Author Topic: Our Daily Bread / RBC Indonesia  (Read 136207 times)

0 Members and 2 Guests are viewing this topic.

January 21, 2020, 04:42:55 AM
Reply #2520
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24502
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://santapanrohani.org/

Ke Mana Anda Menuju?
  21/01/2020 
Ke Mana Anda Menuju?
Baca: 2 Samuel 12:1-14 | Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 1–3 ; Matius 14:1-21
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2020-01-21.mp3

Kemudian berkatalah Natan kepada Daud: “Engkaulah orang itu!” —2 Samuel 12:7

Di wilayah utara Thailand, tim sepak bola junior bernama “Wild Boars” memutuskan pergi menjelajahi sebuah gua bersama-sama. Mereka berniat pulang setelah menjelajah selama satu jam, tetapi menemukan bahwa mulut gua sudah terendam air. Hari demi hari, air yang masuk ke gua semakin tinggi sehingga mereka terpaksa masuk lebih jauh lagi, sampai akhirnya mereka terjebak sejauh 4 km di dalam gua. Ketika akhirnya mereka berhasil diselamatkan dua minggu kemudian, banyak orang bertanya-tanya bagaimana mereka bisa terjebak sedalam itu. Jawabannya: selangkah demi selangkah.

Di Israel, Nabi Natan menegur Daud karena telah membunuh Uria, prajuritnya yang setia. Bagaimana mungkin seseorang “yang berkenan di hati [Allah]” (1Sam. 13:14) melakukan pembunuhan? Jawabannya: selangkah demi selangkah. Daud tidak melakukan kejahatan dalam tempo satu malam. Ia memelihara bibit dosa tersebut dan mengembangkannya sekian lama, dari satu keputusan buruk kepada keputusan-keputusan buruk berikutnya. Kejahatan itu bermula dari tatapan panjang yang berlanjut menjadi hawa nafsu. Kemudian Daud menyalahgunakan kekuasaannya sebagai raja dengan menghampiri Batsyeba, lalu berusaha menutupi kehamilan perempuan itu dengan memanggil suaminya pulang dari medan perang. Ketika Uria menolak menghampiri istrinya sementara rekan-rekannya masih bertempur, Daud memutuskan bahwa Uria harus mati.
Sesungguhnya kita selalu berada dalam pergerakan—entah menuju Yesus atau justru menuju masalah.

Kita mungkin tidak melakukan dosa pembunuhan atau terjebak di dalam gua karena kesalahan kita sendiri, tetapi sesungguhnya kita selalu berada dalam pergerakan—entah menuju Yesus atau justru menuju masalah. Masalah tidak membesar dalam satu malam, melainkan berkembang secara perlahan, selangkah demi selangkah.
Keputusan apa yang dapat Anda ambil saat ini untuk membawa Anda mendekat kepada Yesus dan menjauhi masalah? Apa yang harus Anda lakukan untuk meneguhkan keputusan tersebut?
Tuhan Yesus, aku berlari kepada-Mu!
Oleh Mike Wittmer | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Daud melakukan perzinaan dan pembunuhan (2 Samuel 11) dan berasumsi bahwa, sebagai raja, ia tidak dapat dipersalahkan oleh siapa pun. Satu tahun kemudian, Allah mengirim nabi Natan untuk menegur dosanya (pasal 12). Setelah mengakui dosa-dosanya dan bertobat, Daud menulis Mazmur 51, dan banyak yang percaya bahwa konteks ini berlaku pula untuk Mazmur 32. Meskipun diampuni, Daud tetap harus menghadapi konsekuensi dosa-dosanya. Anak yang dikandungnya dengan Batsyeba mati (2 Samuel 12:13-18). Dan seperti Uria yang dibunuh oleh pedang (ay.9-10), tiga anak Daud yang lain—Amnon (13:28-29), Absalom (18:14-15), dan Adonia (1 Raja-Raja 2:23-25)—mati juga oleh pedang. K. T. Sim





January 22, 2020, 06:28:05 AM
Reply #2521
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24502
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Menunjukkan Kasih Karunia
  22/01/2020 
Menunjukkan Kasih Karunia
Baca: Mikha 7:18-20 | Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 4–6 ; Matius 14:22-36
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2020-01-22.mp3

Dosa-dosa kami akan Kaupijak-pijak dan Kaulemparkan ke dasar laut! —Mikha 7:19 BIS

“Ketika peristiwa tragis atau menyakitkan terjadi, terbuka kesempatan untuk menunjukkan kasih karunia atau sebaliknya, menuntut pembalasan,” kata seseorang yang baru saja berduka. “Saya memilih menunjukkan kasih karunia.” Istri pendeta Erik Fitzgerald tewas dalam kecelakaan mobil akibat seorang petugas pemadam kebakaran yang kelelahan tertidur saat mengemudikan mobilnya pulang. Jaksa penuntut umum bertanya apakah Erik ingin menuntut masa hukuman maksimal bagi pengemudi yang lalai itu. Namun, sang pendeta memilih memberikan pengampunan, sesuatu yang sudah sering ia khotbahkan. Erik dan pelaku itu bahkan kemudian berteman baik.

Erik telah menunjukkan kasih karunia karena ia sendiri telah menerima kasih itu dari Allah yang telah mengampuni semua dosanya. Melalui tindakannya, ia menggemakan perkataan Nabi Mikha yang memuji Allah karena mengampuni dosa dan memaafkan pelanggaran kita (Mi. 7:18). Mikha memakai gambaran yang indah untuk menunjukkan seberapa jauh Allah telah mengampuni umat-Nya, dengan berkata bahwa “dosa-dosa [kita] akan Kaupijak-pijak dan Kaulemparkan ke dasar laut” (ay.19 BIS). Hari itu, si petugas pemadam kebakaran menerima anugerah kebebasan, yang membawanya lebih dekat kepada Allah.
Dosa-dosa kami akan Kaupijak-pijak dan Kaulemparkan ke dasar laut! —Mikha 7:19 BIS

Apa pun kesulitan yang kita hadapi, kita tahu bahwa Allah merengkuh kita dengan penuh kasih dan menyambut kita ke dalam pelukan-Nya yang aman. Dia “senang menunjukkan cinta-[Nya] yang tak terbatas” (ay.18 BIS). Setelah kita menerima kasih karunia-Nya, Dia memberi kita kekuatan untuk mengampuni orang yang melukai kita—bahkan meneladani apa yang dilakukan Erik.
Apa tanggapan Anda terhadap kisah tentang pengampunan yang luar biasa ini? Adakah orang yang perlu Anda ampuni? Jika ada, mintalah Tuhan menolong Anda.
Allah Bapa, Engkau selalu mengasihi kami dan berkenan mengampuni kami ketika kami kembali kepada-Mu. Lingkupi kami dengan kasih-Mu, agar kami dapat menunjukkan kasih karunia kepada mereka yang menyakiti kami.
Oleh Amy Boucher Pye | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Nabi Mikha berkata, “Apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” (6:8). Namun, Israel tidak menghayati tuntutan tersebut. Di pasal 7, sang nabi meninjau masa depan yang buruk dari bangsa itu akibat ketidaktaatan mereka (ay.1-6). Namun, ayat 7 dari pasal terakhir ini menyodorkan perubahan suasana yang tiba-tiba, dan ketiga belas ayat terakhir kitab ini berisi himne kemenangan yang tidak terduga. Mengapa demikian? Karena sang nabi memuji karakter Allah. Meskipun Allah mengutarakan penghakiman yang berat (dan pantas), Allah tetap akan setia pada firman-Nya. Dia akan menebus umat-Nya. Mikha pun bertanya, “Siapakah Allah seperti Engkau?” (ay.18). Allah Israel yang penuh kasih akan menepati janji-Nya, karena Dia telah “bersumpah . . . sejak zaman purbakala” (ay.20). Tim Gustafson




January 23, 2020, 06:19:12 AM
Reply #2522
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24502
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Penantian Panjang
  23/01/2020 
Penantian Panjang
Baca: Mazmur 40:2-6, 15-18 | Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 7–8 ; Matius 15:1-20
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2020-01-23.mp3

Aku sangat menanti-nantikan Tuhan; lalu Ia menjenguk kepadaku dan mendengar teriakku minta tolong. —Mazmur 40:2

Pada musim gugur, ketika kura-kura berwarna mulai merasakan datangnya musim dingin, ia pun menyelam ke dasar telaga, mengubur dirinya dalam kotoran dan lumpur. Ia masuk ke dalam cangkangnya dan berdiam diri: denyut jantungnya melambat, nyaris berhenti. Suhu tubuhnya turun, hingga bertahan di atas titik beku. Ia berhenti bernafas, dan menunggu. Selama enam bulan, ia tetap terkubur, dan tubuhnya mengeluarkan kalsium dari tulang-tulangnya masuk ke aliran darah, sehingga perlahan-lahan tubuhnya mulai kehilangan bentuk.

Namun, ketika es di telaga mulai mencair, kura-kura berwarna akan naik ke permukaan air dan bernafas lagi. Tulang-tulangnya akan kembali terbentuk dan ia akan merasakan hangatnya sinar mentari menerpa cangkangnya.

Saya teringat kepada kura-kura berwarna ketika membaca gambaran yang dituliskan oleh pemazmur tentang menantikan Allah. Pemazmur sedang berada dalam “lobang kebinasaan, dari lumpur rawa,” tetapi Allah mendengarnya (Mzm. 40:3). Allah mengangkat dan menempatkannya di atas bukit batu yang teguh. Ia pun menyanyikan pujian, “Engkaulah yang menolong aku dan meluputkan aku” (ay.18).

Barangkali saat ini Anda merasa telah begitu lama menantikan terjadinya perubahan—arah yang baru dalam karier, pemulihan hubungan dengan seseorang, tekad untuk mengubah kebiasaan buruk, atau kelepasan dari situasi yang sulit. Kura-kura berwarna dan pemazmur mengingatkan kita untuk mempercayai Allah: Dia mendengar seruan kita, dan Dia akan membebaskan kita.
Hal apa yang perlu Anda percayakan kepada Tuhan? Bagaimana Anda akan melakukannya hari ini?
Ya Allah, terkadang sulit sekali bagiku untuk menunggu. Namun, kami percaya bahwa Engkau akan membebaskan kami. Berilah kami kesabaran, dan biarlah keagungan serta kemuliaan-Mu dinyatakan dalam hidup kami.
Oleh Peterson Amy | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Mazmur 40 memuji Allah untuk pertolongan-Nya di masa lalu (ay.2-11) dan memohon pertolongan-Nya sekali lagi dalam krisis yang baru (ay.12-18). “Lobang” dan “lumpur rawa” di ayat 3 adalah gambaran yang diasosiasikan dengan kematian; untuk sang pemazmur, pengalaman penyelamatan Allah di masa lalu sama dramatisnya dengan menerima hidup baru setelah kematian. Meskipun penderitaan sang penulis tidak terbilang banyaknya (ay.13), demikian pula banyaknya perbuatan Allah yang ajaib (ay.6). Sejarah panjang kesetiaan Allah memberikan umat-Nya dasar yang teguh untuk percaya (ay.3). Monica Brands




January 24, 2020, 06:29:04 AM
Reply #2523
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24502
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Tidak Perlu Antre
  24/01/2020 
Tidak Perlu Antre
Baca: Yesaya 46:3-10 | Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 9–11 ; Matius 15:21-39
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2020-01-24.mp3

Aku menjadikan kamu dan tetap memelihara kamu. —Yesaya 46:4 BIS

Terkadang saat anjing Labrador retriever saya butuh perhatian, ia mengambil barang milik saya dan berjalan mondar-mandir memamerkannya di depan saya. Suatu pagi ketika saya sedang menulis di meja kerja sambil membelakanginya, Max mengambil dompet saya dan kabur. Ketika ia sadar kalau saya tidak memperhatikan kelakuannya, ia kembali dan menyundul-nyundulkan moncongnya ke badan saya, sambil menggigit dompet dengan mata berbinar-binar, ekor dikibas-kibaskan, supaya saya ikut bermain dengannya.

Perilaku Max yang menggelikan itu membuat saya tertawa, sekaligus mengingatkan bahwa saya memiliki keterbatasan dalam memperhatikan orang lain. Saya sering berniat menghabiskan waktu bersama keluarga atau teman-teman, tetapi ada saja hal yang menyita waktu dan perhatian saya; sehingga tanpa disadari, tiba-tiba saja waktu berlalu dan momen memberikan perhatian itu terlewatkan.
Allah selalu punya waktu untuk kita.

Alangkah melegakannya mengetahui bahwa Bapa kita di surga begitu besar sehingga Dia mampu memperhatikan setiap kita dengan cara yang paling pribadi—bahkan terus memelihara setiap tarikan napas kita di sepanjang hidup ini. Dia berjanji kepada umat-Nya, “Aku tetap Allahmu sampai kamu tua; dan tetap menjaga kamu sampai kamu beruban. Aku menjadikan kamu dan tetap memelihara kamu, Aku akan menolong dan menyelamatkan kamu” (Yes. 46:4 BIS).

Allah selalu punya waktu untuk kita. Dia mengerti keadaan kita sampai yang paling teperinci—bagaimanapun kompleks dan rumitnya itu—dan selalu hadir kapan pun kita memanggil-Nya dalam doa. Tidak pernah kita harus antre untuk menerima kasih Juruselamat kita yang tak terbatas.
Dengan cara apa Allah memperhatikan dan memenuhi kebutuhan Anda setiap hari? Bagaimana Anda dapat membagikan kasih-Nya kepada sesama?
Tuhan Yesus, Engkau selalu punya waktu untukku. Tolonglah aku untuk menggunakan setiap waktuku bagi-Mu!
Oleh James Banks | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Dalam Yesaya 46, Allah mengontraskan diri-Nya dengan berhala-berhala (dewa-dewa yang menjadi “beban”, ay.1) buatan manusia. Selain tidak dapat menyelamatkan para penyembahnya, mereka sendiri harus dibawa ke tempat yang aman (ay.1-2,6-7). Di antara dewa-dewa ini termasuk Bel (sebuah variasi dewa Baal), dewa utama orang Babel, dan anaknya Nebo. Sebaliknya, Allah menciptakan kita, menggendong kita, dan memelihara kita (ay.4). Hanya Dialah Allah yang sejati: “Akulah Allah dan tidak ada yang lain” (ay.9). Alkitab berulang kali menunjukkan kepada kita kebenaran ini (Ulangan 4:39; Samuel 7:22; Nehemia 9:6; Yesaya 44:6). Alyson Kieda





January 25, 2020, 05:15:24 AM
Reply #2524
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24502
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://santapanrohani.org/

Misteri Terbesar
  25/01/2020 
Misteri Terbesar
Baca: Kolose 1:15-22 | Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 12–13 ; Matius 16
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2020-01-25.mp3

[Yesus] adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan. —Kolose 1:15

Sebelum saya percaya kepada Tuhan Yesus, saya sudah pernah mendengar Injil diberitakan. Namun, saya merasa sulit memahami identitas-Nya. Bagaimana mungkin Yesus dapat mengampuni dosa-dosa saya sementara Alkitab mengatakan hanya Allah yang dapat mengampuni dosa? Ternyata saya tidak sendirian dalam pergumulan tersebut. Setelah membaca Knowing God, penulisnya J. I. Packer menyatakan bahwa bagi banyak orang yang belum percaya, “klaim iman Kristen yang paling mengguncangkan adalah bahwa Yesus orang Nazaret itu Allah yang menjadi manusia . . . Dia sungguh-sungguh dan sepenuhnya Allah, sekaligus sungguh-sungguh dan sepenuhnya manusia.” Namun, kebenaran itulah yang memungkinkan tercapainya karya keselamatan.

Ketika Rasul Paulus menyebut Yesus sebagai “gambar Allah yang tidak kelihatan,” ia bermaksud mengatakan bahwa Yesus sepenuhnya dan sungguh-sungguh Allah—Pencipta dan Penopang segala sesuatu di surga dan di bumi—tetapi juga sepenuhnya manusia (Kol. 1:15-17). Karena kebenaran itulah, kita dapat meyakini bahwa melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Kristus tidak hanya memikul konsekuensi dosa kita tetapi juga telah memulihkan manusia kepada naturnya yang sejati. Dia melakukannya agar kita—dan segala ciptaan lain—dapat diperdamaikan dengan Allah (ay.20-22).
Dialah Immanuel—Allah menyertai kita. Puji Tuhan!

Lewat sebuah inisiatif dan tindakan kasih yang ajaib, Allah Bapa menyatakan diri-Nya di dalam dan melalui Kitab Suci oleh kuasa Allah ROH KUDUS dan melalui hidup Allah Anak. Mereka yang percaya kepada Yesus diselamatkan karena Dialah Immanuel—Allah menyertai kita. Puji Tuhan!
Pernahkah Anda mengalami kesulitan untuk memahami Yesus? Apa hasil pergumulan Anda itu?
Allah terkasih, terima kasih karena Engkau berkenan menyatakan diri-Mu dan mendamaikan kami dengan-Mu melalui Yesus Kristus, Anak-Mu.
Oleh Xochitl Dixon | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Paulus menulis surat Kolose untuk menentang ajaran-ajaran palsu. Ia tidak menyatakan secara spesifik ajaran sesat apa yang ditentangnya selain bahwa ajaran-ajaran ini berhubungan dengan diri Kristus. Paulus menjunjung ketuhanan Yesus (1:15-16), keutamaan dan otoritas-Nya (ay.17-23), dan kecukupan-Nya untuk keselamatan dan pertumbuhan rohani (2:6-15). Rasanya tidak ada bagian Perjanjian Baru yang lebih kental dengan doktrin Kristus daripada Kolose 1:15-23. Paulus meneguhkan empat hal tentang identitas dan otoritas Kristus: Dialah Allah (ay.15); Dialah Pencipta dan Pemelihara seluruh ciptaan (ay.16-17); Dialah Kepala jemaat, ciptaan baru-Nya (ay.18); dan Dialah Penebus dan Penyelamat kita (ay.19-23). K. T. Sim



January 26, 2020, 04:49:43 AM
Reply #2525
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24502
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Membawa Anak kepada Allah
  26/01/2020 
Membawa Anak kepada Allah
Baca: 2 Timotius 3:10-15 | Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 14–15 ; Matius 17
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2020-01-26.mp3

Hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran . . . ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci. —2 Timotius 3:14-15

Seorang tokoh ateis secara terus terang meyakini bahwa orangtua yang mengajarkan agama kepada anak-anaknya seolah-olah agama itu benar merupakan tindakan yang tak bermoral. Ia bahkan berpendapat bahwa orangtua seperti itu telah melanggar hak asasi sang anak. Meski pendapat tersebut terdengar ekstrem, saya pernah mendengar sendiri bagaimana sejumlah orangtua ragu untuk terang-terangan mendorong anak-anak mereka mempercayai iman Kristen. Meski sebagian besar dari kita tidak ragu-ragu mempengaruhi anak-anak kita dengan pandangan kita soal politik, gizi, atau olahraga, tetapi entah mengapa sebagian dari kita tidak yakin soal meneruskan keyakinan iman kepada anak-anak.

Sebaliknya, Rasul Paulus menulis bagaimana Timotius sudah diajar “dari kecil . . . mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus“ (2Tim. 3:15). Iman Timotius tidak terbentuk pada masa dewasa lewat kekuatan rasionya sendiri. Ibunyalah yang menumbuhkan iman kepada Allah dalam hati Timotius, dan Timotius terus berpegang pada apa yang telah ia pelajari (ay.14). Jika Allah adalah kehidupan dan sumber hikmat yang sejati, maka sangatlah penting menumbuhkan kasih kepada Allah dalam kehidupan keluarga kita.
Allah adalah kehidupan dan sumber hikmat yang sejati.

Ada banyak sistem yang sedang mempengaruhi anak-anak kita. Acara TV, film, musik, guru, teman, dan media—semuanya memberikan asumsi tentang iman (baik secara langsung maupun tersamar) yang memberikan pengaruh besar. Tidak seharusnya kita tinggal diam. Keindahan dan anugerah Allah yang telah kita alami mendesak kita untuk mau membawa anak-anak kita kepada Allah.
Pikirkan banyaknya pengaruh dan pesan yang diterima anak-anak (dan juga kita semua) dalam satu hari. Bagaimana segala hal itu telah membentuk Anda dan mereka yang Anda kasihi?
Allah Bapa, kami bersyukur atas sukacita dan kesempatan istimewa untuk menumbuhkan iman percaya anak-anak kami kepada-Mu.
Oleh Winn Collier | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Paulus mengasihi Timotius seperti anaknya sendiri (2 Timotius 1:2) dan menginginkannya bertumbuh dengan kuat dalam kasih dan iman yang patut dipertahankan dalam kehidupan maupun kematian (2:1-3). Namun, meski surat-surat Paulus sering memiliki tema penderitaan dan penganiayaan (1:8-9,11-12,15; 2:8-10; 3:10-12; 4:17-18), tidak berarti sang rasul mencari-cari kesengsaraan itu. Ketika ia mengatakan kepada Timotius bahwa setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Yesus akan menderita aniaya (2 Timotius 3:12), konteksnya adalah sebuah peringatan kepada mereka yang hidup hanya bagi diri sendiri, bahwa ke depannya mereka akan lebih mencelakakan diri sendiri dan orang lain (ay.1-9,13). Paulus mengingatkan Timotius bahwa orang-orang yang menentang mereka bukanlah musuh yang sesungguhnya. Tanpa disadari, orang-orang seperti ini telah dijerat oleh Iblis untuk mengalihkan perhatian dari kebaikan dan rahmat Kristus (2:22-26; Efesus 6:12). Mart DeHaan





January 27, 2020, 04:22:56 AM
Reply #2526
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24502
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Bangku Persahabatan
  27/01/2020 
Bangku Persahabatan
Baca: Keluaran 33:9-11 | Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 16–18 ; Matius 18:1-20
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2020-01-27.mp3

Tuhan berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya. —Keluaran 33:11

Di Zimbabwe, Afrika, trauma akibat perang dan tingginya angka pengangguran membuat banyak orang putus asa—sampai kemudian mereka menemukan pengharapan ketika duduk di sebuah “bangku persahabatan”. Mereka yang putus asa boleh duduk di bangku itu dan berbicara dengan para “nenek” yang sudah dilatih untuk mendengarkan orang-orang yang sedang bergumul dengan depresi, suatu kondisi yang dalam bahasa Shona—bahasa ibu bangsa itu—disebut sebagai kufungisisa, atau “berpikir terlalu jauh.”

Program Bangku Persahabatan ini sedang digalakkan juga di tempat-tempat lain, termasuk Zanzibar, London, dan New York. “Kami sangat senang dengan hasilnya,” kata seorang peneliti di London. Seorang konselor di New York juga setuju. “Tanpa terasa, Anda tidak saja duduk di bangku tetapi juga asyik ngobrol dengan seseorang yang peduli kepada Anda.”
Yesus telah mendekatkan kita dengan Bapa.

Program ini mengingatkan pada kehangatan dan keindahan berbicara dengan Allah kita yang Mahakuasa. Untuk bersekutu dengan Allah, Musa tidak membuat bangku, melainkan suatu kemah yang disebut Kemah Pertemuan. Di sana, “Tuhan berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya” (Kel. 13:11). Yosua, abdi Musa, bahkan tidak beranjak dari kemah itu, mungkin karena ia begitu menghargai waktunya bersama Allah (ay.11).

Hari ini, kita tak lagi memerlukan kemah pertemuan. Yesus telah mendekatkan kita dengan Bapa. Dia berkata, “Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah kudengar dari Bapa-Ku” (Yoh. 15:15). Ya, Allah sedang menunggu kita. Dialah penolong hati kita yang Mahabijaksana dan Sahabat yang selalu mengerti. Berbicaralah dengan-Nya sekarang.
Kekhawatiran apa yang menguasai Anda hari ini? Ketika Anda menyampaikan segala kekhawatiran itu kepada Allah, hal baik apa tentang Allah yang dapat Anda fokuskan?
Ya Allah, kami bersyukur Engkau membuat kami memikirkan hal-hal mulia tentang-Mu. Ketika kami khawatir, bawa kembali pikiran kami kepada-Mu.
Oleh Patricia Raybon | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Dalam Keluaran 25:8, Allah memberikan petunjuk-petunjuk yang spesifik kepada Musa untuk membangun sebuah “tabernakel” atau tempat ibadah: “Dan mereka harus membuat tempat kudus bagi-Ku, supaya Aku akan diam di tengah-tengah mereka.” Untuk memenuhi perintah ini, Musa mengarahkan pembangunan sebuah bangunan seperti tenda yang sangat terperinci dan mudah dipindahkan (pasal 25–31). Kediaman ini sering disebut dengan “Kemah Pertemuan” (27:21; 29:44; 40:2).

Ketika tabernakel tersebut sedang dibangun, anak-anak Israel berdosa dengan menyembah anak lembu emas (pasal 32). Di bawah penghakiman Allah (ay.35), mereka menghadapi ancaman tidak akan disertai Allah di dalam perjalanan mereka (33:3). Karenanya, Musa mendirikan sebuah “Kemah Pertemuan” di luar perkemahan (ay.7-11), yang menyediakan semacam jarak antara Allah dan umat-Nya yang tegar tengkuk. Di sana, Musa mengurus perkara Allah dengan umat-Nya. Kemah Pertemuan ini adalah bangunan yang berbeda dari tabernakel yang dideskripsikan dalam pasal 25–31, yang baru selesai beberapa waktu setelahnya (lihat 39:32). Arthur Jackson





 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)