Author Topic: Our Daily Bread / RBC Indonesia  (Read 136036 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

November 20, 2019, 05:40:11 AM
Reply #2460
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24469
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/
Berbuah Sampai Akhir
  20/11/2019 
Berbuah Sampai Akhir
Baca: Mazmur 92:13-16 | Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 14–15 ; Yakobus 2
00:00
Unduh MP3


https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-11-20.mp3

Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar. —Mazmur 92:15

Sekalipun Lenore Dunlop “baru” berusia sembilan puluh empat tahun, pikirannya masih tajam, senyumnya lebar, dan kecintaannya yang meluap-luap kepada Yesus dapat dirasakan oleh banyak orang. Bukan hal aneh melihatnya duduk dengan anak-anak muda di gereja kami; kehadiran dan keterlibatannya membawa semangat serta sukacita bagi banyak orang. Semangat hidup Lenore begitu tinggi sehingga kematiannya membuat semua orang terkejut. Seperti pelari yang kuat, ia berlari cepat melewati garis akhir kehidupan. Energi dan gairahnya begitu meluap-luap, hingga beberapa hari sebelum kematiannya, ia baru saja menyelesaikan pelatihan sepanjang enam belas minggu tentang pelayanan pekabaran Injil kepada orang-orang di berbagai belahan dunia.

Kehidupan Lenore yang berbuah lebat dan memuliakan Allah menggambarkan apa yang kita baca dalam Mazmur 92:13-16. Mazmur ini melukiskan bagaimana orang-orang yang hidupnya berakar dalam hubungan yang benar dengan Allah akan bertunas, berbunga, dan berbuah (ay.12-13). Dua pohon yang digambarkan masing-masing dinilai dari buah dan kayunya; lewat ilustrasi ini pemazmur ingin menunjukkan hidup yang penuh dengan kesegaran, kemakmuran, dan manfaat bagi banyak orang. Kita patut bersukacita ketika melihat buah-buah kasih, kerelaan berbagi, kesukaan menolong, dan kerinduan membawa orang lain kepada Kristus tumbuh subur dan berkembang dalam hidup kita.
Bagaimana hidup kita mencerminkan buah yang muncul dari hubungan yang terus bertumbuh dengan Tuhan Yesus?

Bahkan mereka yang mungkin dianggap sudah “lanjut usia” atau “kawakan” tidak pernah terlambat untuk berakar dan berbuah. Hidup Lenore kuat berakar di dalam Allah melalui Yesus dan hidupnya menjadi kesaksian tentang buah-buah kebaikan Allah (ay.15). Hidup kita pun bisa demikian.
Bagaimana hidup Anda mencerminkan buah yang muncul dari hubungan yang terus bertumbuh dengan Tuhan Yesus? Apa yang perlu Anda tambah atau kurangi agar Anda terus bertumbuh?
Ya Bapa, berilah aku kekuatan untuk menghasilkan buah yang jelas-jelas menunjukkan bahwa hidupku berakar dalam hidup Anak-Mu, Yesus Kristus.
Oleh Arthur Jackson | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Mazmur 92 diawali dengan keterangan berikut: “Mazmur. Nyanyian untuk hari Sabat.” Berarti, orang Israel menyanyikan lagu pujian ini dalam ibadah raya pada hari Sabat (ay.2-4). Menurut New Living Translation Study Bible, “Tradisi Yahudi memberlakukan satu mazmur untuk setiap hari sepanjang minggu: Minggu (Mazmur 24), Senin (Mazmur 48), Selasa (Mazmur 82), Rabu (Mazmur 94), Kamis (Mazmur 81), Jumat (Mazmur 93), dan Sabat (Mazmur 92).”

Sabat adalah hari yang Allah khususkan bagi umat-Nya untuk beristirahat dan beribadah bersama—merayakan kebesaran-Nya dalam ciptaan (Keluaran 20:8-11; Imamat 23:3) dan mengenang kebebasan mereka dari perbudakan Mesir (Ulangan 5:6,15). Bagi orang Israel, umur panjang dianggap upah dan berkat dari Allah (Ulangan 4:40; 5:33; 30:20). Mazmur 92 merayakan berkat itu, mengungkapkan rasa syukur orang-orang yang telah berjalan dengan-Nya seumur hidup mereka (ay.6-16). —K.T. Sim





November 21, 2019, 06:21:36 AM
Reply #2461
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24469
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Beban yang Indah
  21/11/2019 
Beban yang Indah
Baca: Matius 11:28-30 | Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 16–17 ; Yakobus 3
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-11-21.mp3

Kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan. —Matius 11:30

Tiba-tiba saya terbangun di tengah malam yang gelap gulita. Saya baru terlelap kurang dari tiga puluh menit tetapi rasanya saya akan sulit untuk tidur lagi. Suami teman saya sedang terbaring di rumah sakit setelah menerima kabar yang menakutkan, “Kankernya kambuh lagi—sekarang menyerang otak dan tulang belakangnya.” Sekujur tubuh saya terasa sakit memikirkan mereka. Alangkah beratnya beban mereka! Namun, entah bagaimana, roh saya seperti disegarkan setelah saya berdoa semalaman. Bisa dikatakan saya merasakan beban yang indah untuk mereka. Bagaimana mungkin?

Dalam Matius 11:28-30, Yesus menjanjikan kelegaan bagi jiwa kita yang letih lesu. Anehnya, kelegaan dari-Nya justru dialami ketika pundak kita dipasangi kuk-Nya dan memikul beban-Nya. Dia menjelaskan di ayat 30, “Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.” Saat kita mengizinkan Tuhan Yesus mengangkat beban dari punggung kita dan kemudian membiarkan diri kita dipasangi kuk dari Yesus, kita pun terikat pada-Nya untuk melangkah bersama Dia seturut kehendak-Nya. Saat kita memikul beban-Nya, kita berbagi penderitaan dengan-Nya, yang pada akhirnya membuat kita menerima penghiburan dari-Nya juga (2Kor 1:5).
Kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan. —Matius 11:30

Keprihatinan saya atas kondisi teman-teman saya adalah beban yang berat. Namun, saya bersyukur Allah mengizinkan saya membawa mereka dalam doa. Pelan-pelan saya bisa kembali tidur dan bangun—masih dengan beban yang indah, tetapi yang terasa enak dan ringan karena saya memikulnya sambil berjalan bersama Yesus.
Beban apa yang sedang Anda pikul hari ini? Bagaimana Anda akan menyerahkan beban itu kepada Yesus?
Tuhan Yesus, ambillah beban beratku ini dan taruhlah di pundakku beban-Mu yang indah bagi dunia ini.
Oleh Elisa Morgan | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Perkataan Kristus yang menawarkan kelegaan bagi yang letih lesu (Matius 11:28-29) tampaknya berkaitan dengan pengajaran-Nya tentang penindasan. Dalam tradisi Yahudi, kata kuk sering dipakai sebagai kiasan hukum Allah. Kuk digunakan untuk melatih lembu yang belum berpengalaman dengan menggabungkannya bersama lembu lain yang sudah berpengalaman; dengan cara serupa, hukum bisa berfungsi sebagai pemandu latihan. Kata kuk juga dipakai untuk melambangkan aturan politik, dan kata kelegaan untuk menggambarkan kelepasan dari aturan yang menindas. Misalnya, dalam Yesaya 14, Allah berjanji akan mengenyahkan kuk bangsa Asyur yang membebani dan mendatangkan kelegaan bagi Israel (14:7,25).

Kekaisaran Romawi dan para pemuka agama pada zaman Kristus (ahli Taurat dan orang Farisi) memakai otoritas mereka dengan membebani rakyat (lihat Matius 23:4). Jadi, Yesus mengundang orang-orang yang letih lesu karena beban itu untuk hidup di bawah kepemimpinan-Nya yang berbelas kasih dalam kerajaan Allah yang memberi hidup. —Monica Brands




November 22, 2019, 07:07:34 AM
Reply #2462
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24469
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Si Anak Sulung
  22/11/2019 
Si Anak Sulung
Baca: Lukas 15:11-13,17-24 | Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 18–19 ; Yakobus 4
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-11-22.mp3

Bersungut-sungutlah [mereka], katanya: “Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.” —Lukas 15:2

Penulis Henri Nouwen mengingat kembali kunjungannya ke sebuah museum di St. Petersburg, Rusia. Ia pernah menghabiskan waktu berjam-jam di sana merenungi lukisan karya Rembrandt tentang kisah anak yang hilang. Seiring berjalannya waktu, pergeseran dari cahaya matahari yang masuk melalui jendela ke arah lukisan membuat Nouwen seolah-olah melihat lukisan yang berbeda-beda akibat pencahayaan yang berubah-ubah. Setiap pergeseran seolah menyingkapkan hal baru tentang kasih seorang ayah kepada anak lelakinya yang terpuruk.

Nouwen menggambarkan bagaimana pada pukul empat sore, tiga tokoh dalam lukisan itu terlihat seperti “maju selangkah.” Salah satunya adalah sosok anak sulung yang tidak menyukai rencana sang ayah menyambut kepulangan adiknya dengan menyelenggarakan pesta meriah. Lagi pula, bukankah adiknya itu telah menghabiskan warisan keluarga, membuat mereka semua sakit hati dan malu? (Luk. 15:28-30).
Sesungguhnya, setiap kisah yang diceritakan Yesus adalah tentang kita juga.

Dua sosok lain mengingatkan Nouwen kepada para pemuka agama yang hadir pada saat Yesus menceritakan perumpamaan-Nya. Merekalah yang bersungut-sungut tentang orang-orang berdosa yang tertarik kepada Yesus (ay.1-2).

Nouwen seakan melihat gambaran dirinya sendiri dalam semua sosok itu—si anak bungsu yang menyia-nyiakan hidupnya, si kakak sulung dan para pemuka agama yang bersungut-sungut, dan Sang Bapa dengan hati yang penuh belas kasihan kepada siapa saja dan semua orang.

Bagaimana dengan kita? Dapatkah kita melihat diri kita sendiri dalam lukisan karya Rembrandt itu? Sesungguhnya, setiap kisah yang diceritakan Yesus adalah tentang kita juga.
Bagaimana Anda dapat merenungkan kembali kisah yang diceritakan Yesus dan lukisan Rembrandt? Ketika cahaya matahari yang menerangi lukisan itu bergeser, di manakah Anda dalam lukisan tersebut?
Bapa, mampukan aku melihat diriku dari besarnya kasih-Mu padaku.
Oleh Mart DeHaan | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Lukas 15 merupakan satu kesatuan perumpamaan dengan tiga bagian terpisah tetapi saling berhubungan. Yesus menggambarkan tiga hal yang hilang—domba, dirham, dan anak. Setiap bagian berakhir dengan sukacita menemukan yang hilang, untuk memperlihatkan bahwa akan ada kegirangan di surga karena “satu orang berdosa yang bertobat” (ay.7,10,32). Para pendengarnya saat itu adalah orang Farisi dan para pemuka yang mengecam Yesus karena Dia menerima orang-orang berdosa (ay.1-2). Lewat perumpamaan si anak sulung (ay.25-31), Yesus mengemukakan perlunya orang Farisi bertobat. Dia tidak menjelaskan apakah si sulung akhirnya menghadiri perayaan adiknya, seolah-olah Dia menempatkan orang Farisi sebagai sang kakak dan menunjukkan bahwa mereka punya pilihan: bertobat atau tidak. —Julie Schwab




November 23, 2019, 06:27:26 AM
Reply #2463
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24469
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Pengakuan dari Satu Pribadi
  23/11/2019 
Pengakuan dari Satu Pribadi
Baca: 1 Tesalonika 2:1-4 | Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 20–21 ; Yakobus 5
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-11-23.mp3

Kami berbicara, bukan untuk menyukakan manusia, melainkan untuk menyukakan Allah yang menguji hati kita. —1 Tesalonika 2:4

Ketika komponis legendaris Giuseppe Verdi (1813–1901) masih muda, kehausannya untuk diakui orang menjadi motivasinya meraih sukses. Warren Wiersbe pernah menulis, “Ketika Verdi menampilkan karya operanya yang perdana di kota Firenze, sang komponis berdiri seorang diri di bawah bayang-bayang dengan mata yang terus tertuju kepada wajah seseorang di bangku penonton—Rossini yang agung. Bagi Verdi, tidak penting baginya apakah para penonton bersorak atau mencemoohnya; yang terpenting baginya adalah senyum tanda pengakuan dari sang maestro.”

Pengakuan siapakah yang kita cari? Orangtua? Atasan? Orang yang kita cintai? Bagi Rasul Paulus, jawabannya hanya satu. Ia menulis, “Allah telah menganggap kami layak untuk mempercayakan Injil kepada kami, karena itulah kami berbicara, bukan untuk menyukakan manusia, melainkan untuk menyukakan Allah yang menguji hati kita” (1Tes. 2:4).

Apa artinya mencari pengakuan Allah? Hal itu setidaknya melibatkan dua hal: berbalik dari hasrat mengejar pengakuan orang lain dan mengizinkan ROH KUDUS-Nya menjadikan kita semakin menyerupai Kristus—Pribadi yang mengasihi kita dan rela memberikan diri-Nya untuk kita. Ketika kita berserah kepada tujuan-Nya yang sempurna dalam dan melalui hidup kita, kita dapat menantikan dengan penuh semangat harinya ketika senyum tanda pengakuan-Nya terarah kepada kita—pengakuan dari satu Pribadi yang paling berarti.
Pengakuan siapa yang Anda kejar dan mengapa pengakuan mereka sangat penting bagi Anda? Bagaimana pengakuan Allah dapat lebih memuaskan Anda?
Ya Bapa, begitu mudah aku tergoda mencari pujian dan pengakuan dari orang lain. Mampukanlah aku mengarahkan mataku kepada-Mu, Pribadi yang paling mengenal dan mengasihiku.
Oleh Bill Crowder | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Pada perjalanan misinya yang kedua (Kisah Para Rasul 15:36–18:22), Paulus ingin memberitakan Injil di Asia Kecil dan Bitinia (bagian barat dan utara Turki modern), tetapi Allah mengarahkannya ke barat laut, ke tanah Eropa melintasi Troas dengan “penglihatan tentang seorang Makedonia” (16:6-12). Paulus berkhotbah di Tesalonika (Yunani utara), kota Eropa kedua yang diinjili (setelah Filipi), selama kira-kira satu bulan (17:2). Setelah membentuk jemaat di sana, ia pergi karena dianiaya (ay.5-10), tetapi Paulus sangat prihatin pada jemaat yang baru terbentuk itu. Setelah gagal kembali ke sana (1 Tesalonika 2:17-18), ia mengutus Timotius untuk mengunjungi jemaat Tesalonika (3:1-5). Timotius melaporkan bahwa jemaat itu bertumbuh—berdiri teguh dalam Kristus di tengah kesukaran/aniaya (ay.6-8)—tetapi ia juga menyampaikan keprihatinan soal perilaku amoral dan keyakinan keliru menyangkut kedatangan Kristus yang kedua (4:1-18). Sebagai jawaban, Paulus menulis surat 1 Tesalonika guna memuji jemaat di sana sebagai “teladan untuk semua orang yang percaya” dan karena “iman mereka kepada Allah” (1:7-8). —K.T. Sim




November 24, 2019, 04:08:24 AM
Reply #2464
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24469
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Berbicara Tentang Allah
  24/11/2019 
Berbicara Tentang Allah
Baca: Ulangan 11:13-21 | Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 22–23 ; 1 Petrus 1
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-11-24.mp3


Kamu harus menaruh perkataanku ini dalam hatimu dan dalam jiwamu; kamu harus mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu. —Ulangan 11:18

Penelitian Barna Group di tahun 2018 mendapati bahwa sebagian besar orang Amerika tidak suka berbicara tentang Tuhan. Hanya tujuh persen yang membicarakan hal-hal rohani secara teratur—dan ini tidak jauh berbeda di antara orang percaya. Hanya tiga belas persen dari jemaat yang rutin beribadah yang mengatakan bahwa mereka membicarakan hal-hal rohani setidaknya satu kali dalam seminggu.

Mungkin tidak mengherankan bahwa pembicaraan rohani semakin jarang dilakukan. Berbicara tentang Allah bisa berbahaya. Baik karena iklim politik yang memanas, perbedaan pendapat yang berpotensi membawa perpecahan, atau percakapan rohani yang bisa membuat kita menyadari adanya hal-hal yang harus diubah dalam hidup, semua itu membuat pembicaraan rohani dianggap berisiko tinggi.
Allah memanggil kita untuk membicarakan tentang Dia.

Namun, dalam perintah di kitab Ulangan yang diberikan kepada Israel, umat pilihan Allah, berbicara tentang Allah bisa menjadi hal yang normal dan wajar dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Umat Allah perlu menghafal firman-Nya dan menaruhnya di tempat-tempat yang mudah dan sering dilihat. Hukum itu memerintahkan umat untuk berbicara tentang perkataan Allah kepada anak-anak mereka “apabila engkau duduk di rumahmu dan apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun” (11:19).

Allah memanggil kita untuk membicarakan tentang Dia. Ambillah kesempatan itu, bergantunglah kepada Roh-Nya, dan cobalah mengubah obrolan ringan Anda menjadi pembicaraan yang lebih bermakna. Allah akan memberkati lingkungan kita ketika kita membicarakan dan melakukan firman-Nya.
Tantangan apa yang Anda hadapi saat membicarakan hal-hal rohani dengan teman-teman Anda? Sebaliknya, berkat apa saja yang Anda dapatkan?
Banyak yang dapat kubagi dengan orang lain tentang diri-Mu, ya Allah. Pimpinlah aku saat aku berinteraksi dengan mereka.
Oleh Amy Peterson | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Kitab Ulangan merupakan kitab Perjanjian Lama yang paling sering dikutip Yesus setelah Mazmur. Ketika dicobai di padang gurun, Yesus tiga kali menyanggah Iblis dengan pengajaran dari kitab Ulangan (Matius 4:4,7,10, mengutip Ulangan 8:3, 6:16, dan 6:13). Ketika seorang ahli Taurat menanyakan kepada-Nya perintah mana yang terutama (Matius 22:34-40), Yesus mengutip Ulangan 6:5. Bacaan itu diulangi di sini dalam 11:13, menekankan arti pentingnya. Jika Israel mematuhi hukum Allah dengan mengasihi Tuhan Allah dan menyembah Dia dengan segenap hati dan segenap jiwa mereka, berkat Allah akan mengalir. —Tim Gustafson




November 25, 2019, 06:01:42 AM
Reply #2465
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24469
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Harta Istimewa Allah
  25/11/2019 
Harta Istimewa Allah
Baca: 1 Petrus 2:4-10 | Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 24–26 ; 1 Petrus 2
00:00
Unduh MP3


https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-11-25.mp3

Tetapi kamulah . . . umat kepunyaan Allah sendiri. —1 Petrus 2:9

Bayangkan sebuah ruang singgasana yang megah dan luas. Seorang raja agung duduk di takhtanya. Ia dikelilingi oleh banyak pelayan, masing-masing menunjukkan sikap yang terbaik. Sekarang, bayangkan ada sebuah peti yang diletakkan di dekat kaki sang raja. Dari waktu ke waktu, raja memasukkan tangannya ke dalam peti itu dan memegang-megang isinya. Apa yang ada di dalam peti tersebut? Perhiasan, emas, dan batu permata kesukaan raja. Peti itu menyimpan harta sang raja, suatu koleksi yang mendatangkan kebahagiaan baginya. Dapatkah Anda membayangkannya?

Dalam bahasa Ibrani, kata yang digunakan untuk harta seperti itu adalah segulah, yang berarti “kesayangan.” Kata tersebut dapat ditemukan dalam Perjanjian Lama, seperti di Keluaran 19:5, Ulangan 7:6, dan Mazmur 135:4, untuk melambangkan bangsa Israel. Namun, gambaran yang sama juga muncul di Perjanjian Baru dalam tulisan Rasul Petrus. Ia mendeskripsikan “umat Allah” sebagai mereka yang “sekarang telah beroleh belas kasihan” (1Ptr. 2:10), suatu kumpulan yang kini tidak hanya terbatas pada bangsa Israel. Dengan kata lain, ia berbicara tentang orang-orang yang percaya kepada Yesus, baik orang Yahudi maupun bukan Yahudi. Ia pun menulis, “Tetapi kamulah . . . umat kepunyaan Allah sendiri” (ay.9).
Tetapi kamulah . . . umat kepunyaan Allah sendiri. —1 Petrus 2:9

Bayangkanlah itu! Raja Surgawi yang agung dan berdaulat itu menganggap Anda sebagai salah satu milik kesayangan-Nya! Dia telah menyelamatkan Anda dari cengkeraman dosa dan maut. Dia mengakui Anda sebagai milik-Nya sendiri. Raja itu berkata, “Inilah yang kusukai. Ia milikku.”
Pernahkah seseorang menyebut Anda “istimewa” secara tulus? Dampak apa yang Anda rasakan? Apa artinya bagi Anda saat menyadari Anda berharga di mata Allah?
Raja Surgawi yang Mahatinggi, identitasku yang seutuhnya kutemukan di dalam Engkau, dan Engkau menyebutku sebagai milik kesayangan-Mu. Aku tahu itu bukan hasil perbuatanku, tetapi semata-mata anugerah-Mu.
Oleh John Blase | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Ketika Petrus berbicara tentang Yesus dan murid-murid-Nya sebagai batu-batu hidup (1 Petrus 2:4-6), ia mengacu pada perkataan nabi Yesaya dan Mazmur 118. Dengan perumpamaan tukang bangunan, Yesaya menubuatkan sebuah batu penjuru yang akan Allah letakkan di Yerusalem sebagai pondasi yang aman bagi semua orang yang membangun di atasnya (28:16). Mazmur 118 merayakan hari ketika batu penjuru ini diletakkan, menggambarkannya sebagai batu yang ditolak oleh tukang bangunan sebelum Allah memakainya untuk memperlihatkan bahwa kasih setia-Nya kekal (ay.22-24,29). Rasul Paulus juga menyebut Yesus sebagai batu penjuru bait suci yang dibangun dengan kehidupan umat Allah sendiri (Efesus 2:19-22). Seluruh nas Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tersebut memberi kita gambaran tentang bait suci yang terwujud nyata dalam kehidupan umat Allah yang dipenuhi dengan Roh Kristus. —Mart DeHaan




November 26, 2019, 06:26:33 AM
Reply #2466
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24469
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Dia Memegang Kita
  26/11/2019 
Dia Memegang Kita
Baca: 2 Petrus 3:14-18 | Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 27–29 ; 1 Petrus 3
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-11-26.mp3

Bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. —2 Petrus 3:18

Pendeta Watson Jones teringat saat dahulu ia belajar naik sepeda. Sang ayah berjalan di sampingnya ketika Watson melihat ada sejumlah teman perempuan duduk di teras. Karena gengsi, ia berseru, “Ayah, aku sudah bisa sendiri!”, padahal kenyataannya tidak. Ia baru menyadari bahwa ia belum belajar menyeimbangkan dirinya di atas sepeda tanpa dipegang ayahnya. Ternyata ia belum sedewasa yang ia kira.

Bapa kita di surga rindu kita bertumbuh dan mencapai “kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus” (Ef. 4:13). Namun, kedewasaan rohani berbeda dengan kedewasaan jasmani. Orangtua membesarkan anak-anaknya agar mandiri dan tidak lagi bergantung kepada mereka. Sebaliknya, Bapa Surgawi membesarkan kita untuk semakin bergantung kepada-Nya dari hari ke hari.
Kita tidak mungkin berhenti bergantung pada Kristus.

Petrus mengawali suratnya dengan menjanjikan “kasih karunia dan damai sejahtera . . . oleh pengenalan akan Allah dan akan Yesus, Tuhan kita,” dan mengakhiri suratnya dengan mendorong kita untuk “[bertumbuh] dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus” (2Ptr. 1:2; 3:18). Orang Kristen yang dewasa tidak pernah berhenti membutuhkan Yesus.

Watson mengingatkan, “Sebagian dari kita terus-menerus menolak Yesus memegang kendali atas hidup kita.” Kita melakukannya seakan-akan kita tidak memerlukan tangan-Nya yang kuat untuk memegang, mengangkat, dan memeluk kita saat kita goyah dan jatuh. Kita tidak mungkin berhenti bergantung pada Kristus. Kita hanya dapat bertumbuh dengan menancapkan akar kita lebih kuat lagi ke dalam kasih karunia dan pengenalan akan Dia.
Bagaimana tingkat kebergantungan Anda pada Yesus? Bagaimana hal tersebut menunjukkan kedewasaan rohani Anda?
Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau berjalan mendampingiku sembari aku bertumbuh semakin erat dengan-Mu.
Oleh Mike Wittmer | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Petrus menulis kedua suratnya (lihat 1 Petrus 1:1; 2 Petrus 3:1) kepada orang percaya di “provinsi Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia dan Bitinia” (diperkirakan Turki modern). Dalam surat yang kedua, ia memperingatkan orang percaya agar waspada terhadap guru-guru palsu (3:17). Supaya tidak mudah diperdaya, mereka harus “bertumbuh dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus” (ay.18). Mengenal Yesus secara karib adalah panggilan utama dari pemuridan sejati serta tujuan akhir bagi setiap orang percaya (Yohanes 17:3; Efesus 1:17; Kolose 2:2). Petrus mengatakan bahwa kita telah menerima “segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia” (2 Petrus 1:3). —K.T. Sim




November 27, 2019, 05:26:44 AM
Reply #2467
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24469
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Menggenggam Terlalu Erat
  27/11/2019 
Menggenggam Terlalu Erat
Baca: Pengkhotbah 4:4-8 | Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 30–32 ; 1 Petrus 4
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-11-27.mp3

Segenggam ketenangan lebih baik dari pada dua genggam jerih payah dan usaha menjaring angin. —Pengkhotbah 4:6

Dalam fabel kuno The Boy and the Filberts (Nuts), seorang bocah laki-laki memasukkan tangannya ke dalam stoples berisi kacang dan meraup segenggam penuh isinya. Namun, tangannya terlalu penuh sehingga tersangkut di mulut stoples. Karena tidak rela kehilangan sebutir kacang pun, bocah itu mulai menangis. Pada akhirnya, ia dinasihati untuk membuka genggamannya dan melepaskan sebagian kacang supaya tangannya dapat keluar dari stoples. Memang, ketamakan dapat memberikan pelajaran yang pahit kepada kita.

Guru bijak dalam kitab Pengkhotbah memberikan pelajaran tentang ketamakan lewat ilustrasi tangan dan mengaitkannya dengan hidup kita. Ia membandingkan dan mengontraskan seorang pemalas dengan si rakus dengan menulis: “Orang yang bodoh melipat tangannya dan memakan dagingnya sendiri. Segenggam ketenangan lebih baik dari pada dua genggam jerih payah dan usaha menjaring angin” (4:5-6). Sementara si pemalas menunda-nunda sampai akhirnya hancur sendiri, orang yang mengejar kekayaan akan menyadari bahwa usahanya merupakan “kesia-siaan dan hal yang menyusahkan” (ay.8).
Apa yang selama ini Anda kejar dan genggam?

Menurut sang guru, alangkah lebih baiknya memilih ketenangan daripada berupaya keras meraup segala sesuatu dengan rakus supaya kita merasa cukup dalam hal-hal yang memang menjadi milik kita. Karena yang menjadi bagian kita akan selalu tersedia bagi kita. Inilah yang Yesus katakan, “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya” (Mrk. 8:36).
Apa yang selama ini Anda kejar dan genggam? Bagaimana Anda dapat menerapkan kata-kata bijak dari Pengkhotbah agar Anda mengalami ketenangan dalam hidup?
Ya Allah, terima kasih untuk pemeliharaan dan kehadiran-Mu yang setia dalam hidupku. Tolonglah aku agar dapat hidup dengan rasa cukup, yang sungguh-sungguh menunjukkan rasa syukur kami kepada-Mu.
Oleh Remi Oyedele | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Kitab Pengkhotbah memang tepat ditempatkan dalam kategori Kitab Hikmat (Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkhotbah, Kidung Agung). Kitab yang tidak terlalu populer ini sejak awal menggarisbawahi keprihatinan umat manusia, dengan pertanyaan-pertanyaan tentang Allah, kehidupan di bumi, kekekalan, suka duka, kebaikan dan kejahatan, maut dan kematian, hikmat dan kebodohan. Kitab Pengkhotbah ibarat jurnal dua belas bab di mana sang penulis mencatat pemikiran dan pengamatannya tentang kehidupan. Penulisnya sangat realistis (ia tidak mengabaikan rumitnya kehidupan) dan memakai ungkapan-ungkapan yang menunjukkan beragam keputusasaannya. Kata sia-sia diulangi tiga puluh lima kali, dan usaha menjaring angin muncul sembilan kali. Namun, penulis bukanlah seorang ateis—ia percaya kepada Allah. Ia mendorong pembacanya untuk mengakui dan menghormati Pencipta mereka. Mengapa? “Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat” (12:14). —Arthur Jackson





November 28, 2019, 05:44:55 AM
Reply #2468
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24469
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://santapanrohani.org/

Ucapan Terima Kasih yang Tulus
  28/11/2019 
Ucapan Terima Kasih yang Tulus
Baca: Mazmur 9:1-3,8-11 | Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 33–34 ; 1 Petrus 5
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-11-28.mp3


Aku mau bersyukur kepada Tuhan dengan segenap hatiku, aku mau menceritakan segala perbuatan-Mu yang ajaib. —Mazmur 9:2

Untuk mempersiapkan Xavier, putra kami, menghadapi wawancara kerja pertamanya, Alan, suami saya, memberikan setumpuk kartu ucapan terima kasih untuk dikirimkan kepada calon pemberi kerja setelah selesai wawancara. Suami saya lalu berpura-pura menjadi pewawancara dan mengajukan berbagai pertanyaan kepada Xavier. Selesai latihan, Xavier memasukkan beberapa lembar surat lamarannya ke dalam map. Ia tersenyum ketika Alan mengingatkannya tentang kartu ucapan itu. “Aku tahu, Ayah,” katanya. “Ucapan terima kasih yang tulus akan membuatku terlihat berbeda dari pelamar-pelamar yang lain.”

Ketika seorang manajer mengabarkan bahwa Xavier diterima, ia mengungkapkan rasa terima kasihnya untuk kartu ucapan yang ditulis tangan tersebut sebagai sesuatu yang sudah lama tidak pernah ia terima.
Tidak akan pernah habisnya kita mengungkapkan rasa syukur kita atas segala perbuatan Allah yang ajaib.

Ucapan terima kasih memberi dampak yang bertahan lama. Doa-doa sepenuh hati dan penyembahan syukur yang dinaikkan para pemazmur diabadikan dalam kitab Mazmur. Ada seratus lima puluh mazmur, tetapi dua ayat ini sangat tepat mencerminkan ucapan syukur: “Aku mau bersyukur kepada Tuhan dengan segenap hatiku, aku mau menceritakan segala perbuatan-Mu yang ajaib; aku mau bersukacita dan bersukaria karena Engkau, bermazmur bagi nama-Mu, ya Mahatinggi”(Mzm. 9:2-3).

Tidak akan pernah habisnya kita mengungkapkan rasa syukur kita atas segala perbuatan Allah yang ajaib. Namun, kita dapat memulainya dengan ucapan terima kasih yang tulus lewat doa-doa kita. Kita dapat memelihara gaya hidup yang penuh syukur, dengan memuji Allah dan mengakui segala sesuatu yang telah Dia perbuat dan semua janji yang akan Dia genapi.
Bagaimana Anda mengucapkan terima kasih atas hari yang telah dibuat-Nya ini? Bagaimana menuliskan doa syukur dapat menolong kita menumbuhkan sikap yang penuh syukur dalam segala keadaan?
Ya Allah yang pemurah dan pengasih, tolonglah kami untuk mengakui cara kerja-Mu yang luar biasa dan tak terhitung banyaknya.
Oleh Xochitl Dixon | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Mazmur 9 dan 10 mungkin awalnya merupakan satu puisi tunggal dalam bahasa Ibrani. Setiap barisnya dimulai dengan huruf sesuai urutan abjad Ibrani. Tidak seperti tulisan ratapan (doa atau sajak tentang duka karena kesukaran dan beratnya hidup) yang lain, Mazmur 9 dan 10 dimulai dengan kepercayaan teguh serta pujian kepada Allah. Di tengah ujian sekalipun, pemazmur mengakui bahwa Allah telah melakukan perbuatan-perbuatan ajaib dan manusia sepatutnya mengucap syukur, memberitakan perbuatan-perbuatan itu, bersukaria, serta menyanyikan puji-pujian bagi nama-Nya (9:2-3).

Kita melihat suatu pelajaran dalam Mazmur 9. Allah tak hanya melakukan perbuatan-perbuatan besar seperti melepaskan umat-Nya dari Mesir, memberi mereka makan di padang gurun, dan menyerahkan Tanah Perjanjian, tetapi perbuatan-perbuatan-Nya juga bersifat pribadi. Allah memperlihatkan kebaikan-Nya dan menyingkapkan rancangan-Nya dalam skala besar sekaligus pribadi. —J.R. Hudberg




November 29, 2019, 06:36:28 AM
Reply #2469
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24469
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Bahan Berbahaya
  29/11/2019 
Bahan Berbahaya
Baca: Yesaya 6:1-10 | Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 35–36 ; 2 Petrus 1
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-11-29.mp3


Lihat, [bara] ini telah menyentuh bibirmu, maka kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni. —Yesaya 6:7

Suara sirene meraung-raung semakin keras saat sebuah mobil gawat darurat menyalip mobil saya. Terang lampu sirenenya yang berpendar menembus kaca depan mobil saya dan menerangi tulisan “Awas, bahan berbahaya” pada badan mobil itu. Belakangan saya baru tahu kalau truk tersebut sedang mengebut menuju sebuah laboratorium sains karena asam sulfat seberat 400 galon yang diangkutnya mulai bocor. Para petugas harus segera menampung zat tersebut karena kemampuannya merusak apa pun yang bersentuhan dengannya.

Ketika saya memikirkan tentang berita tersebut, saya bertanya-tanya apa yang akan terjadi jika ada sirene yang berbunyi setiap kali mulut saya mengeluarkan kata-kata yang keras atau kritis? Seandainya itu terjadi, sayangnya, mungkin suasana di rumah kami akan sangat bising.
Adakah yang mungkin perlu diubah Allah dalam perkataan Anda?

Nabi Yesaya mengungkapkan kesadaran yang sama akan dosanya. Saat melihat kemuliaan Allah dalam sebuah penglihatan, ia merasa begitu tidak layak. Ia menyadari bahwa dirinya adalah “seorang yang najis bibir” yang hidup bersama orang-orang dengan masalah yang sama (Yes. 6:5). Namun, apa yang terjadi selanjutnya memberi saya harapan. Seorang malaikat menyentuh bibirnya dengan bara panas dan berkata, “Kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni” (ay.7).

Di sepanjang hari, kita mempunyai pilihan atas apa yang akan kita katakan—baik berupa tulisan maupun lisan. Apakah kata-kata kita akan menjadi bahan yang “berbahaya”, ataukah kita akan mengizinkan kemuliaan Allah menyadarkan kita dari dosa dan kemurahan-Nya menyembuhkan kita sehingga kita dapat memuliakan Dia dengan segala sesuatu yang kita ungkapkan?
Mengapa kata-kata kita mempunyai dampak besar terhadap orang lain? Adakah yang mungkin perlu diubah Allah dalam perkataan Anda?
Ya Allah, tolonglah aku melihat pengaruh kata-kataku terhadap orang lain. Tunjukkanlah kepadaku bagaimana aku dapat menyemangati orang lain.
Oleh Jennifer Benson Schuldt | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Nama Yesaya artinya “Yahweh adalah keselamatan”. Ia menulis kitabnya ketika Israel mengalami pergolakan dengan kerajaan Asyur. Yesaya adalah putra Amos, ia menikah dengan wanita yang disebut “nabiah” (8:3). Mereka memiliki dua putra—Syear Yasyub and Maher-Syalal Hash-Bas (7:3; 8:3). Dari ayat pertama kita tahu bahwa Yesaya bernubuat “dalam zaman Uzia, Yotam, Ahas dan Hizkia, raja-raja Yehuda,” diperkirakan lima puluh tahun lamanya. —Alyson Kieda




 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)