Author Topic: Yahweh, Allah Kita  (Read 7736 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

August 07, 2013, 12:07:10 PM
  • FK - Newbie
  • *
  • Posts: 20
  • Denominasi: pentakosta-kharismatik


source : http://yahwehallahkita.wordpress.com/

anda akan mendapatkan penjelasan yang lebih dalam lagi di http://www.theonlytruegod.org/id
sudah saatnya kita harus meneliti kebenaran yang selama ini kita pegang , apakah benar atau salah.

SYAHADAT YESUS KRISTUS
Sebagai seorang pengikut, hal yang paling penting yang harus kita tahu tentang orang yang kita ikuti adalah pedoman hidupnya. Oleh karena itu, sebagai pengikut Yesus, hal yang paling penting yang harus kita ketahui tentang Yesus adalah syahadat yang menuntun hidupnya.

Dalam kisah Injil, ada seorang ahli Taurat menanyakan pertanyaan tersebut kepada Yesus secara langsung, “Hukum manakah yang paling utama?” Pada zaman itu, para rabi dan ahli Taurat sering memperdebatkan pertanyaan tersebut, “Dari sekian banyak hukum yang ada, yang manakah yang harus dijunjung di atas yang lain?” Jawaban kepada pertanyaan tersebut tentu saja merupakan sebuah syahadat. Jawaban Yesus jelas:

Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.  30 Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. (Markus 12:29-30)

Itulah syahadatnya Yesus Kristus. Untuk memahami mengapa Yesus mengutip ayat ini, dan mengapa ayat ini begitu penting bagi kehidupan beragama orang Yahudi, ada baiknya kita membaca langsung dari kitab yang dikutip Yesus:

Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN (YAHWEH) itu Allah kita, TUHAN (YAHWEH) itu esa!  5 Kasihilah TUHAN (YAHWEH), Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.  6 Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan,  7 haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.  8 Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu,  9 dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu. (Ulangan 6:4-9)

Pembacaan sekilas memperlihatkan dengan jelas bahwa nats inilah yang harus mendominasi setiap aspek kehidupan umat Yahudi, dan atas nats inilah seluruh hukum Taurat bersandar. Jika Yesus datang untuk menggenapi hukum Taurat, maka seluruh kehidupan Yesus adalah teladan dari seseorang yang menggenapi perintah itu dengan sempurna. Oleh karena itu, komitmen untuk mengasihi Dia dengan seluruh keberadaan seharusnya mencirikan pola hidup para pengikut Yesus. Sebuah perintah itu dimaksudkan untuk membentuk pola hidup, apatah lagi sebuah perintah yang dianggap paling utama.

Namun siapakah “Dia” yang dimaksudkan oleh Yesus? Siapakah Allah kita itu? Apakah nama-Nya? Ayat Shema  itu menyatakan dengan jelas: Yahweh-lah Allah kita, dan Yahweh itu esa. Di dunia politeis yang memiliki banyak allah dengan namanya masing-masing, tentu saja kritis bagi umat Allah untuk mengenal nama-Nya. Nama itulah yang membedakan Allah umat Israel dari allahnya bangsa-bangsa lain. Tidak kurang penting juga adalah pertanyaan ada berapa Dia itu? Allah itu memang misterius, dan banyak yang kita tidak tahu tentang Dia. Namun, siapa nama-Nya dan ada berapa Dia itu, merupakan dua hal yang Dia ingin kita tahu tentang diri-Nya. Nats ini merupakah perlindungan bagi umat Israel dari penyembahan berhala, yaitu penyembahan kepada apa saja atau siapa saja yang bukan Allah.  Nats ini kedap terhadap penyembahan berhala.

Untuk membuka pintu air penyembahan berhala, nats inilah yang harus dikaburkan artinya.

« Last Edit: August 07, 2013, 12:22:49 PM by PerjuanganBangsaIndonesia »
August 07, 2013, 12:07:51 PM
Reply #1
  • FK - Newbie
  • *
  • Posts: 20
  • Denominasi: pentakosta-kharismatik
Orang-orang yang “terpelajar” memberitahu kita bahwa nama Allah yaitu Yahweh, boleh diterjemahkan menjadi TUHAN atau LORD. Dengan demikian, kita dengan sukses menghasilkan sebuah generasi orang Kristen yang mengaku mengenal Allah tetapi tidak tahu apa nama-Nya! Banyak yang tidak tahu allahnya bangsa Moab yang bernama “Baal” itu, artinya juga “Lord”! Dengan menterjemahkan Tetragrammaton (YHWH) itu menjadi LORD atau TUHAN, Allah kita sekarang bisa jadi siapa saja selain Yahweh. Banyak orang Kristen tidak tahu kalau nama Yahweh itu muncul 6828 kali di dalam Kitab Suci Ibrani. Kalau ditambah kata-kata seperti Halelujah (Puji Yahweh), Yesaya (Keselamatan dari Yahweh), Yeremiah (Yahweh melepaskan), Abia (Yahweh Bapaku) dll, totalnya mendekati 7000 kali.

Orang-orang yang terpelajar juga memberitahu kita bahwa kata Ibrani “echad” yang berarti “esa” atau “satu” kononnya tidak berarti satu. Menurut mereka “echad” kononnya bisa berarti dua, bisa tiga, atau bisa sepuluh. Kalimat “Istriku satu” menurut para teolog terpelajar ini bisa diartikan sebagai “Istriku tiga, empat atau seberapa saja”! Hal ini mereka lakukan dengan mengutip beberapa ayat dari Kitab Suci, dan berdasarkan argumen yang terang-terangan palsu, mereka membuktikan bahwa satu tidak berarti satu. Andai saja argumen mereka itu berbobot, maka kacaulah dunia, karena kita sekarang dapat ke toko dan membeli barang seharga tiga dolar dan bersikeras membayar dengan satu dolar. Menurut argumen mereka, satu bisa saja berarti tiga. Ketidaklogisan dan kepalsuan dari argumentasi mereka akan kita bahas dalam artikel yang akan datang.

Arti “esa” dapat dilihat dari respon ahli Taurat terhadap pernyataan Yesus:

Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. (Markus 12:32) 

Ahli Taurat memahami bahwa “Dia esa” berarti “tidak ada yang lain kecuali Dia”. Dan Yesus mengakui kebijaksanaan jawabnya sehingga dia berkata, “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!”.

Fakta bahwa “Yahweh itu esa”, dan “tidak ada yang lain kecuali Dia” merupakan tema yang bergema di seluruh Kitab Suci Ibrani. Sebagai contoh:

Yesaya 45:5  Akulah TUHAN (YAHWEH) dan tidak ada yang lain; kecuali Aku tidak ada Allah.

Yesaya 45:14, “tidak ada yang lain; di samping Dia tidak ada Allah!

Yesaya 45:18, “Akulah TUHAN (YAHWEH), dan tidak ada yang lain.”

Yesaya 45:21b-22  Bukankah Aku, TUHAN (YAHWEH)? Tidak ada yang lain, tidak ada Allah selain dari pada-Ku! Allah yang adil dan Juruselamat, tidak ada yang lain kecuali Aku!  22 Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan, hai ujung-ujung bumi! Sebab Akulah Allah dan tidak ada yang lain.

Yesaya 46:9, “Ingatlah hal-hal yang dahulu dari sejak purbakala, bahwasanya Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah, dan tidak ada yang seperti Aku”.

Yesaya 46:5, “Kepada siapakah kamu hendak menyamakan Aku, hendak membandingkan dan mengumpamakan Aku, sehingga kami sama?”

Yesaya 40:25, “Dengan siapa hendak kamu samakan Aku, seakan-akan Aku seperti dia? firman Yang Mahakudus.”

Keluaran 8:10, “tidak ada yang seperti TUHAN (YAHWEH), Allah kami.”

Keluaran 9:14, “bahwa tidak ada yang seperti Aku di seluruh bumi.”

1 Samuel 2:2, “Tidak ada yang kudus seperti YAHWEH; karena tidak ada yang lain kecuali Engkau.” (ILT)

Yeremia 10:6, “Sebab tidak ada yang seperti Engkau, ya YAHWEH, Engkau besar, dan Nama-Mu agung dalam keperkasaan.” (ILT)

August 07, 2013, 12:08:05 PM
Reply #2
  • FK - Newbie
  • *
  • Posts: 20
  • Denominasi: pentakosta-kharismatik
Dari nats-nats tersebut di atas, khususnya bagian kalimat yang dimiringkan, kita dapat menarik dua kebenaran mutlak:

1)    Hanya ada satu Allah yang benar dan tidak ada yang lain, dan nama-Nya adalah Yahweh

2)    Tidak ada yang seperti Dia; tidak ada yang menyamai Dia; tidak ada yang dapat diperbandingkan dengan Dia

Jika demikian halnya, bagaimana mungkin adanya paham Trinitas? Bagaimana mungkin adanya dua pribadi lain di samping Yahweh yang sama-sama disebut Allah, yang sama-sama setara dan menyamai Yahweh? Atau, apakah kedua pribadi yang lain itu juga Yahweh? Tujuan artikel ini adalah untuk menunjukkan bahwa ayat Shema di Ulangan 6:4, yang dianggap sebagai perintah yang paling utama bagi umat Israel, yang sekaligus adalah syahadatnya Yesus Kristus, kalau tidak dikutak-katik artinya melalui terjemahan yang keliru dan tafsir yang tidak logis, menjadikan paham Trinitas itu suatu kemustahilan.

Dengan kata lain, untuk memungkinkan paham Trinitas itu dicapai, para teolog harus melakukan dua langkah:

Pertama, nama Allah di Kitab Suci Ibrani yang muncul hampir 7000 kali itu, yaitu YHWH atau Yahweh, harus dihilangkan atau dikaburkan artinya. Allah harus dibiarkan tanpa nama. Adalah jauh lebih tidak merepotkan untuk membuktikan adanya “God-in-three-persons” daripada “Yahweh-in-three-persons”, untuk menghindari pelanggaran yang terang-terangan terhadap ayat-ayat yang terkutip di atas.

Kedua, kata “echad” atau “esa/satu” juga harus diubah artinya. Kata “echad” muncul lebih dari 970 kali di Kitab Suci Ibrani, dan tidak sekalipun kata itu mengandung arti “lebih dari satu” atau “kesatuan”. Artinya secara mutlak berarti “satu dan bukan dua atau lebih”. Ayat-ayat yang dikutip untuk mendukung arti jamak atau kesatuan bagi kata “echad” sama sekali tidak masuk akal. Umpamanya, “keduanya menjadi satu daging”. Kata “satu” di sini artinya satu dan tidak lebih (satu daging dan bukan dua daging!). Arti kesatuan tidak dapat dilihat dari kata “satu” itu sendiri, tapi pada konteks, yaitu “keduanya menjadi”. “Satu sisir pisang”, “satu keluarga”, “satu kawanan domba” – arti jamak dari kalimat-kalimat seperti ini tidak terletak pada kata “satu”, tapi pada kata “sisir”, “keluarga” dan “kawanan”. Arti “jamak” atau “gabungan” untuk kata “echad/satu” diberikan oleh konteks, dan bukan oleh kata “echad/satu” itu sendiri. Oleh karena itu, kalimat “Yahweh itu satu” artinya justru itu, hanya ada satu pribadi yang bernama Yahweh. Namun argumen palsu seperti ini dipakai untuk memberi makna jamak, kesatuan, atau gabungan kepada kata “echad”.

Melalui dua langkah tersebut, pintu menuju politeisme sekarang dibuka seluas-luasnya. Ayat yang semulanya diberikan untuk melindungi umat Allah dari politeisme dan berhala, sekarang diberi arti yang baru, yang justru membenarkan politeisme yang menyamar sebagai monoteisme. Yahweh, satu-satunya Allah yang benar, yang merupakan Bapa dan Allahnya Yesus Kristus dalam kenyataannya secara halus telah digeser oleh penyembahan Yesus sebagai Allah. Dengan demikian, Iblis telah berhasil menjebak umat Allah untuk secara terang-terangan melanggar Perintah yang paling umat (Ulangan 6:4-5) dan juga, Firman yang Pertama dari Sepuluh Firman:

“Akulah TUHAN (YAHWEH), Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.  3 Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. (Keluaran 20:2-3) 

Lebih celaka lagi, siapa saja yang berani menyebut nama Yahweh disebut sesat atau penyesat! padahal Yahweh (YHWH) tsb muncul hampir 7000 kali.
August 07, 2013, 12:14:25 PM
Reply #3
  • FK - Newbie
  • *
  • Posts: 20
  • Denominasi: pentakosta-kharismatik
Kutipan

“Tapi bagi Israel hanya ada satu Allah dan pengabdian yang tunggal kepada satu Allah ini merupakan hal yang paling penting. Mengabdi dan mengikuti allah lain adalah pelanggaran yang membawa maut, ditegaskan khususnya di kitab Ulangan dan Yesaya 40-55… PB mengikuti tradisi ini dengan menganggap pasti monoteisme Yudaisme yang sudah mapan itu… Perintah yang paling utama menurut Yesus adalah shema, yaitu afirmasi atas keesaan Allah (Markus 12:29). Lawan-lawan Yahudi tidak diperlihatkan menentang Kekristenan karena telah meninggalkan monoteisme.”

Dr. James Barr, distinguished prof. at Vanderbilt, Harper Collins Bible Dictionary, hlm. 701, 865)

“Setiap orang yang mengenal fakta-fakta dasar tentang sejarah harus mengakui bahwa Trinitas bukanlah bagian dari pesan yang asli. St. Paulus tidak mengetahuinya, dan tidak akan memahami arti dari istilah-istilah yang dipakai di dalam rumus teologis yang diakui Gereja.”

Dr. Matthews, D.D., D.Litt., God in Christian Experience, hlm. 180

“Evolusi dari Trinitas: Tidak ada pakar PB yang bertanggungjawab yang akan mengklaim bahwa doktrin Trinitas itu diajarkan oleh Yesus atau diberitakan oleh umat Kristen purba atau dianuti secara sadar oleh salah satu penulis PB. Doktrin ini disusun pelan-pelan dalam beberapa abad pertama dalam upaya untuk menghasilkan sebuah doktrin tentang Allah yang dapat dimengerti. “

Dr. A.T. Hanson, Professor of Theology, University of Hull, The Image of the Invisible God, SCM Press, 1982
August 07, 2013, 12:26:08 PM
Reply #4
  • Global Moderator
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 9800
  • ForumKristen.com
Lebih celaka lagi, siapa saja yang berani menyebut nama Yahweh disebut sesat atau penyesat! padahal Yahweh (YHWH) tsb muncul hampir 7000 kali.

Ini saya kutip dari sumber Yahudi http://www.jewishvirtuallibrary.org/jsource/Judaism/name.html
Quote
Some Christian scholars render the four-letter Name as "Jehovah," but this pronunciation is particularly unlikely. The word "Jehovah" comes from the fact that ancient Jewish texts used to put the vowels of the Name "Adonai" (the usual substitute for YHVH) under the consonants of YHVH to remind people not to pronounce YHVH as written.


Jhvh belum tentu Jehovah, belum tentu pula Jahveh. Kesimpulannya, yang menyebut nama "Yahweh" dan alergi dengan istilah lain mungkin bukan sesat, melainkan ingin sok Yahudi tapi gagal :D

Salam
Kesalahan-kesalahan dalam Kesaksian Meiga Fitri
Pancasila bukan Jimat, oleh Franz Magnis Suseno
Ahok Diwawancara CCTV
August 07, 2013, 12:28:20 PM
Reply #5
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 12407
  • Gender: Male
    • http://www.mypage.com/
  • Denominasi: Protestan Injili/Evangelikal
@ pejuang,

Anda menulis,
Quote
Banyak orang Kristen tidak tahu kalau nama Yahweh itu muncul 6828 kali di dalam Kitab Suci Ibrani.

Sila kamu tunjukkan, di mana???
Tidak tahukah Anda, nama itu (Yahweh), dibikin melalui penalaran manusia, tidak alkitabiah!
Anda ini buta tapi berlagak melihat...!
Jawab Yesus kepadanya: "Jikalau kata-Ku salah, tunjukkan kesalahannya tapi jikalau kata-Ku benar, mengapakah engkau menampar Aku?" (Injil riwayat Yuhana 18:23)
August 07, 2013, 12:33:17 PM
Reply #6
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 12407
  • Gender: Male
    • http://www.mypage.com/
  • Denominasi: Protestan Injili/Evangelikal
@ pejuang,

Anda menulis,

Quote
Lebih celaka lagi, siapa saja yang berani menyebut nama Yahweh disebut sesat atau penyesat! padahal Yahweh (YHWH) tsb muncul hampir 7000 kali
.

Celakalah Anda karena saya hanya menemukan kata "YHWH" dalam tanakh asli.
Dari mana Anda mendapatkan nama Yahweh?
Orang Yahudi aja tidak tahu, siapa kamu?
Jawab Yesus kepadanya: "Jikalau kata-Ku salah, tunjukkan kesalahannya tapi jikalau kata-Ku benar, mengapakah engkau menampar Aku?" (Injil riwayat Yuhana 18:23)
August 07, 2013, 01:05:29 PM
Reply #7
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 12360
  • tidak menyimpan kepahitan
Dari nats-nats tersebut di atas, khususnya bagian kalimat yang dimiringkan, kita dapat menarik dua kebenaran mutlak:

1)    Hanya ada satu Allah yang benar dan tidak ada yang lain, dan nama-Nya adalah Yahweh

2)    Tidak ada yang seperti Dia; tidak ada yang menyamai Dia; tidak ada yang dapat diperbandingkan dengan Dia


Jika demikian halnya, bagaimana mungkin adanya paham Trinitas? Bagaimana mungkin adanya dua pribadi lain di samping Yahweh yang sama-sama disebut Allah, yang sama-sama setara dan menyamai Yahweh? Atau, apakah kedua pribadi yang lain itu juga Yahweh? Tujuan artikel ini adalah untuk menunjukkan bahwa ayat Shema di Ulangan 6:4, yang dianggap sebagai perintah yang paling utama bagi umat Israel, yang sekaligus adalah syahadatnya Yesus Kristus, kalau tidak dikutak-katik artinya melalui terjemahan yang keliru dan tafsir yang tidak logis, menjadikan paham Trinitas itu suatu kemustahilan.

Dengan kata lain, untuk memungkinkan paham Trinitas itu dicapai, para teolog harus melakukan dua langkah:

Pertama, nama Allah di Kitab Suci Ibrani yang muncul hampir 7000 kali itu, yaitu YHWH atau Yahweh, harus dihilangkan atau dikaburkan artinya. Allah harus dibiarkan tanpa nama. Adalah jauh lebih tidak merepotkan untuk membuktikan adanya “God-in-three-persons” daripada “Yahweh-in-three-persons”, untuk menghindari pelanggaran yang terang-terangan terhadap ayat-ayat yang terkutip di atas.

Kedua, kata “echad” atau “esa/satu” juga harus diubah artinya. Kata “echad” muncul lebih dari 970 kali di Kitab Suci Ibrani, dan tidak sekalipun kata itu mengandung arti “lebih dari satu” atau “kesatuan”. Artinya secara mutlak berarti “satu dan bukan dua atau lebih”. Ayat-ayat yang dikutip untuk mendukung arti jamak atau kesatuan bagi kata “echad” sama sekali tidak masuk akal. Umpamanya, “keduanya menjadi satu daging”. Kata “satu” di sini artinya satu dan tidak lebih (satu daging dan bukan dua daging!). Arti kesatuan tidak dapat dilihat dari kata “satu” itu sendiri, tapi pada konteks, yaitu “keduanya menjadi”. “Satu sisir pisang”, “satu keluarga”, “satu kawanan domba” – arti jamak dari kalimat-kalimat seperti ini tidak terletak pada kata “satu”, tapi pada kata “sisir”, “keluarga” dan “kawanan”. Arti “jamak” atau “gabungan” untuk kata “echad/satu” diberikan oleh konteks, dan bukan oleh kata “echad/satu” itu sendiri. Oleh karena itu, kalimat “Yahweh itu satu” artinya justru itu, hanya ada satu pribadi yang bernama Yahweh. Namun argumen palsu seperti ini dipakai untuk memberi makna jamak, kesatuan, atau gabungan kepada kata “echad”.

Melalui dua langkah tersebut, pintu menuju politeisme sekarang dibuka seluas-luasnya. Ayat yang semulanya diberikan untuk melindungi umat Allah dari politeisme dan berhala, sekarang diberi arti yang baru, yang justru membenarkan politeisme yang menyamar sebagai monoteisme. Yahweh, satu-satunya Allah yang benar, yang merupakan Bapa dan Allahnya Yesus Kristus dalam kenyataannya secara halus telah digeser oleh penyembahan Yesus sebagai Allah. Dengan demikian, Iblis telah berhasil menjebak umat Allah untuk secara terang-terangan melanggar Perintah yang paling umat (Ulangan 6:4-5) dan juga, Firman yang Pertama dari Sepuluh Firman:

“Akulah TUHAN (YAHWEH), Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.  3 Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. (Keluaran 20:2-3) 

Lebih celaka lagi, siapa saja yang berani menyebut nama Yahweh disebut sesat atau penyesat! padahal Yahweh (YHWH) tsb muncul hampir 7000 kali.

Sekalipun paham Trinitas itu tidak benar, namun paham yang mengatakan bahwa Yahweh itu adalah satu-satunya Allah yang benar, juga tidak benar.

Bapa yang diberitakan oleh Yesus Kristus di dalam Injil-Nya bukan berbicara tentang Yahweh; Tetapi tentang Abba, Bapa-Nya yang --kata Yesus Kristus-- tidak pernah seorangpun yang mendengar suara-Nya maupun melihat rupa-Nya.


Salam,
« Last Edit: August 07, 2013, 06:40:37 PM by sizxbn »
August 07, 2013, 05:06:49 PM
Reply #8
  • FK - Senior
  • ****
  • Posts: 481
  • Gender: Male
  • Denominasi: In Christ


1Yoh 4:12  Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah.

Yoh 1:18  Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah;

1Tim 6:16 Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut, bersemayam dalam terang yang tak terhampiri. Seorangpun tak pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat melihat Dia.

Yoh 5:37 Bapa yang mengutus Aku, Dialah yang bersaksi tentang Aku. Kamu tidak pernah mendengar suara-Nya, rupa-Nyapun tidak pernah kamu lihat,


Masa harus di jelasin lagi sih....boys??  :coolsmiley:
August 07, 2013, 05:41:55 PM
Reply #9
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 2522
  • Gender: Male
@ pejuang,

Anda menulis,
Sila kamu tunjukkan, di mana???
Tidak tahukah Anda, nama itu (Yahweh), dibikin melalui penalaran manusia, tidak alkitabiah!
Anda ini buta tapi berlagak melihat...!


coba baca di :

http://id.wikipedia.org/wiki/Tetragrammaton

bro CB ... kebanyakan orang Kristen lho yang menyebut YHVH dengan Yehuwa, Yahweh,Jehovah, dll

kalo gak percaya, coba lihat di kamus alkitab LAI untuk kata "TUHAN"!!!!!

mengenai hilangnya penggunaan kata YHVH menurut wikipedia :

Hilangnya Tetragrammaton dalam Septuaginta

Studi Septuaginta menunjukkan bahwa Nama Kudus ini ada dalam teks Ibrani yang mereka pakai sebagai dasar penterjemahan. Dr. Sidney Jellicoe menyimpulkan bahwa "Paul E. Kahle dengan tepat berpendapat bahwa teks LXX [= Septuaginta] ditulis oleh orang Yahudi untuk orang Yahudi, mempertahakan Nama Kudus dari bahasa Ibrani kuno (palaeo-Hebrew atau Aramaik) atau dalam salinan langsung huruf Yunani ΠΙΠΙ. Penggantian dengan Κύριος (Kyrios atau "Tuan") merupakan inovasi orang Kristen."[6] Jellicoe menyusun bukti dari sejumlah pakar lain (B. J. Roberts, Baudissin, Kahle and C.H. Roberts) dan berbagai bagian Septuaginta untuk menarik kesimpulan bahwa: a) tidak adanya pemakaian "Adonai" dalam teks menunjukkan istilah "Kyrios" baru dipakai kemudian, b) dalam Septuaginta "Kyrios", atau bahasa Inggris "Lord" (sama-sama berarti "Tuan"), digunakan untuk mengganti Nama YHWH, dan c) Tulisan Tetragrammaton muncul dalam naskah asli, tetapi penyalin Kristen tidak menyalinnya. Hal ini menyebabkan Tetragrammaton lambat laun hilang dari terjemahan-terjemahan Alkitab.

Pakar dan penterjemah Alkitab di abad-abad permulaan seperti Eusebius dan Hieronimus (=Jerome; penterjemah Alkitab Latin Vulgata) menggunakan Hexapla. Keduanya menyatakan pentingnya Nama Kudus dan bahwa naskah-naskah yang paling terpercaya mengandung Tetragrammaton dalam huruf-huruf Ibrani.

Terjemahan ke dalam bahasa Eropa dari Septuaginta cenderung mengikuti kebiasaan Yunani dan menggunakan terjemahan kata "Tuan", misalnya: Latin "Dominus", Jerman "der Herr", Polandia "Pan", Inggris "the Lord", Perancis "le Seigneur", dan seterusnya.

Empat huruf ini biasanya ditransliterasi dari bahasa Ibrani sebagai IHVH dalam bahasa Latin, JHWH in bahasa Jerman, bahasa Perancis dan bahasa Belanda, serta JHVH/YHWH dalam bahasa Inggris. Sering juga ditulis sebagai "Yahweh" atau "Jehovah", berdasarkan bentuk Latin,[7] meksipun teks Ibrani tidak mencantumkan huruf-huruf hidup.

Dalam terjemahan Inggris, kata "LORD", untuk YHWH, ditulis dengan small cap yaitu huruf kecilnya dicetak sebagai huruf besar dengan ukuran lebih kecil, mengikuti tradisi Yahudi yang mengucapkan pembacaan tulisan YHWH dengan kata "Adonai" ("Tuan") yang tidak berani menyebut langsung tulisan YHWH dan sebagai pelaksanaan Sepuluh Perintah Allah untuk tidak menyebut nama Allah dengan sia-sia. Kata "haŠem", (atau Ha-Shem, artinya "Nama itu") juga sering dipakai dalam tradisi Yahudi. Di tradisi Samaria diganti dengan istilah "Šemå" (atau "Shema")

anda berlagak melihat padahal "buta"

salam
Ya Bapa yang adil, memang dunia tidak mengenal Engkau, tetapi Aku mengenal Engkau, dan mereka ini tahu, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku;

Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka dan dunia membenci mereka.
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)