Author Topic: Kontroversi keranjang sampah  (Read 94944 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

May 13, 2009, 01:55:52 AM
Reply #50
  • FK - Full Member
  • ***
  • Posts: 112
    • Faithfreedompedia
Sumber:
indonesia.faithfreedom.org/forum

Didalam Quran terdapat banyak banget kesalahan dalam hal teknologi. Seperti kosmologi, sperma yang dibikin diantara tulang dada dan subi (ada penemuan dokter jerman kalau memang bisa dibikin dari situ tapi tidak alami, ingat semua bahan dari tubuh kita sama C, H, O, N jadi misal ada kulit pipi hilang, bisa ditukar sama kulit punggung misalnya), pertumbuhan janin dsb dsb dsb dsb, buanyak deh.

Okay, back to laptop!

Didasarkan pada artikel dengan penambahan /pengurangan : Richard Carrier Cosmology and the Koran: A Response to Muslim Fundamentalists (2001)
http://www.sullivan-county.com/x/koran_cos.htm

Muslim Fundamentalist sangat senang mengklaim bahwa Quran secara ajaib mempredisksi penemuan-penemuan sains modern. Tapi yang sebenarnya ada beberapa fakta mengenai Quran: Daftar isi [sembunyikan]
1 Tidak ada berita gaib dalam Quran
2 2. Prediksi Kosmology Quran salah
3 Masalah 7 Lapis Langit
4 Bumi sebagai pusat alam semesta
5 Kutipan dari Talmud Tract Hagiga

Tidak ada berita gaib dalam Quran

Banyak bukti-bukti tentang ke ajaiban Quran kenyataannya dapat diperdebatkan, kerena pengetahuan yang dihadirkan sudah diketahui baik di Mediteranian dan Timur Tengah sejak berabad-abad sebelum Quran di tulis.

Karya-karya Yunani dikenal di dunia Arab dan Afrika Utara sejak seribu tahun sebelum Islam, dan Islam mulai menterjemahkan text-text Yunani ke bahasa Arab dalam satu abad penyerbuan militernya. Budaya Hellenis Yunani sejak lama tersebar dan mempengaruhi kepercayaan popular, bahkan di antara orang-orang yang buta huruf. Bahkan India sudah mengenal karya-karya astronomy pada abad pertama AD, dan secara parsial diterjemahkan ke bahasa kerajaan. Setiap orang yang kenal dengan sejarah penyerbuan Alexander Agung dan para penerusnya tahu bahwa orang-orang Yunani dan kebudayaan mereka dengan kuat berakar dan menyebar ke seluruh dunia kuno seperti Afganistan,Syria, Persia, Mesir bahkan Arab sendiri.

Quran sama sekali tidak menjelaskan cosmology modern, yang disebut Quran hanyalah teori bahwa alam semesta MELULU hanya terdiri dari langit dan bumi berikut aksesorisnya yaitu bintang-bintang dan rembulan. Quran sama sekali tidak menyebutkan bahwa bintang-bintang adalah matahari yang jumlahnya milyaran di alam semesta. Sains quran hanyalah representasi dari pandangan masyarakat kuno mengenai alam semesta.



Model kuno alam semesta menurut Homer dibawah ini, lebih cocok dengan pernyataan Quran yang menyebut alam semesta hanya terdiri dari langit dan bumi, dan kisah mengenai Dzul Qarnaen ke tempat matahari terbenam yang berupa lautan berlumpur hitam :

Quran 18:86
Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbenamnya matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di situ segolongan umat. Kami berkata: "Hai Dzulqarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka".

Juga pernyataan Quran mengenai 2 tempat terbit/tebenamnya matahari, cocok dengan konsep dunia kuno dari parallelogram Ephorus mengenai “summer setting/rising” dan “winter setting/rising”:

Quran 55:17
Tuhan yang memelihara kedua tempat terbit matahari dan Tuhan yang memelihara kedua tempat terbenamnya.


2. Prediksi Kosmology Quran salah

Muslim menyetakan bahwa Quran menunjukkan alam semesta berasal dari ‘material seperti gas’ (Surah 41:11). Ini adalah contoh pola “bukti” yang biasa disodorkan. Tapi ide-ide mengenai alam semesta bermula sebagai sejenis ‘pusaran gas’, ada dimana-mana di seluruh ideology Persia dan Yunani. Maka pernyataan Quran mengenai hal yang sama , sama sekali tidak mengejutkan. Filsuf-filsuf Yunani memperkirakan banyak detail-detail sains secara benar. Mereka mengantisipasi atom, system tata surya, evolusi, hukum thermodynamic, siklus hujan, dan itu tidak membuat mereka menjadi juru ramal supernatural.

Al Quran gagal untuk mengatakan tentang gas-gas yang spesifik, atau ada lebih dari satu (helium and hydrogen), atau hal-hal ilmiah lainnya yang bersifat spesifik, seperti mengapa dan bagaimana alam semesta berasal atau berkembang, tidak sebut mengenai hukum matematik atau ikatan-ikatan atau konstanta fisika. Oleh kerena itu Quran sama sekali tidak membuat pernyataan sains.

Alam semesta tidak dimulai sebagai sebuah gas. Bila teori Big-Bang benar, alam semesta mulai sebelum berbagai jenis materi eksis----ia mulai sebagai energy yang murni. Ia mengambil beberapa saat untuk terbentuknya berbagai materi, yang merupakan sebuah plasma bukan sebuah gas. Gas datang kemudian, sesudah plasma mendingin, dan gas-gas bukan satu-satunya, banyak massa energy pada saat itu, seperti sebelumnya, terdiri atas radiasi elektromagnetik –cahaya. Pada kenyataannya Quran gagal menyebutkan hal-hal itu atau menyebutkan berbagai informasi sains yang penting lainnya dengan tepat. Quran hanyalah membuat pernyataan metafisis samar-samar, dan itu bukan sains.

Sebenarnya ayat-ayat Quran itu tidak mengatakan “materi yang seperti gas.” Kata Arab yang digunakan adalah dukhan, “asap.” Ini di klaim sebagai analogy yang sempurna dari gas. Itu tidak benar. Asap dibuat dari abu, sebagian besar karbon, dan dihasilkan dari dari pembakaran (oksidasi), bukan pemadatan plasma. Asap tidak seperti hydrogen atau helium dipanaskan, maupun mengandung unsur-unsur massanya atau kandungan yang lain, bahkan tidak memiliki banyak kandungan umum dari sebuah gas. Dengan begitu ini adalah sebuah kata yang tidak tepat. Bahasa Arab tidak kekurangan perbendaharaan kata untuk dengan gampang mengatakan “udara panas” atau “gas panas mengembang di dalam ruang” atau apapun yang agak relevan dengan kebenaran. Sebagai ganti, penulis Quran malah memilih kata yang paling tidak akurat, “asap.” Bila engkau dapat mengubah arti sebuah kata sekehendak, dengan mengubah sebuah kata untuk “abu berbasis carbon” menjadi “ gas-gas dua asas,” maka engkau dapat mengubah arti kata-kata pada setiap buku manapun untuk membuktikan terori yang engkau inginkan.

Yang paling dipermasalahkan adalah kutipan yang dikutip di luar konteks, untuk menyembunyikan fakta bahwa seluruh bagian sesungguhnya dengan jelas dan bulat berkontradisksi dengan sains. Sains dalam Quran sepenuhnya salah, dan ini membuktikan bahwa sains dalam Quran berasal dari budaya pra-modern sesuai dengan tempat dan waktunya. Kedua fakta ini membuktikan bahwa Quran tidak mengandung prediksi ilmiah dan hanya produk imajinasi manusia saja. Perhatikan kutipan di bawah ini :

QS 41 : 9-12
[9] Katakanlah: "Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa (atau hari) dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? (Yang bersifat) demikian itulah Tuhan semesta alam".

[10] Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni) nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya.

[11] Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa". Keduanya menjawab: "Kami datang dengan suka hati".

[12] Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

Berulang-ulang Quran menyatakan Allah menciptakan segala sesuatu dalam enam hari (dalam terjemahan al Islam diganti dengan enam masa), sama halnya dengan yang dikatakan Bibel PL, dan di sini 6 hari dipecah menjadi 3 bagian , disusun menurut urutan waktu. Meskipun dicoba untuk mereinterpretasi kata hari (dengan istilah masa) supaya sesuai dengan pengetahuan sains , kita kesampingkan itu dan fokus dengan apa yang tidak dapat di bantah : urutan penciptaan yang dengan jelas diberikan di atas terlihat berkontradiksi dengan fakta sains. Ayat 41: 9 menyatakan dengan pasti bahwa bumi di ciptakan dalam “dua hari (atau masa),” dan dua hari pertama ada dalam daftar. Ayat 41:10 menjelaskan dua hari berikutnya, menyelesaikan “empat hari “ yang pertama, dimana gunun-gunung dan tanaman di buat. Maka, kita melihat sebuah urutan sementara dengan jelas : kerena gunung-gunung dan tumbuhan tidak dapat dibuat sebelum bumi dibuat, oleh sebab itu ayat 41:10 mengikuti 41:9 dalam urutan waktu, maka ini hanya masuk akal untuk menyimpulkan bahwa 41:11 dan 41:12 meneruskan yang sebelumnya, yang , kerena satu langit tidak dapat dipisahkan menjadi 7 langit dan menghiasinya dengan bintang-bintang sebelum berbentuk sebagai asap.

Tetapi kemudian kita melihat pada ayat 41:11 menunjukkan konteks yang tidak dapat dibantah bahwa alam semesta eksis sebagai asap pada saat dimana bumi sudah eksis, kerena Alah “naik ke atas langit waktu masih berbentuk asap” dan berbicara kepadanya dan kepada bumi. Bumi eksis saat langit masih sebagai asap, atau kalimat ini tidak punya arti. Maka dapat disimpulkan bahwa Quran tidak mengatakan “ bahwa alam semesta berasal” dari asap, dan tentunya tidak ada teori sains yang mengatakan bahwa ketika alam semesta dalam keadaan berbentuk gas, pada saat yang bersamaan bumi sudah terbentuk ! Secara sains ini tidak mungkin : unsur-unsur yang membentuk bumi tidak eksis sampai gas-gas dipadatkan ke bintang-bintang, dan bintang-bintang meledak dan dipadatkan kembali melalui beberapa siklus, memunculkan unsur-unsur padat yang pada akhirnya memadat menjadi planet-planet mengelilingi bintang (matahari) yang baru.

Muslim biasanya mencoba menggunakan taktik untuk mengelabui dan memelintir bahasa melawan perasaan dan nalar, mengatakan bahwa kata yang diterjemakan sebagai “kemudian,” thumma, dalam ayat 41:11 dan 41:12 berarti “dan juga” atau “lagipula” sehingga tidak menunjukan urutan kejadian, maka ayat 41:9-12 hanyalah urutan waktu yang bersifat konsepsual . Tetapi argument ini salah, kerena thumma faktanya dapat berarti sebuah urutan waktu “kemudian,” dan sebagai mana kita lihat konteks membuat tidak ada tafsiran lain yang secara logis memadai. Namun di samping itu klaim bahwa alam semesta “dimulai” sebagai asap sama sekali tidak ada dalam Quran. Dengan mengabaikan sifat kronologis dalam ayat itu, muslim juga sebenarnya menolak klaimnya sendiri.

Penulis Quran hanyalah mengulangi urutan kejadian yang ada dalam Bibel. Variasinya cuman ada pada pemilihan waktu , Kejadian menyatakan bintang-bintang diciptakan pada hari yang ke 4, sedangkan Quran pada hari yang ke lima dan ke enam, dsb, tetapi kedua konsep itu jelas berhubungan. Lagipula, ayat 41:12 hanya mengulangi tahayul popular yang ditemukan pada dunia Yunani-Persia pada waktu itu yaitu: mithos 7 lapisan langit. Tentu saja “tujuh lapis langit” adalah pandangan yang keliru mengenai susunan tata surya bahkan menyiratkan geosentrisme, kerena “ ke tujuh lapis langit biasanya digambarkan dengan tujuh “planet” yang terluhat oleh mata telanjang, yaitu matahari, bulan, Mercury, Venus, Mars, Jupiter, dan Saturnus. Waktu itu orang belum mengetahui adanya planet Uranus, Neptunus, atau Pluto.


Masalah 7 Lapis Langit

Dalam Timaeus ( http://en.wikipedia.org/wiki/Timaeus_(dialogue) ) dan Republic ( http://en.wikipedia.org/wiki/Republic } Plato berpendapat bahwa langit terdiri dari 7 lapis (sphere) yang masing-masing diwakili dengan 7 planet yang kelihatan :

Yang Ilahi.
Bintang tetap (tidak bergerak)
7. Saturn
6. Jupiter
5. Mars
4. Mercury
3. Venus
2. Matahari
1. Bulan
Bumi sebagai pusat alam semesta

Dan pada bagian lapis ke 8 tempatnya bintang-bintang tetap atau fixed stars. Di atasnya tempat bersemayamnya Tuhan. Konsep Plato ini mempengaruhi pemikiran Yahudi, tapi Yahudi yang menganggap angka 7 adalah angka keramat lebih memilih 7 lapis langit dan menempatkan bintang-bintang pada bagian lapisan yang paling bawah atau rakia. Yahudi tetap setia kepada Bibel yang mengatakan bahwa diluar alam semesta adalah air, dan dibawah bumi adalah alam kubur, maka lahirlah konsep cosmology Yahudi yang mengatakan bahwa langit terdiri dari 7 lapis dan dilapisan paling atas adalah air dan diatasnya lagi adalah tahta Ilahi.
Kutipan dari Talmud Tract Hagiga

http://www.sacred-texts.com/jud/t03/hgg03.htm

Resh Lakish berkata, mereka (langit) ada tujuh, yaitu : Vilon, Rakhia, Shchakim, Zbul, Maon, Makhon, Araboth. Vilon tidak ada kegunaan apapun selain ini , ia muncul di pagi hari dan pergi di petang hari, dan memperbaharui setiap hari karya penciptaan. Rakia adalah yang tempat kedudukan matahari dan bulan, bintang-bintang dan gugus bintang. Shchakim adalah tempat baru gerinda berdiri dan menggerinda manna (makanan surgawi) untuk orang-orang kudus. Zbul adalah tempat dimana Jerusalem Surgawai dan Kuil, altar dibangun di sana, dan malaikat Michael pangeran agung berdiri dan mempersembahkan di atasnya suatu persembahan. Maon adalah tempat kelompok malaikat-malaikat yang melayani Allah, yang melantunkan nyanyian Nya di malam hari dan diam di siang hari demi kemuliaan Israel…… Makhon adalah tempat d perbendaharaan salju,………………………………………………………. Araboth (langit ke 7) adalah dimana kebajikan dan penghakiman dan rahmat, harta-harta karun kehidupan dan damai dan berkat, dan jiwa-jiwa orang kudus dan jiwa-jiwa yang akan diciptakan……………malaikat-malaikat yang melayani…………. tahta kemuliaan, dan sang Raja, Tuhan yang Hidup, tinggi dan ditinggikan, duduk diatas mereka di antara awan-awan, dan kegelapan dan awan dan kegelapan pekat mengelilinginya [/b].

Konsep cosmology Yahudi itu sama dengan konsep cosmology Quran.

QS 42 :12 Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

Abu Dawud, Book 40, Number 470
Diriwayatkan Al Abbas ibn AbdulMuttalib:
Aku duduk di al Batha dengan para sahabat, dan diantaranya adalah Rasul Allah sendiri yang sedang duduk, ketika awan lewat di atas mereka, Rasul melihat ke atas dan berkata : ‘Kamu sebut apa ini ?’ Mereka berkata :’ Sahab’. Rasul berkata : ‘dan Munz ?’ Mereka berkata : ‘dan Muzn ‘. Rasul berkata :’. Dan anan ?’ Mereka berkata : ‘dan anan’. Abu dawud berkata : ‘saya tidak sungguh –sungguh yakin mengenai kata anan’. Rasul berkata :’ kamu tahu jarak antara langit dan bumi?’. Mereka menjawab :’kami tidak tahu’. Rasul kemudian berkata : ‘ Jarak antara mereka adalah 71, 72, atau 73 tahun (perjalanan onta). Langit yang di atasnya mempunyai jarak yang sama. Di atas surga ke 7 adalah lautan. Jarak antara permukaan dan dasarnya adalah sama seperti jarak antara satu lapis langit dengan lapis yang berikutnya. Kemuadian Allah yang disucikan dan di agungkan, ada di atasnya.

Sahih al Bukhari 4.414:
Diriwayatkan Imran bin Husain:

Dia (Rasulullah) berkata, “Pertama dari semuanya, tidak ada apapun kecuali Allah dan (kemudian di menciptakan tahtaNya) tahtaNya di atas air, dan dia menulis segala sesuatu dalam Al Kitab dan menciptakan Langit dan Bumi.”…………………………………..


Al Bukhari 4, no 429 (Isra Miraj)
Di riwayatkan oleh Malik bin Sasaa:

‘Kemudian kami naik ke langit ke 7 dan kembali pertanyaan dan jawaban yang sama diucapkan seperti pada langit yang sebelumnya. Di sini aku bertemu dan menyambut Abraham yang berkata,’Engkau disambut o anak dan seorang nabi.’ udian aku melihat Al-Bait-al-Ma'mur (Rumah Allah). Aku menanyakan Jibril mengenai ini dan dia berkata, ini adalah Al Bait-ul-Ma'mur dimana 70.000 malaikat mengerjakan shalat tiap hari.
« Last Edit: May 13, 2009, 05:10:03 AM by aljazera »
May 13, 2009, 02:00:24 AM
Reply #51
  • FK - Full Member
  • ***
  • Posts: 112
    • Faithfreedompedia

----judul saya edit agar lebih sopan bahasanya (Adv)----

SUmber:
indonesia.faithfreedom.org/forum

==========================================
1. Muhammad tidak lulus tes kenabian oleh wanita Yahudi yang dibujuk masuk Islam
2. Sumber dari Hadist sahih, atau hadist paling terpercaya dari 6 hadist yang ada
3. Sanggahan muslim adalah soal waktu dari diracun sampai Masuk neraka jahanam
4. Sanggahan biasanya dihadist lain yang tidak sahih atau hadist yang sama tapi dihubung2kan
5. Bukti disini dari sumber Islam sendiri termasuk buku2 islam
==========================================

Hadis Sahih Bukhari 3.786:

Dikisahkan oleh Anas bin Malik:

Seorang wanita Yahudi membawa daging domba (masak) beracun untuk sang Nabi yang lalu memakannya.
Wanita itu lalu dihadapkan kepada Muhammad dan Muhammad ditanyai pengikutnya, “Haruskah kita bunuh dia?”
Dia berkata,”Tidak” Aku terus mengamati akibat racun itu di mulut Rasul Allah.

Hadis Sahih Bukhari 4, Buku 53, Nomer 394

Dikisahkan oleh Abu Huraira:

Ketika Khaibar dikalahkan, sup domba beracun disuguhkan pada sang Nabi (SAW) sebagai
hadiah (dari orang2 Yahudi). Sang Nabi memerintah,”Kumpulkan semua orang Yahudi yang ada di sini,
berdiri di hadapanku.” Orang2 Yahudi dikumpulkan dan sang Nabi berkata (pada mereka),”
Aku akan bertanya pada kalian. Maukah kalian menjawab dengan jujur?” Mereka berkata,”Ya.”
Sang Nabi bertanya,”Siapakah ayah kalian?” Mereka menjawab,”Ini dan itu” Dia berkata,”Kalian bohong,
ayah kalian bukan ini dan itu.” Mereka berkata,”Kau benar.” Dia berkata,”Maukah kalian menjawab jujur
jika aku tanya sesuatu?” Mereka menjawab,”Ya, wahai Abu Al-Qasim, dan jika kami harus berbohong,
kau dapat menyadari kebohongan kami seperti tadi kau telah ketahui tentang ayah kami.” Lalu dia bertanya,
”Siapakah yang akan masuk neraka?” Mereka berkata,”Kami akan berada di neraka untuk jangka waktu sebentar,
dan setelah itu kau akan mengganti posisi kami.” Sang Nabi berkata,”Kalian dikutuk dan dihina di neraka!
Demi Allah, kami tidak akan pernah mengganti posisi kalian di neraka.” Lalu dia bertanya,”
Maukah kalian menjawab jujur jika aku tanya sesuatu?” Mereka menjawab, “Ya, wahai Abu Al-Qasim.”
Dia bertanya,”Apakah kau telah meracuni sup domba ini?” Mereka menjawab,”Ya.” Dia bertanya,
”Mengapa kau lakukan itu?” Mereka menjawab, [size=10]“Kami ingin tahu jika kau ini pembohong dan kalau
kau memang pembohong, kami akan menyingkirkanmu, dan jika kau memang adalah seorang nabi,
maka racun itu tidak akan mempan pada dirimu.”
[/size]

Dari Ibn Sa'd halaman 249

Sebenarnya seorang wanita Yahudi menyajikan (daging) kambing beracun kepada Rasul Allah.
Dia mengambil sedikit daging, memasukannya ke dalam mulutnya, mengunyahnya dan lalu memuntahkannya.
Lalu dia berkata kepada para pengikutnya: “Berhenti! Sungguh, kaki domba ini berkata padaku
bahwa dia telah diracuni.” Lalu dia meminta wanita Yahudi itu dipanggil dan dia bertanya padanya,
“Apa yang menyebabkanmu melakukan hal itu?” Dia menjawab,”Aku ingin tahu apakah kau ini benar2 nabi;
jika memang benar maka Allah tentunya akan memberitahu dirimu, dan jika kau ternyata berbohong
maka aku akan dapat membebaskan masyarakat dari dirimu.”

Dari Ibn Sa'd halaman 249

[dari penyampai kisah yang berbeda]

Rasul Allah dan sahabat2nya makan daging itu. Daging (kambing) itu berkata: “Aku diracuni.”
Dia [Muhammad] berkata kepada para sahabatnya, “Tahan tanganmu! Karena daging ini telah mengatakan
padaku bahwa dirinya diracuni!” Mereka lalu membuang daging2 itu dari tangannya, tapi Bishr Ibn al-Bara mati.
Rasul Allah meminta dia (wanita Yahudi) dihadapkan kepadanya dan dia bertanya padanya,
”Apa yang membuatmu melakukan hal itu?” Dia menjawab, “Aku ingin tahu apakah kau benar2 seorang nabi,
yang jika memang benar maka racun ini tidak akan mengganggumu, dan jika kau ternyata seorang nabi,
maka aku akan dapat membebaskan masyarakat dari dirimu.
Muhammad mengeluarkan peritah dan dia pun dihukum mati.

Dari Ibn Sa'd halaman 250

[dari penyampai kisah yang berbeda]

Sesungguhnya seorang wanita Yahudi Khaybar menghidangkan (daging) kambing beracun kepada Rasul Allah.
Lalu dia menyadari bahwa dagingnya diracuni, sehingga dia meminta agar wanita itu dipanggil dan menanyainya,
“Apa yang membuatmu melakukan hal itu?” Dia menjawab, “Kupikir jika kau benar2 seorang nabi,
Allah akan memberitahumu, dan jika kau pembohong, maka aku akan dapat membebaskan masyarakat dari dirimu.”
Ketika Rasul Allah merasa sakit, dia mengeluarkan darah dari tubuhnya. .

Dari Ibn Sa'd halaman 251, 252

[dari penyampai kisah yang berbeda]

…. Ketika Rasul Allah mengalahkan Khaibar dan dia merasa lapar, Zaynab Bint al-Harith
(Bint al-Harith adalah saudara laki Marhab), yang merupakan istri dari Sallam Ibn Mishkam bertanya,
“Bagian kambing manakah yang disukai Muhammad?” Mereka berkata,”Kaki depan.” Maka dia pun memotong
satu dari kambing2nya dan memasak (dagingnya). Lalu dia membubuhi racun yang sangat kuat …
Rasul Allah mengambil kaki depan kambing, dia memasukkan sepotong daging ke dalam mulutnya.
Bishr mengambil sepotong tulang dan memasukannya ke dalam mulutnya. Ketika Rasul Allah memakan sepotong daging,
Bishr memakan daging kambingnya dan orang2 lain pun makan daging kambing itu. Lalu Rasul Allah berkata,
”Tahan tangan2 kalian! Karena kaki depan kambing ini … memberitahuku bahwa ia diracuni.
Mendengar itu Bishr berkata,”Demi Dia yang membuatmu besar! Aku ketahui akan hal itu dari daging yang kumakan.
Tiada yang mencegahku untuk memuntahkannya, karena aku tidak mau membuat makananmu tampak tidak enak.
Ketika kau memakan daging yang tadi ada di mulutmu, aku tidak mau hidup jika kau tidak selamat,
dan kukira kau tidak akan memakannya jika memang ada sesuatu yang salah.”

Bishr tidak beranjak dari tempat duduknya tapi warna kulitnya berubah jadi “taylsan” (warna kain hijau) …
Rasul Allah menyuruh memanggil Zaynab dan berkata padanya, “Apa yang membuatmu melakukan apa yang kau telah lakukan?”
Dia menjawab, “Kau telah lakukan pada masyarakatku apa yang telah kau lakukan. Kau telah membunuh ayahku, pamanku,
suamiku, aku berkata pada diriku sendiri, ‘Jika kau adalah seorang nabi, kaki depan itu akan memberitahumu,
dan yang telah berkata, ‘Jika kau seorang raja, kami akan mengenyahkanmu.’”

Rasul Allah hidup sampai tiga tahu setelah itu sampai racun itu menyebabkan rasa sakit sehingga ia wafat.
Selama sakitnya dia biasa berkata, “Aku tidak pernah berhenti mengamati akibat dari daging (beracun)
yang kumakan di Khaibar dan aku menderita beberapa kali (dari akibat racun itu) tapi sekarang kurasa
tiba saatnya batang nadiku terputus.”

Dari Tabari Volume 8, halaman 123, 124

Ketika Rasul Allah beristirahat dari pekerjaannya, Zaynab bt. al-Harith, istri dari Sallam b. Mishkam,
menyajikan baginya sebuah daging domba bakar. Dia telah bertanya sebelumnya bagian domba manakah
yang paling disukai Rasul Allah dan diberitahu bagian kaki depannya. Lalu dia membubuhi bagian itu dengan racun,
dan dia juga meracuni bagian lainnya. Setelah itu dia menghidangkan daging itu. Ketika daging itu disajikan
di hadapan Rasul Allah, dia mengambil bagian kaki depannya dan mengunyah sebagian kecil, tapi tidak ditelannya.
Di sebelah dia terdapat Bishr b. al-Bara b. Marur yang seperti Rasul Allah juga mengambil bagian daging itu.
Akan tetapi Bishr menelan daging itu ketika sang Rasul Allah memuntahkan daging dan berkata,
“Tulang ini memberitahu diriku bahwa ia diracuni.” Dia bertanya, “Apa yang membuatmu melakukan ini?”
Wanita itu menjawab, “Bagaimana kau telah memperlakukan masyarakatku sudah nyata di hadapanmu.
Jadi aku berkata, “Jika dia memang benar2 nabi, maka dia akan diberitahu; tapi jika dia seorang raja,
maka aku akan dapat menyingkirkannya.””. Sang Nabi mengampuninya. Bishr mati karena daging yang dimakannya.

Dari Tabari Volume 8, halaman 124


[dari penyampai kisah yang berbeda]

Rasul Allah berkata selama sakitnya yang mengakitkan kematiannya – ibu Bishr datang menjenguknya –
“Umm Bishr, pada saat ini aku merasa aorta (urat nadi) ku dirobek akibat makanan yang kumakan
bersama putramu di Khaybar.
« Last Edit: May 14, 2009, 11:58:28 AM by Siip »
May 13, 2009, 02:05:27 AM
Reply #52
  • FK - Full Member
  • ***
  • Posts: 112
    • Faithfreedompedia
perlu diperhatikan juga ...

dengan kematian muhammad yang seperti itu secara serta merta membuktikan bahwa muhammad adalah seorang penipu yang suka merubah2 Firman Tuhan ,

dengan kematian yang seperti itu muhammad telah menerima azab dari tuhan-nya ,

seperti yang telah diperingatkan tuhan-nya sebelumnya :

qs 69 . Al Haaqqah

40. Sesungguhnya Al Quran itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia,

41. dan Al Quran itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya.

42. Dan bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran daripadanya.

43. Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam.

[size=18]44. Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami,[/size]

45. niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya.

[size=18]46. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya.

47. Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu.[/size]


48. Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar suatu pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.

49. Dan sesungguhnya Kami benar-benar mengetahui bahwa di antara kamu ada orang yang mendustakan(nya).[/color]

ironis sekali ya ...

dan gw yakin si nabi sedeng itu tidak pernah bertobat selama hidupnya ,
dan dalam kematiannya pun sudah bisa dipastikan jika dia dalam keadaan berdosa tanpa sempat menyampaikan tobat-nya

ckckckckck .....

 :lol:  :lol:  :lol:
May 13, 2009, 02:06:02 AM
Reply #53
  • FK - Full Member
  • ***
  • Posts: 112
    • Faithfreedompedia
Benarkah Rasulullah wafat karena racun wanita yahudi??


okeh prend
gue tidak tau berapa banyak pihak kafir dan muslim yang pernah mendengar desas desus perihal wafatnya Nabi SAW ini.
Sebagian umat muslim sangat MEMpercayai kalau beliau wafat karena sakit dalam artian sakit wajar karna sudah tua,dan muslim bakalan menolak keras bila dikatakan kalau nabinya ternyata wafat karena di racun oleh perempuan yahudi saat peneyerangan benteng khaibar.
berikut adalah beberapa situs yang mati2an MENOLAK keras anggapan kalau nabi SAW mati diracun.

    1. Benarkah Rasulullah wafat karena racun wanita yahudi?? :.
http://forum-arsip.swaramuslim.com/thre ... _135_26_0_

2[zamanku] Re: Nabi manusia biasa Re: Tidak ada Nabi yang diracun! -Muhammad tidak menginggal krnnya!
by wirajhana eka
http://kajian-agama.blogspot.com/2007/0 ... kibat.html

3.benarkah rasulullah meninggal akibat diracun??
http://kajian-agama.blogspot.com/2007/0 ... kibat.html
[/list]

ke 3 situs diatas sangat kompak dengan mengatakan kalau DESAS DESUS tsb adalah fitnah yang bersumber dari FAITHFREEDOM.org   answering islam   Robert Morey. alias sumber2 KAFIR terlaknat :):)
dan saya yakin sekali dgn maksud ke 3 situs tsb adalah untuk MENJELEKKAN forum tercinta ini,sehingga diharapkan banyak muslim2 lain yang akan ANTIPATI bila mendengar sumber2 dari FFI,padahal sebenarnya sumber FFI itu dari sumber OTENTIK ISLAM juga :).
Beberapa waktu yang lalu saya mengadakan kegiatan rutin yaitu mengunjungi beberapa toko buku islam dengan harapan mudah2an ada buku bagus nih yang bisa saay beli. setelah hampir 20 menit tiba2 mata saya tertuju kepada satu buah buku berjudul :
[size=21]NABI Wafat karena Diracun?????
Menelusuri jejak-jejak Konspirasi Pembunuhan Nabi
[/size]

Dalam hati saya berkata. wah wah pihak muslim panas nih ye ,hehehehehe. lalu gue penasaran dan gue check.jangan2 postingan netter adadeh pula nih yang dibahas.lalu saya check hmmm ISI2 haditnya kurang lebih sama dgn yang ada di FFI. palingan beda gaya bahasa doang,dan saya penasran bagaimana kira2 BANTAHAN dari fitnah tsb
T
A
P
I
alangkah KAGETNya saya.setelah saya periksa dgn seksama.....
karena ternyata Buku ini bukan MEMBANTAH FITNAH FFI tetapi malah MEMBENARKAN "fitnah" FFI perihal NABI SAW yg mati diracun.
buku ini malah TERANG2an mengakui kalau nabi SAHID karena DIRACUN oleh wanita yahudi ,bahkan pakai FATWA segala dan KRONOLOGIS bagaimana racun itu bekerja sampai akhirnya membuat sang nabi wafat
:):)

HUAHAHHAHAHAHAHHA
saat itu juga saya ketawa ketiwi dan berbisik dalam hati "[size=21]lim..muslim...kasian kali lah kalian...satu pihak mati2an menolak nabi diracun..EHHHHHHHHHH..satu pihak malah terang2an mengakui kisah tsb dan bangga akan KESAHIDAN sang NABI[/size]"

ok deh daripada kelamaan,saya scan kan saja isi bukunya :)

NB :
Dear kaum muslim.. Kalian BEBAS untuk menolak isi BUKU ISLAM ini
T
A
P
I
Tolong jangan katakan FFI menyebarkan FITNAH,krn "fitnah" kami ini DIDUKUNG oleh buku2 islam,buku dibwah ini salah satunya

 
ini dia COVER DEPANNYA


 
 
Ini cover KETERANGAN penerbit dll :


 
 
Sekarang kita liat bentar DAFTAR ISInya
yang saya KOTAK merahin adalah yang akan di SCAN artikel per artikel

==

==
 

 
 http://groups.yahoo.com/group/Indonesian_Atheist/
May 13, 2009, 02:07:59 AM
Reply #54
  • FK - Full Member
  • ***
  • Posts: 112
    • Faithfreedompedia
lanjut ..

Kita baca FATWA dari arab saudi :

Halaman 234-235

NABI WAFAT KARENA PENGARUH RACUN



Sorry kelupaan...

Kata2 dari PENERBIT dulu ah,biar muslim yang selama ini sering dikasih DONGENG ,segera MELEK
xhixihxhixhixhi



==
nah sekarang coba bandingkan HADITS diatas dgn yg dikutip oleh KAFIR SAM SHAMOUN ini :

http://www.answering-islam.org/Shamoun/muhammad_poison.htm

Quote
Ibn ‘Abbas menjawab,”Hal itu mengindikasikan kematian Rasul Allah di mana Allah telah memberitahu dia.” ‘Umar berkata,”Aku tidak mengerti tentang itu kecuali apa yang engkau mengerti.” Dibacakan A’ishah: Sang nabi dalam kndisi sakitnya yan mana kemudian menyebabkan kematiannya, biasanya berkata,” O A’ishah! Aku masih merasakan sakit yang disebabkan oleh makanan yang kumakan di Khaybar, dan untuk saat ini, kurasakan seolah2 pembuluh darahku terpotong disebabkan [size=150]oleh racun itu[/size].[/b]” (Sahih al-Bukhari, Volume 5, Book 59, Number 713)

Hadirs yang sama ,cuman yang satu dinukil oleh kafir,yang satu lagi dinukil oleh MUSLIM SEJATI

============

hLM : 235



=============

nb : MENGENAI ketua PEMBERI FATWA,BISA DILIAT JUGA FATWA2 BELIAU YG DIABADIKAN DI FFI JUGA :
http://www.indonesia.faithfreedom.org/forum/viewtopic.php?f=9&t=29328

==============



ni JUDUL FATWANYA :

Halaman 234-235

NABI WAFAT KARENA PENGARUH RACUN



[/quote]
gimana kawan?
anda setuju dgn FATWA tsb?

ada juga beberapa artkeil yg akan saya scan :

May 13, 2009, 02:08:22 AM
Reply #55
  • FK - Full Member
  • ***
  • Posts: 112
    • Faithfreedompedia
FATWA ke 2 :

halaman 240-244

PENGARUH RACUN TERHADAP WAFATNYA RASUL



PERTANYAAN DOI PANJANG BANGET..GUE CUT SAMPE SINI AJA,
LANGSUNG MASUK KE JAWABAN SANG ULAMA DI HALAMAN 242.

ini jawaban sang ulama dari hlm : 242



Lanjut lagi

FATWA ke 3 : ada 4 halaman (236-239)

Hlm 236 :


lanjut,hlm 237 :

May 13, 2009, 02:10:20 AM
Reply #56
  • FK - Full Member
  • ***
  • Posts: 112
    • Faithfreedompedia
Sumber:
http://www.indonesia.faithfreedom.org/forum/viewtopic.php?t=144&start=0&postdays=0&postorder=asc&highlight=&sid=9a248071ab81907db89e30d8d5dbd448


   JIKA KITA BERPIKIR ISLAM  TIDAK PUNYA PERANAN
DALAM PERANG DUNIA KE II....
MAKA ITU ADALAH SUATU PENDAPAT YANG SALAH BESAR!!!

atas dasar solidaritas Islam salah satu penjahat berotak setan terbesar dunia tetap hidup dan menyiarkan kebencian hingga terbawa  saat sekarang ini... hanya karena  kedok Islam!!! maka dia bebas  !!!!!




Picture of Amin Al Husseini in his uniform as Officer of the Ottoman Empire. He was posted in Smyrna where Armenian Christians were mass-murdered by the Ottoman Army. The defeat of the Ottoman Empire marked the end of Islamic rule at the hands of the secular Kamal Ataturk and left behind a taste for revenge in the heart of Amin Al Husseini.



Amin Al Husseini: President of World Islamic Congress 1931.


]Minutes of the meeting with Hitler and Husseini.
SOurce: Documents on German Foreign Policy 1918-1945, Series D, Vol XIII, London, 1964, pp.881 ff.


German Chancellor Adolf Hitler and Grand Mufti Haj Amin al-Husseini:
Zionism and the Arab Cause (November 28, 1941)


Haj Amin al-Husseini, the most influential leader of Palestinian Arabs, lived in Germany during the Second World War. He met Hitler, Ribbentrop and other Nazi leaders on various occasions and attempted to coordinate Nazi and Arab policies in the Middle East.

Record of the Conversation between the Fuhrer and the Grand Mufti of Jerusalem on November 28, 1941, in the Presence of Reich Foreign Minister and Minister Grobba in Berlin.

The Grand Mufti began by thanking the Fuhrer for the great honor he had bestowed by receiving him. He wished to seize the opportunity to convey to the Fuhrer of the Greater German Reich, admired by the entire Arab world, his thanks of the sympathy which he had always shown for the Arab and especially the Palestinian cause, and to which he had given clear expression in his public speeches. The Arab countries were firmly convinced that Germany would win the war and that the Arab cause would then prosper. The Arabs were Germany's natural friends because they had the same enemies as had Germany, namely the English, the Jews, and the Communists. Therefore they were prepared to cooperate with Germany with all their hearts and stood ready to participate in the war, not only negatively by the commission of acts of sabotage and the instigation of revolutions, but also positively by the formation of an Arab Legion. The Arabs could be more useful to Germany as allies than might be apparent at first glance, both for geographical reasons and because of the suffering inflicted upon them by the English and the Jews. Furthermore, they had had close relations with all Moslem nations, of which they could make use in behalf of the common cause. The Arab Legion would be quite easy to raise. An appeal by the Mufti to the Arab countries and the prisoners of Arab, Algerian, Tunisian, and Moroccan nationality in Germany would produce a great number of volunteers eager to fight. Of Germany's victory the Arab world was firmly convinced, not only because the Reich possessed a large army, brave soldiers, and military leaders of genius, but also because the Almighty could never award the victory to an unjust cause.

In this struggle, the Arabs were striving for the independence and unity of Palestine, Syria, and Iraq. They had the fullest confidence in the Fuhrer and looked to his hand for the balm on their wounds, which had been inflicted upon them by the enemies of Germany.

The Mufti then mentioned the letter he had received from Germany, which stated that Germany was holding no Arab territories and understood and recognized the aspirations to independence and freedom of the Arabs, just as she supported the elimination of the Jewish national home.

A public declaration in this sense would be very useful for its propagandistic effect on the Arab peoples at this moment. It would rouse the Arabs from their momentary lethargy and give them new courage. It would also ease the Mufti's work of secretly organizing the Arabs against the moment when they could strike. At the same time, he could give the assurance that the Arabs would in strict discipline patiently wait for the right moment and only strike upon an order form Berlin.

With regard to the events in Iraq, the Mufti observed that the Arabs in that country certainly had by no means been incited by Germany to attack England, but solely had acted in reaction to a direct English assault upon their honor.

The Turks, he believed, would welcome the establishment of an Arab government in the neighboring territories because they would prefer weaker Arab to strong European governments in the neighboring countries and, being themselves a nations of 7 million, they had moreover nothing to fear from the 1,700,000 Arabs inhabiting Syria, Transjordan, Iraq, and Palestine.

France likewise would have no objections to the unification plan because she had conceded independence to Syria as early as 1936 and had given her approval to the unification of Iraq and Syria under King Faisal as early as 1933.

In these circumstances he was renewing his request that the Fuhrer make a public declaration so that the Arabs would not lose hope, which is so powerful a force in the life of nations. With such hope in their hearts the Arabs, as he had said, were willing to wait. They were not pressing for immediate realization for their aspirations; they could easily wait half a year or a whole year. But if they were not inspired with such a hope by a declaration of this sort, it could be expected that the English would be the gainers from it.

The Fuhrer replied that Germany's fundamental attitude on these questions, as the Mufti himself had already stated, was clear. Germany stood for uncompromising war against the Jews. That naturally included active opposition to the Jewish national home in Palestine, which was nothing other than a center, in the form of a state, for the exercise of destructive influence by Jewish interests. Germany was also aware that the assertion that the Jews were carrying out the functions of economic pioneers in Palestine was a lie. The work there was done only by the Arabs, not by the Jews. Germany was resolved, step by step, to ask one European nation after the other to solve its Jewish problem, and at the proper time to direct a similar appeal to non-European nations as well.

Germany was at the present time engaged in a life and death struggle with two citadels of Jewish power: Great Britain and Soviet Russia. Theoretically there was a difference between England's capitalism and Soviet Russia's communism; actually, however, the Jews in both countries were pursuing a common goal. This was the decisive struggle; on the political plane, it presented itself in the main as a conflict between Germany and England, but ideologically it was a battle between National Socialism and the Jews. It went without saying that Germany would furnish positive and practical aid to the Arabs involved in the same struggle, because platonic promises were useless in a war for survival or destruction in which the Jews were able to mobilize all of England's power for their ends.

The aid to the Arabs would have to be material aid. Of how little help sympathies alone were in such a battle had been demonstrated plainly by the operation in Iraq, where circumstances had not permitted the rendering of really effective, practical aid. In spite of all the sympathies, German aid had not been sufficient and Iraq was overcome by the power of Britain, that is, the guardian of the Jews.

The Mufti could not but be aware, however, that the outcome of the struggle going on at present would also decide the fate of the Arab world. The Fuhrer therefore had to think and speak coolly and deliberately, as a rational man and primarily as a soldier, as the leader of the German and allied armies. Everything of a nature to help in this titanic battle for the common cause, and thus also for the Arabs, would have to be done. Anything however, that might contribute to weakening the military situation must be put aside, no matter how unpopular this move might be.

Germany was now engaged in very severe battles to force the gateway to the northern Caucasus region. The difficulties were mainly with regard to maintaining the supply, which was most difficult as a result of the destruction of railroads and highways as well as the oncoming winter. If at such a moment, the Fuhrer were to raise the problem of Syria in a declaration, those elements in France which were under de Gaulle's influence would receive new strength. They would interpret the Fuhrer's declaration as an intention to break up France's colonial empire and appeal to their fellow countrymen that they should rather make common cause with the English to try to save what still could be saved. A German declaration regarding Syria would in France be understood to refer to the French colonies in general, and that would at the present time create new troubles in western Europe, which means that a portion of the German armed forces would be immobilized in the west and no longer be available for the campaign in the east.

The Fuhrer then made the following statement to the Mufti, enjoining him to lock it in the uttermost depths of his heart:

1. He (the Fuhrer) would carry on the battle to the total destruction of the Judeo-Communist empire in Europe.
2. At some moment which was impossible to set exactly today but which in any event was not distant, the German armies would in the course of this struggle reach the southern exit from Caucasia.
3. As soon as this had happened, the Fuhrer would on his own give the Arab world the assurance that its hour of liberation had arrived. Germany's objective would then be solely the destruction of the Jewish element residing in the Arab sphere under the protection of British power. In that hour the Mufti would be the most authoritative spokesman for the Arab world. It would then be his task to set off the Arab operations, which he had secretly prepared. When that time had come, Germany could also be indifferent to French reaction to such a declaration.

Once Germany had forced open the road to Iran and Iraq through Rostov; it would be also the beginning of the end of the British World Empire. He (the Fuhrer) hoped that the coming year would make it possible for Germany to thrust open the Caucasian gate to the Middle East. For the good of their common cause, it would be better if the Arab proclamation were put off for a few more months than if Germany were to create difficulties for herself without being able thereby to help the Arabs.

He (the Fuhrer) fully appreciated the eagerness of the Arabs for a public declaration of the sort requested by the Grand Mufti. But he would beg him to consider that he (the Fuhrer) himself was the Chief of State of the German Reich for five long years during which he was unable to make to his own homeland the announcement of its liberation. He had to wait with that until the announcement could be made on the basis of a situation brought about by the force of arms that the Anschluss had been carried out.

The moment that Germany's tank divisions and air squadrons had made their appearance south of the Caucasus, the public appeal requested by the Grand Mufti could go out to the Arab world.

The Grand Mufti replied that it was his view that everything would come to pass just as the Fuhrer had indicated. He was fully reassured and satisfied by the words which he had heard form the Chief of the German State. He asked, however, whether it would not be possible, secretly at least, to enter into an agreement with Germany of the kind he had just outlined for the Fuhrer.

The Fuhrer replied that he had just now given the Grand Mufti precisely that confidential declaration.

The Grand Mufti thanked him for it and stated in conclusion that he was taking his leave from the Fuhrer in full confidence and with reiterated thanks for the interest shown in the Arab cause.
SCHMIDT

bagian I
« Last Edit: May 13, 2009, 05:09:53 AM by aljazera »
May 13, 2009, 02:11:49 AM
Reply #57
  • FK - Full Member
  • ***
  • Posts: 112
    • Faithfreedompedia
WORLD WAR II ERA


Muslim Soldiers reading German Propaganda.
The name of the book is Islam Und Judentum
(Islam and Judaism in German)




Amin Al Husseini with one of his Nazi Muslim Troops - 1943 Hanzar SS Division.



Amin Al Husseini meets Heinrich Himmler, Head of Nazi SS.



Amin Al Husseini inspects his Muslim Nazi Hanzar troops 1943



Amin Al Husseini inspecting Nazi Muslim troops - 1943



Nazi officer inspecting Muslim Bosnian SS troops.



Nazi propaganda poster featuring Amin Al Husseini recruiting young Muslims.



Muslim soldiers with hat showing Nazi insigna- WW II.
May 13, 2009, 02:12:01 AM
Reply #58
  • FK - Full Member
  • ***
  • Posts: 112
    • Faithfreedompedia

In 1943, Amin Al Husseini heads the Hanzar Division of Nazi Muslims. It was Hitler's largest SS Division and was responsible for the genocide of Serbians, Gypsies and Jews. It lies at the root of today's unrest in Serbia/Bosnia-Hercegovina/Croatia.


Amin Al Husseini spent World War II in Berlin at Hitler's side. Husseini established a division of Muslim Nazis "the Hanzar" division and played a first-hand role in instigating the genocide of Europe's Jews, Serbs and Gypsies. After World War II, he actively recruited Nazi officers into the Arab governments of the Middle East.


Amin Al Husseini, future President of the World Islamic Congress (1961) and founding father of the Arab League (1944) inspects his Muslim Nazi troops, the Hanzar Division. Amin Al Husseini making the traditional nazi salute.



Amin Al Husseini in Croatia with Croatian Nazi leaders in the early forties. With their help, he founded the Bosnian Nazi Division called the Hanzar, made exclusiveluy of Muslims, and perpetrated the genocide of Serbs, Jews and Gypsies. These historic moments are at the root of today's conflict in Bosnia-Hercegovina


Young Nazi Muslim of the Hanzar Division hangs picture of his leader Amin Al Husseini.


Amin Al Husseini at Nazi meeting in Berlin
during WW II.




In 1943, Amin Al Husseini founded and lead the Hanzar Division of Muslim Nazis. Here they are engaged in traditional Muslim prayer.
May 13, 2009, 02:12:13 AM
Reply #59
  • FK - Full Member
  • ***
  • Posts: 112
    • Faithfreedompedia
POST WORLD WAR II




The Arab League was created in 1944 and sought to promote Pan-Arabism. Amin Al Husseini was one of the co-founders and was central in forging its ideology.



Cairo, Egypt. 1946. Laying the foundations of Post-WWII world.
Amin Al Husseini as President of World Islamic Congress. With him are the founder of Pakistan, the King of Lybia, the Secretary-General of the Arab League, the founder of the Muslim Brotherhood, the first Prime Minister of Pakistan and Saudi Advisers amonst others.




Amin Al Husseini meets Prime Minister of Pakistan at the Third World Conference of the World Islamic Congress. 1951



1951. Karachi, Pakistan. Amin Al Husseini shapes the ideology of the newly founded Muslim country. He is the President of the World Islamic congress.



Amin Al Husseini died in 1974. Here : Yasser Arafat attending the funeral of his mentor Amin Al Husseini. By his side is the Mufti of Lebanon. Amin Al Husseini's legacy includes the creation of the Muslim Brotherhood, Al Qeida, Hamas, Islamic Jihad and the education of Saddam Hussein and Yasser Arafat. In his lifetime, he presided over the Arab League, the Muslim Brotherhood and the World Islamic Congres


Yasser Arafat became a disciple of Amin Al Husseini since the age of 17. Here: recent picture of Palestinian soldiers under the leadership of Arafat making the traditional Nazi salute.



Mein Kampf, written by Adolf Hitler, is a best-seller in the Arab World. It is distributed by the Palestinian Authority headed by Yasser Arafat. Yasser Arafat became the disciple of Amin Al Husseini at the age of 17.
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)