Author Topic: Saat Teduh  (Read 65680 times)

0 Members and 2 Guests are viewing this topic.

January 31, 2019, 05:28:56 AM
Reply #1750
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23720
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Allahku Luar Biasa!
Posted on Rabu, 30 Januari, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Yosua 10:1-43

Catatan panjang sejarah manusia merekam banyak peristiwa. Selain tragedi, sejarah juga menyuguhkan kepada kita kisah yang mencengangkan. Kita dihipnotisnya dengan kekaguman lantaran sejarah menyajikan banyak peristiwa yang melampaui nalar. Sejarah, terkadang, memaksa kita untuk mengakui ada tangan yang tidak terlihat sedang bekerja.

Sejarah orang Israel membuktikan ini. Orang Gibeon mendapat ancaman dan intimidasi dari raja-raja di sekitar wilayah mereka (3-4). Mereka berencana untuk memerangi Gibeon. Kondisi ini membuat orang Gibeon datang kepada Yosua untuk meminta bantuan (6). Yosua tidak bisa menolak ini sebab sudah ada ikatan perjanjian di antara mereka. Dia tidak punya pilihan, sehingga dia dan bala tentaranya pergi maju ke medan perang (7).

Yosua maju bertempur dengan memegang janji Tuhan bahwa semua lawannya akan takluk (8). Betul saja, Tuhan selalu menepati janji-Nya. Hujan batu dikirimkan untuk membunuh musuh Israel (11). Bahkan, matahari bisa berhenti karena Yosua memintanya kepada Tuhan (12-14). Yosua mengatakan semua itu berasal dari Tuhan yang berperang bersama mereka (25). Sisa ceritanya sudah kita ketahui bahwa Israel berhasil mengalahkan semua lawan-lawannya (42).

Tuhan kerap bekerja di luar akal sehat kita. Bagaimana mungkin hujan batu bisa turun dari langit? Bagaimana mungkin matahari berhenti? Dalam dunia modern, keajaiban sepertinya masih sering terjadi walau dengan nuansa berbeda.

Misalnya, kita pasti pernah mendengar kesaksian dari orang yang selamat dari marabahaya. Katakanlah seseorang itu mengalami kecelakaan atau bencana alam. Walau dalam kalkulasinya orang itu seharusnya tidak selamat, namun kenyataan berbicara sebaliknya. Ini menegaskan bahwa ada tangan yang tak kelihatan sedang bekerja. Tuhan memang sering bekerja melampaui nalar sehat manusia.

Doa: Tuhan, kami berterima kasih karena penyertaan-Mu selalu hadir dengan cara yang tak terduga. [KT]







Menghadapi Perubahan
Posted on Rabu, 30 Januari, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Yosua 9:1-27

Perubahan adalah sesuatu yang pasti dalam sejarah kehidupan manusia. Setiap orang meresponsnya dengan cara beragam pula. Ada yang siap dan menerimanya. Namun, ada juga yang kesulitan beradaptasi dengannya. Bagi yang sigap menyesuaikan diri, perubahan akan mendatangkan kemajuan. Sebaliknya, mereka yang lambat akan tergilas perubahan itu sendiri.

Perubahan sedang terjadi dalam kehidupan orang Gibeon. Sejak mengetahui kehadiran orang Israel, mereka menjadi gentar. Pasalnya, mereka sudah mendengar apa yang dilakukan orang Israel di Yerikho dan Ai (3). Apalagi, mereka mendengar bahwa orang Israel juga akan menghampiri wilayah mereka. Mereka menjadi ketakutan.

Untuk mengatasi itu, mereka mencoba memasang akal (4). Mereka ingin memohon belas kasihan kepada Israel. Bagaimana caranya? Dengan pakaian compang-camping, mereka mendatangi Yosua (6). Mereka mengaku datang dari tempat jauh. Mereka mengatakan sudah mendengar kabar tentang kebesaran Tuhan (9). Karena itu, mereka ingin mengikat perjanjian dengan Israel (11). Mereka menyerahkan segala harta milik sebagai bukti penyerahan diri (12-13).

Tanpa meminta persetujuan Allah, Israel langsung menyetujui perjanjian itu (14). Akhirnya, mereka pun mengikat persahabatan (15).

Baru tiga hari kemudian, Yosua baru sadar bahwa orang Gibeon telah membohonginya (16). Ternyata, mereka datang bukan dari tempat jauh, namun dari tengah-tengah wilayah itu. Namun, karena sudah sudah terlanjur mengikat perjanjian, Yosua tidak bisa memusnahkan mereka (19). Akhirnya, Yosua mengutuk orang Gibeon menjadi tukang belah kayu dan timba air selamanya (23).

Kisah ini mengajarkan kita tentang menyikapi perubahan. Bagaimana cara kita merespons perubahan? Apakah kita seperti orang Gibeon yang menanggapinya dengan rasa takut? Atau seperti orang Israel yang tidak meminta keputusan Tuhan terlebih dahulu?

Doa: Tuhan Yesus, bimbinglah kami agar bijaksana dalam menyikapi segala perubahan. [KT]



January 31, 2019, 05:29:39 AM
Reply #1751
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23720
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Firman Penuntun Hidup
Posted on Rabu, 30 Januari, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Yosua 8:30-35

Fungsi utama Yosua bukanlah sebagai panglima perang. Allah menunjuknya sebagai pemimpin bangsa Israel agar mereka hidup berkenan di hadapan-Nya. Oleh karena itu, setelah merebut kota Ai, dia tidak langsung melanjutkan perang berikutnya. Dia memilih untuk membangun mazbah bagi Tuhan (30). Dalam hal ini, Yosua mengikuti teladan Musa (31).

Di atas batu mazbah, Yosua menuliskan salinan hukum Musa (32). Seluruh orang Israel menyaksikan tindakannya (33). Kemudian, dia membacakan segala isi hukum itu (34). Alkitab mencatat; Yosua dengan rinci mengucapkan semua perintah Musa. Seluruh umat Israel pun mendengarnya dengan saksama (35).

Yosua melakukan hal ini untuk mengingatkan bangsa Israel akan Firman Tuhan. Bagian terutama bukan perkara menang di dalam perperangan, melainkan relasi antara Israel dan Tuhan. Relasi itu tampak dalam sejauh mana orang Israel mematuhi hukum Taurat. Itulah sebabnya Taurat menjadi sentral bagi kehidupan umat.

Dalam keseharian, kita mungkin sibuk dengan banyak hal. Kita berambisi untuk mewujudkan cita-cita atau mengejar karier. Kita menyerahkan totalitas waktu serta tenaga untuk meraih sebanyak mungkin prestasi. Namun, pernahkah kita berdiam diri sejenak dan bertanya, “Inikah tujuan hidupku?”

Tentu saja, semua impian itu tidak salah. Namun, itu menjadi penyimpangan jika seluruh daya kita arahkan ke situ dan melupakan Tuhan. Semua kerja akan sia-sia jika menyedot persekutuan kita dengan Tuhan. Seperti orang Israel, tujuan utama Tuhan menciptakan manusia adalah agar bersatu dengan Dia.

Tindakan Yosua adalah sebuah teladan. Dia mengerti betul menjaga keseimbangan hidup. Dia bisa menjaga porsi antara mencukupi makanan rohani dan mengejar cita-cita. Dia tidak terjebak pada yang satu, kemudian melalaikan yang lain.

Sudahkah kita tetap seimbang dalam perjalanan hidup sehari-hari?

Doa: Tuhan, berikan kami kemampuan agar seimbang dalam setiap kehidupan ini. [RD]







Konsekuensi
Posted on Rabu, 30 Januari, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Yosua 7

Sesudah peristiwa tembok Yerikho, bangsa Israel tampak semakin percaya diri untuk memasuki tanah perjanjian. Kali ini, mereka akan masuk ke kota Ai yang dihuni orang Amori. Setelah melakukan pengintaian, mereka memutuskan dua atau tiga ribu saja yang akan menggempur (2). Menurut laporan, penduduk di sana sangat sedikit (3). Jadi, cukup logis jika tidak seluruh bangsa datang untuk menyerang kota Ai.

Tiga ribu orang Israel berangkat untuk melaksanakan misi itu. Namun, apa yang terjadi? Mereka malah dipukul balik, bahkan melarikan diri (4). Dari pihak Israel jatuh tiga puluh enam korban (5). Rakyat kota Ai berhasil mempermalukan bangsa Israel. Bahkan, mereka dibuat lari tunggang-langgang.

Kenyataan ini membuat Yosua tawar hati. Dia mengoyak jubahnya sebagai tanda perkabungan yang mendalam (6). Dia sujud di hadapan tabut Tuhan untuk menunggu jawaban mengapa ini bisa terjadi.

Akhirnya, Tuhan pun membuka suara-Nya (10). Tuhan menunjukkan penyebab kekalahan telak itu adalah bangsa Israel telah berbuat dosa (11). Seseorang yang bernama Akhan telah mencuri barang-barang yang dikhususkan dan membuat Tuhan berpaling dari Israel. Akhan mengakui perbuatannya (20-21), lalu dia mati dirajam dan semua barang itu dibakar (22-25).

Peristiwa ini mengajarkan kita satu prinsip penting mengenai relasi individu dan komunal. Lewat Akhan, kita melihat bahwa keputusan individu ternyata memengaruhi kondisi komunal. Dosa Akhan, bahkan berdampak pada nasib sebuah bangsa. Artinya, setiap tindakan kita sebagai individu memiliki konsekuensi serius kepada orang banyak.

Pelajaran ini mengajak kita agar lebih hati-hati dalam bertindak. Setidaknya, ini membangun kesadaran supaya kita lebih matang sebelum memutuskan melakukan sesuatu. Kita harus mempertimbangkan dengan serius efek yang timbul. Dampaknya bisa saja merugikan keluarga atau kerabat terdekat kita.

Doa: Tuhan, beri kami kemampuan untuk berhati-hati dalam setiap tindakan dan keputusan. [RD]


January 31, 2019, 05:30:21 AM
Reply #1752
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23720
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Sikap Bijaksana dalam Berdiskusi
Posted on Rabu, 30 Januari, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca: Ayub 32-33

Elihu adalah seorang yang bijaksana. Dia bersedia mendengarkan diskusi dengan sabar (32;11)—tanpa melakukan interupsi—saat terjadi pembicaraan antara Ayub dan ketiga temannya (Elifas, Bildad, dan Zofar). Elihu berusaha untuk bersikap tidak memihak saat terjadi silang pendapat antara Ayub dan ketiga temannya (32:21-22). Ia marah kepada Ayub karena Ayub menganggap dirinya lebih benar daripada Allah (32:2). Sebaliknya, dia juga marah kepada ketiga sahabat Ayub yang mempersalahkan Ayub secara membuta, tanpa bisa mengemukakan alasan yang tepat (32:3, 12). Sebagai seorang yang paling muda, sikap Elihu sangat tepat: Dia tidak mau menggurui orang-orang yang lebih tua! Dia memperhatikan pembicaraan antara Ayub dengan ketiga temannya sampai pembicaraan tersebut berakhir, sehingga dia bisa menyimpulkan secara tepat (32:4-16). Elihu meyakini bahwa hikmat yang sejati berasal dari Allah (32:8-9, 13). Oleh karena itu, walaupun semula dia ragu-ragu untuk ikut bicara karena dia adalah orang yang paling muda, akhirnya dia memiliki ketetapan hati bahwa dia harus ikut berbicara (32:6-7, 10, 16-20; 33:1-5). Dalam mengemukakan pendapatnya, Elihu memegang beberapa prinsip penting:

Pertama, dia berjanji untuk bersikap netral dan berbicara apa adanya (32:21-22; 33:3).

Kedua, dia menempatkan dirinya sejajar dengan Ayub yang menjadi lawan bicaranya. Dia berjanji untuk tidak asal menyerang. Bila ternyata bahwa dia salah dan Ayub lebih benar, dia berjanji untuk bersedia mengakuinya (33:6-7, 32).

Ketiga, dia mengemukakan bahwa ia telah memperhatikan dengan saksama pembicaraan antara Ayub dengan ketiga temannya, sehingga ia bisa merumuskan dengan tepat apa yang menjadi pokok persoalan (33:8-11) dan ia tidak mengulang argumentasi yang telah dikemukakan sebelumnya dalam diskusi tersebut(33:12-30)

Sikap Elihu dalam berdiskusi dengan Ayub yang usianya lebih tua merupakan sikap yang patut dipuji dan dijadikan teladan. Bagaimana sikap Anda saat Anda berdiskusi? Apakah Anda telah membiasakan diri untuk menghargai lawan bicara Anda? Apakah Anda telah membiasakan diri untuk mendengar dengan saksama sebelum mengemukakan pendapat Anda? Apakah Anda bersedia menghindarkan sikap “asal saya menang”, bahkan bersedia mengaku salah bila ternyata bahwa yang benar adalah pendapat lawan diskusi Anda? [P]
February 01, 2019, 05:36:06 AM
Reply #1753
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23720
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Pemahaman Kita Belum Utuh!
Posted on Kamis, 31 Januari, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca: Ayub 34-35

Bila ketiga teman Ayub yang lain (Elifas, Bildad, dan Zofar) menuduh Ayub secara membuta (tidak berdasarkan fakta), Elihu menyerang Ayub berdasarkan perkataan Ayub sebelumnya. Dia mengkritik Ayub yang beranggapan bahwa Allah salah karena telah berlaku tidak semestinya terhadap dirinya dan bahwa tidak ada gunanya hidup berkenan kepada Allah (34:5-9). Elihu membela keadilan Allah dengan mengatakan bahwa Allah tidak bisa disebut curang karena Dialah yang menopang kehidupan di bumi ini (34:10-15). Allah adalah Pemegang kekuasaan yang tidak memihak siapa pun (34:16-20). Allah itu mahatahu, sedangkan pengetahuan Ayub amat terbatas (34:21-37). Sayangnya, Elihu juga membuat tuduhan yang berlebihan, yaitu dia mengatakan bahwa Ayub “mencari persekutuan dengan orang-orang yang melakukan kejahatan dan bergaul dengan orang-orang fasik” (34:8). Bila Ayub mengeluh karena penderitaan hebat yang dialaminya, tidak perlu Elihu menuduh bahwa keluhan itu merupakan pengaruh pergaulan dengan orang jahat dan orang fasik (orang yang tidak mempedulikan Tuhan). Walaupun benar bahwa “Ayub berbicara tanpa pengetahuan, dan perkataannya tidak mengandung pengertian” 34:35), tidak tepat bila Elihu mengatakan bahwa Ayub “menjawab seperti orang-orang jahat” (34:36). Perkataan Ayub disebabkan karena penderitaan yang dialaminya, bukan karena pengaruh pergaulan. Selanjutnya, dalam pasal 35, Elihu mencela Ayub yang membenarkan diri di hadapan Allah. karena sesungguhnya kebaikan atau kejahatan manusia tidak mempengaruhi Allah, melainkan mempengaruhi manusia.

Di 35:16, Elihu mengatakan bahwa Ayub berbicara tanpa pengertian. Akan tetapi, sebenarnya, memang seluruh diskusi yang terjadi di antara Ayub dengan semua teman-temannya ini dilakukan tanpa pengertian yang utuh! Elihu pun tidak memiliki pengertian yang utuh! Saat berusaha memahami tentang penderitaan yang dialami manusia, kita harus menyadari bahwa pengertian kita terbatas. Tidak mungkin kita memahami hikmat Allah secara utuh. Yang harus kita lakukan adalah mempercayai bahwa Allah itu baik dan adil walaupun kebaikan dan keadilan Allah itu tidak kita pahami sepenuhnya. Saat Anda mengalami keadaan yang buruk, apakah Anda bisa tetap mempercayai Allah? Saat kita bertemu dengan Tuhan Yesus, barulah semua hal menjadi jelas. [P]



February 02, 2019, 06:20:13 AM
Reply #1754
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23720
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Semua Hanya karena Anugerah
Posted on Jumat, 1 Februari, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Yosua 11:15-23

Setiap kisah pasti punya akhir. Ada yang berakhir tragis, ada juga yang berakhir manis.

Akhirnya, rangkaian pertempuran bangsa Israel berkesudahan. Perang berhenti (23). Yosua berhasil merebut seluruh negeri (16). Semua rajanya ditangkap dan dibunuhnya (17). Tidak ada satu kota pun yang mengikat persahabatan dengan Israel kecuali orang Gibeon (19). Singkatnya, Tuhan telah membuat Israel menjadi penguasa atas wilayah itu.

Kisah Israel berakhir bahagia. Akan tetapi, hal itu tidak didapat dengan mudah. Mereka melewati waktu yang cukup lama untuk meraih kegemilangan (18). Kita membaca dalam Kitab Yosua bahwa perjalanan Israel penuh dengan dinamika. Petualangan mereka diselingi oleh pasang-surut dan suka-duka. Kadang, mereka dimurkai Tuhan, tetapi tidak sedikit keajaiban dan kebaikan-Nya yang mereka rasakan. Semua itu mereka lalui bersama.

Dari seluruh pergolakan itu, ada satu yang tetap sama, yaitu Tuhan selalu ada bersama Israel. Dia selalu setia dalam segala situasi. Ini menandakan pencapaian Israel hanyalah anugerah semata. Segudang prestasi Yosua merupakan belas kasihan Tuhan semata.

Kita dan Israel menyembah Tuhan yang sama. Dia tidak berubah. Kesetiaan-Nya tidak akan lekang oleh waktu. Jika Dia setia dengan Israel, maka Dia pun setia terhadap kita. Artinya, Dia juga akan menyertai dalam lika-liku kehidupan kita. Dia tidak akan pernah meninggalkan kita.

Kita tidak tahu bagaimana akhir kehidupan ini. Bagi manusia, masa depan merupakan sebuah misteri. Pengetahuan tentang waktu hanya milik Tuhan. Namun sejarah Israel menunjukkan, jika Tuhan bersama kita, sukacita akan menjadi akhir kisah hidup kita. Dia mungkin akan menempa kita dengan banyak pelajaran. Bertahanlah! Tuhan melakukan itu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita. Setialah sampai akhir karena anugerah dari Tuhan selalu mendatangkan penghiburan.

Doa: Tuhan, terima kasih karena anugerah-Mu selalu hadir dalam setiap pergulatan hidup kami. [KT]







Peka dan Taat
Posted on Jumat, 1 Februari, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Yosua 11:1-15

Setiap orang pasti pernah melewati masa penuh krisis.. Berbagai masalah datang bertamu dan membuat hidup kita terasa berat. Dari kawanan persoalan itu, ada saja perkara yang sepertinya tak punya jalan keluar. Persoalan besar datang menghimpit dan melahirkan rasa pesimis. Dalam kesunyian dan dari hati yang khawatir, kita menjerit kepada Tuhan mencari pertolongan.

Yosua juga mengalami kondisi serupa. Kabar tentang betapa hebat Israel dalam berperang tersiar. Ini membuat banyak kerajaan membangun koalisi untuk mengalahkan Israel (1-3). Mereka semua menggabungkan kekuatan untuk sama-sama menaklukkan Israel. Alkitab mencatat tentara yang terkumpul banyaknya seperti pasir di laut (4). Kekuatan seperti ini pasti menggetarkan hati Yosua.

Namun, Tuhan berfirman kepada Yosua, “Jangan takut” (6). Tuhan berjanji akan menyerahkan semua lawan-lawan Israel. Kemudian, Tuhan memberikan firman kepada Yosua. Yosua melakukan semua perintah Tuhan dan tidak satu pun terabaikan (15). Hasilnya, dia berhasil meraih kemenangan (7-14).

Pengalaman Yosua menunjukkan bahwa Tuhan lebih besar dari setiap permasalahan. Fakta ini membuat Yosua menjadi tenang kala berhadapan dengan kekuatan besar musuh. Dia menjadi berani karena Tuhan menjamin keselamatannya. Dia percaya penuh pada firman-Nya dan menjalankannya dengan sempurna.

Ketaatan Yosua tidak bersandar pada janji kemenangan dari Tuhan. Sebaliknya, kepatuhan itu bersumber dari pribadi Tuhan itu sendiri. Yosua patuh karena dia mengenal Tuhan yang memberi perintah, bukan karena iming-iming hadiah. Ketaatan akhirnya mensyaratkan sebuah keintiman relasi antara manusia dan Tuhan. Hanya dengan mengenal Dia, maka ketaatan murni bisa dilakukan.

Saat menghadapi masalah hidup, kita perlu meneladani Yosua. Solusi sejati terletak pada kepekaan kita mendengar firman Allah dan menaatinya.

Doa: Tuhan, ajar kami untuk peka dan taat pada firman-Mu. [KT]



February 02, 2019, 06:20:50 AM
Reply #1755
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23720
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


...

Mengenal Allah dalam Penderitaan
Posted on Jumat, 1 Februari, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca: Ayub 36-37

Dalam rangkaian perkataan Elihu yang terakhir, Elihu terlalu berani berbicara “demi Allah” (mewakili Allah, 36:2). Walaupun banyak perkataannya yang baik dan benar, pemahaman Elihu terbatas, sehingga rasa percaya diri Elihu terlihat berlebihan. Sekalipun demikian, niat Elihu untuk membela keadilan Allah adalah keinginan yang baik. Di samping tentang keadilan Allah,Elihu mengemukakan bahwa Allah itu perkasa, namun manusia tidak dipandang rendah (36:5). Allah itu mulia dalam kekuasaan-Nya (36:22). Kebesaran Allah sebagai Sang Pencipta alam semesta yang mahakuasa dan mahatahu tak terjangkau oleh pikiran kita (36:26-37:24). Walaupun tuduhan Elihu terhadap Ayub keliru (36:17, 21), ada hal-hal baik yang ia kemukakan tentang orang yang sedang mengalami kesengsaraan.

Pertama, ia mengemukakan bahwa Allah akan memberi keadilan kepada orang yang sengsara (36:6). Kata-kata semacam ini adalah kata-kata yang bisa membangun semangat.

Kedua, Elihu mengemukakan konsep penderitaan sebagai sarana bagi Allah untuk mendidik umat-Nya (36:8-12, 15). Dalam hal ini, Elihu memperkenalkan Allah sebagai Guru yang luar biasa (36:22).

Saat mengalami penderitaan, penting bagi kita untuk mengenal Allah secara benar. Bila pengenalan kita akan Allah keliru, kita bisa menyalahkan Allah atas penderitaan yang kita alami. Kita harus senantiasa meyakini bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu yang baik, bukan Pencipta kejahatan atau penderitaan. Kejahatan dan penderitaan bukanlah inisiatif Allah. Bila Allah membiarkan terjadinya kejahatan dan penderitaan, Allah pasti memiliki maksud baik. Kita harus senantiasa mencari tahu maksud baik Allah melalui penderitaan yang kita alami. Jangan sampai kita beranggapan bahwa Allah mengabaikan diri kita. Bila Allah belum bertindak untuk menolong, janganlah kita menganggap Allah tidak mampu menolong. Kita harus mempercayai hikmat Allah yang jauh melampaui kemampuan kita untuk memahami apa yang terjadi atas hidup kita. Bagaimana sikap Anda terhadap Allah saat Anda mengalami penderitaan, baik berupa kegagalan (dalam usaha, pekerjaan, studi, dan sebagainya) maupun kehilangan (kesehatan, keluarga, teman baik, dan sebagainya)? Apakah Anda bisa selalu melihat kebaikan Allah dan Anda dapat mempercayai Allah walaupun belum mengerti mengapa Allah membiarkan Anda mengalami penderitaan? [P]




February 03, 2019, 05:07:32 AM
Reply #1756
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23720
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Jawaban TUHAN yang Tak Terduga
Posted on Sabtu, 2 Februari, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca: Ayub 38

Akhirnya TUHAN menjawab keluhan Ayub? Akan tetapi, mungkin kita merasa bingung terhadap jawaban TUHAN karena TUHAN sama sekali tidak menjelaskan penyebab penderitaan yang dialami Ayub. Sebaliknya, TUHAN memaparkan keterbatasan pengetahuan Ayub. Dalam pasal ini, TUHAN banyak mengajukan berbagai pertanyaan tentang alam semesta. Pertanyaan yang diajukan TUHAN itu merupakan jenis pertanyaan retoris atau pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban (karena jawabannya sudah jelas). TUHAN memaparkan bahwa Dia adalah Perancang dan Pencipta alam semesta ini, sedangkan Ayub sama sekali tidak mengerti tentang proses terbentuknya alam semesta. Pemaparan TUHAN tentang alam semesta menegaskan bahwa pengetahuan Ayub amat terbatas! Apa kaitan antara jawaban TUHAN ini dengan penderitaan yang dialami Ayub? Jawaban TUHAN menunjukkan bahwa Ia menginginkan agar Ayub menerima keadaan yang dialaminya tanpa mempersoalkan mengapa dia mengalami keadaan itu! Jawaban TUHAN yang tidak memberi penjelasan merupakan petunjuk bagi mereka yang dilahirkan dalam keadaan miskin, cacat, atau berada dalam situasi buruk untuk menerima keadaan tanpa mengajukan protes kepada TUHAN. Penyebab penderitaan tidak selalu kita mengerti, tetapi kita tidak boleh protes kepada TUHAN karena TUHAN bukanlah penyebab dari penderitaan. Kebijakan TUHAN di dalam penciptaan dan pengaturan alam semesta di luar kemampuan akal kita, sehingga mempertanyakan kebijakan TUHAN merupakan usaha yang sia-sia.

Apakah Anda bersedia mengakui bahwa pengetahuan Anda yang terbatas membuat Anda tidak mungkin memahami kebijakan TUHAN sampai tuntas? Apakah Anda bersedia untuk tunduk di bawah pengaturan TUHAN tanpa protes, apa pun yang terjadi dalam kehidupan Anda? Saat Anda mengalami hal-hal yang Anda anggap buruk, bersediakah Anda untuk melakukan introspeksi diri (pemeriksaan terhadap diri sendiri) dengan tetap meyakini bahwa TUHAN itu selalu baik, apa pun yang terjadi di dalam kehidupan Anda? Bila Anda bersedia untuk hidup berserah di bawah pengaturan TUHAN dan tetap berusaha melakukan seluruh kehendak-Nya di dalam kehidupan Anda, niscaya Anda akan mengalami damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal, yang tidak dimengerti oleh dunia ini (bandingkan dengan Filipi 4:6-7). [P]



February 04, 2019, 05:25:44 AM
Reply #1757
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23720
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Tunduk Kepada Hikmat Allah
Posted on Minggu, 3 Februari, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca: Ayub 39

Dalam pasal ini, TUHAN memberi tahu Ayub bahwa Dialah Sang Pemelihara semua makhluk hidup di bumi ini. TUHAN sudah mengatur dengan sedemikian bijaksana, sehingga semua makhluk hidup bisa bertahan hidup. Ayub sama sekali tidak bisa mengatur kehidupan makhluk hidup di bumi ini. Pada zaman ini pun, yang bisa dilakukan oleh para pecinta lingkungan hidup bukan mengatur alam supaya makhluk hidup (hewan) bisa tetap hidup, melainkan mengusahakan agar alam berada pada kondisi yang asli. Hewan-hewan liar yang tersesat dikembalikan ke habitatnya (lingkungannya) yang asli agar bisa bertahan hidup. Manusia tidak bisa merekayasa alam untuk membuat alam menjadi lebih baik, melainkan manusia hanya bisa berusaha agar alam tetap dalam kondisi asli yang sesuai dengan rancangan Allah. Berdasarkan kenyataan tentang hikmat Allah yang luar biasa dan kenyataan tentang ketidakberdayaan manusia, TUHAN berkata kepada Ayub, “Apakah si pengecam hendak berbantah dengan Yang Mahakuasa? Hendaklah yang mencela Allah menjawab!” (39:35). Terhadap pertanyaan tersebut, Ayub menjawab, “Sesungguhnya, aku ini terlalu hina; jawab apakah yang dapat kuberikan kepada-Mu? Mulutku kututup dengan tangan. Satu kali aku berbicara, tetapi tidak akan kuulangi; bahkan dua kali, tetapi tidak akan kulanjutkan.” (39:37-38). Ayub tunduk kepada hikmat Allah!

Apakah Anda bersedia untuk tunduk kepada hikmat Allah tanpa protes sedikit pun terhadap apa yang Allah izinkan terjadi dalam kehidupan Anda? Sesungguhnya, hidup mengikuti pengaturan TUHAN adalah hidup yang paling menyenangkan karena Dia tahu apa yang paling baik bagi kehidupan kita. Di dalam kebodohan kita, sering kali kita ingin menentukan sendiri apa yang baik bagi diri kita dan kemudian kita menemui kegagalan dan kekecewaan. Kita perlu senantiasa mengingat bahwa kita adalah makhluk yang memiliki pengetahuan terbatas. Kita hanya tahu apa yang masih dapat terjangkau oleh panca indra kita, tetapi kita sama sekali tidak bisa mengerti apa yang tidak kita lihat atau hal-hal apa yang akan terjadi di masa depan. Bagaimana mungkin kita—sebagai makhluk dengan pengetahuan yang sangat terbatas—bisa merasa lebih tahu dibandingkan Allah yang mahatahu dan mahabijak? Manusia yang bijaksana adalah manusia yang bersedia tunduk kepada hikmat Allah tanpa membantah! [P]



February 05, 2019, 05:19:54 AM
Reply #1758
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23720
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Bijaksana Menggunakan Waktu
Posted on Senin, 4 Februari, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Yosua 13:1-7

Manusia pasti menjadi tua. Kita tidak bisa melawan hukum ini. Kita akan merasakan bahwa tenaga kian berkurang, tubuh kian terasa rapuh, serta fisik semakin lemah. Usia yang makin dekat dengan ajal memaksa kita mengevaluasi diri. Apakah masih ada tugas yang belum terselesaikan?

Yosua pun memasuki tahapan usia ini. Akhirnya, dia menjadi tua dan lanjut umur (1). Namun dalam usia itu, ternyata masih ada tugas yang belum rampung. “Negeri ini masih amat banyak yang belum diduduki, ” Firman Tuhan kepadanya. Padahal, rencana Allah adalah Israel harus mengambil alih semua tanah Kanaan (6).

Yosua mungkin sudah tidak sanggup lagi berperang dan mengangkat pedang. Oleh karena itu, Tuhan mendelegasikan tugas terakhir kepadanya. Dia harus membagikan negeri ini kepada sembilan suku dan suku Manasye yang setengah. Tanah itu akan menjadi milik pusaka mereka (7).

Manusia memang tidak bisa mengalahkan waktu. Ini menunjukkan bahwa manusia tidak abadi dan terbatas. Yosua menghabiskan seluruh hidupnya melayani kehendak Allah. Bisa dikatakan, sepanjang usianya, dia konsisten berkenan di hadapan Allah. Bahkan pada usia tuanya, dia pun masih memberi diri untuk menyelesaikan tugas dari Allah. Ini menunjukkan integritas dan tanggung jawab Yosua teruji.

Pertanyaannya, dalam keterbatasan waktu, apa yang sudah kita lakukan untuk mengisinya? Apakah waktu sudah kita isi dalam menggenapi kehendak Allah? Atau, kita membunuh waktu dan membuangnya percuma lewat pekerjaan sia-sia dengan memuaskan nafsu sendiri? Atau, jangan-jangan, kita sama sekali tidak pernah berpikir dengan apa waktu ini diisi?

Kita perlu merenungkan pertanyaan ini dengan serius. Jangan sampai, nanti pada hari tua, kita merana karena penyesalan memboroskan waktu dengan percuma. Ingatlah, ada tiga hal yang tidak bisa kita tarik kembali: perkataan, kesempatan, dan waktu.

Doa: Tuhan, ajari kami menghitung hari-hari agar kami beroleh hati bijaksana. [KT]






Pergantian Pemimpin
Posted on Senin, 4 Februari, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Yosua 12:1-24

Suksesi adalah proses pergantian kepemimpinan. Dalam setiap pemerintahan, peristiwa ini lazim terjadi dengan berbagai cara. Ada sistem yang melakukan suksesi per lima tahun sekali. Dalam sistem kerajaan, tampuk kepemimpinan berikut diberikan kepada keturunan raja. Namun, ada juga pergantian dengan tiba-tiba karena rakyat menuntut demikian

Pada nas hari ini, kita melihat daftar raja-raja yang kalah terbagi dua.

Pertama, urutan raja-raja yang dikalahkan oleh Musa, hamba Tuhan itu (6).

Kedua, nama raja-raja yang dikalahkan oleh Yosua (7). Dalam hal ini, ada dua pemimpin yang melaksanakan misi untuk menguasai tanah perjanjian. Musa dan Yosua sama-sama berjasa dalam melaksanakan amanat Tuhan.

Suksesi memang menjadi bagian penting dalam mewujudkan visi dan misi. Alasannya sederhana karena umur visi dan misi jauh lebih panjang dari usia manusia. Oleh karena itu, regenerasi kepemimpinan menjadi penting. Allah telah mempercayakan tongkat estafet kepada Musa dan Allah telah menyiapkan pengganti Musa berikutnya. Bagian Musa adalah taat mengikuti visi yang berasal dari Allah. Visi ini diturunkan dari Musa kepada Yosua. Maka kesinambungan visi pun berlanjut.

Inti dari suksesi adalah orientasi total kepada visi. Musa meneruskan kepada Yosua karena dia taat pada visi Allah. Yosua pun melanjutkan visi itu dengan sempurna. Artinya, hanya visi Allah yang menjadi motivasi utama agar proses suksesi bisa berjalan lancar.

Sering kali pergantian pemimpin dalam gereja berakhir ricuh. Kadang, gereja mirip dengan pentas politik praktis yang dahaga akan hasrat untuk berkuasa. Selain memalukan, ini indikator gereja sedang mengalami degradasi moral.

Seharusnya, tidak demikian. Proses suksesi akan berjalan damai jika semua anggota meneladani Musa dan Yosua. Kita harus berorientasi kepada visi. Siapa pun pemimpinnya, selama setia pada visi Allah, kita harus total untuk mendukungnya.

Doa: Tuhan, kami memohon agar Engkau memberkati semua pemimpin agar setia pada visi-Mu. [KT]




February 05, 2019, 05:20:35 AM
Reply #1759
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23720
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


Tunduk Pada Sang Pencipta
Posted on Senin, 4 Februari, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca: Ayub 40-41

Dalam bacaan Alkitab hari ini, TUHAN memperlihatkan betapa lemahnya Ayub bila dibandingkan dengan dua makhluk ciptaan Allah, yaitu Behemot (40:10-19, dalam Alkitab Terjemahan Baru diterjemahkan sebagai “kuda Nil”) dan Lewiatan (40:20-41:25, dalam Alkitab Terjemahan Baru diterjemahkan sebagai “buaya”). Karena “kuda Nil” hidup di Mesir, bukan di Palestina, maka terjemahan “Behemot” sebagai “kuda Nil” ini meragukan. Ada ahli Perjanjian Lama yang beranggapan bahwa Behemot ini adalah makhluk dongeng yang menunjuk kepada makhluk perkasa yang hidup di darat, sedangkan Lewiatan merupakan makhluk dongeng yang menunjuk kepada makhluk perkasa yang hidup di air. Kedua makhluk perkasa (mewakili monster darat dan monster air) yang menakutkan itu adalah makhluk ciptaan Allah. Bila dibandingkan kedua makhluk itu, Ayub (manusia) secara fisik merupakan makhluk yang sangat lemah. Oleh karena itu, keberanian Ayub beranggapan bahwa Allah bersalah karena membiarkan dirinya menderita merupakan perbuatan yang keterlaluan dan tidak tahu diri.

Sebagai manusia, kita perlu menyadari bahwa sebagai makhluk ciptaan Allah, kita tidak sederajat dengan Allah. Sudah sepantasnya bila kita tunduk dan taat kepada Allah tanpa membantah. Sikap Ayub yang hendak membantah Allah merupakan sikap yang tidak patut. Syukurlah bahwa Ayub tidak mengeraskan hatinya. Setelah Allah menyatakan diri-Nya kepada Ayub, Ayub berkata, “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.” (42:5-6). Sayang bahwa ada banyak orang yang mengeraskan hati saat Allah menyatakan diri melalui firman-Nya. Orang yang tidak merasa puas dengan apa yang terjadi pada dirinya—lalu menyalahkan Allah—adalah orang yang tidak tahu diri. Kita adalah ciptaan Allah dan Allah adalah Pencipta diri kita. Tidaklah patut bila kita protes kepada Allah atas apa yang terjadi dalam hidup kita. Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda merasa bahwa diri Anda kaya, pandai, popular, dan dihormati, bahkan ditakuti oleh banyak orang, sehingga Anda beranggapan bahwa Allah pun harus menghargai diri Anda? Anda salah! Anda tidak berhak menggugat Allah karena Anda hanyalah makhluk ciptaan, sedangkan Allah adalah Sang Pencipta! [P]





 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)