Author Topic: Arus Hayat  (Read 70031 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

March 01, 2013, 04:40:59 AM
Reply #10
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://arushayat.blogspot.com/
http://arushayat.blogspot.com/2013/03/efesus-minggu-23-jumat.html

01 March 2013
Efesus - Minggu 23 Jumat

Pembacaan Alkitab: Rm. 8:3-5


Ayat 21 mengatakan bahwa kita telah menerima pengajaran di dalam Kristus menurut realitas yang nyata dalam Yesus. Ayat 22 dan 24 memperlihatkan apa yang telah diajarkan kepada kita: bahwa kita telah menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru. Kita menerima pengajaran mengenai hal ini ketika kita diletakkan di dalam cetakan, yaitu ketika kita dibaptis. Dalam baptisan kita menerima pengajaran bahwa manusia lama kita telah disalibkan dan telah dikubur melalui baptisan. Tidak hanya demikian, kita juga menerima pengajaran bahwa kita telah keluar dari air, kita bangkit menjadi manusia baru. Karena itu, melalui baptisan kita menerima pengajaran bahwa kita telah menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru.

Kita seharusnya tidak mencoba memahami ayat-ayat seperti 4:20-24 melalui menggunakan pikiran alamiah kita. Sebaliknya, kita harus mempertimbangkannya dalam terang pengalaman kita sebagai orang Kristen. Jika kita melakukan hal ini, terang ini akan perlahan-lahan memancar atas kita, dan kita akan melihat realitas. Realitas di sini adalah ketika kita dibaptis, kita menerima pengajaran bahwa kita telah menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru. Perhatikan, Paulus tidak berkata bahwa kita telah menerima pengajaran untuk menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru. Manusia lama kita telah dikubur dalam air baptisan. Karena itu, kita telah menanggalkan manusia lama. Selain itu, sewaktu kita bangkit dari air dalam kebangkitan, kita telah mengenakan manusia baru. Karena itu, kita juga telah mengenakan manusia baru. Maka, kita telah menerima pengajaran dalam Kristus menurut realitas yang nyata dalam Yesus bahwa kita telah menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru.

Di antara kata yang berhubungan dengan menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru, Paulus menyisipkan pemikiran tentang diperbarui dalam roh pikiran (ayat 23 Tl.). Berdasarkan fakta yang sudah tergenap tentang menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru, ayat 23 menyuruh kita untuk diperbarui dalam roh pikiran kita. Diperbarui adalah untuk transformasi kita sesuai dengan gambar Kristus (Rm. 12:2; 2 Kor. 3:18). Roh di sini adalah roh kelahiran kembali kaum beriman yang berbaur dengan Roh Allah yang berhuni di batin kita. Roh perbauran ini menyebar ke dalam pikiran kita, sehingga menjadi roh pikiran kita. Di dalam roh inilah kita diperbarui bagi transformasi kita. Dengan jalan ini pikiran alamiah kita dikuasai, ditundukkan, dan berada di bawah roh. Ini tentunya menyiratkan proses transformasi metabolis. Sewaktu proses ini berlangsung, roh perbauran ini masuk ke dalam pikiran kita, menduduki pikiran kita, dan menjadi roh pikiran.

Melalui roh pikiran kita diperbarui agar dalam pengalaman menggenapkan apa yang telah rampung dalam menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru. Menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru adalah fakta yang telah rampung. Sekarang kita harus mengalami dan merealisasikan fakta-fakta ini melalui diperbarui dalam roh pikiran. Sewaktu fakta ini direalisasikan dalam pengalaman, kita menempuh hidup yang sesuai dengan kehidupan Yesus. Ini berarti kita me­nempuh hidup realitas, hidup dalam pancaran terang, dan dalam ekspresi Allah. Ketika kita diperbarui dalam roh pikiran untuk mengalami fakta menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru, kita hidup menurut realitas yang nyata dalam Yesus.


Sumber: Pelajaran-Hayat Efesus, Buku 2, Berita 47
March 02, 2013, 04:52:58 AM
Reply #11
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://arushayat.blogspot.com/
http://arushayat.blogspot.com/2013/03/efesus-minggu-23-sabtu.html

02 March 2013
Efesus - Minggu 23 Sabtu

Pembacaan Alkitab: Kol. 3:1-11


Manusia baru berasal dari Kristus. Itulah Tubuh-Nya yang diciptakan di dalam Dia di atas salib (2:15-16). Ini bukan bersifat individual, tetapi korporat (Kol. 3:10-11). Fakta bahwa manusia baru diciptakan dari dua kelompok orang membuktikan bahwa manusia baru itu bersifat korporat. Selain itu, Kolose 3:10-11 menyatakan bahwa manusia baru tersusun dari banyak orang. Dalam manusia baru yang korporat ini tidak ada lagi orang Yunani atau Yahudi, tidak ada budak atau orang merdeka, tidak ada lagi orang Barbar atau orang Skit, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu. Dalam Kolose 3:11 perkataan “semua” mengacu kepada orang banyak. Hal ini berarti bahwa dalam manusia baru Kristus adalah semua orang dan di dalam semua orang. Karena itu, dalam manusia baru yang korporat Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.

Ayat 24 mengatakan bahwa manusia baru diciptakan menurut kehendak Allah. Manusia lama secara lahiriah diciptakan menurut gambar Allah, tetapi tanpa hayat dan sifat Allah (Kej. 1:26-27), sedangkan manusia baru secara batiniah diciptakan menurut Allah sendiri, memiliki hayat dan sifat Alah (Kol. 3:10).

Selain itu, manusia baru diciptakan dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya (realitas itu. Tl.). Kebenaran berarti benar terhadap Allah dan terhadap manusia sesuai dengan jalan kebenaran Allah, sedangkan kekudusan adalah ibadah dan kesalehan di hadapan Allah. Kebenaran terutama ditujukan terhadap manusia, dan kekudusan terutama ditujukan terhadap Allah. Kebenaran mengacu kepada tindakan lahiriah, sedangkan kekudusan mengacu kepada sifat batiniah. Secara luaran segala sesuatu yang berhubungan dengan manusia baru adalah benar; dan secara batiniah segala sesuatu yang berhubungan dengan manusia baru adalah kudus.

Kebenaran dan kekudusan manusia baru berasal dari realitas itu. Kata “itu” dalam ayat 24 bersifat menekankan. Seperti si penyesat itu dalam ayat 22 yang berhubungan dengan manusia lama, adalah personifikasi Iblis, maka realitas di sini, yang berhubungan dengan manusia baru, adalah personifikasi Allah. Realitas ini dinyatakan dalam hayat Yesus, yang disebutkan dalam ayat 21. Dalam hayat Yesus kebenaran dan kekudusan realitas terus-menerus diwujudkan. Di dalam kebenaran dan kekudusan kebenaran ini, yang adalah perwujudan dan ekspresi Allah, manusia baru ini diciptakan.

Agar kita dapat mempelajari Kristus, Paulus memperlihatkan suatu gambaran yang kontras antara ma­nusia lama dengan manusia baru, antara Iblis dengan Allah, dan antara hawa nafsu, di satu pihak, dengan kebenaran dan kekudusan di pihak lain. Kita telah menerima ajaran bahwa kita telah menanggalkan manusia lama dan telah mengenakan manusia baru. Ini berarti kita telah menanggalkan hawa nafsu dan dusta Iblis dan mengenakan kebenaran dan kekudusan Allah. Allah adalah kebenaran, dan kebenaran ini tertampak dalam kehidupan Yesus di bumi. Kehidupan insani Yesus sesuai dengan realitas, yaitu, sesuai dengan Allah sendiri, penuh kebenaran dan kekudusan. Puji Tuhan kita telah mempelajari Kristus menurut realitas yang nyata dalam Yesus!


Sumber: Pelajaran-Hayat Efesus, Buku 2, Berita 47
March 03, 2013, 04:17:15 AM
Reply #12
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://arushayat.blogspot.com/
http://arushayat.blogspot.com/2013/03/efesus-minggu-23-sabtu.html

02 March 2013
Efesus - Minggu 23 Sabtu

Pembacaan Alkitab: Kol. 3:1-11


Manusia baru berasal dari Kristus. Itulah Tubuh-Nya yang diciptakan di dalam Dia di atas salib (2:15-16). Ini bukan bersifat individual, tetapi korporat (Kol. 3:10-11). Fakta bahwa manusia baru diciptakan dari dua kelompok orang membuktikan bahwa manusia baru itu bersifat korporat. Selain itu, Kolose 3:10-11 menyatakan bahwa manusia baru tersusun dari banyak orang. Dalam manusia baru yang korporat ini tidak ada lagi orang Yunani atau Yahudi, tidak ada budak atau orang merdeka, tidak ada lagi orang Barbar atau orang Skit, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu. Dalam Kolose 3:11 perkataan “semua” mengacu kepada orang banyak. Hal ini berarti bahwa dalam manusia baru Kristus adalah semua orang dan di dalam semua orang. Karena itu, dalam manusia baru yang korporat Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.

Ayat 24 mengatakan bahwa manusia baru diciptakan menurut kehendak Allah. Manusia lama secara lahiriah diciptakan menurut gambar Allah, tetapi tanpa hayat dan sifat Allah (Kej. 1:26-27), sedangkan manusia baru secara batiniah diciptakan menurut Allah sendiri, memiliki hayat dan sifat Alah (Kol. 3:10).

Selain itu, manusia baru diciptakan dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya (realitas itu. Tl.). Kebenaran berarti benar terhadap Allah dan terhadap manusia sesuai dengan jalan kebenaran Allah, sedangkan kekudusan adalah ibadah dan kesalehan di hadapan Allah. Kebenaran terutama ditujukan terhadap manusia, dan kekudusan terutama ditujukan terhadap Allah. Kebenaran mengacu kepada tindakan lahiriah, sedangkan kekudusan mengacu kepada sifat batiniah. Secara luaran segala sesuatu yang berhubungan dengan manusia baru adalah benar; dan secara batiniah segala sesuatu yang berhubungan dengan manusia baru adalah kudus.

Kebenaran dan kekudusan manusia baru berasal dari realitas itu. Kata “itu” dalam ayat 24 bersifat menekankan. Seperti si penyesat itu dalam ayat 22 yang berhubungan dengan manusia lama, adalah personifikasi Iblis, maka realitas di sini, yang berhubungan dengan manusia baru, adalah personifikasi Allah. Realitas ini dinyatakan dalam hayat Yesus, yang disebutkan dalam ayat 21. Dalam hayat Yesus kebenaran dan kekudusan realitas terus-menerus diwujudkan. Di dalam kebenaran dan kekudusan kebenaran ini, yang adalah perwujudan dan ekspresi Allah, manusia baru ini diciptakan.

Agar kita dapat mempelajari Kristus, Paulus memperlihatkan suatu gambaran yang kontras antara ma­nusia lama dengan manusia baru, antara Iblis dengan Allah, dan antara hawa nafsu, di satu pihak, dengan kebenaran dan kekudusan di pihak lain. Kita telah menerima ajaran bahwa kita telah menanggalkan manusia lama dan telah mengenakan manusia baru. Ini berarti kita telah menanggalkan hawa nafsu dan dusta Iblis dan mengenakan kebenaran dan kekudusan Allah. Allah adalah kebenaran, dan kebenaran ini tertampak dalam kehidupan Yesus di bumi. Kehidupan insani Yesus sesuai dengan realitas, yaitu, sesuai dengan Allah sendiri, penuh kebenaran dan kekudusan. Puji Tuhan kita telah mempelajari Kristus menurut realitas yang nyata dalam Yesus!


Sumber: Pelajaran-Hayat Efesus, Buku 2, Berita 47
March 04, 2013, 04:33:01 AM
Reply #13
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://arushayat.blogspot.com/
http://arushayat.blogspot.com/2013/03/efesus-minggu-24-senin.html

04 March 2013
Efesus - Minggu 24 Senin

Pembacaan Alkitab: Ef. 4:20-32


Dalam Perjanjian Baru, anugerah dan realitas merupakan satu pasangan. Yohanes 1:14 mengatakan bahwa Firman itu telah menjadi manusia dan berkemah di antara kita, penuh anugerah dan kebenaran (realitas Tl.). Ayat 17 mengatakan pula bahwa anugerah dan realitas datang oleh Yesus Kristus.

Sebagaimana anugerah dan realitas merupakan pasangan, maka kasih dan terang pun merupakan pasangan. Dalam Injil Yohanes kita memiliki anugerah dan realitas, tetapi dalam Kitab 1 Yohanes kita memiliki kasih dan terang (4:16; 1:5). Anugerah adalah ekspresi kasih, sedang kasih adalah sumber anugerah. Seprinsip dengan itu, kebenaran adalah ekspresi terang, dan terang adalah sumber kebenaran. Dalam hati Allah terdapat kasih. Ketika kasih ini diekspresikan, ia menjadi anugerah. Demi­kian pula, pada Allah ada terang, ketika terang itu ter­pancar keluar, ia menjadi realitas (kebenaran). Ketika kita menelusuri kembali anugerah dan realitas (kebenaran) kepada sumbernya di dalam Allah, kita akan berada di dalam kasih dan terang.

Nasihat Paulus dalam Efesus 4:17-32 membahas realitas dan anugerah. Realitas disebut dengan jelas, tetapi anugerah agak tersembunyi, secara khusus tersirat dalam perkataan Paulus tentang rincian yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Bila kita kekurangan anugerah, kita tidak dapat mencapai standar yang berkaitan dengan rincian itu. Prinsip kita untuk mempelajari Kristus berkaitan dengan realitas, sedang rinciannya berkaitan dengan anugerah. Bila kita ingin diserupakan dengan gambar Kristus, yaitu mempelajari Kristus, kita perlu prinsip maupun rincian itu. Jika kita memiliki realitas, kita memiliki prinsip. Jika kita memiliki anugerah, kita akan mencapai standar dengan segala rinciannya.

Paulus mengatakan bahwa kita mempelajari Kristus menurut realitas yang nyata dalam Yesus (4:21). Model, cetakan yang telah diletakkan oleh Tuhan Yesus adalah realitas. Realitas ini adalah prinsip, dan prinsip adalah model, dan model adalah perihal menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru. Dalam ayat 17-24 kita memiliki prinsip pembaruan kehidupan sehari-hari untuk mempelajari Kristus. Prinsip ini ialah realitas, yaitu kehidupan Tuhan Yesus ketika Ia berada di bumi. Kehidupan Tuhan ialah Ia senantiasa menanggalkan hayat-Nya sendiri dan mengenakan hayat Bapa. Inilah kehidupan Yesus, dan kehidupan ini adalah realitas yang menjadi prinsip dari kehidupan yang mempelajari Kristus. Menurut prinsip ini, kita telah menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru.

Setiap aspek dari kehidupan sehari-hari kita seharusnya dikendalikan oleh prinsip ini, bukan oleh standar etika. Sebagai contoh, percakapan kita seharusnya tidak dikendalikan oleh standar etika, melainkan oleh prinsip Perjanjian Baru, yaitu menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru. Bahkan berapa banyaknya kita tertawa dan menangis harus pula ditentukan oleh prinsip menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru. Prinsip ini jauh lebih tinggi daripada standar etika yang mana pun.


Sumber: Pelajaran-Hayat Efesus, Buku 2, Berita 48
March 05, 2013, 03:16:07 AM
Reply #14
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://arushayat.blogspot.com/
http://arushayat.blogspot.com/2013/03/efesus-minggu-24-selasa.html

05 March 2013
Efesus - Minggu 24 Selasa

Pembacaan Alkitab: Ef. 4:20-32


Rincian kehidupan sehari-hari kita berkaitan dengan anugerah. Dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari, kita perlu anugerah. Anugerah adalah Allah itu sendiri dalam Kristus sebagai kenikmatan kita. Kita perlu membiarkan kenikmatan ini menyingkirkan unsur-unsur negatif yang tercantum dalam ayat 31. Salah satu dari unsur negatif ini ialah kepahitan. Tanpa anugerah, mustahillah kita menyingkirkan kepahitan kita. Tetapi ketika ada Allah dalam Kristus sebagai kenikmatan kita, kepahitan kita akan lenyap. Ketika kita memiliki anugerah yang cukup, kita dapat berkata, “Aku terpenuhi oleh Kristus sebagai kenikmatanku. Karena aku terpenuhi anugerah hingga meluap, maka dalam diriku tidak ada tempat un­tuk kepahitan macam apa pun.”

Hanya setelah kita dipenuhi oleh anugerah, barulah perkara-perkara negatif tersingkir dari diri kita. Ambillah gosip sebagai contoh. Kita senang bergosip karena kita kekurangan anugerah. Jika kita dipenuhi oleh anugerah, tidak mungkin kita mencari kepuasan melalui bergosip. Sebaliknya, kita akan merasa puas dengan kepuasan yang di dalam Kristus. Ketika kita dipenuhi oleh anugerah dan ketika Kristus menjadi segala sesuatu kita, kita tidak perlu lagi mencari kepuasan dalam perkara-perkara lainnya.

Sekarang mari kita lihat rincian dari suatu kehidupan yang mempelajari Kristus. Dalam ayat 25 Paulus berkata, “Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesa­ma anggota.” Dusta mengacu kepada apa saja yang bersifat palsu. Karena kita telah menanggalkan manusia lama, kita juga telah menanggalkan segala sesuatu yang bersifat palsu. Jika kita memiliki kenikmatan atas Kristus, dalam kehidupan sehari-hari kita, dapatlah kita menanggalkan setiap perkara yang palsu dengan riil. Orang yang paling jujur dan setia adalah orang yang memiliki kenikmatan penuh atas Kristus. Bila kita dipenuhi oleh Kristus hingga meluap, semua kepalsuan atau dusta akan tersingkir dari diri kita.

Ayat 26 dan 27 mengatakan, “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: Janganlah matahari terbenam, sebelum padam kemarahanmu dan ja­nganlah beri kesempatan kepada Iblis.” Marah bukanlah dosa, tetapi dengan amarah ada kemungkinan melakukan dosa. Kita tidak seharusnya terus di dalam kemarahan, tetapi harus menghilangkannya sebelum matahari terbenam.

Dalam ayat 26 Paulus memberitahukan kita jangan membiarkan matahari terbenam sebelum amarah kita padam. Kita harus perlahan-lahan marah, tetapi cepat-cepat meredakan amarah kita. Menurut ayat ini, kita tidak boleh mempertahankannya sampai matahari terbenam. Kita tidak boleh membawa-bawa amarah kita sampai esok hari. Menurut Alkitab, kita harus meredakan amarah kita sebelum matahari terbenam. Kita semua wajib mempraktekkan hal ini. Untuk mempraktekkan hal ini, kita perlu Allah dalam Kristus sebagai anugerah. Bila kita memiliki suplai anugerah ini, kita akan dapat per­lahan-lahan marah dan tidak membiarkan amarah itu tinggal terlalu lama ketika kita benar-benar marah. Jika kita memiliki anugerah, amarah kita tidak akan bertahan lama.


Sumber: Pelajaran-Hayat Efesus, Buku 2, Berita 48
March 06, 2013, 04:31:14 AM
Reply #15
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://arushayat.blogspot.com/
http://arushayat.blogspot.com/2013/03/efesus-minggu-24-rabu.html

06 March 2013
Efesus - Minggu 24 Rabu

Pembacaan Alkitab: Ef. 4:20-32


Ayat 28 menyambung, “Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan.” Bahkan di dalam kitab tentang wahyu yang demikian tinggi, rasul masih menyinggung hal-hal praktis dan rendah, seperti mencuri dan amarah. Pencurian terutama disebabkan oleh kemalasan dan keserakahan. Karena itu, rasul menyuruh orang yang mencuri untuk bekerja keras, dan bukan bermalas-malasan, dan membagikan apa yang didapatnya kepada orang lain, dan bukannya serakah.

Ayat 29 mengatakan, “Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh anugerah.” Kata kotor di sini dalam bahasa Yunani berarti sesuatu yang beracun, busuk, atau tidak berharga. Perkataan kita tidak seharusnya mencemarkan orang lain, tetapi harus membangun mereka. Gereja dan setiap anggotanya perlu terbangun dengan wajar. Pembangunan ini pertama-tama digenapkan oleh perkataan kita. Apa yang keluar dari mulut kita seharusnya berguna bagi pembangunan gereja dan semua orang kudus.

Dalam ayat 30 Paulus berkata, “Dan janganlah kamu mendukakan ROH KUDUS Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.” Kata “Dan” pada permulaan ayat ini menandakan bahwa inilah satu perkara yang penting dan menentukan yang diperlukan sebagai tambahan dari segala perkara yang tercantum dalam ayat 25-29, yaitu jangan kita mendukakan ROH KUDUS Allah. Mendukakan ROH KUDUS berarti membuat Dia tidak senang. ROH KUDUS tinggal di dalam kita selamanya (Yoh. 14:16-17), tidak pernah meninggalkan kita. Karena itu, dia berduka ketika kita tidak hidup menurut-Nya (Rm. 8:4), yaitu ketika kita tidak hidup menurut prinsip realitas dengan anugerah dalam rincian hidup kita sehari-hari. Jika dalam perilaku sehari-hari kita bisa menurut prinsip realitas dan anugerah, kita tidak akan mendukakan ROH KUDUS Allah. Akan tetapi, jika kita tidak hidup secara demikian, Roh yang ada di batin kita akan merasa berduka.

Terakhir, ayat 32 mengatakan, “Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” Hanya kenikmatan atas Kristus sebagai suplai hayat kita dan sebagai sukacita kita yang dapat membuat hati kita ramah. Jika kita ramah, kita akan dapat mengampuni orang lain. Dalam hidup sehari-hari kita, kita perlu mengampuni orang lain dan minta diampuni orang lain. Ini perlu, sebab kita mudah tersinggung dan kita pun mudah menyinggung orang lain. Bila kita telah menyinggung orang lain, kita harus minta pengampunan, tetapi bila kita disinggung, kita perlu mengampuni orang lain; sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kita.


Sumber: Pelajaran-Hayat Efesus, Buku 2, Berita 48
March 07, 2013, 04:50:15 AM
Reply #16
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://arushayat.blogspot.com/
http://arushayat.blogspot.com/2013/03/efesus-minggu-24-kamis.html

07 March 2013
Efesus - Minggu 24 Kamis

Pembacaan Alkitab: 2 Kor. 12:7-9


Injil Yohanes mewahyukan bagaimana Allah datang kepada manusia melalui inkarnasi. Firman yang bersama Allah dan yang adalah Allah telah menjadi daging dan berkemah di antara kita (Yoh. 1:1, 14). Ayat 14 mengatakan bahwa Persona yang berinkarnasi ini penuh dengan anugerah dan realitas. Ayat itu tidak mengatakan Ia penuh dengan kuasa dan wewenang, keagungan, dan kedaulatan, atau kasih dan terang. Banyak orang Kristen mengutip Yohanes 1:14 tanpa mengerti makna anugerah dan realitas. Anugerah dan realitas berkaitan erat dengan Allah sendiri. Anugerah adalah sesuatu yang manis, realitas adalah sesuatu yang riil. Anugerah sebenarnya adalah Persona Tuhan Yesus yang manis, dan ialah wujud kepenuhan Allah dan pancaran kemuliaan ilahi (Kol. 2:9; Ibr. 1:3). Ini berarti Dia adalah ekspresi Allah.

Injil Yohanes banyak sekali membahas hayat. Yohanes 10:10 mengatakan bahwa Tuhan datang agar ki­ta boleh menerima hayat dan memilikinya dengan berkelimpahan. Persona Yesus yang manis dan terkasih ini ialah pancaran Allah itu sendiri, yaitu ekspresi-Nya. Sebagai Persona yang demikian, Ia adalah hayat kita. Hayat ialah esens, sedang anugerah ialah kenikmatan yang ber­asal dari pengecapan hayat. Ketika kita mengecap kemanisan hayat, kita pun mengalami anugerah sebagai kenikmatan kita. Maka, hayat adalah substansi sedang anugerah adalah kenikmatan.

Ini dikuatkan dalam tulisan Paulus. Paulus menderita karena adanya “satu duri dalam dagingku” (2 Kor. 12:7). Duri ini mungkin merupakan suatu penyakit atau cacat jasmani. Paulus tiga kali berdoa kepada Tuhan agar duri ini meninggalkan dirinya (2 Kor. 12:8). Tetapi Tuhan menjawabnya dengan berkata, “Cukuplah anugerah-Ku bagimu; sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (2 Kor. 12:9). Tuhan mengizinkan duri itu tinggal, agar Paulus memiliki satu kesempatan untuk menikmati anugerah-Nya. Dalam kelemahan Paulus, kuasa Allah, dan anugerah-Nya yang cukup, menjadi sempurna.

Anugerah ialah kenikmatan atas Allah Tritunggal dalam segala apa adanya bagi kita. Ketika Ia adalah hayat bagi kita, itulah anugerah. Ketika Ia adalah kuasa bagi kita, itulah anugerah. Anugerah ialah segala apa adanya Kristus bagi kita sebagai kenikmatan kita yang subyektif. Tiap hari kita perlu anugerah, bahkan tiap jam. Kita perlu menikmati Kristus sebagai hayat kita, kekuatan kita, dan segala sesuatu kita. Anugerah adalah Allah Tritunggal menjadi kenikmatan kita. Ia telah datang kepada kita, agar kita boleh memperoleh, mengalami, dan menikmati-Nya. Ketika kita mengalami Dia sebagai kenikmatan kita, jadilah Ia anugerah kita.


Sumber: Pelajaran-Hayat Efesus, Buku 2, Berita 49
March 08, 2013, 04:52:25 AM
Reply #17
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://arushayat.blogspot.com/
arushayat.blogspot.com/2013/03/efesus-minggu-24-jumat.html

08 March 2013
Efesus - Minggu 24 Jumat

Pembacaan Alkitab: Yoh. 1:16; 4:10


Sekarang kita melihat masalah realitas (kebenaran). Berhubung pikiran kita mungkin dikuasai oleh konsepsi alamiah, maka kita mungkin merasa sulit untuk memahami maknanya yang sesuai dengan Perjanjian Baru. Banyak yang menyangka realitas (kebenaran) hanya suatu doktrin belaka. Bila mereka melihat istilah “kebenaran” dalam Alkitab, otomatis mereka menafsirkannya sebagai doktrin. Namun dalam Perjanjian Baru, realitas (kebenaran) tidak ditujukan kepada doktrin. Jika Anda ingin membuktikan hal ini, cobalah Anda mengganti ayat-ayat yang mengatakan “kebenaran” itu dengan “doktrin”. Yohanes 1:14 tentu mengatakan bahwa Firman telah menjadi daging, penuh dengan anugerah dan doktrin; Yohanes 1:17 mengatakan bahwa anugerah dan doktrin datang oleh Yesus Kristus; dan Yohanes 14:6 menga­takan, Tuhan adalah jalan, doktrin, dan hayat. Alangkah menggelikan! Tidak masuk akal pula kalau mengatakan kita telah mempelajari Kristus menurut doktrin yang nyata di dalam Yesus. Namun demikian, dalam konsepsi kebanyakan orang Kristen, arti kebenaran tak lebih dari­pada doktrin. Ada lagi yang menganggap kebenaran berarti ketulusan. Menurut pengertian itu, berbicara dalam kebenaran dianggap berbicara secara tulus.

Jika kita ingin mengetahui makna realitas (kebenar­an) dalam Perjanjian Baru, kita harus mengesampingkan definisi-definisi itu. Realitas (kebenaran) ialah Allah yang diwahyukan. Alangkah jauh bedanya hal ini dengan mengatakan realitas (kebenaran) itu doktrin atau ketulusan! Berhubung anugerah dan realitas berasal dari Yesus Kristus, maka pada prinsipnya keduanya itu tentu adalah sesuatu dari diri Allah sendiri. Yesus ialah Allah yang datang kepada kita. Ketika Allah datang kepada kita, Ia tidak datang sebagai doktrin atau ketulusan. Ketika Ia datang, setiap perkara yang berkaitan dengan-Nya turut datang. Allah datang kepada kita untuk kita nikmati. Itulah anugerah. Allah juga datang untuk mewahyukan diri-Nya sendiri kepada kita. Itulah realitas. Dengan kata lain, ketika kita menikmati Allah, Ia adalah anugerah, tetapi ketika Allah diwahyukan kepada kita, Ia adalah realitas. Karena itu, realitas tidak lain ialah Allah yang diwahyukan kepada kita.

Menurut keempat kitab Injil, semua orang yang berkontak dengan Tuhan Yesus secara positif, telah menerima anugerah dan nampak realitas. Anugerah yang mereka terima ialah Allah itu sendiri, dan realitas yang mereka nampak ialah Allah juga. Karena itu, Yohanes memberi tahu kita bahwa dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima anugerah demi anugerah (Yoh. 1:16). Dari Dia kita telah menerima kekayaan dari apa adanya Allah. Inilah Allah yang telah diterima, dialami, dan dinikmati. Inilah anugerah. Seiring dengan ini, Allah lalu dilihat dan dikenal oleh kita. Inilah realitas.

Kehidupan gereja adalah hasil dari datangnya Allah kepada kita sebagai anugerah dan realitas, dan perginya kita kepada Allah untuk menemui-Nya sebagai kasih dan terang. Melalui lalu lintas demikian muncullah ketujuh kaki pelita dalam Kitab Wahyu. Terakhir, lalu lintas surgawi ini akan menghasilkan Yerusalem Baru sebagai kesaksian Allah yang kekal. Baik kaki pelita maupun Yerusalem Baru, keduanya berasal dari lalu lintas antara Allah dengan kita dan antara kita dengan Allah. Dalam lalu lintas ini Allah datang kepada kita menjadi anugerah dan realitas kita, dan kita pergi kepada Allah untuk mengalami-Nya sebagai kasih dan terang kita.


Sumber: Pelajaran-Hayat Efesus, Buku 2, Berita 49
March 09, 2013, 04:54:29 AM
Reply #18
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://arushayat.blogspot.com/
http://arushayat.blogspot.com/2013/03/efesus-minggu-24-sabtu.html

09 March 2013
Efesus - Minggu 24 Sabtu

Pembacaan Alkitab: Ef. 4:20-32


Sekarang kita boleh menerapkan apa yang kita bahas di atas ke dalam Kitab Efesus. Kita telah nampak bahwa unsur dasar untuk mempelajari Kristus ialah realitas dan anugerah. Berlawanan dengan Injil Yohanes, dalam Efesus 4 realitas mendahului anugerah. Realitas bukan suplai, melainkan pancaran terang. Maka, realitas adalah prinsip, model, dan standar. Selaku anggota Tubuh Kristus yang berada di bawah Kepala, kita mempelajari Kristus menurut realitas yang nyata dalam Yesus.

Sebelum Paulus menyebutkan anugerah di sini, ia menampilkan prinsip, model, dan standar, juga boleh dikatakan ia menampilkan realitas. Kita semua telah dibaptis ke dalam cetakan, model, yaitu hidup realitas dalam Yesus, bukan ke dalam anugerah. Melalui baptisan kita telah ditempatkan oleh Allah ke dalam model, standar, dan prinsip, yang diletakkan oleh kehidupan Tuhan Yesus di bumi. Inilah realitas dalam Efesus 4.

Untuk memperhidupkan standar yang sedemikian, perlu ada anugerah. Dalam ayat 29 Paulus mengaitkan anugerah dengan tutur kata kita. Ini menunjukkan bahwa kita perlu anugerah untuk rincian kehidupan sehari-hari kita, bukan hanya untuk masalah-masalah yang kita anggap penting. Mungkin dalam masalah besar kita memiliki anugerah, tetapi tidak dalam perkara-perkara kecil. Sebagai contoh, seorang saudara mungkin ada anugerah untuk menyuplaikan firman, tetapi mungkin ia kekurangan anugerah dalam berbicara dengan istrinya. Lagi pula, mungkin kita semua mempunyai anugerah dalam sidang doa, tetapi dalam percakapan sehari-hari, kita kekurangan anugerah. Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak ada hal lain yang lebih memerlukan anugerah daripada percakapan kita. Bila dalam aspek ini kita memiliki anugerah, kita juga akan memiliki anugerah dalam setiap aspek lainnya.

Kita perlu anugerah dalam segala perkara untuk menempuh suatu kehidupan menurut realitas yang nyata dalam Yesus dan dicetak dalam rupa Kristus. Anugerah ialah suplai dan kenikmatan kita yang kaya. Bila kita memiliki suplai dan kenikmatan ini, kita akan dapat hi­dup menurut standar prinsip realitas. Karena itulah Paulus mengambil realitas dan anugerah sebagai unsur dasar dalam nasihatnya dalam Efesus 4.

Seiring dengan unsur dasar ini, ada pula beberapa faktor dasar. Di pihak positifnya, faktor-faktor ini ialah hayat Allah (ayat 18) dan Roh Allah (ayat 30).

Berlawanan dengan orang kafir, kita bukan orang asing dalam hayat Allah. Kita tidak saja tidak terasing dari hayat Allah, sebaliknya kita telah dilekatkan kepada sumber hayat itu. Hayat Allah telah menjadi satu mata air di dalam diri kita. Haleluya atas suplai hayat yang ada di batin kita!

Kita juga memiliki Roh Allah. Roh Allah adalah Persona Allah. Allah sendiri di dalam Persona Roh tinggal di dalam kita. Karena itu, kita harus berhati-hati, jangan mendukakan-Nya. Sebaliknya, kita wajib menaati-Nya, menghormati-Nya, mencintai-Nya, dan senantiasa bersatu dengan-Nya.


Sumber: Pelajaran-Hayat Efesus, Buku 2, Berita 49
March 10, 2013, 04:58:42 AM
Reply #19
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://arushayat.blogspot.com/
http://arushayat.blogspot.com/2013/03/efesus-minggu-24-sabtu.html

09 March 2013
Efesus - Minggu 24 Sabtu

Pembacaan Alkitab: Ef. 4:20-32


Sekarang kita boleh menerapkan apa yang kita bahas di atas ke dalam Kitab Efesus. Kita telah nampak bahwa unsur dasar untuk mempelajari Kristus ialah realitas dan anugerah. Berlawanan dengan Injil Yohanes, dalam Efesus 4 realitas mendahului anugerah. Realitas bukan suplai, melainkan pancaran terang. Maka, realitas adalah prinsip, model, dan standar. Selaku anggota Tubuh Kristus yang berada di bawah Kepala, kita mempelajari Kristus menurut realitas yang nyata dalam Yesus.

Sebelum Paulus menyebutkan anugerah di sini, ia menampilkan prinsip, model, dan standar, juga boleh dikatakan ia menampilkan realitas. Kita semua telah dibaptis ke dalam cetakan, model, yaitu hidup realitas dalam Yesus, bukan ke dalam anugerah. Melalui baptisan kita telah ditempatkan oleh Allah ke dalam model, standar, dan prinsip, yang diletakkan oleh kehidupan Tuhan Yesus di bumi. Inilah realitas dalam Efesus 4.

Untuk memperhidupkan standar yang sedemikian, perlu ada anugerah. Dalam ayat 29 Paulus mengaitkan anugerah dengan tutur kata kita. Ini menunjukkan bahwa kita perlu anugerah untuk rincian kehidupan sehari-hari kita, bukan hanya untuk masalah-masalah yang kita anggap penting. Mungkin dalam masalah besar kita memiliki anugerah, tetapi tidak dalam perkara-perkara kecil. Sebagai contoh, seorang saudara mungkin ada anugerah untuk menyuplaikan firman, tetapi mungkin ia kekurangan anugerah dalam berbicara dengan istrinya. Lagi pula, mungkin kita semua mempunyai anugerah dalam sidang doa, tetapi dalam percakapan sehari-hari, kita kekurangan anugerah. Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak ada hal lain yang lebih memerlukan anugerah daripada percakapan kita. Bila dalam aspek ini kita memiliki anugerah, kita juga akan memiliki anugerah dalam setiap aspek lainnya.

Kita perlu anugerah dalam segala perkara untuk menempuh suatu kehidupan menurut realitas yang nyata dalam Yesus dan dicetak dalam rupa Kristus. Anugerah ialah suplai dan kenikmatan kita yang kaya. Bila kita memiliki suplai dan kenikmatan ini, kita akan dapat hi­dup menurut standar prinsip realitas. Karena itulah Paulus mengambil realitas dan anugerah sebagai unsur dasar dalam nasihatnya dalam Efesus 4.

Seiring dengan unsur dasar ini, ada pula beberapa faktor dasar. Di pihak positifnya, faktor-faktor ini ialah hayat Allah (ayat 18) dan Roh Allah (ayat 30).

Berlawanan dengan orang kafir, kita bukan orang asing dalam hayat Allah. Kita tidak saja tidak terasing dari hayat Allah, sebaliknya kita telah dilekatkan kepada sumber hayat itu. Hayat Allah telah menjadi satu mata air di dalam diri kita. Haleluya atas suplai hayat yang ada di batin kita!

Kita juga memiliki Roh Allah. Roh Allah adalah Persona Allah. Allah sendiri di dalam Persona Roh tinggal di dalam kita. Karena itu, kita harus berhati-hati, jangan mendukakan-Nya. Sebaliknya, kita wajib menaati-Nya, menghormati-Nya, mencintai-Nya, dan senantiasa bersatu dengan-Nya.


Sumber: Pelajaran-Hayat Efesus, Buku 2, Berita 49
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)