Author Topic: Ayub 1:5 terjemahan yang fatal  (Read 5054 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

January 23, 2014, 09:43:05 AM
Reply #100
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 39216
Sebenarnya saya sudah 'prediksi' kalau bro. oda akan menggunakan logika seperti di atas tapi saya pikir... nanti saja deh ngejelasinnya :)

Begini bro. oda... karena Ayub hanya mengenal Yahweh yang ia sembah sebagai Yang Maha Kuasa, maka otomatis di dalam benaknya Ayub meyakini bahwa segala kejadian yang akan dan sedang berlangsung berasal dari Yahweh.... Dalam konteks keyakinan Ayub yang seperti itulah yang telah menyatakan bahwa ia bersalah; Sebab, sekalipun Yahweh Maha Kuasa, namun Dia --ternyata-- tidak semena-semena menggunakan Kuasa-Nya untuk menghukum orang.... Dan oleh sebab itu Ayub mengakui kesalahannya setelah mengetahui Kebenaran-Nya.

Ayub. 42:5   Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.
Ayub 42:6   Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu."


Mengenai anak-anaknya Ayub.
Sekalipun mereka tahu yang mana yang ELOHIMyg bkn YHWH - yang mana yang YHWH, namun anak-anaknya --mungkin juga isterinya-- meyakini bahwa 'ELOHIM lah yang Maha Kuasa sehingga Ayub selalu khawatir setiap kali anak-anaknya selesai berpesta, lalu pikirnya: "Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengucap syukur kepada 'ELOHIM di dalam hati." Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa.


Salam,

apakah ALLAH YANG DISEMBAH OLEH AYUB adalah ALLAH YANG LAIN ?? yang  berbeda dengan Kej. 1 : 1 , John 1 : 1 ??
January 23, 2014, 01:06:04 PM
Reply #101
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 12360
  • tidak menyimpan kepahitan
Maksud saya LAW, vbn. Causal Law :). Tuhan kan yang buat ?  :wink:
Kayaknya, TUHAN gak pernah buat hukum deh bro.
Hukum itu timbul dikarenakan adanya 'Pelanggaran Perintah' bro oda.. bukannya "inisiatif" TUHAN. :)

Manusia kan diciptakan secara natur ABLE TO.
Nah di pengertian saya, Sistem itu "berjalan" berdasarkan ABLE TO nya si manusia :).

IMO yang bisa dikatakan pilihan itu bukan yg biner oposisi, vbn.
Yang bisa dikatakan pilihan adalah : adanya BP (buah pengetahuan) dan adanya buah2 pohon lain.
Secara sudah dicanangkan agar jangan makan BP, maka ada pilihan laen - yakni makan buah2 yang bukan BP.
So diketika AdamHawa makan BP, maka itu berdasarkan keinginan mereka utk makan BP :wink:
Lagi-lagi bro. oda salah mengerti maksud saya dengan mengatakan: "pilihan manusia"

Yang saya maksudkan dengan "pilihan manusia" --adalah-- dikarenakan TUHAN tidak menyediakan pilihan bagi manusia; Melainkan "Perintah".. sekali lagi "Perintah" :)

Tetapi manusia, ketika enggan melakukan "Perintah" TUHAN tersebut, maka --pada saat yang bersamaan-- terbukalah apa yang disebut sebagai "Pilihan"..... padahal TUHAN sendiri tidak pernah memberikan wewenang-Nya kepada manusia untuk memilih.

Sedangkan pohon Pengetahuan yang baik dan yang jahat --yang ditumbuhkan oleh TUHAN-- adalah hal lain dengan maksud-Nya sendiri.

Entahlah vbn.... kalo menurut saya segala macem LAW itu ya Tuhan yang buat.... bukan manusia :).
 IMO, Rule/Law  Perintah Tuhan (FT) adalah sebagian kecil dari LAW yang Dia nyatakan demi kebaikan manusia.  :azn:

:)
salam.
Perintah TUHAN itu murni dengan maksud yang mulia bro oda...
Artinya, TUHAN tidak mempunyai 'spirit' kepada manusia untuk manusia melanggar Perintah-Nya.

Salam,
January 23, 2014, 03:53:14 PM
Reply #102
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 13019
    • fossil coral cantik
Kayaknya, TUHAN gak pernah buat hukum deh bro.
Maksud saya bukan tentang perihal Tuhan sengaja membuat hukuman, vbn.

Jadi maksud saya begini....
Secara skala kecil, ketika vbn membangun rumah - vbn sedang membuat "hukum" (sistem) utk dirsen vbn. Blakangan ketika anak vbn lahir di rumah tsb, maka si anak itu bukan pembuat hukum/sistem rumah tsb - melainkan vbn lah tetep yg membuatnya.

Quote
Hukum itu timbul dikarenakan adanya 'Pelanggaran Perintah' bro oda..
IMO, Tuhan nggak menghukum AdamHawa karena mereka melanggar perintah jangan makan buah, vbn.

(dalam skala kecil) Saya mengertikannya BUKAN spt sbb :
Ayah : jangan berbohong, yang berbohong ayah cambuk 10x.

melainkan,
Ayah : jangan ngebut, nanti kecelakaan.
Ini skala kecil dimana si ayah sendiri bukan pembuat hukum bhw IF ngebut = true, THEN kecelakaan pasti teraplikasi.

Quote
bukannya "inisiatif" TUHAN. :)
Kayaknya saya nangkep dimana/kenapa ada perbedaan pendapat antara kita berdua.

Di pov vbn :
Sistem/Hukum (SebabAkibat) itu belon jadi - baru jadi setelah ada pelanggaran - kalo tidak ada pelanggaran maka tidak ada hukum.

Di pov odading :
Terlepas ada/tidak-nya aksi yang dilakukan, Causal Law itu sudah jadi : IF...THEN...
Nggak pandang bulu, pokok diketika aksi manusia itu IF kondisi-nya = true, THEN-nya teraplikasi.
Di kisah AdamHawa, Tuhan memberitahukan sekelumit dari rumitnya IF...THEN... yg sudah jadi tsb ---> "jangan makan BP (buah pengetahuan), IF makan BP then mati"

Quote
Lagi-lagi bro. oda salah mengerti maksud saya dengan mengatakan: "pilihan manusia"

Yang saya maksudkan dengan "pilihan manusia" --adalah-- dikarenakan TUHAN tidak menyediakan pilihan bagi manusia; Melainkan "Perintah".. sekali lagi "Perintah" :)
Ya... saya sudah menemukan perbedaan pengertian kita :).

Betul, yang pengertian di pov vbn itu memang bisa dikatakan perintah.
"jangan makan BP ... IF makan THEN saya bikin kamu mati" ---> Hukum IF...THEN... tidak exist selama manusia tidak melanggar perintah tsb. Baru exist ketika manusia melanggar. Ini kan yg ada di pengertian vbn ? PLease CMIIW.

Sedangkan yang ada di pengertian saya :
Hukum IF makan THEN mati itu sudah exist duluan (dan semua link IF...THEN... laen yg amat sangat rumit dan sudah exist)  terlepas ada/tidak-nya aksi. Inilah "sistem" (Causal Law), sudah ada duluan - sebelum AdamHawa ada di bumi.

Tuhanlah yang membuat : IF...THEN..., IF bla3x THEN blu3x, IF begini THEN begono, shg bisa dikatakan s/d ~infinite~ karena manusia tidak akan bisa mengetahui semuanya.

Quote
Tetapi manusia, ketika enggan melakukan "Perintah" TUHAN tersebut, maka --pada saat yang bersamaan-- terbukalah apa yang disebut sebagai "Pilihan"
Dari bold, pertanyaannya manusia itu bisa enggan - bisa juga tidak-enggan, gak vbn ?  :wink:

DI pengertian saya, manusia itu bisa enggan - bisa juga tidak enggan melakukan suatu Perintah.
Aksi yang di execute-nya tsb bisa di dua kemungkinan :

1. Deliberately/intentionally tidak mau menaati suatu perintah --- dengan kata lain, ybs sengaja melanggar suatu Perintah dengan motif menantang si pembuat perintah.

2. Tidak deliberately/intentionally tidak mau menaati suatu perintah --- dengan kata lain, ketika pelanggaran dilakukan maka motif ybs itu entah apa, namun bukan di motif deliberately/intentionally menantang si pembuat perintah.

Di kisah AdamHawa, saya menyimpulkan aksi AdamHawa makan buah ada di point-2 ... dimana vbn menyimpulkan di point-1. Please CMIIW.

Quote
Perintah TUHAN itu murni dengan maksud yang mulia bro oda...
Ya sependapat (odading plus Kasih) ... walopun kita berdua berbeda pengertiannya, namun ujung2nya sama ya vbn ... hehehe...  :char11:

:)
salam.
January 23, 2014, 09:33:12 PM
Reply #103
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 12360
  • tidak menyimpan kepahitan
Maksud saya bukan tentang perihal Tuhan sengaja membuat hukuman, vbn.

Jadi maksud saya begini....
Secara skala kecil, ketika vbn membangun rumah - vbn sedang membuat "hukum" (sistem) utk dirsen vbn. Blakangan ketika anak vbn lahir di rumah tsb, maka si anak itu bukan pembuat hukum/sistem rumah tsb - melainkan vbn lah tetep yg membuatnya.

Bro.oda lupa? jika di pov-nya vbn, yang membuat rumah dengan yang menciptakan rumah itu berbeda? :)

IMO, Tuhan nggak menghukum AdamHawa karena mereka melanggar perintah jangan makan buah, vbn.

(dalam skala kecil) Saya mengertikannya BUKAN spt sbb :
Ayah : jangan berbohong, yang berbohong ayah cambuk 10x.

melainkan,
Ayah : jangan ngebut, nanti kecelakaan.
Ini skala kecil dimana si ayah sendiri bukan pembuat hukum bhw IF ngebut = true, THEN kecelakaan pasti teraplikasi.

Dasar di balik Perintah TUHAN itulah --sebenarnya-- yang manusia tidak langsung dapat mengetahui; melainkan --ia mengetahuinya-- dengan menggunakan logikanya atau pikirnya semata.

Kayaknya saya nangkep dimana/kenapa ada perbedaan pendapat antara kita berdua.

Di pov vbn :
Sistem/Hukum (SebabAkibat) itu belon jadi - baru jadi setelah ada pelanggaran - kalo tidak ada pelanggaran maka tidak ada hukum.

Di pov odading :
Terlepas ada/tidak-nya aksi yang dilakukan, Causal Law itu sudah jadi : IF...THEN...
Nggak pandang bulu, pokok diketika aksi manusia itu IF kondisi-nya = true, THEN-nya teraplikasi.
Di kisah AdamHawa, Tuhan memberitahukan sekelumit dari rumitnya IF...THEN... yg sudah jadi tsb ---> "jangan makan BP (buah pengetahuan), IF makan BP then mati"
 Ya... saya sudah menemukan perbedaan pengertian kita :).

Betul, yang pengertian di pov vbn itu memang bisa dikatakan perintah.
"jangan makan BP ... IF makan THEN saya bikin kamu mati" ---> Hukum IF...THEN... tidak exist selama manusia tidak melanggar perintah tsb. Baru exist ketika manusia melanggar. Ini kan yg ada di pengertian vbn ? PLease CMIIW.

Sedangkan yang ada di pengertian saya :
Hukum IF makan THEN mati itu sudah exist duluan (dan semua link IF...THEN... laen yg amat sangat rumit dan sudah exist)  terlepas ada/tidak-nya aksi. Inilah "sistem" (Causal Law), sudah ada duluan - sebelum AdamHawa ada di bumi.

Tuhanlah yang membuat : IF...THEN..., IF bla3x THEN blu3x, IF begini THEN begono, shg bisa dikatakan s/d ~infinite~ karena manusia tidak akan bisa mengetahui semuanya.

Kesimpulan yang seperti warna merah itulah yang pada akhirnya diyakini oleh semua orang, bahwa seolah-olah TUHAN lah 'biang kerok' dari semua malapetaka yang ada di dunia ini.... padahal bukan... mirip dengan kisah Ayub.

Sebab, TUHAN mengatakan:
Yer. 29:11   Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah Firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.

Dari bold, pertanyaannya manusia itu bisa enggan - bisa juga tidak-enggan, gak vbn ?  :wink:

DI pengertian saya, manusia itu bisa enggan - bisa juga tidak enggan melakukan suatu Perintah.
Aksi yang di execute-nya tsb bisa di dua kemungkinan :

1. Deliberately/intentionally tidak mau menaati suatu perintah --- dengan kata lain, ybs sengaja melanggar suatu Perintah dengan motif menantang si pembuat perintah.

2. Tidak deliberately/intentionally tidak mau menaati suatu perintah --- dengan kata lain, ketika pelanggaran dilakukan maka motif ybs itu entah apa, namun bukan di motif deliberately/intentionally menantang si pembuat perintah.

Di kisah AdamHawa, saya menyimpulkan aksi AdamHawa makan buah ada di point-2 ... dimana vbn menyimpulkan di point-1. Please CMIIW.
Apakah bro.oda lupa jika di belakang terjadinya pelanggaran 'Perintah' oleh manusia (Adam-Hawa) itu ada yang ikut mempengaruhinya?

Ya sependapat (odading plus Kasih) ... walopun kita berdua berbeda pengertiannya, namun ujung2nya sama ya vbn ... hehehe...  :char11:

:)
salam.
Ya, ini yang disebut dengan serupa tapi tak sama bro.oda :)


Salam,
January 23, 2014, 10:49:20 PM
Reply #104
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 1526
  • Denominasi: kharismatik
Bro.oda lupa? jika di pov-nya vbn, yang membuat rumah dengan yang menciptakan rumah itu berbeda? :)

Dasar di balik Perintah TUHAN itulah --sebenarnya-- yang manusia tidak langsung dapat mengetahui; melainkan --ia mengetahuinya-- dengan menggunakan logikanya atau pikirnya semata.

Kesimpulan yang seperti warna merah itulah yang pada akhirnya diyakini oleh semua orang, bahwa seolah-olah TUHAN lah 'biang kerok' dari semua malapetaka yang ada di dunia ini.... padahal bukan... mirip dengan kisah Ayub.

Sebab, TUHAN mengatakan:
Yer. 29:11   Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah Firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.
Apakah bro.oda lupa jika di belakang terjadinya pelanggaran 'Perintah' oleh manusia (Adam-Hawa) itu ada yang ikut mempengaruhinya?
Ya, ini yang disebut dengan serupa tapi tak sama bro.oda :)


Salam,
Anda sedang kentut ya bro..  ;D
January 24, 2014, 12:07:39 PM
Reply #105
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 13019
    • fossil coral cantik
Bro.oda lupa? jika di pov-nya vbn, yang membuat rumah dengan yang menciptakan rumah itu berbeda? :)
waks.... iya saya lupa... hehehe.
Tapi terus terang saya masih belon nangkep jelas ttg pengertian vbn tsb  :char11:.
Saya nggak nangkep perbedaan yg signifikan antara membuat dan menciptakan.

apakah maksud vbn disini perbedaan antara arsitek dan tukang2 ?
Arsitek merancang rumah - dia tidak langsung kerja bikin itu rumah... tapi bisa dikatakan "rumah itu dibuat oleh arsitek ternama, Cuplis."

Tukang2 jelas yang literally membuat itu rumah... dan tetep bisa juga dikatakan "rumah itu dibuat oleh para tukang selama 1 tahun".

Please CMIIW.

Quote
Kesimpulan yang seperti warna merah itulah yang pada akhirnya diyakini oleh semua orang, bahwa seolah-olah TUHAN lah 'biang kerok' dari semua malapetaka yang ada di dunia ini.... padahal bukan... mirip dengan kisah Ayub.
Itu dah vbn ... "seolah olah"----> "seolah olah" ini timbul kan hanya diketika ada event tertentu yg menimpa individu, dimana event ini di pov individu ybs (individu loh ya... bukan manusia general) adalah sesuatu yg tidak menyenangkan si individu ini.

padahal, IF...THEN... itu GENERAL bukan individual/personal.
("gak pandang bulu" saya istilahkan pada post sebelumnya).

Quote
Sebab, TUHAN mengatakan:
Yer. 29:11   Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah Firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.
Betul... dan ini individual/personal.

Dilain sisi, Tuhan juga berkata : I form the light and create darkness, I make peace and I create evil; I am the Lord, Who does all these things. ---> dan ini-lah yg general.

Yang general inilah yg dijadikan seorang individu seolah olah bad things happen to him gara2 Allah personally/deliberately/intentionally melakukannya ke individu ini DIKARENAKAN dia melakukan suatu aksi tertentu hasil dari godaan iblis.

Ayub di malapetaka pertama, dia masih sanggup tahan - Ayub tidak menyalahkan Allah.
Di malapetaka kedua, Ayub akhirnya jadi stress dan nggak sanggup tahan ... namun bukannya Ayub memohon jalan terang dari Allah - memohon pertolonganNYA, Ayub malah bertanya/menantang : dimana kesalahan dia sampe tertimpa malapetaka demikian.

bersambung.
January 24, 2014, 12:07:57 PM
Reply #106
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 13019
    • fossil coral cantik
Quote
Apakah bro.oda lupa jika di belakang terjadinya pelanggaran 'Perintah' oleh manusia (Adam-Hawa) itu ada yang ikut mempengaruhinya?
Ya... ada uler ditunggangin iblis  :char11:

Namun kalo setiap event bad things selalu mau dikaitkan garagara setan/iblis ... maka ke konsistenannya adalah : AyubPUN sebelumnya tergoda iblis sehingga bad things (malapetaka) happen to him, kan vbn ?

Disisi lain, konsisten juga berdasarkan kisah Ayub yakni ada event "kerjasama" di alam sono --- maka iblis ada di Eden itu ya setelah adanya event "kerjasama" di alam sono :).

IMO, fenomena seperti demikian masih terjadi s/d saat ini (per individu yah, saya nggak lagi generalisasi)
Sso sudah hati2 berkendaraan dijalan, nggak ngebut dlsb, tertimpa kecelakaan - dia lalu menghubung-hubungkan / mencari cari kesalahan apa yg dia perbuat kepada Tuhan .... misal, "inilah akibatnya saya gak ke gereja minggu kemaren, makanya Tuhan hukum saya" , atau misal .. "oh... ini karena semalem saya ngedugem, Tuhan gak seneng - makanya saya dihukum". ------- dan kalo gak ketemu temu hubungannya, ujung2nya bisa jadi kayak Ayub  "salah saya apaaaaa ... kenapa Tuhan hukum saya ????"  :char11:

Sso yang ngebut2an - reckless driver tertimpa kecelakaan ... lalu dia berpendapat : "inilah hukuman dari Tuhan karena saya ngebut2an" (personally.deliberately.intentionally Tuhan literally memberikan hukuman ke individu ini).

Padahal dilain sisi, ada orang yg ngebut2an tapi nggak pernah ngalamin kecelakaan. Dan sebelum dia pernah ngalamin kecelakaan, dia sudah tidak suka ngebut2an lagi .... dan justru stlh dia nggak ngebut2an malah ngalamin kecelakaan  :D  :char11:

Di pov saya, terus terang pikiran2 spt orange tsb = konyol  :char11:, karena saya sendiri memang tidak pernah berpedoman bhw Tuhan menghukum (instant karma) personally/deliberately/intentionally karena kesel pada individu ybs melakukan aksi dimana aksi tsb dikarenakan tergoda omongan setan/iblis. (tergoda iblis utk ngebut, tergoda iblis utk ga ke gereja, tergoda iblis utk dugem, tergoda iblis utk makan pedes kebanyakan sehingga Tuhan hukum moncor2).

IMO, InstantKarma, bad things - good things happen berdasarkan aksi berkait (link) dari Causal dimana IF..THEN.. ini "sudah jadi duluan". Tidak pernah bersifat personal, selalu general --- dan ini saya istilahkan sebagai "tempa-an" / "gemblengan" para manusia (general) di dunia ini :).

Kalo menurut vbn, malapetaka yang Ayub alami itu kenapa ? (mohon posisikan diri vbn sebagai Ayub yang tentu tidak mengetahui adanya event "kerjasama" di alam sono).

:)
salam.
« Last Edit: January 24, 2014, 12:13:20 PM by odading »
January 24, 2014, 02:18:04 PM
Reply #107
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 12360
  • tidak menyimpan kepahitan
waks.... iya saya lupa... hehehe.
Tapi terus terang saya masih belon nangkep jelas ttg pengertian vbn tsb  :char11:.
Saya nggak nangkep perbedaan yg signifikan antara membuat dan menciptakan.

apakah maksud vbn disini perbedaan antara arsitek dan tukang2 ?
Arsitek merancang rumah - dia tidak langsung kerja bikin itu rumah... tapi bisa dikatakan "rumah itu dibuat oleh arsitek ternama, Cuplis."

Tukang2 jelas yang literally membuat itu rumah... dan tetep bisa juga dikatakan "rumah itu dibuat oleh para tukang selama 1 tahun".

Please CMIIW.

Menurut pandangan saya-- ada perbedaan Spirit yang mendasar antara si PEMBUAT 'IDE' dengan PELAKSANA 'IDE'.

Spirit Pembuat 'IDE' adalah KEINGINAN; Sedangkan Spirit Pelaksana 'IDE' adalah Perwujudan kesempurnaan atas 'IDE'

Itu dah vbn ... "seolah olah"----> "seolah olah" ini timbul kan hanya diketika ada event tertentu yg menimpa individu, dimana event ini di pov individu ybs (individu loh ya... bukan manusia general) adalah sesuatu yg tidak menyenangkan si individu ini.

padahal, IF...THEN... itu GENERAL bukan individual/personal.
("gak pandang bulu" saya istilahkan pada post sebelumnya).
Kondisi "IF...THEN..." baru terbentuk setelah adanya Spirit "KEINGINAN" menolak Spirit Pelaksana 'IDE'.
Artinya, kondisi "IF...THEN..." itu merupakan hasil murni dari si PEMBUAT 'IDE'.

Betul... dan ini individual/personal.

Dilain sisi, Tuhan juga berkata : I form the light and create darkness, I make peace and I create evil; I am the Lord, Who does all these things. ---> dan ini-lah yg general.

Yang general inilah yg dijadikan seorang individu seolah olah bad things happen to him gara2 Allah personally/deliberately/intentionally melakukannya ke individu ini DIKARENAKAN dia melakukan suatu aksi tertentu hasil dari godaan iblis.

Ayub di malapetaka pertama, dia masih sanggup tahan - Ayub tidak menyalahkan Allah.
Di malapetaka kedua, Ayub akhirnya jadi stress dan nggak sanggup tahan ... namun bukannya Ayub memohon jalan terang dari Allah - memohon pertolonganNYA, Ayub malah bertanya/menantang : dimana kesalahan dia sampe tertimpa malapetaka demikian.

bersambung.
Menurut saya, pandangan seperti itu bukan sekedar pandangan personally saja; melainkan pandangan umum semua orang (general) bro.oda :)
January 24, 2014, 03:00:08 PM
Reply #108
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 12360
  • tidak menyimpan kepahitan
Ya... ada uler ditunggangin iblis  :char11:

Namun kalo setiap event bad things selalu mau dikaitkan garagara setan/iblis ... maka ke konsistenannya adalah : AyubPUN sebelumnya tergoda iblis sehingga bad things (malapetaka) happen to him, kan vbn ?

-cut--
Ayub berpikiran seperti itu --sehingga menyalahkan TUHAN-- bukan karena godaan iblis, melainkan berasal dari pengertian keyakinannya sendiri; sehingga ia ngotot kalau dirinya tidak melakukan kesalahan.

Semua itu menjadi penilaian Ayub, oleh karena Ayub tidak mengerti situasi apa yang sebenarnya telah terjadi dibelakang 'Tabir'..... baru, setelah TUHAN menyatakan-Nya, Ayub menyesal dan mengakui kesalahannya dengan mengatakan:

Ayub 42:5   Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.
Ayub 42:6   Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu."



Salam,
January 24, 2014, 03:15:02 PM
Reply #109
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 12360
  • tidak menyimpan kepahitan
-cut--
Kalo menurut vbn, malapetaka yang Ayub alami itu kenapa ? (mohon posisikan diri vbn sebagai Ayub yang tentu tidak mengetahui adanya event "kerjasama" di alam sono).

:)
salam.
Wah, kalo sekarang saya harus diposisi si Ayub, sepertinya susah juga ya bro... karena saya sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi :)

Salam,
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)