Author Topic: Saat Teduh  (Read 62903 times)

0 Members and 3 Guests are viewing this topic.

January 23, 2019, 05:26:27 AM
Reply #1740
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Tanpa Kasih, Nasihat Tak Berguna!
Posted on Selasa, 22 Januari, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca: Ayub 20

Patut disayangkan bahwa teman-teman Ayub bersifat mau menang sendiri dan tidak bersedia melakukan introspeksi diri. Kata-kata mereka sering kasar dan menyakitkan, tetapi mereka gampang tersinggung jika dijawab secara kasar (20:3). Mereka menuntut untuk didengar, tetapi mereka tidak sabar mendengar. Bila mereka mendengar kata-kata Ayub pun, mereka tidak mencerna dengan baik. Mereka tidak peduli terhadap perasaan Ayub. Dengan perkataan lain, mereka tidak memiliki rasa empati. Saat memberi nasihat, mereka tidak memihak Ayub! Saat berinteraksi dengan Ayub, mereka mengambil posisi seperti seorang guru yang tidak mau dibantah atau seperti seorang hakim yang mengadili seorang penjahat. Tanpa disengaja, nasihat teman-teman Ayub selalu bersifat memojokkan dan hanya menambah penderitaan Ayub. Akibatnya, Ayub pun marah dan perkataan Ayub juga menyakitkan bagi teman-temannya. Jelaslah bahwa komunikasi mereka buruk.

Dalam pasal ini, Zofar secara berputar-putar berbicara tentang orang fasik untuk menyindir Ayub. Kesuksesan orang fasik bersifat sementara dan akan berakhir dengan kematian serta penderitaan anak-anaknya (20:4-11). Sekalipun kejahatan mula-mula terasa menyenangkan, orang fasik akan mengalami penderitaan berupa penyakit, ketidaktenangan, kekuatiran, dan kemiskinan (20:12-29). Jelas bahwa perkataan Zofar tentang orang fasik ini ditujukan kepada Ayub.

Kita harus senantiasa melakukan introspeksi diri! Bila kita selalu menganggap diri kita benar dan orang lain salah, diskusi hanya akan menjadi ajang saling serang dan saling menyakiti. Bila kita tidak memiliki rasa empati terhadap penderitaan orang lain, tak mungkin kita bisa menjadi berkat bagi orang tersebut. Tidak ada orang yang mau dianggap bodoh dan direndahkan. Diskusi hanya bisa berjalan dengan baik bila kita mengemukakan hal-hal yang relevan dan benar. Bila ingin menjadi berkat bagi orang lain, tumbuhkan dulu kasih dalam hati kita terhadap orang itu. Apakah Anda memiliki pengalaman menasihati orang lain? Apakah nasihat Anda didengar? Bila nasihat Anda tak didengar, jangan marah, tetapi hendaklah Anda melakukan introspeksi diri. Apakah nasihat Anda digerakkan oleh kasih? Apakah Anda tidak sedang memaksakan pendapat Anda? Bila hati Anda dipenuhi oleh kasih, kasih Anda akan dirasakan oleh orang lain dan Anda pasti akan menjadi berkat! [P]







Warisan Terbaik
Posted on Selasa, 22 Januari, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Yosua 2:4

Pengalaman memiliki warisan, bagi banyak orang, pasti menyenangkan. Ada yang senang karena bentuk warisannya, misalnya, uang, harta, dan sebagainya. Ada juga yang bangga karena warisan itu meninggalkan kenangan, bahkan pelajaran berharga.

Allah memerintahkan agar Yosua memilih dua belas orang sebagai perwakilan dari suku Israel. Mereka ditugasi untuk mengangkat dua belas batu dari sungai Yordan (1-3).Batu-batu itu adalah tanda peringatan perbuatan besar Tuhan tatkala Dia membelah sungai Yordan. Perbuatan ajaib itu membuat bangsa Israel dapat menyeberang (7). Tampaknya, pembaca pertama Kitab Yosua masih dapat melihat batu-batu itu (9). Sepanjang pasal ini, ada sebuah penegasan agar tetap mengingat sejarah. Jika anak-anak Israel bertanya apa arti batu itu, orang Israel harus menjawabnya. Mereka harus menuturkan tentang keajaiban perbuatan Tuhan itu (6, 21).

Pengalaman bersama Allah akan menjadi warisan dan kesaksian bagi keturunan atau generasi selanjutnya. Akan tetapi, sering kali kita mudah melupakannya. Kita kerap melalaikan pekerjaan tangan Tuhan. Bahkan, bisa jadi banyak orang tua tidak lagi mewariskan “harta karun” ini kepada anak-anaknya. Para orang tua mungkin lupa mewariskan kesaksian betapa besar Tuhan lewat karya-Nya. Padahal, inilah warisan terbesar dalam kehidupan ini. Warisan yang menguatkan iman karena Tuhan selalu bekerja dalam sepanjang sejarah.

Tuhan sudah memberikan kepada kita sebuah harta yang tak ternilai harganya. Dia telah mengaruniakan Anak Tunggal-Nya sebagai tebusan dosa dunia. Salib menjadi tanda terbesar perbuatan Allah. Dia nyata dan bertindak dalam sejarah. Dia menganugerahkan keselamatan di dalam Kristus.

Apakah kita sudah menerima harta terbesar itu? Jika sudah, tugas kita selanjutnya adalah mewariskannya kepada generasi berikutnya. Mereka harus mengalami warisan ini. Ini adalah warisan yang harus dimiliki semua umat manusia sepanjang masa.

Doa: Tuhan, saya bersyukur untuk salib-Mu sebagai warisan terbesar dalam hidupku. [RD]



January 23, 2019, 05:27:18 AM
Reply #1741
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Dia Masih Allah Yang Sama
Posted on Selasa, 22 Januari, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Yosua 3:1-17

Ketika mengalami penderitaan berkepanjangan, rasa frustrasi mungkin akan menimbulkan banyak pertanyaan dalam benak. Ribuan tanya, bernada protes kepada Tuhan, tiba-tiba meluap dari hati yang sedang merana. Apakah Allah sungguh-sungguh berkuasa? Masihkah Dia berkuasa? Masih sanggupkah Allah melakukan perbuatan ajaib seperti ketika membebaskan orang Israel dari Mesir? Mampukah Dia menyembuhkan orang sakit dan membangkitkan orang mati? Masihkah Tuhan mengasihiku seperti yang dijamin dalam Alkitab?

Tanpa menunggu waktu lama, Yosua segera memimpin Israel untuk memasuki kota Yerikho. Sungai Yordan terbentang di depan mereka (1). Pada saat itu, airnya sedang meluap (15). Tantangan ini mungkin akan mengingatkan mereka pada pengalaman menyeberangi Laut Teberau. Suatu momen ketika Musa memimpin mereka keluar dari Mesir. Untuk menghadapi ini, Yosua mengatur agar para imam berjalan di depan membawa tabut perjanjian (3). Kemudian, orang Israel akan mengikuti dari belakang dengan jarak kira-kira satu kilometer (4).

Benar saja, pengalaman sama terulang kembali kepada generasi baru ini. Air dari sungai Yordan terputus ketika para imam telah menginjakkan kakinya ke dalam air sungai (15-16). Alhasil, orang Israel berhasil menyeberangi sungai lewat tanah kering (17). Pengalaman ini meneguhkan kembali iman Yosua dan orang Israel. Allah yang mereka sembah tetap sama dan berkuasa-Nya.

Pengalaman Yosua ini mungkin bisa menjadi jawaban atas berbagai pertanyaan di atas. Alkitab menceritakan bahwa Allah selalu konsisten sejak dahulu, sekarang, sampai selama-lamanya. Dia tetaplah Allah penguasa sekaligus pengasih. Dia masih Allah yang sanggup untuk membebaskan umat-Nya (7). Akhirnya, bagian kita adalah menghormati kekudusan Tuhan (4); menjaga kekudusan diri (5); tetap mempercayai Tuhan; dan mengambil langkah iman (15).

Doa: Ya Tuhan, ampunilah jika selama ini saya meragukan pribadi, kuasa, dan kasih-Mu padaku. [IVT]







Fantasi yang Tak Terkendali
Posted on Selasa, 22 Januari, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca: Ayub 22

Elifas terlalu yakin bahwa dirinya benar! Dia membiarkan pikirannya berkembang secara liar, sehingga ia berfantasi tentang dosa yang telah dilakukan Ayub yang membuat Ayub mengalami hukuman berupa penderitaan yang dahsyat (22:10-11). Elifas menuduh Ayub melakukan banyak kejahatan, yaitu menerima gadai dan merampas pakaian orang miskin, tidak mau menolong orang yang kelaparan dan kehausan, merampas tanah orang yang lemah, tidak memiliki belas kasihan terhadap para janda dan yatim piatu (22:5-9). Elifas juga menuduh bahwa Ayub telah melecehkan Allah dan meniru perbuatan orang-orang jahat (22:12-17). Semua tuduhan Elifas ini adalah tuduhan yang berdasarkan fantasinya tentang Ayub, bukan berdasarkan fakta.l Oleh karena itu, walaupun nasihat yang diberikan oleh Elifas nampaknya baik dan benar (22:21-30), nasihatnya hanyalah omong kosong yang tidak berguna karena tidak relevan dengan kondisi Ayub.

Kita harus selalu menyadari bahwa sebagai manusia biasa, diri kita terbatas! Kita tidak bisa melihat apa yang tidak kita lihat dan dugaan kita tentang hal-hal yang tidak kita lihat bisa keliru, bahkan penafsiran kita terhadap apa yang kita lihat pun bisa salah. Sadarilah bahwa setiap orang berbeda. Hal-hal seperti penyebab datangnya penyakit, penyebab kegagalan, dan penyebab kemiskinan pada banyak orang bisa berbeda-beda. Oleh karena itu, membiarkan pikiran kita berfantasi tentang hal-hal yang tidak benar-benar kita ketahui merupakan sesuatu yang konyol (tidak berguna, sia-sia). Lebih baik kita mengaku “tidak tahu” daripada kita “sok tahu” (berlagak tahu, padahal sebenarnya kita tidak tahu).

Tahukah Anda bahwa vonis hakim pun bisa salah, sehingga ada sistem “banding” yang disediakan bagi seorang yang telah divonis bersalah oleh pengadilan? Tahukah Anda bahwa ada banyak perceraian yang terjadi karena si penggugat meyakini informasi yang keliru tentang pasangannya? Pernahkah Anda menuduh seseorang telah melakukan ini atau itu dan kemudian ternyata bahwa tuduhan Anda itu salah? Kita harus sangat berhati-hati bila hendak menafsirkan sesuatu yang tidak kita lihat sendiri atau sesuatu yang tidak kita alami sendiri. Jangan cepat memberi nasihat, apa lagi melontarkan tuduhan, sebelum kita memahami masalah secara jelas. Ingatlah selalu bahwa bila kita melakukan “salah tuduh”, akibatnya bisa fatal bagi diri kita dan bagi orang lain! [P]



January 24, 2019, 05:39:21 AM
Reply #1742
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Ketaatan di tengah Tantangan
Posted on Rabu, 23 Januari, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Yosua 5:1-12

Yosua memimpin bangsa Israel memasuki tanah perjanjian. Banyak raja negeri yang menjadi tawar hati mendengar ini. Pasalnya, bangsa Israel mendatangi wilayah itu dengan menembus sungai Yordan yang dikeringkan Tuhan (1). Cerita ini membuat mereka menjadi ciut untuk menghadapi orang Israel.

Angkatan yang memasuki tanah Kanaan merupakan generasi kedua. Mereka lahir di gurun ketika keluar dari perbudakan Mesir (5). Generasi ini berbeda dengan yang pertama, yaitu mereka tidak bersunat. Oleh karena itu, Tuhan memerintahkan Yosua untuk membuat pisau (2) dan menyunat mereka (3).

Bagaimana dengan generasi pertama? Mereka sudah mati dalam perjalanan selama empat puluh tahun di gurun. Tuhan memang melarang mereka melihat negeri yang dijanjikan-Nya karena melanggar firman-Nya (6). Namun, Yosua telah menyunat angkatan yang lahir di padang gurun, sebagai ganti dosa para pendahulu (7). Ini sangat menyenangkan hati-Nya, “Hari ini telah Kuhapuskan cela Mesir itu dari padamu” (8).

Tuhan menuntut konsistensi ketaatan. Dia mempertahankan sunat sebagai lambang perjanjian dari tiap generasi.

Tuntutan untuk tetap taat akan membuat hidup penuh tantangan. Kita mungkin akan menemukan banyak kesulitan. Namun, aral itu jangan membuat kita takut dan memilih kompromi dalam ketidaktaatan. Kesukaran apa pun yang timbul karena ketaatan, percayalah, Dia pasti menolong. Cepat atau lambat, tangan-Nya akan terulur menyangga.

Musuh ketaatan adalah kompromi. Sederhananya, kompromi berarti menurunkan derajat nilai dari yang seharusnya kita patuhi. Dalam keraguan bercampur hasrat kotor, kita mulai meragukan kebenaran dan mengurangi bobot pengertian tentangnya. Dalam dunia kerja, misalnya, demi mendapat simpati dari atasan, bisa saja, kita mulai “bermain” dengan firman. Kita mulai mencoba melanggar “sedikit” dan melenceng “sedikit”. Hingga kita tak sadar sudah menyimpang dari kehendak Allah.

Doa: Tuhan, kami mau konsisten dalam ketaatan. [RD]







Menghibur Tanpa Menghina
Posted on Rabu, 23 Januari, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca: Ayub 21

Kekesalan Ayub terhadap perkataan Zofar dalam pasal 20 terlihat dari jawaban Ayub, “Izinkanlah aku ganti bicara, setelah itu boleh lagi kamu menghina!” (21:2, Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari). Jelas bahwa Ayub memandang nasihat Zofar dan kawan-kawannya—yang menganggap Ayub sebagai orang fasik—sebagai penghinaan. Dalam jawabannya, Ayub juga menguraikan tentang orang fasik, tetapi dari sisi lain, yaitu bahwa ada orang fasik yang sukses dan bahagia (21:7-13). Tanda bahwa seseorang tergolong sebagai orang fasik atau bukan tidak terletak pada kesuksesan atau kegagalannya, melainkan pada sikapnya terhadap Allah. Orang fasik adalah orang yang meninggalkan (mengabaikan) Allah karena mereka tidak merasa memerlukan Allah, dan Ayub dengan tegas mengatakan bahwa dia tidak demikian! (21:14-16). Bila perkataan Ayub tentang orang fasik dibandingkan dengan pendapat teman-temannya, jelas bahwa Ayub lebih objektif (apa adanya). Ayub tidak sekadar menentang pendapat teman-temannya karena Ayub juga mengakui kemungkinan bahwa orang berdosa (orang fasik) bisa langsung mendapat hukuman Tuhan (21:17-21). Ayub mengemukakan bahwa ada orang fasik yang mati dalam keadaan bahagia, tetapi ada pula orang fasik yang mati dalam keadaan menderita (21:23-24). Karena pendapat teman-teman Ayub tidak sesuai dengan kenyataan dan menimbulkan kesan dipaksakan agar bisa dipakai untuk menyerang, maka nasihat teman-teman Ayub itu tidak menghasilkan penghiburan (21:34).

Bila Anda ingin menjadi berkat, jangan memaksakan pendapat Anda (tanpa mempertimbangkan fakta). Jangan menempatkan diri Anda dalam posisi lebih tinggi (lebih benar, lebih pandai, lebih bijaksana) daripada orang yang hendak Anda hibur. Kita harus memberi nasihat dalam posisi sebagai seorang teman atau seorang saudara yang meluap dengan kasih. Ingatlah kembali pengalaman Anda saat Anda berusaha menghibur keluarga atau teman Anda! Saat Anda hendak menghibur, apakah Anda mempertimbangkan perasaan orang yang Anda hibur? Apakah orang yang Anda hibur menyambut penghiburan yang Anda berikan dengan sukacita? Bila penghiburan yang Anda berikan membuat orang yang hendak Anda hibur menjadi tersinggung, sebaiknya Anda diam, lalu Anda mengevaluasi kembali sikap Anda terhadap orang yang hendak Anda hibur! [P]



January 25, 2019, 05:25:15 AM
Reply #1743
January 26, 2019, 05:35:21 AM
Reply #1744
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Ikut Cara Allah
Posted on Jumat, 25 Januari, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Yosua 6

Yerikho telah menutup pintu gerbangnya (1). Kota itu menyelimuti dirinya dengan benteng tebal dan mustahil ditembus oleh orang Israel. Umat Israel memang tidak memiliki teknologi senjata yang canggih. Namun, mereka punya senjata pamungkas, yaitu janji Tuhan. Allah berfirman bahwa Yerikho akan diserahkan kepada Israel (2).

Tuhan selalu punya cara yang ajaib untuk menolong umat-Nya. Alih-alih mengirimkan senjata dan kereta perang, Dia malah menyuruh orang Israel mengelilingi tembok (3-4). Kita mungkin berpikir bahwa ini konyol. Bagaimana mungkin tembok tebal bisa runtuh hanya dengan mengelilinginya?

Mungkin Yosua juga berpikir seperti kita. Tetapi, dalam situasi gamang seperti itu, dia tetap memilih untuk taat dan melakukan apa yang diperintah kepadanya itu.

Apa yang terjadi kemudian? Allah sendiri yang menyerahkan kota itu. Dia meruntuhkan benteng tebal itu dengan ajaib. Bangsa Israel menguasai kota Yerikho setelah mereka menjalankan semua perintah konyol itu. Mereka hanya taat dan selebihnya Tuhan yang bekerja.

Dalam kehidupan, kita pasti pernah berhadapan dengan “tembok Yerikho”. Tembok itu bisa berupa masalah, pergumulan, dan pergulatan hidup yang berat. Kita bahkan merasa perkara itu sudah tidak mempunyai jalan keluar. Semua menemukan jalan buntu!

Dalam situasi demikian, apa yang harus kita lakukan? Ini memang pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Semua orang punya pengalaman berbeda, sehingga kita tidak bisa merumuskan apa pun dari itu. Kita hanya bisa seperti Yosua, yaitu menunggu Tuhan yang bekerja. Bagian kita hanyalah taat, walau kita tidak mengerti mengapa kita harus tetap taat.

Namun, percayalah, momen seperti itu akan menumbuhkan iman kita. Iman bergeliat tumbuh ketika ia bertumbukan dengan krisis. Ketika krisis datang menyapa, itu proses bahwa Tuhan sedang membentuk iman kita menjadi semakin teguh.

Doa: Bapa, kami mau taat pada rencana-Mu, meski tampak tidak masuk akal. Ajari kami untut tetap setia dan taat kepada-Mu. [RD]







Tidak Digerakkan oleh Keadaan
Posted on Jumat, 25 Januari, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Yosua 5:13-15

Tugas Yosua selanjutnya adalah menduduki tanah perjanjian itu. Ini bukan tugas mudah karena wilayah itu bukanlah tanah kosong, melainkan berpenghuni.

Yosua mulai turun ke lapangan untuk melihat keadaan. Di dekat Yerikho, dia melihat seorang laki-laki berdiri di depannya sambil menghunus pedang (13).

“Kawankah engkau atau lawan?” selidik Yosua.

“Bukan, tetapi akulah Panglima Balatentara Tuhan. Sekarang aku datang, ” jawab laki-laki itu (14).

Pertanyaan Yosua sungguh lumrah. Tingkat kewaspadaan akan meninggi ketika kita memasuki daerah baru dan asing. Kita akan mencurigai orang sebagai lawan atau kawan.

Pada kasus Yosua, dia bertemu dengan seorang lelaki. Momen perjumpaan itu mengingatkan kita kepada Musa kala melihat semak duri berapi. Sama seperti Musa, Panglima Balatentara itu menyuruh Yosua menanggalkan kasutnya karena tempat itu kudus (15).

Apa makna dari peristiwa ini? Kehadiran Panglima Balatentara Tuhan adalah bukti penyertaan Tuhan. Dia tidak hanya menyeberangkan lalu membiarkan, melainkan Dia tetap berada di tengah umat-Nya untuk berperang merebut tanah perjanjian. Dialah Jenderal dari pasukan Israel.

Yosua mewakili kita dalam memandang kehidupan. Kita kerap melihat kenyataan secara dualisme, yaitu kawan dan lawan. Dunia seolah hanya terbagi menjadi dua bagian, seperti, hitam/putih, salah/benar, dan sebagainya.

Padahal, ada perspektif yang lebih besar dari itu, yaitu berdasarkan sudut pandang Allah. Realitas ini harus kita lihat dari kacamata Allah, bukan dimensi biner semata. Keputusan kita ambil bukan karena pertimbangan kawan/lawan, hitam/putih, atau untung/rugi. Sebaliknya, kita harus peka dalam memikirkan pertimbangan dan taat pada pimpinan-Nya. Itulah bukti bahwa kita percaya bahwa Tuhan selalu hadir pada setiap aspek kehidupan ini.


January 26, 2019, 05:36:03 AM
Reply #1745
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Memahami Kepedulian Allah
Posted on Jumat, 25 Januari, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca: Ayub 23-24

Terhadap tuduhan Elifas yang penuh fantasi, Ayub tidak menanggapi. Tetapi Ayub menjawab, “Aku meronta dan mengeluh terhadap Allah; tak dapat aku menahan keluh kesah.” (23:1-2, Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari). Ayub ingin menjumpai Allah guna menyampaikan pembelaan diri terhadap berbagai tuduhan yang ditujukan kepada dirinya. Dia meyakini bahwa Allah pasti akan berlaku adil karena ia telah berlaku jujur dan taat kepada Allah (23:3-12). Akan tetapi, keyakinan ini bercampur dengan kebingungan karena dia menyaksikan keberuntungan orang-orang yang telah berlaku jahat dan kesengsaraan orang-orang yang hidupnya tidak beruntung (pasal 24). Kebingungan Ayub terjadi karena dia sendiri sedang mengalami penderitaan hebat dan dia merasa bahwa Allah tidak peduli (bandingkan misalnya dengan 24:12).

Kesulitan Ayub untuk memahami kepedulian Allah merupakan hal yang wajar karena Ayub—seperti kita juga—memiliki pemahaman yang sangat terbatas. Ayub tidak mengerti tentang adanya pembicaraan antara Iblis dengan Tuhan dalam pasal 1-2. Dia juga belum memahami rancangan Tuhan terhadap dirinya secara menyeluruh. Pengenalan Ayub tentang Allah belum sempurna (masih dalam proses). Saat kita membaca kisah Ayub ini, kita bisa langsung membaca latar belakang kisah Ayub (pasal 1-2)—yang tidak diketahui oleh Ayub—serta akhir kisah Ayub yang bahagia (pasal 42). Karena kita memahami keseluruhan kisah Ayub, dengan yakin kita bisa mengatakan bahwa sesungguhnya Allah peduli terhadap kehidupan kita, tetapi kita belum memahami kepedulian Allah itu secara utuh. Saat kita mengalami penderitaan, kita perlu meyakini—dengan iman—perkataan yang dicatat oleh Nabi Yeremia, “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah Firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11).

Saat Anda menderita atau saat Anda melihat penderitaan pada diri orang lain, apakah Anda tetap meyakini bahwa Allah memedulikan umat-Nya? Tanpa keyakinan akan kepedulian Allah, kita akan menjadi pesimis dan penderitaan akan terasa amat berat. Sebaliknya, keyakinan akan kepedulian Allah akan membangkitkan pengharapan dan semangat juang di dalam hidup kita! [P]


January 27, 2019, 04:55:57 AM
Reply #1746
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Nasihat yang Tidak Tepat Sasaran
Posted on Sabtu, 26 Januari, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca: Ayub 25-26

Pandangan Bildad tentang kekuasaan dan kedahsyatan Allah yang kontras dengan kehinaan manusia (pasal 25) itu benar adanya. Ayub pun tidak menyangkal hal itu (26:3). Ayub paham tentang keagungan Allah, bahkan Ayub menyadari bahwa pemahamannya tentang keagungan Allah belum tuntas (26:5-14). Bisa dikatakan bahwa nasihat Bildad itu salah alamat,sehingga nasihat itu tidak berguna. Yang menjadi lubang dalam pemahaman Bildad adalah bahwa Bildad tidak membicarakan (atau tidak tahu) bahwa Allah yang agung itu adalah Allah yang menghargai manusia yang hina (Bandingkan dengan Mazmur 8, terutama 8:5). Perkataan Ayub bahwa Allah “tidak memberi keadilan” dan “memedihkan hati” (27:2) harus dipandang sebagai keluhan yang didasarkan pada ketidakpahaman atas kesengsaraan yang menimpa dirinya, bukan sikap memberontak kepada Allah. Sekalipun mengalami kesengsaraan, Ayub tetap berusaha mempertahankan kesalehan hidupnya (27:2-6). Penjelasan Ayub tentang nasib buruk orang fasik (27:7-23) menunjukkan bahwa Ayub tidak menyangkal kemungkinan bahwa Allah menghukum orang fasik. Yang dilawan Ayub adalah pandangan bahwa orang yang mengalami kesengsaraan pastimerupakan orang yang telah melakukan dosa atau kejahatan.

Memberi nasihat yang baik kepada orang lain merupakan tindakan terpuji. Akan tetapi, nasihat yang baik saja belum memadai! Bila hendak memberi nasihat, nasihat kita bukan hanya harus benar isinya, tetapi juga harus tepat sasaran. Sebagian perkataan teman-teman Ayub merupakan pernyataan yang benar. Akan tetapi, saat dilontarkan kepada Ayub, pernyataan itu salah sasarankarena penerapannya tidak cocok. Akar masalahnya jelas: Teman-teman Ayub tidak mau menyimak penjelasan Ayub dengan sikap terbuka, melainkan mereka hendak memaksakan pendapat atau keyakinan mereka pada diri Ayub!

Apakah Anda sering memberi nasihat kepada orang lain? Sebelum memberi nasihat, apakah Anda sudah benar-benar berusaha memahami persoalan yang sedang dihadapi oleh orang yang hendak Anda nasihati? Ingatlah bahwa nasihat yang berguna bukan nasihat yang sekedar isinya benar, melainkan nasihat yang tepat dengan kondisi yang sedang dihadapi. Nasihat yang tidak tepat bukan hanya tidak berguna, melainkan bisa melukai hati orang yang hendak Anda beri nasihat. [P]




January 28, 2019, 06:06:41 AM
Reply #1747
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Memakai Hikmat dan Akal Budi
Posted on Minggu, 27 Januari, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca: Ayub 28-29

Pembicaraan Ayub dengan Elifas, Bildad, dan Zofar telah berakhir di pasal 27. Di pasal 28, Ayub membicarakan tentang di mana atau bagaimana kita bisa memperoleh hikmat dan akal budi atau pengertian (28:12, 20). Hikmat dan akal budi adalah kunci untuk menghadapi masalah penderitaan. Hikmat dan akal budi berbeda dengan barang. Kita bisa mencari tempat yang tepat untuk bisa memperoleh emas, perak, atau batu permata, tetapi kita tidak bisa menemukan tempat tertentu yang menyediakan hikmat dan akal budi. Hikmat dan akal budi hanya dimiliki oleh orang yang hidup dalam takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Ayub adalah seorang yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan (1:1). Orang yang takut akan Allah adalah orang yang selalu berusaha melakukan kehendak Allah karena dia tidak mau menyakiti hati Allah. Karena kehendak Allah selalu baik, maka orang yang memiliki hikmat pastilah menjauhi kejahatan. Penerapan hikmat dan akal budi ini nampak jelas dalam pengalaman hidup Ayub yang diuraikan dalam pasal 29. Oleh karena itu, wajar bila Ayub merasa kesal saat ketiga temannya menuduh Ayub sebagai seorang fasik (orang yang tidak mempedulikan kehendak Allah) yang dihukum Allah karena melakukan kejahatan.

Bila benar bahwa Ayub adalah seorang yang hidup dalam takut akan Allah dan menjauhi kejahatan, mengapa Ayub harus menderita sengsara? Pertanyaan semacam ini bukan hanya pertanyaan Ayub, melainkan juga pertanyaan banyak orang beriman di sepanjang zaman. Adanya orang benar yang menderita merupakan kenyataan yang harus diakui! Jawaban atas pertanyaan itu adalah bahwa penderitaan orang beriman bersifat sementara. Penderitaan bukanlah akhir dalam riwayat hidup seorang yang sungguh-sungguh hidup dalam takut akan Allah. Allah selalu memiliki rencana yang positif bagi setiap orang beriman. Setelah penderitaan berakhir, penghiburan dan sukacita akan menyongsong, di dunia saat ini atau di dunia yang akan datang.

Bagaimana sikap Anda saat Anda mengalami bencana, kegagalan, kehilangan, dan hal-hal lain yang bersifat negatif? Apakah Anda telah membiasakan diri untuk memandang penderitaan itu sebagai hanya bersifat sementara karena kita memiliki pengharapan yang menyangkut kehidupan di masa depan? Ingatlah selalu bahwa rancangan Allah selalu menyangkut kebaikan bagi orang beriman. [P]



January 29, 2019, 05:30:51 AM
Reply #1748
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Taat karena Firman
Posted on Senin, 28 Januari, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Yosua 8:1-29

Bangsa Israel baru saja mengalami kekalahan saat menyerang kota Ai. Seketika, keberanian mereka menciut. Padahal secara jumlah, penduduk Israel jauh lebih banyak dibandingkan penduduk kota Ai. Mereka seolah kehilangan kepercayaan bahwa Tuhan menyertai.

Setelah dosa Akhan terselesaikan, Tuhan pun berniat memulihkan bangsa Israel. Tuhan menyatakan niat kepada Yosua bahwa Dia akan memberikan kota Ai kepada Israel (1-2).

Janji itu membuat Yosua kembali bersemangat. Dia mengerahkan tiga puluh ribu pahlawan-pahlawannya (3). Dibanding serangan pertama, jumlah ini sepuluh kali lipatnya. Israel sepertinya ingin mengerahkan semua kemampuan terbaiknya. Itu menunjukkan bahwa keyakinan mereka sudah mulai pulih. Firman Tuhan menyegarkan kembali semangat yang mulai kendur.

Kali ini, bangsa Israel menjaga kekudusan dan taat kepada perintah Tuhan (8). Setelah melalui pertempuran dengan strategi jitu (10-22), kota Ai pun berhasil direbut. Semua perintah Tuhan pun mereka lakukan dengan sempurna (24-29).

Bangsa Israel tampaknya belajar dari kegagalan mereka. Mereka disadarkan bahwa raihan kemenangan bukan karena kuat dan gagah, melainkan Tuhanlah yang berperan sebagai faktor penentu. Tuhan yang berperang untuk umat-Nya, bukan sebaliknya.

Melalui kisah ini, ada dua hal yang bisa menjadi perenungan kita. Pertama, ketika Yosua tawar hati, Firman Tuhan menyemangatinya kembali. Dia bangkit dari keterpurukannya. Jadi, kepercayaan dirinya dibangun di atas Firman Tuhan. Kedua, firman itulah yang menjadi pendorong ketaatan bangsa Israel. Artinya, sumber ketaatan adalah Firman Tuhan, bukan dari yang lain.

Sudahkah firman Allah menjadi sumber utama semangat kita? Apa motivasi utama kita menaati-Nya? Apakah karena iming-iming imbalan dibalik ketaatan itu? Ataukah karena mencintai firman Allah?

Doa: Tuhan, ajari kami untuk selalu hidup dengan penuh ketaatan kepada-Mu. [RD]







Mengingat Maksud Baik Allah
Posted on Senin, 28 Januari, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca: Ayub 30

Keadaan Ayub yang terpuruk dalam pasal 30 amat kontras dengan keadaan masa jaya yang diuraikan dalam pasal 29. Sebelumnya, Ayub adalah seorang yang memiliki keluarga harmonis, kaya, dan amat terhormat (pasal 29). Akan tetapi, malapetaka membuat dia kehilangan segala-galanya. Dari keadaan amat terhormat, dia menjadi orang yang hina: miskin, diremehkan, dan ditertawakan (pasal 30). Ayub merasa ditinggalkan (diabaikan), bukan hanya oleh orang-orang yang sebelumnya mengelu-elukan dia, tetapi juga oleh Allah (30:20). Bisa dikatakan bahwa malapetaka yang menimpa Ayub membuat dia terhempas dari puncak kejayaan ke keadaan yang paling sengsara. Apa yang terjadi pada diri Ayub itu merupakan realita yang bisa menimpa siapa saja. Ada orang kaya yang bisa menjadi miskin dalam sekejap mata, entah karena terjadi krisis moneter, ditipu, kalah judi, atau karena penyebab lainnya. Ada orang yang mendadak kehilangan orang-orang yang dikasihinya karena terjadi kecelakaan atau bencana alam. Pendek kata, penderitaan seperti yang dialami oleh Ayub itu bisa dialami oleh siapa saja!

Apakah Anda pernah mengalami malapetaka seperti yang dialami oleh Ayub? Bagaimana Anda akan bersikap bila Anda mengalami malapetaka? Apakah Anda tetap bisa mempertahankan iman? Sungguh, tidak mudah untuk tetap mempertahankan iman bila kita berada dalam keadaan seperti Ayub. Satu-satunya penghiburan adalah bahwa kita harus mengingat kesengsaraan Tuhan Yesus yang Dia jalani untuk menebus dosa kita. Pengorbanan Tuhan Yesus merupakan jaminan bahwa Allah tetap mengasihi kita. Ingatlah, “Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?” (Roma 8:32). Kita harus mengingat bahwa Allah senantiasa memiliki rencana yang baik bagi kita di masa depan. Malapetaka pun seringkali dipakai Tuhan untuk mengajarkan hal yang amat penting dalam kehidupan. Misalnya, kehilangan akan menolong kita untuk memahami bahwa Tuhan lebih penting daripada semua hal lain di dunia ini. Setelah malapetaka berakhir, kita akan bisa berkata, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Roma 8:28). [P]



January 30, 2019, 05:29:37 AM
Reply #1749
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Menjaga Kesalehan Hidup
Posted on Selasa, 29 Januari, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca: Ayub 31

Keinginan Ayub untuk membela diri di hadapan Allah tidak boleh ditafsirkan sebagai sikap memberontak kepada Allah. Kita perlu memahami bahwa masyarakat masa itu berkeyakinan bahwa penderitaan merupakan wujud hukuman Allah. Ayub pun juga memiliki pemahaman yang sama.Akan tetapi, karena Ayub tidak merasa bersalah, dia menjadi kebingungan saat dia tertimpa berbagai bencana yang dahsyat. Oleh karena itu, pembelaan diri Ayub harus dipahami sebagai keinginan untuk mencari penjelasan tentang mengapa dia harus mengalami penderitaan. Dalam pasal 31 ini, Ayub mengemukakan bahwa dia tidak bersalah dalam berbagai hal, bukan hanya menyangkut perbuatan, tetapi juga menyangkut pikiran (31:1, 9). Dia bukan hanya mempertahankan kehidupan moral yang bersih, tetapi dia juga melaksanakan kewajiban sosialnya (31:13-22, 31-32). Ayub juga mengemukakan bahwa dia tidak gila harta (31:24-25) dan tidak menyembah ilah lain (matahari, bulan; 31:26-27). Terhadap orang yang bersikap memusuhi pun, Ayub tetap bersikap baik (31:30). Ayub tidak pernah melalaikan tanggung jawabnya (31:38-40).

Tidak mudah bagi kita untuk menemukan orang yang baik dan sungguh-sungguh berusaha menjaga kesucian hidup seperti Ayub. Sekalipun sudah berusaha menempuh kehidupan yang baik, Ayub tetap saja tidak bebas dari kesengsaraan. Oleh karena itu, jelas bahwa penderitaan bisa menimpa siapa saja: orang jahat maupun orang baik, orang miskin maupun orang kaya. Sekalipun demikian, kita tidak boleh menyimpulkan bahwa menempuh kehidupan yang baik itu tidak ada manfaatnya. Bila kita menjalani kehidupan yang baik, berarti bahwa kita sedang mengikuti kehendak Allah, dan kita bisa memiliki keyakinan bahwa Allah bisa memakai peristiwa apa pun (termasuk penderitaan) untuk mendatangkan kebaikan terhadap diri kita (Roma 8:28).

Pada zaman ini, nilai moral masyarakat menjadi semakin kacau. Hal-hal yang pada zaman dulu dianggap tabu sekarang dilakukan secara terang-terangan. Koruptor yang tertangkap tangan pun bisa melambaikan tangan sambil melempar senyum. Dalam situasi semacam ini, orang beriman perlu meneladani Ayub untuk menjalani kehidupan yang baik dan saleh (sesuai dengan kehendak Tuhan). Bila Anda ingin agar hidup Anda diperkenan Tuhan, jangan takut menderita! Apakah Anda berani menentang arus dengan selalu berusaha menjaga kesucian hidup? [P]



 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)