Author Topic: Saat Teduh  (Read 61272 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

February 22, 2019, 05:38:55 AM
Reply #1780
February 23, 2019, 05:45:59 AM
Reply #1781
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22876
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Miskin di Hadapan Allah


– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Matius 5:1-12

Matius 5-7 dikenal sebagai serial khotbah di bukit karena Tuhan Yesus menyampaikannya selama beberapa hari di daerah perbukitan di Kapernaum. Khotbah di bukit menantang pemimpin saat itu yang penuh kesombongan dan legalistik. Tuhan Yesus memulai khotbahNya dengan ucapan bahagia (5:1-12) yang terlihat berkontradiksi dengan dunia. Dia memperlihatkan nilai hidup (yang bersifat kekal) yang berbeda dengan nilai hidup dunia (yang bersifat sementara), yang membedakan iman sejati dan iman di permukaan (kulit) saja.

Kata “berbahagia” (berasal dari kata Yunani Makarios) bukan sekadar berarti kesenangan biasa, melainkan kondisi diberkati Allah. Tuhan Yesus tidak menjanjikan hidup yang penuh kenyamanan, kekayaan, dan selalu penuh tawa, tetapi hidup yang diberkati Allah dalam arti hidup yang mengandung pengharapan dan sukacita sejati yang melampaui keadaan. Apa ciri orang berbahagia yang memiliki Kerajaan Sorga? Salah satu cirinya adalah “miskin di hadapan Allah” (5:3). Kata “miskin” (berasal dari kata Yunani Ptokos) berarti kondisi tidak memiliki apa-apa lagi (bangkrut). Perkataan “miskin di hadapan Allah” menunjuk kepada orang yang sadar betul bahwa dirinya tidak layak menghadap hadirat Allah yang kudus dan dirinya tidak bisa bersandar pada kebaikan dan kemampuan diri sendiri untuk memperoleh perkenanan Allah. Apakah yang paling dibutuhkan oleh seorang yang tidak memiliki apa-apa lagi? Jelaslah bahwa orang seperti itu hanya bisa mengharapkan belas kasihan dan kemurahan Allah. Orang Kristen adalah orang yang telah dan terus disadarkan bahwa keberadaan dirinya bukanlah ditopang oleh kemampuan dan kebaikan diri sendiri, tetapi semata-mata hanya bersandar pada belas kasihan dan kemurahan Allah.

Semakin lama menjadi anak-anak Allah, apakah kita makin membutuhkan dan makin mengandalkan Tuhan? Bila kita menjawab “ya”, apakah hal itu tercermin dalam waktu yang kita sisihkan untuk berdoa? Hidup yang bergantung pada Tuhan pastilah hidup yang penuh doa. Doa adalah ungkapan relasi dengan Tuhan yang menyadarkan kita bahwa kita tidak mampu menjalani hidup tanpa pimpinan Tuhan. Doa adalah pernyataan hati bahwa kita menginginkan Tuhan berjalan di depan kita. Mintalah belas kasihan Tuhan agar kita mampu menyisihkan waktu untuk berdoa, baik secara pribadi maupun secara berkelompok!  [FL]



Panggilan Menjadi Murid Yesus Kristus

Baca: Matius 4

Matius 4 diawali dengan pencobaan Tuhan Yesus di padang gurun (4:1-11) yang memperlihatkan bahwa Yesus Kristus adalah 100% manusia yang bisa dicobai, namun juga 100% Allah yang tidak dapat berdosa. Kemudian, Matius memperlihatkan kembali bahwa kehadiran Kristus menggenapi nubuat nabi Yesaya (bandingkan 4:15-16 dengan Yesaya 9:1-2). Yesus Kristus memulai rangkaian pelayanan-Nya dengan memberitakan kabar keselamatan (4:17). Bagaimana kabar keselamatan itu bisa sampai ke seluruh dunia dan efektif sampai saat ini? Strategi Tuhan Yesus bukan seperti Rambo yang berperang sendirian, tetapi Ia mempersiapkan murid-murid untuk mengikut Dia (pemuridan). Dia berkata kepada mereka, “Ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia” (4:19).

Panggilan mengikut Kristus adalah panggilan bagi setiap orang Kristen. Ada tiga hal yang perlu kita perhatikan:

Pertama, panggilan “Ikutlah Aku” adalah panggilan untuk mengikut Kristus. Mengikut Kristus berarti menjadikan Yesus Kristus sebagai Tuhan yang berkuasa atas kehidupan kita dan menjadikan Dia sebagai teladan hidup satu-satunya. Semakin hari, seharusnya, seorang murid makin menyerupai gurunya, yaitu Yesus Kristus.

Kedua, perkataan “kamu akan Kujadikan” menunjukkan bahwa menjadi murid Kristus tidak terjadi secara instan, tetapi harus melalui proses transformasi yang dikerjakan oleh Yesus Kristus dalam hidup kita. Selama mengikut Kristus, apakah Anda mengalami perubahan menjadi semakin mirip dengan Yesus Kristus?

Ketiga, perkataan menjadi “penjala manusia” berarti ada harga yang harus dibayar untuk menjadi pengikut Kristus. Bagi Petrus, Andreas, Yohanes dan Yakobus, menjadi penjala manusia berarti meninggalkan profesi sebagai nelayan (Markus 1:20). Artinya, fokus utama hidup mereka bukan lagi sekadar memupuk harta dan mengurus keluarga, melainkan menjadi murid Yesus Kristus, dan selanjutnya mereka harus memuridkan orang lain lagi.

Sebutan “Kristen” adalah sebutan yang pertama kali digunakan untuk menunjuk kepada murid-murid Kristus di Antiokia (Kisah Para Rasul 11:26). Semula, sebutan ini merupakan hinaan terhadap para murid Kristus yang hidupnya meniru Kristus. Mereka rela menderita seperti Kristus agar Injil tersampaikan. Apakah Anda sudah terlibat dalam proses pemuridan di gereja Anda? Apakah ada orang yang sedang Anda doakan, usahakan, dan perjuangkan agar bisa menjadi murid Kristus? [FL]
February 23, 2019, 05:46:42 AM
Reply #1782
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22876
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Berharga di Hadapan Allah
Posted on Jumat, 22 Februari, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Matius 3

Setelah menjelaskan identitas Tuhan Yesus sebagai Mesias yang menggenapi nubuat Perjanjian Lama, Matius secara cepat melewati kehidupan masa kecil Tuhan Yesus untuk memusatkan perhatian pada persiapan dan pelayanan Tuhan Yesus. Matius mencatat tiga peristiwa dalam persiapan pelayanan Tuhan Yesus, yaitu kisah Yohanes Pembaptis (3:1-12), pembaptisan Tuhan Yesus (3:13-17), dan pencobaan Tuhan Yesus di padang gurun (4:1-11). Saat pembaptisan Yesus Kristus, Allah Bapa menyatakan, “Inilah anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan” (3:17). Apa yang membuat Allah Bapa berkenan kepada Yesus Kristus (Allah Anak)? Bukankah Tuhan Yesus belum melakukan pelayanan untuk Allah Bapa? Allah Bapa berkenan kepada Tuhan Yesus karena relasi yang terjalin antara Tuhan Yesus—Sang Allah Anak—dengan Allah Bapa, bukan karena apa yang telah Tuhan Yesus lakukan bagi Allah Bapa.

Di dunia yang penuh persaingan saat ini, sering kali rasa berharga hidup manusia ditentukan oleh apa/siapa yang dimiliki atau apa yang bisa dihasilkan. Manusia mengukur dirinya berharga bukan dari penilaian Allah, tetapi dari persepsi manusia atas prestasi atau koleksi yang dia miliki. Oleh karena itu, saat manusia tidak dapat mencapai standar yang dianggap berharga oleh dunia, tidak mengherankan bila manusia kehilangan harga diri dan alasan mengapa dia ada dalam dunia. Dari relasi antara Tuhan Yesus dengan Allah Bapa, kita bisa melihat bahwa satu-satunya alasan yang kokoh agar kita bisa merasa berharga dalam hidup ini adalah kesadaran bahwa kita adalah anak-anak Allah yang dikasihi dan diterima Allah apa adanya. Kita—yang semula adalah musuh Allah—telah diperdamaikan oleh Tuhan Yesus dan kita telah diadopsi menjadi anak-anak Allah. Inilah keunikan Kekristenan: relasi kita dengan Tuhan seperti relasi anak dengan bapak. Seorang anak—meskipun cacat—sangat berharga bagi orang tuanya karena adanya relasi orang tua-anak.

Apa yang membuat Anda merasa berharga? Jika kita kehilangan pekerjaan, harta, kesehatan, pelayanan, keluarga, apakah kita masih menganggap diri kita berharga? Hidup manusia berharga bukan karena harta dan kuasa yang ia miliki, tetapi semata-mata karena penilaian Sang Pencipta—yaitu Allah—yang memandang diri kita berharga. Apa pun penilaian dunia terhadap diri kita, harga diri anak-anak Tuhan seharusnya hanya disandarkan pada penilaian Allah. [FL]





February 24, 2019, 04:49:15 AM
Reply #1783
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22876
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Garam dan Terang Dunia
Posted on Sabtu, 23 Februari, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Matius 5:13-26

Setelah menyampaikan karakteristik warga Kerajaan Sorga (5:1-12), Tuhan Yesus menutup dengan penjelasan tentang identitas warga Kerajaan Sorga. Dia berkata, “Kamu adalah garam dunia” (5:13) serta “Kamu adalah terang dunia” (5:14). Tuhan Yesus tidak mengatakan, “Kamu akan menjadi …”, tetapi “kamu adalah …”. Artinya, Tuhan Yesus sedang mengungkapkan identitas warga Kerajaan Sorga dalam diri murid-murid-Nya. Apa yang dimaksud dengan “garam dunia” dan “terang dunia”? Garam adalah komoditi penting zaman itu karena digunakan untuk memberi rasa pada makanan, mengawetkan makanan, serta (dengan dosis tertentu) dapat dipakai untuk menyuburkan tanah. Analogi di atas menunjukkan bahwa para murid seharusnya dapat memberi pengaruh positif pada dunia melalui kesaksian hidup yang menjadi berkat bagi orang lain, serta dapat menghambat berkembangnya dosa dalam kehidupan. Sama seperti garam yang ditabur di tanah menjadi pupuk bagi pohon untuk berbuah, demikian juga para murid yang hidup di tengah dunia seharusnya menghasilkan buah kehidupan bagi Allah. Terang adalah simbol yang biasa dipakai dalam Alkitab untuk menjelaskan kesucian, kebenaran, pengetahuan, firman, serta kehadiran Kristus. Mesias adalah Terang Dunia yang sejati (Yesaya 42:6; 49:6). Murid-murid Yesus Kristus adalah terang dunia. Sama seperti bulan bercahaya bukan dari dirinya sendiri tetapi karena memantulkan sinar matahari, demikian pula seorang murid dapat menjadi terang sebagai hasil pantulan dari Terang Sang Mesias, sehingga dunia mengenal Terang Sejati (Yesus Kristus) itu.

Murid Kristus tidak dipanggil untuk hidup dalam biara, tetapi untuk mempengaruhi dunia, sehingga dunia dapat mengenal dan memuliakan Allah Bapa di Sorga (5:16). Terang tidak dibutuhkan di tempat terang, melainkan di tempat gelap. Dunia membutuhkan kehadiran terang sejati. Apakah kehidupan Anda saat ini merupakan terang bagi lingkungan di sekitar Anda? Apakah kehadiran Anda di dalam rumah, di tempat kerja, di gereja, di lingkungan tempat tinggal Anda, dapat dikenali dan dirasakan oleh orang lain karena Terang Sejati itu hadir dalam hidup Anda? Cobalah periksa kehidupan Anda: Apakah Anda sudah menjadi garam dan terang dunia dalam setiap aspek kehidupan Anda? Bila Anda belum menjadi garam dan terang dunia dalam aspek-aspek tertentu dalam kehidupan Anda, perbaikilah dalam anugerah Tuhan. [FL]



February 25, 2019, 05:38:18 AM
Reply #1784
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22876
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Jangan Berzinah!
Posted on Minggu, 24 Februari, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Matius 5:27-48

Setelah mengemukakan tentang pentingnya menyatakan identitas sebagai garam dan terang dunia melalui perbuatan baik (5:16), Tuhan Yesus mengemukakan bahwa kedatangan-Nya bukan untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi, tetapi untuk menggenapinya (5:17; Catatan: Bagi orang Yahudi, Perjanjian Lama dianggap terdiri dari tiga bagian, yaitu hukum Taurat, kitab para Nabi dan mazmur, tetapi biasanya cukup dua bagian pertama saja yang disebut untuk mewakili seluruhnya). Tuhan Yesus memilih untuk mengoreksi enam ajaran yang populer saat itu (5:21, 27, 31, 34, 38, 43) sampai ke akarnya, karena berbagai tafsiran tertulis maupun lisan yang dipercaya orang Yahudi telah membuat hidup mereka menjadi legalis (mengikuti aturan secara kaku tanpa memahami intinya).

“Jangan berzinah” (5:27) adalah hukum ketujuh dari 10 hukum Taurat (Keluaran 20:14; Ulangan 5:18). Para rabi (guru Yahudi) pada masa itu memandang perzinahan sebagai dosa menyangkut kontak fisik dengan istri orang lain. Menurut Tuhan Yesus, perzinahan bukan sekadar masalah kontak fisik, tetapi masalah keinginan (nafsu). Perzinahan dimulai dari pikiran. Saat kita membayangkan dan menikmati tubuh seseorang yang bukan pasangan kita (suami/istri), kita sudah jatuh dalam dosa perzinahan. Perhatikan bahwa perintah Tuhan Yesus agar kita mencungkil mata dan memenggal tangan yang menyesatkan (Matius 5:29-30) bukanlah dalam arti harfiah (literal), melainkan dalam arti bahwa kita harus mengendalikan pikiran kita dan menghindari godaan yang bisa membuat kita jatuh dalam dosa perzinahan.

Ingatlah bahwa dosa perzinahan bukan sekadar praktik hubungan seksual, melainkan sudah dimulai dari pikiran. Oleh karena itu, pornografi harus dijauhi. Melalui pornografi, Iblis hendak menghancurkan kehidupan anak-anak Allah. Pada masa kini, pornografi menyebar terutama melalui internet. Hindari menonton gambar atau video porno, apa lagi menjelang tidur. Ambillah komitmen (tekad) yang tegas untuk menjauhi pornografi. Jangan biarkan diri Anda tertipu oleh kepuasan sesaat yang ditawarkan oleh dosa perzinahan. Ingatlah bahwa kepuasan sesaat itu akan segera berubah menjadi penyesalan yang dalam dan akan membuat Anda dihantui oleh rasa bersalah seumur hidup, dan selanjutnya akan membuat Anda semakin menjauh dari Tuhan yang merupakan sumber kepuasan hidup yang sejati. [FL]



February 26, 2019, 05:48:16 AM
Reply #1785
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22876
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Warisan Keteladanan
Posted on Senin, 25 Februari, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Kisah Para Rasul 20:17-38

Perpisahan memang selalu mendatangkan kesedihan. Namun, ia tidak selamanya menyisakan nestapa. Ia juga bisa bersumbangsih membuat kehidupan menjadi lebih baik. Teladan dari sahabat yang berpisah bisa menjadi pemicu untuk membangun kehidupan yang lebih baik. Sahabat menjadi inspirator.

Paulus menceritakan kehidupannya sebagai rasul kepada jemaat Efesus kepada penatua yang datang ke Miletus (18). Dalam memberitakan Kristus, dia memang menghadapi banyak situasi sulit dan kerap membuatnya menangis. Para pembencinya, bahkan, sering mengancam akan membunuhnya (19). Namun, dia tetap berjuang dan terus melayani demi kebaikan jemaat Efesus (20). Baginya, Injil harus dibagikan kepada banyak orang.

Paulus berharap pelayanannya mencapai garis akhir (24). Dia ingin mewariskan sesuatu yang baik bagi jemaat Efesus. Setelah meninggalkan jemaat Efesus, Paulus ingin agar mereka saling menjaga sebagai umat Allah (28). Paulus menasihati agar mereka awas dari segala ancaman yang datang (29-30).

Akhirnya, Paulus menyerahkan jemaat Efesus ke tangan kasih Kristus (32). Lewat teladannya, Paulus mendorong jemaat Efesus agar saling menolong sebagai bukti murid Kristus (35). Setelah berlutut dan berdoa, Paulus meninggalkan jemaat itu (36).

Gaya hidup pengikut Kristus harus berbeda dan wajib memberi dampak positif. Teladan Paulus menginspirasi jemaat yang dilayaninya. Dia berusaha membangun cara hidup baru kepada orang-orang percaya agar merasakan kasih karunia Kristus. Walau tidak lagi ada di tengah jemaat, tetapi keteladanannya masih tinggal bersama mereka. Begitulah Paulus meninggalkan mereka dalam sukacita.

Kita harus berdampak bagi kehidupan. Jika pergi dari suatu tempat, kita harus memastikan bahwa keadaannya kelak akan lebih maju. Warisan integritas kita sebagai pengikut Kristus adalah jaminannya.

Doa: Ya Tuhan, beri kami kemampuan memberi dampak baik bagi orang lain. Amin. [JS]







Bersyukur Dalam Segala Perkara
Posted on Senin, 25 Februari, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Kisah Para Rasul 20:13-16

Bersyukur dapat kehilangan makna jika dilakukan tanpa penghayatan. Itu bisa menjadi hanya sekadar rutinitas tiada arti. Karena itu, kita perlu memahami dasar rasa syukur, yaitu penghayatan pemeliharaan Allah yang sempurna. Inilah alasan utama bersyukur.

Murid-murid Paulus berlayar dari Troas menuju Asos (13). Mereka akan menjemput Paulus karena dia telah pergi dahulu dengan berjalan kaki. Pasalnya, Paulus ingin mempunyai lebih banyak kesempatan untuk bertemu dengan pengikut Kristus. Dia ingin mengefektifkan waktu agar misinya dapat terlaksana dengan baik.

Setelah para murid bertemu dengan Paulus di Asos, mereka berlayar bersama menuju Metilene (14). Dari situ, perjalanan diteruskan menuju Pulau Khios, dilanjutkan ke Samos, dan terakhir di Miletus (15). Pelayaran itu memakan waktu tiga hari dari Asos ke Miletus.

Paulus-seorang Yahudi-menjaga kebiasaannya beribadah kepada Allah. Dia tidak singgah di Efesus agar segera tiba ke Yerusalem untuk merayakan Pentakosta (16). Padahal, kota itu penting dalam mendukung pelayannya. Rupanya, dia sangat menghormati hari Pentakosta-hari raya ucapan syukur kepada Allah. Dalam pelayanan yang berat sekali pun, Paulus selalu ingat untuk bersyukur.

Rasul Paulus menghadapi tantangan besar dalam hidup dan pelayanannya. Dia menempuh medan sulit yang menguras tenaga dan pikirannya. Namun di tengah kesibukannya, Paulus berusaha menyempatkan diri mengikuti perayaan ucapan syukur. Artinya, dia selalu mensyukuri kehidupannya.

Sering kali, kita bersyukur kalau mendapat berkat dari Tuhan, misalnya, keberhasilan, kekayaan, dan kesehatan. Seharusnya, kita bersyukur karena Allah, Sang Sumber Berkat dan Sukacita sejati. Allah, lewat cara-Nya, pasti memelihara kita dengan segala kebaikan. Kesadaran ini akan membuat kita tetap bersyukur kepada-Nya dalam segala situasi.

Doa: Tuhan, ajarilah kami agar selalu bersyukur karena kasih-Mu yang besar. Amin. [JS]



February 26, 2019, 05:48:59 AM
Reply #1786
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22876
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16



Akhiri Dengan Kemenangan
Posted on Senin, 25 Februari, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Yosua 24:29-33

Akhir dari hidup manusia di dunia adalah kematian.. Apakah kematian akan menghilangkan manusia, kemudian dilupakan seolah tidak pernah ada kala ajal menjemputnya? Ternyata tidak! Nama seseorang akan terus dikenang. Tubuhnya telah tiada, namun namanya terus jaya.

Akhir kisah Yosua adalah cerita bahagia. Alkitab mencatatkan namanya sebagai bukti perannya yang penting bagi sejarah umat Israel (29). Yosua disebut sebagai hamba TUHAN. Artinya, kehadiran dan jasanya penting dalam perjalanan bangsa Israel. Dia meninggal dalam usia seratus sepuluh tahun. Dengan menyebutkan usianya, maka dia menjadi sejajar bersama nenek moyang Israel, seperti Abraham, Musa, dan Yusuf. Yosua dikuburkan di pegunungan Efraim (30). Kiprahnya membuat umat Israel hidup beribadah kepada Allah (31). Mereka menjadi mengenal perbuatan-Nya yang memengaruhi masa depan mereka kelak.

Tulang-tulang Yusuf dikuburkan di Sikhem, tanah miliknya (32). Ini membuktikan bahwa Allah mengindahkan kepercayaan Yusuf. Dia yakin bahwa Allah akan memerhatikan umat Israel. Dia percaya tangan Tuhan pasti kembali membawa mereka ke tanah Perjanjian.

Eleazar bin Harun juga diceritakan mati dan mencapai keberhasilannya dalam pelayanan (33).

Kematian hamba Tuhan bukan akhir dari segala sesuatu. Itu masih akan berdampak bagi orang lain. Status hamba Tuhan tidak hanya untuk sosok tertentu. Ini tentang kehidupan seorang yang melakukan kehendak Tuhan dan memuliakan Dia. Yosua dan pelayan Tuhan lainnya telah melaksanakan tugas dengan baik. Akhirnya, namanya selalu dikenang setelah mereka tiada karena memberikan dampak baik bagi komunitasnya.

Kita dikenang bukan hanya pada saat dilahirkan, tetapi pada saat kematian. Saat dilahirkan, kita tidak dapat memilih. Namun, kita dapat memilih menjadi siapa ketika nafas terakhir terhembus. Apakah kita hidup sebagai hamba Tuhan atau hanya manusia sia-sia?

Doa: Tuhan, ajari kami untuk tetap sebagai hamba yang setia. [JS]







Menyaksikan Karena Kita Saksi-Nya
Posted on Senin, 25 Februari, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Yosua 24:1-28

Kita tidak dapat menghindari proses saling memengaruhi saat menjalani hidup bersama orang lain. Sebagai orang Kristen, sudahkah kita menjadi pengaruh baik bagi orang banyak? Atau, sudahkah kita menjaga diri agar tidak terpengaruh oleh hal-hal buruk dari luar?

Dalam sejarahnya, umat Israel kerap berinteraksi dengan banyak bangsa. Sering kali, bangsa asing itu memengaruhi kehidupan Israel. Mereka kerap menyimpang dari kehendak Allah. Akibatnya, Tuhan sering menghukum mereka. Akan tetapi, Allah berulang kali juga menunjukkan kasih-Nya lewat pengampunan. Pola ini terus terlihat dari sejarah bangsa Israel.

Sebagai antisipasi atas kesalahan berulang itu, Yosua mengumpulkan segenap umat Israel. Dia mulai mengingatkan asal mula mereka. Yosua ingin mengatakan bahwa Israel tiada berarti jika tanpa kemurahan Allah (2-13). Walaupun mereka sering memberontak, namun kasih-Nya selalu setia. Sejarah Israel sudah membuktikannya. Untuk itu, mereka diminta agar memilih hidup beribadah kepada-Nya (14-15). Setelahnya, mereka didorong memberitakan kemuliaan-Nya (22-23).

Sepanjang kehidupan umat, Allah telah membuktikan kemurahan-Nya dengan kasih yang sejati. Sampai akhirnya, mereka memahami bahwa karya-Nya indah sekaligus mendatangkan kebaikan. Bangsa Israel sadar itu bukan isapan jempol belaka. Karena itu, mereka diharapkan hidup taat seturut kehendak-Nya. Harapan akhir adalah setiap orang Israel harus bersaksi tentang kemurahan Allah.

Agar menjadi saksi, kita dapat mengawalinya dengan tekad untuk tunduk pada kehendak-Nya. Kedua, kita harus merasakan pimpinan-Nya dan hidup dengan penuh sukacita. Ketiga, kita patut bersyukur kepada-Nya atas limpahan anugerah-Nya dalam hidup ini. Bukalah mata hati kita supaya melihat karya kasih-Nya. Mari siarkan kebaikan Allah melalui perkataan dan seluruh kehidupan kita. Inilah ibadah sejati.

Doa: Pakailah hidup kami untuk menjadi saksi-Mu dalam kata dan setiap perbuatan kami. [JS]
February 26, 2019, 05:49:27 AM
Reply #1787
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22876
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


Jangan Seperti Orang Munafik
Posted on Senin, 25 Februari, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Matius 6:1-18

Hal memberi sedekah, berdoa, dan berpuasa adalah tiga aktivitas agama yang utama bagi orang Yahudi yang taat. Beranjak dari pengoreksian terhadap enam pemahaman yang salah tentang Perjanjian Lama (5:17-48), Tuhan Yesus lalu mengoreksi aktivitas agama orang Yahudi. Tuhan Yesus tidak melarang ketiga aktivitas di atas, tetapi Dia menekankan pentingnya motivasi yang tepat untuk melakukannya. “Jangan seperti orang munafik” menjadi pengikat di dalam peringatan terhadap ketiga aktivitas agama di atas. Peringatan tersebut bukan peringatan biasa, tetapi peringatan serius yang diulang terus-menerus oleh Tuhan Yesus.

Yang dimaksud sebagai “orang munafik” oleh Tuhan Yesus adalah orang yang melakukan aktivitas agama demi mendapat perhatian atau pujian orang. Persepsi orang lain adalah tujuan aktivitas keagamaan yang dilakukan orang munafik. Oleh karena itu, bila orang munafik sudah mendapat pujian atas aktivitas yang mereka lakukan, Allah menganggap mereka sudah mendapat upah (6:2), sehingga Allah tidak mengapresiasi aktivitas mereka (6:1). Bagi orang munafik, aktivitas agama adalah pembayaran atas pemberian pujian dan persepsi orang yang ia terima.

Walaupun kita tidak sengaja melakukan aktivitas keagamaan seperti orang munafik, mungkin saja yang menjadi standar keberhasilan adalah penilaian orang lain. Tanpa sadar, perhatian utama kita saat melayani bisa lebih tertuju kepada persepsi dan tanggapan orang terhadap pelayanan kita daripada persepsi Tuhan. Saat seseorang diminta berdoa, tidak jarang kita mendengar jawaban, “Aduh, saya tidak bisa berdoa. Doa saya tidak bagus.” Jawaban seperti ini menunjukkan bahwa yang menjadi perhatian utama bukan Tuhan, tetapi persepsi orang lain. Tanggapan orang lain menjadi lebih penting daripada tanggapan Tuhan. Apakah Anda bisa mengingat kapan terakhir kali Anda begitu puas melayani Tuhan walaupun tidak ada orang yang melihat atau memuji? Dapatkah Anda berkata, “Asal Tuhan dipuaskan dan nama-Nya dimuliakan, cukuplah!” Bersikap seperti ini tidak mudah karena kita masih hidup di dalam dosa dan kita masih menginginkan pengakuan manusia. Renungkanlah perkataan Rasul Paulus dalam Galatia 1:10, “Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.” [FL]


February 27, 2019, 05:53:12 AM
Reply #1788
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22876
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Dua Tipe Orang Kristen
Posted on Selasa, 26 Februari, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Matius 6:19-34

Pada bagian ini, Tuhan Yesus menjelaskan tentang bagaimana para murid bisa hidup di dunia ini di dalam kebenaran, yaitu dalam relasi dengan harta (6:19-34), saudara (7:1-5), musuh (7:6), dan dengan Allah (7:7-11).

Menurut Alkitab, uang pada dirinya sendiri tidaklah jahat. Orang yang bijak dapat mengatur hartanya (lihat Amsal 6:6-8). Uang bisa dipakai untuk menjadi berkat bagi saudara seiman serta siapa saja yang membutuhkan bantuan (lihat 1 Timotius 5:8). Tuhan ingin agar kita menikmati apa yang telah Ia berikan (1 Timotius 4:3-4; 6:17). Akan tetapi, cinta akan uang dan menjadikan uang sebagai tujuan utama yang dikejar dalam hidup adalah jahat (bandingkan dengan 1 Timotius 6:10). Mengapa demikian? Orang yang mencintai uang adalah orang yang merasa bahwa uang memberi keamanan dan memelihara hidupnya. Dengan demikian, uang mengambil posisi yang seharusnya ditempati Allah. Dengan demikian, orang yang mencintai uang telah menduakan Allah, Tuhan Yesus berkata bahwa kita tidak dapat secara bersamaan mengabdi kepada Allah dan kepadamamon—kata ini berasal dari kata dalam bahasa Aram mamona, artinya harta—karena mengasihi yang satu berarti membenci yang lain (Matius 6:24). Orang yang berusaha mengabdi kepada Allah dan kepada mamon akan hidup penuh kekuatiran—kata ini berasal dari kata Yunani Merimnao yang berarti pikiran yang terbagi-bagi). Cara pandang kita akan harta menentukan cara kita menjalani hidup (Matius 6:22-23).

Ada dua tipe orang Kristen di dalam hidup ini. Tipe pertama adalah orang Kristen KALAU, yaitu orang Kristen yang baru dapat percaya kepada Allah KALAU keadaannya baik. KALAU keadaannya buruk, maka Tuhan menjadi sasaran empuk untuk menerima penghakiman. Orang Kristen tipe ini sesungguhnya tidak sungguh-sungguh percaya kepada Allah, mereka hanya percaya kepada berkat-berkat Allah. Oleh karena itu, saat mereka tidak merasakan berkat Allah, Allah dianggap tidak ada. Tipe kedua adalah orang Kristen SEKALIPUN, yaitu orang Kristen yang akan tetap percaya kepada Allah SEKALIPUN kenyataan hidupnya penuh dengan penderitaan. Dia percaya bahwa Allah itu baik dan Allah sedang merencanakan hal yang baik dalam hidupnya, meskipun ia sedang melewati keadaan yang tidak baik. Orang Kristen tipe ini percaya bahwa Dialah Allah, Sang Pencipta dan Pemelihara hidup ini. Periksalah hidup Anda: Orang Kristen tipe manakah Anda saat ini? [FL]



February 28, 2019, 06:17:52 AM
Reply #1789
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22876
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Perintah Mengasihi Sesama
Posted on Rabu, 27 Februari, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Matius 7:1-14

Matius 5:17-7:12 adalah penjelasan Tuhan Yesus tentang ajaran Perjanjian Lama (“hukum Taurat dan kitab para nabi”, 7:12). Dalam bahasa asli Alkitab (yaitu bahasa Yunani), kata pertama yang terdapat dalam 7:12 adalah kata Oun, yang artinya “oleh karena itu”. Kata ini menunjukkan bahwa 7:12 adalah kesimpulan dari ayat-ayat sebelumnya. Jadi, inti ajaran Perjanjian Lama adalah “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.” (7:12a). Perhatikan bahwa kata “seluruh” dalam 7:12 tidak ada dalam bahasa asli Alkitab. Dalam Matius 22:37-39, dijelaskan bahwa inti ajaran dari seluruh Perjanjian Lama adalah mengasihi Allah dengan segenap hati serta mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri. Oleh karena itu, Matius 7:12a yang hanya membahas kasih kepada manusia merupakan kesimpulan tentang salah satu dari dua inti ajaran Perjanjian Lama.

Dalam relasi para murid dengan sesama, Tuhan Yesus memperbarui perintah ini, “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi” (Yohanes13:34). Jadi, standar dalam mengasihi orang lain bukan hanya sekadar mengasihi seperti yang kita ingin agar orang lain perbuat terhadap diri kita, tetapi standar kita adalah mengasihi seperti yang Tuhan Yesus telah lakukan terhadap diri kita.

Allah telah menerima kita bukan berdasarkan prestasi atau kebaikan kita, Ia menerima kita apa adanya. Penerimaan inilah yang mengubah hidup kita, sehingga kita mampu mengasihi dan memuliakan Dia. Perubahan hidup terjadi karena adanya penerimaan. Perhatikan bahwa untuk bisa bertumbuh, tumbuh-tumbuhan memerlukan temperatur yang tepat. Kita tidak akan menemukan pohon stroberi di tepi pantai karena stroberi hanya dapat bertumbuh di tempat bercuaca dingin. Hal itu serupa dengan hidup manusia. Manusia memerlukan “temperatur” yang tepat untuk bisa bertumbuh. “Temperatur” itu adalah penerimaan, Penerimaan Tuhan terhadap diri kita membuat hidup kita berubah dari hidup yang penuh dosa menjadi hidup baru yang membenci dosa. Penerimaan Tuhan menimbulkan rasa aman untuk bertumbuh dan berubah. Bila selama ini, Anda mengharapkan perubahan dari orang-orang di sekitar Anda (istri, suami, anak, sahabat), sudahkah Anda memperlakukan mereka seperti Tuhan Yesus memperlakukan diri Anda? [FL]



 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)