Author Topic: renungan harian online  (Read 139508 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

April 20, 2013, 04:57:48 AM
Reply #100
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23128
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
Petrus menyebutkan hal yang sama. "Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib." (1 Petrus 2:9). Lihatlah jati diri kita lewat ayat ini. Kita disebutkan sebagai yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa kudus, milik Allah sendiri. Sebegitu istimewanya kita diciptakan. Tetapi dari ayat ini ingatlah bahwa kita punya tugas untuk menyatakan kemuliaan Tuhan pula di dunia. Menjadi penyampai berita perbuatan-perbuatan besarNya. Menjadi sosok anak-anak terang yang mewakili nama baik Bapa kita, Raja diatas segala raja. Kita dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, kita terpilih sebagai imamat yang rajani, kehidupan kita pun seharusnya mencerminkan prinsip Kerajaan dan menggambarkan citra Sang Raja. Kita diciptakan dengan tujuan mulia secara istimewa.

Karenanya berhentilah menilai rendah siapapun termasuk diri sendiri karena Tuhan tidak pernah menciptakan kita asal-asalan atau tanpa makna. Justru kita diciptakan spesial, dimahkotai kemuliaan dan hormat, ditujukan untuk menjadi imamat yang rajani yang siap untuk memberitakan segala kebaikan Tuhan dan perbuatan-perbuatan besarNya. Oleh karena itu kita harus belajar untuk hidup sesuai prinsip Kerajaan, menjadi anak-anak Allah yang benar-benar menghidupi segala hak-hak yang telah diberikan kepada kita dan melakukan tanggung jawab kita pula. Sudahkah kita benar-benar menghayati jati diri kita sebagai ciptaan spesial yang segambar dengan Allah?

We are the crown of creation
April 21, 2013, 04:50:34 AM
Reply #101
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23128
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_04_01_archive.html
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/buta-rohani.html

 Buta Rohani

Ayat bacaan: Mazmur 119:130
=======================
"Bila tersingkap, firman-firman-Mu memberi terang, memberi pengertian kepada orang-orang bodoh."

Punya sepasang mata yang berfungsi baik tidak serta merta membuat kita bisa melihat segalanya dengan baik. Ketidak-awasan karena meleng bahkan bisa berakibat fatal. Belum lama saya membaca berita mengenai supir sebuah bus meleng saat menyalakan rokok mengakibatkan busnya jatuh masuk jurang. Berapa lama sih waktu yang dibutuhkan untuk menyalakan rokok? Namun meleng beberapa detik itu ternyata bisa sangat membahayakan. Dalam banyak hal kita pun bisa meleng meski mempunyai sepasang mata yang sempurna. Terpeleset karena tidak melihat lantai yang licin, tersandung batu, bertubrukan dengan orang lain merupakan contoh-contoh lainnya yang mungkin tidak separah supir bus di atas. Saya pernah pula melihat orang yang sibuk melihat wanita berjalan di sisi jalan ketika sedang mengendarai motornya lalu menubruk mobil yang berhenti tepat didepannya. Bukan mata yang salah, tetapi ketika kita tidak mempergunakan mata dengan baik untuk melihat, itu bisa membawa masalah. Dalam hidup sehari-hari seperti itu, dalam kerohanian ketidakmampuan untuk melihat dengan baik pun bisa pula mendatangkan masalah.

Sebuah contoh menarik bisa kita lihat lewat reaksi dari murid-murid Yesus dan orang-orang Farisi terhadap seorang pengemis buta yang menunjukkan kebutaan rohani mereka meski mata jasmaninya berfungsi baik seperti yang tertulis dalam Yohanes 9. Perhatikan reaksi para murid ketika melihat seorang buta yang bahkan tanpa perasaan bersalah mereka utarakan kepada Yesus. "Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?" (Yohanes 9:2). Demikian pertanyaan yang dilemparkan para murid kepada Yesus. Belum kenal, belum tahu orangnya, belum apa-apa mereka sudah langsung menuduh bahwa kebutaan itu akibat dosa. Sementara orang Farisi lebih parah lagi. Mereka lebih mementingkan tata cara dan adat ketimbang membantu orang lain dan mengasihi. Bukan hanya sampai disitu saja, mereka bahkan berani-beraninya menuduh Yesus berdosa hanya karena Yesus menyembuhkan si pengemis buta itu di hari Sabat. (ay 16). Tanpa sadar, mereka menunjukkan bahwa sesungguhnya merekalah yang buta, yaitu buta rohani.

Yesus banyak menyembuhkan banyak kebutaan jasmani ketika Dia turun ke dunia ini. Tapi perhatikanlah bahwa kepedulian terbesar Yesus di muka bumi ini justru kebutaan rohani. Betapa ironisnya ketika kita sudah dianugerahkan segala yang sempurna oleh Tuhan, tapi kita tetap saja buta secara rohani. Ada begitu banyak pemuka agama alias orang-orang Farisi yang menyelidiki kesembuhan si pengemis buta itu ternyata tetap tidak mau percaya terhadap Yesus. Mereka malah menuduhNya berdosa. Bacalah Yohanes 9:13-34 untuk lebih jelasnya. Karena itulah Yesus kemudian berkata: "Yesus pun kemudian mengatakan kepada mereka "Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat, menjadi buta." (ay 39). Lucunya lagi, orang-orang Farisi tidak juga sadar bahwa mereka buta secara rohani. Mereka merasa mata rohani mereka paling tajam dan paling awas, sehingga mereka masih bisa menantang Yesus setelah mendengar kata-kata Yesus tersebut. (ay 40). Dan kembali Yesus menegaskan: "Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa, tetapi karena kamu berkata: Kami melihat, maka tetaplah dosamu." (ay 41).

Di kemudian hari Paulus kembali menyinggung perihal kebutaan rohani ini. "Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka ia tertutup untuk mereka, yang akan binasa, yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah." (2 Korintus 4:3-4). `Ini menunjukkan bahwa sebuah kebutaan rohani bisa menimpa siapa saja, dan akibatnya bisa sangat fatal. Seperti halnya mata jasmani kita yang walau berfungsi tapi tidak serta merta membuat kita mampu melihat segalanya, mata rohani pun bisa tetap buta meski suara hati Tuhan sudah tertulis dengan jelas di dalam Alkitab. Tuhan ingin mencelikan mata rohani semua manusia agar bisa melihat kebenaran, namun tidak semua orang mau menerima itu. Sebagian orang bertindak seperti orang Farisi yang merasa paling alim, paling benar, paling melihat namun sesungguhnya buta, sebagian lagi seperti murid-murid Yesus yang merasa diri sudah aman sehingga menganggap mereka berhak menuduh atau menghakimi orang dengan begitu mudahnya. Ada banyak yang tetap menolak kebenaran Firman meski Tuhan sudah berulang kali mengetuk pintu hati mereka.
April 21, 2013, 04:51:05 AM
Reply #102
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23128
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
Jika kita mundur ke belakang, kita bisa pula menemukan Pemazmur mengatakan: "Bila tersingkap, firman-firman-Mu memberi terang, memberi pengertian kepada orang-orang bodoh." (Mazmur 119:130). Firman hanya bisa memberi terang dan pengertian kepada orang apabila firman itu tersingkap. Jika tidak, maka kita tidak akan bisa menangkap maknanya dan akan seterusnya buta secara rohani, meski firman itu sudah kita baca dengan mata kepala sendiri atau malah sudah kita kenal betul bunyinya. Itu bisa bahkan sering terjadi di kalangan orang percaya sekalipun. Paulus juga mengatakan: "Tetapi pikiran mereka telah menjadi tumpul, sebab sampai pada hari ini selubung itu masih tetap menyelubungi mereka, jika mereka membaca perjanjian lama itu tanpa disingkapkan, karena hanya Kristus saja yang dapat menyingkapkannya. Bahkan sampai pada hari ini, setiap kali mereka membaca kitab Musa, ada selubung yang menutupi hati mereka. Tetapi apabila hati seorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari padanya. Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan." (2 Korintus 3:14-17).

 ROH KUDUS siap menyingkapkan segala rahasia atau kunci Kerajaan Allah dan memberi kemerdekaan kepada kita, mencelikan mata rohani kita yang tadinya buta untuk kemudian dapat melihat. Namun semuanya tergantung kita, apakah kita mau menerima anugerah itu atau menolaknya, apakah kita mau mempergunakan kemampuan mata rohani kita dengan baik atau mau terus meleng dari semua itu. Kedatangan Kristus turun ke dunia membawa kerinduan Tuhan untuk memberi kesembuhan atas kebutaan rohani. Jangan sia-siakan kesempatan yang sudah dibuka Tuhan itu bagi kita.Milikilah mata rohani yang berfungsi dengan benar.

Firman Tuhan memberi terang dan pengertian dan mencelikan kebutaan rohani
April 22, 2013, 04:29:25 AM
Reply #103
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23128
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_04_01_archive.html
renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/kebutaan-rohani-para-murid-dan-orang.html

 Kebutaan Rohani Para Murid dan Orang Farisi (1)

Ayat bacaan: Yohanes 9:2
=====================
"Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: "Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?"

Alangkah ironisnya ketika kita mudah menjatuhkan komentar-komentar miring karena merasa diri sudah hidup baik. Melihat orang yang hidupnya susah atau memiliki cacat tubuh, selintas pikiran bahwa itu akibat dosanya atau dosa orang tuanya, akibat kutuk dan sebagainya bisa muncul dengan mudah kalau hati tidak dijaga kondisinya dengan baik. Tanpa melihat lebih jauh mengenai kebenarannya dulu kita sudah buru-buru menghakimi orang lain. Hal seperti ini bukan saja terjadi di antara orang-orang dunia, tetapi juga di antara orang percaya. "Kasihan, dia hidupnya susah..pasti dia atau orang tuanya punya dosa yang belum dibereskan..." begitulah kata seorang teman pada suatu kali dengan ringannya yang membuat saya kaget. Mungkin ia tidak sadar, tapi ucapan itu sama sekali tidak pantas untuk diucapkan, apalagi ketika ia tidak mengenal betul siapa orang yang ia bicarakan. Dalam kesempatan lain ada seorang teman yang mampir ke sebuah persekutuan sahabatnya, dan ia bercerita bagaimana dalam doa sekalipun mereka bisa-bisanya menghakimi orang lain tanpa rasa bersalah. "Tuhan, ampuni si A, karena dosa-dosanya banyak sehingga ia menjadi seperti itu.. bebaskan si B karena pasti ia kena kutuk turunan.." dan lain-lain. Seperti itulah bentuk doa mereka yang membuat teman saya bingung karena ia merasa aneh mendengar doa menghakimi seperti itu. Mendoakan orang lain itu tentu baik, tapi haruskah disertai dengan perkataan-perkataan menuduh seperti itu? Di dunia saja itu tidak pantas dilakukan apalagi ketika disampaikan dalam doa yang notabene kepada Tuhan. Bayangkan jika di gereja ada pola seperti ini, tidakkah itu ironis? Jika dibiarkan, gereja bukan lagi menjadi tempat dimana orang bisa merasakan hadirat Tuhan dan bertumbuh bersama-sama saudara/saudari seiman, tapi akan menjadi sekumpulan orang eksklusif yang merasa diri paling benar dan merasa punya hak untuk menghakimi orang lain seenak hati mereka.
April 22, 2013, 04:29:52 AM
Reply #104
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23128
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
Seperti yang sudah saya singgung dalam renungan kemarin, sikap seperti ini nyatanya pernah terjadi di antara murid-murid Yesus sendiri. Pada suatu hari ketika Yesus sedang berjalan bersama murid-muridNya ada seorang pengemis yang buta sejak lahir melewati mereka. Melihat orang buta itu, murid-murid Yesus spontan bertanya kepadaNya: "Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?" (Yohanes 9:2). Bayangkan seandainya kita yang ada di posisi orang buta tadi, pasti hati kita perih mendengarnya. Sudah menderita karena tidak bisa melihat dan karena keterbatasannya ia terpaksa mengemis, masih juga tega-teganya dikomentari seperti itu. Lihatlah sikap para murid itu. Bukannya di bantu, diberi sedekah, disapa dengan ramah, tapi malah dikomentari. Tentu hal itu akan semakin menambah penderitaannya. Betapa menyedihkan melihat komentar seperti ini justru datang dari murid-murid Yesus sendiri. Sepertinya murid-murid itu lupa bahwa meski mereka murid Yesus, mereka pun sama-sama manusia yang tidak sempurna yang belum tentu lebih baik dari si pengemis buta. Mengeluarkan komentar seperti ini menunjukkan bahwa mereka pun buta, buta secara rohani. Mereka tampaknya lupa diri, menjadi pongah dengan status mereka sebagai murid Yesus sehingga merasa berhak mengeluarkan kata-kata seperti itu. Kita sebagai murid-murid Kristus di hari ini pun masih sering terpeleset dalam kesalahan yang sama. Ketika kita merasa diri sudah baik, sudah hidup benar, sudah rajin berdoa, sudah hidup kudus, bukannya mengasihi orang lain tetapi malah tega menghakimi dan mengomentari orang lain, menuduh yang bukan-bukan.

Bagaimana reaksi Yesus akan sikap buruk murid-muridNya ini? Menanggapi komentar murid-muridNya, Yesus memilih untuk melakukan sesuatu secara nyata. Kemudian Yesus pun menyembuhkan pengemis buta tadi sehingga dia bisa melihat, sebuah mukjizat luar biasa yang belum pernah ia alami sejak lahir. Lalu Yesus pun memberi jawaban: "Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia." (ay 3). Yesus mengatakan bahwa pekerjaan Allah harus dinyatakan dalam dia. Bukankah itu sesuatu yang luar biasa bagi seorang pengemis buta yang mungkin tidak ada yang peduli? Sebelum bertemu Yesus, hidup baginya hanyalah kegelapan, dia tidak berguna dan dijauhi orang. Tiba-tiba dia mendapat perhatian, disembuhkan sehingga kini bisa melihat terang, bahkan dilibatkan dalam pekerjaan Allah! Ini sesuatu yang sungguh luar biasa. Perjumpaannya dengan Yesus merubah hidupnya. Ia dipulihkan dan menjadi kesaksian bagi banyak orang.

(bersambung)
April 23, 2013, 05:07:56 AM
Reply #105
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23128
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_04_01_archive.html
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/kebutaan-rohani-para-murid-dan-orang_21.html

 Kebutaan Rohani Para Murid dan Orang Farisi (2)

(sambungan)

Selanjutnya mari kita lihat bagaimana reaksi orang-orang Farisi yang merasa paling paham soal agama tepat setelah orang buta itu disembuhkan. Kalau para murid sudah salah dengan mengeluarkan pertanyaan menyudutkan seperti itu, sebagian dari orang Farisi yang superior dan merasa diri paling suci langsung serta merta menuduh. "Maka kata sebagian orang-orang Farisi itu: "Orang ini tidak datang dari Allah, sebab Ia tidak memelihara hari Sabat." Sebagian pula berkata: "Bagaimanakah seorang berdosa dapat membuat mujizat yang demikian?" Maka timbullah pertentangan di antara mereka." (ay 16). Merasa diri paling benar sehingga punya hak untuk menghakimi, itulah sikap orang Farisi yang sudah tidak asing lagi, yang sayangnya masih banyak diadopsi orang percaya hingga hari ini. Yesus pun kemudian mengatakan kepada mereka "Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat, menjadi buta." (ay 39). Orang Farisi lalu mengeluarkan sindiran. "Kata-kata itu didengar oleh beberapa orang Farisi yang berada di situ dan mereka berkata kepada-Nya: "Apakah itu berarti bahwa kami juga buta?" (ay 40). Perhatikan bahwa mereka sama sekali tidak merasa bersalah. "Jadi katamu kami pun orang buta?? Kami ini orang-orang paling benar di dunia, tahu??" Itu kira-kira yang ada di pikiran mereka. Kembali Yesus menegaskan kalimatnya. "Jawab Yesus kepada mereka: "Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa, tetapi karena kamu berkata: Kami melihat, maka tetaplah dosamu." (ay 41).

Apa yang dimaksud Yesus dengan kalimat diatas? Yesus mengingatkan mereka, termasuk kita, bahwa tidak baik atau bahkan merupakan dosa ketika kita menganggap diri paling benar lalu menghakimi orang lain. Kedatangan Yesus ke dunia untuk membebaskan orang dari dosa dan memberikan gambaran yang sesungguhnya tentang Kerajaan Allah. Yesus menjungkir balikkan pandangan-pandangan keliru. Yesus meluruskan persepsi-persepsi yang salah yang ada di dunia selama ini. Jika kita selama ini merasa paling tahu apa yang benar, maka Yesus membawa kebenaran yang sesungguhnya yang berasal dari Bapa Surgawi. Jika kita menolak kebenaran dan menganggap kita lebih tahu, maka sesungguhnya kitalah yang buta. Kedatangan Kristus pun menjadi sia-sia bagi kita yang keras hati seperti ini, sehingga kita luput dari anugerah keselamatan yang telah diberikan lewat Kristus kepada kita.

Adalah menarik untuk melihat Yohanes 9 ini, dimana kita bisa melihat dua jenis reaksi dari tipe orang yang menganggap dirinya sudah benar. Bukankah masih banyak orang percaya yang masih melakukan kesalahan yang sama seperti ini? Apakah kita termasuk satu diantara mereka yang bersikap seperti ini? Apakah kita masih termasuk yang buta? Apakah ketika melihat orang-orang yang susah kita tergerak untuk membantu dan memberkati atau tergerak mengomentari, menuduh, menghakimi, menghina atau bahkan mengejek? Ini pertanyaan penting yang harus kita renungkan. Yesus berpesan bahwa kita harus melakukan pekerjaan Tuhan selama masih ada waktu dan kesempatan. "Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja." (ay 4). Jangan cuma bicara, apalagi membicarakan dosa orang lain, gosip, mengatai orang dan hal-hal buruk lainnya. Berhentilah melakukan itu. Mulailah mengambil tindakan nyata, selagi "hari masih siang". Mengatai, menggosipkan atau membicarakan orang lain adalah sia-sia dan sama dengan memberi tuduhan palsu. Hal tersebut tajam adanya dan bisa sangat melukai bahkan dalam banyak kesempatan sama kejamnya dengan membunuh. "Orang yang bersaksi dusta terhadap sesamanya adalah seperti gada, atau pedang, atau panah yang tajam." (Amsal 25:18). Bentuk-bentuk perkataan yang tidak pada tempatnya itu pun sama halnya seperti menghakimi orang lain. Apa kata Yesus mengenai hal menghakimi? "Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu." (Matius 7:1-2). Daripada melakukan hal yang mendatangkan masalah bagi kita dan menyakiti orang lain, lebih baik kita mengambil tindakan nyata dengan mengasihi dan memberkati orang lebih banyak lagi. Masih begitu banyak pekerjaan yang bisa kita lakukan di ladang Tuhan, dan lakukanlah itu secara nyata selagi hari masih siang.

Hindari menghakimi orang lain dan merasa diri paling benar, teruslah mengasihi dan memberkati
April 24, 2013, 05:20:43 AM
Reply #106
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23128
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_04_01_archive.html
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/penghalang-pandangan-1.html


Penghalang Pandangan (1)

Ayat bacaan: Lukas 24:16
=====================
"Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia."

Ada beberapa teman saya yang punya kebiasaan melamun ketika tengah berjalan di tengah keramaian, sehingga ia sering tidak melihat orang yang dikenalnya meski orang tersebut berada tepat disampingnya. Bukan matanya yang salah makanya ia tidak melihat, tapi itu terjadi karena matanya tidak terpakai dengan baik sebab tertutupi oleh lamunannya. Ada kalanya mata yang berfungsi normal menjadi berkurang kemampuan melihatnya karena ada sesuatu yang menutupi. Turunnya abu vulkanik akibat kebakaran hutan, kabut tebal yang turun misalnya, itu bisa membuat jarak pandang menurun, bahkan membuat kita tidak bisa melihat apa-apa di dekat kita. Dalam kehidupan rohani, berbagai hal seperti ketakutan dan kekuatiran pun bisa membuat kita tidak lagi bisa melihat janji-janji Tuhan dan kebenaran yang terkandung di dalam FirmanNya. Jika itu yang terjadi, maka kita pun menjadi sulit untuk mengenal Tuhan yang padahal tetap berada bersama dengan kita dalam setiap langkah.

Hari ini saya masih ingin melanjutkan renungan mengenai kebutaan rohani. Mari kita perhatikan apa yang terjadi pada pada murid-murid Yesus setelah Dia disalibkan. Yesus baru saja meninggalkan mereka selama tiga hari. Tiga hari itu waktu yang sangat singkat. Rasanya kita tidak akan mungkin lupa terhadap seseorang yang kita kenal dengan baik jika baru saja meninggalkan kita tiga hari saja. Anda tidak akan mungkin lupa wajah pasangan anda kalau tiga hari tidak ketemu bukan? Aneh, tapi itulah yang terjadi pada murid-murid Yesus.
April 24, 2013, 05:21:26 AM
Reply #107
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23128
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
Pada suatu hari, dua dari murid Yesus sedang berjalan menuju sebuah kampung yang lokasinya terletak sekitar  11 kilometer dari Yerusalem. Mereka tengah sibuk membicarakan dan membahas apa yang terjadi. Saya yakin pada saat itu mereka sedang bingung, kalut, ketakutan dan tidak tahu harus berbuat apa setelah mendengar berita simpang siur mengenai hilangnya mayat Yesus dari kubur. Mereka tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Apakah jasad Yesus diculik, atau bangkit seperti kesaksian beberapa perempuan yang bertemu dengan malaikat penyampai kabar itu. Mereka mungkin tengah galau, kehilangan harapan, kecewa dan sedih, bahkan kemungkinan besar tengah dicekam rasa takut membayangkan siksaan seperti apa yang akan mereka terima setelah Yesus tidak ada lagi di dekat mereka secara fisik.  Lalu Alkitab mencatat apa yang terjadi selanjutnya. "Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka." (Lukas 24:15). Yesus tiba-tiba muncul di dekat mereka, bahkan berjalan bersama dengan mereka! Seharusnya mereka bersorak dan menyambut Yesus dengan sangat gembira. Tapi ternyata bukan itu yang terjadi. Mereka malah tidak mengenal Yesus. Bagaimana bisa begitu? Alasannya secara jelas disebutkan pada ayat berikutnya. "Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia." (ay 16). Dikatakan ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, karena itulah mereka tidak mengenal Yesus. Apakah sesuatu yang menghalangi pandangan mereka sehingga mereka seolah buta meski mata mereka sebenarnya masih berfungsi normal? Itu adalah berbagai pikiran penuh ketakutan, kekuatiran atau kecemasan yang sedang melanda mereka. Mereka bahkan belum juga sadar bahkan ketika Yesus sudah menegur mereka dan menjelaskan nubuatan-nubuatan yang tertulis tentang Dia dalam kitab nabi-nabi. (ay 25-27). Baru ketika mereka tiba di kampung dan Yesus mengambil roti dan memecah-mecahkan sambil mengucap berkatlah mereka menyadari bahwa orang yang berjalan bersama mereka sejak tadi ternyata Yesus. Bayangkan dalam perjalanan 11 kilometer panjangnya mereka tidak kunjung menyadari bahwa Yesus yang mereka perbincangkan ternyata ada ditengah-tengah mereka.

11 kilometer dengan berjalan kaki, itu membutuhkan waktu yang sangat lama. Selama itulah mereka tidak menyadari siapa Sosok yang berjalan bersama dengan mereka. Keraguan, kebingungan, kekecewaan, kesedihan, atau ketakutan membuat mereka tidak mengenali Yesus, meski Yesus berada tepat bersama mereka. Ketika Yesus duduk makan dengan mereka dan memecah-mecahkan roti, mereka pun tersadar bahwa orang yang tidak mereka kenal itu ternyata Yesus (ay 30). Ketika itulah mereka baru sadar bahwa sebenarnya ketika orang itu menerangkan kitab suci sepanjang perjalanan, mereka merasakan bahwa sebenarnya hati mereka berkobar-kobar, dan seharusnya mereka bisa mengenali Yesus pada saat itu juga (ay 32).

(bersambung)
April 25, 2013, 05:23:47 AM
Reply #108
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23128
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_04_01_archive.html
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/penghalang-pandangan-2.html

 Penghalang Pandangan (2)

(sambungan)

Hal yang sama sering kita alami sampai hari ini. Berbagai permasalahan hidup, tekanan, beban berat atau pergumulan yang kita alami bisa membuat kita tidak mendengar atau mengenal Tuhan lagi. Kita lupa akan Tuhan, atau malah mungkin mulai meragukan eksistensiNya di tengah-tengah kita. Kita mengira seolah-olah Tuhan tidak lagi ada bersama kita, melupakan dan membiarkan kita di tengah-tengah tekanan. Ketika jalan yang kita lalui penuh liku, kita tidak lagi percaya bahwa di ujungnya Tuhan telah menyediakan segala kebaikan dan segera menyerah. Kita meragukan eksistensiNya atau kalaupun kita percaya, kita ragu bahwa Dia mungkin hanya memberi janji palsu atau tidak peduli terhadap pergumulan kita. Yang seringkali terjadi, kita justru terjebak pada berbagai alternatif yang membinasakan. Padahal bukan Tuhan yang salah, justru fokus kita terhadap beban penderitaan yang terlalu besarlah yang menutupi pandangan kita sehingga kita tidak lagi mengenal Dia. Bahkan setelah mendengar Firman Tuhan sekalipun, orang-orang yang fokus sepenuhnya hanya kepada permasalahan dan beban berat tidak lagi bisa merasakan apapun, sebab awan tebal itu telah terlanjur menutupi hati mereka.

Kepada Yosua Tuhan mengatakan: "Seorangpun tidak akan dapat bertahan menghadapi engkau seumur hidupmu; seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau." (Yosua 1:5). Ini Tuhan sampaikan kepada Yosua sehubungan dengan diberikannya tugas yang sangat berat, yang pasti akan meletakkan Yosua duduk di kursi panas. Situasi yang harus dia hadapi begitu sulit karena harus melanjutkan pekerjaan besar untuk menuntun bangsa Israel yang keras kepala dan tegar tengkuk memasuki tanah yang dijanjikan menggantikan Musa. Pergumulan jelas harus dihadapi Yosua, tekanan dan beban ada bersamanya, tapi disamping itu lihatlah bahwa janji Tuhan yang meneguhkan dan menguatkan pun ada bersamanya. Tuhan berjanji untuk selalu besertanya dan tidak akan meninggalkan dirinya menghadapi itu sendirian. Janji yang sama juga berlaku bagi kita, karena Tuhan tidak pernah senang melihat anak-anakNya menderita. Apa yang Dia berikan adalah rancangan yang terbaik. He wishes to give nothing but the best. Tapi tebalnya awan kelabu yang timbul dari ketakutan, kegelisahan, kesedihan, kebingungan atau kekecewaan kita akan membuat semua itu tidak lagi terlihat. Hal-hal itu akan menutupi pandangan mata kita dari pengenalan akan Tuhan dan kebenaran FirmanNya. Ketika awan kelabu begitu tebal, terang matahari pun tidak lagi terlihat jelas atau bahkan bisa hilang sama sekali dari pandangan kita. Ketika mata kita tertutup oleh berbagai kekuatiran, ketakutan dan ketidakpastian, maka kita pun tidak lagi melihat Terang.

Yesus tahu pergumulan kita, Dia sangat memahami beratnya hidup kita. Dia sudah mengalami itu semua secara langsung ketika Dia mengambil rupa hamba seperti kita dan mengalami penderitaan secara langsung untuk membebaskan kita dari kebinasaan, sesuai kehendak BapaNya. Tidak hanya tahu, tapi Yesus juga peduli, malah sangat-sangat peduli. Karenanya Yesus berkata: "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu." (Matius 11:28). Itu jelas merupakan bentuk kepedulian yang besar karena Dia tahu betul bagaimana beratnya pergumulan-pergumulan yang harus kita hadapi dalam hidup kita. Apa yang harus kita lakukan adalah tetap berpegang teguh kepada janji setia Allah, percaya sepenuhnya kepadaNya dan menjaga diri kita untuk tetap hidup kudus dan taat tanpa kehilangan pengharapan sedikitpun.

Kita harus memperhatikan betul agar jangan ada awan gelap terbentuk yang bisa membuat kita tidak lagi bisa melihat dan mengenalNya. Tak kenal maka tak sayang. Disamping itu, hiduplah dengan benar, karena tumpukan dosapun bisa membuat kita hubungan kita dengan Tuhan menjadi terputus. "tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu." (Yesaya 59:2). Agar bisa tetap melihat dan mengenal Tuhan kita harus memiliki pandangan yang bersih dari segala hambatan yang menutupi pandangan kita. Jika masih ada sesuatu yang menghalangi pandangan kita, singkirkanlah segera semua itu, agar kita bisa selalu memiliki pandangan jernih kepada Tuhan.

Ketakutan, keraguan dan kekecewaan dalam pergumulan menghalangi pandangan kita kepada Tuhan
April 26, 2013, 04:09:52 AM
Reply #109
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23128
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_04_01_archive.html
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/no-man-is-island.html

 No Man is an Island

Ayat bacaan: Kejadian 2:18a
======================
"TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja."

Di tahun 1624 seorang penyair bernama John Donne menulis sebait syairnya "no man is an island" yang sampai sekarang masih sangat familiar di telinga kita. Kalimat ini mengacu kepada jati diri manusia yang memang diciptakan bukan untuk hidup sendirian, terisolir dari lingkungannya dan menjadi orang-orang bersifat individualis melainkan untuk hidup dalam hubungan kekerabatan dengan orang lain, berkelompok atau dalam komunitas. Sudah menjadi sifat dasar manusia untuk hidup sebagai mahluk sosial yang harus membangun hubungan dengan orang lain agar bisa maju dan hidup lebih baik. Sulit sekali membayangkan jika harus menjalani hidup sendirian tanpa teman. Keterbatasan-keterbatasan kita sebagai manusia jelas membutuhkan pertolongan orang lain. Tidak ada satupun orang yang bisa bertahan hidup dengan baik jika hanya sendirian. Contoh kecil saja, apabila kita hidup tanpa adanya teman, saudara atau keluarga, tentu sangatlah sulit bagi kita untuk menjalani hidup. Tidak ada yang menegur, tidak ada tempat curhat atau sharing, tidak ada yang mengingatkan, tidak ada yang membantu.

Saya pernah membaca komentar dari seorang mantan narapidana bahwa salah satu bentuk hukuman terberat bagi mereka yang tengah menjalani hukuman dibalik jeruji ternyata bukanlah siksaan fisik melainkan ketika diisolasi dalam sebuah ruang yang gelap untuk sekian waktu tertentu. Diisolasi sendirian, terasing tanpa ada kesempatan untuk bertatap muka dengan orang lain, itu yang ternyata ia rasakan paling menyiksa. Kita adalah manusia yang butuh kasih sayang, perhatian dan dukungan dari orang lain. Bukan hanya membuat hidup jauh lebih sulit, kesendirian itu bisa sangat menyiksa, dan itu pun bukanlah sesuatu yang diinginkan Tuhan bagi kita.

Seperti itu pula jatidiri kita diciptakan Tuhan. Tuhan tidak berniat menciptakan manusia untuk sendiri-sendiri. Interaksi sosial dengan orang lain jelas kita butuhkan dan Tuhan pun menghendaki demikian. Lihatlah apa kata Tuhan di awal penciptaan. "TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja." (Kejadian 2:18). Tuhan mengatakan bahwa sendirian itu tidak baik. "It is not good", He said. Dan itulah landasan Tuhan menciptakan seorang penolong yang sepadan dengan kita. Hawa pun hadir, diciptakan lewat tulang rusuk Adam.

Kemudian Tuhan memberkati dan memberi pesan kepada mereka. "Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." (1:28). Beranak cuculah dan bertambah banyak, lalu berkuasalah atas segala ciptaan Tuhan yang ada di muka bumi ini. Pikirkanlah. Untuk apa kita diminta untuk terus bertambah banyak memenuhi bumi jika kita harus hidup sendiri-sendiri? Tuhan menginginkan adanya interaksi sosial di antara sesama manusia agar kita bisa terus berkembang lebih baik, apalagi dengan diserahkannya tugas untuk menaklukkan dan menguasai seisi bumi yang sama sekali tidak mudah. Secara spesifik kita bisa melihat bahwa manusia diciptakan berpasang-pasangan seperti halnya Adam dan Hawa, namun secara luas Tuhan pun mengingatkan kita untuk hidup berdampingan dengan orang lain, baik dalam komunitas maupun lingkungan tertentu, dimana kita bisa saling membangun, menolong, mengisi, mengingatkan satu sama lain dan sama-sama bertumbuh ke arah yang lebih baik.

Dalam Pengkotbah kita bisa melihat bahwa kita dianjurkan untuk berinteraksi dan menjalin hubungan dengan orang lain. "Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka." (Pengkotbah 4:9) Dalam versi BIS dikatakan "Berdua lebih menguntungkan daripada seorang diri. Kalau mereka bekerja, hasilnya akan lebih baik." Kemudian dilanjutkan dengan: "Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!" (ay 10). Kita butuh kehadiran teman yang bisa menolong kita bangkit ketika terjatuh, teman yang siap menguatkan ketika kita lemah, teman yang sanggup meringankan ketika kita ditimpa beban berat, teman yang siap memberi masukan, menegur apabila kita salah, mengingatkan dan memberi masukan, teman yang mampu memberi penghiburan ketika kita berduka.
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)