Author Topic: renungan harian online  (Read 128444 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

February 19, 2013, 07:31:15 AM
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20198
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_02_01_archive.html
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/02/pelajaran-dari-belalang-2.html

Pelajaran dari Belalang (2)

Ayat bacaan: Amsal 30:27
"The locusts have no king, yet they go forth all of them by bands"


Satu ekor belalang kecil bisa terlihat lemah. Jika mau, kita bisa menghabisinya dengan sangat mudah hanya dengan sedikit tenaga saja. Tapi coba bayangkan apa yang terjadi jika belalang itu tidak sendirian melainkan membawa teman-temannya, datang dalam satu kelompok besar. Apa jadinya jika kita diserbu ratusan bahkan ribuan belalang sekaligus? Bagi para petani, itu merupakan bencana. Serbuan belalang seperti ini bisa sangat merepotkan dan merugikan. Maka belalang pun dikategorikan ke dalam hama yang bisa merusak hasil pertanian mereka.

Saya ingin melanjutkan renungan kemarin mengenai pembelajaran yang bisa kita dapatkan dari belalang. Jika kemarin saya menyoroti masalah keteraturan atau taat peraturan termasuk didalamnya peraturan yang langsung berasal dari Tuhan, hari ini mari kita lihat mengenai kekuatan lewat sebuah kebersatuan dimana kerjasama merupakan faktor yang penting didalamnya.

Ada baiknya jika kita melihat sejenak mengenai apa yang terjadi ketika Firaun tetap mengeraskan hatinya untuk melepaskan Israel dari perbudakan di Mesir. Meski sudah diingatkan Tuhan lewat Musa dan Harun, nyatanya Firaun tetap membandel. Dan serangkaian tulah pun hadir menimpa bangsanya sebagai konsekuensinya. Tulah ke delapan yang dijatuhkan adalah segerombolan belalang dalam jumlah yang begitu besar. Apa yang terjadi tepatnya sebagai berikut. "Datanglah belalang meliputi seluruh tanah Mesir dan hinggap di seluruh daerah Mesir, sangat banyak; sebelum itu tidak pernah ada belalang yang demikian banyaknya dan sesudah itupun tidak akan terjadi lagi yang demikian. Belalang menutupi seluruh permukaan bumi, sehingga negeri itu menjadi gelap olehnya; belalang memakan habis segala tumbuh-tumbuhan di tanah dan segala buah-buahan pada pohon-pohon yang ditinggalkan oleh hujan es itu, sehingga tidak ada tinggal lagi yang hijau pada pohon atau tumbuh-tumbuhan di padang di seluruh tanah Mesir." (Keluaran 10:14-15). Terdengar sangat mengerikan bukan? Jika kita pernah melihat bagaimana kesulitan yang dihadapi penduduk di suatu daerah ketika menghadapi serangan belalang, disini dikatakan bahwa pada saat itu serangan jauh lebih besar dari yang pernah ada, dan tidak akan pernah ada serangan belalang yang lebih besar lagi setelahnya. Dalam sekejap mata Mesir berubah menjadi lautan belalang yang mengubah Mesir menjadi gurun gersang dalam waktu singkat.

Satu belalang mungkin tidak akan berpengaruh apa-apa, tapi dalam jumlah banyak belalang bisa sangat merepotkan bahkan beresiko membawa bencana. Agur bin Yake mengatakan: "belalang yang tidak mempunyai raja, namun semuanya berbaris dengan teratur." (Amsal 30:27). Dalam versi Bahasa Inggris (Amplified) dikatakan: "The locusts have no king, yet they go forth all of them by bands". Meski belalang  tidak memiliki raja, namun mereka bisa bersatu dengan kuat dalam kelompoknya secara kolektif untuk satu tujuan tertentu. Apa yang kita lihat belakangan ini adalah situasi dimana manusia semakin lama semakin sulit untuk bersatu, terus mementingkan ego dan selalu memperbesar jurang perbedaan. Bahkan seringkali kita menyaksikan betapa sulitnya kita yang seiman sekalipun untuk bersatu. Karenanya kita patut malu terhadap belalang ini. Mungkin di dunianya, masing-masing belalang punya kepentingan dan pendapatnya sendiri-sendiri juga, tetapi mereka bisa mengesampingkan itu semua demi kepentingan bersama. Mereka bisa bekerja sama dalam mencapai tujuan tertentu, dan hasilnya bisa sangat luar biasa besar. Jika belalang yang tidak memiliki raja bisa bersikap demikian, betapa memalukannya kita yang memiliki Raja tidak bisa melakukannya.

bersambung
February 19, 2013, 07:32:32 AM
Reply #1
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20198
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
Walaupun Perjanjian Baru banyak memberi penekanan kepada pertumbuhan iman kita masing-masing, tetapi Tuhan tidak pernah menginginkan kita untuk menjadi individu-individu yang eksklusif. Gereja tidak akan pernah bisa menjadi terang dan garam jika hanya dibatasi oleh dinding tembok kita sendiri tanpa pernah berpikir untuk menjangkau lebih banyak jiwa yang berada di luar dinding itu. Penulis Ibrani menyampaikan Firman Tuhan yang berbunyi: "Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik." (Ibrani 10:24). Prinsip saling yang positif harus terus kita kembangkan, karena kita harus menyadari bahwa kita ini terbatas dan lemah seperti belalang. Menghadapi hari-hari yang semakin sukar ini, sudah seharusnya kita lebih menekankan kebersamaan, membangun hubungan kekeluargaan dan persaudaraan erat dengan saudara-saudari kita lainnya. Apa yang diinginkan Tuhan sesungguhnya jelas. Berhentilah menjadi pribadi yang eksklusif! "Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat." (ay 25).

Demikian pentingnya persekutuan, karenanya itu jangan sampai kita abaikan atau nomorduakan. Disana kita bisa saling menguatkan, menegur dan meneguhkan. Apabila kita menyadari bahwa kita hanyalah manusia yang lemah, seharusnya kita menyadari kekuatan yang bisa hadir lewat sebuah kerjasama. Firman Tuhan berkata: "Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!" (Pengkotbah 4:9-10). Lalu selanjutnya dikatakan: "Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan."(ay 12). Belalang jika hanya seekor akan mudah dipatahkan, tetapi akan memiliki kekuatan yang luar biasa ketika mereka bersatu. Hari-hari yang kita jalani sesungguhnya sulit. Oleh karena itu marilah kita lebih giat lagi bersekutu, saling support, saling bantu, saling dorong, agar kita bisa sama-sama terus bertumbuh dalam Tuhan.

Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh
February 20, 2013, 04:56:34 AM
Reply #2
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20198
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_02_01_archive.html
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/02/menyampaikan-dengan-ramah.html

Menyampaikan dengan Ramah

Ayat bacaan: 2 Timotius 2:24
=======================
"sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang.."

Guru killer adalah istilah yang sering diberikan terhadap guru yang cepat tersulut amarahnya, cenderung bersikap kasar atau dingin. Untuk murid-murid bandel, mungkin seorang guru killer bisa efektif dalam meredam sikap mereka. Tapi dari pengalaman saya dan banyak teman lainnya, kita sulit menangkap pelajaran secara baik karena sikap tidak bersahabat mereka bisa mengganggu konsentrasi dan membuat orang anti pati terhadap mereka dan pelajarannya. Sebagai seorang pengajar saya mencoba menempatkan diri seperti siswa-siswa saya. Saya berbaur dengan mereka, duduk bersama di kantin, mengobrol dan mengajar dengan santai. Sebagai manusia biasa, ada kalanya saya merasa lelah baik secara fisik atau ketika menghadapi pertanyaan yang berulang-ulang, tetapi saya segera mengatasinya. Tidak ada gunanya saya membiarkan rasa lelah atau kesal menguasai saya, karena saya yakin kekesalan tidak akan menyelesaikan masalah, malah sebaliknya akan membuat mereka akan semakin tidak mengerti. Justru dengan ketenangan dan keramahan, mereka akan bisa menangkap pelajaran dengan lebih baik, meskipun saya harus meluangkan lebih banyak waktu.

Dalam menyampaikan kabar gembira pun demikian. Paulus dalam suratnya mengingatkan Timotius, dan tentu berlaku pula bagi kita semua, bahwa sebagai seorang hamba Tuhan, ia tidak boleh mudah terpancing emosi, tetapi haruslah ramah kepada semua orang. Timotius juga dituntut untuk cakap mengajar, sabar dan dengan lemah lembut menuntun orang dalam pelayanannya. "sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang.." (2 Timotius 2:24). Mengapa demikian? "sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran, dan dengan demikian mereka menjadi sadar kembali, karena terlepas dari jerat Iblis yang telah mengikat mereka pada kehendaknya." (masih pada ayat 24). Ketika dunia mempertontonkan sikap pemaksaan yang justru cenderung mengarah kepada kekerasan, kita justru diingatkan untuk bersikap sebaliknya. Dalam menghadapi orang yang keras melawan dan menentang kebenaran, kita haruslah memperbaikinya dengan ramah, sabar dan lemah lembut, karena Tuhan selalu bersikap adil dalam memberikan kesempatan bagi siapapun untuk bertobat, tanpa terkecuali, tanpa pandang bulu.

Tidak ada pilih kasih bagi Tuhan, karena siapapun manusia itu adalah hasil ciptaanNya yang Dia kasihi. "Atau adakah Allah hanya Allah orang Yahudi saja? Bukankah Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain? Ya, benar. Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain!" (Roma 3:29). Perhatikan bahwa Tuhan tidak menganak-emaskan suatu bangsa tertentu, Dia akan memberi berkat melimpah dan keselamatan bagi siapapun yang berseru kepadaNya. "Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya. Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan." (Roma 10:12-13).

bersambung
February 20, 2013, 04:57:08 AM
Reply #3
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20198
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
Petanyaannya sekarang, bagaimana orang bisa mengenal Tuhan jika mereka belum percaya? Bagaimana orang bisa mengenal Tuhan tanpa ada yang memberitakan-Nya? (ay 14). Oleh sebab itulah Kristus sendiri mengutus kita lewat Amanat Agung untuk mewartakan kabar gembira bagi semua orang. "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan ROH KUDUS,dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:19-20). Persoalannya adalah bagaimana kita bisa memberitakan tentang kebenaran dan keselamatan dalam Kristus jika kita bersikap keras, menunjukkan sikap bermusuhan, apalagi jika mengandalkan emosi, pemaksaan dan kekerasan? Disinilah kita melihat pentingnya sebuah kelemah-lembutan, kesabaran dan keramahan yang berpusat pada kasih.

Kita tidak akan mampu mewartakan kabar gembira apapun jika kita memakai pola pemaksaan, kasar dan bentuk-bentuk kekerasan lainnya. Selain hal tersebut tidak akan membawa manfaat apa-apa, sikap seperti itu malah hanya semakin menjauhkan orang dari kebenaran. Cara-cara begitu sangatlah bertentangan dengan Firman Tuhan. Kita justru diajak untuk bersabar dan tetap bersikap ramah. Dengan cara demikianlah kita bisa melepaskan mereka dan mengenalkan mereka kepada kebenaran. Orang-orang yang melawan dan menolak kebenaran bukanlah musuh sesungguhnya yang harus kita perangi, karena mereka adalah korban-korban si jahat. Jika anda rindu pada mereka agar bisa diselamatkan, wartakanlah kabar gembira dengan ramah, sabar dan lemah lembut. Kenalkan Kristus dengan kasih, karena kebenaran tanpa kasih adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa menyentuh hati. Ada kesempatan bagi siapapun untuk bertobat dan kembali kepada Tuhan, dan itu bisa terjadi jika kita mampu menjadi anak-anakNya yang rindu untuk mengenalkan Kristus dengan keramahan yang tulus dan penuh kasih.

Kebenaran dinyatakan dengan sikap mengasihi akan menyentuh hati dan membawa keselamatan bagi orang lain
February 21, 2013, 05:00:55 AM
Reply #4
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20198
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_02_01_archive.html
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/02/orang-bijak.html


Orang Bijak

Ayat bacaan: Amsal 1:5
=================
"baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan"

orang bijakKata bijak semakin jarang kita dengar, kecuali lewat bibir pemerintah dalam bentuk kata 'kebijakan'. Orang yang bijak dalam kamus bahasa Indonesia didefenisikan sebagai orang yang selalu menggunakan akal budinya, pandai, atau juga bijaksana. Semakin jarangnya kata ini sejalan pula dengan manusia yang semakin jarang mempergunakan akal budinya. Hampir setiap hari di berbagai media kita melihat orang-orang yang sumbu emosinya pendek, mudah tersulut atau terpancing, tidak sabar dan hanya mementingkan diri sendiri atau kelompok masing-masing. Melihat kualitas tinggi dari orang yang bijak, tentu kita semua ingin bisa menjadi salah seorang diantaranya. Seperti apa sebenarnya orang yang bijak itu? Apakah Alkitab mengatakan siapa orang yang dikatakan bijak itu? Jawabannya tentu saja ada. Jauh-jauh hari Salomo sudah mengatakan siapa yang sebenarnya disebut sebagai orang bijak, dan apa yang harus kita miliki agar bisa menjadi seperti itu.

Salomo di awal kitab Amsal mengatakan: "baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan" (Amsal 1:5). Disini kita bisa melihat bahwa agar bisa menjadi bijak, hendaklah kita mau mendengar dan senantiasa haus akan ilmu pengetahuan. Selanjutnya orang yang bijaksana hendaknya selalu punya bahan pertimbangan yang luas dan tidak terlalu cepat menyimpulkan sesuatu hanya menurut pendapatnya sendiri. Masih ada begitu banyak hal yang belum kita ketahui, yang dapat menambah pengetahuan kita akan segala sesuatu, dan akhirnya bisa menjadikan kita sebagai orang dengan wawasan pemikiran luas serta bijaksana. Ketika menghadapi suatu persoalan, kita akan mampu melihat dari berbagai sisi dengan lebih tenang. Terkadang kita hanya ingin mendapat jawaban yang cepat, tapi sesungguhnya untuk membuat hidup menjadi lebih kuat, kita membutuhkan lebih banyak lagi pengetahuan dan kebijaksanaan yang bisa kita peroleh dengan banyak mendengar dan mau tetap belajar.
bersambung
February 21, 2013, 05:02:07 AM
Reply #5
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20198
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
Jangan lupa pula bahwa Alkitab sudah memberitahukan darimana hikmat sebenarnya berawal. "Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian." (Amsal 9:10). Dan lihatlah kaitannya antara hikmat dan bijak seperti yang tertulis dalam kitab Mazmur. "Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik. Puji-pujian kepada-Nya tetap untuk selamanya." (Mazmur 111:10).  Awal dari hikmat itu adalah takut akan Tuhan, dan semua orang yang memilikinya akan tampil menjadi orang-orang bijak, orang yang selalu mau mendengar nasihat orang lain terutama nasihat atau teguran Tuhan, dan mau terus belajar untuk lebih baik lagi. Tidak ada orang yang sudah tahu segalanya. Kita masih harus terus belajar selama kita masih mampu untuk itu. Jangan pernah gengsi untuk bertanya kepada orang lain. Kemudian dengarkan lawan bicara dengan baik, dan berilah kesempatan pada mereka untuk mengungkapkan ide,

Ada kalanya kita perlu menyampaikan pendapat, ada kalanya kita harus diam dan memberi kesempatan pada orang lain untuk berbicara. Di saat kita diam dan mendengar, disana kita menghargai mereka dan memiliki kesempatan untuk menyerap dan memahami hal-hal baru. Memasang gengsi terlalu tinggi atau bersikap sok tahu hanya akan merugikan kita sendiri. Terhadap suara Tuhan pun demikian. Jangan berdoa hanya satu arah, hanya menjadikan doa sebagai sarana untuk menyampaikan berbagai keinginan dan permintaan ini-itu saja, tapi pakailah doa sebagai saat-saat indah dalam hubungan dengan Tuhan, dimana kita mendengarkan apa kata Tuhan, pesan, nasihat maupun teguran dengan hati yang lapang. "...Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu!" (Ibrani 4:7). Ingatlah bahwa sesungguhnya Tuhan terus berbicara mengingatkan diri kita agar jangan sampai tersesat dan terjatuh, baik lewat hati nurani, nalar ataupun dari pengalaman kita sendiri atau orang lain. Jangan sampai kita lalai,melewatkan banyak kesempatan untuk bertumbuh dan menjadi orang bebal. "Sebab orang yang tak berpengalaman akan dibunuh oleh keengganannya, dan orang bebal akan dibinasakan oleh kelalaiannya." (Amsal 1:32). Miliki roh yang peka agar kita selalu bisa mendapat berbagai masukan dari hal disekeliling kita maupun dari orang lain. Ketika kita berpura-pura tahu segalanya, disitulah kita melewatkan kesempatan untuk ditambahkan.Ingin menjadi orang bijak? Jadilah orang yang takut akan Tuhan, mau mendengar dan punya kerinduan untuk terus belajar.

Belajarlah dengan mendengar lewat hati yang lembut
February 22, 2013, 04:59:27 AM
Reply #6
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20198
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_02_01_archive.html
renungan-harian-online.blogspot.com/2013/02/keputusan-yang-membawa-perubahan-1.html

Keputusan yang Membawa Perubahan (1)

Ayat bacaan: 2 Korintus 3:5-6
=======================
"Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah. Ialah membuat kami juga sanggup menjadi pelayan-pelayan dari suatu perjanjian baru, yang tidak terdiri dari hukum yang tertulis, tetapi dari Roh, sebab hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh menghidupkan."

Dari seorang pencandu kemudian tampil menjadi hamba Tuhan yang aktif melayani dimana-mana. Itulah sebuah perubahan signifikan dari seseorang yang saya kenal. Pertobatannya ternyata membawa perubahan radikal dalam sikap dan keputusan-keputusan yang ia ambil dalam hidupnya. Dan dia selalu bercerita bahwa perubahan itu membawa sukacita dalam dirinya. Ia kemudian bersaksi pula bahwa meski ia sudah ingin meninggalkan segala yang buruk, adalah ROH KUDUS yang kemudian mampu memulihkan sepenuhnya, bahkan kemudian mengubahnya menjadi pekerja yang luar biasa di ladang Tuhan jauh lebih cepat dari yang ia kira.

Setiap hari dalam hidup ini kita dihadapkan pada berbagai keputusan yang harus diambil, mulai dari keputusan besar maupun yang kecil atau sangat sederhana. Apakah kita mau terus tidur atau kita bangun, melakukan saat teduh atau tidak, apakah kita memilih untuk bekerja sungguh-sungguh atau malas-malasan, apakah kita memilih untuk jujur atau menipu, apakah kita memilih untuk mengasihi atau membenci, mendendam atau mengampuni, dan sebagainya. Setiap hari dalam masalah-masalah yang mungkin sepele dan tidak kita pikirkan, sebenarnya kita berhadapan dengan pengambilan keputusan, dimana sadar atau tidak, apa yang kita putuskan itu akan berpengaruh pada masa depan kita atau bahkan bisa mempengaruhi lebih luas lagi hingga mungkin saja bisa mengubah dunia.

Kita bisa melihat contoh nyata dari Bunda Teresa. Keputusan yang ia ambil tidaklah mudah, tapi keputusan untuk melayani di Kalkuta ternyata bisa memberkati begitu banyak orang, bahkan masih dan akan selalu dikenang dunia sampai kapanpun. Bayangkan jika beliau mengambil keputusan yang berbeda, maka sejarah dunia pun akan berbeda. Ada begitu banyak keputusan yang pada awalnya kecil atau sederhana, tapi kemudian bisa berakibat pada perubahan besar.

bersambung
February 22, 2013, 04:59:53 AM
Reply #7
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20198
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
Mari kita lihat bagaimana reaksi awal Musa ketika ia hendak dipakai Tuhan. Musa adalah nabi yang luar biasa dan dihormati oleh begitu banyak orang dari kepercayaan yang berbeda, dari generasi ke generasi.Tapi lihatlah bahwa untuk menjadi besar seperti itu, Musa terlebih dahulu harus melewati sebuah proses. Alkitab mencatat dengan jelas bahwa pada awalnya Musa sempat berbantah-bantahan dengan Tuhan. Ia terus mencari alasan, berkelit agar tidak perlu menurut untuk dipakai Tuhan. "Lalu sahut Musa: "Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkan perkataanku, melainkan berkata: TUHAN tidak menampakkan diri kepadamu?"(Keluaran 4:1). Tuhan pun kemudian menunjukkan beberapa mukjizat. Patuhkah Musa? Belum. Ia terus berbantah. "Lalu kata Musa kepada TUHAN: "Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah." (ay 10). Tuhan kemudian mengatakan bahwa semua itu adalah ciptaanNya, termasuk mulut dan lidah Musa, dan bukan "ringan" mulut Musa yang Tuhan minta namun kesediaannya. Sebab Tuhan sendiri yang akan menyertai lidah dan mengajar apa yang harus ia katakan. (ay 11). Cukup? Tidak juga. Musa terus berkelit. "Tetapi Musa berkata: "Ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kau utus." (ay 13). Maka Tuhan pun murka. Musa menjadi takut, dan ia memilih untuk mengikuti perintah Tuhan. Dalam ayat 18 kita membaca akhirnya Musa mengambil keputusan untuk taat menjalani apa yang diperintahkan Tuhan, dan setelah itu kita tahu bagaimana Tuhan memakai Musa secara luar biasa, dimana hasilnya masih tetap dikenang orang hingga hari ini dan menjadi salah satu bagian terpenting dalam sejarah dunia.

Masalah berkelit dan berbantah ini tidak hanya dilakukan Musa. Ada beberapa nabi lainnya yang juga melakukan hal ini. Nabi Yeremia misalnya. Ia berkelit dengan alasan bahwa ia masih terlalu muda dan belum saatnya untuk tampil di depan. (Yeremia 1:6). Atau Yunus yang memilih untuk melarikan diri dari tugas yang disematkan Tuhan kepadanya. Pada akhirnya kita tahu bagaimana mereka dipakai Tuhan secara luar biasa. Lihatlah bahwa semua itu berawal dari sebuah keputusan. Tuhan boleh mengutus, namun jika orang yang bersangkutan tidak mengambil keputusan maka tidak akan bisa membawa perubahan apa-apa. Singkatnya kita bisa belajar bahwa keputusan yang kita ambil hari ini akan sangat menentukan masa depan kita.
February 23, 2013, 04:54:30 AM
Reply #8
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20198
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_02_01_archive.html
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/02/keputusan-yang-membawa-perubahan-2.html

Keputusan yang Membawa Perubahan (2)

(sambungan)

Seringkali kita sulit untuk melepaskan diri dari zona kenyamanan kita. Kita terbiasa untuk punya seribu satu alasan untuk menghindar dari apa yang diinginkan Tuhan untuk kita perbuat. Jangankan melayani, membantu orang yang susah saja rasanya sudah berat. Padahal Tuhan ingin kita semua menjadi perpanjangan tanganNya untuk mewartakan Injil, menjadi garam dan terang, agar dunia bisa mengenal Kristus dan selamat lewat diri kita masing-masing. Selalu saja ada alasan yang bisa kita kemukakan untuk mengelak dari itu. Terlalu muda, terlalu tua, tidak pandai bicara, terlalu sibuk, sulit menghadapi orang, kekhawatiran ini dan itu, bagaimana jika begini dan begitu, semua kita pakai sebagai excuse untuk menghindar dari kewajiban melakukan pekerjaan Tuhan. Musa, Yeremia, Yunus, mereka ini pada awalnya tidak menyadari bahwa sebenarnya bukan kekuatan dan kehebatan mereka yang Tuhan minta, namun kesediaan mereka. Karena Tuhan sendirilah yang sebenarnya bekerja. Kepada Yeremia, Tuhan memberikan jawaban demikian: "Tetapi TUHAN berfirman kepadaku: "Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan." (Yeremia 1:7). Apa dasarnya? "Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah Firman Tuhan." (ay 8).
Lihatlah bahwa sebenarnya Tuhan sendiri yang bekerja. Siapapun bisa dipakai Tuhan secara luar biasa, karena Tuhan tidak butuh ahli-ahli melainkan butuh hati yang rindu untuk mengasihi orang lain, seperti halnya Tuhan telah mengasihi kita. Mereka, dan juga kita, anda dan saya, hanyalah perantara-perantara dimana Tuhan rindu untuk melakukan pekerjaanNya melalui kita. Tuhan tahu persis kekurangan dan kelemahan kita masing-masing. Tapi itu semua tidaklah menjadi penghalang bagi kita untuk mampu bekerja di ladang Tuhan. Bukankah seharusnya kita menganggapnya sebagai sebuah kehormatan jika Tuhan mau memakai kita?

bersambung
February 23, 2013, 04:55:00 AM
Reply #9
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20198
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
"Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?" (Mikha 1:8). Kata "mencintai kesetiaan" dalam bahasa Inggris disebut: "to love kindness and mercy". Tuhan telah memberikan segala sesuatu yang baik kepada kita, dan oleh karena itu sangatlah wajar jika Tuhan menuntut kita pula untuk selalu suka berbuat baik, mengasihi orang lain, membantu mereka dan memperkenalkan kebesaran Tuhan pada mereka yang belum mengenalNya. Tuhan menghendaki setiap orang bisa diselamatkan dan bisa memperoleh pengetahuan akan kebenaran. (1 Timotius 2:4). Tidak ada satupun manusia di kolong bumi ini yang Dia inginkan untuk binasa. Karenanya Tuhan mau memakai kita semua untuk melakukan pekerjaan yang bisa membawa keselamatan bagi banyak orang.

Ayat bacaan renungan yang panjang ini berisi penjelasan Paulus mengenai prinsip seorang pengerja. "Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah. Ialah membuat kami juga sanggup menjadi pelayan-pelayan dari suatu perjanjian baru, yang tidak terdiri dari hukum yang tertulis, tetapi dari Roh, sebab hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh menghidupkan." (2 Korintus 3:5-6). Ya, bukan kekuatan dan kemampuan kita yang diandalkan dan membuat kita sanggup, tapi Tuhan sendiri yang bekerja melalui kita. Ketika Tuhan memilih anda dan saya untuk sebuah pekerjaan penting di ladangNya, itu artinya Tuhan pasti sudah memberi kita kemampuan untuk melaksanakannya. Ada ROH KUDUS yang akan terus membimbing kita untuk bekerja.Saya bukanlah lulusan teologia dan penulis. Namun keputusan yang saya ambil untuk mau bekerja bagi Dia membawa begitu banyak perubahan dalam diri saya, dan semoga juga bisa memberkati teman-teman sekalian. Saya menyaksikan sendiri berkali-kali bagaimana kuasa Tuhan begitu luar biasa, saya begitu bersukacita melihat banyak orang mengalami pemulihan. Itu sangat indah. Jangan sampai ada di antara kita yang menolak tugas yang telah Dia berikan bagi kita. Tidak harus selalu menjadi pengkotbah, pengerja, diaken, pemimpin pujian, pemusik, tapi bisa dalam bentuk apapun, bahkan di luar lingkungan gereja. Di market place, di kantor, di kampus, akan ada perubahan nyata ketika kita mau mengambil keputusan untuk mengikuti apa yang diinginkan Tuhan. Melayani merupakan kewajiban kita sebagai anak-anak Tuhan. Akan ada konsekuensinya ketika kita menolak apa yang Tuhan gariskan untuk kita. "Siapa menutup telinganya bagi jeritan orang lemah, tidak akan menerima jawaban, kalau ia sendiri berseru-seru." (Amsal 21:13) Dari kisah Musa pun kita melihat bahwa membantah Tuhan akan mendatangkan murkaNya. Yang pasti, apa yang kita putuskan hari ini akan sangat menentukan masa depan kita, orang lain bahkan bisa pula dunia. So, find your calling, and follow what God wants you to do. Make the right decision today!

Keputusan kecil yang anda ambil saat ini mampu mendatangkan perubahan besar
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)