Author Topic: Arus Hayat  (Read 95745 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

January 28, 2020, 05:34:07 AM
Reply #2070
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26151
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://arushayat.blogspot.com/2020/

28 January 2020
Yohanes - Minggu 11 Selasa

Pembacaan Alkitab: Yoh. 9:4-13
Doa baca: “Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia.” (Yoh. 9:5)


Menerima Terang


Cara pertama yang perlu dilalui oleh manusia untuk menerima terang adalah melalui terang hayat. Penyebab kebutaan berasal dari tidak adanya terang hayat. Memiliki penglihatan menunjukkan kepada kita bahwa kita memiliki hayat karena terang Tuhan mencelikkan mata kita. Oleh sebab itu, orang yang buta memerlukan terang hayat, yakni Tuhan.

Cara kedua adalah melalui pengurapan Firman yang memberi hayat berbaur dengan sifat insani manusia. Yohanes 9:6 mengatakan, “Setelah Ia mengatakan semuanya itu, Ia meludah ke tanah, dan membuat lumpur dengan ludah itu, lalu mengoleskannya pada mata orang buta tadi”. Ludah dan lumpur dalam ayat ini adalah sebuah gambaran yang memiliki makna. “Lumpur” dalam Yohanes 9:6 dalam bahasa aslinya sama dengan “tanah liat” dalam Roma 9:21. Keduanya melambangkan sifat insani manusia. Di sisi lain, ludah sebagai sesuatu yang keluar dari mulut Allah merupakan perlambangan dari firman yang keluar dari mulut Allah (Mat. 4:4), firman yang adalah roh dan hayat (Yoh. 6:63). Mencampur ludah dengan tanah liat menyatakan membaurkan sifat insani dengan Firman Tuhan yang hidup.

Selanjutnya, kata “mengoleskan” menjadi bukti atas perbauran ini. Roh Tuhan adalah Roh yang mengurapi (Luk. 4:18; 2 Kor. 1:21-22; 1 Yoh. 2:27). Kita dikandung dari unsur tanah liat sementara esens Tuhan ada di dalam firman yang keluar dari mulut-Nya. Kita dahulu adalah orang dosa, tetapi ketika kita mendengar dan menerima Injil, Firman Tuhan masuk ke dalam kita yang adalah manusia tanah liat. Kita menerima sesuatu yang keluar dari mulut Tuhan dan berbaur dengan firman tersebut. Perbauran keilahian dengan keinsanian merupakan minyak urapan yang paling mujarab di seluruh bumi. Tuhan mengolesi mata orang buta dengan tanah liat yang dibaurkan dengan ludah-Nya menunjukkan bahwa ini adalah pengurapan Roh hayat yang dengannya kita dapat dibebaskan dari kebutaan.


Sumber: Pelajaran-Hayat Yohanes, Buku 2, Berita 21



January 29, 2020, 05:53:53 AM
Reply #2071
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26151
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://arushayat.blogspot.com/2020/

29 January 2020
Yohanes - Minggu 11 Rabu

Pembacaan Alkitab: Yoh. 9:14-41
Doa baca: “Kata Yesus kepadanya, 'Engkau bukan saja melihat Dia; tetapi Dia yang sedang berkata-kata dengan engkau, Dialah itu!' Katanya, 'Aku percaya, Tuhan!' Ia pun sujud menyembah-Nya.” (Yoh. 9:37-38)


Ketaatan kepada Firman Hayat


Kita telah melihat bagaimana orang buta tersebut diolesi dengan tanah liat dan menjadi lebih buta dari sebelumnya. Tuhan berkata kepadanya, “Pergilah, basuhlah dirimu dalam kolam Siloam,” (Yoh. 9:7). Orang itu pergi membasuh dirinya dan ia kembali dapat melihat. Membasuh melambangkan kita membersihkan sifat insani kita yang lama. Pembasuhan ini menyatakan bahwa ia menantikan firman pemberi-hayat Tuhan. Ia taat kepada pengurapan yang dari Tuhan. Cara ketiga untuk menerima terang adalah dengan taat kepada firman hayat dan membasuh bersih keinsanian yang usang. Walaupun telah dibaptis untuk mengakhiri manusia lama, kita masih perlu menerapkan pembasuhan setiap hari atas diri kita.

Ada tiga langkah yang harus kita ambil untuk mata kita bisa melihat. Pertama, harus menerima Firman Tuhan sebagai perkataan yang keluar dari mulut Allah dan diri kita dibaurkan dengan Tuhan dalam firman-Nya. Kedua, menerima firman-Nya menghasilkan pengurapan. Ketiga, pengurapan diikuti dengan tuntutan untuk menaruh manusia lama kita dalam kematian. Setelah langkah-langkah ini kita ambil, penglihatan kita akan dipulihkan, dan kita akan menerima terang. Inilah prinsip pengubahan kematian menjadi hayat.

Memperoleh penglihatan mengharuskan kita untuk bersiap menghadapi penganiayaan yang berasal dari agamawan yang berada dalam kebutaan. Tetapi, puji Tuhan karena Yesus menerima dan menyelamatkan orang buta yang ditolak oleh agama. Bagaimana seseorang bersikap menentukan bagaimana sikap Tuhan kepadanya. Jika seseorang bersikap sombong seperti orang Farisi yang berada dalam kebutaan dan kegelapan agama, Tuhan akan datang sebagai hakim baginya. Di sisi lain, jika kita mau dipulihkan dan percaya seperti orang yang buta, Ia akan datang sebagai Juruselamat kita.


Sumber: Pelajaran-Hayat Yohanes, Buku 2, Berita 21



January 30, 2020, 06:02:27 AM
Reply #2072
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26151
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://arushayat.blogspot.com/2020/

30 January 2020
Yohanes - Minggu 11 Kamis

Pembacaan Alkitab: Yoh. 10:1-9
Doa baca: “Akulah pintu; siapa saja yang masuk melalui Aku, ia akan diselamatkan dan ia akan masuk dan keluar serta menemukan padang rumput.” (Yoh. 10:9)


Penggembalaan Hayat


Yohanes 10 adalah kelanjutan dari Yohanes 9. Kedua pasal ini berpusat pada catatan mengenai perkara orang yang buta sejak lahirnya. Setelah peristiwa penyembuhan orang buta yang diusir dari rumah ibadah orang Yahudi, Tuhan mengatakan perumpamaan tentang kandang domba. Kandang domba melambangkan hukum Taurat dalam Perjanjian Lama. Galatia 3:23-26 mewahyukan bahwa hukum Taurat berfungsi sebagai pengawalan (pengurungan) sebelum iman dalam Kristus datang, Kandang hanya dipakai sementara untuk menjaga dan melindungi domba-domba sampai padang rumputnya siap. Ini menunjukkan bahwa Kristuslah sebenarnya padang rumput, tempat tinggal yang permanen bagi anak-anak Allah.

Domba adalah umat pilihan yang telah ditetapkan oleh Allah sejak zaman kekekalan yang lampau. Pintu adalah lambang dari Kristus yang berfungsi untuk “keluar” dan untuk “masuk.” Ia adalah pintu untuk umat Perjanjian Lama masuk ke dalam hukum Taurat, tetapi Ia juga adalah pintu bagi umat Perjanjian Baru untuk keluar dari hukum Taurat dan beralih kepada kenikmatan padang rumput. Hukum Taurat telah mengurung umat Allah, karena itu, mereka perlu keluar dari kandang dan masuk ke dalam Kristus sebagai padang rumput untuk menikmati kekayaan-Nya

Mula-mula, Tuhan adalah pintu; lalu gembala; dan akhirnya, padang rumput. Gembala membawa semua domba keluar dari kandang melalui diri-Nya sebagai pintu dan membawa mereka kepada-Nya sebagai padang rumput. Dialah yang membawa domba-domba keluar dari kandang. Dialah pintu yang melalui-Nya domba-domba dibawa keluar. Dia pun adalah padang rumput tempat domba-domba dibawa. Dialah realitas dari pintu, gembala, dan padang rumput. Hari ini, kita bisa terus menikmati Dia sebagai padang rumput yang sejati.


Sumber: Pelajaran-Hayat Yohanes, Buku 2, Berita 22



January 31, 2020, 06:19:49 AM
Reply #2073
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26151
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://arushayat.blogspot.com/2020/

31 January 2020
Yohanes - Minggu 11 Jumat

Pembacaan Alkitab: Yoh. 10:10-30
Doa baca: “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya.” (Yoh. 10:11)


Sang Gembala yang Merawat


Kandang hanyalah tempat sementara, sedangkan padang rumput adalah tempat yang terakhir dan permanen. Padang rumput tidak berada di dalam kandang. Karena itu, untuk menikmati padang rumput, kita perlu keluar dari kandang. Kita perlu dilepaskan dari hukum Taurat dan mengikuti Gembala kita yang adalah Kristus, untuk berjalan ke luar kandang yaitu ke padang rumput. Puji Tuhan, Kristus juga menjadi pintu dan padang rumput yang menyuplaikan hayat-Nya kepada domba-domba-Nya. Cara yang harus Ia tempuh untuk menyuplaikan hayat-Nya adalah dengan menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya.

Yohanes 10:10 mengatakan, “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dengan berlimpah-limpah.” Kata “hidup” pada ayat ini dalam bahasa aslinya adalah “zoe” yang mengacu kepada hayat yang kekal dan ilahi. Dalam ayat 11, Ia mengatakan, “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawa-Nya bagi domba-dombanya.” Kata “hidup” pada ayat ini dalam bahasa aslinya adalah “psuche” yang berarti adalah jiwa, hayat jiwa, yakni hayat insani. Guna menggenapkan penebusan bagi domba-Nya, Dia memberikan nyawa-Nya supaya domba-domba-Nya dapat berbagian dalam hayat Allah supaya domba-domba ini menjadi satu kawanan di bawah Kristus sang Gembala.

Gembala, hayat ilahi, dan hayat insani adalah bagi kawanan. Kawanan sekarang adalah gereja—kaum beriman Yahudi dan bukan Yahudi. Hari ini, satu kawanan adalah lambang dari satu gereja, yakni satu Tubuh Kristus. Satu Tubuh Kristus berada di bawah pimpinan sang Gembala yang adalah sang Kepala Tubuh. Agar kita bisa saling menerima dan dapat digabungkan, Ia memberikan hayat ilahi-Nya kepada kita. Kita tidak lagi dihukum dan terpecah belah dalam hayat insani. Hayat ilahi adalah bagi kehidupan kita guna memiliki kehidupan gereja yang esa dan saling mengasihi.


Sumber: Pelajaran-Hayat Yohanes, Buku 2, Berita 22




February 01, 2020, 06:16:07 AM
Reply #2074
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26151
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://arushayat.blogspot.com/2020/

01 February 2020
Yohanes - Minggu 11 Sabtu

Pembacaan Alkitab: Yoh. 10:30-42
Doa baca: “Aku dan Bapa adalah satu.” (Yoh. 10:30)


Kristus sebagai Segala Sesuatu


Hayat yang kekal adalah untuk kehidupan kaum beriman. Tangan Bapa, yang dengannya Ia memilih di dalam kasih-Nya menurut tujuan-Nya (Yoh. 17:23; 6:38-39), dan tangan Putra, yang dengannya Ia menyelamatkan menurut anugerah-Nya, guna merampungkan kehendak Bapa (1:14; 6:37), keduanya memiliki kekuatan pemeliharaan yang melindungi kaum beriman. Hayat yang kekal tidak akan layu selama-lamanya, tangan Bapa dan Putra selamanya tidak akan gagal. Itulah sebabnya kaum beriman teguh (terjamin) dan tidak akan binasa selamanya. Ketika tangan Bapa dan tangan Putra memeluk kita, Iblis tidak lagi memiliki daya apa-apa. Kita memiliki kehidupan yang ilahi dan mahakuasa.

Yohanes 10:30 mengatakan, “Aku dan Bapa adalah satu.” Di sini, Tuhan dengan jelas menegaskan keilahian-Nya dan bahwa Dia adalah Allah. Akhirnya, banyak orang Yahudi menganggap Yesus menghujat Allah. Mereka berusaha melindungi apa yang mereka percaya namun sebenarnya mereka juga tidak percaya. Inilah yang membuat mereka menganiaya Tuhan Yesus. Tuhan Yesus meninggalkan agama Yahudi dan mengambil kedudukan yang baru bagi Perjanjian Baru. Kita pun bersama dengan-Nya dalam kedudukan yang baru ini, berada di dalam padang rumput. Kedudukan yang baru adalah Kristus sebagai segala sesuatu bagi umat Allah. Dalam Yohanes 10:41-42, banyak orang datang kepada-Nya dan percaya kepada-Nya. Hal ini membuktikan bahwa banyak orang mengikuti Dia seperti domba yang mengikuti gembala.

Yohanes 10 adalah kesimpulan dari peristiwa orang buta yang disembuhkan. Sebelum Kristus datang, semua orang pilihan Allah ada di dalam kandang. Kini, Kristus telah datang. Zaman dalam kandang telah lewat. Kita harus meninggalkan kandang agar dapat datang kepada Kristus. Ini saat bagi kita untuk menerima Kristus sebagai padang rumput dan menikmati Dia sebagai segala sesuatu kita. Di mana ada padang rumput, ada kebebasan, juga ada suplai hayat. Kita harus hidup di dalam-Nya dan mengambil Dia sebagai segala sesuatu kita.


Sumber: Pelajaran-Hayat Yohanes, Buku 2, Berita 22




February 02, 2020, 04:26:15 AM
Reply #2075
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26151
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://arushayat.blogspot.com/2020/

01 February 2020
Yohanes - Minggu 11 Sabtu

Pembacaan Alkitab: Yoh. 10:30-42
Doa baca: “Aku dan Bapa adalah satu.” (Yoh. 10:30)


Kristus sebagai Segala Sesuatu


Hayat yang kekal adalah untuk kehidupan kaum beriman. Tangan Bapa, yang dengannya Ia memilih di dalam kasih-Nya menurut tujuan-Nya (Yoh. 17:23; 6:38-39), dan tangan Putra, yang dengannya Ia menyelamatkan menurut anugerah-Nya, guna merampungkan kehendak Bapa (1:14; 6:37), keduanya memiliki kekuatan pemeliharaan yang melindungi kaum beriman. Hayat yang kekal tidak akan layu selama-lamanya, tangan Bapa dan Putra selamanya tidak akan gagal. Itulah sebabnya kaum beriman teguh (terjamin) dan tidak akan binasa selamanya. Ketika tangan Bapa dan tangan Putra memeluk kita, Iblis tidak lagi memiliki daya apa-apa. Kita memiliki kehidupan yang ilahi dan mahakuasa.

Yohanes 10:30 mengatakan, “Aku dan Bapa adalah satu.” Di sini, Tuhan dengan jelas menegaskan keilahian-Nya dan bahwa Dia adalah Allah. Akhirnya, banyak orang Yahudi menganggap Yesus menghujat Allah. Mereka berusaha melindungi apa yang mereka percaya namun sebenarnya mereka juga tidak percaya. Inilah yang membuat mereka menganiaya Tuhan Yesus. Tuhan Yesus meninggalkan agama Yahudi dan mengambil kedudukan yang baru bagi Perjanjian Baru. Kita pun bersama dengan-Nya dalam kedudukan yang baru ini, berada di dalam padang rumput. Kedudukan yang baru adalah Kristus sebagai segala sesuatu bagi umat Allah. Dalam Yohanes 10:41-42, banyak orang datang kepada-Nya dan percaya kepada-Nya. Hal ini membuktikan bahwa banyak orang mengikuti Dia seperti domba yang mengikuti gembala.

Yohanes 10 adalah kesimpulan dari peristiwa orang buta yang disembuhkan. Sebelum Kristus datang, semua orang pilihan Allah ada di dalam kandang. Kini, Kristus telah datang. Zaman dalam kandang telah lewat. Kita harus meninggalkan kandang agar dapat datang kepada Kristus. Ini saat bagi kita untuk menerima Kristus sebagai padang rumput dan menikmati Dia sebagai segala sesuatu kita. Di mana ada padang rumput, ada kebebasan, juga ada suplai hayat. Kita harus hidup di dalam-Nya dan mengambil Dia sebagai segala sesuatu kita.


Sumber: Pelajaran-Hayat Yohanes, Buku 2, Berita 22

February 03, 2020, 09:28:35 AM
Reply #2076
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26151
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://arushayat.blogspot.com/2020/

03 February 2020
Yohanes - Minggu 12 Senin

Pembacaan Alkitab: Yoh. 11:1-4
Doa baca: “Tetapi ketika Yesus mendengar kabar itu, Ia berkata, 'Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, supaya melalui penyakit itu Anak Allah dimuliakan.'” (Yoh. 11:4)


Agama adalah Musuh Hayat


Ketika seorang Lazarus yang telah mati, telah dikuburkan selamat empat hari dan mulai membusuk dibangkitkan oleh Tuhan, bukan main adalah sebuah peristiwa yang ajaib! Namun kenapa perihal kebangkitan Lazarus tidak disebutkan dalam ketiga kitab Injil lainnya? Kita perlu melihat bahwa Injil Yohanes berfokus pada perihal hayat, tidak seperti ketiga kitab Injil lainnya. Orang mati (Yoh. 11:1-4) tidak memerlukan penyembuhan melainkan kebangkitan.

Injil Yohanes mewahyukan bahwa Kristus datang sebagai hayat kita, ini adalah di aspek positif. Sedangkan di aspek negatif, Yohanes menunjukkan bahwa agama menentang Kristus sebagai hayat. Hingga pasal 10, Tuhan dipaksa untuk meninggalkan agama, Bait Allah, kota kudus, dan semua barang yang baik dari agama lalu datang pada kedudukan yang baru. Dalam pasal 1 yang dibahas minggu ini, kita melihat agama sedang mengharapkan kedatangan seorang pemimpin besar. Tetapi sebaliknya, Kristus datang sebagai burung merpati kecil untuk menghasilkan batu-batu yang diubah bagi pembangunan Allah. Pasal 2 menunjukkan bahwa agama berusaha untuk menghancurkan hayat, pasal 3 menunjukkan bahwa orang yang luhur memiliki konsep agama, bahkan seorang perempuan yang hina, amoral pun mempunyai konsep agama. Sehingga dalam pasal 5, agama dengan lebih giat menentang Tuhan – menunjukkan bahwa hayat dan agama beserta peraturannya tidak pernah selaras. Konsep agama hendak menjadikan Dia raja (6:15). Pada akhir pasal 10, Tuhan Yesus berjalan dari kandang agama Yahudi. Hendaknya ketika kita memasuki Injil Yohanes, kita dengan jelas melihat bahwa Tuhan Sang Hayat tidak hanya bertentangan dengan agama, namun dalam kedudukan-Nya yang baru, tidak ada satu pun unsur agama.


Sumber: Pelajaran-Hayat Yohanes, Buku 2, Berita 23



February 04, 2020, 07:18:23 AM
Reply #2077
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26151
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://arushayat.blogspot.com/2020/

04 February 2020
Yohanes - Minggu 12 Selasa

Pembacaan Alkitab: Yoh. 11:3-16
Doa baca: “Kedua perempuan itu pun mengirim kabar kepada Yesus, 'Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit.'” (Yoh. 11:3)


Opini adalah Musuh Hayat


Setelah di luar kandang agama, Tuhan pergi ke sebuah rumah di Betania, di mana tinggal seorang saudara dan dua orang saudari yang sangat mengasihi Tuhan. Yohanes 11 menunjukkan lebih lanjut kepada kita bahwa selain agama, opini manusia juga merupakan penghalang terbesar hayat. Dalam pasal ini khususnya adalah kuasa kebangkitan Tuhan. Ketika Lazarus akan meninggal, setelah mengirim kabar (Yoh. 11:3), Marta dan Maria mengira Tuhan akan segera datang, inilah opini mereka. Namun Tuhan bekerja tidak pernah karena opini manusia – Tuhan sengaja tinggal lagi selama dua hari. Tuhan adalah kebangkitan, perihal hidup atau mati bukanlah masalah bagi-Nya. Dalam penerapannya, kita mendapat masalah dari opini manusia.

Dalam kedaulatan-Nya, Allah menyediakan lingkungan yang membiarkan Lazarus, pengikut-Nya meninggal. Hal ini supaya kita dapat melihat bahwa Tuhan adalah kebangkitan. Tanpa adanya kematian, tidak ada jalan bagi kebangkitan untuk dapat ternyata. Bila nampak kedaulatan-Nya, kita seharusnya memuji Tuhan atas kematian Lazarus. Yohanes 11:8-15 menunjukkan murid-murid-Nya heran karena Tuhan menunda kepergian-Nya kepada Lazarus. Mereka memberi tahu Tuhan bahwa berbahaya bila Tuhan pergi mengunjungi Lazarus karena orang-orang Yahudi berusaha melempari Dia dengan batu (11:8). Bagaimanapun, Tuhan tetap pergi sehingga akhirnya murid-murid pun setuju mengikuti Dia, bahkan dengan sikap siap untuk mati martir (11:16).

Ketika Tuhan datang, Marta yang menjumpai-Nya lebih dulu membuka mulut dan beropini (11:21). Ia menyesali Tuhan terlalu lambat datang, bahkan menanggapi perkataan Tuhan dengan menyimpang (11:24). Puji Tuhan, dalam perikop tersebut, Tuhan mewahyukan diri-Nya sebagai kebangkitan dan hayat. Kita perlu sadar, bahwa tidak jarang kita juga seperti Marta, pengetahuan kita menghalangi kita mengenal bahwa Tuhan adalah kebangkitan dan hayat.


Sumber: Pelajaran-Hayat Yohanes, Buku 2, Berita 23



February 05, 2020, 05:41:26 AM
Reply #2078
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26151
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://arushayat.blogspot.com/2020/

05 February 2020
Yohanes - Minggu 12 Rabu

Pembacaan Alkitab: Yoh. 11:20-40
Doa baca: “Kata Yesus kepada Marta, 'Saudaramu akan bangkit.'” (Yoh. 11:23)


Kerjasama bagi Kebangkitan


Marta dalam Yohanes 11 seperti juga kebanyakan orang Kristen hari ini, memiliki banyak pengetahuan dan doktrin. Ia berkata, “Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman.” Memang perkataannya terdengar alkitabiah dan tepat. Tuhan lebih lanjut berkata apakah Marta percaya bahwa Ia akan membangkitkan Lazarus, Marta menjawab, “Aku percaya bahwa Engkaulah Mesias (Kristus), Anak Allah.” Ia percaya suatu doktrin bahwa Tuhan adalah Kristus dan Anak Allah. Semua opini Marta tidak lain berasal dari pengetahuan-pengetahuan yang dia miliki. Ketika kita punya banyak pengajaran, maka kita dengan mudah mengungkapkan opini-opini kita. Bahkan Marta berkata kepada Maria, “Guru ada di sana dan Ia memanggil engkau.” Padahal dalam perikop tersebut tidak tertulis perihal Tuhan memanggil Maria. Tidak hanya Marta, Maria pun menyesali Tuhan (11:32). Tuhan tidak membantah mereka, namun juga tidak menerima opini mereka. Mereka tidak mengerti bahwa asal ada Tuhan, semuanya akan beres. Orang-orang Yahudi pun beropini – mengira Tuhan menangis (11:35) karena kasih-Nya terhadap Lazarus. Semua opini berasal dari pikiran manusia, milik pohon pengetahuan yang berlawanan dengan hayat.

Membaca kisah di atas, kita mengenal bahwa Tuhan sebagai kebangkitan sanggup dan mau memberikan hayat-Nya. Namun tanpa manusia bekerjasama, melepaskan opini-opini mereka, membiarkan Tuhan berbicara, Tuhan tidak dapat berbuat apapun. Sebagai saudara-saudari di dalam gereja lokal kita perlu belajar, melihat kembali apakah dalam doa, kita meminta menurut opini kita? Kita perlu belajar menyerahkan opini kita ke dalam pertimbangan-Nya. Ketika Tuhan menyuruh kita mengangkat “batu” itu, kita perlu mengangkatnya! Kita sangat perlu firman-Nya dalam doa-doa kita, sehingga dalam doa, kita dapat mengalami kebangkitan, pengubahan maut menjadi hayat. Dialah kebangkitan dan juga hayat!


Sumber: Pelajaran-Hayat Yohanes, Buku 2, Berita 23



February 06, 2020, 05:52:23 AM
Reply #2079
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26151
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://arushayat.blogspot.com/2020/

06 February 2020
Yohanes - Minggu 12 Kamis

Pembacaan Alkitab: Yoh. 11:36-44
Doa baca: “Mereka pun mengangkat batu itu. Lalu Yesus menengadah ke atas dan berkata, "Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku.” (Yoh. 11:41)


Kristus sebagai Hayat Kebangkitan


Dengan memperhatikan tanda-tanda ajaib dalam Injil Yohanes, kita dapat menyadari bahwa mula-mula Tuhan datang kepada kita sebagai hayat. Kategori pertama dari gangguan yang dialami-Nya adalah agama Yahudi, dan kategori kedua adalah opini yang diajukan oleh mereka yang mengasihi-Nya. Di luar gereja, agamalah yang mencegah Tuhan menjadi hayat. Tetapi di dalam gereja, opini manusialah yang tak henti-hentinya menghalangi Dia untuk menjadi hayat kita. Pengalaman terhadap Tuhan sebagai hayat kita dimulai dengan kelahiran kembali dan mencapai puncaknya pada kebangkitan.

Tuhan Yesus berkata, “Akulah kebangkitan dan hidup” (Yoh. 11:25). Kebangkitan lebih unggul daripada hayat. Hayat hanya bisa mempertahankan eksistensinya, tetapi kebangkitan dapat menahan segala macam serangan, bahkan serangan kematian. Tuhan bukan hanya hayat, tetapi juga kebangkitan. Hanya diri Tuhan sendirilah sebagai kebangkitan yang dapat mengalahkan kematian. Karena Dia adalah kebangkitan, Dia dapat menghancurkan kuasa kematian. Bahkan alam maut tidak dapat mengurung Tuhan kita dalam kubur.

Kita harus belajar bagaimana menerapkan hayat kebangkitan ini hari demi hari. Kita tidak seharusnya hidup hanya berdasarkan Tuhan sebagai hayat, tetapi juga harus menang oleh Tuhan sebagai kebangkitan. Tidak ada sesuatu pun yang dapat mengurung kita, karena kita memiliki Tuhan sebagai hayat kebangkitan kita. Tak peduli tekanan dan persoalan apa pun yang kita tanggung, kita tidak akan mati, karena kita mempunyai hayat kebangkitan.

Opini manusia selalu menjadi penghalang dalam hal mengalami Tuhan sebagai hayat kebangkitan dalam gereja. Sebab itu, opini manusia harus terlebih dulu disingkirkan, baru kita bisa memiliki hidup gereja. Kita hanya menyerahkan seluruh perkara ke tangan Tuhan. Dengan demikian, kita tidak akan pernah salah.


Sumber: Pelajaran-Hayat Yohanes, Buku 2, Berita 24


 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)