Author Topic: Saat Teduh  (Read 62901 times)

0 Members and 3 Guests are viewing this topic.

February 14, 2019, 06:27:04 AM
Reply #1770
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Iman dan Kesiapan Hati
Posted on Rabu, 13 Februari, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Yosua 18:1-10

Perubahan dalam hidup merupakan keniscayaan. Misalnya, kita harus berpindah rumah. Situasi ini mendorong kita untuk beradaptasi dengan kondisi baru. Tuntutan seperti itu memaksa kita untuk berjumpa dengan pengalaman unik. Misalnya, pekerjaan yang sama sekali baru dan asing.

Semua pengalaman itu berbeda dan unik. Namun walaupun demikian, memiliki satu kesamaan, yaitu menuntut kesiapan manusia. Maksudnya, hati yang tetap taat pada firman-Nya.

Ada tujuh suku Israel yang belum mendapat bagian pusaka (2). Maka, Yosua memanggil tiga orang dari tiap suku, dan menugasi mereka untuk mengamati Silo, yaitu negeri yang telah mereka taklukkan (1, 8). Nanti dari hasil pengamatan itulah tanah pusaka diberikan (4-5).

Perintah Yosua ini mengingatkan kita pada waktu Musa mengirimkan dua belas pengintai (Bil. 13:17-20). Perbedaannya terletak pada kondisi awal bangsa Israel saat menerima perintah. Pada masa Musa, bangsa itu suka bersungut-sungut. Sementara itu di era Yosua, mereka suka bermalas-malasan (3).

Dua situasi ini sedang mengartikulasikan pesan mengenai kesiapan Israel dalam menanggapi perintah Tuhan. Tindakan bersungut-sungut adalah pertanda sikap pesimis. Bangsa Israel seolah tidak yakin pada janji Tuhan bahwa mereka akan menaklukkan banyak negeri. Sementara, sikap bermalas-malasan merupakan gejala over dosis kepercayaan diri.

Hal serupa kita temui dalam keseharian. Sikap kita kerap menjadi penentu saat merespons amanat Tuhan: bersungut-sungut atau bermalas-malasan. Akibatnya, kita gagal melihat tujuan Tuhan pada setiap perintah itu.

Iman bukan saja dibuktikan lewat hal-hal bombastis. Bahkan, sering kali iman malah teruji lewat peristiwa sederhana, rutinitas, dan biasa. Apakah dalam menjalani itu semua sikap kita menunjukkan kesiapan? Atau, kita masih terjebak dalam sungut dan kemalasan?

Doa: Tuhan, ajari kami untuk selalu siap menaati dan melakukan Firman-Mu.. [JS]







Membawa Orang kepada Kristus
Posted on Rabu, 13 Februari, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca: Yohanes 1:35-51

Langkah pertama untuk menjalankan Amanat Agung Kristus adalah membawa orang kepada Kristus. Langkah ini kita sebut sebagai penginjilan. Dalam bacaan Alkitab hari ini, Yohanes—yang disebut sebagai Yohanes Pembaptis—memberi tahu dua orang muridnya tentang Tuhan Yesus dengan mengatakan, “Lihatlah Anak domba Allah!” Usaha Yohanes Pembaptis ini membuat kedua muridnya kemudian beralih menjadi murid Tuhan Yesus. Salah seorang dari kedua orang itu, yaitu Andreas, bertemu dengan saudaranya (yaitu Simon Petrus) dan berkata kepadanya,  “Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus).” Itulah dua contoh penginjilan pada zaman Tuhan Yesus.

Pada zaman ini, memperkenalkan orang lain kepada Kristus tidak sesederhana kedua contoh di atas karena Kristus tidak lagi hadir secara fisik di bumi. Membawa seseorang kepada Kristus pada zaman ini berarti memberi penjelasan tentang Kristus. Hal terpenting yang perlu dijelaskan tentang Kristus adalah berita tentang kematian-Nya untuk menebus dosa manusia dan tentang kebangkitan-Nya yang menunjukkan bahwa Kristus memiliki kuasa atas kematian (bandingkan dengan 1 Korintus 15:3-4). Dalam pelaksanaan penginjilan pada zaman ini, bila kita belum terampil memberi penjelasan tentang Tuhan Yesus secara langsung, kita bisa mengikuti pelatihan di gereja (bila ada), atau kita bisa memperkenalkan orang yang menjadi sasaran penginjilan kepada orang yang mengerti cara menyampaikan berita Injil atau kepada rohaniwan setempat. Bila suatu saat, gereja Anda menyelenggarakan kebaktian penginjilan, kebaktian itu merupakan sarana yang bisa membantu kita untukmemperkenalkan seseorang kepada Yesus Kristus.

Tindakan Andreas memperkenalkan Simon Petrus kepada Yesus Kristus itu merupakan teladan untuk kita contoh pada masa kini. Tindakan memperkenalkan seseorang kepada Kristus itu biasa disebut sebagai gerakan Andreas. Apakah Anda pernah mendengar tentang “Gerakan Andreas” di gereja Anda. Bila di gereja Anda belum pernah ada “Gerakan Andreas”, Anda bisa mengusulkannya kepada gereja Anda saat gereja Anda hendak menyelenggarakan kebaktian penginjilan. Bila di gereja Anda belum pernah ada pelatihan penginjilan, Anda bisa juga mengusulkannya. Perlu diingat bahwa “Gerakan Andreas” ini perlu diiringi dengan gerakan untuk berdoa. Apakah Anda pernah berdoa agar bisa membawa orang lain kepada Kristus? [P]





February 14, 2019, 06:27:49 AM
Reply #1771
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Bagian dan Tanggung jawabnya
Posted on Rabu, 13 Februari, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Yosua 19:1-51

Seumpama hari ini Anda menerima pembagian warisan. Kira-kira, apa yang akan Anda terima? Bagaimana menentukan ukurannya? Bagaimana adat istiadat, agama, hukum, dan negara mengaturnya? Apakah jenis kelamin, umur, relasi, dan agama menjadi faktor penentu? Bagaimana kita mengetahui bahwa itu adalah hak kita atau hak orang lain?

Ketika membaca nas hari ini, ada tiga hal menarik seputar pembagian tanah ini. Pertama, bagian bani Yehuda yang terlalu besar itu dibagi untuk bani Simeon. Dengan demikian, bani Simeon juga menerima milik pusaka di tengah-tengah bani Yehuda. Kedua, ada frasa “kota dengan desa-desanya” yang berulang dalam usaha pembagian. Artinya, setiap suku mendapat perlakuan yang sama. Kemudian, Tuhan menyebutkan nama orang-orang. Mereka kelak akan menjadi pemimpin besar seperti Yosua. Mereka mendapatkan bagiannya sesuai dengan pelayanan dan pengorbanannya bagi bangsa.

Berangkat dari ketiga hal di atas, kita belajar satu prinsip. Bagian yang berasal dari Tuhan tidak dibatasi oleh apa pun juga. Tuhan tidak membeda-bedakan pemberian-Nya. Tuhan tidak mengenal status dan derajat sebagai acuan pemberian-Nya. Tuhan membagi rata semuanya sesuai kebutuhan masing-masing suku. Kota dan desa dibagikan secara rata. Sama seperti Yosua dan Kaleb, mereka pun dituntut tanggung jawab yang sama (Yos. 14:9). Pemberian dan tanggung jawab selalu ada bergandengan.

Prinsip ini pun berlaku hingga saat ini. Setiap anugerah dan berkat dari Tuhan tidak diberikan berdasarkan identitas sosial dan prestasi kita. Itu murni hanya karena belas kasih Tuhan semata. Dia sama sekali tidak pernah menggunakan status kita sebagai acuan curahan cinta-Nya.

Namun, semua pemberian itu selalu memiliki tujuan. Setiap pemberian Tuhan harus mempunyai faedah bagi sesama manusia. Apa yang sudah kita lakukan terhadap pemberian itu? Sudahkah kita mengelolanya dengan baik?

Doa: Tuhan, berikan kami kemampuan untuk menerima dengan ketulusan dan tanggung jawab atas semua pemberian-Mu. [JS]







Diberkati untuk Menjadi Berkat
Posted on Rabu, 13 Februari, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Yosua 18:12-28

Apakah kita pernah bermain monopoli? Dadu yang dilempar akan menentukan langkah kita. Namun, langkah itu bukan berdasarkan kemauan kita, melainkan karena keberuntungan. Apakah kehidupan ini selalu tentang keberuntungan?

Yosua sudah mengundi tanah agar dibagikan kepada suku-suku Israel. Berdasarkan peta, tanah suku Benyamin tidak seluas suku lainnya. Luasnya hanya dua puluh lima mil panjangnya dan dua belas lebarnya.

Apakah ini sebuah kerugian? Tidak! Posisi tanah itu sangat strategis. Ia berada di antara tanah suku Yehuda dan Efraim. Lalu lintas utara-selatan melalui Pegunungan Barat mengalir melaluinya. Begitu juga halnya rute timur-barat. Lintasan ini penting karena menghubungkan Benyamin ke Yordan di timur dan pantai di barat. Sepanjang rute ini, perdagangan terus berdenyut.

Lokasi ini pun strategis secara politik. Ia menjembatani daerah utara dan selatan Israel. Kelak, suku Benyamin yang menjadi penghubung Israel dan Yehuda. Tanah suku Benyamin menjadi perbatasan. Lewat itu, orang-orang Yahudi bisa bergerak bebas. Apalagi, jika sedang terjadi konflik.

Bagaimana menempatkan Tuhan dalam memelihara kita? Mungkin, kita sedang ada masalah dengan warisan, pembagian harta, tanah, kesempatan usaha, dan sebagainya. Bisa jadi, kita sedang mengalami persoalan mengenai kebutuhan hidup. Kita mungkin khawatir ada pihak lain sedang mencoba berbuat curang. Kita mungkin cemas karena ada faktor di luar kendali yang bisa memengaruhi “keberuntungan” kita.

Khawatir adalah manusiawi, namun Alkitab melarangnya. Pada setiap perkara, kita harus berserah kepada Tuhan. Dia pasti mempunyai perhitungan untuk setiap curahan berkat-Nya. Tugas kita hanyalah memaksimalkan berkat itu. Dalam setiap berkat, Tuhan selalu menyelipkan tanggung jawab, yaitu menjadi saluran berkat. Apakah kita mampu melakukannya?

Doa: Tuhan, curahkanlah berkat-Mu agar kami bisa menjadi saluran berkat bagi orang lain. [JS]


February 15, 2019, 06:38:51 AM
Reply #1772
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
 https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Dasar Perlindungan atas Hukuman
Posted on Kamis, 14 Februari, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Yosua 20:1-9

Sudah lazim bahwa setiap negara pasti memiliki seperangkat hukum. Instrumen ini penting untuk memastikan kejahatan mendapatkan ganjaran. Dengan adanya aturan, maka semua pihak dipastikan memperoleh keadilan. Di hadapan hukum, tidak ada perbedaan kelompok, golongan, dan ras. Hukum memandang semua manusia setara.

Hukum pasti menghasilkan sanksi. Untuk itulah kehadiran penjara menjadi sebuah keniscayaan. Setiap pelanggar hukum akan ditempatkan di sana.

Namun, kita temui hal yang berbeda dari nas kita hari ini. Alih-alih membangun penjara, Tuhan malah menyuruh bangsa Israel membangun kota perlindungan (2). Tempat ini diperuntukkan kepada mereka yang membunuh tanpa disengaja dan direncanakan (3). Tujuannya agar Si Pelaku bisa berlindung di sana dan bebas dari tuntutan tebusan darah.

Namun, bukan berarti Si Pembunuh bebas berkeliaran. Tujuan dari kota perlindungan adalah agar pelaku bisa menemukan keadilan. Pertama, dia harus jujur kepada tua-tua kota (4). Dia harus mengaku sudah membunuh, tetapi secara tidak sengaja. Jika penuntut tebusan darah mengejar, maka pembunuh itu tidak akan diserahkan ke tangannya (5). Sebaliknya, rapat umat dan para imam akan mengadili kasus itu dengan seksama (6).

Ada dua prinsip yang ingin ditunjukkan dari nas ini. Pertama, Tuhan setia pada keadilan. Kedua, perlindungan-Nya selalu ada sampai keadilan berdiri tegak. Dia melindungi Si Pembunuh (yang tak sengaja). Namun, Dia juga memberi ruang kepada keluarga korban untuk mencari keadilan.

Bagaimana dengan kita? Apakah berpihak pada keadilan sudah menjadi gaya hidup kita? Apakah kita geram ketika melihat kecurangan? Atau jangan-jangan, kita sudah terbiasa dengan semua kepalsuan hukum?

Keadilan adalah sebuah hal yang utama dalam jiwa Kekristenan. Alkitab mengajari kita bahwa Tuhan pun peduli soal keadilan. Sudah seharusnya kita pun demikian.

Doa: Tuhan, ajar kami menjadi sama seperti Engkau, yaitu mencintai keadilan. [JS]







Kamu Harus Dilahirkan Kembali!
Posted on Kamis, 14 Februari, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca: Yohanes 3:1-21

Apa yang terjadi saat seorang pemimpin agama Yahudi bernama Nikodemus menemui Tuhan Yesus merupakan sesuatu yang mengagetkan. Terhadap perkataan Nikodemus yang bernada pujian, Tuhan Yesus tidak memberi tanggapan, malahan Dia mengatakan, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Perkataan ini mengagetkan karena Nikodemus adalah seorang pemimpin agama Yahudi yang sudah pasti memahami dan taat kepada hukum Taurat. Ternyata bahwa pengetahuan tentang Kitab Suci (Perjanjian Lama) dan ketaatan terhadap peraturan Taurat tidak bisa menjamin bahwa seseorang pasti masuk ke surga (3:3, melihat Kerajaan Allah). Yang bisa menjamin bahwa seseorang pasti masuk ke surga adalah bila orang itu sudah dilahirkan kembali. Orang yang sudah dilahirkan kembali adalah orang yang sudah dilahirkan dari air dan Roh (3:5). Karena 3:6-8 merupakan tambahan penjelasan dari 3:5, maka dapat diduga bahwa dilahirkan dari air menunjuk kepada kelahiran jasmani (dilahirkan secara daging) dan dilahirkan dari roh merupakan hasil pekerjaan ROH KUDUS di dalam diri seseorang. Penjelasan Tuhan Yesus selanjutnya menunjukkan bahwa melihat atau masuk ke dalam Kerajaan Allah itu sama dengan memperoleh hidup yang kekal dan bahwa persyaratan memperoleh hidup yang kekal adalah percaya kepada Tuhan Yesus, khususnya percaya (beriman) terhadap karya keselamatan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus melalui pengorbanan-Nya di kayu salib (3:15-16).

Apakah Anda sudah dilahirkan kembali? Orang yang sudah dilahirkan kembali adalah orang yang hidupnya sudah diperbarui melalui pekerjaan ROH KUDUS di dalam dirinya, sehingga ia menjadi ciptaan baru di dalam Kristus (2 Korintus 5:17). Mustahil bila seseorang yang sudah dilahirkan kembali tidak mengalami perubahan hidup. Perubahan hidup pasti terwujud saat ROH KUDUS berdiam di dalam diri orang percaya. Apakah Anda sudah mengalami perubahan hidup sehingga Anda bisa meyakini bahwa diri Anda telah dilohirkan kembali oleh pekerjaan ROH KUDUS? Bila Anda sudah mengalami perubahan hidup, maka Anda memiliki pengalaman yang bisa dibagikan kepada orang lain. Dengan menceritakan pengalaman tersebut, secara otomatis Anda telah menjadi saksi bagi pekerjaan Allah di dalam Kristus. Bacalah Bacaan Alkitab hari ini sekali lagi sebagai bekal untuk bersaksi tentang Kristus. [P]




February 16, 2019, 05:42:34 AM
Reply #1773
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
 https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Perintah untuk Berbagi
Posted on Jumat, 15 Februari, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Yosua 21:1-42

Tahun 2018, yang lalu, adalah tahun politik. Pasalnya, saat itu terjadi pilkada serentak di berbagai tempat di Indonesia. Tentu sudah bukan rahasia, politik adalah permainan pembagian kekuasaan. Pada pesta demokrasi itu, setiap kontestan berhasrat ingin mencicipi kekuasaan dengan berbagai cara. Dampaknya, kita (rakyat biasa) yang menjadi korban. Kita terkoyak dengan wacana yang dimainkan para politisi itu. Bahkan, situasi itu membuat adanya potensi gangguan keamanan.

Nas hari ini berhubungan dengan pembagian tanah. Orang Lewi menagih janji Tuhan kepada Yosua agar diberikan tanah sebagai tempat tinggal (2). Dahulu, janji itu diberikan lewat perantaraan Musa.

Pembagian tanah itu, tidak mengundang konflik apa pun. Padahal, kerap kali perkara seperti ini menimbulkan sengketa di antara berbagai pihak. Kita tidak melihat ada kecemburuan sosial dari suku yang lain kepada orang Lewi. Apalagi, sesuatu yang bersifat ancaman dan politisasi agama sama sekali hilang dari radar kita. Mengapa hal ini bisa berlangsung aman dan damai? Jawabannya, karena mereka melakukan itu sepenuhnya atas perintah Tuhan. Tiada yang lain!

Semangat kompetisi untuk mencari kekuasaan dan menjadi yang terhebat adalah natur kita, manusia berdosa. Persaingan itu terlihat dalam banyak bidang kehidupan kita, misalnya keluarga, organisasi, bahkan di gereja. Semua ini didorong oleh hasrat mementingkan diri sendiri. Entah mengapa, kita sering merasa haus pada usaha mementingkan diri sendiri. Alhasil, kita tidak lagi hidup untuk saling berbagi. Sebaliknya, kita menjadi begitu egois tidak mementingkan sesama. Pusat dunia berubah menjadi kepada “saya” semata. Akibatnya, kita menjadi begitu narsis terhadap diri sendiri. Akun media sosial kita menjadi saksi betapa kita sangat cinta pada diri sendiri. Fenomena ini setidaknya menjadi indikator siapa kita di hadapan Tuhan. Apakah kita menyadari itu?

Doa: Tuhan Yesus, didiklah kami agar selalu menempatkan Engkau menjadi pusat. Dengan begitu, hasrat egois kami bisa tenggelam hilang ke dalam naungan kasih-Mu. [JS]







Mata Air yang Memancar Terus
Posted on Jumat, 15 Februari, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca: Yohanes 4:1-42

Kisah pertemuan Tuhan Yesus dengan perempuan Samaria dalam Yohanes 4 memperlihatkan bahwa kehadiran Tuhan Yesus merupakan jawaban terhadap berbagai keperluan khusus manusia. Perempuan Samaria yang bertemu dengan Tuhan Yesus ini adalah perempuan yang hidupnya bergelimang dengan dosa. Dosa bisa memberi kesenangan sesaat, tetapi tidak bisa memberikan kebahagiaan yang bertahan lama. Dosa tidak mungkin memberi kepuasan. Dalam kondisi semacam itu, Tuhan Yesus menawarkan “air hidup” yang akan memberikan kepuasan. Ada kemungkinan bahwa gaya hidup perempuan itu telah membuat retak banyak rumah tangga. Setelah bertemu Tuhan Yesus, kehidupan perempuan Samaria itu berubah. Sebagai seorang yang hanya memikirkan kepentingan sendiri, ia malu berjumpa dengan orang lain. Akan tetapi, perjumpaan dengan Tuhan Yesus—Sang Mesias—telah mengubah hidupnya. Dari seorang pemalu yang hanya memperhatikan kepentingan sendiri, dia berubah menjadi seorang yang amat bersemangat menceritakan pertemuannya dengan Sang Juruselamat. Setelah keperluan rohaninya terpenuhi melalui perjumpaannya dengan Tuhan Yesus, perempuan itu lupa dengan tujuan kedatangannya untuk mengambil air. Dia meninggalkan tempayannya di dekat sumur dan lari ke kota untuk menceritakan perjumpaannya dengan Tuhan Yesus.

Pernahkah Anda mengalami perubahan hidup yang disebabkan oleh perjumpaan Anda dengan Tuhan Yesus? Apakah Anda pernah mengalami sukacita meluap yang disebabkan oleh perjumpaan Anda dengan Tuhan Yesus, yang membuat Anda melupakan kepentingan Anda sendiri, dan membuat Anda bersemangat menceritakan tentang apa yang telah Anda alami melalui perjumpaan dengan Tuhan Yesus itu? Tahukah Anda bahwa Tuhan Yesus adalah Terang hidup bagi mereka yang hidup dalam kegelapan rohani? Tahukah Anda bahwa Tuhan Yesus adalah Air Hidup dan Roti Hidup bagi mereka yang kehausan dan kelaparan secara rohani? Tahukah Anda bahwa hanya Tuhan Yesus yang dapat memberikan damai sejahtera kepada mereka yang hidupnya penuh kegelisahan? Bila Anda mengalami kekosongan secara rohani, datanglah kepada Tuhan Yesus dan mintalah Dia mengubah hidup Anda, sehingga hidup Anda menjadi berarti. Bila Anda telah memiliki pengalaman yang nyata bersama dengan Tuhan Yesus, Anda memiliki sesuatu untuk dibagikan kepada orang lain. [P]







February 17, 2019, 05:09:27 AM
Reply #1774
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Perintah dan Janji
Posted on Sabtu, 16 Februari, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Yosua 21:43-45

Kita hidup dalam dunia yang dibanjiri dengan janji. Televisi dan media sosial, misalnya YouTube, adalah corong janji itu diumbar. Namun sering kali, tebaran janji itu hanya semu. Janji itu akan terpenuhi kalau kita memenuhi syarat yang disodorkannya. Kita terlebih dahulu harus membayarkan sejumlah uang baru kemudian janji itu bisa dirasakan. Bahkan, sering janji itu memanipulasi syarat-syaratnya. Akibatnya, siapa saja yang tidak cermat malah menjadi tertipu.

Bacaan kita berbicara tentang janji. Tuhan selalu menepati janji-Nya. Dia tidak mengajukan syarat yang manipulatif. Sebaliknya, syarat pemenuhan janji-Nya cukup sederhana, yaitu melakukan perintah-Nya.

Contoh yang paling awal adalah Abraham. Tuhan menjanjikan kepadanya tanah perjanjian asalkan Abraham mau bertindak sesuai firman-Nya. Hal serupa terjadi kepada bangsa Israel. Selama Israel taat pada perintah Tuhan, maka penyertaan dan penggenapan janji-Nya pasti nyata. Tuhan akan membuat semua hal menjadi mudah. Bahkan, jika tantangan musuh datang, mereka tidak akan tahan berdiri menghadapi Israel (43-45). Tuhan menjamin keamanan bangsa Israel.

Relasi dengan Tuhan ternyata cukup sederhana, walau sulit dalam praktik. Kita berhubungan dengan dia dijembatani oleh janji-Nya dan ketaatan. Dua hal ini harus berjalan seimbang sama seperti antara hak dan kewajiban. Kita akan mendapatkan hak jika sudah melaksanakan kewajiban. Prinsip ini tidak bisa dibalik. Jika kita mengklaim janji-Nya, maka perintah-Nya pun harus kita eksekusi. Pendeknya, mukjizat itu nyata jika firman-Nya pun dilaksanakan. Hanya ketaatan kita yang bisa membuat Tuhan bertindak, bukan uang, korban, atau “sogokan” lainnya.

Pertanyaan kita sekarang adalah bagaimana kedua aspek ini menjadi seimbang dalam kehidupan kita? Apakah kita hanya merengek menuntut janji-Nya, namun kita lupa menjalani kewajiban? Bagian kita hanyalah taat karena Tuhan pasti setia dalam janji-Nya.

Doa: Tuhan, kami mau seimbang dalam janji dan perintah-Mu. [JS]







Berkumpul Mendengarkan Firman Allah!
Posted on Sabtu, 16 Februari, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca: Kisah Para Rasul 10:19-48

Kisah Kornelius dalam Kisah Para Rasul 10 ini amat menarik. Kornelius adalah orang non-Yahudi yang menganut agama Yahudi. Ia saleh, ia serta seisi rumahnya takut akan Allah dan ia memberi banyak sedekah kepada umat Yahudi dan senantiasa berdoa kepada Allah (10:2). Karena diperintah oleh Allah (melalui seorang malaikat) untuk mengundang Rasul Petrus datang ke rumahnya (10:5), Kornelius mempersiapkan penyambutan terhadap kedatangan Rasul Petrus dengan mengundang sanak saudara dan sahabat-sahabatnya (10:24). Saat Rasul Petrus menyampaikan khotbah, ROH KUDUS bekerja (10;44), sehingga berita Injil tentang Yesus Kristus disambut dengan hati terbuka. Semua orang yang mendengar khotbah Rasul Petrus merespons dengan mempercayai berita Injil, sehingga Rasul Petrus merasa telah tiba saatnya untuk melakukan pembaptisan massal (10:47).

Mengadakan acara untuk berkumpul bersama merupakan kebiasaan berbagai suku di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Di Indonesia, umum terjadi bahwa banyak orang berkumpul dalam sebuah rumah untuk melakukan bermacam-macam kepentingan, antara lain untuk mengadakan perayaan ulang tahun, pernikahan, peringatan kematian, mengucap syukur untuk rumah baru, dan berbagai keperluan lain. Apa yang dilakukan oleh Kornelius itu merupakan teladan bagi kita bahwa acara kumpul bersama bisa membuka kesempatan untuk menyampaikan berita Injil. Tidak mudah mengundang orang untuk datang ke gereja. Mengundang orang untuk datang ke rumah lebih mudah karena hal itu merupakan hal yang wajar. Oleh karena itu, bila Anda memiliki kerinduan untuk memberitakan Injil Yesus Kristus, salah satu cara yang bermanfaat adalah dengan menyelenggarakan acara syukuran di rumah Anda

Apakah Anda memiliki keterbukaan hati seperti Kornelius dalam menyambut berita Injil? Apakah Anda pernah memanfaatkan kesempatan kumpul bersama untuk keperluan pemberitaan Injil? Mengundang orang datang untuk acara syukuran merupakan salah satu cara yang efektif untuk memberitakan Injil. Tentu saja ada berbagai cara lain yang bisa dilakukan untuk memberitakan Injil. Kita perlu mengembangkan kreativitas dan kepekaan terhadap kehendak Allah dalam hidup kita. Bila Anda memiliki kerinduan untuk menjadi alat guna dipakai bagi pekerjaan Tuhan, pikirkanlah apa yang dapat Anda lakukan secara konkrit dan rencanakanlah pelaksanaannya. [P]



February 18, 2019, 05:47:30 AM
Reply #1775
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Rencana Allah bagi Umat-Nya
Posted on Minggu, 17 Februari, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca: Kisah Para Rasul 8

Setelah pertobatan sekitar 3000 orang pada hari Pentakosta (2:41), jumlah anggota jemaat di Yerusalem terus bertambah (2:47). Jemaat saat itu memiliki ciri khas, yaitu bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan, serta selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa (2:42). Mereka hidup saling membantu sehingga milik pribadi seakan-akan menjadi milik bersama (2:44-45). Adanya pihak oposisi (para pemimpin agama) yang bersikap represif (menekan) tidak bisa menahan pertumbuhan jemaat. Jumlah anggota jemaat bertambah terus sampai mencapai 5000 orang (4:1-4). Dari satu sisi, kita mungkin terkagum-kagum dan menganggap jemaat di Yerusalem sebagai jemaat yang ideal. Dari sisi yang berbeda, tanpa disadari, jemaat di Yerusalem telah mengabaikan Amanat Agung Kristus, yaitu amanat untuk menjadikan semua bangsa—bukan hanya penduduk Yerusalem atau orang Yahudi saja—sebagai murid Kristus. Oleh karena itu, Allah membiarkan terjadinya penganiayaan yang hebat terhadap jemaat Yerusalem. Penganiayaan tersebut membuat para anggota jemaat di Yerusalem, kecuali para rasul, tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria. Perhatikan bahwa mereka yang tersebar itu menjelajah seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil (8:1, 4). Dengan demikian, jelaslah bahwa penganiayaan itu diizinkan terjadi oleh Tuhan serta dimanfaatkan untuk mewujudkan misi menjangkau semua bangsa di seluruh dunia, bukan hanya bangsa Yahudi di Yerusalem saja.

Rencana Allah tak pernah berubah. Allah telah menetapkan bahwa murid-murid Tuhan Yesus akan menjadi saksi “di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” (Kisah Para Rasul 1:8). Perhatikan bahwa kata penghubung yang dipakai adalah kata “dan”, bukan kata “lalu”. Bagi orang Kristen (gereja) pada masa kini, hal itu berarti bahwa pelayanan kita harus memiliki aspek ke dalam (ibadah, persekutuan, pembinaan, diakonia ke dalam) serta aspek keluar (misi, diakonia keluar) secara bersama-sama (bukan berurutan). Apakah Anda dan gereja Anda telah berusaha mempertahankan keseimbangan pelayanan ke dalam dan pelayanan keluar? Bila kita (gereja) mengabaikan rencana Allah untuk menjangkau semua bangsa, ingatlah bahwa Allah bisa memakai cara apa saja—termasuk mengizinkan terjadinya penganiayaan—untuk mengingatkan umat-Nya akan tugas menjangkau dunia ini! [P]



February 19, 2019, 05:42:53 AM
Reply #1776
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Pemulihan Relasi
Posted on Senin, 18 Februari, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca: Matius 1

Setelah menjelaskan identitas Tuhan Yesus sebagai Mesias yang menggenapi nubuat Perjanjian Lama, Matius secara cepat melewati kehidupan masa kecil Tuhan Yesus untuk memusatkan perhatian pada persiapan dan pelayanan Tuhan Yesus. Matius mencatat tiga peristiwa dalam persiapan pelayanan Tuhan Yesus, yaitu kisah Yohanes Pembaptis (3:1-12), pembaptisan Tuhan Yesus (3:13-17), dan pencobaan Tuhan Yesus di padang gurun (4:1-11). Saat pembaptisan Yesus Kristus, Allah Bapa menyatakan, “Inilah anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan” (3:17). Apa yang membuat Allah Bapa berkenan kepada Yesus Kristus (Allah Anak)? Bukankah Tuhan Yesus belum melakukan pelayanan untuk Allah Bapa? Allah Bapa berkenan kepada Tuhan Yesus karena relasi yang terjalin antara Tuhan Yesus—Sang Allah Anak—dengan Allah Bapa, bukan karena apa yang telah Tuhan Yesus lakukan bagi Allah Bapa.

Di dunia yang penuh persaingan saat ini, sering kali rasa berharga hidup manusia ditentukan oleh apa/siapa yang dimiliki atau apa yang bisa dihasilkan. Manusia mengukur dirinya berharga bukan dari penilaian Allah, tetapi dari persepsi manusia atas prestasi atau koleksi yang dia miliki. Oleh karena itu, saat manusia tidak dapat mencapai standar yang dianggap berharga oleh dunia, tidak mengherankan bila manusia kehilangan harga diri dan alasan mengapa dia ada dalam dunia. Dari relasi antara Tuhan Yesus dengan Allah Bapa, kita bisa melihat bahwa satu-satunya alasan yang kokoh agar kita bisa merasa berharga dalam hidup ini adalah kesadaran bahwa kita adalah anak-anak Allah yang dikasihi dan diterima Allah apa adanya. Kita—yang semula adalah musuh Allah—telah diperdamaikan oleh Tuhan Yesus dan kita telah diadopsi menjadi anak-anak Allah. Inilah keunikan Kekristenan: relasi kita dengan Tuhan seperti relasi anak dengan bapak. Seorang anak—meskipun cacat—sangat berharga bagi orang tuanya karena adanya relasi orang tua-anak.

Apa yang membuat Anda merasa berharga? Jika kita kehilangan pekerjaan, harta, kesehatan, pelayanan, keluarga, apakah kita masih menganggap diri kita berharga? Hidup manusia berharga bukan karena harta dan kuasa yang ia miliki, tetapi semata-mata karena penilaian Sang Pencipta—yaitu Allah—yang memandang diri kita berharga. Apa pun penilaian dunia terhadap diri kita, harga diri anak-anak Tuhan seharusnya hanya disandarkan pada penilaian Allah. [FL]


February 20, 2019, 05:50:57 AM
Reply #1777
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Setia Sampai Akhir Hayat
Posted on Selasa, 19 Februari, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Yosua 23:1-16

Apa yang kita lakukan jika sedang gelisah? Ini merupakan suasana hati yang kalut, takut, disertai bimbang. Namun saat menjelang akhir hayatnya, Yosua tidak mau dikuasai kegelisahan. Dia tetap mengingat janji dan peringatan Allah.

Yosua sudah tua dan lanjut umurnya. Pada momen itu, dia memanggil para pemimpin Israel. Mereka adalah tua-tua, hakim, dan pengatur pasukan (2). Di senja usianya, dia ingin memberikan petuah penuh makna. Yosua mengingatkan kebesaran kuasa-Nya dalam kehidupan Israel (3). Allah melakukan perkara besar demi kebaikan mereka. Misalnya, Dia telah memberikan Israel negeri yang menjadi milik pusaka mereka (4-5).

Atas semua kebaikan itu, Yosua mendorong umat Israel agar hidup sesuai kehendak-Nya (6-8, 11). Yosua ingin agar mereka taat melakukan hukum dan ketetapan Tuhan. Umat Israel dilarang bergaul dengan bangsa penyembah berhala. Dengan begitu, mereka akan tetap setia menyembah Allah saja. Mereka harus terpaut kepada Allah dan mengasihi-Nya.

Jika Israel dapat hidup seperti itu, maka Allah menjanjikan kemenangan besar bagi mereka. Tuhan akan menghalau semua musuh Israel (9-10). Namun, jika mereka menyimpang dari kehendak-Nya, kehancuran besar akan menanti (12-16).

Yosua telah setia mengabdi sebagai hamba Allah. Karya kasih-Nya kepada dirinya dan Israel selalu sempurna. Ini memperlihatkan bahwa Allah selalu setia kepada umat-Nya. Jadi, setiap umat juga harus hidup setia dengan melakukan kehendak-Nya sebagai bukti loyalitas kepada-Nya.

Marilah kita menjalani kehidupan dengan sukacita. Allah selalu menjamin kebaikan, asal kita patuh kepada-Nya. Kehendak-Nya akan selalu membawa kita pada hidup berkemenangan. Jangan lamban untuk mengucap syukur dalam segala keadaan! Kuatkan langkah kita untuk mengikuti kehendak-Nya. Hingga sampai akhir hayat, kita tetap setia menjadi umat-Nya.

Doa: Tuhan, teguhkan langkah kami untuk tetap setia kepada-Mu. [JS]







Memahami Penjelasan Orang Lain
Posted on Selasa, 19 Februari, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Yosua 22:9-34

Konflik terjadi karena ada kesalahpahaman antardua pihak atau lebih. Masing-masing pihak mengutamakan pendapatnya sendiri, sementara pihak yang berseberangan harus dihancurkan. Padahal, untuk meredakan suatu konflik, kita perlu membangun situasi saling memahami.

Yosua memerintahkan bani Ruben, bani Gad, dan suku Manasye yang setengah pergi ke Gilead-tanah milik mereka. Mereka kembali sebagai umat Allah yang hidup dengan mengikuti segala perintah Musa. Ketiga suku Israel ini berangkat menuju ke seberang sungai Yordan (9). Dalam perjalanan, mereka mendirikan mazbah besar menghadap ke Kanaan di Gelilot (10-11). Hal tersebut dipandang salah oleh umat Israel lainnya. Alasannya, itu dianggap meniru penyembahan berhala di Kanaan atau memberontak kepada Allah.

Imam Pinehas bin Eleazar dan sepuluh pemimpin suku Israel diutus menemui mereka. Tujuannya meminta mereka untuk kembali setia kepada Allah (17-19). Mereka juga diingatkan akan murka Allah jika berkhianat kepada-Nya (20).

Bani Ruben, Gad, dan suku Manasye yang setengah mencoba menjelaskan maksud membangun mazbah tersebut. Mereka ingin mengingat identitasnya sebagai umat Allah serta bertekad untuk patuh kepada-Nya. Atas penjelasan itu, umat Israel memuji kebesaran Allah (33).

Perbedaan gagasan dari dua pribadi merupakan hal wajar. Tuhan memberi kita kemampuan berpikir dan mengambil keputusan. Ini adalah anugerah Allah. Jadi, kita belum tentu merupakan pihak yang paling benar. Kita membutuhkan kerendahan hati agar memahami penjelasan pihak lain. Dengan demikian, setiap pribadi dimampukan untuk peka pada kehendak Allah dan bukan mengutamakan kehendaknya sendiri. Kehidupan akan terasa indah jika ada sikap saling memahami. Mari kita berusaha dengan sungguh-sungguh menjadi pribadi rendah hati. Jadi, kita jangan selalu merasa sebagai pihak yang paling benar.

Doa: Ya Tuhan, berilah kemampuan agar kami dapat memahami orang lain. [JS]




February 20, 2019, 05:51:45 AM
Reply #1778
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Firman-Nya sebagai Dasar Persaudaraan
Posted on Selasa, 19 Februari, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Yosua 22:1-8

Kita pasti akrab dengan istilah “persaudaraan”. Ada banyak spanduk dan pamflet dengan tema ini. Mungkin hal ini pun sering menjadi tema di dalam ibadah. Namun, walaupun sering dibicarakan, kita harus mengakui bahwa persaudaraan sering kali sulit dijaga. Kita kerap mengartikan persaudaraan sebatas ikatan primordial dan kesamaan kepentingan belaka.

Pengalaman bangsa Israel menunjukkan bagaimana persaudaraan dijalankan. Aktor utamanya empat puluh ribu orang dari suku Ruben, Gad, dan Manasye yang setengah. Secara sukarela, mereka ikut bertempur membantu bangsa Israel menaklukkan tanah Kanaan. Mereka berkorban dengan meninggalkan tempat tinggal mereka di sisi timur Yordan. Selama tujuh tahun, mereka bahu-membahu dengan saudara yang lain menghadapi bahaya. Mereka pun menolong dengan tuntas, yaitu sampai akhir dari perang itu.

Yosua menilai tindakan mereka sebagai bentuk kepatuhan kepada perintah Tuhan (2-3). Yosua kemudian menasihati mereka agar tetap setia mengikuti perintah Tuhan (5). Dalam hal ini, Yosua melihat bahan baku solidaritas suku Ruben, Gad, dan Manasye. Dasarnya bukanlah sentimen emosional, namun kepatuhan pada perintah Tuhan.

Kita kerap tertipu dalam memahami arti persaudaraan. Kita mengartikannya hanya sebuah ikatan persaudaraan, suku, agama, dan golongan. Kita selalu menggunakan standar yang fana dalam membangun persaudaraan. Sebaliknya, kita lupa menaruh Tuhan dan perintah-Nya sebagai acuan membangun relasi. Misalnya tentang semangat mengasihi. Ketika Yesus membicarakan mengenai kasih, nada dari perkataan itu adalah perintah (Yoh.. 13:34).

Mari kita merenung sejenak. Dalam menjalin tali persaudaraan, apa dasar dari relasi itu? Apakah persaudaraan itu dibangun di atas prinsip firman-Nya atau hanya sebatas kecocokan semata?

Doa: Tuhan, selidikilah motif persaudaraan kami yang bukan dari-Mu agar memiliki dasar perintah-Mu. [JS]







Mesias Seluruh Umat Manusia
Posted on Selasa, 19 Februari, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Baca: Matius 2

Matius memaparkan bahwa Yesus Kristus menggenapi nubuat tentang Mesias yang dilahirkan di Bethlehem (bandingkan 2:5-6 dengan Mikha 5:2) dan mengungsi ke Mesir (bandingkan 2:13-15 dengan Hosea 11:1).

Matius 2 mengajarkan dua hal penting kepada kita:

Pertama, rencana keselamatan Allah tidak dapat digagalkan oleh apa pun dan siapa pun. Meskipun Raja Herodes—si penguasa yang kuatir kekuasaannya tersaingi—berusaha membunuh Yesus Kristus dengan memakai siasat licik untuk menemukan Sang Mesias (2:5-7) serta melakukan tindakan keji membunuh semua bayi di Bethlehem yang berusia kurang dari dua tahun (2:16), tetapi Allah jauh melebihi kepintaran dan kelicikan manusia (lihat 2:12, 14, 19-20).

Kedua, Tuhan Yesus bukanlah Mesias untuk satu suku bangsa saja, melainkan untuk seluruh umat manusia. Sungguh disayangkan bahwa para imam dan para ahli Taurat—orang Israel yang tahu betul bahwa Mesias akan lahir di Bethlehem—tidak mau pergi mencari Sang Mesias. Sebaliknya, orang Majus—yang bukan orang Israel—yang mencari dan akhirnya menemukan serta menyembah Sang Mesias itu. Kabar baik tentang keselamatan (berita Injil) bukan hanya milik orang Yahudi atau satu suku bangsa saja. Hal ini terlihat dari kenyataan bahwa berita tentang kelahiran Sang Mesias itu pertama-tama disampaikan kepada orang Majus yang bukan bangsa Yahudi. Secara konsisten, sejak awal sampai akhir Injil Matius, kabar keselamatan diberitakan kepada suku bangsa bukan Yahudi juga (bandingkan dengan Matius 28:20).

Salah satu hal yang dapat kita lakukan untuk dapat terlibat dalam misi mengabarkan Injil kepada segala suku bangsa adalah dengan berdoa. Bagaimanakah kehidupan doa Anda saat ini? Apakah Anda setia mendoakan keluarga, teman kerja, dan tetangga yang belum percaya? Apakah Anda memiliki kerinduan untuk berdoa dan Anda mau melibatkan diri dalam misi untuk menjangkau suku-suku yang belum mendengar Injil? Data tentang suku-suku yang masih terabaikan (belum terjangkau oleh pemberitaan Injil yang dilakukan oleh gereja) bisa dilihat dan dipelajari di https://joshuaproject.net. Jika selama ini Anda belum menyediakan waktu untuk mendoakan suku-suku yang belum mendengar berita Injil, maukah Anda meminta kepada Tuhan untuk membangkitkan kerinduan agar suku-suku yang masih terabaikan di daerah sekitar kita bisa mendengar dan menerima berita Injil?  [FL]



February 21, 2019, 05:23:53 AM
Reply #1779
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)