Author Topic: Ke-esa-an gereja  (Read 4430 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

October 15, 2019, 04:05:45 PM
Reply #220
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 3808
  • Gender: Male
  • Denominasi: Bukan Denominasi
SAMBUNGAN

Menjawab pertanyaan mengenai kesatuan tata ibadah, kesatuan liturgi dan lain2.
Harus dipahami apa itu ibadah. Ibadah adalah tindakan yang menyatakan bakti kepada Tuhan. Orang berdoa dengan sikap tinggi hati itu ibadah.
Lukas 18:11 (TB)  Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini;
Orang berdoa dengan merendahkan diri dihadapan Tuhan itu ibadah.
Lukas 18:13 (TB)  Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.
Daud menari nari di depan tabut perjanjian, itu ibadah.
Maryam menari-nari bersama orang israel setelah diluputkan dari tentara mesir, itu ibadah.
Musa bermazmur itu ibadah.
Jadi bukan masalah tata cara (protokoler) ibadah. Melainkan iman.
Oke.
Menurut pendapatku, jika Gereja itu esa, maka doktrin dan tata ibadat pada Gereja adalah sama. Perbedaan yang mungkin ialah suasana, misal suasana kabung berbeda dari suasana gembira berbeda dari suasana hikmat.
Doktrin yang mendasari sesuatu yang esa, kuyakini, hanya satu.

Menjawab apakah mungkin berbagai aliran kepercayaan itu bersatu.
Aliran kepercayaan adalah buatan manusia. Tuhan tidak pernah menciptakan aliran kepercayaan ataupun agama. Pada jaman Yesus sendiri ada banyak aliran kepercayaan, 2 di sebut dalam alkitab yaitu pengikut Yesus dan pengikut Yohanes. Tetapi keduanya bersatu dalam iman kepada Kristus, yaitu percaya bahwa Yesus adalah Mesias. Yesus tidak mengatakan hai kamu pengikut Yohanes harus mengikuti aku kemanapun aku pergi supaya disebut pengikut Yesus, melainkan
Lukas 7:22-23 (TB)  Dan Yesus menjawab mereka: "Pergilah, dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar: Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik.
Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku."
Maka aliran kepercayaan itu bersatu dalam iman.
Sampai batas tertentu, yaitu tidak sampai saling menjatuhkan, pikiran @marthinL  berterima di benak @Sotardugur Parreva. Jika masuk ke contoh yang @marthinL sebut itu, pengikut Yesus dan pengikut Yohanes, sependek yang kutangkap, kedua golongan itu tidak saling menjatuhkan. Bandingkan dengan kelompok-kelompok yang ada dewasa ini. Banyak kelompok yang "menepuk dada" dan memandang kelompok lain sebagai kelompok yang salah. Tidak belajar dari sejarah, di mana sebelum Konsili Vatikan II, Katolik mengkafirkan Protestan, tetapi setelah Konsili Vatikan II, Katolik memandang Protestan sebagai saudara.

Jadi, jika kelompok-kelompok dengan degil menganggap kelompoknya sendiri yang benar dan kelompok lain salah, mustahil menjadi satu. Berterima di pemahaman @Sotardugur Parreva kelompok-keompok itu adalah satu jika masing-masing kelompok merasa kelompoknya benar, tetapi kelompok lain tidak salah. Meski demikian, masing-masing kelompok merasa benar, namun keputusan akhir, kelompoknya benar-benar benar, ada di keputusan hakim tertinggi, yaitu Yesus Kristus.

Salam damai.
Rawat empat konsensus nasional, Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika
Kita Bhinneka kita Indonesia
Kita berhikmat bangsa bermartabat
October 17, 2019, 03:39:02 AM
Reply #221
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 3116
Jeblok.
Tidak ada pihak yang menambah kitab-kitab Alkitab sejak abad IV.


Saya katakan menambahi ajaran yg bertentangan dengan Alkitab ditafsirkan menambahi Alkitab ????

Akal anda masih sehat ?

October 17, 2019, 08:22:19 AM
Reply #222
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 1093
  • Denominasi: Protestan
Jeblok.
Tidak ada pihak yang menambah kitab-kitab Alkitab sejak abad IV.
Tetapi, pihak yang mengurangi beberapa kitab dan menamainya sebagai kitab apokrifa, yang kemudian sudah hilang dari Alkitab sejak abad XIX, pernah terjadi dimulai pada abad XVI.
Betapa memalukan, para pengikut orang abad XVI itu justru menuding pernah terjadi penambahan Alkitab, padahal, kenyataan yang ada, pihak yang mengurangi Alkitablah yang pernah terjadi.

Damaikan hatimu, jangan menggunakan hoaks sebagai referensi diskusi.

Tradisi mariologi itu apakah tidak menambahi Kitab Suci ?
October 17, 2019, 10:57:07 AM
Reply #223
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 3808
  • Gender: Male
  • Denominasi: Bukan Denominasi
Saya katakan menambahi ajaran yg bertentangan dengan Alkitab ditafsirkan menambahi Alkitab ????
Akal anda masih sehat ?
Jebloook, jeblok.
Kapan dan di mana itu @jamu katakan?
Di forum ini, partisipan dominan menggunakan tulisan, bukan kata-kata lisan.
Pun kalo di trit ini sudah @jamu tuliskan, coba kutipkan tulisanmu itu, agar @jamu tidak terkategori asnul (asal nulis).
Atau, tulisan @jamu itu ada di trit lain, karena kejeblokanmu lantas @jamu campuradukkan di sini?
Atau, @jamu itu klonengan partisipan lain, kelupaan bahwa dirimu klonengan?
Jangan pelihara kejeblokan.
Di trit ini, pos#221 adalah posting pertama @jamu, langsung menanyakan kesehatan akal @Sotardugur Parreva, seolah sebelumnya sudah ada interaksi kita di trit ini. @jamu jeblok mengquote Reply#218 tulisan @Sotardugur Parreva untuk merespon tulisan @alacarte.
Apakah @jamu itu klonengan @alacarte?
Avatar yang @jamu gunakan sama dengan avatar @Charismata. Apakah @jamu itu klonengan @Charismata?

Saranku, kalo @jamu mau jeblok, silahkan jeblok, tapi jangan ke-banget-an.
Rawat empat konsensus nasional, Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika
Kita Bhinneka kita Indonesia
Kita berhikmat bangsa bermartabat
October 17, 2019, 11:03:05 AM
Reply #224
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 3808
  • Gender: Male
  • Denominasi: Bukan Denominasi
Quote from: Sotardugur Parreva on October 15, 2019, 03:01:28 PM
Jeblok.
Tidak ada pihak yang menambah kitab-kitab Alkitab sejak abad IV.
Tetapi, pihak yang mengurangi beberapa kitab dan menamainya sebagai kitab apokrifa, yang kemudian sudah hilang dari Alkitab sejak abad XIX, pernah terjadi dimulai pada abad XVI.
Betapa memalukan, para pengikut orang abad XVI itu justru menuding pernah terjadi penambahan Alkitab, padahal, kenyataan yang ada, pihak yang mengurangi Alkitablah yang pernah terjadi.

Damaikan hatimu, jangan menggunakan hoaks sebagai referensi diskusi.
Tradisi mariologi itu apakah tidak menambahi Kitab Suci ?
Oala.
@alacarte menulis Tradisi mariologi apakah tidak menambahi Kitab Suci?, apa artinya?
Apakah (1)@alacarte memaksudkan bahwa Tradisi Mariologi itu ditambahkan menjadi bagian dari Alkitab?
Atau, (2)Tradisi Mariologi satu bagian, Alkitab satu bagian, sehingga Tradisi Mariologi bagian terpisah dari Alkitab yang ditambahkan mendampingi Alkitab?
Yang mana yang sesuai dengan maksud @alacarte pada tulisanmu Tradisi mariologi apakah tidak menambahi Kitab Suci? Yang (1) atau yang (2)?

Karena sudah berulangkali kutulis bahwa landasan menggereja ialah Tradisi Suci, Kitab Suci, dan Magisterium, maka membaca tulisanmu Tradisi mariologi apakah tidak menambahi Kitab Suci? kumaknai bahwa Tradisi Mariologi menjadi bagian dari Alkitab (seperti maksud (1)). Meski demikian, pemaknaan atas tulisanmu itu masih berterima jika diartikan seperti arti (2).
Tradisi Suci, Kitab Suci, dan Magisterium itu masing-masing terpisah. Justru kalo dimaknai sebagai penambah, Kitab Sucilah yang patut dipandang sebagai penambah, sebab, Tradisi Suci dan Magisterium sudah dilaksanakan ketika para rasul masih bersama Yesus Kristus. Kitab Suci kemudian ditambahkan sebagai landasan hidup menggereja, setelah Kitab Suci dikanon.

Bisa ditangkap?

Jadi, konsep atau prinsip Sola Scriptura yang dimunculkan abad XVI adalah niatan si jahat, memelencengkan ajaran Yesus Kristus yang semula dilaksanakan dengan Tradisi Suci dan Magisterium. Dengan perjalanan dinamika Gereja, Kitab Suci dikanon abad IV, yang artinya, sejak abad I sampai terkanonnya Kitab Suci, Gereja tidak berdasarkan pada Kitab Suci (yang kitabnya masih terpisah-pisah). Lalu, pada abad XVI Sola Scriptura digagas, dan menarik perhatian banyak anggota jemaat. Terbentuklah Gereja(baru? Atau hanya mencerai-beraikan?), dan Gereja menjadi jamak (lebih dari satu). Gerja menjadi tidak esa.

Damaikan hatimu, jangan lagi menggunakan info hoaks sebagai referensi diskusi.
Rawat empat konsensus nasional, Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika
Kita Bhinneka kita Indonesia
Kita berhikmat bangsa bermartabat
October 18, 2019, 01:21:33 AM
Reply #225
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 3116
Jebloook, jeblok.
Kapan dan di mana itu @jamu katakan?
Di forum ini, partisipan dominan menggunakan tulisan, bukan kata-kata lisan.
Pun kalo di trit ini sudah @jamu tuliskan, coba kutipkan tulisanmu itu, agar @jamu tidak terkategori asnul (asal nulis).
Atau, tulisan @jamu itu ada di trit lain, karena kejeblokanmu lantas @jamu campuradukkan di sini?
Atau, @jamu itu klonengan partisipan lain, kelupaan bahwa dirimu klonengan?
Jangan pelihara kejeblokan.
Di trit ini, pos#221 adalah posting pertama @jamu, langsung menanyakan kesehatan akal @Sotardugur Parreva, seolah sebelumnya sudah ada interaksi kita di trit ini. @jamu jeblok mengquote Reply#218 tulisan @Sotardugur Parreva untuk merespon tulisan @alacarte.
Apakah @jamu itu klonengan @alacarte?
Avatar yang @jamu gunakan sama dengan avatar @Charismata. Apakah @jamu itu klonengan @Charismata?

Saranku, kalo @jamu mau jeblok, silahkan jeblok, tapi jangan ke-banget-an.


Jadi kalau Kitab Suci sudah ada mengapa masih harus ditambahi dengan segala macam ajaran menyimpang  tradisi gerejamu itu ?

« Last Edit: October 18, 2019, 01:25:36 AM by jamu »
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)