Author Topic: Renungan Harian Air Hidup  (Read 221882 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

July 07, 2020, 10:43:43 AM
Reply #2410
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26187
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://airhidupblog.blogspot.com/2020/

http://airhidupblog.blogspot.com/2020/07/sepenuhnya-menjadi-milik-kristus.html

Tuesday, July 7, 2020
SEPENUHNYA MENJADI MILIK KRISTUS
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 7 Juli 2020

Baca:  1 Korintus 6:9-20

"...dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar:"  1 Korintus 6:19-20

Ciri utama orang yang hidup di dalam Kristus adalah tidak lagi memiliki keinginan-keinginan dari dan untuk diri sendiri.  Bagaimana mungkin orang tidak memiliki keinginan?   Setiap orang pasti memiliki keinginan, tapi maksudnya adalah orang yang sudah ditebus dan hidupnya telah dibeli dan dibayar lunas dengan darah Kristus  (menjadi umat tebusan-Nya), harus bersedia menanggalkan keinginan dirinya sendiri dan menyerahkan segala keinginannya kepada kehendak Kristus.  Kata  'lunas'  menunjukkan bahwa hidup kita ini bukan milik kita lagi, tetapi sudah menjadi milik Tuhan sepenuhnya.  Karena itu segala keinginan dan cita-cita pribadi harus diselaraskan dengan kemauan dan kehendak Tuhan, bukan menurut kemauan dan kehendak sendiri.

     Selama kita masih memiliki keinginan, kehendak, atau agenda hidup pribadi, kita tidak dapat dimiliki sepenuhnya oleh Tuhan, sehingga rencana-Nya takkan bisa digenapi.  Jika kita sudah menyerahkan seluruh kehidupan kita kepada Tuhan barulah kita mencapai taraf demikian:  "Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku."  (Galatia 2:19-20).  Menjadi milik Kristus berarti segala keinginan diri sendiri sudah disalibkan dengan Kristus!  Jadi, hidup di dalam Kristus itu ada harga yang harus dibayar:  banyak hal yang harus ditanggalkan dan dilepaskan.  Inilah yang disebut menanggalkan beban dan dosa!  "...marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita."  (Ibrani 12:1).

     Menanggalkan beban dan dosa artinya melepaskan semua keterikatan dengan kesenangan dunia dan keinginan daging yang bertentangan dengan kehendak Tuhan.  Lalu,  kita  "...melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus,"  (Ibrani 12:2), artinya kita menjadikan Kristus sebagai teladan hidup.  Tidak ada cara lain untuk bisa menyenangkan hati Tuhan, selain kita harus mematikan segala keinginan diri sendiri, tunduk kepada pimpinan ROH KUDUS, dan hidup hanya melakukan kehendak Tuhan.

Orang yang hidup sepenuhnya bagi Tuhan, mampu berkata,  "...bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi."  (Lukas 22:42).







July 08, 2020, 06:50:05 AM
Reply #2411
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26187
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


http://airhidupblog.blogspot.com/2020/

http://airhidupblog.blogspot.com/2020/07/tak-mau-mengakui-kelemahan.html

Wednesday, July 8, 2020
TAK MAU MENGAKUI KELEMAHAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 Juli 2020

Baca:  2 Korintus 12:1-10

"Itu sebabnya saya lebih senang membanggakan kelemahan-kelemahan saya, sebab apabila saya lemah, maka justru pada waktu itulah saya merasakan Kristus melindungi saya dengan kekuatan-Nya."  2 Korintus 12:9b  (BIS)

Tak ada manusia yang sempurna!  Artinya semua manusia pasti punya kekurangan, kelemahan dan keterbatasan, tapi tidak semua orang mau mengakuinya.  Mereka merasa diri paling baik, paling benar, paling suci, paling pintar, paling...dan paling...dibandingkan orang lain, tanpa menunggu waktu lama mereka pun langsung mengkritik, menghakimi, merendahkan, mengolok-olok,  "Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?"  (Matius 7:3).

     Sedikit orang punya kebesaran hati untuk mengakui kelemahan dan berani berkata jujur kepada Tuhan bahwa ia punya banyak sekali kekurangan.  Di mata dunia, menunjukkan sisi kekurangan, kelemahan atau keterbatasan adalah tindakan bodoh.  Tetapi dalam kehidupan rohani, saat kita mengakui betapa kita lemah, terbatas dan tak berdaya sebagai bentuk penyerahan diri kepada Tuhan, saat itu Tuhan akan menggerakkan tangan-Nya untuk turut campur tangan dan melimpahkan kekuatan kepada kita.  Karena itu rasul Paulus bisa berkata,  "...aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat."  (2 Korintus 12:10).  Untuk itulah Tuhan mengijinkan masalah, pencobaan, penderitaan, kesulitan, kegagalan kita alami supaya kita menyadari akan kekuatan kita yang terbatas, belajar untuk hidup mengandalkan Tuhan, dan tidak lagi menyombongkan diri.  Paulus menyimpulkan bahwa Tuhan ijinkan dia alami  'rasa sakit'  dengan tujuan:  "...supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri."  (2 Korintus 12:7).

     Rasul Paulus mampu menyikapi kelemahan dengan sudut pandang yang berbeda, ia tidak mengasihani diri sendiri:  "Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku."  (2 Korintus 12:9b).

Dengan kelemahan yang ada kita diajar untuk hidup bergantung kepada Tuhan!





July 09, 2020, 10:12:17 AM
Reply #2412
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26187
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


http://airhidupblog.blogspot.com/2020/

http://airhidupblog.blogspot.com/2020/07/mengerjakan-panggilan-tuhan-dengan.html

Thursday, July 9, 2020
MENGERJAKAN PANGGILAN TUHAN DENGAN SUNGGUH
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 9 Juli 2020

Baca:  2 Petrus 1:3-15

"Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh."  2 Petrus 1:10a

Orang percaya dipanggil Tuhan untuk menjadi orang-orang yang  'berbeda'  dengan dunia ini dan dipanggil untuk mengerjakan Amanat Agung-Nya.  Karena itu rasul Petrus menasihati agar bersungguh-sungguh dalam menjalani kehidupan Kekristenan.  Berusaha sungguh-sungguh dalam menjalani kehidupan Kekristenan.  Berusaha sungguh-sungguh berarti melakukan segala sesuatu sepenuh hati, tidak asal-asalan, tidak main-main, tidak setengah-setengah:  "...kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang."  (2 Petrus 1:5-7).

     Berusaha sungguh-sungguh juga berarti berusaha dengan tidak mengandalkan kekuatan sendiri, tapi melibatkan Tuhan. Di tengah dunia yang dipenuhi dengan kejahatan ini, mampukah kita hidup melawan arus yang ada?  Hidup berbeda dengan dunia berbicara kekudusan.  Kata  'kudus'  diterjemahkan dari kata Ibrani qodesh, yang sejajar maknanya dengan kata Yunani hagios.  Arti harfiahnya adalah memotong atau memisahkan.  Dipanggil untuk hidup kudus berarti dipisahkan dari dunia ini untuk hidup bagi Tuhan.  Dalam kekudusan ini terjadi pemisahan dari keinginan daging kepada keinginan roh, dari kejahatan kepada kebaikan.  Bagi orang percaya tidak ada alasan untuk tidak hidup kudus, karena di dalam kita ada Sang Penolong yaitu ROH KUDUS.

     Dipanggil untuk melayani Tuhan adalah kasih karunia yang luar biasa!  Sebagaimana Kristus datang ke dunia bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani, orang percaya juga dipanggil untuk melayani.  Karena kita sudah dibebaskan dari belenggu dosa berarti kita tidak lagi menjadi hamba dosa, melainkan menjadi hamba kebenaran, maka dari itu kita harus menghamba sepenuhnya kepada Tuhan, yang adalah Tuan kita.  Kita harus berkomitmen seperti rasul Paulus ini,  "...aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku."  (Galatia 2:20a).

Wujud respons kita terhadap panggilan Tuhan:  berkomitmen untuk hidup benar dan semakin giat melayani pekerjaan-Nya dengan roh yang menyala-nyala.




July 10, 2020, 05:35:39 AM
Reply #2413
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26187
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


http://airhidupblog.blogspot.com/2020/

http://airhidupblog.blogspot.com/2020/07/berhati-hatilah-dan-awasilah-mulutmu.html

Friday, July 10, 2020
BERHATI-HATILAH DAN AWASILAH MULUTMU!
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 Juli 2020

Baca:  Mazmur 141:1-10

"Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibirku!"  Mazmur 141:3

Mulut adalah bagian dari anggota tubuh manusia yang, meskipun kecil tapi memiliki dampak besar bagi kehidupan manusia.  Tak jauh berbeda dengan  "...kapal-kapal, walaupun amat besar dan digerakkan oleh angin keras, namun dapat dikendalikan oleh kemudi yang amat kecil menurut kehendak jurumudi."  (Yakobus 3:4).  Oleh sebab itu kita harus selalu berhati-hati dalam memfungsikan mulut ini, sebab perkataan yang keluar dari mulut kita mengandung kekuatan yang dahsyat.  Apa yang diucapkan mulut kita bisa memengaruhi hari esok atau masa depan kita:  gilang-gemilang atau masa depan suram.

     Pada umumnya manusia boros dalam mempergunakan kata-kata atau berbicara, padahal jelas tertulis:  "Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi."  (Amsal 10:19).  Karena itu Firman Tuhan memperingatkan,  "...setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah;"  (Yakobus 1:19).  Sadar bahwa di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, pemazmur berdoa dan memohon kepada Tuhan,  "Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibirku!"  (ayat nas).

     Bagaimana dengan Saudara?  Orang percaya yang sudah lahir baru dan menjadi  'ciptaan baru'  di dalam Kristus, bukan hanya hatinya mengalami jamahan Tuhan, tapi mulutnya juga:  "Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang."  (Kolose 4:6).  Oleh karena itu mulut kita harus selalu diawasi, supaya dari mulut kita tidak keluar kata-kata sembarangan atau sembrono, yang dapat merugikan diri sendiri dan juga orang lain, sebab mulut kita ini bisa menjadi seperti pedang yang sangat tajam, yang dapat melukai orang lain, menghancurkan orang lain dan bahkan membunuh orang lain.  Bukankah seringkali terjadi dalam kehidupan sehari-hari banyak orang yang merasa diri sebagai  'orang besar'  tak lagi bisa menguasai dan mengendalikan mulutnya.  Mereka gampang sekali melontarkan kata-kata yang menyakitkan hati dan sangat merendahkan orang lain, yang dipandangnya sebagai  'orang kecil'.

"Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya."  Yakobus 1:26






July 11, 2020, 05:34:37 AM
Reply #2414
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26187
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


http://airhidupblog.blogspot.com/2020/

http://airhidupblog.blogspot.com/2020/07/memuji-muji-tuhan-di-segala-waktu.html

Saturday, July 11, 2020
MEMUJI-MUJI TUHAN DI SEGALA WAKTU
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 Juli 2020

Baca:  Mazmur 145:1-21

"Mulutku mengucapkan puji-pujian kepada TUHAN dan biarlah segala makhluk memuji nama-Nya yang kudus untuk seterusnya dan selamanya."  Mazmur 145:21

Kapan terakhir Saudara memuji Tuhan?  Mungkin ada banyak di antara orang percaya yang menjawab,  "Terakhir memuji Tuhan adalah saat mengikuti ibadah di hari Minggu."  Artinya di luar jam-jam ibadah mereka tak pernah memuji Tuhan.  Kita tidak secara rutin memuji Tuhan.  Itu ironis sekali!  Apakah kasih dan kebaikan Tuhan kepada kita itu hanya dinyatakan pada saat jam-jam ibadah saja?  Bukankah setiap saat, detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, kita mengalami kasih dan kebaikan Tuhan?  Jika pagi ini kita masih bisa melihat matahari terbit, jika kita masih bisa menghirup udara segar dan bernafas, jika hari ini kita bisa melakukan aktivitas dengan tubuh yang sehat, mengantarkan anak-anak pergi ke sekolah, lalu kita bisa sampai ke kantor atau tempat kerja dengan selamat tanpa ada halangan, bukankah semuanya itu karena anugerah Tuhan?  Tuhan yang menolong, memelihara, dan menyertai kita.

     Tapi, mengapa kita harus memuji Tuhan di segala waktu?  Kita memuji Tuhan di segala waktu karena kasih dan kebaikan Tuhan kepada kita tiada pernah berkesudahan.  Seperti tertulis:  "Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!"  (Ratapan 3:22-23).  Apa pun yang terjadi dalam kehidupan ini, kasih dan kebaikan Tuhan tak berkesudahan, Ia ada untuk kita.  Seringkali kita memuji-muji Tuhan hanya saat dalam keadaan baik saja, tapi begitu terbentur masalah, kesukaran, atau pergumulan hidup yang berat, kita tak lagi mau memuji Tuhan.  Mari kita belajar untuk selalu bersyukur!  Jangan hanya karena masalah, lalu kita bersungut-sungut kecewa dan akhirnya berhenti memuji Tuhan.

     Memuji Tuhan berkenaan dengan sikap iman.  Dengan puji-pujian, kita mengungkapkan iman kita kepada Tuhan.  Semakin kita memuji Tuhan, pandangan kita semakin tertuju kepada Tuhan dan kuasa-Nya, tidak lagi kepada masalah, sehingga kita semakin beroleh kekuatan.  Iblis senang jika kita berhenti memuji Tuhan karena kita akan semakin lemah.  Memuji Tuhan setiap waktu membawa kita semakin dekat dengan Tuhan.

"Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!"  Mazmur 103:2






July 12, 2020, 05:31:51 AM
Reply #2415
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26187
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


http://airhidupblog.blogspot.com/2020/

http://airhidupblog.blogspot.com/2020/07/tak-mampu-mengendalikan-diri.html

Sunday, July 12, 2020
TAK MAMPU MENGENDALIKAN DIRI
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 Juli 2020

Baca:  Amsal 25:1-28

"Orang yang tak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh temboknya."  Amsal 25:28

Jika kita perhatikan, yang menjadi salah satu penyebab timbulnya masalah atau persoalan di dalam kehidupan sehari-hari adalah ketidakmampuan orang untuk mengendalikan diri.  Karena tak bisa mengendalikan diri, meledaklah amarah, akhirnya memicu terjadinya perselisihan, pertengkaran, bahkan berbagai tindak kejahatan.

     Ada satu contoh kejadian yang tertulis di Alkitab yaitu, Kain tega membunuh adiknya sendiri, Habel.  Padahal Tuhan sudah menegur Kain agar tidak panas hati, tapi Kain tak mampu mengendalikan dirinya sehingga terjadilah tindak kejahatan pembunuhan pertama di dunia.  Ayat nas menyatakan bahwa orang yang tak dapat mengendalikan diri itu digambarkan seperti kota yang sudah roboh temboknya.  Pengendalian diri itu digambarkan seperti kota yang sudah roboh temboknya.  Pengendalian diri itu seperti tembok perlindungan!  Pada zaman dahulu setiap negara atau kota pasti memiliki tembok luar yang kokoh.  Tembok tersebut berfungsi sebagai pagar dan juga perlindungan bagi kota dan penduduknya supaya terluput dari serangan musuh.  Di situasi aman dan nyaman mungkin orang dapat mengendalikan dirinya dengan baik, tetapi ketika situasinya sedang tidak baik dan tidak seperti yang diharapkan, orang-orang yang awalnya dikenal begitu sabar, kalem atau lemah lembut, secara drastis berubah menjadi orang yang sangat emosional, amarahnya meledak-ledak.  Oleh sebab itu Tuhan memperingatkan murid-murid-Nya saat berdoa di taman Getsemani,  "Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah."  (Matius 26:41).  Selama kita tidak dapat mengendalikan diri, selama kita tidak dapat menguasai daging kita, maka yang timbul adalah perbuatan-perbuatan daging, yang bertentangan dengan Firman Tuhan.

     Seringkali kita menjadi begitu emosional, marah tak terkendali, bukan karena masalah yang kita hadapi terlalu besar, namun karena kita tidak dapat mengendalikan diri sendiri.  Cara yang tepat untuk bisa mengendalikan diri adalah menyediakan waktu lebih untuk berdoa dan bersekutu dengan Tuhan.  Dengan berdoa kita akan menjadi tenang dan berada dalam pimpinan Roh Tuhan, sehingga perkataan dan perbuatan kita terkontrol.

Orang yang hidup dalam pimpinan ROH KUDUS, pasti punya pengendalian diri!






July 13, 2020, 06:42:29 AM
Reply #2416
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26187
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


http://airhidupblog.blogspot.com/2020/

http://airhidupblog.blogspot.com/2020/07/jangan-menjadi-orang-yang-bebal.html


Monday, July 13, 2020
JANGAN MENJADI ORANG YANG BEBAL!
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 Juli 2020

Baca:  Amsal 26:1-28

"Seperti salju di musim panas dan hujan pada waktu panen, demikian kehormatanpun tidak layak bagi orang bebal."  Amsal 26:1

Tidak ada seorang pun mau disebut atau dijuluki sebagai orang bebal.  Kemungkinan besar ia akan marah besar dan tersinggung bila dikata-katai sebagai orang bebal, sebab berbicara tentang orang bebal selalu mengacu kepada orang yang sepertinya tidak dapat berubah lagi hidupnya, hatinya sangat keras  (membatu)  karena tidak mau menerima nasihat dan teguran.  Memang, kita semua tidak mau dan tidak ingin disebut orang bebal, tapi sadar atau tidak, kita justru seringkali berperilaku sama seperti orang yang bebal.

     Orang bebal adalah orang yang tidak mau dan sulit menerima nasihat dan teguran dari Firman Tuhan atau pun dari sesamanya.  Ia selalu merasa diri sebagai orang yang benar dan tidak pernah melakukan suatu kesalahan, karena itu ia mencari berbagai alasan untuk selalu membenarkan diri sendiri dan merasa tidak perlu diajar dan digurui oleh orang lain.  Ia menganggap yang harus berubah itu orang lain, bukan dirinya.  Orang bebal adalah orang yang tidak pernah mau belajar dari pengalaman, sehingga ia berulang kali melakukan kesalahan yang sama, tapi tidak pernah disadari atau pura-pura tidak sadar.  Penulis Amsal menyatakan,  "Seperti anjing kembali ke muntahnya, demikianlah orang bebal yang mengulangi kebodohannya."  (Amsal 26:11).

     Sikap bebal ini ditunjukkan oleh bangsa Israel!  Sekalipun sudah diperingatkan berkali-kali mereka tetap saja mengeraskan hati, memberontak kepada Tuhan dan selalu jatuh dalam kesalahan dan dosa.  Musa menegur mereka dengan keras,  "...hai bangsa yang bebal dan tidak bijaksana? Bukankah Ia Bapamu yang mencipta engkau, yang menjadikan dan menegakkan engkau? Ingatlah kepada zaman dahulu kala, perhatikanlah tahun-tahun keturunan yang lalu, tanyakanlah kepada ayahmu, maka ia memberitahukannya kepadamu, kepada para tua-tuamu, maka mereka mengatakannya kepadamu."  (Ulangan 32:6-7).  Orang bebal adalah orang yang meskipun sudah mengerti kebenaran, diajar tentang kebenaran, mereka tetap saja hidup menyimpang dari kebenaran.  Sekalipun tahu sesuatu tidak boleh dilakukan, mereka tetap saja melakukan yang dilarang:  "Berlaku cemar adalah kegemaran orang bebal,"  (Amsal 10:23).

Hidup dalam kebebalan adalah pintu menuju kepada kehancuran hidup!







 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)