Author Topic: Saat Teduh  (Read 67055 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

November 14, 2018, 06:34:21 AM
Reply #1650
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24001
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2018/11/

Solusi bagi Gejolak Internal
Posted on Selasa, 13 November, 2018 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca: Nehemia 5

Setelah berhasil menangkis serangan dari luar, Nehemia dan bangsa Israel menghadapi masalah besar dari dalam akibat ketidaktaatan terhadap firman Allah. Saat orang-orang miskin meminjam uang untuk membeli makanan dan membayar pajak raja, para pemuka dan penguasa yang kaya bukan hanya tidak melindungi sesama, melainkan mereka menerapkan bunga uang yang tinggi, menyita ladang, dan memperbudak—bahkan menjual—anak-anak miskin itu kepada bangsa asing sebagai ganti uang pinjaman yang tak mampu mereka kembalikan (5:1-5). Nehemia sangat marah melihat kondisi itu dan segera menyelesaikannya dengan dua cara:

Pertama, ia mengkonfrontasi para pemuka dan penguasa dengan firman Allah dan memerintahkan mereka untuk bertobat dengan cara memberi bantuan tanpa bunga, menghapus utang, mengembalikan ladang, dan membebaskan anak-anak orang miskin yang sudah mereka perbudak dan menebus mereka yang sudah dijual kepada bangsa asing (5:6-13).

Kedua, ia menolak menerima semua haknya sebagai bupati. Sikap ini bertolak belakang dengan para bupati sebelumnya yang merajalela memeras rakyat. Sebaliknya, ia menyumbangkan semua haknya untuk membantu orang miskin (5:14-19). Hasilnya, para pemuka dan penguasa bersedia menaati kembali firman Allah dan menjadi pelindung bagi sesama yang hidup dalam kemiskinan.

Saat gereja menghadapi pergumulan dan masalah internal, dibutuhkan pemimpin yang tidak hanya mampu membimbing semua pihak untuk bersikap terbuka dan bersedia dikoreksi dan diubah oleh kebenaran firman Allah, tetapi juga mampu menjadi teladan di tengah jemaat melalui kehidupan yang tunduk kepada kebenaran Allah. Apakah prinsip ini sudah dipraktikkan secara maksimal di gereja Anda? [TF]

Setelah berpikir masak-masak, aku menggugat para pemuka dan penguasa…. Kataku: “Tidak patut yang kamu lakukan itu! Bukankah kamu harus berlaku dengan takut akan Allah kita untuk menghindarkan diri dari cercaan bangsa-bangsa lain, musuh-musuh kita?” Nehemia 5:7a, 9







Periksalah Dirimu (Ibadahmu)
Posted on Selasa, 13 November, 2018 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Maleakhi 1:6-14

Pernahkah Anda menerima keluhan dari seseorang? Apa yang Anda lakukan saat itu? Biasanya kita akan meminta maaf terlebih dahulu. Kemudian, kita akan menganalisis mengapa terjadi ketidakpuasan tersebut. Selanjutnya, tentu saja kita akan memperbaikinya agar tidak terulang di kemudian hari.

Dalam pembacaan hari ini, kita melihat bahwa Allah mengajukan beberapa pertanyaan yang mengandung keluhan terhadap para imam. Mereka yang seharusnya menghormati kekudusan Allah, malah berlaku sebaliknya dan tidak takut kepada-Nya. Padahal, semestinya mereka menghormati Allah selayaknya seorang anak kepada bapaknya atau hamba kepada tuannya (6). Para imam telah menghina nama Allah. Penghinaan itu dilakukan dengan membawa persembahan yang tidak layak, seperti roti yang cemar (7) dan hewan kurban yang cacat (8). Bahkan, seorang bupati pun tidak mau menerima persembahan itu.

Oleh karena itu, Allah berkata lebih baik rumah Tuhan ditutup saja. Alasannya, sekalipun mereka datang beribadah dan mempersembahkan kurban, Allah tidak menyukainya (10). Bangsa-bangsa lain begitu menghormati Tuhan, tetapi Israel, umat pilihan Allah, justru meremehkan-Nya (11-13).

Jika begini, mungkin saja Allah pun sedang mengeluhkan ritual ibadah kita? Sudahkah kita memeriksa diri dengan baik? Apakah kita sudah mengerjakan pelayanan dengan sebaik-baiknya? Sebagai seorang pelayan Tuhan, sudahkah kita mempersiapkan khotbah dengan baik? Sudahkah permainan musik kita baik? Apakah kita sudah menata ruang ibadah dan segala peralatannya dengan rapi? Ketika datang beribadah, sudahkah hati, pikiran, dan sikap tubuh kita sungguh terarah kepada-Nya?

Mari kita memeriksa diri dan ibadah kita. Apakah pelayanan yang kita berikan sungguh berkenan di hadapan Tuhan? Sudahkah itu semua kita persiapkan dengan baik?

Doa: Tuhan, ampunilah aku jika belum mempersembahkan yang terbaik! Tolong, ajarilah aku untuk memberikan yang terbaik! [IVT]







.......



November 14, 2018, 06:34:46 AM
Reply #1651
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24001
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

.......







Allah Menghukum yang Berlaku Cemar
Posted on Selasa, 13 November, 2018 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Maleakhi 2:1-9

Tuhan memberi kita berbagai talenta yang bisa digunakan dalam pelayanan. Talenta itu beraneka ragam. Beberapa orang terampil memersiapkan tata ibadah. Orang lain mahir bermain musik. Bahkan, ada yang dipersiapkan-Nya untuk berkhotbah. Namun, jangan menyangka Allah akan berdiam diri kalau talenta itu tidak dimaksimalkan atau disalahgunakan. Allah bisa menarik kembali talenta itu. Bahkan, Ia bisa menghukum kita karena dianggap tidak menghormati-Nya.

Allah benar-benar murka kepada para imam yang tidak menghormati kekudusan-Nya karena sudah berlaku cemar saat melaksanakan tugasnya. Oleh karena itulah, Allah akan mengutuk mereka. Semua yang telah mereka terima sebagai berkat akan diubah menjadi kutuk (2). Keturunan mereka pun akan dimurkai Allah (3a bdk. Kel. 20:5). Mereka akan dibuat malu dan najis sehingga tidak layak lagi menjadi imam. Hingga akhirnya, mereka akan dipandang rendah (3b).

Allah menegaskan bahwa perjanjian-Nya dengan imam keturunan Lewi tetap berlaku (4). Kepada nenek moyang mereka, Allah berjanji akan memberkati dengan kehidupan dan kesejahteraan. Pada masa itu, mereka masih takut kepada-Nya (5). Mereka masih mengajarkan yang benar, menghidupinya, dan menuntun orang kembali pada kebenaran (6). Inilah tugas dan kewajiban seorang imam (7).

Namun, generasi ini telah menyimpang, bahkan menyeret orang lain bersama kejahatannya (8). Allah kembali menegaskan akan menghukum mereka karena tidak mengikuti kehendak-Nya. Apalagi dalam melayani umat, mereka kerap membeda-bedakan orang (9).

Tugas melayani Tuhan bukanlah pekerjaan remeh. Allah menuntut kekudusan, kesungguhan hati, dan profesionalitas. Dia menetapkan standar yang harus kita ikuti dengan penuh integritas. Allah ingin para pelayan-Nya menghidupi kebenaran-Nya dan mengajarkan itu kepada orang lain. Tanpa itu, hanya murka Allah yang tersisa.

Doa: Tuhan ampunilah jika dalam melayani-Mu, aku berlaku cemar dan tidak menghormati kekudusan-Mu. [IVT]



November 15, 2018, 05:25:40 AM
Reply #1652
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24001
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2018/11/

Rampungnya Pembangunan Tembok Yerusalem
Posted on Rabu, 14 November, 2018 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca: Nehemia 6-7

aran Alkitab bahwa Iblis bisa muncul dalam wujud “singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang bisa ditelannya” serta bisa menyamar sebagai “malaikat Terang” (1 Petrus 5:8; 2 Korintus 11:14) tampak dalam tindakan Sanbalat, Tobia, dan Gesyem— para musuh Israel. Setelah serangan mereka yang seperti “singa yang mengaum-aum”—berupa rencana pembunuhan—digagalkan (Nehemia 4), mereka mengubah strategi dan menyamar sebagai “malaikat Terang” dengan bertindak sangat licik, antara lain empat kali menawarkan kerja sama (6:1-4), mengirim surat terbuka berisi tuduhan palsu rencana pemberontakan Nehemia kepada raja Persia (6:5-9), dan menyuap Semaya agar bernubuat palsu untuk menjebak Nehemia memasuki Bait Allah, sehingga Nehemia bisa dicela karena sebenarnya ia tidak boleh memasuki Bait Allah (6:10-14). Akan tetapi, Nehemia berhasil mematahkan semua rancangan licik para musuhnya dengan mengandalkan kekuatan Allah melalui doa dan dengan bekerja sekuat tenaga dan segenap hati. Atas pertolongan Allah, seluruh tembok berhasil dibangun dalam waktu 52 hari yang membawa kemuliaan Allah, sekaligus membungkam kritikan dan hinaan para musuh (6:9, 15-16).

Iblis adalah aktor utama di balik semua serangan terhadap pelayanan, sebagaimana perkataan Rasul Paulus bahwa perjuangan kita bukan melawan darah dan daging, melainkan melawan para penguasa dan penghulu dunia yang gelap (Efesus 6:12). Karena itu, pelayanan merupakan peperangan rohani yang tidak dapat dijalankan dengan mengandalkan hikmat dan kekuatan manusia, melainkan harus mengandalkan kekuatan Allah melalui doa. Bidang pelayanan apa yang Allah percayakan kepada Anda? Apakah Anda menjalankannya dengan kesadaran bahwa pelayanan itu merupakan suatu peperangan rohani? [TF]

“Ketika semua musuh kami mendengar hal itu, takutlah semua bangsa sekeliling kami. Mereka sangat kehilangan muka dan menjadi sadar, bahwa pekerjaan itu dilakukan dengan bantuan Allah kami.” Nehemia 6:16



November 16, 2018, 06:12:44 AM
Reply #1653
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24001
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2018/11/

Masih Suka Menyalahkan yang Lain?
Posted on Kamis, 15 November, 2018 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Maleakhi 2:17-3:5

Sifat manusia memang mudah untuk menyalahkan orang lain. Kita tentu ingat saat Adam jatuh ke dalam dosa. Ketika dihakimi Allah; Adam malah menyalahkan Hawa. Waktu Allah bertanya, Hawa menyalahkan iblis. Manusia senang menganggap diri benar sembari menyalahkan orang lain.Bahkan, saat menghadapi masalah besar, kita mungkin dengan lancang menyalahkan Allah. Kita berani menuding-Nya tidak mengasihi, tidak adil, tidak menepati janji, dan sebagainya.

Tampaknya, ada anggapan yang keliru dalam benak orang Israel tentang Allah. Mereka berpikir; Ia berkenan kepada orang jahat (17). Akibatnya, mereka cemburu melihat orang yang hidupnya jahat, tetapi hidup dengan nyaman. Sedangkan, mereka sendiri-sekalipun sudah merasa hidup baik-tetap menderita. Oleh karena itu, mereka mempertanyakan keadilan Allah itu. Mereka bertanya sinis, “Di manakah Allah yang dianggap adil itu?” (17).

Menanggapi itu, Maleakhi tidak menghibur mereka. Sebaliknya, ia malah menegur dengan kecaman keras. Hidup kerohanian bangsa Israel sedang merosot. Itu disebabkan ulah para pemimpin yang tidak bertanggung jawab.

Namun, inilah kondisi manusia yang berdosa. Sebenarnya, mereka sadar telah melakukan kesalahan dan melanggar hukum. Namun, mereka tetap berkelit dan tidak mau dipersalahkan. Mereka merasa perbuatan mereka benar, sedangkan tindakan Allah salah.

Ketika mendung merundung nasib, kita mungkin masih sering mengeluh kepada Allah. Sebenarnya, mengeluh itu seperti seorang anak yang mengadu kepada ayahnya, asalkan tidak dilakukan dengan berlebihan. Penderitaan itu diperlukan untuk menempa iman. Kita perlu menyadari hal ini, sehingga hidup kita tidak lagi hanya untuk menyalahkan keadaan dan mencari pembenaran. Apalagi, jika kita lancang menyalahkan Tuhan.

Doa: Tuhan, tolonglah kami untuk mampu mempertanggungjawabkan hidup kami, tanpa mempersalahkan keadaan, orang lain, apalagi Engkau. [ET]







Tetaplah Setia
Posted on Kamis, 15 November, 2018 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Maleakhi 2:10-16

Kita sering menggunakan 2Timotius 2:13 untuk membenarkan ketidaksetiaan. Padahal, kesetiaan sangat bernilai di hadapan Allah. Sebaliknya, pengkhianatan merupakan perbuatan yang dibenci-Nya. 

Melalui Maleakhi, Allah menegur keras ketidaksetiaan Israel. Mereka telah berkhianat satu sama lain. Akibatnya, itu menajiskan perjanjian antara Allah dan nenek moyang Israel. Mereka mengambil perempuan dari bangsa lain untuk dijadikan istri (11). Artinya, mereka sudah berlaku tidak setia terhadap istri yang sah di hadapan Tuhan (14). Imbasnya, mazbah Allah yang kudus dicemarkan dengan perkawinan yang tidak kudus. Mereka menangis sebab Allah menolak kurban persembahan dari mereka. Allah menolak perkawinan ini bukan karena perbedaan kebangsaan. Akan tetapi, perkawinan ini berpotensi membawa Israel kembali kepada penyembahan berhala.

Banyak bangsa di sekitar Israel hidup dalam penyembahan berhala. Allah tidak ingin Israel yang telah dimurnikan kembali terjebak dalam penyembahan berhala. Allah tidak mau Israel meniru nenek moyang mereka. Sekalipun mereka tetap beribadah, perkawinan campur ini akan mencemari ibadah di Rumah Tuhan. Alasannya, penyembahan mereka akan terkontaminasi dengan cara-cara peribadatan bangsa asing. Allah juga sangat membenci perceraian dan ketidaksetiaan. Bahkan, itu dianggap-Nya sebagai tindak kekerasan (16).

Sebagai gambar dan rupa Allah, kita mewarisi sifat kesetiaan Allah. Namun, dosa telah merusak semuanya itu sehingga kita menjadi orang-orang yang sering berkhianat. Allah ingin kita kembali menjadi pribadi yang setia, yaitu kepada Allah dan pasangan. Kesetiaan kepada Allah terjaga ketika pasangan hidup kita adalah orang yang sungguh mengasihi-Nya. Sementara itu, kesetiaan kepada pasangan akan terjaga ketika kita memegang teguh komitmen yang telah diucapkan di hadapan Tuhan dan jemaat-Nya.

Doa: Tuhan jadikanlah aku hamba yang setia kepada-Mu dan kepada pasangan hidupku. [IVT]







.......



November 16, 2018, 06:13:08 AM
Reply #1654
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24001
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

.......







Permulaan Transformasi Rohani
Posted on Kamis, 15 November, 2018 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca: Nehemia 8

Selesainya pembangunan tembok tak berarti tugas Nehemia selesai. Sebulan kemudian, ia mengumpulkan rakyat Israel untuk memasuki reformasi yang lebih penting, yaitu transformasi rohani melalui Taurat Musa yang dibacakan oleh Ezra. Firman Allah yang sudah lama sekali tak dibaca disambut dengan tiga sikap positif:

Pertama, bangsa Israel menghormati firman Allah dengan bangkit berdiri saat Ezra membuka Taurat Musa, dan mereka menyambut pujian Ezra atas kebesaran Allah dengan berkata, “Amin, amin!” sambil berlutut sujud menyembah Allah dengan muka sampai ke tanah (8:1-7).

Kedua, hati mereka terbuka untuk menerima pengajaran firman Allah. Setelah orang-orang Lewi mengajarkan makna Taurat Musa yang dibaca oleh Ezra, bangsa Israel menangis untuk mengungkapkan penyesalan atas dosa yang membuat mereka dihukum Allah, dan mereka bertekad untuk kembali kepada Allah (8:8-13).

Ketiga, mereka menaati firman Allah. Saat mendengar perintah untuk merayakan hari raya pondok daun, bangsa Israel segera merayakannya sesuai peraturan. Pada perayaan itu, Taurat Musa dibacakan di antara bangsa Israel setiap hari (8:14-19).

Pengalaman Nehemia membuktikan bahwa tembok Yerusalem hanya berhasil menyatukan bangsa Israel secara fisik, tetapi hanya firman Allah yang berkuasa memuaskan dahaga rohani dan membalikkan hati bangsa Israel kepada Allah. Gereja masa kini tak boleh hanya mementingkan pembangunan gedung dan fasilitas fisik. Gereja perlu memprioritaskan mengajar jemaat untuk menghormati, merindukan, dan menaati firman Allah agar mengalami transformasi rohani menjadi semakin serupa dengan Kristus. Usaha apa yang Anda lakukan agar kerohanian Anda mengalami transformasi menjadi semakin serupa dengan Kristus? [TF]

“Bagian-bagian kitab Taurat Allah itu dibacakan tiap hari, dari hari pertama sampai hari terakhir.  Tujuh hari lamanya mereka merayakan hari raya itu dan pada hari yang kedelapan ada pertemuan raya sesuai dengan peraturan.” Nehemia 8:19



November 17, 2018, 05:21:22 AM
Reply #1655
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24001
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2018/11/

Pertobatan Masal
Posted on Jumat, 16 November, 2018 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca: Nehemia 9

Dua hari setelah perayaan pondok daun berakhir, umat Israel berkumpul dalam pertobatan masal dengan berpuasa dan berpakaian kabung. Pembacaan firman Allah selama tujuh hari berturutturut mencelikkan mata rohani mereka, sehingga mereka sadar bahwa kondisi mereka sebagai budak di bawah penjajahan bangsa asing disebabkan oleh dosa mereka sendiri dan dosa nenek moyang mereka (9:36-37). Doa respons mereka berisi tiga pengakuan:

Pertama, pengakuan akan kebesaran Allah sebagai Pencipta dan Penguasa alam semesta.

Kedua, pengakuan akan kasih sayang Allah yang tak pernah berubah, yang memanggil bapa leluhur mereka—Abraham—keluar dari Ur-Kasdim, melepaskan nenek moyang mereka dari perbudakan di Mesir, memelihara dalam perjalanan di padang gurun, mengaruniakan negeri Kanaan sebagai milik pusaka, dan memberkati mereka pada masa kerajaan.

Ketiga, pengakuan akan dosa dan ketidaksetiaan nenek moyang mereka yang telah melawan hukum Allah dan membunuh para nabi utusan Allah yang membimbing mereka kembali ke jalan Allah, sehingga mereka dihukum Allah melalui tangan bangsa asing untuk membuat mereka menyadari dosa mereka dan kembali kepada Allah.

Firman Allah berkuasa mencelikkan mata orang untuk mengenal kekudusan dan keagungan Allah, serta kehinaan dan keberdosaan diri sendiri. Sama seperti bangsa Israel, bangsa kita masa kini sedang diperbudak oleh berbagai dosa, antara lain korupsi, narkotika, pornografi, pembunuhan, dan sebagainya. Dalam kondisi demikian, bangsa kita membutuhkan firman Allah yang bisa mencelikkan mata rohani agar sadar dosa dan mampu mengatasi permasalahan akibat dosa. Apakah Anda telah membiasakan diri untuk mendoakan bangsa Indonesia dan mewartakan firman Allah kepada orang-orang di sekitar Anda? [TF]

“Sementara mereka berdiri di tempat, dibacakanlah bagian-bagian dari pada kitab Taurat TUHAN, Allah mereka, selama seperempat hari, sedang seperempat hari lagi mereka mengucapkan pengakuan dan sujud menyembah kepada TUHAN, Allah mereka.” Nehemia 9:3



November 19, 2018, 05:56:01 AM
Reply #1656
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24001
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2018/11/

Panggilan untuk Melayani
Posted on Minggu, 18 November, 2018 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca: Nehemia 11-12

Dua hari setelah perayaan pondok daun berakhir, umat Israel berkumpul dalam pertobatan masal dengan berpuasa dan berpakaian kabung. Pembacaan firman Allah selama tujuh hari berturutturut mencelikkan mata rohani mereka, sehingga mereka sadar bahwa kondisi mereka sebagai budak di bawah penjajahan bangsa asing disebabkan oleh dosa mereka sendiri dan dosa nenek moyang mereka (9:36-37). Doa respons mereka berisi tiga pengakuan:

Pertama, pengakuan akan kebesaran Allah sebagai Pencipta dan Penguasa alam semesta.

Kedua, pengakuan akan kasih sayang Allah yang tak pernah berubah, yang memanggil bapa leluhur mereka—Abraham—keluar dari Ur-Kasdim, melepaskan nenek moyang mereka dari perbudakan di Mesir, memelihara dalam perjalanan di padang gurun, mengaruniakan negeri Kanaan sebagai milik pusaka, dan memberkati mereka pada masa kerajaan.

Ketiga, pengakuan akan dosa dan ketidaksetiaan nenek moyang mereka yang telah melawan hukum Allah dan membunuh para nabi utusan Allah yang membimbing mereka kembali ke jalan Allah, sehingga mereka dihukum Allah melalui tangan bangsa asing untuk membuat mereka menyadari dosa mereka dan kembali kepada Allah.

Firman Allah berkuasa mencelikkan mata orang untuk mengenal kekudusan dan keagungan Allah, serta kehinaan dan keberdosaan diri sendiri. Sama seperti bangsa Israel, bangsa kita masa kini sedang diperbudak oleh berbagai dosa, antara lain korupsi, narkotika, pornografi, pembunuhan, dan sebagainya. Dalam kondisi demikian, bangsa kita membutuhkan firman Allah yang bisa mencelikkan mata rohani agar sadar dosa dan mampu mengatasi permasalahan akibat dosa. Apakah Anda telah membiasakan diri untuk mendoakan bangsa Indonesia dan mewartakan firman Allah kepada orang-orang di sekitar Anda? [TF]

“Sementara mereka berdiri di tempat, dibacakanlah bagian-bagian dari pada kitab Taurat TUHAN, Allah mereka, selama seperempat hari, sedang seperempat hari lagi mereka mengucapkan pengakuan dan sujud menyembah kepada TUHAN, Allah mereka.” Nehemia 9:3




November 20, 2018, 05:22:35 AM
Reply #1657
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24001
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2018/11/

Apa Gunanya Menghormati Allah?
Posted on Senin, 19 November, 2018 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Maleakhi 3:13-18

Pada masa Maleakhi, bangsa Israel mengalami kebingungan. Sepertinya, mereka menilai tidak ada perbedaan antara orang benar dan fasik. Antara orang beribadah dan yang tidak beribadah kepada Tuhan, nyaris sama saja. Apa respons Allah mendengar ucapan mereka? “Bahwasanya Aku, TUHAN, tidak berubah… Bicaramu kurang ajar tentang Aku…” (13).

Kenyataannya, kita memang menjumpai banyak orang fasik hidup berlimpah dan mujur ketimbang anak-anak Tuhan. Kita melihat koruptor maju terus, sementara orang yang melaporkan korupsi malah dipenjarakan. Banyak yang mulai merasa tidak ada gunanya hidup menjadi orang jujur di hadapan sesama. Akibatnya, banyak anak Tuhan berpikiran sama seperti bangsa Israel. Tuhan merespons keras perkataan mereka yang kurang ajar. Alasannya, perbedaan yang diinginkan oleh bangsa Israel dengan bangsa-bangsa lain yang tidak beribadah kepada-Nya semata-mata persoalan jasmaniah.

Tanggapan Maleakhi mulai dengan melaporkan perkataan orang-orang yang takut akan Allah (16-18). Mereka saling menguatkan. Mereka mengingatkan bahwa Tuhan pasti mengingat dan memperhatikan bangsa (manusia) yang takut dan menghormati-Nya. Perkataan itu diteguhkan dengan firman dari Allah sendiri. Mereka yang menghormati Allah merupakan pewaris sejati identitas Israel sebagai milik kesayangan-Nya (bdk. Kel. 19:5).

Jadi, yang membedakan orang benar dan orang fasik ialah soal menjadi milik Allah. Itulah keuntungan menaati Allah. Jika di luar itu, kita pasti akan kecewa, seperti Israel pada masa itu. Akan tetapi, jika Allah yang dicari, perhatian dan kasih yang dicurahkan-Nya sudah cukup bagi kita.

Doa: Ya Tuhan, berikanlah kami kebesaran hati untuk menerima kenyataan bahwa di sekeliling kami ada manusia yang hidup dengan tidak jujur. Bahkan, mereka tidak menghormati Tuhan sebagai pemilik kehidupan. Teguhkanlah hati kami untuk selalu setia dan menghormati-Mu sampai kami dapat berbuah seperti yang Tuhan kehendaki. [ET]







Pemberian Kepada Allah
Posted on Senin, 19 November, 2018 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Maleakhi 3:6-12

Percakapan tentang uang adalah sesuatu yang sensitif. Namun, kita perlu melihat persoalan keuangan dari dua segi. Pertama, aspek kewajiban. Kedua, ucapan syukur kepada Allah melalui pemberian kita kepada-Nya.

Dalam Perjanjian Lama, persepuluhan diperuntukkan untuk mendanai seluruh pekerjaan di Bait Allah. Dalam Alkitab, istilah persepuluhan pertama kali muncul ketika Abraham memberikan sepersepuluh dari semuanya (Kej. 14:18-20). Peristiwa kedua, dilakukan oleh Yakub yang memberikan persepuluhan kepada Tuhan (Kej. 28:22). Di dalam Kitab Bilangan, persepuluhan ditujukan untuk suku Lewi. Merekalah yang khusus ditunjuk Allah melayani purnawaktu di Bait-Nya.

Namun, pada masa pembuangan di Babel, bangsa Israel tidak lagi menyerahkan persepuluhan. Kebiasaan itu muncul kembali setelah mereka kembali ke tanah perjanjian. Dengan emas, perak, ternak, dan harta pemberian Allah lainnya, mereka merencanakan membangun kembali Bait Allah.Akan tetapi, kelihatannya, mereka tidak ikhlas dalam memberi. Bahkan, mereka tega menyerahkan persembahan yang tak pantas sebagai korban bakaran (Mal.1:7-8). Tindakan itu pasti mendukakan Allah. Oleh karena itu, Allah perlu mengingatkan totalitas bangsa Israel dalam memberi kepada Allah. Memberi kepada Allah, sejatinya merupakan ekspresi ucapan syukur bangsa Israel (6) sekaligus komitmen kepada-Nya.

Ketika mengembalikan persepuluhan, sebaiknya kita tidak termotivasi agar Tuhan balik memberkati dengan lebih banyak lagi. Alasannya karena memang sudah seharusnya kita memberikan yang terbaik untuk Dia. Setidaknya, ini bisa menjadi pelajaran agar kita tidak menjadi serakah dan selalu hanya meminta-minta kepada Allah. Setiap orang Kristen harus mengembalikan persepuluhan kepada Tuhan apa pun keadaannya. Itu adalah perintah Tuhan yang harus kita taati.

Doa: Ya Tuhan, ajarlah kami selalu bersyukur atas pemberian-Mu dalam hidup kami. Ajar kami juga agar rela untuk memberi kepada sesama, terlebih lagi kepada-Mu. [ET]





.......


November 20, 2018, 05:22:59 AM
Reply #1658
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24001
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
.......







Kesetiaan Nehemia kepada Firman Allah
Posted on Senin, 19 November, 2018 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca: Nehemia 13

Setelah 12 tahun bertugas di Yerusalem, Nehemia menghadap raja Persia (13:6). Sepeninggal Nehemia, rakyat Israel kembali hidup dalam dosa, hanya selang beberapa tahun setelah mengucapkan janji setia kepada Allah lewat sebuah piagam perjanjian. Rakyat kembali melakukan kawin campur serta menelantarkan orang Lewi, sehingga pelayanan di bait Allah terabaikan. Bait Allah tercemar oleh pemberian izin kepada Tobia—seorang asing—untuk menguasai bilik besar di pelataran Bait Allah. Perdagangan di hari Sabat juga melanggar kekudusan Sabat. Kondisi itu tercipta karena Taurat Allah tak dibacakan lagi. Imam besar Elyasib sendiri mencemarkan jabatan imam, antara lain dengan mengizinkan Tobia tinggal di bait Allah dan mengizinkan cucunya menikah dengan anak Sanbalat. Semua penyimpangan itu membuat Nehemia yang sudah kembali ke Yerusalem segera mengatur kembali kehidupan bangsa Israel agar sesuai dengan firman Allah: Tobia diusir dari bait Allah. Kehidupan kaum Lewi dipulihkan kembali, sehingga kegiatan peribadatan di bait Allah kembali berlangsung. Perdagangan di hari Sabat dilarang. Rakyat—yang terlibat kawin campur—dihukum. Semua orang asing diusir dari Israel (Bandingkan dengan pasal 10).

Pengalaman bangsa Israel di atas mengajarkan tentang pentingnya gereja memiliki pemimpin rohani yang berintegritas dan mampu memimpin jemaat untuk terus hidup sesuai dengan firman Allah melalui teladan kehidupan. Ingatlah bahwa kesalehan dan semangat pelayanan yang baik saat ini tidak menjamin bahwa kita akan memiliki kualitas kerohanian yang sama di masa depan. Menurut Anda, mengapa orang-orang Israel berubah setia kepada Allah? Apa yang harus dilakukan umat agar tidak mengulangi kesalahan bangsa Israel yang berubah setia kepada Allah?  [TF]

“Ya Allahku, ingatlah kepadaku karena hal itu dan janganlah hapuskan segala perbuatan bakti yang telah kulakukan terhadap rumah Allahku dan segala pelayanan di dalamnya!” Nehemia 13:14


November 21, 2018, 05:56:55 AM
Reply #1659
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24001
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2018/11/

Kegelapan Hati
Posted on Selasa, 20 November, 2018 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Keluaran 10:21-29

Gelap meliputi tanah Mesir. Orang-orang hanya dapat meraba dalam kegelapan itu (21). Beberapa ilmuwan modern berpendapat, kegelapan yang terjadi saat itu disebabkan oleh “hamsin”. Hamsin adalah badai pasir besar dengan hembusan angin panas dan kering yang memenuhi udara. Pasir dan debunya tebal sehingga sinar matahari pun tidak bisa tembus. Situasi seperti itu tentu saja sangat menyiksa badan. Kegelapan dan pekatnya udara, pasti memengaruhi pikiran masyarakat Mesir.

Inilah tulah kesembilan. Bisa dikatakan, ini suatu bentuk serangan kepada eksistensi dewa-dewi penting di Mesir. Misalnya, dewa matahari (Ra dan Horus) serta dewi langit (Nut dan Hator). Oleh masyarakat Mesir, mereka dipercaya sebagai pengendali siklus waktu. Namun, tulah ini menunjukkan kepalsuan para dewa itu. Sinarnya tidak sanggup menembus kegelapan yang berasal dari Allah. Dewa-dewi itu tidak mampu menerangi bangsa penyembahnya. Ironis.

Namun, walau dengan kondisi seperti itu pun, Firaun tetap mengeraskan hati. Dia tetap tidak mau melepaskan seluruh “tawanannya”. Ia hanya mengizinkan umat Israel pergi beribadah (24). Akan tetapi, mereka dilarang membawa ternak. Firaun mungkin punya banyak pertimbangan atas keputusannya itu. Namun, ini gelagat, Firaun tidak sungguh-sungguh rela membiarkan bangsa Israel keluar dari Mesir.

Musa bersikeras agar Firaun membolehkan mereka membawa ternak. Hewan itu, kata Musa, nanti akan digunakan sebagai korban sembelihan (25). Akan tetapi, Firaun menolak dan mengusir Musa, Sang Abdi Allah, dari hadapannya (28).

Kegelapan yang disebabkan badai pasir besar itu memang mengerikan. Namun, lebih mengerikan ketika kegelapan melanda hati manusia karena egois, misalnya. Kegelapan hati membuat manusia tidak mampu melihat cahaya kebaikan yang hadir di sekelilingnya. Tugas kitalah untuk membawa Injil. Satu-satunya cahaya yang bisa mengenyahkan kegelapan dalam hati manusia.

Doa: Tuhan, bentuk kami menjadi alat terang-Mu untuk mengusir kegelapan hati manusia di dunia. [ET]







Berubahlah Jika Ditegur
Posted on Selasa, 20 November, 2018 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Keluaran 10:1-20

Wabah belalang merupakan sebuah ancaman di banyak tempat. Atas kehendak Tuhan, angin timur melintasi Mesir dan mendatangkan belalang. Jumlahnya tak terbilang hingga dicatat sampai menutupi tanah. Belalang sebanyak itu belum pernah ada sebelumnya dan tidak akan ada lagi sesudahnya (14). Belalang itu memenuhi rumah semua orang Mesir (6), tetapi tidak menghampiri tanah Gosyen. Mereka memakan habis sisa-sisa pohon dan tanaman yang hancur karena hujan es (5, 15). Lewat peristiwa ini, Allah kembali membuktikan kuasa-Nya di atas dewa Mesir.

Para ahli sihir di Mesir sudah menyerah. Pegawai kerajaan sudah banyak menyarankan agar Firaun melepaskan orang Israel (7). Akan tetapi, Firaun menolak usulan tersebut. Sebenarnya, tebersit dalam pikirannya untuk mengizinkan bangsa Israel pergi. Namun, ketika mendengar persyaratan dari Musa, dia mengurungkan niatnya. Syarat itu mengharuskan semua bangsa Israel pergi. Anak-anak, orang tua, laki-laki, perempuan; bahkan ternak harus keluar dari Mesir. Tampaknya, Firaun ingin tawar-menawar dengan Allah. Ia mau saja membiarkan laki-laki bangsa Israel pergi ke padang belantara untuk beribadah. Asalkan, anak-anak dan kaum perempuan tetap tinggal. Namun, Musa menolak tawaran itu. akhirnya, Firaun terus mengeraskan hatinya.

Gambaran Firaun yang mengeraskan hati merupakan representasi gambaran kita, yang kerap mengeraskan hati pada teguran. Ia menegur kita berkali-kali dengan berbagai cara. Ketika ditegur, kita menyadari kesalahan, kemudian memohon pengampunan. Akan tetapi, tak lama berselang setelah teguran, kita kembali berbuat kesalahan yang sama. Jika Tuhan menegur kita saat ini, berubahlah dengan segera. Itu tanda Tuhan masih mengasihi kita. Jangan sampai kita menyesal karena tak ada lagi waktu untuk berubah, seperti yang dialami Firaun (28-29).

Doa: Tuhan, ampuni kedegilan kami. Saat Tuhan menegur kesalahan-kesalahan, tolonglah agar kami semakin peka mendengar; supaya kami berubah menjadi lebih baik. [ET]







.......



 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)