Author Topic: Arus Hayat  (Read 87545 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

April 11, 2019, 02:22:53 PM
Reply #1790
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24469
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://arushayat.blogspot.com/2019

11 April 2019
Lukas - Minggu 9 Kamis

Pembacaan Alkitab: Luk. 7:36-38; 1 Kor. 11:15


Mengasihi Manusia-Penyelamat dengan Kemuliaan


Doa baca: “Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu.” (Luk. 7:38).


Orang-orang dosa diampuni bukan karena kasih mereka, melainkan karena iman mereka dalam Tuhan. Iman, bukan kasih, membuat kita mengalami pengampunan dosa-dosa. Orang-orang yang diselamatkan, orang-orang yang dosanya telah diampuni, mengikuti Tuhan dan melayani Dia. Orang-orang yang demikian menjadi sanak saudara Manusia-Penyelamat yang sejati.

Kehidupan orang Kristen dimulai dengan pengampunan dosa melalui iman kepada Penyelamat. Dalam Lukas 7:36, seorang Farisi mengundang Penyelamat untuk makan dengannya. Dalam kemahatahuan-Nya, Manusia-Penyelamat tahu bahwa seorang perempuan akan datang ke rumah orang Farisi tersebut. Dengan menerima permintaan orang Farisi itu, Tuhan memberikan satu kesempatan kepada perempuan itu untuk mengontak-Nya. Tuhan memberi satu kesempatan kepada orang dosa yang diselamatkan itu untuk menyatakan kasihnya bagi-Nya. Lukas tidak menyinggung banyak mengenai tuan rumah itu, namun ia berbicara banyak tentang apa yang dilakukan perempuan itu kepada Tuhan Yesus. Rambut adalah kemuliaan perempuan (1 Kor. 11:15), dan berada pada bagian paling atas dari tubuhnya. Dengan bagian teratasnya perempuan itu menyeka kaki Penyelamat (bagian terendah dari tubuh), dan mengasihi-Nya dengan kemuliaannya. Perempuan itu juga mengurapi kaki Tuhan dengan minyak wangi, menunjukkan apresiasinya terhadap kemustikaan dan kemanisan yang agung dari Tuhan.

Sebagai orang dosa yang telah diselamatkan dan diampuni, kita sebagai kaum beriman perlu mencurahkan kasih kita kepada Penyelamat kita. Kasih kita kepada-Nya terlihat dari sejauh mana penghargaan kita terhadap-Nya lewat waktu yang kita curahkan di hadapan Tuhan.


Sumber: Pelajaran-Hayat Lukas, Buku 1, Berita 17


April 12, 2019, 05:35:51 AM
Reply #1791
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24469
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://arushayat.blogspot.com/2019

12 April 2019
Lukas - Minggu 9 Jumat

Pembacaan Alkitab: Luk. 7:38-50


Kasih Sebagai Hasil Pengampunan Penyelamat


Doa baca: “Tetapi Yesus berkata kepada perempuan itu, 'Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan damai!'” (Luk. 7:50).


Dalam Lukas 7:41-42 Manusia-Penyelamat berkata kepada Simon, orang Farisi, “Ada dua orang yang berhutang kepada seorang yang membungakan uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan lebih mengasihi dia?” Firman Tuhan di sini menunjukkan bahwa Simon dan perempuan itu adalah orang-orang dosa. Simon menganggap perempuan itu sebagai orang dosa, tetapi tidak menganggap dirinya sendiri sebagai orang dosa. Semua orang dosa tidak memiliki apa-apa untuk membayar hutang mereka kepada Allah-Penyelamat mereka, tetapi Penyelamat telah mengampuni kedua-duanya.

Dalam Lukas 7:42 Tuhan Yesus bertanya kepada Simon siapakah dari kedua orang yang berhutang itu yang akan lebih mengasihi orang yang membungakan uang itu sebagai hasil dari diampuni olehnya. Ini menunjukkan bahwa kasih mereka terhadap Penyelamat adalah hasil, bukan penyebab dari pengampunan Penyelamat. Dalam ayat 47 Tuhan berkata, “Karena itu, Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak mengasihi. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia mengasihi.” Kasih yang besar dari perempuan itu merupakan bukti bahwa dosanya yang banyak telah diampuni. Perempuan yang diampuni dosa-dosanya itu tidak hanya memiliki kasih terhadap Penyelamat, tetapi juga iman di dalam Dia, yang bekerja melalui kasih (Gal. 5:6) dan mendatangkan damai sejahtera. Iman yang menyelamatkan dirinya membawa dia kepada Penyelamat dalam kasih dan membuat dia bisa pergi dalam damai sejahtera.

Kita sebagai kaum beriman perlu mengambil perempuan itu sebagai teladan kita, yaitu melatih iman kita dan percaya bahwa Tuhan telah mengampuni dosa-dosa kita. Setiap hari belajar mempersembahkan diri kita untuk mengasihi Dia.


Sumber: Pelajaran-Hayat Lukas, Buku 1, Berita 17


April 13, 2019, 05:46:12 AM
Reply #1792
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24469
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://arushayat.blogspot.com/2019

13 April 2019
Lukas - Minggu 9 Sabtu

Pembacaan Alkitab: Luk. 7:36-50


Iman, Kasih, dan Damai Sejahtera


Doa baca: “Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih.” (Gal. 5:6).


Iman, kasih, dan damai sejahtera adalah tiga kebajikan penting dalam mengalami dan menikmati keselamatan Penyelamat. Iman dihasilkan dari pengenalan terhadap Penyelamat dalam kuasa-Nya yang menyelamatkan dan kebajikan-Nya. Kasih berasal dari iman ini dan mendatangkan damai sejahtera; kemudian kita mengikuti Penyelamat.

Tuhan bukan mengampuni perempuan itu karena mengasihi-Nya, juga bukan karena kasih perempuan itu terhadap Penyelamat sehingga dosa-dosanya diampuni. Dalam Lukas 7:50 Tuhan berkata kepada perempuan itu bahwa imannya, bukan kasihnya, yang menyelamatkan dia. Selanjutnya, mengenai dua orang yang berhutang yang diampuni oleh orang yang membungakan uang itu, Tuhan bertanya, “Siapakah di antara mereka yang akan lebih mengasihi dia?” (ayat 42). Ini menunjukkan dengan jelas bahwa kasih adalah hasil dari pengampunan. Kata “karena” membuktikan bahwa kasih datang setelah pengampunan bukan sebelumnya. Dosa-dosa perempuan itu diampuni bukan karena kasihnya, melainkan karena imannya. Karena itu, iman datang sebelum pengampunan, dan kasih mengikuti iman. Kasih adalah hasil, akibat, dari iman kita. Ketika kita percaya kepada Tuhan, iman kita menjadi penyebab dari pengampunan Tuhan atas dosa-dosa kita. Kemudian sebagai hasil pengampunan atas dosa-dosa kita, kita mulai mengasihi Tuhan. Maka, kasih berasal dari iman.

Kasih menghasilkan damai sejahtera. Pertama kita percaya kepada Tuhan Yesus, memiliki iman terhadap-Nya. Kemudian semua dosa kita diampuni, dan hal ini mendatangkan kasih terhadap Tuhan. Sewaktu kita mengasihi Dia, kasih ini menghasilkan damai sejahtera. Kemudian, kita dapat berjalan dalam damai sejahtera, yaitu hidup dalam damai sejahtera. Sebagai orang-orang yang mengasihi Tuhan, kita seharusnya hidup, berjalan, dan berperilaku dalam damai sejahtera.


Sumber: Pelajaran-Hayat Lukas, Buku 1, Berita 17



April 14, 2019, 04:21:54 AM
Reply #1793
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24469
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://arushayat.blogspot.com/2019

13 April 2019
Lukas - Minggu 9 Sabtu

Pembacaan Alkitab: Luk. 7:36-50


Iman, Kasih, dan Damai Sejahtera


Doa baca: “Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih.” (Gal. 5:6).


Iman, kasih, dan damai sejahtera adalah tiga kebajikan penting dalam mengalami dan menikmati keselamatan Penyelamat. Iman dihasilkan dari pengenalan terhadap Penyelamat dalam kuasa-Nya yang menyelamatkan dan kebajikan-Nya. Kasih berasal dari iman ini dan mendatangkan damai sejahtera; kemudian kita mengikuti Penyelamat.

Tuhan bukan mengampuni perempuan itu karena mengasihi-Nya, juga bukan karena kasih perempuan itu terhadap Penyelamat sehingga dosa-dosanya diampuni. Dalam Lukas 7:50 Tuhan berkata kepada perempuan itu bahwa imannya, bukan kasihnya, yang menyelamatkan dia. Selanjutnya, mengenai dua orang yang berhutang yang diampuni oleh orang yang membungakan uang itu, Tuhan bertanya, “Siapakah di antara mereka yang akan lebih mengasihi dia?” (ayat 42). Ini menunjukkan dengan jelas bahwa kasih adalah hasil dari pengampunan. Kata “karena” membuktikan bahwa kasih datang setelah pengampunan bukan sebelumnya. Dosa-dosa perempuan itu diampuni bukan karena kasihnya, melainkan karena imannya. Karena itu, iman datang sebelum pengampunan, dan kasih mengikuti iman. Kasih adalah hasil, akibat, dari iman kita. Ketika kita percaya kepada Tuhan, iman kita menjadi penyebab dari pengampunan Tuhan atas dosa-dosa kita. Kemudian sebagai hasil pengampunan atas dosa-dosa kita, kita mulai mengasihi Tuhan. Maka, kasih berasal dari iman.

Kasih menghasilkan damai sejahtera. Pertama kita percaya kepada Tuhan Yesus, memiliki iman terhadap-Nya. Kemudian semua dosa kita diampuni, dan hal ini mendatangkan kasih terhadap Tuhan. Sewaktu kita mengasihi Dia, kasih ini menghasilkan damai sejahtera. Kemudian, kita dapat berjalan dalam damai sejahtera, yaitu hidup dalam damai sejahtera. Sebagai orang-orang yang mengasihi Tuhan, kita seharusnya hidup, berjalan, dan berperilaku dalam damai sejahtera.


Sumber: Pelajaran-Hayat Lukas, Buku 1, Berita 17



April 15, 2019, 05:57:31 AM
Reply #1794
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24469
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://arushayat.blogspot.com/2019

15 April 2019
Lukas - Minggu 10 Senin

Pembacaan Alkitab: Luk. 8:1-10
Doa baca: “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kol. 3:23)


Melayani Tuhan Segenap Hati


Dalam Lukas 8:1-3, kita nampak ada dua belas orang yang dipanggil mengikuti Penyelamat dan ada perempuan-perempuan yang telah disembuhkan yang melayani Penyelamat dan para pengikut-Nya dengan harta milik mereka sendiri. Suatu gambar yang indah!

Dalam ayat 2-3 Lukas melanjutkan, “Dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat dan berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana istri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan harta milik mereka.” Perempuan-perempuan itu melayani Tuhan dan kedua belas murid itu dengan harta milik mereka. Mungkin di bawah kedaulatan Tuhan, suami-suami dari perempuan-perempuan ini kaya. Kita dapat mengatakan bahwa kekayaan itu adalah hasil dari Tuhan menerapkan atribut-atribut ilahi-Nya. Kemudian perempuan-perempuan itu melakukan kebajikan-kebajikan insani mereka dengan memakai harta milik mereka untuk melayani Tuhan dan murid-murid-Nya.

Menurut Lukas 8:1-3, kita nampak bahwa ada dua kelompok orang mengitari Tuhan Yesus. Kelompok yang pertama terdiri atas para pengikut Tuhan; kelompok yang kedua terdiri atas perempuan-perempuan. Murid-murid itu hanya mengikuti Tuhan tanpa melakukan apa-apa. Namun perempuan-perempuan ini dengan riil dan sukarela melayani Tuhan dan murid-murid-Nya dengan harta milik mereka sendiri. Dalam kehidupan gereja, saudari-saudari adakalanya lebih riil, lebih sering melayani, dan menyuplai dengan riil. Sungguh berkat jika hari ini kita dapat melayani Tuhan dan mencurahkan apa yang kita miliki kepada Tuhan. Dalam melayani Dia, kita perlu melakukannya dengan segenap hati kita. Kita bisa belajar mencurahkan waktu kita untuk membaca firman-Nya, mencurahkan tenaga kita untuk menjenguk saudara-saudari dalam gereja, kemudian mencurahkan harta kita karena “dimana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”


Sumber: Pelajaran-Hayat Lukas, Buku 1, Berita 18


April 16, 2019, 07:40:25 AM
Reply #1795
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24469
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://arushayat.blogspot.com/2019

16 April 2019
Lukas - Minggu 10 Selasa

Pembacaan Alkitab: Luk. 8:11-15
Doa baca: “Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang-orang yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.” (Luk. 8:15)


Mengajar dengan Perumpamaan-perumpamaan


Catatan perumpamaan tentang penabur dalam Lukas 8:4-15 adalah untuk memperlihatkan kepada kita bahwa sebagai orang-orang yang hidup dalam damai sejahtera, mengikuti Tuhan, dan melayani Dia, kita harus bertumbuh dalam hayat. Lukas 8:5a mengatakan, “Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya.” Penabur adalah Tuhan sendiri, dan benih adalah firman itu dengan Tuhan di dalamnya sebagai hayat. Kemudian, Tuhan juga menyebutkan keempat macam tanah yang menandakan empat macam keadaan hati manusia.

Hati yang pertama seperti tanah yang “di pinggir jalan” (Luk. 8:5) adalah hati yang terlalu banyak dilintasi hal-hal duniawi, sehingga Kristus tidak bisa bertumbuh karena telah menjadi hati yang keras oleh lalu lintas duniawi. Hati yang kedua ialah seperti tanah yang “berbatu-batu” (8:6,13), yang hanya memiliki tanah pada permukaan saja, tetapi dasarnya penuh dengan batu-batu. Orang yang demikian mungkin telah menerima Kristus dan beroleh selamat, namun Kristus sulit bertumbuh karena adanya “batu-batu” yaitu dosa-dosa yang tersembunyi, keinginan pribadi, tuntutan pribadi dan iba diri yang menghalangi benih itu untuk berakar dalam lubuk hati. Yang ketiga, benih itu jatuh “di tengah semak duri, dan semak duri itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati”. Semak duri melambangkan kekhawatiran akan kekayaan, dan kenikmatan hidup. Hal-hal itu menghimpit Firman Tuhan dan menghambat pertumbuhannya dalam hati kita sehingga tidak dapat menghasilkan buah. Hati yang keempat dilambangkan oleh tanah yang baik. Tanah yang baik ini melambangkan hati yang baik, hati yang tidak menjadi keras karena lalu lintas duniawi, hati yang tidak memiliki dosa-dosa yang tersembunyi dan tanpa kekhawatiran zaman ini, tanpa tipu daya kekayaan dan kenikmatan hidup.

Hari ini, agar Kristus dapat bertumbuh di dalam kita, kita perlu memiliki hati yang baik. Kita perlu dibebaskan dari dosa-dosa yang tersembunyi, lalu lintas duniawi, dan dari kekhawatiran, tipu daya kekayaan serta kenikmatan hidup.


Sumber: Pelajaran-Hayat Lukas, Buku 1, Berita 18


April 17, 2019, 09:46:37 AM
Reply #1796
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24469
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://arushayat.blogspot.com/2019

17 April 2019
Lukas - Minggu 10 Rabu

Pembacaan Alkitab: Luk. 8:16-21
Doa baca: “Tetapi Ia menjawab mereka, 'Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.'” (Luk. 8:21)


Sanak Keluarga Manusia-Penyelamat yang Sejati


Lukas 8:19 mengatakan “Ibu dan saudara-saudara Yesus datang kepada-Nya, tetapi mereka tidak dapat mendekati Dia karena orang banyak.”  Ketika diberitahukan kepada Tuhan Yesus bahwa ibu dan saudara-saudara-Nya berdiri di luar dan ingin bertemu dengan Dia, Dia menjawab “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.” (ayat 20-21). Jawaban Tuhan menunjukkan bahwa kita dapat menjadi sanak keluarga Manusia-Penyelamat yang sejati. Kita dapat menjadi orang-orang yang benar-benar berhubungan dengan Dia. Melalui ministri-Nya, Manusia Penyelamat membuat orang-orang dosa yang percaya menjadi sanak keluarga rohani-Nya, menjadi banyak saudara-Nya (Rm. 8:29; Ibr. 2:11) di dalam rumah Allah (Ibr. 3:5-6), dan banyak anggota-Nya bagi pembangunan Tubuh mistikal-Nya (Ef. 5:30; 1 Kor. 12:12) untuk melakukan kehendak Allah.

Hal yang paling penting dalam perumpamaan tentang penabur adalah firman itu (Luk. 8:11). Kita perlu memperhatikan Firman Tuhan dengan tepat. Jika kita memperhatikan firman itu, kita akan menjadi sanak keluarga Manusia-Penyelamat yang sejati dan Dia akan mengakui kita demikian. Karena kita berhubungan dengan firman-Nya dan membuat diri kita menjadi satu dengan Dia, maka Dia akan menyatukan diri-Nya dengan kita. Itulah sebabnya Dia berkata dalam Lukas 8:21 bahwa sanak keluarga-Nya adalah orang-orang yang mendengar firman Allah dan melakukannya. Tuhan menempuh satu kehidupan menurut firman Allah, dan sekarang kita sedang menempuh kehidupan menurut firman-Nya.

Sebagai orang-orang yang melayani Dia, kita perlu bertumbuh dalam hayat supaya Tuhan dapat bertumbuh di dalam kita dengan mendengarkan firman Allah dan melakukannya di dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita harus berdoa mohon Tuhan memberikan hati yang sederhana dan taat kepada firman-Nya. Dengan demikian, kita menjadi sanak keluarga Manusia-Penyelamat yang sejati.


Sumber: Pelajaran-Hayat Lukas, Buku 1, Berita 18



April 18, 2019, 05:46:03 AM
Reply #1797
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24469
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://arushayat.blogspot.com/2019

18 April 2019
Lukas - Minggu 10 Kamis

Pembacaan Alkitab: Luk. 8:22-31
Doa baca: “Pada suatu hari Yesus naik ke dalam perahu bersama-sama dengan murid-murid-Nya, dan Ia berkata kepada mereka, 'Marilah kita bertolak ke seberang danau.' Lalu bertolaklah mereka.” (Luk. 8:22)


Iman Berdasar Pada Firman Tuhan


Lukas 8:22 menunjukkan bahwa perjalanan yang kita bicarakan ini ditentukan oleh Tuhan: “Pada suatu hari Yesus naik ke dalam perahu bersama-sama dengan murid-murid-Nya, dan Ia berkata kepada mereka, ‘Marilah kita bertolak ke seberang danau.’ Lalu bertolaklah mereka.” Di sini kita nampak bahwa Tuhan menyuruh murid-murid untuk bertolak ke seberang danau. Ini menunjukkan bahwa perjalanan ini bukan diprakarsai oleh murid-murid, melainkan ditetapkan oleh Tuhan. Hal ini memberi tahu kita lebih jauh bahwa setelah menjadi sanak keluarga Tuhan, anggota-anggota Tubuh-Nya, kita tidak memiliki hak untuk memilih jalan kita sendiri. Kita harus menempuh jalan yang Ia tentukan. Karena itu, murid-murid berangkat menurut Firman Tuhan, mereka mengambil firman-Nya lalu bertolak ke seberang.

Menurut Perjanjian Baru, iman selalu berdasar pada Firman Tuhan. Jika kita tidak memiliki firman dari Tuhan, kita tidak akan memiliki dasar untuk iman kita. Firman Tuhan menghasilkan iman. Karena itu, iman berdasar pada Firman Tuhan. Firman apa yang Tuhan berikan kepada murid-murid dalam peristiwa ini? Ini adalah firman yang tercatat dalam ayat 22: “Marilah kita bertolak ke seberang danau.” Karena Tuhan telah mengucapkan firman ini, Dia pasti akan menggenapinya. Dalam Lukas 8:22-25 murid-murid bukan hanya memiliki Firman Tuhan, tetapi juga memiliki Tuhan itu sendiri. Dia beserta dengan murid-murid di dalam perahu itu. Karena mereka memiliki Firman Tuhan dan kehadiran-Nya, mereka seharusnya tenang, tidak khawatir dengan topan.

Kesulitan kita sebagai pengikut-pengikut Tuhan pada hari ini ialah ketika topan itu datang, kita sering melupakan Firman Tuhan. Kita harus lebih banyak memandang kepada Firman Tuhan dan percaya bahwa asalkan ada Tuhan, maka semua hal pasti beres, karena Tuhan pasti menggenapkan firman-Nya. Firman Tuhan sungguh dapat kita andalkan.


Sumber: Pelajaran-Hayat Lukas, Buku 1, Berita 19


April 19, 2019, 06:51:51 AM
Reply #1798
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24469
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://arushayat.blogspot.com/2019

19 April 2019
Lukas - Minggu 10 Jumat

Pembacaan Alkitab: Luk. 8:32-44
Doa baca: “Lalu kata-Nya kepada mereka, 'Di manakah kepercayaanmu?' Mereka pun menjadi takut dan heran, lalu berkata seorang kepada yang lain, 'Siapa sebenarnya orang ini, sehingga Ia memberi perintah kepada angin dan air dan mereka taat kepada-Nya?'” (Luk. 8:25)


Perjalanan Orang Kristen


Dalam perjalanan kita bersama Tuhan, kita sering menghadapi badai atau angin topan. Kemudian kita mungkin menyimpang dan melupakan Firman Tuhan serta fakta bahwa Dia menyertai kita dan sedang beristirahat. Catatan dalam Lukas 8:22-25 bukan memperlihatkan satu perubahan zaman; juga bukan menyajikan kekuasaan Kerajaan Allah, melainkan menggambarkan perjalanan orang Kristen.

Sewaktu kita menempuh jalan yang ditentukan oleh Tuhan, Tuhan akan beristirahat dan musuh akan sibuk. Roh-roh jahat dan roh-roh najis akan menjadi aktif membuat topan untuk menghalangi perjalanan kita. Kita perlu ingat, bahwa sebenarnya ini adalah perjalanan Tuhan, bukanlah perjalanan kita, dan kita sedang berjalan bersama-Nya. Kita sedang menempuh jalan-Nya, dan Dia ada dalam perjalanan bersama kita. Sebenarnya, Dia bahkan ada di dalam perahu bersama kita. Dalam 8:22-39, Tuhan dan murid-murid-Nya mencapai tempat tujuan mereka, yaitu “tanah orang Gerasa yang terletak di seberang Galilea” (8:26). Segera mereka bertemu dengan seorang yang kerasukan setan-setan, seorang yang dirasuk oleh roh-roh jahat. Tuhan mengusir semua setan, dan memberikan izin kepada mereka untuk masuk ke dalam babi-babi yang sedang makan. Gambaran ini berhubungan dengan pengalaman rohani kita. Bila kita menempuh jalan Tuhan, berjalan bersama-Nya, maka akan ada topan. Meskipun demikian, akhirnya kita akan mencapai tempat tujuan di “seberang danau itu”. Kemudian kita akan melihat bahwa di tempat yang demikian Tuhan mengusir setan-setan dan membersihkan usaha yang tidak tahir.

Kita perlu tahu bahwa Allah tidak pernah menjanjikan kepada kita langit selalu biru, dan jalan yang selalu mudah kita lalui di depan kita. Meskipun kita mungkin ada di tengah-tengah angin topan dan air yang mengamuk, kita tidak boleh terganggu. Kita seharusnya memiliki damai sejahtera di dalam Tuhan yang beristirahat karena kita pasti akan sampai di seberang, dan jangan berharap diterima oleh dunia, karena kita berlawanan dengan mereka.


Sumber: Pelajaran-Hayat Lukas, Buku 1, Berita 19


April 20, 2019, 05:38:24 AM
Reply #1799
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24469
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://arushayat.blogspot.com/2019

20 April 2019
Lukas - Minggu 10 Sabtu

Pembacaan Alkitab: Luk. 8:45-56
Doa baca: “TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya” (Mzm. 37:23)


Pengalaman Rohani dengan Tuhan


Dalam perjalanan Tuhan Yesus bersama dengan murid-murid-Nya, mereka bertemu dengan setan-setan, yang berada di dalam usaha yang tidak tahir, seorang yang sakit pendarahan dan seorang lagi yang telah mati. Kondisi ini menunjukkan bahwa dalam perjalanan kita yang mengikuti Tuhan akan berkontak dengan empat hal ini yaitu: setan-setan, usaha yang tidak tahir, kebocoran hayat, dan kematian.

Dalam Lukas 7:36-50, kita diwakili oleh perempuan berdosa yang telah diampuni dosa-dosanya dan kemudian mulai mengasihi Tuhan dan menempuh satu kehidupan damai sejahtera. Kemudian menurut pasal 8, kita mengikuti Dia, melayani keperluan-Nya, bertumbuh dalam hayat, bercahaya seperti pelita, dan menjadi sanak keluarga Tuhan yang sejati. Namun hal ini tidak boleh berhenti disini, kita harus menempuh jalan yang telah ditentukan oleh Tuhan bagi kita dengan berdasar dan bersandar pada Firman Tuhan dan percaya pada setiap pengaturan-Nya. Jangan mengira jika kita mengambil jalan yang ditentukan oleh Tuhan, segala sesuatunya akan menjadi mudah. Sebaliknya, kita harus siap sedia menghadapi topan. Karena kita berjalan menurut Firman Tuhan dan bersama dengan Tuhan di dalam perahu kita, maka kita tidak boleh takut terhadap topan itu. Tuhan sedang beristirahat di dalam perahu itu, dan kita harus belajar beristirahat bersama-Nya. Namun, ini tidaklah mudah. Ketika topan datang, kita mungkin berseru kepada Tuhan dan memberi tahu Dia bahwa kita binasa. Dari pengalaman kita tahu bahwa kita lebih mudah berseru kepada Tuhan ketika topan datang daripada saat kita selamat dan mengalami damai sejahtera.

Kita perlu nampak jalan yang harus kita tempuh sebagai para pengikut Tuhan Yesus. Karena kita menempuh jalan ini dengan berdasarkan Firman Tuhan, kita akan mencapai tujuan, tidak peduli betapa banyak badai yang akan muncul. Kita juga akan berjumpa dengan banyak setan, usaha yang tidak tahir, kebocoran hayat, dan kematian. Namun, kita perlu belajar setia bersandar firman, menjadi berkat bagi situasi-situasi negatif di sekeliling kita. Setan-setan diusir, usaha yang tidak tahir dibersihkan, kebocoran hayat disembuhkan, dan yang mati dibangkitkan.


Sumber: Pelajaran-Hayat Lukas, Buku 1, Berita 19



 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)