Author Topic: Melanggar adat meski tidak melanggar Firman Tuhan  (Read 7146 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

November 19, 2013, 03:48:13 PM
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 2088
  • Gender: Male
  • Denominasi: Sola Scriptura
Saya ambil ilustrasi begini:
Firman Tuhan tidak pernah melarang seorang lelaki dan seorang perempuan yang tidak seayah dan tidak seibu, serta mempunyai nenek moyang sama belasan generasi yang lalu untuk menikah. Akan tetapi dalam adat Batak ada larangan menikah semarga, sekalipun lelaki dan perempuan itu sudah jauh hubungan keluarganya (belasan generasi). Bukan hanya semarga, ada beberapa marga juga melarang kawin antar marga2 tertentu dengan berbagai alasan.

Sebagai orang Kristen, bolehkah kita melanggar adat istiadat sekalipun tidak melanggar Firman Tuhan? Misalnya, lelaki dan perempuan Batak Kristen yang kawin semarga?
November 19, 2013, 04:48:04 PM
Reply #1
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 2373
  • Denominasi: Trinitarian Non Denominasi !!
Saya ambil ilustrasi begini:
Firman Tuhan tidak pernah melarang seorang lelaki dan seorang perempuan yang tidak seayah dan tidak seibu, serta mempunyai nenek moyang sama belasan generasi yang lalu untuk menikah. Akan tetapi dalam adat Batak ada larangan menikah semarga, sekalipun lelaki dan perempuan itu sudah jauh hubungan keluarganya (belasan generasi). Bukan hanya semarga, ada beberapa marga juga melarang kawin antar marga2 tertentu dengan berbagai alasan.

Sebagai orang Kristen, bolehkah kita melanggar adat istiadat sekalipun tidak melanggar Firman Tuhan? Misalnya, lelaki dan perempuan Batak Kristen yang kawin semarga?
WAH kalau Pernikahan sedarah atau se Marga ...... saya hanya bisa Sumbang Saran dari Sudut Kedokteran !
Karena Fakta berbicara , pada Umumnya bila terjadi Pernikahan dari satu Kakek alias yg nikah itu antar Sdr/i Sepupu sebab salah satu orangtuanya Sedarah Sekandung ...... maka anak yg dilahirkan mempunyai Kelainan Bawaan sejak dalam Kandungan !
Bisa Lemah jantung, Jantung Bocor, Klep jantungnya gak bisa menutup rapat, Otaknya tidak berkembang sehingga agak2 bodokh, dll.
Alkitab juga ada bilang jangan ada INCEST atau Perkawinan Sedarah Sekandung ........ cuma penjelasan akibatnya tidak diberitahu ! 

Tetapi Aneh tetapi Nyata dalam Bugaya Tionghoa, malah dianjurkan agar menikah dalam satu Marga , katanya sih agar Harta mereka jangan keluar dari Lingkungan Marga (ygt penting jangan sudara sekandung dan sudah agak JAUH an bila diurut Silsilahnya !) ........ Beda lagi ya ?  :coolsmiley: :cheesy:
November 19, 2013, 05:47:47 PM
Reply #2
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 2088
  • Gender: Male
  • Denominasi: Sola Scriptura
WAH kalau Pernikahan sedarah atau se Marga ...... saya hanya bisa Sumbang Saran dari Sudut Kedokteran !
Karena Fakta berbicara , pada Umumnya bila terjadi Pernikahan dari satu Kakek alias yg nikah itu antar Sdr/i Sepupu sebab salah satu orangtuanya Sedarah Sekandung ...... maka anak yg dilahirkan mempunyai Kelainan Bawaan sejak dalam Kandungan !
Bisa Lemah jantung, Jantung Bocor, Klep jantungnya gak bisa menutup rapat, Otaknya tidak berkembang sehingga agak2 bodokh, dll.
Alkitab juga ada bilang jangan ada INCEST atau Perkawinan Sedarah Sekandung ........ cuma penjelasan akibatnya tidak diberitahu ! 

Tetapi Aneh tetapi Nyata dalam Bugaya Tionghoa, malah dianjurkan agar menikah dalam satu Marga , katanya sih agar Harta mereka jangan keluar dari Lingkungan Marga (ygt penting jangan sudara sekandung dan sudah agak JAUH an bila diurut Silsilahnya !) ........ Beda lagi ya ?  :coolsmiley: :cheesy:

Kalau di Batak itu, misalnya seseorang bermarga Simatupang artinya dia adalah keturunan nenek moyang bernama Simatupang, menurut garis ayah. Jadi semua yang bermarga Simatupang mempunyai nenek moyang yang sama, yakni Simatupang. Ada ketentuan sesama Simatupang tidak boleh kawin mengawini, karena dianggap seperti saudara kandung, meskipun mereka sudah jauh belasan generasi.

Katakanlah Simatupang punya anak (lelaki) A dan B. A kemudian punya turunan, begitu juga B. Walaupun sudah, misalnya, 15 generasi, tetap keturunan mereka dianggap saudara sehingga tidak boleh saling kawin. Misalkan Andri Simatupang A generasi 15 dengan Betty Simatupang B generasi 15, walau sudah jauh tetap saja dilarang kawin.
« Last Edit: November 19, 2013, 05:52:29 PM by Deraya »
November 19, 2013, 07:42:18 PM
Reply #3
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 6769
  • Gender: Male
  • Tuhanku Memberkatimu
  • Denominasi: Baptis
Kalau di Batak itu, misalnya seseorang bermarga Simatupang artinya dia adalah keturunan nenek moyang bernama Simatupang, menurut garis ayah. Jadi semua yang bermarga Simatupang mempunyai nenek moyang yang sama, yakni Simatupang. Ada ketentuan sesama Simatupang tidak boleh kawin mengawini, karena dianggap seperti saudara kandung, meskipun mereka sudah jauh belasan generasi.

Katakanlah Simatupang punya anak (lelaki) A dan B. A kemudian punya turunan, begitu juga B. Walaupun sudah, misalnya, 15 generasi, tetap keturunan mereka dianggap saudara sehingga tidak boleh saling kawin. Misalkan Andri Simatupang A generasi 15 dengan Betty Simatupang B generasi 15, walau sudah jauh tetap saja dilarang kawin.


Boleh om, tapi kan itu hubungannya sama keluarga, ribet dah... :D
-- Savaka-Buddha --
November 20, 2013, 12:55:59 AM
Reply #4
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 2614
Boleh. Tapi siapkah menerima sanksi adat dan sosialnya? Kalo tidak, mendingan ga usah deh.
November 20, 2013, 07:02:43 AM
Reply #5
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 2088
  • Gender: Male
  • Denominasi: Sola Scriptura
Sekarang kita bicara tentang adat istiadat secara umum, bukan hanya adat Batak, tapi adat suku2 bangsa lain juga. Bagaimana seharusnya sikap orang Kristen terhadap adat istiadat sukunya. Secara umum memang kita tahu kalau adat itu bertentangan dengan Firman Tuhan harus ditolak/ditinggalkan, misalnya adat menyembah arwah leluhur. Tetapi bagaimana menentukan apakah adat tersebut bertentangan atau tidak? Terkadang ada adat2 tertentu, terutama yang berkaitan dengan perkawinan atau kematian, yang merupakan warisan leluhur yang masih menyembah berhala. Walaupun tidak ada unsur penyembahan berhala, makna simbolis dari adat tersebut kalau ditelaah berdasar kepada mitologi kuno.
November 20, 2013, 05:32:07 PM
Reply #6
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 4732
  • Gender: Male
Saya ambil ilustrasi begini:
Firman Tuhan tidak pernah melarang seorang lelaki dan seorang perempuan yang tidak seayah dan tidak seibu, serta mempunyai nenek moyang sama belasan generasi yang lalu untuk menikah. Akan tetapi dalam adat Batak ada larangan menikah semarga, sekalipun lelaki dan perempuan itu sudah jauh hubungan keluarganya (belasan generasi). Bukan hanya semarga, ada beberapa marga juga melarang kawin antar marga2 tertentu dengan berbagai alasan.

Sebagai orang Kristen, bolehkah kita melanggar adat istiadat sekalipun tidak melanggar Firman Tuhan? Misalnya, lelaki dan perempuan Batak Kristen yang kawin semarga?

Kita hidup bermasyarakat, ada baiknya juga mengikuti tradisi dan budaya masyarakat disekitar kita yang tidak melanggar Firman Tuhan, yang tidak membawa kita kepada dosa.

Jika tradisi atau budaya itu mendatangkan dosa, melanggar hukum-hukum Allah, maka kita jelas menentukan pilihan yang benar sesuai kehendak Allah bukan kehendak masyarakat.

Dalam kasus anda, seorang yang hendak melanggar hukum adat dan budaya, yang mana hukum tersebut tidak melanggar kehendak Allah, atau FirmanNya, dan saat kamu melanggar hukum adat itupun kamu merasa tidak melanggar FirmanNya, maka sebenarnya kamu telah melanggar kehendakNya.

Kehendak Allah bukan kita menempatkan tuntutan perintah dan larangan dalam Alkitab sebagai hukum positif yang menuntut dan mendakwa kita untuk melakukan atau mendangkan hukuman saat tidak melakukannya. Kita hidup dalam hukum kasih karunia, Firman Tuhan kita taati kerena kita mengasihi Allah dan tahu apa yang menyenangkan hatiNya, bukan kerena tuntutan hukuman atas pelanggar perintah dan laranganNya.

Posisi adat dan budaya, itu bukan dilahirkan karena dosa, atau diciptakan oleh Iblis, tetapi setiap budaya dan adat serta tradisi didunia ini, Allah ikut campur dan Allah mengajarkan dalam hati anak-anak suku hukum-hukumNya. Menghormati orang tua, menikah, melahirkan, bekerja, berteman dan sampai kematian, semua mengandung pesan-pesan dan kearifan yang diajarkan oleh Allah dalam hati mereka. Kita belajar tunduk bukan hanya kepada Allah, tetapi juga kepada pemerintah dan juga sesama yang diangkat oleh komunitas sebagai pemimpin. Selama pimpinannya sejalan dengan kehendak Allah.

Jodoh juga bagian penting dalam budaya dan tradisi, yang tertuang dalam hukum adat. Benar kita boleh menikah jika kita memandang Alkitab seperti KUHP, tetapi Firman Tuhan diberikan kepada kita agar kita tahu maksud Allah, bahwa setiap orang hendaklah saling mengasihi, dan jangalah kita membuat orang lain jatuh dalam dosa kerena kita.

Saya pribadi mengajurkan untuk berfikir dua tiga kali saat anda harus melanggar hukum adat, sebab hukum adatpun ada karena kasih Allah kepada manusia. Jika cinta tidak dapat menehan hati dan pikiran, ada baiknya bicarakan secara dewasa dengan segala resikonya termasuk keluar dari lingkungan adat dan melepas marga. Itu pilihan yang mengandung konsekwensi yang benar, bukan saat ini tetapi juga masa-masa akan datang.
November 20, 2013, 08:07:50 PM
Reply #7
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 10923
sebenernya engga perlu rumit-rumit amat sih..

tinggal milih aja..

mau jadi orang yang berbudaya

atau

mau jadi orang yang tidak berbudaya..


kalo udah miliih..
be responsible dan live with the consequences...
thats it kan.. ehe..
November 20, 2013, 09:32:59 PM
Reply #8
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 2088
  • Gender: Male
  • Denominasi: Sola Scriptura
Kita hidup bermasyarakat, ada baiknya juga mengikuti tradisi dan budaya masyarakat disekitar kita yang tidak melanggar Firman Tuhan, yang tidak membawa kita kepada dosa.

Jika tradisi atau budaya itu mendatangkan dosa, melanggar hukum-hukum Allah, maka kita jelas menentukan pilihan yang benar sesuai kehendak Allah bukan kehendak masyarakat.

Dalam kasus anda, seorang yang hendak melanggar hukum adat dan budaya, yang mana hukum tersebut tidak melanggar kehendak Allah, atau FirmanNya, dan saat kamu melanggar hukum adat itupun kamu merasa tidak melanggar FirmanNya, maka sebenarnya kamu telah melanggar kehendakNya.

Kehendak Allah bukan kita menempatkan tuntutan perintah dan larangan dalam Alkitab sebagai hukum positif yang menuntut dan mendakwa kita untuk melakukan atau mendangkan hukuman saat tidak melakukannya. Kita hidup dalam hukum kasih karunia, Firman Tuhan kita taati kerena kita mengasihi Allah dan tahu apa yang menyenangkan hatiNya, bukan kerena tuntutan hukuman atas pelanggar perintah dan laranganNya.

Posisi adat dan budaya, itu bukan dilahirkan karena dosa, atau diciptakan oleh Iblis, tetapi setiap budaya dan adat serta tradisi didunia ini, Allah ikut campur dan Allah mengajarkan dalam hati anak-anak suku hukum-hukumNya. Menghormati orang tua, menikah, melahirkan, bekerja, berteman dan sampai kematian, semua mengandung pesan-pesan dan kearifan yang diajarkan oleh Allah dalam hati mereka. Kita belajar tunduk bukan hanya kepada Allah, tetapi juga kepada pemerintah dan juga sesama yang diangkat oleh komunitas sebagai pemimpin. Selama pimpinannya sejalan dengan kehendak Allah.

Jodoh juga bagian penting dalam budaya dan tradisi, yang tertuang dalam hukum adat. Benar kita boleh menikah jika kita memandang Alkitab seperti KUHP, tetapi Firman Tuhan diberikan kepada kita agar kita tahu maksud Allah, bahwa setiap orang hendaklah saling mengasihi, dan jangalah kita membuat orang lain jatuh dalam dosa kerena kita.

Saya pribadi mengajurkan untuk berfikir dua tiga kali saat anda harus melanggar hukum adat, sebab hukum adatpun ada karena kasih Allah kepada manusia. Jika cinta tidak dapat menehan hati dan pikiran, ada baiknya bicarakan secara dewasa dengan segala resikonya termasuk keluar dari lingkungan adat dan melepas marga. Itu pilihan yang mengandung konsekwensi yang benar, bukan saat ini tetapi juga masa-masa akan datang.

Misalnya, ada lelaki dan perempuan Batak semarga mau menikah, seandainya mereka masih tinggal di Indonesia, apalagi masih tinggal di kampung halaman, tentunya pelanggaran adat akan mendapat sanksi masyarakat, atau akan dijauhi masyarakat setempat.

Lalu, bagaimana kalah mereka sudah tinggal di luar negeri yang jauh dari Indonesia dan hampir tidak ada orang Indonesia (khususnya Batak) di negara tersebut. Perlukah mereka mengikuti adat istiadat suku mereka? Toh tidak ada di negara tersebut yang peduli dengan adat istiadat suku yang jauh dari negara mereka.
November 20, 2013, 09:54:47 PM
Reply #9
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 4732
  • Gender: Male
Misalnya, ada lelaki dan perempuan Batak semarga mau menikah, seandainya mereka masih tinggal di Indonesia, apalagi masih tinggal di kampung halaman, tentunya pelanggaran adat akan mendapat sanksi masyarakat, atau akan dijauhi masyarakat setempat.

Lalu, bagaimana kalah mereka sudah tinggal di luar negeri yang jauh dari Indonesia dan hampir tidak ada orang Indonesia (khususnya Batak) di negara tersebut. Perlukah mereka mengikuti adat istiadat suku mereka? Toh tidak ada di negara tersebut yang peduli dengan adat istiadat suku yang jauh dari negara mereka.

Kembali kepada mereka berdua, selalu ada konsekwensinya. Di bali jika melanggar adat dan menyatakan keluar dari lingkungan adat mereka dianggap orang luar dan tidak mendapat manfaat dari adat dan juga tidak terikat lagi dengan adat. Demikian semua ada masyarakat adat didunia, melanggar akan mendapat hukuman, tetapi jika ingin lepas dari hukum adat maka anda harus meninggalkan marga anda, keluarga anda, alias putus hubungan kekerabatan. Itu konsekwensinya, seperti yang terjadi di Bali, saat mereka menjadi seorang beriman, mereka keluar dari lingkungan adatnya dan tidak mendapatkan hak waris.

Jika anda di luar negeri, tetapi masih tetap menyandang marga dan hubungan kekeluargaan secara adat, anda tetap akan menerima saksi adat atau bisa jadi keluarga anda akan menaggungnya.

Bijaklah bertindak, bicarakanlah dengan baik-baik dan penting berdoalah minta pimpinan TUHAN agar dibukakan jalan yang terbaik. Bagi manusia mungkin mustahil tatapi bagi Allah tidak ada yang mustahil jika memang Allah menghendaki sesuatu terjadi. Milikilah iman dan tetaplah tinggal didalam kebenaran Firman Tuhan. Berusahalah untuk menjadi terang dan teladan, menjadi sosok yang dikasihi Allah dan juga manusia.

GBU
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)