Author Topic: Our Daily Bread / RBC Indonesia  (Read 136037 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

October 19, 2019, 05:53:49 AM
Reply #2430
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24469
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Baja dan Beludru
  19/10/2019 
Baja dan Beludru
Baca: Yohanes 8:1-11 | Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 56–58 ; 2 Tesalonika 2
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-10-19.mp3


Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu. —Yohanes 8:7

Penyair Carl Sandburg menulis tentang mantan presiden Amerika Serikat, Abraham Lincoln, “Dalam sejarah umat manusia, tidak sering kita bertemu seorang manusia yang terbuat dari baja dan beludru, . . . yang menampilkan dalam hati dan pikirannya suatu paradoks antara badai yang mengamuk dan keteduhan yang sempurna.” “Baja dan beludru” menjadi gambaran bagaimana Lincoln berhasil menyeimbangkan kekuasaan dari jabatannya dengan kepeduliannya terhadap orang-orang yang merindukan kebebasan dari perbudakan.

Sepanjang sejarah, hanya ada satu pribadi yang secara sempurna menyeimbangkan ketegasan dan kelembutan, kuasa dan belas kasihan. Pribadi itu adalah Yesus Kristus. Dalam Yohanes 8, ketika Yesus diperhadapkan dengan para pemimpin agama yang ingin agar Dia menghukum seorang wanita yang berdosa, Yesus menunjukkan ketegasan sekaligus kelembutan-Nya. Dia menunjukkan ketegasan dengan bertahan menghadapi tuntutan massa yang haus darah, bahkan membalikkan tuduhan mereka kepada diri mereka sendiri. Yesus berkata kepada mereka, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu” (ay.7). Kemudian Yesus menunjukkan kelembutan belas kasihan-Nya dengan berkata kepada perempuan itu, “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang” (ay.11).
Kita dapat menunjukkan kerinduan hati-Nya kepada dunia yang haus akan belas kasih.

Dengan mencerminkan ketegasan dan kelembutan Yesus dalam perlakuan kita terhadap orang lain, kita dapat menyingkapkan karya Bapa yang membentuk kita semakin serupa dengan Anak-Nya. Kita dapat menunjukkan kerinduan hati-Nya kepada dunia yang haus akan belas kasih yang lembut sekaligus keadilan yang tegas.
Bagaimana respons Anda terhadap kebobrokan dunia ini jika dibandingkan dengan keseimbangan belas kasihan dan keadilan yang ditunjukkan Kristus? Bagaimana Allah dapat menolong Anda untuk memperlihatkan belas kasihan-Nya kepada sesama?
Bapa, terima kasih untuk Anak-Mu, yang sempurna menyingkapkan isi hati-Mu kepada dunia yang terhilang lewat ketegasan dan kelembutan-Nya.
Oleh Bill Crowder | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Dalam catatan Yohanes 8:1-11, para pemuka membawa seorang perempuan yang kedapatan berzinah. Anehnya, hanya si perempuan yang dituduh bersalah, pasangan berzinahnya tidak turut diseret.

Kaum perempuan cenderung tertarik kepada Yesus dan lebih berani mengikut Dia ketimbang para murid-Nya. Hanya Yohanes yang menyertai Yesus dalam perjalanan-Nya menuju penyaliban, tetapi Matius mencatat bahwa “ada di situ banyak perempuan” (27:55-56). Mereka ingin mengikut Yesus bukan karena Dia menarik secara fisik (lihat Yesaya 53:2), tetapi karena Dia memandang mereka sebagai manusia seutuhnya. Dia menghargai kaum wanita, sesuatu yang tidak dilakukan oleh pria zaman itu. Kisah hari ini adalah contoh betapa Yesus melindungi martabat perempuan sebagai manusia sejati. —Tim Gustafson





October 21, 2019, 07:49:45 AM
Reply #2431
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24469
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Perjamuan Kasih
  21/10/2019 
Perjamuan Kasih
Baca: Yohanes 6:47-59 | Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 62–64 ; 1 Timotius 1
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-10-21.mp3

Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. —Yohanes 6:51

Dalam film Denmark Babette’s Feast (Perjamuan Babette), seorang pengungsi asal Prancis datang ke sebuah desa di kawasan pesisir. Dua perempuan kakak-beradik lanjut usia yang juga menjadi pemimpin agama di sana menerima pengungsi itu di rumah mereka, dan selama empat belas tahun Babette bekerja sebagai pengurus rumah tangga. Ketika Babette menerima sejumlah besar uang, ia pun mengundang jemaat yang berjumlah dua belas orang untuk menghadiri jamuan mewah dengan hidangan khas Prancis seperti kaviar, pastry isi burung puyuh, dan masih banyak lagi.

Sementara hidangan demi hidangan disajikan, para tamu bersantai; beberapa mulai berbaikan, beberapa kembali pada cinta lama, ada juga yang mengenang kembali berbagai mukjizat yang mereka saksikan dan kebenaran yang mereka pelajari semasa kanak-kanak. “Ingatkah apa yang diajarkan kepada kita?” kata mereka. “Anak-anak, kasihilah seorang akan yang lain.” Ketika perjamuan itu usai, Babette menceritakan kepada kakak-beradik itu bahwa ia telah menghabiskan seluruh uangnya untuk menjamu para tamu. Ia memberikan seluruhnya—termasuk melepas kesempatan untuk kembali ke kehidupan lamanya sebagai juru masak ternama di Paris—supaya teman-temannya dapat bercengkerama sambil menikmati masakannya.
Pengorbanan-Nya memuaskan kerinduan jiwa kita.

Yesus hadir di dunia ini sebagai orang asing dan hamba, dan Dia telah memberikan segala-galanya agar lapar dan dahaga jiwa kita dapat dipuaskan. Dalam Injil Yohanes, Dia mengingatkan para pendengar-Nya bahwa ketika nenek moyang mereka kelaparan di padang gurun, Allah menyediakan burung puyuh dan manna untuk mereka (Kel. 16). Makanan itu memang mengenyangkan untuk sementara waktu, tetapi Yesus berjanji bahwa siapa saja yang menerima Dia sebagai “roti hidup” akan “hidup selama-lamanya” (Yoh. 6:48,51). Pengorbanan-Nya memuaskan kerinduan jiwa kita.
Bagaimana Allah telah memuaskan kerinduan Anda? Bentuk pengorbanan apa yang rela Anda berikan?
Tuhan Yesus menyerahkan tubuh dan darah-Nya untuk kita supaya menjadi makanan dan minuman dari hidup baru yang kekal bersama Dia.
Oleh Amy Peterson | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Di antara semua “tanda” (mukjizat) yang Yesus adakan, Yohanes hanya mencatat tujuh yang menunjukkan bahwa Yesus adalah Anak Allah (Yohanes 20:30-31). Salah satunya mukjizat pelipatgandaan ikan dan roti dalam Yohanes 6:1-14 (Ini juga dicatat dalam Injil lainnya—Matius 14:13-21; Markus 6:30-44; Lukas 9:10-17). Mukjizat tambahan yang Yohanes cantumkan antara lain mengubah air menjadi anggur (2:1-11), menyembuhkan anak seorang pegawai istana (4:46-54), menyembuhkan orang timpang (5:1-15), berjalan di atas air (6:16-21), mencelikkan orang buta (9:1-7), dan membangkitkan Lazarus (11:1-45). —Arthur Jackson




October 22, 2019, 05:10:33 AM
Reply #2432
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24469
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Kabar Baik untuk Kaki
  22/10/2019 
Kabar Baik untuk Kaki
Baca: Yohanes 5:1-9 | Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 65–66 ; 1 Timotius 2
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-10-22.mp3

Ya, Engkau telah meluputkan aku dari pada maut . . . Aku boleh berjalan di hadapan Tuhan, di negeri orang-orang hidup. —Mazmur 116:8–9

Iklan itu membuat saya tersenyum: “Kaus kaki paling nyaman sepanjang sejarah kaki.” Kemudian, untuk menegaskan pernyataannya sebagai kabar baik untuk kaki, iklan itu mengatakan bahwa karena kaus kaki adalah jenis pakaian yang paling banyak dibutuhkan di tempat-tempat penampungan tunawisma, maka untuk setiap pasang kaus kaki yang terjual, perusahaan akan mendonasikan sepasang kaus kaki bagi mereka yang membutuhkan.

Bayangkan senyum yang terkembang saat Yesus menyembuhkan kaki seorang laki-laki yang lumpuh selama tiga puluh delapan tahun (Yoh. 5:2-8). Sebaliknya, bayangkanlah raut wajah para pemuka agama yang sama sekali tidak senang melihat kepedulian Yesus terhadap kondisi seseorang yang sudah sekian lama terabaikan. Mereka justru menyalahkan orang tersebut dan juga Yesus karena telah melanggar hukum Taurat yang melarang orang memikul tilam pada hari Sabat (ay.9-10,16-17). Fokus mereka hanyalah pada peraturan, sementara Yesus berfokus pada kebutuhan seseorang akan belas kasihan.
Ceritakanlah kepada orang lain bagaimana Yesus telah memulihkan hidup Anda.

Saat itu, laki-laki tersebut bahkan tidak tahu siapa yang telah menyembuhkan kakinya. Baru di kemudian waktu ia dapat mengatakan bahwa Yesuslah yang telah memberinya kesembuhan (ay.13-15)—Yesus yang juga merelakan kaki-Nya sendiri dipaku pada kayu salib supaya Dia dapat memberikan kepada orang itu—dan kita semua—kabar terbaik sepanjang sejarah manusia yang telah hancur oleh dosa.
Apa yang dibutuhkan orang-orang di sekitar Anda? Dalam hal apa Yesus telah memenuhi kebutuhan Anda sendiri?
Ceritakanlah kepada orang lain bagaimana Yesus telah memulihkan hidup Anda.
Oleh Mart DeHaan | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Dalam Lukas 4:18-19, Yesus memulai pelayanan-Nya dengan mengutip kitab Yesaya (61:1-2) bahwa Mesias akan mengadakan mukjizat. Mukijzat yang dilakukan Kristus menjadi bukti bahwa Dia benar-benar sang Mesias. Dalam Yohanes 5, Yesus berseteru secara terbuka dengan para pemuka agama mengenai jati diri-Nya. Ketika mereka mulai memojokkan Dia karena bekerja pada hari Sabat, Dia menyebut Allah sebagai “Bapa-Ku” (ay.17) dan menyatakan bahwa Allah juga bekerja (pada hari Sabat). Sebagai bukti keilahian-Nya, Yesus menyinggung mukjizat yang baru dilakukan-Nya dan mengatakan bahwa seperti Bapa yang menghidupkan, demikian pula Anak (ay.21). Dengan kata lain, Dia tidak akan sanggup menyembuhkan kaki orang timpang jika tidak memiliki kuasa Bapa. —J.R. Hudberg




October 23, 2019, 06:04:15 AM
Reply #2433
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24469
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Inilah Aku
  23/10/2019 
Inilah Aku
Baca: Yakobus 3: 7-12 | Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 1– 2 ; 1 Timotius 3
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-10-23.mp3

Dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi. —Yakobus 3:10

“This Is Me” (Inilah Aku) adalah lagu hit dari The Greatest Showman, sebuah film musikal sukses yang mengangkat kisah P. T. Barnum dan rombongan sirkus kelilingnya. Dalam film, lagu itu dinyanyikan oleh para tokoh yang pernah dihina dan dilecehkan secara verbal karena dianggap tidak sejalan dengan norma sosial dalam masyarakat. Liriknya menyebutkan bahwa perkataan seseorang bagaikan peluru yang mematikan dan pisau yang melukai. Popularitas lagu itu menunjukkan banyaknya orang yang menderita luka batin akibat kata-kata yang tajam.

Yakobus memahami potensi dari kata-kata kita untuk menimbulkan kerusakan dan luka batin jangka panjang. Ia menyebut lidah sebagai “sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan” (Yak. 3:8). Dengan analogi yang tegas, Yakobus menekankan pentingnya orang percaya menyadari kekuatan luar biasa dari ucapan mereka. Ia bahkan menyoroti adanya kontradiksi ketika kita menggunakan lidah kita untuk memuji Allah, tetapi menggunakannya juga untuk mengutuk sesama kita yang diciptakan menurut rupa Allah (ay.9-10).
Kita telah diciptakan dengan indah oleh Allah—sebagai mahakarya-Nya yang unik (Mzm. 139:14).

Lagu “This Is Me” juga menantang ucapan-ucapan yang melukai itu dengan menegaskan bahwa sesungguhnya kita semua adalah ciptaan yang mulia—suatu kebenaran yang juga diakui Alkitab. Alkitab menetapkan bahwa martabat dan keindahan yang unik dari setiap manusia bukan disebabkan oleh penampilan lahiriah atau perbuatan kita, melainkan karena setiap dari kita telah diciptakan dengan indah oleh Allah—sebagai mahakarya-Nya yang unik (Mzm. 139:14). Kata-kata yang kita lontarkan kepada dan tentang satu sama lain berdampak besar untuk menegaskan kebenaran yang menguatkan itu.
Kepada siapa Anda perlu meminta maaf karena kata-kata Anda yang melukainya? Bagaimana Anda dapat memberikan dorongan semangat kepada seseorang hari ini?
Allah Pencipta, terima kasih Engkau menciptakan kami satu per satu. Tolonglah kami menggunakan kata-kata kami untuk memuji-Mu dan menyemangati orang lain yang telah Engkau ciptakan dengan indah.
Oleh Lisa M. Samra | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Peringatan Yakobus akan bahaya menyalahgunakan lidah berada dalam konteks pengaruh perkataan seorang pengajar (3:1). Perkataan dapat membuahkan perpecahan dan akibat buruk, terutama bila diucapkan oleh orang yang berkuasa dan berpengaruh, maka Yakobus menekankan betapa pentingnya kelemahlembutan sebagai hikmat sejati (ay. 2, 13). Jadi, ketika ia mengatakan bahwa “tidak seorangpun berkuasa menjinakkan lidah” (ay.8), Yakobus bukan memaklumi ucapan-ucapan buruk (seolah karena kita tidak mampu, maka biarkan saja), tetapi justru menekankan pentingnya kelemahlembutan. —Monica Brands





October 24, 2019, 05:34:14 AM
Reply #2434
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24469
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Hanya Sentuhan Biasa
  24/10/2019 
Hanya Sentuhan Biasa
Baca: Wahyu 1:9-18 | Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 3–5 ; 1 Timotius 4
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-10-24.mp3

Ia meletakkan tangan kanan-Nya di atasku, lalu berkata: “Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir.” —Wahyu 1:17

Hanya sentuhan biasa, tetapi ternyata itu membawa dampak besar bagi Colin. Ia merasakan ketegangan yang semakin meningkat saat kelompok kecilnya sedang bersiap untuk mengikuti suatu pelayanan sosial di daerah yang dikenal sangat tidak bersahabat kepada orang Kristen. Ketika menceritakan kekhawatirannya tersebut kepada seorang rekannya, rekan ini berhenti sejenak, meletakkan tangannya di bahu Colin, lalu mengucapkan beberapa kalimat yang menguatkan hatinya. Kini Colin mengenang sentuhan biasa itu sebagai titik balik yang mengingatkannya kepada kebenaran sederhana, yaitu bahwa Allah selalu menyertainya.

Yohanes, murid dan sahabat karib Yesus, tengah dibuang ke pulau Patmos yang terpencil karena memberitakan Injil, dan di sana ia mendengar “suara yang nyaring, seperti bunyi sangkakala” (Why. 1:10). Kejadian yang mengejutkan itu diikuti dengan kemunculan Tuhan sendiri di hadapannya, dan Yohanes pun tersungkur “di depan kaki-Nya sama seperti orang yang mati.” Namun, di saat yang sangat menakutkan itu, ia mendapat penghiburan dan keberanian. Yohanes menulis, “Ia meletakkan tangan kanan-Nya di atasku, lalu berkata: ‘Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir’” (ay.17).
Segala sesuatu berada di bawah kendali-Nya. Tangan-Nya terus memegang kita.

Allah membawa kita keluar dari zona nyaman untuk memperlihatkan hal-hal baru, memperbesar kapasitas kita, dan menolong kita bertumbuh. Namun, Dia juga mengaruniakan penghiburan dan keberanian yang memampukan kita melewat setiap keadaan. Dia tidak akan meninggalkan kita menghadapi pencobaan seorang diri. Segala sesuatu berada di bawah kendali-Nya. Tangan-Nya terus memegang kita.
Bagaimana cara Allah membawa Anda keluar dari zona nyaman? Siapa saja sahabat yang telah diberikan-Nya kepada Anda untuk mendukung dan menghibur Anda?
Tuhan Yesus, tolonglah aku mengenali kehadiran-Mu dan sentuhan-Mu di tengah hal-hal yang menakutkanku.
Oleh Tim Gustafson | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Saat melihat Yesus dalam sebuah penglihatan, Yohanes tersungkurlah di depan kaki-Nya seperti orang yang mati (Wahyu 1:17). Hal serupa juga dialami Yohanes enam puluh tahun sebelumnya ketika melihat Kristus dimuliakan di atas Gunung Hermon: “Tersungkurlah murid-murid-Nya [termasuk Yohanes] dan mereka sangat ketakutan” (Matius 17:6). Itulah sikap yang tepat di hadapan “Alfa dan Omega . . . Yang Awal dan Yang Akhir” (Wahyu 1:8, 17). Ketika mengungkapkan diri-Nya sebagai “yang Awal dan Yang Akhir,” Yesus menyatakan bahwa Dia adalah Allah. Karena Allah Bapa sendiri sebelumnya befirman, “Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian; tidak ada Allah selain dari pada-Ku” (Yesaya 44:6). —K.T. Sim





October 25, 2019, 06:21:42 AM
Reply #2435
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24469
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Diikat Menjadi Satu
  25/10/2019 
Diikat Menjadi Satu
Baca: Pengkhotbah 4:9-12 | Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 6–8 ; 1 Timotius 5
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-10-25.mp3

Tali tiga lembar tak mudah diputuskan. —Pengkhotbah 4:12

Seorang teman memberikan tanaman hias koleksinya yang sudah dipeliharanya selama lebih dari empat puluh tahun. Tanaman itu setinggi saya dengan daun-daun besar yang tumbuh dari tiga batang kurus yang berbeda. Seiring berjalannya waktu, berat daun-daun itu menyebabkan ketiga batangnya tumbuh melengkung ke bawah. Untuk meluruskannya, saya menyangganya dengan pasak yang ditaruh di bawah pot dan meletakkan pot tersebut dekat jendela supaya sinar matahari dapat menarik daun-daun tersebut ke atas dan mengembalikan bentuk tanaman tersebut seperti semula.

Tak lama setelah menerima pemberian tersebut, saya melihat tanaman yang mirip di ruang tunggu sebuah kantor. Tanaman itu juga tumbuh dari tiga batang terpisah yang tinggi kurus, tetapi ketiga batang tersebut diikat menjadi satu sehingga menghasilkan satu batang besar yang lebih kukuh. Tanaman itu dapat berdiri tegak tanpa bantuan penyangga.
Allah adalah sumber yang abadi dari kasih dan anugerah.

Dua orang bisa saja tinggal dalam satu “wadah” yang sama selama bertahun-tahun, tetapi tumbuh masing-masing dan tidak mengalami secara penuh kebaikan-kebaikan yang Allah sediakan bagi mereka. Namun, ketika hidup mereka diikat menjadi satu bersama Allah, hidup mereka akan menjadi lebih mantap dan dekat. Hubungan mereka akan semakin kuat. “Tali tiga lembar tak mudah diputuskan” (Pkh. 4:12)

Seperti halnya tanaman hias, pernikahan dan persahabatan juga harus dipelihara. Merawat hubungan-hubungan tersebut membutuhkan kesatuan rohani dengan kehadiran Allah di pusat dari setiap ikatannya. Allah adalah sumber yang abadi dari kasih dan anugerah—dua hal yang paling kita butuhkan untuk dapat tetap menyatu dengan bahagia dalam kehidupan bersama.
Apa yang dapat Anda lakukan untuk mempererat ikatan persekutuan Anda dengan orang-orang terdekat Anda? Perubahan apa yang mungkin terjadi apabila melayani Tuhan dan beribadah kepada Dia menjadi prioritas Anda bersama?
Ya Allah, aku menyambut-Mu masuk dalam hubunganku dengan orang-orang terdekatku.
Oleh Jennifer Benson Schuldt | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Kitab Pengkhotbah digolongkan ke dalam kelompok Kitab Puisi atau Kitab Hikmat. Menurut penafsiran tradisional, penulis kitab ini diperkirakan adalah Salomo karena adanya keterangan “anak Daud, raja di Yerusalem” (1:1). Namun, istilah “anak” pada zaman itu sering digunakan untuk merujuk kepada keturunan, bukan melulu putra/anak secara langsung. Orang ini bisa saja keturunan Daud yang kesekian. Banyak pakar Alkitab menyebut penulisnya Qoheleth (Pengkhotbah 1:2), kata Ibrani yang artinya guru. Kata ini merujuk kepada individu yang mengajar sekumpulan orang. Sejumlah pakar beranggapan bahwa kitab ini ditulis oleh dua orang karena bahasa yang digunakan berubah dari orang pertama kepada orang ketiga lalu kembali ke orang pertama. —Julie Schwab





October 26, 2019, 06:11:34 AM
Reply #2436
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24469
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://santapanrohani.org/

Benih-Benih Anugerah
  26/10/2019 
Benih-Benih Anugerah
Baca: Markus 4:26-29 | Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 9–11 ; 1 Timotius 6
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-10-26.mp3


Benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu. —Markus 4:27

Selama hampir empat dekade, seorang pria di India bekerja keras membuat sebuah lahan kosong yang berpasir menjadi hijau kembali. Setelah melihat erosi dan perubahan ekosistem merusak pulau yang ia cintai, ia pun mulai menanam pohon satu demi satu, dari pohon bambu hingga pohon kapas. Sekarang, pohon-pohon hijau dan satwa liar memenuhi lahan seluas 1.300 hektar itu. Namun, pria itu bersikeras bahwa kelahiran kembali wilayah tersebut dari kegersangan bukanlah hasil kerja kerasnya. Ia menyadari betapa luar biasanya cara kerja alam ini sekaligus kagum pada cara angin yang dapat membawa benih-benih ke tanah yang subur. Burung-burung dan hewan-hewan liar ikut berpartisipasi dalam menaburkannya, dan sungai juga berperan dalam membantu berbagai tanaman dan pohon berkembang.

Cara kerja alam ini tidak selalu dapat kita mengerti atau kendalikan. Menurut Yesus, prinsip yang sama juga berlaku dalam Kerajaan Allah. Dia berkata, “Beginilah hal Kerajaan Allah itu: seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu” (Mrk. 4:26-27). Allah memberikan kehidupan dan pemulihan kepada dunia sebagai anugerah, tanpa campur tangan kita. Kita hanya melakukan apa yang Tuhan kehendaki dari kita, lalu kita melihat kehidupan berkembang. Kita tahu bahwa segala sesuatu berasal dari anugerah-Nya.
Allah terus berkarya menumbuhkan Kerajaan-Nya oleh anugerah-Nya.

Kita sering tergoda untuk berpikir bahwa kitalah yang bertanggung jawab untuk mengubah hati seseorang atau memastikan hasil dari pekerjaan yang telah kita lakukan dengan setia. Kita tidak perlu hidup dengan tekanan tersebut, karena Allah sendiri yang akan menumbuhkan benih yang kita tabur. Semua karena anugerah-Nya.
Pernahkah Anda tergoda untuk berpikir bahwa Anda bertanggung jawab atas pertumbuhan atau hasil yang Anda usahakan? Mengapa sangat penting bagi kita untuk mengandalkan anugerah Allah daripada usaha kita sendiri?
Allah terus berkarya menumbuhkan Kerajaan-Nya oleh anugerah-Nya.
Oleh Winn Collier | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Dalami Markus 4 (lihat juga Matius 13:1-3; Lukas 5:1-3), tertulis bahwa orang banyak yang berkumpul untuk mendengarkan pengajaran Yesus begitu besar jumlahnya sehingga Dia harus naik ke atas perahu. Mengapa begitu? Karena suara bisa merambat lebih jauh di atas perairan, dan pantai Danau Galilea atau Danau Genesaret (juga disebut Danau Tiberias) di dekat Kapernaum adalah amfiteater alami. Bentuknya melandai turun menuju danau atau teluk—yang kini disebut Teluk Perumpamaan—yang sanggup menampung ribuan orang duduk nyaman dan tata letaknya memungkinkan semua orang mendengarkan suara Kristus.

Untuk mempelajari lebih jauh tentang bentang alam pada zaman Alkitab, kunjungi christianuniversity.org/NT110. —Alyson Kieda



October 28, 2019, 11:55:18 AM
Reply #2437
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24469
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Berjalan Seperti Pahlawan
  28/10/2019 
Berjalan Seperti Pahlawan
Baca: Hakim-Hakim 6:1,11-16 | Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 15–17 ; 2 Timotius 2
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-10-28.mp3

Malaikat Tuhan menampakkan diri kepada [Gideon] dan berfirman kepadanya, . . . “Tuhan menyertai engkau, ya pahlawan yang gagah berani.” —Hakim-hakim 6:12

Emma yang berusia delapan belas tahun sangat setia berbicara tentang Yesus di media sosial, meskipun banyak orang yang mengkritik semangat dan kasihnya kepada Kristus. Beberapa orang mengejek penampilannya. Yang lain menganggapnya bodoh karena imannya kepada Allah. Meskipun ejekan itu sangat menyakiti hati, Emma tetap mengabarkan Injil dengan keberanian dan kasih. Namun, ia sempat tergoda meyakini bahwa identitas dan nilai dirinya ditentukan oleh kritikan orang. Saat itu terjadi, ia meminta Allah menolongnya, berdoa bagi mereka yang memusuhinya, merenungkan Alkitab, dan tetap bertekun dengan keberanian dan keyakinan dari ROH KUDUS.

Gideon juga menghadapi orang-orang Midian yang kejam (Hak. 6:1-10). Meskipun Allah menyebutnya “pahlawan yang gagah berani,” Gideon bergumul mengenyahkan keragu-raguannya, batasan yang dibuatnya sendiri, dan ketidakpercayaan dirinya (ay.11-15). Beberapa kali ia mempertanyakan kehadiran Tuhan dan kemampuan dirinya sendiri, tetapi akhirnya ia mau berserah dalam iman kepada Allah.
Anugerah-Nya yang tidak berkesudahan.

Ketika kita mempercayai Allah, kita bisa hidup dengan mempercayai bahwa apa yang difirmankan-Nya tentang kita adalah benar. Bahkan di saat pertentangan membuat kita mempertanyakan identitas kita, Bapa yang penuh kasih menegaskan bahwa Dia hadir dan berperang untuk kita. Dia menegaskan bahwa kita bisa berjalan seperti pahlawan yang gagah berani, dipersenjatai dengan kasih-Nya yang luar biasa, dipelihara dengan anugerah-Nya yang tidak berkesudahan, dan terlindung aman dalam kebenaran-Nya yang dapat diandalkan.
Bagian Alkitab mana yang membantu Anda tetap kuat ketika Anda mulai meragukan identitas dan nilai diri Anda? Apa yang dapat Anda lakukan untuk menghadapi ucapan-ucapan yang mengkritik Anda?
Ya Tuhan, tolong kami mengingat kasih-Mu dan menanggapi dengan penuh kasih setiap kali seseorang menggoda kami untuk meragukan nilai diri kami atau mempertanyakan peran yang Engkau percayakan kepada kami.
Oleh Xochitl Dixon | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Ketika bangsa Israel berseru kepada Allah dan meminta tolong setelah bertahun-tahun mengabaikan-Nya (Hakim-hakim 6:6), Dia mengutus seorang nabi untuk menegur mereka (ay.7-10). Kemudian Allah mulai bekerja, tetapi Gideon tidak mengerti apa yang sedang terjadi. “Datanglah Malaikat TUHAN dan duduk di bawah pohon tarbantin di Ofra” (ay.11). Gideon bertanya kepada-Nya, “Di manakah segala perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib yang diceritakan oleh nenek moyang kami kepada kami?” (ay.13). Ketika api membakar habis persembahan Gideon (ay.21), barulah ia merasakan hadirat Allah (ay.22). Setelah tanda ajaib ini, Gideon masih membutuhkan jaminan yang lebih banyak dari-Nya (ay.36-40) sebelum memimpin kawanan yang sedikit jumlahnya untuk melawan musuh (ps.7). —Tim Gustafson



October 29, 2019, 06:32:18 AM
Reply #2438
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24469
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Jalan yang Tidak Dikenal
  29/10/2019 
Jalan yang Tidak Dikenal
Baca: Yesaya 42:10-17 | Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 18–19 ; 2 Timotius 3
00:00
Unduh MP3


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-10-29.mp3

Aku mau memimpin orang-orang buta di jalan yang tidak mereka kenal, dan mau membawa mereka berjalan di jalan-jalan yang tidak mereka kenal. —Yesaya 42:16

Orang-orang bertanya apakah saya mempunyai rencana lima tahunan. Bagaimana mungkin saya merencanakan lima tahun ke depan sementara saya belum pernah menjalaninya?

Saya terkenang kembali ke dekade 1960-an sewaktu saya menjadi pembina rohani bagi para mahasiswa Universitas Stanford. Waktu kuliah, saya mengambil jurusan pendidikan jasmani dan sangat menikmati masa-masa itu, tetapi saya tidak mempunyai pengalaman mengajar. Saya merasa sangat tidak kompeten dalam kedudukan baru saya. Saya sering berkeliling di kampus, seperti orang buta yang menggapai-gapai dalam kegelapan, memohon Allah untuk menunjukkan apa yang harus saya lakukan. Suatu hari, seorang mahasiswa tiba-tiba meminta saya memimpin pendalaman Alkitab untuk kelompoknya. Dari sanalah semuanya bermula.
Serahkanlah rencana kita kepada-Nya dan lihatlah apa yang menjadi kehendak-Nya atas kita.

Allah tidak berdiri di persimpangan jalan dan menunjukkan arah yang harus kita tempuh, karena Dia bukan rambu jalan. Dia adalah Pemandu yang berjalan bersama kita, menuntun kita ke jalan yang tidak pernah kita bayangkan. Kita hanya perlu berjalan bersama-Nya.

Jalannya tidak mudah; akan ada “tanah yang berkeluk-keluk”, tetapi Allah telah berjanji akan “membuat kegelapan . . . menjadi terang” dan Dia tidak akan pernah meninggalkan kita (Yes. 42:16). Dia akan selalu menyertai kita di sepanjang jalan.

Paulus berkata bahwa Allah “dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan” (Ef. 3:20). Kita bisa merencanakan dan membayangkan apa yang mau kita lakukan, tetapi pemikiran Tuhan jauh melampaui rencana kita. Serahkanlah rencana kita kepada-Nya dan lihatlah apa yang menjadi kehendak-Nya atas kita.
Bagaimana cara Allah mengubah kegelapan Anda menjadi terang? Apa sukacita terbesar Anda ketika Anda berjalan bersama-Nya?
Tuhan Yesus, aku mengucap syukur karena rencana-Mu bagiku jauh melampaui yang dapat kubayangkan. Tolonglah aku setia mengikut-Mu.
Oleh David H. Roper | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Dalam Yesaya 42:1-9, Allah berfirman mengenai “hamba-Ku,” nubuat pertama dari empat nubuatan Yesaya (42:1-9; 49:1-13; 50:4-11; 52:13–53:12) yang dikenal dengan “Nyanyian Hamba.” Pertama, hamba merujuk kepada bangsa Israel (Yesaya 41:8; 49:3) dan kemudian kepada Yesus (Matius 12:17-20). Setelah memberitahukan tugas dan belas kasih hamba Allah (Yesaya 42:1-9), sang nabi menuliskan “nyanyian baru” (ay.10), mengajak kita “bersorak sorai . . . [dan] memberi penghormatan kepada TUHAN” (ay.11-12) atas keselamatan dari-Nya. —K.T. Sim



October 30, 2019, 05:42:03 AM
Reply #2439
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24469
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Terang Dalam Kegelapan
  30/10/2019 
Terang Dalam Kegelapan
Baca: Yohanes 1:5; 16:1-11,33 | Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 20–21 ; 2 Timotius 4
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-10-30.mp3

Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia. —Yohanes 16:33

Dalam buku These Are the Generations, Mr. Bae bercerita tentang kesetiaan Allah dan kuasa Injil dalam menembus kegelapan. Kakek, orangtua, dan keluarganya sendiri menderita penganiayaan karena membagikan iman mereka di dalam Kristus ke orang lain. Namun, ada hal menarik yang terjadi ketika Mr. Bae dipenjara karena bersaksi tentang Allah kepada seorang teman: Ia merasakan imannya bertumbuh. Hal yang sama terjadi kepada orangtuanya ketika mereka dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi. Mereka terus membagikan kasih Kristus di sana. Bagi Mr. Bae, janji dalam Yohanes 1:5 itu benar adanya: “Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.”

Sebelum ditangkap dan disalibkan, Yesus memperingatkan murid-murid-Nya mengenai penganiayaan yang akan mereka hadapi. Mereka akan ditolak oleh orang-orang yang “akan berbuat demikian, karena mereka tidak mengenal baik Bapa maupun Aku” (16:3). Namun, Yesus memberikan penghiburan ini: “Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (ay.33).
Kuasa kehadiran Allah sanggup menopang kita di masa-masa yang kelam.

Meskipun banyak orang yang percaya kepada Yesus belum pernah mengalami penganiayaan seperti yang dialami keluarga Mr. Bae, bukan berarti hidup kita akan bebas dari masalah. Namun, kita tidak perlu menyerah, kecewa, atau menyimpan kebencian. Kita mempunyai Penolong, yaitu ROH KUDUS yang dijanjikan Yesus. Kita dapat meminta tuntunan dan penghiburan dari-Nya (ay.7). Kuasa kehadiran Allah sanggup menopang kita di masa-masa yang kelam.
Kesulitan apa yang pernah dialami Anda atau orang lain yang Anda kenal sebagai orang percaya? Apa reaksi mula-mula Anda saat menghadapi kesulitan tersebut?
Bapa Surgawi, lindungilah anak-anak-Mu yang menderita penganiayaan.
Oleh Linda Washington | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Yesus berjanji bahwa kenaikan-Nya ke surga adalah hal baik bagi para murid-Nya karena kepergian-Nya akan mengawali turunnya ROH KUDUS, Penghibur dan Pembela kita (Yohanes 16:7). Namun, setelah ROH KUDUS datang, penganiayaan akan terjadi. Para pemuka agama akan membunuh pengikut Yesus, dengan berpikir bahwa tindakan itu adalah pelayanan kepada Allah (ay.2). Yesus tahu para murid-Nya akan membutuhkan penghiburan dan pertolongan ROH KUDUS selama masa-masa sulit itu—sesuatu yang juga kita butuhkan saat ini. —J.R. Hudberg





 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)