Author Topic: Arus Hayat  (Read 91107 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

February 20, 2020, 05:58:48 AM
Reply #2090
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 25175
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://arushayat.blogspot.com/2020/

20 February 2020
Yohanes - Minggu 14 Kamis

Pembacaan Alkitab: Yoh. 13:12-17
Doa baca: “Jadi jikalau Aku, Tuhan dan Gurumu, membasuh kakimu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu.” (Yoh. 13:14)


Saling Membasuh Kaki Antar Orang Beriman


Kita tidak saja perlu pembasuhan kaki yang dilakukan langsung oleh Tuhan sendiri, tetapi juga perlu saling membasuh kaki. Kita harus membasuh kaki seorang dengan yang lain melalui pelayanan pekerjaan ROH KUDUS, terang firman, dan pergerakan hayat yang di dalam.

Ketika Tuhan membasuh kaki murid-murid, Ia menanggalkan jubah-Nya. Jubah melambangkan kebajikan dan atribut-Nya dalam ekspresi-Nya. Demikian juga, bila kita hendak membasuh kaki orang lain, kita perlu mengesampingkan pencapaian kita, kebajikan, dan atribut kita. Hari ini, banyak orang yang sangat rohani, tetapi juga sombong. Mereka bangga atas kerohanian mereka dan memandang rendah orang lain, mengira bahwa orang lain belum pernah nampak visi surgawi atau mengenal sesuatu yang rohani. Inilah kesombongan. Kalau kita bersikap sombong demikian, kita takkan dapat membantu orang lain. Kita harus menanggalkan jubah kita, mengesampingkan semua tingkat kerohanian, dan menjadi sederhana dan biasa.

Menanggalkan jubah kita dan merendahkan diri kita untuk membasuh kaki orang lain bukanlah suatu perkara yang mudah. Seaindainya seseorang menyakiti kita, kita selalu menganggap diri kita lebih tinggi daripada orang itu. Di sinilah letak kesukarannya. Kita perlu menanggalkan jubah kita, merendahkan taraf kita, dan turun dari takhta kita.

Kita tidak saja perlu menanggalkan jubah sukses kita, kita juga perlu diikat dengan kain. Ini berarti kita harus diikat, kita harus kehilangan kebebasan kita. Kaki dibasuh dengan air dan diusap oleh kain yang Tuhan pakai untuk mengikat diri-Nya. Dengan kata lain, semakin kita mau diikat untuk kepentingan orang lain, kita akan semakin dapat melayani orang lain, dan membasuh kaki mereka. Inilah pembasuhan kaki secara rohani, yakni menanggalkan sukses kita, diikat, dan kehilangan kebebasan kita. Dengan demikian, kita dapat melayani saudara saudari.


Sumber: Pelajaran-Hayat Yohanes, Buku 2, Berita 28




February 21, 2020, 05:59:23 AM
Reply #2091
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 25175
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


http://arushayat.blogspot.com/2020/

21 February 2020
Yohanes - Minggu 14 Jumat

Pembacaan Alkitab: Yoh. 13:12-17
Doa baca: “Sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.” (Yoh. 13:15)


Pembasuhan Kaki dalam Hidup Gereja


Dalam kehidupan keluarga, orang yang paling banyak bekerja, paling banyak terkena kotoran. Fakta yang sama ini terdapat pula dalam hidup gereja. Semakin berat tanggung jawab kita, semakin banyak pula kotoran yang melekat kepada kita, karena semakin banyak orang yang harus kita hubungi. Semakin kita terlibat dalam kepempimpinan, kita tidak dapat menghindar dari menjamah situasi-situasi tertentu dan berbicara kepada orang-orang tertentu. Orang-orang yang mempunyai masalah akan mendatangi kita, bahkan sampai berkali-kali dan tidak mau meninggalkan kita. Hal sedemikian dapat membuat kita marah dan menjadi kotor. Maka, perlu ada sebuah pembasuhan kaki.

Pembasuhan kaki memerlukan sejumlah besar hayat untuk menyuplai orang lain. Ingatlah, pembasuhan kaki adalah dengan air, bukan dengan darah. Air berarti Roh, firman hayat, dan hayat yang di dalam. Kalau kita dipenuhi dengan air hayat, secara otomatis kita akan membasuh kaki orang lain begitu kita berada bersama mereka, bahkan tanpa kita sadari. Dalam prinsip yang sama, ketika kita bersama dengan kaum beriman yang penuh dengan air hidup, kaki kita akan terbasuh. Dengan demikian, kita akan dibawa ke dalam persekutuan yang menyenangkan. Betapa kita perlu hal ini! Di antara kita perlu banyak orang yang penuh dengan air hidup yang dapat membasuh orang lain.

Persekutuan satu sama lain dapat dipertahankan hanya melalui adanya pembasuhan kaki di dalam kasih kepada orang lain. Ini sangatlah riil untuk mempertahankan kehidupan gereja. Tanpa pembasuhan kaki rohani, kehidupan gereja tak dapat dipertahankan karena persekutuan bisa dirusak oleh sentuhan dunia. Jadi, di satu pihak, setiap hari perlu pembasuhan kaki oleh Tuhan sendiri; di pihak lain, perlu saling membasuh di antara kaum beriman. Demikian, kita dapat memelihara kehidupan gereja senantiasa segar, menyenangkan, dan lincah.


Sumber: Pelajaran-Hayat Yohanes, Buku 2, Berita 28


February 22, 2020, 07:43:33 AM
Reply #2092
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 25175
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://arushayat.blogspot.com/2020/

22 February 2020
Yohanes - Minggu 14 Sabtu

Pembacaan Alkitab: Yoh. 13:18-38
Doa baca: “Sesudah Yudas pergi, berkatalah Yesus, 'Sekarang Anak Manusia dimuliakan dan Allah dimuliakan di dalam Dia.” (Yoh. 13:31)


Kebangkitan-Nya Membebaskan Unsur Ilahi


Sekalipun pembasuhan kaki adalah untuk persekutuan dalam hayat, tetapi tidak demikian dengan Yudas. Ia dibasuh, namun ia tak pernah di dalam persekutuan, sebab ia seorang murid yang palsu (Yoh. 13:18-31a). Sejak awal ia tidak dalam persekutuan dengan Tuhan, dan ia tak pernah berada di dalamnya, sekalipun ia dibasuh berkali-kali (Yoh. 13:10-11). Ini memperingatkan kita bahwa pembasuhan kaki yang riil hanyalah bagi orang yang murni dalam persekutuan dengan Tuhan.

Setelah pembasuhan kaki, Tuhan akan menerima kematian. Karena itu, Ia berkata, “Sekarang Anak Manusia dimuliakan” (Yoh. 13:31). Bagi-Nya, dimuliakan adalah membebaskan unsur ilahi-Nya dari dalam insani-Nya melalui kematian dan kebangkitan. Di sini Tuhan juga berkata, “Allah dimuliakan di dalam Dia” (Yoh. 13:31). Ini berarti Allah Bapa dimuliakan di dalam kemuliaan Anak, yaitu unsur ilahi-Nya dibebaskan dalam Anak. Allah Bapa dimuliakan di dalam Anak secara demikian, dan Ia pun akan memuliakan Anak dalam diri-Nya dan Ia akan segera melakukannya (Yoh. 13:32).

Pada saat itu, Tuhan sudah siap untuk menderita kematian di salib, tetapi murid-murid-Nya belum diperlengkapi untuk mengikuti Dia dalam penderitaan-Nya. Karena itu, Tuhan berkata kepada Petrus bahwa ia tak dapat mengikuti Dia sekarang ini (Yoh. 13:36-37), karena Petrus belum menerima hayat kebangkitan. Petrus mau tinggal di dalam persekutuan dengan Tuhan, tetapi ketika Tuhan sedang dihakimi, Petrus menyangkal Tuhan tiga kali dan gagal. Petrus tidak memiliki kekuatan untuk tinggal di dalam persekutuan karena sebelum kebangkitan, hayat kebangkitan-Nya belum disalurkan ke dalamnya. Setelah Ia menyalurkan diri-Nya sebagai hayat kebangkitan, barulah Petrus dapat mengikuti-Nya (Yoh. 13:36; 21:18-19). Untuk berada dalam persekutuan Tuhan yang dipertahankan oleh pembasuhan kaki, kita memerlukan kekuatan hayat kebangkitan, bukan berdasar manusia alamiah.


Sumber: Pelajaran-Hayat Yohanes, Buku 2, Berita 28




February 23, 2020, 04:53:11 AM
Reply #2093
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 25175
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://arushayat.blogspot.com/2020/

22 February 2020
Yohanes - Minggu 14 Sabtu

Pembacaan Alkitab: Yoh. 13:18-38
Doa baca: “Sesudah Yudas pergi, berkatalah Yesus, 'Sekarang Anak Manusia dimuliakan dan Allah dimuliakan di dalam Dia.” (Yoh. 13:31)


Kebangkitan-Nya Membebaskan Unsur Ilahi


Sekalipun pembasuhan kaki adalah untuk persekutuan dalam hayat, tetapi tidak demikian dengan Yudas. Ia dibasuh, namun ia tak pernah di dalam persekutuan, sebab ia seorang murid yang palsu (Yoh. 13:18-31a). Sejak awal ia tidak dalam persekutuan dengan Tuhan, dan ia tak pernah berada di dalamnya, sekalipun ia dibasuh berkali-kali (Yoh. 13:10-11). Ini memperingatkan kita bahwa pembasuhan kaki yang riil hanyalah bagi orang yang murni dalam persekutuan dengan Tuhan.

Setelah pembasuhan kaki, Tuhan akan menerima kematian. Karena itu, Ia berkata, “Sekarang Anak Manusia dimuliakan” (Yoh. 13:31). Bagi-Nya, dimuliakan adalah membebaskan unsur ilahi-Nya dari dalam insani-Nya melalui kematian dan kebangkitan. Di sini Tuhan juga berkata, “Allah dimuliakan di dalam Dia” (Yoh. 13:31). Ini berarti Allah Bapa dimuliakan di dalam kemuliaan Anak, yaitu unsur ilahi-Nya dibebaskan dalam Anak. Allah Bapa dimuliakan di dalam Anak secara demikian, dan Ia pun akan memuliakan Anak dalam diri-Nya dan Ia akan segera melakukannya (Yoh. 13:32).

Pada saat itu, Tuhan sudah siap untuk menderita kematian di salib, tetapi murid-murid-Nya belum diperlengkapi untuk mengikuti Dia dalam penderitaan-Nya. Karena itu, Tuhan berkata kepada Petrus bahwa ia tak dapat mengikuti Dia sekarang ini (Yoh. 13:36-37), karena Petrus belum menerima hayat kebangkitan. Petrus mau tinggal di dalam persekutuan dengan Tuhan, tetapi ketika Tuhan sedang dihakimi, Petrus menyangkal Tuhan tiga kali dan gagal. Petrus tidak memiliki kekuatan untuk tinggal di dalam persekutuan karena sebelum kebangkitan, hayat kebangkitan-Nya belum disalurkan ke dalamnya. Setelah Ia menyalurkan diri-Nya sebagai hayat kebangkitan, barulah Petrus dapat mengikuti-Nya (Yoh. 13:36; 21:18-19). Untuk berada dalam persekutuan Tuhan yang dipertahankan oleh pembasuhan kaki, kita memerlukan kekuatan hayat kebangkitan, bukan berdasar manusia alamiah.


Sumber: Pelajaran-Hayat Yohanes, Buku 2, Berita 28



February 24, 2020, 05:52:12 AM
Reply #2094
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 25175
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://arushayat.blogspot.com/2020/

24 February 2020
Yohanes - Minggu 15 Senin

Pembacaan Alkitab: Yoh. 14:1-6
Doa baca: “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.” (Yoh. 14:1)


Dua Butir Utama Injil Yohanes


Injil Yohanes mewahyukan dua butir utama: pertama, Tuhan datang untuk menjadi hayat kita; kedua, Tuhan akan membangun kita bersama dalam keesaan dengan diri-Nya dengan Allah. Ketika kita menerima Tuhan sebagai hayat, Tuhan sebagai Roh akan membangun kita bersama menjadi satu dalam Allah Tritunggal. Injil ini dibagi menjadi dua bagian utama. Bagian pertama menunjukkan kedatangan Tuhan untuk membuat manusia menerima Dia sebagai hayat. Bagian kedua menunjukkan kepergian Tuhan untuk membangun kita ke dalam Allah.

Bagian pertama Injil Yohanes terdiri dari pasal 1—13 yang menunjukkan bagaimana Kristus sebagai Firman kekal datang melalui inkarnasi, membawa Allah ke dalam manusia menjadi hayat dan suplai manusia. Bagian kedua Injil Yohanes terdiri dari pasal 14—21 adalah suatu ulangan, perkembangan dari apa yang diwahyukan dalam 13 pasal sebelumnya. Sampai akhir pasal 13, kedatangan-Nya sebagai hayat untuk menjadi segala sesuatu bagi manusia hanya sebagai satu wahyu. Bagian kedua adalah perkembangan penuh dari wahyu yang terdapat dalam bagian pertama. Pasal 14—21 menunjukkan Kristus yang tersalib dan Kristus yang bangkit. Dalam penyaliban dan kebangkitan-Nya, Ia pergi menyiapkan jalan agar manusia dapat dibawa ke dalam Allah. Kemudian, sebagai Roh, Ia datang, tinggal, dan berhuni di dalam kaum beriman sebagai hayat mereka untuk pembangunan tempat tinggal (kediaman) Allah.

Pasal 14—16 mewahyukan tinggalnya Kristus sebagai hayat untuk pembangunan tempat tinggal Allah. Yohanes 14 memuat dua perkara yang sangat penting, yaitu Allah Tritunggal dan dihasilkan-Nya tempat tinggal Allah. Allah Tritunggal—Bapa, Putra, dan Roh—disebutkan dengan lengkap pada pasal ini. Yohanes 14 tidak hanya mewahyukan Allah Tritunggal tetapi juga wahyu tentang penyaluran-Nya ke dalam kaum beriman untuk pembangunan tempat tinggal-Nya.


Sumber: Pelajaran-Hayat Yohanes, Buku 2, Berita 29



February 25, 2020, 06:02:59 AM
Reply #2095
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 25175
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://arushayat.blogspot.com/2020/

25 February 2020
Yohanes - Minggu 15 Selasa

Pembacaan Alkitab: Yoh. 14:1-6; 3:13
Doa baca: “Tidak ada seorang pun yang telah naik ke surga, selain Dia yang telah turun dari surga, yaitu Anak Manusia.” (Yoh. 3:13)


Percaya ke dalam Allah


Yohanes 14:1-6 membuat kita nampak bahwa Yesus pergi melalui kematian dan Kristus datang dalam kebangkitan untuk membawa kaum beriman ke dalam Bapa. Yohanes 13:3 maupun Yohanes 14:2-3 berbicara mengenai kepergian Tuhan. Namun, murid-murid bahkan termasuk orang-orang pada zaman ini sering salah paham mengenai maksud Tuhan ketika Ia berbicara Ia harus pergi. Ke manakah Tuhan Yesus pergi? Maksud dari kepergian Tuhan sebenarnya adalah bahwa Ia akan mati dan dibangkitkan.

Konsep manusia mengatakan bahwa Yesus akan pergi ke surga, tetapi Tuhan Yesus memberi tahu murid-murid-Nya bahwa Ia akan pergi kepada Bapa (Yoh. 14:12, 28). Yesus mengatakan selanjutnya, “Tidak percayakah engkau bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku?” (Yoh. 14:10). Bagaimana mungkin Ia pergi kepada Bapa apabila Bapa sudah berada di dalam Dia? Hal ini membingungkan banyak orang. Karena itu, kita perlu nampak bahwa Tuhan tidak bermaksud membawa kaum beriman-Nya dari satu tempat ke tempat lain. Kepergian-Nya bukan masalah tempat, melainkan masalah Persona yang hidup, yaitu Bapa sendiri. Tuhan datang dari Bapa, melalui inkarnasi, membawa Allah ke dalam manusia. Pemikiran dalam pasal 14 adalah bahwa Ia membawa mereka semua yang percaya dan menerima-Nya sebagai hayat ke dalam Allah. Jalan-Nya adalah dengan menempuh kematian dan kebangkitan. Maksud kepergian-Nya adalah untuk membawa manusia ke dalam Allah.

Yohanes 14:1 mengatakan, “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada (ke dalam) Allah, percayalah juga kepada-Ku.” Ayat ini mewahyukan dua hal. Pertama, bahwa Tuhan adalah Allah sendiri. Sebagai Allah yang sejati, Ia selalu hadir di mana-mana. Pada-Nya tidak ada batas waktu dan ruang. Kedua, percaya “ke dalam” Allah yang berarti adalah kepercayaan subjektif. Kepercayaan seperti inilah yang membawa kita kepada Allah.


Sumber: Pelajaran-Hayat Yohanes, Buku 2, Berita 29



February 26, 2020, 06:31:58 AM
Reply #2096
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 25175
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://arushayat.blogspot.com/2020/

26 February 2020
Yohanes - Minggu 15 Rabu

Pembacaan Alkitab: Yoh. 14:2; 2:21; 1 Tim. 3:15
Doa baca: “Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.” (Yoh. 14:2)


Rumah Bapa


Kata “rumah Bapa-Ku” digunakan dua kali dalam Injil Yohanes. Yohanes 2:16 menggunakan kata ini untuk menunjukkan tempat tinggal Allah di bumi. Bait ini adalah lambang tubuh Yesus (Yoh. 2:21). Bait ini dalam kebangkitan telah diperbesar menjadi Tubuh Kristus. Tubuh Yesus adalah Kemah, Bait Suci, yang menjadi tempat kediaman Allah di bumi (Yoh. 1:14). Rumah Bapa dalam Yohanes 14 harus juga berarti tempat kediaman Allah di bumi yakni adalah Tubuh Kristus. Surat-surat Kiriman mewahyukan bahwa Tubuh Kristus adalah gereja dan gereja adalah rumah Allah yang disempurnakan sepenuhnya. Gereja adalah rumah Allah yang hidup (1 Tim. 3:15). Kaum beriman sebagai satu keseluruhan adalah Bait Allah (1 Kor. 3:16).

Seluruh Perjanjian Baru pada akhirnya meneguhkan keterangan bahwa rumah Bapa adalah Tubuh Kristus, yakni gereja sebagai tempat kediaman Allah di bumi. Allah hanya memiliki satu pembangunan di atas bumi. Yesaya 66 mengatakan bahwa Allah mendambakan suatu tempat kediaman di dalam manusia. Allah ingin bersemayam di dalam manusia. Dalam Perjanjian Lama, pembangunan Allah menyertai umat Israel, yang dilambangkan dengan Kemah Pertemuan dan Bait Suci. Sementara itu, pada Perjanjian Baru, gereja dibangunkan. Gereja adalah kelanjutan dari Kemah Pertemuan dan Bait Suci.

Hari ini, kita adalah Bait Allah. Pada akhrinya, pembangunan dengan kaum beriman Perjanjian Baru akan disempurnakan dalam Yerusalem Baru, yang akan menjadi kemah kekal, tempat kediaman antara Allah dan manusia hingga kekal. Yerusalem Baru bukanlah kota yang jasmani, ini adalah suatu kota hidup yang terdiri atas orang-orang yang hidup. Kediaman Allah hari ini adalah suatu susunan yang hidup dari kaum beriman yang hidup di bumi, dan sedang dibangun bersama-sama.


Sumber: Pelajaran-Hayat Yohanes, Buku 2, Berita 29




February 27, 2020, 05:31:22 AM
Reply #2097
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 25175
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://arushayat.blogspot.com/2020/

27 February 2020
Yohanes - Minggu 15 Kamis

Pembacaan Alkitab: Yoh. 14:2; Rm. 12:5; 1 Kor. 3:16
Doa baca: “Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.” (Yoh. 14:2)


Tuhan yang Menyediakan Tempat Tinggal


Apakah arti “tempat tinggal” itu? Banyak tempat tinggal mengacu kepada banyak anggota Tubuh Kristus (Rm. 12:5), dan Tubuh ini adalah Bait Allah (1 Kor. 3:16-17). Tubuh Kristus memiliki banyak anggota, dan masing-masing anggota adalah sebuah tempat tinggal. Jadi, banyak tempat tinggal berarti banyak anggota Tubuh, hal ini bisa dibuktikan oleh Yohanes 14:23 bahwa Tuhan dan Bapa akan membangun sebuah tempat tinggal bersama orang-orang yang mengasihi Dia. Semua pencinta Tuhan adalah sebuah tempat tinggal yang dibangun oleh Allah.

Tuhan mengatakan, “Aku pergi” dalam Yohanes 14:2 berarti Tuhan akan pergi melalui mati dan bangkit untuk membangun tempat tinggal Allah. Inilah pembangunan yang disinggung oleh Tuhan di dalam Matius 16:18. Bagian firman dalam Yohanes 14:2 dan Matius 16:18 dapat disejajarkan karena Tuhan hanya mempunyai satu pekerjaan yakni Ia menyediakan tempat tinggal yang tidak lain adalah untuk membangun gereja. “Aku pergi untuk menyediakan tempat bagimu” artinya Tuhan akan menggenapkan penebusan, membuka jalan agar manusia beroleh tumpuan untuk dibangun di dalam Allah. Allah ingin Dia tinggal di dalam kita, namun kita perlu terlebih dahulu masuk ke dalam Dia.

Supaya Allah dan manusia dapat saling huni, Tuhan perlu melakukan pekerjaan persiapan yakni dengan Dia pergi ke salib untuk menyingkirkan segala rintangan antara kita dan Allah. Mari kita mendengarkan kabar baik ini: melalui kematian dan kebangkitan Kristus, Ia telah membuka jalan yang menuju ke dalam Allah, bahkan menyediakan suatu tumpuan bagi kita di hadapan dan di dalam Allah. Asalkan kita percaya ke dalam nama Tuhan Yesus, kita memiliki jaminan bahwa kita telah beroleh kedudukan di depan Allah dan memperoleh tumpuan di dalam Allah.


Sumber: Pelajaran-Hayat Yohanes, Buku 2, Berita 30




February 28, 2020, 05:56:20 AM
Reply #2098
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 25175
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://arushayat.blogspot.com/2020/

28 February 2020
Yohanes - Minggu 15 Jumat

Pembacaan Alkitab: Yoh. 14:3, 18, 28
Doa baca: “Apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada.” (Yoh. 14:3)


Kepergian Tuhan untuk Kedatangan-Nya


Tuhan pergi menuju ke surga bukanlah untuk menyediakan bagi kita sebuah gedung yang megah agar kita tinggal di dalamnya. Pemikiran semacam ini tidak lain adalah ragi yang dimasukkan ke dalam tepung sebagaimana terdapat dalam Matius 13:33. Kita perlu mengenal untuk apa Ia pergi menebus kita. Penebusan Tuhan justru adalah untuk menyediakan tempat bagi kita di dalam Allah. Di manakah kita berada setelah kita ditebus, diselamatkan, dan dilahirkan kembali? Kita ada di dalam Kristus, di dalam Allah. Inilah inti pemikiran dari seluruh Perjanjian Baru. Injil Yohanes mewahyukan bahwa Allah dan Kristus adalah tempat tinggal kita. Dengan kematian dan kebangkitan Kristus, Ia membawa kita ke dalam Allah, memiliki tumpuan di dalam Allah juga tumpuan di dalam Tubuh Kristus.

Kepergian Tuhan adalah untuk membawa manusia ke dalam Allah, menggenapkan penebusan agar manusia tidak memiliki rintangan dengan Allah, membuka jalan agar manusia dapat tinggal dalam Allah. Akan tetapi, puji Tuhan! Ia tidak pergi untuk selamanya melainkan Ia pergi adalah untuk datang kembali. Kepergian-Nya bukanlah sebuah perpisahan melainkan langkah lain dari kedatangan-Nya. Kepergian-Nya adalah penebusan-Nya yang bertujuan untuk menyediakan tempat di dalam Tubuh-Nya bagi para murid. Kepergian-Nya merupakan kedatangan-Nya ke dalam kita. Saat itu, kedatangan-Nya kembali terjadi kepada murid-murid-Nya dengan tujuan supaya Ia dapat masuk ke dalam murid-murid-Nya. Ia perlu melewati kematian dan kebangkitan agar Dia diubah dari rupa daging menjadi Roh, demikian Dia bisa masuk dan tinggal di dalam murid-murid-Nya (Yoh. 20:19-22). Yesus perlu melalui proses agar Dia bisa datang kembali sebagai Kristus dalam kebangkitan. Kristus dalam kebangkitan hari ini adalah Roh pemberi-hayat di dalam kita.


Sumber: Pelajaran-Hayat Yohanes, Buku 2, Berita 30




March 01, 2020, 12:25:36 PM
Reply #2099
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 25175
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


http://arushayat.blogspot.com/2020/

http://arushayat.blogspot.com/2020/02/yohanes-minggu-15-sabtu.html

29 February 2020
Yohanes - Minggu 15 Sabtu

Pembacaan Alkitab: Yoh. 14:6,17, 21
Doa baca: “Kata Yesus kepadanya, ‘Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.’” (Yoh. 14:6)


Jalan, Realitas, dan Hayat


Dalam Yohanes 14:3, Tuhan Yesus mengatakan bahwa, “Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku,” yang berarti bahwa Ia membawa kita bukan ke dalam suatu tempat, melainkan membawa kita ke dalam diri-Nya sendiri. Dia membawa murid-murid-Nya kepada diri-Nya yang berarti Dia menaruh mereka ke dalam diri-Nya sebagaimana yang ditunjukkan oleh Yohanes 14:20. Tuhan menjanjikan, “Di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada” (Yoh. 14:3). Pertanyaannya adalah, di manakah Tuhan saat ini? Apakah Ia ada di dalam surga? Tidak, Dia berada di dalam Bapa. Karena Tuhan berada di dalam Bapa, maka Ia pun akan membawa kita masuk ke dalam Bapa karena kita pun sudah ada di dalam Tuhan. Walaupun Tuhan sudah berada dalam Bapa sebelum kematian dan kebangkitan-Nya, murid-murid-Nya tidak demikian. Akan tetapi, lewat kematian dan kebangkitan, semua murid masuk ke dalam Bapa, sama seperti Tuhan telah dan tetap berada di dalam Bapa.

Jalan untuk kita memasuki Allah adalah Tuhan sendiri. Jalan ini adalah Persona yang hidup, yang membawa kita kepada tempat yang hidup. Jalan ini juga perlu menjadi realitas (kebenaran). Jika ada realitas, baru ada jalan. Untuk itu, realitas memerlukan hayat, Tuhan sendiri adalah hayat di dalam kita. Hayat mendatangkan realitas kepada kita, dan realitas ini menjadi jalan yang membuat kita bisa masuk ke dalam Bapa. Untuk menjadi jalan bagi kita, Ia perlu menjadi realitas bagi kita. Untuk menjadi realitas bagi kita, Ia perlu jadi hayat kita. Mendapatkan Dia sebagai hayat adalah mendapatkan Dia sebagai realitas kita dan mendapatkan Dia sebagai jalan untuk kita dapat masuk ke dalam Allah Bapa. Tujuan Tuhan adalah untuk membawa kita ke dalam Allah yakni ke dalam Bapa. Puji Tuhan, melalui kematian dan kebangkitan Kristus, kita sudah berada di dalam Allah Bapa.


Sumber: Pelajaran-Hayat Yohanes, Buku 2, Berita 30




 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)