Author Topic: renungan harian online  (Read 124798 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

March 18, 2013, 04:59:09 AM
Reply #40
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_03_01_archive.html
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/the-three-little-pigs.html

The Three Little Pigs

Ayat bacaan: Matius 7:25
=====================
"Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu."

Anda tentu tidak asing lagi dengan sebuah kartun Walt Disney yang berjudul "The Three Little Pigs". Kartun pendek yang diproduksi tahun 1933 ini menceritakan kisah tentang tiga babi kecil bersaudara yang harus membangun tempat perlindungan paling aman dari ancaman seekor serigala jahat yang ingin memangsa mereka. Ketiganya sama-sama membangun rumah dengan bahan baku dan cara yang berbeda. Kedua babi yang paling kecil menganggap remeh sang serigala dan malah bernyanyi lagu yang mungkin masih anda ingat berjudul "Who's Afraid of the Big Bad Wolf?". Yang satu membangunnya dari jerami. Cepat, ringkas dan murah.  yang kedua memilih bahan dasar kayu, yang lebih kokoh tapi memerlukan modal dan waktu yang lebih lama. Anak babi tertua memilih untuk membangun dengan batu bata dan semen. Kedua adiknya yang membangun dengan jerami dan kayu tentu pekerjaannya lebih cepat selesai sehingga mereka sempat menertawakan saudara tertuanya yang masih tekun menumpuk batu bata demi batu bata dan menyatukannya dengan semen secara perlahan. Tapi si abang tertua tetap dengan tekun membangun tanpa mempedulikan cemoohan adik-adiknya. Pada satu hari serigala jahat pun datang. Rumah dari tumpukan jerami dengan mudah diluluh lantakkan dengan sekali hembus, dan kaburlah si adik terkecil dengan ketakutan. Ia lari berlindung di rumah kakaknya yang dibangun dari kayu. Ternyata rumah kayu itu juga masih mudah dirobohkan oleh si serigala jahat. Seketika mereka berdua berhamburan ketakutan, dan akhirnya bersembunyi ke rumah abang tertuanya. Di sana mereka aman dari kejaran serigala jahat karena sang serigala tidak mampu merubuhkan rumah yang kokoh dibangun di atas dasar kuat.

Ada makna penting yang terkandung di dalam kartun pendek ini yang sangat alkitabiah. Seperti halnya tiga babi kecil, demikianlah kita dalam kehidupan harus senantiasa mewaspadai iblis yang terus mengaum-aum mencari mangsa. (1 Petrus 5:8). Untuk mengahadapi itu, dasar yang kita pilih untuk menghindari serangan iblis itu tentu menjadi sangat penting. Apa yang harus kita lakukan? Apakah cukup dengan rajin mendengar Firman Tuhan? Alkitab berkata tidak cukup. Seperti yang sudah saya bahas kemarin, Yesus mengingatkan kita bahwa sekedar mendengar tidaklah cukup. Ada banyak di antara kita yang sejak lahir sudah dengan setia beribadah ke Gereja, rajin mendengar kotbah, kerap mengunjungi kebaktian-kebaktian rohani, membaca buku-buku rohani atau membeli CD/kaset/DVD kotbah, namun ternyata mereka masih belum menunjukkan pribadi yang sesuai dengan apa yang telah bertahun-tahun mereka pelajari dan dengar.

Perumpamaan singkat mengenai "Dua Macam Dasar" yang diajarkan oleh Yesus sendiri menggambarkan hal ini dengan jelas. Yesus berkata: "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya." (Matius 7:24-27).

Mari kita telaah bunyi ayat ini. Perhatikan bahwa kedua orang yang membangun rumah ini sama-sama orang yang mendengar perkataan Yesus. Artinya keduanya adalah orang yang sudah menerima Yesus dan mengetahui pengajaranNya. Tapi ada perbedaan nyata di antara keduanya. Keduanya sama-sama mendengar, tapi hanya satu yang mempraktekkannya dalam hidup, sementara yang satu berhenti pada mendengar saja. Akibatnya, ketika hujan dan banjir masalah datang, si orang bijaksana yang melakukan apa yang telah ia dengar tidak tergoncang dan tidak rubuh karena didirikan di atas batu yang kokoh. Sebaliknya si orang yang bodoh yang mendirikan kehidupannya di atas pasir, hidupnya akan rubuh dan porak poranda karena pondasi dan ketahanannya tidak cukup kuat. Perumpamaan sederhana yang sangat singkat ini merupakan penutup dari rangkaian kotbah Yesus di atas bukit. Memang singkat, namun maknanya sungguh dalam dan sangat penting sehingga patut kita cermati baik-baik dalam proses perjalanan kehidupan kita di dunia ini.
March 18, 2013, 04:59:33 AM
Reply #41
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
Yesus mengingatkan bahwa apa yang telah Dia katakan, Dia ajarkan, Dia firmankan hendaklah tidak berhenti hanya pada sebatas mendengar saja, melainkan justru harus dilanjutkan dengan melakukannya, mempraktekkannya dalam hidup sehari-hari. Yakobus mengingatkan agar kita menjadi para pelaku firman. "Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu. Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri...Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya." (Yakobus 1:21-25). Sebuah kehidupan yang kokoh haruslah diletakkan di atas dasar Yesus Kristus, Sang Batu Penjuru. (Efesus 2:20). Lalu lihat pula ayat berikut: "Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus." (1 Korintus 3:11). Kehidupan yang dibangun dasar iman kuat dalam Kristus akan kokoh dari segala situasi. Untuk mencapai itu, kita harus melakukan lebih dari sekedar pendengar yang baik. Kita harus menjadi pelaku firman, menerapkan segala Firman Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Dengan membangun di atas dasar Kristus, kita tidak akan gampang goyah ketika angin ribut, badai hujan dan banjir datang menerpa kita. Kita akan tetap kuat, tetap penuh oleh ucapan syukur, tidak harus kehilangan sukacita dan berubah menjadi takut karena kita bukan hanya mendengar, tapi sudah melakukannya dalam kehidupan kita. Setiap Firman yang kita aplikasikan secara nyata itu seperti kita menumpuk satu batu kokoh dalam membangun rumah kita. Satu persatu batu itu kita susun hingga kita pun akhirnya bisa membangun hidup di atas sebuah dasar kokoh dengan tembok yang kokoh pula. Itu akan membuat kita aman dari keadaan sesulit apapun yang terjadi dalam kehidupan kita. Pemahaman akan Firman Tuhan, rajin beribadah, rajin mendengar kotbah, rajin membaca buku-buku rohani, rajin membaca Alkitab, semua itu adalah sungguh baik, namun tidaklah cukup untuk menghasilkan sebuah kedewasaan rohani dan pertumbuhan iman yang baik. Itu juga tidak akan cukup untuk mengatasi berbagai persoalan, kecuali dengan mempraktekkan dan menerapkannya dalam kehidupan kita sehari-hari secara nyata. Hidup tidaklah hanya ditentukan oleh pengalaman, kekayaan, pendidikan, status dan sebagainya,tetapi yang terpenting adalah di atas dasar apa kita membangunnya. Seperti kisah ke tiga anak babi di atas, kita memang tidak perlu takut kepada iblis, tapi bukan berarti bahwa kita boleh mengabaikan dan menyepelekan ancamannya sehingga kita menjadi lengah dan lemah. Perhatikan betul di atas dasar apa kita membangun kehidupan dan iman kita, karena itu akan menentukan sejauh mana kita akan bisa tetap aman hingga akhir.

Jangan berhenti jadi pendengar, jadilah pelaku Firman
March 19, 2013, 04:55:56 AM
Reply #42
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_03_01_archive.html
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/cinta-dan-relatifnya-waktu.html

Cinta dan Relatifnya Waktu

Ayat bacaan: Kejadian 29:20
======================
"Jadi bekerjalah Yakub tujuh tahun lamanya untuk mendapat Rahel itu, tetapi yang tujuh tahun itu dianggapnya seperti beberapa hari saja, karena cintanya kepada Rahel."

Kecepatan waktu itu sama dari dahulu sampai sekarang, dan berlaku sama pula bagi semua orang tanpa terkecuali. Tapi perasaan kita dalam merasakan cepatnya waktu berjalan bisa berbeda-beda, tergantung apa yang sedang kita alami atau rasakan. Ketika anda tengah terkantuk-kantuk dalam ibadah raya di gereja atau merasa kotbah yang disampaikan membosankan, waktu rasanya begitu lama berlalu. Tapi ketika anda antusias mendengarkannya, apalagi kalau pendetanya punya cara yang menyenangkan dalam menyampaikan Firman Tuhan, maka anda pun akan merasa waktu berjalan dengan sangat cepat. Ketika sedang menunggu atau mengantri, waktu terasa begitu lambat berjalan. Begitu juga bagi anda yang masih kuliah atau sekolah, pelajaran yang bagi anda membosankan akan membuat waktu terasa berjalan begitu lambat. Tapi sebaliknya waktu terasa begitu cepat ketika kita sedang mengerjakan sesuatu yang menyenangkan. Kita sering lupa waktu ketika sedang bermain, ngobrol dengan sahabat dan sebagainya. Apalagi ketika sedang bersama kekasih, waktu terasa seperti berlari sprint saja. Baru saja bertemu, tiba-tiba sudah harus berpisah. Waktu seakan begitu kencang berjalan. Sebaliknya ketika anda tengah menanti antrian, waktu bisa terasa panjang.

Berbicara mengenai cinta dan waktu, sangat menarik melihat sekelumit kisah percintaan antara Yakub dan Rahel yang tertulis dalam Kejadian 29. Ayat bacaan hari ini diambil dari pasal tersebut, bunyinya: "Jadi bekerjalah Yakub tujuh tahun lamanya untuk mendapat Rahel itu, tetapi yang tujuh tahun itu dianggapnya seperti beberapa hari saja, karena cintanya kepada Rahel." (Kejadian 29:20). Bukan tujuh jam, bukan tujuh hari, tapi tujuh tahun lamanya Yakub harus bekerja di rumah Laban, ayah Rahel agar bisa menjadikan pujaannya sebagai istri. Tujuh tahun itu merupakan waktu yang sangat lama. Jika kita bisa menggerutu di saat menunggu antrian dua jam saja, bayangkan jika harus bekerja cuma-cuma untuk menanti sebuah harapan hingga tercapai. Tapi Yakub nyatanya melakukan itu dengan senang hati. Apa yang menggerakkannya? Ayat tersebut secara jelas menyebutkan alasannya, yaitu "karena cintanya kepada Rahel". Karena cinta. Betapa relatifnya waktu itu bagi kita. Yakub merasa tujuh tahun itu bagaikan beberapa hari saja, dan adalah dorongan cinta yang bisa membuat waktu itu serasa cepat berlalu. Cinta ternyata dapat memperpendek waktu. Meskipun waktu dalam keadaan nyata waktu berjalan sama cepatnya bagi setiap manusia, tapi waktu bisa terasa seolah cepat atau lambat, tergantung perasaan kita. Yang jelas, jatuh cinta bisa membuat waktu terasa sangat pendek. Saya yakin kita semua pun pernah merasakan hal yang sama ketika tengah jatuh cinta.

Kalau dalam hubungan antar manusia hal itu bisa kita rasakan, bagaimana dengan hubungan kita dengan Tuhan? Terasa singkat atau lamakah rasanya waktu yang kita gunakan untuk bersekutu dengan Tuhan di saat-saat teduh kita? Misalnya setengah jam saja sehari saja yang kita pergunakan secara teratur untuk bersaat teduh, terasa cepat atau lambatkah itu bagi kita? Apakah kita memiliki kerinduan terus menerus untuk bersekutu denganNya atau malah sekarang terasa membosankan? Ini adalah pertanyaan yang sesungguhnya sangat penting dan sangat menentukan seperti apa kuatnya kita berjalan dalam hidup ini dan dimana kita berdiri saat ini.
March 19, 2013, 04:56:17 AM
Reply #43
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
Kekuatan dan kesetiaan kasih Tuhan bagi kita sesungguhnya sudah jelas. Tuhan selalu rindu berada dekat dengan kita. Dia sudah berulang-ulang berjanji tidak akan pernah meninggalkan kita, dan Tuhan selalu dan akan selalu memegang janjinya. Jika dalam lembah kekelaman saja Tuhan tidak meninggalkan kita, bagaimana mungkin Dia membiarkan kita sendiri menghadapi berbagai kesulitan hidup? Yakobus menyadari hal itu. Karenanya ia pun menyatakan "Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu." (Yakobus 4:8a). Daud sudah membuktikan itu jauh sebelumnya. Kita bisa melihat bagaimana keintiman atau kekariban yang terbangun antara Daud dengan Tuhan hampir disepanjang kitab Mazmur. Terasa begitu harmonis, begitu dekat, begitu indah. Lihatlah bagaimana Daud menggambarkan kedekatannya dengan Tuhan. "Sebab kasih setia-Mu lebih baik dari pada hidup; bibirku akan memegahkan Engkau." (Mazmur 63:3). Bagi Daud, kasih setia Tuhan lebih besar dari hidup itu sendiri. It's larger than life. Jika anda mencintai seseorang dengan begitu besar, hingga rela mengorbankan nyawa anda sekalipun demi dia, Tuhan mengasihi anda seperti itu. Kehadiran Yesus untuk menebus dosa-dosa kita menjadi bukti yang tidak terbantahkan. Jika anda merasa waktu berjalan singkat ketika anda tengah berada dekat dengan orang yang anda cintai, seharusnya seperti itu pula yang anda rasakan dalam setiap momen-momen pribadi yang anda ambil untuk bersekutu dengan Tuhan.

Apa yang penting untuk kita renungkan adalah sejauh mana saat ini kita mengasihi Tuhan, yang sudah mengasihi kita sedemikian besar terlebih dahulu justru di saat kita masih berdosa. "Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa." (Roma 5:8). Kita diangkat menjadi anak-anakNya sejak semula oleh Kristus, dan itu merupakan bentuk kasih Tuhan yang nyata bagi kita. "Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya." (Efesus 1:5-6). Kalau begitu, sekarang semuanya tergantung kita sendiri. Mari kita periksa diri kita apakah kita masih merasakan kasih mula-mula atau sebenarnya tanpa kita sadari kasih kita itu sudah mulai mendingin atau membeku? Apakah saat ini anda masih merasakan gairah dalam bersaat teduh atau merasa bosan, terpaksa atau bahkan sering tertidur? Apakah anda masih mengisi banyak waktu dengan doa sebagai saluran dialog dengan Tuhan atau merasa bahwa itu bukan lagi hal yang penting dibandingkan aktivitas-aktivitas lainnya sehari-hari? Dari ukuran kecepatan waktu yang kita rasakan ketika bersekutu dengan Tuhan  sebenarnya kita bisa mengetahui dimana posisi kita saat ini. Bila kasih kita kepada Tuhan berkobar-kobar, setengah jam akan terasa terlalu singkat. Sedangkan jika kasih itu mulai pudar, maka setengah jam akan terasa sangat lama dan seperti buang-buang waktu. Bagi yang mulai merasa jauh dari Tuhan, mulai kehilangan motivasi, kehilangan semangat untuk bersekutu denganNya, Tuhan masih membuka kesempatan untuk berbenah. "Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat." (Wahyu 4:5). Ini saatnya kita pulihkan kembali kasih mula-mula kita. Kembalilah miliki kasih yang begitu besar, menggelora dan berkobar kepada Tuhan, dan rasakan kembali betapa waktu seolah terlalu singkat bagi kita dalam menikmati kedamaian berada di hadiratNya yang kudus.

Cepat lambatnya waktu bisa terasa sangat relatif, tergantung dari perasaan kita
March 20, 2013, 05:01:37 AM
Reply #44
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_03_01_archive.html
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/membuka-mata.html

Membuka Mata

Ayat bacaan: Mazmur 119:18
=====================
"Singkapkanlah mataku, supaya aku memandang keajaiban-keajaiban dari Taurat-Mu."

Berjalan dengan dan tanpa Firman Tuhan setiap hari sangatlah berbeda. Ini bisa menjadi kesimpulan saya karena saya telah merasakan keduanya dalam perjalanan hidup saya. Dahulu sebelum saya bertobat saya sama sekali tidak mengetahui apa-apa mengenai kebenaran. Lantas setelah saya bertobat, saya ternyata masih butuh waktu lagi untuk dibentuk hingga akhirnya sampai kepada sebuah kesadaran penuh akan pentingnya hidup bersama Firman Tuhan. Apa yang saya alami selama setidaknya empat atau lima tahun terakhir bersama Firman Tuhan tidaklah sedikit. Ada begitu banyak pengalaman dimana saya bisa melihat betapa besarnya kuasa Tuhan, dan bagaimana Tuhan ternyata masih bekerja dalam begitu banyak hal hingga hari ini. Berbagai mukjizat yang menunjukkan kebesaranNya pun sudah tak terhitung saya alami. Masalah hidup memang tidak serta-merta hilang seluruhnya. Ada saat-saat dimana saya masih berhadapan dengan berbagai pergumulan. Tapi luar biasanya, saya tidak perlu khawatir tentang apapun. Ketika saya menyerahkan hidup saya dan keluarga ke dalam tanganNya, saya tahu bahwa saya tidak akan pernah menghadapi apa-apa sendirian. Tuhan selalu ada berjalan bersama-sama. Luar biasanya lagi, ada begitu banyak rahasia yang disingkapkanNya seiring perjalanan saya menulis renungan buat anda setiap harinya. Ayat yang sama aplikasinya bisa berbeda di waktu lain, dan hebatnya sangat-sangat membantu dalam menghadapi masa-masa sulit. Ada begitu banyak rahasia-rahasia KerajaanNya yang disingkapkan Tuhan lewat ayat demi ayat, yang akan sayang sekali jika terlewatkan begitu saja. Itu akan kita lewatkan apabila kita mengabaikan pentingnya untuk terus membaca, merenungkan dan menghidupi FirmanNya setiap hari secara teratur.

Ada banyak orang percaya yang tidak menyadari pentingnya hidup bersama Firman Tuhan ini. Jikapun harus membaca Alkitab, tidak sedikit orang yang hanya membacanya selintas saja tanpa direnungkan, dicerna apalagi dilakukan secara nyata atau aplikatif dalam kehidupan sehari-hari. Padahal apa yang terkandung di dalam Firman Tuhan itu sungguh luar biasa. Ada kuasa Ilahi dibalik setiap Firman Tuhan yang bukan saja sanggup menjawab segala permasalahan kita tetapi juga mampu menghasilkan sesuatu yang bahkan tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Kita perlu membuka mata, baik sepasang mata yang kita pergunakan untuk membaca maupun mata hati kita agar bisa melihat keajaiban demi keajaiban yang terkadung di balik setiap Firman Tuhan. Pemazmur menyadari pentingnya hal itu. Lihatlah doa Pemazmur berikut: "Singkapkanlah mataku, supaya aku memandang keajaiban-keajaiban dari Taurat-Mu." (Mazmur 119:18). Versi bahasa Inggrisnya berbunyi: "Open my eyes, that I may behold wondrous things out of Your law." Saya menyukai ayat ini dan sering saya bawa dalam doa. Bukan saja agar saya bisa mendapat penyingkapan Tuhan di balik FirmanNya untuk dibagikan kepada teman-teman, tetapi juga berguna bagi saya untuk terus memperbaiki diri agar bisa bertumbuh lebih lagi dari hari ke hari.
March 20, 2013, 05:02:01 AM
Reply #45
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
Semakin banyak dan semakin dalam kita mengenal Firman Tuhan itu bermakna mengenal pribadi Tuhan lebih jauh. Semakin lama kita akan semakin menyadari betapa besarnya kasih Tuhan kepada kita, betapa Tuhan peduli dan telah mempersiapkan segala pedoman atau panduan yang kita butuhkan untuk bisa terus hidup sesuai kehendakNya hingga selamat sampai di akhir. Paulus mengatakan hal ini dengan jelas. "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran." (2 Timotius 3:16). Dan lewat segala yang diilhamkan Allah dalam alkitab ini kita bisa diperlengkapi dengan sempurna pula untuk setiap pekerjaan yang baik. "Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik." (ay 17). Kita tidak akan bisa mengetahui kebenaran yang hakiki apabila kita tidak menganggap serius pentingnya untuk berakar dalam FirmanNya dalam menghadapi kehidupan di muka bumi ini.

Firman Tuhan itu penting, begitu penting sehingga dikatakan lebih tajam dari pedang bermata dua manapun. "Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita." (Ibrani 4:12). Firman Tuhan memiliki kekuatan, keajaiban, dan kuasa yang sangat besar, yang alangkah sayangnya apabila kita abaikan. Oleh karena itu jangan pernah malas membaca Firman Tuhan. Teruslah bertekun di dalamnya, renungkan, perkatakan dan lakukan. Jika itu yang kita buat, maka kuasa Firman Tuhan itu akan begitu nyata bagi kita. Firman Tuhan telah disediakan secara lengkap untuk menjadi panduan bagi kita untuk menjalani hidup. Ada banyak tuntunan, arahan, nasihat, teguran, pelajaran, contoh dan berbagai hal lainnya yang akan sangat berguna bagi kita yang hidup di dunia yang sulit ini. Ada banyak janji Tuhan dan penunjuk jalan agar kita tahu bagaimana untuk terus melangkah menuju keselamatan. Dan ada banyak keajaiban dan rahasia-rahasia Kerajaan Allah yang akan membuat kita tidak pernah berhenti terpesona di dalamnya. Jangan abaikan Firman Tuhan, jangan sepelekan. Galilah terus dan temukanlah berbagai hal menakjubkan yang terkandung dalam setiap Firman yang mengandung kebenaran yang berasal dari Tuhan.

Merujuklah kepada Alkitab dalam menjalani segala aspek kehidupan
March 21, 2013, 04:58:34 AM
Reply #46
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_03_01_archive.html
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/membuka-mata.html

Membuka Mata

Ayat bacaan: Mazmur 119:18
=====================
"Singkapkanlah mataku, supaya aku memandang keajaiban-keajaiban dari Taurat-Mu."

Berjalan dengan dan tanpa Firman Tuhan setiap hari sangatlah berbeda. Ini bisa menjadi kesimpulan saya karena saya telah merasakan keduanya dalam perjalanan hidup saya. Dahulu sebelum saya bertobat saya sama sekali tidak mengetahui apa-apa mengenai kebenaran. Lantas setelah saya bertobat, saya ternyata masih butuh waktu lagi untuk dibentuk hingga akhirnya sampai kepada sebuah kesadaran penuh akan pentingnya hidup bersama Firman Tuhan. Apa yang saya alami selama setidaknya empat atau lima tahun terakhir bersama Firman Tuhan tidaklah sedikit. Ada begitu banyak pengalaman dimana saya bisa melihat betapa besarnya kuasa Tuhan, dan bagaimana Tuhan ternyata masih bekerja dalam begitu banyak hal hingga hari ini. Berbagai mukjizat yang menunjukkan kebesaranNya pun sudah tak terhitung saya alami. Masalah hidup memang tidak serta-merta hilang seluruhnya. Ada saat-saat dimana saya masih berhadapan dengan berbagai pergumulan. Tapi luar biasanya, saya tidak perlu khawatir tentang apapun. Ketika saya menyerahkan hidup saya dan keluarga ke dalam tanganNya, saya tahu bahwa saya tidak akan pernah menghadapi apa-apa sendirian. Tuhan selalu ada berjalan bersama-sama. Luar biasanya lagi, ada begitu banyak rahasia yang disingkapkanNya seiring perjalanan saya menulis renungan buat anda setiap harinya. Ayat yang sama aplikasinya bisa berbeda di waktu lain, dan hebatnya sangat-sangat membantu dalam menghadapi masa-masa sulit. Ada begitu banyak rahasia-rahasia KerajaanNya yang disingkapkan Tuhan lewat ayat demi ayat, yang akan sayang sekali jika terlewatkan begitu saja. Itu akan kita lewatkan apabila kita mengabaikan pentingnya untuk terus membaca, merenungkan dan menghidupi FirmanNya setiap hari secara teratur.

Ada banyak orang percaya yang tidak menyadari pentingnya hidup bersama Firman Tuhan ini. Jikapun harus membaca Alkitab, tidak sedikit orang yang hanya membacanya selintas saja tanpa direnungkan, dicerna apalagi dilakukan secara nyata atau aplikatif dalam kehidupan sehari-hari. Padahal apa yang terkandung di dalam Firman Tuhan itu sungguh luar biasa. Ada kuasa Ilahi dibalik setiap Firman Tuhan yang bukan saja sanggup menjawab segala permasalahan kita tetapi juga mampu menghasilkan sesuatu yang bahkan tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Kita perlu membuka mata, baik sepasang mata yang kita pergunakan untuk membaca maupun mata hati kita agar bisa melihat keajaiban demi keajaiban yang terkadung di balik setiap Firman Tuhan. Pemazmur menyadari pentingnya hal itu. Lihatlah doa Pemazmur berikut: "Singkapkanlah mataku, supaya aku memandang keajaiban-keajaiban dari Taurat-Mu." (Mazmur 119:18). Versi bahasa Inggrisnya berbunyi: "Open my eyes, that I may behold wondrous things out of Your law." Saya menyukai ayat ini dan sering saya bawa dalam doa. Bukan saja agar saya bisa mendapat penyingkapan Tuhan di balik FirmanNya untuk dibagikan kepada teman-teman, tetapi juga berguna bagi saya untuk terus memperbaiki diri agar bisa bertumbuh lebih lagi dari hari ke hari.
March 21, 2013, 04:58:55 AM
Reply #47
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
Semakin banyak dan semakin dalam kita mengenal Firman Tuhan itu bermakna mengenal pribadi Tuhan lebih jauh. Semakin lama kita akan semakin menyadari betapa besarnya kasih Tuhan kepada kita, betapa Tuhan peduli dan telah mempersiapkan segala pedoman atau panduan yang kita butuhkan untuk bisa terus hidup sesuai kehendakNya hingga selamat sampai di akhir. Paulus mengatakan hal ini dengan jelas. "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran." (2 Timotius 3:16). Dan lewat segala yang diilhamkan Allah dalam alkitab ini kita bisa diperlengkapi dengan sempurna pula untuk setiap pekerjaan yang baik. "Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik." (ay 17). Kita tidak akan bisa mengetahui kebenaran yang hakiki apabila kita tidak menganggap serius pentingnya untuk berakar dalam FirmanNya dalam menghadapi kehidupan di muka bumi ini.

Firman Tuhan itu penting, begitu penting sehingga dikatakan lebih tajam dari pedang bermata dua manapun. "Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita." (Ibrani 4:12). Firman Tuhan memiliki kekuatan, keajaiban, dan kuasa yang sangat besar, yang alangkah sayangnya apabila kita abaikan. Oleh karena itu jangan pernah malas membaca Firman Tuhan. Teruslah bertekun di dalamnya, renungkan, perkatakan dan lakukan. Jika itu yang kita buat, maka kuasa Firman Tuhan itu akan begitu nyata bagi kita. Firman Tuhan telah disediakan secara lengkap untuk menjadi panduan bagi kita untuk menjalani hidup. Ada banyak tuntunan, arahan, nasihat, teguran, pelajaran, contoh dan berbagai hal lainnya yang akan sangat berguna bagi kita yang hidup di dunia yang sulit ini. Ada banyak janji Tuhan dan penunjuk jalan agar kita tahu bagaimana untuk terus melangkah menuju keselamatan. Dan ada banyak keajaiban dan rahasia-rahasia Kerajaan Allah yang akan membuat kita tidak pernah berhenti terpesona di dalamnya. Jangan abaikan Firman Tuhan, jangan sepelekan. Galilah terus dan temukanlah berbagai hal menakjubkan yang terkandung dalam setiap Firman yang mengandung kebenaran yang berasal dari Tuhan.

Merujuklah kepada Alkitab dalam menjalani segala aspek kehidupan
March 22, 2013, 04:52:45 AM
Reply #48
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_03_01_archive.html
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/air-dan-api-1.html

Air dan Api (1)

Ayat bacaan: Yesaya 43:2-3a
=====================
"Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau."

Mana yang lebih parah, mati tenggelam atau terbakar? Ini pertanyaan yang cukup menjebak, karena tentu saja keduanya sama-sama tidak enak dan menyakitkan. Seringkali dalam menghadapi permasalahan hidup kita berhadapan dengan situasi-situasi dimana kita merasa 'tercekik' seperti orang yang tenggelam atau perih bagaikan terbakar api. Yang lebih menyakitkan lagi adalah ketika kita merasa menghadapinya hanya sendirian saja. itu adalah salah satu ketakutan yang terbesar manusia yang sudah dialami oleh begitu banyak orang. Betapa menyakitkan ketika harus menghadapi masalah sendirian tanpa teman, saudara, keluarga dan lain-lain.Mungkin benar bahwa kita tidak bisa sepenuhnya berharap kepada orang lain untuk menolong kita setiap kali kita menghadapi masalah. Tapi apakah benar kita memang sendirian? Are we really alone when we are in the times of trouble? Alkitab tidak pernah mengatakan demikian. Ada Tuhan yang sudah berjanji tidak akan pernah meninggalkan kita, dan kita tahu bahwa Dia akan selalu setia terhadap janjiNya.

Situasi yang begitu sulit hingga bisa membuat orang kehilangan akal dan putus asa bahkan terasa mengerikan ketika berhadapan dengan air dan api keduanya pernah digambarkan di dalam Alkitab, yaitu dalam kisah pelarian bangsa Israel yang terbentur pada bentangan Laut Teberau dan Sadrakh, Mesakh dan Abednego yang menghadapi ancaman dibakar hidup-hidup karena menolak menyembah berhala.
March 22, 2013, 04:53:09 AM
Reply #49
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
Pertama mari kita lihat kisah indah penyelamatan Tuhan terhadap bangsa Israel ketika tengah terjepit antara laut yang membentang luas dengan ratusan bala tentara Firaun yang mengejar dari belakang dalam kitab Keluaran pasal 14. Situasi seperti itu tak pelak membuat siapapun termasuk bangsa Israel pada waktu itu panik. Mereka berpikir bahwa itulah akhir pelarian mereka. Sebentar lagi tentara Firaun akan mendapati mereka di tepi laut dan mereka semua pasti akan dibantai habis oleh bala tentara yang besar itu. Tapi lihatlah apa yang terjadi kemudian. Laut Teberau terbelah sehingga mereka bisa berjalan di tengah-tengah laut di tempat kering. Air menjadi tembok buat mereka (ay 15 - 22). Selanjutnya ketika bala tentara Firaun mengejar hingga ke tengah laut, air pun kembali berbalik ke posisi semula dan menenggelamkan Firaun dan seluruh pasukannya. (ay 26-28). Mereka pun akhirnya selamat sampai ke seberang (ay 30). Dengan kuasaNya yang ajaib Tuhan membuat air laut terbelah, berdiri tegak bak dinding di kedua sisinya, sehingga orang Israel bisa berjalan melintasi lautan yang terbelah bagaikan berjalan di tanah yang kering. Tidak masuk akal, tetapi nyata. Sebagai bukti kuatnya, kisah ini pun disebutkan berulang kali dalam kitab-kitab lainnya dalam rentang masa yang jauh sesudah kejadian tersebut seperti dalam Mazmur 106:7-12 dan Nehemia 9:9-11.

Selanjutnya mari kita lihat sejenak kisah Hanaya, Misael dan Azarya yang juga dikenal dengan nama Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Kisah ini tertulis dalam kitab Daniel. Mereka menghadapi ancaman kematian dengan cara mengerikan jika masih terus mempertahankan iman mereka dan menolak menyembah berhala-berhala Babel dan rajanya. Menghadapi ancaman, Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab: "Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini.Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu." (Daniel 3:16-18). Sadrakh, Mesakh dan Abednego menolak menyembah berhala-berhala yang menjadi tuhan bangsa Babel, dan akibatnya merekapun dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala. Tapi apa yang kemudian terjadi? Sadrakh, Mesakh dan Abednego disertai malaikat dan tidak cedera sedikitpun. Apa yang mereka alami bahkan menjadi kesaksian luar biasa akan kuasa Tuhan yang mereka sembah. (ay 24-30).

(bersambung)
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)