Author Topic: Arus Hayat  (Read 88961 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

October 17, 2019, 06:05:42 AM
Reply #1970
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24748
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://arushayat.blogspot.com/2019

17 October 2019
Lukas - Minggu 36 Kamis

Pembacaan Alkitab: Luk. 24:26; 12:16-21
Doa baca: “Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dirimu, dan apa yang telah kau sediakan, untuk siapakah itu nanti?” (Luk. 12:20)


Kebangkitan—Tak Dibatasi oleh Kematian


Akhir kesuksesan seseorang dalam hidupnya   adalah kematian; karena tidak ada seorang pun yang bisa membawa sesuatu atau melanjutkan suatu pekerjaan ketika ia sudah mati. Setelah kematiannya, semua orang pasti tidak dapat melakukan apa-apa. Pekerjaan yang ia lakukan berhenti, dan apa yang ia miliki pun tidak dapat ia bawa dan nikmati.

Namun, kematian bagi Manusia-Penyelamat bukanlah sebuah masalah. Kematian bukan menjadi akhir dari kesuksesan-Nya karena Manusia-Penyelamat tidak hanya telah mati, namun Ia juga telah bangkit! Kebangkitan ini adalah bukti keberhasilan Manusia-Penyelamat di dalam semua pencapaian-Nya. Kebangkitan Tuhan ini adalah suatu fakta yang besar! Kita melihat di satu pihak Alkitab mengatakan bahwa “…Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati…” (Kis. 3:15), namun di pihak lain Alkitab pun menyatakan bahwa “…Ia bangkit dari antara orang-orang mati” (Kis. 10:41) Fakta ini menegaskan hal yang besar! Ia adalah manusia, dan Ia juga adalah Allah! Sebagai insan Allah membangkitkan Dia (Rm. 8:11), sebagai Allah Ia bangkit sendiri (Rm. 14:9).

Ketika kita belum sadar akan hal ini, maka kita akan menjadi seperti murid-murid Tuhan ketika mereka belum nampak bahwa Tuhan telah bangkit. Kita akan merasa bahwa keberhasilan Manusia-Penyelamat dalam semua pencapaian-Nya hanya ada di dalam Alkitab dan diterima oleh kaum saleh di awal Perjanjian Baru saja. Semua pencapaian itu telah berakhir. Karenanya, kita perlu sadar dan percaya bahwa Ia telah bangkit! Apa yang dahulu Ia lakukan, masih bisa kita alami dan rasakan di hari ini. Ia pun masih melakukan juga hal-hal yang dulu Ia pernah kerjakan, dalam prinsip yang rohani. Karena itu, kita perlu nampak bahwa Ia telah bangkit!


Sumber: Pelajaran-Hayat Lukas, Buku 3, Berita 71






October 18, 2019, 05:51:00 AM
Reply #1971
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24748
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://arushayat.blogspot.com/2019

18 October 2019
Lukas - Minggu 36 Jumat

Pembacaan Alkitab: Luk. 24:26; 2 Tim. 1:10
Doa baca: “Dan sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang melalui Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa.”
(2 Tim. 1:10)


Menang dan Mulia


Manusia adalah makhluk ciptaan yang begitu terbatas. Kita dibatasi dan dapat dikalahkan oleh banyak hal. Kematian, Iblis, alam maut, dan kubur adalah sekelompok penghalang dan kesulitan besar bagi kita. Kita sangat sulit, bahkan tidak bisa mengatasi penghalang-penghalang tersebut. Namun, hal-hal tersebut bukanlah sebuah penghalang bagi Manusia-Penyelamat. Hal ini dibuktikan dengan kebangkitan-Nya.

Kebangkitan Manusia-Penyelamat menyatakan kepada kita bahwa Ia menang atas kematian, Iblis, alam maut, dan kubur. Ia dapat mengatasi kematian, pun dapat menghancurkan Iblis (Ibr. 2:14). Kunci kematian dan kunci alam maut sekarang juga telah berada di tangan-Nya (Why. 1:18), dan Ia pun telah menang atas kubur. Kebangkitan-Nya adalah sebuah kebangkitan yang menelan maut dalam kemenangan (1 Kor. 15:52-54). Inilah wahyu Injil yang kita percayai. Kristus dalam kebangkitan telah mematahkan kuasa maut dan telah membawa hayat yang kekal, yang tidak dapat binasa kepada kita.

Kebangkitan Manusia-Penyelamat juga merupakan pemuliaan-Nya (Yoh. 13:31-32; 17:1; Luk. 24:26). Untuk memahami hal ini, Yohanes 12:24 dapat membantu kita dengan sangat baik. Ia adalah sebutir biji gandum yang memiliki hayat, jatuh ke dalam tanah dan mati. Namun, Ia tidak berhenti di dalam kematian-Nya. Ia kemudian bangkit! Ia bertumbuh! Pada akhirnya, Ia menghasilkan banyak butir. Inilah saat Manusia-Penyelamat dimuliakan (Yoh. 12:23), yaitu ketika hayat ilahi-Nya dibebaskan dari kulit luar keinsanian-Nya dan menghasilkan banyak kaum beriman dalam kebangkitan (1 Ptr. 1:3). Puji Tuhan atas kebangkitan-Nya! Hari ini sebagai kaum beriman, kita perlu memiliki penghidupan gereja yang tepat untuk mengalami miniatur pemuliaan ini. Hingga suatu saat ketika kita mencapai kematangan, yaitu mencapai tahap pemuliaan.


Sumber: Pelajaran-Hayat Lukas, Buku 3, Berita 71



October 19, 2019, 05:52:52 AM
Reply #1972
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24748
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://arushayat.blogspot.com/2019

19 October 2019
Lukas - Minggu 36 Sabtu

Pembacaan Alkitab: Luk. 24:26; Kis 3:15a
Doa baca: “Kamu telah membunuh Perintis Kehidupan, tetapi Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati.” (Kis. 3:15a)


Manusia Allah – Allah Manusia


Kebangkitan membawa Manusia-Penyelamat kepada kemuliaan. Kemuliaan melalui kebangkitan ini bukan hanya ketika terbebaskannya Putra Allah dari kulit luar keinsanian Tuhan, tetapi juga ketika keinsanian manusia Yesus dibawa ke dalam keilahian. Haleluya! Sekarang ada seorang Manusia dalam kemuliaan.

Banyak orang menganggap bahwa pemuliaan manusia Yesus adalah ketika Dia berada di surga. Namun, Tuhan berkata mengenai pemuliaan ini kepada murid-muridnya dalam perjalanan ke Emaus yang tercatat di Lukas 24:26: “Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?” Ini menunjukkan bahwa Dia masuk ke dalam kemuliaan adalah sebelum kenaikan-Nya, yaitu dalam kebangkitan-Nya. Artinya, pemuliaan bukan hanya Putra Allah telah dibebaskan dari keinsanian-Nya saja, tetapi juga berarti keinsanian-Nya telah dibawa masuk ke dalam keilahian.

Pemuliaan Manusia-Penyelamat tidak berhenti pada tahap dibawanya manusia Yesus ke dalam keilahian, tetapi melalui kebangkitan-Nya Ia juga menjadi Putra sulung Allah. Dahulu, Ia adalah Putra tunggal Allah dalam kekekalan (Yoh. 1:18; 3:16). Namun, setelah kebangkitan-Nya, Dia dilahirkan oleh Allah dalam keinsanian-Nya menjadi Putra sulung Allah.  Kata “sulung” disini menunjukkan bahwa akan ada putra-putra lainnya. Hari ini, kita, kaum beriman dalam Kristus adalah putra-putra Allah dan saudara-saudara sang Putra sulung melalui hayat ilahi yang kita dapatkan dari kelahiran kembali kita (2 Ptr. 1:4).

Setelah melihat semua butir penting yang berhubungan dengan aspek objektif dari kebangkitan Manusia-Penyelamat, sudahlah sepatutnya kita bersyukur kepada-Nya. Aspek-aspeknya adalah penegasan Allah, pengakuan Allah, bukti kemenangan dan keberhasilan Manusia-Penyelamat, dan pemuliaan-Nya. Terakhir, kebangkitan-Nya juga membuat kita dapat berbagian dalam hayat ilahi-Nya. Amin.


Sumber: Pelajaran-Hayat Lukas, Buku 3, Berita 71




October 21, 2019, 07:48:56 AM
Reply #1973
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24748
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://arushayat.blogspot.com/2019

21 October 2019
Lukas - Minggu 37 Senin

Pembacaan Alkitab: 1 Kor. 15:45b; Yoh. 8:29
Doa baca: “Ia, yang telah mengutus Aku, menyertai Aku. Ia tidak membiarkan Aku sendiri, sebab Aku senantiasa melakukan apa yang berkenan kepada-Nya.” (Yoh. 8:29)


Allah Tritunggal


Kebangkitan Manusia-Penyelamat memiliki dua aspek, objektif dan subjektif. Secara subjektif, kebangkitan Kristus adalah transfigurasi-Nya menjadi Roh pemberi-hayat untuk masuk ke dalam orang yang percaya kepada-Nya (1 Kor. 15:45b; Yoh. 14:16-20). Kebangkitan Kristus sebagai transfigurasi-Nya ini melibatkan Tritinas Ilahi. Karenanya, hal ini sulit dijelaskan.

Hari ini, ada pengajaran yang salah mengenai Allah Tritunggal, yang memberi kesan bahwa Bapa, Putra, dan Roh – tiga dari ke-Allahan ilahi ini – terpisah. Menurut pemahaman ini, ketika Putra datang ke bumi, Bapa ada di atas takhta di surga. Ketika Roh itu datang pada hari Pentakosta, Putra tetap ada bersama Bapa di atas takhta. Pengajaran semacam ini memberikan kesan yang sangat salah mengenai Allah Tritunggal.

Perjanjian Baru mewahyukan bahwa ketika Putra datang, Dia datang bersama Bapa. Yohanes 8:29 mengatakan bahwa ketika Putra ada di bumi, Dia tidak sendirian karena Bapa selalu beserta dengan-Nya (Yoh 8:29). Tuhan Yesus bahkan memberi tahu murid-murid-Nya bahwa Dia ada di dalam Bapa dan bahwa Bapa ada di dalam Dia, “Percayalah kepada-Ku bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku” (Yoh. 14:11a). Putra ada di dalam Bapa dan Bapa ada di dalam Putra merupakan hal saling huni.

Melalui Injil Yohanes, kita nampak bahwa Putra bukan hanya dari Bapa, melainkan juga bersama Bapa. Karena Putra diutus dari dan bersama Bapa, maka Bapa datang ketika Putra datang. Selain itu, ketika Putra datang ke bumi, Bapa bukan hanya bersama dengan-Nya, tetapi juga ada di dalam Dia, sebagaimana Putra ada di dalam Bapa. Puji Tuhan atas Allah Tritunggal, yang adalah kebenaran pokok yang perlu kita pahami dalam Kitab Suci.


Sumber: Pelajaran-Hayat Lukas, Buku 3, Berita 72



October 22, 2019, 05:08:53 AM
Reply #1974
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24748
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://arushayat.blogspot.com/2019

22 October 2019
Lukas - Minggu 37 Selasa

Pembacaan Alkitab: Luk. 4:18
Doa baca: “'Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku” (Luk. 4:18)


Tidak Terpisah Melainkan Saling Huni


Tuhan Yesus tidak hanya diutus “dari dan bersama” Bapa, Ia juga dikandung dari ROH KUDUS (Mat. 1:18, 20). Kemudian pada umur tiga puluh tahun, ketika Manusia-Penyelamat keluar untuk menunaikan ministri-Nya, Roh itu turun ke atas-Nya (Luk. 3:22). Di dalam ministri-Nya, Tuhan memberitakan Injil oleh Roh itu (Luk. 4:18).

Jika kita menjajarkan semua ayat mengenai Putra, Bapa, dan Roh itu, kita akan nampak bahwa ketika Yesus Kristus ada di bumi Dia adalah Allah Tritunggal. Bukan Putra saja yang ada di sana, melainkan Bapa dan Roh itu juga ada di sana. Maka, Dia adalah perwujudan dari ke-Allahan (Kol. 2:9).

Dalam Yohanes 14:8, Filipus berkata, “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.” Heran dengan pertanyaan ini, Tuhan menjawab, “Siapa saja yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. Tidak percayakah engkau bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang tinggal di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya” (ay. 9b-10). Karena Putra ada di dalam Bapa dan Bapa juga ada di dalam Putra, di mana saja Putra berada, di sana juga Bapa berada.

Dalam Yohanes 14:16-17, Dia selanjutnya berkata, “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.” Ini menunjukkan bahwa Bapa, Putra, dan Roh itu tidak terpisah, melainkan saling huni.


Sumber: Pelajaran-Hayat Lukas, Buku 3, Berita 72



October 23, 2019, 06:03:31 AM
Reply #1975
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24748
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://arushayat.blogspot.com/2019

23 October 2019
Lukas - Minggu 37 Rabu

Pembacaan Alkitab: Yoh. 14:16-20
Doa baca: “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya,” (Yoh. 14:16)


Perampungan Akhir Allah Tritunggal


Dalam Yohanes 14:16, Putra mengatakan bahwa Dia akan meminta kepada Bapa supaya memberikan Penolong yang lain kepada mereka. “Yaitu Roh kebenaran (atau, Roh realitas)… Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.” (ay. 17). Dalam ayat 18 Tuhan melanjutkan, “Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu.” “Ia” yang adalah Roh realitas dalam ayat 17 sekarang menjadi “Aku”, yakni Tuhan sendiri dalam ayat 18. Ini menunjukkan bahwa setelah kebangkitan-Nya, Dia sendiri akan tinggal di dalam murid-murid sebagai Roh realitas, seperti yang diteguhkan dalam 1 Korintus 15:45b.

Ketika Putra datang sebagai manusia dalam inkarnasi, Dia datang bersama Bapa dan oleh Roh itu. Melalui inkarnasi, unsur keilahian ditambahkan kepada-Nya, sehingga Dia menjadi seorang Manusia-Allah, satu Persona ilahi dan insani. Kemudian, Putra mengambil satu tahap lebih lanjut melalui kematian dengan status tujuh ganda. Setelah Dia melalui kematian yang almuhit, Dia masuk ke dalam kebangkitan. Ini adalah proses yang kita sebut transfigurasi Manusia-Penyelamat. Melalui proses transfigurasi ini, Putra menjadi Roh pemberi-hayat sebagai perampungan akhir Allah Tritunggal. Ini berarti ketika Roh itu datang, Putra dan Bapa datang juga bersama-Nya. Ketiganya – Bapa, Putra, dan Roh – datang bersama-sama sebagai Roh itu.

Transfigurasi ini mencakup sejumlah unsur: keinsanian, kehidupan insani, dan kematian Kristus yang almuhit dengan status tujuh ganda-Nya. Semua unsur ini dibawa masuk ke dalam Roh pemberi-hayat sebagai perampungan Allah Tritunggal. Hari ini, Roh pemberi-hayat telah masuk ke dalam kita, orang yang percaya kepada-Nya. Inilah warisan ilahi, berkat rohani kita untuk selama-lamanya.


Sumber: Pelajaran-Hayat Lukas, Buku 3, Berita 72




October 24, 2019, 05:33:45 AM
Reply #1976
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24748
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://arushayat.blogspot.com/2019

24 October 2019
Lukas - Minggu 37 Kamis

Pembacaan Alkitab: Luk. 12:50; Yoh. 12:24
Doa baca: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” (Yoh. 12:24)


Kebangkitan Dimulai dengan Kematian


Jika kita mengamati Perjanjian Baru secara menyeluruh, kita akan menyadari bahwa kebangkitan itu dimulai dengan kematian. Untuk memahami fakta ini, mari kita perhatikan Firman Tuhan mengenai diri-Nya sebagai biji gandum dalam Yohanes 12:24. Ketika sebutir biji gandum ditabur ke tanah, biji itu mati. Jika biji gandum itu tidak mati, ia tidak akan bertumbuh. Misalnya sebutir biji gandum diletakkan di atas meja dan dibiarkan saja. Biji gandum itu tidak akan mati, dan tidak pula bertumbuh. Agar biji gandum itu bertumbuh, ia harus diletakkan di tanah supaya mati. Maka, bertumbuhnya atau bangkitnya biji gandum itu dimulai dengan kematiannya.

Dari ilustrasi mati dan bertumbuhnya biji gandum, kita dapat nampak bahwa sementara Kristus mati, Dia pun bangkit. Namun, kematian-Nya tidak dimulai saat ketersaliban-Nya. Sebaliknya, Dia mulai mati segera setelah Dia lahir. Selama tiga puluh tiga setengah tahun kehidupan Tuhan di bumi, Dia mengalami kematian—mati terhadap diri-Nya sendiri dan terhadap semua hal selain Allah. Maka, kehidupan yang Dia tempuh itu adalah suatu kehidupan yang berada di bawah kematian. Dengan demikian, kita dapat mengatakan bahwa proses kematian dan kebangkitan-Nya dimulai segera setelah kelahiran-Nya.

Dalam Lukas 12:50, Manusia-Penyelamat menunjukkan bahwa Dia sangat terbatas dan damba untuk dilepaskan: “Aku harus dibaptis dengan suatu baptisan, dan betapa susah hati-Ku, sebelum hal itu terlaksana!” Manusia-Penyelamat terbatasi dalam daging-Nya, yang dikenakan-Nya melalui inkarnasi. Karena itu, Dia perlu dibaptis dalam kematian secara jasmani, supaya diri ilahi-Nya dengan hayat ilahi-Nya yang tidak terbatas dan tidak terukur dapat dibebaskan dari dalam-Nya. Inilah kematian-Nya yang membawa kebangkitan. Demikian pun hari ini, untuk mengalami kebangkitan, kita perlu menjadi orang yang rela dimatikan.


Sumber: Pelajaran-Hayat Lukas, Buku 3, Berita 73




October 25, 2019, 06:20:55 AM
Reply #1977
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24748
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://arushayat.blogspot.com/2019

25 October 2019
Lukas - Minggu 37 Jumat

Pembacaan Alkitab: Yoh. 11:24-25
Doa baca: “Kata Marta kepada-Nya, ‘Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman.'” (Yoh. 11:24)


Manusia-Penyelamat Mati untuk Hidup


Kita telah melihat prinsip bahwa proses kebangkitan Manusia-Penyelamat dimulai sewaktu Dia mati. Dia bukan hanya mati saat ketersaliban-Nya, melainkan Dia mulai mati segera setelah Dia lahir.  Dalam seumur hidup-Nya di bumi, Dia mati untuk hidup. Setiap hari setiap saat, Dia sedang mati.

Dalam Yohanes 11:24-25, ketika Tuhan Yesus memberi tahu Marta bahwa saudaranya akan bangkit, Marta menjawab: “Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman” (ayat 24). Di sini Marta menunda kebangkitan itu sampai masa yang akan datang, yaitu masa sebelum seribu tahun. Karena itu, Tuhan Yesus berkata kepadanya, “Akulah kebangkitan dan hayat” (ayat 25, Tl.).  Sungguh bermakna, Tuhan Yesus pertama-tama mengatakan bahwa Dia adalah kebangkitan dan kemudian Dia adalah hayat. Mengapa kebangkitan disebut lebih dahulu? Karena Tuhan Yesus mati dan bangkit dalam seluruh kehidupan-Nya.

Kehidupan Tuhan di bumi selama tiga puluh tiga setengah tahun adalah suatu kehidupan yang mati untuk hidup, kehidupan yang hidup melalui mati. Akhirnya, kematian-Nya tergenap di atas salib, dan kebangkitan-Nya tergenap pada hari ketiga setelah ketersaliban-Nya. Ada permulaan kematian-Nya dan ada juga penggenapan kematian-Nya. Demikian juga, ada permulaan kebangkitan-Nya dan ada juga penggenapan kebangkitan-Nya.

Puji Tuhan bahwa Dia adalah Manusia-Penyelamat yang mati untuk hidup dan yang hidup melalui mati! Namun, bagaimanakah keadaan kita sebagai kaum beriman? Kita sedang mati atau hidup? Sama seperti Tuhan, hari ini kita kaum beriman sedang mati untuk hidup, dan hidup melalui mati. Orang-orang yang tidak percaya hanya memiliki proses kematian, sedangkan kita memiliki mati dan hidup, kematian dan kebangkitan. Semakin kita mati, semakin kita dibangkitkan.


Sumber: Pelajaran-Hayat Lukas, Buku 3, Berita 73




October 26, 2019, 06:11:01 AM
Reply #1978
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24748
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://arushayat.blogspot.com/2019

26 October 2019
Lukas - Minggu 37 Sabtu

Pembacaan Alkitab: Yoh. 14:10-20
Doa baca: “Pada waktu itulah kamu akan tahu bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.” (Yoh. 14:20)


Roh Pemberi-Hayat di dalam Manusia Tripartit


Sebagai kaum beriman, kita memiliki Roh pemberi-hayat yang almuhit di dalam kita. Roh pemberi-hayat ini datang sebagai perampungan dari Allah Tritunggal. Yohanes 14:10-20 mewahyukan bahwa ketika Putra datang, Bapa ada di dalamnya. Ketika Roh itu datang, Putra datang bersama-Nya. Ini berarti Roh itu datang sebagai Allah Tritunggal. Ketika Roh itu datang, Allah Tritunggal juga datang.

Dalam Alkitab, kata Ibrani untuk Roh adalah ruach; sedangkan kata Yunaninya adalah pneuma. Keduanya menyatakan roh, hembusan, udara—selalu tersedia untuk kita hirup. Roma 10:8 mengatakan bahwa firman itu tidak jauh dari kita, tetapi sangat dekat, bahkan di dalam mulut kita dan di dalam hati kita. Firman yang hidup, yakni Roh itu, ada di dalam mulut kita dan di dalam hati kita, sama seperti udara, nafas, yang dapat kita terima ke dalam diri kita. Kita perlu mengenal hal ini dan menanggapinya dengan berseru kepada Tuhan Yesus, maka Tuhan Yesus akan masuk ke dalam kita.

Ketika Tuhan ada di dalam kita, Roh itu, Putra, dan Bapa, semuanya ada di dalam kita. Udara rohani yang kita hirup ini sebenarnya adalah Allah Tritunggal. Allah Tritunggal menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam manusia tripartit.

Mengenai hal ini, Yohanes 14:20 mengatakan, “Pada waktu itulah kamu akan tahu bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.” Dalam ayat ini “kamu” adalah manusia tripartit, dan “Aku” adalah Allah Tritunggal. Agar Allah Tritunggal tinggal di dalam manusia tripartit, Dia perlu melalui proses-proses tertentu: inkarnasi, kehidupan insani, kematian, dan kebangkitan. Setelah melalui proses ini, Allah Tritunggal sekarang bukan hanya di atas takhta, tetapi juga ada di dalam kita. Puji Tuhan! Kebangkitan Manusia-Penyelamat adalah transfigurasi-Nya menjadi Roh pemberi-hayat, dan sebagai Roh ini sekarang Dia berhuni di dalam kita.


Sumber: Pelajaran-Hayat Lukas, Buku 3, Berita 73



October 28, 2019, 11:54:43 AM
Reply #1979
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24748
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://arushayat.blogspot.com/2019

28 October 2019
Lukas - Minggu 38 Senin

Pembacaan Alkitab: Yoh. 14:16-20; 1 Ptr. 1:3
Doa baca: “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah membuat kita lahir kembali melalui kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada hidup yang penuh pengharapan.” (1 Ptr. 1:3)


Kebangkitan Kristus yang Menyalurkan Hayat


Kebangkitan Manusia-Penyelamat adalah transfigurasi-Nya menjadi Roh pemberi-hayat untuk masuk ke dalam orang yang percaya kepada-Nya (1 Kor. 15:45b; Yoh. 14:16-20). Ketika Kristus bangkit, kita sebagai kaum beriman turut tercakup bersama dalam kebangkitan-Nya (Ef. 2:6). Dalam kebangkitan-Nya, Dia menyalurkan hayat ilahi hingga akhirnya kita menjadi sama dengan Dia dalam hayat dan sifat.

Alkitab mewahyukan bahwa orang-orang dosa itu telah mati dalam pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa (Ef. 2:1; 5; Kol. 2:13). Yohanes 5:25 mengatakan, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Saatnya akan tiba dan sudah tiba bahwa orang-orang mati akan mendengar suara Anak Allah, dan mereka yang mendengarnya, akan hidup.” Ketika kita memberitakan Injil, kita sedang memberitakan kepada orang yang mati secara rohani namun mereka masih memiliki telinga untuk mendengarkan suara Anak Allah. Ini adalah belas kasihan dan kedaulatan Allah. Melalui pendengaran akan Injil, orang yang mati secara rohani mungkin akan berseru kepada Tuhan. Saat itulah hayat ilahi disalurkan ke dalamnya dan ia menjadi ciptaan baru.

Mengapa seorang perlu untuk dilahirkan kembali? Ciptaan yang lama tidak memiliki hayat dan sifat ilahi melainkan memiliki sifat daging dan usang. Akan tetapi, ciptaan baru yang terdiri dari kaum beriman yang lahir dari Allah (Yoh. 1:13; 3:15; 2 Ptr. 1:4) memiliki hayat dan sifat ilahi. Karena itu, ciptaan lama perlu menerima penyaluran hayat ilahi untuk dapat memiliki hayat dan sifat yang terdapat pada ciptaan yang baru. Inilah aspek subjektif dari kebangkitan Manusia-Penyelamat, yakni untuk menyalurkan hayat ilahi ke dalam kaum beriman bagi kelahiran kembali mereka supaya mereka menjadi ciptaan yang baru. Haleluya! Hayat ilahi ini telah disuntikkan ke dalam kita.


Sumber: Pelajaran-Hayat Lukas, Buku 3, Berita 74


 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)