Author Topic: renungan harian online  (Read 124804 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

March 12, 2013, 05:37:09 AM
Reply #30
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_03_01_archive.html
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/mengemban-tanggung-jawab.html

Mengemban Tanggung Jawab

 Ayat bacaan: 1 Samuel 17:34-35
==========================
"Tetapi Daud berkata kepada Saul: "Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya..."

Seberapa besar kita berani menerima tanggung jawab? Ada banyak orang yang menolak peluang besar karena takut terhadap faktor resiko yang berada dibalik sebuah tanggung jawab yang besar. Di sisi lain ada pula orang yang nekad mengambil tanggung jawab besar tanpa berpikir dan tanpa persiapan. Ketika gagal mengemban tanggung jawab, mereka segera lari dari tanggung jawab mereka dengan segera. Para pejabat korup di negara kita tentu paling ahli akan hal ini. Mereka menerima tanggung jawab atau amanat dari rakyat tapi bukannya mengembannya dengan baik malah mempergunakannya sebagai kesempatan untuk meraup untung sebanyak-banyaknya dengan berbagai cara curang. Ketika ketahuan dan diblow-up media, mereka pun sebisa mungkin berkelit. Jika sepertinya kurang berhasil, maka jalan lari keluar negeri atau bersembunyi di negara lain pun menjadi alternatif yang mereka ambil.

Kita sering lupa bahwa dalam menerima sebuah amanat kita bukan saja bertanggung jawab terhadap orang, badan atau lembaga yang memberi, tetapi kita pun punya  tanggung jawab kepada Tuhan atas setiap amanat yang kita terima. Tanggung jawab terhadap Tuhan itu seharusnya lebih utama ketimbang hal lain. Kita mempertanggung jawabkan pekerjaan kita di depan sesama manusia, kelak kita pun harus mempertanggung jawabkannya di hadapan Tuhan. Jika di dunia ini kita bisa berkelit dengan cerdik, menyuap agar lepas dan sebagainya, nanti di hadapan Tuhan semua itu tidak akan ada gunanya. Sebuah amanat, besar atau kecil adalah tetap amanat yang harus kita pertanggung jawabkan sebaik mungkin. Seringkali ada pengorbanan dan berbagai hal yang bisa membuat kita khawatir atau bahkan takut, tetapi itu semua harus berani kita hadapi. Kabar baiknya, kita tidak dibiarkan menghadapinya sendirian, tetapi Tuhan sudah berjanji tidak akan meninggalkan kita dan akan menyertai kita dalam setiap langkah yang kita ambil.

Mari kita lihat saat kisah Daud muda yang bekerja sebagai penggembala kambing domba ayahnya. Dari beberapa ayat kita mengetahui bahwa Daud muda diperlakukan tidak sama seperti saudara-saudaranya yang lain. Ia dipekerjakan sebagai gembala oleh ayahnya, sementara beberapa dari saudaranya maju bertempur di garis depan sebagai prajurit Israel. Dibandingkan status prajurit, status gembala pada saat itu tidak ada apa-apanya. Tapi Daud tidak berkecil hati dengan pekerjaan itu. Berapa jumlah yang ia gembalakan saya tidak tahu pasti, tapi rasanya tidak banyak. Dan saya rasa ia pun tidak dibayar untuk itu. Meski tidak banyak dan tidak dibayar, perhatikan bagaimana keseriusan Daud dalam mempertanggung jawabkan pekerjaannya seperti yang ia utarakan kepada Saul. "Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya.." (1 Samuel 17:34-35). Lihatlah ia rela mempertaruhkan nyawanya demi sekumpulan domba, yang notabene hanyalah hewan. Di mata manusia mungkin itu merupakan hal yang aneh, bahkan bodoh. Untuk apa manusia harus rela mempertaruhkan nyawa demi hewan? Bukankah lebih baik jika ia lari saja dan membiarkan ternaknya dimangsa ketimbang harus beresiko seperti itu? Tapi tidaklah demikian bagi Daud. Ia rela menghadapi singa dan beruang dalam melakukan pekerjaannya. Ia tidak ingin satupun dari dombanya binasa, dan untuk itu ia harus siap berhadapan dengan maut.
March 12, 2013, 05:37:36 AM
Reply #31
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
Tuhan menghendaki kita untuk serius dalam melakukan segala hal, baik itu bekerja, belajar maupun aktivitas lainnya termasuk ketika melayani. Lihatlah seruan ini: "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia." (Kolose 3:23). Ini menyatakan bentuk kerinduan Tuhan agar anak-anakNya selalu bekerja dengan serius dan sungguh-sungguh. Bukan untuk manusia, tapi lakukanlah seperti melakukannya untuk Tuhan. That's the state He does want us to reach. Dalam pelayanan pun demikian. Ada banyak orang yang bersungut-sungut dan tidak serius jika hanya melayani sedikit orang, apalagi satu orang saja. Itu bukanlah gambaran yang diinginkan Tuhan untuk kita lakukan! Bacalah Lukas 15, ada tiga perumpamaan disana yang sudah tidak asing lagi bagi kita mengenai hal ini. "Perumpamaan tentang domba yang hilang" (ay 4-7), "Perumpamaan tentang dirham yang hilang" (ay 8-10) dan "Perumpamaan tentang anak yang hilang" (ay 11-32). Semua ini menunjukkan kerinduan Tuhan untuk menemukan kembali anak-anakNya yang hilang. Tidak peduli berapa yang kembali, meski hanya satu sekalipun, Tuhan akan sangat bersukacita. Bahkan dikatakan: "Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat." (ay 10). Satu jiwa bertobat, itu sudah merupakan kebahagiaan besar bagi Tuhan dan seisi Surga.

Lakukanlah apapun yang dikehendaki Tuhan bagi kita secara serius dan sungguh-sungguh, dan peganglah tanggung jawab dengan sebaik-baiknya.  Mungkin kita tidak mendapat upah sepantasnya menurut ukuran dunia, tapi bukankah Tuhan mampu memberkati kita lewat banyak hal? Mungkin apa yang kita terima tidak sebanding dengan jerih payah kita hari ini, tapi apakah tidak mungkin kelak kita akan menuai secara luar biasa? Atau tidakkah mungkin Tuhan menurunkan berkatNya dalam kesempatan lain? Bisa jadi ada banyak tekanan atau resiko dalam mengemban tanggung jawab, tetapi ketika kita melakukannya dengan sungguh-sungguh dan melakukannya dalam nama Kristus, Tuhan akan berada di atasnya, menjaga kita dari segala hal buruk dan membawa kita keluar sebagai pemenang. Segala sesuatu yang kita lakukan secara sungguh-sungguh dan sesuai dengan rencana Tuhan tidak akan pernah ada yang sia-sia. Firman Tuhan berkata: "Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia." (1 Korintus 15:58). Daud tahu itu, dan dia sudah membuktikannya sendiri. Lewat keteladanan Yesus pun kita bisa belajar mengenai hal yang sama. Kerjakanlah semuanya dengan sebaik-baiknya dalam nama Yesus, seriuslah dalam mengemban tanggung jawab dan  Tuhan akan memperhitungkan segalanya, tidak akan ada satupun yang jatuh sia-sia.

Sekecil apapun pekerjaan anda hari ini, lakukanlah dengan sebaik-baiknya dengan tanggungjawab penuh kepada Tuhan
March 13, 2013, 04:50:16 AM
Reply #32
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_03_01_archive.html
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/sikap-sombong.html

Sikap Sombong

Ayat bacaan: 1 Korintus 4:7 (BIS)
=======================
"Siapakah yang menjadikan Saudara lebih dari orang lain? Bukankah segala sesuatu Saudara terima dari Allah? Jadi, mengapa mau menyombongkan diri, seolah-olah apa yang ada pada Saudara itu bukan sesuatu yang diberi?"

Adakah alasan yang cukup untuk membuat kita punya hak untuk bersikap sombong? Mungkin kita akan tahu untuk menjawab tidak, tapi pada kenyataannya banyak orang yang dengan mudahnya bisa menunjukkan sikap itu ketika mereka merasa di atas angin. Ketika mereka hidup relatif lebih berlimpah dibanding orang lain pada umumnya, ketika mereka mendapatkan posisi-posisi atau jabatan yang tinggi, ketika berprestasi membanggakan, terkenal dan sebagainya. Ada pula yang menunjukkan sikap seperti itu hanya karena ingin dihormati orang lain atau malah untuk sekedar menjaga image saja. Itu jelas bukan merupakan gambaran dari kehidupan ideal orang percaya. Kalaupun kita termasuk beruntung memiliki sesuatu yang lebih dari orang lain pada umumnya, perlukah kita menyombongkan diri karenanya? Bukankah semua itu pun berasal dari Tuhan dan tidak pernah boleh dipakai untuk menjadikan kita pribadi yang angkuh, sombong, atau arogan?

Sebuah sikap sombong alias tinggi hati bertolak belakang dengan sikap rendah hati yang justru seharusnya diadopsi dalam kehidupan Kekristenan. Sikap ini sayangnya kerap muncul saat kita terlalu terlena dengan apa yang kita miliki, lantas secara berlebihan menyikapi keistimewaan talenta, kondisi atau keadaan  yang lebih dari orang lain. Tuhan dengan tegas menentang sikap seperti ini. Sebagai contoh kita bisa melihat sikap buruk dari jemaat Korintus dahulu kala ketika Paulus hadir disana.

Jemaat Korintus pada masa itu merupakan gambaran jemaat yang sombong. Ada banyak ayat yang mengindikasikan hal ini seperti yang bisa kita lihat beberapa kali dalam 1 Korintus 4:6-21, 5:2, 8:1, 13:4 dan lain-lain, dimana kita melihat Paulus memberikan teguran atas kesombongan mereka. Lihatlah misalnya dalam ayat ini. "Saudara-saudara, kata-kata ini aku kenakan pada diriku sendiri dan pada Apolos, karena kamu, supaya dari teladan kami kamu belajar apakah artinya ungkapan: "Jangan melampaui yang ada tertulis", supaya jangan ada di antara kamu yang menyombongkan diri dengan jalan mengutamakan yang satu dari pada yang lain". (1 Korintus 4:6). Mereka lupa akan jati diri mereka dan tenggelam dalam kesombongan, sehingga merasa tidak lagi memerlukan apa-apa, termasuk tidak lagi membutuhkan hamba Tuhan dalam hidup mereka. "Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?" (ay 7). Cukup keras bukan tegurannya? Dalam versi BIS dikatakan: "Siapakah yang menjadikan Saudara lebih dari orang lain? Bukankah segala sesuatu Saudara terima dari Allah? Jadi, mengapa mau menyombongkan diri, seolah-olah apa yang ada pada Saudara itu bukan sesuatu yang diberi?" Perilaku mereka menunjukkan seolah-olah mereka tidak lagi memerlukan apa-apa. "As if you are already filled and think you have enough (you are full and content, feeling no need of anything more)!" Itu yang tertulis dalam versi bahasa Inggris untuk ayat 8. Mereka lupa diri dan tidak lagi menyadari bahwa semua yang mereka miliki sesungguhnya berasal dari Tuhan, dan karenanya tidak boleh ada orang yang menyombongkan dirinya. Berulang kali pula Paulus pun mengingatkan dengan tegas bahwa keselamatan itu adalah pemberian Tuhan, (1:18, 15:10). Paulus mengingatkan mereka bahwa Tuhanlah yang memilih (1:27-28), mengaruniakan RohNya sendiri untuk menyingkapkan rahasia-rahasia Ilahi (2:10-12), serta memberikan berbagai anugerah atas kasih karuniaNya (1:4-5). Semua berasal dari Tuhan, dan kerenanya tidak seorangpun punya hak untuk menyombongkan diri.
March 14, 2013, 04:54:19 AM
Reply #33
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_03_01_archive.html
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/yefta-1.html

Yefta (1)

Ayat bacaan: Hakim Hakim 11:1
=========================
"Adapun Yefta, orang Gilead itu, adalah seorang pahlawan yang gagah perkasa, tetapi ia anak seorang perempuan sundal; ayah Yefta ialah Gilead."

Saya mengenal beberapa teman yang sempat tidak diinginkan untuk lahir. Kebanyakan alasannya adalah karena mereka hadir akibat kecelakaan dari hubungan diluar nikah, dan kedua orang tuanya tidak menginginkan kehadiran mereka karena merasa belum sanggup untuk memiliki anak. Ada yang sempat mengalami proses aborsi, tetapi ternyata Tuhan masih menghendaki mereka hidup. Tapi satu hal yang rata-rata sama, anak-anak yang tidak diinginkan ini tumbuh dengan kepahitan. Hidup mereka sulit untuk menjadi normal, dan ada  yang baru tahu belakangan karena hidupnya kacau, penuh rasa benci justru sebelum mereka mengetahui latar belakang mereka sendiri. Ada pula yang mengalami pertumbuhan tanpa mendapat kasih sayang dari orang tuanya. Mereka kerap dibanding-bandingkan dengan saudaranya yang lain, dikata-katai bodoh atau malah diberikan kepada orang lain sejak kecil. Proses menangani mereka biasanya butuh waktu lama, karena luka yang timbul sudah lama berada dalam diri mereka. Hanya beberapa dari mereka yang kemudian bisa mengampuni dan kemudian pulih dari kepahitan mereka. Sebagian lagi masih dalam proses, dan ada pula yang belum bisa lepas dari kepahitan mereka.

Apa yang menjadi kisah masa lalunya pernah pula dialami oleh seorang tokoh dalam Alkitab bernama Yefta. Nama ini mungkin tidak sering kita dengar, tapi ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari dirinya. Ia terlahir sebagai anak haram, hasil dari hubungan perzinahan sang ayah dengan seorang pelacur. Tentu tidak seorangpun ingin  dilahirkan dalam kondisi seperti itu, namun begitulah kenyataan yang harus ia terima.

Kisah Yefta dalam kitab Hakim Hakim dibuka dengan sebuah kenyataan kontras. "Adapun Yefta, orang Gilead itu, adalah seorang pahlawan yang gagah perkasa, tetapi ia anak seorang perempuan sundal; ayah Yefta ialah Gilead." (Hakim Hakim 11:1). Lihat pendahuluan kisah Yefta, menggambarkan bahwa Yefta, anak Gilead dan seorang pelacur. Kalau di jaman sekarang orang akan mengatakannya anak haram. Tetapi ia juga dikatakan terlebih dahulu sebagai pahlawan yang gagah perkasa. Kalau kita lihat dalam kitab Ibrani, penulisnya pernah pula menyinggung Yefta. "Dan apakah lagi yang harus aku sebut? Sebab aku akan kekurangan waktu, apabila aku hendak menceriterakan tentang Gideon, Barak, Simson, Yefta, Daud dan Samuel dan para nabi, yang karena iman telah menaklukkan kerajaan-kerajaan, mengamalkan kebenaran, memperoleh apa yang dijanjikan, menutup mulut singa-singa, memadamkan api yang dahsyat. Mereka telah luput dari mata pedang, telah beroleh kekuatan dalam kelemahan, telah menjadi kuat dalam peperangan dan telah memukul mundur pasukan-pasukan tentara asing." (Ibrani 11:32-34). Kita bisa lihat bahwa Yefta digolongkan ke dalam sekumpulan pahlawan/saksi iman bersama-sama dengan Daud, Samuel, Gideon, Barak dan Simson.
March 14, 2013, 04:54:39 AM
Reply #34
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
Mari kita lihat lebih jauh kisah hidupnya. Yefta adalah sosok "the unwanted child". Karena ia lahir dari hasil perzinahan, maka kedua orang tuanya mengusir Yefta. Pahit memang. Dia tidak meminta untuk dilahirkan. Justru ayahnya yang bersalah, tapi ia yang harus menanggung. "Katanya kepadanya: Engkau tidak mendapat milik pusaka dalam keluarga kami, sebab engkau anak dari perempuan lain." (Hakim Hakim 11:2). Maka Yefta yang sudah terlahir dalam kondisi tidak mengenakkan ini pun harus pula menanggung beban yang justru bukan karena kesalahannya. Ia terbuang, menanggung kebencian seisi keluarga dan masyarakat akibat perbuatan ayahnya yang harusnya tidak ditimpakan kepadanya. Tapi itulah yang terjadi. Ia dianggap tidak lebih dari sampah dan harus dibuang, hingga ia pun bergabung dengan segerombolan penjahat/perampok. (ay 3) Inilah hidup yang harus ia pikul akibat dosa ayahnya. Hidup begitu pahit, tapi sepahit apapun, ia memilih terus menjalaninya.

Pada suatu hari datanglah serangan terhadap bangsa Israel yang dilakukan oleh bani Amon. Bangsa Israel terancam lalu menjadi ketakutan. Rupanya rasa takut yang begitu besar ini membuat para tua-tua di Gilead tidak lagi punya malu untuk menjilat ludahnya sendiri. Mereka memutuskan untuk menjemput Yefta, memintanya menjadi panglima untuk memerangi bani Amon. Yefta yang pernah mereka singkirkan, kini diminta kembali untuk menjadi pemimpin mereka. Yefta bertanya: "Tetapi kata Yefta kepada para tua-tua Gilead itu: "Bukankah kamu sendiri membenci aku dan mengusir aku dari keluargaku? Mengapa kamu datang sekarang kepadaku, pada waktu kamu terdesak?" (ay 7). Dan setelah mendapat jawaban para tua-tua itu, kita pun melihat sesuatu yang menarik dilakukan Yefta, yang membawanya menjadi sosok pahlawan dengan nama harum yang dikenang sepanjang masa.

(bersambung)
March 15, 2013, 05:00:51 AM
Reply #35
March 16, 2013, 05:08:52 AM
Reply #36
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_03_01_archive.html
renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/surat-cinta-dari-tuhan.html

Surat Cinta dari Tuhan

Ayat bacaan: Mazmur 104:31
========================
"Biarlah kemuliaan TUHAN tetap untuk selama-lamanya, biarlah TUHAN bersukacita karena perbuatan-perbuatan-Nya!"

Berteman dengan banyak fotografer membuat saya bisa melihat foto-foto pemandangan yang unik dan sangat menakjubkan hasil jepretan mereka. Itu sangat berbeda jika saya yang memotret. Bukan saja karena gear atau perangkat kamera mereka yang hebat, tapi sebagai fotografer mereka bisa mengambil angle, menangkap momen, mengatur fokus dan sebagainya yang bisa menghasilkan sebuah fotografi yang bisa berbicara banyak mengenai keindahan. Banyak dari mereka yang pergi ke banyak tempat-tempat baru bahkan yang terpencil seperti hutan dan sebagainya untuk memotret alam disana, dan itu semua memang mencengangkan. Beda tempat, beda nuansanya, beda tumbuhannya dan beda indahnya. Sunset di Bali terlihat berbeda dengan sunset di atas gunung Bromo, itu misalnya. Bagi saya, foto-foto ini menjadi seperti sebuah surat cinta tersendiri dari Tuhan untuk kita, anak-anakNya.

Di tengah perjuangan kita di dunia ini, kita sering lupa menyadari bahwa alam semesta ini diciptakan Tuhan begitu indahnya. Bintang-bintang berkelip, bulan purnama, langit biru diselimuti awan putih, rerumputan hijau dengan bunga warna warni mekar dimana-mana dan sebagainya. Semua itu tentu sangat indah untuk kita nikmati, tapi kesibukan dan berbagai beban hidup membuat kita jarang punya waktu untuk menikmati hasil ciptaanNya yang indah itu. Kita seringkali terlalu sibuk kepada permasalahan kita, kita berkeluh kesah dan mengira Tuhan berlama-lama untuk melakukan sesuatu, padahal jika kita mau mengambil waktu sebentar untuk melihat sekeliling kita, maka kita akan menyadari bahwa Tuhan sebenarnya telah melakukan begitu banyak hal yang indah bagi kita. Seperti keindahan alam misalnya, bukankah itu juga berkat yang luar biasa dari Tuhan yang seharusnya kita syukuri?

Meski kamera belum ditemukan pada masa Daud, tapi mungkin apa yang dilihat Daud kurang lebih sama dengan apa yang ditangkap oleh para teman-teman fotografer lewat lensa kameranya. Ketika Daud menuliskan Mazmur 104 misalnya, mungkin ia sedang mengagumi keindahan alam yang tersaji di depannya. Rasanya itu yang ia alami pada saat itu karena dalam Mazmur ini ia menggambarkan keindahan alam ciptaan Tuhan dengan sangat puitis. Alam yang indah itu jelas merupakan buah tangan Tuhan, sebuah bukti keiahian Tuhan yang bisa kita saksikan dengan amat sangat nyata. Hal tersebut disinggung Paulus pada suatu kali. "Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih." (Roma 1:20). Daud begitu mengagumi apa yang ia lihat, sehingga ia pun berkata "Biarlah kemuliaan TUHAN tetap untuk selama-lamanya, biarlah TUHAN bersukacita karena perbuatan-perbuatan-Nya!" (Mazmur 104:31).

"Biarlah Tuhan bersukacita karena perbuatan-perbuatanNya, lewat ciptaan-ciptaanNya.." kata Daud. Tapi melihat apa yang terjadi hari-hari ini rasanya tidak akan bisa membuat Tuhan tetap bisa bersukacita lewat ciptaan-ciptaanNya. Lihatlah bagaimana manusia terus saja merusak kelestarian lingkungan. Buang sampah sembarangan, sungai-sungai tercemar limbah industri dan buangan dari rumah-rumah pemukiman penduduk, asap yang keluar dari knalpot kendaraan dan pabrik-pabrik, penebangan liar, semua itu merusak segala keindahan yang Tuhan sediakan bagi kita. Kerusakan lingkungan membuat dunia ini semakin lama semakin hancur. Manusia yang diciptakan Allah secara istimewa ternyata tidak menghargai dan mensyukuri karya Penciptanya. Mereka membuang dan merobek-robek surat cinta dari Tuhan. Selain merusak lingkungan, menghancurkan ekosistem dan lain-lain, manusia pun masih sanggup saling membinasakan satu sama lain. Padahal semua manusia ini ciptaan Tuhan, yang berharga dimataNya. Tapi di mata sesama manusia, nyawa itu tidaklah penting, letaknya masih sangat jauh di bawah ego dan kepentingan diri sendiri. Dia sudah begitu baik dengan menganugerahkan keselamatan kepada kita lewat Kristus, tapi kita begitu sulit untuk sekedar menghargai kebaikanNya. Jika semua ini terjadi, bagaimana Tuhan bisa bersukacita karena perbuatan-perbuatanNya?
March 16, 2013, 05:10:48 AM
Reply #37
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
Segala yang ada di alam semesta merupakan ciptaan Tuhan yang luar biasa indahnya. Itu adalah anugerah yang amat besar yang telah ia sediakan sebelum Dia menciptakan manusia, agar ketika manusia hadir, keindahan itu bisa dinikmati secara langsung. Tuhan menyatakan bahwa apa yang Dia ciptakan adalah baik. Tanaman, pohon-pohon berbuah, tunas-tunas muda, itu diciptakan dengan baik (Kejadian 1:11-12). Matahari, bulan dan bintang, cakrawala, semua itu diciptakan Tuhan dengan baik. (ay 14-18). Segala jenis hewan, baik burung-burung di udara, ikan-ikan di laut dan hewan-hewan darat, semua Dia ciptakan dengan baik. (ay 20-22). Dikatakan bahwa bumi beserta segala isinya adalah milik Tuhan (Mazmur 24:1), tapi otoritas untuk menguasai diberikan kepada kita. (Kejadian 1:28). Menguasai bukanlah berarti bahwa kita boleh bertindak semena-mena dan merusak seenaknya, it's not meant to be the right to be abusive, tapi justru sebaliknya, kita diminta untuk menjaga dan melestarikan alam dan lingkungan hidup. Tuhan menitipkan itu semua kepada kita. Idealnya kita bersyukur. Idealnya kita bersukacita bersama-sama dengan Tuhan menikmati segala keindahan itu. Tapi apakah kita sudah melakukannya? Apakah Tuhan bisa bersukacita atas segala ciptaanNya hari ini? Apakah surat cinta dari Tuhan itu sudah kita tanggapi dengan sepantasnya?

Foto yang diambil teman-teman fotografer saya adalah gambaran kasih Tuhan yang sungguh besar buat kita. It's the love letter from God. Saya bersyukur jika hari ini masih bisa melihat alam yang indah seperti itu dari berbagai belahan dunia lewat jepretan mereka. Apakah anak cucu kita kelak masih bisa menyaksikannya? Tuhan menitipkan milikNya kepada kita untuk dikelola, dijaga, dilestarikan dan dikembangkan. Jika kita mau melakukannya, disanalah Allah akan bersukacita melihat seluruh ciptaanNya di muka bumi ini dapat saling bekerjasama dalam menghormati hasil karyaNya yang agung. Jika anda melihat sekeliling anda hari ini dan masih mendapati sesuatu yang indah, bersyukurlah untuk itu dan mari kita jaga bersama-sama agar anak cucu kita kelak masih bisa menyaksikan keindahan seperti yang kita lihat saat ini.

Alam yang indah merupakan milik Tuhan yang dititipkan kepada kita untuk dilestarikan
March 17, 2013, 04:11:41 AM
Reply #38
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_03_01_archive.html
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/lagu-merdu-tanpa-makna.html

Lagu Merdu Tanpa Makna

Ayat bacaan: Yehezkiel 33:32
======================
"Sungguh, engkau bagi mereka seperti seorang yang melagukan syair cinta kasih dengan suara yang merdu, dan yang pandai main kecapi; mereka mendengar apa yang kau ucapkan, tetapi mereka sama sekali tidak melakukannya."

Suka terhadap sebuah lagu belum tentu menjamin kita untuk menangkap makna dibalik lirik dari lagu tersebut. Banyak dari kita yang mungkin hanya menyukai rangkaian melodi yang tersusun dari musiknya saja tanpa mempedulikan lirik atau bahkan judulnya. Seorang teman misalnya, hanya menyukai lagu barat dari melodi dan beatnya karena ia tidak mengerti bahasa Inggris. Ada juga yang memang tidak menganggap penting lirik yang terkandung meski hafal dengan lagu tersebut. Sebagai pendengar atau penikmat lagu, kita pun bisa memilih apakah kita mau memperhatikan lirik-liriknya dan kemudian melakukan apa yang dinyanyikan, atau hanya menyukai musiknya tanpa memperhatikan apa yang dikatakan disana. Bicara soal syair atau lirik lagu, isinya bisa bermacam-macam. Ada yang berisi pesan yang membangun, inspirasional, ada pula yang mengajarkan hal-hal jahat. Apapun bentuknya, kita sendiri yang memutuskan apakah kita memperhatikan isi lagu itu dengan cermat atau tidak. Seyogyanya kita bisa mendapat bahan perenungan, pelajaran dari lagu-lagu yang berisi pesan yang baik atau setidaknya termotivasi untuk hal-hal baik lewat pesan tersebut, sebaliknya menjaga agar tidak terpengaruh pesan-pesan yang buruk. Tetapi sekali lagi semua tergantung dari kita, karena kita pun bisa saja hanya menjadi pendengar pasif yang cuma menikmati melodi atau merdunya suara yang bernyanyi tanpa mempedulikan isinya.

Saat ini bagaimana kerajinan anda dalam membaca Firman Tuhan yang ada di dalam Alkitab? Banyak di antara kita yang punya keinginan untuk semakin dekat dan taat lagi kepada Tuhan, dan itu bisa dibangun lewat ketekunan kita dalam mendalami Firman Tuhan. Adalah sangat baik jika kita rajin membaca Firman, karena itu akan membuat kita terhubung dengan Tuhan, mendengar suaraNya, mengenal pribadi Tuhan dan mengetahui kehendakNya sehingga lebih kuat menghadapi kesulitan-kesulitan yang mungkin menghadang di depan. Tapi akan jauh lebih baik lagi agar kita tidak berhenti sampai di situ saja. Sebab alangkah sia-sianya jika kita hanya membaca dan menganggap firman-firman itu bagaikan "lagu merdu" yang terdengar indah tapi tanpa makna, karena tidak ada iman yang menyertai kita dalam menerima Firman-Firman Tuhan tersebut. Hanya berhenti sampai membaca tapi tidak menjadi pelaku Firman itu akan menjadikan semuanya sia-sia saja. Dan Yakobus sudah mengingatkan hal itu. "Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri." (Yakobus 1:22).

Ada yang hanya suka membaca Firman tapi terlalu malas untuk meresapi dan merenungkan, apalagi melakukan. Dalam beribadah, ada banyak orang yang suka mendengar kotbah tapi tidak mau melakukan. Mereka senang dan tertawa ketika kotbah terdengar lucu tapi tidak berminat menangkap esensi Firman Tuhan yang terkandung di dalam kotbah tersebut, atau malah hanya pindah tidur saja. Tidaklah heran jika sejam setelahnya mereka ini sudah lupa dengan apa yang dikotbahkan, alih-alih mewujudkan Firman yang disampaikan dalam kehidupan sehari-hari. Yehezkiel adalah seorang nabi yang pernah mengalami hal tersebut pada masanya. Ia berbicara dan terus berbicara pada sekelompok orang yang suka mendengar tapi tidak mau melakukan. Dan Tuhan pun berkata pada Yehezkiel: "Dan mereka datang kepadamu seperti rakyat berkerumun dan duduk di hadapanmu sebagai umat-Ku, mereka mendengar apa yang kauucapkan, tetapi mereka tidak melakukannya; mulutnya penuh dengan kata-kata cinta kasih, tetapi hati mereka mengejar keuntungan yang haram. Sungguh, engkau bagi mereka seperti seorang yang melagukan syair cinta kasih dengan suara yang merdu, dan yang pandai main kecapi; mereka mendengar apa yang kau ucapkan, tetapi mereka sama sekali tidak melakukannya." (Yehezkiel 33:31-32). Jemaat yang ada di depan Yehezkiel waktu itu suka mendengar pesan Tuhan. Mereka duduk berkerumun seperti kita yang tengah mengikuti ibadah hari Minggu di gereja. Mereka familiar dengan suara Tuhan, bahkan mereka bisa mengatakan kata-kata berisikan cinta kasih, tetapi sesungguhnya semua itu hanya berhenti di telinga dan paling jauh di bibir saja. Mereka terus mencari keuntungan dengan hal-hal yang haram, mereka tetap tidak menuruti atau melakukan Firman yang mereka dengar tersebut. Apa yang mereka perbuat dalam kehidupan nyata mereka sehari-hari tidaklah mencerminkan apa yang mereka dengar sama sekali. Mereka hanya suka mendengar Yehezkiel menyampaikan Firman Tuhan, tapi semua berlalu begitu saja.
March 17, 2013, 04:12:40 AM
Reply #39
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
Ingatlah bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong (Yakobus 2:20), bahkan dikatakan berarti mati. (ay 26). Adalah baik apabila kita rajin membaca Firman Tuhan, tapi jauh lebih baik lagi jika kita mau melakukannya. Menjadi pelaku Firman akan membuat iman kita hidup dan mengalami Tuhan dalam setiap langkah kita. Ini merupakan hal yang penting karena kita tidak tahu bagaimana kondisi yang akan kita hadapi dalam setahun ke depan. Dunia semakin sulit, hidup semakin sulit. Dengarlah pesan Kristus berikut ini: "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya." (Matius 7:24-27).

Perhatikan bahwa Yesus tidak berhenti pada perkataan "mendengar", tapi melanjutkan kalimat dengan "melakukannya". Inilah yang akan membuat kita kokoh, kuat, tegar dan mampu bertahan menghadapi badai kesulitan yang menghadang di depan. Kita tidak perlu takut akan masa depan, karena bagi orang yang mendengar dan melakukan selalu ada jaminan penyertaan Tuhan. Di dalam Kristus selalu ada pengharapan, pertolongan dan keselamatan. Perhatikan bahwa janji Tuhan ini tidak tergantung dari besar kecilnya masalah, tidak tergantung dari tingkat kesulitan yang harus kita hadapi. Tidak ada hal yang mustahil bagi Tuhan, dan Dia sanggup mengangkat kita tinggi-tinggi melewati kesulitan ekonomi dan kesulitan lainnya yang sedang menimpa dunia. Jangan berhenti hanya pada komitmen untuk lebih rajin membaca Alkitab, tapi miliki tekad untuk melakukan Firman Tuhan dengan lebih dalam pula. Berjalanlah dan hiduplah sebagai pelaku firman agar kita semua mampu melewati hari-hari kita dengan penuh sukacita bersama Tuhan.

Jangan biarkan Firman Tuhan berlalu hanya bagai lagu yang merdu tanpa makna, tetapi hidupilah dalam setiap langkah yang kita ambil
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)