Author Topic: Our Daily Bread / RBC Indonesia  (Read 133751 times)

0 Members and 2 Guests are viewing this topic.

November 10, 2019, 04:40:50 AM
Reply #2450
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24043
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Lahar di Firdaus
  10/11/2019 
Lahar di Firdaus
Baca: 2 Samuel 6:1-9 | Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 48–49 ; Ibrani 7
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-11-10.mp3

Marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya. —Ibrani 4:16

Suasana begitu sunyi, di luar desis lahar panas mengalir pelan di pinggir pepohonan tropis. Warga distrik Puna, Hawaii, berdiri mematung dengan wajah muram bercampur takjub. Biasanya mereka menjuluki daerah itu “firdaus.” Namun, hari itu, lahar panas yang keluar dari retakan di tanah mengingatkan orang bahwa Allah membentuk kepulauan ini lewat kekuatan vulkanis dahsyat yang tidak dapat ditaklukkan.

Bangsa Israel kuno juga berhadapan dengan kekuatan yang tidak dapat mereka taklukkan. Ketika Raja Daud berhasil merebut kembali tabut perjanjian (2Sam. 6:1-4), diadakan sebuah perayaan (ay.5)—sampai satu orang tiba-tiba mati karena memegang tabut itu dengan maksud menahannya agar tidak terjatuh (ay.6-7).
Yesus—Anak Tunggal Allah—membuka jalan bagi kita untuk dapat mendekat kepada Bapa-Nya.

Peristiwa itu mungkin membuat kita berpikir bahwa Allah layaknya gunung berapi yang sulit ditebak, yang dapat menciptakan sesuatu tetapi juga dapat menghancurkannya. Namun, harus diingat bahwa Allah sudah pernah memberikan perintah terperinci kepada Israel tentang cara menangani barang-barang yang dikhususkan untuk ibadah (lihat Bil. 4). Bangsa Israel memiliki hak istimewa untuk mendekat kepada Allah, tetapi hadirat-Nya terlalu dahsyat untuk dihampiri dengan sembarangan.

Ibrani 12 mengingatkan tentang gunung dengan “api yang menyala-nyala,” tempat Allah memberikan Sepuluh Perintah kepada Musa. Gunung itu menakutkan semua orang (ay.18-21). Namun, penulis Ibrani mengontraskan peristiwa itu dengan ini: “Kamu sudah datang . . . kepada Yesus, Pengantara perjanjian baru” (ay.22-24). Yesus—Anak Tunggal Allah—membuka jalan bagi kita untuk dapat mendekat kepada Bapa-Nya, yang dahsyat tetapi penuh kasih.
Seberapa sering Anda cenderung berpikir tentang kasih Allah tetapi tidak kuasa-Nya? Mengapa kuasa-Nya merupakan aspek penting dari karakter-Nya?
Alangkah ajaibnya mengetahui bahwa Allah yang Mahakuasa juga mengasihi kita dengan kasih yang tak terbatas!
Oleh Tim Gustafson | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Ketika Uza memegang tabut untuk menjaganya tidak jatuh, Alkitab mengatakan bahwa Allah murka karena “keteledorannya itu” (2 Samuel 6:7). Hal itu kelihatannya kejam, karena Uza bermaksud baik. Dalam bahasa Ibrani, kata yang dipakai adalah hassal—hanya muncul dalam bacaan ini dan diterjemahkan sebagai tindakan tidak hormat, sikap tidak hormat, atau keteledoran. Kata tersebut hanya dipakai di sini, menyiratkan bahwa perbuatan Uza adalah peristiwa yang lain daripada yang lain dan oleh karenanya memiliki arti penting. Allah telah memberikan petunjuk-petunjuk yang tepat untuk mengurusi “barang-barang kudus.” Menurut Bilangan 4:15, “Janganlah [orang Kehat] kena pada barang-barang kudus itu, nanti mereka mati.” Barang-barang kudus dari Allah harus diperlakukan menurut petunjuk-Nya. Perbuatan yang berlawanan—sekalipun dengan tujuan baik—mengindikasikan sikap kurang hormat terhadap perintah-Nya. —J.R. Hudberg




November 11, 2019, 06:21:49 AM
Reply #2451
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24043
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Terserah Allah
  11/11/2019 
Terserah Allah
Baca: Matius 6:5-15 | Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 50 ; Ibrani 8
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-11-11.mp3

Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. —Matius 6:10

Nate dan Sherilyn menikmati kunjungan mereka ke sebuah restoran omakase saat sedang berada di kota New York. Omakase adalah kata dalam bahasa Jepang yang berarti “terserah Anda”. Maksudnya, para pengunjung restoran seperti itu mengizinkan koki memilihkan hidangan apa yang akan mereka santap. Walau baru pertama kalinya mencoba hidangan jenis itu dan awalnya agak ragu, ternyata Nate dan Sherilyn sangat menyukai makanan yang dipilihkan dan disiapkan koki untuk mereka.

Gagasan yang sama dapat juga kita terapkan dalam sikap kita di hadapan Allah saat membawa doa dan permohonan kita: “Terserah Engkau.” Para murid melihat Yesus sering “mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa” (Luk. 5:16), maka suatu hari mereka meminta kepada-Nya untuk mengajari mereka cara berdoa. Dia mengajar mereka untuk meminta pemenuhan kebutuhan mereka sehari-hari, pengampunan, dan kelepasan dari pencobaan. Bagian dari pengajaran-Nya juga menunjukkan suatu sikap yang berserah: “Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga” (Mat. 6:10).
Kita dapat menyerahkan jawaban doa kita kepada Allah.

Kita dapat mengutarakan kebutuhan-kebutuhan kita kepada Allah karena Dia mau mendengar apa yang ada dalam hati kita—dan Dia senang memberikannya. Namun, sebagai manusia yang terbatas, kita tidak selalu tahu apa yang terbaik, maka sungguh masuk akal untuk meminta dengan kerendahan hati dan ketundukan kepada-Nya. Kita dapat menyerahkan jawaban doa itu kepada Allah, dengan meyakini bahwa Dia layak dipercaya dan akan memilih serta menyediakan segala sesuatu yang baik untuk kita.
Apa yang ingin Anda ungkapkan dalam doa kepada Allah saat ini? Apa yang akan terjadi jika Anda benar-benar berserah penuh kepada-Nya?
Terima kasih, ya Allah, karena Engkau menopangku dan Engkau tahu segala kebutuhanku. Aku menyerahkan hidupku dan mereka yang kukasihi ke dalam tangan pemeliharaan-Mu.
Oleh Anne Cetas | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Mengapa Yesus memulai bagian tentang doa (Matius 6:5-15) dengan peringatan? Siapakah “orang-orang munafik” yang Dia kecam (ay.5)? Markus 12 mengindikasikan bahwa mereka adalah “ahli-ahli Taurat” yang “menelan rumah janda-janda, sedang mereka mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang” (ay.38-40).

Berdoa di depan umum tidaklah salah, tetapi beresiko besar. Jangan-jangan kita berdoa untuk mengesankan orang-orang yang mendengar, bukan dengan sikap hati yang tulus kepada Allah yang melihat batin kita dan menjawab doa-doa; atau barangkali kita merasa minder karena tidak fasih berbicara. Resiko manapun yang kita hadapi, penting sekali untuk mengingat bahwa Allah tidak berkenan pada segala sesuatu yang dilakukan untuk pamer belaka. —Tim Gustafson



November 12, 2019, 06:22:24 AM
Reply #2452
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24043
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Berkat Kita dan Kasih Allah
  12/11/2019 
Berkat Kita dan Kasih Allah
Baca: Mazmur 136:1-3,10-26 | Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 51–52 ; Ibrani 9
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-11-12.mp3

Kepada Dia yang memimpin umat-Nya melalui padang gurun! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. —Mazmur 136:16

Pada tahun 2015, seorang wanita membuang komputer milik mendiang suaminya di bengkel daur ulang—sebuah komputer yang dibuat pada tahun 1976. Namun, yang lebih penting daripada tahun pembuatannya adalah mengetahui siapa pembuatnya. Komputer itu adalah salah satu dari 200 komputer yang dirakit sendiri oleh pendiri Apple, Steve Jobs, dan diperkirakan nilainya sekarang sekitar seperempat juta dolar! Terkadang nilai sebuah benda dapat diketahui dari siapa yang membuatnya.

Menyadari bahwa Allah sajalah yang menciptakan kita menunjukkan betapa berharganya kita di mata-Nya (Kej. 1:27). Mazmur 136 menuliskan peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah umat Israel: bagaimana mereka dibebaskan dari perbudakan di Mesir (ay.11-12), berjalan melintasi padang gurun (ay.16), dan menerima kediaman yang baru di Kanaan (ay.21-22). Namun, perhatikan, setiap kali suatu peristiwa bersejarah disebutkan, selalu diikuti kalimat yang terus diulang: “Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” Kalimat ini mengingatkan umat Israel bahwa pengalaman-pengalaman mereka bukanlah peristiwa sejarah yang terjadi serampangan. Setiap peristiwa telah dirancang oleh Allah dan menjadi cerminan kasih setia-Nya kepada mereka yang diciptakan-Nya.
Setiap peristiwa telah dirancang oleh Allah dan menjadi cerminan kasih setia-Nya.

Terlalu sering saya membiarkan peristiwa-peristiwa yang menyatakan karya dan kebaikan Allah berlalu begitu saja, karena gagal menyadari bahwa setiap pemberian yang baik datang dari Bapa Surgawi yang menciptakan dan mengasihi saya (Yak. 1:17). Kiranya Anda dan saya belajar menghubungkan setiap berkat dalam hidup kita dengan kasih setia Allah bagi kita.
Bagaimana Anda dapat lebih mengingat Sang Sumber berkat dalam kehidupan Anda? Apa yang selama ini menghambat Anda untuk melakukannya?
Bapa Surgawi, janganlah kiranya aku melewatkan satu pun berkat-Mu tanpa mengakui bahwa semua itu adalah semata-mata pemberian-Mu!
Oleh Peter Chin | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Ketika membaca kitab Mazmur, terkadang kita lupa bahwa mazmur-mazmur itu ditulis untuk dinyanyikan, bukan dibaca. Banyak mazmur berisi pengalaman pribadi, tetapi ada pula yang ditujukan kepada orang Israel secara keseluruhan dan biasanya dinyanyikan ketika umat berkumpul untuk beribadah. Mazmur 136 adalah salah satu contohnya. Sebagian pakar Alkitab beranggapan bahwa mazmur itu dirancang untuk dinyanyikan secara berbalasan—kelompok yang satu mengumandangkan satu bagian dan kelompok yang lain menanggapinya. Para imam dan orang Lewi (pemimpin penyembahan) menyanyikan suatu pernyataan tentang Allah (“Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik!” ay.1) dan jemaat yang berkumpul menyahut, “Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” —Bill Crowder




November 13, 2019, 05:50:30 AM
Reply #2453
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24043
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Sahabat Sejati
  13/11/2019 
Sahabat Sejati
Baca: 1 Samuel 18:1-4; 19:1-6 | Bacaan Alkitab Setahun: Ratapan 1–2 ; Ibrani 10:1-18
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-11-13.mp3

Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu. —Amsal 17:17

Saat duduk di bangku SMA, saya punya seorang teman yang “kadang-kadang berteman.” Kami “berteman baik” di gereja dan beberapa kali menikmati waktu bersama di luar sekolah. Namun, di sekolah, lain lagi ceritanya. Kalau kebetulan bertemu saya saat ia sedang sendirian, ia akan menyapa; tetapi hanya ketika tidak ada orang lain di sekitarnya. Menyadari hal itu, saya jarang berusaha menarik perhatiannya saat berada di lingkungan sekolah. Saya mengerti batas pertemanan kami.

Kita mungkin pernah mengalami sakitnya dikecewakan oleh hubungan pertemanan yang bertepuk sebelah tangan dan tidak seimbang. Namun, ada jenis persahabatan lain yang jauh melampaui segala batasan. Itulah persahabatan dengan mereka yang sehati dan sejiwa dengan kita, yang mau berkomitmen berbagi hidup dengan kita.
Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu. —Amsal 17:17

Daud dan Yonatan adalah sahabat seperti itu. Jiwa Yonatan “berpadu” dengan jiwa Daud dan ia mengasihinya “seperti dirinya sendiri” (1Sam. 18:1-3). Meskipun Yonatan adalah pewaris takhta kerajaan setelah ayahnya, Saul, ia tetap setia kepada Daud, pengganti yang dipilih Allah. Yonatan bahkan menolong Daud mengelak dari dua rencana Saul untuk membunuhnya (19:1-6; 20:1-42).

Di hadapan berbagai tantangan, Yonatan dan Daud tetap bersahabat—seperti kebenaran yang terdapat dalam Amsal 17:17, “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu.” Persahabatan sejati mereka memberikan gambaran sekilas tentang hubungan yang penuh kasih antara Allah dan kita (Yoh. 3:16; 15:15). Melalui persahabatan yang mereka miliki, kita pun semakin memahami kasih Allah.
Siapa yang Anda anggap sebagai sahabat sejati? Mengapa? Bagaimana mengetahui bahwa Allah adalah sahabat kita yang sejati membuat Anda merasa terhibur?
Bapa Surgawi, kami rindu memiliki sahabat yang baik. Kiranya Engkau membukakan kesempatan bagi kami untuk menjalin persahabatan yang sejati, abadi, dan berpusat pada Allah.
Oleh Alyson Kieda | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Daud dan Yonatan menjalin persahabatan yang luar biasa. Dua kali dalam nas hari ini dikatakan bahwa Yonatan “mengasihi dia [Daud] seperti jiwanya sendiri” (1 Samuel 18:1,3). Yonatan mengasihi Daud walaupun Raja Saul, ayahnya sendiri, membenci Daud. Yonatan mengutamakan kepentingan Daud meskipun hal itu membahayakan kesatuan keluarga dan kemungkinan ia sendiri bisa celaka. Hubungan ini tampak dalam Perjanjian Baru lewat perintah untuk mengasihi sesama seperti diri kita sendiri (Matius 19:19). —J.R. Hudberg




November 14, 2019, 05:58:13 AM
Reply #2454
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24043
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Lingkaran Kewaspadaan
  14/11/2019 
Lingkaran Kewaspadaan
Baca: Ibrani 10:19-25 | Bacaan Alkitab Setahun: Ratapan 3–5 ; Ibrani 10:19-39
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-11-14.mp3
Nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu. —1 Tesalonika 5:11

Rusa Afrika secara naluriah membentuk “lingkaran kewaspadaan” saat beristirahat di padang sabana. Rusa-rusa biasa duduk berkelompok dengan posisi masing-masing menghadap ke luar ke arah yang berbeda-beda. Dengan cara tersebut, mereka dapat memantau keadaan di sekeliling mereka 360 derajat dan berkomunikasi apabila ada bahaya atau kesempatan yang mendekat.

Rusa-rusa dalam kelompok itu tidak memperhatikan diri sendiri, tetapi saling menjaga. Begitu jugalah hikmat Allah bagi para pengikut Yesus. Alkitab mendorong kita, “Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita” (Ibr. 10:24-25).
Nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu. —1 Tesalonika 5:11

Orang Kristen tidak dimaksudkan untuk berjalan sendiri, sebagaimana dijelaskan oleh penulis Ibrani. Bersama, kita akan lebih kuat. Kita dapat “saling menasihati” (ay.25), untuk “menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang [kita] terima sendiri dari Allah” (2Kor. 1:4), dan saling membantu untuk tetap mewaspadai upaya-upaya Iblis yang “berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya” (1Ptr. 5:8).

Kepedulian terhadap satu sama lain bukan hanya dimaksudkan agar kita bertahan, melainkan untuk membuat kita serupa dengan Yesus: yakni sebagai hamba-hamba Allah yang membawa kasih dan dampak bagi dunia—sebagai umat yang bersama menantikan dengan yakin Kerajaan Allah yang akan datang. Kita semua membutuhkan dorongan semangat, dan Allah akan menolong kita untuk menolong satu sama lain mendekat kepada-Nya bersama-sama dalam kasih.
Pernahkah Anda menerima kekuatan dan pertolongan dari saudara seiman? Siapa yang dapat Anda semangati dengan kasih Allah?
Terima kasih untuk kesetiaan-Mu, ya Allah yang Maha Pengasih. Tolonglah aku menyemangati orang lain untuk menantikan kehadiran-Mu hari ini!
Oleh James Banks | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Surat Ibrani ditulis bagi kalangan pembaca mula-mula yang lahir dan dibesarkan di bawah didikan Taurat Musa. Kehidupan mereka terpusat pada kewajiban-kewajiban moral, sipil, dan seremonial (upacara agama) dalam kebudayaan yang berbasis pada Bait Suci. Namun, sekarang mereka mengalami kesulitan karena percaya kepada Yesus bertentangan dengan otoritas Bait Suci dan ajaran para ahli Taurat. Sebagian merasa putus asa. Oleh sebab itu, mereka harus tahu bahwa mereka tidak perlu hidup dalam ketakutan akan kematian (2:14-15). Yesus telah menderita dan mengalami maut untuk menggantikan mereka (ay.9). Dia lebih besar daripada Musa dan Dialah korban penebusan dosa terakhir yang mereka butuhkan (3:1-3; 9:24-48). Dia seorang Imam Besar yang tidak malu menyebut mereka saudara (2:10-13). Dalam Yesus—sang “bait suci” yang baru—mereka telah menjadi rumah Allah (3:1-6). Dengan mengingat penderitaan dan kemenangan Yesus bagi mereka, orang-orang percaya bisa saling menguatkan. —Mart DeHaan





November 15, 2019, 05:34:28 AM
Reply #2455
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24043
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Meraih Hadiah
  15/11/2019 
Meraih Hadiah
Baca: 1 Korintus 9:19-27 | Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 1–2 ; Ibrani 11:1-19
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-11-15.mp3

Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperoleh [hadiah]! —1 Korintus 9:24

Dalam film fiksi Forrest Gump keluaran tahun 1994, Forrest menjadi terkenal karena berlari. Dari awalnya hanya berlari “hingga ujung jalan” ternyata berlanjut menjadi tiga tahun, dua bulan, empat belas hari, dan enam belas jam. Setiap kali sampai di tempat yang ditujunya, ia menetapkan tujuan lain dan melanjutkan larinya, berzig-zag melintasi seluruh negeri, hingga suatu hari ia merasa tidak ingin berlari lagi. Alasan awalnya berlari adalah karena ia memang ingin melakukannya. Forrest berkata, “Hari itu, tanpa alasan tertentu, aku putuskan saja untuk pergi berlari”.

Berbeda dengan Forrest yang berlari karena dorongan hatinya, Rasul Paulus mendorong para pembaca suratnya untuk mengikuti teladannya dan berlari “begitu rupa, sehingga kamu memperoleh [hadiah]” (1Kor. 9:24). Seperti atlet yang disiplin, berlari—yaitu cara kita menjalani hidup—bisa berarti kita memutuskan untuk menjauhi hal-hal yang membawa kesenangan bagi kita. Kesediaan untuk mengesampingkan hak-hak kita bisa jadi akan menolong kita mengabarkan kabar baik tentang keselamatan dari dosa dan kematian kepada sesama kita.
Mahkota kemenangan yang dianugerahkan Allah bersifat abadi.

Dengan hati dan pikiran yang berfokus pada kerinduan untuk mengajak orang lain ikut berlari bersama kita, kita juga diyakinkan bahwa kita akan menerima hadiah utama—yaitu persekutuan kekal dengan Allah. Mahkota kemenangan yang dianugerahkan Allah bersifat abadi, dan kita meraihnya dengan berlari sepanjang hidup kita supaya nama Tuhan dikenal sembari mengandalkan kekuatan dari-Nya. Kita mempunyai alasan yang mulia untuk berlari!
Apa “tujuan” Anda dalam hidup? Apakah tujuan itu serupa atau berbeda dengan Paulus?
Tuhan Yesus, tolonglah aku untuk tetap berfokus pada alasanku berlari: yakni berbagi kabar baik tentang Engkau kepada orang-orang di sekitarku.
Oleh Kirsten Holmberg | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Dalam bacaan hari ini, Paulus menyampaikan nasihatnya dengan perumpamaan lomba lari. Jemaat Korintus tidak asing dengan kiasan itu karena Korintus adalah tempat pertandingan Isthmia—pesta olahraga pada zaman kuno yang terbesar nomor dua setelah Olimpiade. Seperti Yesus yang menyampaikan pengajaran lewat perumpamaan yang tidak asing bagi orang Yahudi pendengar-Nya (misalnya dunia pertanian, nelayan, dsb.), Paulus juga memakai kiasan yang akrab bagi para pembaca/pendengarnya. Kepada orang Korintus yang melek olahraga, ia berbicara dengan ilustrasi atletik. Kepada para cendekiawan di Athena, Paulus mengutip pujangga-pujangga Yunani (Kisah Para Rasul 17:28). Hal ini mengingatkan kita bahwa pengajaran bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga berusaha membuat orang lain paham dengan memakai sarana-sarana yang relevan dengan pendengar kita. —Bill Crowder




November 16, 2019, 06:18:18 AM
Reply #2456
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24043
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Ayah Di Mana?
  16/11/2019 
Ayah Di Mana?
Baca: Ulangan 31:1-8 | Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 3–4 ; Ibrani 11:20-40
00:00
Unduh MP3


https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-11-16.mp3


Sebab Tuhan, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati. —Ulangan 31:8

“Ayah! Ayah di mana?”

Saya sedang memarkir mobil di halaman rumah ketika anak perempuan saya menelepon dengan panik. Saya harus tiba di rumah pukul enam sore untuk mengantarnya pergi latihan dan saya datang tepat waktu. Namun, nada suara anak mengisyaratkan keraguannya. Spontan, saya menjawab: “Ayah sudah di sini. Mengapa kamu tidak percaya pada Ayah?”
Janji bahwa Allah selalu menyertai kita tetap menjadi landasan iman kita hari ini.

Namun, saat mengucapkan kata-kata itu, saya bertanya-tanya sendiri, Seberapa sering Bapa Surgawi bisa menanyakan hal yang sama kepada saya? Dalam situasi penuh ketegangan, saya bisa kehilangan kesabaran. Saya sulit untuk percaya dan meyakini bahwa Allah akan memenuhi janji-Nya. Maka, saya pun berteriak: “Bapa, di mana Engkau?”

Di tengah tekanan dan ketidakpastian, adakalanya saya meragukan penyertaan, bahkan kebaikan dan tujuan Allah atas hidup saya. Bangsa Israel pun demikian. Dalam Ulangan 31, mereka bersiap-siap memasuki Tanah Perjanjian sementara pemimpin mereka, Musa, tidak ikut. Musa berusaha meyakinkan umat Allah dengan mengingatkan mereka, “Sebab Tuhan, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati” (ay.8).

Janji bahwa Allah selalu menyertai kita tetap menjadi landasan iman kita hari ini (lihat Mat. 1:23; Ibr. 13:5). Wahyu 21:3 bahkan berpuncak dengan kata-kata ini: “Kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka.”

Di manakah Allah? Dia ada di sini, saat ini, bersama kita—selalu siap mendengar doa-doa kita.
Ayat Alkitab apa yang mengingatkan Anda pada kebenaran tentang kehadiran Allah? Taruhlah ayat itu di tempat yang mudah terlihat untuk mengingatkan Anda.
Bapa, tolonglah kami melihat betapa Engkau sangat mengasihi kami!
Oleh Adam Holz | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Dalam kitab Ulangan, Musa meriwayatkan kembali sejarah Israel memasuki Tanah Perjanjian dalam tiga kothbah (pasal 1–4; 5–26; 27–34). Empat puluh tahun penghukuman telah berakhir, dan seluruh orang Israel berusia dua puluh tahun ke atas yang keluar dari Mesir telah meninggal, kecuali Musa, Yosua, dan Kaleb (Bilangan 14:29-35). Musa mendorong umat Israel untuk belajar dari ketidaksetiaan mereka di masa lalu dan percaya kepada Allah (Ulangan 31:4-6). Musa sendiri takkan masuk ke Kanaan karena kesalahannya (ay.2). Dalam perjalanan menuju Tanah Perjanjian, Musa bersikap tidak hormat kepada Allah di Kadesy dengan memukul gunung batu guna mengeluarkan air, bukannya memerintahkannya dengan kata-kata sesuai perintah Allah (Bilangan 20:1-13; Mazmur 106:32-33). Namun, Musa diizinkan melihat Kanaan dari atas Gunung Nebo (Ulangan 34:1-5). —K.T. Sim






November 17, 2019, 04:41:44 AM
Reply #2457
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24043
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Dosa yang Begitu Merintangi
  17/11/2019 
Dosa yang Begitu Merintangi
Baca: Ibrani 2:17-18; 12:1-2 | Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 5–7 ; Ibrani 12
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-11-17.mp3


Marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita. —Ibrani 12:1

Para prajurit yang berperang di hutan yang panas dan gerah bertahun-tahun lalu menghadapi masalah pelik. Tiba-tiba saja ada tanaman merambat berduri tajam yang dapat menempel pada badan dan peralatan para prajurit, sehingga mereka terjerat olehnya. Saat berusaha melepaskan diri, semakin banyak sulur-suluran tumbuhan itu yang akan membelit mereka. Para prajurit menjuluki tumbuhan ini “tunggu sebentar” karena, sekali terjerat dan tidak bisa berjalan maju, mereka akan berteriak kepada anggota tim yang lain, “Hei, tunggu sebentar, aku terjerat!”

Hal yang sama juga berlaku bagi para pengikut Yesus. Mereka akan sulit untuk bergerak maju ketika mereka terjerat dosa. Ibrani 12:1 mendesak kita untuk “menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita” dan “berlomba dengan tekun.” Namun, bagaimana kita dapat menanggalkan dosa yang merintangi kita?
Allah ingin kita menang atas pencobaan, bukan dengan kekuatan kita sendiri, melainkan dengan kekuatan-Nya.

Yesuslah satu-satunya yang dapat melepaskan kita dari dosa yang menjerat hidup kita. Marilah belajar mengarahkan mata kita kepada-Nya, Juruselamat kita (12:2). Karena “dalam segala hal” Sang Anak Allah “disamakan” dengan manusia, Dia tahu bagaimana rasanya dicobai—tetapi tidak berdosa (2:17-18; 4:15). Jika berjuang sendiri, kita bisa terjerat dan dirintangi oleh dosa-dosa kita. Namun, Allah ingin kita menang atas pencobaan, bukan dengan kekuatan kita sendiri, melainkan dengan kekuatan-Nya, supaya kita bisa “menanggalkan” dosa yang merintangi dan berlomba mengejar kebenaran-Nya (1Kor. 10:13).
Dosa-dosa apa yang masih menjerat Anda saat ini? Apa yang dapat Anda lakukan untuk memperoleh kelepasan dari pergumulan yang Anda alami?
Tuhan Yesus, berilah aku kuasa-Mu untuk menang atas dosa dalam hidupku. Mampukanlah aku mengandalkan kekuatan-Mu dan bukan kekuatanku sendiri, dan pimpinlah aku di jalan yang benar.
Oleh Cindy Hess Kasper | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Ibrani 2:18 memberi kita wawasan yang luar biasa tentang kehidupan Yesus: “Oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai.” Ketika merenungkan pencobaan Kristus, kita teringat saat Dia berada di padang gurun (lihat Matius 4; Markus 1; Lukas 4). Sewaktu Iblis mencobai Dia untuk mengalihkan-Nya dari misi-Nya, Yesus mengalahkan si penggoda dengan ayat Kitab Suci. Hal itu menunjukkan bahwa dengan mengenal Alkitab dan mengandalkan Allah, kita dapat berdiri teguh saat menghadapi pencobaan. Yesus merasakan daya tarik pencobaan sama seperti kita, karena itu Dia mampu menolong kita dalam kelemahan kita. —J.R. Hudberg



November 18, 2019, 04:56:15 AM
Reply #2458
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24043
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Mengasihi Orang Asing
  18/11/2019 
Mengasihi Orang Asing
Baca: Keluaran 23:1-9 | Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 8–10 ; Ibrani 13
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-11-18.mp3

Janganlah kautindas atau kautekan seorang orang asing, sebab kamupun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir. —Keluaran 22:21

Setelah salah seorang anggota keluarga saya berpindah agama, sejumlah teman Kristen mendesak agar saya “meyakinkannya” untuk kembali kepada Yesus. Saya justru didorong untuk pertama-tama berusaha mengasihinya seperti yang Kristus lakukan—termasuk di tempat-tempat umum ketika orang-orang memandang heran karena penampilannya yang “asing”. Sebagian orang bahkan berkata kasar. “Pulang sana!” teriak seseorang dari dalam mobil, tanpa memahami atau peduli bahwa anggota keluarga saya itu bukan pendatang.

Musa mengajarkan cara yang lebih lembut dalam menghadapi mereka yang memiliki kepercayaan atau penampilan yang berbeda dari kita. Saat mengajarkan hukum tentang keadilan dan belas kasih, Musa memerintahkan umat Israel, “Orang asing janganlah kamu tekan, karena kamu sendiri telah mengenal keadaan jiwa orang asing, sebab kamupun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir” (Kel. 23:9). Ketetapan itu menunjukkan kepedulian Allah kepada semua orang asing, yaitu mereka yang rentan dicurigai dan ditindas. Perintah yang sama diulangi lagi di Keluaran 22:21 dan Imamat 19:33.

Oleh karena itu, saat saya sedang bersama anggota keluarga saya itu—di restoran, di taman, di jalan, atau saat duduk mengobrol dengannya di teras rumah—saya terlebih dahulu berusaha menunjukkan kepadanya kebaikan dan sikap hormat yang juga ingin saya dapatkan dari orang lain. Inilah salah satu cara terbaik untuk mengingatkannya kepada kasih Yesus yang indah, bukan dengan mempermalukannya karena sudah menolak-Nya, tetapi dengan mengasihinya seperti Dia mengasihi kita semua—dengan kasih karunia yang ajaib.
Apa sikap Anda terhadap mereka yang terlihat “berbeda” atau “asing”? Dengan cara apa Anda dapat menerapkan ketetapan Allah untuk tidak menindas “orang asing” atau “pengembara” di sekitar Anda?
Bapa yang penuh belas kasih, bukalah hatiku hari ini untuk mengasihi orang asing di sekitarku, supaya aku boleh membawa mereka kepada-Mu.
Oleh Patricia Raybon | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Umat Perjanjian Allah haruslah berbeda dan terpisah dari bangsa-bangsa di sekeliling mereka. Tujuannya terutama untuk melindungi mereka dari penyembahan berhala. Keluaran 34:15 berkata, “Janganlah engkau sampai mengadakan perjanjian dengan penduduk negeri itu; apabila mereka berzinah dengan mengikuti allah mereka dan mempersembahkan korban kepada allah mereka, maka mereka akan mengundang engkau dan engkau akan ikut makan korban sembelihan mereka.” Perintah-perintah Allah dimaksudkan untuk melindungi, tetapi bukan berarti bangsa Israel harus sepenuhnya mengisolasi diri dari orang asing. Kata yang di terjemahkan sebagai “orang asing” dalam Keluaran 23:9 berarti hidup di tengah orang-orang yang bukan saudara sedarah. Karena para pendatang tidak memiliki keluarga, mereka bergantung pada keramahtamahan/penerimaan orang-orang di tempat mereka tinggal. Orang Israel sendiri pernah mengalaminya di Mesir pada masa kelaparan (Kejadian 50:15-21). —Bill Crowder




November 19, 2019, 06:27:19 AM
Reply #2459
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24043
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Hasrat Sejati yang Terdalam
  19/11/2019 
Hasrat Sejati yang Terdalam
Baca: Markus 10:46-52 | Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 11–13 ; Yakobus 1
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-11-19.mp3

Tanya Yesus kepadanya: “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” —Markus 10:51

Seekor tikus bersuara melengking, Reepicheep, mungkin adalah tokoh paling pemberani dalam serial The Chronicles of Narnia. Ia terjun ke medan perang sambil mengayunkan pedang mungilnya. Ia tidak takut saat kapal Dawn Treader membawanya berlayar menuju Pulau Kegelapan. Apa rahasia keberanian Reepicheep? Ia memendam kerinduan yang sangat mendalam untuk masuk ke negeri Aslan. “Itulah hasrat hatiku,” katanya. Reepicheep tahu betul apa yang diinginkannya, dan keinginannya itu membawanya bertemu dengan rajanya.

Bartimeus, orang buta dari Yerikho, sedang duduk mengemis di tempatnya yang biasa ketika ia mendengar Yesus datang bersama orang banyak. Ia pun berseru, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” (Mrk. 10:47). Orang-orang berusaha menyuruhnya diam, tetapi Bartimeus tidak mau menyerah.

“Lalu Yesus berhenti,” tulis Markus (ay.49). Di tengah kerumunan itu, Yesus ingin mendengar Bartimeus. “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” tanya Yesus (ay.51). Jawabannya sebenarnya sudah jelas; Yesus juga pasti tahu. Namun, tampaknya Dia ingin Bartimeus mengungkapkan hasrat hatinya yang terdalam. “Supaya aku dapat melihat,” jawab Bartimeus (ay.51). Yesus pun menyuruh Bartimeus pulang dalam keadaan yang sudah dipulihkan—ia bisa melihat warna, keindahan, dan wajah teman-temannya untuk pertama kalinya.

Tidak semua hasrat kita dipenuhi dengan segera (bahkan hasrat itu pun harus mengalami transformasi), tetapi yang penting adalah Bartimeus tahu apa yang menjadi hasratnya dan ia membawanya kepada Yesus. Bila kita sungguh-sungguh mau memperhatikannya, kita akan menyadari bahwa hasrat dan kerinduan sejati kita akan selalu membawa kita kepada-Nya.
Apa yang sungguh-sungguh Anda dambakan? Bagaimana hasrat tersebut membawa Anda kepada Yesus?
Tuhan Yesus, tolonglah aku membawa seluruh hasratku kepada-Mu. Hanya Engkau yang sanggup memuaskan apa yang selama ini aku rindukan.
Oleh Winn Collier | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Kisah tentang Bartimeus si buta (Markus 10:46-52) hanyalah salah satu mukjizat kesembuhan dari kebutaan jasmani yang dicatat dalam Injil Markus. Kisah lainnya terdapat dalam 8:22-26 di mana Yesus menyembuhkan seorang pria yang tak disebut namanya di Betsaida. Namun, kebutaan jasmani bukan satu-satunya persoalan “penglihatan” yang hendak Markus sampaikan. Kebutaan rohani merajalela di mana-mana. Tepat sebelum Yesus menyembuhkan orang buta di Betsaida itu, Dia menegur murid-murid-Nya dengan berkata, “Belum jugakah kamu faham dan mengerti? Telah degilkah hatimu? Kamu mempunyai mata, tidakkah kamu melihat dan kamu mempunyai telinga, tidakkah kamu mendengar?” (ay.17-18); dan persis sebelum menyembuhkan Bartimeus, Yesus mengingatkan murid-murid-Nya bahwa Dia harus menderita dan mati, tetapi mereka tidak mengerti (ay.31-33; 9:30-32; 10:32-34). Setelah kebangkitan Kristus, barulah kebutaan rohani mereka sembuh. —Arthur Jackson





 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)