Author Topic: Arus Hayat  (Read 72609 times)

0 Members and 2 Guests are viewing this topic.

March 11, 2013, 04:38:46 AM
Reply #20
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20198
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://arushayat.blogspot.com/
http://arushayat.blogspot.com/2013/03/efesus-minggu-25-senin.html

11 March 2013
Efesus - Minggu 25 Senin

Pembacaan Alkitab: Ef. 5:1-4


Efesus 5:1 mengatakan, “Sebab itu, sebagai anak-anak yang terkasih, teladanilah Allah.” Perkataan Paulus di sini merupakan suatu perintah, suatu komando. Ia memerintahkan agar kita meneladani Allah. Fakta yang sungguh mulia bahwa karena kita adalah anak-anak Allah yang terkasih, kita dapat meneladani Allah! Sebagai anak-anak Allah, kita memiliki hayat dan sifat-Nya. Kita meneladani Dia bukan dengan hayat alamiah kita, tetapi dengan hayat ilahi-Nya. Dengan hayat ilahi Bapa kita ini, kita, anak-anak-Nya, dapat sempurna sama seperti Dia (Mat. 5:48).

Dalam ayat 2 Paulus mengeluarkan perintah yang lain: “Hiduplah di dalam kasih.” Sebagaimana anugerah dan realitas adalah unsur-unsur dasar dalam 4:17-32, maka kasih (5:2, 25) dan terang (5:8, 9, 13) adalah unsurunsur dasar nasihat rasul dalam 5:1-33. Anugerah adalah ekspresi kasih, dan kasih adalah sumber anugerah, realitas adalah wahyu dari terang, dan terang adalah asal mula realitas. Allah adalah kasih dan terang (1 Yoh. 4:8, 1:5). Ketika Allah diekspresikan dan dinyatakan dalam Tuhan Yesus, kasih-Nya menjadi anugerah dan terang-Nya menjadi realitas. Di dalam Tuhan Yesus, setelah kita menerima Allah sebagai anugerah dan mengenal Dia sebagai realitas, kita datang kepada-Nya dan menikmati kasih dan terang-Nya. Kasih dan terang lebih dalam daripada anugerah dan realitas. Karena itu, rasul pertamatama mengambil anugerah dan realitas sebagai unsur-unsur dasar nasihatnya, dan kemudian kasih dan terang. Ini menyiratkan bahwa ia ingin hidup kita sehari-hari bertumbuh lebih dalam, maju dari unsur yang luaran kepada yang di dalam.

Paulus memerintahkan kita untuk hidup dalam kasih seperti halnya Kristus mengasihi kita dan “menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan kurban yang harum bagi Allah” (5:2). Dalam 4:32 rasul mengemukakan Allah sebagai model hidup kita sehari-hari. Di sini dia menunjukkan Kristus sebagai teladan hidup kita. Dalam 4:32, Allah dalam Kristus adalah model kita, karena dalam bagian itu anugerah Allah dan realitas yang diekspresikan dalam hidup Yesus diambil sebagai unsurunsur dasar. Menurut 4:32, kita harus mengampuni orang sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kita. Ini berarti Allah adalah model dari pengampunan. Tetapi dalam pasal 5 Kristus sendiri adalah teladan kita, karena dalam bagian ini kasih yang diekspresikan Kristus kepada kita (ayat 2, 25) dan terang yang dipancarkan Kristus ke atas kita (ayat 14) diambil sebagai unsur-unsur dasar. Di sini Kristus yang mengasihi kita dan menyerahkan diri-Nya bagi kita adalah teladan untuk kita hidup di dalam kasih.

Dalam ayat 3 dan 4 Paulus menuliskan beberapa perkara yang tidak patut atau tidak pantas bagi orang kudus, “Tetapi percabulan dan rupa-rupa kecemaran atau keserakahan disebut saja pun jangan di antara kamu, sebagaimana sepatutnya bagi orang-orang kudus. Demikian juga perkataan yang kotor, yang kosong atau yang sembrono — karena hal-hal ini tidak pantas — tetapi sebaliknya ucapkanlah syukur.” Tidak ada yang lebih merusak manusia daripada percabulan, terutama merusak tujuan Allah dan maksud-Nya dalam penciptaan manusia dan terhadap hidup gereja kaum beriman dalam Tubuh Kristus; ini berdasarkan 1 Korintus 5. Hawa nafsu keserakahan yang tidak terkekang adalah hawa nafsu yang tamak dan tidak terkendali. Perkara jahat ini disebut saja pun jangan di antara kita, sebagaimana sepatutnya bagi orang kudus, yaitu orang-orang yang dipisahkan bagi Allah dan dijenuhi Allah, serta yang menempuh hidup yang sesuai dengan sifat kudus Allah.


Sumber: Pelajaran-Hayat Efesus, Buku 2, Berita 50
March 12, 2013, 05:38:48 AM
Reply #21
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20198
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://arushayat.blogspot.com/
http://arushayat.blogspot.com/2013/03/efesus-minggu-25-selasa.html

12 March 2013
Efesus - Minggu 25 Selasa

Pembacaan Alkitab: Ef. 5:6-8


Ayat 5 mengatakan, “Karena ingatlah ini baik-baik: Tidak ada orang sundal, orang cemar atau orang serakah, artinya penyembah berhala, yang mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Allah.” Awal ayat ini lebih tepat diterjemahkan “Karena kalian sadar, tahu bahwa tidak ada . . . “ Kata “sadar” di sini dalam bahasa aslinya “oida” yang berarti pengetahuan yang subyektif; sedang kata “tahu” dalam bahasa aslinya ialah “Ginosko”, ini ditujukan kepada pengetahuan obyektif. Apa yang Paulus katakan dalam ayat 5, harus kita ketahui baik secara subyektif maupun obyektif. Kita harus tahu bahwa tidak ada orang sundal, orang cemar, atau orang serakah yang mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Allah. Dalam pandangan Allah, orang yang serakah sebenarnya sama dengan menyembah berhala.

Ayat 6 melanjutkan, “Janganlah kamu disesatkan orang dengan kata-kata yang hampa, karena hal-hal yang demikian mendatangkan murka Allah atas orang-orang durhaka.” Murka Allah akan menimpa anak-anak durhaka terutama disebabkan ketiga perkara jahat yang dikatakan dalam ayat 3 itu. Anak-anak durhaka ialah orang-orang yang tidak percaya. Kita, kaum beriman, adalah anak-anak Allah yang terkasih. Walau demikian, ada beberapa anak-anak Allah yang bertingkah laku seperti anak-anak durhaka. Karena itu, murka Allah akan menimpa mereka. Maka dalam ayat 7 Paulus mengatakan, “Sebab itu janganlah kamu berkawan dengan mereka.” Kita harus meneladani Allah dengan baik, jangan mengambil bagian dalam perkara cemar yang mana pun.

Dalam ayat 2 Paulus menyuruh kita hidup dalam kasih dan dalam ayat 8 ia menyuruh kita hidup sebagai anak-anak terang. Ketujuh ayat pertama dalam pasal ini membahas masalah kasih. Bila kita hidup dalam kasih, kita akan menghindarkan diri dari kecemaran. Hidup dalam kasih berarti hidup dalam kemesraan dengan Allah. Suatu hubungan yang intim antara seorang anak perempuan dengan ibunya dapat menerangkan arti hidup dalam kasih ini. Ada beberapa remaja putri menikmati kasih yang mesra dengan ibu mereka. Mereka mengasihi apa yang dikasihi ibu mereka. Karena kasih mereka terhadap ibu mereka, maka mereka tidak mau melakukan perkara apa pun yang bertentangan dengan perasaan ibu mereka. Sebaliknya, mereka hidup dalam kasih yang mesra terhadap ibu mereka. Seprinsip dengan itu, kita pun memiliki satu hubungan yang intim dengan Bapa. Sebagai orang yang telah menerima anugerah, kita dapat di dalam Putra berkontak dengan Bapa. Di hadirat Bapa, kita tidak saja menikmati anugerah, ekspresi kasih, juga menikmati kasih itu sendiri. Kita mengalami kasih dengan cara yang paling mesra. Karena itulah kita tidak mau melakukan segala perkara yang tidak menyenangkan Bapa. Bapa membenci persundalan, kecemaran, dan hawa nafsu. Bila kita hidup dalam kasih, kita akan menjauhi perkara-perkara itu. Karena kita mengasihi Bapa, kita tidak akan melakukan apa saja yang mendukakan hati-Nya. Alangkah lembut dan halusnya hidup yang sedemikian! Ini bukan sekadar hidup oleh anugerah; ini adalah hidup dalam kasih. Kita wajib selalu ingat bahwa kita adalah anak-anak Allah, yang menikmati kasih-Nya. Kita adalah orang-orang kudus yang telah dipisahkan bagi-Nya, dan diresapi oleh-Nya. Karena itu, dalam kehidupan seharihari kita, kita harus selalu memperhatikan perasaan Bapa, karena kita dengan mesra hidup di dalam kasih-Nya yang lembut.


Sumber: Pelajaran-Hayat Efesus, Buku 2, Berita 50
March 13, 2013, 04:51:16 AM
Reply #22
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20198
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://arushayat.blogspot.com/
http://arushayat.blogspot.com/2013/03/efesus-minggu-25-rabu.html

13 March 2013
Efesus - Minggu 25 Rabu

Pembacaan Alkitab: Ef. 5:9-14


Setelah memerintahkan kita untuk hidup sebagai anak-anak terang, dalam ayat 9 Paulus menyisipkan kata-kata pernyataan tentang buah terang: “Karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran.” Ayat ini menurut bahasa aslinya adalah “karena terang hanya berbuahkan kebaikan, kebenaran, dan realitas.” Kebaikan adalah sifat dari buah terang, kebenaran adalah jalan atau prosedur untuk menghasilkan buah terang; dan realitas adalah ekspresi riil (Allah sendiri) dari buah terang. Buah terang pasti baik sifatnya, benar prosedurnya, dan riil ekspresinya, sehingga Allah dapat diekspresikan sebagai realitas hidup kita sehari-hari.

Dalam membicarakan buah terang, Paulus hanya mengutarakan tiga perkara: kebaikan, kebenaran, dan realitas, hal ini sangat bermakna. Ia tidak mengatakan kekudusan, keramahan, atau kerendahan. Alasan hanya menyebut ketiga perkara itu saja ialah karena buah terang dalam kebaikan, kebenaran, dan realitas berhubungan dengan Allah Tritunggal. Kebaikan mengacu kepada sifat buah terang. Tuhan Yesus pernah menunjukkan bahwa hanya satu yang baik, yaitu Allah itu sendiri (Mat. 19:17). Jadi kebaikan di sini mengacu kepada Allah Bapa. Allah Bapa sebagai kebaikan adalah sifat buah terang.

Kita telah menunjukkan bahwa kebenaran mengacu kepada cara atau prosedur buah terang. Kebenaran adalah prosedur yang olehnya buah terang itu dihasilkan. Dalam ke-Allahan, Putra, Kristus ialah kebenaran kita. Ia datang ke dunia untuk menghasilkan perkara-perkara tertentu yang sesuai dengan prosedur Allah, yaitu yang selalu benar. Kebenaran ialah cara Allah dan prosedur Allah. Kristus datang untuk menggenapkan kehendak Allah sesuai dengan prosedur-Nya yang benar. Karena itu, aspek kedua dari buah terang dutujukan kepada Allah Putra.

Realitas ialah ekspresi buah terang. Buah ini seharusnya riil, yaitu harus sebagai ekspresi Allah, pancaran terang yang tersembunyi. Tidak dapat diragukan bahwa realitas ditujukan kepada Roh realitas, Persona ketiga dari Allah Tritunggal. Karena itu, Bapa sebagai kebaikan, Putra sebagai kebenaran, dan Roh sebagai realitas; kesemuanya ini berkaitan dengan buah terang.

Ayat 9 adalah definisi hidup sebagai anak-anak terang. Bila kita hidup sebagai anak-anak terang, kita akan menghasilkan buah yang dilukiskan dalam ayat 9. Buah yang kita hasilkan dengan hidup sebagai anak-anak terang ini seharusnya berada dalam kebaikan, kebenaran, dan realitas. Bukti kita hidup sebagai anak-anak terang terlihat dalam menghasilkan buah yang demikian.


Sumber: Pelajaran-Hayat Efesus, Buku 2, Berita 50
March 14, 2013, 04:55:46 AM
Reply #23
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20198
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://arushayat.blogspot.com/
http://arushayat.blogspot.com/2013/03/efesus-minggu-25-kamis.html

14 March 2013
Efesus - Minggu 25 Kamis

Pembacaan Alkitab: Ef. 5:15-18


Hidup dengan dipenuhi di dalam roh adalah butir kelima dari hidup yang sepadan dengan panggilan Allah. Keempat butir pertama dari hidup yang sepadan itu ialah: memelihara kesatuan, bertumbuh ke dalam Kepala, mempelajari Kristus, dan hidup dalam kasih dan terang. Dalam pasal 4 Paulus membicarakan masalah memelihara kesatuan, bertumbuh ke dalam Kepala, dan mempelajari Kristus. Dalam pasal 5, ia membicarakan masalah hidup di dalam kasih dan terang, dan masalah hidup dengan dipenuhi di dalam roh. Karena itu, dalam pasal 5 terdapat tiga istilah yang penting dan menentukan: kasih, terang, dan roh. Kasih dan terang dibahas dalam 14 ayat yang pertama, sedang bagian berikutnya dari pasal ini membahas tentang roh perbauran.

Dipenuhi di dalam roh (ayat 18) berarti dipenuhi dalam roh kelahiran kembali, yaitu dalam roh insani yang dihuni oleh Roh Allah. Roh kita tidak boleh kosong, melainkan harus dipenuhi dengan kekayaan Kristus hingga menjadi segala kepenuhan Allah (3:19). Semua butir dalam 5:18—6:9 berkaitan dengan masalah dipenuhi di dalam roh. Banyak pembaca pasal ini hanya memperhatikan rincian seperti istri harus tunduk kepada suami atau suami harus mengasihi istri, tetapi tidak nampak sumber dari semua pekerti tersebut, yakni dipenuhi di dalam roh. Ketika kita dipenuhi oleh Kristus dalam roh kita, hingga menjadi segala kepenuhan Allah, tentulah istri akan mematuhi suami, suami juga akan mengasihi istri, orang tua akan memperhatikan anak-anak, hamba akan menaati tuannya, dan tuan akan memperlakukan hambanya dengan wajar. Kesemuanya itu adalah hasil dari dipenuhinya kita dalam roh.

Kita pernah menunjukkan bahwa hidup berdasarkan dipenuhi di dalam roh adalah butir kelima dari hidup yang sepadan dengan panggilan Allah. Butir pertama ialah memelihara kesatuan, ini adalah untuk kehidupan Tubuh, hidup gereja. Butir kedua ialah dalam segala hal bertumbuh ke dalam Kristus, Sang Kepala, ini adalah untuk pembangunan. Berikutnya ialah mempelajari Kristus melalui ditempatkan ke dalam cetakan, yakni standar kehidupan menurut realitas yang nyata dalam Yesus. Sebagai orang Kristen, kita memiliki satu standar tinggi dengan satu prinsip yang tinggi pula untuk mengatur kehidupan sehari-hari kita. Mempelajari Kristus berarti mengambil Dia sebagai standar dan mengambil hayat-Nya sebagai prinsip. Keempat, hidup yang sepadan dengan panggilan Allah ialah hidup dalam kasih dan terang. Kita tidak saja harus hidup menurut realitas dan oleh anugerah, tetapi juga di dalam terang dan kasih. Kita harus menjadi orang yang hidup dalam kemesraan dengan Allah dan berjalan dalam hadirat-Nya. Kehidupan sehari-hari kita harus seluruhnya sesuai dengan hati Allah dan dalam hadirat-Nya. Jika kita memiliki keempat butir ini dalam hidup yang sepadan, kita akan dengan spontan dipenuhi di dalam roh kita.


Sumber: Pelajaran-Hayat Efesus, Buku 2, Berita 51
March 16, 2013, 05:11:52 AM
Reply #24
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20198
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://arushayat.blogspot.com/
http://arushayat.blogspot.com/2013/03/efesus-minggu-25-sabtu.html

16 March 2013
Efesus - Minggu 25 Sabtu

Pembacaan Alkitab: Ef. 5:20-23


Ayat 20 meneruskan, “Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita.” Kita seharusnya mengucapkan syukur kepada Allah Bapa bukan hanya pada saat-saat yang baik, tetapi juga senantiasa, dan bukan hanya untuk hal-hal yang baik, tetapi juga untuk segala hal. Bahkan pada saat yang buruk kita seharusnya mengucap syukur kepada Allah Bapa kita untuk hal-hal yang buruk.

Ayat ini menyuruh kita bersyukur dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus. Realitas dari nama Tuhan adalah persona-Nya. Berada dalam nama Tuhan berarti di dalam persona-Nya, dalam diri-Nya sendiri. Ini menyiratkan bahwa kita seharusnya menjadi satu dengan Tuhan dalam mengucap syukur kepada Allah.

Dalam ayat 21 Paulus mengatakan, “Dan rendahkanlah (tundukkanlah) dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus.” Saling tunduk seorang kepada yang lain juga merupakan jalan untuk dipenuhi dalam roh dengan Tuhan, dan adalah luapan karena dipenuhi. Ketundukan kita seharusnya seorang kepada yang lain, yang lebih muda kepada yang lebih tua, juga yang lebih tua kepada yang lebih muda (1 Ptr. 5:5).

Menurut konteks ayat-ayat berikutnya, berada dalam takut akan Kristus adalah takut menyalahi Dia sebagai Sang Kepala. Ini berhubungan dengan jabatan-Nya sebagai Kepala (ayat 23) dan melibatkan ketundukan kita se-orang kepada yang lain. Kristus adalah Kepala Tubuh. Jika kita memperlakukan anggota Tubuh dengan tidak benar, berarti kita bersalah terhadap Kepala Tubuh. Kita perlu memelihara hubungan dengan anggota Tubuh dalam rasa takut terhadap Kepala.

Kehidupan berkata-kata, bernyanyi, bermazmur, dan bersyukur adalah kehidupan yang tunduk. Bila kita berkata, bernyanyi, bermazmur, dan bersyukur dalam nama Tuhan Yesus Kristus, kita akan rela menundukkan diri kita seorang kepada yang lain. Kita semua tunduk kepada Kristus Sang Kepala, juga kepada Tubuh. Namun kepatuhan kita berasal dari berkata-kata, bernyanyi, bermazmur, dan bersyukur, yang berasal dari dipenuhinya kita dalam batin. Ketika kita dipenuhi dalam roh kita, kita akan bernyanyi, bermazmur, berkata-kata, dan bersyukur. Dengan spontan, kita pun akan tunduk. Tetapi, bila kita tidak dipenuhi, tidak akan ada berkata-kata, bernyanyi, bermazmur, atau bersyukur kepada Allah, dan tidak ada pula kepatuhan itu. Umat gereja yang wajar adalah mereka yang tunduk atau patuh oleh berkatakata, bernyanyi, bermazmur, dan bersyukur kepada Allah dari dalam insan batiniah. Mereka hidup demi dipenuhi dalam roh dengan segala kekayaan Kristus, hingga menjadi kepenuhan Allah.


Sumber: Pelajaran-Hayat Efesus, Buku 2, Berita 51
March 17, 2013, 04:13:49 AM
Reply #25
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20198
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://arushayat.blogspot.com/
http://arushayat.blogspot.com/2013/03/efesus-minggu-25-sabtu.html

16 March 2013
Efesus - Minggu 25 Sabtu

Pembacaan Alkitab: Ef. 5:20-23


Ayat 20 meneruskan, “Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita.” Kita seharusnya mengucapkan syukur kepada Allah Bapa bukan hanya pada saat-saat yang baik, tetapi juga senantiasa, dan bukan hanya untuk hal-hal yang baik, tetapi juga untuk segala hal. Bahkan pada saat yang buruk kita seharusnya mengucap syukur kepada Allah Bapa kita untuk hal-hal yang buruk.

Ayat ini menyuruh kita bersyukur dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus. Realitas dari nama Tuhan adalah persona-Nya. Berada dalam nama Tuhan berarti di dalam persona-Nya, dalam diri-Nya sendiri. Ini menyiratkan bahwa kita seharusnya menjadi satu dengan Tuhan dalam mengucap syukur kepada Allah.

Dalam ayat 21 Paulus mengatakan, “Dan rendahkanlah (tundukkanlah) dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus.” Saling tunduk seorang kepada yang lain juga merupakan jalan untuk dipenuhi dalam roh dengan Tuhan, dan adalah luapan karena dipenuhi. Ketundukan kita seharusnya seorang kepada yang lain, yang lebih muda kepada yang lebih tua, juga yang lebih tua kepada yang lebih muda (1 Ptr. 5:5).

Menurut konteks ayat-ayat berikutnya, berada dalam takut akan Kristus adalah takut menyalahi Dia sebagai Sang Kepala. Ini berhubungan dengan jabatan-Nya sebagai Kepala (ayat 23) dan melibatkan ketundukan kita se-orang kepada yang lain. Kristus adalah Kepala Tubuh. Jika kita memperlakukan anggota Tubuh dengan tidak benar, berarti kita bersalah terhadap Kepala Tubuh. Kita perlu memelihara hubungan dengan anggota Tubuh dalam rasa takut terhadap Kepala.

Kehidupan berkata-kata, bernyanyi, bermazmur, dan bersyukur adalah kehidupan yang tunduk. Bila kita berkata, bernyanyi, bermazmur, dan bersyukur dalam nama Tuhan Yesus Kristus, kita akan rela menundukkan diri kita seorang kepada yang lain. Kita semua tunduk kepada Kristus Sang Kepala, juga kepada Tubuh. Namun kepatuhan kita berasal dari berkata-kata, bernyanyi, bermazmur, dan bersyukur, yang berasal dari dipenuhinya kita dalam batin. Ketika kita dipenuhi dalam roh kita, kita akan bernyanyi, bermazmur, berkata-kata, dan bersyukur. Dengan spontan, kita pun akan tunduk. Tetapi, bila kita tidak dipenuhi, tidak akan ada berkata-kata, bernyanyi, bermazmur, atau bersyukur kepada Allah, dan tidak ada pula kepatuhan itu. Umat gereja yang wajar adalah mereka yang tunduk atau patuh oleh berkatakata, bernyanyi, bermazmur, dan bersyukur kepada Allah dari dalam insan batiniah. Mereka hidup demi dipenuhi dalam roh dengan segala kekayaan Kristus, hingga menjadi kepenuhan Allah.


Sumber: Pelajaran-Hayat Efesus, Buku 2, Berita 51
March 18, 2013, 05:02:19 AM
Reply #26
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20198
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://arushayat.blogspot.com/
http://arushayat.blogspot.com/2013/03/efesus-minggu-26-senin.html

18 March 2013
Efesus - Minggu 26 Senin

Pembacaan Alkitab: Ef. 5:20-23


Dari Efesus 4:25 hingga 6:9 Paulus menampilkan rincian suatu kehidupan yang tepat. Bila kita ingin memenuhi semua permintaan yang rinci ini, kita harus hidup menurut realitas dan oleh anugerah. Lagi pula, kita harus hidup dalam kasih dan terang, serta dipenuhi di dalam roh kita. Seperti telah kita tunjukkan, dipenuhi di dalam roh merupakan satu butir dari hidup yang sepadan dengan panggilan Allah.

Hubungan antara suami dengan istri berkaitan dengan masalah dipenuhi di dalam roh. Ini adalah satu aspek kehidupan sehari-hari dari mereka yang dipenuhi di dalam roh sehingga menjadi segala kepenuhan Allah. Karena itu, tatkala kita membicarakan hubungan antara suami dengan istri, kita tidak dapat mengabaikan masalah dipenuhi dalam batin. Hanya melalui dipenuhi dalam roh kita, barulah kita mempunyai kehidupan pernikahan yang tepat.

Untuk mengasihi istri, sang suami harus bersimpati kepada istrinya, bahkan patuh kepadanya. Hanya kepatuhan yang dapat menghasilkan kepatuhan. Hanya kepatuhan yang dapat membayar harga untuk menghasilkan kepatuhan dalam diri orang lain. Bila seorang suami tidak pernah patuh kepada istrinya, maka sangat sulitlah bagi istrinya untuk tunduk kepadanya.

Satu Petrus 3:7 mengatakan bahwa istri adalah bejana yang lebih lemah. Itulah alasan Paulus terlebih dulu membicarakan istri dalam Efesus 5. Dalam nasihatnya mengenai istri dan suami, anak-anak dan orang tua, para hamba dan tuan, Paulus terlebih dulu memperhatikan pihak yang lebih lemah, kemudian baru pihak yang lebih kuat. Mereka yang berada pada pihak yang kuat tidak boleh menaruh permintaan ke atas pihak yang lebih lemah. Kalau seorang suami menyadari bahwa istrinya adalah bejana yang lebih lemah, ia tidak akan ada permintaan terhadapnya.

Dalam ayat 22 Paulus menasihati para istri untuk tunduk kepada suami mereka sendiri. Perkataan Paulus tentang istri harus tunduk kepada suami mereka sendiri menunjukkan adanya kecenderungan bagi istri untuk membanding-bandingkan suami mereka dengan suami orang lain. Jika kita kekurangan anugerah dan tidak hidup dalam terang Allah, kita mungkin akan membuat perbandingan yang sedemikian. Ini adalah kelicikan Iblis untuk merusak kehidupan pernikahan.

Dalam prinsip yang sama, ketika Paulus berbicara kepada para suami, dia menasihati mereka untuk mengasihi istri mereka sendiri (ayat 28, 33). Ini menunjukkan bahwa mereka tidak seharusnya membandingkan istri mereka dengan istri orang lain. Kita harus membenci perbandingan yang seperti itu. Itu berasal dari musuh, Iblis, dan yang dapat mengakibatkan perpisahan, bahkan perceraian. Jika kita ingin menempuh hidup yang sepadan dengan panggilan Allah, hidup yang menurut realitas, dengan anugerah, di dalam kasih dan terang, kita tidak boleh membandingkan istri atau suami kita dengan istri atau suami orang lain. Sebaliknya, para istri harus tunduk kepada suami mereka sendiri, dan para suami harus mengasihi istri mereka sendiri.


Sumber: Pelajaran-Hayat Efesus, Buku 3, Berita 52
March 19, 2013, 04:57:39 AM
Reply #27
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20198
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://arushayat.blogspot.com/
http://arushayat.blogspot.com/2013/03/efesus-minggu-26-selasa.html

19 March 2013
Efesus - Minggu 26 Selasa

Pembacaan Alkitab: Ef. 5:22-28; 1 Ptr. 3:6


Menurut perkataan Paulus dalam ayat 22, para istri harus tunduk kepada suami mereka sendiri “seperti kepada Tuhan”. Para istri harus menyadari bahwa dalam pandangan Tuhan suami mewakili Tuhan. Alasan istri harus tunduk kepada suami mereka ialah sebab dalam kehidupan pernikahan, sang suami seperti Tuhan. Situasi kehidupan pernikahan hari ini sangat menyedihkan, penuh dengan ketidakpatuhan dan pemberontakan. Namun demikian, sebagaimana Kristus adalah Kepala gereja dan Juruselamat Tubuh, maka istri harus tunduk kepada suami mereka sendiri seperti kepada Tuhan.

Para istri juga harus menerima suami mereka sebagai kepala. Ayat 23 menerangkan, “Karena suami adalah kepala istri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh.” Selaku kepala istri, seorang suami melambangkan Kristus sebagai Kepala gereja. Kristus bukan hanya Kepala gereja, tetapi juga Juruselamat Tubuh. Kepala adalah perkara kekuasaan, sedangkan Juruselamat adalah perkara kasih. Kita harus tunduk kepada-Nya sebagai Kepala kita, dan mengasihi-Nya sebagai Juruselamat kita. Dalam hubungan antara suami dengan istri pun harus demikian.

Dalam ayat 24 Paulus selanjutnya mengatakan, “Karena itu, sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah istri kepada suami dalam segala sesuatu.” Maksud ayat ini adalah: Walaupun para suami bukanlah Juruselamat istri-istri mereka sebagaimana Kristus adalah Juruselamat gereja, para istri tetap perlu tunduk kepada suami mereka sebagaimana gereja tunduk kepada Kristus. Taat berbeda dengan tunduk. Pada ketaatan, penekanannya adalah pada sikap memenuhi permintaan; sedangkan pada sikap tunduk, penekanannya adalah pada mengambil sikap atau kedudukan sebagai bawahan. Dalam perkara dosa, perkara-perkara yang berlawanan dengan Allah dan Tuhan, para istri tidak seharusnya menaati suami mereka. Namun, mereka harus tetap tunduk kepada suami mereka.

Ayat 25 mengatakan, “Hai suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.” Kasih suami bagi istrinya haruslah seperti kasih Kristus bagi gereja, dia harus rela membayar harga, bahkan mati bagi istrinya.

Permintaan terhadap suami jauh lebih berat daripada istri. Tunduk kepada seseorang tidak sesukar menyerahkan diri kepada seseorang. Menyerahkan diri berarti menjadi sahid, yakni mengorbankan hayat Anda. Suami harus mengasihi istrinya dengan harga sebesar diri mereka sendiri. Mereka harus sudi membayar harga yang tinggi, bahkan mati bagi istri mereka.

Ayat 28 mengatakan, “Demikian juga suami harus mengasihi istrinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi istrinya mengasihi dirinya sendiri.” Da-lam ayat ini Paulus dua kali mengatakan suami harus mengasihi istri mereka. Seperti telah kita tunjukkan, ini menunjukkan bahwa seorang suami harus mengasihi istrinya tanpa membandingkannya dengan orang lain.

Dalam ayat ini Paulus menasihati suami untuk mengasihi istri mereka sama seperti tubuhnya sendiri. Setiap orang mengasihi tubuhnya sendiri. Seorang suami harus menganggap istrinya sebagai bagian dari tubuhnya dan memperhatikannya seperti tubuhnya sendiri.


Sumber: Pelajaran-Hayat Efesus, Buku 3, Berita 52
March 20, 2013, 05:02:53 AM
Reply #28
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20198
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://arushayat.blogspot.com/
http://arushayat.blogspot.com/2013/03/efesus-minggu-26-rabu.html

20 March 2013
Efesus - Minggu 26 Rabu

Pembacaan Alkitab: Ef. 5:28-31


Ayat 29 meneruskan, “Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi memelihara dan merawatnya, sama seperti Kristus terhadap jemaat.” Kita menyatakan kasih kepada tubuh kita melalui memelihara dan merawatnya. Merawat berarti memberi makan. Mengenai perawatan jasmani, istrilah yang merawat suami. Kalau seorang suami memasak bagi istrinya, keadaan itu agaknya kurang normal. Tetapi ditinjau dari segi rohani, se-orang suamilah yang harus merawat istrinya. Sama seperti kita makan adalah untuk tubuh kita, demikianlah suami pun harus menerima sesuatu dari Tuhan untuk istri mereka. Dengan berbuat demikian berarti suami menganggap istrinya sebagai bagian dari tubuhnya. Seorang suami harus merawat istrinya, memperhatikan keperluannya, sama seperti ia memperhatikan keperluan tubuhnya. Inilah makna merawat dalam ayat 29.

Ayat 31 mengatakan, “Sebab itu, laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.” Kristus dan gereja menjadi satu roh (1 Kor. 6:17), seperti yang dilambangkan oleh suami dan istri yang menjadi satu daging, inilah rahasia yang besar.

Untuk menempuh kehidupan pernikahan yang wajar, seorang laki-laki harus meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya menjadi satu daging. Seorang laki-laki dan seorang perempuan menikah untuk kehidupan pernikahan mereka sendiri, bukan untuk kehidupan keluarga orang tua mereka. Maka orang tua istri atau suami tidak boleh mencampuri pernikahan mereka. Sepasang suami istri hidup bersama orang tua pihak mana pun mutlak bertentangan dengan prinsip Alkitab. Pengaturan yang demikian akan merusak kehidupan pernikahan. Menurut prinsip Alkitab, seorang laki-laki harus meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya. Prinsip ini tentunya juga berlaku bagi pihak istri. Saya tahu ada beberapa gadis yang bertunangan dengan syarat setelah menikah, keduanya tinggal bersama orang tua sang istri. Itu keliru. Bila suami dan istri meninggalkan orang tua mereka masing-masing, barulah mereka memiliki kehidupan pernikahan yang wajar. Ini adalah ajaran dalam firman Allah.

Terakhir, dalam ayat 28 Paulus mengatakan bahwa suami harus mengasihi istrinya seperti mengasihi dirinya sendiri. Ia pun berkata, “Siapa yang mengasihi istrinya mengasihi dirinya sendiri.” Butir yang sama ini ditekankan lagi dalam ayat 33. Ini menunjukkan kedalaman kasih yang harus dimiliki seorang suami terhadap istrinya.


Sumber: Pelajaran-Hayat Efesus, Buku 3, Berita 52
March 21, 2013, 04:59:45 AM
Reply #29
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20198
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://arushayat.blogspot.com/
http://arushayat.blogspot.com/2013/03/efesus-minggu-26-kamis.html

21 March 2013
Efesus - Minggu 26 Kamis

Pembacaan Alkitab: kej. 2:18, 21-24


Dalam nasihatnya yang tercantum dalam pasal 5, rasul menampilkan gereja sebagai mempelai perempuan Kristus. Aspek ini mewahyukan gereja berasal dari Kristus, seperti halnya Hawa berasal dari Adam (Kej. 2:2122); gereja memiliki hayat dan sifat yang sama dengan Kristus, dan sebagai jodoh-Nya, bersatu dengan Dia, seperti Hawa yang menjadi satu daging dengan Adam (Kej. 2:24). Gereja sebagai manusia baru adalah suatu masalah anugerah dan realitas, sedang gereja sebagai mempelai perempuan Kristus adalah masalah kasih dan terang. Nasihat rasul dalam pasal 4 berfokus pada manusia baru dengan anugerah dan realitas sebagai unsur dasarnya. Tetapi pada pasal 5 fokus nasihatnya ialah mempelai perempuan Kristus dengan kasih dan terang sebagai substansi dasarnya. Dalam anugerah dan realitas kita harus hidup sebagai manusia baru, sedang dalam kasih dan terang kita harus bertindak sebagai mempelai perempuan Kristus.

Kejadian 2:24 menunjukkan bahwa seorang lelaki akan menjadi satu daging dengan istrinya. Kita tidak seharusnya menganggap sepasang suami istri sebagai dua persona yang terpisah, melainkan satu persona yang lengkap, seperti kedua belahan dari satuan yang utuh. Seorang suami dan seorang istri sebagai satu unit lengkap, adalah satu lukisan ajaib dari Kristus dan gereja, sebagai satu kesatuan.

Berhubung dalam alam semesta ciptaan Allah ini tidak ada jodoh atau pasangan bagi Kristus, maka Allah menyuruh Kristus mati di atas salib. Tatkala Ia “tidur” di sana, rusuk-Nya dibuka, dan mengalirkan darah dan air (Yoh. 19:34). Karena dalam Kejadian 2 masalah dosa belum ada, maka dalam pasal itu hanya tercatat tulang rusuk Adam saja yang diambil, sedikit pun tidak disinggung tentang darah. Tetapi dalam Yohanes 19 tercantum tentang darah bagi pemberesan problem dosa. Air melambangkan hayat Kristus yang mengalir, yakni hayat kekal, yang menghasilkan gereja. Hayat ini juga dilambangkan oleh rusuk itu. Menurut Yohanes 19, ketika Dia disalibkan, tidak ada sebatang pun tulang-Nya dipatahkan. Itu merupakan penggenapan nubuat Alkitab yang mengatakan, “Ia melindungi segala tulangnya, tidak satu pun yang patah” (Mzm. 34:21). Tulang Kristus yang tidak patah melambangkan hayat Kristus yang tidak terpatahkan. Maka rusuk Adam melambangkan hayat kekal Kristus yang tidak terpatahkan. Gereja justru dibangun menjadi mempelai perempuan dengan hayat kekal ini, yaitu menjadi jodoh yang disediakan bagi Kristus. Dalam pembangunan mempelai perempuan ini, Kristus memperoleh gereja sebagai pasangan atau jodoh bagi diri-Nya sendiri.

Kita telah menunjukkan bahwa Hawa memiliki hayat dan sifat yang serupa dengan yang dimiliki Adam. Itu melambangkan gereja memiliki hayat dan sifat yang serupa dengan yang dimiliki Kristus. Selain itu, bagaimana Hawa segambar dengan Adam, maka gereja pun segambar dengan Kristus. Lagi pula, perawakan Hawa pun sangat mirip dengan perawakan Adam, itu pun menunjukkan bahwa perawakan gereja sama dengan perawakan Kristus.


Sumber: Pelajaran-Hayat Efesus, Buku 3, Berita 53
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)