Author Topic: renungan harian online  (Read 139689 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

March 29, 2013, 04:47:24 AM
Reply #60
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23169
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
Kesetiaan di dalam Kerajaan Allah memiliki peranan yang sangat penting. Kesetiaan penting untuk kita hidupi karena itu akan sangat menentukan bagi keselamatan kita kelak. Firman Tuhan berkata "...Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan." (Wahyu 2:10). Ada mahkota kehidupan yang akan dikaruniakan kepada kita kelak apabila kita bisa mempertahankan kesetiaan sampai selesai. Dan bukan itu saja, karena Allah tetap menjanjikan berkat-berkatNya kepada siapapun yang tetap hidup dengan berpegang pada kesetiaan. "Pada hari ini TUHAN, Allahmu, memerintahkan engkau melakukan ketetapan dan peraturan ini; lakukanlah semuanya itu dengan setia, dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu. Engkau telah menerima janji dari pada TUHAN pada hari ini, bahwa Ia akan menjadi Allahmu, dan engkaupun akan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada ketetapan, perintah serta peraturan-Nya, dan mendengarkan suara-Nya. Dan TUHAN telah menerima janji dari padamu pada hari ini, bahwa engkau akan menjadi umat kesayangan-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepadamu, dan bahwa engkau akan berpegang pada segala perintah-Nya, dan Iapun akan mengangkat engkau di atas segala bangsa yang telah dijadikan-Nya, untuk menjadi terpuji, ternama dan terhormat. Maka engkau akan menjadi umat yang kudus bagi TUHAN, Allahmu, seperti yang dijanjikan-Nya." (Ulangan 26:16-19).

Ada banyak hal yang akan kita peroleh dari hidup dalam kesetiaan. Sebaliknya kita akan mengorbankan banyak hal penting jika kita memilih untuk mencari kenikmatan sesaat dengan mengabaikan kesetiaan. Kehidupan di dunia selalu mengajak kita untuk melupakan kesetiaan, tetapi hari ini marilah kita belajar untuk mengadopsi dengan benar prinsip-prinsip Kerajaan mengenai kesetiaan, sebab tanpa kesetiaan tidak akan pernah ada integritas yang akan mampu membawa perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik.

Tanpa kesetiaan tidak akan ada integritas

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
March 31, 2013, 04:37:44 AM
Reply #61
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23169
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_03_01_archive.html
renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/relatifnya-sebuah-ukuran.html


Relatifnya Sebuah Ukuran

Ayat bacaan: 2 Korintus 4:17
======================
"Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami."

Sebutir nasi itu tentu sangat kecil bagi kita, yang biasanya bisa memakan puluhan atau bahkan ratusan butir itu dalam sekali suap. Tapi ketika anda melihat seekor semut mengangkut sebutir nasi, butiran itu terlihat sangat besar bagi semut. Contoh berikutnya, besar atau kecilkah bola tenis menurut anda? Jawabannya pun bisa beragam. Bola tenis akan terlihat kecil jika dibandingkan dengan bola sepak atau bola bowling, tetapi akan terlihat besar dibanding bola pingpong atau gundu. Sebuah jeruk bisa terlihat besar kalau dibandingkan dengan anggur, tapi kecil kalau berada di dekat buah semangka. Dalam satuan ukur setiap benda punya ukurannya masing-masing, tapi untuk memutuskan besar atau tidaknya benda itu tentu akan sangat relatif. Nilai mata uang pun demikian. Dua puluh tahun yang lalu lima ribu rupiah sudah sangat besar, tapi hari ini kita hanya bisa makan pas-pasan di warung dengan jumlah itu. Seperti itulah gambaran relativitas nilai atau ukuran sebuah benda.

Bagaimana dengan ukuran masalah yang tengah anda hadapi? Seperti apa anda memandang permasalahan hidup hari ini? Besar atau kecil? Saya kira kebanyakan orang akan setuju menilai permasalahan hidup ini besar. Hidup memang tidak mudah. Pergumulan-pergumulan dan tekanan-tekanan hidup akan selalu siap mendorong kita jatuh jauh ke bawah, begitu jauh hingga terkadang kita sulit untuk kembali bangkit dalam waktu yang singkat. Tidak jarang orang yang menyerah setelah diterpa badai, tapi ada pula yang tetap tegar meski badai telah mencoba mengobrak-abrik hidup dalam waktu yang cukup lama. Besar kecilnya masalah pun ternyata relatif. Ada yang sudah pesimis ketika sedikit masalah saja menerpanya. Masalah itu besar jika dibandingkan ketika keadaannya sedang tanpa masalah, namun kecil jika dibandingkan permasalahan yang jauh lebih berat yang mungkin sedang menimpa orang lain. Ada pula orang yang bisa tetap tenang dalam menghadapi masalah besar karena sudah pernah berhasil melewati masalah yang jauh lebih besar lagi. Karena besar kecilnya masalah itu relatif, maka saya beranggapan bukan kadar masalah yang membuat orang jatuh menyerah dalam keputus asaan, namun pola pikir atau cara pandanglah yang sangat menentukan. Fokus kepada masalah, maka masalah itu akan terus bertumbuh semakin besar. Namun jika fokus diarahkan dalam iman yang percaya, niscaya kita akan masih bisa tersenyum dan bersukacita seberat-beratnya masalah menimpa kita.

Sebuah contoh bisa kita lihat dari riwayat Paulus. Kurang besar bagaimana lagi masalah yang dihadapi Paulus? Jika kita yang mengalami, mungkin sepertiga saja dari masalahnya sudah membuat kita mundur dan menyerah. Lihatlah bahaya, ancaman atau penyiksaan yang ia alami baik dari sesama manusia maupun alam. (2 Korintus 11:23-28). Apakah cuma itu? Tidak. Ia juga mendapatkan masalah dari dalam tubuhnya sendiri. (12:7-8). Dalam kesempatan lain Paulus mengatakan "Sampai pada saat ini kami lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara, kami melakukan pekerjaan tangan yang berat. Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar; kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah; kami telah menjadi sama dengan sampah dunia, sama dengan kotoran dari segala sesuatu, sampai pada saat ini." (1 Korintus 4:11-13). Paulus mengalami semua itu, tapi dia tetap sabar. Dia tetap bisa bertahan dan tetap teguh menjalankan tugas pelayanannya seperti yang telah ditetapkan Tuhan dengan keramahan, kesabaran dan ketabahan. Bagaimana bisa demikian? Seperti yang pernah saya tulis beberapa hari yang lalu, Paulus bisa bersikap seperti itu karena ia mengarahkan pandangannya bukan kepada masalah yang menimpanya, tapi kepada apa yang ada di depannya.


March 31, 2013, 04:38:18 AM
Reply #62
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23169
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
Bagaimana ia bisa tahan menghadapi semua itu? Semua berasal dari visi atau kemana ia memandang. Visinya adalah memandang kepada apa yang dijanjikan Tuhan lewat Kristus. "..tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus." (Filipi 3:13-14). Dengan pandangan seperti itulah Paulus bisa tetap tegar meski tubuh bahkan nyawanya harus ia pertaruhkan. Ia tidak terfokus kepada penderitaan daging yang fana, tapi ia memusatkan perhatiannya kepada keselamatan roh yang kekal. Jika dipandang dari sudut masalah, jelas masalah yang dialami Paulus amat sangat besar. Dan tentu ia paham itu. Tetapi jika dipandang dari apa yang akan ia terima di depan, semua itu tidaklah ada apa-apanya. Dan itulah sebabnya mengapa Paulus mampu berkata dengan luar biasa seperti ini: "Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami." (2 Korintus 4:17).

Secara manusia, stamina atau daya tahan Paulus dan teman-teman sepelayanan pasti merosot. Tapi disaat seperti itu mereka menyadari bahwa secara batin mereka terus diperbaharui dari hari ke hari. (ay 16). Penderitaan itu terasa ringan karena mereka membandingkannya dengan apa yang dijanjikan Tuhan di depan. Dibanding masa-masa ketika Paulus belum bertobat, penderitaan yang ia alami sekarang tentu besar. Namun itu tidaklah sepadan jika dibandingkan sebuah mahkota kehidupan yang akan ia terima. Mahkota kehidupan, janji keselamatan kekal sebagai ahli waris Allah bisa ia lihat melalui imannya, meski secara kasat mata hal itu tidak bisa dilihat. Seperti itulah yang dikatakan Paulus selanjutnya. "Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal." (ay 18).

Sebuah kunci penting diberikan oleh Penulis Ibrani yang mendefenisikan arti sebuah iman. "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat." (Ibrani 11:1). Sesuatu yang belum terlihat dengan kasat mata itu ternyata bisa terlihat jelas dengan memakai kacamata iman. Itulah yang dilakukan Paulus. Ia tidak pernah putus pengharapan, karena sesungguhnya dengan imannya ia sudah melihat semuanya dengan pasti. "Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya? Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun." (Roma 8:24-25). Lihatlah visi Paulus tersebut. Itulah yang memungkinkan dirinya tetap kuat menanggung segala masalah yang dari ukuran manusia rasanya sudah terlalu berat. Seperti apa kita mengukur masalah yang menimpa kita hari ini? Jika dibandingkan dengan orang yang sedang hidup nyaman, atau hidup kita di masa lalu yang tenang, masalah akan terasa berat. Tapi itu semua bisa menjadi tidak berarti ketika kita melihat keselamatan yang telah dijanjikan Tuhan kepada kita. Sebuah hidup yang kekal, yang bebas dari masalah, kesedihan, penderitaan dan dukacita telah dipersiapkan di depan. Apakah kita mampu bertahan untuk mencapainya, atau kita menyerah saat ini dan malah luput dari apa yang Dia janjikan di depan, semua itu tergantung bagaimana kita menyikapi segala permasalahan yang saat ini menimpa kita. Paulus pun mengingatkan kita untuk tetap mengerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar setiap saat, setiap waktu. (Filipi 2:12). Seperti relatifnya ukuran bola tenis diantara bola-bola lain, buah jeruk di antara buah lainnya, seperti itu pula besar kecilnya masalah yang kita hadapi. Seberat apapun itu, semuanya belumlah sebanding dengan besarnya janji yang telah Tuhan berikan kepada kita.

Pakailah kacamata iman dan fokuslah kepada janji keselamatan yang telah Tuhan sediakan di depan

Follow RHO Twitter: http://twitter.com/dailyrho
March 31, 2013, 04:39:04 AM
Reply #63
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23169
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_03_01_archive.html
renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/naik-jabatan.html

Naik Jabatan

Ayat bacaan: Mazmur 75:7-8
==========================
"Sebab bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang gurun datangnya peninggian itu,tetapi Allah adalah Hakim: direndahkan-Nya yang satu dan ditinggikan-Nya yang lain."

Segala daya upaya dilakukan orang untuk bisa naik pangkat atau naik jabatan. Menyuap atau memberi uang pelicin, bingkisan-bingkisan, menjilat atasan dan berbagai upaya lain sudah biasa dilakukan agar promosi bisa mengalir lancar pada karir seseorang. Menjegal atau menjelekkan teman sendiri pun jika terpaksa apa boleh buat, yang penting kenaikan jabatan bisa diperoleh. Semua itu sudah dianggap sebagai hal yang lumrah untuk dilakukan di jaman sekarang, apalagi di negara kita yang tingkat korupsinya lumayan 'mantap'. Ada banyak orang berdalih bahwa itu terpaksa dilakukan, karena itu memang sudah menjadi kebiasaan di mana-mana. "Kalau tidak ikut korupsi rugi dong, atau malah kita justru bakal terkena masalah di kantor.." demikian ujar salah seorang pegawai negeri sambil cengengesan kepada saya pada suatu kali.  Kita seringkali terpaku pada kebiasaan dunia dan cenderung menyerah mengikutinya, meski tahu bahwa itu salah di mata Tuhan. Kita melupakan sebuah fakta bahwa masalah mengalami peningkatan atau tidak itu sesungguhnya bukanlah tergantung dari dunia, atau dari manusia, tapi sesungguhnya berasal dari Tuhan. Tanpa berlaku curang dan berkompromi dengan hal buruk yang sudah dianggap lumrah di dunia ini, kita tetap bisa mengalami peningkatan karir, dan saya bisa katakan itu akan terasa luar biasa indahnya jika itu berasal dari Tuhan.

Ayat yang menyinggung mengenai promosi atau kenaikan jabatan ini terdapat dalam kitab Mazmur. Pemazmur mengatakan: "Sebab bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang gurun datangnya peninggian itu, tetapi Allah adalah Hakim: direndahkan-Nya yang satu dan ditinggikan-Nya yang lain." (Mazmur 75:7-8). Dalam bahasa Inggris Amplifiednya dikatakan "For not from the east nor from the west nor from the south come promotion and lifting up. But God is the Judge! He puts down one and lifts up another." Inilah hal yang sering kita lupakan. Kita sering tergiur dengan jabatan dan mengira bahwa kita perlu mati-matian menghalalkan segala cara untuk memperolehnya. Kita lupa bahwa peningkatan yang sesungguhnya justru berasal dari Tuhan dan bukan dari manusia. Kita seringkali terburu nafsu untuk secepatnya menggapai sebuah jabatan, padahal Tuhan tidak pernah menyarankan kita untuk terburu-buru. Ketekunan, kesabaran, keuletan, kesungguhan, itulah yang akan bernilai di mata Tuhan, dan pada saatnya, sesuai takaran dan waktu Tuhan, kita pasti akan naik walau tanpa melakukan kecurangan-kecurangan yang jahat di mata Tuhan.

Apa yang diinginkan Tuhan untuk terjadi kepada anak-anakNya sesungguhnya bukanlah sesuatu yang kecil atau pas-pasan saja. Kita telah ditetapkan untuk menjadi kepala dan bukan ekor, terus naik dan bukan turun. Tetapi untuk itu ada syarat yang ditetapkan Tuhan untuk kita lakukan dengan sungguh-sungguh. Hal ini tertulis dalam kitab Ulangan. "TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia, dan apabila engkau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya." (Ulangan 28:13-14). Melakukan kecurangan-kecurangan demi kenaikan jabatan mungkin sepintas terlihat menjanjikan solusi cepat, namun ketika itu bukan berasal dari Tuhan, maka cepat atau lambat keruntuhan pun akan membuat semuanya berakhir sia-sia. Lihatlah 'parade' banyak koruptor yang kemudian menangis setelah vonis dijatuhkan. Ada yang masih merasa santai karena mereka beranggapan mereka tetap bisa menyuap untuk bebas atau setidaknya bisa menjalani hukuman dengan lebih nyaman bak di hotel bintang lima, tetapi kelak di hadapan Tuhan tidak ada penyuapan atau apapun lagi yang bisa dibuat. Tidak ada satupun kejahatan di muka bumi ini yang luput dari hukuman Tuhan, dengan alasan apapun.
March 31, 2013, 04:39:39 AM
Reply #64
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23169
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
Apa yang dituntut dari kita sebenarnya hanyalah kesungguhan kita dalam bekerja. "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia." (Kolose 3:23). Itu bagian kita, dan masalah berkat, termasuk di dalamnya kenaikan pangkat atau jabatan, itu adalah bagian Tuhan. Mungkin tidak mudah untuk bisa tetap hidup lurus di tengah dunia yang bengkok, namun bukan berarti kita harus menyerah dan berkompromi. Justru Tuhan menjanjikan begitu banyak berkat jika kita mau mendengarkan Firman Tuhan baik-baik dan melakukan dengan setia semua perintahNya tersebut, seperti yang diuraikan panjang lebar dalam Ulangan 28:1-14.

Kita harus berhati-hati untuk tidak masuk ke dalam jebakan dunia dengan segala permainan dan kecurangan yang tersembunyi dibaliknya. Kita bisa memaksakan kenaikan sesuai keinginan kita, namun tidakkah semua itu akan berakhir sia-sia dalam kebinasaan jika itu bukan berasal daripadaNya? Tuhan sudah menjanjikan bahwa kita akan terus meningkat. Tuhan menjanjikan kita sebagai kepala dan bukan ekor, tetap naik dan bukan turun, namun itu hanya berlaku jika kita mendengarkan dan melakukan firmanNya dengan setia, tidak menyimpang dan tidak menghambakan diri kepada hal lain apapun selain kepada Tuhan. Jika anda memberikan kesungguhan 100% dalam pekerjaan kita. Sekecil apapun itu, biar bagaimanapun, itu akan memberikan nilai tersendiri bagi tempat di mana anda bekerja. Sebab perusahaan mana yang mau kehilangan pegawai terbaiknya? Dan tentu saja itu akan sangat dihargai Tuhan. Oleh karena itu, tetaplah bekerja dengan baik, tekun dan sepenuh hati, seakan-akan anda melakukannya untuk Tuhan, maka soal peningkatan hanyalah soal waktu saja. Tuhan sudah menetapkan kita untuk berada di posisi atas biar bagaimanapun. Lakukan bagian kita, dan Tuhan pasti akan mengerjakan bagianNya.

Just do your part and let God do His part

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
April 01, 2013, 05:01:20 AM
Reply #65
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23169
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_03_01_archive.html
renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/yusuf-dari-sumur-menuju-istana-1.html

Yusuf: Dari Sumur Menuju Istana (1)

Ayat bacaan: Ulangan 28:13-14
========================
"TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia, dan apabila engkau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya."

Semua orang ingin mengalami peningkatan-peningkatan dalam hidup. Berhasil dalam pekerjaan, karir meningkat, kesejahteraan semakin baik merupakan dambaan semua orang. Tidak ada orang yang mau mengalami stagnasi dalam karirnya, apalagi jika merosot. Tentu menyenangkan jika pekerjaan kita berhasil dan kita terus mendapat promosi untuk naik lebih tinggi lagi. Dalam berusaha apapun kita selalu ingin berhasil. Kita ingin berhasil membangun keluarga yang berbahagia, kita ingin jadi anak yang berhasil di mata orang tua, kita ingin berhasil mendidik anak-anak dan sebagainya. Tidak ada orang yang memimpikan kegagalan. Namun ada banyak orang yang masih bergumul dengan itu. Usaha terus gagal. Bangkrut lagi, lagi-lagi terlilit hutang, keluarga berantakan dan sebagainya. Bukannya mendapatkan promosi, bukannya jalan ditempat tapi malah melorot ke dalam keadaan yang lebih rendah. Tidak apa-apa jika itu merupakan bagian dari proses karena kita tidak bisa selamanya berharap semuanya akan baik-baik saja, tetapi itu seharusnya tidak berlaku selamanya. Apa yang diinginkan Tuhan adalah menempatkan setiap kita menjadi kepala, bukan ekor. Tetap naik dan bukan turun. Jika masih naik turun atau tetap berada di bawah posisi seperti yang dikehendaki Tuhan, itu bisa jadi pertanda bahwa masih ada yang harus kita benahi dari diri kita.

Kepala dan bukan ekor? Ya, seperti itu. Mari kita lihat ayatnya. "TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun.." (Ulangan 28:13). Kita bisa melihat bahwa itulah yang dikehendaki Tuhan untuk terjadi kepada kita. Dalam proses mungkin kita dibentuk melalui fase-fase yang tidak nyaman, bahkan mungkin menyakitkan. Tapi dalam proses itupun sebenarnya kita bisa merasakan perbedaan nyata jika kita berjalan dalam tuntunan Tuhan. Penyertaan Tuhan sudah dinyatakan akan terus bersama kita sampai selama-lamanya (Matius 28:20). Artinya Tuhan berada bersama kita bukan hanya ketika kita dalam keadaan aman tanpa masalah saja , tapi dalam keadaan yang tidak kondusif, bahkan kekelaman yang tergelap sekalipun Tuhan tetap ada bersama kita. Prosesnya mungkin pahit, namun Tuhan ternyata tetap ada bersama kita, membantu kita dalam melangkah hingga pada akhirnya kita bisa menuai janjiNya. Daud merasakan hal itu. Ia mengatakan demikian: "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku." (Mazmur 23:4).

Saya ingin melanjutkan renungan kemarin dari sisi bagaimana kita menyikapi sebuah proses kehidupan untuk akhirnya bisa menjadikan janji Tuhan tersebut sebagai sebuah kenyataan. Jalan hidup Yusuf menjadi sebuah bukti nyata bagaimana penyertaan Tuhan itu berlaku dalam setiap keadaan, dan itu membuat keberadaan dalam situasi sulit sekalipun tetap memiliki perbedaan jika kita menghadapinya bersama Tuhan.

Sejak kecil Yusuf diperlakukan berbeda oleh orang tuanya. Ia dikatakan lebih dikasihi dari anak-anak yang lain. (Kejadian 37:3). Melihat hal ini, cemburulah saudara-saudaranya, dan kehidupan Yusuf pun mulai dipenuhi penderitaan. Ia sempat hampir dibunuh karena menceritakan mimpinya. Selamat dari pembunuhan bukan berarti masalah selesai, karena kemudian ia dilemparkan ke dalam sumur yang gelap gulita. Itu situasi yang mengancam nyawa, karena ia bisa saja mati secara perlahan di sana. Untunglah ia tidak jadi dibiarkan mati disana. Tapi ternyata itupun bukan sebuah kebebasan, karena ia selanjutnya dijual kepada para saudagar Midian dan dibawa ke Mesir dalam status sebagai budak. Budak, ini bukan posisi kepala, tapi posisi ekor, posisi terendah pada masa itu. Apa yang terjadi selanjutnya? Ternyata Yusuf dibeli oleh Potifar, seorang kepala pengawal istana.
April 01, 2013, 05:02:31 AM
Reply #66
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23169
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
Dalam posisi budak, apakah ada yang bisa menjadi prestasi? Dari pengalaman Yusuf ternyata ada. Dikatakan disana Yusuf selalu berprestasi dan ia pun mendapat promosi untuk dapat tinggal di rumah mewah tuannya Potifar. Bagaimana bisa demikian? Alkitab mencatat demikian: "Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu." (39:2). Kelihatannya Yusuf tidak memiliki mental yang bersungut-sungut. Ia menjalani "profesi"nya sebagai budak tetap dengan melakukan yang terbaik dari dirinya. Buahnya? Apapun yang ia buat berhasil, sehingga dalam posisi ekor sekalipun ia bisa menjadi kepala. Mengapa bisa demikian? Sebab Tuhan menyertai Yusuf.

Apakah setelah itu perjalanan Yusuf menjadi lebih ringan? Ternyata tidak. Masalah berikutnya datang. Ia lalu digoda oleh istri Potifar. Yusuf dengan tegas menolak. Dia tidak tergoda oleh kenikmatan sesaat karena ia mau hidup taat. Kedagingannya mungkin bisa tergoda, tapi rohnya ternyata lebih kuat. Yusuf pun berkata "Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?" (ay 9). Terus menerus ditolak, lama-lama beranglah istri Potifar. Ia pun memfitnah Yusuf yang mengakibatkan Yusuf dilemparkan ke penjara. Posisi makin anjlok. Yusuf bukan lagi berstatus bukan lagi budak, tapi narapidana, orang tahanan. Putus asa kan Yusuf? Ternyata tidak. Mentalnya tetap sama. Ia tidak mengeluh atau menghujat siapapun termasuk Tuhan, tapi kelihatannya ia tetap menunjukkan sikap luar biasa, sikap yang lagi-lagi berkenan di hadapan Tuhan. Kembali kita menjumpai ayat yang mirip dengan ayat 39:2 di atas, hanya saja kali ini terjadi di dalam penjara. "Tetapi TUHAN menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya, dan membuat Yusuf kesayangan bagi kepala penjara itu. Sebab itu kepala penjara mempercayakan semua tahanan dalam penjara itu kepada Yusuf, dan segala pekerjaan yang harus dilakukan di situ, dialah yang mengurusnya. Dan kepala penjara tidak mencampuri segala yang dipercayakannya kepada Yusuf, karena TUHAN menyertai dia dan apa yang dikerjakannya dibuat TUHAN berhasil." (ay 21-23). Kesulitan boleh bertambah, tapi kenyataannya Daud tetap menjalaninya dengan sebaik yang ia sanggup. Kembali kita lihat bahwa dalam keadaan di bawah (ekor), yang lebih bawah dari budak, ternyata Yusuf tetap bisa menjadi kepala. Mengapa? "Karena Tuhan menyertai dia, dan apa yang dikerjakannya dibuat TUHAN berhasil."

(bersambung)
April 02, 2013, 05:00:59 AM
Reply #67
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23169
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_03_01_archive.html
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/03/yusuf-dari-sumur-menuju-istana-2.html

Yusuf: Dari Sumur Menuju Istana (2)

(sambungan)

Kisah hidup Yusuf bukanlah kisah yang asing bagi kita. Kita tahu apa yang terjadi selanjutnya. Singkat cerita, lewat hubungannya dengan seorang juru minuman yang pernah sama-sama dipenjara, dimana orang tersebut pernah melupakannya dan membiarkan Yusuf tetap dipenjara selama dua tahun, ia pun kemudian sukses mengartikan mimpi Firaun dan mendapat lompatan promosi yang menakjubkan diluar logika manusia. Dari tawanan tiba-tiba menjadi orang yang berkuasa atas seluruh tanah mesir. (ay 40-41). Yusuf akhirnya mencapai posisi kepala yang sesungguhnya. Ketika saudara-saudaranya menghadap, Yusuf seharusnya bisa membalas dendam atas segala penderitaannya selama ini yang berawal dari perlakuan buruk dan kejam saudara-saudaranya itu. Tapi itu semua tidak ia lakukan karena ia jauh lebih tertarik untuk memuliakan Tuhan lewat kehidupannya. Itu jauh lebih penting daripada memuaskan nafsu untuk membalaskan sakit hati. Ia pun memaafkan saudara-saudaranya. Perkataan Yusuf kembali menunjukkan mental juara dalam hal ketaatan dan iman. "Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar." (Kejadian 50:20). Sikap terpuji seperti itu tidaklah mudah dilakukan jika kita yang berada di posisi Yusuf. Tapi jika kita melihat bagaimana Yusuf tetap berjalan bersama Tuhan, dan berkali-kali kita menyaksikan adanya Roh Tuhan menyertainya, maka semua itu menjadi mungkin.

Dari sumur gelap, fitnah, penjara, dan pada akhirnya istana. Itu benar-benar rangkaian perjalanan yang begitu penuh liku-liku. Tetapi dalam proses itu ada penyertaan Tuhan yang ternyata mampu membuat segala yang Yusuf lakukan berhasil. Dalam posisi sulit dan di bawah sekalipun Yusuf tetap mampu tampil sebagai kepala. Ini adalah hal luar biasa yang menjadi bukti nyata dari Firman Tuhan yang mengehendaki kita semua untuk berada di "habitat" kita sesungguhnya yaitu kepala. Bahkan masalah sebesar apapun tidak mampu menghentikan Yusuf untuk mencapai posisi kepala!

Apa yang menjadi syarat agar Tuhan selalu menyertai dan memampukan kita mencapai posisi kepala sesungguhnya sudah diberitahukan dengan jelas. Mari kita lihat kembali ayat bacaan dari renungan ini. "TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia, dan apabila engkau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya." (Ulangan 28: 13-14).
April 02, 2013, 05:01:29 AM
Reply #68
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23169
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
Dari ayat ini kita bisa mengalami seperti apa yang terjadi pada Yusuf jika:
- kita mendengarkan perintah Tuhan
- menjadi pelaku-pelaku firman yang setia
- tidak menyimpang ke kiri dan ke kanan
- hanya menyembah Allah saja, dan bukan allah lain
Rangkaian kisah Yusuf menggambarkan dengan jelas bagaimana keempat hal ini menjadi pedoman hidup yang ia pegang sepenuhnya. Bukankah Yusuf tetap taat melakukan ke 4 hal tersebut tanpa peduli kondisi apapun yang ia hadapi? Ia tidak kecewa, ia tidak mengeluh,  ia tidak menghujat, ia tidak putus asa, ia tidak hilang harapan, melainkan tetap percaya sepenuhnya untuk berjalan bersama dengan Allah! Dan janji Tuhan pun dengan sendirinya berlaku bagi diri Yusuf.

Tuhan telah menetapkan anak-anakNya untuk menjadi kepala dan bukan ekor. Kita akan senantiasa naik dan bukan turun. Janji yang sudah terbukti pada Yusuf pun berlaku sama buat kita semua hari ini, juga anak-cucu kita di masa yang akan datang. Ini sebuah janji berkat Tuhan yang akan bisa kita dapatkan jika kita melakukan apa yang telah Tuhan tetapkan sebagai syaratnya. Dalam kondisi apapun saat ini anda berada, tetaplah berpegang teguh pada Firman Tuhan, percayalah tanpa ragu sedikitpun, jangan memberi toleransi pada jebakan dosa dan jangan tergoda untuk mengambil alternatif-alternatif lain karena tidak sabar mengalami proses. Sebuah perjalanan yang terkelam sekalipun, jika ada penyertaan Tuhan di dalamnya akan tetap memberikan sebuah hasil yang berbeda. Kita akan tetap berhasil meski ditekan, kita akan tetap maju meski ditahan, tidak ada satupun yang bisa menghentikan keinginan Tuhan jika kita melakukan semua ketetapan yang telah Dia berikan. Proses boleh menyakitkan, namun pada suatu ketika kita akan menuai janji Tuhan dengan sepenuhnya. Dan ingatlah bahwa dalam sepanjang proses itupun Tuhan mampu membuat kita tetap berhasil dan memperoleh pencapaian-pencapaian tersendiri. Yusuf sudah membuktikan dan berhasil. Siapkah kita membuktikannya sama seperti Yusuf?

Kepala dan bukan ekor, tetap naik dan bukan turun, itulah yang dijanjikan Tuhan untuk kita
April 03, 2013, 04:52:34 AM
Reply #69
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23169
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_04_01_archive.html
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/mewaspadai-benda-berbahaya-dalam-hati-1.html

Mewaspadai Benda Berbahaya Dalam Hati (1)

Ayat bacaan: Amsal 4:23
===================
"Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan."

Secara fisik kita akan dengan cepat belajar mengenai berbagai hal yang bisa menimbulkan rasa sakit terhadap diri kita, yang bisa menghadirkan luka atau penderitaan pada tubuh. Tentu tidak butuh waktu lama bagi kita untuk mengetahui bahwa api, baranya atau bahkan peralatan-peralatan panas lainnya seperti alat panggang menyala atau setrika dapat mengakibatkan luka serius pada bagian tubuh kita apabila terkena. Kita mengajar anak-anak agar tidak bermain dengan benda-benda tajam seperti gunting, pisau, atau korek api dan sebagainya yang bisa menimbulkan masalah serius baik bagi diri mereka sendiri maupun orang lain. Dengan kecepatan yang sama pula kita akan mengetahui hal-hal yang bisa menimbulkan kenyamanan atau kenikmatan fisik. Kedua hal itu seringkali menjadi faktor yang paling memotivasi kita untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.

Tetapi coba bandingkan dengan belajar menjaga hati kita dari hal-hal yang bisa menimbulkan masalah serius dalam hidup. Banyak orang yang lambat atau bahkan sama sekali tidak kunjung belajar dari pengalaman bahwa kemalasan, kebencian, ketidakjujuran atau kebohongan, rasa putus asa, iri hati, ketakutan, kemarahan dan sejenisnya merupakan 'benda-benda berbahaya' yang dapat pula melukai hidup kita. Semua 'benda' ini bukan saja tidak produktif tetapi bisa menimbulkan penderitaan untuk waktu yang panjang, bahkan telah menghancurkan masa depan banyak orang dan menimbulkan kesakitan yang tidak sedikit. Tidak banyak dari kita yang akhirnya menyadari sebuah kesimpulan bahwa semuanya akan sangat tergantung dari satu hal, yaitu hati.

Ada banyak contoh dalam Alkitab yang menunjukkan seberapa fatalnya akibat yang bisa terjadi jika kita tidak menjaga hati kita dari masuknya 'benda-benda' yang merusak di atas. Mari kita ambil satu contoh dalam Alkitab, yaitu ketika Kain membunuh saudara kandungnya sendiri, Habel. Kita bisa mengetahui bahwa asal mula terjadinya pembunuhan itu berawal dari rasa iri. Darimana iri itu muncul? Tentu saja dari hati. Dan Alkitab pun mencatatnya dengan jelas. "Tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram." (Kejadian 4:6). Hatinya panas, itu kemudian membuat wajahnya menjadi muram. Ia menjadi gelap mata, tidak lagi bisa berpikir sehat dan akhirnya ia pun melakukan kekejian, yang rasanya tidak akan mungkin dilakukan oleh manusia normal. Sebuah kejahatan yang fatal terjadi, dan itu semua berasal dari hati yang tidak terjaga dengan baik.

Kepahitan pun bisa timbul dari hati yang kecewa. Dalam hal ini mungkin Naomi bisa menjadi contoh. Tidak tanggung-tanggung, Naomi mengalami kepahitan karena kecewa kepada Tuhan. "Tetapi ia berkata kepada mereka: "Janganlah sebutkan aku Naomi; sebutkanlah aku Mara, sebab Yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit kepadaku." (Rut 1:20). Ayub pun merupakan salah satu contoh yang sempat mengalami kepahitan. Satu kesimpulan yang bisa kita ambil, hati akan sangat menentukan bagaimana kita menjalani hidup. Apakah kita optimis atau pesimis, apakah kita bersukacita atau penuh kepahitan, semua bermuara pada satu hal, yaitu kondisi hati kita.


(bersambung)
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)