Author Topic: renungan harian online  (Read 146571 times)

0 Members and 2 Guests are viewing this topic.

May 05, 2013, 04:55:07 AM
Reply #130
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24759
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
Sebenarnya berapapun yang ada pada kita saat ini bisa sangat bermanfaat untuk membantu orang lain yang tengah berkesusahan. Besar atau kecil nilainya, selama itu diberikan dengan hati yang iklas dan penuh sukacita maka Tuhan pun akan memperhitungkannya dengan sangat tinggi. Lihatlah kisah seorang janda miskin yang memberi persembahan dalam jumlah kecil, hanya dua peser alias satu duit. Dalam bahasa Inggrisnya dikatakan half a cent atau setengah sen. (Markus 12:42). Jumlah itu sangat jauh nilainya dibawah pemberian orang-orang kaya pada saat bersamaan pada waktu itu. (ay 41). Ketika itu Yesus tengah berada disana dan mengamati setiap orang yang memberi persembahannya. Apakah jumlah yang besar itu yang menarik perhatian Yesus? Ternyata tidak. Justru si ibu janda miskin inilah yang mendapat perhatian Yesus. "Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan." (ay 43). Mengapa Yesus mengatakan seperti ini? "Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya." (ay 44). Artinya, berapa pun jumlah yang ada pada kita, kita bisa mulai peduli dan tergerak untuk memberi, karena seringkali bukan masalah ada dan tidak ada atau cukup dan tidak cukup, melainkan masalahnya adalah hati kita, tergerakkah kita untuk menolong orang lain atau tidak? Pada akhirnya kita harus sampai kepada pola pemikiran yang tepat sesuai Firman Tuhan, seperti yang tertulis dalam ayat berikut ini: "Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima." (Kisah Para Rasul 20:35).

Apabila anda diberkati hari ini dengan penghasilan yang besar, bersyukurlah untuk itu dan pergunakan untuk memberkati sesama. Membantu yang kekurangan, menolong yang kelaparan, memberi pakaian bagi yang kurang mampu, dan lain-lain. Semua itu adalah tugas dan kewajiban kita sebagai orang percaya. Mahatma Gandhi pada suatu kali mengatakan: "Earth provides enough to satisfy every man's need, but not every man's greed". Jika diterjemahkan, ia mengatakan bahwa bumi cukup untuk memuaskan semua orang, tetapi tidak akan pernah cukup untuk satu orang yang tamak. Bumi ini sudah diciptakan Tuhan dengan begitu baik sehingga lebih dari cukup untuk semua manusia, terlebih ketika kita orang percaya bisa berfungsi secara benar sesuai panggilan Tuhan. Tetapi dunia dan segala isinya ini tidak akan pernah cukup bagi orang-orang yang tamak atau serakah, yang ingin selalu memiliki lebih dan lebih lagi tanpa pernah merasa berterimakasih atas segala yang mereka miliki. Yesus sudah mengingatkan: "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu." (Lukas 12:15). Hendaklah kita semua hidup dengan rasa cukup dan tidak dikuasai oleh sifat serakah. Dalam keadaan apapun tetaplah bersyukur dan ingatlah bahwa di atas segalanya Tuhan sendiri yang akan memelihara hidup kita. Sekarang saatnya untuk menjadi saluran berkat dari Tuhan kepada sesama.

Hiduplah dengan rasa cukup dan hindari sifat tamak
May 06, 2013, 04:52:57 AM
Reply #131
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24759
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_05_01_archive.html
renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/dua-janda-dengan-kemurahan-hati.html

 Dua Janda dengan Kemurahan Hati

Ayat bacaan: Lukas 6:36
==================
"Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati."

Kapan kita bisa menunjukkan kemurahan hati kita untuk membantu sesama? Ada banyak yang menganggap dirinya belum sanggup untuk memberi karena untuk diri sendiri saja belum cukup. Nanti kalau saya sudah kaya, kalau uang sudah berlebih-lebih, kalau sudah tidak tahu mau dibelanjakan kemana lagi, itu menjadi bentuk pemikiran mereka mengenai kapan waktu yang tepat untuk bermurah hati memberi. Kenyataannya manusia cenderung merasa tidak pernah cukup dan tidak pernah puas. Kalau begitu mereka pun tidak akan kunjung tergerak untuk menolong orang lain dengan memberi sebagian yang ada pada mereka. Ada pula orang yang rajin memberi tetapi atas alasan yang salah. Mereka memberi karena mengharapkan sebuah balasan, dengan maksud-maksud atau agenda tertentu alias pamrih. Menjelang pemilihan umum, pilkada dan sebagainya, semua ini bisa dengan mudah kita lihat. Itu bukanlah hal memberi yang didasari oleh kemurahan hati.

Alkitab banyak berbicara mengenai keikhlasan untuk memberi yang didasarkan kepada kemurahan hati, baik lewat firman-Firman Tuhan maupun contoh-contoh dari berbagai tokoh. Hari ini mari kita lihat contoh dari dua orang janda pada dua kesempatan berbeda. Pertama mari kita lihat janda miskin di Sarfat dalam Perjanjian Lama yang memberi Elia makan dalam kekurangannya. (1 Raja Raja 17:7-24). Pada saat itu Elia tiba di Sarfat yang tengah mengalami kemarau panjang. Ia bertemu dengan seorang janda miskin. Ketika Elia meminta roti kepada sang janda, "perempuan itu menjawab: "Demi TUHAN, Allahmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikitpun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Dan sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, kemudian aku mau pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati." (1 Raja Raja 17:12). Itu jelas sebuah potret kehidupan serba kekurangan yang berat yang harus dipikul oleh sang ibu janda di Sarfat ini. Ia cuma punya segenggam tepung dan sedikit minyak serta dua tiga potong kayu api. Itupun masih harus dibagi dua dengan anaknya. Tetapi kemudian kita melihat bagaimana persediaan terakhirnya yang sangat sedikit itu rela ia berikan kepada Elia. Ia membuat roti untuk Elia dan merelakan Elia menghabiskannya. Tuhan ternyata menghargai besar keputusannya itu. Tidak saja ia diberkati dengan persediaan makanan yang cukup untuk berhari-hari lamanya, tidak habis-habis (ay 15-16), tapi anaknya pun dibangkitkan kembali dari kematian. (ay 22).

Dalam Perjanjian Baru kita melihat kisah janda lainnya di Bait Allah yang menarik perhatian Yesus ketika memberikan persembahan. Tidak seperti orang-orang kaya yang mungkin memasukkan amplop besar, janda miskin ini memasukkan dua peser saja ke dalam peti. Tetapi ternyata jumlah kecil itu mendapat reaksi sangat positif dari Yesus. "Lalu Ia berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu." (Lukas 21:3). Mengapa bisa demikian? "Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya." (ay 4). Janda ini rela memberi dalam kekurangannya, bahkan semua uang yang ia miliki ia berikan dengan sukarela. Dua janda dalam dua masa yang berbeda, sama-sama miskin, sama-sama menderita, sama-sama berkekurangan, tetapi keduanya sama-sama memiliki kemurahan hati yang luar biasa.
May 06, 2013, 04:53:55 AM
Reply #132
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24759
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
Namanya kemurahan hati, itu berarti kemurahan jelas merupakan sikap hati. Karena merupakan sebuah sikap hati maka itu tidak tergantung dari berapa jumlah harta yang kita miliki atau kondisi yang kita alami saat ini. Ketika kemurahan mewarnai sikap hati kita, kita akan rela memberi dengan sukacita tanpa peduli apapun keadaan kita atau berapapun yang kita punya. Mengapa kita harus memiliki sikap kemurahan ini? Karena Allah yang kita sembah adalah Bapa yang murah hati. Hal ini ditegaskan Yesus sendiri yang bisa kita baca di dalam Alkitab. "Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati." (Lukas 6:36). Murah hati adalah bagian dari kasih (1 Korintus 13:4). Dan kasih jelas merupakan sesuatu yang mutlak untuk dimiliki oleh orang-orang percaya. Kita harus malu ketika kita mengaku anak Tuhan tetapi tidak memiliki kasih, dimana salah satu bentuknya adalah keengganan atau beratnya dalam memberi. Tepat seperti apa yang dikatakan Yohanes, "Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih" (1 Yohanes 4:8). God is love. Mengaku mengenal Allah artinya kita mengenal kasih. Dan bagaimana kita berani mengaku mengerti akan artinya kasih apabila kita merasa rugi untuk memberi kepada mereka yang hidup berkekurangan?

Tuhan adalah kasih, dan Tuhan murah hati. Dia selalu memberi segala sesuatu yang terbaik bagi kita, bahkan anakNya yang tunggal pun Dia relakan untuk menebus kita semua dari kebinasaan menuju keselamatan yang kekal. Lihatlah bagaimana sikap hati Allah sendiri sebagai The Giver atau Sang Pemberi. Hal seperti inilah yang harus mewarnai sikap hati kita sebagai orang percaya.

Dua janda yang saya angkat menjadi contoh hari ini hendaknya mampu memberikan keteladanan nyata dalam hal memberi. Adakah yang harus ditunggu agar mampu memberi? Tunggu kaya dulu? Tunggu berlebih dulu? Tunggu sampai semua kebutuhan yang tidak pernah ada habisnya itu tercukupi? Sesungguhnya tidak. Kita tetap bisa memberi dalam kekurangan dan keterbatasan kita, kita bisa melakukannya dengan penuh sukacita apabila sikap kemurahan tumbuh subur dalam hati kita. Tidak perlu berpikir terlalu jauh untuk memberi puluhan juta kepada orang lain yang kelaparan, tapi sudahkah kita melakukan sesuatu bagi orang disekitar kita meski nilainya sedikit? Atau sudahkah kita memberikan waktu, perhatian, kasih sayang kepada keluarga kita sendiri? Sudahkah kita berada dengan mereka di saat mereka butuh kehadiran kita? Sudahkah kita memberi senyum kepada orang yang sudah lama tidak merasakan indahnya sebuah senyuman? Sudahkah kita memberi kelegaan kepada mereka yang tengah sesak menghadapi tekanan hidup? Itupun termasuk dalam kategori memberi. Kalau begitu, kapan kita sebaiknya mulai memberi? Mengapa tidak sekarang juga?

Memberi seharusnya merupakan sikap hati orang percaya karena Bapa pun murah hati
May 07, 2013, 05:03:13 AM
Reply #133
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24759
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_05_01_archive.html
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/kemurahan-hati.html

 Kemurahan Hati

Ayat bacaan: 2 Korintus 8:2
===========================
"Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan."

Dalam renungan kemarin kita sudah melihat bagaimana bentuk kemurahan hati dalam memberi seperti yang ditunjukkan oleh dua orang janda dalam masa yang berbeda, yaitu janda di Sarfat di masa Elia (1 Raja Raja 17:7-24) dan janda yang memberikan persembahan di bait Allah yang diperhatikan Yesus (Lukas 21:1-4/Markus 12:41-44). Hari ini saya masih ingin melanjutkan lagi mengenai hal kemurahan hati lewat beberapa contoh lainnya. Sebuah kesaksian yang belum lama dialami oleh saudara dari tetangga saya mungkin baik untuk dijadikan sebuah contoh. Ia bercerita mengenai pengalamannya ketika ia terpanggil untuk menolong seorang teman sekantornya. Pada saat itu ia sedang mengalami masa sulit. Bahkan uang yang ada pun tidak cukup untuk membayar cicilan kredit motor dan memperpanjang sewa rumah. Tapi pada saat yang sama teman sekantornya mengalami masalah dan butuh bantuan. Ia dengan segera memberikan sisa uang yang ada. "Satu hal yang saya percaya, Tuhan tidak akan pernah membiarkan kita susah karena menolong orang lain." katanya mantap. Hanya berselang satu hari, istrinya mendadak memperoleh bonus di kantor yang lebih dari cukup untuk dipakai melunasi cicilan dan membayar sewa rumah. "Tuhan selalu menepati janji, saya tidak perlu ragu dalam hidup maupun menolong orang lain karena Dia pasti jaga saya dan keluarga." katanya lagi. Ini sebuah kesaksian bahwa janji Tuhan bukanlah hanya pepesan kosong, sekaligus bisa menjadi bukti bahwa bukan soal jumlah harta yang menentukan kerelaan kita untuk memberi, tetapi itu semua tergantung dari kondisi dan sikap hati, apakah memiliki kasih di dalamnya atau tidak.

Hari ini mari kita lihat jemaat Makedonia dahulu kala di jaman Paulus. Kepada jemaat Korintus, Paulus bersaksi mengenai bagaimana pertumbuhan kasih karunia yang terjadi pada jemaat di Makedonia pada masa itu. Mungkin ada banyak orang yang beranggapan bahwa kewajiban memberi hanya berlaku apabila sedang berkelimpahan, tapi jemaat Makedonia menunjukkan sikap yang sama sekali berbeda. Mereka bukanlah jemaat yang kaya raya. Mereka justru dikatakan sebagai jemaat yang sedang bergumul dalam berbagai penderitaan dan hidup dalam kemiskinan. Tapi itu semua ternyata tidak menghalangi mereka untuk tetap memberi dengan penuh sukacita. Paulus pun kemudian bersaksi atas mereka. "Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan." (2 Korintus 8:2). Mereka miskin materi, tapi kaya raya dalam kemurahan. Sekali lagi kita melihat contoh luar biasa dalam hal kemurahan hati lewat jemaat Makedonia yang sama sekali jauh dari kemakmuran secara materi.

Dalam kesempatan lain kita juga  bisa belajar dari bagaimana cara hidup jemaat mula-mula yang dicatat dalam kitab Kisah Para Rasul. "Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing." (Kisah Para Rasul 2:44-45). Tidak dikatakan bahwa yang kekayaannya luar biasa melimpah yang membantu, tapi mereka secara kolektif saling berbagi sesuai kemampuan masing-masing. Ada yang kaya, ada yang cukup, berapapun yang ada pada mereka, semua mereka pergunakan untuk kepentingan bersama dalam kebersatuan yang begitu indah. Hal ini kembali disinggung dalam pasal 4. "Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorangpun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama." (4:32). Kembali kita melihat disini bahwa tidak ada batasan kaya untuk memberi, dan kita bisa melihat bagaimana Tuhan memberkati jemaat mula-mula ini dalam banyak hal. "...Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan." (2:47). Bukan saja mereka disukai orang, tapi Tuhan pun memberkati mereka dengan menambahkan jiwa-jiwa untuk diselamatkan.
May 07, 2013, 05:04:59 AM
Reply #134
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24759
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
irman Tuhan berkata: "Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan." (2 Korintus 9:8). Dalam versi BIS nya dikatakan: "Allah berkuasa memberi kepada kalian berkat yang melimpah ruah, supaya kalian selalu mempunyai apa yang kalian butuhkan; bahkan kalian akan berkelebihan untuk berbuat baik dan beramal." Lihatlah bahwa Tuhan selalu rindu untuk mengucurkan berkat kepada kita, tetapi kita harus tahu untuk apa sebenarnya berkat itu diberikan kepada kita. Dan Petrus mengatakan: "...hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat..." (1 Petrus 3:9). Itulah hakekatnya mengapa kita diberkati, yaitu untuk memberkati orang lain. Banyak sedikit uang yang dimilikinya bukanlah menjadi ukuran, tetapi kerelaan hatinya dalam memberi atas dasar belas kasih, itulah yang seharusnya menggerakkan kita untuk berbuat baik dan beramal. Ini sesuai dengan bunyi Firman Tuhan bahwa kita diminta untuk memberi "menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan." Mengapa? "Sebab Tuhan mengasihi orang yang memberi dengan sukacita." Ini bisa kita baca dalam 2 Korintus 9:7. Artinya, besar kecilnya pemberian kita, dalam bentuk apapun, berapapun yang kita punya saat ini, selama kita memberi dengan kerelaan dan sukacita, maka Tuhan akan menghargai itu dengan sangat besar.

Anda merasa tidak punya sumber cukup untuk diberikan? Anda merasa kemampuan anda terbatas dan anda merasa tidak ada yang istimewa dengan kemampuan anda itu? Berhentilah berpikir seperti itu, karena itu  tidak akan pernah cukup menjadi alasan untuk tidak memberi. Sesungguhnya jika kita mau melihat atau memeriksa kembali apa yang kita punya, Tuhan sudah melengkapi kita untuk melakukan setiap perbuatan baik. (2 Timotius 3:17). Artinya kita tinggal memiliki sebentuk hati yang penuh kasih, yang rindu untuk menolong orang lain, siapapun mereka. Selebihnya Tuhan sendiri yang akan sediakan. Mari luangkan waktu untuk meresapi ayat berikut: "Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati." (Lukas 6:36). Kita tidak akan pernah kekurangan setelah memberi dengan kerelaan hati dan sukacita, Tuhan justru akan terus melipat gandakan agar selain kita mampu mencukupi kebutuhan kita, tetapi terlebih pula agar kita mampu memberkati orang lain lebih dan lebih lagi. Kita diberkati untuk memberkati, kita diberi untuk memberi. Hati yang bersukacita dalam memberi tidak akan memandang kekurangan atau keterbatasan diri sendiri, tetapi mampu melihat dengan penuh rasa syukur bagaimana Tuhan selama ini telah memberkati kita.

Jadilah orang murah hati seperti Bapa adalah murah hati
May 08, 2013, 05:10:58 AM
Reply #135
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24759
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_05_01_archive.html
renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/ikat-pinggang-dan-pelita.html

 Ikat Pinggang dan Pelita

Ayat bacaan: Lukas 12:35
=====================
"Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala."

Bumi gonjang-ganjing.. itu semakin lama semakin kerap kita jumpai bahkan alami. Dunia makin tua dan semakin rentan terhadap goncangan. Musibah, krisis dan berbagai kesulitan lainnya ternyata tidak membuat orang berbalik dari jalan-jalan yang salah tetapi malah semakin jauh tersesat dalam berbagai kegelapan. Banyak orang yang percaya bahwa akhir zaman sudah sedemikian dekat, sehingga seharusnya kita sadar untuk tidak lagi buang-buang waktu untuk mempersiapkan kelayakan diri kita dalam menerima kekekalan yang indah daripadaNya. Seberapa jauh kita sadar akan hal itu? Sesiap apa kita saat ini?

Ini saatnya kita mengimani baik-baik apa yang diperingatkan Tuhan Yesus dalam Lukas 12:35-48. Bacalah seluruh bagian perikop yang berbicara tentang pentingnya untuk meningkatkan kewaspadaan yang tertulis disana. Tuhan Yesus berkata: "Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala." (Lukas 12:35). Ikat pinggang yang tetap berikat menggambarkan  kesetiaan dan ketaatan dalam setiap sisi kehidupan kita, laksana seorang perwira yang akan selalu patuh kepada komandannya. Ikat pinggang juga merupakan tempat pedang melekat, seperti yang digambarkan dalam 2 Samuel 20:8. Berbicara tentang peddang, kita diingatkan untuk selalu siap berjaga-jaga mengenakan ikat pinggang untuk menopang pedang Roh, yaitu firman Allah. (Efesus 6:17). Lebih jauh lagi, dalam Yesaya ikat pinggang digambarkan sebagai sebuah atribut kekuasaan. (Yesaya 22:21). Bukankah kepada kita telah diberikan berbagai kuasa, seperti untuk mengalahkan keinginan daging, mengusir setan, menyembuhkan orang sakit dan sebagainya? Bahkan dikatakan bahwa "Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.". (Yakobus 5:16).

Pelita yang harus tetap dijaga menyala berbicara tentang kesiapan kita untuk terus memastikan roh kita tetap menyala dengan baik untuk melakukan semua seperti yang dikehendaki Tuhan hingga kedatangan Tuhan Yesus untuk kedua kalinya. Amsal menyatakan "Roh manusia adalah pelita TUHAN, yang menyelidiki seluruh lubuk hatinya." (Amsal 20:27). Dan Paulus mengingatkan "Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan." (Roma 12:11). Pelita juga terkait dengan hal terang yang mampu menyinari kegelapan. Kita selalu diminta untuk mampu menjadi terang, menjadi anak-anak terang. Seperti ikat pinggang, kita pun harus selalu sedia dengan pelita yang bernyala, karena pelita yang padam akan membawa kita dalam kebinasaan dalam murkanya. "Betapa sering pelita orang fasik dipadamkan, kebinasaan menimpa mereka, dan kesakitan dibagikan Allah kepada mereka dalam murka-Nya!" (Ayub 21:17).

Menjelang akhir jaman yang semakin dekat, kita semua diingatkan untuk selalu bersiap, berjaga-jaga dengan atribut lengkap ikat pinggang dan pelita yang bernyala. Firman Tuhan sudah mengingatkan: "Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan." (Lukas 12:40). Kepada yang berjaga-jaga dengan giat, Yesus berkata: "Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang." (ay 43). Karena itu penting bagi kita untuk memastikan sejauh mana kesiapan kita menuju kesana, dan Firman Tuhan telah mengingatkan kita untuk terus menerus berjaga kapan saja. Jangan melenceng ke kiri dan ke kanan, jangan lagi memberi toleransi terhadap dosa, karena tidak satupun dari kita yang tahu kapan sesungguhnya waktu itu akan datang.
May 08, 2013, 05:11:30 AM
Reply #136
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24759
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
Kita juga perlu membaca kitab 1 Tesalonika 5:1-11 mengenai nasehat untuk berjaga-jaga. Disana kita diingatkan kembali mengenai hari Tuhan yang akan datang seperti pencuri di malam hari (ay 2). Jika kita terlena dan terus hidup dalam kegelapan, keteledoran itu akan membawa konsekuensi yang membinasakan. "Apabila mereka mengatakan: Semuanya damai dan aman--maka tiba-tiba mereka ditimpa oleh kebinasaan, seperti seorang perempuan yang hamil ditimpa oleh sakit bersalin--mereka pasti tidak akan luput." (ay 3). Lantas apa yang terjadi bagi kita yang sudah hidup dalam terang? "Tetapi kamu, saudara-saudara, kamu tidak hidup di dalam kegelapan, sehingga hari itu tiba-tiba mendatangi kamu seperti pencuri, karena kamu semua adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan." (ay 4-5). Oleh karena itulah kita diingatkan agar jangan terlena, tertidur dan bermalas-malasan seperti yang dilakukan oleh sebagian orang, tetapi hendaklah kita selalu berjaga-jaga dan sadar. (ay 6). Semua ini penting agar kita semua tidak luput dari janji Tuhan. Berjaga-jagalah selalu sebab waktunya sudah sangat singkat. "Saudara-saudara, inilah yang kumaksudkan, yaitu: waktu telah singkat!" (1 Korintus 7:29a)

Beberapa hari yang lalu saya sudah menuliskan beberapa renungan mengenai peran orang percaya dalam keselamatan bangsa, termasuk di dalamnya lewat doa-doa kita. Berdoalah agar Tuhan mencurahkan belas kasihNya atas bangsa ini. Semua itu tidak bisa kita lakukan apabila kita sendiri masih belum membereskan diri kita. Bagaimana kita bisa berperan aktif bagi keselamatan bangsa apabila kita sendiri masih belum siap? Faktanya Tuhan selalu meminta kita untuk berjaga-jaga kapan saja. Waktu memang sudah singkat. Kita harus bisa berfungsi benar sebagai bagian dari tubuh Kristus yang selalu mendoakan dan memberkati kota dan negara kita, dan tentu saja memastikan bahwa diri kita sudah berjaga-jaga dengan baik agar kita tidak luput dari keselamatan yang dijanjikan Tuhan. Teruslah berjaga-jaga dengan mengenakan ikat pinggang dan pelita yang tetap menyala, sehingga ketika hari Tuhan itu datang, kapanpun itu, kita akan kedapatan tengah melakukan tugas kita dengan penuh kesiapan dan memperoleh hasil yang baik karenanya.

Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar (1 Tesalonika 5:6)
May 09, 2013, 05:07:31 AM
Reply #137
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24759
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_05_01_archive.html
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/hubungan-antara-diberi-dan-memberi.html

 Hubungan antara Diberi dan Memberi

Ayat bacaan: 1 Petrus 3:9
====================
"...hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat..."

Berapa uang yang kita keluarkan ketika kita hang out atau have fun bersama kekasih, pasangan atau teman-teman? Untuk ukuran hari ini, mungkin angka seratus ribu rupiah terbilang kecil untuk itu. Nonton, lalu duduk di cafe atau restoran, kemudian belanja sedikit, lihat-lihat butik dimana terkadang ada yang membeli sesuatu karena takut malu jika tidak membeli apa-apa, itu bisa menghabiskan total uang yang jumlahnya bisa cukup besar. Kita berpikir bahwa itu toh hasil jerih payah kita, terserah kita dong bagaimana kita mau memakainya. Benar, itu adalah hasil keringat kita. Tapi terpikirkah oleh kita bahwa ada campur tangan Tuhan dalam keberhasilan itu? Jika ya, pernahkah kita berpikir apa sebenarnya suara hati Tuhan atau keinginanNya terhadap kita untuk mempergunakan berkatNya?

Kenyataannya banyak dari kita yang tidak kunjung juga menyadari hal itu. Kita malah tidak tahu untuk apa kita diberkati. Selain menjalani hidup dalam kemewahan, ada banyak pula yang cenderung terus menumpuk harta untuk diri sendiri. Semakin diberkati malah semakin pelit. Semakin banyak yang dimiliki, semakin banyak yang dirasa belum punya. Untuk berfoya-foya kita tidak merasa pelit, tapi melebihkan sedikit untuk tukang kebun, petugas parkir, tukang atau buruh dan sebagainya beratnya bukan main. Padahal mereka seringkali mengeluarkan tenaga yang jauh lebih besar ketimbang orang-orang yang dengan mudah kita beri tip besar ketika berada di tempat mewah. Berkat membuat kita bukannya semakin terpanggil untuk memberkati orang lain, tetapi justru semakin pelit dalam memberi. Apakah cukup karena kita kerja keras maka semua itu mutlak menjadi hak milik kita dan kita tidak perlu tahu apa yang menjadi keinginan Tuhan kemana berkat itu harus kita pergunakan?

Alkitab menyatakan dengan jelas bahwa ada hubungan sebab akibat dalam hal diberi dan memberi. Alkitab jelas berkata bahwa kita diberi untuk memberi. Kita diberkati untuk memberkati. Kita bekerja keras untuk mencukupi nafkah hidup kita dan keluarga, itu benar, tapi bukan itu saja. Ada pesan Tuhan yang penting pula agar kita memberi, menolong orang-orang lain yang tengah kesusahan. Dan sesungguhnya, untuk itulah kita diberi. Perhatikan kata Petrus berikut ini: "...hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat..." (1 Petrus 3:9). Apabila kita memperoleh berkat tetapi tidak mau memberkati, maka itu artinya kita tidak menghargai berkatNya dan mengabaikan panggilan Tuhan atas berkat yang Dia beri kepada kita.

Selanjutnya kita bisa melihat bagaimana cara Paulus dalam menyampaikan pesan yang sama. Sebuah perikop penting dari surat rasul Paulus menjabarkan lebih lanjut mengenai ini. "Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita."(2 Korintus 9:6-7). Paulus tidak berhenti sampai disitu. Ia lebih jauh menjelaskan bahwa Tuhan sanggup melimpahkan segala kasih karuniaNya bahkan hingga berkelebihan, dan ini semua bukan untuk memperkaya diri, menyombongkan diri dan dinikmati sendiri dengan serakah, melainkan untuk beramal, memberkati orang lain. "Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan." (ay 8). Dalam versi BIS dikatakan "Allah berkuasa memberi kepada kalian berkat yang melimpah ruah, supaya kalian selalu mempunyai apa yang kalian butuhkan; bahkan kalian akan berkelebihan untuk berbuat baik dan beramal."  Tuhan berkuasa memutuskan untuk melimpahi kita dengan berkat, tetapi penting bagi kita untuk mengetahui untuk apa itu diberikan. Selain agar kita mampu memiliki apa yang kita butuhkan dalam hidup, tetapi terlebih pula itu ditujukan agar kita punya sesuatu untuk BERBUAT BAIK dan BERAMAL. Paulus ternyata menegaskan juga tentang hakekatnya mengapa kita diberkati, dan itu sama seperti apa yang dikatakan Petrus dalam kesempatan lain seperti yang bisa kita baca di atas. Tuhan bisa melimpahkan kita dengan berkatNya yang dikatakan bisa sampai melimpah ruah, tapi itu bukan untuk ditimbun atau dihamburkan sia-sia, melainkan untuk berbuat baik dan beramal.
May 09, 2013, 05:08:02 AM
Reply #138
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24759
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
Ingatlah bahwa berkat-berkat yang kita peroleh adalah titipan Tuhan, yang harus kita pakai untuk memberkati sesama kita, untuk menyatakan kemuliaan Tuhan. Apakah itu berkat kekayaan, berkat kesehatan, talenta-talenta yang kita miliki, semua itu hendaklah kita pergunakan untuk menjadi berkat buat orang lain. Apapun yang kita lakukan buat membantu orang lain bernilai sangat tinggi bagi Tuhan. Demikian Firman Tuhan: "Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku." (Matius 25:45). Kita harus mengerti bahwa kekayaan yang ada pada kita sebenarnya merupakan titipan Tuhan. Karena itu kita harus mempergunakannya untuk sesama kita, siapapun mereka, apapun latar belakangnya, dimana Tuhan dimuliakan disana. "Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima." (Kisah Para Rasul 20:35). Perhatikan, semakin dalam kita masuk ke dalam hadiratNya, semakin dekat kita pada Tuhan, maka prinsip kebahagiaan pun berubah. Jika dulu kita berbahagia ketika kita diberi, maka kini kita akan jauh lebih berbahagia ketika bisa memberi kontribusi kepada orang lain. Kita akan merasa sangat bahagia ketika bisa membahagiakan orang lain. Itu jauh lebih membahagiakan dibandingkan ketika kita memperoleh sesuatu. Kita memperoleh berkat adalah agar kita bisa memberkati orang lain lewat segala yang kita miliki. Singkatnya, kita diberkati untuk memberkati.

Rugikah jika kita banyak memberi? Percayalah, kita tidak akan pernah kekurangan dan menjadi susah karena itu. Jika kita memberi dengan hati yang tulus semata-mata karena mengasihi Tuhan dan sesama, kita tidak akan menjadi berkekuangan, malah akan semakin banyak lagi menerima berkat. Itu sejalan dengan ayat dalam Amsal berikut ini: "Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan." (Amsal 11:24). Pelit, tamak atau serakah dan sejenisnya tidak akan pernah membawa hasil apa-apa selain kerugian buat diri kita sendiri. Kita harus tahu untuk apa Tuhan memberkati kita, dan kita harus memiliki kerinduan untuk melakukannya. Kita harus menyadari bahwa kita harus mulai melakukan sesuatu, bekerja keras agar kelak mampu membantu sesama, menjadi terang dan garam yang mampu menyampaikan kasih Allah kepada orang lain. Kita harus tahu mengapa kita diberkati dan kemana kita seharusnya mempergunakannya. So, let's work hard, and when God gives you His blessings, use it to help others. Mulailah memberi, maka Tuhan akan terus mencurahkan berkatNya memenuhi lumbung-lumbung anda agar anda bisa memberkati lebih banyak lagi

Kita diberi untuk memberi, kita diberkati untuk memberkati
May 10, 2013, 04:53:44 AM
Reply #139
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24759
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_05_01_archive.html
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/05/animal-rescue.html

 Animal Rescue

Ayat bacaan: Kejadian 1:28
======================
"Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi."

Apakah pelayanan terbatas hanya untuk manusia saja? Saya pernah mendengar sebuah komentar dari seseorang yang mengatakan bahwa seharusnya orang yang mengaku cinta Tuhan mementingkan dulu untuk melayani manusia daripada sibuk mengurusi hewan-hewan yang terlantar. Ia mengacu kepada Amanat Agung yang menugaskan kita untuk menjadikan semua bangsa menjadi muridNya seperti yang tertulis pada Matius 28:19-20. Apakah benar harus demikian? Apakah kita tidak bisa menjadi terang dan menyenangkan hati Tuhan lewat pelayanan kita menyelamatkan hewan-hewan terlantar, doing an animal rescue or animal conservation? Apakah tidak mungkin jika Tuhan memberi panggilan kepada sebagian orang untuk bekerja di ladang yang satu ini, atau yang lebih sederhana, tidakkah mungkin jika kita bisa melakukan Amanat Agung lewat tindakan mulia menyelamatkan hewan-hewan terluka, terbuang dan menderita ini?

Ada begitu banyak hewan yang butuh pertolongan. Di beberapa acara televisi saya melihat langsung hewan-hewan yang diperlakukan dengan sangat kejam yang akan segera mati jika tidak mendapatkan pertolongan. Banyak yang tega menyiksa atau memperlakukan hewan piaraannya secara buruk dan lain sebagainya, atau meracun dan menganiaya hewan-hewan malang ini tanpa perasaan, dengan sangat kejam. Pada kenyataannya kita sering melihat atau mendengar orang memperlakukan hewan piaraannya dengan kejam. Ada anjing yang diikat diluar sepanjang hidupnya, terkena panas terik dan hujan begitu saja, ada yang tidak diberi makan, dibiarkan ketika diserang kutu, sekarat tertabrak mobil atau disiksa orang dan sebagainya. Ada beberapa lembaga yang aktif melakukan pelayanannya dan menunjukkan foto-foto dari hewan-hewan yang bernasib naas seperti ini, dan saya bersyukur karena ternyata masih banyak orang yang mau membantu mereka untuk menolong hewan-hewan ini bersama-sama tanpa memandang latar belakang masing-masing.

Tuhan mengasihi manusia secara istimewa, itu benar. Tetapi bukan berarti bahwa Tuhan tidak mengasihi hewan dan tumbuhan yang notabene merupakan ciptaanNya juga. Manusia merusak lingkungan, menebang pohon sembarangan, merusak habitat hewan bahkan memburu mereka termasuk hewan-hewan langka di dalamnya tanpa merasa bersalah. Padahal ini pun sebenarnya sudah melanggar Firman Tuhan, karena sejak semula Tuhan sudah mengingatkan tugas kita dalam menjaga kelestarian alam beserta isinya.
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)