Author Topic: renungan harian online  (Read 146572 times)

0 Members and 2 Guests are viewing this topic.

April 14, 2013, 04:35:16 AM
Reply #90
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24759
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
Jika anda memperhatikan seluruh isi Alkitab, anda akan menemukan bagaimana perbuatan-perbuatan Tuhan yang telah nyata pernah terjadi dalam begitu banyak kesempatan. Paulus mengingatkan bahwa ada masa-masa dimana penderitaan akan menghampiri kita,bahkan aniaya pun bisa kita alami. Orang jahat akan semakin jahat dan akan terus saling menyesatkan. Menghadapi itu semua, hendaklah kita tidak menjadi kehilangan harapan dan patah semangat. Kita diingatkan untuk terus berpegang kepada kebenaran, dan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepada kita. (2 Timotius 3:14). Ia kemudian berkata: "Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus." (ay 15). Dan Paulus pun menekankan bahwa "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran." (ay 16). Dan dengan itulah kita bisa memperlengkapi diri kita untuk hidup tegar menghadapi kesulitan tanpa harus kehilangan iman kita.

Pesan yang sama diberikan Paulus pula kepada jemaat Roma. "Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci." (Roma 15:4). Alkitab berisi begitu banyak hal yang dapat kita jadikan tuntunan bagaimana kita harus berlaku ketika kita menghadapi sesuatu. Kita bisa mendapatkan berbagai tips dan peringatan agar tetap hidup sesuai kehendak Tuhan, kita juga bisa mendapat penghiburan yang meneguhkan ketika tengah berada dalam kesesakan. Ada begitu banyak pergumulan di dalam Alkitab yang mungkin sedang kita alami hari ini. Para nabi dan tokoh-tokoh Alkitab telah menunjukkan bagaimana akhirnya Tuhan melepaskan mereka dan memberikan kemenangan. Sebaliknya ada pula tokoh-tokoh yang awalnya bersinar tapi kemudian berakhir dengan kehancuran, dan kita pun bisa belajar dari kegagalan mereka. Semua itu bisa kita jadikan pelajaran berharga, menjadi bekal yang sempurna dan lengkap untuk menatap hidup ke depan.

Janganlah terbenam pada penderitaan. Kita harus bisa bangkit dan ingat bahwa ada banyak hal yang bisa kita dapatkan lewat pengalaman-pengalaman para tokoh di Alkitab bersama Tuhan di masa lalu. Pergulatan dan turun naiknya iman banyak tokoh jelas dituliskan dalam Alkitab dan kita bisa belajar dari itu semua. Kita juga bisa belajar dari apa yang pernah kita alami, pengalaman hidup orang tua kita, orang-orang terdekat atau kesaksian-kesaksian banyak orang yang mengalami mukjizat Tuhan di masa sekarang ini. Jika kita menyadari hal ini, kita pun akan tahu bahwa Tuhan mampu melakukan segala hal, bahkan yang paling mustahil sekalipun menurut kemampuan berpikir manusia. Pada akhirnya kita akan bisa menyimpulkan hal yang sama dengan pemazmur ketika ia mengatakan "Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti." (Mazmur 46:1). Tidak akan pernah sia-sia untuk mengandalkan Tuhan. Ketika kita sedang mengalami pergumulan, mari kita ingat kembali bagaimana Tuhan melakukan mukjizat-mukjizatNya di waktu lampau, dan marilah bersyukur sebab Tuhan yang kita sembah saat ini adalah Tuhan yang sama, baik kuasaNya maupun kasihNya.

Menataplah ke depan berbekalkan segala sesuatu yang telah tertulis dahulu
April 15, 2013, 04:51:05 AM
Reply #91
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24759
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_04_01_archive.html
renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/berdoa-disertai-ucapan-syukur.html

Berdoa Disertai Ucapan Syukur

Ayat bacaan: Filipi 4:6
=======================
"Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur."

Seperti apa bunyi doa yang kita panjatkan setiap hari kepada Tuhan? Kebanyakan orang hanya mengisi doanya dengan daftar permintaan, keluhan dan hal-hal lain yang dirasa perlu agar hidup bisa lebih baik lagi. Kalau hidup sedang baik-baik saja maka doa pun jarang dilakukan. Buat apa? Toh semua sedang berjalan aman. Begitu masalah muncul, maka doa pun kembali hadir berisikan list permintaan agar kiranya Tuhan menolong mereka keluar dari masalah. Bayangkan seandainya orang yang anda kenal hanya datang mengunjungi anda karena ingin meminta sesuatu atau omongannya hanya berisi keluhan, protes atau hal-hal sejenis lainnya. Tidak kah anda akan kesal dan malas bertemu dengan mereka? Kita sering melupakan hal tersebut dan mengira bahwa doa hanyalah merupakan sarana dimana kita bisa meminta sesuatu, mengeluh atau menyampaikan berbagai keberatan kita dalam menjalani hidup. Apakah itu artinya kita tidak boleh meminta apa-apa dari Tuhan? Atau kita tidak boleh secara jujur mengutarakan isi hati kita kepada Tuhan? Tentu saja tidak. Kapanpun kita boleh datang kepadaNya untuk itu. Tapi jangan biarkan doa kita hanya berisi permintaan dan keluhan saja, karena kita sebenarnya sudah diingatkan agar senantiasa mengisi doa-doa kita dengan ucapan syukur.

Ayat bacaan hari ini menyatakan hal tersebut dengan jelas. "Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur." (Filipi 4:6). Ini merupakan hal penting untuk diingat karena pada kenyataannya ada banyak di antara kita yang lupa untuk mengisi doa-doa kita dengan ucapan syukur. Mungkin kita memang memulai doa kita dengan ucapan terima kasih, tapi seberapa banyak yang benar-benar menghayati ucapan syukur itu secara sungguh-sungguh, yang berasal dari lubuk hati kita yang terdalam? Seringkali kita hanya sekedar terbiasa mengucapkannya, hanya basa basi saja sifatnya sementara isi pikiran kita sudah langsung penuh dengan daftar permintaan sejak awal kita mulai berdoa. Tuhan tidak menginginkan doa yang seperti itu. Dia ingin kita terlebih dahulu percaya lewat iman kita. Dia ingin kita memulai doa kita tanpa diselimuti perasaan khawatir. Tuhan mau kita mengangkat permohonan kita dengan rasa percaya yang penuh, berasal dari kecintaan kita kepadaNya, dan hanya itu yang memungkinkan kita untuk mampu mengisi doa dengan ucapan syukur yang sesungguhnya. Tuhan ingin rasa sukacita dalam diri kita tidak hilang dalam keadaan apapun, dan rasa sukacita itulah yang memampukan kita untuk bisa menaikkan puji-pujian dan rasa syukur kita tanpa terpengaruh kondisi atau situasi apapun yang sedang kita alami.

Seperti apa sukacita itu? Ada banyak orang yang secara sempit mengaitkan sukacita hanya pada kondisi yang tengah dialami saat ini. Tekanan, problema kehidupan, permasalahan dan pergumulan akan membuat sukacita berkurang atau malah hilang sama sekali. Sebaliknya hidup yang sedang tenang akan membuat kita mampu bersukacita. Mungkin pada umumnya orang akan berpikir seperti itu, tetapi sebenarnya itu bukanlah sukacita yang sebenarnya. Alkitab jelas berkata seperti ini: "Jangan kamu bersusah hati, sebab sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu!" (Nehemia 8:11b). Artinya, sukacita yang sesungguhnya bukanlah yang berasal dari apa yang kita alami, melainkan berasal dari Tuhan. Sukacita karena Tuhan, itulah yang menjadi perlindungan kita. Bukannya kita harus kehilangan sukacita karena tertimpa beban, namun justru sukacita itu seharusnya mampu memberikan sebentuk kekuatan tertentu yang memampukan kita bertahan bahkan keluar sebagai pemenang di tengah kesulitan apapun. Itulah sukacita yang sesungguhnya, dan itulah yang memampukan kita untuk terus mengucap syukur dengan tulus dan sungguh-sungguh dalam penghayatan penuh dalam doa kita, meski situasi dan kondisi sulit sekalipun tengah berkecamuk dalam hidup kita.
April 16, 2013, 04:23:56 AM
Reply #92
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24759
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_04_01_archive.html
renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/melepaskan-pengampunan.html

Melepaskan Pengampunan

Ayat bacaan: Markus 11:24-25
========================
"Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu. Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu."

Seseorang yang saya kenal sangat dekat baru saja bercerita tentang bagaimana akhirnya ia bisa melepaskan pengampunan. Sesuatu yang ia alami terhadap salah satu keluarga dekatnya membuat hatinya terluka hingga menyimpan dendam. Ia sadar bahwa kebencian itu bisa menimbulkan masalah dalam membangun hubungan dengan Tuhan, tetapi ia merasa tidak mampu menghilangkan rasa itu. Apa yang ia lakukan adalah menyampaikan perasaan apa adanya kepada Tuhan. "Tuhan, saya tahu bahwa rasa ini membuat doa-doa saya terhalang, tapi saya belum mampu melepaskan pengampunan..bantu saya untuk bisa mengampuninya.." demikian kira-kira bunyi doanya. Ternyata hanya dalam hitungan jam ia menjadi sanggup mengampuni orang tersebut dengan ikhlas. Ia merasa bebannya terangkat, hatinya menjadi lapang. Disaat kita tidak sanggup, ROH KUDUS selalu bisa memampukan kita dalam melepaskan pengampunan. Apa yang penting adalah kerelaan kita dalam melakukan itu, karena ada banyak orang yang memilih untuk menyimpan dendam terhadap seseorang meski mereka tahu bahwa itu tidak baik bagi dirinya sendiri.

Ada berapa banyak orang yang masih mengganjal di hati kita karena pernah menyakiti perasaan kita, dan mengapa kita sulit mengampuni mereka? Mungkin bukan satu kali saja mereka melukai perasaan kita, tapi sudah berulang-ulang. Kita bertemu dan bersinggungan dengan begitu banyak manusia dengan berbagai macam sifat yang berbeda. Diantaranya ada yang kasar, tidak peduli, sinis, bersikap merendahkan dan mungkin tidak merasa bersalah jika menyinggung perasaan orang. Persinggungan dengan karakter-karakter seperti ini akan terus menumpuk perasaan sakit hati pada diri kita. Maka tanpa sadar tiba-tiba kita sudah mempunyai daftar yang panjang akan orang-orang yang pernah menyinggung atau menyakiti hati kita. Ironisnya, sebagian besar di antara orang-orang ini merupakan orang yang tidak menyadari kesalahannya sehingga sepertinya mustahil untuk tergerak untuk minta maaf meski telah menyakiti kita. Mereka malah masih saja menambah rasa sakit di hati kita. Seringkali bukan salah kita, dan memang merekalah yang memulai. Rasa kecewa dan sakit hati itu bisa begitu parah, sehingga sulit bagi kita untuk bisa memaafkan apalagi untuk melupakan.

Jika mengacu kepada Firman Tuhan, kita seharusnya siap mengampuni tanpa pandang bulu, tanpa menimbang berat-ringannya "dosa" mereka terhadap kita. Mengapa? Karena masalah sakit hati ini jika dibiarkan maka yang rugi adalah kita sendiri juga. Ada banyak orang yang terikat pada kepahitan terhadap seseorang sehingga sulit maju. Mereka terbelenggu oleh trauma masa lalu akibat perlakuan seseorang sehingga sulit bagi mereka untuk menatap masa depan. Ada banyak yang lebih suka membiarkan dendam membara sehingga sukacita mereka pun hilang. Berbagai penyakit bisa timbul akibat hal ini, mulai dari penyakit ringan sampai yang mematikan. Jika dipikir-pikir, betapa ironisnya ketika kita disakiti orang, kita pula yang menderita kerugian lebih lanjut akibat ulah mereka. Dan seringkali orang tidak menyadari bahwa kebencian, sakit hati atau dendam ini bisa memerangkap iman kita sehingga sulit berkembang. Hanya sedikit orang yang manyadari betapa eratnya hubungan antara iman dan pengampunan.
April 16, 2013, 04:24:18 AM
Reply #93
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24759
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
Mari kita lihat ucapan Yesus yang dicatat oleh Markus berikut ini. "Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu." (Markus 11:25). Ini adalah sabda Kristus yang tentunya tidak lagi asing bagi kita. Tapi perhatikan ayat selanjutnya. "Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu." (ay 26). Perhatikanlah bagaimana Yesus merangkai atau menopang dua kalimat tersebut bukan secara kebetulan tetapi dengan sengaja. Saya percaya Yesus mengatakan kedua kalimat ini bukan dalam konteks yang berbeda. Yesus ingin kita tahu bahwa pengampunan merupakan landasan untuk bisa menerima dari Tuhan. Sebelum berdoa, kita harus terlebih dahulu mengampuni orang-orang yang masih mengganjal di hati kita. Bereskan dulu itu, baru berdoa, karena jika tidak, iman kita masih terbelenggu dan doa yang kita panjatkan pun tidak akan bisa membawa hasil apa-apa. Sebelum Yesus mengatakan kedua kalimat di atas, Dia baru saja menjelaskan bahwa iman yang teguh akan mampu mencampakkan gunung sekalipun untuk terlempar ke laut. (ay 23). Iman yang sekecil biji sesawi sekalipun akan mampu melakukan itu. Tuhan siap memberikan apapun yang kita minta dan doakan dengan disertai rasa percaya. Tapi sebelum itu semua terjadi, dan agar itu bisa terjadi, kita terlebih dahulu harus mengampuni orang-orang yang bersalah kepada kita, orang yang telah menyakiti hati kita, orang yang telah melukai perasaan kita. Sebab tanpa itu, iman kita masih terperangkap dalam penjara dan akan terus menghalangi kita untuk menerima segala sesuatu dari Tuhan.

Petrus pernah bertanya berapa kali ia harus siap mengampuni. Dan Yesus pun memberi jawaban. "Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali." (Matius 18:22). Tujuh puluh kali tujuh menggambarkan keharusan kita untuk bisa terus melepaskan pengampunan tanpa batas. Yesus mengingatkan bahwa kita harus siap memberi pengampunan terus menerus, dan jangan pernah tertarik untuk menyisakan dendam dalam hati kita. Dalam doa yang diajarkan Yesus pun kita diingatkan akan hal itu. "dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami." (Matius 6:12) Perihal memberi pengampunan sangat penting dan sangat berkaitan erat dengan pengampunan yang kita terima dari Tuhan. Jika kita mengampuni orang, maka Tuhan pun akan mengampuni kita. (Markus 11:25). Dan permintaan kita dalam doa pun Dia dikabulkan.(ay 24). Tapi hal sebaliknya pun berlaku. "Tetapi jika kamu tidak mengampuni, maka Bapamu yang di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu." (ay 26).

Kembali ke ayat bacaan hari ini, sekali lagi ingatlah bahwa Yesus menopang kedua kalimat itu dengan sengaja. Yesus ingin kita tahu bahwa memberi pengampunan adalah landasan untuk mendapat pengampunan Tuhan dan untuk menerima segala sesuatu dari Tuhan. Dia ingin mengingatkan kita bahwa tidaklah mungkin bagi kita untuk menerima pengabulan doa jika kita masih menyimpan dendam di dalam hati kita pada waktu yang sama. Sikap tidak mau mengampuni akan menghambat saluran iman dan membuat kita tidak mampu melangkah maju. Di dalam hidup kita akan menderita, Tuhan sendiri tidak akan berkenan terhadap kita. Saya memahami betul bahwa dalam kasus-kasus tertentu tidak mudah bagi kita untuk mengampuni seseorang. Mungkin hidup kita sudah terasa hancur, mungkin kerugian sudah terlalu banyak, mungkin tidak akan bisa mengembalikan sesuatu yang terlanjur hilang dari hidup kita karena perbuatan mereka. Tapi biar bagaimanapun kita tetap harus melepasnya agar kita bisa melangkah maju. Kita perlu membebaskan diri kita dari belenggu dendam, membebaskan mereka yang bersalah kepada kita, agar kita bisa memerdekakan iman kita sepenuhnya. Kemampuan kita mungkin terbatas untuk itu, tapi seperti apa yang dialami oleh teman saya di awal, ROH KUDUS sanggup memampukan kita untuk memberikan pengampunan dan memerdekakan iman kita. Jika diantara anda ada yang masih menyimpan ganjalan, sakit hati atau dendam terhadap seseorang, berdoalah hari ini dan ijinkan ROH KUDUS bekerja untuk menguatkan kita hingga dapat mengampuni orang-orang itu dan dengan demikian membebaskan iman anda. Buanglah sumbatan pada saluran iman anda, maka anda akan menyaksikan bagaimana doa-doa anda akan dikabulkan, dan hidup anda akan terasa begitu ringan dan kembali dipenuhi sukacita.

Berikan pengampunan agar saluran iman mengalir lancar
April 17, 2013, 04:06:10 AM
Reply #94
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24759
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_04_01_archive.html
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/mengampuni.html

 Mengampuni

Ayat bacaan: Matius 18:35
======================
"Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu."

Kekesalan terhadap seseorang adalah hal yang biasa kita alami dalam kehidupan sehari-hari. Seringkali kekesalan yang awalnya sedikit lama-lama bisa menjadi semakin parah apabila terus dibiarkan berada dalam hidup kita. Sadar atau tidak, kekesalan yang berlarut-larut terhadap seseorang  membuat bisa mengakibatkan kasih yang ada di dalam diri kita semakin compang camping. Hampir setiap hari kita berhadapan dengan orang-orang yang seakan sengaja ingin membuat kita marah. Jika itu terjadi, maka reaksi mengumpat, memaki bahkan mengutuk pun keluar dari diri kita. Bahkan dendam pun bisa timbul apabila kerugian yang kita alami terasa besar sekali. Berhadapan dengan situasi sulit, dengan orang-orang sulit akan membuat kita semakin sulit pula mengampuni. Ada yang dengan sadar tidak kita maafkan, ada pula yang secara tidak sengaja. Kita lupa bahwa mereka belum kita ampuni. Itu bisa saja terjadi. Jika kita tidak mempertebal kasih dalam diri kita dan tidak menyadari betapa besarnya kasih Tuhan kepada kita, maka akan semakin banyak orang-orang yang tidak kita ampuni, dan akibatnya bisa fatal, karena hal itu akan menghambat pengampunan Tuhan untuk turun atas diri kita.

Melanjutkan renungan kemarin mengenai pentingnya melepaskan pengampunan, mari kita lihat sebuah perumpamaan tentang pengampunan pernah diberikan Yesus dalam Matius 18:21-35 yang menjelaskan betapa pentingnya bagi kita untuk membuka pintu pengampunan seluas-luasnya. Disini digambarkan tentang seorang raja yang mau menyelesaikan hutang-hutang dari hamba-hambanya. Ada seorang hamba yang berhutang sepuluh ribu talenta memohon keringanan waktu untuk dapat membayar lunas hutangnya dengan memohon sambil berlutut. Sang raja pun merasa iba. "Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya." (ay 27). Bukan cuma diberi keringanan, tapi hutangnya dihapuskan. Betapa beruntungnya si hamba tersebut. Tapi apa yang terjadi selanjutnya? Ketika si hamba keluar, ia bertemu dengan orang lain yang berhutang kepadanya, dengan jumlah yang jauh lebih kecil dari hutangnya kepada raja. Ia langsung mencekik dan memaksa orang itu untuk segera membayar hutangnya. Orang itu pun memohon dengan berlutut untuk meminta keringanan, sama persis seperti apa yang baru saja si hamba lakukan di hadapan raja. Tapi si hamba tidak mempedulikan hal itu. Ketika mendengar perbuatannya itu raja pun menjadi marah. "Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?" (ay 32-33). "Jika aku mengampuni engkau bahkan menghapuskan hutangmu yang besar, masakan engkau tega melakukan itu kepada temanmu yang hanya berhutang sedikit?" Begitu kira-kira kata sang raja. "Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya." (ay 34). Dan Yesus pun menutup perumpamaan itu dengan sebuah peringatan penting: "Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu." (ay 35).
April 17, 2013, 04:06:36 AM
Reply #95
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24759
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
Memang sulit bagi kita untuk mengampuni orang yang telah bersalah kepada kita atau telah merugikan kita. Tapi pengampunan tanpa batas merupakan hal yang wajib diberikan oleh anak-anak Tuhan kepada mereka yang telah menyakiti kita. Bukankah Tuhan sendiri tidak pernah berpelit pengampunan kepada kita? Coba pikir, ada berapa banyak kesalahan yang kita perbuat dalam hidup kita?  Seringkali kita melakukan pelanggaran-pelanggaran berat  yang seharusnya akan mendatangkan kebinasaan. Jika memakai standar kepantasan, ada banyak kesalahan yang rasanya tidak pantas dimaafkan. Tapi Tuhan begitu mengasihi kita dan selalu siap untuk mengampuni kita begitu kita mengakui semua perbuatan kita lewat pertobatan yang sungguh-sungguh. Itu bentuk kasih Tuhan yang luar biasa. Sebesar apapun dosa kita, Tuhan mengatakan bahwa Dia siap memutihkan bahkan berkata tidak akan mengingat-ingat dosa kita lagi. (Yesaya 43:25). Bayangkan apabila Tuhan sulit mengampuni kita, tidak mendengarkan pertobatan kita dan terus memutuskan untuk mengganjar kita dengan hukuman berat, apa jadinya dengan diri kita? Tapi Tuhan penuh kasih, belas kasihan dan kemurahan. Pengampunan akan segera diberikan kepada kita seketika begitu kita bertobat secara sungguh-sungguh. Kalau kesalahan kita yang begitu banyak dan besar saja tidak henti-hentinya diampuni Tuhan, bukankah sudah sepantasnya kita pun mengampuni orang yang bersalah kepada kita, yang mungkin ukurannya lebih kecil dari dosa-dosa kita kepada Tuhan, seperti apa yang diberikan Yesus dalam perumpamaan di atas?

Ada korelasi yang sangat kuat antara diampuni dan mengampuni. Itu tepat seperti apa yang dikatakan Yesus: "Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu." (Matius 6:14-15). Untuk mendapatkan pengampunan dari Tuhan, kita harus terlebih dahulu menunjukkan kebesaran hati dan kerelaan untuk mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Jika dosa-dosa kita yang begitu banyak dan berat saja Tuhan bersedia mengampuni, siapalah diri kita yang merasa lebih pantas untuk mendendam dan menolak untuk mengampuni? Seringkali kita berlaku seperti si hamba dalam perumpamaan Yesus di atas. Tuhan tidak menuntut kita membayar hutang dosa yang begitu besar. Dia justru membebaskan kita, bahkan rela menganugerahkan AnakNya yang tunggal untuk menggantikan kita di atas kayu salib. Itu sebuah kasih yang besarnya sungguh luar biasa. Tetapi kita tidak menyadari itu, bahkan terus saja tidak mau mengampuni orang-orang yang bersalah, menyinggung, menyakiti atau menipu kita. Apakah orang yang bersalah itu sudah minta maaf atau tidak, itu seharusnya tidak menjadi soal. Ingatlah bagaimana Tuhan menyatakan belas kasihanNya kepada kita. Ingatlah bagaimana Tuhan membebaskan kita, mengampuni kita secara total dan bukan setengah-setengah. Jika Tuhan saja mau berbuat itu mengapa kita tidak? Jika anda masih sulit melakukannya, berdoalah dan minta ROH KUDUS untuk menguatkan anda dalam memberi pengampunan. Jika memakai perasaan sendiri mungkin sulit, tapi kita punya ROH KUDUS yang akan memampukan. Tuhan sudah menyatakan belas kasihNya kepada kita, kini giliran kita untuk menunjukkan belas kasih kepada orang lain.

Ketika Tuhan sudah menghapuskan dosa-dosa kita, mengapa kita harus sulit memberi pengampunan kepada orang lain?
April 18, 2013, 05:22:58 AM
Reply #96
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24759
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_04_01_archive.html
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/besar-pengampunan.html

 Besar Pengampunan

Ayat bacaan: Lukas 7:47
===================
"Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih."

Hari ini saya bertemu dengan seseorang yang bertanya apakah masih ada kesempatan bagi dirinya untuk selamat mengingat serangkaian dosa yang pernah ia perbuat rasanya sudah terlalu besar untuk diampuni. Masa lalunya memang cukup kelam dengan serangkaian catatan buruk, yang rasanya tidak etis apabila saya bagikan disini. "Dosa-dosaku sudah terlalu banyak, saya tidak akan pernah layak untuk diselamatkan... sepertinya semua sudah terlambat" katanya. Ia terus merasa sebagai terdakwa dan membayangkan pintu gerbang surga sudah tertutup rapat bagi dirinya tak peduli meski ia sudah menyesal dan ingin bertobat. Begitulah terkadang manusia sulit menangkap konsep pengampunan yang disediakan Tuhan pada manusia. Maka pertanyaan yang muncul dalam renungan hari ini mungkin menjadi pertanyaan banyak orang. Seberapa besar batas maksimal pengampunan dari Tuhan? Sampai titik mana Tuhan tidak lagi sanggup atau bersedia mengampuni? Jawaban untuk itu sebenarnya sudah berulang kali disebutkan di dalam Alkitab, dan salah satunya adalah lewat ayat bacaan yang saya ambil dari sebuah perikop dalam Lukas pasal 7.

Lukas 7:36-50 berbicara mengenai kisah Yesus yang diurapi oleh seorang perempuan yang penuh dosa. Pada suatu hari Simon orang Farisi mengundang Yesus untuk makan di rumahnya. Yesus datang memenuhi undangannya. Di kota itu ada seorang perempuan yang berkubang dalam lumpur dosa. Ketika ia mendengar kedatangan Yesus ke rumah Simon, dia pun datang membawa buli-buli pualam berisi minyak wangi. Apa yang ia lakukan sangat mengharukan. Dia menghampiri Yesus dari belakang, lalu menangis hingga membasahi kaki Yesus dengan air matanya. Menyadari bahwa kaki Yesus basah karena air matanya yang mengalir deras, ia pun menyeka kaki Yesus dengan rambutnya. Lalu ia mencium kaki Yesus dan meminyaki dengan minyak wangi yang dibawanya. Melihat kejadian itu, Simon orang Farisi pun bergumam dalam hatinya. Katanya: "Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa." (ay 39). Dalam bahasa Inggrisnya kata 'berdosa' ini dijabarkan sebagai "a notorious sinner,a social outcast, devoted to sin."
April 18, 2013, 05:23:39 AM
Reply #97
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24759
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
Maka Yesus memanggil Simon dan memberi sebuah perumpamaan. Ada dua orang yang berhutang. Yang satu berhutang 500 dinar, sedangkan satunya "hanya" 50 dinar. Karena tidak sanggup membayar, orang yang dipiutangi memberi pengampunan, menghapuskan hutang keduanya. Yesus bertanya: "Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?" (ay 42). Dan demikian jawaban Simon: "Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya." (ay 43). Benar. Apa inti pertanyaan Yesus? Mari kita baca penjelasan Yesus berikut. " Dan sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon: "Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku. Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi." (Ay 44-46). Lalu kesimpulannya: "Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih." (ay 47). Dan wanita yang penuh dosa, notorious sinner, devoted to sin itu pun diampuni. "Lalu Ia berkata kepada perempuan itu: "Dosamu telah diampuni...Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!" (ay 48,50).

Yesus datang ke dunia untuk menebus dosa-dosa kita, baik besar maupun kecil. Dia disiksa, dipaku dan mati di kayu salib untuk sebuah karya penebusan luar biasa. Sebesar apapun dosa kita, ketika kita datang padaNya dengan hati yang hancur, hati yang remuk, tersungkur di kakiNya mengakui segala dosa-dosa yang telah kita perbuat lewat pertobatan yang sungguh-sungguh, pengampunan pun segera Dia sediakan bagi kita. Ketika kita datang dan mengakui dosa-dosa kita, perkataan yang sama akan Yesus berikan pada kita juga "Dosamu telah diampuni...Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!"

Semakin besar dosa kita, semakin besar pula penghargaan akan sebuah pengampunan. Sebesar apa dosa anda yang anda rasakan memberatkan hidup anda hari ini? Anda anda merasa Yesus tidak berkenan untuk mengampuni anda? Salah. Yesus berkata: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa." (Markus 2:17) Dia justru selalu rindu untuk mengampuni kita, apapun latar belakang kita sebelumnya. Orang yang menyadari dan mengakui dosa-dosaNya sudah diampuni, dan penghargaan akan pengampunan itu akan berbuah kasih yang besar pula pada sesama. Lihat ayat berikut ini: "Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu." (Efesus 4:32). Makna ayat tersebut bisa memiliki efek yang jauh lebih besar bagi mereka yang sudah ditebus dari dosa-dosa yang mungkin bagi manusia sudah terlalu besar dan tidak lagi terampuni. Yang diperlukan adalah pengakuan kita dan pertobatan kita, disertai sebuah komitmen untuk tidak lagi mengulangi hal yang sama. Hati yang remuk dan hancur jika kita bawa ke hadapan tahta Allah akan menjadi sebuah korban sembelihan bagi Dia. "Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah." (Mazmur 51:19). Sukacita sejati adalah mengakui betapa buruknya dan besarnya dosa-dosa kita lalu membandingkannya dengan sebesar apa kita telah diampuni. Maka tidak perduli sebesar apa dosa yang membelenggu anda hari ini, percayalah bahwa pengakuan anda akan membawa anda pada sebuah pengampunan total dari Tuhan yang begitu mengasihi anda. Miliki sukacita sejati hari ini juga!

Lepaskan diri anda dari belenggu dosa hari ini juga, ketahuilah bahwa pengakuan anda dihadapanNya akan berbuah sebuah pengampunan penuh
April 19, 2013, 04:59:12 AM
Reply #98
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24759
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_04_01_archive.html
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/minta-maaf.html

 Minta Maaf

Ayat bacaan: Matius 5:23-24
=====================
"Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu."

Dalam banyak hal bukan saja memaafkan yang sulit, tapi mengakui kesalahan dan meminta maaf ketika kita bersalah pun seringkali sama sulitnya. Apakah itu dalam hubungan antara orang tua dengan anak, sesama saudara, atasan dan bawahan, antar pasangan suami istri, antar teman dan lain-lain, ada banyak orang yang sulit untuk tetap dengan kerendahan hati meminta maaf jika melakukan kesalahan karena takut wibawanya hilang, malu, gengsi atau alasan-alasan lainnya. Padahal seringkali rasa bersalah itu terasa begitu menyiksa. Kita terus tertuduh, hidup tidak nyaman, tapi demi alasan-alasan tadi kita ternyata lebih suka hidup dengan berbagai perasaan yang tidak nyaman itu ketimbang segera minta maaf dan memperbaiki hubungan dengan orang yang telah kita sakiti. Sehebat-hebatnya kita melawan perasaan bersalah itu, hati kecil kita akan selalu menegur kita yang jika kita abaikan akan membuat kita menjadi gelisah. Belum lagi iblis akan dengan senang hati memanfaatkan itu sebagai celah untuk menyiksa kita. Jika dengan membereskan masalah dan berdamai dengan orang akan membuat hidup kembali damai, jika mengakui kesalahan dengan jujur bisa membuat hubungan yang terluka kembali pulih, mengapa kita harus malu dan gengsi untuk mengambil langkah itu? Bahkan Tuhan pun tidak pernah menganjurkan kita menjadi pribadi-pribadi yang tinggi hati, angkuh dan keras hati. Justru kita diminta untuk menjadi orang-orang yang penuh kasih, memiliki hati yang lembut, jujur dan berani mengakui kesalahan secara jantan.

Sulit mengakui kesalahan dan berat untuk meminta maaf bukan saja membuat hubungan kita dengan orang lain terluka dan membuat hidup kita tidak nyaman, tapi itu juga bisa menjadi penghalang bagi kita untuk dapat berhubungan dengan Tuhan. Lihatlah apa kata Yesus berikut ini. "Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu." (Matius 5:23-24). Lihatlah betapa pentingnya untuk berdamai di mata Tuhan, sehingga kita diminta untuk membereskan terlebih dahulu masalah yang mengganjal dan belum selesai itu sebelum kita datang membawa persembahan di hadapan Tuhan. Siapa yang bersalah terlebih dahulu ternyata bukanlah hal yang penting. Apa yang penting adalah kita membereskan dulu masalah dengan siapapun yang masih mengganjal dalam hati kita sebelum kita datang membawa persembahan dan ucapan syukur kita ke hadapan Tuhan. Dalam ayat berikutnya pun kita dianjurkan untuk langsung menemui mereka yang punya masalah dengan kita dan dengan segera menyelesaikannya. God actually wants it to be done eagerly, quickly and personally.

Keinginan dan kerelaan atau kerendahan hati untuk berdamai sesungguhnya merupakan hikmat yang langsung berasal dari atas. Yakobus mengingatkan itu: "Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik." (Yakobus 3:17). Oleh sebab itulah dikatakan bahwa bagi orang yang cinta damai akan selalu berbuah kebenaran. "Dan buah yang terdiri dari kebenaran ditaburkan dalam damai untuk mereka yang mengadakan damai." (ay 18). Jika di mata Tuhan saja hal itu sungguh penting, mengapa kita harus menomorduakan hal itu dan lebih memilih untuk mementingkan ego atau harga diri pribadi kita? Jika ada di antara teman-teman tengah mengalami sebuah hubungan yang rusak karena suatu kesalahan yang pernah anda buat atau katakan, ini saatnya untuk mengambil inisiatif. Datangi mereka dan mintalah maaf. Perbaiki segera hubungan itu, berdamailah saat ini juga.

Jagalah perdamaian dengan orang lain sesuai hikmat yang berasal dari atas
April 20, 2013, 04:57:22 AM
Reply #99
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24759
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013_04_01_archive.html
http://renungan-harian-online.blogspot.com/2013/04/dimahkotai-kemuliaan-dan-hormat.html

 Dimahkotai Kemuliaan dan Hormat

Ayat bacaan: Mazmur 8:6
===================
"Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat."

Ada begitu banyak orang yang tidak menyadari bahwa dirinya diciptakan dengan teramat sangat istimewa. Entah akibat tekanan hidup, kesulitan ekonomi, tinggal di pelosok terpencil dan sebagainya mereka pun kemudian menganggap bahwa mereka cuma orang yang tidak berharga. Hari ini saya bertemu dengan seseorang yang berasal dari desa. Ia terus menunduk tak berani menatap wajah lawan bicaranya, bahkan lebih parah lagi ia tidak mau duduk di kursi melainkan hanya di lantai. Ketika diminta untuk pindah ke kursi ia berujar, "Saya cuma orang rendahan pak, tidak pantas duduk di atas kursi seperti majikan." Aduh, betapa tidak teganya melihat orang yang berpikir seperti ini terhadap dirinya sendiri. Dalam kesempatan lain saya pun sudah bertemu dengan banyak orang yang mengira bahwa masa lalu yang kelam membuat dirinya sangatlah rendah dan hina. Saya pernah kaget ketika ada seseorang yang berkata bahwa dirinya lebih rendah dari hewan sekalipun. Ini bukan saja tidak sehat bagi hidupnya sendiri, tetapi sebenarnya juga merupakan sebuah pengingkaran terhadap gambaran manusia dalam benak Tuhan ketika Dia menciptakan kita.

Mengapa demikian? Alasannya jelas. Alkitab sudah dengan sangat tegas berkata bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan yang istimewa dalam begitu banyak kesempatan. Salah satunya bisa kita lihat lewat Daud dalam kitab Mazmur. Pada suatu kali ketika Daud sepertinya sedang menerawang memandang langit di malam hari yang dipenuhi bintang-bintang, ia berkata "Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?" (Mazmur 8:4-5). Dibandingkan keindahan langit penuh bintang dan cahaya bulan yang ada di depan mataku, siapakah aku sebenarnya menurutMu dan seperti apa aku dan manusia di mataMu sesungguhnya? Seperti itulah pemikiran Daud pada saat itu. Lalu Daud melanjutkan,  "Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat." (ay 6). Tidak terkira keindahan dan kesempurnaan alam semesta ini diciptakan. Bunga-bunga, bentangan awan biru dan kerlap kerlip bintang di malam hari, pesona keindahan alam di setiap belahan dunia, itu adalah sebuah anugerah yang tidak terbantahkan. Tetapi tetap manusia Dia ciptakan berbeda, teristimewa dibandingkan ciptaan-ciptaan lainnya. Kita diciptakan dengan dimahkotai kemuliaan dan hormat, dibuat mirip Allah, memiliki citra Allah dalam diri kita. Kita dibentuk secara unik dari debu tanah langsung dari tanganNya, lalu Dia sendiri menghembuskan nafas hidup ke dalam kita. (Kejadian 2:7). Itu menyatakan dengan jelas bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan yang teristimewa, jauh lebih istimewa dibanding ciptaan lainnya. Dan kepada kita diberikan kuasa. Daud mengatakannya seperti ini: "Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya." (Mazmur 8:7). Kalau kita menyadari hal ini, tidak seharusnya kita menilai rendah diri kita sendiri atau orang lain.
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)