah bentengku yang teguh, perisai dan pelindungku.”




June 21, 2019, 05:18:36 AM
Reply #2318
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22581
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Mengakhiri Iri Hati
  21/06/2019 
Mengakhiri Iri Hati
Baca: Roma 6: 11- 14 | Bacaan Alkitab Setahun: Ester 3– 5 ; Kisah Para Rasul 5: 22– 42
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-06-21.mp3

Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri. —Galatia 6:4

Seniman Perancis terkenal, Edgar Degas, dikenang di seluruh dunia karena lukisan-lukisan penari baletnya. Namun tidak banyak orang tahu bahwa ternyata ia iri hati kepada rekan seniman dan pelukis andal saingannya, Édouard Manet. Kata Degas tentang Manet, “Setiap hal yang ia lakukan pasti langsung sukses, sementara aku harus bersusah payah, tetapi tetap tidak pernah berhasil.”

Iri hati adalah emosi yang mengherankan—dicatat oleh Rasul Paulus sebagai salah satu sifat terburuk, sama buruknya dengan “rupa-rupa kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, penuh dengan dengki, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan” (Rm. 1:29). Paulus menuliskan iri hati datang dari pemikiran yang rusak—karena orang menyembah berhala daripada menyembah Allah (ay.28).
Saat kita melihat segala karunia yang Allah berikan bagi kita, kita akan kembali mengalami kepuasan.

Penulis Christina Fox mengatakan bahwa iri hati berkembang di antara orang percaya “karena hati kita telah berbalik dari kekasih sejati kita.” Ketika kita merasa iri hati, ia berkata, “kita mengejar kesenangan duniawi yang lebih rendah nilainya daripada melihat kepada Yesus. Intinya, kita lupa milik siapa kita sesungguhnya.”

Syukurlah, iri hati dapat diobati. Dengan berpaling kembali kepada Tuhan. “Serahkanlah dirimu kepada Allah,” tulis Paulus (Rm. 6:13)—terutama pekerjaan dan kehidupan Anda. Dalam suratnya yang lain, Paulus menulis, “Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain” (Gal. 6:4).

Bersyukurlah kepada Tuhan atas berkat-berkat-Nya—bukan hanya berkat materi, melainkan juga kasih karunia-Nya yang memerdekakan. Saat kita melihat segala karunia yang Allah berikan bagi kita, kita akan kembali mengalami kepuasan.
Apa saja talenta, karunia rohani, dan berkat yang telah Allah berikan bagi Anda, tetapi yang lupa Anda hargai? Ketika memikirkan semua itu, bagaimana perasaan Anda ketika berpaling kembali kepada Allah Sang Pemberi dan mensyukurinya?
Bersyukurlah kepada Tuhan atas berkat-berkat-Nya dan kasih karunia-Nya yang memerdekakan.
Oleh Patricia Raybon | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Dalam Roma 6, Paulus menyatakan bahwa sebagai orang percaya, manusia lama kita sudah disalibkan bersama Kristus, dan sekarang kita “mati bagi dosa” serta “hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus” (ay.6-7, 11). Kalau begitu, mengapa kita masih berbuat dosa? Memang, kita masih rentan terhadap dosa dan harus berjaga-jaga melawannya, tetapi dosa tak lagi berkuasa atas kita (ay.14). Dengan mati dan bangkit bersama Yesus, orang percaya menerima kerinduan baru untuk hidup bagi Allah dan membuang cara hidup yang lama. Meski hal ini membutuhkan niat dari pihak kita, ROH KUDUS yang tinggal dalam kitalah yang memimpin dan mengubahkan sehingga kita semakin serupa dengan Kristus (Yohanes 16:13; 2 Korintus 3:18).

Alyson Kieda




June 22, 2019, 05:36:58 AM
Reply #2319
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22581
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Bermain Petak Umpet
  22/06/2019 
Bermain Petak Umpet
Baca: Kejadian 3:1-10 | Bacaan Alkitab Setahun: Ester 6–8 ; Kisah Para Rasul 6
00:00
Unduh MP3


https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-06-22.mp3
Tetapi Tuhan Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: “Di manakah engkau?” —Kejadian 3:9

“Duh, bakal ketahuan tempat persembunyianku,” pikir saya. Saya merasakan jantung berdebar kencang sewaktu mendengar langkah-langkah kaki saudara sepupu saya yang berusia lima tahun berbelok ke ruangan saya. Semakin dekat. Lima langkah lagi. Tiga. Dua. “Ketemu!”

Sebagian dari kita memiliki kenangan indah bermain petak umpet semasa kecil. Namun terkadang dalam kehidupan nyata, rasa takut bakal ketahuan bukanlah perasaan yang menyenangkan. Naluri hati kita lebih condong untuk melarikan diri. Adakalanya kita tidak suka pada apa yang kita lihat.
Pribadi yang paling mengerti kita itu mengasihi kita apa adanya.

Sebagai anak-anak yang hidup di dunia yang telah jatuh ke dalam dosa, kita cenderung memainkan apa yang disebut sebagai “petak umpet dengan Tuhan.” Sesungguhnya, yang kita lakukan hanyalah pura-pura bersembunyi—karena tentulah Tuhan bisa melihat segala jalan pikiran dan pilihan kita yang bobrok. Kita juga tahu itu, tetapi kita bersikap seolah-olah Dia tidak bisa melihatnya.

Meski demikian, Allah terus mencari kita. Dia memanggil kita, “Keluarlah. Aku ingin melihatmu, bahkan bagian-bagian hidupmu yang paling memalukan”—seperti yang Allah katakan dahulu pada saat Dia memanggil manusia pertama yang bersembunyi karena ketakutan: “Di manakah engkau?” (Kej. 3:9). Undangan lembut itu disuarakan lewat pertanyaan yang tajam. Allah seakan berkata, “Keluarlah dari persembunyianmu, anak-Ku, dan jalin kembali hubungan dengan-Ku.”

Mungkin itu tampaknya terlalu berisiko, bahkan tidak masuk akal. Namun, dalam kehangatan kasih Bapa yang aman, siapa pun kita, apa pun keberhasilan atau kegagalan kita, kita sepenuhnya dikenali dan tetap dikasihi oleh-Nya.
Bagaimana Anda terhibur oleh kesadaran bahwa Allah tetap merindukan kita datang kepada-Nya sekalipun Dia melihat dan mengetahui semua keburukan kita? Bagaimana kesadaran itu justru memerdekakan Anda?
Pribadi yang paling mengerti kita itu mengasihi kita apa adanya.
Oleh Jeff Olson | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Dalam bacaan hari ini, kita melihat bagaimana Iblis menyimpangkan firman Allah. Adam dan Hawa dilarang mendekati satu pohon saja—“pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat” (Kejadian 2:16-17)—bukan semua pohon (3:1). “Sekali-kali kamu tidak akan mati” (ay.4) adalah kebohongan yang disengaja (2:17). Hawa juga menambahi perintah Allah dengan berkata, “Jangan kamu makan ataupun raba buah itu” (3:3). Paulus mengatakan bahwa Hawa tertipu oleh kelicikan Iblis (2 Korintus 11:3). Kita harus berjaga-jaga (1 Petrus 5:8) “supaya Iblis jangan beroleh keuntungan atas kita” (2 Korintus 2:11).






 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)