Author Topic: Our Daily Bread / RBC Indonesia  (Read 133360 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

November 30, 2019, 07:12:55 AM
Reply #2470
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23981
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Dibentuk dengan Saksama
  30/11/2019 
Dibentuk dengan Saksama
Baca: Efesus 4:11-14 | Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 37–39 ; 2 Petrus 2
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-11-30.mp3


[Kristus] yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus. —Efesus 4:11-12

Dalam sebuah video YouTube, Alan Glustoff, seorang petani keju di Goshen, New York, menjelaskan cara memfermentasi keju, suatu proses yang dilakukan untuk memberi rasa dan tekstur pada keju. Sebelum dapat dijual ke pasar, setiap blok keju disimpan dalam sebuah rak di gua bawah tanah selama enam hingga dua belas bulan. Dalam lingkungan yang lembab ini, keju tersebut diawasi dengan saksama. “Kami berusaha sedapat mungkin memberikan bagi keju itu lingkungan yang tepat untuk berkembang. . . [dan] mencapai potensinya yang paling maksimal,” jelas Glustoff.

Semangat Glustoff untuk mencapai potensi maksimal dari keju yang ia hasilkan mengingatkan saya pada kerinduan Allah untuk mencapai “potensi maksimal” dari anak-anak-Nya supaya mereka berbuah dan menjadi dewasa. Dalam Efesus 4, Rasul Paulus menjabarkan orang-orang yang terlibat dalam proses ini: para rasul, nabi, penginjil, gembala, dan pengajar (ay.11). Orang-orang dengan karunia tersebut membantu merangsang pertumbuhan setiap orang percaya sekaligus mendorong mereka untuk melayani (“pekerjaan pelayanan” yang disebutkan di ayat 12). Tujuannya adalah agar kita mencapai “kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus” (ay.13).
Pertumbuhan rohani terjadi melalui kuasa ROH KUDUS ketika kita menundukkan diri kepada proses pendewasaan-Nya.

Pertumbuhan rohani terjadi melalui kuasa ROH KUDUS ketika kita menundukkan diri kepada proses pendewasaan-Nya. Sewaktu kita menuruti bimbingan dari orang-orang yang ditempatkan-Nya dalam kehidupan kita, kita menjadi semakin efektif ketika Dia mengutus kita untuk melayani-Nya.
Siapa yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan rohani Anda? Dalam hal apa saja Anda ditantang untuk bertumbuh? Bagaimana Anda juga dapat mendorong pertumbuhan iman orang lain?
Allah Mahakasih, aku bersyukur atas cara-Mu yang lembut dan saksama dalam menolongku untuk bertumbuh.
Oleh Linda Washington | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Perjanjian Baru memuat tiga daftar karunia rohani—Roma 12:6-8, 1 Korintus 12:8-10, dan 1 Korintus 12:28-30. Di samping itu, Efesus 4:11 menyebutkan jabatan-jabatan yang dijalankan oleh orang-orang dengan karunia spesifik, dan 1 Petrus 4:10-11 mengelompokkan karunia menjadi dua: berbicara dan melayani. Di antara semua daftar itu, tidak ada yang identik. Artinya, daftar-daftar tersebut tidak mencakup seluruh karunia yang bisa Allah berikan kepada manusia. Dalam setiap daftar, yang ditekankan bukanlah jumlah karunia yang ada, melainkan keragaman dan tujuannya. Karunia-karunia itu hendaknya dipergunakan dengan kasih demi kesatuan jemaat (1 Korintus 12:12-27; 13:1-13), membangun kedewasaan rohani orang percaya (Efesus 4:12-16), dan memuliakan Allah (1 Petrus 4:10-11). Dalam Efesus 4, di antara topik tentang kesatuan (ay.1-6) dan kedewasaan jemaat (ay.14-16), Paulus menggarisbawahi karunia mengajar yang berguna untuk menumbuhkan, membangun, mengokohkan, mempersatukan, memperlengkapi, dan mendewasakan gereja (ay.11-13). —K.T. Sim




December 01, 2019, 04:46:12 AM
Reply #2471
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23981
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Masihkah Ada Harapan?
  01/12/2019 
Masihkah Ada Harapan?
Baca: Roma 8:31-39 | Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 40–41 ; 2 Petrus 3
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-12-01.mp3

Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? —Roma 8:31

Edward Payson (1783–1827) pernah menjalani hidup yang sangat sulit. Kematian adik laki-lakinya membuatnya sangat terguncang. Ia bergumul dengan gangguan bipolar dan kerap didera sakit kepala migren yang parah selama berhari-hari. Tidak hanya itu, ia pernah jatuh dari kuda dan melumpuhkan tangannya, serta hampir mati karena tuberkulosa! Yang mengherankan, semua itu tidak membuatnya putus asa atau patah semangat. Teman-temannya mengatakan bahwa sebelum Edward meninggal dunia, sukacitanya justru begitu besar. Bagaimana mungkin?

Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, Rasul Paulus menyatakan kepercayaannya yang penuh kepada kebenaran kasih Allah yang tidak tergantung pada situasi. Dengan berani ia bertanya, “Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? (Rm. 8:31). Jika Allah telah memberikan Yesus, Anak-Nya yang tunggal, untuk menyelamatkan kita, maka Dia pasti akan menyediakan segala yang kita butuhkan untuk menyelesaikan hidup ini dengan baik. Paulus mencantumkan tujuh situasi berat yang dialaminya sendiri: penindasan, kesesakan, penganiayaan, kelaparan, ketelanjangan, bahaya, dan pedang (ay.35). Ia tidak bermaksud mengatakan bahwa kasih Kristus akan mencegah terjadinya hal-hal buruk. Namun, Paulus berkata bahwa “dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita” (ay.37).
Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? —Roma 8:31

Di dalam dunia yang serba tak menentu ini, Allah dapat sepenuhnya dipercaya, karena kita tahu bahwa sama sekali tidak ada yang “dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (ay.39).
Saat menghadapi situasi yang membuat putus asa, bagaimana biasanya respons Anda? Janji Allah apa yang bisa Anda pegang karena tahu Dia akan memenuhinya?
Bapa surgawi yang setia, terima kasih untuk kasih-Mu kepadaku. Terima kasih untuk pengorbanan Anak-Mu yang memberikanku hidup kekal. Terima kasih karena aku bisa mempercayai janji-janji-Mu sekalipun saat ini hidup mungkin terasa suram.
Oleh Estera Pirosca Escobar | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Dalam Roma 8, ada tiga hal penting yang memberikan kepastian dan pengharapan kepada anak-anak Allah. Ayat 1-4 mengingatkan kita bahwa “sekarang tidak ada penghukuman” bagi orang yang percaya kepada Kristus. Penegasan ini memberi kita keyakinan bahwa di dalam Kristus kita telah dibawa ke dalam hubungan yang benar dengan Allah dan aman dari penghakiman karena dosa-dosa kita. Sebagian besar isi pasal ini (ay.5-27) menegaskan peran ROH KUDUS dalam memberdayakan kita untuk mengamalkan iman kita. Bagian terakhirnya (ay.28-39) meyakinkan kita bahwa kasih Allah kepada kita takkan pernah mati atau berkurang. Setelah tujuh pasal yang membicarakan kegagalan-kegagalan kita dan kebutuhan kita akan seorang Juruselamat, pasal 8 merekomendasikan keyakinan rohani kepada Kristus. Perlindungan-Nya, Roh-Nya, dan kasih-Nya telah datang kepada kita lewat salib, mengingatkan kita bahwa kita dikasihi dan dipelihara oleh Bapa. Bill Crowder




December 02, 2019, 06:31:32 AM
Reply #2472
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23981
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Sisi Lain Kasih
  02/12/2019 
Sisi Lain Kasih
Baca: 2 Yohanes 1:1-11 | Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 42–44 ; 1 Yohanes 1
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-12-02.mp3


Kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa, dan dari Yesus Kristus, Anak Bapa, akan menyertai kita dalam kebenaran dan kasih. —2 Yohanes 1:3

Penginapan Romawi pada zaman Kristus memiliki reputasi yang sangat buruk sehingga para rabi Yahudi pun tidak mengizinkan ternak mereka dititip di sana. Kondisi yang begitu sulit membuat orang-orang Kristen yang bepergian biasanya mencari tumpangan dari saudara-saudari seiman mereka.

Di antara para pelancong tersebut ada guru-guru palsu yang menyangkali Yesus sebagai Mesias. Itulah sebabnya para pembaca surat 2 Yohanes diminta untuk menolak memberikan tumpangan kepada para guru palsu. Dalam suratnya yang terdahulu, Yohanes sudah mengatakan bahwa guru-guru palsu tersebut adalah “antikristus, . . . yang menyangkal baik Bapa maupun Anak” (1Yoh. 2:22). Dalam 2 Yohanes, ia menjelaskan hal itu lebih lanjut dengan mengatakan kepada para pembacanya bahwa siapa saja yang percaya Yesus adalah Mesias, “ia memiliki Bapa maupun Anak” (1:9).
Allah merangkul orang-orang yang datang kepada-Nya dalam pertobatan.

Kemudian ia mengingatkan, “Jikalau seorang datang kepadamu dan ia tidak membawa ajaran ini, janganlah kamu menerima dia di dalam rumahmu dan janganlah memberi salam kepadanya” (ay.10). Menampung seorang pengajar palsu sama dengan membuat orang-orang yang belum diselamatkan tetap terpisah dari Allah.

Surat Yohanes yang kedua ini menunjukkan kepada kita “sisi lain” dari kasih Allah. Kita melayani Allah yang menerima setiap orang dengan tangan terbuka. Namun, kasih yang tulus tidak akan mendukung orang yang menyesatkan dirinya sendiri dan juga orang lain. Allah merangkul orang-orang yang datang kepada-Nya dalam pertobatan, tetapi Dia tidak pernah menerima penyesatan.
Bagaimana Anda dapat mencerminkan kasih Allah kepada sesama Anda hari ini? Saat ini, masalah apa yang perlu Anda selesaikan dalam hidup Anda atau orang lain?
Bapa, Engkau mengasihi kami dalam kebenaran-Mu. Tolong kami menyalurkan kasih tersebut kepada sesama kami dengan anugerah tak tergoyahkan yang hanya berasal dari Roh-Mu.
Oleh Tim Gustafson | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Siapa penulis 1, 2, dan 3 Yohanes tidak secara eksplisit disebutkan. 1 Yohanes sama sekali tidak menyebutkan siapa penulisnya, 2 dan 3 Yohanes hanya mengacu kepada sang penulis sebagai “penatua” (2 Yohanes 1:1; 3 Yohanes 1:1). Namun banyak bukti yang mengaitkan ketiga surat ini dengan Yohanes murid Kristus. Misalnya, Injil Yohanes (yang dihubungkan dengan Yohanes murid Kristus) dan surat-surat Yohanes semuanya memiliki tema yang sama. Dalam bacaan hari ini dari 2 Yohanes, tiga ide kunci menggemakan tema-tema dalam Injil Yohanes: kebenaran (Yohanes 14:6), kasih (Yohanes 3:16), dan kasih yang menuntun kepada ketaatan (Yohanes 15:9-17). J.R. Hudberg




December 03, 2019, 06:13:51 AM
Reply #2473
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23981
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Amplop yang Hilang
  03/12/2019 
Amplop yang Hilang
Baca: Matius 6:19-21 | Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 45–46 ; 1 Yohanes 2
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-12-03.mp3

Kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. —Matius 6:20

Dalam perjalanan pulang setelah mengunjungi kerabat di negara bagian lain, saya menemukan selembar amplop kotor dan tebal tergeletak di tanah dekat suatu pom bensin. Saya pun mengambil dan melihat isinya. Saya sangat terkejut karena amplop tersebut berisi uang seratus dolar.

Seseorang telah kehilangan uang seratus dolar dan mungkin saja ia sedang panik mencarinya. Saya memberikan nomor telepon kami kepada petugas di pom bensin tersebut, karena mungkin saja ada orang yang datang mencari amplop itu. Namun, tidak ada yang menghubungi saya.
Hubungan yang dipulihkan dengan Allah dan janji hidup kekal adalah harta surgawi yang kita miliki.

Seseorang pernah memiliki uang tersebut tetapi kemudian uang itu hilang. Hal itu umum terjadi pada harta duniawi. Harta bisa hilang, dicuri, atau dihambur-hamburkan. Harta bisa hilang karena investasi yang gagal atau kandas di pasar moneter yang tidak bisa kita kendalikan. Namun, tidak demikian dengan harta surgawi yang kita punya di dalam Yesus, yakni hubungan yang dipulihkan dengan Allah dan janji hidup kekal. Harta surgawi tidak mungkin tercecer di pom bensin atau hilang di mana pun.

Itulah sebabnya Kristus menasihati kita untuk mengumpulkan “harta di sorga” (Mat. 6:20). Kita melakukannya ketika kita menjadi “kaya dalam kebajikan” (1Tim. 6:18) atau “kaya dalam iman” (Yak. 2:5) lewat kerelaan membantu sesama dan membagikan kasih Yesus kepada mereka. Dengan pimpinan dan kekuatan Allah, kiranya kita terus mengumpulkan harta surgawi sambil menantikan keabadian bersama-Nya kelak.
Perbuatan apa yang bisa Anda lakukan minggu ini yang mempunyai dampak kekal? Bagaimana Anda dapat menggunakan harta duniawi Anda dengan lebih bijak sebagai investasi demi memperoleh harta surgawi?
Ya Allah, terima kasih untuk segala sesuatu yang telah Engkau berikan kepada kami di dunia ini—uang, rumah, dan masih banyak lagi. Tolonglah kami agar tidak terlalu erat memegang harta duniawi tersebut, sembari kami terus berupaya mengumpulkan harta surgawi yang kekal.
Oleh Dave Branon | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Matius (atau Lewi, anak Alfeus; Markus 2:14) - pemungut cukai yang kemudian menjadi murid Yesus--diyakini sebagai penulis Injil Matius. Matius 6 adalah bagian dari Khotbah Kristus di Bukit (Matius 5–7), yang disampaikan di tepi bukit dekat Kapernaum. Khotbah ini dimulai dengan Yesus berbicara tentang kehidupan rohani orang yang percaya kepada Kristus (ay.1-18) dan beralih ke peringatan-peringatan terhadap kecintaan akan harta benda, kecemasan, dan sikap menghakimi (ay.19; 7:5). Peringatan terhadap kecintaan akan uang dan harta benda dalam bacaan hari ini adalah tema umum dalam Alkitab. Beberapa contoh adalah catatan tentang Akhan (Yosua 7:1), sang pemuda kaya (Matius 19:16-22), dan Ananias dan Safira (Kisah Para Rasul 5:1-11). Alyson Kieda




December 04, 2019, 05:19:37 AM
Reply #2474
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23981
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Bebas dari Tuduhan
  04/12/2019 
Bebas dari Tuduhan
Baca: 1 Yohanes 3:19-24 | Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 47–48 ; 1 Yohanes 3
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-12-04.mp3

Jika kita dituduh oleh [hati kita], Allah adalah lebih besar dari pada hati kita. —1 Yohanes 3:20

Sepasang suami-istri sedang mengendarai karavan melintasi kawasan utara California yang kering ketika tiba-tiba bannya meletus dan terdengar bunyi logam bergesekan dengan aspal. Percikan api dari gesekan itu menyulut terjadinya kebakaran hutan Carr pada tahun 2018 yang menghanguskan wilayah seluas 93.000 hektar, menghancurkan lebih dari 1.000 rumah, dan menewaskan beberapa jiwa.

Ketika mereka yang selamat mendengar pasangan tadi dilanda kesedihan dan perasaan bersalah, mereka pun membuat halaman Facebook untuk menunjukkan “kasih dan mengulurkan kebaikan . . . agar menghalau rasa malu dan putus asa” yang melingkupi mereka. Seorang wanita menulis: ”Saya memang kehilangan rumah, tetapi saya ingin Anda tahu bahwa kami tidak menyalahkan Anda, begitu juga keluarga-keluarga lain. . . . Kecelakaan bisa terjadi kapan saja. Saya berharap pesan-pesan kami dapat meringankan beban Anda. Kita pasti bisa melewatinya bersama-sama.”
Apa pun penyesalan kita atas hal-hal yang pernah kita lakukan, Allah memanggil kita mendekat kepada-Nya.

Tuduhan dan ketakutan atas perbuatan yang rasanya tidak termaafkan dapat menggerogoti jiwa manusia. Syukurlah, Alkitab mengatakan bahwa “jika kita dituduh oleh [hati kita], Allah adalah lebih besar dari pada hati kita” (1Yoh 3:20). Apa pun aib kita, Allah lebih besar daripada semua itu. Yesus memanggil kita untuk dipulihkan dengan bertobat (apabila diperlukan) dan melepaskan rasa malu yang menggerogoti hati kita. Kemudian, lewat penebusan-Nya, kita ”boleh menenangkan hati kita di hadapan Allah” (ay.19).

Apa pun penyesalan kita atas hal-hal yang pernah kita lakukan, Allah memanggil kita mendekat kepada-Nya. Yesus tersenyum kepada kita seraya berkata, “Aku telah membebaskan hatimu.”
Pernahkah Anda merasa malu atau tertuduh oleh perasaan bersalah? Apa artinya bagi Anda saat mengetahui bahwa Yesus telah membebaskan hati Anda?
Ya Allah, aku sangat menyesal. Andai saja aku bisa menghapus situasi menyakitkan ini dan mengulang kembali semuanya. Namun, aku berterima kasih, Engkau memberiku anugerah untuk belajar dan melangkah maju.
Oleh Winn Collier | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Surat Yohanes yang pertama dimulai dengan cara yang serupa dengan awal Injil Yohanes (1:1-4). Dalam surat maupun Injilnya, Yohanes mencerminkan keheranan seseorang yang telah melihat Firman Allah yang kekal dengan matanya sendiri (Yohanes 1:1-3; 1 Yohanes 1:1-4). Dalam kedua kitab itu ia mengembangkan tema tentang syarat untuk hidup di dalam hadirat Dia yang adalah terang, kehidupan, dan kasih. Namun ada juga beberapa perbedaan penting. Injil Yohanes fokus pada cara-cara Yesus menyatakan diri-Nya kepada pria wanita yang takkan menyangka bahwa kehidupan, terang, dan kasih Allah bisa dinyatakan dari salib seorang yang terhukum. Di sisi lain, surat Yohanes yang pertama, berfungsi sebagai himbauan kepada mereka yang sudah mengetahui kisah Yesus namun berada dalam bahaya melupakan apa artinya tidak mengasihi Allah yang seperti itu dan tidak saling mengasihi sesama manusia. Mart DeHaan




December 05, 2019, 06:08:13 AM
Reply #2475
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23981
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Kebaikan yang Disengaja
  05/12/2019 
Kebaikan yang Disengaja
Baca: 2 Samuel 9:3-11 | Bacaan Alkitab Setahun: Daniel 1–2 ; 1 Yohanes 4
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-12-05.mp3

Aku hendak menunjukkan kepadanya kasih yang dari Allah. —2 Samuel 9:3

Jessica, seorang ibu muda yang naik pesawat dengan anak-anaknya, mengalami kesulitan untuk menenangkan anak perempuannya yang berumur tiga tahun yang tiba-tiba menangis sambil menendang-nendang. Masalahnya bertambah ketika bayi laki-lakinya yang berusia empat bulan kelaparan dan mulai merengek.

Seorang penumpang yang duduk di sebelahnya segera menawarkan diri untuk menggendong bayinya sementara Jessica memasangkan sabuk pengaman untuk putrinya. Kemudian si penumpang yang mengingat kembali masa-masa baru menjadi ayah itu mengajak anak perempuan itu mewarnai bersama sementara Jessica memberi makan bayinya. Setelah transit dan berganti pesawat, penumpang itu kembali menawarkan bantuannya bila dibutuhkan.
Aku hendak menunjukkan kepadanya kasih yang dari Allah. —2 Samuel 9:3

Jessica mengenang, “Saya takjub melihat bagaimana tangan Tuhan bekerja dalam hal ini. [Kami] bisa didudukkan di mana saja, tetapi kami justru duduk di sebelah orang paling baik hati yang pernah saya temui.”

Dalam 2 Samuel 9, kita membaca contoh dari perbuatan yang saya sebut sebagai kebaikan yang disengaja. Setelah Raja Saul dan putranya Yonatan dibunuh, ada yang mengira Daud akan menyingkirkan orang-orang yang berpotensi merebut takhtanya. Namun sebaliknya, ia bertanya, “Tidak adakah lagi orang yang tinggal dari keluarga Saul? Aku hendak menunjukkan kepadanya kasih yang dari Allah” (ay.3). Mefiboset, putra Yonatan, kemudian dibawa kepada Daud. Daud mengembalikan warisan Mefiboset dan mengundangnya makan sehidangan sejak saat itu, layaknya salah seorang anak raja (ay.11).

Sebagai penerima kebaikan Allah yang begitu limpah ruah, kiranya kita mencari kesempatan untuk sengaja berbuat baik kepada sesama kita (Gal. 6:10).
Kepada siapa Anda dapat menunjukkan kebaikan Allah? Perbuatan baik apa yang dapat Anda tunjukkan kepada seseorang yang sedang terluka atau kecewa?
Bapa di surga, terima kasih atas kebaikan yang telah Engkau tunjukkan kepadaku. Tolonglah aku mencurahkan kebaikan itu kepada sesamaku.
Oleh Cindy Hess Kasper | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam 2 Samuel 9 berakar dalam hubungan perjanjian yang Daud adakan dengan Yonatan, anak Saul raja Israel yang pertama. Mengetahui bahwa Daud ditetapkan menjadi raja, Yonatan meminta komitmen Daud untuk memperlihatkan “kemurahan” kepada keturunannya (1 Samuel 20:14-17). Mefiboset, yang lumpuh karena kecelakaan ketika ia baru berusia lima tahun (2 Samuel 4:4), adalah orang yang merasakan hasil perjanjian yang penuh kemurahan tersebut. Arthur Jackson




December 06, 2019, 06:49:27 AM
Reply #2476
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23981
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Hadiah dari Atas
  06/12/2019 
Hadiah dari Atas
Baca: Matius 1:18-25 | Bacaan Alkitab Setahun: Daniel 3–4 ; 1 YohANES 5
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-12-06.mp3

Anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel. —Matius 1:23

Konon, pada zaman dahulu, seorang pria bernama Nicholas (lahir tahun 270 M), mendengar tentang seorang ayah yang sangat miskin. Saking miskinnya, ia tidak bisa memberi makan ketiga anak perempuannya, apalagi menyisihkan dana untuk pernikahan mereka di masa mendatang. Dalam upayanya membantu sang ayah, tetapi tanpa ingin diketahui oleh siapa pun, Nicholas melempar sekantong emas melalui jendela yang terbuka, dan kantong itu mendarat di dalam kaus kaki atau sepatu yang sedang dikeringkan di depan perapian. Pria itu dikenal sebagai Santo Nicholas, yang kemudian menjadi inspirasi bagi tokoh Sinterklas.

Ketika saya mendengar cerita tentang hadiah yang datang dari atas itu, saya terpikir tentang Allah Bapa, yang karena kasih dan belas kasihan-Nya mengirimkan hadiah terbesar, yaitu Anak-Nya sendiri, melalui sebuah kelahiran yang ajaib. Menurut Injil Matius, Yesus menggenapi nubuat Perjanjian Lama yang mengatakan bahwa seorang anak dara akan mengandung dan melahirkan anak laki-laki yang dinamai Imanuel, yang berarti “Allah menyertai kita” (1:23).
Allah menyertai kita (Matius 1:23).

Hadiah dari Nicholas sangatlah indah, tetapi Yesus yang diberikan dari surga itu jauh lebih menakjubkan. Dia meninggalkan surga untuk menjadi manusia, mati dan bangkit kembali, dan Dialah Allah yang tinggal bersama kita. Dia membawa penghiburan saat kita sedih dan terluka; menyemangati saat kita putus asa; menyingkapkan kebenaran saat kita kehilangan arah dan tersesat.
Bagaimana Anda dapat meneruskan anugerah Yesus kepada sesama Anda hari ini? Bagaimana kehadiran-Nya memimpin Anda untuk rela berbagi waktu, hikmat, dan kasih kepada orang lain?
Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau sudah datang dari Bapa untuk lahir dalam keadaan yang sederhana. Kiranya aku tidak pernah menyia-nyiakan kehadiran-Mu dalam hidupku.
Oleh Amy Boucher Pye | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Nas hari ini memperkenalkan kita kepada Yusuf, seorang tukang kayu di Nazaret sekaligus ayah tiri Yesus. Yusuf tidak banyak disinggung dalam Kitab Suci dan tidak pernah menjadi orang yang berbicara; namun kehidupannya berbicara banyak tentang kesetiaannya kepada Allah. Ia memperhatikan hukum dan ingin bertindak taat (Matius 1:19), namun ia menyeimbangkan kepentingan tersebut dengan belas kasih yang tulus terhadap Maria. Fokusnya pada ketaatan juga diseimbangkan dengan kepercayaan bahwa pesan yang telah ia terima dari malaikat adalah dari Allah—memberinya kekuatan untuk taat (ay.22-25). Bill Crowder






December 07, 2019, 05:29:22 AM
Reply #2477
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23981
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Jangan Lupakan Pemberinya
  07/12/2019 
Jangan Lupakan Pemberinya
Baca: Ulangan 6:4-12 | Bacaan Alkitab Setahun: Daniel 5–7 ; 2 Yohanes
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-12-07.mp3

Berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan Tuhan. —Ulangan 6:12

Saat itu Natal sudah dekat dan sang ibu merasa anak-anaknya sulit mengucap syukur. Ia tahu betapa mudahnya perasaan seperti itu menyelinap, tetapi ia juga ingin memberikan pelajaran berharga bagi anak-anaknya. Oleh karena itu, ia mengitari rumahnya dan memasang pita-pita merah pada saklar lampu, ruang makan, pintu kulkas, mesin cuci, mesin pengering, dan keran air. Pada setiap pita, ia menuliskan catatan: “Kita sering lupa kepada berkat-berkat dari Allah, maka aku memasang pita ini. Allah sudah begitu baik kepada keluarga kita. Jangan kita lupa dari mana semua berkat itu datang.”

Dalam Ulangan pasal 6, kita melihat bahwa bagi masa depannya bangsa Israel harus menaklukkan tempat-tempat yang sudah terbangun. Mereka akan menempati kota-kota yang besar dan baik yang tidak mereka dirikan (ay.10), tinggal di rumah-rumah yang dipenuhi barang-barang baik yang tidak mereka isi, mendapat manfaat dari banyak sumur, kebun anggur, serta kebun zaitun yang tidak mereka gali atau tanami (ay.11). Semua berkat itu datang dari satu sumber—“Tuhan, Allahmu” (ay.10). Ketika Allah dengan penuh kasih sudah menyediakan semua itu dan banyak hal lainnya, Musa ingin memperingatkan bangsa Israel agar tidak melupakan-Nya (ay.12).
Janganlah kita mengabaikan kebaikan Allah, karena Dialah sumber semua berkat yang kita nikmati.

Adakalanya kita terlena dan mudah lupa. Namun, janganlah kita mengabaikan kebaikan Allah, karena Dialah sumber semua berkat yang kita nikmati.
Sebutkan lima berkat yang Anda alami dalam kehidupan ini. Mengapa Anda bersyukur atas berkat-berkat tersebut? Bagaimana cara Anda berterima kasih kepada Allah atas semua berkat-Nya hari ini?
Bapa yang Pengasih, Engkaulah sumber setiap berkat dalam hidup kami. Ampunilah kami yang sering sombong dan menganggap berkat-berkat itu berasal dari kekuatan kami sendiri. Terima kasih atas semua pemberian-Mu.
Oleh John Blase | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Orang Yahudi Ortodoks menafsirkan perintah dari Ulangan 6:8 secara harfiah. Lelaki Yahudi yang taat akan mengikatkan wadah-wadah kulit yang dikenal sebagai tefillin (bahasa Yunani, yang berarti kotak kulit berisikan nas Ibrani) pada lengan atau tangan kirinya dan pada dahinya. Tefillin memuat bagian dari ayat Kitab Suci yang dikenal sebagai Shema (Ulangan 6:4-9). Dalam Markus 12:29-31, Yesus mengutip dari Shema dan Imamat 19:18 ketika Ia mengatakan “tidak ada hukum lain yang lebih utama” daripada “mengasihi Tuhan Allahmu... [dan] mengasihi sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

Tefillin biasanya mencakup ayat-ayat Kitab Suci dari Keluaran 13:1-16 dan Ulangan 11:13-21. Bagian dari kitab Keluaran mengacu kepada Paskah yang pertama ketika Allah mengatakan, “Hal itu bagimu harus menjadi tanda pada tanganmu dan menjadi peringatan di dahimu, supaya hukum TUHAN ada di bibirmu” (Keluaran 13:9). Akan datang saatnya ketika mereka yang menolak Allah harus memiliki tanda entah pada tangan atau dahi mereka (Wahyu 13:16; 14:9). Iblis senang memalsukan cara-cara Allah. Tim Gustafson




December 08, 2019, 04:33:50 AM
Reply #2478
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23981
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Sikap Penuh Syukur
  08/12/2019 
Sikap Penuh Syukur
Baca: Kolose 3:12-25 | Bacaan Alkitab Setahun: Daniel 8–10 ; 3 Yohanes
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-12-08.mp3


Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah. —Kolose 3:15

Di negara bagian tempat saya tinggal, adakalanya musim dingin berlangsung sangat ekstrem, dengan suhu di bawah nol dan salju yang turun terus-menerus. Pada suatu hari yang sangat dingin, ketika saya sedang menyekop salju untuk kesekian kalinya hari itu, tukang pos kami mampir dan menanyakan kabar saya. Saya mengatakan kepadanya bahwa saya tidak menyukai musim dingin dan merasa jenuh menghadapi salju di mana-mana. Lalu saya berkomentar bahwa pekerjaan tukang pos pastilah sangat berat dalam kondisi cuaca ekstrem seperti ini. Ia menjawab, “Begitulah, tetapi setidaknya saya punya pekerjaan. Banyak orang tidak punya. Saya bersyukur bisa bekerja.”

Harus diakui, saya agak tertegur melihat sikapnya yang penuh syukur. Betapa mudahnya kita mengabaikan segala sesuatu yang sepatutnya disyukuri ketika situasi hidup terasa kurang menyenangkan.
Di tengah pergumulan dan penderitaan, kita dapat mengalami damai sejahtera Allah.

Rasul Paulus mengatakan kepada para pengikut Kristus di Kolose: “Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah” (Kol. 3:15). Ia menulis kepada jemaat di Tesalonika: “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu” (1Tes. 5:18).

Bahkan di tengah pergumulan dan penderitaan, kita dapat mengalami damai sejahtera Allah dan mengizinkannya menguasai hati kita. Lewat damai sejahtera itu, kita akan diingatkan kembali kepada segala sesuatu yang telah diberikan kepada kita di dalam Kristus. Lewat hal itu, kita bisa benar-benar bersyukur.
Hal apa yang perlu berhenti Anda keluhkan? Apa yang perlu Anda syukuri kepada Allah hari ini?
Ya Allah, betapa seringnya aku mengeluh tentang hal-hal yang membuatku kurang nyaman. Tolonglah aku agar tidak melupakan kebaikan-Mu. Berikanlah aku hati yang penuh syukur.
Oleh Bill Crowder | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Kebajikan-kebajikan dan kelaliman-kelaliman yang disebut dalam Kolose 3:5-17 memberi ilustrasi dramatis yang kontras antara kehidupan yang dijalani dengan kekuatan sendiri dengan kehidupan yang dijalani dengan tuntunan Roh Kristus. Orang yang percaya kepada Yesus tidak mengalami transformasi rohani dengan “berusaha sendiri mati-matian” melainkan dengan menanggalkan identitas lama mereka dan menukarnya dengan “manusia baru” (ay.10) yang telah mati dan bangkit lagi bersama Kristus (ay.1-3). Monica Brands



 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)