Author Topic: Renungan Harian Air Hidup  (Read 170180 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

July 10, 2019, 05:18:59 AM
Reply #2060
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22530
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2019/

Wednesday, July 10, 2019
JANGAN MENGHINDARI TANTANGAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 Juli 2019

Baca:  Yeremia 9:1-11

"Sekiranya di padang gurun aku mempunyai tempat penginapan bagi orang-orang yang sedang dalam perjalanan, maka aku akan meninggalkan bangsaku dan menyingkir dari pada mereka!"  Yeremia 9:2a

Sebagai orang-orang yang telah diselamatkan karena pengorbanan Kristus di kayu salib, tidak berarti perjalanan hidup kita akan bebas dari masalah, luput dari ujian dan tantangan, atau jalan hidup kita akan semulus jalan tol yang bebas hambatan.  Justru kita akan semakin dihadapkan pada tantangan yang jauh lebih besar, sebab Iblis takkan pernah rela kita ini menjadi milik Kristus seutuhnya.  Jika menyadari akan hal ini, tak perlu kita menghindar atau lari dari tantangan, melainkan bersiaplah menghadapinya.  Bukankah Firman Tuhan menegaskan,  "...dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita."  (Roma 8:37).

     Tak seorang pun yang mau dihadapkan pada tantangan dan ujian... seandainya mungkin, tanpa ujian kita boleh lulus... Karena itu milikilah respons hati yang benar dalam menghadapi setiap tantangan yang ada.  Andai saja Daud lari dari hadangan Goliat, raksasa dari Gat itu, ia takkan pernah menjadi salah satu tokoh besar yang tercatat di dalam Alkitab.  Saat berhadapan dengan raksasa Filistin itu Daud tidak lari ketakutan, melainkan dengan penuh keberanian berkata,  "Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam,... Ketika orang Filistin itu bergerak maju untuk menemui Daud, maka segeralah Daud berlari ke barisan musuh untuk menemui orang Filistin itu;"  (1 Samuel 17:45, 48).

     Dalam kasus berbeda, Yeremia, orang yang diutus Tuhan untuk menyatakan kebenaran kepada umat Israel, hampir-hampir tidak tahan menghadapi tantangan yang ada, karena ia harus tinggal di antara orang-orang yang hidup dalam pemberontakan.  Ia ingin sekali pergi menjauh dari mereka, alias berhenti mengerjakan panggilan Tuhan ini.  Karena tidak tahan dengan beratnya tantangan, tidak sedikit orang Kristen yang kehilangan semangat dalam melayani Tuhan, dan bahkan mereka berniat untuk mundur.

"Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran." 2 Timotius 4:2


July 11, 2019, 05:38:54 AM
Reply #2061
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22530
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2019/

Thursday, July 11, 2019
TUHAN MENGINGAT DAN MENJAWAB DOA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 Juli 2019

Baca:  Mazmur 66:1-20

"Sesungguhnya, Allah telah mendengar, Ia telah memperhatikan doa yang kuucapkan. Terpujilah Allah, yang tidak menolak doaku dan tidak menjauhkan kasih setia-Nya dari padaku."  Mazmur 66:19-20

Banyak orang Kristen begitu antusias ketika diminta untuk terlibat dalam pelayanan di gereja, entah itu sebagai usher, singer, worship leader, dan lain-lain pelayanan.  Mengapa?  Karena pelayanan tersebut berhadapan langsung dengan jemaat, alias bisa dilihat oleh banyak orang.  Tapi bila diminta untuk ambil bagian dalam pelayanan sebagai pendoa?  Respons jemaat tampak berbeda, yaitu kurang antusias.  Mengapa?  Karena pelayanan sebagai tim doa itu selain tidak dikenal oleh banyak orang, tempatnya pun di ruang yang tertutup.  Itulah sebabnya sedikit orang mau terlibat dalam pelayanan doa.  Sekilas aktivitas doa seperti tidak menghasilkan apa-apa... sudah berkorban waktu untuk berdoa, tiada hasil yang didapat.  Benarkah demikian?  Itulah mengapa sedikit orang mau bertekun di dalam doa.  Mereka enggan menyediakan waktunya untuk bertemu dengan Tuhan di dalam doa.

     Kornelius, seorang perwira Romawi yang membawahi seratus orang prajurit, sekalipun punya segudang kesibukan, tidak ada alasan bagainya untuk tidak berdoa.  Alkitab mencatat bahwa ia senantiasa berdoa kepada Tuhan  (Kisah 10:2).  Kata senantiasa berbicara tentang sesuatu yang dilakukan secara rutin dan penuh ketekunan.  Sekalipun Kornelius adalah orang non Yahudi, tapi ia memiliki kerinduan yang besar untuk mencari dan menyembah Tuhannya bangsa Israel.  Dalam tradisi, orang-orang Yahudi memiliki kebiasaan berdoa tiga kali dalam sehari yaitu jam 9 pagi, jam 12 siang, dan jam 15  (3 petang).  Jika Alkitab menyatakan bahwa Kornelius senantiasa berdoa, itu artinya Kornelius tekun berdoa pada jam-jam tersebut.

     Tidak ada doa yang sia-sia asal dilakukan dengan kesungguhan hati.  "Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya."  (Yakobus 5:16b).  Doa orang benar pasti menjangkau hadirat Tuhan.  Selain tekun berdoa, Kornelius juga orang yang saleh dan takut akan Tuhan, karena itu doa-doanya naik ke hadirat Tuhan, menyentuh hati-Nya, dan menggerakkan tangan-Nya untuk bekerja  (Kisah 10:30-31).

Kita memang tidak mengetahui cara Tuhan menjawab doa-doa kita, namun yang pasti, Ia mengingat segala apa yang pernah kita mohonkan kepada-Nya.



July 12, 2019, 08:48:10 AM
Reply #2062
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22530
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2019/

Friday, July 12, 2019
TAK TAHU BERTERIMA KASIH
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 Juli 2019

Baca:  Lukas 17:11-19

"Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?"  Lukas 17:18

Dalam pembacaan Alkitab hari ini dinyatakan bahwa ada sepuluh orang yang menderita sakit kusta datang kepada Kristus dan memohon belas kasihan dari-Nya,  "...Guru, kasihanilah kami!"  (Lukas 17:13).  Tergeraklah hati Tuhan untuk menolong mereka, dan akhirnya kesepuluh orang kusta itu pun menjadi tahir.  Dari 10 orang yang mengalami kesembuhan dari Tuhan itu ternyata hanya 1 orang saja, yaitu orang Samaria, yang tahu berterima kasih dan tersungkur di bawah kaki Tuhan dengan penuh ucapan syukur.  Tuhan berkata,  "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu?" (Lukas 17:17).  Sembilan orang yang lain pergi begitu saja meninggalkan Tuhan tanpa ucapan terima kasih!

     Sudah menjadi rahasia umum bila orang dalam keadaan tidak berdaya, menderita sakit keras, sedang terlilit utang, atau mengalami masalah yang teramat berat, di mana segala upaya telah dilakukan tapi tak membuahkan hasil apa-apa, barulah ia menyadari bahwa ia sangat memerlukan Tuhan.  Orang itu pun segera mencari Tuhan dengan segenap hati dan berdoa dengan tiada berkeputusan.  Ia pun berteriak dan berseru-seru kepada Tuhan meminta pertolongan-Nya;  dan ketika pertolongan dari Tuhan itu datang, barulah dari mulutnya keluar ucapan syukur dan bibir yang memuliakan Tuhan.  Perhatikan!  Ketika segala sesuatunya berjalan dengan baik dan tampak menyenangkan, kebanyakan orang lupa untuk mengucap syukur dan berterima kasih kepada Tuhan.  Mereka menganggap bahwa semuanya adalah hal yang biasa.  Bila mereka berhasil dan sukses dianggapnya sebagai hasil usaha dan kerja kerasnya sendiri.

     Kita lupa bahwa di balik segala perkara yang terjadi ada tangan Tuhan yang turut bekerja, ada Tuhan yang menolong, ada Tuhan yang menopang, ada Tuhan yang menyertai, ada Tuhan yang memberi kekuatan dan kemampuan kepada kita.  Tanpa Tuhan dan di luar Dia kita ini bukanlah siapa-siapa dan tidak ada apa-apanya.  Tuhan menegaskan,  "...sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa."  (Yohanes 15:5b).

Oleh karena itu  "Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!" Mazmur 103:2



July 13, 2019, 05:34:16 AM
Reply #2063
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22530
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2019/

Saturday, July 13, 2019
MEMUASKAN KEINGINAN TELINGA SAJA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 Juli 2019

Baca:  2 Timotius 4:1-8

"Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng."  2 Timotius 4:3-4

Tak bisa dipungkiri bahwa banyak orang suka sekali mendengarkan hal-hal yang menyenangkan dan menghibur, suka sekali dengan hal-hal yang bersifat pujian dan sanjungan;  suka sekali mendengar kata-kata manis dan enak untuk didengar tanpa memperhatikan apakah yang didengarnya itu benar atau tidak.

     Mereka lebih suka mendengarkan tema-tema khotbah yang hanya memuaskan telinganya.  Khotbah tentang berkat, kekayaan, kelimpahan, atau kenyamanan, itulah yang dicari-cari.  Sedikit orang yang mau mengarahkan telinganya untuk mendengarkan khotbah-khotbah  'keras' yang berisikan tentang teguran, seruan pertobatan, atau khotbah yang membongkar dosa.  Sedikit orang yang mau ditegur, dinasihati dan dikoreksi kesalahannya.  Itulah keadaan manusia di zaman seperti sekarang ini!  Yang dicari bukan lagi kebenaran, namun hal-hal yang memuaskan telinga.  Ketika sedang mengalami masalah yang berat orang lebih suka datang kepada dukun, orang pintar atau peramal untuk meminta nasihat dan solusi untuk masalah yang dialaminya, daripada datang kepada hamba Tuhan.  Kalau datang kepada hamba Tuhan pasti yang didengarnya adalah teguran dan diminta untuk bertobat.  Ahab  (raja Israel)  tidak mau mendengarkan apa yang disampaikan oleh nabi Mikha karena menganggap bahwa nabi ini selalu mengatakan hal-hal yang buruk dan negatif tentang dirinya:  "...aku membenci dia, sebab tidak pernah ia menubuatkan yang baik tentang aku, melainkan malapetaka."  (1 Raja-Raja 22:8b).  Ahab tidak suka jika dirinya ditegur, dikoreksi, dibongkar dosanya, atau mendengar hal-hal buruk tentang akibat dosa.  Karena itu ia rela bersusah-susah untuk mengumpulkan 400 nabi yang mau memberikan nasihat dan nubuatan yang manis dan sedap untuk didengarnya, padahal itu semua hanya sekedar untuk membuatnya senang.

     Berbeda dengan Yosafat  (raja Yehuda)  yang lebih mengutamakan petunjuk dari Tuhan, sekalipun mungkin apa yang didengarnya adalah sebuah teguran keras.

Ucapan yang meninabobokan membuat orang menjadi terlena dan hancur!


July 14, 2019, 05:25:27 PM
Reply #2064
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22530
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2019/

Sunday, July 14, 2019
KASIH SAHABAT YANG SEJATI
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 Juli 2019

Baca:  1 Samuel 23:14-18

"Janganlah takut, sebab tangan ayahku Saul tidak akan menangkap engkau; engkau akan menjadi raja atas Israel, dan aku akan menjadi orang kedua di bawahmu."  1 Samuel 23:17a

Alkitab mencatat tentang persahabatan di antara dua insan manusia yang dilandasi oleh hati yang tulus, yaitu persahabatan antara Daud dan Yonatan.  Inilah contoh sebuah persahabatan yang sejati, karena persahabatan yang terjalin di antara keduanya tidak saja di dalam suka dan senang, namun di segala keadaan.  Ketika Daud mengalami masalah, Yonatan tetap menunjukkan kasihnya yang tulus.  "Persahabatan bukanlah tentang siapa yang kau kenal paling lama.  Tapi tentang ia yang datang ke kehidupanmu dan berkata,  'Aku di sini untukmu',  lalu membuktikannya."  (Anonim).  Inilah yang akhirnya menginspirasi Salomo  (anak Daud)  untuk menulis:  "Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran."  (Amsal 17:17).

     Ketika Daud mampu mengalahkan raksasa Filistin  (Goliat), orang-orang pun mengelu-elukan dia:  "Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa. Lalu bangkitlah amarah Saul dengan sangat; dan perkataan itu menyebalkan hatinya, sebab pikirnya: 'Kepada Daud diperhitungkan mereka berlaksa-laksa, tetapi kepadaku diperhitungkannya beribu-ribu; akhir-akhirnya jabatan raja itupun jatuh kepadanya.' Sejak hari itu maka Saul selalu mendengki Daud."  (1 Samuel 18:7-9).  Akhirnya raja Saul berusaha mencari segala cara untuk dapat membunuh Daud, meski selalu gagal.  Namun Daud pun harus menjadi pelarian karena terus dikejar-kejar oleh Saul.  Pada saat Daud berada di padang gurun Zif, datanglah Yonatan menemui Daud dengan tujuan untuk menghibur dan menguatkan kepercayaan sahabatnya itu;  "Janganlah takut, sebab tangan ayahku Saul tidak akan menangkap engkau; engkau akan menjadi raja atas Israel, dan aku akan menjadi orang kedua di bawahmu."  (ayat nas).  Kemudian keduanya mengikat sebuah perjanjian di hadapan Tuhan  (1 Samuel 23:18).

     Inilah arti penting kehadiran sahabat dalam hidup ini!  Sahabat sehati akan selalu ada untuk kita saat kita sedang membutuhkan, lemah, tak berdaya, atau terpuruk.

Kasih seorang sahabat tak pernah mengenal waktu dan keadaan, bahkan ia bisa lebih karib dari pada seorang saudara  (Amsal 18:24).


July 15, 2019, 05:51:27 AM
Reply #2065
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22530
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://airhidupblog.blogspot.com/2019/

Monday, July 15, 2019
TINGGAL DALAM DAMAI SEJAHTERA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 Juli 2019

Baca:  Yesaya 26:1-12

"Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya."  Yesaya 26:3

Banyak orang kehilangan damai sejahtera karena beratnya permasalahan hidup.  Ketegangan melanda semua orang karena berbagai bencana atau musibah, juga keadaan ekonomi yang diberitakan buruk.

     Kita dapat terlepas dari ketegangan yang ada apabila kita selalu mengingat dan menyadari bahwa kita ini ada dalam pengawasan mata Tuhan dan mempercayai Dia yang selalu melindungi dan menjaga kita.  Sekalipun dunia diwarnai dengan berbagai goncangan, kita akan tetap merasa tenang dan berlimpah damai sejahtera bila kita senantiasa tinggal di dalam Tuhan dan firman-Nya.  Iblis dapat mengambil, mencuri dan merampas damai sejahtera bila kita hidup menjauh dari Tuhan, berjalan keluar dari kehendak-Nya, dan tidak taat melakukan apa yang Tuhan kehendaki.  Ketidaktaatan adalah faktor yang membuat seseorang tidak merasakan damai sejahtera karena ia akan selalu dihantui oleh rasa takut dan cemas.  Ayat nas jelas menyatakan bahwa Tuhan akan menjagai kita dengan damai sejahtera jika mata kita senantiasa tertuju kepada Tuhan, hati kita senantiasa berpaut kepada-Nya.  Maka dari itu  "Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat."  (Ibrani 10:25).  Jika tiba-tiba kita dihadapkan pada keadaan yang sulit, kita akan mampu merespons dengan sikap hati yang benar:  tetap tenang, tidak bingung, tidak cemas dan tidak panik.

     Cara lain untuk menolong kita tetap merasakan damai sejahtera di segala situasi adalah berserah penuh kepada Tuhan.  Pemazmur menasihati,  "Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak;"  (Mazmur 37:5).  Percayalah dalam segala sesuatu Tuhan turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi kita  (Roma 8:28).  Apabila kita mengasihi Tuhan dengan sungguh, tak perlu kuatir terhadap segala yang terjadi, sebab di baliknya Tuhan punya rencana terbaik bagi kita.

Damai sejahtera dari Tuhan adalah damai sejahtera yang sempurna di segala situasi dan keadaan!


July 16, 2019, 06:10:13 AM
Reply #2066
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22530
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2019/

Tuesday, July 16, 2019
TEGUHKAN HATI DAN TAK PERLU TAKUT
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 Juli 2019

Baca:  Yesaya 7:1-9

"Teguhkanlah hatimu dan tinggallah tenang, janganlah takut dan janganlah hatimu kecut karena kedua puntung kayu api yang berasap ini, yaitu kepanasan amarah Rezin dengan Aram dan anak Remalya."  Yesaya 7:4

Rasa takut dalam dialami oleh semua orang, tanpa terkecuali.  Orang yang kaya, orang yang miskin, orang yang berpendidikan atau tak berpendidikan, orang yang berpangkat atau pekerja rendahan, orang yang tinggal di kota, di desa atau di lereng-lereng gunung, semua pasti pernah mengalami rasa takut dalam hidupnya.  Banyak faktor yang menyebabkan seseorang dilanda rasa takut:  permasalahan dalam rumah tangga, krisis keuangan, bencana atau musibah, sakit-penyakit yang tak kunjung sembuh, kegagalan dalam studi, ancaman atau intimidasi dari pihak lain, dan sebagainya.  Hamba-hamba Tuhan, pelayan Tuhan, dan termasuk jemaat yang masih awam, tak luput dari rasa takut.

     Elia, yang adalah seorang nabi yang diurapi Tuhan, juga dilanda rasa takut yang luar biasa ketika ia mendengar ancaman dan gertakan dari Izebel,  "...jika besok kira-kira pada waktu ini aku tidak membuat nyawamu sama seperti nyawa salah seorang dari mereka itu."  (1 Raja-Raja 19:3), maka  "...takutlah ia, lalu bangkit dan pergi menyelamatkan nyawanya;"  (1 Raja-Raja 19:3).  Rasa takut yang demikian hebatnya sampai membuat Elia ingin mati saja.  Padahal ia baru saja mendemonstrasikan kuasa Tuhan di hadapan umat Israel dengan berhasil membunuh 450 orang nabi baal di atas gunung Karmel.  Syukurlah pada akhirnya Elia mampu bangkit kembali imannya setelah Tuhan mengutus malaikat-Nya untuk menghibur dan menguatkan dia, serta memberinya makanan  (roti bakar)  dan sebuah kendi berisi air untuk diminum.

     Ahas, sekalipun raja, ketika mendengar berita bahwa raja Aram hendak menyerang dan sudah berkemah di wilayah Efraim, hatinya dan  "...hati rakyatnya gemetar ketakutan seperti pohon-pohon hutan bergoyang ditiup angin." (Yesaya 7:2).  Melalui hamba-Nya, Yesaya, Ia berfirman,  "Teguhkanlah hatimu dan tinggallah tenang, janganlah takut dan janganlah hatimu kecut..."  (ayat nas).  Apa yang Saudara takutkan saat ini?  Serahkan beban permasalahan Saudara kepada Tuhan dan imani setiap kebenaran firman-Nya.

Tak perlu takut menghadapi apa pun, karena ada ROH KUDUS yang selalu menyertai dan tak pernah meninggalkan kita.



 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)