Author Topic: Our Daily Bread / RBC Indonesia  (Read 145629 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

May 29, 2020, 10:17:05 AM
Reply #2640
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 25807
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


https://santapanrohani.org/

https://santapanrohani.org/2020/05/29/pencipta-bulan/

https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2020-05-29.mp3

Pencipta Bulan
  29/05/2020 
Pencipta Bulan
Baca: Yeremia 31:33-37 | Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 7–9; Yohanes 11:1-29
00:00
Unduh MP3
Demikianlah Firman Tuhan: . . . Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku. —Yeremia 31:33

Setelah para astronaut mendaratkan pesawat ulang alik Eagle di Laut Tranquility, Neil Amstrong berkata, “Satu langkah kecil bagi manusia, satu lompatan raksasa bagi umat manusia.” Ia orang pertama yang berjalan di permukaan bulan. Para penjelajah ruang angkasa lain pun menyusul, termasuk Gene Cernan, komandan misi Apollo terakhir. “Di situlah saya, dan di sanalah engkau, Bumi—begitu hidup dan tak terkatakan, dan saya merasa . . . tidak mungkin ini terjadi secara kebetulan,” kata Cernan, “Pasti ada kekuatan yang lebih besar daripada engkau, dan lebih besar daripada aku.” Bahkan dari sudut pandang mereka yang unik di ruang angkasa, mereka menyadari betapa kecilnya mereka bila dibandingkan dengan luasnya alam semesta.

Nabi Yeremia juga mengakui kebesaran Allah sebagai Pencipta dan Penopang bumi dan segala ciptaan lainnya. Sang Pencipta segala sesuatu itu berjanji untuk menyatakan diri-Nya secara intim ketika Dia menawarkan umat-Nya kasih, pengampunan, dan pengharapan (Yer. 31:33-34). Yeremia menegaskan kebesaran Allah sebagai “yang memberi matahari untuk menerangi siang, yang menetapkan bulan dan bintang-bintang untuk menerangi malam” (ay.35). Pencipta kita dan Tuhan yang Mahakuasa akan memerintah atas segala sesuatu seiring Dia berkarya menebus seluruh umat-Nya (ay.36-37).
Demikianlah Firman Tuhan: . . . Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku. —Yeremia 31:33

Kita tidak akan pernah selesai menjelajahi angkasa yang tak terukur luasnya dan menyelami dasar-dasar bumi yang dalam. Namun, kita dapat mengagumi kompleksnya alam semesta ini dan mempercayai Dia yang menciptakan bulan—dan segala sesuatunya.
Bagaimana membayangkan kebesaran Allah sebagai Pencipta dan Pendukung alam semesta membantu Anda percaya menghadapi masalah yang menghadang? Bagaimana kompleksnya alam semesta ini dapat membantu Anda mempercayakan setiap hal kecil dalam hidup Anda kepada Allah?
Allah Pencipta dan Penopang segalanya, terima kasih Engkau telah mengundang kami untuk mengenal Engkau dan menaruh kepercayaan kepada-Mu hari ini dan selamanya.
Oleh Xochitl Dixon | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Perjanjian Nuh adalah salah satu perjanjian yang paling awal dicatat di dalam Kitab Suci. Pelangi adalah tanda janji Allah untuk tidak akan lagi menghancurkan bumi dengan air bah (Kej. 9:8-17). Allah membuat perjanjian dengan Abraham ketika Dia memanggilnya untuk pergi ke tanah Kanaan dan berjanji untuk membuatnya menjadi sebuah bangsa yang besar, memberikan tanah tersebut kepadanya, dan memberkati segala bangsa melaluinya (12:1-3; 15:5-16; 17:6-8). Allah memeteraikan perjanjian dengan Abraham tersebut dengan tanda sunat (17:10-11). Dalam perjanjian-Nya dengan Daud, Allah menjanjikan kepada Daud, keturunan Abraham, bahwa setiap raja yang duduk di atas takhta Israel akan datang dari keturunannya sendiri (2Sam. 7:8-16; 1Taw. 17:11-14). Tandanya adalah Anak Daud yang dijanjikan (Mat. 1:1; Kis. 13:23). Penulis kitab Ibrani mengutip Yeremia 31:31-34 dan menyatakan bahwa Kristus, Anak Daud yang dijanjikan, sekarang adalah “Pengantara dari suatu perjanjian yang baru” (Ibr. 8:6-13; 9:15; 12:24). —K. T. Sim

https://da4kwgmu3ugvs.cloudfront.net/wp-content/uploads/sites/60/2020/04/28081717/05-29.jpg




May 30, 2020, 04:37:38 AM
Reply #2641
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 25807
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


https://santapanrohani.org/

https://santapanrohani.org/2020/05/30/lakukan-apa-saja/

https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2020-05-30.mp3

Lakukan Apa Saja
  30/05/2020 
Lakukan Apa Saja
Baca: Pengkhotbah 2:17-25 | Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 10–12; Yohanes 11:30-57
00:00
Unduh MP3
Karena siapa dapat makan dan merasakan kenikmatan di luar Dia? —Pengkhotbah 2:25

Dalam sebuah film yang dirilis baru-baru ini, seseorang yang menyebut dirinya sendiri “jenius” nyerocos di depan kamera tentang “kengerian, korupsi, ketidakpedulian, dan kemiskinan” dunia, dan menyatakan bahwa kehidupan ini tidak bertuhan dan konyol. Meski pemikiran seperti itu tidak asing dalam banyak naskah film modern, yang menarik di bagian akhir, si tokoh utama mendesak penonton untuk melakukan apa saja demi meraih kebahagiaan. Baginya, hal itu termasuk meninggalkan moralitas tradisional.

Namun, dapatkah kita memperoleh kebahagiaan dengan “melakukan apa saja”? Menghadapi keputusasaannya atas masalah-masalah dalam hidup ini, penulis Pengkhotbah di Perjanjian Lama sudah pernah mencoba untuk mencari kebahagiaan melalui kesenangan dan sukacita (Pkh. 2:1,10), melalui pekerjaan-pekerjaan besar (ay.4-6), melalui kekayaan (ay.7-9), dan melalui upaya memperoleh hikmat (ay.12-16). Kesimpulannya? “Segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin” (ay.17). Tidak ada sesuatu pun yang kebal dari kematian, bencana, atau ketidakadilan (5:13-17).
Karena siapa dapat makan dan merasakan kenikmatan di luar Dia? —Pengkhotbah 2:25

Hanya satu yang membawa penulis Pengkhotbah keluar dari keputusasaan. Meski didera oleh berbagai pencobaan hidup, kita dapat menemukan kepuasan ketika Allah menjadi bagian dari hidup dan karya kita: “Karena siapa dapat makan dan merasakan kenikmatan di luar Dia?” (2:25). Hidup terkadang terasa tidak berarti, tetapi “ingatlah akan Penciptamu” (12:1). Jangan buang-buang tenaga untuk mencoba memahami hidup, melainkan “takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya” (ay.13).

Tanpa Allah sebagai pusat hidup kita, kenikmatan dan kepedihan hidup hanya akan membawa kita kepada kekecewaan.
Seberapa sering Anda mencari kebahagiaan lewat hal-hal yang fana? Karena penulis Pengkhotbah belum mengetahui harapan tentang kebangkitan, bagaimana Anda memandang pencariannya bila dipandang dari Roma 8:11,18-25?
Ya Allah, hari ini aku menempatkan Engkau kembali menjadi pusat dari hidup, karya, sukacita, dan kekecewaanku, karena tanpa Engkau tidak ada yang dapat memuaskan atau memberi arti bagiku.
Oleh Sheridan Voysey | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Pengkhotbah 2:17-25 adalah contoh yang baik untuk memahami mengapa kitab ini terkadang dianggap muram. Sang penulis mengeluhkan kesia-siaan bekerja, karena pada akhirnya kita meninggalkan hasil pekerjaan kita kepada orang lain yang belum mengerjakannya. Ditambah lagi, kita tidak tahu bagaimana penerus kita akan menggunakannya—dengan bijak atau dengan bodoh.

Sangat menarik untuk membaca kesimpulan sang penulis setelah ia menyadari kesia-siaan bekerja. Dia menganjurkan kita untuk makan, minum, dan bersenang-senang dalam jerih payah kita (ay.24). Ia berfokus untuk menemukan kepuasan dalam pekerjaan itu sendiri, bukan dalam hasil atau keuntungan yang diterima karenanya. Namun, akhir dari bacaan ini membawa kita kembali kepada Allah. Tanpa-Nya, tidak mungkin ada kenikmatan dalam apa pun (ay.25). —J. R. Hudberg





May 31, 2020, 05:28:58 AM
Reply #2642
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 25807
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://santapanrohani.org/

https://santapanrohani.org/2020/05/31/pelan-pelan-saja/

https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2020-05-31.mp3

Pelan-pelan Saja
  31/05/2020 
Pelan-pelan Saja
Baca: Filipi 2:12-18 | Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 13–14; Yohanes 12:1-26
00:00
Unduh MP3
Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. —Filipi 2:13

Saya dan ayah saya dahulu suka menebang pohon dan memotong-motongnya dengan gergaji besar yang harus dipegang dua orang. Karena waktu itu masih muda dan bertenaga besar, saya sering mendorong gergaji kuat-kuat saat memotong kayu. Ayah saya sering mengingatkan, “Pelan-pelan saja. Biarkan gergajinya yang bekerja.”

Saya jadi teringat pada kata-kata Paulus dalam kitab Filipi: “Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu” (2:13). Pelan-pelan saja. Biarkan Allah bekerja mengubah kita.
Allahlah yang bekerja; kita yang bersukacita. Pelan-pelan saja. Kelak kita akan sampai juga ke sana.

C. S. Lewis mengatakan bahwa pertumbuhan itu lebih dari membaca apa yang Kristus katakan dan melakukannya. Ia menjelaskan, “Pribadi yang benar-benar nyata, Kristus, . . . sedang melakukan karya-Nya untuk Anda . . . pelan-pelan mengubah Anda secara permanen menjadi . . . Kristus kecil yang baru, seseorang yang . . . ikut memiliki kuasa, sukacita, pengetahuan, dan kekekalan-Nya.”

Allah sedang berada dalam proses itu saat ini. Duduklah di kaki Yesus, dan dengarkanlah baik-baik apa yang difirmankan-Nya. Berdoalah. “Hiduplah selalu di dalam naungan kasih Allah” (Yud. 1:21 BIS), dengan selalu mengingatkan diri sendiri bahwa Anda ini milik-Nya. Yakinlah bahwa Dia sedang mengubah Anda secara bertahap.

Mungkin Anda bertanya, “Bukankah kita juga perlu haus dan lapar akan kebenaran?” Bayangkanlah seorang anak kecil dengan mata berbinar-binar penuh harap sedang menginginkan hadiah yang terletak tinggi di atas rak. Menyadari keinginan itu, sang ayah mengambilkan hadiah tersebut dari atas rak lalu memberikannya kepada anaknya.

Allahlah yang bekerja; kita yang bersukacita. Pelan-pelan saja. Kelak kita akan sampai juga ke sana.
Apa arti “Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu” bagi Anda? Apa yang Anda ingin Dia kerjakan dalam diri Anda saat ini?
Ya Allah, aku mengucap syukur bahwa Engkau mengubah hati dan tindakanku supaya aku semakin seperti Yesus. Karuniakanlah kepadaku kerendahan hati untuk rela belajar dari-Mu.
Oleh David H. Roper | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Bacaan hari ini dimulai dengan “Sebab itu” (Flp. 2:12 BIS), menyambung pengajaran dalam ayat 1-11 untuk meneladani perendahan diri Yesus dan contoh pengorbanan-Nya yang tanpa pamrih dalam upaya kita hidup menyerupai Kristus. Dengan memerintahkan kita untuk tetap “[mengerjakan] keselamatan [kita] dengan takut dan gentar” (ay.12), Paulus tidak mengatakan bahwa kita perlu bekerja untuk keselamatan kita, karena keselamatan kita adalah karunia dari Allah (Ef. 2:8-9). Sebaliknya, Paulus mengingatkan kita akan tanggung jawab kita sebagai orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus. Karena kita sudah diselamatkan, kita harus “mengerjakan hal-hal yang baik sebagai buah-buah keselamatan” (Flp. 2:12 FAYH). Dengan kuasa ROH KUDUS, kita harus “[menghasilkan] buah yang sesuai dengan pertobatan” (Mat. 3:8), untuk menunjukkan kepada dunia bahwa kita “tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini,” dan untuk bercahaya “seperti bintang-bintang” di dunia yang digelapkan oleh dosa (Flp. 2:15). —K. T. Sim







June 01, 2020, 05:56:45 AM
Reply #2643
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 25807
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


https://santapanrohani.org/

https://santapanrohani.org/2020/06/01/butuh-tuntunan-allah/

https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2020-06-01.mp3

Butuh Tuntunan Allah
  01/06/2020 
Butuh Tuntunan Allah
Baca: Mazmur 61 | Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 15–16; Yohanes 12:27-50
00:00
Unduh MP3
Dari ujung bumi aku berseru kepada-Mu. Mazmur 61:3

Paman Zaki lebih dari sekadar teman bagi Kenneth Bailey, seorang ahli Alkitab; ia juga pemandu kepercayaan Bailey dalam perjalanan melintasi Gurun Sahara yang sangat luas dan menantang. Bailey berkata bahwa ia dan timnya menunjukkan kepercayaan penuh kepada Paman Zaki dengan cara mengikuti panduannya. Intinya, mereka menegaskan kepada Zaki, “Kami tidak tahu jalan, dan seandainya engkau tersesat kami pun akan tersesat dan mati. Kami percaya penuh kepada kepemimpinanmu.”

Di tengah situasi yang sangat melelahkan dan memilukan, Daud tidak sekadar membutuhkan bimbingan dari manusia. Ia memohon tuntunan dari Allah yang dilayaninya. Dalam Mazmur 61:3 kita membaca, “Dari ujung bumi aku berseru kepada-Mu, karena hatiku lemah lesu; tuntunlah aku ke gunung batu yang terlalu tinggi bagiku.” Ia merindukan tempat perlindungan dan kelegaan yang ditemukan dalam hadirat Allah (ay.4-5).
Dari ujung bumi aku berseru kepada-Mu. Mazmur 61:3

Tuntunan Allah dalam hidup sangatlah dibutuhkan oleh umat yang dalam Kitab Suci disebut sebagai kawanan domba yang telah “sesat” (Yes. 53:6). Jika dibiarkan berjalan sendiri, pastilah kita tersesat dan tanpa pengharapan di tengah gurun dunia yang penuh dosa ini.

Namun, kita tidak dibiarkan berjalan sendiri! Kita mempunyai Gembala Agung yang membimbing kita ke “air yang tenang”, menyegarkan jiwa kita, dan menuntun kita di jalan yang benar (Mzm. 23:2-3).

Ke mana Anda butuh dituntun oleh-Nya hari ini? Berserulah kepada Dia. Dia tidak akan pernah meninggalkan Anda.
Apa rasanya ketika Anda merasa tersesat dan kehilangan arah? Bagaimana Anda dapat kembali mempercayai kerinduan Allah sebagai gembala untuk menuntun Anda dalam situasi sulit?
Bapa terkasih, terima kasih karena Engkau telah menjadi Gembala dan Penuntun hidupku. Tolonglah aku untuk tetap mempercayai-Mu dan mengandalkan hikmat-Mu. Biarlah Roh-Mu membimbingku melewati masa-masa yang berat dalam hidup ini.
Oleh Bill Crowder | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Konteks historis untuk Mazmur 61 tidak dijelaskan dalam kalimat pengantarnya, maka satu-satunya hal yang kita ketahui tentang latar belakang mazmur ini hanyalah bahwa Daud sedang diburu. Saat melarikan diri dari Yerusalem, ia berdoa, “Dari ujung bumi aku berseru kepada-Mu, karena hatiku lemah lesu” (ay.3). Kita tidak diberitahu siapa yang sedang memburu dia; namun sebagian ahli percaya bahwa mungkin petunjuknya ada dalam ay.7: Daud meminta agar Allah menambahi “umur raja.” Tampaknya hal itu mengindikasikan bahwa itu periode waktu yang berbeda dengan ketika ia diburu oleh Saul yang ingin menghalanginya menjadi raja. Dalam mazmur ini, Daud sudah menjadi raja, jadi besar kemungkinan mazmur ini ditulis ketika ia melarikan diri dari upaya kudeta yang dirancang oleh Absalom, anaknya. —Bill Crowder






 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)