Author Topic: Saat Teduh  (Read 74129 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

September 25, 2014, 05:20:51 AM
Reply #140
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 25253
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://saatteduh.wordpress.com/2014/09/
Andalkan Tuhan
Posted on Rabu, 24 September, 2014 by Saat Teduh

Baca: Yeremia 17:1-18
http://www.jesoes.com/alkitab/yer/17/1
http://www.jesoes.com/alkitab/yoh/10/14

Kehidupan kita seringkali berada dalam tegangan tarik-ulur antara apa yang ada di hadapan mata dan apa yang masih harus diperjuangkan, antara apa yang terlihat dan apa yang diimani, antara kenyamanan dan kewajiban.Umat Yehuda, telah kita lihat selama beberapa hari terakhir ini, mengalami pergumulan serius secara kolektif dengan pilihan-pilihan yang membawa mereka terus hidup dalam dosa.

Tuhan memberi vonis berat kepada mereka: bukan apa yang di depan mata dan bukan kenyamanan yang seharusnya mereka cari; melainkan hidup bagi Tuhan dan membuat pilihan-pilihan dengan mengandalkan Tuhan, itulah yang Tuhan inginkan. Karena umat Yehuda mengandalkan diri sendiri untuk mendapatkan kekayaan dan kenikmatan hidup, semua itu jadi dirampas orang lain, bahkan umat akan mengalami kejatuhan besar dari kehidupan makmur hingga menjadi budak di tanah asing.

Yeremia mengontraskan kehidupan umat Yehuda yang mengandalkan diri dan kenikmatan sesaat dengan kehidupan orang-orang yang mengandalkan Tuhan, bagaikan padang gurun dan semak bulus yang senantiasa dalam kekeringan (5-6) dengan pohon yang ditanam di tepi aliran air (7-8). Pohon yang ditanam di tepi aliran air bisa jadi akan mengalami masa-masa berat dalam kehidupan, tetapi ia mendapatkan kekuatannya dari Tuhan yang selalu memasok akarnya dengan air kehidupan. Keadaan hidup boleh penuh masalah, tetapi “daunnya tetap hijau” dan ia “tidak berhenti menghasilkan buah”.

Yeremia mengakui bahwa kehidupannya sebagai orang beriman tidak mudah (14-15). Cemooh dan pencobaan datang silih berganti, tetapi orang beriman harus menggunakan kacamata yang berbeda dalam memandang hidup. Prioritas hidup kita berbeda. Kita percaya pada Tuhan yang menyelidiki hati, menguji batin, dan menilik setiap detail kehidupan kita (10); Ia akan melindungi kita pada hari malapetaka (17) dan menjaga kita hingga akhir (18), selayaknya seorang gembala menjaga domba-dombanya (bdk. Yoh. 10:14-15). Pada-Nya kita temukan kenyamanan dan keamanan sejati dalam hidup.





Berharap Kepada TUHAN dalam Kesesakan
Posted on Rabu, 24 September, 2014 by Saat Teduh

Bacaan Alkitab hari ini:  Mazmur 42-43
http://www.jesoes.com/alkitab/mzm/42/1

Bagaimana  perasaan Anda jika Anda tinggal di tengah lingkungan orang yang tidak seiman yang tidak menyukai—bahkan mengolok-olok—Anda karena Anda adalah seorang Kristen? Tentu situasi seperti itu sangat menekan hidup Anda, bukan? Situasi seperti inilah yang dirasakan oleh Pemazmur dalam Mazmur 42 dan 43 ini. Mazmur ini merupakan sebuah mazmur yang menyatakan kerinduan seseorang dalam pembuangan untuk menikmati hadirat Allah. Kerinduannya akan Allah itu begitu besar, ibarat rusa yang merindukan sungai yang berair. Akan tetapi, ia tidak dapat beribadah kepada TUHAN dengan cara yang biasa dilakukannya di dalam Bait Allah di Yerusalem.

Situasi bertambah berat ketika orang-orang yang tidak beriman mengolok-olok dirinya, seakan-akan Allah Israel tidak mampu menolong mereka. Namun demikian, keadaan tertekan tidak membuat sang pemazmur tenggelam. Ia bangkit dari perasaan yang menekan hidupnya itu? Apa yang membuat ia dapat keluar dari situasi itu?

Pertama, ia mengingat masa lalu, ketika ia datang ke rumah Allah dengan penuh rasa syukur dan sukacita.

Kedua, ia mengingat kebesaran Allah di dalam alam serta kasih setia Allah di dalam hidupnya. Ingatannya mengenai masa lalu dan tentang kebesaran serta kasih setia TUHAN mendorong pemazmur untuk berharap kepada Allah, Penolongnya. Apakah saat ini Anda sedang mengalami tekanan hidup yang berat? Berharaplah kepada Allah. Ia sanggup menolong Anda! [CG]

Mazmur 42:6
“Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!”
September 25, 2014, 05:21:28 AM
Reply #141
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 25253
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://saatteduh.wordpress.com/2014/09/
Cinta adalah tindakan, bukan sekedar ucapan
Posted on Rabu, 24 September, 2014 by Saat Teduh

50 tahun yang lalu..
Ketika melamar isterinya, ia hanya berkata: “Percayalah padaku.”

45 tahun yang lalu..
Ketika menikahi isterinya, ia juga hanya berkata: “Aku akan selalu bersamamu.”

40 tahun yang lalu..
Ketika isterinya melahirkan puteri pertamanya, ia berkata: “Maafkan, aku telah mnyusahkanmu.”

20 tahun yang lalu..
Hari ketika putri mrk menikah, lengannya merangkul bahu & menghibur isterinya: “Masih ada aku.”

1 tahun yang lalu..
Hari ketika ia menerima kabar kondisi isterinya kritis, ia berulang kali mengatakan: “Aku disini mendampingimu.”

Hari ini..
Isterinya telah pergi.. Ia menahan air mata mencium kening isterinya dan berkata: “Tunggu aku di sana.”

Sepanjang hidup ini, ia tidak pernah mengatakan kepada isterinya, “Aku mencintaimu.” Namun cintanya, tidak pernah punah.

Karena baginya, “Cinta Sejati” adalah sebuah tindakan, bukanlah hanya ucapan.

Lebih baik mencintai sepenuh hati dengan perbuatan daripada mngatakan, “Aku cinta padamu” berulang-ulang kali.

1 Yohanes 3:18 <Anak-anak Ku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.>
September 26, 2014, 05:19:47 AM
Reply #142
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 25253
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://saatteduh.wordpress.com/2014/09/
Menikmatai Sabat
Posted on Kamis, 25 September, 2014 by Saat Teduh

Baca: Yeremia 17:19-27
http://www.jesoes.com/alkitab/yer/17/19
http://www.jesoes.com/alkitab/hos/6/6
http://www.jesoes.com/alkitab/mat/12/1

Sabat macam apa yang Tuhan kehendaki? Tuntutan pekerjaan yang dahsyat menuntut banyak orang bekerja lebih dari angka teoretis 40 jam seminggu. Di banyak kota besar, 50-60 jam bukan lagi angka yang dahsyat; akhir pekan pun seringkali tak banyak bedanya dengan hari kerja. Apakah Sabat masih realistis untuk masa kini?

Umat Yehuda ditegur Tuhan karena tak mengenal waktu dalam berdagang. Tak ada lagi waktu yang tersisa untuk Tuhan dalam hidup mereka; hidup mereka dikuasai oleh uang dan kepentingan diri sendiri (21-22). Ketika membaca perikop ini dari kacamata pasca-kebangkitan Tuhan, kita memahami bahwa Tuhan bukannya menuntut kepatuhan legalistik dari umat (Hos. 6:6; Mat. 12:1-13); yang Ia inginkan adalah umat menguduskan Dia dalam hidup mereka dan menguduskan hidup mereka untuk-Nya. Bagaimana kita “menguduskan Sabat” di tengah tuntutan pekerjaan dan kehidupan masa kini?

Kita perlu menyadari bahwa dunia ini penuh orang-orang yang letih. Tuntutan dari atasan, pasangan dan keluarga, persaingan dan kebutuhan ekspansi bisnis, email dan pesan singkat (SMS) yang tak kunjung habis … energi manusia saat ini terkuras ke banyak tempat yang tak pernah berhenti menyedot dan berteriak minta dipenuhi. Sebagai umat yang mengenal Kristus, kita memiliki perspektif yang berbeda. Kita tahu bahwa walau banyak yang menuntut waktu kita dan menguras energi kita, pada akhirnya hanya anggukan persetujuan Tuhan-lah yang berarti. Dengan perspektif ini, kita menjalani kehidupan dengan kesadaran bahwa Ia mengerti, Ia mengamati, dan Ia menyertai kita sehingga setiap momen dalam hidup bisa kita jalani bersama-Nya.

Banyak orang menjalani hidup dengan tegangan tinggi, emosi yang selalu terkuras habis, atau energi yang tak pernah terisi penuh. Mereka lelah, mencari ketenangan dan istirahat. Mereka mencari makna di tengah keletihan hidup. Mereka butuh Sabat. Kita yang telah mengenal Tuhan atas Sabat, mari menjadikan Sabat nyata dan bisa dinikmati juga oleh orang-orang di sekitar kita saat mereka melihat hidup kita dan berinteraksi dengan kita.





Tetap Setia meski Susah
Posted on Kamis, 25 September, 2014 by Saat Teduh

Bacaan Alkitab hari ini:  Mazmur 44
http://www.jesoes.com/alkitab/mzm/44/1


Realita kehidupan tidak selalu mudah dimengerti. Adakalanya kita menemukan bahwa pengenalan kita tentang TUHAN sepertinya bertentangan dengan realita hidup yang kita alami. Pergumulan seperti ini juga mewarnai penulisan Mazmur 44. Mazmur ini menggambarkan  pergumulan umat Tuhan ketika mengalami krisis iman dan tekanan batin yang berat karena penindasan dari bangsa lain yang TUHAN izinkan menimpa hidup mereka.

Umat Allah telah mendengar dari nenek moyang mereka tentang karya penyelamatan Allah di masa lalu, bagaimana Allah telah memimpin mereka keluar dari Mesir dan memberikan mereka Tanah Perjanjian. Itu bukan karena kekuatan pedang, tetapi karena kuasa dan kekuatan Allah yang membela mereka. Oleh karena itu, umat Allah memuji dan bersyukur kepada-Nya. Tetapi sekarang, sulit bagi mereka untuk memahami mengapa Allah mengizinkan penderitaan justru saat mereka tidak melupakan Tuhan dan tidak mengkhianati perjanjian-Nya serta tidak menyimpang dari jalan TUHAN. Mengapa Allah seolah-olah tertidur dan tidak segera menolong mereka? Tidak sedikit orang beriman yang saleh mengajukan pertanyaan tentang mengapa Allah mengizinkan orang benar menderita.  Di dalam keterbatasan kita untuk memahami jalan-jalan TUHAN, ada satu hal yang harus kita yakini, yaitu bahwa Allah itu baik. Ia selalu bersama kita dan tidak pernah meninggalkan kita. itulah penghiburan bagi kita. [CG]

Mazmur 44:4-6
“Sebab bukan dengan pedang mereka menduduki negeri, bukan lengan mereka yang memberikan mereka kemenangan, melainkan tangan kanan-Mu dan lengan-Mu dan cahaya wajah-Mu, sebab Engkau berkenan kepada mereka. Engkaulah Rajaku dan Allahku yang memerintahkan kemenangan bagi Yakub. Dengan Engkaulah kami menanduk para lawan kami, dengan nama-Mulah kami menginjak-injak orang-orang yang bangkit menyerang kami.”
Beri peringkat:
September 27, 2014, 05:19:16 AM
Reply #143
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 25253
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://saatteduh.wordpress.com/2014/09/
Hidup berelasi dengan Tuhan
Posted on Jumat, 26 September, 2014 by Saat Teduh

Baca: Yeremia 18:1-17
http://www.jesoes.com/alkitab/yer/18/1
http://www.jesoes.com/alkitab/ul/7/6
http://www.jesoes.com/alkitab/ul/28/10

Ketika Tuhan memanggil kita, Ia memercayakan sebuah tugas kepada kita. Hidup kita menjadi etalase Tuhan yang mempertontonkan hasil karya-Nya di dalam hidup kita sehingga melalui kehidupan kita, orang-orang yang berinteraksi dengan kita akan mengalami perjumpaan dengan-Nya.Hal ini juga yang Tuhan harapkan dari orang Israel sejak pertama kali Tuhan memanggil mereka (bdk. Ul. 7:6-7; 28:10).

Tuhan memanggil umat ke dalam perjanjian dengan-Nya agar umat hidup dalam persekutuan dengan Dia, sebagai umat yang hidup dalam relasi dengan Allah yang hidup. Namun, acapkali kita memperlakukan Dia bukan sebagai pribadi; kita berhubungan dengan Allah layaknya seorang nasabah dengan perusahaan asuransinya. Dalam relasi semacam ini, seorang nasabah tidak mengharapkan perusahaan asuransi tempat ia mempunyai polis untuk ikut campur dalam kehidupan pribadinya; yang penting, saat nasabah itu terkena masalah, perusahaan asuransi itu ada untuk memberikan bantuan.

Dalam relasi dengan Tuhan, bangsa Yehuda pun menunjukkan sikap serupa. Di saat keadaan baik-baik saja, mereka bersikap sesuka hati karena merasa diri aman sebagai umat pilihan Tuhan. Mereka menganggap bahwa Tuhan tak mungkin berubah, sehingga bisa diperdaya sesuka hati mereka. Tuhan menegaskan bahwa Ia tak bisa dipermainkan. Bangsa Yehuda tidak bisa begitu saja memelintir penafsiran perjanjian Tuhan dengan menginginkan yang baik-baik saja, tetapi mengabaikan konsekuensi dari pelanggaran perjanjian itu.

Tuhan kita adalah Tuhan yang hidup. Ia bukan sebuah institusi tak bernyawa yang berhubungan dengan kita melalui surat perjanjian yang ditulis dengan huruf kecil-kecil, lalu mengabaikan kita sampai kita mengklaim apa yang kita butuhkan. Ia hidup! Ia hadir senantiasa dalam kehidupan kita. Ia mau berelasi dengan kita. Jangan lupakan Dia seperti yang dilakukan Yehuda. Rayakanlah realita kehadiran-Nya dalam hidup kita: dalam setiap momen, dalam setiap keputusan kita.





Menantikan Kristus, Sang Mempelai Pria
Posted on Jumat, 26 September, 2014 by Saat Teduh

Bacaan Alkitab hari ini:  Mazmur 45
http://www.jesoes.com/alkitab/mzm/45/1

Mazmur 45 ini biasa dinyanyikan pada waktu upacara pernikahan raja. Mazmur ini juga disebut sebagai mazmur Mesianik (mazmur yang berbicara tentang Mesias yang akan datang sebagai Raja). Dua dimensi dari mazmur ini terjadi karena orang Yahudi memahami bahwa Mesias dari keturunan Daud akan duduk di takhta Daud untuk memerintah selama-lamanya. Sifat mesianik dari mazmur ini dapat dilihat dari penggambaran pemazmur mengenai raja. Ia melukiskan  sang raja dengan pujian yang begitu indah, “terelok di antara anak-anak manusia”, penuh dengan “kemurahan” dan Allah “memberkati” dia  Bahkan, raja itu digambarkan sebagai pahlawan agung yang menegakkan keadilan dan kebenaran. Ia menghancurkan dan menaklukan musuh-musuh di bawah kakinya. Semua gambaran tentang raja dalam mazmur ini juga menunjuk kepada Mesias yang digenapi dalam pribadi Yesus Kristus.

Para penulis Perjanjian Baru melihat mazmur ini dalam kaitan hubungan Kristus dan jemaat, yaitu bahwa Kristus adalah mempelai pria dan gereja adalah mempelai wanita-Nya (Ibrani 1:8,9; Efesus 5:32; Wahyu 19:6,7; 21:2). Kita seharusnya menyadari status kita sebagai mempelai wanita Kristus.  Karena itu, saat kita menantikan Kristus, Sang Mempelai Pria, tentu kita dituntut untuk hidup kudus dan tak dicemari oleh dosa.  Apakah kesadaran akan status kita sebagai mempelai wanita Kristus menolong kita dalam menjalani hidup dengan benar sambil menantikan kedatangan-Nya kembali? [CG]

Mazmur 45:8-9
“Engkau mencintai keadilan dan membenci kefasikan; sebab itu Allah, Allahmu telah mengurapi engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutumu. Segala pakaianmu berbau mur, gaharu dan cendana; dari istana gading permainan kecapi menyukakan engkau.”
September 28, 2014, 05:07:16 AM
Reply #144
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 25253
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://saatteduh.wordpress.com/2014/09/
Menjadi diri yang autentik
Posted on Sabtu, 27 September, 2014 by Saat Teduh

Baca: Yeremia 18:18-23
http://www.jesoes.com/alkitab/yer/18/18

Bicara tentang pelayanan, beberapa renungan dan lagu rohani populer berbicara tentang indahnya dan tak kenal lelahnya pelayanan. Sementara, realitas berbicara lain. Keletihan dan masalah acap mendera pelayanan dan orang-orang yang melayani.Bagaimana menyikapi ini? Kalau pelayanan dan panggilan itu benar dari Tuhan, bukankah pelayanan seharusnya lancar, indah, dan bebas dari masalah?

Doa Yeremia hari ini menyodorkan perspektif berbeda kepada kita. Jelas dipaparkan bahwa Yeremia berbicara dan melakukan pelayanannya atas dasar panggilan Tuhan. Pelayanan yang dilakukan atas nama Tuhan justru membuatnya menjadi musuh nasional. Tugas yang diembannya dari Tuhan memang tidak populer. Ia harus memperingatkan orang-orang sebangsanya tentang malapetaka yang akan menimpa mereka. Sementara orang banyak itu lebih suka dibiarkan larut dalam kenyamanan hidup, tanpa mau memusingkan masa depan yang buruk, yang menanti mereka. Bagaimana menyikapi kondisi dilematis ini?

Yeremia bisa memilih untuk menjadi populer dan menyuarakan apa yang ingin didengar orang banyak, atau ia bahkan bisa tak peduli dan melanjutkan hidup dengan urusan pribadinya, membangun bisnis dan keluarganya. Namun, ia tidak melakukan keduanya. Ia tetap setia memenuhi panggilan Tuhan dan memikirkan kebaikan orang banyak. Masalahnya, orang banyak ini tak sependapat dengan Yeremia tentang apa yang baik bagi mereka. Ini membuat Yeremia terjepit.

Doa Yeremia menyuarakan frustrasinya. Apa yang bisa kita pelajari? Setelah terlibat lama dalam pelayanan, seringkali secara tak sengaja kita menjadi ahli dalam memakai topeng. Kita bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Kita menyembunyikan pergumulan kita. Kita tidak lagi autentik di depan orang banyak, bahkan di hadapan Tuhan! Kita kehilangan identitas dan menjadi bunglon-bunglon rohani yang tak lagi terhubung dengan jati diri kita. Bahwa doa Yeremia dimuat dalam Alkitab menunjukkan bahwa Tuhan menghargai kita yang autentik; Tuhan ingin berjumpa kita apa adanya. Maka lepaskan topeng kita dan temuilah Dia.





Jangan diam di tempat atau mundur ke belakang, tetaplah bergerak maju!
Posted on Sabtu, 27 September, 2014 by Saat Teduh

    “Hidup ini laksana naik sepeda. Untuk mempertahankan keseimbangan, kita harus terus bergerak.”

Kalimat ini memang sederhana, tapi sesungguhnya memiliki makna yang dalam.

Hanya dengan terus bergerak, maka kita akan mampu mempertahankan keseimbangan dan itu membuat kita tidak akan jatuh! Sebaliknya, jika kita diam dan kaki kita tidak lagi mendayung pedal, maka kita pasti akan kehilangan keseimbangan dan akhirnya pasti jatuh.

Di kalangan bisnis, perusahaan-perusahaan besar yang terlampau lama diam di zona nyaman dan telah berhenti melakukan inovasi, maka dalam waktu singkat akan muncul kompetitor baru yang menumbangkan perusahaan yang terlena tersebut. Kemunduran terjadi tidak hanya pada saat mereka melangkah mundur ke belakang, tetapi hanya dengan pasif dan diam di tempat, maka akan ada pesaing yang mendahului mereka.

Demikian juga dalam kehidupan kita, jika kita hanya berdiam saja, atau terlalu nyaman dengan keadaan, maka kita tinggal menunggu waktunya jatuh..! Justru tekanan dan masalah yang TUHAN izinkan terjadi itu untuk membuat kita terus bergerak maju, mengembangkan kreatifitas, membangun kedewasaan, sehingga kita kuat menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi.

Alkitabpun mengajarkan, agar kita terus menerus berubah oleh pembaruan budi.
Hanya ada 3 pilihan bagi kita saat menghadapi tantangan: bergerak mundur, diam ditempat, atau bergerak maju mengalahkan tantangan.

Seorang pemenang adalah dia yang pantang mundur, selalu bergerak maju dan berhasil mengalahkan tantangan dalam setiap aspek hidupnya..!!

Roma 8:37 <Tetapi dalam semuanya itu kita lebih daripada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.>
September 29, 2014, 05:45:05 AM
Reply #145
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 25253
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://saatteduh.wordpress.com/2014/09/
Kerinduan sang kekasih
Posted on Minggu, 28 September, 2014 by Saat Teduh

Baca: Kidung Agung 3:1-5
http://www.jesoes.com/alkitab/kid/3/1

Orang mengatakan bahwa mimpi itu buah tidur. Beragam aktivitas sehari-hari muncul secara acak dalam alam bawah sadar, keluar dalam bentuk mimpi. Kerinduan akan sosok yang dikasihi, bisa muncul dalam bentuk kehadirannya dalam mimpi.Mimpi indah, demikian kata orang. Namun, bisa mimpi merupakan ekspresi kekhawatiran akan sesuatu yang diharapkan tidak terjadi.

Kerinduan dan kekhawatiran sang mempelai wanita agar segera bersatu dengan kekasihnya mungkin yang menyebabkan mimpi yang dicatatkan dalam perikop ini. Kekhawatiran merupakan hal yang wajar bagi seorang perempuan, mengingat budaya timur yang menempatkan kaum wanita dalam posisi menantikan tindakan inisiatif dan aktif dari sang pria. Kalau pria tidak cepat meminang, kalau ia menunda memperkenalkannya kepada orang tua, maka sang wanita menjadi resah. Apalagi ketika usia tidak semakin muda.

Oleh karena itu mimpi sang mempelai perempuan berlanjut, ketika sang kekasih ditemukan, ia segera memegangnya erat-erat, dan membawanya ke kamar ibunya. Ibu, yang bagi sang perempuan adalah tempat mengadu kegalauan hati, kiranya dapat meneduhkannya. Ibu dengan sikap melindungi putrinya, pasti mengharapkan kata-kata janji dan pengharapan bahwa sang pria tidak akan menyia-nyiakan anak perempuannya. sekali lagi hasrat bersatu yang begitu menggebu-gebu, harus dikendalikan sampai tiba waktu yang tepat.

Buat pasutri yang kekasih, kapankah terakhir kali kalian saling merindukan dengan begitu menggebu-gebu? Kapan kalian mengkhawatirkan relasi kalian? Jangan hanya saat belum saling memiliki, justru saat sudah saling memiliki, pererat tali kasih, jaga dan lindungi kekasihmu, agar dia dan hanya dia yang menjadi fokusmu dalam mengarungi bahtera pernikahan. Tentu, dengan menempatkan Tuhan sebagai kepala rumah tanggamu.





Allah kota bentengku
Posted on Minggu, 28 September, 2014 by Saat Teduh

Bacaan Alkitab hari ini:  Mazmur 48-49
http://www.jesoes.com/alkitab/mzm/48/1

Mazmur 48 ini sering disebut nyanyian Sion. Yerusalem adalah kota kebanggaan Israel bukan saja karena ibukota mereka, tetapi karena di bukit Sion, di Yerusalem, ada Bait Allah yang melambangkan kehadiran Allah di tengah umat-Nya. Mereka punya keyakinan bahwa selama Yerusalem dan Bait Allah ada, berarti Allah juga hadir dan memberkati mereka. Kehadiran Allah begitu nyata dalam kehidupan umat Allah. Ketika bangsa-bangsa lain datang untuk menghancurkan bangsa Israel dan umat Allah tidak mampu mengalahkan mereka, Allah sendiri yang berperang bagi umat-Nya sehingga kegentaran dari Allah melanda musuh-musuh umat-Nya.

Mengingat pengalaman masa lalu tentang bagaimana Allah telah menunjukan kasih setia dengan melindungi dan menyertai umat-Nya, pemazmur mendorong umat-Nya untuk memuji Allah. Di dalam Mazmur 49, Pemazmur mengingatkan bahwa apa yang kita anggap dapat menjadi pegangan hidup kita seperti kekayaan, hikmat, dan kekuasaan tidak dapat membeli kehidupan. Hanya TUHAN yang dapat membebaskan kita dari kebinasaan. Jadi, kita tidak perlu minder terhadap mereka yang membanggakan kekayaan, kepandaian dan kekuasaan atau kekuatan mereka, sebab semua itu tidak akan dibawa serta pada waktu manusia mati. Tidak ada sesuatu pun yang dapat kita banggakan selain daripada pengenalan kita akan Kristus. Apakah mengenal Kristus menjadi kebanggaan Anda? [CG]

Mazmur 48: 10-12
“Kami mengingat, ya Allah, kasih setia-Mu di dalam Bait-Mu. Seperti nama-Mu, ya Allah, demikianlah kemasyhuran-Mu sampai ke ujung bumi; tangan kanan-Mu penuh dengan keadilan. Biarlah gunung Sion bersukacita; biarlah anak-anak perempuan Yehuda bersorak-sorak oleh karena penghukuman-Mu!”
September 30, 2014, 05:24:34 AM
Reply #146
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 25253
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://saatteduh.wordpress.com/2014/09/
Jangan keraskan hati!
Posted on Senin, 29 September, 2014 by Saat Teduh

Baca: Yeremia 19:1-15
http://www.jesoes.com/alkitab/yer/19/1

Setelah lama berada dalam situasi yang sama, kita cenderung merasa nyaman dan tahu semua. Kita memandang diri sebagai orang yang tahu sejarah, tahu bagaimana segala sesuatu seharusnya dilakukan, sedangkan orang lain hanya pendatang baru yang tak tahu apa-apa. Kita menjadi resisten terhadap apa pun yang tak sesuai dengan pakem yang ada di kepala kita.

Bangsa Yehuda telah terlena sehingga susah diperingatkan. Pada Yeremia 18:4, Tuhan menggunakan perumpamaan tanah lempung yang tengah dikerjakan oleh tukang periuk. Tanah lempung ini bisa saja rusak lalu dihancurkan untuk dibentuk menjadi benda yang berbeda. Dalam proses itu, tanah lempung dipertahankan tetap lembab sehingga mudah dibentuk-bentuk sesuai kemauan hati tukang periuk. Setelah mencapai bentuk yang diinginkan, tanah lempung itu akan dibakar pada suhu tinggi sehingga menjadi keras. Gambaran inilah yang kini digunakan oleh Yeremia.

Orang-orang Yehuda mengeraskan hati mereka sehingga tak ada jalan lain untuk mengingatkan, menegaskan, dan mengklarifikasi apa sesungguhnya panggilan Tuhan dalam hidup mereka. Sebuah titik-tak-terbalikkan telah tercapai. Seperti tembikar yang telah dibakar tadi, umat Yehuda pun tampaknya membuat Tuhan habis sabar. Tak ada pilihan selain tembikar dipecahkan dan dibuang dari hadapan Tuhan. Reformasi Yosia tak mampu membendung kekelaman hati bangsa Yehuda yang telah terhilang dari hadapan Tuhan (2Taw. 34:32-33). Walaupun reformasi nasional digalakkan, tetapi orang-orang ini terus menyembah allah-allah asing di balkon-balkon rumah mereka (13). Orang bisa menunjukkan sikap hidup saleh karena takut terhadap sanksi sosial atau karena “tahu sama tahu”, tetapi Tuhan melihat hati. Ada kalanya ia cukup menegur dengan lembut, tetapi terkadang Ia perlu menghajar dengan keras (bdk. Ibr. 12:6).

Dalam kehidupan pribadi, dalam pelayanan, dan di mana pun juga, belajarlah untuk selalu memiliki hati yang siap belajar dan terbuka untuk dibentuk Tuhan. Oleh karena itu, jangan keraskan hati!





TUHAN Melihat Hati
Posted on Senin, 29 September, 2014 by Saat Teduh

Bacaan Alkitab hari ini:  Mazmur 50-51
http://www.jesoes.com/alkitab/mzm/50/1

Mazmur 51 ini merupakan teguran Tuhan atas ibadah palsu umat-Nya.  Melalui mazmur ini,  pemazmur mengajak umat Allah untuk melihat apa yang harus dikoreksi dalam ibadah mereka kepada Allah supaya mereka dapat mempersembahkan ibadah yang berkenan kepada-Nya. Allah menolak anggapan dari umat-Nya bahwa Ia dapat dipuaskan dengan persembahan korban mereka, sementara mereka yang mempersembahkan korban itu hidup dengan seenaknya, menolak teguran Firman Tuhan, bergaul dengan pencuri dan pezinah, serta bibir mereka mengucapkan kata-kata yang jahat dan penuh tipu daya. Ibadah yang berkenan kepada Allah bukan menyangkut korban persembahan, tetapi berkaitan dengan kehidupan dari orang yang mempersembahkan korban. Apakah orang  yang mempersembahkan korban itu hidup benar dan persembahan itu keluar dari hati yang penuh dengan ucapan syukur?

Tuhan selalu memperhatikan hati manusia. Bagaimana hati kita ketika datang kepada-Nya? Ketika Nabi Natan menegur Daud yang telah berbuat dosa (berzinah dan membiarkan Uria—suami Batsyeba—mati dalam pertempuran), Daud menerima teguran itu dengan kerendahhatian. Ia datang kepada TUHAN dengan hati yang hancur, mengaku dosa dan kesalahannya, serta mohon pengampunan TUHAN. Daud tahu bahwa orang yang datang kepada TUHAN dengan sikap hati yang demikian tidak akan dipandang hina. Bagaimana sikap hati kita ketika datang menghampiri TUHAN? Apakah kita datang dengan ketulusan dan kerendahan hati karena menyadari bahwa kita tidak luput dari dosa dan kesalahan? [CG]

Mazmur 51:3-5
“Kasihanilah aku ya Allah, menurut kasih setia-Mu. hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang  besar!  Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku! Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku.”
October 01, 2014, 05:16:39 AM
Reply #147
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 25253
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://saatteduh.wordpress.com/2014/09/
Bagaimanapun, harus tunduk!
Posted on Selasa, 30 September, 2014 by Saat Teduh

Baca: Yeremia 20:1-6
http://www.jesoes.com/alkitab/yer/20/1

Terlibat di dalam “pelayanan” dan menjadi “pelayan” gereja seringkali memiliki makna konotatif yang berbeda dari makna denotatifnya: tak lazim kita menjumpai bahwa pada “pelayanan” dan kehidupan seorang “pelayan” melekat wibawa, gengsi, bahkan kekuasaan, betapapun terbatasnya.Ada juga bidang-bidang pelayanan yang bisa dikuasai; orang-orang yang terlibat di dalam pelayanan bisa memiliki wilayah kekuasaannya sendiri, yang tak boleh diganggu gugat oleh orang lain. Ini adalah bahaya besar yang sangat nyata di dalam kehidupan bergereja.

Pasyhur bin Imer mewakili institusi keagamaan yang sangat mapan. Kehidupannya dikelilingi simbol-simbol keagamaan, mulai dari pakaian upacaranya hingga rangkaian liturgi yang harus diikuti seluruh rakyat, mulai dari peran di dalam tata ibadah hingga kehormatan publik yang dia peroleh karena status kerohaniannya. Maka, bukan hal yang luar biasa ketika Yeremia menyampaikan pesan kepada rakyat yang menggoyangkan kemapanan dirinya dan institusi yang ia wakili, ia bereaksi dengan keras. “Lagipula, siapa Yeremia? Memang ia keturunan imam juga (Yer. 1:1), tetapi bukankah ia berasal dari departemen yang berbeda? Apa yang ia tahu tentang kehidupan keagamaan pada skala ini? Biarlah ia mengurus apa yang menjadi urusannya sendiri,” mungkin demikian pikir Pasyhur.

Dalam kehidupan bergereja, struktur dan posisi “pelayanan” bisa membuat kita terlena dan mengabaikan keakraban dengan Tuhan, baik secara pribadi maupun komunal. Sebagai ganti Tuhan yang seharusnya kita layani, kita malah memfokuskan energi, pikiran, waktu, dan uang kita pada kelanggengan kepentingan kita dalam “pelayanan”. Belajarlah dari kesalahan Pasyhur: ketika Tuhan memercayakan pelayanan-Nya, maka apa pun posisi kita dan betapa pun canggihnya struktur organisasi kita, semua itu tak lebih dari alat yang harus tunduk pada pimpinan Tuhan.

Ketika orang Kristen terlibat di dalam organisasi, termasuk gereja, keakraban komunal pun perlu dibangun: seluruh struktur perlu dirancang agar senantiasa peka pimpinan Tuhan.





Belas Kasih Yesus
Posted on Selasa, 30 September, 2014 by Saat Teduh

Bacaan Alkitab hari ini:  Lukas 7
http://www.jesoes.com/alkitab/luk/7/1
http://www.jesoes.com/alkitab/mzm/68/6
http://www.jesoes.com/alkitab/mzm/146/9
http://www.jesoes.com/alkitab/yes/1/17
http://www.jesoes.com/alkitab/yer/7/6
http://www.jesoes.com/alkitab/kel/22/22
http://www.jesoes.com/alkitab/za/7/10
http://www.jesoes.com/alkitab/kis/6/1

Alkitab berulang kali menyatakan perasaan hati Sang Gembala Agung, Yesus Kristus, yang begitu kuat dan menggerakkan-Nya: belas kasih. Berbeda dengan para pemimpin agama pada masa itu yang lebih suka menjalankan tradisi dan ajaran Taurat yang kaku dan dingin, Tuhan Yesus mampu melihat ke kedalaman hati manusia yang terluka dan berduka, termasuk ketika Ia berjumpa dengan seorang janda yang baru kehilangan anaknya (7:11-17). Tuhan Yesus mengerti kehancuran hati janda itu. Janda itu sudah kehilangan suami. Kini, ia diperhadapkan dengan realita yang pedih, yaitu kehilangan harapan satu-satunya, anak yang ia cintai. Tergerak oleh belas kasihan, Tuhan Yesus secara proaktif menghampiri janda yang berduka itu dan berkata kepadanya,  “Jangan menangis!” (7:13), lalu Tuhan Yesus membangkitkan anak muda itu.

Belas kasih Tuhan Yesus menunjukkan kasih Allah, khususnya pada mereka yang sebatang kara di dunia ini. Allah juga disebut sebagai “Bapa bagi anak yatim dan Pelindung bagi para janda” (Mazmur 68:6). Mereka berada dalam pemeliharaan-Nya (Mazmur 146:9). Begitu pedulinya Tuhan Yesus, sehingga Ia berkenan memberkati orang yang menolong dan menghormati mereka (Yesaya 1:17,19; Yeremia 7:6,7). Sebaliknya, Ia melawan orang yang mengambil keuntungan dari atau merugikan para janda dan anak yatim (Keluaran 22:22-24; Zakharia 7:10,14).

Gereja mula-mula juga menaruh perhatian yang mendalam  terhadap pelayanan para janda. Untuk melancarkan pelayanan, dipilihlah 7 orang—yang mempunyai reputasi baik dan yang penuh Roh dan hikmat—bagi pelayanan diakonia terhadap para janda miskin (Kisah Para Rasul 6:1-6). [FL]

Yakobus 1:27
“Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.”
October 02, 2014, 05:26:55 AM
Reply #148
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 25253
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://saatteduh.wordpress.com/2014/10/
Bukan Sekadar Juruselamat
Posted on Rabu, 1 Oktober, 2014 by Saat Teduh

Bacaan Alkitab hari ini:  Lukas 2
http://www.jesoes.com/alkitab/luk/2/1

Kristus Yesus lahir dalam sebuah kandang, tempat di mana ternak dipelihara. Kemungkinan, kandang itu adalah sebuah goa dan palungan itu adalah tempat makan bagi ternak. Kelahiran Sang Juruselamat tentu merupakan suatu peristiwa terbesar di alam semesta ini, namun terjadi dalam keadaan yang paling sederhana. Tuhan Yesus adalah Raja segala raja, tetapi ia memilih untuk lahir dan hidup tidak seperti seorang raja atau bangsawan di tengah dunia ini.

Pada malam ketika Ia dilahirkan, malaikat tidak mewartakan kelahiran-Nya kepada para penguasa di Yerusalem atau para pemimpin agama di Bait Suci, melainkan kepada para gembala, kaum marginal, yang sedang menjaga kawanan ternaknya. Apa yang bagi dunia tidak terpandang, diperhatikan oleh Allah. Kristus datang dalam kerendahan agar mereka yang paling hina menurut ukuran manusia pun boleh menghampiri Sang Juruselamat dunia. Kabar baik itu ditawarkan bukan hanya untuk kelompok tertentu, tetapi untuk seisi dunia, melampaui sekat budaya, suku, golongan, dan teritori (bandingkan dengan Yohanes 3:16).

Malaikat memperkenalkan Tuhan Yesus sebagai “Juruselamat”. Sebagai Juruselamat, Ia sanggup menolong manusia dari dosa, cengkraman Iblis, dunia yang jahat, serta dari hukuman dan kematian kekal. Ialah jawaban bagi kebutuhan utama manusia: dulu, kini, dan esok.

Juruselamat itu adalah “Kristus, Tuhan”. Artinya, Yesus bukan hanya datang untuk menjadi Penyelamat, tetapi juga menjadi Tuhan dalam kehidupan setiap orang percaya. Anda dipanggil bukan hanya untuk menerima keselamatan, tetapi juga untuk menerima Ke-Tuhan-an-Nya atas kehidupan Anda. Apakah hidupmu menunjukkan penghormatan, ketaatan, dan kesetiaan pada Dia, Sang Tuan yang berkuasa itu? [FL]

Lukas 2:10b-11
“Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.”
October 03, 2014, 05:30:02 AM
Reply #149
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 25253
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://saatteduh.wordpress.com/2014/10/
Melawan dihancurkan, menyerah selamat
Posted on Kamis, 2 Oktober, 2014 by Saat Teduh

Baca: Yeremia 21:1-10
http://www.jesoes.com/alkitab/yer/21/1

Seharusnya Tuhan senang kalau anak-anak-Nya meminta tolong sehingga pada waktu-Nya, Ia menjawab seruan mereka. Namun, dalam perikop ini Yeremia mewakili Tuhan menyampaikan penolakan untuk menolong Yehuda yang sedang dikepung tentara Babel, pimpinan Nebukadnezar. Mengapa?

Karena Tuhan mengirim Babel justru untuk menghukum Yehuda karena mereka jahat dan keras kepala, sebab tidak mau bertobat. Sepertinya, pasal 21-25 merupakan nubuat Yeremia pada masa pemerintahan Yoyakim dan Zedekia secara bergantian. Pada bagian ini kita membaca, bukannya Zedekia bertobat, ia malah meminta Yeremia agar memohon Tuhan membatalkan penghukumannya. Zedekia malah mengungkit perbuatan ajaib Tuhan pada masa lampau sebagai dasar pertolongan Tuhan pada masa kini. Mungkin ini merujuk pada penyelamatan ajaib dari tangan Sanherib, raja Asyur (2Raj. 19), pada masa Hizkia. Dulu, musuh dikalahkan karena Hizkia dan nabi Yesaya mewakili Yehuda mengaku dosa dan memohon belas kasih Tuhan.Namun saat itu, penghukuman tidak dapat dielakkan. Justru Allah memakai pasukan Nebukadnezar untuk menghancurkan Yerusalem, membinasakan penduduknya, dan menghukum serta menawan raja Zedekia. Di satu sisi, penghukuman Allah yang keras membuktikan bahwa Allah tidak main-main dengan dosa. Di sisi lain, justru lewat penghukuman ini Allah memberikan jalan keluar bagi pengampunan. Itulah pesan Allah melalui Yeremia kepada rakyat, yaitu, kalau mereka mau menyerah pada penawanan Babel, mereka akan selamat. Sebaliknya, kalau mereka mempertahankan Yerusalem, mereka akan binasa bersama kota tersebut (8-9).

Hukuman Tuhan dijatuhkan bukan sekadar untuk menghancurkan orang berdosa, melainkan untuk membawanya pada pertobatan. Ketika seseorang sadar akan dosanya dan bertobat, ia harus bersedia menerima pendisiplinan Tuhan. Hukuman Tuhan menjadi disiplin untuk memurnikan dan akhirnya memulihkan. Maka, jangan keraskan hati saat Tuhan mendisiplinmu. Ia mengasihimu dan ingin menyelamatkanmu!





Peringatan Yang Selalu Bergema
Posted on Kamis, 2 Oktober, 2014 by Saat Teduh

Bacaan Alkitab hari ini:  Lukas 3
http://www.jesoes.com/alkitab/luk/3/1
http://www.jesoes.com/alkitab/yes/40/3
http://www.jesoes.com/alkitab/mat/3/2

Yohanes Pembaptis adalah nabi Tuhan yang terakhir dan terbesar. Pelayanannya sudah dinubuatkan oleh Nabi Yesaya 700 tahun sebelum dia muncul (Yesaya 40:3-5). Ia muncul sebagai “pembuka jalan” bagi Sang Mesias, Juruselamat dunia yang menjadi pusat dari seluruh nubuatan Kitab Suci. Ia datang dengan membawa pesan yang tegas dan penting, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” (Matius 3:2)

Sebagai pembuka jalan, Yohanes Pembaptis mendapatkan kehormatan untuk menyiapkan bangsanya menyambut kedatangan Mesias dan memperkenalkan Dia kepada mereka. Ia berkhotbah tentang dosa dan menyuruh orang bertobat. Tidak peduli apakah para pendengarnya adalah orang yang terpandang dan saleh seperti orang Farisi dan orang Saduki, mereka juga harus bertobat dan menghasilkan buah yang seusai dengan pertobatan (Lukas 3:8). Golongan Farisi adalah kelompok elit keagamaan yang sangat ketat menaati seluruh Perjanjian Lama serta penafsiran manusiawi mereka. Mereka meyakini bahwa keselamatan dapat diperoleh dengan cara menaati hukum-hukum Allah secara harfiah. Sayangnya, ketaatan yang mereka perlihatkan sering bersifat lahiriah, bukan dari hati yang tulus dan mengasihi. Golongan Saduki adalah golongan liberal yang tidak menyukai perkara-perkara rohani. Sekalipun mengaku tunduk kepada hukum Allah, sesungguhnya mereka menyangkal banyak ajaran Perjanjian Lama. Secara moral, kehidupan mereka lemah dan duniawi.

Pesan Yohanes Pembaptis sangat jelas. Kita tidak bisa memastikan bahwa seseorang yang memiliki jabatan tinggi dalam keagamaan pasti memiliki kerohanian yang baik. Bila kehidupan seseorang tidak menghasilkan perbuatan yang baik dan benar, sudah pasti hukuman menantikannya. [FL]

Lukas 3:9
“Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, akan ditebang dan dibuang ke dalam api”.
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)