Author Topic: renungan harian online  (Read 139503 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

April 09, 2013, 04:34:42 AM
Reply #80
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23128
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
Hanya mengandalkan tata cara peribadatan dan tradisi serta kebiasaan dan rutinitas dalam menjalankan ibadah belumlah mencerminkan usaha kita yang benar untuk mengenal Allah. Yesus menyinggung hal ini dengan tegas. "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga." (Matius 7:21). Hanya rajin berseru tapi tidak mencerminkan terang dalam hidup itu artinya tidak mengenal Tuhan. "Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?" (ay 22). Bahkan jika kita berpikir bahwa kita sudah melakukan banyak pekerjaan Tuhan, tapi hati kita sebenarnya tidak tulus melakukan itu dan bukan berbuat itu demi kemuliaan Tuhan, jika kita rajin beribadah namun sebatas dibibir saja tanpa aplikasi nyata dalam hidup, maka kita pun akan kehilangan kesempatan untuk beroleh keselamatan. "Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!" (ay 23).

Pengenalan akan Tuhan bisa kita dapati dengan mengenal diriNya melalui Firman-Firman Tuhan yang terdapat di dalam Alkitab. Alkitab bukanlah sebuah buku usang yang ketinggalan jaman dan membosankan. Ada banyak tuntunan hidup dan rahasia-rahasia keselamatan di dalamnya yang mampu membuat kita semakin dekat mengenal pribadi Tuhan. Jangan berhenti hanya sampai membaca, tapi renungkan dan perbuatlah apa yang telah kita baca itu dalam kehidupan nyata. "Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya."(Yakobus 1:25) Kemudian ingatlah bahwa kita bisa mengenal Bapa lewat Yesus. "Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia." (Yohanes 14:7). Tanpa mengenal Kristus, kita tidak akan pernah bisa mengenal Tuhan, dan dengan demikian kita tidak akan pernah bisa datang menghampiriNya dan menerima janji-janjiNya. Yesus berkata "Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku." (ay 6).

Sekarang waktunya untuk lebih serius lagi dalam mengenal Allah. Teruslah berusaha untuk mengenal pribadiNya baik lewat Alkitab, kotbah, bacaan-bacaan rohani dan sumber lainnya, dan tentu saja, miliki pengenalan yang benar tentang Kristus. Jangan berhenti disana, tapi kemudian aplikasikanlah semua yang telah kita baca, dengar dan tahu itu ke dalam hidup kita sehari-hari. Temukan apa yang menjadi kehendakNya hari ini.

Mengenal Allah akan menghindarkan kita dari kebinasaan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
April 10, 2013, 04:51:03 AM
Reply #81
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23128
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_04_01_archive.html
renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/kenal-maka-percaya.html

Kenal maka Percaya

Ayat bacaan: Mazmur 9:11
====================
"Orang yang mengenal nama-Mu percaya kepada-Mu, sebab tidak Kautinggalkan orang yang mencari Engkau, ya TUHAN."

Bisakah kita percaya kepada orang tanpa terlebih dahulu mengenalnya? Sebuah contoh, jika anda hendak bepergian lalu ingin menitipkan rumah kepada seseorang, anda tentu hanya akan menitipkannya kepada orang yang sudah anda kenal dengan baik. Dari deretan tetangga anda pun hanya akan memilih tetangga yang sudah akrab dan bisa anda percaya. Anda tidak akan mungkin menitipkan rumah kepada seseorang yang kebetulan melintas di depan pagar bukan? Dalam menjalin hubungan cinta pun sama. Ada masa berpacaran yang bisa dipakai untuk lebih saling mengenal satu sama lain sebelum hubungan itu dilanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Saya melihat sendiri begitu banyak contoh dari sebuah pernikahan yang terburu-buru yang kemudian melahirkan begitu banyak permasalahan dalam rumah tangga mereka. Semua berawal dari ketidaktahuan atau tidak saling mengenalnya mereka dengan cukup sebelum menikah. Kembali kepada masalah bisa percaya atau tidak, semua tentu dimulai dari sebuah proses saling kenal yang bisa jadi memakan waktu cukup lama terlebih dahulu sampai sebuah rasa saling percaya itu bisa timbul. Kesimpulannya,kita bisa percaya apabila kita mengenal seseorang dengan baik.

Hubungan antara kita dengan Sang Pencipta pun sama seperti itu. Bagaimana kita berani mengaku mencintai Tuhan apabila kita tidak mengenalNya secara dekat? Lalu bagaimana kita bisa mengaku kenal Tuhan jika kita tidak mengetahui FirmanNya yang menggambarkan isi hatiNya?  Sejauh mana kita mengenal Tuhan akan akan sangat menentukan seberapa besar tingkat kepercayaan kita kepadaNya. Kalau cuma mengaku percaya di bibir saja mungkin mudah. Tapi ketika dihadapkan pada realita, mungkin hanya sedikit yang benar-benar percaya lewat iman yang kuat bahwa Tuhan itu ada memelihara kehidupan mereka sehari-hari. Itu bisa kita lihat dari reaksi kita ketika tengah menghadapi masalah. Ketika masalah tiba, ketika badai menghadang, disanalah tingkat kepercayaan kita akan diuji. Begitu banyak orang yang saat ini begitu mudahnya didera kekhawatiran/ketakutan terhadap apa yang akan terjadi di masa depan atau ketika sedikit saja digoncang masalah. Mereka dikuasai ketakutan yang timbul dari pikiran mereka sendiri karena melihat situasi hanya lewat mata saja. Pada tingkat tertentu itu bisa membuat orang menjadi stres, paranoid dan sebagainya yang jelas bukan hal yang baik bagi kesehatan dan kehidupan kita sendiri maupun orang lain. Bukannya percaya pada Tuhan, tapi malah lebih mudah untuk menyerah kepada ketakutan dan kekhawatiran yang menghantui pikiran. Mereka hanya terfokus kepada masalah sebagai sesuatu yang sangat besar dan lupa akan besarnya kuasa yang dimiliki Tuhan. Bahkan diantara orang-orang yang melayani Tuhan pun hal seperti ini masih bisa kita dapati. Inilah yang akan terjadi apabila kita belum mengenal Tuhan secara benar.

Untuk bisa percaya kepada Tuhan, tentu terlebih dahulu kita harus mengenalNya. To know is to love. So, to know Him is to love Him. Daud mengatakan sebagai berikut: "Orang yang mengenal nama-Mu percaya kepada-Mu, sebab tidak Kautinggalkan orang yang mencari Engkau, ya TUHAN." (Mazmur 9:11). Kunci penting itu disebutkan disini seperti yang dicetak tebal. Agar kita bisa percaya maka kita harus mengenalNya terlebih dahulu. Dan lihatlah bahwa orang yang percaya kepadaNya tidak akan pernah Dia tinggalkan. Bagaimana caranya agar kita bisa mengenalNya?
April 10, 2013, 04:51:42 AM
Reply #82
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23128
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
Seperti yang sudah kita lihat kemarin, kita bisa mengenal Dia lewat Firman Tuhan. Alkitab mencatat begitu banyak keterangan mengenai Tuhan dan perkataanNya.  Mari kita lihat ayat berikut ini. "Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi; Dia memberi perintah, maka semuanya ada." (Mazmur 33:9). Tuhan adalah pribadi yang menciptakan segala sesuatu lewat Firman. Kisah penciptaan alam semesta beserta isinya di awal Alkitab menjadi sebuah catatan penting mengenai hal ini. Salomo menggambarkan Tuhan sebagai sosok yang jauh lebih tinggi dari segala kepintaran dan kecerdasan bahkan kebijaksanaan manusia. "Tidak ada hikmat dan pengertian, dan tidak ada pertimbangan yang dapat menandingi TUHAN." (Amsal 21:30). Dalam Yesaya dikatakan: "Dengarkanlah Aku, hai kaum keturunan Yakub, hai semua orang yang masih tinggal dari keturunan Israel, hai orang-orang yang Kudukung sejak dari kandungan, hai orang-orang yang Kujunjung sejak dari rahim. Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu." (Yesaya 3-4) Tuhan adalah Bapa yang setia yang akan tetap mau menggendong, menanggung, memikul dan menyelamatkan kita sampai akhir hayat."Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku"(ay 9). Atau lihatlah Mazmur 23, disana Daud menunjukkan seperti apa ia mengenal Tuhan. Dan tentunya banyak lagi Firman Tuhan yang mampu mengenalkan kita secara mendalam kepada siapa Tuhan sebenarnya.

Mengenal pribadi Allah bisa kita peroleh lewat pengalaman kita berjalan bersama-sama denganNya, dengan mengalami langsung kuasa Tuhan dengan penyertaanNya dalam hidup kita. Semakin taat kita menjalani hidup, maka kuasaNya akan semkakin nyata pula kita rasakan. Firman Tuhan berkata: "Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan." (Roma 10:10). Orang yang percaya akan dibenarkan, yang mengaku akan diselamatkan. Ini sejalan dengan ayat bacaan hari ini, bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan orang yang terus berusaha untuk mengenalNya lebih jauh. Orang yang setia mencari dan merindukan Tuhan adalah gambaran dari orang yang percaya kepadaNya, punya pengharapan teguh, tidak mudah terombang-ambing oleh ketakutan dan kekhawatiran. Dan ini semua bisa kita miliki jika kita mengenal siapa Tuhan itu, seperti apa sebenarnya besar kasihNya kepada kita, seberapa besar Tuhan ingin kita selamat dan mendapatkan bagian di KerajaanNya. Janganlah berhenti dengan hanya percaya sebatas bibir saja, mulailah hari ini untuk mengenal pribadi Allah lebih jauh lagi sehingga dengan iman teguh yang bertumbuh semakin besar kita bisa percaya sepenuhnya dan menerima penyertaan Tuhan secara nyata dalam hidup kita.

Kenal merupakan awal dari tumbuhnya rasa percaya
April 11, 2013, 04:46:42 AM
Reply #83
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23128
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_04_01_archive.html
renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/komunikasi-dengan-tuhan.html

Komunikasi dengan Tuhan

Ayat bacaan: Efesus 2:18
====================
"karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa."

Sangatlah menarik jika kita melihat bagaimana perkembangan teknologi komunikasi di dunia hingga hari ini. Komunikasi jarak jauh dimulai dengan hadirnya telegram optik oleh Abbe Claude Chappe (1791) yang mendirikan 120 buah menara berjajar dengan jarak tertentu yang mampu mengirim pesan dari Paris dan Laut Tengah dalam waktu kurang dari satu jam yang berarti lebih cepat dari kecepatan kuda yang sebelumnya dipakai untuk mengirim pesan. Dari sana berbagai usaha yang lebih efisien terus dikembangkan hingga pada tahun 1938 Samuel FB Morse merancang sebuah kode yang disebut dengan Kode Morse, yaitu serangkaian ketukan kunci yang membuat kontak listrik. Dalam waktu singkat kota-kota besar di Amerika dan Eropa pun mulai terhubung lewat telegram. Tahun 1850an Inggris dan Swedia dihubungkan dengan Eropa daratan lewat sarana kabel bawah laut, yang kemudian berlanjut dengan dibangunnya hubungan dari Eropa menuju Amerika Serikat. Alexander Graham Bell pada tahun 1876 menciptakan telepon yang semakin mempermudah orang dalam melakukan komunikasi antar pribadi dengan orang yang berada jauh di tempat lain. Komunikasi semakin dipermudah dengan adanya mobile phone atau telepon genggam yang sangat memudahkan untuk berhubungan ketika kita sedang berada di luar rumah. Aplikasi SMS membuat kita bisa mengirim pesan via teks yang jauh lebih murah. Adanya internet membuat kita semakin dipermudah karena bisa chatting atau bahkan berkomunikasi sambil melihat lawan bicara yang berada di belahan bumi lainnya dengan mempergunakan videocam. Kita tidak perlu bingung lagi untuk menghubungi teman atau keluarga yang berada di belahan dunia lain, karena selain kita bisa dengan mudah menghubungi mereka, biaya yang harus dikeluarkan juga sangat minim bahkan bisa gratis.

Dalam hal hubungan kita dengan Tuhan pun sama seperti itu, ada perkembangannya. Dalam Perjanjian Lama kita melihat bahwa manusia butuh perantaraan nabi-nabi yang dipilih Tuhan untuk bisa berhubungan denganNya. Manusia tidak bisa secara langsung melakukan itu akibat dosa yang memutus hubungan antara kita dengan tahta Tuhan yang kudus. Tapi bersyukurlah kepada Yesus, karena berkat Dia hari ini kita bisa datang berbicara kepada Tuhan dengan mudah, kapan saja dan dimana saja. Kita bisa masuk menghampiri tahtaNya dan berhubungan denganNya setiap waktu karena Tuhan Yesus sudah memulihkan hubungan kita yang terputus dari Tuhan akibat dosa. Kita tidak lagi perlu harus melalui perantaraan nabi dalam membangun hubungan dengan Tuhan. Kita tidak perlu mengantri, memasuki gedung-gedung tertentu, atau mempersiapkan segala sesuatu berhari-hari atau berbulan-bulan untuk bisa berkomunikasi dengan Tuhan. Kita tidak perlu dijadwal terlebih dahulu untuk melakukan itu seperti halnya jika kita ingin bertemu dengan seorang pejabat atau orang penting lainnya. Kita bisa secara langsung menumpahkan isi hati kita, memuji dan menyembahNya, mendengar suaraNya, merasakan hadiratNya yang begitu damai atau memohon pertolongan dan menyampaikan keluhan-keluhan kita kapanpun dan dimanapun kita berada. Kita tidak memerlukan perantaraan orang lain untuk menyampaikan suara hati kita. Dan yang lebih luar biasa lagi, Tuhan tidak pernah terlalu sibuk untuk kita. Kapan saja kita membuka hubungan dengan Tuhan, Dia akan selalu berkenan untuk dihampiri, mendengar bahkan menjawab kita. Tidakkah itu luar biasa?

Tanpa Kristus kita tidak akan pernah bisa mengalami semua kemudahan ini. Paulus mengerti benar mengenai hal tersebut seperti yang bisa kita lihat lewat apa yang ia katakan: "karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa." (Efesus 2:18). Karena Dialah kita semua, baik orang-orang Israel secara rohani maupun yang berada diluar, oleh Roh Allah yang satu, dapat mendekati Bapa. Hubungan kita yang telah terputus akibat dosa telah kembali tersambung lewat darah Kristus.
April 11, 2013, 04:47:06 AM
Reply #84
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23128
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
Alkitab mencatat jelas tentang terjadinya pemulihan hubungan ini. Tepat ketika Yesus menyerahkan nyawaNya di kayu salib, sesuatu terjadi di Bait suci. "Ketika itu tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah." (Markus 13:38). Itulah pertanda bahwa tidak lagi ada sekat yang membentang antara kita dengan Tuhan. Paulus juga menyinggung hal ini.  "Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu "jauh", sudah menjadi "dekat" oleh darah Kristus." (Efesus 2:13). Artinya, semua manusia memiliki kesempatan yang sama untuk selamat dan berhubungan secara langsung kepada Bapa melalui ROH KUDUS oleh karena Kristus, dengan perantaraan Kristus. Lebih lanjut Paulus mengatakan "Di dalam Dia kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepada-Nya." (3:12). Setiap saat, kapan dan dimana saja, kita bisa berhubungan dengan Tuhan. Ini adalah anugerah yang terlalu besar yang akan sangat bodoh sekali apabila kita abaikan.

Melalui Kristus, semua orang bisa mendapatkan kesempatan yang sama untuk merasakan hadirat Tuhan secara langsung. Tuhan selalu menyambut siapapun dengan tangan terbuka tanpa memandang siapa kita, kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan dahulu atau latar belakang apapun. Dia siap menyucikan kita kembali agar bisa dengan penuh keberanian memasuki tahta kudusNya. Apa yang perlu kita perbuat untuk bisa melakukan itu adalah mengakui dosa-dosa kita dengan melakukan pertobatan secara total dan menyeluruh, karena sesungguhnya yang memisahkan kita dari Tuhan tidak lain adalah dosa-dosa kita. "tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu." (Yesaya 59:2). Menjaga kekudusan menjadi sangat penting dalam hal ini. Sebuah syarat lain tentu saja dengan percaya kepada Yesus dan menerimaNya sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadi kita, karena biar bagaimanapun semua itu bisa terwujud karena Yesus. "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku." (Yohanes 14:6).  Dengan melakukan hal-hal tersebut, kita pun akan dapat "dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya." (Ibrani 4:16).

"TUHAN dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan." (Mazmur 145:8). Dan kedekatan itu sudah menjadi begitu nyata melalui hubungan tanpa hambatan, tanpa batas yang telah dimungkinkan lewat darah Kristus. "Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang "jauh" dan damai sejahtera kepada mereka yang "dekat",karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa." (Efesus 2:17). Kalau begitu semuanya tinggal tergantung kita. Apakah kita mau memanfaatkan, mempergunakan anugerah sebesar ini dengan penuh rasa syukur atau menyia-nyiakannya. Apakah kita mau masuk atau masih memilih untuk berada di luar. Yang pasti, pintu sudah dibuka, dan pintu itu terbuka untuk semua orang tanpa terkecuali. Melalui Yesus, kita bisa menghampiri tahta kudusNya kapanpun dan dimanapun. Selama kita mau, tidak ada tempat atau waktu dimana kita tidak bisa menemuiNya.

Tidak ada pembatas lagi untuk berhubungan dengan Tuhan. Kapanpun dan dimanapun kita bisa berkomunikasi denganNya dan merasakan hadiratNya yang kudus
April 12, 2013, 04:08:53 AM
Reply #85
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23128
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_04_01_archive.html
renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/hindari-sikap-acuh-tak-acuh.html

Hindari Sikap Acuh tak Acuh

Ayat bacaan: Zefanya 2:1-2
========================
"Bersemangatlah dan berkumpullah, hai bangsa yang acuh tak acuh, sebelum kamu dihalau seperti sekam yang tertiup, sebelum datang ke atasmu murka TUHAN yang bernyala-nyala itu, sebelum datang ke atasmu hari kemurkaan TUHAN."

Acuh itu artinya peduli, mengindahkan. Kebalikannya adalah acuh tak acuh, cuek atau bersikap masa bodoh. Ini jelas sikap yang tidak disukai banyak orang. Bayangkan kita sudah berusaha membantu atau berbuat baik kepada mereka, tapi balasan yang didapat adalah sikap dingin, acuh tak acuh seperti tidak menghargai jerih payah kita. Bukankah itu menyebalkan jika kita alami? Kita menjumpai orang-orang bersikap seperti ini dimana-mana. Bukan saja di luar, tapi juga di lingkungan terdekat kita yaitu keluarga. Orang tua yang berat untuk mengucapkan terima kasih kepada anaknya atau malah masih tega mengkritik usaha anak-anaknya, saudara yang lebih tua terhadap adiknya dan sebagainya. Itu bukanlah hal yang sulit kita jumpai disekitar kita.

Sikap acuh tak acuh atau masa bodoh ini ironisnya juga banyak dilakukan orang terhadap Tuhan yang sudah begitu menunjukkan besar kasihNya kepada kita. Ketika berada dalam keadaan terjepit, orang akan begitu rajinnya berdoa, berseru pada Tuhan, dengan ratap tangis, namun ketika Tuhan mengulurkan tanganNya untuk menolong mereka lepas dari kesesakan, mereka pun akan segera melupakan Tuhan dan sibuk dengan dunia masing-masing berikut kenyamanan di dalamnya. Atau mungkin juga berterimakasih, namun tidak bertahan lama. Doa menjadi semakin jarang dengan beragam alasan. Apalagi jika diminta untuk terlibat dalam pelayanan, wah nanti dulu.. saya masih sibuk dan tidak ada waktu untuk itu. Begitu jawab mereka dengan entengnya. Ada pula yang sama sekali tidak berterimakasih atas berkat, perlindungan, penyertaan atau pertolongan Tuhan atas diri mereka. Begitu seringnya orang percaya segera melupakan Tuhan ketika berada dalam kenyamanan, tetapi tanpa rasa malu mereka akan kembali datang ketika masalah menerpa. Itupun mungkin hanya sebagai alternatif terakhir bila tidak ada lagi kekuatan atau orang yang bisa diandalkan. Ini bukanlah sikap yang baik, dan Alkitab mencatat teguran keras Tuhan terhadap orang-orang yang berikap acuh tak acuh seperti itu.

Teguran Tuhan itu bisa kita lihat dari kisah buruknya kelakuan bangsa Israel di masa Zefanya. Pada saat itu hati mereka dengan Tuhan begitu cepatnya berubah-ubah. Mereka dengan mudah menangis meminta pertolongan, berseru-seru pada Tuhan, namun ketika pertolongan datang, sesaat kemudian mereka sudah menunjukkan sikap tidak puas dan kembali bersungut-sungut. Pada suatu waktu tertentu mereka memuliakan Tuhan, tapi sesaat kemudian mereka kembali malas, bersikap acuh tak acuh, atau malah bersikap mendua dengan ikut menyembah dewa-dewa. Tampaknya perilaku buruk bangsa Israel ini memang terjadi turun temurun karena jauh sebelumnya pun kita sudah berulang kali mendapati mereka berlaku buruk seperti itu. Sikap seperti ini sama sekali bukan sikap yang disukai Tuhan. Maka melalui Zefanya Tuhan pun memberi teguran keras. "Bersemangatlah dan berkumpullah, hai bangsa yang acuh tak acuh, sebelum kamu dihalau seperti sekam yang tertiup, sebelum datang ke atasmu murka TUHAN yang bernyala-nyala itu, sebelum datang ke atasmu hari kemurkaan TUHAN." (Zefanya 2:1-2). Ini teguran keras yang dijatuhkan kepada sebuah bangsa yang memang ignorance, acuh tak acuh, tidak tahu berterimakasih atau bersyukur dan sejenisnya. Walaupun sudah berulangkali mengalami kuasa Tuhan, begitu banyak mukjizat yang terjadi dari satu generasi ke generasi lainnya, namun mereka masih juga berperilaku tidak terpuji dalam berbagai hal.

Dalam beribadah mereka menunjukkan sikap yang sama. Kalaupun mereka beribadah, itu tidak lain hanya seremonial atau rutinitas semata. Untuk masalah ini pun Tuhan pernah menegur tak kalah keras. "Dan Tuhan telah berfirman: "Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan, maka sebab itu, sesungguhnya, Aku akan melakukan pula hal-hal yang ajaib kepada bangsa ini, keajaiban yang menakjubkan; hikmat orang-orangnya yang berhikmat akan hilang, dan kearifan orang-orangnya yang arif akan bersembunyi." (Yesaya 29:13-14). Hal-hal yang ajaib atau keajaiban yang menakjubkan disini bukanlah sesuatu yang baik atau positif, tapi justru sebaliknya. Dalam versi BIS diterjemahkan sebagai "pukulan bertubi-tubi". Sungguh tidak pantas memperlakukan Tuhan yang luar biasa baik dan begitu mengasihi kita dengan sangat setia dengan cara yang acuh tak acuh alias cuek, tidak menghargai atau tidak serius sepenuh hati.
April 12, 2013, 04:09:23 AM
Reply #86
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23128
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
Dalam Wahyu kita bisa melihat sebuah teguran lainnya yang tidak kalah keras dialamatkan kepada jemaat di Laodikia. "Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku." (Wahyu 3:16). Sikap acuh tak acuh atau dalam ayat ini disebut dengan suam-suam kuku seperti ini bisa mendatangkan murka Tuhan, dan itu sesungguhnya adalah sesuatu yang sangat wajar mengingat betapa baiknya Tuhan kepada kita semua ciptaanNya yang istimewa. Ada banyak diantara anak-anak Tuhan yang sama sekali tidak memiliki kerinduan untuk melayani Tuhan. Ada banyak yang lebih mementingkan perkara duniawi ketimbang melibatkan diri dalam pekerjaan Tuhan, atau sekedar untuk bersekutu dengan Tuhan sekalipun. Sebesar apa porsi Tuhan dalam hidup kita? Seberapa besar kerinduan kita kepadaNya? Dimana posisi Tuhan dalam hidup kita? Ini adalah pertanyaan penting yang patut kita jadikan bahan introspeksi agar kita jangan sampai menjadi lengah dan kemudian harus menerima teguran keras yang sama dari Tuhan.

Kita harus tetap memiliki rasa takut akan Tuhan. Bukan takut dalam sebuah pengertian negatif, takut seperti bentuk ketakutan duniawi, takut dihukum, takut dilempar ke neraka dan sebagainya, tapi sebuah bentuk takut atau gentar yang berbicara mengenai bagaimana kita patuh pada perintahNya, tidak mau mengecewakan Tuhan karena kita sungguh-sungguh mengasihiNya lebih dari segalanya. Ini adalah bentuk rasa takut yang sehat, yang akan membawa kita lebih dekat lagi kepadaNya. Takut akan Tuhan tidak saja bisa membawa kita untuk menerima keselamatan yang kekal tapi Tuhan juga menjanjikan kita untuk tidak akan berkekurangan, seperti apa yang dikatakan Daud. "Takutlah akan TUHAN, hai orang-orang-Nya yang kudus, sebab tidak berkekurangan orang yang takut akan Dia!" (Mazmur 34:9). Ada begitu banyak pekerjaan menunggu, dan kita bisa turut serta dalam pekerjaan itu sesuai dengan talenta yang telah disediakan Tuhan kepada kita, di tempat dimana kita berada, sesuai dengan rencana Tuhan dalam hidup kita. Yesus mengingatkan kita agar mau bersungguh-sungguh melakukan pekerjaan Tuhan selagi masih ada kesempatan. "Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja." (Yohanes 9:4). Akan datang saat dimana kita tidak lagi bisa bekerja, ketika yang tinggal hanyalah pertanggungjawaban bagaimana sikap dan perbuatan kita selama hidup di dunia. Karena itu janganlah menjadi orang dengan perilaku acuh tak acuh dan tak tahu berterimakasih. Seriuslah dalam menjalani hubungan dengan Tuhan, jadikan Dia sebagai yang utama dalam hidup dan tetaplah bersemangat dalam pelayanan, minimal menjadi berkat buat orang lain dimana nama Tuhan dipermuliakan.

Sikap acuh tak acuh tidak akan membawa hasil apa-apa selalin hanya akan mendatangkan murka Tuhan
April 13, 2013, 04:04:26 AM
Reply #87
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23128
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_04_01_archive.html
renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/kesetiaan-kaleb.html

Kesetiaan Kaleb

Ayat bacaan: Yosua 14:17
====================
"Itulah sebabnya Hebron menjadi milik pusaka Kaleb bin Yefune, orang Kenas itu, sampai sekarang ini, karena ia tetap mengikuti TUHAN, Allah Israel, dengan sepenuh hati."

Berapa lama toleransi yang kita berikan dalam menanti sebuah janji digenapi? Masing-masing orang akan memberi jawaban berbeda. Ada yang tidak sabaran, ada yang lebih sabar, itupun biasanya akan tergantung pada situasi dan kondisi kita. Ada kalanya kita bisa bersabar, tapi ada pula waktu dimana kita sulit untuk melakukan itu.Ada banyak pasangan yang akhirnya memilih untuk mengakhiri hubungan karena apa yang mereka harapkan tidak kunjung tiba. Mereka menginginkan pasangannya berubah, tapi ketika itu tidak kunjung terjadi hingga sebuah batas waktu tertentu menurut keinginannya, merekapun memutuskan untuk mengakhiri saja hubungan itu. Ketidak sabaran bisa menjadi salah satu alasan terbesar mengapa kesetiaan akhirnya harus dikorbankan. Terhadap sesama manusia seperti itu, kepada Tuhan pun sama saja. Ketika janji-janji Tuhan terasa terlalu lama menurut standar ukuran waktu kita, maka kepercayaan kita kepadaNya pun bisa goyah. Dan akhirnya, kesetiaan kepada Tuhan pun kita tinggalkan.

Waktu Tuhan seringkali berbeda dengan ukuran waktu kita. Tapi bagi orang yang bersabar akhirnya akan indah. Alkitab mencatat banyak contoh mengenai upah yang diterima yang berawal dari kesetiaan. Yusuf, Abraham, dan Musa misalnya, mereka mengalami rentang waktu panjang dimana kesabaran dan kesetiaan mereka diuji. Untuk hari ini mari kita lihat tokoh lainnya yang bisa kita jadikan teladan, yaitu Kaleb bin Yefune.

Kisah Kaleb mulai muncul ketika Musa menugaskan 12 orang yang mewakili masing-masing suku untuk mengintai situasi dan kondisi di tanah Kanaan, tanah yang dijanjikan Tuhan bagi mereka. (Bilangan 13:1-33), dimana Kaleb merupakan salah satu dari kedua belas pengintai itu. Setelah 40 hari mereka menjalankan tugas itu mereka pun kembali dengan mayoritas dari mereka berkesimpulan seperti ini: "Kami sudah masuk ke negeri, ke mana kausuruh kami, dan memang negeri itu berlimpah-limpah susu dan madunya, dan inilah hasilnya. Hanya, bangsa yang diam di negeri itu kuat-kuat dan kota-kotanya berkubu dan sangat besar, juga keturunan Enak telah kami lihat di sana." (ay 27-28). Tempatnya memang sangat kaya dan subur, tetapi ada orang-orang berukuran raksasa tinggal disana. Sebagian besar dari mereka kecut melihat situasi disana. Bagaimana mungkin masuk berperang melawan raksasa di kota yang dilindungi benteng-benteng kokoh? Itu kata mereka. Bahkan saking kecut hati mereka menilai diri mereka sendiri seperti belalang yang lemah, kecil dan tidak berarti dibanding bangsa Enak yang besar-besar itu. (ay 33). Tetapi ternyata tidak semua pengintai bersikap pesimis. Kaleb adalah salah satu pengintai yang memiliki sikap hati positif selain Yosua. Dengan tegas ia membantah  rekan-rekannya. "Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!" (ay 30). Mengapa Kaleb bisa seyakin itu? Alasannya sederhana. Karena ia percaya apabila Tuhan sendiri yang berjanji untuk memberikan tanah itu kepada bangsanya, maka Tuhan pasti akan membantu dalam prosesnya. Tuhan yang memberi, mungkinkah Tuhan hanya sengaja ingin membiarkan mereka binasa? Kaleb memiliki iman yang teguh, itu membuatnya mampu percaya kepada Tuhan. Dan dari kisah selanjutnya mengenai Kaleb kita tahu bahwa ia berhasil membuktikan kesetiaannya secara luar biasa setelah teruji oleh waktu.
April 13, 2013, 04:05:06 AM
Reply #88
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23128
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
Kita bisa melihat kelanjutan kisah Kaleb 45 tahun kemudian dalam kitab Yosua. Pada saat itu Kaleb sudah tua di usia 85 tahun. Hingga saat itu ternyata ia belum juga memperoleh apa yang dijanjikan Tuhan kepadanya. Bayangkan sebuah penantian 45 tahun. Mampukah kita bersabar sepertiga atau seperempat dari waktu sepanjang itu? Rasanya bakal sulit. Tapi Kaleb menunjukkan kesetiaan yang luar biasa. Kaleb berkata "Aku berumur empat puluh tahun, ketika aku disuruh Musa, hamba TUHAN itu, dari Kadesh-Barnea untuk mengintai negeri ini; dan aku pulang membawa kabar kepadanya yang sejujur-jujurnya." (Yosua 14:7). 10 pengintai lain menyampaikan kabar dengan pesimis, sehingga kesimpulan mereka membuat bangsa Israel menjadi tawar hati. Tapi tidak bagi Kaleb, sebab ia "tetap mengikuti TUHAN, Allahku, dengan sepenuh hati." (ay 8). Lantas Kaleb berkata: "Pada waktu itu Musa bersumpah, katanya: Sesungguhnya tanah yang diinjak oleh kakimu itu akan menjadi milik pusakamu dan anak-anakmu sampai selama-lamanya, sebab engkau tetap mengikuti TUHAN, Allahku, dengan sepenuh hati. Jadi sekarang, sesungguhnya TUHAN telah memelihara hidupku, seperti yang dijanjikan-Nya. Kini sudah empat puluh lima tahun lamanya, sejak diucapkan TUHAN firman itu kepada Musa, dan selama itu orang Israel mengembara di padang gurun. Jadi sekarang, telah berumur delapan puluh lima tahun aku hari ini" (ay 9-10). 85 tahun, itu usia yang sudah sangat renta. Pada usia seperti ini kondisi fisik pasti sudah jauh menurun. Tenaga sudah sangat berkurang, berjalanpun mungkin sudah sulit. Tapi ternyata Kaleb memiliki semangat yang luar biasa. Ia berkata "pada waktu ini aku masih sama kuat seperti pada waktu aku disuruh Musa; seperti kekuatanku pada waktu itu demikianlah kekuatanku sekarang untuk berperang dan untuk keluar masuk." (ay 11). Mungkin fisiknya sudah lemah seperti orang lain pada umumnya, tapi semangat hidupnya masih tetap sama seperti 45 tahun yang lalu. Itu menunjukkan bagaimana ia masih tetap berjalan mengikuti Tuhan dengan sepenuh hati meski apa yang dijanjikan belum kunjung ia peroleh setelah sedemikian lama. Itupun menunjukkan bahwa ia tidak pernah menjadi ragu akan janji Tuhan. Sebab bagaimana mungkin orang yang ragu bisa punya semangat sebesar dirinya? Kaleb menunjukkan kesetiaan yang besar yang tidak tergantung oleh situasi, kondisi maupun waktu. Ia hanya tahu, jika Tuhan sudah berjanji, pada waktunya janji itu pasti ditepati. Ia tahu betul bahwa Tuhan bukanlah Pribadi yang suka ingkar janji. Dan pada usia ke 85 itu akhirnya Kaleb bin Yefune menerima apa yang telah dijanjikan untuknya. Ia memperoleh Hebron sebagai milik pusakanya. (ay 13). Sejarah membuktikan bahwa Hebron bukanlah kota yang termudah untuk ditaklukkan. Kota ini justru merupakan sebuah kota yang didiami oleh orang-orang yang paling besar di antara bangsa raksasa, Enak. (ay 15). Keteguhan hati, semangat hidup, kepercayaan penuh dan kesetiaan tak terbatas mewarnai iman dari Kaleb, dan pada akhirnya kisahnya berakhir dengan indah.Alkitab mencatat hal itu dengan gemilang. "Itulah sebabnya Hebron menjadi milik pusaka Kaleb bin Yefune, orang Kenas itu, sampai sekarang ini, karena ia tetap mengikuti TUHAN, Allah Israel, dengan sepenuh hati." (ay 14).

Pertanyaannya sekarang, mampukah kita bersabar seperti Kaleb? Kesabaran yang sesungguhnya akan teruji oleh waktu, begitu pula halnya dengan kesetiaan. Kaleb, seperti halnya Yusuf, Abraham dan banyak tokoh lainnya sudah menunjukkan bahwa kesabaran dan kesetiaan mereka menuju kepada akhir yang indah Jika bagi mereka seperti itu, bagi kita pun sama. Tuhan tidak akan pernah ingkar janji, hanya saja waktuNya mungkin berbeda dengan keinginan kita. Di saat seperti itu, sanggupkah kita tetap bersabar tanpa kehilangan pengharapan? Mampukah kita menunjukkan kesetiaan seperti Kaleb?

Percayalah bahwa janji Tuhan akan selalu digenapi, karena itu bersabarlah dan tetaplah setia
April 14, 2013, 04:34:39 AM
Reply #89
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23128
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_04_01_archive.html
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/learn-from-past.html

Learn from the Past

Ayat bacaan: Mazmur 77:12-13
=========================
"Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala. Aku hendak menyebut-nyebut segala pekerjaan-Mu, dan merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu."

Sepertinya selalu saja sulit bagi kita, termasuk orang-orang percaya sekalipun, untuk bisa tetap tegar dan teguh dalam memegang pengharapan kepada Tuhan ketika badai menggoncang hidup kita dengan kerasnya. Kita cenderung cepat lemah, merasa khawatir dan takut lalu lupa bagaimana Tuhan dahulu pernah menyertai kita dalam mengalami kemenangan demi kemenangan dalam menghadapi situasi sulit. Kalaupun kita belum pernah mengalami sesuatu yang besar, kita selalu bisa belajar dari kesaksian orang lain karena jika Tuhan bisa berbuat sesuatu yang luar biasa bagi mereka, hal yang sama pun bisa pula berlaku bagi kita. Setidaknya kalau kita mengingat perjalanan hidup kita di masa lalu, kita pasti menemukan pekerjaan Tuhan yang indah atas kita. Lihatlah ucapan seorang petinju ketika hendak menghadapi lawannya. "Ya, sekarang ia jauh lebih kuat..tapi kalau dahulu Tuhan pernah memberiku kemenangan atas dirinya, aku tidak melihat alasan mengapa kali ini itu tidak bisa terjadi." Ada kalanya kita harus terus melangkah meninggalkan masa lalu yang pernah membelenggu kita, tetapi di sisi lain kita harus belajar dari pengalaman-pengalaman di masa lalu, baik yang kita alami sendiri maupun lewat pengalaman orang lain, baik atau buruk, termasuk pula berbagai pengalaman para tokoh yang dicatat dalam Alkitab.Dari kegagalan kita bisa belajar setidaknya kita tidak jatuh lagi ke lubang yang sama, setidaknya kita tahu harus bagaimana untuk lebih baik. Sedang dari kesuksesan kita bisa belajar tentang apa yang seharusnya dilakukan sehingga bisa berhasil.

Kita harus banyak belajar dari para pendahulu kita atau hal-hal yang telah mereka alami, termasuk apa yang sudah pernah terjadi dalam hidup kita atau orang-orang terdekat kita. Benar bahwa kita memang harus selalu menatap ke depan dan meninggalkan pengalaman-pengalaman buruk di masa lalu yang potensial menjadi penghambat bagi kita untuk maju, tapi penting pula untuk belajar dari apa yang telah terjadi di belakang. Ketika kita berada dalam kesesakan misalnya, dan merasa bahwa Tuhan seolah-olah seperti meninggalkan kita sendirian menghadapi semuanya,  kita bisa menoleh sejenak ke belakang untuk melihat begitu banyaknya kemuliaan Tuhan yang Dia nyatakan dalam berbagai kesempatan. Mukjizat-mukjizatNya yang ajaib, berkat-berkatNya, penyertaanNya yang begitu setia, kasihNya yang luar biasa, semua itu tercatat dengan jelas dalam Alkitab dan dialami begitu banyak orang sampai hari ini, termasuk apa yang kita alami sendiri secara pribadi.

Pemazmur sadar betul akan pentingnya hal ini. Ia suatu kali berkata: "Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala. Aku hendak menyebut-nyebut segala pekerjaan-Mu, dan merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu." (Mazmur 77:1-13). Pemazmur mengambil waktu untuk mengenang kembali bagaimana keajaiban-keajaiban yang pernah dilakukan Tuhan sebelumnya, bagaimana Tuhan menyatakan kuasa dan kemuliaanNya turun atas manusia sejak jaman sebelumnya jauh sebelum masanya. Setelah merenungkan segala kebaikan Tuhan, ia sampai pada kesimpulan: "Ya Allah, jalan-Mu adalah kudus! Allah manakah yang begitu besar seperti Allah kami?" (ay 14). Jika kita fokus hanya kepada penderitaan kita saja maka kita akan segera kehilangan sukacita, bahkan iman kita pun akan merosot drastis dalam waktu singkat. Di saat tekanan hidup mendera hebat, itulah saatnya bagi kita untuk  kembali mengingat-ingat segala sesuatu yang telah Tuhan lakukan kepada begitu banyak orang di masa lalu. Jika dulu Tuhan bisa melakukannya, maka hari ini pun Tuhan bisa, karena Tuhan tidak pernah berubah, baik dahulu, sekarang maupun selamanya. (Ibrani 13:8)
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)