Author Topic: Saat Teduh  (Read 56218 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

February 06, 2019, 05:33:07 AM
Reply #1760
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 21583
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Sumber Segala Berkat dan Kebahagiaan
Posted on Selasa, 5 Februari, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca: Mazmur 16

Imlek adalah hari raya utama dalam tradisi budaya Tionghoa. Bagi orang Tionghoa, Imlek bertepatan dengan pergantian musim dari musim dingin ke musim semi, saat bumi dan segala isinya mengalami pemulihan. Pada musim semi, tumbuh-tumbuhan kembali bermekaran.Masa menabur dan masa panen berulang kembali. Segala yang dianggap “sial” di tahun sebelumnya telah berlalu. Semua yang lama tersingkir. Di tahun yang baru, muncullah harapan baru. Dengan harapan akan memperoleh berkat di tahun yang baru, semua orang saling memberi salam dan mengucapkan kata-kata berkat setiap kali bertemu dengan sesama di hari raya Imlek. Harapan dan berkat tahun baru diungkapkan dengan pelbagai kebiasaan dan upacara yang khas di setiap daerah. Selama perayaan Imlek, orang tua sangat pantang terhadap istilah yang berkaitan dengan “mati”. Penyembelihan hewan serta memecahkan barang tidak diizinkan karena hal tersebut dianggap tidak menguntungkan dan merupakan pertanda buruk. Namun, terlepas dari apa pun pandangan terhadap ritual kebudayaan yang ada, pengharapan orang Kristen tentang “berkat serta kebahagiaan” tidak berkaitan dengan pantangan pada hari raya serta upacara tradisi. Berkat serta kebahagiaan orang Kristen hanya terletak pada iman kepercayaan kita kepada Allah.

Mazmur 16 adalah Mazmur yang ditulis oleh Daud di padang gurun Zif saat nyawanya terancam oleh Saul. Walaupun terkungkung di bawah kondisi yang sangat sulit, Daud tetap bersandar pada Allah, sehingga ia bisa bersukacita dalam kesusahan serta menyakini bahwa Allah akan “memberitahukan kepadaku jalan kehidupan” (16:11a) yang meluputkan dia dari maut. Dari mana kita mengetahui jalan kehidupan itu? Bagaimana orang Kristen dapat bersandar pada Allah untuk mewujudkan berkat serta kebahagiaan hidup? Pertama, kita harus memandang ke atas, yaitu kepada Allah yang menjadi sandaran kita satu-satunya. “Tidak ada yang baik bagiku selain Engkau!” (16:2b). Kedua, kita harus memandang ke sekeliling kita. Allah menguduskan orang yang takut akan Dia, sehingga kita bisa berkata, “Orang-orang kudus yang ada di tanah ini, merekalah orang mulia yang selalu menjadi kesukaanku.” (16:3). Ketiga, kita harus memandang ke depan. “Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.” (16:11). [HXH]



February 07, 2019, 05:21:21 AM
Reply #1761
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 21583
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Sikap Jujur Bakal Mujur
Posted on Rabu, 6 Februari, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Yosua 14:6-15

Siapa jujur akan hancur. Kalimat itu sering diucapkan untuk mencandakan situasi zaman edan ini. Saat ketidakadilan merajalela, orang berani jujur akhirnya langka. Akibatnya, para penipu tertawa di atas singgasana. Kehidupan bersama akan celaka kala tipu daya menjadi sebuah gaya hidup. Dalam situasi ini, kita seperti kehilangan harapan. Bagaimana menghadapi situasi demikian? Kita harus mencari kebenaran isi Kitab Suci karena ini pilihan penuh arti.

Kisah keberanian Kaleb berkata jujur layak sebagai inspirasi bagi orang-orang pemberani. “Berani jujur, bakal membawa mujur, ” mungkin merupakan prinsip hidup Kaleb. Ketika Musa mengutusnya menjadi mata-mata, dia membawa berita senyatanya. Tidak seperti teman-temannya, yang tercemar berita hoax dan mengabaikan fakta. Akibatnya, bukan asa yang dirasa, tetapi tawar hati melanda bangsa Israel. Sesungguhnya, ketika orang mulai tidak jujur, kehidupan bersama akan hancur. Sebaliknya, dengan sikap jujur, maka kehidupan kita pun mujur.

Teladan dari Kaleb adalah meterai tentang kemujuran orang lurus. Tindak-tanduk Kaleb, hingga usia tuanya, menjadi tanda bagi orang yang menaati Tuhan sepenuh hati. Kepadanya diberikan Tanah Hebron sebagai milik pusaka (14), sesuai janji Musa kepadanya di Kadesh-Barnea. “Sesungguhnya tanah yang diinjak oleh kakimu itu akan menjadi milik pusakamu dan anak-anakmu sampai selama-lamanya….”

Kata-kata Musa itu menjadi alasan bagi Yosua-penggantinya-untuk memberikan tanah Hebron kepada Kaleb dan keturunannya. Kaleb pun dikenal sebagai orang jujur nan mujur. Mereka disebut generasi pembawa nasib mujur.

Zaman boleh saja disebut edan. Namun, orang Kristen, tidak perlu ikut ngédan. Bagaimanapun, bersikap jujur tetap adalah pilihan luhur, demi kelangsungan hidup bersama penuh daya cipta. Berani jujur adalah tanda gaya hidup penuh syukur.

Doa: Tuhan, ajari kami agar berani hidup dengan jujur. [SeT]







Menerima Tanggung Jawab Sosial
Posted on Rabu, 6 Februari, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Yosua 14:1-5

Hakikat manusia adalah makhluk sosial. Kita tidak bisa hidup sendiri. Kisah penciptaan menjelaskan hal tersebut. “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja…” (Kej. 2:18). Karena itu, sejak semula, manusia adalah makhluk yang memiliki tanggung jawab sosial.

Kisah pembagian tanah atas suku-suku Israel menegaskan perihal tanggung jawab sosial ini. Ini menjadi titik awal Israel mendapatkan milik pusaka. Dengan milik pusaka itu, suku-suku Israel mendapatkan identitas baru. Jati diri itu mempertegas peran sosial umat Israel, yaitu mereka harus memerhatikan sesamanya.

Pasalnya, suku Lewi tidak mendapatkan tanah pusaka. “… tetapi kepada orang Lewi tidak diberikannya milik pusaka di tengah-tengah mereka, ” (3). Jadi, bagaimana suku Lewi menafkahi hidupnya? Firman Allah menjadi jaminan sosial suku itu. Firman itu kemudian akan menjadi sistem sosial, yang merupakan pelindung suku yang tidak beroleh hak mengolah tanah. Sistem sosial ini menuntut partisipasi tanggung jawab sosial dari suku-suku lain. Suku yang lain harus mengupayakan agar penghidupan layak bagi suku Lewi tidak terabaikan.

Menerima tanggung jawab sosial pun menjadi sebuah kewajiban. Dengan menerima kewajiban ini, umat Tuhan menunjukkan ketaatan kepada Firman Allah. Ketaatan ini melahirkan tatanan sosial sebagai jaminan kehidupan bagi sesamanya. Harapannya, sistem ini akan membuahkan kehidupan yang adil dan sejahtera bagi semua.

Dalam konteks Indonesia, kemiskinan adalah wajah utamanya. Karena itu, kesadaran segenap warga akan tanggung jawab sosial tentu sangat penting. Bisa dikatakan, aspek ini sangat mendesak dalam Kekristenan kita. Dalam hal inilah keteladanan orang Kristen di Indonesia sangat dibutuhkan. Kita harus mempunyai kepekaan sosial untuk menjawab permasalahan ini. Sensitivitas sosial inilah, yang kemudian, akan mendorong pada pemenuhan tanggung jawab sosial.

Doa: Ya TUHAN, ajarilah kami agar mau mengambil peran dalam tugas tanggung jawab sosial. [SeT]


February 07, 2019, 05:22:06 AM
Reply #1762
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 21583
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
TUHAN sebagai Sumber Identitas
Posted on Rabu, 6 Februari, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Yosua 13:8-33

Kita semua pasti memiliki identitas. Dari manakah itu berasal? Salah satunya adalah dari orang tua, baik orang tua kandung atau angkat. Ketika mereka memberi nama, status diri pun termeterai. Melalui nama, kita bisa dikenal dan memperkenalkan diri sehingga mendapat pengakuan.

Perihal meraih pengakuan, Musa memberi perhatian khusus kepada bangsa Israel. Musa tampaknya tahu persis pentingnya pengakuan bagi mereka. Karena itu, Musa memberikan milik pusaka. Dia berharap dengan itu orang Israel memperoleh predikat baru. Umat pilihan Allah ini mendapatkan tanah sebagai milik pusaka. Artinya, mereka bukan lagi masyarakat terbuang, tetapi sudah menjadi tuan.

Menariknya, ada satu suku yang tidak menerima warisan, yaitu Lewi. “Hanya kepada suku Lewi tidak diberikan milik pusaka…” (14a). Lalu, dari manakah mereka mendapatkan identitasnya? “TUHAN, Allah Israel, Dialah yang menjadi milik pusaka mereka.” Karena itu, TUHAN adalah pilar utama jati diri suku Lewi.

Nyatalah bahwa kepemilikan tanah bukan satu-satunya sandaran identitas untuk dapat pengakuan bagi umat Israel. Allah adalah yang utama bagi mereka. Allah, Sang Pemilik segalanya, sebagai sumber pengakuan umat beriman. Keberadaan suku Lewi bagaikan bukti, sekalipun tidak menerima tanah pusaka, tetapi hidupnya selalu terpelihara.

Untuk itulah, suku Lewi diberi tugas khusus, yaitu melayani Bait Allah dan bukan mengolah tanah. Dengan demikian, identitas dan jaminan hidup sosial mereka terjaga.

Orang Kristen adalah umat Israel baru. Tuhan menganugerahi kita identitas baru di dalam karya penyelamatan Tuhan Yesus. Identitas ini mengajak kita untuk mengemban sebuah tugas dengan penuh hormat, yaitu mewartakan anugerah keselamatan. Tugas ini bertujuan supaya semua makhluk berbahagia. Inilah sendi penting identitas kita sebagai umat Kristen di dunia.

Doa: Ya Tuhan, berkatilah kami dengan identitas baru sebagai pewarta kabar keselamatan. [SeT]







Pemulihan Ayub
Posted on Rabu, 6 Februari, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca: Ayub 42

TUHAN menegur Ayub, tetapi Dia tetap lebih menghargai Ayub ketimbang ketiga temannya (Elifas, Bildad, dan Zofar) yang telah menyerang Ayub secara membuta. Perintah TUHAN kepada Elifas dan kedua temannya untuk meminta Ayub mendoakan mereka agar murka TUHAN terhadap diri mereka surut (42:7-8) menunjukkan bahwa adanya penderitaan bukanlah pertanda dari adanya murka TUHAN terhadap diri seseorang. Bila Anda lebih makmur atau lebih kaya ketimbang orang lain, tidak berarti bahwa TUHAN lebih berkenan terhadap diri Anda ketimbang terhadap orang yang sedang menderita. Kita tidak selalu bisa mengerti kebijakan TUHAN terhadap umat-Nya. Yang menentukan apakah TUHAN berkenan terhadap diri kita atau tidak bukanlah keadaan fisik kita, melainkan keadaan rohani kita (sikap kita terhadap TUHAN). Setelah melewati pengalaman hidup yang menyakitkan yang membuat Ayub dapat berkata kepada TUHAN, “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau,” akhirnya TUHAN memulihkan keadaan Ayub. Kekayaannya menjadi dua kali lipat dibandingkan kekayaannya semula. Dia mendapat kembali tujuh anak laki-laki dan tiga anak perempuan (sama dengan jumlah anak-anaknya yang telah meninggal). Dia meninggal dalam usia lanjut sampai bisa melihat anak dan cucu sampai keturunan keempat. Pemulihan keadaan Ayub ini menunjukkan bahwa Allah berkenan kepada Ayub karena Ayub tidak sampai mengutuki Allah saat berada di puncak penderitaan.

Apakah saat ini Anda sedang mengalami penderitaan? Ingatlah bagaimana Ayub bertahan saat menghadapi penderitaan! Mungkin Anda tidak akan pernah mengerti mengapa Allah membiarkan Anda menderita. Allah tidak pernah menjelaskan kepada Ayub mengapa Ayub menderita, dan mungkin saja Allah juga tidak pernah menjelaskan kepada Anda mengapa Dia membiarkan Anda menderita. Sekalipun demikian, kita harus mempertahankan iman saat sedang menderita. Sesudah penderitaan berakhir, kita akan memperoleh kelegaan, entah saat kita hidup di dunia ini atau di dunia yang akan datang (bandingkan dengan Yakobus 5:11). Bila Anda tidak bertekun untuk mempertahankan iman, mungkin saja Anda bukan hanya menderita saat ini, tetapi Anda juga akan menderita di dunia yang akan datang! [P]



February 08, 2019, 05:34:37 AM
Reply #1763
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 21583
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Tahu Batas
Posted on Kamis, 7 Februari, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Yosua 15:1-12

Mengapa batasan dianggap penting? Tanda kemajuan peradaban adalah mengetahui sekaligus mengerti batasan. Alhasil, kita menjadi paham pada hal yang tak semestinya dilanggar. Alhasil, keadilan dan perikemanusiaan dapat tegak terwujud. Salah satunya adalah dalam menentukan batas-batas wilayah. Ini untuk menunjang kelangsungan hidup menjadi bangsa manusia.

Nas hari ini berkisah tentang bagaimana bani Yehuda diajak mengerti batas wilayahnya. Batas teritorial itu kemudian harus dijaga dan dihormati bersama-sama. Tanpa kesadaran seperti itu, mereka hanya akan memanen kekacauan karena hidup tanpa batasan artinya tanpa aturan.

Batasan akan mendidik kita tentang kemerdekaan dan kemandirian dalam kebersamaan. Ini menjadi pelajaran penting bagi suku bani Yehuda. Dengan batasan, orang bisa berdikari mengurus kemajuan wilayah masing-masing. Namun demikian, mereka tidak bisa mengabaikan tanggung jawab bersama kepada suku Lewi. Pasalnya, mereka merupakan suku yang tak punya hak milik untuk mengolah tanah.

Bila diperhatikan, lokasi huni suku bani Yehuda tidak sama untuk setiap kaumnya. Ada yang berbatasan dengan padang gurun Zin; ujung Laut Asin; pendakian Akrabim; Kiryat-Yearim; berdekatan dengan lembah; dan ada pula yang berbatasan dengan daerah perbukitan. Setelah mengetahui batas masing-masing, setiap kaum harus menggali potensi wilayahnya. Mereka akhirnya terdorong untuk mengenali potensi diri. Inilah pentingnya tahu batasan.

Mungkin, banyak orang Kristen Indonesia mengetahui batasannya sebagai kaum minoritas. Namun, minoritas bukan berarti menjadi kerdil. Hak dan kewajiban penganut Kristen di negeri ini sama dengan warga lainnya. Batasan sejati sebagai pengikut Kristus terletak dalam panggilannya mewartakan berita Injil ke seluruh dunia.

Doa: Tuhan, singkapkanlah setiap batasan, yang mungkin, tidak kami sadari, sehingga kami semakin mengenali potensi diri dalam memberitakan Injil-Mu. [SeT]







Apakah Anda Bersedia untuk Taat?
Posted on Kamis, 7 Februari, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Kejadian 12

Silsilah singkat mengenai keturunan Sem di 11:10-26 memberi informasi bahwa Allah melanjutkan berkat-Nya kepada manusia, yaitu bahwa manusia terus bertambah banyak dan memenuhi bumi. Nama Terah diperkenalkan di pasal 11. Menurut Yosua 24:2, Terah adalah penyembah allah lain. Pembangunan menara Babel yang puncaknya sampai ke langit dan Terah yang disebut sebagai penyembah allah lain menunjukkan bahwa dosa telah merusak konsep manusia tentang Allah yang sejati. Kerusakan konsep manusia tentang Allah ini tercermin dalam peristiwa pembangunan menara Babel. Sekalipun demikian, Allah tetap mengasihi manusia. Dalam bacaan Alkitab hari ini, Allah memanggil Abraham untuk keluar dari daerah Babilonia dan pergi ke negeri yang akan ditunjukkan Allah kepadanya. Melalui Abraham. Allah akan memberkati semua bangsa. Perhatikan bahwa bukan Abraham yang akan memberkati bangsa-bangsa lain, melainkan Allah yang akan memberkati bangsa-bangsa lain di dunia ini melalui Abraham. Karena Sarai diperkenalkan sebagai seorang yang mandul (11:30), bagaimana mungkin Abraham memiliki keturunan dan bisa menjadi bangsa yang besar? Informasi kemandulan Sarai itu melatarbelakangi pemberian janji Allah kepada Abraham dan respons Abraham yang berdasarkan iman.

Allah berjanji bahwa Ia akan mengganti apa pun yang ditinggalkan oleh Abraham:

Pertama, Abraham harus meninggalkan tanah kelahirannya, dan Allah menjanjikan tanah yang baru.

Kedua, Abraham harus meninggalkan sanak saudaranya, dan Allah akan membuat keluarga Abraham menjadi bangsa yang besar.

Ketiga, Abraham harus meninggalkan rumah bapanya dan Allah akan memberkati dia, dan Abraham akan menjadi berkat. Melalui Abraham, Allah memberkati semua bangsa. Kita mungkin bertanya, mengapa Allah membuat perjanjian dengan Abraham?

Pertama, Allah membuat perjanjian agar Abraham dan keturunannya dapat terus-menerus berhubungan dengan Allah.

Kedua, Allah membuat perjanjian karena Ia hendak menghadirkan Juru Selamat untuk menyelesaikan masalah dosa. Abraham bersedia menerima perjanjian yang dibuat Allah dan ia bersedia menaati Allah. Perjanjian ini tidak menyelamatkan Abraham, tetapi perjanjian ini memperlihatkan penebusan Allah kepada Abraham dan keturunannya. Jika Anda adalah Abraham, apakah Anda bersedia mengikuti permintaan Allah? [Sung]



February 09, 2019, 05:30:09 AM
Reply #1764
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 21583
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Janji Allah Semakin Jelas
Posted on Jumat, 8 Februari, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca: Kejadian 13

Allah memberkati Abraham dengan memberinya amat banyak ternak. Agar dapat menemukan makanan yang cukup buat ternak mereka, ia dan keponakannya berpisah. Sejak dipanggil keluar dari Ur-Kasdim, Abraham telah berjalan dari tempat persinggahan ke tempat persinggahan (13:3). Inilah ciri kehidupan penggembala ternak. Bila makanan di suatu tempat sudah tidak mencukupi bagi ternak mereka, mereka akan pindah ke tempat lain. Mereka perlu berhati-hati agar tidak memasuki tanah penggembalaan orang lain. Perhatikan bahwa fokus utama pasal ini bukanlah tentang tempat-tempat apa saja yang pernah disinggahi oleh Abraham, melainkan perpisahan Antara Abraham dengan Lot. Tanah Kanaan hanya memiliki sedikit air dan tanah rerumputan, sehingga tidak mencukupi bagi keperluan ternak Abraham dan Lot. Oleh karena itu, mau tidak mau, mereka harus berpisah. Lot memutuskan untuk pergi ke sebelah timur, ke Lembah Yordan, sebab di sana banyak air (13:10-11). Lembah Yordan terletak di luar Tanah Kanaan. Dengan begitu, Tanah Kanaan ditinggalkan buat Abraham sendirian. Setelah Lot meninggalkan Tanah Kanaan, Tuhan memberikan Tanah Kanaan kepada Abraham (13:14-17). Lot berkemah di dekat Sodom, sedangkan Abraham berkemah di dekat Hebron. Hebron adalah kota yang penting karena kota itu adalah ibu kota kerajaan Kanaan saat itu.

Tindakan Abraham membiarkan Lot memilih lebih dulu tempat untuk tinggal menunjukkan bahwa Abraham tidak menganggap Lot sebagai ancaman bagi terpenuhinya janji Allah. Jelas bahwa Lot meninggalkan Tanah Kanaan berdasarkan pilihannya sendiri, bukan karena diusir oleh Abraham. Dengan menyingkirnya Lot ke dekat kota Sodom, Allah bisa memberikan seluruh Tanah Kanaan kepada Abraham serta keturunannya, dan Abraham tidak perlu berbagi tanah pusaka dengan Lot dan keturunannya. Kita percaya bahwa Allah campur tangan dalam keputusan Lot yang memilih untuk meninggalkan tanah Kanaan. Perjanjian Allah dengan Abraham berkembang semakin jelas dalam pasal ini ketika Allah berkata bahwa Abraham akan mendapat tanah pusaka (13;14-17). Allah kita luar biasa! Ia menyingkirkan penghalang bagi Abraham untuk memiliki seluruh Tanah Kanaan. Allah juga dapat menyingkirkan segala penghalang berkat agar rencana-Nya tergenapi di dalam hidup Anda. Apakah Anda beriman kepada-Nya? [Sung]





February 10, 2019, 05:13:52 AM
Reply #1765
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 21583
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Mengikuti Agenda Allah
Posted on Sabtu, 9 Februari, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca: Kejadian 14

Pasal 14 berkaitan dengan pasal 13 dalam hal perjanjian Allah dengan Abraham. Allah telah berjanji untuk memberi tanah kepada Abraham, tetapi bagaimana realisasinya? Amrafel (raja Sinear), Ariokh (raja Elasar), Kedorlaomer (raja Elam), dan Tideal (raja Goyim) sedang memperluas daerah jajahan mereka dengan merebut beberapa daerah lain, termasuk daerah Sodom, tempat Lot tinggal. Walaupun Abraham tidak senang berperang, Abraham mengerahkan orang-orangnya yang terlatih untuk mengalahkan empat raja itu demi menyelamatkan Lot dan keluarganya. Perhatikan bahwa Abraham mempunyai 318 orang terlatih yang lahir di rumahnya dan ia juga memiliki sekutu dari pihak lain (14:24). Setelah memenangkan peperangan, Abraham memiliki kesempatan untuk memperoleh kekuasaan atas bangsa-bangsa lain. Dengan kata lain, kesempatan untuk memiliki tanah sudah ada di depan mata. Akan tetapi, apakah Allah menghendaki cara demikian untuk memberikan tanah pusaka kepada Abraham? Jelas bahwa jawabannya adalah “tidak.”

Abraham bertemu dengan Melkisedek, raja Salem. Kemungkinan, sebutan “Salem” menunjuk kepada Yerusalem kuno. Melkisedek menjalin hubungan damai dengan Abraham dan Abraham mengungkapkan ketundukannya kepada Melkisedek dengan memberi persembahan persepuluhan kepadanya. Raja Sodom hendak memberikan harta benda hasil jarahan kepada Abraham, tetapi Abraham menolaknya agar Raja Sodom tidak bisa berkata bahwa ia telah memperkaya Abraham. Penolakan Abraham kepada tawaran raja Sodom menunjukkan bahwa ia bergantung kepada Allah, bukan kepada pemberian manusia, untuk bisa membuat dirinya kaya, ternama, dan menjadi bangsa yang besar. Saat itu, Abraham memiliki kesempatan untuk menguasai Kanaan dan Sodom dengan kekuatan militernya. Satu hal yang sangat jelas adalah bahwa janji Allah kepada Abraham semakin bertambah nyata. Walaupun saat itu Abraham belum memiliki tanah pusaka, ia yakin bahwa keturunannya akan memiliki tanah pusaka.

Abraham tunduk kepada rencana dan waktu Allah untuk memperoleh janji Allah. Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda mengikuti agenda Anda sendiri atau Anda rela dengan sabar mengikuti agenda Allah? Apakah Anda bersandar kepada pengertian Anda sendiri atau kepada Allah? [Sung]



February 11, 2019, 05:31:50 AM
Reply #1766
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 21583
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Rencana Allah Tak Mungkin Gagal
Posted on Minggu, 10 Februari, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca: Kejadian 15-16

Walaupun janji Allah untuk memberikan tanah Kanaan kepada Abraham telah semakin nyata, Abraham harus menunggu waktu yang ditetapkan Tuhan. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana cara memperoleh tanah itu sementara tanah itu masih dimiliki bangsa lain? Janji Allah tergantung kepada apakah Abraham mempunyai anak atau tidak. Untuk menjadi sebuah bangsa yang besar, Abraham harus memiliki keturunan. Pada zaman itu, orang yang tidak memiliki anak bisa mengadopsi anak untuk dijadikan ahli waris. Abraham berkata bahwa Eliezer akan menjadi ahli warisnya (15:2-3). Namun, Allah meyakinkan Abraham bahwa anak kandungnyalah yang akan menjadi ahli warisnya. Masalahnya, Allah belum menjelaskan bahwa Sara yang akan melahirkan anak untuk Abraham. Tidak mengherankan bila di pasal 16, Sara masih menyangka bahwa mungkin Abraham akan memiliki anak kandung sendiri melalui Hagar (hamba Sara). Ketika Sara memberikan Hagar kepada Abraham supaya Abraham menghampirinya, Abraham tidak protes (16:1-3). Di pasal 17, Abraham masih berpikir bahwa Ismael (anak kandung yang diperolehnya dari Hagar), adalah ahli waris (17:18). Namun, Tuhan menegaskan bahwa yang akan menjadi ahli waris Abraham adalah anak yang akan dilahirkan oleh Sara sendiri.

Saat merenungkan Kejadian 13, kita telah mengamati bahwa Abraham tidak menganggap Lot sebagai penghalang untuk menerima Tanah Kanaan sebagai tanah pusaka. Di pasal 16 ini, Abraham melihat bahwa kemandulan istrinya adalah penghalang bagi dia untuk memiliki keturunan dan menjadi bangsa yang besar kelak. Setelah Ismael lahir, Abraham dan istrinya mengira bahwa penghalang berkat mereka telah diangkat. Padahal, Ismael sebenarnya adalah penghalang bagi Abraham untuk menerima penggenapan janji Allah bagi keluarganya. Apa yang diusahakan oleh Abraham dan Sara dalam kedua pasal ini telah menimbulkan masalah, khususnya bagi Abraham, untuk menerima penggenapan janji Allah. Akan tetapi, Allah begitu murah hati sehingga Ia tetap memberkati dengan menyelesaikan masalah mereka. Bagi Allah, tidak ada masalah yang terlalu sulit untuk diselesaikan. Tidak ada seorang pun yang dapat menggagalkan rencana Allah. Apakah Anda percaya bahwa Allah sedang menggenapi rencana-Nya untuk membawa Anda kepada hidup yang berbahagia kelak? [Sung]



February 12, 2019, 05:57:55 AM
Reply #1767
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 21583
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Babad Alas
Posted on Senin, 11 Februari, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Yosua 16-17

Kerajaan Majapahit berdiri karena keberanian Raden Wijaya dan pasukannya melakukan babad alas (hutan) Tarik. Indraprastha atau Amarta menjadi kerajaan hebat, menurut Mahabarata, juga demikian. Keperkasaan putra-putra Pandhu melakukan babad alas Wanamarta menjadi kuncinya.

Istilah babad alas sering dipakai dalam menggambarkan keberanian membuka kemungkinan baru. Sebuah tantangan khusus bagi orang-orang pemberani.

Kepada suku Efraim dan Manasye, Yosua memberikan tantangan, “Engkau ini bangsa yang banyak jumlahnya dan mempunyai kekuatan yang besar; tidak hanya satu bagian undian ditentukan bagimu, tetapi pegunungan itu akan ditentukan bagimu juga, dan karena tanah itu hutan, haruslah kamu membukanya; kamu akan memilikinya sampai kepada ujung-ujungnya, sebab kamu akan menghalau orang Kanaan itu, sekalipun mereka mempunyai kereta besi dan sekalipun mereka kuat” (17:17-18).

Suku keturunan Yusuf itu harus mengalahkan bangsa Kanaan. Bangsa itu terkenal dengan ketangguhan kereta besi dan keterampilan berperang. Mampukah mereka mengalahkannya? Ternyata, keberanian keturunan Yusuf melakukan babad alas membuat bangsa Kanaan takluk.

Babad alas adalah sebuah keberanian untuk menghadirkan alternatif baru sekaligus mengoreksi pandangan lama. Semangat utamanya adalah membawa kebaikan bersama kepada seluruh ciptaan. Dalam hal inilah, umat Kristen ditantang untuk berani menghadirkan imajinasi baru guna menghadirkan kebaikan bagi alam semesta.

Di tengah situasi krisis air, misalnya, komunitas kristiani harus berperan mengedukasi tentang budaya mengerti air. Pandangan teologis yang tidak menghormati kelangsungan mata air harus ditinggalkan. Sebagai gantinya, kita harus membangun pandangan kristiani dalam memahami budaya air (christian’s water culture).

Doa: Ya Tuhan, bantulah kami menemukan kemungkinan dan alternatif baru agar bisa melestarikan alam ini. [SeT]







Mari Menjaga Mata Air
Posted on Senin, 11 Februari, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Yosua 15:20-63

Keberadaan sumur atau mata air adalah syarat penting dalam membangun kota. Pasalnya, menggali sumur dan menemukan mata air merupakan hal langka. Karena peran pentingnya, usaha melindungi persediaan air menjadi urgen. Baik itu dari ancaman musuh maupun usaha menjaga pelestariannya. Upaya ini bertujuan supaya mata air itu tidak mati, sehingga bisa terus dikonsumsi. Jadi, ada inisiatif tanggung jawab bersama dalam menjaganya.

Di daerah Palestina, usaha penggalian sumur sangat sulit. Hal ini dikarenakan, kondisi alamnya keras. Jadi, jika suatu kaum ingin memiliki sumur, mereka harus berusaha keras. Batu cadas, tanah tandus, dan gersang menjadi rintangan. Padahal, air sangat penting dalam pembangunan.

Nilai penting sumber air tampak jelas dari seringnya nama-nama kota diawali dengan kata “en” (Ibr.). Misalnya, En-Ganim (34) dan En-Gedi (62). Kata “en” berasal dari kata “ainon” yang artinya “mata air”. Nama itu mengajak seluruh kaum sadar akan pentingnya mata air bagi kehidupan.

Tantangan lebih berat ada pada kota-kota yang dibangun di tempat-tempat tinggi. Keadaan ini membuat sumber-sumber air kerap terdapat di luar tembok kota atau di lembah. Untuk mengatasinya, sistem tata kelola air perlu dibuat secara cermat. Tidak jarang, saluran-saluran tersembunyi dibangun mengarah ke sumber air sebagai strategi pertahanan. Hal ini bertujuan demi menjamin ketersediaan air bagi penduduk kota dalam kondisi terkepung.

Pada zaman sekarang, air telah diperjualbelikan. Kemajuan zaman turut mengubah budaya mengerti air. Mulanya, air dibagikan secara gratis, sekarang ada perusahaan yang menguasainya (privatisasi). Privatisasi membuat akses kepada air bersih menjadi mahal dan terbatas. Semoga, perusahaan-perusahaan itu tidak jadi serakah dan segera bertobat. Bagaimanapun, kelangsungan mata air bagi semua makhluk perlu dijaga. Salah satu caranya dengan budaya memahami air (water culture).

Doa: Ya Tuhan, mampukan kami membudayakan hidup mengerti air. [SeT]



February 12, 2019, 05:58:42 AM
Reply #1768
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 21583
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Mata Air sebagai Warisan Berharga
Posted on Senin, 11 Februari, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Yosua 15:13-19

Pada 1980-an, di ruas jalanan desa-desa, Jawa Tengah, kita akan menjumpai pemandangan menarik. Di pinggir jalan, akan terlihat banyak jejeran sumur dan kendi tertata rapi. Kendi tersebut berisi minuman dari sumur atau mata air. Saat itu, untuk bepergian, orang-orang masih berjalan kaki. Jadi, kalau dalam perjalanan merasa haus, barisan kendi sudah siap untuk menuntaskan dahaga. Kendi itu tersedia secara gratis. Hal ini adalah tanda kesetiakawanan sosial yang kuat. Bagi saya pribadi, ini merupakan sesuatu yang layak dikenang dan dirayakan.

Pada zaman Yosua, mata air atau sumur memiliki nilai penting. Dua hal ini merupakan kekayaan berharga, sehingga layak memiliki hak waris. Menurut tradisi pewarisan, untuk memilikinya, seseorang harus mendapatkan restu ayahnya. Aturan ini juga berlaku bagi keluarga Otniel dan Akhsa. Otniel membujuk Akhsa supaya meminta ladang yang ada mata airnya kepada ayahnya (19).

Hal tersebut mengingatkan kita pada kebiasaan zaman Abraham leluhurnya. Kala itu, sumber air akan disebut menurut nama pemberian ayahnya. Jadi, proses menemukan hak waris punya pola. Penamaan ini penting. Sebuah tradisi guna menghindari perselisihan ketika ada yang hendak memonopoli sumber air/sumur.

Dengan adanya mata air/sumur, terjaminlah keberlangsungan hidup suatu kaum. Kesadaran ini menuntut tanggung jawab sosial. Setiap orang berperan melestarikan keberadaan sumber air sebagai warisan berharga. Karena itu, penting untuk melindungi persediaan air. Ini merupakan tanggung jawab kita bersama demi kelangsungan hidup semua makhluk. Ini tanggung jawab kita sebagai mandataris Allah (Kej. 1:28).

Kita perlu melestarikan air sebagai pusaka penting bagi kehidupan. Karena itu, menyelamatkan sumber air menjadi tugas serius bagi siapa saja. Komunitas Kristen, di mana pun berada, jangan hanya berpangku tangan! Kita harus mengusahakan agar sumber air tetap lestari di atas bumi.

Doa: Ya Tuhan, ajarkan kami menghargai air sebagai anugerah-Mu yang harus kami jaga dan pelihara. [SeT]






Berkat Allah Juga bagi Orang Jahat!
Posted on Senin, 11 Februari, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca: Yunus 1:1-3; 3:1-10; 4:1-11

Dosa penduduk kota Niniwe yang telah melampaui batas membuat Allah mengutus Nabi Yunus untuk mengumumkan rencana datangnya hukuman Tuhan kepada penduduk kota Niniwe (1:1-2; 3:1-4). Nabi Yunus tahu jelas bahwa penduduk kota Niniwe—yaitu bangsa Asyur—adalah sumber ancaman yang amat berbahaya bagi bangsa Israel. Oleh karena Nabi Yunus sangat mencintai bangsa Israel, ia memilih untuk menentang perintah TUHAN dan melarikan diri ke Tarsis (menjauh dari kota Niniwe). Ia menginginkan agar rencana penghukuman itu segera dilaksanakan saja. Sebagai seorang nabi, Yunus tahu jelas bahwa Allah itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, sehingga Allah mudah merasa kasihan dan bisa membatalkan rencana penghukumannya bila penduduk Niniwe bertobat (4:2). Itulah yang membuat Nabi Yunus menolak untuk memperingatkan penduduk Niniwe akan rencana datangnya hukuman TUHAN. Pasal 3 menjelaskan bahwa dugaan Nabi Yunus ini memang benar: Allah membatalkan rencana penghukuman kepada penduduk Niniwe karena mereka bertobat. Pembatalan hukuman ini sangat mengesalkan hati Yunus (4:1).

Pesan apakah yang hendak disampaikan penulis kitab Yunus kepada para pembacanya? Pesan penulis jelas, yaitu bahwa Allah mengasihi semua bangsa, bukan hanya bangsa Israel, tetapi juga termasuk bangsa Asyur (penduduk kota Niniwe) yang amat jahat. Bila Allah tidak mengasihi bangsa Asyur, bangsa itu akan dihukum tanpa peringatan lagi. Sebagian pembaca kitab Yunus—yang adalah orang Kristen—mencibirkan bibir terhadap Nabi Yunus saat membaca kisah ini. Akan tetapi, tanpa disadari, banyak orang Kristen melakukan hal yang sama. Bila kita jujur kepada diri sendiri, apakah orang Kristen (gereja) pada masa kini sadar akan tanggung jawab untuk memberitakan Injil kepada mereka yang belum mengenal keselamatan di dalam Yesus Kristus dan sedang berbaris menuju ke neraka? Bukankah kadang-kadang kita beranggapan bahwa orang-orang yang belum mengenal Kristus itu terlalu jahat dan sudah pantas mendapat hukuman Allah? Apakah kita menyadari bahwa mereka yang menjadi sumber ancaman bagi orang Kristen juga merupakan objek dari kasih Allah? Allah mengasihi semua orang dari semua suku bangsa, tetapi apakah orang Kristen (gereja) memiliki hati yang sama dengan hati Allah? Apakah Anda—sebagai pribadi dan sebagai gereja—memiliki beban untuk mendoakan mereka? [P]



February 13, 2019, 05:30:02 AM
Reply #1769
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 21583
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Memahami Amanat Agung
Posted on Selasa, 12 Februari, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca: Matius 28:16-20

Misi Allah untuk dunia jelas tertampil dalam pesan Tuhan Yesus yang terakhir kepada murid-murid-Nya, yang biasa kita kenal sebagai Amanat Agung Kristus (Matius 28:18-20). Amanat adalah pesan atau perintah yang umumnya diberikan oleh orang yang posisinya dianggap lebih tinggi atau lebih terhormat bila dibandingkan dengan si penerima amanat. Amanat Tuhan Yesus disebut Amanat Agung karena Sang Pemberi amanat adalah Pemegang Kekuasaan Tertinggi dalam alam semesta ini. Selain itu, amanat ini disebut Amanat Agung karena jangkauannya adalah semua bangsa (seluruh dunia).

Pemahaman tentang jangkauan Amanat Agung yang mencakup semua bangsa (seluruh dunia) sering direduksi (dikurangi) oleh orang Kristen (gereja) menjadi hanya tertuju kepada suku tertentu di lokasi terdekat, bahkan banyak orang Kristen (gereja) yang sama sekali tidak pernah memikirkan Amanat Agung Kristus . Walaupun tidak secara terang-terangan menolak untuk melaksanakan Amanat Agung, banyak orang Kristen (gereja) yang menolak secara pasif, yaitu dengan tidak pernah membicarakan (apalagi melaksanakan) Amanat Agung. Apakah Anda atau gereja Anda pernah terlibat dalam memperbincangkan usaha melaksanakan Amanat Agung ini?

Pemahaman tentang Amanat Agung juga sering direduksi menjadi sekadar penginjilan yang bersifat “tabrak-lari”, artinya penginjilan yang berupa penyampaian berita, kemudian tidak peduli lagi dengan hasilnya (tidak disertai dengan tindak lanjut). Walaupun penginjilan yang bersifat “tabrak-lari” ini kadang-kadang “terpaksa” dilakukan (karena tidak memungkinkan untuk melakukan tindak lanjut), Amanat Agung Tuhan Yesus lebih dari sekadar amanat untuk menginjili karena amanat ini adalah amanat untuk menjadikan semua bangsa sebagai murid Kristus, dengan cara membaptis (tugas ini biasa dilakukan oleh lembaga gereja) dan mengajar orang yang dimuridkan untuk melakukan segala sesuatu yang telah diperintahkan oleh Tuhan Yesus.

Pelaksanaan Amanat Agung ini perlu dilakukan dengan 3 komponen, yaitu doa, daya (tindakan), dan dana. Apakah doa Anda dan gereja Anda telah menerobos batas-batas kesukuan dan kedaerahan? Apakah Anda dan gereja Anda telah mengusahakan keterlibatan dalam melaksanakan Amanat Agung ini? Apakah Anda dan gereja Anda telah mengalokasikan dana untuk ikut menjangkau seluruh dunia? [P]



 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)