Author Topic: renungan harian online  (Read 124807 times)

0 Members and 2 Guests are viewing this topic.

March 01, 2013, 04:43:01 AM
Reply #20
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
Yesus sendiri juga pernah menegur hal yang sama. "Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?" (Matius 7:3). Bagaimana kita bisa menilai keburukan orang lain jika diri kita sendiri masih belum sempurna? Dan Yesus pun menyebut orang yang demikian sebagai orang yang munafik. "Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu." (ay 5). Kita harus berhati-hati dalam mengeluarkan perkataan mengenai orang lain, karena salah-salah kita akan terjebak kepada proses menghakimi yang akan merugikan diri kita sendiri. "Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu." (ay 2).

Sudah menjadi sifat banyak manusia untuk cenderung merasa lebih pandai untuk menilai orang lain ketimbang memeriksa dirinya sendiri. Atau lebih parah lagi, mencari kambing hitam dengan menyalahkan orang lain untuk menutupi kelemahan diri sendiri. Oleh karena itulah kita harus benar-benar menjaga diri kita untuk tidak terjebak kepada perilaku seperti ini. Hal ini sungguh penting, begitu pentingnya bahkan Tuhan pun mau membantu kita untuk menyelidiki hati kita, apakah kita masih menyimpan banyak masalah atau tidak. Firman Tuhan berkata "Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin.." (Yeremia 17:10). Dan Daud pun pernah meminta Tuhan untuk menguji dan memeriksa dirinya. "Ujilah aku, ya TUHAN, dan cobalah aku; selidikilah batinku dan hatiku." (Mazmur 26:2). Dalam kesempatan lain ia berkata "Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!" (139:23-24). Daripada sibuk melihat keburukan orang lain, sebaiknya kita mau dengan segala kerendahan hati dan kejujuran memeriksa diri kita sendiri. Apabila kita masih menemukan hal-hal yang bisa menghambat pertumbuhan dan merusak kesehatan rohani di dalam diri kita, seharusnya kita dengan tulus mengakuinya dan membereskannya secepat mungkin agar hati kita bisa tetap terjaga bersih. Ingatlah bahwa ketika kita menunjuk orang lain, satu jari mengarah kepada mereka tetapi ada tiga jari lainnya yang mengarah kepada diri kita sendiri. Mari kita periksa dan uji sampai dimana ketaatan dan iman kita hari ini, lakukan perbaikan pada bagian-bagian yang kita dapati masih belum berjalan dengan benar dan terus tingkatkan agar lebih baik lagi.

Daripada sibuk menganalisa keburukan orang lain lebih baik memeriksa diri kita sendiri

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
March 02, 2013, 04:54:04 AM
Reply #21
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_02_01_archive.html
renungan-harian-online.blogspot.com/2013/02/kesempurnaan.html

Kesempurnaan

Ayat bacaan: Matius 19:21
=====================
"Kata Yesus kepadanya: "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku."

Kesempurnaan, itu ditawarkan berbagai iklan dan akan selalu diinginkan setiap manusia. Apa yang kita anggap sebagai bentuk kesempurnaan dalam hidup? Banyak dari kita yang, entah karena terpengaruh iklan atau pandangan dunia sejak kecil, memandang kesempurnaan itu adalah kondisi atau saat dimana kita hidup tanpa masalah, berlimpah harta, punya segalanya, tidak sedang sakit dan sebagainya. Sempurna adalah ketika kita punya pasangan paling ganteng atau cantik, punya anak sepasang, mencapai prestasi/kedudukan tertinggi dalam pekerjaan, punya usaha super laris dan seterusnya. Semua ini dipandang dunia sebagai ukuran kesuksesan. Tapi apakah itu semua yang menjadi ukurannya? Tuhan Yesus tidak mengatakan itu semua sebagai ukuran kesuksesan.

Apakah kita memang diinginkan Tuhan untuk menjadi sempurna? Jawabannya ya. Jika kita ingin sempurna, Tuhan pun sesungguhnya demikian. Firman Tuhan berkata kita harus mengejar kesempurnaan seperti yang dimiliki oleh Bapa. "Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna." (Matius 5:48). Tapi bagaimana kita bisa memperoleh kesempurnaan yang sesuai dengan pengertian Tuhan akan hal itu? Harta berlimpah jelas bukan bentuknya. Firman Tuhan sudah menyebutkan bahwa tanpa kuasa menikmati semua itu hanyalah akan berakhir sia-sia (bacalah Pengkotbah 6:2), dan itu semua sudah begitu sering terbukti. Keluarga yang hancur berantakan meski mereka kaya raya bukanlah hal aneh lagi untuk kita lihat disekitar kita. Pada suatu saat kita akan sadar bahwa uang bukanlah segalanya dan tidak akan pernah bisa membeli kebahagiaan sejati, juga tidak akan pernah bisa menjadi solusi atas segalanya. Kembali kepada pertanyaan di awal paragraf ini, bagaimana agar kita bisa menjadi sempurna? Jawabannya bisa kita temukan dalam kisah perjumpaan seorang pemuda kaya dengan Yesus dalam Matius 19:16-26.

Ada seorang pemuda kaya yang datang kepada Yesus dan menanyakan cara agar ia bisa menerima hidup yang kekal, to possess the eternal life. Yesus kemudian mengatakan bahwa untuk memperolehnya ia harus menuruti segala perintah Allah. Dan kemudian Yesus memberi garis besarnya satu persatu. Tapi si pemuda kaya itu tampaknya menyadari bahwa masih ada sesuatu yang belum ia lakukan. Dia sudah merasa melakukan itu, but something's still missing. Ia merasa sudah baik, tapi belum sempurna. Dan perhatikan jawaban Yesus. "Kata Yesus kepadanya: "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." (Matius 9:21). Ternyata si pemuda tidak sanggup untuk meninggalkan hartanya yang berlimpah, maka ia pun kemudian lebih memilih hartanya ketimbang mengikut Yesus. (ay 22).

Ayat ini sering disalah tafsirkan banyak orang sebagai keharusan bagi orang percaya untuk hidup miskin. Padahal bukan itu maksudnya. Kita bisa melihat ayat berikut untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas. "Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka." (1 Timotius 6:10). Dari sini kita bisa melihat bahwa yang salah bukanlah uangnya, tetapi cinta terhadap uang yang melebihi segalanya. Itulah masalahnya, dan itu pula yang menjadi akar permasalahan si pemuda kaya dalam kisah diatas. Ia menolak menyerahkan segala harta miliknya, itu artinya ia menganggap hartanya sebagi hal terpenting dalam hidupnya, dan bukan Tuhan. Firman Tuhan pun mengingatkan "Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." (Matius 6:24). Tuhan telah menjanjikan berkat berlimpah kepada kita, tetapi jangan sampai itu menjadi fokus terutama kita melebihi ketaatan berdasarkan kasih dan rasa takut akan Tuhan. Ketika itu terjadi, artinya kita telah mengabdikan diri kepada harta, menghamba kepada harta dan menomorduakan Tuhan dibawahnya. Ketika itu terjadi, artinya kita sedang meninggalkan panggilan untuk menuju kesempurnaan dan membawa diri kita kedalam kehancuran.
March 02, 2013, 04:54:38 AM
Reply #22
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
Pemuasan terhadap keinginan daging mungkin bisa terpenuhi lewat harta, tetapi itu adalah sebuah perlawanan (hostile) di hadapan Allah. "Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya." (Roma 8:7). Selanjutnya dengan tegas dikatakan "Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah." (ay 8). Apalah artinya kekayaan berlimpah yang kita miliki jika hanya bisa dipakai dalam jangka waktu yang amat sangat singkat dibanding sebuah kekekalan yang akan datang kelak? Sebuah kesempurnaan hanya akan mungkin kita peroleh apabila kita rela menyerahkan segala sesuatu yang kita miliki untuk takluk kepada kehendak Tuhan, bahkan yang kita anggap penting bagi kita sekalipun. Abraham sudah membuktikannya ketika ia taat dan rela menyerahkan anaknya yang sangat ia kasihi, Ishak untuk dijadikan korban bakaran. Tidak heran jika Abraham pun diakui sebagai Bapa orang beriman karena ketaatan dan imannya yang luar biasa. Dan itulah yang Tuhan kehendaki, karena sudah seharusnya posisi Tuhan berada di atas segalanya dalam hidup kita. Adalah tidak benar apabila kita mengakui beriman kepada Kristus namun masih terus lebih mementingkan segala hal lain selain Dia dalam hidup kita. Bagaimana mungkin kita mengaku beriman tetapi tidak menyertainya dengan perbuatan nyata?

Ada banyak orang yang ternyata jauh lebih mementingkan miliknya yang berharga ketimbang Tuhan dalam hidup mereka. Bagi si pemuda dalam Matius 19 itu adalah harta kekayaan, mungkin bagi orang lain itu bisa berupa hal lain. Kita harus rela menyerahkan itu semua jika Tuhan meminta itu, dan itulah yang bisa membawa kita untuk mencapai kesempurnaan. Kita harus kembali ingat bahwa semua berasal dari Tuhan. Dibanding apapun yang kita miliki saat ini, tentu Sang Pemberi harus berada dalam posisi teratas. Keberadaan dan penyertaan Tuhan, kebersamaan kita berjalan bersama Tuhan seturut kehendakNya, itulah yang seharusnya kita kejar lebih dari apapun juga. Panggilan untuk menjadi sempurna hanyalah akan bisa kita capai apabila kita rela menyerahkan segala sesuatu untuk mengikuti Tuhan sepenuhnya tanpa berbantah, tanpa bersungut-sungut, tanpa syarat. Are we willing to surrender everything we have in order to follow Him?

"Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah, usahakanlah dirimu supaya sempurna. Terimalah segala nasihatku! Sehati sepikirlah kamu, dan hiduplah dalam damai sejahtera; maka Allah, sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai kamu!" (2 Korintus 13:11)

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
March 03, 2013, 04:19:24 AM
Reply #23
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_02_01_archive.html
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/02/kesempurnaan.html

Kesempurnaan

Ayat bacaan: Matius 19:21
=====================
"Kata Yesus kepadanya: "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku."

Kesempurnaan, itu ditawarkan berbagai iklan dan akan selalu diinginkan setiap manusia. Apa yang kita anggap sebagai bentuk kesempurnaan dalam hidup? Banyak dari kita yang, entah karena terpengaruh iklan atau pandangan dunia sejak kecil, memandang kesempurnaan itu adalah kondisi atau saat dimana kita hidup tanpa masalah, berlimpah harta, punya segalanya, tidak sedang sakit dan sebagainya. Sempurna adalah ketika kita punya pasangan paling ganteng atau cantik, punya anak sepasang, mencapai prestasi/kedudukan tertinggi dalam pekerjaan, punya usaha super laris dan seterusnya. Semua ini dipandang dunia sebagai ukuran kesuksesan. Tapi apakah itu semua yang menjadi ukurannya? Tuhan Yesus tidak mengatakan itu semua sebagai ukuran kesuksesan.

Apakah kita memang diinginkan Tuhan untuk menjadi sempurna? Jawabannya ya. Jika kita ingin sempurna, Tuhan pun sesungguhnya demikian. Firman Tuhan berkata kita harus mengejar kesempurnaan seperti yang dimiliki oleh Bapa. "Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna." (Matius 5:48). Tapi bagaimana kita bisa memperoleh kesempurnaan yang sesuai dengan pengertian Tuhan akan hal itu? Harta berlimpah jelas bukan bentuknya. Firman Tuhan sudah menyebutkan bahwa tanpa kuasa menikmati semua itu hanyalah akan berakhir sia-sia (bacalah Pengkotbah 6:2), dan itu semua sudah begitu sering terbukti. Keluarga yang hancur berantakan meski mereka kaya raya bukanlah hal aneh lagi untuk kita lihat disekitar kita. Pada suatu saat kita akan sadar bahwa uang bukanlah segalanya dan tidak akan pernah bisa membeli kebahagiaan sejati, juga tidak akan pernah bisa menjadi solusi atas segalanya. Kembali kepada pertanyaan di awal paragraf ini, bagaimana agar kita bisa menjadi sempurna? Jawabannya bisa kita temukan dalam kisah perjumpaan seorang pemuda kaya dengan Yesus dalam Matius 19:16-26.

Ada seorang pemuda kaya yang datang kepada Yesus dan menanyakan cara agar ia bisa menerima hidup yang kekal, to possess the eternal life. Yesus kemudian mengatakan bahwa untuk memperolehnya ia harus menuruti segala perintah Allah. Dan kemudian Yesus memberi garis besarnya satu persatu. Tapi si pemuda kaya itu tampaknya menyadari bahwa masih ada sesuatu yang belum ia lakukan. Dia sudah merasa melakukan itu, but something's still missing. Ia merasa sudah baik, tapi belum sempurna. Dan perhatikan jawaban Yesus. "Kata Yesus kepadanya: "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." (Matius 9:21). Ternyata si pemuda tidak sanggup untuk meninggalkan hartanya yang berlimpah, maka ia pun kemudian lebih memilih hartanya ketimbang mengikut Yesus. (ay 22).

Ayat ini sering disalah tafsirkan banyak orang sebagai keharusan bagi orang percaya untuk hidup miskin. Padahal bukan itu maksudnya. Kita bisa melihat ayat berikut untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas. "Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka." (1 Timotius 6:10). Dari sini kita bisa melihat bahwa yang salah bukanlah uangnya, tetapi cinta terhadap uang yang melebihi segalanya. Itulah masalahnya, dan itu pula yang menjadi akar permasalahan si pemuda kaya dalam kisah diatas. Ia menolak menyerahkan segala harta miliknya, itu artinya ia menganggap hartanya sebagi hal terpenting dalam hidupnya, dan bukan Tuhan. Firman Tuhan pun mengingatkan "Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." (Matius 6:24). Tuhan telah menjanjikan berkat berlimpah kepada kita, tetapi jangan sampai itu menjadi fokus terutama kita melebihi ketaatan berdasarkan kasih dan rasa takut akan Tuhan. Ketika itu terjadi, artinya kita telah mengabdikan diri kepada harta, menghamba kepada harta dan menomorduakan Tuhan dibawahnya. Ketika itu terjadi, artinya kita sedang meninggalkan panggilan untuk menuju kesempurnaan dan membawa diri kita kedalam kehancuran.
March 03, 2013, 04:19:54 AM
Reply #24
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
Pemuasan terhadap keinginan daging mungkin bisa terpenuhi lewat harta, tetapi itu adalah sebuah perlawanan (hostile) di hadapan Allah. "Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya." (Roma 8:7). Selanjutnya dengan tegas dikatakan "Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah." (ay 8). Apalah artinya kekayaan berlimpah yang kita miliki jika hanya bisa dipakai dalam jangka waktu yang amat sangat singkat dibanding sebuah kekekalan yang akan datang kelak? Sebuah kesempurnaan hanya akan mungkin kita peroleh apabila kita rela menyerahkan segala sesuatu yang kita miliki untuk takluk kepada kehendak Tuhan, bahkan yang kita anggap penting bagi kita sekalipun. Abraham sudah membuktikannya ketika ia taat dan rela menyerahkan anaknya yang sangat ia kasihi, Ishak untuk dijadikan korban bakaran. Tidak heran jika Abraham pun diakui sebagai Bapa orang beriman karena ketaatan dan imannya yang luar biasa. Dan itulah yang Tuhan kehendaki, karena sudah seharusnya posisi Tuhan berada di atas segalanya dalam hidup kita. Adalah tidak benar apabila kita mengakui beriman kepada Kristus namun masih terus lebih mementingkan segala hal lain selain Dia dalam hidup kita. Bagaimana mungkin kita mengaku beriman tetapi tidak menyertainya dengan perbuatan nyata?

Ada banyak orang yang ternyata jauh lebih mementingkan miliknya yang berharga ketimbang Tuhan dalam hidup mereka. Bagi si pemuda dalam Matius 19 itu adalah harta kekayaan, mungkin bagi orang lain itu bisa berupa hal lain. Kita harus rela menyerahkan itu semua jika Tuhan meminta itu, dan itulah yang bisa membawa kita untuk mencapai kesempurnaan. Kita harus kembali ingat bahwa semua berasal dari Tuhan. Dibanding apapun yang kita miliki saat ini, tentu Sang Pemberi harus berada dalam posisi teratas. Keberadaan dan penyertaan Tuhan, kebersamaan kita berjalan bersama Tuhan seturut kehendakNya, itulah yang seharusnya kita kejar lebih dari apapun juga. Panggilan untuk menjadi sempurna hanyalah akan bisa kita capai apabila kita rela menyerahkan segala sesuatu untuk mengikuti Tuhan sepenuhnya tanpa berbantah, tanpa bersungut-sungut, tanpa syarat. Are we willing to surrender everything we have in order to follow Him?

"Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah, usahakanlah dirimu supaya sempurna. Terimalah segala nasihatku! Sehati sepikirlah kamu, dan hiduplah dalam damai sejahtera; maka Allah, sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai kamu!" (2 Korintus 13:11)
March 09, 2013, 05:03:22 AM
Reply #25
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_03_01_archive.html
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/sea-heart.html

Sea Heart

Ayat bacaan: Pengkotbah 3:11
=========================
"Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir."
Ada sebuah tanaman unik yang tumbuh di hutan pedalaman Costa Rica yang diberi nama sea heart. Bentuknya unik seperti bentuk hati dengan biji di dalamnya dan termasuk dalam keluarga kacang-kacangan. Tanaman ini tumbuh di tempat tinggi dan mengulir ke bawah mencapai jarak 3 sampai 6 kaki. Mengapa disebut sea heart? Apa hubungannya dengan laut? Tampaknya nama sea heart itu diambil dari banyaknya tanaman ini yang mengambang di lautan luas sebelum mencapai sebuah tempat baru dan tumbuh subur disana. Seperti inilah kira-kira prosesnya. Curah hujan yang tinggi di hutan tropis membuat sea heart ini jatuh ke laut dan terbawa arus untuk waktu yang cukup lama. Sea heart terus mengambang dibawa arus selama berbulan-bulan, bahkan tidak jarang bertahun-tahun, mengikuti ombak naik dan turun, lautan yang tenang dan berombak bahkan badai sekalipun hingga akhirnya pada suatu ketika mendarat di pantai yang jauh jaraknya dari tempat asalnya. Di sebuah tempat baru ini biji sea heart itu akhirnya akan tumbuh menjadi sebuah tanaman baru yang subur.

Ketika membaca fakta yang sangat menarik dari sebuah tanaman unik ini saya mendapat sebuah analogi darinya yang menggambarkan perjalanan hidup kita. Tidakkah kita pun seringkali harus menempuh perjalanan yang panjang, terkadang penuh riak dan gelombang dalam kehidupan kita, untuk sampai kepada sesuatu yang indah pada akhirnya?  Seringkali kesabaran kita diuji. Seringkali kita harus terus bersabar menantikan Tuhan, menantikan pertolonganNya, menantikan yang terbaik buat kita sesuai waktu Tuhan dan bukan waktu kita. Terkadang ombak bisa begitu tinggi, badai bisa menerpa dengan ganas dalam hidup kita. Datangnya pertolongan Tuhan yang kita nantikan bisa jadi terasa sangat lama dalam ukuran waktu kita. Ada banyak orang yang tidak sabar akhirnya terjatuh kepada berbagai hal yang semakin memperparah keadaan. Bersungut-sungut, patah semangat, hilang harapan, putus asa dan menyerah, atau bahkan mulai ragu dan mempertanyakan keberadaan Tuhan. Tidak jarang pula ada yang malah kemudian mengalami kekecewaan, kepahitan dan akhirnya menghujat Tuhan.

Ayat hari ini akan menegaskan kembali bagaimana ukuran waktu Tuhan dibanding waktu kita, bagaimana kemampuan kita yang terbatas ini seringkali sulit dipakai untuk melihat dan memahami rencana Tuhan. Ayatnya berbunyi sebagai berikut: "Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir." (Pengkotbah 3:11). Meski kita sudah menjalani hidup benar sekalipun ada kalanya kita harus mengalami masa-masa menangis dalam penderitaan. Mengapa demikian? Karena ada rencana Tuhan yang indah, ada sebuah "grand design" yang telah dipersiapkan Tuhan di depan, dimana kita mungkin belum mampu melihatnya pada saat ini, dan penderitaan kita itu merupakan bagian dari prosesnya. It's a part of the process. Mungkin Tuhan sedang melatih kekuatan otot rohani kita, mungkin Tuhan sedang mengajarkan kita untuk berhenti mengandalkan kekuatan sendiri dan kembali mengandalkanNya, mungkin Dia sedang menguji iman kita apakah kita masih berada dalam keyakinan teguh ketika berada dalam kesusahan atau tidak, mungkin kita sedang diajar Tuhan untuk bersabar dan tetap teguh dalam pengharapan. Tapi satu hal yang pasti, meski hidup kita tengah bergejolak hari ini, selama kita tetap berada dalam firmanNya dengan taat, selama kita tetap setia berpegang teguh kepadaNya, ada rencana Tuhan yang indah di balik semua itu. We are in the process of a grand design, one perfect concept from the loving Father, and in the end it's going to be beautiful.
March 09, 2013, 05:03:54 AM
Reply #26
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
Kita tidak bisa berharap bahwa hidup ini akan selamanya tanpa masalah. Ada kalanya kita harus masuk ke dalam kesukaran. Sebuah ayat yang menjelaskan konsep Tuhan akan hal ini. "Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya." (Pengkotbah 3:1). Dalam versi bahasa Inggrisnya dikatakan "TO EVERYTHING there is a season, and a time for every matter or purpose under heaven." Selanjutnya kita bisa melihat berbagai "season" atau masa ini dalam rangkaian ayat selanjutnya, dan lihatlah bahwa tidak semuanya menyenangkan. Namun di ayat ke sebelas kita melihat tujuan Tuhan dibalik musim atau masa itu: "Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya." Pada suatu ketika kita akan sampai kepada sesuatu yang indah yang telah dirancangkan Tuhan. Tidak peduli kita berada di musim apa saat ini, suatu ketika nanti kita akan mengalami rancanganNya yang indah. Karena itulah kita harus bersabar dan terus menanti-nantikan Tuhan dengan tekun.

Sebuah benih sea heart tidak memiliki kemampuan untuk bersabar atau menyerah. Ia hanya mengikuti kemana arus membawanya. Tetapi kita punya itu, dan Tuhan sudah berjanji akan selalu menyertai kita dalam setiap langkah. Jika benih-benih itu sanggup menempuh jarak ribuan mil selama bertahun-tahun untuk ahirnya sampai kepada sebuah destinasi dan tumbuh dengan subur, mengapa kita tidak? Firman Tuhan mengajarkan kita demikian: "Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah  dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!" (Roma 12:12). Sabarlah, dan terus bertekun, tetaplah dalam sukacita, dan itu bisa kita lakukan karena kita tahu ada rancangan yang indah dari Tuhan menanti kita di depan. Kita bisa meneladani seruan Daud berikut:"Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari." (Mazmur 25:5). Ini sebuah bentuk kesabaran yang harus kita miliki. Sementara menanti, kita bisa belajar banyak. Belajar mengandalkan Tuhan, belajar menahan diri dan bersabar, belajar untuk tetap bersukacita meski dalam kesesakan, dan semua itu akan menumbuhkan iman kita lebih lagi. Mungkin saat ini kita sedang menghadapi ombak besar bahkan badai, tetapi seperti benih-benih sea heart itu, pada suatu saat kita akan sampai kepada tujuan yang indah. Karena itu bertahanlah, jangan menyerah dan raihlah apa yang direncanakan Tuhan untuk anda dan saya di depan sana.

Pakailah saat-saat sukar sebagai kesempatan untuk menumbuhkan iman
March 10, 2013, 05:01:10 AM
Reply #27
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
Behind the Stage

Ayat bacaan: 1 Korintus 15:58
============================
"Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia."

Ketika anda menikmati sebuah sajian pertunjukan panggung musik, pernahkah anda memikirkan peran orang-orang yang berada di belakang panggung? Seringkali kita terfokus pada apa yang tampak di atas panggung dan lupa terhadap mereka yang berperan baik dalam persiapan menjelang acara, soundmen, lighting men dan lain-lain. Artis yang tampil di panggung memang menjadi daya tarik tersendiri, tetapi mereka yang dibelakang pangggung pun punya peran yang tidak kalah pentingnya. Tanpa mereka, sehebat apapun artis yang tampil, hasilnya tidak akan bisa maksimal. Bayangkan band tanpa sound memadai, tanpa sorot lampu dan tata panggung yang baik, itu bisa membuat sebuah konser kehilangan daya tarik. Atau bayangkan apabila tidak ada yang menyapu dan membersihkan area penonton atau sekedar menggulung kabel-kabel yang berseliweran di belakang panggung, itu tentu akan membuat kualitas konser menurun.

Dalam hidup pun kita seringkali bertindak seperti itu. Kita lebih mementingkan penampakan luar ketimbang pembenahan dalam. Kita terlalu lelah mematut diri agar terlihat indah di mata orang dan tidak lagi punya waktu untuk mengurus bagian dalam diri kita. Kita membiarkan dosa-dosa berada dalam diri kita dan tidak segera diselesaikan, masih menyimpan dendam, iri, dengki, atau pikiran-pikiran jahat. Di luar kita tampak sempurna, tapi dibalik itu semua, hati kita masih kotor penuh debu. Kita hanya mementingkan bagian-bagian tertentu saja dan merasa tidak penting untuk membenahi seluruhnya secara total. Contoh lain misalnya dalam bekerja. Kita merasa tidak perlu total melakukannya karena mungkin merasa bahwa tidak ada gunanya melakukan sebaik-baiknya, toh tidak ada yang memperhatikan, imbalan yang kita anggap kecil dan sebagainya. Padahal selalu ada perbedaan signifikan dari hasil sebuah pekerjaan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh sepenuh hati dibandingkan melakukan ala kadarnya, seadanya saja.

Mungkin saja bahwa apa yang kita lakukan tidak mendapat perhatian dari manusia, tapi ingatlah bahwa tidak ada satupun yang luput dari pandangan Tuhan. Dia tahu bagaimana sikap hati kita. Bagi sesama manusia mungkin saja apa yang kita lakukan mungkin dipandang tidak istimewa sebagai sesuatu yang layak dipuji, tapi sesuatu yang kita lakukan dengan tulus, serius dan sungguh-sungguh akan selalu istimewa di mata Tuhan. Sekecil apapun yang kita lakukan, jika disertai dengan kerinduan memuliakan Tuhan didalamnya, itu akan merupakan hadiah besar yang sangat bermakna bagiNya. Tidak mudah memang untuk bekerja sungguh-sungguh, karena pasti waktu, tenaga atau mungkin biaya akan terpakai lebih banyak. Dalam hal membereskan masalah-masalah di dalam diri kita pun seringkali tidak gampang. Sulit sekali melepaskan pengampunan kepada orang yang telah begitu menyakiti kita, sulit sekali untuk senang melihat orang lain sukses ketika kita masih pas-pasan dan sebagainya. Tapi semua usaha itu tidak akan pernah sia-sia. Dan Paulus pun mengingatkan: "Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia." (1 Korintus 15:58).
March 10, 2013, 05:01:39 AM
Reply #28
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
Sepanjang Alkitab Tuhan selalu mengingatkan kita untuk melakukan segala sesuatu, baik itu membenahi diri kita sendiri, dalam membina keluarga, menjalankan pekerjaan atau pelayanan dengan sebaik-baiknya. "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia." (Kolose 3:23). Mengapa harus demikian? Karena sesungguhnya upah yang terutama kita terima bukanlah berasal dari manusia tetapi justru dari Tuhan sendiri. "Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya." (ay 24). Artinya, kita selayaknya melakukan segala sesuatu dengan serius dan sungguh-sungguh untuk kemuliaan Tuhan, bukan untuk mencari upah atau penghargaan dari orang lain. Jika itu yang menjadi fokus pikiran kita, maka kita akan melakukan segalanya secara total dan tidak akan menyisakan bagian-bagian tertentu untuk diabaikan. Apa yang kita lakukan mungkin tidak mendapat apresiasi di mata orang, tapi jika itu yang Tuhan tugaskan bagi kita, kita perlu melakukannya dengan segenap hati sebagai bagian dari panggilan Tuhan untuk saling mengasihi dengan sungguh-sungguh (1 Petrus 4:8). Kita bisa menawarkan bantuan kepada yang memerlukan dengan tulus (ay 9) dan melayani orang lain sesuai karunia yang telah kita peroleh (ay 10). Kita bisa melakukan itu semua sebagai persembahan dari diri kita untuk kemuliaan Tuhan, dan bukan untuk diri kita sendiri. Tuhan telah memperlengkapi kita semua untuk itu, dan tugas kita adalah mempergunakan semua itu dengan sebaik-baiknya untuk Tuhan. Jika itu kita lakukan, maka jerih payah kita tidak akan pernah sia-sia.

Apapun yang anda lakukan hari ini, meski itu mungkin tidak mendapat penghargaan dari orang lain, tetaplah lakukan dengan sebaik-baiknya karena mengasihi Tuhan. Tuhan selalu menghargai jerih payah yang kita lakukan dengan tulus dan ikhlas. Dan Tuhan bisa memberkati anda berkelimpahan meskipun pekerjaan anda saat ini mungkin kecil dalam penilaian manusia. Lakukan pula pembenahan diri secara total, bersihkan segala noda yang masih menempel. Jangan sisa-sisakan ruang yang masih bisa dimanfaatkan iblis untuk me dosa ke dalam diri anda. Apa yang penting bukanlah menurut pandangan manusia, tetapi pandangan Tuhan. Yang penting adalah Tuhan berkenan atas apa yang Dia lihat dan dapati dari diri kita. Biarkan Tuhan bersukacita lewat segala sesuatu yang kita lakukan.

Tidak satupun usaha kita yang luput dari mata Tuhan
March 11, 2013, 04:41:56 AM
Reply #29
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_03_01_archive.html
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/to-be-or-not-to-be.html

To Be or Not To Be

Ayat bacaan: 2 Korintus 1:8-9a
============================
"Sebab kami mau, saudara-saudara, supaya kamu tahu akan penderitaan yang kami alami di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami. Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati."

Bagi anda penggemar karya William Shakespeare, kalimat "To be or not to be, that is the question" tentu tidak asing lagi. Kalimat yang sangat terkenal ini berasal dari naskah sandiwara Hamlet yang legendaris. Kalimatnya populer, tetapi tidak banyak yang mengetahui artinya atau untuk apa kalimat itu ditujukan. Jika membaca naskahnya atau pernah melihat drama di panggung atau layar lebar, anda akan tahu bahwa kalimat itu diucapkan oleh sang tokoh utama, seorang pangeran bernama Hamlet. Kalimat ini muncul ketika ia merasakan kepedihan luar biasa sewaktu pamannya membunuh ayahnya, dan menikahi ibunya. Begitu sakit rasanya, hingga ia sempat berpikir haruskah ia terus hidup ("to be") atau mengakhiri saja hidupnya, ("or not to be").

Apakah anda pernah atau mungkin sedang merasakan rasa sakit dan penderitaan yang begitu hebat yang rasanya tidak lagi tertahankan? Ada kalanya dalam hidup ini kita merasakan rasa sakit yang tidak terperi, begitu perihnya sehingga kita mulai merasa putus asa dan kehilangan harapan. Kenyataannya ada banyak orang yang memilih seperti Hamlet, yaitu mengakhiri hidupnya karena tidak tahan lagi menderita. Tapi sikap berbeda bisa kita temukan dari Paulus. Seorang Paulus yang dikenal militan dalam menjalankan tugasnya mewartakan Injil setelah bertobat pada suatu ketika merasakan hal ini. Tekanan begitu berat. Ancaman ia dapati dimana-mana. Dia didera, ditangkap, diancam akan dibunuh. Paulus pernah merinci berbagai penderitaan yang ia alami dalam pelayanannya. "..Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut. Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut. Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu. Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian." (2 Korintus 11:-23-27). Sehebat-hebatnya dan sekuat-kuatnya Paulus, tekanan bertubi-tubi ini pada suatu ketika pun membuatnya lemah. Ia mengakui hal itu kepada jemaat di Korintus. "Sebab kami mau, saudara-saudara, supaya kamu tahu akan penderitaan yang kami alami di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami. Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati." (2 Korintus 1:8-9a). Sebagai manusia biasa sama seperti kita, Paulus pun pernah mengalami keputus-asaan. Bedanya, ia tidak membiarkan dirinya dikuasai rasa putus asa dan kehilangan harapan terus menerus. Paulus dengan cepat mengubah fokusnya. Ia kembali kepada pemikiran positif yang berpegang sepenuhnya kepada Allah. Paulus mampu melihat sisi lain dari sebuah penderitaan, yaitu sebagai pelajaran agar kita tidak bergantung kepada diri sendiri melainkan kepada Tuhan. "Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati." (ay 9b).

Penderitaan memang menyakitkan, dan terkadang ketika itu terasa begitu berat, kita merasa tidak sanggup lagi memikulnya. Tapi seperti yang terjadi pada Paulus, Tuhan sesungguhnya telah memberikan kasih karuniaNya secara cukup, yang akan memampukan kita untuk bisa bertahan ketika sedang berjalan dalam lembah penderitaan. "Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku." (2 Korintus 12:9). Renungkanlah. Justru dalam tekanan beratlah sebenarnya kita bisa melihat kuasa Tuhan yang sempurna. Dalam kelemahan kitalah kita akan mampu menyaksikan kuasa Tuhan yang sesungguhnya, yang mampu menjungkirbalikkan segala logika manusia.
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)