Author Topic: Saat Teduh  (Read 64478 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

January 08, 2019, 05:21:15 AM
Reply #1720
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23498
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Iman yang Berbuah
Posted on Senin, 7 Januari, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 5:17-26

Popularitas Yesus menarik orang dari berbagai daerah untuk datang mendengarkan pengajaran-Nya. Mereka ingin mengalami kuasa kesembuhan-Nya. Di antara orang banyak itu, terdapat juga orang Farisi dan ahli Taurat (15, 17). Para pendengar-Nya sangat banyak. Akibatnya, akses jalan tertutup bagi sekelompok orang yang mengusung seorang yang lumpuh di atas tempat tidurnya. Akhirnya, mereka naik ke atas atap. Dari sana, mereka menurunkan orang lumpuh itu tepat di depan Yesus (18-19). Yesus melihat betapa besar iman orang-orang ini (20).

Yesus memakai momen ini sebagai sarana untuk menyatakan diri-Nya. Tidak saja sebagai Penyembuh Sejati, Yesus menunjukkan Dia adalah Pribadi yang berotoritas mengampuni dosa (20, 24, 25). Pendeknya, Dia sedang menyatakan diri sebagai Allah. Pasalnya, hanya Allah yang sanggup mengampuni dosa (20).

Narasi ini mengajarkan iman yang berbuah. Iman beberapa orang ini melahirkan keberanian. Mereka nekat melakukan apa saja agar Si Lumpuh bisa sembuh. Bukan hanya kesembuhan, aksi mereka juga menjadi sarana penyataan diri Allah. Ekspresi iman itu mendatangkan kekaguman dari orang yang menyaksikannya. Itulah iman yang berbuah. Iman yang membuat orang sekitar semakin mengenal, takjub, dan percaya kepada Yesus.

Kita sering lupa iman selalu mewujud dalam tindakan. Kita sering mengaitkan iman dengan nuansa keagamaan. Akan tetapi, kita sering lupa mengaitkannya dengan cara kita menjalani hari, menyelesaikan pekerjaan, menyikapi perubahan, mengatasi masalah, dan sebagainya. Karena itu, kita harus ingat bahwa hidup kita adalah artikulasi iman kita. Banyak orang sedang menyaksikan itu. Jangan biarkan mereka salah mengenal Allah karena iman kita yang tidak berbuah. Sebaliknya, lewat iman kita, kiranya mereka mengenal siapa Allah. Sesungguhnya, kita menyatakan iman bukan dari dalam kamar yang sempit, melainkan dalam dunia yang luas.

Doa: Tuhan, kiranya iman kami membawa orang lain percaya kepada-Mu. [JH]







Allah Maha Pemurah
Posted on Senin, 7 Januari, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 5:12-16

Si Kusta yang menghampiri Yesus adalah seorang yang nekat. Menurut aturan imamat, seorang pengidap kusta harus tinggal di luar perkemahan. Dia tidak boleh berada dalam persekutuan umat Allah sampai dinyatakan tahir oleh imam (bdk. Im. 13:45-46). Dia harus berteriak, “Najis! Najis!” agar tidak ada orang mendekatinya. Namun, orang ini malah menghampiri Yesus di kota.

Ada tiga hal yang memengaruhi tindakannya itu. Pertama, dia tidak ingin komunitas Yahudi mengasingkannya. Artinya, kusta yang menutupi tubuhnya harus benar-benar bersih (bdk. Im. 13, 14). Kedua, dia meyakini kuasa Yesus sanggup memulihkan dirinya. Berita mengenai kuasa Yesus sudah jauh tersiar (15). Dia melihat Yesus sebagai seorang yang berotoritas untuk menahirkan dirinya. Ketiga, dia menyadari kelemahannya dan hanya bergantung pada kemurahan hati Yesus. Dia tersungkur sampai ke tanah sebagai wujud ketidakberdayaannya (12).

Kenekatannya membuahkan hasil. Yesus memenuhi permintaannya. Ketika Yesus menjamahnya, kustanya segera menghilang (13). Sentuhan tidak menajiskan Yesus, sebaliknya memulihkan orang kusta ini. Alhasil, komunitas Yahudi tidak lagi mengasingkannya. Yesus menyuruh orang ini melakukan amanat aturan imamat untuk penahirannya (14). Memang tidak ada catatan apakah Si Nekat ini melakukannya atau tidak. Namun, Alkitab mencatatkan berita mengenai kuasa Yesus semakin jauh tersebar. Popularitas Yesus menanjak (15). Tampaknya, Si Nekat ini tak sabar menceritakan mukjizat dan kemurahan Yesus yang dialaminya.

Berlarilah kepada Yesus ketika masalah datang menghampiri hidup kita. Mendekatlah kepada-Nya karena Dialah Allah yang bersedia menghampiri kita orang berdosa. Tersungkurlah di hadapan-Nya memohon belas kasihan-Nya. Janganlah ragu akan kemurahan-Nya. Ia adalah Allah yang Maha Pemurah. Ia selalu bersedia menjamah dan memulihkan hidup kita.

Doa: Ya Allah, jamah dan ubahkanlah hidup kami dengan kuasa-Mu. Kami memohon kemurahan-Mu. [JH]



January 08, 2019, 05:22:15 AM
Reply #1721
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23498
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Gereja yang Bertumbuh
Posted on Senin, 7 Januari, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 5:1-11

Di danau Genesaret, Yesus naik ke perahu Simon yang baru saja melabuh. Dari atas perahu itu, Dia mengajar orang yang mengerumuni-Nya (1-3). Kemudian, Dia menyuruh Simon untuk menangkap ikan di siang hari. Padahal, sudah semalaman Simon tidak mendapat apa-apa (4, 5).

Apa maksud tindakan Yesus? Yesus ingin Simon sungguh-sungguh memahami arti menjala manusia (10). Yesus sedang menguji ketaatan Simon atas otoritas-Nya. Ini terbukti dari julukan Simon terhadap Yesus, yaitu sebagai Guru. Simon berkata, “…, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga” (5). Setelah melihat mukjizat yang terjadi, Simon mengakui dosanya di hadapan Yesus. Dia merasa tidak layak. “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa, ” ujarnya (8).

Yesus juga menguji hal paling berharga bagi Simon. Ketika jala mereka mau robek karena menangkap banyak ikan, Simon memanggil perahu lain untuk menolong (6, 7). Saat itu, biaya memperbaiki jala sangat mahal, bisa membuat mereka bangkrut. Kelihatannya Simon tidak mau bangkrut. Namun, di darat Simon siap bangkrut. Dia meninggalkan segala sesuatu, termasuk jala, ikan, dan kapal untuk kemudian mengikut Yesus (11). Simon menunjukkan bahwa mengikut Yesus jauh lebih berharga daripada semuanya itu.

Saat memutuskan untuk menjadi murid, itu berarti kita menyadari dan tunduk atas otoritas Allah. Kita menyadari segala perbuatan dosa, kemudian rela meninggalkan segala sesuatu yang berharga demi mengikut-Nya. Allah menguji sikap hati kita setiap hari. Allah memakai aktivitas keseharian untuk menguji ketaatan kita pada otoritas-Nya. Lewat itu, Dia ingin agar kita semakin menyadari dosa dan bertobat. Dia ingin agar kita meninggalkan segala sesuatu demi Dia. Allah akan menguji keseluruhan hidup kita.

Apakah kita murid Yesus? Bersediakah kita hari ini membiarkan Tuhan menguji kemuridan kita?

Doa: Ujilah kami, ya Bapa, apakah kami setia dan taat kepada-Mu demi Yesus Kristus, Sang Guru. [JH]







Raison D’etre
Posted on Senin, 7 Januari, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 4:42-44

Popularitas memang begitu menawan. Banyak orang bersedia melakukan apa saja untuk mendapatkannya, mulai dari selebriti, politisi, bahkan agamawan. Tak hanya materi, banyak orang rela menggadai harga dirinya, kepercayaan orang lain, bahkan rasion d’etre (alasan mengapa ada) demi sebuah ketenaran.

Akan tetapi, Yesus berbeda. Di provinsi Galilea, popularitas-Nya sebenarnya sedang naik daun. Orang-orang selalu mencari kesempatan untuk bersama dengan-Nya. Namun, kala orang banyak mencari, Dia malah meninggalkan mereka. Sekalipun orang-orang membujuk untuk menetap, Dia tetap melangkahkan kaki-Nya (42, 44). Yesus melakukan itu karena menyadari alasan Dia datang ke dunia (43).

Yesus sangat menyadari raison d’etre-Nya, yaitu memberitakan dan mendemonstrasikan Kabar Baik, tentang Pemerintahan Allah di seluruh Israel. Dia tahu bahwa waktu-Nya tidak banyak. Karena itu, Dia harus melanjutkan perjalanan-Nya. Dia tidak membiarkan suara dan keinginan orang banyak memengaruhi keberadaan-Nya. Dia tidak membiarkan popularitas menjadi nomor satu daripada alasan kehadiran-Nya di dunia ini. Sebaliknya, Dia rela mengecewakan orang banyak demi tujuan hidup-Nya.

Ada ungkapan, “Seseorang tidak pernah benar-benar merasa hidup sampai menemukan sesuatu yang untuknya dia rela mati.” Prinsip inilah yang melahirkan prioritas hidup. Itu akan memberikan keberanian kepada seseorang untuk menolak keinginan orang banyak. Sebaliknya, tanpa prioritas, hidup menjadi tak punya arah. Akibatnya, kita hanya akan mengikuti keinginan orang banyak semata dan hidup menjadi sia-sia.

Kita diciptakan dan diselamatkan untuk melakukan pekerjaan baik yang disiapkan Allah (Ef.. 2:10). Itulah raison d’etre kita orang percaya. Kita dipanggil untuk hidup dengan tujuan yang ditetapkan Allah bukan yang ditetapkan orang banyak. Kita dipanggil untuk hidup berdasarkan prioritas bukan popularitas.

Doa: Tuhan, bimbinglah kami agar menyadari alasan kami ada adalah untuk melayani-Mu. [JH]




January 08, 2019, 05:22:51 AM
Reply #1722
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23498
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Anugerah Allah di tengah Kejahatan
Posted on Senin, 7 Januari, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca: Kejadian 6

Daftar keturunan Kain, Set, dan Enos menginformasikan bahwa waktu telah berlalu dan keadaan manusia di muka bumi bertambah buruk. Keburukan manusia yang disuguhkan di sini adalah bahwa “anak-anak Allah” melihat anak-anak perempuan manusia, lalu mereka mengambil siapa saja yang mereka sukai untuk menjadi istri. Ada beberapa pandangan tentang siapa yang dimaksud dengan “anak-anak Allah”. Ada yang berpandangan bahwa mereka adalah para malaikat, tetapi ada yang meyakini bahwa mereka adalah para pemimpin, serta ada yang beranggapan bahwa mereka adalah keturunan Set. Meskipun pandangan yang tepat sulit dipastikan, kisah ini jelas dipenuhi ketamakan, dan mungkin disertai kekerasan. Pola yang terjadi di sini: melihat–cantik–mengambil, adalah serupa dengan yang dialami Hawa: melihat–baik–mengambil (3:6). Mengingat bahwa pasal 3 mewakili kejatuhan umat manusia, pasal 4 mewakili kejatuhan sebuah keluarga, pasal 6:1-4 mewakili kejatuhan masyarakat, jelas bahwa manusia telah melangkah semakin jauh dari Allah. Kejahatan manusia besar di bumi. Kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan (6:5). Sebagai respons terhadap perkembangan dosa, Allah sengaja memperpendek umur manusia (6:3) untuk membatasi kekerasan dan penindasan yang dilakukan manusia.

Pasal 6 ini merupakan latar belakang alasan yang membuat Allah mendatangkan air bah guna menghapus manusia dari muka bumi. Akan tetapi, Nuh mendapat kasih karunia Allah karena ia seorang yang benar dan tak bercela. Menurut Roma 3:10, tidak ada seorang pun yang benar. Bagaimana kita bisa memahami kebenaran dan ketidakbercelaan diri Nuh? Kebenaran dan ketidakbercelaan diri Nuh adalah dilihat dari perbandingan diri Nuh dengan orang-orang sezamannya. Nuh hidup lebih benar dibandingkan dengan orang lain pada zamannya.

Alkitab tidak memberitahu kita bagaimana kondisi rohani istri, anak-anak, dan para menantu Nuh. Mungkin saja mereka meneladani Nuh atau keselamatan mereka adalah upah yang diperhitungkan Allah untuk mereka karena kesalehan Nuh. Mereka berdelapan telah menikmati perlindungan Allah. Tahukah Anda bahwa Allah sangat mengasihi Anda sehingga Allah melindungi Anda dari kejahatan dengan cara mengekang dosa melalui berbagai peraturan dan hukum yang berlaku di negara ini? [Sung]



January 09, 2019, 05:20:02 AM
Reply #1723
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23498
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Siapa yang Membutuhkan Tuhan?
Posted on Selasa, 8 Januari, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 5:27-32

Sikap hati yang keliru bisa menjadi penghalang untuk dekat dengan Tuhan. Yesus melihat dan memanggil Lewi yang berprofesi sebagai pemungut cukai. Alkitab mencatat, saat itu juga, dia meninggalkan segala sesuatu dan mengikut-Nya. Peristiwa itu sangat berarti bagi Lewi. Alkitab juga menuliskan bahwa dia pun membuat pesta perjamuan besar untuk Yesus.

Di antara para tamu undangan, hadir juga para ahli Taurat dan orang Farisi. Mereka bersungut-sungut karena Yesus dan para murid makan bersama pemungut cukai dan orang berdosa. Orang Israel membenci para pemungut cukai. Pasalnya, mereka adalah orang yang bekerja untuk penjajah dan sering memungut lebih dari yang ditentukan. Para nabi melarang orang Israel makan bersama orang semacam itu.

Dari kisah ini, kita menemukan sebuah kontras. Lewi menemukan Tuhan. Sebaliknya, ahli Taurat dan orang Farisi tidak. Bagaimana mungkin penjahat bisa mendapatkan Tuhan, sementara orang yang hidup untuk menaati perintah-Nya, tidak? Siapa yang tidak ingin dekat dengan Tuhan? Akan tetapi, orang yang merasa pantas, justru tidak pantas. Orang yang merasa tahu Tuhan, justru tidak mengenal-Nya.

Namun, ketika Yesus menerima Lewi, itu bukan berarti Tuhan menyetujui semua kejahatannya. Namun, apa yang ingin Alkitab katakan adalah dosa seseorang tidak menghalangi kasih-Nya. Justru hati-Nya susah jika melihat manusia hidup dalam kubangan dosa. Bukankah itu tujuan-Nya hadir ke dunia dalam wujud manusia, yaitu untuk mencari dan menebus orang berdosa?

Lewi tahu dia tidak pantas di hadapan Tuhan. Namun, Tuhan melihat bahwa Lewi membutuhkan Dia. Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit (31). Bukan orang yang merasa diri benar yang memerlukan Tuhan, tetapi orang yang berdosa.

Mari kita mawas diri. Ketika kita merasa diri benar di hadapan Tuhan, justru itulah yang menghalangi kita dekat dengan-Nya.

Doa: Tuhan, bantulah kami hidup hati-hati, tidak sesumbar, melainkan, mawas diri. [WTH]







Memuliakan Allah
Posted on Selasa, 8 Januari, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca: Kejadian 7-8

Dalam mitologi Timur Dekat Kuno (Babilonia), terdapat juga kisah tentang air bah yang meliputi bumi. Adanya catatan tentang peristiwa ini dalam dunia kuno dari bangsa lain selain bangsa Israel menjadi salah satu konfirmasi bahwa peristiwa air bah benar-benar terjadi dalam sejarah. Namun, yang membedakan catatan Alkitab dengan mitologi Timur Dekat Kuno adalah alasan di balik terjadinya air bah di bumi. Alasan terjadinya air bah di bumi menurut catatan literatur dunia kuno adalah karena para dewa/i merasa terganggu oleh suasana ribut yang muncul saat populasi manusia semakin bertambah banyak, sehingga para dewa/i tidak bisa beristirahat (tidak bisa menikmati ketenangan). Namun, dalam Kitab Kejadian, Alkitab mencatat bahwa Tuhan Allah menghukum manusia dan segala yang hidup di bumi dengan air bah karena bertambahnya dosa dan kejahatan di bumi serta karena kecenderungan hati manusia adalah jahat. Bertambahnya dosa membuat manusia yang diciptakan menurut gambar Allah mencemarkan dan menodai kemuliaan Allah. Hidup manusia tidak lagi sesuai dengan tujuan Allah menciptakan manusia, yaitu agar manusia memuliakan Allah. Inilah yang membuat Allah marah!

Peristiwa air bah mengajarkan sebuah kebenaran teologis, yaitu bahwa dosa adalah sesuatu yang serius di mata Allah. Para pelaku dosa dan kejahatan harus dihukum. Bagi Allah, konsekuensi dosa adalah pasti dan manusia berdosa tidak dapat lepas dari penghakiman Allah. Penghakiman Allah menjadi sesuatu yang sangat mengerikan. Namun, Allah sungguh luar biasa! Di balik murka dan penghakiman-Nya yang begitu dahsyat, Allah menunjukkan kasih dan anugerah-Nya yang besar kepada manusia. Ketika masa penghakiman melalui air bah telah selesai dan tiba waktunya bagi Nuh dan keluarganya—beserta semua hewan yang bersama mereka—keluar dari bahtera, Allah memberi perintah yang merupakan pengulangan mandat yang pernah diberikan sebelumnya kepada Adam dan Hawa, yaitu: “… supaya semuanya itu berkeriapan di bumi serta berkembang biak dan bertambah banyak di bumi.” (8:17; 1:21-22); “Beranakcuculah dan bertambah banyaklah serta penuhilah bumi. …Beranakcuculah dan bertambah banyak, sehingga tak terbilang jumlahmu di atas bumi, ya, bertambah banyaklah di atasnya.” (9:1, 7; 1:28). Apakah hidup Anda di dunia ini telah memuliakan Allah? Allah sedih jika pertambahan yang banyak itu tidak memuliakan Dia. [Sung]



January 10, 2019, 11:33:09 AM
Reply #1724
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23498
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Menemukan Tuhan dalam Kesederhanaan
Posted on Rabu, 9 Januari, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 5:33-39

Persoalannya bukan puasa atau tidak. Melainkan apa alasan kita melakukannya? Orang Farisi mempertanyakan cara Yesus melatih para murid-Nya yang berbeda dengan tradisi. Murid Yohanes Pembaptis sama seperti murid kaum Farisi sering berpuasa dan sembahyang, Sementara, murid-murid Yesus berbeda dan keluar dari tradisi itu. Saat itu, Lewi, seorang pemungut cukai yang sudah menjadi murid Yesus, sedang menjamu mereka makan.

Yesus menjawab, “Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa, sementara mempelai itu bersama mereka?” (34). Tentu saja, jawaban ini bersifat retoris. Orang Yahudi melakukan ritual puasa untuk memperingati hari pendamaian (Im. 16: 29, 31); untuk memperingati malapetaka dalam sejarah bangsa Yahudi; sebagai tanda berdukacita; pernyataan untuk pertobatan; disertai doa untuk memohon pertolongan Tuhan. Puasa juga menandakan bahwa seorang tidak puas dengan situasi yang ada dan mengharapkan Mesias agar segera datang membawa keselamatan.

Tradisi Yahudi memang melarang orang berpuasa saat perjamuan kawin. Itu sebuah pantangan karena dianggap tidak menghormati mempelai. Kedatangan Kerajaan Allah digambarkan seperti perjamuan kawin. Mesias (mempelai) sudah hadir, lalu untuk apa berpuasa? Justru, itu saatnya untuk merayakan kegembiraan.

Tiga perumpamaan yang mengikutinya memiliki pesan serupa. Yesus ingin mengajarkan bahwa berpuasa tanpa kejelasan alasan adalah sia-sia. Disiplin rohani, seperti, doa, puasa, dan membaca Alkitab adalah sarana untuk melatih kepekaan kita dalam merasakan kehadiran Allah dalam pengalaman hidup sehari-hari. Dengan begitu, orang yang dekat dengan-Nya tidak lagi risau dengan segala peraturan keagamaan. Sebaliknya, dia seharusnya menjadi semakin membumi. Kegembiraan akan memenuhinya karena dia bisa berjumpa dengan Tuhan lewat peristiwa sederhana, misalnya, melihat senyum Tuhan dalam tawa anak kecil.

Doa: Tuhan, karuniakanlah kami kegembiraan dalam merasakan kehadiran-Mu lewat hal-hal sederhana. [WTH]








Bersyukur atas Keberadaan Anda
Posted on Rabu, 9 Januari, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca: Kejadian 9-10

Ada perbedaan yang sangat jelas antara kisah dalam Alkitab dengan kisah dalam mitologi dunia kuno. Menurut mitologi dunia kuno, para dewa terganggu oleh banyaknya manusia yang dianggap membuat ribut. Menurut Alkitab, Allah Pencipta tidak pernah terganggu oleh banyaknya jumlah manusia dan makhluk hidup yang memenuhi bumi. Sebaliknya, melalui ciptaan-Nya, Allah menyatakan kemuliaan-Nya (Mazmur 19:2) dan menyatakan bahwa Ialah Allah Pencipta yang berdaulat serta berkuasa penuh atas ciptaan-Nya. Yang mendorong Allah mendatangkan air bah adalah karena kejahatan manusia semakin bertambah. Berdasarkan penilaian Allah kepada manusia, hanya Nuh dan keluarganya yang mendapat kasih karunia Allah. Setelah Nuh keluar dari bahtera, Allah memberkati Nuh dan anak-anaknya serta mengulang perintah yang pernah Allah berikan kepada Adam dan Hawa, yaitu beranak cucu, bertambah banyak, serta memenuhi bumi (9:1; 9:7; bandingkan dengan 1:28). Perintah ini dikenal sebagai “mandat budaya”. Pasal 10 menjelaskan dan meneguhkan mandat budaya tersebut. Melalui daftar keturunan Nuh, terlihat bahwa Allah melanjutkan anugerah-Nya kepada manusia, yaitu memberi hidup kepada mereka dan membuat mereka bisa menikmati anugerah Allah dalam dunia ciptaan-Nya. Melalui keturunan Nuh, manusia terbagi ke dalam berbagai suku bangsa dan bahasa di bumi ini.

Daftar keturunan dalam pasal 10 ini tidak mencatat semua keturunan Yafet, Ham, dan Sem. Bukanlah kebetulan bila daftar nama keturunan Yafet, Ham, dan Sem terdiri dari 70 nama, karena angka 70 adalah simbol totalitas dan kesempurnaan. Alkitab tidak menjelaskan lebih lanjut kepada kita kenapa terdapat begitu banyak suku bangsa dan warna kulit yang berbeda. Yang pasti adalah bahwa kemajemukan dan banyaknya suku bangsa yang berbeda adalah bagian dari desain Allah. Meskipun kita berbeda suku bangsa dengan saudara seiman di gereja, kita semua adalah satu di dalam Kristus Yesus, memiliki satu baptisan dan satu iman (Efesus 4:5). Paulus mengatakan bahwa di dalam Kristus, tidak ada pembedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani, budak dan orang merdeka, pria dan wanita (Galatia 3:28). Allah memiliki tujuan atas hidup Anda. Apakah Anda bisa bersyukur kepada Allah atas apa pun suku bangsa Anda? Apakah Anda telah menjadi berkat bagi keluarga, saudara seiman, dan masyarakat di tempat Allah menempatkan Anda? [Sung]



January 11, 2019, 08:52:31 AM
Reply #1725
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23498
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Sabat untuk Rekreasi
Posted on Kamis, 10 Januari, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 6:1-5

Murid-murid Yesus lapar dalam perjalanan. Mereka menggisar (menggosok, bukan memetik) gandum kemudian memakannya. Peraturan Sabat menganggap tindakan ini sebagai pelanggaran. Namun, Yesus mengutip kisah Daud dan para pengikutnya ketika mereka kelaparan. Alkitab menuliskan bahwa mereka makan roti sajian.Padahal, roti itu tidak boleh dimakan kecuali oleh imam.

Dalam hal ini, Yesus meluruskan bahwa hari Sabat diberikan untuk manusia, bukan malah sebaliknya.

Sabat artinya berhenti, melepaskan, dan disegarkan. Pada hari Sabat, manusia dan hewan berhenti dari pekerjaannya sehari-hari. Mereka lepas dari rupa-rupa kesibukan dan tuntutan hidup agar disegarkan kembali. Sabat adalah anugerah Tuhan demi kepentingan manusia karena Dia mengasihi manusia. Namun, pemuka agama Yahudi menafsir dan memberi aturan-aturan tambahan mengenai Sabat pada masa itu. Misalnya, perihal larangan dan rentang waktu hari Sabat. Semua peraturan itu malah menjadi beban tambahan yang melelahkan dan mengekang.

Kita mungkin sering lupa waktu saat bekerja. Kita larut dalam keinginan, tuntutan pekerjaan, dan kebutuhan hidup yang tiada habisnya. Sehingga waktu dan kesibukan memperbudak kita, sampai akhirnya kita lupa untuk istirahat, melepaskan beban, dan menyegarkan diri. Akibatnya, stres datang menyapa, kreativitas menjadi menurun, jenuh, relasi memburuk, dan sebagainya.

Tubuh dan jiwa perlu “Sabat” untuk rekreasi. Itulah maksud Tuhan menurunkan ketentuan hari Sabat. Kata “rekreasi” berasal dari bahasa Latin, yang berarti membuat (menciptakan) ulang. Momen itu untuk menyegarkan jiwa dan tubuh setelah lelah bekerja. Jika kita memakai pisau secara terus-menerus tanpa mengasahnya, maka ia akan tumpul. Begitu pula badan dan jiwa akan lelah, jika kita tidak menyegarkannya kembali.

Doa: Ajarlah kami untuk belajar melepaskan diri sejenak dari rutinitas, agar kami disegarkan memperoleh kekuatan baru menjalani pekerjaan kami. [WTH]







Apa yang Anda Sombongkan?
Posted on Kamis, 10 Januari, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca: Kejadian 11

Manusia tidak berubah. Begitu ada kesempatan untuk menjadi “ciptaan yang baru”, Nuh justru bertindak tidak baik: mabuk dan menelanjangi diri sendiri (9:21). Meskipun orang-orang jahat telah dibinasakan semua, kemungkinan untuk berbuat jahat tetap ada di dalam hati keturunan Nuh, seperti yang dilakukan oleh Ham kepada ayahnya. Salah satu keturunan Ham adalah Nimrod. Ia memiliki kerajaan di Babel, Erekh, dan Akad, semuanya di tanah Sinear (10:10). Menara Babel dibangun di tanah Sinear juga (11:2). Nimrod adalah seorang “pemburu yang gagah perkasa di hadapan TUHAN” (10:9), artinya: Nimrod adalah pemburu terhebat di dunia. Dia memiliki kelebihan dibandingkan orang lain, sehingga ia menjadi pemimpin. Kita tidak mengetahui banyak tentang Nimrod. Ada penafsir Alkitab yang mengatakan bahwa Nimrod adalah sebuah nama gelar, serta menduga bahwa Nimrod adalah Hammurabi, raja pertama Babilonia kuno.

Saat sampai di tanah datar di tanah Sinear, manusia hendak mendirikan kota dan menara yang puncaknya sampai ke langit. Tujuan mereka adalah untuk mencari nama dan agar mereka tidak terserak. Pada zaman Babilonia kuno, sebuah kota menyatakan identitas bangsa, peradaban, dan sebuah kebanggaan. Menara Babel adalah pencapaian terbesar manusia zaman Babilonia kuno dulu. Pembangunan kota dan menara ditujukan bagi kepentingan diri mereka sendiri (ditunjukkan oleh kata “kita” yang muncul sebanyak 4 kali dalam 11:4).  Kemungkinan, tujuan mereka adalah mencari nama. Para arkeolog berhasil menemukan puluhan menara yang tinggi dan besar yang dinamakan ziggurat di Mesopotamia (Bandingkan: Ayah Abraham berasal dari Mesopotamia dan Yosua 24:2 menyebut bahwa Terah adalah penyembah allah lain). Ziggurat dipakai sebagai tempat menyembah dewa dan menjadi ikon kebanggaan sebuah kota. Ada kemungkinan juga bahwa menara yang mereka bangun adalah sebuah kuil. Tujuan kuil yang puncaknya sampai ke langit adalah agar dewa dapat turun ke kuil itu, menerima pemujaan, dan memberkati manusia. Akhirnya, Allah  turun untuk menghukum mereka dan tidak ada dewa yang turun untuk memberkati mereka. Dosa merusak konsep manusia tentang Allah, sehingga Allah mengacaukan bahasa dan menyerakkan manusia agar pembangunan kota dan menara terhenti. Apakah pengenalan Anda kepada Allah selama ini sudah benar? Apakah tujuan hidup Anda adalah memuliakan Allah atau memuliakan diri sendiri? [Sung]



January 12, 2019, 05:25:11 AM
Reply #1726
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23498
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Penderitaan: Mendadak dan Tak Terduga
Posted on Jumat, 11 Januari, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca: Ayub 1-2

Bencana bisa datang secara mendadak dan tak terduga. Ayub—orang terkaya di sebelah timur (1:3)—mendadak menjadi miskin karena datangnya perampok dan bencana alam (1:14-17). Keadaan keluarga yang sebelumnya makmur dan bahagia—diungkapkan melalui pesta yang dilakukan secara bergiliran oleh anak-anaknya (1:4)—mendadak diliputi oleh kesedihan mendalam karena datangnya bencana alam yang menyebabkan kematian semua anak Ayub (1:13, 18-19). Tubuh Ayub—yang sebelumnya sehat—mendadak ditimpa barah (sejenis bisul berbau busuk) dari telapak kaki sampai kulit kepala (2:7). Penderitaan Ayub masih ditambah dengan perundungan yang dilakukan oleh istrinya sendiri (2:9). Penderitaan Ayub yang sedemikian hebat itu membuat teman-teman Ayub yang datang untuk menjenguk menjadi sangat berduka dan tidak mampu menghibur (2:12-13).

Ayub 1-2 ini mengajarkan beberapa hal:

Pertama, penderitaan bisa menimpa siapa saja, termasuk menimpa Ayub yang hidupnya saleh, jujur, takut akan Allah, dan menjauhi kejahatan (1:1). Kehidupan saleh, baik, dan beriman yang kita jalani tidak bisa menjadi alat bagi kita untuk memaksa Allah menghindarkan kita dari bencana.

Kedua, kekayaan dan kesehatan bisa lenyap sewaktu-waktu, baik karena bencana alam atau karena penyebab lain. Walaupun kita perlu bekerja keras untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup dan kita harus menjaga kesehatan agar kita tidak gampang sakit, kita harus menyadari bahwa bencana tetap bisa menimpa kita dan kekayaan kita tidak bisa memberikan jaminan apa pun. Hanya Tuhan saja yang bisa menjaga kesejahteraan hidup kita.

Ketiga, apa yang terjadi di dunia yang nyata (kelihatan) berkaitan dengan apa yang terjadi di dunia yang tidak kelihatan: Ada Iblis yang selalu berusaha membuat manusia menderita dan ada Allah yang selalu membatasi apa yang bisa dilakukan oleh Iblis. Penderitaan belum tentu disebabkan oleh dosa atau kesalahan yang kita lakukan, tetapi bisa disebabkan karena Iblis hendak meruntuhkan iman kita dan karena Allah mengizinkan hal itu terjadi dalam hidup kita.

Saat Anda gagal, sakit, rugi, kehilangan, atau mengalami hal-hal lain yang membuat Anda merasa menderita, bisakah Anda mempertahankan iman, tetap berusaha melakukan yang terbaik yang dapat Anda lakukan, dan Anda tidak menyalahkan Allah (bandingkan dengan sikap Ayub dalam 2:10b)? [P]


January 13, 2019, 04:44:11 AM
Reply #1727
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23498
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Konflik Iman vs Kenyataan
Posted on Sabtu, 12 Januari, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca: Ayub 3

Iman Ayub membuat dia sanggup bertahan saat menghadapi kenyataan pahit berupa penderitaan yang amat dahsyat. Akan tetapi, kenyataan yang dihadapi Ayub terlalu pahit dan dia tidak mengerti mengapa penderitaan semacam itu harus menimpa dirinya. Walaupun iman Ayub tidak tergoyahkan saat berbagai malapetaka mulai menimpa dirinya, hal itu tidak berarti bahwa Ayub tidak mengalami pergumulan. Dia justru harus bergumul keras untuk menerima kenyataan bahwa berbagai malapetaka telah menimpa dirinya. Terlalu sulit bagi Ayub untuk memahami bagaimana Allah yang dikenalnya sebagai Allah yang baik ternyata membiarkan dirinya mengalami berbagai penderitaan yang hebat. Setelah berdiam diri selama tujuh hari tujuh malam (2:3), Ayub menjadi frustrasi (kecewa dan putus asa), sehingga dia mulai mengutuki hari kelahirannya (3:1). Dia menyesal mengapa dia dilahirkan dengan selamat. Dia beranggapan bahwa lebih baik bagi dirinya jika ia tidak dilahirkan di dunia ini atau dia langsung mati saat dilahirkan (3:6-16).

Kisah Ayub ini mengingatkan kita bahwa penderitaan sering kali merupakan kenyataan yang harus kita hadapi. Jangan meremehkan orang yang sedang mengalami penderitaan! Jangan memandang rendah orang yang sedang mengeluh saat menghadapi penderitaan yang berat. Ingatlah bahwa bila kita berada dalam kondisi yang sama—yaitu mengalami berbagai malapetaka seperti yang dialami Ayub—belum tentu kita bisa tetap tegar dan belum tentu iman kita tidak tergoyahkan. Hanya ada satu jalan keluar yang bisa menolong kita dalam menghadapi penderitaan yang amat berat seperti yang dihadapi oleh Ayub, yaitu mengingat bahwa Tuhan Yesus—Sang Mesias yang tidak berdosa itu—telah lebih dulu mengalami penderitaan yang jauh lebih hebat daripada penderitaan yang kita alami, bukan karena Dia bersalah atau berdosa, tetapi karena kita yang berdosa dan Dia hendak menyelamatkan kita dari hukuman Allah (Ibrani 12:3-4; 1 Petrus 2:19-24; 3:18).

Saat Anda melihat sahabat Anda menderita, apakah Anda telah membiasakan diri untuk bersikap empati (ikut merasakan penderitaan orang lain)? Saat Anda sendiri mengalami penderitaan, apakah Anda telah membiasakan diri untuk memandang kepada Yesus Kristus, guna mengingat kembali bahwa Tuhan Yesus telah lebih dulu menderita untuk menanggung dosa Anda dan saya? [P]




January 14, 2019, 05:21:04 AM
Reply #1728
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23498
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Nasihat Elifas yang Salah Sasaran
Posted on Minggu, 13 Januari, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca: Ayub 4-5

Saat melihat kondisi Ayub yang sangat menderita, teman-temannya menangis, lalu terdiam, tidak bisa berkata apa-apa lagi. Kehadiran mereka dalam kesunyian merupakan penghiburan yang amat berarti bagi Ayub. Akan tetapi, setelah Ayub mulai menyesali kelahirannya, Elifas kehilangan kesabaran dan ia mulai menasihati dengan meminta Ayub melakukan introspeksi diri, bukan mengeluh. Yang menarik, nasihat Elifas bersifat kontradiktif (saling bertentangan). Di satu sisi, dia mengakui bahwa Ayub mengajar (hal yang baik) dan menolong banyak orang (4:3-4). Di sisi lain, Elifas meyakini bahwa penderitaan Ayub pasti disebabkan karena Ayub telah melakukan kesalahan (4:7-8). Bila Ayub merasa bahwa dirinya benar, Elifas beranggapan bahwa Ayub kurang melakukan introspeki karena tak ada seorang pun manusia yang benar di hadapan Allah (4:17). Nasihat Elifas kelihatannya saja baik (pasal 5), tetapi nasihat itu salah sasaran. Elifas tidak benar-benar mengenal Ayub dan dia belum benar-benar berusaha memahami situasi yang dihadapi Ayub.

Pendapat Elifas di atas mewakili pendapat banyak orang di sepanjang zaman tentang penyebab penderitaan. Prinsip tabur-tuai, “orang yang membajak kejahatan dan menabur kesusahan, ia menuainya juga (4:8),” adalah prinsip umum yang cocok untuk kondisi banyak orang, tetapi tidak cocok untuk keadaan yang dihadapi Ayub. Ayub menderita bukan karena dihukum Tuhan! Ayub menderita karena inisiatif Iblis, bukan karena inisiatif Tuhan! Ingatlah bahwa bagi seorang yang memiliki kualitas hidup sebagai “hamba TUHAN” seperti Ayub (perhatikan sebutan “hamba-Ku” dalam 2:3), prinsip hidup yang berlaku secara umum tidak selalu cocok. Ingatlah pula bahwa menasihati orang lain adalah tindakan yang baik, tetapi harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Nasihat yang salah bukan menjadi berkat, melainkan malah bisa menyakitkan hati.

Apakah Anda senang menasihati orang lain? Menasihati adalah tindakan yang baik, tetapi harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Jangan terburu-buru mengambil kesimpulan! Ingatlah bahwa prinsip kehidupan yang berlaku umum kadang-kadang tidak cocok untuk kondisi tertentu. Sebelum menasihati orang lain, usahakan agar kita benar-benar memahami kondisi orang yang hendak kita nasihati. Selain itu, sebelum menasihati orang lain, berdoalah sungguh-sungguh meminta hikmat Tuhan, agar kita tidak salah dalam memberi nasihat. [P]



January 15, 2019, 05:20:19 AM
Reply #1729
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23498
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Mencicipi Kerajaan Allah
Posted on Senin, 14 Januari, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 6:20-26

Yesus mengucapkan selamat (berbahagialah) kepada orang miskin, lapar, menangis (berdukacita), dan orang yang dibenci. Hal yang sama juga dikatakan-Nya kepada mereka yang dicela karena mengikut dan melakukan perkataan-Nya

(20-23). Tidak hanya itu, Dia juga menyampaikan peringatan (24-26). Peringatan itu ditujukan kepada orang-orang yang menikmati kekayaan, rasa kenyang, tertawa, dan dipuji-puji orang. Dalam hal ini, Yesus memperhadapkan pendengarnya pada nilai yang berlaku di dalam dunia dan Kerajaan Allah.

Yesus mengajak kita untuk mencicipi Kerajaan Allah. Tentu saja, Kerajaan Allah itu bukan hanya sebuah janji yang akan terjadi nanti. Akan tetapi, ia hadir di bumi sekarang. Saat mengalami berbagai kemalangan atau nasib sial, kita kerap hanya berfokus pada masalah itu. Kita mungkin merasa menjadi pecundang. Akibatnya, ada perasaan minder karena menyangka banyak orang akan memandang kita dengan sebelah mata. Namun, pada saat yang sama, ada sosok tidak terlihat yang mengendalikan segalanya. Dia memelihara dan menilai segala sesuatu di luar standar dunia. Dialah Allah.

Siapakah orang miskin itu? Apakah orang yang tidak punya uang saja? Mereka yang lemah tubuh; merasa tidak dicintai; berkubang dalam dosa; dan tersingkir juga tergolong orang miskin. Namun, justru kepada orang-orang demikianlah janji Kerajaan Allah diberikan. Yesus menunjukkan prinsip ini melalui tindakan-Nya. Dia memanggil Lewi, Si Pemungut Cukai, yang sebenarnya, tidak pantas menjadi murid-Nya. Dia menyembuhkan orang sakit dan kerasukan setan. Dia makan bersama orang-orang berdosa. Mereka yang terpinggirkan oleh dunia adalah yang pertama masuk ke dalam Kerajaan-Nya. Maka, wajar Yesus memberi ucapan selamat (berbahagialah) kepada orang-orang demikian. Mereka, yang menurut penilaian Allah, telah merebut hati-Nya.

Doa: Tolonglah kami supaya tidak menilai situasi kami menurut ukuran dunia, namun melihatnya dari sudut pandang-Mu. Dengan begitu, kami bisa mencicipi Kerajaan-Mu yang berlimpah rahmat. [WTH]







Tenang, Ada Yesus!
Posted on Senin, 14 Januari, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 6:17-19

Banyak orang dari berbagai kota datang kepada Yesus. Itu terjadi ketika mereka mendengar kabar bahwa Yesus dan para murid-Nya telah turun bukit. Mereka datang untuk mendengarkan Yesus dan disembuhkan oleh-Nya (18). Mereka membutuhkan Tuhan. Mereka mencari kelepasan dari beban hidup. Mereka merasakan ada kuasa yang keluar dari diri Yesus (19).

Ada kalanya, semakin berat beban pergumulan hidup, kita semakin giat mencari Tuhan. Semua orang punya beban permasalahan hidup. Ada yang bermasalah dengan rekan-rekan sekerja, gaji kurang, beban kerja berlebih, atau bahkan masih menganggur. Beban yang kita pikul juga bisa berupa perasaan bersalah, sakit hati, pengalaman traumatis, dan patah hati. Beban juga bisa berbentuk kebiasaan buruk yang membelenggu. Misalnya, kita ketagihan bermain media sosial, pornografi, game on line, dsb. Biasanya, kita memikul beban lebih dari satu sekaligus. Tentu saja, masih banyak daftar tentang berbagai problematika kehidupan yang bisa kita tambahkan.

Kita juga berseru dan mencari Yesus untuk mendapat kelepasan. Namun, ada kalanya kita kecewa karena merasa tidak mendapatkan solusi atas permasalahan itu. Misalnya, penyakit tidak kunjung sembuh, utang terus menumpuk, dan sebagainya. Setiap hari, kita terus berkutat dengan beban-beban itu. Akibatnya, kita jadi bertanya-tanya, “Apa maksud Tuhan?”

Injil mencatat, tidak setiap saat Yesus menyembuhkan penyakit atau mengadakan mukjizat. Dalam hal ini, Dia ingin mengatakan bahwa perbuatan ajaib bukanlah tujuan utama kedatangan-Nya. Itu hanya sebatas tanda bahwa Tuhan hadir dan bertindak. Malahan menurut Lukas, puncak kuasa Yesus terletak pada sengsara dan kematian-Nya di kayu salib. Pendeknya, kehadiran Yesus tidak hanya berbicara mengenai peristiwa spektakuler. Ketabahan, kerelaan, dan sikap tekun menanggung derita ternyata juga menjadi tanda kuasa-Nya.

Doa: Tuhan lepaskanlah kami dari beban. Namun, jika itu baik menurut-Mu bagi kami untuk memikulnya, kuatkanlah kami. [WTH]




.......



 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)