Author Topic: Saat Teduh  (Read 59939 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

December 08, 2018, 06:33:15 AM
Reply #1680
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22581
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Menyambut Tuhan
Posted on Jumat, 7 Desember, 2018 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Keluaran 19:1-25

Dalam menyambut kehadiran orang yang dihormati, kita perlu mempersiapkan diri sebaik-baiknya, tidak sebatas penampilan semata, tetapi mental dan rohani. Kita juga perlu memahami aturan yang berlaku, bila tamu yang akan hadir adalah seorang pejabat negara. Bagaimana jika kita menyambut kehadiran Allah yang mahakudus?

Ketika bangsa Israel berkemah di gurun Sinai, maka Tuhan menyatakan kehendak-Nya untuk menjadikan Israel menjadi harta kesayangan-Nya. Hal itu dimungkinkan terjadi apabila bangsa Israel sepenuh hati mendengarkan firman Allah dan berpegang pada perjanjian-Nya. Musa menyampaikan kehendak Tuhan tersebut kepada bangsa Israel. Bangsa tersebut menyampaikan kesanggupannya untuk melakukan segala yang difirmankan Tuhan kepada mereka (2-9).

Tuhan sungguh-sungguh berkenan hadir di atas Gunung Sinai dan Musa pun mengajak bangsa Israel menjumpai Allah dengan berdiri di kaki Gunung tersebut. Bahkan Musa diperkenankan bertemu Allah di atas Gunung Sinai serta menerima firman yang harus ditaati bangsa Israel (16-24).

Untuk menyambut kehadiran Tuhan inilah bangsa Israel harus menguduskan diri. Ritual penyucian ini meliputi mencuci pakaian dan membersihkan tubuh untuk menghilangkan bekas kontak dengan sesuatu yang membuat najis secara ritual. Mereka tidak boleh melakukan persetubuhan karena mereka akan menjadi najis selama sehari. Mereka tidak boleh mendaki atau menyentuh kaki gunung itu. Sebab, kekudusan Allah tidak berkompromi dengan dosa dan kenajisan manusia. Siapa pun yang bersentuhan dengan kesucian Allah pasti mati (10-15).

Sebagai orang percaya, kita dituntut hidup kudus. Karena itu, kita perlu menata hidup dalam terang dan ketaatan kepada firman Allah sebagai konsekuensi anugerah Allah yang telah diberikan kepada kita.

Doa: Tuhan, mampukan kami menjaga kekudusan hidup sebagai wujud ketaatan kami kepada-Mu. [CR]







Berbagi Kepemimpinan
Posted on Jumat, 7 Desember, 2018 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Keluaran 18:13-27

Sudah sewajarnya apabila dalam suatu kehidupan bersama dibutuhkan seorang pemimpin. Dalam kehidupan bersama yang religius, kepemimpinan perlu dipahami dalam dua sisi, yaitu sisi ilahi dan sisi manusiawi. Sisi ilahi menyadari bahwa kehidupan bersama itu dituntun oleh Allah, sedangkan sisi manusiawi menyadari bahwa manusia dipakai Allah sebagai alat-Nya untuk mewujudkan kehendak-Nya di dunia.

Musa sebagai pemimpin memahami sesungguhnya bahwa bangsa Israel dipimpin langsung oleh Allah, sedangkan dirinya hanya perantara antara Allah dan umat-Nya. Karena itu, ia menerima umat Allah datang kepadanya dan meminta petunjuk Allah serta mengadili ketika ada perkara di antara mereka.

Meskipun Musa melakukan semua itu atas dasar kesadaran akan konsep kepemimpinan yang seperti itu, namun Yitro melihat bahwa ada keterbatasan dalam diri Musa. Karena itu, ia memberikan nasihat agar Musa berbagi kepemimpinan dengan orang-orang di antara bangsanya yang cakap dan takut akan Allah, orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran suap. Nasihat Yitro bukan untuk kebaikan Musa, tetapi juga untuk kebaikan bangsanya dan hal tersebut dikenan Allah (21). Musa pun mengikuti nasihat mertuanya dengan berbagi kepemimpinan dan kewenangan sehingga segala sesuatu dapat berjalan lebih baik dan efektif.

Pada umumnya, saat seseorang dipilih menjadi pemimpin dan diberi kemampuan untuk memimpin, terkadang mereka lupa diri. Kita perlu menyadari bahwa kita adalah manusia terbatas dan tidak semua hal dapat kita lakukan sendirian tanpa bantuan orang lain.

Di sisi lain, kita perlu tahu bahwa Allah juga menganugerahkan potensi kepemimpinan dalam diri orang lain. Oleh karena itu perlu kerendahan hati untuk berbagi kepemimpinan.

Dalam hal ini, ada tiga kriteria utama yang tidak bisa ditawar, yaitu orang yang takut akan Allah, dapat dipercaya, dan yang benci suap.

Doa: Tuhan, mampukan kami berbagi kepemimpinan dalam kehidupan bersama. [CR]


bersambung..(2)

December 08, 2018, 06:34:27 AM
Reply #1681
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22581
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Jangan Mentang-mentang
Posted on Jumat, 7 Desember, 2018 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Keluaran 18:1-12

Manusia berdosa selalu memiliki kecenderungan untuk menyombongkan dirinya. Tak sedikit orang yang merasa dirinya berkuasa lalu timbul ambisi untuk memperkaya diri atau memperbudak orang lain. Ada orang yang merasa hebat lalu meremehkan dan merendahkan orang lain.

Tidak demikian dengan Musa. Sebagai seorang pemimpin besar, ia telah belajar menjadi rendah hati, penuh kesabaran, dan mampu mengendalikan diri.

Ketika mendengar kabar bahwa Allah telah membawa bangsa Israel keluar dari Mesir, Yitro mertuanya bermaksud mengunjungi Musa dengan membawa Zipora istrinya dan kedua anaknya Gersom dan Eliezer. Tatkala menerima pesan akan kehadiran mertua beserta istri dan kedua anaknya, Musa langsung keluar dari perkemahan dan menyongsong mereka. Bahkan ia sujud dan mencium mertuanya.

Selanjutnya kisah pertolongan dan kebaikan Tuhan atas bangsa Israel bukanlah hasil kerja keras Musa dalam memimpin umat Allah (1-8). Di balik kesuksesan Musa, Allahlah yang memegang peranan penting. Karena itu, Yitro bersukacita atas kebaikan dan pertolongan Tuhan yang telah menyelamatkan Israel. Ia mengakui kebesaran Tuhan, memuji Tuhan, dan mempersembahkan kurban bakaran bagi Tuhan (9-12). Rasa syukur Yitro juga dirayakan Harun beserta semua tua-tua Israel yang ikut makan bersama di hadapan Allah (12).

Begitu pula dengan kita. Allah menghendaki agar kita tidak bersikap tinggi hati, melainkan belajar rendah hati dan mampu mengendalikan diri. Sebab kedudukan kita sebagai umat pilihan dapat membuat kita merasa istimewa dan menjadi sombong rohani, lalu meremehkan dan merendahkan orang lain. Kita bukan hanya perlu mengakui kelemahan sendiri, tetapi juga mensyukuri keselamatan dan pemeliharaan Tuhan atas kehidupan kita, baik itu kemalangan maupun kesuksesan.

Doa: Tuhan, mampukan kami untuk tetap rendah hati dan bersyukur atas anugerah-Mu. [CR]







Tuhan di Balik Kemenangan Kita
Posted on Jumat, 7 Desember, 2018 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Keluaran 17:8-16

Kesuksesan sebuah bangsa meraih prestasi bukan hanya ditentukan oleh sumber daya manusia yang baik, pemilihan strategi yang tepat, dan perencanaan yang matang. Di balik semua kesuksesan itu ada campur tangan Tuhan.

Ketika bangsa Amalek menyerang orang-orang Israel yang tengah berada di Rafidim, Musa segera memberikan perintah kepada Yosua untuk menyiapkan pasukan yang baik untuk berperang melawan bangsa Amalek. Tentu saja strategi perang juga dipercayakan kepada Yosua. Selain itu, Musa memberikan dukungan moral kepada Yosua bahwa ia akan berdiri di puncak bukit sambil memegang tongkat Allah sebagai simbol kuasa dan perlindungan Allah. Begitulah keduanya menjalankan peran dan fungsinya masing-masing (8-10).

Strategi dan kekuatan militer yang dilakukan Yosua beserta pasukan Israel ditopang oleh kuasa Allah melalui Musa, dibantu Harun dan Hur, dengan mengangkat tongkat Allah sebagai tanda permohonan agar Allah menyatakan kuasa dan perlindungan-Nya sehingga peperangan tersebut dapat dimenangkan oleh bangsa Israel (11-13). Begitulah pengakuan yang harus diingatkan kepada bangsa Israel turun-temurun bahwa Tuhanlah yang berperang melawan musuh. Tuhanlah yang memberikan panji kemenangan bagi umat pilihan-Nya (14-16).

Dalam peperangan rohani, Tuhan menghendaki umat-Nya menyiapkan diri agar menjadi pribadi yang cerdas dalam menentukan strategi dan memiliki ketahanan mental menghadapi musuh rohani kita, yaitu keinginan daging, mata, dan keangkuhan hidup. Namun, Allah juga menghendaki agar kita memiliki kehidupan rohani yang baik. Misalnya, kerendahan hati, penguasaan diri, kebergantungan kepada Allah, kemurahan hati, menghormati Allah, dan lainnya. Sebab, Allah adalah Sumber kehidupan, kekuatan, perlindungan, dan penghiburan kita. Kita patut bersyukur karena Tuhanlah yang ada di balik kemenangan kita.

Doa: Tuhan, kami bersyukur atas setiap kemenangan yang Engkau anugerahkan dalam peperangan rohani kami. [CR]


bersambung..(3)




December 08, 2018, 06:35:46 AM
Reply #1682
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22581
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Panik, Tanda Kurang Beriman
Posted on Jumat, 7 Desember, 2018 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Keluaran 17:1-7

Ada peribahasa yang berbunyi seperti ini: “Panas setahun dihabiskan hujan sehari.” Artinya, segala kebaikan selama setahun dihapuskan oleh keburukan selama sehari. Dengan kata lain, manusia gampang melupakan kebaikan yang telah diterima dan lebih suka mengingat hal-hal buruk yang menimpanya.

Begitulah bangsa Israel. Dalam perjalanan menuju Tanah Perjanjian, mereka berpindah-pindah hingga sampai di Rafidim. Di situ tidak ada air untuk diminum, lalu mereka mulai panik. Mereka tidak menyadari bahwa dipersinggahan sebelumnya Allah selalu menyediakan air. Mereka tidak meyakini bahwa Allah juga akan menyediakan air bagi mereka di Rafidim. Pemeliharaan dan kebaikan Allah sepanjang perjalanan mereka, dari Mesir sampai Rafidim, seolah-olah terhapus begitu saja oleh masalah ketiadaan air. Mereka tidak menyadari bahwa itulah ujian iman dari Allah. Mereka ragu apakah Tuhan ada ditengah-tengah mereka?

Musa terpancing dengan aksi bangsa itu, lalu dengan berteriak-teriak bertanya kepada Tuhan. Sebab ia khawatir kalau bangsa itu akan mencelakainya. Tuhan pun masih berkenan memakai Musa melakukan mukjizat yang memukau bangsa Israel. Musa berjalan di depan bangsa Israel dengan beberapa tua-tua dengan membawa tongkat menuju gunung Horeb, lalu memukul gunung batu di mana Tuhan berdiri, dan keluarlah air sehingga bangsa Israel dapat meminumnya (5-6).

Barangkali kehidupan iman kita pun seperti Israel. Kita tidak menggunakan setiap momen untuk membangun kesadaran akan pemeliharaan Tuhan atas hidup kita. Tidak heran apabila dalam masa sulit kita tidak mampu mengingat satu pun kebaikan Tuhan. Bahkan kita suka meragukan ketidakmampuan kuasa-Nya dalam mengatasi persoalan kita. Hal itu membuat kita menjadi panik dan kehilangan fokus. Karena itu, belajarlah menyadari kehadiran dan pemeliharaan Allah dalam hidup kita, sambil tetap yakin bahwa Tuhan hadir dalam setiap permasalahan kita. Karena itu, jangan panik!

Doa: Tuhan, tolonglah kami yang kurang beriman. [CR]







Jangan Mudah Terkejut
Posted on Jumat, 7 Desember, 2018 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Keluaran 16:1-36

Dalam filosofi Jawa, istilah “aja kagetan” (jangan mudah terkejut) adalah suatu ajaran yang mendidik kita untuk tidak latah, tidak berandai-andai, tidak gampang menuduh orang lain, tidak gampang mengutuk, dan tidak takabur.

Satu bulan lima belas hari, setelah keluar dari Mesir, bangsa Israel mulai bersungut-sungut kepada Musa dan Harun (2). Mereka merasa lebih baik tetap berada dalam penindasan di Mesir karena kebutuhan makanan tercukupi. Sedangkan di bawah kepemimpinan Musa dan Harun, mereka dibawa ke padang gurun yang gersang seolah untuk membunuh mereka (3).

Sebagai pemimpin, Musa mendidik bangsa Israel agar mengerti bahwa sesungguhnya Tuhanlah yang telah membawa mereka keluar dari Mesir. Jika mereka bersungut-sungut, maka mereka bersungut-sungut kepada Tuhan. Tuhan mendengar sungut-sunggut mereka dan Ia akan mencukupi kebutuhan makanan bagi umat-Nya dan mendidik mereka hidup menurut hukum-Nya (4-18). Meski didikan-Nya terkadang diabaikan, namun Musa tetap mendidik bangsa Israel untuk taat pada ketetapan dan hukum Tuhan (15-30). Supaya bangsa Israel tidak takabur dan selalu mengingat kebaikan dan pemeliharaan Tuhan. Karena itu, disimpanlah manna, yang menjadi makanan bangsa Israel empat puluh tahun lamanya di padang gurun, menjadi pengingat turun-temurun (32-35).

Itulah bangsa Israel. Mereka mudah terkejut atas apa yang dihadapi sebagai konsekuensi bangsa merdeka. Namun, Allah menuntun mereka menyadari bahwa anugerah keselamatan dengan cara mencukupkan kebutuhan jasmani mereka. Begitu pun dengan kita yang telah menerima anugerah keselamatan dalam Kristus.

Jangan mudah terkejut dengan tantangan zaman yang kita hadapi sebagai pengikut Kristus, lalu merasa lebih baik bila tidak menjadi pengikut Kristus. Terimalah dengan syukur keselamatan Allah sebagai anugerah terbaik, apalagi Ia menambahkan berkat kecukupan kebutuhan hidup.

Doa: Tuhan, kami mensyukuri keselamatan yang Kau anugerahkan. [CR]



bersambung...(4x)
December 08, 2018, 06:37:09 AM
Reply #1683
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22581
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Proteksi Allah untuk Umat-Nya
Posted on Jumat, 7 Desember, 2018 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca:  Wahyu 7

Gambaran tentang kehancuran dunia yang parah di pasal 6 diakhiri dengan pertanyaan, “Sebab sudah tiba hari besar murka mereka dan siapakah yang dapat bertahan?” (6:17). Pasal 7 tidak berlanjut dengan pembukaan meterai ketujuh, tetapi menjawab pertanyaan di atas dengan memperlihatkan bahwa Allah memelihara iman orang percaya yang bertekun, sehingga orang percaya tetap bisa berdiri di hadapan Allah untuk memuji Allah karena dilindungi Allah di tengah penderitaan.

Perlindungan Allah digambarkan sebagai tindakan pemeteraian atau pemberian cap kepada 144.000 orang sebagai tanda bahwa mereka adalah milik Allah (7:3-4). Hal ini tidaklah berarti bahwa hanya 144.000 orang saja yang dilindungi Allah. Angka 144.000 adalah angka simbolik (12x12x10x10x10) yang memiliki makna bahwa jumlah umat Allah yang berada dalam perlindungan Allah “amat sangat banyak”. Oleh karena itu, di ayat 9 dikatakan bahwa ada suatu kumpulan besar orang yang tak terhitung banyaknya dari segala bangsa dan suku dan bahasa berdiri di hadapan Anak Domba dan memuji Dia (7:9-12).

Perhatikan bahwa mereka dilindungi Allah bukan dengan cara menghindarkan mereka dari kesulitan dan kesusahan, melainkan Allah membawa mereka melewati kesusahan besar. Walaupun melewati kesusahan besar, pakaian mereka tetap putih, yang melambangkan kemurnian iman dan kesucian hidup mereka. Mengapa pakaian mereka tetap putih? Karena mereka telah mencucinya di dalam darah Kristus (7:13-17). Itulah sumber kekuatan rohani orang percaya untuk tetap bisa bertahan, tetap memiliki hidup yang murni, tetap dapat berbahagia, dan tetap dapat bersaksi saat menghadapi kesusahan hidup di dunia ini. [AH]

“Sebab Anak Domba yang di tengah-tengah takhta itu akan menggembalakan mereka dan akan menuntun mereka ke mata air kehidupan. Dan Allah akan menghapus segala air mata dari mata mereka.” Wahyu 7:17


9 postingan dr saat teduh today
December 09, 2018, 04:31:03 AM
Reply #1684
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22581
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2018/12/

Berdekat dengan Allah Tanpa Takut
Posted on Sabtu, 8 Desember, 2018 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Keluaran 20:18-21

Bacaan hari ini mengisahkan Allah hadir di tengah-tengah umat disertai guruh, kilat, bunyi sangkakala, dan gunung berasap. Peristiwa alam yang luar biasa ini membuat seluruh bangsa gemetar dan menjauh. Namun Musa tidak takut, bahkan ia datang mendekat ke tempat di mana Allah ada.

Mendengar Allah berbicara secara langsung sangat menggentarkan, bahkan dikatakan sepertinya memperhadapkan umat kepada kematian. Kesucian dan kemuliaan Allah tak tertahan menyinari, menguji, dan memeriksa hati mereka. Berbagai peristiwa dan mukjizat yang dialami umat, sejak keluar dari Mesir, mempersiapkan mereka dapat hidup selaras dengan prinsip kebenaran, ketetapan dan tuntutan Allah.

Saking takutnya bangsa Israel, mereka meminta Musa mewakili bangsanya bertemu dan berbicara kepada Allah. Sebaliknya, Musa mencoba menghibur dan menguatkan bangsanya agar tidak takut. Rasa takut akan Allah membuat umat menjauh (19-21). Sebelumnya Musa sudah memberikan teladan dengan mendekati tempat di mana Allah ada, awan tebal yang menutupi gunung (Kel.19:9).

Ada perasaan takut yang menyebabkan kita menjauh dari Allah karena ketidakbenaran dalam perbuatan sehari-hari. Ada rasa “takut” yang disertai perasaan hormat dan kagum yang mendorong kita untuk datang kepada Allah. Perasaan seperti ini membuat kita menyadari bahwa tanpa firman dan kebenaran-Nya, mustahil hidup kita dapat diperkenan Allah.

Bacaan ini mengajak kita memperbarui kembali persekutuan pribadi dengan Allah dalam doa, Firman, dan perintah-Nya. Janganlah kita ditegur oleh Allah dahulu barulah mau berubah. Lebih baik kita mengambil tekad untuk menjalani hidup bersama Allah daripada hidup dalam kebiasaan orang fasik.

Doa: Ya Tuhan, ajarlah dan berilah kami kemampuan untuk hidup dekat dengan-Mu dengan rasa syukur dan bukan dengan perasaan takut karena melakukan pelanggaran setiap hari dalam perbuatan kami. [YTP]



December 10, 2018, 05:53:38 AM
Reply #1685
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22581
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2018/12/

Peniupan Sangkakala Kelima dan Keenam
Posted on Minggu, 9 Desember, 2018 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca:  Wahyu 9

Pasal ini melanjutkan penglihatan mengenai peniupan sangkakala oleh para malaikat. Sangkakala atau terompet biasanya ditiup sebagai tanda peringatan, baik menyangkut penghukuman, peperangan, maupun kemenangan. Bagi kita, suara sangkakala itu bukanlah peringatan penghukuman (karena kita telah menerima pengampunan dosa di dalam Yesus Kristus), tetapi tanda peringatan untuk waspada dan bersiap sedia dalam peperangan rohani. Suara sangkakala itu juga merupakan tanda kemenangan saat Kristus datang kembali untuk kedua kali.

Ketika sangkakala kelima dan keenam ditiup, muncul kembali penglihatan mengenai penghukuman Allah atas manusia berdosa (yang disebut sebagai orang yang tidak memakai cap milik Allah, 9:4). Gambaran penghukuman ini seperti tulah yang Allah jatuhkan kepada orang Mesir. Tujuannya jelas, yaitu supaya mereka bertobat. Penghukuman Allah membuat banyak orang akan tewas (9:18). Setelah melihat semua kejadian ini, apakah mereka yang masih hidup lantas bertobat? Rupanya tidak (9:20). Seperti halnya Firaun dan orang-orang Mesir, mereka justru mengeraskan hati dan terus melawan Allah dan melawan Yesus Kristus dengan menyembah roh-roh jahat dan berhala-berhala. Mereka terus melakukan dosa (9:21) yang makin mendatangkan kutuk untuk manusia dan dunia ini. Semakin banyak melakukan dosa, hati manusia semakin keras, semakin menjauhi Allah, dan semakin memberontak kepada Allah. Sekalipun demikian, apakah kekerasan hati manusia bisa menjadi alasan bagi kita untuk berhenti berdoa dan bersaksi kepada mereka? Tidak! Selama Allah memberi kesempatan, dan sebelum penghukuman akhir tiba, pintu pertobatan senantiasa terbuka bagi orang berdosa. [AH]

“Tetapi manusia lain, yang tidak mati …, tidak juga bertobat dari perbuatan mereka: mereka tidak berhenti menyembah roh-roh jahat dan berhala-berhala dari emas dan perak, dari tembaga, batu dan kayu yang tidak dapat melihat atau mendengar atau berjalan.” Wahyu 9:20


December 11, 2018, 05:52:35 AM
Reply #1686
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22581
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2018/12/

Yohanes memakan Firman Allah
Posted on Senin, 10 Desember, 2018 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca:  Wahyu 10

Seperti halnya di antara pembukaan meterai keenam dan ketujuh terdapat interval mengenai orang yang dilindungi Allah, antara peniupan sangkakala keenam dan ketujuh pun terdapat interval yang membicarakan tentang orang yang setia bersaksi di tengah kekacauan dunia ini (pasal 10-11). Pasal 10 menceritakan penglihatan Yohanes bahwa dirinya diberi suatu gulungan kitab dengan perintah untuk memakannya. Gulungan kitab apakah itu? (Bandingkan dengan Yehezkiel 3). Gulungan kitab yang harus dimakan Yohanes adalah firman Allah, yakni apa yang Allah inginkan agar dinubuatkan dan diungkapkan oleh Yohanes. Kitab itu berisi berita dari Allah. Mengambil gulungan kitab menegaskan bahwa Yohanes mau dan rela menjadi utusan yang membawa berita dari Allah. Memakan gulungan kitab merupakan gambaran bahwa Yohanes menyatu dengan berita Allah itu. Firman Allah menjadi bagian dari hidupnya. Gulungan kitab itu terasa manis seperti madu di mulutnya (demikianlah seharusnya firman Allah bagi kita). Akan tetapi, kemudian perutnya terasa sangat pahit. Hal ini merupakan gambaran tentang beratnya beban pemberitaan yang harus ia pikul.

Yohanes harus menyampaikan berita penghukuman dari Allah. Dia sadar bahwa setiap orang yang rela menerima pengutusan Allah dan menjadi pemberita Injil pasti akan mengalami penolakan dan penderitaan. Sekalipun ada beban sangat berat yang harus dipikul, setiap hamba Allah yang setia akan bertekun untuk terus bersaksi dan mengabarkan firman Allah, menegur dosa, mengumumkan kasih dan penghukuman Allah, sekalipun di tengah penderitaan dan penganiayaan. Sebagai orang percaya, bersediakah Anda untuk tetap memberitakan firman Allah kepada sesama? [AH]

“Lalu aku mengambil kitab itu dari tangan malaikat itu, dan memakannya: di dalam mulutku ia terasa manis seperti madu, tetapi sesudah aku memakannya, perutku menjadi pahit rasanya.” Wahyu 10:10





December 12, 2018, 05:39:07 AM
Reply #1687
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22581
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2018/12/

Melawan Kekerasan dalam Keseharian
Posted on Selasa, 11 Desember, 2018 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Keluaran 21:12-26

Ada peribahasa Jawa yang berbunyi: “Asu gedhe menang kerahe”, yang artinya pangkat tinggi pasti lebih menang dalam berperkara. Dalam hukum rimba, siapa yang kuat dialah yang menang.

Nas hari ini berisi berbagai peraturan yang terkait dengan kekerasan dalam hidup keseharian. Peraturan tersebut diterima oleh bangsa Israel sebagai hukum Allah yang memiliki konsekuensi yang harus ditanggung oleh Si Pelaku. Perbuatan memukul orang sampai mati, menculik, angkara, dan membunuh dengan tipu daya adalah kejahatan besar di hadapan Tuhan dan hukumannya mati (12-14). Memukul dan mengutuk orang tuanya merupakan perbuatan tak bisa diampuni (15-17). Bahkan seorang tuan harus memerdekakan budaknya apabila ia menganiaya sampai buta, atau tanggal giginya. Setiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya, entah dengan ganti rugi, bahkan dengan nyawa. Namun, ada aturan yang dikecualikan dalam hukum Allah, yakni pembunuhan yang tidak disengaja. Orang tersebut akan diberikan tempat perlindungan agar ia bisa lari (13).

Kekerasan yang dibiarkan dan tidak dilawan akan menciptakan kekerasan yang lebih besar pada waktu mendatang. Kekerasan disemai dari kebencian akan berbuahkan sikap, angan-angan, dan perkataan, yang pada akhirnya mewujud dalam perbuatan. Kekerasan muncul karena orang berpikir pendek dan mengabaikan risiko yang harus diterimanya. Padahal kekerasan terhadap sesama adalah melawan Tuhan sendiri.

Kekerasan tidak bisa dilawan dengan kekerasan. Karena hal itu akan membentuk tindakan balas dendam yang tiada habisnya. Hati yang lemah lembut dan sedia mengampuni, mengasihi, dan mendoakan adalah solusi yang tepat untuk mematahkan lingkaran kekerasan. Selain itu, Tuhan tidak tinggal diam karena Ia akan menghukum seseorang berdasarkan perbuatannya.

Doa: Ya Tuhan, kiranya kami dimampukan mematahkan lingkaran pembalasan dan kekerasan dengan kasih-Mu yang mengampuni dan memberi damai sejahtera. [YTP]







Berbakti Sesuai Kehendak Tuhan
Posted on Selasa, 11 Desember, 2018 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Keluaran 20:22-26

Umat Israel hidup di tengah-tengah bangsa yang menyembah berhala yang terbuat dari perak atau emas. Namun, Tuhan menuntut umat-Nya berbakti dengan prinsip, norma, dan cara yang diinginkan-Nya.

Allah Israel adalah Allah menyatakan diri-Nya sebagai Pencipta. Ia menyatakan firman-Nya dari langit kepada Musa. Dalam pemahaman dunia kuno, langit adalah dunia di atas, sedangkan bumi di bawah adalah tempat di mana manusia hidup. Patung dipahami menjadi simbol allah yang berada dekat di antara umatnya. Patung itu dibuat dari logam mulia. Karena itu, patung tersebut selalu dijaga keberadaannya.

Pemahaman dan cara penyembahan bangsa-bangsa lain ini bertentangan dengan kehendak Tuhan. Karena Tuhan semesta alam adalah kudus dan mulia untuk disamakan dengan patung perak maupun emas buatan tangan manusia. Bahkan Tuhan memerintahkan umat-Nya tidak membuat mazbah kurban bakaran dan keselamatan secara permanen dan dilarang mendirikannya dengan batu pahat. Mazbah Tuhan cukup dibuat dengan tanah sebagai bahan dasarnya. Mezbah juga jangan terlalu tinggi sehingga imam harus naik tangga ke atasnya. Mazbah kurban tidak dilarang, namun semua peribadahan yang dilakukan mesti mewujudkan bakti kepada Tuhan.

Ibadah Israel kuno sangatlah sederhana. Perjalanan dari Mesir belum sampai ke tanah yang dijanjikan. Mazbah tinggi dan besar dari batu pahatan akan membawa pada kemelekatan dibandingkan mazbah kecil dari tanah, yang bisa sewaktu-waktu dibuat dan ditinggalkan saat melanjutkan perjalanan. Lebih dari ritual keagamaan, Tuhan menghendaki umat hidup mengikuti-Nya dalam ketaatan dan kekudusan.

Apakah hidup yang kita jalani sungguh-sungguh ibadah yang diperkenan Tuhan. Buanglah ritual semu yang melekat dan membebani. Keselamatan dalam Tuhan seharusnya menjadi perayaan hidup kita setiap hari.

Doa: Ya Tuhan, terimalah hidup kami sebagai bakti agar kami diperbarui dan berkenan di hadapan-Mu. [YTP]


December 12, 2018, 05:39:45 AM
Reply #1688
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22581
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Dua Saksi dan Nyanyian Kemenangan
Posted on Selasa, 11 Desember, 2018 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca:  Wahyu 11

Pasal 11:1-14—yang masih membahas interval antara sangkakala keenam dan ketujuh—mengungkapkan tentang dua orang saksi Allah yang setia bersaksi di tengah perlawanan dunia terhadap Allah (11:1-2), sampai akhirnya mereka mati martir (11:3-10). Akan tetapi, kemudian Allah akan membangkitkan mereka (11:11-14). Perhatikan gambaran perlawanan terhadap Allah, yaitu bahwa Bait Allah dan Kota Suci Allah diinjak-injak selama 42 bulan atau 3½ tahun (ungkapan untuk waktu yang terbatas) atau 1260 hari. Selama 1260 hari, ada saksi-saksi Allah yang terus bersaksi, walaupun penuh kesulitan (11:2-3). Gambaran tentang 2 orang saksi dalam ayat 4-6 itu sangat mirip dengan Elia dan Musa. Mereka adalah teladan bagi para pengikut Kristus agar berani menghadapi para nabi palsu dan pemerintah yang kejam, sekalipun akhirnya mereka harus berkorban nyawa (11:7-11). Seperti halnya Elia dan Musa yang dipermuliakan Allah, demikianlah setiap pengikut Kristus akan dibangkitkan dan dipermuliakan (11:11-14).

Bagian ini ditutup dengan peniupan sangkakala ketujuh (11:15). Bagi orang percaya, tiupan sangkakala itu adalah suara kemenangan dan kebahagiaan. Karena itu, selanjutnya terdengar suara pujian kepada Allah. Seluruh umat Allah tersungkur di hadapan Allah sambil mengakui bahwa Allah adalah Penguasa atas bumi dan atas sejarah manusia (11:15-19). Nyanyian kemenangan adalah milik mereka yang mau setia sampai akhir. Mereka bisa setia sampai akhir karena mereka beriman dan tahu bahwa Allah memegang sejarah hidup mereka. Apakah berkembangnya kejahatan dan ketidakpastian politik membuat Anda merasa cemas? Ingatlah bahwa bila kita berpaut kepada Allah, tidak ada kejahatan atau kekuasaan yang cukup besar yang dapat merenggut kita dari tangan Allah. [AH]

Lalu malaikat yang ketujuh meniup sangkakalanya, dan terdengarlah suara-suara nyaring di dalam sorga, katanya: “Pemerintahan atas dunia dipegang oleh Tuhan kita dan Dia yang diurapi-Nya, dan Ia akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya.” Wahyu 11:15


December 13, 2018, 05:43:30 AM
Reply #1689
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22581
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2018/12/

Tuhan Ikut Serta dalam Perkara Hak Milik
Posted on Rabu, 12 Desember, 2018 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Keluaran 22:1-17

Hak milik seseorang haruslah dihormati oleh siapa pun. Setiap pencurian, atau kelalaian yang menyebabkan orang lain kehilangan hak miliknya, patut dihukum. Bahkan Tuhan ikut serta dalam banyak perkara perselisihan tentang hak milik.

Bagi masyarakat Israel kuno, ternak dan ladang adalah harta utama. Ternak menyediakan kebutuhan daging, susu, kulit, dan menjadi kekayaan untuk ditukar dengan keperluan lain. Praktik pencurian dilawan dengan prinsip keadilan. Bukan hanya mengganti kerugian, tetapi juga didenda berlipat-lipat. Kelalaian atas ternak maupun kebakaran yang merugikan ladang sesama juga didenda dengan membayar ganti kerugian setara. Aneka peraturan ini menjamin hak kepemilikan seseorang dihormati. Bahkan dalam perkara perselisihan atas harta benda yang dititipkan, disewa, atau dipergunakan orang lain, pihak yang berperkara bisa datang kepada Tuhan dan mengambil undi untuk mendapatkan penyelesaian (9), atau bersumpah bahwa kesaksiannya benar (11).

Tuhan ikut serta dalam perkara menyangkut harta milik. Setiap pencurian, kelalaian yang menyebabkan kerugian, pengingkaran tanggung jawab, dan perselisihan yang terjadi bukan sekadar perkara perdata antara pihak-pihak terkait. Dalam kehidupan modern, kejahatan yang kita hadapi jauh lebih rumit: pencurian ikan di lautan Indonesia, penambangan liar maupun resmi yang merusak alam, perdagangan manusia, peredaran narkoba, korupsi, dan hoax. Tuhan menghendaki tak seorang pun dirugikan karena kejahatan atau kelalaian yang lain.

Sering kali kita cuek dan berdalih bahwa hal itu bukan urusan kita. Melawan sikap tak peduli seperti itu, Allah mengajak umat-Nya mewujudkan keadilan dalam hal harta benda sebagai bagian pelayanan di dunia. Kebenaran dan keadilan bukan hanya diucapkan dimulut saja, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan bersama.

Doa: Ya Tuhan, ajarlah kami bukan hanya mau menghargai milik sesama, tetapi juga ikut serta menjaga karunia-Mu dalam kehidupan bersama. [YTP]







Naga Ingin Menelan Sang Juruselamat
Posted on Rabu, 12 Desember, 2018 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca:  Wahyu 12

Setelah mengungkapkan rentetan penderitaan dan penghukuman yang digambarkan melalui peniupan sangkakala, pasal 11 ditutup dengan nyanyian kemenangan dan nyanyian pujian. Di pasal 15 dan 16, akan diungkapkan lagi suatu rentetan murka Allah yang digambarkan dengan tujuh cawan. Pasal 12-14 merupakan semacam interval di antara kedua rentetan itu, yang menceritakan kisah Yesus Kristus lahir ke dalam dunia sebagai Anak Domba yang dikejar-kejar oleh si Jahat yang digambarkan sebagai naga. Perhatikan gambaran tentang kelahiran Yesus Kristus (12:1-6) dan bagaimana naga—yang adalah si Iblis ganas (12:9)—mau menelan Anak itu, tetapi Allah memelihara Anak itu dan sang ibu. Iblis tak henti-hentinya ingin menghancurkan Yesus Kristus dan pengikut-pengikut-Nya (12:13-18). Lihatlah dan dengarkan pula nyanyian pujian di tengah kecamuk peperangan antara si Jahat dan para tentara sorgawi (12:7-12). Nyanyian itu mengungkapkan bahwa si Jahat dapat dikalahkan bukan dengan pedang dan panah fisik, tetapi dengan darah Anak Domba dan dengan perkataan Firman Tuhan yang diberitakan dengan gagah perkasa dan penuh iman oleh orang-orang yang percaya kepada Allah.

Iblis tidak menyerah, dia terus melawan para pengikut Kristus. Dia tidak berani melawan Allah di surga, tetapi dia akan melawan pengikut-pengikut Allah di bumi. Kita harus waspada dan harus memiliki keberanian dan iman untuk melawan segala bentuk penyesatan si Iblis. Untuk bisa memenangkan perang melawan si Jahat, kita harus menggunakan segenap senjata Allah, yakni dengan kekuatan firman Allah dan dengan kuasa salib Yesus Kristus. Apakah Anda telah membiasakan diri setia berpegang pada firman Allah? [AH]

“Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut.” Wahyu 12:11



 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)