Author Topic: renungan harian online  (Read 128431 times)

0 Members and 2 Guests are viewing this topic.

February 24, 2013, 04:45:36 AM
Reply #10
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20198
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_02_01_archive.html
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/02/setia.html

Setia

Ayat bacaan: Amsal 20:6
===================
"Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?"

Seorang teman yang berulangkali kecewa terhadap pasangannya bercerita bahwa ia mulai merasa putus asa dalam menanti kehadiran pria yang bisa dipercaya dan setia. "Jujur, sekarang saya trauma dan sulit untuk bisa percaya." katanya. Berkali-kali ia dikhianati sehingga ia cenderung menutup diri jika ada pria yang mulai mendekatinya. "Orang baik itu banyak mas.. tapi yang setia itu langka.. mungkin malah tidak ada lagi." katanya. Apa yang ia katakan mungkin ada benarnya jika melihat tendensi di jaman modern ini. Lewat berbagai media hiburan seperti lagu, film dan kejadian sehari-hari kita seolah diajarkan bahwa ketidaksetiaan adalah  sesuatu yang manusiawi dan lumrah. Tidak heran maka semakin lama semakin sulit saja menemukan sosok manusia yang bisa setia, baik dalam pekerjaan, pertemanan, organisasi dan tentu saja seperti yang dialami teman saya, dalam hubungan seperti berpacaran atau pernikahan. termasuk tentunya pada Tuhan. Ada banyak alasan yang bisa dijadikan dasar untuk melegalkan ketidaksetiaan itu. Membesar-besarkan kekurangan pasangan, mencari-cari kejelekan misalnya, sampai kepada menyalahkan pihak ketiga, itu contoh alasan klasik yang sering dikemukakan. Padahal soal setia atau tidak itu tergantung pilihan dan keputusan kita sendiri.

Mencari orang baik mungkin mudah, tapi mencari orang yang setia sama sulitnya dengan mencari jarum ditumpukan jerami. Seperti itu hari ini, dahulu pun sama. Itu persis seperti apa yang dikatakan Salomo dalam salah satu Amsalnya. "Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?" (Amsal 20:6). Mengaku teman itu mudah, namun menjadi sahabat yang setia baik dalam suka maupun duka susahnya minta ampun. Mencari orang yang baik itu jauh lebih muda ketimbang orang yang setia, bisa dipercaya. Dari masa ke masa kita akan terus berhadapan dengan masalah ini, bahkan diantara kita sendiri pun mungkin sulit untuk setia. Padahal seharusnya tidak demikian, karena kesetiaan merupakan salah satu kualitas utama yang diharapkan ada dalam diri orang percaya. Lihatlah  pesan Paulus kepada Timotius. "...kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan." (1 Timotius 6:11). Sementara Salomo mengingatkan "Sifat yang diinginkan pada seseorang ialah kesetiaannya; lebih baik orang miskin dari pada seorang pembohong." (Amsal 19:22).

Kepada sesamanya manusia sulit setia, kepada Tuhan demikian. Sementara Tuhan memberikan kasih setiaNya yang begitu besar, untuk setia sedikit saja kita susah. Banyak alasan yang bisa kita kemukakan. Mulai dari merasa permintaan tidak didengarkan Tuhan, tidak kunjung lepas dari kesulitan, uang, jabatan bahkan jodoh. Tidak jarang kita melihat orang yang rela menyangkal imannya demi keuntungan-keuntungan pribadi dan sesaat. Tuhan begitu mengasihi kita. Bahkan anakNya yang tunggal pun rela Dia berikan agar kita semua selamat. Kurang apa lagi? Kehadiran Yesus di dunia ini untuk menggenapkan kehendak Bapa pun sudah menunjukkan sesuatu yang seharusnya bisa kita teladani. Yesus membuktikan kesetiaanNya menanggung segala beban dosa kita sampai mati. Tanpa itu semua mustahil kita bisa menikmati hadirat Tuhan hari ini dan mendapat janji keselamatan setelah episode kehidupan di dunia ini. Kita mengaku sebagai anak Tuhan, tapi kita tidak kunjung bisa meneladaniNya. Disamping itu sering pula kita terus meminta perkara besar dalam doa-doa kita, sementara perkara kecil saja kita tidak bisa menunjukkan kesetiaan dan tanggung jawab. Apa yang dijanjikan Tuhan kepada orang setia sesungguhnya jauh lebih besar daripada berkat dalam kehidupan dunia yang sementara ini. "Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan." (Wahyu 2:10c). Ada mahkota kehidupan yang siap dikaruniakan kepada semua orang yang mau taat dan setia sampai mati.

bersambung
February 24, 2013, 04:46:29 AM
Reply #11
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20198
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
Dalam perumpamaan tentang talenta kita bisa melihat bagaimana pandangan Tuhan tentang kesetiaan. Saat kita diberi perkara kecil, kita harus sanggup mempertanggungjawabkan itu dan melakukannya dengan baik sebelum menerima perkara yang lebih besar lagi. Lihat apa kata Tuhan kepada hamba yang mampu setia kepada perkara kecil yang dipercayakan Tuhan. "Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu." (Matius 25:21,23). Bagaimana reaksi Tuhan kepada orang yang tidak setia? Apakah Tuhan harus tetap mempercayakan sesuatu yang lebih besar kepada orang yang tidak sanggup bertanggungjawab dalam perkara kecil? Tentu tidak. "Campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi."(ay 30). Itulah yang akan menjadi bagian dari orang yang tidak setia. Maka benarlah nasihat yang diberikan Lukas. "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar." (Lukas 16:10).

Sejak sekarang, mulailah setia dari perkara-perkara kecil. Ketika ada sesuatu yang dipercayakan Tuhan kepada kita, lakukanlah dengan benar dan dengan setia. Lantas bersyukurlah senantiasa, meski apa yang ada saat ini dipercayakan masih terlihat seolah kecil. Ingatlah bahwa Tuhan pasti menghargai kesungguhan, kejujuran dan kesetiaan anda. Pada saatnya nanti, Dia akan mempercayakan sesuatu yang lebih besar. Menjadi baik saja tidak cukup, kita harus mampu pula meningkatkan kapasitas diri kita untuk menjadi pribadi yang setia, yang bisa dipercaya. Untuk menerima janji dan berkat Tuhan dibutuhkan usaha serius dan perjuangan kita untuk terus setia. Dan semua itu berawal dari hal yang kecil. Tuhan akan melihat sejauh mana kita bisa dipercaya untuk sesuatu yang lebih besar lagi. Tidaklah sulit bagi Tuhan untuk memberkati kita, tapi kita dituntut untuk membuktikan dulu sejauh mana kita mampu setia kepadaNya. Disamping itu, saya pun percaya bahwa lewat hal-hal yang kecilpun Tuhan mampu memberkati kita secara luar biasa. Apapun yang ada pada kita saat ini, bersyukurlah untuk itu, dan lakukan sebaik-baiknya dengan kesetiaan dan kejujuran. Tuhan mampu memberkati itu menjadi luar biasa, dan mempercayakan kita untuk hal-hal yang lebih besar lagi pada suatu saat nanti.

Setia dalam perkara kecil adalah awal dari hadirnya perkara besar
February 25, 2013, 05:52:03 AM
Reply #12
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20198
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_02_01_archive.html
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/02/ujian-iman-1.html

Ujian Iman (1)

Ayat bacaan: Daniel 1:5
===================
"Dan raja menetapkan bagi mereka pelabur setiap hari dari santapan raja dan dari anggur yang biasa diminumnya. Mereka harus dididik selama tiga tahun, dan sesudah itu mereka harus bekerja pada raja."

Orang mengikuti ujian biasanya untuk bisa naik ke jenjang yang lebih tinggi. Bisa lulus, bisa juga tidak. Agar bisa lulus maka kita harus mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin. Sebaliknya apabila kita menyepelekan untuk bersiap, maka kemungkinan besar kegagalanlah yang menjadi akibatnya.

Dalam kehidupan kita di dunia, ada saat dimana iman kita harus pula mengalami ujian. Itu bisa lewat tekanan, intimidasi atau bahkan ancaman dari orang-orang sekitar kita baik di lingkungan tempat tinggal, kota atau pekerjaan. Takut dikucilkan, takut ditolak, takut tidak naik jabatan, diperlakukan tidak adil dan sejenisnya seringkali membuat sebagian orang memilih untuk menyembunyikan identitas dirinya dalam hal keimanan. Jatuh cinta kepada seseorang pun bisa menjadi penyebab lunturnya keimanan. Ada banyak orang yang akhirnya meninggalkan iman mereka akan Kristus demi mendapatkan pujaan hatinya. Ironis, tapi faktanya memang demikian. Tidaklah mudah hidup sebagai minoritas di tengah mayoritas. Namun sesungguhnya pada saat-saat seperti itulah iman dan ketaatan kita akan Kristus tengah diuji. Lulus atau tidak, itu semua tergantung keputusan kita sendiri, bagaimana kita menyikapinya. Apakah kita mau berkompromi mengorbankan Tuhan yang telah begitu mengasihi kita dan menebus dosa-dosa kita, menghadiahi kita yang sebenarnya tidak layak ini dengan keselamatan kekal, atau memilih untuk terus setia apapun resikonya.

Hari ini saya rindu mengajak teman-teman melihat kisah Daniel dan Hananya, Misael, Azarya yang lebih dikenal sebagai Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Kisah tentang Daniel dibuka dengan kekalahan bangsa Yehuda di tangan bangsa Babel, bangsa penyembah berhala. Layaknya bangsa yang kalah, harta dan kehidupan mereka dirampas masuk ke dalam bangsa yang menang. Pada saat itu raja Babel memerintahkan kepala istana untuk mengambil sebagian orang Israel yang berasal dari keturunan raja dan bangsawan untuk dilatih mengenai bahasa, budaya dan cara hidup Babel sampai identitas mereka sebagai orang Yehuda bisa terkikis habis. "Lalu raja bertitah kepada Aspenas, kepala istananya, untuk membawa beberapa orang Israel, yang berasal dari keturunan raja dan dari kaum bangsawan, yakni orang-orang muda yang tidak ada sesuatu cela, yang berperawakan baik, yang memahami berbagai-bagai hikmat, berpengetahuan banyak dan yang mempunyai pengertian tentang ilmu, yakni orang-orang yang cakap untuk bekerja dalam istana raja, supaya mereka diajarkan tulisan dan bahasa orang Kasdim." (Daniel 1:3-4). Ini termasuk juga mengenai makanan. Mereka harus makan dari makanan yang sama yang dipersiapkan bagi anggota keluarga raja. Mereka juga harus siap dilatih selama 3 tahun dan dipersiapkan untuk bekerja bagi raja. "Dan raja menetapkan bagi mereka pelabur setiap hari dari santapan raja dan dari anggur yang biasa diminumnya. Mereka harus dididik selama tiga tahun, dan sesudah itu mereka harus bekerja pada raja." (ay 5).
February 25, 2013, 05:52:33 AM
Reply #13
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20198
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
Dari kriteria ini, terdapatlah 4 orang pemuda Yehuda, yaitu Daniel, Hanaya, Misael dan Azarya. (ay 6). Nama mereka pun kemudian diganti. "Pemimpin pegawai istana itu memberi nama lain kepada mereka: Daniel dinamainya Beltsazar, Hananya dinamainya Sadrakh, Misael dinamainya Mesakh dan Azarya dinamainya Abednego." (ay 7). Tapi walaupun nama mereka diganti dan mereka diwajibkan untuk menjalani proses pencucian identitas sebagai bangsa Yehuda, ternyata hati mereka tidak berubah sedikit pun. Padahal ujian yang mereka alami tidaklah mudah. Mereka menghadapi ancaman kematian dengan cara mengerikan jika masih terus mempertahankan iman mereka dan menolak menyembah berhala-berhala Babel dan rajanya.

Menyikapi ancaman mengerikan yang diberikan, Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab: "Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini.Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu." (3:16-18). Sadrakh, Mesakh dan Abednego memutuskan untuk menolak menyembah berhala-berhala yang menjadi tuhan bangsa Babel. Konsekuensinya, merekapun dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala. Apa yang dialami Daniel pun sama. Ketika ia dijebak dari ketaatannya menyembah Allah setiap hari sebanyak tiga kali, ia pun diancam untuk mati dengan cara dilempar ke dalam gua singa. (6:16). Ini ujian iman yang sungguh tidak main-main. Tapi apa yang terjadi? Kita tahu Sadrakh, Mesakh dan Abednego disertai malaikat dan tidak cedera sedikitpun. Apa yang mereka alami bahkan menjadi kesaksian luar biasa akan kuasa Tuhan yang mereka sembah. (3:24-30). Lantas mengenai Daniel, kita tahu pula bagaimana Daniel selamat dari gua Singa tanpa kekurangan suatu apapun lewat penyertaan malaikat pula. "Allahku telah mengutus malaikat-Nya untuk mengatupkan mulut singa-singa itu, sehingga mereka tidak mengapa-apakan aku, karena ternyata aku tak bersalah di hadapan-Nya; tetapi juga terhadap tuanku, ya raja, aku tidak melakukan kejahatan." (6:22). Ujian iman yang berat dilalui oleh Daniel, Hanaya (Sadrakh), Misael (Mesakh) dan Azarya (Abednego) dengan gemilang. Mereka membuktikan ketahanan imannya dan keluar menjadi pemenang.
February 26, 2013, 04:58:42 AM
Reply #14
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20198
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_02_01_archive.html
renungan-harian-online.blogspot.com/2013/02/ujian-iman-2.html

Ujian Iman (2)

(sambungan)

Apakah ada di antara teman-teman yang tengah menghadapi pergumulan mengenai iman? Mungkin ditolak atau diusir dari keluarga karena mengikuti Kristus, mungkin disingkirkan oleh lingkungan, bahkan mungkin pula mengalami ancaman atau aniaya, mendapatkan berbagai kesulitan, penderitaan, dan sebagainya. Seperti halnya Daniel dan ketiga pemuda lainnya, itu semua mungkin kita alami juga di hari-hari yang penuh bahaya seperti sekarang ini. Bukankah kita pun berhadapan dengan orang-orang yang suka memaksakan kehendak bahkan tega membunuh sesamanya karena perbedaan ideologi, kepercayaan maupun kepentingan-kepentingan lainnya?

Adalah penting bagi kita untuk terus memastikan kesetiaan kita meskipun apa yang dihadapi mungkin sungguh berat. Setiap saat kita harus mampu memastikan bahwa diri kita tetap ada bersama dengan Kristus. Paulus mengingatkan: "Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji." (2 Korintus 13:5). Dalam kesempatan lain, Yakobus justru berkata bahwa kita seharusnya malah merasa beruntung jika kita mengalami berbagai macam cobaan. "Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan," (Yakobus 1:2). Mengapa? "sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun." (ay 2-3). Lihatlah ada buah yang matang yang akan kita petik sebagai hasil jika kita lulus dari ujian iman itu. Petrus mengatakan hal yang sama. "Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu--yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api--sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya." (1 Petrus 1:6-7).

 Ingatlah bahwa tujuan iman adalah keselamatan jiwa. (ay 9). Keteguhan dan kesetiaan iman kita akan menentukan seperti apa kita kelak di kehidupan selanjutnya. Apakah keselamatan kekal atau kebinasaan kekal yang kelak kita peroleh sebagai hasilnya tergantung dari keseriusan kita dalam menjaga kesetiaan kita pada Yesus. Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego telah membuktikan kesetiaan mereka dan lulus dengan gemilang. Menghadapi hari-hari yang mungkin kurang lebih sama, penuh tekanan, ancaman dan bahkan aniaya, mampukah kita memiliki iman seperti mereka?

Jangan pernah tergoda untuk meninggalkan Kristus dalam menghadapi berbagai tekanan dan ujian
February 27, 2013, 04:24:04 AM
Reply #15
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20198
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_02_01_archive.html
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/02/anak-anak-juga-butuh-yesus.html

Anak-Anak Juga Butuh Yesus

Ayat bacaan: Matius 19:14
======================
"Tetapi Yesus berkata: "Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga."

Bagi para orang tua dengan anak-anak yang masih kecil, kewaspadaan dalam mengawasi apa yang mereka dengar atau tonton menjadi hal yang sangat krusial di jaman sekarang. Berbagai tayangan atau lirik-lirik lagu yang menyesatkan atau berisi hal-hal buruk seperti kekerasan, pornografi, ketidaksetiaan dan sebagainya jika tidak diperhatikan bisa membuat mereka mendapatkan pengajaran yang salah mengenai cara hidup yang benar. Begitu banyak hal jahat yang bisa menyesatkan mereka sejak dini. Kasihan sekali melihat anak-anak yang masih polos dan lugu kemudian terkontaminasi dengan hal-hal yang berpotensi besar merusak masa depan mereka. Anak kecil butuh bimbingan, karena mereka masih seperti kertas kosong yang akan berisi tergantung apa yang ditulis di atasnya. Seorang pendeta mengatakan bahwa kita sebagai orang tua seharusnya tahu pentingnya menanamkan nilai-nilai kebenaran akan Firman Tuhan sejak dini agar mereka bisa memilah sendiri apa yang baik dan menghindari hal buruk. Para orang tua, dengarlah, anak-anak anda butuh bimbingan, dan mereka pun perlu untuk mengenal Yesus sejak dini.

Ada banyak orang tua yang melupakan pentingnya hal ini. Mereka terlalu sibuk dan menganggap anaknya masih terlalu kecil sehingga belum saatnya dibawa ke Gereja, tidak perlu sekolah minggu atau bahkan diajarkan kebenaran Firman Tuhan. Ada banyak yang tidak mau karena merasa terganggu karena membawa anak, atau mungkin terlalu sibuk sehingga tidak punya waktu untuk mengantar jemput atau menunggui anaknya atau untuk mengenalkan  Yesus kepada mereka. Padahal sebuah keputusan yang kita ambil saat ini bagi mereka bisa sangat menentukan seperti apa mereka di masa depan.

Hari ini mari kita lihat bagaimana reaksi Yesus ketika ada orang-orang yang membawa anak mereka kepada Yesus untuk diberkati. Pada saat itu, murid-murid Yesus bertindak seperti pasukan pengaman atau security dan memarahi mereka yang membawa anak. "Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan mendoakan mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu."(Matius 19:13). Lantas bagaimana reaksi Yesus? "Tetapi Yesus berkata: "Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga."(ay 14). Luar biasa. Anak-anak yang dianggap tidak ada apa-apanya oleh dunia ternyata di mata Tuhan disebut sebagai yang empunya Kerajaan Sorga. Anak-anak kecil masih belum terkontaminasi dengan logika-logika manusia, yang masih polos tanpa topeng, jujur dan sederhana pikirannya. Dan karena itulah mereka yang putih bersih ini dikatakan Tuhan sebagai yang empunya Kerajaan Surga.

Berkaca dari ketulusan dan kejujuran anak-anak, seperti itulah kita seharusnya dalam menyambut Kerajaan Allah. Anak kecil tidak khawatir apabila mereka ada dekat orang tuanya, mereka akan merasa aman dan percaya penuh pada orang tuanya, dan menuruti orang tuanya tanpa banyak tanya. Dan Yesus pun mengingatkan kita untuk berbuat demikian. "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya."(Lukas 18:17). Dan kemudian, Yesus meletakkan tangan-Nya di atas kepala anak-anak itu dan memberkati mereka. (Matius 19:15). Yesus tidak saja mengasihi kita yang sudah dewasa, namun juga mengasihi anak-anak kecil, bahkan memandang mereka secara istimewa, dan mengingatkan kita untuk memandang Kerajaan Allah dengan mata anak kecil. Through the eyes of a child, through their perspective, their point of view. Hidup kita yang sudah dewasa ini sudah terkontaminasi dengan begitu banyak hal, sehingga kita menjadi sulit untuk mengerti kehendak Tuhan dan percaya sepenuhnya pada Tuhan. Terlalu sering kita memaksakan logika-logika kita sendiri, sehingga sadar atau tidak kita menutup pintu dari berkat-berkat yang disediakan Tuhan bagi kita.
February 27, 2013, 04:24:31 AM
Reply #16
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20198
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
Kembali kepada anak-anak, sebagai orang tua kita harus mampu menjadi sumber bagi mereka untuk mengenal Yesus. Apakah anda sudah menyadari pentingnya membagi kebenaran kepada mereka? caranya bisa bermacam-macam. Misalnya dengan menceritakan hal-hal tentang Yesus sebelum mereka tidur, sambil bermain atau lewat banyak lagi cara-cara yang menyenangkan buat mereka. Lantas, apakah anda sudah menyadari pula pentingnya untuk mengajak anak-anak untuk membangun mesbah Tuhan bersama-sama dan memuliakan Tuhan? Apakah anda masih sering merasa terlalu sibuk untuk mengantarkan anak-anak anda ke sekolah Minggu atau kelas-kelas balita yang disediakan oleh banyak Gereja? Jika pada saat itu Tuhan Yesus melarang siapapun untuk menghalang-halangi anak-anak itu untuk datang kepadaNya, apalagi saat ini ketika lingkungan sekitar dalam segala aspek kehidupan mereka bisa setiap saat memberi pengaruh negatif dan merusak masa depan mereka. Lebih jauh Yesus mengingatkan sesuatu yang penting mengenai hal ini.
"Maka Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka: Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku." (Markus 9:36-37). Dan lihat apa kata Yesus pada setiap orang yang tidak menerima anak-anak kecil atau yang menghalang-halangi mereka. "Barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya ini, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut." (Markus 9:42). Pesan yang sama diingatkan Tuhan Yesus juga kepada anda, para orang tua, agar tidak menghalang-halangi anak-anak anda untuk datang kepada Yesus. Anak-anak kita butuh Yesus, sama seperti kita juga. Dan Yesus mengasihi mereka juga, menganggap mereka sangat penting, sepenting orang  yang dianggap empunya Kerajaan Surga.

Seperti kita butuh Yesus, demikian pula anak-anak kita. Jangan jauhkan mereka dari kebenaran Kristus
February 28, 2013, 05:48:33 AM
Reply #17
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20198
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_02_01_archive.html
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/02/menghadapi-komentar-negatif.html

Menghadapi Komentar Negatif

Ayat bacaan: Roma 4:18
================
"Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu."

Mendengar komentar miring seenaknya dari orang lain memang tidak enak. Mereka tidak melihat betapa kerasnya usaha kita sebelum mengeluarkan komentar yang seringkali hanya sambil lalu saja mereka ucapkan. Bagi mereka mungkin terasa biasa saja tetapi sanggup melukai rasa percaya diri kita dan berbekas hingga waktu yang lama bagi kita. Saya kenal dengan banyak orang yang mengalami kesulitan dengan rasa percaya dirinya akibat selalu dikatakan bodoh sejak kecil oleh orang tuanya, atau selalu dibandingkan secara negatif dengan saudara-saudaranya yang lain. Kata-kata atau komentar negatif jika hanya ditelan dan tidak disikapi dengan lapang hati bisa melemahkan bahkan menghancurkan kita. Sayangnya kita lebih suka percaya terhadap apa kata orang dibanding janji-janji yang Tuhan berikan. Kita lupa bahwa Tuhan telah menciptakan kita dengan sangat istimewa dan kepada kita masing-masing Tuhan sudah menyusun rencana indah lengkap dengan masa depan yang gemilang. Whoever we are, no matter how limited we are, God has provided such a lovely plan for us. Kita lupa akan hal itu dan cenderung lebih peduli terhadap komentar melemahkan dari orang lain. Ini harus kita perhatikan sebelum hidup kita menjadi hancur hanya karena orang-orang tidak bertanggungjawab seperti itu.

Hari ini mari kita lihat kisah Abraham. Abraham menerima janji Tuhan ketika ia sudah sangat tua. Di usia yang sangat lanjut seperti itu Tuhan menjanjikan sesuatu yang tidak masuk akal menurut logika manusia. "Lalu TUHAN membawa Abram ke luar serta berfirman: "Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya." Maka firman-Nya kepadanya: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu." (Kejadian 15:5). Janji itu bagi orang awam tentu tidak masuk akal. Bayangkan itu diberikan bukan di saat Abraham masih dalam usia produktif, tetapi ketika ia sudah tua renta dengan istri yang sudah lama menopause. Jika kita yang menerima janji itu mungkin kita akan tertawa, atau bahkan marah. Dan mungkin saja Abraham akan diejek dan ditertawakan oleh orang lain yang mendengar akan hal itu. Tetapi Abraham menunjukkan sikap yang berbeda. Dikatakan: "Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran." (ay 6). Abraham percaya akan janji Tuhan meski logika tidak mendukung, dan Tuhan menganggap ketaatan dan kepercayaan Abraham itu sebagai sebuah kebenaran. Apakah kemudian Tuhan segera merealisasikan janjinya? Ternyata tidak. Ujian iman Abraham berlangsung hingga lebih dua dasawarsa sampai pada akhirnya ia memperoleh seorang anak dari Sara, istrinya, yang diberi nama Ishak. Meski janji itu mulai ditepati lewat kehadiran seorang anak kandung, ternyata ujian tidak berhenti sampai disitu. Kita tahu kemudian iman Abraham diuji lebih berat lagi dengan perintah Tuhan untuk mengorbankan Ishak sebagai korban bakaran. Lagi-lagi Abraham menunjukkan imannya. Setelah ujian itu ia lewati dengan gemilang, Tuhan pun kembali menegaskan janjinya. " Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya." (Kejadian 22:17). Tuhan meneguhkan kembali janjinya karena Abraham mendengarkan firmanNya. (ay 18). Kelak kepada Ishak Tuhan mengulangi kembali janji ini. "Aku akan membuat banyak keturunanmu seperti bintang di langit; Aku akan memberikan kepada keturunanmu seluruh negeri ini, dan oleh keturunanmu semua bangsa di bumi akan mendapat berkat." (26:4). Perhatikan bahwa Tuhan juga menyebutkan kembali alasannya. "karena Abraham telah mendengarkan firman-Ku dan memelihara kewajibannya kepada-Ku, yaitu segala perintah, ketetapan dan hukum-Ku." (ay 5). Tuhan memberi janji, tetapi itu hanya bisa kita tuai apabila kita mendengarkan firmanNya, mematuhi segala perintah, ketetapan dan hukumNya dalam aplikasi nyata dalam hidup kita. Jika kita memilih mendengarkan perkataan orang lain dan ragu terhadap janji Tuhan, kita tidak akan pernah bisa menerima janji-janji luar biasa yang sebenarnya dari jauh hari sudah Dia berikan.
February 28, 2013, 05:49:12 AM
Reply #18
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20198
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
Iman yang teguh, yang percaya sepenuhnya kepada Tuhan dan menyisihkan logika manusia yang terbatas. Itulah yang membedakan Abraham dengan kebanyakan orang termasuk kita. Dalam kitab Roma hal ini disebutkan dengan jelas. "Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu." (Roma 4:18). Selanjutnya dikatakan "Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup. Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan." (ay 19-21). Kuncinya ada pada iman. Dan Firman Tuhan berkata bahwa "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat." (Ibrani 11:1). Iman adalah sesuatu yang mampu melebihi logika-logika manusia, dan merupakan bukti dari apa yang belum terjadi, yang belum kita lihat.  Faith is the assurance of the things we hope for, the proof of things we do not see and the conviction of their reality. Dan Firman Tuhan pun sudah memberikan kunci bagaimana kita bisa memperoleh iman itu, dari mana iman itu sebenarnya timbul. "Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus." (Roma 10:17). Dari sanalah iman itu timbul, dan ketaatan kita untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata akan membuat kita mampu menuai janji-janji luar biasa dari Tuhan, meski logika manusia yang terbatas mungkin menyatakan sebaliknya.

Jika hari ini anda mudah terpengaruh untuk percaya kepada pendapat negatif yang melemahkan dari orang lain, mengapa tidak mengubah sikap itu dan kembali menggantungkan kepercayaan kepada Tuhan lewat sebentuk iman? Jika kepada Abraham janji yang mustahil itu bisa dipenuhi, mengapa tidak bagi kita? UCapan-ucapan negatif orang lain bisa membuat kita terpuruk dan hancur berantakan, kehilangan pengharapan, tetapi kembali berpegang kepada Tuhan dan janji-janjiNya akan mengembalikan kita kepada jalur yang benar. Ketaatan, kepercayaan teguh kepada Tuhan seharusnya tidak tergantung oleh situasi, kondisi dan logika kita. Meski saat ini anda belum melihat jawabannya, tetapi iman sebenarnya sudah memberi jawaban bahkan bukti dari janji itu. Tetaplah melangkah dengan yakin dalam iman. Pada saatnya nanti anda akan melihat bagaimana kuasa Tuhan mampu menjungkirbalikkan segala logika manusia dan komentar-komentar negatif dari mereka yang tidak bertanggungjawab itu.

Iman yang teguh merupakan kunci menuai janji Tuhan
March 01, 2013, 04:42:31 AM
Reply #19
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20198
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_02_01_archive.html
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/02/menguji-diri.html

Menguji Diri

Ayat bacaan: 2 Korintus 13:5
======================
"Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji."

Banyak yang kesal bahkan muak melihat bagaimana para politikus di negara ini mempertontonkan tingkah politisnya secara norak. Mengatasnamakan rakyat; entah rakyat yang mana; mereka secara bebas menghakimi lawan politiknya yang seringkali sudah tidak lagi memakai tata krama dan etika sopan santun secara terbuka. Memang benar siapapun harus terbuka pada kritik, tetapi cara menyampaikannya pun harus pula diperhatikan. Yang sering terjadi adalah mereka secara bebas menghakimi hanya karena berada di luar. Jika mereka direkrut untuk bergabung dengan pemegang kekuasaan mayoritas, merekapun mendadak diam. Belum tentu mereka bisa lebih baik dari yang dikritiknya, tapi mereka tanpa rasa bersalah menunjukkan seolah merekalah yang paling hebat, paling benar dan lain-lain sehingga merasa berhak pula untuk menghakimi. Ini adalah tontonan sehari-hari kita di berbagai media. Saya selalu berpikir, alangkah baiknya apabila mereka berhenti berpikir sempit hanya untuk kepentingan pribadi atau golongan lantas duduk bersama memikirkan kepentingan rakyat. Itu hanyalah utopia, kata banyak orang yang sudah terlanjur pesimis melihat polah atau tingkah orang-orang yang mengatasnamakan dirinya sebagai wakil rakyat, dan rakyat hanya bisa terus menanti dan berharap, semoga pada suatu hari ada pemimpin yang bisa benar-benar tampil memperjuangkan kepentingan mereka secara serius. Sebenarnya tidak adil juga jika kita hanya menyalahkan mereka yang duduk di kursi tinggi ini, karena faktanya manusia memang cenderung lebih mudah menuduh atau menghakimi orang lain ketimbang melakukan introspeksi terhadap diri sendiri.

"Menilai keburukan orang lain itu tidak sulit. Yang sulit justru menilai diri sendiri."  kata seorang teman saya pada suatu kali yang merupakan kesimpulan dari perenungan yang ia lakukan. Menjadi komentator itu mudah, tetapi mampukah kita melakukan yang lebih baik ketika menjadi pelaku secara langsung? Atau pertanyaan lainnya, ketika kita menilai keburukan orang lain, sudahkah kita memeriksa diri kita sendiri?

Akan hal ini, marilah kita lihat apa yang dianjurkan oleh Paulus kepada jemaat di Korintus. Katanya: "Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji." (2 Korintus 13:5). Dari ayat ini kita bisa mencermati bahwa kita harus lebih memprioritaskan untuk menyelidiki diri kita sendiri terlebih dahulu ketimbang menilai orang lain. Dalam kondisi fisik kita saja seharusnya begitu. Bayangkan bagaimana rawannya kelangsungan hidup kita jika kita tidak pernah memeriksa kesehatan kita, tidak pernah berolahraga tapi terus membiarkan hal-hal yang merusak kesehatan kita silih berganti masuk menghancurkan diri kita, apalagi jika kita mengacu kepada kondisi rohani kita. Bayangkan ada berapa banyak bahaya yang tidak tersaring apabila kita tidak pernah memperhatikan dengan seksama segala sesuatu yang masuk ke dalam diri kita. Ketika kita menguji atau memeriksa diri sendiri, itu artinya kita melihat segala sesuatu dari diri kita dengan jujur dan menyeluruh, yang baik maupun yang buruk. Itu artinya kita berani melihat kelemahan kita sendiri. Dengan mengetahui kelemahan kita, disitulah kita akan dapat mengambil langkah untuk melakukan perbaikan. Dan hasilnya jelas, kita akan lebih kuat, lebih tahan uji dibandingkan orang yang tidak pernah peduli terhadap keselamatan dirinya sendiri, terlebih orang yang hanya suka menilai kelemahan atau keburukan orang lain.
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)