Author Topic: Saat Teduh  (Read 62982 times)

0 Members and 2 Guests are viewing this topic.

November 29, 2018, 08:33:59 AM
Reply #1670
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23169
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2018/11/

Pujilah TUHAN, hai jiwaku!
Posted on Kamis, 29 November, 2018 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca: Mazmur 146-147

Memuji TUHAN adalah respons yang wajar bagi seorang yang telah mengalami keselamatan yang disediakan Allah di dalam Kristus. Sayangnya, yang sering muncul dalam kehidupan ini adalah respons yang tidak wajar, yaitu keluhan atau bahkan protes kepada Allah. Keluhan atau protes ini biasanya disebabkan karena cara pandang kita terhadap kehidupan keliru. Di satu sisi, mungkin kita mengakui bahwa Allah itu baik dan Dia mahakuasa. Akan tetapi, saat menghadapi kenyataan hidup yang tidak menyenangkan hati kita, kita meragukan kebaikan Allah dan menyangsikan kemampuan Allah memberi yang terbaik bagi diri kita. Kesalahan cara pandang yang lain adalah bahwa kita terlalu berharap pada orang lain yang kita anggap lebih kaya dan lebih pandai daripada diri kita, dan kita lupa untuk berharap kepada TUHAN, padahal kebahagiaan sejati hanya bisa dirasakan oleh orang yang berharap kepada Allah (146:5) dan pujian yang tulus akan otomatis muncul bila rasa syukur bertumbuh (147:7). Allah tidak suka bila kita berharap bukan kepada Dia!

Apakah Anda merasa bersyukur atas keadaan Anda, atau sebaliknya: Anda merasa tidak puas terhadap kehidupan yang sedang Anda jalani? Bila Anda tidak bisa merasa puas, mungkin Anda masih belum menyadari bahwa sesungguhnya Allah telah berkali-kali menolong Anda melewati bahaya dan Allah telah berkali-kali memenuhi kebutuhan Anda saat Anda menghadapi jalan buntu. Bila kita belum bisa melihat kebaikan Allah, mungkin kita belum membuka mata kita cukup lebar untuk bisa melihat karya Allah dalam hidup kita. Ingatlah selalu bahwa kita tidak akan pernah mengalami kebahagiaan (damai sejahtera) bila kita belum bersandar kepada Allah. [P]

“Haleluya! Sungguh, bermazmur bagi Allah kita itu baik, bahkan indah, dan layaklah memuji-muji itu.” Mazmur 147:1



November 30, 2018, 07:22:51 AM
Reply #1671
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23169
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2018/11/

Nyanyian Musa dan Israel
Posted on Kamis, 29 November, 2018 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Keluaran 15:1-21

Ketika merasakan penyelamatan Allah melalui penyeberangan Laut Teberau, Musa bersama dengan orang Israel menyanyikan nyanyian bagi TUHAN (1); Miryam dan para perempuan pun memukul rebana, menyanyi, dan menari (21). Ada tiga bagian besar dalam nyanyian Musa ini.

Pertama, Musa memulai dengan maklumat: “Baiklah aku menyanyi bagi TUHAN, sebab Ia tinggi luhur, kuda dan penunggangnya dilemparkan-Nya ke dalam laut.” Dengan maklumat ini Musa mengakui bahwa memuji Allah merupakan keniscayaan. Memuji Allah bukanlah pilihan-mau atau tidak. Aneh rasanya tidak memuji Allah atas semua hal yang telah diperbuat-Nya bagi Israel! Musa mendorong dirinya untuk memuji Allah. Memuji Allah bukanlah paksaan, tetapi langsung keluar dari hati. Bagian pertama ini bisa dikatakan semacam refrein atau pengulangan karena pada akhirnya Miryam dan para perempuan Israel mengulangi maklumat Musa ini.

Kedua, Musa mengakui TUHAN sebagai: “kekuatanku, mazmurku, keselamatanku, Allahku, bapaku” (2). Musa menggunakan kata ganti “ku”- bentuk klitik aku sebagai pemilik. Ada hubungan erat antara Musa dan TUHAN, dan karena itu Musa memberanikan diri untuk menyatakan bahwa TUHAN adalah miliknya pribadi. Tentu dengan semua mukjizat yang telah TUHAN lakukan melalui perantaraan dirinya, Musa merasa ada hubungan yang bersifat pribadi antara dirinya dan TUHAN.

Ketiga, Musa menceritakan perbuatan TUHAN secara terperinci (4-18). Ini merupakan pelajaran penting bagi kita, orang Kristen abad XXI. Ketika kita menyatakan bahwa Allah itu baik, kita perlu dengan jelas menyatakan kepada sesama kebaikan Allah yang telah kita rasakan.

Kalau kita tak mampu memerincinya, mungkin kita tak sungguh-sungguh merasakan kebaikan itu. Atau, bisa jadi kita hanya membeo orang lain. Kalau sudah begini, pujian kita tak ubahnya basa-basi belaka. Dan itu tiada guna, bahkan dosa!

Doa: Tuhan, ajar kami menyatakan kasih-Mu dalam setiap pujian kami! [YM]







Pujilah TUHAN, hai jiwaku!
Posted on Kamis, 29 November, 2018 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca: Mazmur 146-147

Memuji TUHAN adalah respons yang wajar bagi seorang yang telah mengalami keselamatan yang disediakan Allah di dalam Kristus. Sayangnya, yang sering muncul dalam kehidupan ini adalah respons yang tidak wajar, yaitu keluhan atau bahkan protes kepada Allah. Keluhan atau protes ini biasanya disebabkan karena cara pandang kita terhadap kehidupan keliru. Di satu sisi, mungkin kita mengakui bahwa Allah itu baik dan Dia mahakuasa. Akan tetapi, saat menghadapi kenyataan hidup yang tidak menyenangkan hati kita, kita meragukan kebaikan Allah dan menyangsikan kemampuan Allah memberi yang terbaik bagi diri kita. Kesalahan cara pandang yang lain adalah bahwa kita terlalu berharap pada orang lain yang kita anggap lebih kaya dan lebih pandai daripada diri kita, dan kita lupa untuk berharap kepada TUHAN, padahal kebahagiaan sejati hanya bisa dirasakan oleh orang yang berharap kepada Allah (146:5) dan pujian yang tulus akan otomatis muncul bila rasa syukur bertumbuh (147:7). Allah tidak suka bila kita berharap bukan kepada Dia!

Apakah Anda merasa bersyukur atas keadaan Anda, atau sebaliknya: Anda merasa tidak puas terhadap kehidupan yang sedang Anda jalani? Bila Anda tidak bisa merasa puas, mungkin Anda masih belum menyadari bahwa sesungguhnya Allah telah berkali-kali menolong Anda melewati bahaya dan Allah telah berkali-kali memenuhi kebutuhan Anda saat Anda menghadapi jalan buntu. Bila kita belum bisa melihat kebaikan Allah, mungkin kita belum membuka mata kita cukup lebar untuk bisa melihat karya Allah dalam hidup kita. Ingatlah selalu bahwa kita tidak akan pernah mengalami kebahagiaan (damai sejahtera) bila kita belum bersandar kepada Allah. [P]

“Haleluya! Sungguh, bermazmur bagi Allah kita itu baik, bahkan indah, dan layaklah memuji-muji itu.” Mazmur 147:1



December 01, 2018, 06:10:51 AM
Reply #1672
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23169
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
 https://saatteduh.wordpress.com/2018/11/

Percaya dalam Segala Situasi
Posted on Jumat, 30 November, 2018 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Keluaran 15:22-27

Mungkin kita heran menyaksikan kisah umat Israel dalam bacaan hari ini. Begitu mudahnya mereka berubah. Beberapa hari lalu mereka merayakan penyelamatan Allah dengan tarian dan nyanyian di pantai Laut Teberau. Setelah tiga hari perjalanan di padang gurun Syur tanpa mendapatkan air, sampailah mereka di Mara. Harapan yang muncul langsung pupus karena air terasa pahit. Orang Israel pun bersungut-sunggut. Mereka marah kepada Musa sembari berkata, “Apakah yang akan kami minum?” (24).

Situasinya memang sulit. Orang bisa menahan lapar, tetapi tak bisa menahan haus. Bisa jadi anak-anak mereka mulai rewel dan menangis karena kehausan, sehingga mereka semakin bingung. Dan kebingungan bisa membuat iman seseorang goyah.

Namun, janganlah kita terlalu menyalahkan Israel. Kita pun mungkin pernah bersikap demikian. Ketika sakit tiada kunjung sembuh, ketika kesulitan hidup semakin menekan, ketika masalah silih berganti muncul, ketika harapan seolah jauh panggang dari api, mungkin kita masih percaya bahwa Allah ada, tetapi mungkin kita pun tergoda untuk bersungut-sungut dan mempertanyakan kasih Allah.

Pada titik ini agaknya kita perlu menggaungkan kembali Kidung Jemaat 406:3 “Dan bila tak kurasa kuasa-Mu, Engkau senantiasa di sampingku. Ya Tuhan, bimbing aku di jalanku, sehingga ‘ku selalu bersama-Mu.” Kasih Tuhan mungkin tidak kita rasakan dalam hidup. Namun, janganlah itu menjadi alasan untuk bersungut-sungut dan menganggap Allah tak lagi memedulikan kita.

Perhatikan kisah di Mara! Begitu mudahnya bagi Allah mengubah air pahit itu menjadi manis (25). Allah peduli. Allah, yang membebaskan Israel dengan banyak mukjizat, mustahil membiarkan umat-Nya mati kehausan. Allah, yang berencana membawa Israel ke Tanah Terjanji, mustahil tidak menggenapi rencana-Nya. Persoalannya adalah apakah Israel percaya? Percaya berarti memercayakan diri kepada Allah-dengan hidup menurut kehendak-Nya (26)!

Doa: Tuhan ajarku memercayai-Mu dalam segala situasi. [YM]







Biarlah Segala yang Bernafas Memuji TUHAN!
Posted on Jumat, 30 November, 2018 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca: Mazmur 147-149

Memuji TUHAN adalah hal yang sepantasnya dilakukan di sorga (148:1) maupun di bumi (148:7) oleh segala makhluk yang bernafas (150:6), termasuk para raja dan para pembesar (148:11), orang tua dan orang muda (148:12). Dalam bahasa puisi, sang pemazmur bahkan mengajak benda-benda penerang (matahari, bulan, bintang, 148:3), alam (samudera raya, api, hujan, angin, gunung, bukit, pohon, 148:7-9), dan binatang (ular naga, binatang liar, binatang melata, burung, 148:7, 10) untuk ikut memuji TUHAN. Tentu saja ungkapan-ungkapan pemazmur tidak boleh dimaknai secara hurufiah. Kita perlu menyadari bahwa yang dimaksud oleh pemazmur adalah bahwa TUHAN itu amat mulia dan lebih agung dari apa pun yang ada di bumi dan di langit (148:13), sehingga memuji TUHAN merupakan suatu kewajaran (hal yang sudah sepantasnya).

Seluruh ciptaan dalam alam semesta ini seharusnya mengungkapkan kemuliaan (keagungan) Allah. Oleh karena itu, dalam kitab Mazmur, pemazmur sering mengajak umat Allah untuk menari dan memakai segala macam alat musik untuk mengungkapkan keagungan Allah (149:3; 150:3-5). Daud, seorang raja Israel yang terkemuka, pernah mengungkapkan pengagungannya kepada Allah dengan menari-nari saat Tabut Allah diarak ke Yerusalem. Akan tetapi, Mikhal, istrinya sendiri, memandang rendah Daud karena dia tidak memahami keagungan Allah. Apakah Anda menyadari bahwa Allah itu Mahaagung dan sudah sepantasnya menerima pujian dan penyembahan kita? Saat Anda memuji TUHAN dalam ibadah, apakah Anda memuji TUHAN dengan segenap hati? Sebaliknya, apakah Anda merasa merupakan sesuatu yang berlebihan bila Anda memuji TUHAN dengan sepenuh hati? [P]

“Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Haleluya!” Mazmur 150:6




December 02, 2018, 04:38:52 AM
Reply #1673
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23169
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2018/11/

Percaya dalam Segala Situasi
Posted on Jumat, 30 November, 2018 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Keluaran 15:22-27

Mungkin kita heran menyaksikan kisah umat Israel dalam bacaan hari ini. Begitu mudahnya mereka berubah. Beberapa hari lalu mereka merayakan penyelamatan Allah dengan tarian dan nyanyian di pantai Laut Teberau. Setelah tiga hari perjalanan di padang gurun Syur tanpa mendapatkan air, sampailah mereka di Mara. Harapan yang muncul langsung pupus karena air terasa pahit. Orang Israel pun bersungut-sunggut. Mereka marah kepada Musa sembari berkata, “Apakah yang akan kami minum?” (24).

Situasinya memang sulit. Orang bisa menahan lapar, tetapi tak bisa menahan haus. Bisa jadi anak-anak mereka mulai rewel dan menangis karena kehausan, sehingga mereka semakin bingung. Dan kebingungan bisa membuat iman seseorang goyah.

Namun, janganlah kita terlalu menyalahkan Israel. Kita pun mungkin pernah bersikap demikian. Ketika sakit tiada kunjung sembuh, ketika kesulitan hidup semakin menekan, ketika masalah silih berganti muncul, ketika harapan seolah jauh panggang dari api, mungkin kita masih percaya bahwa Allah ada, tetapi mungkin kita pun tergoda untuk bersungut-sungut dan mempertanyakan kasih Allah.

Pada titik ini agaknya kita perlu menggaungkan kembali Kidung Jemaat 406:3 “Dan bila tak kurasa kuasa-Mu, Engkau senantiasa di sampingku. Ya Tuhan, bimbing aku di jalanku, sehingga ‘ku selalu bersama-Mu.” Kasih Tuhan mungkin tidak kita rasakan dalam hidup. Namun, janganlah itu menjadi alasan untuk bersungut-sungut dan menganggap Allah tak lagi memedulikan kita.

Perhatikan kisah di Mara! Begitu mudahnya bagi Allah mengubah air pahit itu menjadi manis (25). Allah peduli. Allah, yang membebaskan Israel dengan banyak mukjizat, mustahil membiarkan umat-Nya mati kehausan. Allah, yang berencana membawa Israel ke Tanah Terjanji, mustahil tidak menggenapi rencana-Nya. Persoalannya adalah apakah Israel percaya? Percaya berarti memercayakan diri kepada Allah-dengan hidup menurut kehendak-Nya (26)!

Doa: Tuhan ajarku memercayai-Mu dalam segala situasi. [YM]







Biarlah Segala yang Bernafas Memuji TUHAN!
Posted on Jumat, 30 November, 2018 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca: Mazmur 147-149

Memuji TUHAN adalah hal yang sepantasnya dilakukan di sorga (148:1) maupun di bumi (148:7) oleh segala makhluk yang bernafas (150:6), termasuk para raja dan para pembesar (148:11), orang tua dan orang muda (148:12). Dalam bahasa puisi, sang pemazmur bahkan mengajak benda-benda penerang (matahari, bulan, bintang, 148:3), alam (samudera raya, api, hujan, angin, gunung, bukit, pohon, 148:7-9), dan binatang (ular naga, binatang liar, binatang melata, burung, 148:7, 10) untuk ikut memuji TUHAN. Tentu saja ungkapan-ungkapan pemazmur tidak boleh dimaknai secara hurufiah. Kita perlu menyadari bahwa yang dimaksud oleh pemazmur adalah bahwa TUHAN itu amat mulia dan lebih agung dari apa pun yang ada di bumi dan di langit (148:13), sehingga memuji TUHAN merupakan suatu kewajaran (hal yang sudah sepantasnya).

Seluruh ciptaan dalam alam semesta ini seharusnya mengungkapkan kemuliaan (keagungan) Allah. Oleh karena itu, dalam kitab Mazmur, pemazmur sering mengajak umat Allah untuk menari dan memakai segala macam alat musik untuk mengungkapkan keagungan Allah (149:3; 150:3-5). Daud, seorang raja Israel yang terkemuka, pernah mengungkapkan pengagungannya kepada Allah dengan menari-nari saat Tabut Allah diarak ke Yerusalem. Akan tetapi, Mikhal, istrinya sendiri, memandang rendah Daud karena dia tidak memahami keagungan Allah. Apakah Anda menyadari bahwa Allah itu Mahaagung dan sudah sepantasnya menerima pujian dan penyembahan kita? Saat Anda memuji TUHAN dalam ibadah, apakah Anda memuji TUHAN dengan segenap hati? Sebaliknya, apakah Anda merasa merupakan sesuatu yang berlebihan bila Anda memuji TUHAN dengan sepenuh hati? [P]

“Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Haleluya!” Mazmur 150:6



December 03, 2018, 09:04:03 AM
Reply #1674
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23169
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2018/12/

Yohanes di Pulau Patmos
Posted on Sabtu, 1 Desember, 2018 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca:  Wahyu 1

Rasul Yohanes dibuang oleh pemerintah Romawi ke Pulau Patmos, pulau kecil di daerah Turki. Pembuangan ini merupakan hukuman yang dijatuhkan karena dia memberitakan firman Allah dan bersaksi tentang Yesus Kristus (1:9). Dia hidup terpencil di pulau itu dan tidak dapat kemana-mana, tetapi hatinya dan imannya tidak dibatasi oleh tempat yang kecil itu.

Di situ, ia tetap dapat mendengar suara Allah dan firman Allah yang berbicara kepadanya. Oleh karena itu, dia merasakan dan mengalami kehadiran Allah yang sangat nyata (1:10-20). Dia dikucilkan, tetapi justru dia mengalami kehidupan bersama dengan Allah. Dia berada di pulau yang terpencil, tetapi di sepanjang kitab Wahyu, dia selalu dapat melihat “pintu terbuka” yang membuat dia dapat melihat rencana Allah (4:1; 11:19; 15:5; 19:11) yang membuat hati dan pikirannya senantiasa terangkat kepada Allah surgawi. Oleh karena itu, ia tidak putus asa dan tidak berhenti untuk bersaksi tentang Yesus Kristus. Walaupun tidak bisa kemana-mana, melalui surat-suratnya yang ia tulis untuk tujuh gereja di Asia Kecil, Rasul Yohanes bersaksi tentang Yesus Kristus dan memberitakan firman Allah (1:4–11). Hatinya dan pelayanannya untuk umat Allah tidak terbatasi oleh pembuangannya di Pulau Patmos. Apakah Anda sering mengeluh karena berbagai kekurangan pada diri Anda?

Apakah Anda sering mencari alasan untuk tidak bersaksi dan tidak memberitakan Injil karena adanya tekanan dari pemerintah dan masyarakat? Menengoklah kepada Allah! Dengan iman, kita akan dapat melihat bahwa pintu Allah telah dibukakan untuk kita, kesempatan pelayanan dan pemberitaan Injil diberikan kepada kita, dan kita dapat terus bersaksi tentang Yesus Kristus. [AH]

“Bagi Dia, yang mengasihi kita dan yang telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya, dan yang telah membuat kita menjadi suatu kerajaan, menjadi imam-imam bagi Allah, Bapa-Nya, bagi Dialah kemuliaan  dan kuasa sampai selama-lamanya. Amin.”  Wahyu 1:5b-6







Surat Tuhan Yesus kepada Gereja-gereja-Nya (1)
Posted on Minggu, 2 Desember, 2018 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca:  Wahyu 2

Bagian ini terdiri dari empat surat yang dikirim oleh Yohanes kepada empat jemaat, yaitu jemaat di kota Efesus, Smirna, Pergamus, dan Tiatira. Kota-kota ini (dan tiga kota lainnya, yaitu Sardis, Filadelfia, dan Laodikia) disebut secara berurutan sesuai dengan letak geografisnya yang agak melingkar. Urutan seperti ini memudahkan perjalanan orang yang mengantar surat-surat tersebut.

Keempat surat yang ditulis oleh Rasul Yohanes ini memiliki fitur yang kurang lebih sama, yaitu gambaran tentang siapa Yesus Kristus, pujian kepada jemaat, teguran, panggilan untuk bertobat, janji bagi yang menang, dan pernyataan bahwa surat tersebut harus diedarkan supaya bisa dibaca oleh orang-orang Kristen lainnya. Ada dua jemaat yang tidak ditegur, yaitu Jemaat Smirna dan Jemaat Filadelfia (mereka beriman, walaupun mereka miskin dan tidak memiliki banyak kekuatan, 2:9; 3:8). Satu-satunya jemaat yang tidak dipuji adalah jemaat Laodikia yang mengganggap diri mereka kaya dan tidak kekurangan apa pun (3:17).

Bacalah dengan teliti keempat surat ini! Perhatikanlah bagaimana Tuhan Yesus menggambarkan diri-Nya dalam keempat surat ini! Renungkan juga bagaimana isi hati Tuhan Yesus terhadap  jemaat-Nya! Apa saja yang Dia sukai dari suatu jemaat sehingga jemaat itu memperoleh pujian? Apa saja yang tidak Dia sukai dari suatu jemaat sehingga Dia menegur jemaat itu dengan sangat keras? Saat ini, apakah Anda melakukan kesalahan yang sama dengan kesalahan jemaat saat itu? Perhatikan perintah Tuhan Yesus agar jemaat bertobat dari kesalahan mereka (2:5, 16, 21). Apakah teguran Tuhan Yesus kepada jemaat saat itu cocok dengan situasi Anda saat ini? [AH]

“Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. Sebab itu ingatlah betapa dalamnya enggkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan.” Wahyu 2:4-5a



December 04, 2018, 05:28:39 AM
Reply #1675
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23169
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2018/12/

Surat Tuhan Yesus kepada Gereja-gereja-Nya (2)
Posted on Senin, 3 Desember, 2018 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca:  Wahyu 3

Pasal ini terdiri dari tiga surat untuk tiga gereja, yaitu gereja di kota Sardis, Filadelfia, dan Laodikia. Di surat untuk jemaat Sardis, Yesus digambarkan sebagai Tuhan yang memiliki ketujuh Roh Allah dan tujuh bintang (3:1). “Ketujuh Roh Allah” (bandingkan dengan 1:4) bisa diterjemahkan sebagai “Roh Allah tujuh lipat,” artinya Dia memliki ROH KUDUS yang sangat berkuasa. “Tujuh bintang” menunjuk kepada para pemimpin jemaat (1:16, 20). Pasal 3 ayat 2 mengandung janji bahwa Yesus Kristus memiliki kekuatan untuk menguatkan jemaat yang “sudah hampir mati”, tetapi juga merupakan peringatan bahwa Dia—sebagai Pemilik jemaat—akan datang untuk menuntut pertanggungjawaban dari jemaat-Nya (3:3). Di surat untuk jemaat Filadelfia, Yesus Kristus digambarkan sebagai Tuhan yang memiliki kunci kerajaan Daud (3:7), yaitu bahwa Dia adalah Mesias yang memegang kunci kekuasaan. Hal ini merupakan penghiburan bagi jemaat Filadelfia yang beriman kepada Yesus Kristus. Walaupun kekuatan mereka tidak seberapa, Yesus Kristus membuka pintu kehidupan bagi mereka (3:8). Tidak ada jalan buntu bagi orang yang percaya kepada Yesus Kristus. Di surat untuk jemaat Laodikia, Yesus Kristus disebut sebagai “Amin” (3:14) yang menggambarkan kepastian. Hal ini dijelaskan dengan sebutan bahwa Dia adalah saksi yang setia (tidak goyah ke kiri atau ke kanan), dan benar (tidak ada kepalsuan dalam diri-Nya). Ini adalah teguran keras buat jemaat Laodikia yang suam-suam kuku dan tidak setia kepada Allah.

Kristus hadir untuk menguatkan kaki yang goyah, tetapi Dia juga hadir untuk menegur, bahkan menggoyahkan kesombongan kita, supaya kita sadar, bertobat, dan kembali kepada Allah. Apakah Anda selalu bersikap terbuka terhadap kehadiran Kristus yang hendak mengubah hidup Anda? [AH]

“Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah.” Wahyu 3:19



December 05, 2018, 05:33:34 AM
Reply #1676
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23169
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2018/12/

Penglihatan tentang Allah di Atas Takhta-Nya
Posted on Selasa, 4 Desember, 2018 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca:  Wahyu 4

Pasal 4 mulai menceritakan penglihatan Yohanes—yang digambarkan dengan berbagai simbol—tentang apa yang akan terjadi (4:1). Yang pertama-tama dia lihat adalah Allah yang duduk di atas takhta-Nya. Di tengah kekacauan dunia, Yohanes melihat Allah sebagai Raja yang berdaulat, penuh kemuliaan, dengan nyala api ROH KUDUS di hadapan-Nya. Allah yang mulia ini dikelilingi oleh dua puluh empat tua-tua yang mengenakan mahkota kemenangan. Mereka adalah lambang seluruh umat Allah Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Selain itu, ada empat makhluk yang mewakili seluruh ciptaan Allah. Kedua puluh empat tua-tua dan keempat makhluk itu mengungkapkan kekekalan dan kekudusan Allah melalui pujian dan penghormatan yang tak hentihentinya (4:3-11). Ketika pujian-pujian dipersembahkan, kedua puluh empat tua-tua itu turun dari takhta mereka, melemparkan mahkota, dan tersungkur di hadapan Allah—Sang Pencipta dan Raja semesta. Mereka merasa tidak layak duduk di atas kursi kehormatan karena hanya Allah yang layak menerima puji-pujian dan hormat. Itulah ibadah kepada Allah! Segenap umat dan segenap ciptaan melihat kepada Allah dengan fokus yang jelas kepada Allah yang memegang kendali kehidupan kita, walaupun kelihatannya dunia dan sejarah manusia terus bergolak.

Allah adalah Pencipta, sekaligus Raja atas ciptaan-Nya. Bagaimana respons manusia yang sepantasnya kepada Allah? Segala hormat dan pujian harus dikembalikan hanya kepada Allah! Prestasi dan kehormatan kita sebagai umat Allah harus menjadi sarana bagi penghormatan kepada Allah. Allah harus disanjung! Umat Allah adalah umat yang senantiasa tersungkur di hadapan takhta Allah dan menyembah Dia selama-lama-Nya. [AH]

“Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan.” Wahyu 4:11




December 06, 2018, 06:06:33 AM
Reply #1677
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23169
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2018/12/

Penglihatan tentang Tuhan Yesus, Sang Anak Domba
Posted on Rabu, 5 Desember, 2018 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca:  Wahyu 5

Fokus pasal 4 adalah Allah sebagai Pencipta dan Raja yang duduk di atas tahta-Nya, sedangkan fokus pasal 5 adalah Tuhan Yesus sebagai Anak Domba yang disalibkan dan menjadi Juruselamat dunia. Semula, Yesus Kristus disebut sebagai Singa dari Yehuda yang berasal dari keturunan Daud (5:5), untuk menggambarkan kekuasaan dan keagungan-Nya. Selanjutnya, yang disorot adalah Yesus Kristus sebagai Anak Domba yang telah disembelih (5:6). Kekuasaan dan kehormatan Yesus Kristus bukan sematamata karena Dia memiliki kuasa seperti singa, tetapi karena Dia rela berkorban untuk menyelamatkan manusia. Dia rela menjadi Anak Domba Allah yang disembelih untuk memikul dosa manusia. Anak Domba ini diberi otoritas untuk membuka rahasia tentang rencana Allah dan tentang hal-hal yang akan terjadi (hal itu digambarkan seperti menerima dan membuka gulungan maklumat yang dikunci dengan tujuh meterai raja, 5:1-8). Tujuh meterai yang akan dibuka oleh Yesus Kristus adalah siklus pertama dari gambaran mengenai penghukuman Allah atas dunia yang berdosa (pasal 6-8). Angka tujuh jelas menggambarkan penghukuman Allah yang bersifat menyeluruh. Yesus Kristus membukakan tentang kesulitan dan penderitaan yang akan terjadi, bukan untuk menakut-nakuti Gereja-Nya, tetapi supaya Gereja waspada dan bersiap-sedia, serta senantiasa bersandar dan beriman kepada Allah sebagai Pencipta, Raja, dan Juruselamat.

Seperti para tua-tua, para malaikat dan makhluk-makhluk lainnya yang tersungkur dan memuji Yesus Kristus (5:8-14), kita yang sudah ditebus dan dibeli dengan darah-Nya yang mahal seharusnyalah senantiasa meninggikan Dia—Sang Anak Domba, Juruselamat dunia—dan mengabarkan Dia hingga ke ujung bumi. Apakah kehidupan Anda membuat Yesus Kristus ditinggikan? [AH]

“Anak Domba yang disembelih itu layak untuk menerima kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan puji-pujian.” Wahyu 5:12b




December 07, 2018, 06:18:07 AM
Reply #1678
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23169
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2018/12/

Pembukaan Enam Meterai
Posted on Kamis, 6 Desember, 2018 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca:  Wahyu 6

Mulai pasal 6, diungkapkan hal-hal yang akan terjadi di sepanjang sejarah gereja, hingga tibanya hari kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali. Pasal 6 ini mengungkapkan pelbagai penderitaan yang akan terjadi di muka bumi. Pengungkapan itu digambarkan seperti membuka gulungan tulisan yang termeterai. Pembukaan empat meterai pertama memperlihatkan 4 kuda dan penunggangnya. Kuda putih dan penunggang yang memegang panah (6:1-2) melambangkan panglima perang yang mengobarkan peperangan dan penaklukan di antara bangsa-bangsa. Kuda merah padam dengan penunggang yang memegang pedang (6:3-4) melambangkan kehancuran hubungan antar sesama manusia. Kuda hitam dengan penunggang yang memegang timbangan (6:5-6) melambangkan kondisi hidup kelaparan (kekurangan makanan dan minuman) akibat hancurnya pertanian. Kuda hijau Kuning (atau “kuda pucat”) dengan penunggang yang bernama maut (6:7-8) melambangkan banyaknya kematian akibat peperangan, kelaparan dan penyakit. Pembukaan meterai keenam mengungkapkan akan terjadinya kehancuran dunia (6:12-17).

Bagaimana orang percaya harus bersikap? Pembukaan meterai kelima memperlihatkan hal itu. Orang percaya berdoa, bahkan menjerit kepada Allah, karena beratnya penderitaan dan penganiayaan yang mereka alami. Mereka meminta Allah agar menyatakan penghakiman terakhir secara cepat dan tuntas (6:9-11). Akan tetapi, waktu penghakiman terakhir belum tiba. Allah meminta mereka menunggu. Dengan berserah kepada Allah, mereka akan menantikan waktu itu tiba, yakni waktu kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali. Dalam masa penantian ini, apakah Anda telah tekun berdoa? [AH]

“Dan kepada mereka masing-masing diberikan jubah putih, dan kepada mereka dikatakan, bahwa mereka harus beristirahat sedikit waktu lagi hingga genap jumlah kawan-kawan pelayan dan saudara-saudara mereka, yang akan dibunuh sama seperti mereka.” Wahyu 6:11



December 08, 2018, 06:30:38 AM
Reply #1679
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23169
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2018/12/

Hukum Tuhan, Tanda Perjanjian
Posted on Jumat, 7 Desember, 2018 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Keluaran 20:1-17

Pada umumnya, suatu perjanjian luhur diadakan antara Si Pemimpin dan bawahannya merupakan rumusan hubungan antara raja dan rakyatnya. Dalam perjanjian tersebut, Si Pemimpin berjanji melindungi dan menyejahterakan rakyatnya. Sebaliknya, rakyat berjanji setia dan taat kepada kebijakan serta perintah Sang Pemimpin.

Dalam kehidupan berbangsa, orang-orang Israel, sebagai bangsa pilihan Allah, melakukan ikatan perjanjian dengan Allah leluhur mereka. Ketika Tuhan memilih Israel sebagai umat pilihan-Nya dengan cara membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir, maka terjadilah hubungan sakral antara Allah dan Israel.

Tuhan menyatakan bahwa Dia adalah Allah yang membebaskan Israel dan Israel adalah umat yang dikasihi-Nya dan dibebaskan-Nya (2). Karena bangsa Israel telah dipilih Allah, maka Israel harus setia dan taat kepada-Nya. Hal tersebut diwujudkan dengan menyembah kepada Allah leluhur mereka, tidak membuat dan menyembah ilah-ilah lain, tidak menyalahgunakan nama Allah, mengkhususkan hari Sabat untuk beribadah kepada Allah (3-11).

Allah juga menghendaki umat-Nya mewujudkan kesetiaan dan ketaatan terhadap titah-Nya dalam hubungan sesama, yaitu menghormati orang tua, menghargai hak hidup sesamanya, menguduskan kehidupan seksual, menghargai hak milik pribadi orang lain, berperilaku jujur, dan mampu mengendalikan diri untuk melakukan kejahatan (12-17).

Hukum Tuhan sebagai tanda perjanjian itu pun berlaku bagi kita. Allah telah memilih dan menyelamatkan kita. Sejak itu terbentuk hubungan sakral antara Allah dan kita sebagai umat-Nya. Karena itu, sudah sepatutnya kita setia dan taat kepada Allah yang telah menyelamatkan kita. Sebagai respons atas anugerah Allah, kita patut menaati hukum-hukum-Nya yang merupakan pedoman hidup saleh dan menjadi berkat bagi sesama.

Doa: Tuhan, ajarilah kami untuk mensyukuri keselamatan yang telah Dikau berikan dalam Kristus. Tuntun kami senantiasa untuk menaati firman-Mu. [CR]







Menyambut Tuhan
Posted on Jumat, 7 Desember, 2018 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Keluaran 19:1-25

Dalam menyambut kehadiran orang yang dihormati, kita perlu mempersiapkan diri sebaik-baiknya, tidak sebatas penampilan semata, tetapi mental dan rohani. Kita juga perlu memahami aturan yang berlaku, bila tamu yang akan hadir adalah seorang pejabat negara. Bagaimana jika kita menyambut kehadiran Allah yang mahakudus?

Ketika bangsa Israel berkemah di gurun Sinai, maka Tuhan menyatakan kehendak-Nya untuk menjadikan Israel menjadi harta kesayangan-Nya. Hal itu dimungkinkan terjadi apabila bangsa Israel sepenuh hati mendengarkan firman Allah dan berpegang pada perjanjian-Nya. Musa menyampaikan kehendak Tuhan tersebut kepada bangsa Israel. Bangsa tersebut menyampaikan kesanggupannya untuk melakukan segala yang difirmankan Tuhan kepada mereka (2-9).

Tuhan sungguh-sungguh berkenan hadir di atas Gunung Sinai dan Musa pun mengajak bangsa Israel menjumpai Allah dengan berdiri di kaki Gunung tersebut. Bahkan Musa diperkenankan bertemu Allah di atas Gunung Sinai serta menerima firman yang harus ditaati bangsa Israel (16-24).

Untuk menyambut kehadiran Tuhan inilah bangsa Israel harus menguduskan diri. Ritual penyucian ini meliputi mencuci pakaian dan membersihkan tubuh untuk menghilangkan bekas kontak dengan sesuatu yang membuat najis secara ritual. Mereka tidak boleh melakukan persetubuhan karena mereka akan menjadi najis selama sehari. Mereka tidak boleh mendaki atau menyentuh kaki gunung itu. Sebab, kekudusan Allah tidak berkompromi dengan dosa dan kenajisan manusia. Siapa pun yang bersentuhan dengan kesucian Allah pasti mati (10-15).

Sebagai orang percaya, kita dituntut hidup kudus. Karena itu, kita perlu menata hidup dalam terang dan ketaatan kepada firman Allah sebagai konsekuensi anugerah Allah yang telah diberikan kepada kita.

Doa: Tuhan, mampukan kami menjaga kekudusan hidup sebagai wujud ketaatan kami kepada-Mu. [CR]

bersambung..





 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)