Author Topic: renungan harian online  (Read 146576 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

May 01, 2013, 05:28:05 AM
Reply #120
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24759
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_04_01_archive.html
renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/peran-aktif-bagi-bangsa-2.html

 Peran Aktif bagi Bangsa (2)

Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 17:16-17
=============================
"Sementara Paulus menantikan mereka di Atena, sangat sedih hatinya karena ia melihat, bahwa kota itu penuh dengan patung-patung berhala. "Karena itu di rumah ibadat ia bertukar pikiran dengan orang-orang Yahudi dan orang-orang yang takut akan Allah, dan di pasar setiap hari dengan orang-orang yang dijumpainya di situ."

Ada sebuah penggalan dari pidato John F Kennedy disaat ia diangkat menjadi Presiden Amerika Serikat ke 35 pada tahun 1961 yang sangat historis, yaitu: "Ask not what your country can do for you - ask what you can do for your country." Tidak banyak yang mengetahui bahwa quote yang sangat terkenal ini sesungguhnya dikutip dari tulisan Khalil Gibran. Kalimat ini penting untuk diperhatikan karena faktanya sebagian besar penduduk suatu negara hanya menuntut haknya tanpa memperhatikan kewajiban mereka sebagai warga negara. Kita mengeluh melihat banyaknya pengemis, gelandangan, pengamen, kita memprotes tingginya tingkat kejahatan, kesemrawutan jalan raya, kondisi jalan yang buruk dan lain-lain tetapi tidak mau berbuat sesuatu untuk itu. Apa yang bisa kita buat? Apa kita semua harus menjadi polisi atau harus terlebih dahulu diberi kekuasaan mutlak atas negara ini baru kita mau berbuat sesuatu? Tidak, bukan begitu seharusnya. Hal sekecil apapun yang kita lakukan sesuai panggilan kita dengan sungguh-sungguh atas dasar kasih bisa dipakai Tuhan untuk berbuah secara luar biasa.

Kemarin kita sudah meilhat panggilan penting bagi setiap orang percaya untuk turut berperan aktif secara nyata dalam mensejahterakan kota dimana kita tinggal. Ayatnya berbunyi: "Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu." (Yeremia 29:7). Secara spesifik dan jelas ayat ini menyerukan pentingnya untuk memberi kontribusi nyata dan berdoa demi kesejahteraan kota. Mengapa? Karena jelas, kesejahteraan kita sesungguhnya tergantung dari kesejahteraan kota tempat tinggal kita. Ada banyak orang yang sebenarnya tahu akan hal ini, tetapi tidak tahu apa yang bisa mereka lakukan untuk itu. Mereka mengira bahwa untuk mengubah nasib sebuah bangsa mereka harus melakukan hal-hal yang besar saja. Padahal itu tidaklah benar. Setiap orang pada dasarnya memiliki panggilannya sendiri-sendiri. Apapun panggilan kita, dimanapun kita bekerja dan tinggal, kita bisa berbuat sesuatu, berkontribusi secara aktif dan nyata demi kesejahteraan bangsa kita. Itu seringkali dimulai dari hal-hal kecil dahulu, yang nantinya akan terus meningkat apabila kita melakukannya dengan sungguh-sungguh. Itu sedikit banyak akan berdampak bagi kesejahteraan kota, bangsa dan negara.

Sebuah kepedulian terhadap bangsa biasanya akan membuat orang merasa gelisah dan ingin berbuat sesuatu untuk memperbaikinya. Sebuah contoh kegelisahan akan panggilan demi kesejahteraan kota bisa kita lihat dari sosok Paulus. Ketika ia sampai di Yunani tepatnya di kota Athena, ia merasa sedih melihat banyaknya patung-patung berhala yang berdiri di sana. "Sementara Paulus menantikan mereka di Atena, sangat sedih hatinya karena ia melihat, bahwa kota itu penuh dengan patung-patung berhala." (Kisah Para Rasul 17:16). Paulus pergi berkeliling dari satu tempat ke tempat lain sebenarnya untuk mewartakan berita keselamatan. Tetapi lihatlah bahwa ia tidak hanya berpuas diri akan hal itu saja, meski apa yang ia lakukan sesungguhnya sudah sangat luar biasa. Mari kita perhatikan apa yang kemudian ia lakukan. "Karena itu di rumah ibadat ia bertukar pikiran dengan orang-orang Yahudi dan orang-orang yang takut akan Allah, dan di pasar setiap hari dengan orang-orang yang dijumpainya di situ." (ay 17). Paulus tidak berdiam diri. Ia gelisah untuk melakukan sesuatu demi kesejahteraan kota Atena yang disinggahinya. Ia tidak tinggal disana untuk selamanya, tetapi tetap saja ia peduli akan kesejahteraan dan keselamatan kota itu. Ini adalah sebuah contoh yang sangat baik untuk melihat apa yang bisa kita lakukan sesuai kapasitas kita demi kota dimana kita berada saat ini. Paulus tidak meminta dirinya terlebih dahulu untuk menjadi gubernur atau raja disana. Sebagai seorang Paulus yang hanya pendatang pun ia tahu bahwa ia harus peduli, dan ia berbuat sesuai dengan batas kemampuannya.
May 01, 2013, 05:28:48 AM
Reply #121
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24759
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
Pada dasarnya setiap kita didesain dengan cara yang berbeda oleh Tuhan. Kita masing-masing diberi talenta dan panggilan masing-masing, dan semua itu akan sangat bermanfaat bagi kesejahteraan kota. Ambil contoh kecil saja, Tuhan menciptakan binatang sesuai kemampuan dan fungsinya masing-masing. Kuda diciptakan untuk berlari sedang ikan untuk berenang. Burung diciptakan untuk terbang sedang cicak untuk merayap. Agar bisa berlari kencang kuda diberi kaki-kaki yang kuat dan kokoh. Ikan diberi insang dan sirip agar bisa berenang di dalam air, burung memiliki sayap dan cicak memiliki telapak kaki yang bisa merekat di dinding. Masing-masing diciptakan sesuai fungsi dan kegunaannya masing-masing. Dan manusia pun seperti itu. Paulus mengatakan "Tetapi kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus." (Efesus 4:7) Ayat ini mengatakan dengan jelas bahwa siapapun kita telah diberikan talenta-talenta tersendiri menurut ukuran pemberian Kristus yang semuanya bisa dipakai sebagai karya nyata dalam memenuhi panggilan kita. Masing-masing kita diberi fungsi dan karunia masing-masing, dan kebersatuan kita dalam membangun bangsa ini akan menyatakan kemuliaan Tuhan. "Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, --yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota--menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih." (ay 16).

Sebagai manusia kita semua telah dilengkapi Tuhan secara khusus dengan berbagai talenta, bakat dan kemampuan tersendiri yang tentunya bisa kita pakai dalam kehidupan kita, untuk memberkati sesama dan memuliakan Tuhan. Dalam Amsal dikatakan: "Dengan hikmat rumah didirikan, dengan kepandaian itu ditegakkan, dan dengan pengertian kamar-kamar diisi dengan bermacam-macam harta benda yang berharga dan menarik." (Amsal 24:3-4). Rumah disini bukan berbicara hanya mengenai masalah rumah biasa yang didirikan dari batu, pasir, kayu, rangka besi, dan berbagai bahan bangunan lainnya tapi berbicara akan sesuatu yang lebih luas, yaitu sebuah kehidupan. Sebuah kehidupan yang baik haruslah didirikan atas hikmat, ditegakkan dengan kepandaian, dan kehidupan itu selanjutnya diisi dengan berbagai hal berharga. Tidak hanya atas satu hal saja, melainkan berbagai hal berharga, berharga buat hidup kita sendiri, berharga buat sesama, berharga buat bangsa dan negara, dan tentunya berharga di mata Tuhan. Inilah sebuah pelajaran penting dari penulis Amsal akan betapa berharganya sebuah kehidupan.

Apapun pekerjaan kita, semua itu bisa dipakai secara nyata untuk kesejahteraan bangsa. Kita memiliki panggilan dan tugas sendiri-sendiri yang akan sangat bermanfaat untuk itu. Tidak peduli sekecil apapun, dimanapun atau apapun pekerjaan yang sedang ditekuni saat ini. Dengan panggilan yang sudah diberikan Tuhan, dimana kita ditempatkan hari ini, dan dengan talenta-talenta yang sudah Dia sediakan, kita bisa berkarya secara nyata untuk melakukan sesuatu demi kesejahteraan bangsa, dan dengan demikian menegakkan KerajaanNya di muka bumi ini. Anda merasa "cuma" pegaawai kantoran? Anda tetap bisa menjadi role model sebagai sosok yang baik dan cakap dalam bekerja. Tidak korupsi, berlaku sopan dan ramah, disiplin waktu dan menghargai atau mengasihi teman sekerja Itupun sudah merupakan sesuatu yang baik untuk dilakukan. Anda bergelut di dunia hiburan? Anda bisa membawa terang disana dan menunjukkan bahwa dunia hiburan tidak harus selalu negatif. Panggilan anda dalam dunia politik, pendidikan atau kesehatan? Sama, anda bisa berperan banyak disana. Let God use us to transform our city and community, and that will surely give some impacts to our beloved nations.

Kepada kita sudah diberikan panggilan dan talenta masing-masing yang akan sangat bermanfaat untuk kesejahteraan kota, bangsa dan negara kita
May 02, 2013, 04:52:53 AM
Reply #122
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24759
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_04_01_archive.html
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/keseimbangan-antara-bekerja-dan-berdoa.html

 Keseimbangan antara Bekerja dan Berdoa

Ayat bacaan: Yoel 2:17
===================
"baiklah para imam, pelayan-pelayan TUHAN, menangis di antara balai depan dan mezbah, dan berkata: "Sayangilah, ya TUHAN, umat-Mu, dan janganlah biarkan milik-Mu sendiri menjadi cela, sehingga bangsa-bangsa menyindir kepada mereka. Mengapa orang berkata di antara bangsa: Di mana Allah mereka?"

Bisakah anda mengendarai sepeda atau sepeda motor sebelum melatih keseimbangan? Bisa dijamin anda akan terjatuh jika tidak tahu bagaimana agar bisa berada seimbang diatasnya. Bagi pemain sirkus terutama para pemain trapeze atau orang yang memegang galah panjang dalam meniti seutas tali jelas keseimbangan merupakan hal yang mutlak pula untuk mereka miliki. Dalam bingkai yang lebih besar, sebuah keseimbangan dalam banyak hal sangat menentukan keberhasilan seseorang dalam hidupnya. Itu tentu termasuk keseimbangan antara bekerja dan berdoa. Dalam bahasa Latin ada semboyan yang bunyinya Ora et Labora, yaitu "berdoa dan bekerja". Bayangkan jika anda hanya berdoa saja tanpa melakukan apa-apa. Ada banyak orang Kristen yang menerjemahkan berkat-berkat yang turun dari Tuhan itu secara sepihak. Mereka kerap mengharapkan berkat turun dicurahkan dari langit lewat serangkaian mukjizat spektakuler setiap saat, dan tidak melakukan apapun untuk mendapatkan berkat itu, selain berdoa siang dan malam. Atau sebaliknya hanya bekerja terus dari pagi sampai larut malam tanpa memperhatikan keadaan rohani anda. Itu tentu tidak baik. Hanya fokus dalam bekerja atau meniti karir tanpa menjaga sisi rohani akan mengarahkan orang ke dalam keangkuhan, cinta harta, popularitas dan berbagai hal buruk lainnya. Sebuah keseimbangan antara bekerja dan berdoa jelas merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan.

Kita tidak bisa melakukan satu hal saja dan melupakan yang lain. Tuhan memang bisa menurunkan berkatNya dalam keadaan apapun. Benar bahwa Yesus berkata "Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya." (Matius 21:22). Kuasa doa memang besarnya bisa sangat luar biasa. Tetapi ingat pula bahwa Tuhan tidak menginginkan anak-anakNya menjadi orang-orang yang malas dan manja, hanya meminta dan terus meminta tanpa mau melakukan apa-apa. Tuhan sudah berulang kali menyatakan ketidaksukaanNya terhadap orang yang malas. Lihatlah bagaimana kerasnya Tuhan menghadapi orang yang malas dalam "perumpamaan tentang talenta" yang tertulis di Matius 25:14-30. Itu bahkan begitu keras, sehingga Alkitab berkata "Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi." (ay 30).

Lihat pula teguran-teguran yang datang kepada orang malas dalam Amsal 6. Salah satunya berkata: "Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak." (ay 6). Semut adalah serangga yang lemah dan berukuran jauh lebih kecil dibanding manusia, tetapi baiklah jika orang malas belajar dari etos kerja semut. Itu adalah teguran yang sebenarnya cukup keras. Orang malas itu tidak bijak. Dan teguran dari Paulus juga menggambarkan hal yang keras pula. "jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan." (2 Tesalonika 3:10). Rajin berdoa memang baik, dan itu sudah menjadi kewajiban kita. Tetapi jangan lupa pula bahwa kita harus bekerja dengan sungguh-sungguh, bahkan dikatakan seperti melakukannya untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. (Kolose 3:23).
May 02, 2013, 04:53:35 AM
Reply #123
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24759
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
Sangatlah menarik jika kita melihat sebuah ayat dalam Yoel yang menyiratkan mengenai keseimbangan ini ketika Yoel memberikan seruan untuk bertobat. Mari kita lihat ayatnya. "Baiklah para imam, pelayan-pelayan TUHAN, menangis di antara balai depan dan mezbah, dan berkata: "Sayangilah, ya TUHAN, umat-Mu, dan janganlah biarkan milik-Mu sendiri menjadi cela, sehingga bangsa-bangsa menyindir kepada mereka. Mengapa orang berkata di antara bangsa: Di mana Allah mereka?" (Yoel 2:17). Perhatikan, mengapa para imam dan hamba Tuhan harus menangis di antara balai depan dan mezbah? Tuhan secara spesifik mewahyukan hal ini. Dari ayat tersebut kita bisa melihat perlunya keseimbangan antara mezbah dan balai depan. Bukan hanya di mezbah, dan bukan hanya di balai depan, tapi ditengah-tengah, yang artinya mencakup keduanya secara rata. Bukan hanya berdoa, dan bukan juga hanya bekerja saja. Keduanya haruslah dilakukan secara seimbang. Dari ayat ini kita bisa menangkap sebuah pesan penting, bahwa apapun yang kita lakukan perlu disertai dengan doa. Dan doa-doa juga harus disertai dengan perbuatan nyata. Keduanya harus berjalan beriringan, bersama-sama. Benar bahwa Tuhan mengharuskan kita bekerja, dan Tuhan memberkati pekerjaan kita. Tapi bagaimana Tuhan mau memberkati pekerjaan kita jika kita tidak melibatkanNya dalam pekerjaan kita? Atau lebih luas lagi, bagaimana Tuhan mau memberkati hidup kita jika kita tidak melibatkanNya dalam kehidupan kita? Oleh sebab itu seruan pertobatan yang disampaikan Yoel menyiratkan bahwa antara berdoa dan bekerja, ora et labora, keduanya haruslah dilakukan secara seimbang, beriringan dan berkesinambungan.

Menyambung bahasan dalam beberapa renungan terdahulu, dalam berkontribusi untuk kesejahteraan dan keselamatan bangsa, kita pun juga harus melakukan hal yang seimbang. Dalam Yeremia itu sudah disebutkan dengan jelas. "Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu." (Yeremia 29:7). "Usahakanlah kesejahteraan kota", itu berbicara mengenai peran serta secara aktif dengan melakukan sesuatu yang nyata. Lalu selanjutnya: "dan berdoalah untuk kota itu kepada Tuhan.." itu menunjukkan bahwa peran para orang percaya lewat doa-doa pun merupakan hal yang penting pula untuk dilakukan. Lihatlah bahwa keduanya harus dilakukan serentak, bersamaan, dalam sebuah hubungan saling mengisi dan seimbang.

Dalam Efesus 6:18 kita bisa melihat sebuah ayat yang mengingatkan kita agar tidak melupakan atau meniadakan doa dalam langkah kita. Bukan hanya sekedar berdoa sekali-kali, tetapi disana kita diingatkan untuk berdoa setiap waktu. Dalam bahasa Inggrisnya dikatakan "Pray at all times (on every occasion, in every season) in the Spirit, with all [manner of] prayer and entreaty." Pray at all times, on every occasion, in every season. Berdoalah dalam setiap waktu, dalam hal apapun, dalam situasi apapun. Doakan apapun yang kita kerjakan agar Tuhan memberkati usaha kita secara penuh, pada saat yang sama lakukanlah pekerjaan dengan sebaik-baiknya. Keseimbangan seperti inilah yang akan mendatangkan keberhasilan dalam segala sesuatu yang kita lakukan.

Perlu bagi kita untuk melatih dan mendisplinkan diri agar bisa menyeimbangkan keduanya dan terbiasa untuk mengkombinasikan keduanya dalam hubungan yang harmonis. Itu jelas perlu proses dan butuh waktu. Bukan saja dalam pekerjaan atau profesi kita, tetapi pelayanan kita pun butuh terus didukung doa agar bisa berhasil dengan maksimal. Disanalah kita bisa melihat bagaimana luar biasanya hasil yang kita tuai lewat usaha kita yang terus didukung dalam doa. Begitu pula kontribusi kita dalam kesejahteraan, kemakmuran dan keselamatan kota dimana kita ditempatkan saat ini, dan tentu saja dalam skala yang lebih besar itu akan berdampak positif bagi bangsa kita. Jangan korbankan jam-jam doa karena kesibukan pekerjaan, jangan pula memakai waktu doa sebagai alasan untuk bermalas-malasan dan tidak bekerja. Keduanya harus dilakukan secara seimbang dan saling terkait satu dengan lainnya. Sudahkah anda melibatkan Tuhan dalam pekerjaan anda? Atau sudahkah anda berusaha serius seperti apa yang anda minta dalam doa anda?

Jadilah pengikut Kristus yang rajin bekerja dan tekun dalam doa
May 03, 2013, 05:00:27 AM
Reply #124
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24759
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
Sangatlah menarik jika kita melihat sebuah ayat dalam Yoel yang menyiratkan mengenai keseimbangan ini ketika Yoel memberikan seruan untuk bertobat. Mari kita lihat ayatnya. "Baiklah para imam, pelayan-pelayan TUHAN, menangis di antara balai depan dan mezbah, dan berkata: "Sayangilah, ya TUHAN, umat-Mu, dan janganlah biarkan milik-Mu sendiri menjadi cela, sehingga bangsa-bangsa menyindir kepada mereka. Mengapa orang berkata di antara bangsa: Di mana Allah mereka?" (Yoel 2:17). Perhatikan, mengapa para imam dan hamba Tuhan harus menangis di antara balai depan dan mezbah? Tuhan secara spesifik mewahyukan hal ini. Dari ayat tersebut kita bisa melihat perlunya keseimbangan antara mezbah dan balai depan. Bukan hanya di mezbah, dan bukan hanya di balai depan, tapi ditengah-tengah, yang artinya mencakup keduanya secara rata. Bukan hanya berdoa, dan bukan juga hanya bekerja saja. Keduanya haruslah dilakukan secara seimbang. Dari ayat ini kita bisa menangkap sebuah pesan penting, bahwa apapun yang kita lakukan perlu disertai dengan doa. Dan doa-doa juga harus disertai dengan perbuatan nyata. Keduanya harus berjalan beriringan, bersama-sama. Benar bahwa Tuhan mengharuskan kita bekerja, dan Tuhan memberkati pekerjaan kita. Tapi bagaimana Tuhan mau memberkati pekerjaan kita jika kita tidak melibatkanNya dalam pekerjaan kita? Atau lebih luas lagi, bagaimana Tuhan mau memberkati hidup kita jika kita tidak melibatkanNya dalam kehidupan kita? Oleh sebab itu seruan pertobatan yang disampaikan Yoel menyiratkan bahwa antara berdoa dan bekerja, ora et labora, keduanya haruslah dilakukan secara seimbang, beriringan dan berkesinambungan.

Menyambung bahasan dalam beberapa renungan terdahulu, dalam berkontribusi untuk kesejahteraan dan keselamatan bangsa, kita pun juga harus melakukan hal yang seimbang. Dalam Yeremia itu sudah disebutkan dengan jelas. "Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu." (Yeremia 29:7). "Usahakanlah kesejahteraan kota", itu berbicara mengenai peran serta secara aktif dengan melakukan sesuatu yang nyata. Lalu selanjutnya: "dan berdoalah untuk kota itu kepada Tuhan.." itu menunjukkan bahwa peran para orang percaya lewat doa-doa pun merupakan hal yang penting pula untuk dilakukan. Lihatlah bahwa keduanya harus dilakukan serentak, bersamaan, dalam sebuah hubungan saling mengisi dan seimbang.

Dalam Efesus 6:18 kita bisa melihat sebuah ayat yang mengingatkan kita agar tidak melupakan atau meniadakan doa dalam langkah kita. Bukan hanya sekedar berdoa sekali-kali, tetapi disana kita diingatkan untuk berdoa setiap waktu. Dalam bahasa Inggrisnya dikatakan "Pray at all times (on every occasion, in every season) in the Spirit, with all [manner of] prayer and entreaty." Pray at all times, on every occasion, in every season. Berdoalah dalam setiap waktu, dalam hal apapun, dalam situasi apapun. Doakan apapun yang kita kerjakan agar Tuhan memberkati usaha kita secara penuh, pada saat yang sama lakukanlah pekerjaan dengan sebaik-baiknya. Keseimbangan seperti inilah yang akan mendatangkan keberhasilan dalam segala sesuatu yang kita lakukan.

Perlu bagi kita untuk melatih dan mendisplinkan diri agar bisa menyeimbangkan keduanya dan terbiasa untuk mengkombinasikan keduanya dalam hubungan yang harmonis. Itu jelas perlu proses dan butuh waktu. Bukan saja dalam pekerjaan atau profesi kita, tetapi pelayanan kita pun butuh terus didukung doa agar bisa berhasil dengan maksimal. Disanalah kita bisa melihat bagaimana luar biasanya hasil yang kita tuai lewat usaha kita yang terus didukung dalam doa. Begitu pula kontribusi kita dalam kesejahteraan, kemakmuran dan keselamatan kota dimana kita ditempatkan saat ini, dan tentu saja dalam skala yang lebih besar itu akan berdampak positif bagi bangsa kita. Jangan korbankan jam-jam doa karena kesibukan pekerjaan, jangan pula memakai waktu doa sebagai alasan untuk bermalas-malasan dan tidak bekerja. Keduanya harus dilakukan secara seimbang dan saling terkait satu dengan lainnya. Sudahkah anda melibatkan Tuhan dalam pekerjaan anda? Atau sudahkah anda berusaha serius seperti apa yang anda minta dalam doa anda?

Jadilah pengikut Kristus yang rajin bekerja dan tekun dalam doa
May 04, 2013, 04:51:06 AM
Reply #125
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24759
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_05_01_archive.html
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/bekerja-dengan-hati-gembira.html

 Bekerja dengan Hati Gembira

Ayat bacaan: Pengkhotbah 3:22
=======================
"Aku melihat bahwa tidak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada bergembira dalam pekerjaannya, sebab itu adalah bahagiannya. Karena siapa akan memperlihatkan kepadanya apa yang akan terjadi sesudah dia?"

Apa yang membuat kita bisa bekerja dengan hasil maksimal, bisa memuliakan Tuhan di dalamnya? Saya bertemu dengan begitu banyak orang yang melakukan pekerjaan hanya karena mereka butuh mencukupi kebutuhan diri dan keluarganya. Malah beberapa orang mengaku terpaksa demi menyambung hidup. "Bagaimana lagi? Cari kerja itu susah.. kami sekeluarga perlu makan, kebutuhan rumah tangga harus dipenuhi, anak-anak harus dibiayai bersekolah. Suka atau tidak, saya terpaksa harus bekerja disana." kata seorang teman suatu hari. Jika keterpaksaan yang menjadi landasan dalam bekerja, tentu sulit bagi kita untuk mengharapkan top performance didalamnya. Bagaimana mau berbuat yang terbaik jika terpaksa? Bergaul di dunia art dan design, saya pun bisa melihat langsung bagaimana hasil yang dilakukan ketika dikerjakan sepenuh hati dan dinikmati dengan yang dipaksakan atau dikejar waktu akan sangat berbeda. Begitu juga dengan di dunia musik yang tidak asing pula bagi saya. Para artis yang melakukan dengan kecintaan penuh dan karena hanya ingin memperoleh uang semata akan membawa hasil yang terasa sangat berbeda. Hari-hari ini saya bahkan semakin sering menjumpai orang yang sulit mensyukuri pekerjaannya. Lantas apa yang harus dilakukan agar bisa membawa hasil yang terbaik? Alkitab mengingatkan kita untuk mencintai pekerjaan, yang artinya bergembira dalam pekerjaannya, melakukan bagian masing-masing dengan hati yang gembira.

Pengkotbah sudah menyatakan hal seperti ini yang berasal lewat perenungan, pengalaman dan kesaksiannya sendiri. "Aku melihat bahwa tidak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada bergembira dalam pekerjaannya, sebab itu adalah bahagiannya. Karena siapa akan memperlihatkan kepadanya apa yang akan terjadi sesudah dia?" (Pengkotbah 3:22). Mencintai profesi atau tidak, Pengkotbah menyimpulkan bahwa tidak ada yang lebih baik daripada bergembira dalam pekerjaannya. Mengapa? Karena itu adalah bagian atau panggilan kita masing-masing. Jika kita tidak berbahagia dengan pekerjaan, jika terpaksa atau melakukannya dengan hati yang berat, apa yang bisa kita dapatkan? Berkeluh kesah sepanjang hari? Mengasihani diri berlebihan, emosi, terus merasa tidak puas dan kehilangan damai sejahtera, adakah itu membawa manfaat atau malah membuat etos kerja kita menurun, mengganggu orang lain bahkan mendatangkan penyakit bagi diri kita sendiri? Apakah baik apabila kita sulit bersyukur dan hanya bersungut-sungut tidak pernah merasa puas? Akankah itu baik bagi diri kita, keluarga kita, atau bahkan bagi Tuhan?
May 04, 2013, 04:51:30 AM
Reply #126
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24759
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
Satu hal yang perlu kita ingat, soal bahagia atau tidak bukanlah tergantung dari kondisi atau situasi yang kita hadapi, melainkan tergantung dari seberapa jauh kita mengijinkan Tuhan untuk ambil bagian dalam hidup kita. Kebahagiaan atau kegembiraan berasal dari Tuhan dan bukan dari keadaan. "Ya, karena Dia hati kita bersukacita, sebab kepada nama-Nya yang kudus kita percaya." (Mazmur 33:21). Selanjutnya Amsal mengatakan bahwa "Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat." (Amsal 15:13). Atau lihatlah ayat lain: "Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang." (Amsal 17:22). Bekerja dengan hati yang lapang, hati yang gembira, itu adalah obat yang manjur dan menjaga kita agar tetap memiliki semangat untuk melakukan yang terbaik. Dan rasa syukur kita dalam menikmati anugerah Tuhan akan membuat itu bisa terjadi. Apakah kita menikmati pekerjaan dengan penuh rasa syukur sebagai sebuah berkat dari Tuhan atau kita terus merasa kurang puas, itu tergantung kita. Tuhan sanggup membuat pekerjaan sekecil apapun menjadi seindah atau seberharga emas. Saya tidak berbicara mengenai kekayaan materi saja karena itu sangatlah sempit, tetapi mengenai hasil atau pencapaian yang bisa kita peroleh lewat hati yang gembira dalam bekerja. Itulah yang akan membuat kita mampu menghasilkan karya-karya yang 'monumental'.

Mungkin ada saat ini di antara kita yang mulai merasa jenuh dengan pekerjaan anda, mungkin ada yang merasa bahwa pekerjaan saat ini tidak cukup baik, hanya terpaksa untuk mencari nafkah semata, namun saya ingin mengingatkan bahwa Tuhan tidak akan pernah kekurangan cara untuk memberkati kita. Yang dituntut dari kita adalah bekerja sungguh-sungguh dengan segenap hati seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (Kolose 3:23). Itu akan sangat sulit untuk dilakukan apabila kita tidak memiliki hati yang gembira dalam melakukannya. Tinggi rendah pendapatan bukanlah alasan untuk bergembira atau tidak. Saya bertemu dengan orang-orang yang dalam pandangan dunia dianggap melakukan pekerjaan kasar atau bahkan rendah, tapi mereka tetap bisa bersukacita dalam melakukannya dan itu mendatangkan hasil yang baik. Akibatnya merekapun terus meningkat dalam pekerjannya. Sebaliknya, tidak jarang kita melihat keluarga yang hancur, hidup orang yang jauh dari bahagia, padahal mereka memiliki kekayaan yang besar. Jika demikian, mengapa kita tidak mencoba memberikan setitik cinta pada pekerjaan kita, apapun itu, mengucap syukur atas pekerjaan itu kepada Tuhan, memberikan yang terbaik dari kita, dan melihat bagaimana luar biasanya Tuhan bisa memberkati kita lewat apapun yang kita kerjakan? Mari belajar untuk  bersyukur dan menikmati pekerjaan kita bersama Tuhan dengan hati yang gembira. Be happy and thankful with everything you do today!

Syukuri pekerjaan yang diberikan Tuhan, muliakan Dia didalamnya
May 04, 2013, 04:52:25 AM
Reply #127
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24759
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_05_01_archive.html
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/rasa-cukup.html

 Rasa Cukup

Ayat bacaan: Ulangan 16:16
====================
"Beginilah perintah TUHAN: Pungutlah itu, tiap-tiap orang menurut keperluannya; masing-masing kamu boleh mengambil untuk seisi kemahnya, segomer seorang, menurut jumlah jiwa."

Seorang teman saya menceritakan pengalamannya ketika harus dinas di Jakarta untuk beberapa hari. "Saya tidak tahan melihat kehidupan hedonisme mereka. Mereka mengeluarkan beberapa juta rupiah hanya untuk bersenang-senang di klab malam dalam hitungan jam." katanya. Itu bukan hanya dianut oleh banyak orang berada di ibukota saja, tapi sudah menjadi gaya hidup bagi penduduk kota besar lainnya. Kata hedonisme yang ia katakan berasal dari bahasa Yunani yang merupakan pandangan atau ajaran  untuk mengejar kesenangan atau kenikmatan sebanyak mungkin, dan itu merupakan tujuan hidup manusia. Jika demikian, semakin lama semakin sulitlah manusia untuk bisa merasa cukup dengan apa yang mereka miliki saat ini. Dalam segala hal kita sepertinya terus diarahkan untuk menjadi masyarakat yang konsumtif. Kebutuhan tidak akan ada habisnya, terutama untuk hal-hal yang sebenarnya tidaklah esensial atau penting-penting benar, melainkan hanya untuk gengsi atau agar terlihat hebat di mata orang lain saja. Ada begitu banyak kebutuhan yang tiba-tiba dianggap sangat penting untuk dimiliki, tidak bisa tidak karena alasan tersebut. Selalu saja ada barang-barang atau gadget yang rasanya harus kita miliki atau kalau tidak maka kita pun malu dianggap ketinggalan jaman atau takut dianggap orang miskin. Orang cenderung merasa tidak puas dengan apa yang mereka miliki, selalu ingin lebih dan lebih lagi, sering iri melihat apa yang dimiliki oleh orang lain, bahkan tidak sedikit yang malah mencari kambing hitam dengan menuduh Tuhan pilih kasih atau tidak adil. Mudah bagi kita untuk menginginkan lebih banyak tetapi sulit bagi kita untuk merasa cukup dan bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini.

Tuhan tidak menginginkan kita memiliki pola pikir seperti itu. Tuhan ingin kita tahu berterimakasih dan bersyukur atas apa yang kita punya saat ini. Tuhan ingin kita memiliki rasa cukup atas apa yang ada pada kita hari ini, dan kemudian mengucap syukur atasnya. Tidak dipungkiri akan ada kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi kedepannya, tetapi itu bukan berarti kita harus terus-terusan merasa kurang, tidak puas lalu mengeluh atau bahkan mencari alternatif-alternatif agar kita bisa mendapatkan lebih dan lebih banyak lagi uang lewat banyak cara yang salah.

Perbandingan langsung antara cukup dan tamak bisa kita lihat lewat kisah bangsa Israel pada masa pengembaraan mereka dibawah pimpinan Musa menuju tanah ternjanji, Kanaan. Bangsa Israel saat itu terkenalsebagai bangsa keras kepala, tegar tengkuk yang selalu sulit untuk bersyukur atas berkat yang sudah turun atas mereka. Meskipun sudah berkali-kali mereka menyaksikan langsung penyertaan dan mukjizat Tuhan turun atas mereka, tetapi mereka tetap saja bersungut-sungut dan terus menuntut lebih dan lebih lagi. Mereka adalah bangsa yang cepat dalam mengekspresikan kegembiraan mereka ketika menerima mukjizat Tuhan, tapi secepat itu pula mereka berbalik mengeluh dan menyalahkan orang lain atau bahkan berani menunjukkan protes mereka kepada Tuhan. Hari ini bersukacita besok mereka sudah melupakan semua berkat itu dan kembali mengeluh tak habis-habisnya.
May 04, 2013, 04:52:50 AM
Reply #128
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24759
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
Salah satu contoh mengenai hal ini bisa kita lihat dalam Keluaran 16:1-36. Pada bagian ini diceritakan ketika bangsa Israel berangkat dari Elim dan tiba di padang gurun Sin yang terjadi kira-kira setelah mereka menempuh satu setengah bulan perjalanan. Karena kelaparan dan mungkin bekal mereka habis, mulailah mereka mengeluh dan berkata "Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan TUHAN ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan." (ay 3). Tuhan yang mengasihi mereka lalu menjawab permintaan mereka dengan mengirimkan hujan roti dari langit. Tapi Tuhan memberikan pesan lewat Musa tentang bagaimana mereka seharusnya menyikapi pemberian itu. "Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Sesungguhnya Aku akan menurunkan dari langit hujan roti bagimu; maka bangsa itu akan keluar dan memungut tiap-tiap hari sebanyak yang perlu untuk sehari, supaya mereka Kucoba, apakah mereka hidup menurut hukum-Ku atau tidak." (ay 4). Lihatlah sebuah pesan penting yang ada dalam ayat ini. Meski Tuhan mengabulkan permintaan mereka, namun Tuhan berpesan agar mereka memungut secukupnya saja. Tapi memang dasarnya tamak, ternyata mereka masih juga merasa belum cukup. Tuhan pun kembali menurunkan burung puyuh sampai menutupi perkemahan mereka. (ay 13). Dan kembali Tuhan memberi pesan: "Pungutlah itu, tiap-tiap orang menurut keperluannya; masing-masing kamu boleh mengambil untuk seisi kemahnya, segomer seorang, menurut jumlah jiwa." (ay 16). Segomer itu ukurannya kira-kira dua liter. Segomer seorang, itu sebenarnya sudah lebih dari cukup. Dari kisah ini kita bisa memetik pelajaran bahwa meski Tuhan lebih dari sekedar sanggup memberkati kita secara berkelimpahan, tetapi kita tidak boleh terjebak kepada nafsu ketamakan. Hidup sederhana atau secukupnya tetaplah merupakan gaya hidup yang diinginkan Tuhan untuk dimiliki dan diaplikasikan dalam hidup anak-anakNya.

Dalam kisah turunnya hujan roti dan burung puyuh di atas kita melihat dua kali pesan Tuhan berbunyi sama, agar mereka mengambil secukupnya saja. Tuhan ingin berkata: "Meskipun Aku sanggup memberkati kalian secara berkelimpahan, tetapi hiduplah sederhana!" Jika hari ini ada diantara anda yang merasa masih hidup dalam kekurangan, ingatlah bahwa sesungguhnya Tuhan telah memberikan segala sesuatu di muka bumi ini secara cukup untuk kita olah, manfaatkan dan maksimalkan. Kita harus terus belajar untuk hidup dengan rasa cukup dan tidak perlu harus ikut-ikutan hidup mewah seperti mereka yang mengaplikasikan gaya hidup hedonisme. Lalu jika anda sanggup, ingatlah bahwa anda diminta untuk tetap hidup sederhana. Harta sesungguhnya merupakan titipan Tuhan yang tetap harus dipertanggungjawabkan kelak. Tuhan memberkati kita agar kita bisa memberkati orang lain. Tuhan menolong kita agar kita bisa menolong orang lain.

Seperti apa yang dikatakan 'cukup' oleh Firman Tuhan? Di dalam Alkitab itu sudah disebutkan. "Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah." (1 Timotius 6:8). Dan ingatlah firman berikut: "Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar." (ay 6). Mudah bagi kita untuk terus merasa tidak puas, tapi seringkali sulit bagi kita untuk bersyukur. Tuhan pasti sanggup memberkati kita berlimpah-limpah, tetapi sangatlah penting bagi kita untuk belajar bersyukur terlebih dahulu atas apa yang ada pada kita hari ini. Apapun yang ada pada diri anda hari ini, besar atau kecil, bersyukurlah dan bergembiralah atasnya.

Hidup sederhana merupakan gaya hidup yang harus dimiliki orang percaya
May 05, 2013, 04:54:31 AM
Reply #129
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24759
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_05_01_archive.html
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/hindari-ketamakan.html

 Hindari Ketamakan

Ayat bacaan: Yakobus 2:15-16
======================
"Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: "Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!", tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu?"

Tidak seorang pun ingin hidup susah. Kita ingin diberkati Tuhan secara melimpah. Kita bekerja dan berdoa agar Tuhan memberkati pekerjaan kita agar berhasil. Pertanyaannya, ketika kita diberkati melimpah, apa yang kita lakukan? Banyak orang yang berpikir untuk membeli barang-barang yang kita sudah lama kita idam-idamkan. Ada yang langsung merencanakan untuk pergi berlibur ke sebuah tempat yang mungkin sudah lama dibayangkan. Ada yang berpikir untuk mendepositokan, menanam investasi lagi dan sebagainya. Semua itu tentu tidak salah.  Tapi apakah kita hanya berpikir akan hak atas apa yang kita peroleh tanpa memikirkan kewajiban kita? seberapa jauh kita terpanggil untuk membantu sesama kita lewat berkat yang sudah kita terima dari Tuhan? Pada kenyataannya orang yang tidak pernah merasa cukup akan terus tidak puas terhadap apa yang mereka miliki. Mereka akan terus merasa kurang dan akan berusaha mencari lebih banyak lagi melebihi hak mereka. Akhirnya mereka akan terjatuh pada berbagai penyimpangan, penipuan dan kecurangan-kecurangan lainnya. Akankah itu cukup? Tidak, itu tidak akan pernah cukup, apabila rasa tamak sudah menjadi bagian dari hidupnya.

Ada banyak orang yang keliru dalam menyikapi berkat yang diberikan Tuhan. Mereka berpikir bahwa semua itu adalah untuk membuat mereka bisa hidup mewah, berfoya-foya menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal yang tidak perlu benar. Di satu sisi memang kita berhak memakai berkat yang kita peroleh untuk membeli keperluan atau kebutuhan kita dan keluarga, tapi di sisi lain kita harus ingat juga bahwa Tuhan memberi berkat bukan untuk kita simpan sendiri atau dihambur-hamburkan sepuasnya tetapi untuk memberkati orang lain. Kita diberkati bukan untuk ditimbun dan dipakai semata-mata untuk kepentingan pribadi, kita diberkati untuk memberkati. Dalam kitab Yehezkiel dikatakan: "Kalau seseorang adalah orang benar dan ia melakukan keadilan dan kebenaran..tidak menindas orang lain, ia mengembalikan gadaian orang, tidak merampas apa-apa, memberi makan orang lapar, memberi pakaian kepada orang telanjang, tidak memungut bunga uang atau mengambil riba, menjauhkan diri dari kecurangan.." dan sebagainya. (bacalah Yehezkiel 18:5-9) Dalam Perjanjian Baru pun pesan seperti ini disampaikan beberapa kali, misalnya lewat Yakobus. "Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: "Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!", tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu?" (Yakobus 2:15-16). Perhatikanlah bahwa Tuhan menginginkan kita untuk menjadi saluran berkatNya. Tuhan memberkati bukan untuk membuat kita menjadi orang-orang yang serakah.
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)