Author Topic: Arus Hayat  (Read 72376 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

April 11, 2013, 04:48:21 AM
Reply #50
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20136
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://arushayat.blogspot.com/
http://arushayat.blogspot.com/2013/04/efesus-minggu-29-kamis.html

11 April 2013
Efesus - Minggu 29 Kamis

Pembacaan Alkitab: Ef. 5:25-27


Kita telah melihat bahwa kehendak Allah dalam ekonomi-Nya ialah mendapatkan satu gereja yang mulia. Tegasnya, Allah tidak menginginkan satu gereja yang rohani, surgawi, bahkan yang menang, melainkan menginginkan satu gereja yang mulia. Kemuliaan ialah ekspresi Allah dan itu berbeda sama sekali dengan moralitas dan perilaku manusia. Ketika Allah memenuhi Kemah Pertemuan dan Bait Suci, kedua tempat itu penuh dengan kemuliaan, yaitu penuh dengan manifestasi diri Allah sendiri. Gereja seharusnya menyatakan ciri-ciri kemuliaan, bukan berciri-ciri lain, bahkan bukan berciri-ciri kerohanian. Saya tidak senang mendengar pembicaraan tentang apa yang disebut gereja rohani. Satu-satunya cara Allah untuk dapat mendapatkan satu gereja yang mulia adalah melalui pengudusan, pembersihan, perawatan, dan pemeliharaan Kristus. Bila kita mengalami hal-hal ini secara pribadi dan riil, gereja pasti akan menjadi mulia.

Banyak orang telah dibutakan oleh ajaran-ajaran yang agamis sehingga tidak nampak kedambaan Allah akan satu gereja yang mulia. Di satu pihak, ada beberapa orang mungkin beroleh bantuan dari ajaran-ajaran itu, tetapi di pihak lain, mereka telah dikecewakan olehnya. Ajaran-ajaran yang agamis dapat menghalangi kaum saleh sehingga mereka tidak dapat melihat wahyu gereja yang mulia, dan menyebabkan mereka menuntut perkara-perkara seperti kerohanian, karunia-karunia, atau kemenangan. Kehendak Allah yang terakhir bukanlah menginginkan gereja yang hanya rohani, menang, dan surgawi saja, melainkan gereja yang mulia. Janganlah berharap menjadi malaikat. Malaikat mungkin rohani, surgawi, dan menang, tetapi malaikat tidak mulia, sebab mereka tidak memiliki kemuliaan Allah. Puji Tuhan, kita yang percaya kepada Kristus memiliki kemuliaan Allah! Agama sebenarnya menurunkan orang ke tingkat malaikat. Di bawah pengaruh konsepsi agamis, banyak orang Kristen yang damba menjadi malaikat. Jika kita melihat ekonomi Allah, kita akan menolak pengaruh yang demikian dan damba dipenuhi oleh kemuliaan, agar Allah dapat mencapai sasaran-Nya.

Kita mungkin menang tanpa mulia. Sebagai contoh, seorang saudara boleh jadi merasa senang karena ia telah sukses mengalahkan amarahnya. Mungkin bertahuntahun lamanya ia selalu dikalahkan oleh sifatnya dan sekarang ia telah beroleh kemenangan. Tetapi kemenangan itu boleh jadi sama sekali tanpa kemuliaan. Ekonomi Allah bukan masalah kemenangan atas sifat, melainkan masalah menerima Kristus sebagai hayat dan persona kita dan membiarkan Dia hidup di dalam kita. Hasil dari hal ini ialah ekspresi Allah sebagai kemuliaan. Kita mungkin menang dalam diri kita sendiri, tetapi untuk menjadi mulia kita memerlukan Kristus menjadi hayat dan persona kita.


Sumber: Pelajaran-Hayat Efesus, Buku 3, Berita 59
April 12, 2013, 04:10:34 AM
Reply #51
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20136
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://arushayat.blogspot.com/
http://arushayat.blogspot.com/2013/04/efesus-minggu-29-jumat.html

12 April 2013
Efesus - Minggu 29 Jumat

Pembacaan Alkitab: Ef. 5:25-27


Gereja yang mulia adalah satu manusia korporat. Ini berarti tiap bagian dari manusia korporat ini mulia. Apakah Anda bagian dari manusia mulia ini secara riil? Dengan kata lain, apakah Anda telah dipenuhi kemuliaan? Mungkin bahkan setelah membaca berita-berita ini, kita masih dikuasai oleh pikiran kemenangan dan menuntut agar beroleh kemenangan atas sifat atau situasi kita yang sulit. Kita boleh jadi sangat mengapresiasi ajaran-ajaran yang membawa kita ke dalam jalan kemenangan. Oh, semoga Tuhan mengesankan kita dengan kedambaan-Nya untuk memperoleh sekelompok umat yang mulia dan cemerlang! Sasaran ekonomi-Nya ialah mendapatkan gereja yang memancarkan kemuliaan-Nya.

Konsepsi pemuliaan yang umum di antara kaum beriman pada hari ini ialah: Kristus akan turun dari surga secara tiba-tiba dan mengangkat kita ke dalam lingkungan yang mulia. Sebelum saat itu tiba, kita hanya menantikan saja kedatangan Tuhan Yesus untuk memuliakan kita. Akan tetapi, seperti telah kita tunjukkan dalam berita ke-57, Kristus akan tertampil keluar dari dalam kita. Saya memahami sepenuhnya, memang ada ayat-ayat tertentu dalam Perjanjian Baru yang menerangkan Kristus akan datang secara obyektif dari surga, namun ada ayat-ayat lain menerangkan bahwa Ia akan tertampil keluar dari dalam kita, dan akan memuliakan kita dengan cara yang sangat subyektif.

Dalam Perjanjian Baru ada sejumlah ayat yang memperlihatkan bahwa pengalaman atas kemuliaan bersifat subyektif. Dua Korintus 4:4 mengatakan, “Yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus yang adalah gambaran Allah.” Dalam ayat ini Paulus tidak membicarakan Injil tentang pengampunan atau Injil ten-tang pembenaran oleh iman, melainkan Injil tentang kemuliaan Kristus. Injil kita bukan sekadar Injil penebusan, pengampunan, dan kelahiran kembali, tetapi juga Injil kemuliaan Kristus.

Hanya Injil inilah yang mampu memancar ke dalam kita. Pertama ia bercahaya ke dalam kita dan kemudian memancar keluar melalui batin kita. Semakin kemuliaan ini memancar dalam kita, semakin pula ia menembus dan menjenuhi batin kita. Pada akhirnya, kemuliaan yang batiniah ini akan memakan dan menelan segenap insan batiniah kita. Setelah itu terang Injil kemuliaan Kristus ini akan memancar keluar melalui kita. Pemancaran yang demikian tidak dapat melalui ajaran, melainkan hanya melalui pengalaman atas Kristus sendiri yang adalah kemuliaan dan manifestasi Allah. Haleluya, Kristus telah memancar ke dalam lubuk batin kita, Ia kini sedang memancar di dalam kita! Waktunya segera tiba, Ia akan merampungkan pemancaran-Nya ke segenap insan batiniah kita. Jadi, terang kemuliaan Allah tidak akan memancar secara luaran, melainkan memancar dari dalam batin kita. Semakin Kristus memancar, semakinlah kita dipenuhi oleh kemuliaan.


Sumber: Pelajaran-Hayat Efesus, Buku 3, Berita 59
April 13, 2013, 04:05:58 AM
Reply #52
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20136
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://arushayat.blogspot.com/
http://arushayat.blogspot.com/2013/04/efesus-minggu-29-sabtu.html

13 April 2013
Efesus - Minggu 29 Sabtu

Pembacaan Alkitab: 2 Kor. 3:18; 4:6


Sasaran ekonomi Allah ialah agar kita semua memancarkan kemuliaan-Nya. Ketika kita berada di bawah pancaran yang demikian, kita pun menikmati kemanisan Kristus yang hidup di dalam kita sebagai hayat dan persona kita. Hal ini bukan melalui ajaran, melainkan melalui Kristus menjenuhi diri kita dengan diri-Nya sendiri sesuai dengan ekonomi Allah. Kaum saleh yang menerima jalan ekonomi Allah adalah mereka yang dibangun dengan kemuliaan Allah.

Dalam 2 Korintus 4:6 Paulus juga membicarakan perihal kemuliaan: “Sebab Allah yang telah berfirman, ‘Dari dalam gelap akan terbit terang!’, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang tampak pada wajah (Yesus) Kristus.” Kata wajah di sini ditujukan kepada raut muka Tuhan, yaitu penyertaan-Nya. Betapa perlunya kita memiliki penyertaan Tuhan Yesus di batin kita! Penyertaan-Nya adalah kemuliaan Allah sendiri, sebab kemuliaan Allah berada pada wajah Kristus. Kalau Kristus hanya Kristus yang obyektif di surga, tidak mungkin kita memiliki pancaran wajah-Nya di batin kita, kita pun tidak dapat memiliki pengalaman atas kemuliaan-Nya yang berhuni di batin. Kita sudah menunjukkan bahwa kemuliaan adalah manifestasi Allah. Sekarang, menurut ayat ini, kita melihat lebih lanjut bahwa kemuliaan adalah wajah Yesus Kristus. Ketika kita memiliki wajah-Nya, kita pun memiliki kemuliaan. Ketika kita berada dalam penyertaan Kristus dan berada di hadapan wajah-Nya, kita berada dalam kemuliaan.

Dalam 2 Korintus 3:18 Paulus berkata, “Kita semua memancarkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita sedang diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.” Keperluan kita hari ini ialah memandang dan mencerminkan kemuliaan Tuhan. Ketika kita nampak kemuliaan-Nya, kita akan diubah (ditransformasi). Perhatikan, Paulus tidak berkata bahwa kita akan dibetulkan, diperbaiki, atau bahkan dikoreksi, melainkan ia menunjukkan bahwa kita akan ditransformasi menjadi serupa dengan gambar Kristus. Kita bukan ditransformasi dari satu perbuatan ke perbuatan lain, atau dari satu kerohanian ke kerohanian lain, juga bukan ditransformasi dari satu kemenangan ke kemenangan lain.

Haleluya, kita ditransformasi dari kemuliaan ke kemuliaan! Sumber dari transformasi ini bukanlah suatu doktrin yang harfiah, melainkan Tuhan Roh itu. Semakin kita memandang kemuliaan Tuhan dan ditransformasi oleh Tuhan Roh itu dari kemuliaan ke kemuliaan, semakinlah Tuhan memperoleh gereja yang mulia yang menjadi kedambaan-Nya.


Sumber: Pelajaran-Hayat Efesus, Buku 3, Berita 59
April 14, 2013, 04:36:03 AM
Reply #53
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20136
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://arushayat.blogspot.com/
http://arushayat.blogspot.com/2013/04/efesus-minggu-29-sabtu.html

13 April 2013
Efesus - Minggu 29 Sabtu

Pembacaan Alkitab: 2 Kor. 3:18; 4:6


Sasaran ekonomi Allah ialah agar kita semua memancarkan kemuliaan-Nya. Ketika kita berada di bawah pancaran yang demikian, kita pun menikmati kemanisan Kristus yang hidup di dalam kita sebagai hayat dan persona kita. Hal ini bukan melalui ajaran, melainkan melalui Kristus menjenuhi diri kita dengan diri-Nya sendiri sesuai dengan ekonomi Allah. Kaum saleh yang menerima jalan ekonomi Allah adalah mereka yang dibangun dengan kemuliaan Allah.

Dalam 2 Korintus 4:6 Paulus juga membicarakan perihal kemuliaan: “Sebab Allah yang telah berfirman, ‘Dari dalam gelap akan terbit terang!’, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang tampak pada wajah (Yesus) Kristus.” Kata wajah di sini ditujukan kepada raut muka Tuhan, yaitu penyertaan-Nya. Betapa perlunya kita memiliki penyertaan Tuhan Yesus di batin kita! Penyertaan-Nya adalah kemuliaan Allah sendiri, sebab kemuliaan Allah berada pada wajah Kristus. Kalau Kristus hanya Kristus yang obyektif di surga, tidak mungkin kita memiliki pancaran wajah-Nya di batin kita, kita pun tidak dapat memiliki pengalaman atas kemuliaan-Nya yang berhuni di batin. Kita sudah menunjukkan bahwa kemuliaan adalah manifestasi Allah. Sekarang, menurut ayat ini, kita melihat lebih lanjut bahwa kemuliaan adalah wajah Yesus Kristus. Ketika kita memiliki wajah-Nya, kita pun memiliki kemuliaan. Ketika kita berada dalam penyertaan Kristus dan berada di hadapan wajah-Nya, kita berada dalam kemuliaan.

Dalam 2 Korintus 3:18 Paulus berkata, “Kita semua memancarkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita sedang diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.” Keperluan kita hari ini ialah memandang dan mencerminkan kemuliaan Tuhan. Ketika kita nampak kemuliaan-Nya, kita akan diubah (ditransformasi). Perhatikan, Paulus tidak berkata bahwa kita akan dibetulkan, diperbaiki, atau bahkan dikoreksi, melainkan ia menunjukkan bahwa kita akan ditransformasi menjadi serupa dengan gambar Kristus. Kita bukan ditransformasi dari satu perbuatan ke perbuatan lain, atau dari satu kerohanian ke kerohanian lain, juga bukan ditransformasi dari satu kemenangan ke kemenangan lain.

Haleluya, kita ditransformasi dari kemuliaan ke kemuliaan! Sumber dari transformasi ini bukanlah suatu doktrin yang harfiah, melainkan Tuhan Roh itu. Semakin kita memandang kemuliaan Tuhan dan ditransformasi oleh Tuhan Roh itu dari kemuliaan ke kemuliaan, semakinlah Tuhan memperoleh gereja yang mulia yang menjadi kedambaan-Nya.


Sumber: Pelajaran-Hayat Efesus, Buku 3, Berita 59
April 15, 2013, 04:51:55 AM
Reply #54
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20136
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://arushayat.blogspot.com/
http://arushayat.blogspot.com/2013/04/efesus-minggu-30-senin.html

15 April 2013
Efesus - Minggu 30 Senin

Pembacaan Alkitab: Yoh. 5:39-40; 2 Kor. 3:18


Kristus menguduskan, membersihkan, merawat, dan memelihara kita agar kita dapat dipersembahkan kepada diri-Nya sendiri sebagai gereja yang mulia. Persembahan Kristus atas gereja yang mulia itu mencakup suatu proses yang dimulai dari zaman para rasul dan yang berlangsung dari abad ke abad. Hari ini kita pun sedang berbagian dalam proses yang melaluinya Kristus mempersembahkan gereja yang mulia kepada diri-Nya sendiri. Persembahan itu adalah sasaran pengudusan, pembersihan, perawatan, dan pemeliharaan-Nya.

Kita sudah melihat bahwa kedambaan Allah ialah mendapatkan gereja yang mulia. Hanya Kristus yang menjadi ekspresi kemuliaan Allah yang dapat membuat gereja menjadi mulia, sebab hanya Dia sendirilah api kemuliaan yang membakar kemuliaan-Nya di dalam kita. Musa pernah mengalami hal ini. Setelah Musa berada di hadirat Tuhan di atas gunung selama 40 hari, kulit mukanya menjadi bercahaya karena kemuliaan Allah (Kel. 34:29-35). Kemuliaan Tuhan telah membakar di dalamnya. Itu bukan akibat ajaran agamis, melainkan karena ia memandang kemuliaan Allah secara langsung.

Banyak orang beriman telah tertutup oleh berlapis-lapis selubung, tetapi mereka tidak menyadarinya. Karena itu, Paulus berbeban agar kaum beriman tidak berselubung. Dengan muka yang tidak berselubung barulah kita dapat memandang dan memantulkan kemuliaan Tuhan. Dengan jalan inilah kita baru benar-benar ditransformasi dari satu tingkat kemuliaan ke tingkat kemuliaan yang lain. Transformasi yang sedemikian terjadi melalui Tuhan. Karena itu, kita tidak memandang doktrin dan ajaran, melainkan memandang kemuliaan Tuhan. Lagi pula, kita bukan diajar atau dikoreksi, melainkan ditransformasi menjadi serupa dengan gambar Kristus dari kemuliaan ke kemuliaan.

Dalam ministri Tuhan kita terus berperang untuk menyingkirkan selubung-selubung yang ada pada kaum saleh. Betapa liciknya pengaruh agama! Kelicikannya terlihat dalam hal ia menyelubungi umat Tuhan. Meskipun banyak orang yang mencari Tuhan dengan tulus, namun mereka sama sekali telah diselubungi oleh agama melalui ajaran-ajaran dan konsepsi-konsepsinya. Karena itu, sekali lagi saya katakan, kita di sini bukan untuk doktrin yang harfiah, melainkan untuk pemulihan yang sejati mengenai pengalaman atas Kristus. Kita semua perlu memiliki satu muka yang tidak berselubung untuk memandang Tuhan.

Hari ini berbagai macam perkara bisa menjadi selubung terhadap kita, seperti selubung bagi orang Yahudi. Orang Yahudi terselubung oleh Kitab Suci, hukum Tau-rat, peraturan, dan agama Yahudi sebagai sistem yang agamis. Hari ini orang-orang Kristen terselubung khususnya oleh ajaran-ajaran dan peraturan-peraturan. Saya berbeban agar semua selubung disingkirkan, sehingga kaum beriman dapat memandang kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung.


Sumber: Pelajaran-Hayat Efesus, Buku 3, Berita 60
April 16, 2013, 04:25:16 AM
Reply #55
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20136
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://arushayat.blogspot.com/
http://arushayat.blogspot.com/2013/04/efesus-minggu-30-selasa.html

16 April 2013
Efesus - Minggu 30 Selasa

Pembacaan Alkitab: Rm. 8:10, 34; Kol. 1:27


Dalam berita demi berita, kita hanya berhasrat melakukan satu perkara: menunjukkan keperluan kaum saleh terhadap Kristus yang hidup. Kaum saleh perlu dikuduskan, dibersihkan, dirawat, dan dipelihara oleh-Nya. Tetapi, walaupun betapa seringnya kita menekankan perlunya mengalami Kristus sebagai hayat dan persona kita, tetap masih banyak yang terpesona dengan masalah sekunder yang bertalian dengan sidang atau praktek hidup gereja kita, sebab mereka masih terselubung oleh peraturan mereka. Karena itu, kita ingin menyatakan bahwa kita di sini bukan untuk praktek yang mana pun, kita di sini adalah untuk persona Tuhan Yesus Kristus yang ajaib.

Anda akan keliru jika datang ke Los Angeles ingin mempelajari cara-cara hidup gereja di sana. Kita selalu berubah, bahkan kita sendiri tidak tahu cara hidup gereja kita. Sebelum 1966, kita tidak ada doa-baca, dan sebelum 1968 kita tidak ada cara menyeru nama Tuhan. Boleh jadi kelak pada periode lain, Tuhan akan menunjukkan kita sesuatu yang lebih maju untuk kita laksanakan. Mempertahankan dengan berkata bahwa kita tahu cara gereja hanya akan menimbulkan kesulitan atau persoalan belaka.

Ekonomi Allah sangat sederhana: menggarapkan Kristus ke dalam kita agar Ia hidup di dalam kita dan kita hidup oleh-Nya. Jika kita menerima ekonomi Allah ini, akhirnya gereja akan menjadi mulia, karena Kristus, kemuliaan Allah, akan menyalakan kemuliaan-Nya ke dalam kita terus-menerus. Kita di sini bukan untuk praktek hidup gereja yang khas, kita di sini hanya untuk Kristus. Gereja adalah hasil dari kenikmatan atas Kristus. Hidup gereja yang normal adalah masalah kita semua menikmati Kristus dan datang bersama-sama untuk mengekspresikan Dia, tanpa mempertahankan cara mengekspresikan Kristus yang tertentu. Apa yang kita butuhkan dalam pemulihan Tuhan hari ini bukan praktekpraktek yang khas, melainkan Kristus yang hidup.

Mengenai Kristus yang hidup ini telah kita tunjukkan bahwa pada kedatangan-Nya kelak Ia akan tertampil keluar dari batin kita. Ia akan meluas di batin kita, menjenuhi kita dengan diri-Nya sendiri, dan menelan setiap bagian insan batiniah kita. Kemudian Ia akan tertampil keluar melalui kita. Mendengar perkataan ini mungkin ada yang akan membantah, mengatakan bahwa Perjanjian Baru mengajarkan Kristus akan turun dari surga. Ya, memang ada banyak ayat yang mengatakan Tuhan berada di surga dan ketika Ia kembali kelak Ia akan turun dari surga. Akan tetapi, bagi kebanyakan orang, ajaran kedatangan Tuhan dari surga itu telah menjadi satu hal yang agamis. Karena itu, kita juga harus menaruh perhatian pada ayat-ayat yang menitikberatkan fakta berhuninya Kristus di dalam kita. Sebagai contoh, Kolose 3:4 mengatakan, apabila Kristus menyatakan diri kelak, kita pun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan; tetapi Kolose 1:27 mengatakan bahwa Kristus di dalam kita adalah pengharapan kemuliaan. Saya tidak dapat memadukan kedua hal ini. Saya hanya percaya akan kedua aspek ini, sebab Perjanjian Baru mewahyukan kedua aspek ini.



Sumber: Pelajaran-Hayat Efesus, Buku 3, Berita 60
April 17, 2013, 04:07:37 AM
Reply #56
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20136
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://arushayat.blogspot.com/
http://arushayat.blogspot.com/2013/04/efesus-minggu-30-rabu.html

17 April 2013
Efesus - Minggu 30 Rabu

Pembacaan Alkitab: Why. 3:20


Kesulitan dari kebanyakan orang beriman ialah mereka telah menerima indoktrinasi secara agamis tentang kedatangan Tuhan pada aspek obyektifnya, dan mengabaikan aspek subyektifnya. Mereka menaruh perhatian penuh pada Kristus yang di surga dan percaya dengan teguh pada kedatangan-Nya kelak. Namun, mereka mengabaikan fakta berhuninya Kristus di batin, bahkan mungkin tidak mengetahui bahwa Kristus sekarang berada di batin mereka. Ketika kita menantikan kedatangan Kristus dari surga, kita perlu menikmati Dia di batin. Betapa kita perlu mengalami Kristus yang hidup, subyektif, dan yang berhuni di batin ini!

Lupakanlah segala peraturan dan praktek, marilah kita berkata, “O, Tuhan Yesus, kami dahulu tidak mengetahui betapa perlunya kami menerima Engkau sebagai hayat dan persona kami. Tuhan, kami membuka diri kami kepada-Mu dan kami menerima Engkau sebagai hayat dan persona kami. Kami tidak memperhatikan konsepsi kami tentang cara mempraktekkan hidup gereja. Kami hanya memperhatikan kenikmatan yang hidup, intim, dan pribadi atas diri-Mu.”

Mengenai gereja, kita tidak seharusnya mempunyai maksud meniru atau menentang. Satu-satunya sasaran kita seharusnya menikmati persona Kristus yang hidup dan mengalami Dia di batin sebanyak-banyaknya. Jangan memperhatikan praktek, cara, atau metode. Ambillah ilustrasi dari perabot makan yang beraneka ragam. Orang Tionghoa memakai sumpit, orang Amerika memakai pisau dan garpu, dan mungkin orang-orang Indonesia memakai jari tangan mereka. Kita tidak boleh memperhatikan alat apa yang kita pakai untuk makan, tetapi perhatikan saja apa yang kita makan. Asalkan orang menerima makanan yang tepat, kita tidak perlu memperhatikan apakah mereka memakai sumpit, atau pisau dan garpu, atau jari tangan mereka. Namun, mungkin ada orang yang menganggap cara paling baik adalah memakai garpu dan pisau. Ditinjau dari aspek rohani, kita mung-kin berbuat hal serupa dalam mempraktekkan hidup gereja. Kita mungkin menyombongkan cara kita, tetapi mungkin tidak ada makanan apa pun dalam piring kita. Karena itu jangan memperhatikan tata krama makan rohani kita, perhatikanlah makanan rohani itu saja. Banyak di antara kita yang kelaparan bertahun-tahun karena hanya memperhatikan tata krama, tidak memperhatikan makanan. Di antara sekian banyak kelompok agamis, setiap perkara tersusun begitu rapi dan teratur dengan baik, tetapi tanpa makanan yang dihidangkan kepada umat Tuhan. Karena itu, dalam pemulihan-Nya hari ini, Tuhan sedang memulihkan makanan di atas meja, bukan tata krama untuk memakan makanan itu.

Dalam ekonomi-Nya, Allah tidak memperhatikan perabotan, melainkan memperhatikan bagaimana kita mengalami pengudusan, pembersihan, perawatan, dan pemeliharaan Kristus. Hanya bila kita mengalami Kristus sedemikian barulah Ia dapat mempersembahkan gereja yang mulia kepada diri-Nya sendiri. Terpujilah Dia, proses persembahan ini sedang berlangsung dari hari ke hari di batin kita. Semoga kita semua nampak bahwa dalam ekonomi-Nya Allah tidak menghiraukan tata cara atau praktek, melainkan hanya Putra-Nya yang terkasih, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Semoga kita semua menerima rahmat untuk mengalami dan menikmati Dia.


Sumber: Pelajaran-Hayat Efesus, Buku 3, Berita 60
April 18, 2013, 05:24:23 AM
Reply #57
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20136
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://arushayat.blogspot.com/
http://arushayat.blogspot.com/2013/04/efesus-minggu-30-kamis.html

18 April 2013
Efesus - Minggu 30 Kamis

Pembacaan Alkitab: Ef. 5:22, 25, 28


Subyek Kitab Efesus bukanlah perilaku atau budi pekerti, melainkan gereja. Dalam memberikan nasihat panjang yang tercantum dalam pasal 4, Paulus tidak pernah kehilangan titik utama pandangannya — gereja. Ketika ia menuturkan prinsip maupun rinciannya, ia menyadari sepenuhnya bahwa gereja adalah manusia baru. Jadi kehidupan yang dilukiskan dalam pasal 4 tentu ditujukan kepada gereja sebagai manusia baru, yaitu gereja sebagai manusia baru harus sesuai dengan realitas dan oleh anugerah. Sebagai manusia baru, gereja harus hidup sesuai dengan standar Allah, menurut realitas yang nyata dalam Yesus. Satu-satunya jalan agar gereja, manusia baru ini dapat memiliki kehidupan yang demikian ialah berdasarkan anugerah Allah yang serba cukup. Anugerah ini menyuplai kita agar kita dapat hidup menurut cetakan, model, dan teladan hidup Yesus. Inilah kunci pasal 4.

Jika kita memakai kunci ini ketika kita membaca pasal 4, seluruh pasal akan terbuka bagi kita. Ingatlah baik-baik, bahwa Efesus 4 membicarakan gereja sebagai manusia baru. Kalau kita ingin menjadi gereja dalam aspek ini, kita harus menempuh hidup sesuai dengan standar realitas seperti yang nyata dalam Yesus dan oleh anugerah Allah yang serba cukup.

Seprinsip dengan itu, butir utama dalam pasal 5 ialah gereja sebagai mempelai perempuan. Butir utamanya bukanlah nasihat Paulus tentang para istri patuh kepada suami mereka atau para suami mengasihi istri mereka. Sebagai mempelai perempuan, gereja memerlukan sesuatu yang lebih halus, lembut, dan dalam daripada realitas dan anugerah, yaitu memerlukan kasih dan terang. Realitas tidak sehalus terang, dan anugerah tidak sedalam dan seintim kasih. Mengenai aspek gereja sebagai mempelai perempuan, dalam pasal 5, Paulus membicarakan kasih dan terang.

Fakta bahwa gereja sebagai mempelai perempuan menuntut kehidupan dalam kasih dan terang dapat dibuktikan melalui pengalaman kehidupan pernikahan kita sendiri. Kalau sepasang suami dan istri hidup bersama hanya oleh anugerah dan menurut realitas, kehidupan pernikahan mereka akan menjadi sangat kasihan. Jika istri saya memperlakukan saya hanya menurut anugerah, tanpa memberi saya kasih, saya akan sangat tidak puas. Ia pun akan merasa serupa kalau saya memperlakukannya menurut anugerah tanpa kasih. Kehidupan pernikahan bukan berdasar pada anugerah, melainkan pada kasih. Demikian pula, kehidupan pernikahan bukan berdasarkan realitas, tetapi juga di atas terang. Alangkah kasihan jika seorang suami dan istri selalu memikirkan cara yang tepat untuk berperilaku terhadap satu sama lain. Untuk hubungan yang intim tidak cukup hanya dengan realitas, tetapi harus pula ada terang. Oleh sebab itu, pernikahan yang wajar tidak hanya menurut realitas dan oleh anugerah, tetapi juga dalam kasih dan terang.


Sumber: Pelajaran-Hayat Efesus, Buku 3, Berita 61
April 19, 2013, 05:00:23 AM
Reply #58
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20136
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://arushayat.blogspot.com/
http://arushayat.blogspot.com/2013/04/efesus-minggu-30-jumat.html

19 April 2013
Efesus - Minggu 30 Jumat

Pembacaan Alkitab: Yoh. 4:24; 8:32


Bila kehidupan pernikahan kita normal, kita tidak memikirkan apakah tingkah laku kita terhadap pasangan kita sesuai dengan realitas atau mencapai standarnya atau tidak. Kalau kita berpikir demikian dalam hubungan suami istri, kita akan terpaut jauh dari alam terang. Sesungguhnya kita bahkan belum sepenuhnya sesuai dengan realitas. Jika kehidupan pernikahan kita dalam alam terang, kita tidak akan memikirkan bagaimana tingkah laku kita. Sebaliknya, kita hanya akan hidup dalam terang dengan sederhana dan wajar. Kita akan melakukan perkara-perkara tertentu dan berperilaku secara tertentu hanya karena kita berada dalam terang, bukan karena kita menganggap perkara dan perilaku kita itu menurut realitas yang nyata dalam Yesus.

Dalam awal kehidupan Kekristenan saya, saya hidup dalam alam realitas. Saya berusaha untuk benar dalam setiap perkara yang saya lakukan. Saya takut melakukan perkara-perkara tertentu karena saya khawatir akan dicela orang lain. Karena itu, saya berperilaku dengan cara yang terpuji. Ini berarti perilaku saya menurut realitas. Kemudian, oleh belas kasihan Tuhan, saya dibawa lebih banyak ke dalam hadirat-Nya. Saya belajar bagaimana tinggal dalam penyertaan-Nya dan hidup dalam keintiman dengan-Nya dalam suatu hubungan yang penuh kasih dan terang. Akibatnya, saya tidak lagi melakukan perkara-perkara tertentu bukan karena saya mengira perkara itu salah, tetapi karena saya berada di dalam terang. Selaku orang yang berada dalam terang, saya berperilaku dan bertutur kata tanpa memikirkan apa yang menurut realitas atau apa yang benar. Saya tidak lagi memikirkan apakah yang akan dikatakan orang lain, tentang perilaku saya. Saya berada dalam terang, maka saya tidak lagi mempertimbangkan perbuatan mana yang menurut realitas.

Jika gereja ingin menjadi manusia baru, gereja perlu dan sewajarnya hidup menurut realitas dan oleh anugerah. Tetapi untuk aspek mempelai perempuan, hal itu tidaklah cukup. Sebagai mempelai perempuan, gereja harus memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan Yesus dalam kasih dan terang. Dalam setiap perkara dan setiap cara, gereja sebagai mempelai perempuan harus benar. Karena itu, dalam pasal 5, kasih dan terang merupakan unsur dasar.

Dalam tiap pasal Kitab Efesus gereja diwahyukan dalam aspek yang berbeda-beda. Setiap aspeknya berkaitan dengan unsur dasar yang berbeda pula. Sebagai contoh, dalam pasal 6 kita nampak gereja sebagai pejuang. Apa yang diperlukan seorang pejuang bukan anugerah dan realitas atau kasih dan terang, melainkan kekuatan dan perlengkapan senjata untuk berperang. Sebagai pejuang, gereja harus berdiri dengan perkasa, dan harus mengenakan perlengkapan senjata untuk berperang.


Sumber: Pelajaran-Hayat Efesus, Buku 3, Berita 61
April 20, 2013, 04:58:40 AM
Reply #59
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20136
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://arushayat.blogspot.com/
http://arushayat.blogspot.com/2013/04/efesus-minggu-30-sabtu.html

20 April 2013
Efesus - Minggu 30 Sabtu

Pembacaan Alkitab: Ef. 6:11-12


Marilah kita mengingat-ingat faktor-faktor utama dan unsur-unsur dasar dalam keenam pasal Kitab Efesus. Dalam pasal 1 faktor utamanya ialah gereja sebagai Tubuh Kristus, unsur dasarnya ialah perkataan indah Allah Tritunggal. Dalam pasal 2 faktor utamanya ialah gereja sebagai tempat tinggal Allah, unsur dasarnya ialah kebangkitan dan Roh itu. Dalam pasal 3 faktor utamanya ialah gereja sebagai kepenuhan Allah, unsur dasarnya ialah kekayaan Kristus yang tidak terduga. Dalam pasal 4 faktor utamanya ialah gereja sebagai manusia baru, unsur dasarnya ialah anugerah dan realitas. Dalam pasal 5 faktor utamanya ialah gereja sebagai mempelai perempuan, unsur dasarnya ialah kasih dan terang. Terakhir, dalam pasal 6 faktor utamanya adalah gereja sebagai pejuang, dan unsur dasarnya adalah kekuatan dan perlengkapan persenjataan.

Karena hidup gereja sebagai mempelai perempuan berada dalam kasih dan terang, menuntut sesuatu yang lembut dan intim, maka Paulus memakai pernikahan sebagai ilustrasinya. Dalam kehidupan pernikahan tidak ada tempat bagi kekuatan atau perlengkapan persenjataan. Benda-benda itu bukan merupakan ciri-ciri gereja sebagai mempelai perempuan. Sebagai mempelai perempuan gereja tidak menekankan masalah anugerah, realitas, atau kekayaan Kristus, juga bukan membicarakan kebangkitan, Roh, atau perkataan indah Allah Tritunggal. Yang dibutuhkan di sini khususnya adalah Allah sendiri sebagai kasih dan terang. Seperti telah kita tunjukkan, kasih itu merupakan esens batiniah Allah, dan terang adalah unsur Allah yang terekspresi dan yang kelihatan. Ketika kita masuk ke dalam Allah untuk menjamah substansi batiniah-Nya, kita akan mengalami-Nya sebagai kasih dan terang. Hidup gereja yang wajar seharusnya berada dalam alam yang sedemikian.

Lalu mengapa Paulus menulis pasal 6? Pasal 6 ini perlu, sebab Allah masih harus menanggulangi musuh-Nya. Kalau tidak ada musuh, kita boleh berhenti sampai ke tahap gereja sebagai mempelai perempuan pada pasal 5 saja.

Menurut Wahyu 19, pejuang yang menyertai Kristus untuk memerangi musuh ini adalah mempelai perempuan Kristus. Ini berarti kita harus menjadi mempelai perempuan dalam kasih dan terang, kemudian baru kita dapat maju sebagai pejuang beserta Kristus untuk melawan musuh. Dengan demikian, pasangan ini, Kristus dan mempelai perempuan-Nya akan menaklukkan musuh.

Semoga kita semua terkesan bahwa hidup gereja yang sesuai dengan hasrat Allah harus berada dalam kasih dan terang, dan kedua unsur ini adalah unsur Allah sendiri. Dalam substansi batiniah Allah kita memiliki kasih dan terang. Di sini kita memiliki hidup gereja yang top, yaitu gereja sebagai mempelai perempuan. Sasaran Kitab Efesus ialah memasukkan kita ke dalam substansi batiniah Allah untuk mengenal Dia sebagai kasih dan terang. Di sini kita harus hidup dalam persekutuan yang intim ketika kita menikmati pancaran terang dan kasih dalam kemanisannya.


Sumber: Pelajaran-Hayat Efesus, Buku 3, Berita 61
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)