Author Topic: Saat Teduh  (Read 62720 times)

0 Members and 2 Guests are viewing this topic.

January 15, 2019, 05:21:15 AM
Reply #1730
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23128
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Allah sebagai Pusat Doa
Posted on Senin, 14 Januari, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 6:12-16

Yesus naik ke bukit untuk berdoa. Ia berdoa sepanjang malam. Yesus sengaja mengambil waktu khusus untuk berdoa. Dia pergi ke tempat sunyi untuk berdoa. Dia memohon bimbingan Allah untuk memilih dua belas rasul dari begitu banyak pengikut-Nya. Orang-orang inilah yang kelak akan diutus-Nya untuk sebuah tugas khusus.

Siangnya, Yesus memilih dua belas orang menurut bimbingan Allah. Jika Yesus mengikuti kehendak-Nya sendiri, tentu saja Dia akan memilih hanya orang-orang hebat. Dengan begitu, pekerjaan-Nya akan lebih ringan dan efektif. Kenyataannya, Dia memilih orang-orang biasa yang penuh kekurangan. Kelak, salah satu dari antara murid nanti akan mengkhianati Dia. Murid yang lain ada yang terlalu percaya diri, pongah, dan nantinya akan menyangkali Dia. Karakter murid lainnya ada yang skeptis, pesimistis, dan bermacam kelemahan lainnya. Bisa jadi, Yesus bermaksud supaya orang melihat hanya kekuatan Allah yang menjadi kunci keberhasilan. Pendeknya, bukan karena kekuatan manusia.

Sebelum melakukan tugas penting, Yesus mencari waktu khusus untuk berdoa. Ia memohon bimbingan Allah. Dalam doa, yang menjadi pusat adalah Allah. Yesus menaklukkan diri pada kehendak Bapa. Dia berserah pada kepentingan Bapa.

Umumnya, kita mengisi doa dengan permintaan dan keinginan. Lalu, kita menunggu dan mengira jawaban Tuhan selalu iya, tidak, atau nanti dulu. Di sini, kita melihat makna doa yang berbeda. Pusat doa adalah Allah dan kehendak-Nya. Posisi kita adalah mendengarkan dan menaklukkan diri pada keinginan-Nya.

Sudahkah kita berdoa memohon bimbingan Allah sebelum mengerjakan tugas penting? Sudahkah kita menaklukkan diri pada kehendak-Nya? Atau kita malah memaksa Allah memenuhi keinginan kita? Sudahkah kita memikirkan yang penting bagi Allah atau terus menunggu Ia mengabulkan permintaan-permintaan kita?

Doa: Tuhan, mampukanlah kami untuk mendengarkan-Mu dan menaklukkan diri pada kehendak-Mu. [WTH]







Menerima dan Berbuat Kebaikan
Posted on Senin, 14 Januari, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 6:6-11

Apa makna Sabat? Sabat adalah satu hari yang diindahkan bangsa Israel sebagai hari suci bagi Allah. Orang Yahudi mengkhususkan hari itu bagi Allah semata. Pasalnya, Allah berhenti bekerja (melakukan karya penciptaan) pada hari ketujuh. Pada hari itu, orang Yahudi tidak melakukan apa-apa, kecuali beribadah.

Pada suatu hari Sabat, Yesus masuk ke rumah ibadat dan mengajar di sana. Di situ ada orang yang tangan kanannya lumpuh dan Yesus menyembuhkannya.

Para pemuka agama menyalahkan tindakan Yesus. Dengan tindakan itu, mereka memandang Yesus melanggar ketentuan Sabat. Menurut penilaian mereka, Yesus bisa menyembuhkan orang itu pada hari lain. Apalagi, orang itu dalam kondisi tidak terancam nyawanya karena penyakit tersebut. Jadi, tindakan untuk menolongnya bukanlah hal yang mendesak.

Para pemuka Yahudi terpaku pada peraturan sehingga melupakan makna Sabat yang sebenarnya. Jadi sebenarnya, apa tujuan Allah menurunkan ketentuan itu? Sabat adalah karunia Allah supaya kita berhenti, dilepaskan dan disegarkan oleh-Nya. Namun, itu bukan berarti kita menganggur atau boleh melakukan apa saja sesuka hati. Akan tetapi, Sabat adalah waktu untuk melakukan agenda-Nya.

Saat ini kita merayakan Sabat pada hari Minggu (hari pertama), yaitu hari kebangkitan Yesus. Pada hari Sabat, Yesus membebaskan orang dari sakitnya. Ada dua hal yang perlu kita perhatikan. Pertama, Sabat adalah waktu untuk menerima kebaikan Allah. Ada saatnya, kita berhenti mencari uang dan memburu peluang. Dengan kata lain, kita perlu untuk sejenak meletakkan kepenatan hidup. Kedua, Sabat adalah momen untuk mengingat kebaikan Tuhan dan melakukan agenda Tuhan, yaitu melakukan kebaikan bagi sesama.

Doa: Tuhan, ampunilah kami karena lupa membuka diri untuk menerima kebaikan-Mu karena terus bekerja. Kami terus mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Akibatnya, kami lupa berbuat baik untuk orang lain. [WTH]


.......










January 15, 2019, 05:21:59 AM
Reply #1731
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23128
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


.......

Mengeluh itu Manusiawi!
Posted on Senin, 14 Januari, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca: Ayub 6-7

Jawaban Ayub terhadap perkataan Elifas dalam pasal 6-7 ini harus dipandang sebagai keluhan yang terlontar karena penderitaan yang Ayub alami amat berat. Keluhan berbeda dengan sikap memberontak kepada Allah. Perhatikan bahwa di tengah keluhannya, Ayub mengatakan, “sebab aku tidak pernah menyangkal firman Yang Mahakudus” (6:10). Ingatlah bahwa saat pergumulan Ayub diceritakan dalam pasal 1-2, narator kitab Ayub mengatakan, “Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya.” (2:10b). Keluhan bukan dosa. Keluhan merupakan respons manusiawi yang wajar. Keluhan harus dibedakan dengan pemberontakan atau perlawanan kepada kehendak Allah! Ayub tidak menyalahkan Allah, tetapi dia mengeluh karena beratnya penderitaan yang dia alami. Ingatlah pula bahwa saat Tuhan Yesus disalibkan, Dia mengatakan, “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? (Matius 27;46b). Perkataan Tuhan Yesus ini pun merupakan keluhan, bukan protes kepada Allah Bapa.

Penderitaan merupakan bagian dari kehidupan setiap orang. Orang Kristen pun tidak bebas dari penderitaan. Sebagian orang mengalami penderitaan yang amat hebat dalam berbagai bentuk, termasuk penderitaan karena meninggalnya tulang punggung keluarga, kehilangan pekerjaan, tertimpa bencana alam, dan sebagainya. Saat seseorang mengeluh karena beratnya penderitaan yang harus ia tanggung, sering kali yang dibutuhkan bukan nasihat, melainkan adanya orang yang bersedia mendengar keluhannya dengan sabar. Daripada menasihati, sering kali lebih bijak bila kita mendoakan orang itu tanpa menghakimi. Kita bisa mendoakan secara langsung saat bertemu maupun mendoakan setelah tidak bersama-sama dengan orang yang sedang menderita itu. Saat mendoakan, janganlah isi doa kita itu berupa nasihat. Saat mendoakan, kita menempatkan diri bersama dengan orang yang sedang menderita untuk bersama-sama bergumul dan memohon kekuatan dari Tuhan.

Saat Anda mengetahui bahwa ada teman, keluarga, atau kenalan Anda yang sedang bergumul menghadapi penderitaan, apakah Anda selalu berusaha menempatkan diri di pihak orang yang sedang menderita itu? Apakah Anda menganggap penderitaan sahabat atau keluarga Anda sebagai penderitaan Anda sendiri? Sikap Anda menentukan apakah Anda menjadi berkat atau menambah beban penderitaan orang itu! [P]


January 16, 2019, 05:03:38 AM
Reply #1732
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23128
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Menang Tanpa Mengalahkan
Posted on Selasa, 15 Januari, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 6:27-36

Dalam berinteraksi dengan sesama, kita pasti pernah mengalami konflik. Saat itu terjadi, biasanya, kita akan berusaha untuk memenangkannya. Kita tidak mau kalah, apalagi jika merasa berada pada posisi yang benar. Konflik ini biasanya berujung pada tindakan yang saling memusuhi, menyakiti, dan melukai. Bahkan, tindakan yang paling ekstrem adalah membunuh. Hal ini bisa kita katakan sebagai “manusiawi”. Pasalnya, kita memang sudah terbiasa berpikir bahwa musuh harus dikalahkan dengan cara apa pun.

Namun, Yesus menawarkan cara lain dalam menghadapi konflik. Sebuah alternatif agar kita menang tanpa ada yang merasa kalah. Caranya dengan mengasihi musuh.

Hukum Taurat mengatakan, “… nyawa ganti nyawa, mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki…” (Kel. 21:23-24). Kepada pendengar-Nya, Yesus berkata, “Kasihilah musuhmu!” Dia memerintahkan agar kita berbuat baik dan berdoa bagi mereka (27). Mengasihi berarti membalas kejahatan dengan kebaikan (29). Cara ini akan memutus lingkaran setan akan hasrat balas dendam (30). Yesus juga menegaskan bahwa berbuat baik tidak boleh hanya dilakukan kepada orang baik. Akan tetapi, kita juga harus melakukannya kepada orang yang berbuat jahat kepada kita (33-35). Jika telah melakukannya, Allah akan membalasnya dengan kebaikan kepada kita. Dengan begitu, orang-orang akan melihat bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dengan kata lain, Yesus mengatakan kita harus melakukannya karena Allah, sebagai Bapa kita, juga melakukannya (36).

Ada dua hal penting dalam prinsip mengasihi musuh. Ketika melakukannya, kita juga sedang mengalahkan ego pribadi. Kedua, kita juga sedang mengalahkan sifat buruk musuh tanpa dia merasa kalah. Alasannya, kebaikan kita akan membuatnya malu dengan perbuatannya sendiri. Itu akan menghancurkan kekerasan serta dendam dalam hatinya (bdk. Rom. 12:20).

Doa: Tuhan, ajarlah kami untuk mengasihi mereka yang jahat kepada kami. [IVT]







Jangan Terlalu Cepat Berbicara!
Posted on Selasa, 15 Januari, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca: Ayub 8

Perkataan Bildad mewakili pendapat banyak orang (8:8, 10). Secara umum, pemahaman Bildad tentang Allah adalah baik (benar), tetapi dia keliru saat menafsirkan keadaan Ayub. Dia tidak benar-benar memahami apa yang terjadi dengan Ayub dan dia terlalu tergesa-gesa memberikan nasihat. Adalah benar bahwa Allah tidak mungkin membengkokkan keadilan dan kebenaran (8:3). Akan tetapi, apakah orang yang mencari Allah serta hidup bersih dan jujur pasti bebas dari masalah dan bencana (8:4-6)? Sebaliknya, apakah orang yang mengalami bencana pasti merupakan orang yang melupakan atau tidak memedulikan Allah (8:11-19)? Bukankah perkataan yang serupa dengan perkataan Bildad ini sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari?

Perkataan Bildad dalam pasal ini benar dalam berbagai situasi, tetapi tidak benar dalam konteks Ayub! Masalah yang dihadapi Ayub bukan disebabkan oleh hubungan Ayub dengan Allah, melainkan disebabkan karena inisiatif Iblis yang hendak menggoncangkan iman Ayub. Seharusnya Bildad tidak menyamaratakan masalah. Bildad harus membuka diri terhadap kemungkinan yang berbeda dengan apa yang dia duga! Analisa yang cocok untuk suatu situasi tertentu belum tentu cocok untuk situasi yang berbeda, apalagi bila situasi itu menyangkut diri anak-anak Allah. Ingatlah bahwa walaupun pengalaman seseorang bisa sama dengan pengalaman orang lain, pada umumnya, pengalaman setiap orang bersifat unik (berbeda dengan pengalaman orang lain). Kita harus lebih banyak mendengar, memperhatikan, menyelidiki dengan teliti, sebelum kita siap mengambil kesimpulan.

Perjanjian Baru memberikan kepada kita suatu nasihat yang amat penting, “Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, ….” (Yakobus 1:19). Kita harus cepat (dan serius) mendengarkan perkataan orang lain agar kita tidak salah tafsir. Akan tetapi, kita harus berpikir masak-masak lebih dulu sebelum mengemukakan pendapat. Kita harus selalu ingat bahwa pemahaman kita bisa saja salah. Pengetahuan kita tentang situasi di sekitar kita (apalagi menyangkut manusia) bisa saja belum lengkap atau kurang tepat. Apakah Anda telah membiasakan diri untuk selalu berusaha berpikir masak-masak dan tidak terlalu cepat mengemukakan pendapat? [P]



January 17, 2019, 05:18:07 AM
Reply #1733
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23128
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Menghakimi Bukan Hak Kita
Posted on Rabu, 16 Januari, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 6:37-42

Anda pasti pernah mendengar kalimat, “Hei, jangan sok suci ya!” Kita mungkin juga sering mengutarakan hal ini kepada orang yang berusaha menasihati kita. Fenomena ini, setidaknya, sedang menunjukkan bahwa tidak ada satu orang pun yang suka dinasihati, apalagi dihakimi, walau mungkin dia bersalah.

Yesus mengajarkan bahwa tindakan menghakimi sesama, tidak dibenarkan oleh Allah. Oleh karena itu, Yesus berseru, “Jangan menghakimi, ” dan “Jangan menghukum, ” (37). Yesus mengibaratkan tindakan menghakimi sesama itu seperti seorang buta yang menuntun orang buta. Kita tentu sudah tahu hasilnya. Keduanya pasti akan sama-sama jatuh ke dalam jurang (39). Bagi Yesus, tindakan menghakimi hampir sama dengan orang yang selalu merasa benar. Oleh karena itu, Dia juga menegur mereka yang melihat orang lain lebih bersalah dibandingkan dirinya sendiri (41-42).

Allah melarang kita menjadi hakim atas sesama karena penghakiman adalah hak-Nya (bdk. Ul. 32:35; Rm. 12:19; Ibr. 10:30). Dialah satu-satunya Hakim yang adil. Cara Allah menghakimi berbeda dengan manusia. Manusia selalu cenderung merasa dirinya paling benar. Akibatnya, ketika manusia menghakimi sesamanya, dia akan selalu merasa lebih suci. Inilah kemunafikan yang ditegur oleh Yesus (41-42). Sementara, Allah akan selalu menghakimi dengan kebenaran karena Dia adalah Kebenaran.

Namun, ajaran ini bukan berarti melarang kita untuk menegur dosa. Jika kita menegur orang lain karena dosa atau kesalahannya, itu adalah sesuatu yang baik. Karena kita melakukannya dengan maksud supaya dia berubah (lih. Yeh. 3:18; Mat. 18:15). Berbeda jika kita menegur orang dengan tujuan menyindir atau menyalahkan orang lain. Bahkan, lebih parah lagi jika tindakan itu bertujuan agar kita tampak terlihat lebih rohani. Kalau begitu, maka lebih baik teguran itu dialamatkan kepada diri sendiri lebih dahulu.

Doa: Tuhan, ajarlah kami untuk bercermin lebih dahulu dan melihat jauh ke dalam diri, jika berniat untuk menasihati orang lain. [IVT]







Menghadapi Krisis Iman
Posted on Rabu, 16 Januari, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca: Ayub 9-10

Perhatikan bahwa Ayub memiliki pemahaman yang baik tentang Allah. Ayub mengakui bahwa Allah itu bijaksana dan berkuasa (9:4-10). Dia juga mengakui bahwa Allah itu adil (9:19). Ayub juga mengakui bahwa dirinya adalah ciptaan Allah (10:8-11), bahkan dia mengakui kebaikan Allah terhadap dirinya (10:12). Akan tetapi, penderitaan dahsyat yang menimpa dirinya menimbulkan konflik dalam pikirannya: Dia mengakui keadilan Allah, tetapi dia juga beranggapan bahwa Allah telah bertindak sewenang-wenang terhadap dirinya (9:12-14, 19). Imannya bertentangan dengan kenyataan pahit yang dia hadapi (9:20). Krisis iman yang dialami Ayub saat berhadapan dengan kenyataan pahit membuat dia berkata, “Bumi telah diserahkan ke dalam tangan orang fasik, dan mata para hakimnya telah ditutup-Nya; kalau bukan oleh Dia, oleh siapa lagi?” (9:24). Perkataan Ayub jelas mencerminkan perasaan frustrasi yang ia alami (10:1). Dia beranggapan bahwa Allah mencari-cari kesalahannya (10:6, 16 hal ini menunjukkan bahwa Ayub memiliki pemahaman yang sama dengan teman-temannya, yaitu bahwa hanya orang yang bersalah atau orang berdosa yang pantas mengalami penderitaan).

Saat membaca tentang krisis iman yang dihadapi Ayub, janganlah Anda merendahkan Ayub dan janganlah Anda menganggap diri Anda lebih kuat daripada Ayub. Janganlah Anda mencibirkan bibir saat membaca tentang keinginan Ayub untuk mati (10:18-22). Pertimbangkan baik-baik bagaimana perasaan Anda bila Anda berada dalam posisi Ayub: Anda telah berusaha menyenangkan Allah melalui kehidupan yang saleh, tetapi Allah membiarkan Anda menderita. Yakinkah Anda bahwa Anda akan sanggup mempertahankan iman bila Anda berada dalam posisi Ayub? Kisah pergumulan Ayub ini harus menjadi pertimbangan Anda saat Anda berhadapan dengan keluarga, teman, atau saudara seiman yang sedang menderita.

Apakah Anda pernah berhadapan dengan orang beriman yang sedang mengalami penderitaan dahsyat? Bagaimana sikap Anda saat itu? Apakah Anda mengenali orang-orang di sekitar Anda yang sedang bergumul menghadapi penderitaan? Ingatlahkembali penderitaan dahsyat yang pernah Anda lihat pada diri orang lain atau yang pernah Anda alami sendiri, lalu pikirkan apayang akan Anda lakukan untuk menghibur orang yang sedang larut dalam penderitaan! [P]


January 18, 2019, 05:37:37 AM
Reply #1734
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23128
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Jangan Menggurui
Posted on Kamis, 17 Januari, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca: Ayub 11

Zofar adalah seorang yang sok pintar. Dia menganggap Ayub sebagai orang yang terlalu banyak bicara (11:2), bahkan dia menganggap Ayub sebagai pembual (11:3). Dia melecehkan perkataan Ayub dan menganggap Ayub sebagai seorang bodoh yang sok tahu (11:4-9). Bahkan, Zofar menganggap Ayub sebagai seorang penipu dungu yang jahat dan curang (11:11-15). Walaupun perkataan Zofar mengandung banyak hal yang benar, nasihatnya sama sekali tidak tepat. Nampaknya Zofar tidak pernah melakukan introspeksi terhadap dirinya sendiri sehingga saat ia mendengarkan keluhan Ayub, ia bersikap seperti seorang hakim yang sedang menghakimi Ayub.

Syarat utama bila seseorang ingin menasihati orang lain adalah bahwa ia harus mau mendengar dengan sabar. Seorang yang tidak sabar mendengar tidak mungkin bisa memberi nasihat secara tepat. Sikap menggurui dan sikap menghakimi adalah dua sikap yang harus dihindari oleh seorang penasihat. Surat Yakobus dalam Perjanjian Baru memberikan nasihat yang penting, “Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru; sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat.” (Yakobus 3:1). Sebagai seorang sahabat, tidak semestinya Zofar bersikap menggurui terhadap Ayub. Seharusnya Zofar berusaha memahami perasaan Ayub serta berusaha mengerti apa yang sebenarnya merupakan pergumulan Ayub. Sikap Zofar yang angkuh hanya akan membuat Ayub merasa kesal dan tidak akan membuatkeadaan Ayub menjadi lebih baik.

Apakah Anda bersedia mendengarkan keluhan orang lain di sekitar diri Anda, khususnya keluhan seorang yang sedang menderita. Bila Anda tidak sabar mendengar, sebaiknya Anda menahan kata-kata Anda agar Anda tidak memberikan nasihat yang tidak tepat. Bila Anda tidak bersedia mendengar, orang yang Anda nasihati hanya akan merasa muak mendengar kata-kata Anda. Perkataan Zofar, walaupun mengandung pernyataan yang benar di dalamnya, adalah perkataan yang tidak akan bermanfaat bagi Ayub. Yang paling diperlukan oleh orang yang sedang menderita adalah adanya orang yang bersedia mendengar dengan sabar. Bila Anda bersedia mendengar dengan sabar, nasihat Anda akan lebih didengar oleh orang lain! [P]




January 19, 2019, 05:14:27 AM
Reply #1735
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23128
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Dengarkan (Baca), Lalu Lakukan!
Posted on Jumat, 18 Januari, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 6:46-49

Kokohnya sebuah bangunan sangat bergantung pada kualitas fondasinya. Jika kita menanam fondasi semakin dalam, maka bangunan di atasnya akan kokoh. Apalagi, jika kita menggunakan batu bermutu baik, itu akan menambah kukuh gedung di atasnya.

Pada akhir dari pengajaran-Nya, Yesus memberikan sebuah penekanan yang sangat serius. Dia menekankan dua hal yang penting, yaitu mendengar dan melakukan. Siapa pun yang mau mendengar sekaligus melakukan pengajaran-Nya, maka orang itu adalah seorang bijaksana (24). Yesus mengibaratkannya seperti tukang bangunan. Dia mendirikan rumah dengan kualitas fondasi dan batu yang baik. Jadi, ketika hujan, banjir, dan badai menerpa, rumah itu akan tetap berdiri kokoh (25). Akan tetapi, ada orang yang sebaliknya. Mereka hanya mau mendengar, tetapi tidak melakukan. Yesus mengatakan orang jenis ini seperti seorang tukang yang bodoh. Dia sedang membangun rumah di atas pasir. Jadi saat hujan, banjir, dan angin keras menimpanya, maka rumah itu roboh (26-27).

Sama halnya dengan orang yang sedang belajar bahasa baru. Jika mendengar ajaran gurunya, maka dia menjadi tahu tentang bahasa itu serta artinya. Namun, jika dia tidak pernah menggunakannya dalam percakapan, lambat laun, tentu saja, bahasa itu akan hilang. Dia akan segera melupakannya. Sia-sialah waktu yang dia gunakan untuk belajar selama ini. Dia akan rugi karena telah membuang-buang waktu dan uang untuk belajar, namun tidak menghasilkan apa-apa.

Kita memang harus (wajib) membaca dan mendengarkan Firman Tuhan. Itu adalah cara kita mengenal Allah sekaligus mengetahui kehendak-Nya bagi kita. Namun, jangan berhenti sampai di situ. Kita harus membuat Firman jadi nyata terlihat, didengar, dan dirasakan setiap orang. Oleh karena itu, kita harus menghidupi firman itu dalam setiap bidang hidup keseharian. Hanya dengan cara ini, maka kita memuliakan Allah bukan lagi hanya dengan kata, tetapi juga dengan aksi nyata.

Doa: Tuhan hari ini saya mau berkomitmen untuk melakukan firman-Mu dalam hidupku setiap hari. [IVT]







Pohon Mangga Tidak Berbuah Durian
Posted on Jumat, 18 Januari, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 6:43-45

Kita mengenal pohon dari buahnya. Akan tetapi, pernahkah Anda melihat pohon mangga berbuah durian? Tentu saja ini sebuah kemustahilan, bukan?

Yesus memberikan gambaran sederhana tentang bagaimana cara mengenal pribadi seseorang. Yesus, dengan cerdas, mengibaratkan manusia itu seperti pohon. Pohon yang baik pasti akan menghasilkan buah yang baik. Sebaliknya, pohon yang tidak baik akan menghasilkan buah yang juga tidak baik (43). Dia memberikan contoh bahwa semak duri tidak akan menghasilkan buah ara atau buah anggur. Tentu saja kita pasti tahu alasannya karena ketiganya berasal dari jenis yang berbeda (44). Dari sini kemudian Yesus menarik pada kenyataan hidup manusia. Orang yang dari dalam hatinya baik akan memancarkan hal-hal yang baik pula. Sedangkan, orang yang dari dalam hatinya jahat, juga akan memancarkan hal-hal yang jahat (45).

Konteks nas ini adalah orang-orang Farisi yang tega memfitnah Yesus. Momen itu terjadi ketika Dia mengusir setan dari tubuh seseorang (Mat. 12:22). Mereka mengatakan bahwa Yesus mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, yaitu penghulu setan (Mat. 12:24). Bagi Yesus, fitnah itu sudah menunjukkan sifat hati mereka yang jahat (45).

Sebenarnya, tidak terlalu sulit untuk melihat apa isi hati manusia. Caranya cukup sederhana. Kita hanya perlu mendengar apa yang dikatakannya dan melihat tindak-tanduknya setiap hari. Jika seseorang berbicara tentang hal yang baik, benar, dan membangun, ini sudah bagus. Namun, perkataan saja tidak cukup. Kita juga harus melihat keselarasan tindakannya dengan perkataannya. Jika selaras, maka kita dapat menilainya sebagai pribadi yang baik. Kita ini berasal dari benih yang baik, yaitu dari Allah. Oleh karena itu, kita memiliki potensi untuk menjadi pohon yang baik. Pohon yang menghasilkan buah yang baik pula.

Doa: Tuhan tolonglah kami agar menjadi pribadi yang berkenan di hadapan-Mu. Dengan begitu, hidup kami bisa memuliakan Engkau dan menjadi berkat bagi sesama. [IVT]



January 19, 2019, 05:15:10 AM
Reply #1736
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23128
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Pengharapan di Tengah Tekanan
Posted on Jumat, 18 Januari, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca: Ayub 12-14

Dalam bacaan Alkitab hari ini, Ayub mengutarakan kekesalannya terhadap nasihat yang diberikan sahabat-sahabatnya. Kekesalan Ayub disebabkan karena pemahaman para sahabatnya tentang dirinya salah dan nasihat yang disampaikan para sahabatnya hanya didasari pada pemahaman tentang hal-hal umum yang sudah dia mengerti (12:3). Pemahaman Ayub tentang kemahakuasaan dan hikmat Allah tidak kalah bila dibandingkan pemahaman teman-temannya. Ayub berkata, “Apa yang kamu tahu, aku juga tahu, aku tidak kalah dengan kamu.” (13:2). Nasihat yang diberikan para sahabatnya adalah nasihat keliru yang sama sekali tidak bermanfaat. Ayub menyebut para sahabatnya sebagai “tabib palsu” (13:4) karena nasihat yang mereka berikan tidak menyelesaikan masalah. Ayub yakin bahwa dirinya tidak bersalah (13;18), sehingga tuduhan dan nasihat yang disampaikan para sahabatnya merupakan tuduhan dan nasihat yang salah alamat sehingga pantas disebut sebagai “amsal debu” (13:12).

Maksud perkataan Ayub dalam 13:15 merupakan bahan perdebatan para ahli Perjanjian Lama. Dalam terjemahan Alkitab versiFirman Allah Yang Hidup, ayat tersebut diterjemahkan menjadi, “Sekalipun Allah akan mencabut nyawaku, aku akan tetap mempercayakan diriku kepada-Nya; aku hendak menghadap Allah untuk mengadukan perkaraku kepada-Nya.” Dengan perkataan Lain, penderitaan yang dialami Ayub tidak membuat ia kehilangan iman. Di satu sisi, Ayub tetap mempercayai Allah, apa pun yang terjadi. Keyakinan bahwa dirinya tidak bersalah membuat Ayub berani memperjuangkan kelakuannya di hadapan Allah. Di sisi lain, Ayub sadar bahwa waktu hidup manusia itu terbatas. Penderitaan yang hebat membuat ia menanti datangnya kematian (pasal 14). Dalam hidup kita, kita tidak akan bisa bebas dari keadaan seperti yang dialami Ayub. Kita mungkin saja mengalami kegagalan, kehilangan, kekecewaan, penyakit, dan kematian. Sekalipun demikian, kita tetap harus memiliki pengharapan yang didasarkan pada kasih dan keadilan Allah. Bila Anda mengalami penderitaan atau Anda melihat orang lain sedang menderita, berhati-hatilah dalam menilai penderitaan itu. Waspadalah agar penderitaan tidak membuat Anda kehilangan iman. Mintalah hikmat Tuhan bila Anda hendak menghibur atau menasihati orang lain yang sedang menderita. [P]







January 20, 2019, 04:52:59 AM
Reply #1737
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23128
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Debat Kusir
Posted on Sabtu, 19 Januari, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca: Ayub 15

Diskusi antara Ayub dengan teman-temannya bisa dikategorikan sebagai debat kusir. Elifas tidak peduli terhadap jawaban Ayub. Dia menganggap jawaban Ayub sebagai perkataan omong kosong. Dia sudah membuat vonis “bersalah” terhadap diri Ayub dan dia tidak mau mendengar bantahan Ayub. Dia menganggap dirinya lebih berpengetahuan dibandingkan Ayub (15:1-9). Pendapat Elifas bahwa Ayub pasti bersalah merupakan pendapat yang tidak boleh dibantah (15:14-16)! Perkataan Elifas dalam pasal ini benar-benar bersifat menghakimi dan amat kasar. Dia menganggap Ayub tidak memiliki pengetahuan (15:1), licik (15:5), sok tahu (15:9), tidak memakai rasio (15:12), keji, bejat, curang (15:16), bahkan ia menganggap Ayub sebagai orang fasik (15:20). Agaknya Elifas adalah orang yang mau menang sendiri! Dia kesal karena Ayub membantah tuduhan teman-temannya, dan dia mengatakan apa saja (yang jelek) tentang Ayub tanpa berpikir. Sebagai teman lama, semestinya Elifas adalah orang yang mengenal kehidupan Ayub yang saleh, saat Ayub masih kaya dan belum mengalami malapetaka. Akan tetapi, untuk memenangkan pembicaraan, Elifas dengan keji mengemukakan perkataan sembarangan yang amat menyakitkan.

Sikap Elifas yang amat buruk ini merupakan peringatan agar kita waspada terhadap diri kita sendiri saat kita merasa jengkel terhadap orang yang berbeda pendapat dengan diri kita. Bila kita beranggapan bahwa diri kita pasti benar dan orang yang berbeda pendapat dengan kita pasti salah, percuma kita berdiskusi. Jauh lebih bijak bila kita menahan mulut kita sendiri! Bila kita ingin berdiskusi, kita harus bersedia mendengar dan memikirkan (mempertimbangkan) perkataan lawan bicara kita. Bila kita selalu menganggap diri kita benar dan orang lain salah, lebih baik kita belajar berdisiplin untuk mendengar sebelum menasihati orang lain. Saat Anda berdiskusi, apakah Anda benar-benar mau mendengar dan mempertimbangkan perkataan atau pendapat lawan diskusi Anda? Saat Anda mendengar pendapat yang berbeda dengan pendapat Anda, apakah Anda bersedia membuka diri untuk mempertimbangkan kembali kebenaran pendapat Anda? Untuk bisa berdiskusi secara sehat, Anda harus menumbuhkan sifat kesabaran untuk mendengar serta menumbuhkan sifat kerendahhatian untuk menilai ulang kebenaran pendapat Anda! [P]



January 21, 2019, 05:19:04 AM
Reply #1738
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23128
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Mempertahankan Iman di Tengah Tekanan
Posted on Minggu, 20 Januari, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca: Ayub 16-17

Kekesalan Ayub memuncak. Saat dia berada dalam keadaan menderita, sikap teman-temannya yang merasa memiliki kebenaran membuat Ayub semakin kesal. Dia merasa bahwa perkataan teman-temannya hanya merupakan perkataan kosong yang tidak relevan dengan apa yang dia alami, sehingga Ayub sampai berkata, “Penghibur sialan kamu semua!” (16:2). Perkataan Ayub tersebut menunjukkan bahwa apa yang dilakukan teman-teman Ayub tidak menghasilkan penghiburan, melainkan justru menambah tekanan. Ayub merasa sendirian: Anak-anaknya mati, istrinya melecehkan dia, Allah “seperti” memusuhi, teman-temannya hanya menambah kekesalan hatinya. Tak mengherankan bila apa yang dialaminya itu membuat Ayub merasa lelah dan semakin kurus (16:7-8). Yang menyedihkan, keadaan Ayub yang seharusnya membuat ia dikasihani itu justru menjadi alasan bagi teman-teman Ayub untuk “membuktikan” bahwa Ayub telah berdosa. Yang patut diteladani, dalam keadaan sangat menderita seperti itu, Ayub mengatakan, “Sekalipun aku dicemoohkan oleh sahabat-sahabatku, namun ke arah Allah mataku menengadah sambil menangis, supaya Ia memutuskan perkara antara manusia dengan Allah, dan antara manusia dengan sesamanya.” (16:20-21). Penderitaan Ayub sudah memuncak. Teman-temannya mengecewakan semua. Tuhan seakan-akan tidak peduli. Sekalipun demikian, Ayub tetap setia kepada Allah.

Apakah Anda pernah mengalami kehidupan yang terasa pahit, sedangkan keluarga serta teman-teman Anda sama sekali tidak menolong, menghibur pun tidak, bahkan Anda merasa bahwa kehadiran mereka hanya menambah tekanan dalam kehidupan Anda? Bila Anda merasa seperti itu, satu-satunya jalan keluar adalah bahwa Anda harus mengingat kembali pengorbanan Tuhan Yesus bagi diri Anda, “Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa.” (Ibrani 12:3). Ayub—yang hidup pada zaman sebelum Kristus—sanggup menghadapi penderitaan, walaupun dengan susah payah. Kita—yang sudah memahamI pengorbanan Kristus—memiliki jalan keluar yang lebih baik saat menghadapi penderitaan, yaitu dengan mengingat kebaikan Allah melalui pengorbanan Yesus Kristus bagi diri kita. [P]




January 22, 2019, 05:56:12 AM
Reply #1739
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23128
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Cara yang Tak Terduga
Posted on Senin, 21 Januari, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Yosua 2:1-24

Apakah Anda hari ini sedang mengalami pergumulan? Terbayangkah bagaimana Allah akan menolong Anda? Kehidupan memang penuh dengan pergumulan. Namun, kita selalu percaya bahwa dalam pergumulan itu Allah akan memberikan pertolongan. Hanya saja, kita tidak tahu bagaimana cara-Nya menolong kita.

Yosua mengutus dua orang untuk mengintai kota Yerikho (1). Alkitab tidak menjelaskan dengan rinci bagaimana pelaksanaan pengintaian itu. Pendek cerita, kedua orang itu bersembunyi dalam rumah seorang perempuan sundal bernama Rahab (1). Sekalipun dilaksanakan secara diam-diam, tampaknya Raja Yerikho mengetahui aksi pengintaian ini (2). Alhasil, Raja memerintahkan untuk menangkap mereka (3). Akan tetapi melalui Rahab, Allah menolong mereka agar tidak tertangkap (4-22). Sehingga mereka dapat pulang kembali ke tengah-tengah orang Israel dengan selamat. Kemudian, dua orang itu menceritakan pengalaman itu (23).

Apa yang akan terjadi kalau Tuhan tidak menolong kedua pengintai itu? Tentu saja, Raja Yerikho akan menangkap dan membunuh mereka. Bisa jadi, itu akan menjadi pukulan berat bagi iman orang Israel.

Kedua pengintai itu pasti tidak menyangka pertolongan Tuhan muncul dengan cara tak terduga. Pertama, Rahab bukanlah seorang Israel. Kedua, sebagai penduduk Yerikho, sewajarnya dia tidak ingin Israel menaklukkan kotanya. Jadi, sangatlah mungkin kalau dia akan menyerahkan kedua pengintai itu kepada pasukan raja. Namun, yang terjadi malah sebaliknya. Inilah cara Tuhan yang tidak terduga.

Allah berulang kali menolong kita dengan cara yang tak pernah terpikirkan. Cara-Nya menolong setiap orang berbeda-beda. Hal ini membuat kita tidak bisa memprediksi bagaimana Dia bekerja untuk menolong. Allah bekerja dengan cara yang ajaib dan tidak terselami. Namun, pertolongan-Nya selalu tepat pada waktunya dan tuntas. Dengan begitu, bagian kita adalah hanya percaya dan menantikan-Nya.

Doa: Tuhan, terima kasih karena karya ajaib-Mu kerap menolong dalam kehidupan kami. [IVT]



 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)