Author Topic: renungan harian online  (Read 128442 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

March 23, 2013, 04:53:09 AM
Reply #50
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20198
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_03_01_archive.html
renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/air-dan-api-2.html

Air dan Api (2)

 (sambungan)

Sebuah ayat yang menarik bisa kita baca di dalam kitab Yesaya. Disana dikatakan: 
"Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau." (Yesaya 43:2-3a).

Air dan api, demikian dua elemen yang dipakai dalam ayat tersebut, itu menggambarkan penderitaan atau kesulitan-kesulitan yang kita lalui dalam hidup kita. Dalam menghadapi gelombang air yang ganas atau di tengah nyala api yang panas, Tuhan ternyata menjanjikan penyertaanNya yang menyelamatkan. Ada kalanya kita memang harus melalui air yang terkadang bisa berombak tinggi atau terkadang harus menempuh api yang panas. Tetapi Tuhan berkata bahwa meski harus menyeberang air kita tidak akan hanyut, dan kalaupun harus melalui api kita tidak akan terbakar. Tuhan menjanjikan penyertaanNya yang menyelamatkan. Seperti itulah janji Tuhan, dan itu menunjukkan dengan jelas bahwa dalam kondisi sesulit apapun Tuhan tetap ada bersama kita, dan Dia siap untuk selalu melindungi kita.

Kembali kepada kisah Tuhan yang membelah Laut Teberau agar bangsa Israel bisa selamat dari kejaran pasukan Mesir pimpinan Firaun, dalam Keluaran 15:1-21 kita bisa melihat bunyi nyanyian Musa bersama dengan bangsa Israel yang selamat. "Karena nafas hidung-Mu segala air naik bertimbun-timbun; segala aliran berdiri tegak seperti bendungan; air bah membeku di tengah-tengah laut." (ay 8). Dengan kuasa yang tak terbatas Tuhan membuat hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Dia membelah air hingga berdiri pada kedua sisi bagai tembok, dan disanalah kemudian bangsa Israel berjalan bagai melintasi tanah kering. Dalam ayat 19 kita bisa membacanya: "Ketika kuda Firaun dengan keretanya dan orangnya yang berkuda telah masuk ke laut, maka TUHAN membuat air laut berbalik meliputi mereka, tetapi orang Israel berjalan di tempat kering dari tengah-tengah laut." Itulah bukti kasih setia Tuhan yang sungguh nyata. Bangsa Israel sudah mengalaminya, dan jika demikian, mengapa tidak buat kita?
March 23, 2013, 04:53:30 AM
Reply #51
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20198
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
Berkali-kali Tuhan sudah mengingatkan kita akan penyertaanNya. Lihatlah Firman Tuhan ketika Yosua baru diangkat menggantikan Musa. "Seorangpun tidak akan dapat bertahan menghadapi engkau seumur hidupmu; seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau." (Yosua 1:5). Lalu Penulis Ibrani pun mengingatkan hal yang sama: "Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau." (Ibrani 13:5b). Yesus sendiri juga berkata: "Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:20b). Demkian seringnya Tuhan mengulangi hal yang sama, itu menunjukkan bahwa janji ini adalah sesuatu yang sangat penting untuk selalu kita ingat.

Gelombang air pasang mungkin tengah kita hadapi atau sewaktu-waktu harus kita lewati. Nyala api yang panas pada suatu ketika tidak bisa kita hindari. Tuhan tidak berjanji bahwa kita bisa hidup 100% tanpa kesulitan, tetapi Tuhan berjanji bahwa apapun yang kita hadapi tidak akan membinasakan kita. Seperti apa yang terjadi pada bangsa Israel, Tuhan sanggup membelah lautan masalah sehingga kita bisa melewatinya bagai berjalan di tanah kering dan sampai ke ujungnya dengan selamat. Demikian pula ketika berhadapan dengan api, kita bisa melewatinya tanpa terbakar, seperti yang dialami oleh Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Masalah boleh datang, tetapi ingatlah bahwa kita tidak pernah sendirian menghadapinya. Jika anda tengah berhadapan dengan situasi seperti itu, datanglah kepadaNya dan percayakan semuanya ke dalam tanganNya. Lakukan segalanya tepat seperti yang telah Tuhan firmankan, dan anda akan menyaksikan bagaimana kuasa Tuhan yang tak terbatas itu sanggup membawa anda melintasi masalah dengan penuh kemenangan.

Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan yang akan senantiasa menyertai kita
March 24, 2013, 04:57:46 AM
Reply #52
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20198
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_03_01_archive.html
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/perdamaian.html

Perdamaian

Ayat bacaan: Roma 12:18
========================
"Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!"

Rasanya semua orang tentu menginginkan kehidupan dunia yang damai. Tidak ada peperangan, tidak ada kerusuhan, tidak ada kekerasan, kejahatan dan tidak ada perselisihan. Bayangkan betapa indahnya jika semua manusia hidup berdampingan secara harmonis. Tidak ada yang mengedepankan perbedaan tapi mencari persatuan di atas keragaman. Itu bentuk dunia yang diimpikan oleh banyak orang. Sayangnya itu hanyalah utopia saja, karena ada banyak sekali orang yang berhenti hanya pada bermimpi dan berharap. Dalam menjalani kehidupannya mereka masih menerapkan begitu banyak sekat-sekat pembatas. Mereka terus fokus pada perbedaan dan akibatnya hidup dikuasai permusuhan. Ada pula yang bahkan bertindak lebih jauh dengan menghalalkan kekerasan terhadap orang-orang yang berbeda pandangan dengan mereka. Apakah itu didasari oleh perbedaan keyakinan, perbedaan ideologi, perbedaan suku, bangsa, budaya, perbedaan pendapat, dan lain-lain, semua itu akan semakin mempersulit terciptanya kedamaian. Make love not war, slogan yang kencang dikumandangkan di akhir tahun 60 an sampai awal 70an ketika Amerika memutuskan perang terhadap Vietnam, lalu ada pula slogan peace on earth, akhirnya berhenti hanya sebatas slogan dan harapan yang tidak akan pernah bisa diwujudkan.

Kita berharap hidup dalam tatanan dunia yang damai. Tapi pikirkanlah, apakah mungkin kita mencapai dunia yang damai jika kita yang hidup di dalamnya tidak pernah bisa belajar untuk berdamai? Apakah sekat-sekat pembatas yang kita ciptakan akan membantu membuat dunia semakin baik? Apakah betul ada kalanya Tuhan menginginkan kita untuk saling bermusuhan berdasarkan segala perbedaan itu? Apakah memang Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda karakter, sifat dan sebagainya dengan tujuan agar kita hidup bermusuhan? Tentu tidak. Tuhan tidak hanya penuh kasih, tapi Dia adalah kasih itu sendiri. (1 Yohanes 4:16). Jika demikian, tentu tidak ada alasan apapun bagi kita yang percaya kepadaNya untuk menciptakan berbagai bentuk permusuhan di muka bumi ini.
March 24, 2013, 04:58:12 AM
Reply #53
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20198
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
Serangkaian pesan penting Paulus buat perdamaian tercatat pada Roma 12:9-21. Jangan pura-pura baik (ay 9), saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului memberi hormat (ay 10), berkomitmen menolong orang yang kesusahan (ay 13), memberkati yang jahat kepada kita, dan dilarang mengutuk (ay 14), memiliki empati terhadap orang lain (ay 15), hidup rukun dan rendah hati (ay 16), tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan dengan kebaikan (ay 17,21), tidak menuntut balas (ay 19), tetap memberi bantuan bahkan kepada musuh sekalipun (ay 20). Ini pesan luar biasa yang menggambarkan bentuk ajaran Tuhan Yesus yang penuh kasih. Mari kita lihat ayat berikut ini: "Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!" (Roma 12:18). Perhatikan bahwa tidak ada diajarkan untuk membenci orang yang berbeda keyakinan. Kita tidak diajarkan untuk tidak membalas salam, malah dianjurkan untuk lebih dulu menyampaikan salam. Kita tidak diajarkan untuk menutup mata atas kesulitan hidup mereka yang berbeda kepercayaan, tapi kita diminta untuk membantu dan ber-empati. Kita tidak diijinkan untuk bergembira atas penderitaan orang lain, bahkan yang dianggap musuh sekalipun. Tidak boleh mengutuk, namun harus memberkati mereka. Kesimpulannya adalah, kehidupan penuh damai di dunia ini baru memungkinkan untuk terjadi jika komponen penting pengisi dunia, yaitu kita, manusia, mau memulai dari diri kita sendiri untuk belajar hidup rukun dan damai dengan semua orang, tanpa terkecuali.

Ketika banyak orang belum mampu menghayati hakekat perdamaian dalam kehidupan untuk mencapai dunia yang lebih baik, ketika masih banyak orang yang lebih memilih jalan-jalan permusuhan dan kekerasan, perdamaian dunia hanyalah akan menjadi sebuah utopia belaka. Dan apabila kita orang percaya saja masih menerapkan permusuhan, bukan hanya terhadap orang lain tapi bahkan terhadap sesama kita sendiri, jangan bermimpi kita bisa memiliki sebuah dunia yang penuh kedamaian. Sebagai anak-anak terang, hendaklah kita mulai dari diri kita sendiri terlebih dahulu untuk menerapkan bentuk kasih yang penuh damai dengan orang-orang disekitar kita. Semua haruslah dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu. Sedapat mungkin, selama kita masih bisa, selama itu tergantung kita, berdamailah dengan semua orang. Hanya dengan demikian kita bisa menunjukkan bentuk kasih seperti yang diajarkan Kristus secara nyata kepada sesama, dan hanya demikian kita bisa turut serta untuk memperbaiki dunia yang carut marut kondisinya agar bisa menjadi tempat yang lebih baik untuk kita tinggali.

Runtuhkan tembok permusuhan dan ulurkan persahabatan dengan semua orang
March 25, 2013, 05:01:54 AM
Reply #54
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20198
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_03_01_archive.html
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/home-heaven-on-earth-or-hell-break-lose.html

Home: Heaven on Earth or Hell Break Lose? (1)

Ayat bacaan: Yakobus 3:16
======================
"Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat."

Bagaimana perasaan anda di rumah hari ini? Apakah anda betah dan nyaman atau justru malas untuk pulang? Apakah rumah terasa hangat dan nyaman atau malah begitu panas sehingga anda tidak tahan berada di dalamnya?
Rumah bisa menjadi tempat yang ternyaman dan terhangat bagi kita, tapi sebaliknya bisa pula menjadi tempat terpanas di muka bumi ini. It can be like heaven on earth, but can also be hell break lose. Ada rumah tangga yang tingkat pertengkarannya begitu parah sehingga hubungan menjadi hambar atau bahkan menjadi pahit. Tidak lagi ada kasih di rumah, sehingga pulang ke rumah pun menjadi alternatif paling akhir, kalau sudah terpaksa saja. Bahkan tidak jarang yang kemudian dengan ringan berkata bahwa tidak ada lagi rasa kepada pasangannya. Bagaimana kata-kata seperti itu mungkin keluar dengan mudah dari orang yang sudah memutuskan untuk menikah, menjadi satu dengan pasangannya? Tapi semakin lama hal seperti ini semakin dianggap lumrah terjadi dalam keluarga. Tidak heran jika tingkat perceraian pun semakin lama semakin tinggi. Berbagai alasan dikemukakan, bahkan tidak sedikit pula yang berani-beraninya menyalahkan Tuhan dengan mengatakan bahwa sudah merupakan takdir Tuhan bahwa mereka harus bercerai. Tuhan yang menyatukan, tapi Dia pula yang menginginkan perceraian di antara ciptaanNya? Masuk akalkah itu?

Rumah biasanya merupakan tempat dimana kita bisa sebebasnya menjadi diri sendiri. Ketika di luar, kita biasanya memperhatikan betul untuk menjaga image, juga menjaga perasaan orang lain. Ada dorongan untuk menjaga perilaku dan sikap terhadap orang lain. Namun ketika berada bersama keluarga sendiri, jika tidak hati-hati kita bisa tergoda untuk bertindak seenaknya. Kita bisa lebih mementingkan hak istimewa yang serakah daripada menjalankan kewajiban. Kita tidak lagi menganggap penting untuk melakukan hal-hal yang digariskan Tuhan untuk dilaksanakan dalam keluarga. Tidakkah kita sering melihat bahwa orang-orang yang begitu ramah, penuh canda, ceria dan royal di luar ternyata di rumah menjadi sosok egois, pemarah dan pelitnya bukan main terhadap keluarga sendiri? Atau orang yang selalu tersenyum dan baik di luar menjadi bagai petinju atau petarung di rumah? Singkatnya, ada banyak orang yang menganaktirikan keluarganya sendiri, lebih peduli terhadap perasaan orang lain ketimbang istri/suami dan anak-anaknya. Di rumah sifat aslinya keluar, dan itu bukanlah sifat asli yang baik. Seringkali manusia terjebak untuk lebih banyak menuntut penghargaan dan penghormatan, untuk dikasihi, daripada mengasihi. Jika itu yang terjadi, tidaklah mengherankan apabila suasana rumah menjadi panas.
March 25, 2013, 05:02:27 AM
Reply #55
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20198
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
Rumah tangga Kristen seharusnya jauh dari bentuk-bentuk demikian. Orang percaya yang sudah terlanjur melakukannya seharusnya sadar bahwa semua itu harus berubah. Yakobus mengatakan "Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat." (Yakobus 3:16). Ayat ini tidak saja berlaku dalam hubungan kita dengan orang lain di luar, tapi terlebih lagi berlaku dalam hubungan dalam rumah tangga. Ketahuilah bahwa dalam pernikahan sesungguhnya Tuhan sendiri yang langsung memateraikan hubungan antara suami dan istri. Itu adalah bentuk ikatan yang kuat, begitu kuatnya sehingga Firman Tuhan mengatakan bahwa tidak ada satupun manusia yang berhak memutuskannya. "Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia." (Matius 19:6). Ini bentuk hubungan dua menjadi satu, begitu menyatunya sehingga dikatakan selayaknya menjadi satu daging. (ay 5). Dengan demikian, ketika kita menyakiti pasangan kita, bukankah itu artinya sama saja dengan menyakiti diri sendiri?

Keharmonisan dan kesepakatan dalam keluarga adalah hal mutlak yang harus bisa kita capai. Sayangnya hal ini menjadi semakin langka di jaman sekarang, dimana suami dan istri seringkali memilih jalannya sendiri-sendiri. Padahal Tuhan Yesus dengan tegas berkata "Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka." (Matius 18:19-20). Ini adalah bentuk kuasa dari kesepakatan yang begitu penting, dan seharusnya bekerja dalam hidup setiap pasangan kristiani. Maka sudah selayaknya pasangan-pasangan yang dimateraikan langsung oleh Tuhan ini tidak boleh membiarkan pertengkaran berada di dalam rumah.

(bersambung)
March 27, 2013, 04:33:31 AM
Reply #56
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20198
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_03_01_archive.html
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/home-heaven-on-earth-or-hell-break-lose_24.html

Home: Heaven on Earth or Hell Break Lose? (2)

(sambungan)

Kasih menjadi kunci yang sangat vital disini. Dan lihatlah apa saja yang terdapat di dalam sebuah kasih itu seperti yang disampaikan Paulus kepada jemaat Korintus. "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu." (1 Korintus 13:4-7). Semua elemen ini apabila anda terapkan di rumah tentu akan mampu membuat suasan rumah yang nyaman, hangat dan penuh cinta. Jangan lupa pula pesan penting lainnya tentang bagaimana besarnya peran kasih itu. "Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa" (1 Petrus 4:8). "For love covers a multitude of sins [forgives and disregards the offenses of others]."  Kasih bisa menutupi banyak sekali dosa. Seberapa jauh kita mengingat hal itu? Pertengkaran sesungguhnya meruntuhkan perisai iman, menghambat hasil doa dan yang lebih parah bisa mengundang iblis ke tengah-tengah rumah tangga. Amsal 17:14 berkata "Memulai pertengkaran adalah seperti membuka jalan air". Seperti yang belum lama saya bahas, perselisihan sekecil apapun bisa tidak terkendali dan akhirnya bisa menghancurkan. Pertengkaran di rumah akan melumpuhkan kuasa Tuhan dalam hidup kita.

Jangan pernah membiarkan iblis merusak keharmonisan rumah tangga anda dengan membiarkan pertengkaran atau perselisihan bercokol di dalamnya. Rumah tangga selayaknya menjadi tempat di mana terdapat hubungan yang harmonis, saling dukung, saling support, dimana kasih menjadi dasar yang kuat di dalamnya. Berlakulah bijaksana dan adil, jangan bersikap otoriter dan menuntut perlakuan berlebihan dari pasangan anda. Pasangan kita adalah sosok yang akan melengkapi dan menyempurnakan kita, mengisi berbagai kekurangan kita untuk menjadi lebih baik lagi. Pasangan bukanlah sosok yang pantas untuk dijadikan "sansak tinju", kambing hitam atau tempat kita menumpahkan emosi seenaknya. Singkatnya Firman Tuhan memberikan gambaran "Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya." (Efesus 5:33). Dan ingatlah pesan ini: "Hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri." (Filipi 2:2-3). Ini pesan yang penting agar kuasa Tuhan tidak terhalang dan doa-doa yang kita panjatkan bisa menemukan jawaban. Yakobus mengatakan dimana ada iri hati dan egoisme, disanalah akan timbul kekacauan dan segala macam perbuatan jahat. Tetapi sebaliknya, "hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik." (Yakobus 3:17). Itulah bentuk kebijaksanaan yang berasal dari atas, yang seharusnya mengisi kehidupan setiap pasangan dalam rumah tangga masing-masing. "Dan buah yang terdiri dari kebenaran ditaburkan dalam damai untuk mereka yang mengadakan damai." (ay 18).

Apakah rumah tangga anda saat ini termasuk heaven on earth atau hell break lose? Hari ini mari kita belajar untuk lebih lagi membangun keharmonisan dan kehangatan dalam rumah, sehingga anda akan selalu rindu untuk segera pulang ke rumah karena disanalah anda akan merasakan kedamaian dan kenyamanan tak terhingga. Jangan jadikan rumah tangga sebagai tempat memanjakan ego diri sendiri dan melakukan segala sesuatu seenaknya. Jadikan rumah tangga kita sebagai contoh bagaimana hangat dan damainya sebuah hubungan yang memiliki kasih dan damai Kristus di dalamnya.

Let God's values live at our home, let's have peace at home
March 27, 2013, 04:34:26 AM
Reply #57
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20198
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_03_01_archive.html
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/menjadi-terang-di-dunia-usaha-dan.html

Menjadi Terang Di Dunia Usaha dan Pekerjaan (1)

Ayat bacaan: Daniel 6:2-3
=====================
"Lalu berkenanlah Darius mengangkat seratus dua puluh wakil-wakil raja atas kerajaannya; mereka akan ditempatkan di seluruh kerajaan; membawahi mereka diangkat pula tiga pejabat tinggi, dan Daniel adalah salah satu dari ketiga orang itu; kepada merekalah para wakil-wakil raja harus memberi pertanggungan jawab, supaya raja jangan dirugikan."

Sebagai orang percaya kita diminta untuk bangkit dan menjadi terang, sebab terang Tuhan sudah terbit atas kita. Ini dikatakan dalam Yesaya 60:1. Dimana kita bisa menjadi terang ketika terang kemuliaan Tuhan itu terbit atas kita? Tentu saja kita bisa memulainya dari lingkungan sekitar kita, dan itu termasuk pula dalam dunia pekerjaan dimana kita ditempatkan. Kita harus paham bahwa ditempat kita bekerja, berusaha dan menjalankan profesi kita, ada banyak jiwa yang membutuhkan terang Tuhan. Ini yang sering kita lupakan. Kita berpikir bahwa menjadi terang itu hanya bisa dilakukan lewat pelayanan-pelayanan di gereja atau persekutuan, tetapi kita lupa bahwa di tempat kita bekerja (market place) pun kita harus pula bisa menjadi terang yang memberkati banyak orang.

Akan hal ini kita bisa belajar lewat Daniel, bagaimana melalui kehidupannya ia mampu membuat raja Darius pada akhirnya memerintahkan seluruh rakyatnya untuk takut dan gentar terhadap Allahnya Daniel.

Perhatikanlah ayat bacaan hari ini. "Lalu berkenanlah Darius mengangkat seratus dua puluh wakil-wakil raja atas kerajaannya; mereka akan ditempatkan di seluruh kerajaan; membawahi mereka diangkat pula tiga pejabat tinggi, dan Daniel adalah salah satu dari ketiga orang itu; kepada merekalah para wakil-wakil raja harus memberi pertanggungan jawab, supaya raja jangan dirugikan." (Daniel 6:2-3). Pada masa pemerintahan raja Darius, Daniel diangkat menjadi satu dari tiga pejabat tinggi yang bertugas mengawasi seratus dua puluh wakil raja. Diantara ketiga pejabat tinggi ini, raja bermaksud untuk mengangkat Daniel sebagai yang tertinggi (ay 4) sehingga itu menimbulkan iri di hati kedua pejabat lainnya. (ay 5). Mereka pun mencari akal untuk menjebak Daniel. Salah satunya adalah dengan memaksa raja membuat peraturan yang dapat menjadi perangkap buat Daniel, yaitu lewat hal ibadah Daniel kepada Allahnya. (ay 6). Raja Darius ternyata menyetujui untuk membuat peraturan itu tanpa mengerti rencana jahat dibelakangnya. Meski kelihatannya Daniel terperangkap dan akan kalah, tapi lihat bahwa Tuhan memunculkan kebenarannya dan membuat raja akhirnya mempermuliakan Allah Daniel.

Dari kisah singkat ini ada tiga hal yang bisa kita pelajari dan teladani dari Daniel.

1. Daniel tetap setia beribadah kepada Tuhan
Dikatakan dalam kitab Daniel bahwa ia setiap hari berlutut, berdoa dan memuji Tuhan tiga kali secara teratur. Hebatnya Daniel tetap setia melakukan itu meski muncul peraturan yang menghalanginya untuk beribadah. (ay 5-10). Meski ada hukuman yang harus ia terima, dan hukuman itu sangat mengerikan yaitu dilemparkan ke gua singa, ia tidak bergeming dalam hal iman dan kepercayaannya kepada Tuhan. Dalam lingkungan sehari-hari termasuk dalam lingkungan usaha dan pekerjaan kita, bisa saja ada tekanan-tekanan dan perlakuan tidak adil yang harus kita terima karena iman kita kepada Kristus. Bisa jadi ada tawaran-tawaran yang diberikan agar kita menyangkal iman kita atau setidaknya untuk tidak melakukan hal-hal sesuai Firman Tuhan. Seperti Daniel, hendaklah kita tetap setia meskipun mungkin kita harus menapak jalan yang lebih berat dan terjal. Apa yang akan menjadi ganjarannya apabila kita setia? Firman Tuhan berkata: "..Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan." (Wahyu 2:10). Lalu lihat pula pesan Paulus kepada Titus: "...hendaklah selalu tulus dan setia, supaya dengan demikian mereka dalam segala hal memuliakan ajaran Allah, Juruselamat kita." (Titus 2:10). Biarlah kita juga seperti Daniel yang tetap mempermuliakan tuhan dan melakukan Firman serta kehendakNya. Pada suatu ketika mereka yang menolak akan bisa melihat kebenaran apabila kita tetap dengan sungguh hati dan setia mengikuti kehendak Tuhan.

(bersambung)
March 28, 2013, 04:46:02 AM
Reply #58
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20198
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_03_01_archive.html
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/menjadi-terang-di-dunia-usaha-dan_26.html

Menjadi Terang Di Dunia Usaha dan Pekerjaan (2)

(sambungan)

2. Daniel tidak membalas kejahatan dengan kejahatan
Daniel tahu bahwa kedua pejabat tinggi lainnya yang notabene teman sekerja sendiri sedang menyediakan perangkap baginya. Tapi Daniel tidak tertarik untuk menyerang, mengkonfrontir atau membalas mereka. Bahkan ia tidak mengelak sama sekali karena ia terus mengandalkan Tuhan dengan sepenuh hati. Benar bahwa Alkitab mengatakan bahwa kita harus cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati di dunia yang jahat (Matius 10:16), tapi ingatlah bahwa cerdik tidaklah sama dengan kejahatan. Ada batas-batas yang tetap tidak boleh kita langgar supaya jangan sampai kita seolah-olah cerdik tetapi ternyata di mata Tuhan itu dinaggap sebagai sebuah kejahatan. Dalam Yesaya 53:7 dinubuatkan bahwa Yesus dalam menghadapi aniaya membiarkan diriNya ditindas, seperti domba yang kelu dibawa ke pembantaian. Itulah tepatnya yang terjadi. Dalam Roma 12 kita mendapati nasihat yang sama lewat Paulus. "Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang....Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya. Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!" (Roma 12:17-21). Lebih dari sekedar tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, kita justru diminta untuk memberkati, mengasihi dan mendoakan orang-orang yang berbuat jahat kepada kita. "Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu." (Matius 5:44)

3. Daniel tetap percaya dan mengandalkan Tuhan
Dalam Daniel 6:17 kita bisa melihat bahwa Daniel sempat dilemparkan ke gua singa. Jika kita menjadi Daniel, tentu itu merupakan saat-saat genting yang sangat berat bahkan mengerikan untuk dihadapi. Tapi kita bisa mengetahui bagaimana reaksi Daniel dalam menghadapi saat-saat genting antara hidup dan mati itu. Kita tahu bagaimana akhir kisah ini. Tapi sebelum itu terjadi, sangatlah menarik melihat apa yang dikatakan raja Darius sebelum Daniel dieksekusi. "Sesudah itu raja memberi perintah, lalu diambillah Daniel dan dilemparkan ke dalam gua singa. Berbicaralah raja kepada Daniel: "Allahmu yang kausembah dengan tekun, Dialah kiranya yang melepaskan engkau!" (ay 17). Darius adalah seorang raja yang sebenarnya tidak menyembah Allah Daniel yang hidup, tetapi ternyata ia bisa melihat bagaimana Daniel selama ini diberkati secara luar biasa oleh Allahnya. Itulah yang persisnya terjadi. Daniel tetap percaya meski dalam situasi hidup dan mati. Imannya tidak goyah sedikitpun, ia tetap percaya dan mengandalkan Tuhan meski situasinya sudah sedemikian gentingnya. Dan buah yang ia petik pada akhirnya pun manis. Allah Daniel, Allah kita semua adalah Allah yang hidup dan berkuasa atas segala sesuatu, dan berkuasa melakukan segala sesuatu. Pada akhirnya, raja Darius menyaksikan kuasa Allah yang besar, hingga ia pun memerintahkan bangsa yang ia pimpin untuk takut dan gentar akan Allahnya Daniel. "Bersama ini kuberikan perintah, bahwa di seluruh kerajaan yang kukuasai orang harus takut dan gentar kepada Allahnya Daniel, sebab Dialah Allah yang hidup, yang kekal untuk selama-lamanya; pemerintahan-Nya tidak akan binasa dan kekuasaan-Nya tidak akan berakhir. Dia melepaskan dan menolong, dan mengadakan tanda dan mujizat di langit dan di bumi, Dia yang telah melepaskan Daniel dari cengkraman singa-singa." (ay 27-28).

Dalam kehidupan kita di market place atau dunia usaha, lingkungan pekerjaan atau usaha kita, biarlah ketiga hal ini kita lakukan dengan tekun dan taat. Mungkin masalah atau pergumulan kita tidaklah seberat yang dihadapi Daniel, tapi Daniel berhasil membuktikan kebesaran Allahnya di tempat dimana ia bekerja. Dan seperti itu pulalah hendaknya kita. Seperti yang Daniel alami setelahnya, kita pun rindu melihat banyak orang bisa menyaksikan kebesaran dan kebaikan Kristus. Disanalah kita bisa menjadi terang yang menyinari dan memberkati banyak orang.

Bersinar bukan hanya di keluarga, tempat tinggal atau gereja, tapi juga di dalam dunia usaha dan pekerjaan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
March 29, 2013, 04:47:03 AM
Reply #59
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20198
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_03_01_archive.html
renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/kesetiaan.html

Kesetiaan

Ayat bacaan: Wahyu 2:10
==================
"..Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan."

Kemarin kita melihat bagaimana kesetiaan Daniel kepada Tuhan membawa turunnya terang ke dalam bangsa dimana ia tinggal. Kesetiaan sayangnya semakin lama menjadi semakin langka untuk ditemukan di muka bumi ini. Alangkah sulitnya mencari orang yang bisa benar-benar setia untuk waktu yang panjang. Apakah itu dalam sebuah hubungan cinta, pekerjaan dan sebagainya, hampir setiap hari kita menyaksikan orang-orang yang tidak menganggap kesetiaan sebagai sesuatu hal yang penting lagi untuk dipertahankan dan dipegang teguh.  Berita pasangan bercerai, kedapatan selingkuh terjadi dimana-mana. Orang yang berpindah-pindah pekerjaan karena mendapat tawaran yang lebih baik atau sedikit saja tersinggung, itu pun dengan mudah kita dengar. Tidak jarang mereka bahkan tega menghianati tempat mereka bekerja untuk satu dan lain hal. Kesetiaan merupakan sebuah unsur di dalam integritas. Jika kesetiaan saja sudah semakin langka, tidak heran jika integritas pun menjadi hal yang semakin langka pula.

Kesetiaan jelas merupakan aspek yang sangat penting dalam Kerajaan Allah. Pertama-tama kita harus tahu bahwa Allah, Sang Raja di dalam Kerajaan itu merupakan Sosok yang Setia. Alkitab menyebutkan dalam banyak kesempatan mengenai sifat Allah yang setia, misalnya dalam Mazmur 31:5, 48:9, 59:10, 1 Raja Raja 8:23, 2 Korintus 1:18, 1 Petrus 4:19, Ibrani 10:23 dan lain-lain. Lihat pula bagaimana Yesus dengan setia dan taat melakukan semua kehendak Allah dengan tuntas. Dengan keteladanan secara langsung seperti itu seharusnya kita yang merupakan warga Kerajaan pun hidup dengan kesetiaan. Tapi seringkali kita lebih tertarik untuk mengadopsi gaya hidup dunia yang mudah berkhianat ketimbang menjalani hidup kesetiaan seperti yang dikehendaki Tuhan.

Sulitnya mendapati kesetiaan ternyata bukan saja menjadi isu di jaman modern ini. Ribuan tahun yang lalu pun manusia sudah menunjukkan sikap buruk yang sama. Kita bisa melihat bagaimana bangsa Israel yang berulangkali menyaksikan atau mengalami secara nyata penyertaan Tuhan secara langsung, tetapi mereka masih saja tega untuk menyakiti hati Tuhan berulang-ulang lewat tingkah dan polah mereka. Tidak heran jika Salomo berkata "Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?" (Amsal 20:6) Kita bisa melihat bahwa pada masa itu ternyata kesetiaan sudah menjadi sesuatu yang langka untuk ditemukan. Hingga ke dalam Perjanjian Baru pun masalah kesetiaan tetap menjadi pesan penting untuk dimiliki oleh kita. Kesetiaan adalah sebuah kualitas utama yang seharusnya ada di dalam diri orang-orang percaya. "...kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan." (1 Timotius 6:11). Berulang-ulang Tuhan mengingatkan kita untuk setia dalam segala hal, tetapi dari generasi ke generasi manusia masih saja terus menganggap kesetiaan sebagai sesuatu yang tidak penting, yang bisa dikorbankan demi kepentingan lain.
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)