Author Topic: Arus Hayat  (Read 91427 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

October 06, 2019, 11:07:19 AM
Reply #1960
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 25242
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://arushayat.blogspot.com/2019

05 October 2019
Lukas - Minggu 34 Sabtu

Pembacaan Alkitab: Im. 25:9-13; Gal. 5:1
Doa baca: “Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu, berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.” (Gal. 5:1)


Mengapresiasi Yobel


Yobel ini dapat diterapkan pada pengalaman kita terhadap keselamatan. Sebagaimana tahun Yobel datang setelah genap tujuh tahun rangkaian waktu, demikian juga banyak orang yang mengalami keselamatan setelah melewati beberapa rangkaian waktu dalam kehidupan manusianya.

Ada juga beberapa orang yang mengalami keselamatan lebih dini. Di satu pihak, mengalami keselamatan lebih dini memang baik, karena memiliki kesempatan untuk belajar lebih banyak tentang Alkitab dan lebih banyak menikmati dan mengalami Tuhan. Namun orang-orang yang diselamatkan lebih lambat dalam hidupnya memiliki kesempatan untuk mendapatkan kenikmatan yang lebih besar terhadap yobel, karena ketika ia diselamatkan, ia telah melewati sejumlah rangkaian waktu yang panjang.

Orang yang baru diselamatkan pada usia lima puluh tahun, ia telah melewati sejumlah rangkaian waktu: masa remaja, mahasiswa, pernikahan, dan masa kemajuan dalam profesinya. Dalam tahuntahun tersebut, mungkin ia telah berusaha untuk menebus dirinya, tetapi tidak berhasil. Kemudian suatu hari ia mendengar sangkakala yobel melalui pemberitaan Injil, dan kemudian ia diselamatkan. Ia mulai membenci, meremehkan semua pengalaman dalam hidupnya.

Sekarang ia menikmati kebebasan dari yobel ini. Berbeda dengan orang yang diselamatkan lebih dini, karena ia belum melewati banyak rangkaian pengalaman, baginya ada yobel atau tidak, tidak banyak bedanya. Memang kita tidak boleh menunda pemberitaan Injil kepada orang lain. Namun yang ingin ditekankan di sini adalah bila seseorang diselamatkan lebih lambat, maka ia memiliki kenikmatan yang lebih besar terhadap yobel daripada orang yang diselamatkan sejak kecil. Biarlah gambaran mengenai yobel ini membuat kita dapat lebih mengapresiasi Yobel Allah.


Sumber: Pelajaran-Hayat Lukas, Buku 3, Berita 67


October 07, 2019, 06:24:00 AM
Reply #1961
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 25242
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://arushayat.blogspot.com/2019

07 October 2019
Lukas - Minggu 35 Senin

Pembacaan Alkitab: Im. 25:10-12; Mat. 11:28
Doa baca: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Mat. 11:28)


Kehidupan yang Menderita


Alkitab mewahyukan dengan jelas bahwa manusia telah jatuh. Ketetapan kehendak Allah adalah manusia diciptakan untuk menampung Allah dan mengekspresikan Dia. Namun sebaliknya, manusia terbujuk oleh musuh Allah dan dijauhkan dari ketetapan kehendak Allah sehingga mereka berdosa terhadap Allah dan menjadi jatuh. Ini menyebabkan manusia kehilangan Allah dan jatuh ke dalam belenggu, perbudakan, penawanan—seluruh manusia tanpa terkecuali.

Hidup manusia hari ini penuh dengan segala jenis penderitaan. Mereka yang menikah maupun yang tidak menikah semuanya memiliki masalahnya masing-masing, bisa lebih banyak ataupun sama. Orang yang telah memiliki pasangan ingin meraih suatu pernikahan yang bahagia. Namun, orang-orang muda tidak tahu berapa banyak masalah yang akan terjadi dalam hidup pernikahan. Orang-orang yang ingin kaya pun mungkin tidak sadar bahwa kekayaan itu dapat menyebabkan kesulitan. Baik kekayaan maupun kemiskinan adalah penyebab penderitaan.

Presiden atau kepala negara harus memikul beban yang sangat berat, beban yang jauh lebih berat daripada yang dipikul oleh orang biasa. Orang yang tidak memiliki kesehatan yang baik tidak seharusnya menuntut jabatan politik yang tinggi karena tekanan hidup yang akan menimpanya benar-benar berat. Dari banyak pengalaman kita dapat melihat bahwa kehidupan manusia merupakan kehidupan yang menderita.

Kehidupan demikian tidak memiliki perhentian dan tidak memiliki kenikmatan. Sebagai orang yang percaya, apakah kehidupan yang kita tempuh hari ini sudah memiliki perhentian dan kenikmatan? Matius 11:28 menunjukkan bahwa Allah ingin semua yang letih lesu dan berbeban berat datang kepada-Nya. Puji Tuhan, melalui kita datang berdoa pada Tuhan, Dia dapat menjadi kelegaan kita.


Sumber: Pelajaran-Hayat Lukas, Buku 3, Berita 68


October 08, 2019, 06:25:13 AM
Reply #1962
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 25242
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://arushayat.blogspot.com/2019

08 October 2019
Lukas - Minggu 35 Selasa

Pembacaan Alkitab: Im. 25:10-12; Mat. 11:28
Doa baca: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Mat. 11:28)


Keperluan Manusia yang Jatuh


Allah menciptakan manusia dengan selera, kedambaan terhadap perhentian dan kenikmatan. Jika seseorang tidak memiliki kepuasan, ia tidak dapat memiliki perhentian. Kepuasan tersebut berasal dari kenikmatan. Setiap orang lapar dan haus terhadap perhentian dan kenikmatan. Tanpa kedua hal tersebut, hidup yang manusia tempuh penuh penderitaan.

Seorang saudara ingin menikah karena ia sedang mencari perhentian dan kenikmatan. Ia mengira bahwa ia tidak dapat menemukan perhentian di dalam seorang pun kecuali dari seorang istri. Ia menganggap pernikahan sebagai sesuatu yang akan memberikan perhentian dan kenikmatan, demikian pula seorang saudari.

Manusia mencari perhentian, kepuasan, dan kenikmatan dari banyak hal. Namun, berapa banyak perhentian, kepuasan, dan kenikmatan sejati yang kita alami dalam kehidupan kita? Misalnya, seorang yang punya sejumlah besar simpanan di bank, mungkin khawatir terhadap inflasi. Sekalipun ia punya sejumlah besar uang di bank, uangnya itu malah membuatnya khawatir.

Nasib orang yang tidak beroleh selamat, entah ia menikah atau tidak, kaya atau miskin, adalah neraka. Itulah sebabnya manusia perlu keselamatan Allah. Tanpa keselamatan Allah, tidak peduli baik buruk keadaan seseorang, ia akan masuk neraka. Karena berada di atas jalan ini mereka tidak dapat memiliki perhentian. Betapa perlunya mereka mendengar pemberitaan Injil, suara yobel!

Inilah manusia yang jatuh, kehilangan Allah dan terbelenggu. Kaya, miskin, terpelajar, tidak terpelajar, menikah atau tidak, semua berada di bawah belenggu. Akibatnya, manusia tidak memiliki perhentian. Hanya jika kita memiliki Allah, kita tidak lagi berada di bawah belenggu, karena Dialah kebebasan, kelepasan, bahkan kemerdekaan kita!


Sumber: Pelajaran-Hayat Lukas, Buku 3, Berita 68




October 09, 2019, 06:05:18 AM
Reply #1963
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 25242
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://arushayat.blogspot.com/2019

09 October 2019
Lukas - Minggu 35 Rabu

Pembacaan Alkitab: Im. 25:10-12; Mzm. 16:5
Doa baca: “Ya TUHAN, Engkaulah bagian warisanku dan piala-ku, Engkau sendirilah yang meneguhkan bagian yang diundikan kepadaku.” (Mzm. 16:5)


Yobel bagi Umat Allah


Dalam Perjanjian Lama, Allah menyelamatkan manusia dari akibat kejatuhannya. Ketika bangsa Israel berada di Mesir, mereka berada dalam belenggu—tidak ada perhentian, kepuasan, dan kenikmatan. Namun, Allah datang menyelamatkan mereka dari keadaan mereka yang jatuh melalui Paskah. Hari raya Paskah adalah waktu yang penuh perhentian bagi bangsa Israel, waktu umat Allah beristirahat dari pekerjaan mereka dan menikmati Alah sebagai kepuasan mereka.

Setelah keluar dari Mesir dan melalui Laut Merah, selanjutnya umat Allah masuk ke padang gurun. Selama tahun-tahun di padang gurun, mereka tidak perlu giat bekerja—boleh dikata mereka menempuh satu liburan yang sangat panjang. Mereka tidak membajak, menabur, atau menuai; mereka hanya mengumpulkan manna pemberian Allah.

Setelah empat puluh tahun di padang gurun, bangsa Israel dibawa masuk ke tanah permai. Allah memberikan satu bagian dari tanah itu kepada setiap keluarga untuk mereka nikmati. Tanah permai adalah lambang Allah sebagai bagian kita (Mzm. 16:5). Tanah ini penuh dengan susu dan madu untuk kita nikmati. Namun, banyak dari orang Israel tidak hidup di tanah itu dengan cara beristirahat dan menikmati sehingga mereka menjadi miskin—kehilangan kenikmatan dan terbelenggu lagi.

Karena itu diperlukan yobel sebagai pengulangan Paskah. Pada tahun yobel diumumkan kemerdekaan (Im. 25:10) yang berarti kelepasan dari belenggu. Seseorang dapat kembali kepada tanah miliknya sendiri dan kepada keluarganya. Ini menandakan kembali kepada perhentian, kepuasan, dan kenikmatan, kembali kepada keadaan dan tingkatan yang ke dalamnya umat itu dibawa melalui Paskah. Bagaimana keadaan umat Allah hari ini? Apakah kita masih dalam keadaan terbelenggu banyak situasi kita? Betapa kita memerlukan Kristus sebagai perhentian, kepuasan, dan kenikmatan kita.


Sumber: Pelajaran-Hayat Lukas, Buku 3, Berita 68



October 10, 2019, 05:47:19 AM
Reply #1964
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 25242
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://arushayat.blogspot.com/2019

10 October 2019
Lukas - Minggu 35 Kamis

Pembacaan Alkitab: Im. 25:10-12, 19-22; Luk. 15:23
Doa baca: “Ambillah anak lembu yang gemuk itu, sembelihlah dan marilah kita makan dan bersukacita.” (Luk. 15:23)


Memilih untuk Menikmati Anugerah


Lukas 15:23 menunjukkan bahwa kehidupan kristiani seharusnya merupakan kehidupan kenikmatan. Bagian firman dalam pasal 15 menunjukkan sebuah hasil dari kembalinya anak yang hilang ke rumah bapanya: ia dan semua orang yang ada di rumah itu dapat makan, minum, dan bersukacita. Satu Korintus 5:8 menunjukkan bahwa kehidupan kristiani merupakan suatu kehidupan yang berpesta. Pesta dalam bagian ini mengacu kepada hari raya Roti Tidak Beragi sebagai kelanjutan Paskah (Kel. 12:15-20). Hari raya tersebut berlangsung selama tujuh hari, satu periode kehidupan kristiani, sejak kita bertobat hingga hari keterangkatan.

Roti tidak beragi tersebut adalah Kristus sebagai perawatan dan kenikmatan kita. Dialah suplai hayat ketulusan dan kebenaran, benar-benar murni, tanpa campuran, dan penuh dengan realitas. Kita perlu berpesta dengan Kristus sebagai roti yang tidak beragi. Hari raya adalah waktu untuk makan, kenikmatan, kepuasan, dan perhentian. Paulus dalam Efesus 3:8 memberitakan kekayaan Kristus yang tidak terduga. Artinya, hakiki Dia bagi kita, seperti terang, hayat, benar, dan kudus, bagi pengalaman dan kenikmatan kita.

Dua Korintus 12:9 menunjukkan bahwa Paulus mengalami dan menikmati anugerah Kristus. Dalam 2 Korintus 13:13, anugerah Kristus, kasih Allah, persekutuan ROH KUDUS adalah bagi kenikmatan kita. Anugerah adalah Tuhan sebagai hayat untuk kita nikmati; kasih Allah adalah Dia sebagai kasih karunia Tuhan; persekutuan ROH KUDUS adalah Roh itu sebagai aliran kasih karunia Tuhan beserta kasih Allah bagi partisipasi kita. Tanpa menikmati tiga hal tersebut, kita akan menjadi orang Kristen yang berjerih lelah, khawatir, bermimpi, bahkan menderita. Datang untuk menikmati anugerah Kristus hari ini adalah pilihan kita, apakah kita mau melatih tekad untuk setiap pagi datang pada-Nya?


Sumber: Pelajaran-Hayat Lukas, Buku 3, Berita 69



October 11, 2019, 05:56:39 AM
Reply #1965
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 25242
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://arushayat.blogspot.com/2019

11 October 2019
Lukas - Minggu 35 Jumat

Pembacaan Alkitab: Im. 25:10-12, 19-22; Ef. 2:8-9
Doa baca: “Sebab karena anugerah kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu, supaya tidak ada orang yang memegahkan diri.” (Ef. 2:8-9)


Menikmati Yobel Tidak Tergantung Lingkungan


Alkitab mewahyukan tiga macam jerih lelah dalam hidup manusia. Yang pertama adalah jerih lelah untuk menjadi orang baik, punya tingkah laku yang baik, dan untuk meningkatkan karakter seseorang. Namun Efesus 2:8-9 menunjukkan bahwa tidak seorang pun dapat diselamatkan oleh usaha mereka untuk menjadi lebih baik, sabar, ramah, dan jujur. Jerih lelah macam kedua adalah merasa resah dan khawatir. Hari demi hari, setiap orang diliputi kekhawatiran, banyak hal dapat menjadi kekhawatiran kita. Jerih lelah macam ketiga adalah penderitaan. Paulus, misalnya, menderita karena ada “duri dalam daging” (2 Kor. 12:7). Mengenai duri ini, ia telah meminta tiga kali kepada Tuhan supaya duri itu dilepaskan darinya, namun bukannya mengambil duri itu, Tuhan malah berkata, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu.”

Dalam Kisah Para Rasul 16, Paulus dan Silas dijebloskan ke dalam penjara di Filipi. Bukannya menderita di dalam penjara, mereka menikmati yobel, menyanyi dan memuji Tuhan. Mereka memiliki kenikmatan, kepuasan, dan perhentian. Hal ini menunjukkan bahwa bila kita menikmati Tuhan bukan berarti lingkungan kita menjadi baik, namun kita memiliki kenikmatan, kepuasan, dan perhentian.

Jika dalam lingkungan tertentu kita masih merasa menderita, artinya kita masih mengasihi hal-hal tertentu selain Allah. Kita belum mengasihi Allah dengan tulus dan menyeluruh. Kita masih mengasihi hal-hal yang lain, termasuk berjerih lelah dalam hal bergumul untuk menjadi baik, bergumul terhadap kekhawatiran, mimpi, dan juga penderitaan. Kita perlu belajar berdoa, berkata, “Aku hanya mengasihi-Mu saja, Kaulah bagianku, tidak ada sesuatu pun atau seorang pun selain diri-Mu yang menjadi bagianku.” Melalui berdoa demikian, kita dapat menikmati yobel—kenikmatan, kepuasan, dan perhentian.


Sumber: Pelajaran-Hayat Lukas, Buku 3, Berita 69




October 12, 2019, 06:09:57 AM
Reply #1966
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 25242
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://arushayat.blogspot.com/2019

12 October 2019
Lukas - Minggu 35 Sabtu

Pembacaan Alkitab: Im. 25:10-12, 19-22, Flp. 1:19
Doa baca: “Karena aku tahu bahwa kesudahan semuanya ini ialah keselamatanku oleh doamu dan pertolongan Roh Yesus Kristus.” (Flp. 1:19)


Suatu Kehidupan yang Memperhidupkan Allah


Jika kita hidup dalam yobel, kita tidak akan memiliki kekhawatiran. Tuhan Yesus pun mengatakan agar kita tidak khawatir tentang hidup kita (Mat. 6:25, 27, 34). Kita tidak perlu meminjam kekhawatiran bukan hanya dari hari esok, bahkan dari tahun-tahun yang akan datang. Kekhawatiran yang kita miliki adalah karena Allah tidak memiliki kedudukan mutlak dalam hati kita. Ketika Allah memiliki kedudukan penuh dalam hati kita, Dia akan menjadi kenikmatan, kepuasan, dan perhentian kita. Namun, karena manusia telah jatuh dan memiliki sifat jatuh, sulit sekali kita memberikan semua kedudukan dalam diri kita kepada Allah. Padahal, selain Allah, tidak ada yang dapat memuaskan kita.

Kehidupan yobel adalah kehidupan yang memperhidupkan Allah. Kehidupan tersebut adalah kehidupan yang menang, kudus, dan kehidupan yang menurut Roh itu. Tetapi meskipun kita telah mendengar banyak berita tentang hidup di dalam Roh, kita masih tidak hidup di dalam yobel. Sebaliknya, kita berjerih lelah dalam pergumulan untuk memperbaiki diri kita sendiri, berjerih lelah dalam mengatasi kekhawatiran, mimpi, dan penderitaan. Menjadi baik, keresahan, kekhawatiran, mimpi, dan harapan semua adalah jerih lelah. Akhirnya masih ada jerih lelah penderitaan. Ketika kita menderita, kita tidak dapat memiliki kenikmatan, kepuasan, dan perhentian.

Bagaimana kita dapat dilepaskan dari semua jerih lelah tersebut? Satu-satunya jalan untuk bebas adalah menerima Allah Tritunggal menjadi bagian kita. Jika kita berseru kepada nama Tuhan Yesus, maka Roh yang almuhit akan memberikan suplai yang limpah lengkap kepada kita. Sehingga sepanjang hari ini, kita tidak berfokus pada perbaikan diri, keresahan, kekhawatiran, mimpi, bahkan penderitaan. Dalam situasi yang mudah maupun sulit, tidak lupa untuk menikmati Tuhan, memiliki Dia yang telah melalui proses menjadi bagian, kenikmatan kita.


Sumber: Pelajaran-Hayat Lukas, Buku 3, Berita 69



October 13, 2019, 04:55:53 AM
Reply #1967
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 25242
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://arushayat.blogspot.com/2019

12 October 2019
Lukas - Minggu 35 Sabtu

Pembacaan Alkitab: Im. 25:10-12, 19-22, Flp. 1:19
Doa baca: “Karena aku tahu bahwa kesudahan semuanya ini ialah keselamatanku oleh doamu dan pertolongan Roh Yesus Kristus.” (Flp. 1:19)


Suatu Kehidupan yang Memperhidupkan Allah


Jika kita hidup dalam yobel, kita tidak akan memiliki kekhawatiran. Tuhan Yesus pun mengatakan agar kita tidak khawatir tentang hidup kita (Mat. 6:25, 27, 34). Kita tidak perlu meminjam kekhawatiran bukan hanya dari hari esok, bahkan dari tahun-tahun yang akan datang. Kekhawatiran yang kita miliki adalah karena Allah tidak memiliki kedudukan mutlak dalam hati kita. Ketika Allah memiliki kedudukan penuh dalam hati kita, Dia akan menjadi kenikmatan, kepuasan, dan perhentian kita. Namun, karena manusia telah jatuh dan memiliki sifat jatuh, sulit sekali kita memberikan semua kedudukan dalam diri kita kepada Allah. Padahal, selain Allah, tidak ada yang dapat memuaskan kita.

Kehidupan yobel adalah kehidupan yang memperhidupkan Allah. Kehidupan tersebut adalah kehidupan yang menang, kudus, dan kehidupan yang menurut Roh itu. Tetapi meskipun kita telah mendengar banyak berita tentang hidup di dalam Roh, kita masih tidak hidup di dalam yobel. Sebaliknya, kita berjerih lelah dalam pergumulan untuk memperbaiki diri kita sendiri, berjerih lelah dalam mengatasi kekhawatiran, mimpi, dan penderitaan. Menjadi baik, keresahan, kekhawatiran, mimpi, dan harapan semua adalah jerih lelah. Akhirnya masih ada jerih lelah penderitaan. Ketika kita menderita, kita tidak dapat memiliki kenikmatan, kepuasan, dan perhentian.

Bagaimana kita dapat dilepaskan dari semua jerih lelah tersebut? Satu-satunya jalan untuk bebas adalah menerima Allah Tritunggal menjadi bagian kita. Jika kita berseru kepada nama Tuhan Yesus, maka Roh yang almuhit akan memberikan suplai yang limpah lengkap kepada kita. Sehingga sepanjang hari ini, kita tidak berfokus pada perbaikan diri, keresahan, kekhawatiran, mimpi, bahkan penderitaan. Dalam situasi yang mudah maupun sulit, tidak lupa untuk menikmati Tuhan, memiliki Dia yang telah melalui proses menjadi bagian, kenikmatan kita.


Sumber: Pelajaran-Hayat Lukas, Buku 3, Berita 69



October 15, 2019, 06:16:18 AM
Reply #1968
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 25242
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://arushayat.blogspot.com/2019

15 October 2019
Lukas - Minggu 36 Selasa

Pembacaan Alkitab: Luk. 24:26; Kis. 2:24
Doa baca: “Tetapi Allah membangkitkan Dia setelah melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu.” (Kis. 2:24)


Makna Objektif dari Kebangkitan


Kebangkitan Manusia-Penyelamat memiliki dua aspek. Aspek objektif dan aspek subjektif. Dalam berita minggu ini, kita akan melihat aspek objektif dari kebangkitan Manusia-Penyelamat.

Kebangkitan yang dilalui oleh Manusia-Penyelamat bukanlah suatu hal yang dangkal. Kita perlu melihat bahwa kebangkitan Manusia-Penyelamat merupakan sebuah penegasan dan pengakuan Allah terhadap Manusia-Penyelamat (persona-Nya) dan terhadap pekerjaan penebusan-Nya yang almuhit (yang Ia kerjakan). Persona seseorang adalah hakiki (apa adanya) orang tersebut dan pekerjaan seseorang mengacu kepada apa yang dilakukan oleh orang tersebut. Di mana pun orang berada, kritik seseorang kepada orang lain selalu adalah mengenai persona orang tersebut, atau orang tersebut.

Selama Manusia-Penyelamat berada di atas bumi, Manusia-Penyelamat mendapat banyak kritik dari pemimpin Yahudi. Kritik ini adalah mengenai persona dan pekerjaan-Nya. Dalam persona-Nya, Manusia-Penyelamat ini direndahkan. Dalam pekerjaan-Nya, Manusia-Penyelamat ini dianggap sebagai penghujatan terhadap Allah. Bahkan penolakan mereka sampai pada menghukum Dia di atas kayu salib.

Namun penolakan manusia ini tidak sama dengan dengan sikap Allah. Meskipun manusia menolak Manusia-Penyelamat, tetapi Allah tidak demikian. Allah menegaskan di hadapan manusia bahwa persona Manusia-Penyelamat ini diterima oleh Allah. Allah menegaskan bahwa pekerjaan Manusia-Penyelamat diterima oleh Allah. Kebangkitan Manusia-Penyelamat merupakan konfirmasi dari Allah sebagai Hakim yang Mahatinggi, menegaskan bahwa Persona Manusia-Penyelamat dan pekerjaan Manusia-Penyelamat berasal dari Allah dan bukan dari manusia. Betapa bermaknanya Allah membangkitkan Manusia-Penyelamat.


Sumber: Pelajaran-Hayat Lukas, Buku 3, Berita 70



October 16, 2019, 06:34:34 AM
Reply #1969
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 25242
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://arushayat.blogspot.com/2019

16 October 2019
Lukas - Minggu 36 Rabu

Pembacaan Alkitab: Luk. 24:26; Rm. 4:25
Doa baca: “Yaitu Yesus, yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan untuk pembenaran kita.” (Rm. 4:25)


Dibenarkan oleh Karena Kebangkitan Kristus


Kebangkitan Kristus bukan hanya sebuah penegasan Allah terhadap persona dan pekerjaan Manusia-Penyelamat saja. Kebangkitan Kristus juga merupakan sebuah pengakuan Allah terhadap Dia dan pekerjaan-Nya. Melalui kebangkitan, kita bisa mengatakan bahwa Allah mengakui Dia, yang disalibkan oleh bangsa Yahudi dengan pemimpinnya, sebenarnya datang dari Allah untuk menggenapkan penebusan Allah. Karena Allah mengakui bahwa Tuhan Yesus menyerahkan nyawa-Nya menurut perintah Allah, maka Allah pun membangkitkan Dia juga menurut perintah Allah. Kebangkitan ini adalah suatu pengakuan Allah terhadap persona dan pekerjaan Manusia-Penyelamat.

Kematian Kristus juga sepenuhnya memuaskan tuntutan keadilan Allah sehingga kita dapat dibenarkan oleh Allah melalui kematian Kristus.  Fakta ini bisa kita lihat dalam Roma 4:25. Fakta kematian Kristus sebenarnya bukanlah bagi kita, manusia, tetapi adalah bagi Allah. Ia mati bukan untuk manusia, tetapi untuk Allah. Melalui kematian-Nya, tuntutan keadilan Allah bisa dipuaskan, sehingga manusia yang berdosa bisa diterima oleh Allah. Maka, kebangkitan-Nya adalah sebuah bukti pembenaran kita oleh Allah.

Sekarang, jika Kristus setelah mati bagi kita dan dosa-dosa kita tetap berada di dalam kubur, apakah Anda bisa dengan yakin mengatakan bahwa kematian-Nya diterima oleh Allah? Dari mana Anda bisa percaya bahwa pekerjaan-Nya telah memuaskan tuntutan keadilan Allah dan memenuhi keinginan-Nya? Kita tidak bisa mempercayainya. Namun, puji Tuhan! Ia bangkit! Kebangkitan Kristus adalah seperti sebuah tanda terima, yang kita dapatkan ketika hutang kita telah lunas dibayar. Allah telah mengampuni dan membenarkan kita karena Tuhan Yesus telah mati bagi kita. Haleluya! Kita yang dahulu seharusnya mati karena dosa-dosa kita, kini telah bebas dari hutang dosa kita. Marilah kita mengabarkan kabar gembira ini!


Sumber: Pelajaran-Hayat Lukas, Buku 3, Berita 70



 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)