Author Topic: Saat Teduh  (Read 61444 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

March 01, 2019, 07:44:01 AM
Reply #1790
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22907
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Banyak Kejutan di Akhir Zaman
Posted on Kamis, 28 Februari, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Matius 7:15-29

Di bagian penutup khotbah di bukit, Tuhan Yesus mengingatkan para pendengarnya untuk berhati-hati terhadap para nabi palsu (7:15-20) dan para pengikut palsu (7:21-23). Perbedaan antara pengikut sejati dan pengikut palsu terlihat dari respons terhadap pengajaran Tuhan Yesus (7:24-27). Walaupun sama-sama mendengar, pengikut sejati melakukan apa yang mereka dengar, sedangkan pengikut palsu tidak melakukannya. Dengan mendengar dan melakukan pengajaran Tuhan Yesus, kita melakukan kehendak Bapa di Sorga (7:21). Para pendengar takjub karena Tuhan Yesus mengajar sebagai orang yang berkuasa (7:28-29), tidak seperti para ahli Taurat yang sering mengutip pendapat orang lain yang dianggap berwewenang sebagai sumber otoritas. Yesus Kristus berkuasa menentukan siapa yang boleh masuk dalam Kerajaan Sorga (7:21-23). Dia juga menyejajarkan ajaran-Nya dengan Firman Tuhan (7:24, 26).

Pada saat penghakiman terakhir, Tuhan Yesus menguraikan bahwa akan ada banyak kejutan saat itu. Kepalsuan para pengikut akan terbongkar. Para pengikut palsu ini mengotot bahwa mereka benar di hadapan Tuhan berdasarkan segala pelayanan yang mereka lakukan demi nama Tuhan Yesus, yang terlihat spektakuler dan mereka anggap bakal mengesankan Tuhan (7:22). Akan tetapi, Tuhan Yesus sama sekali tidak terkesan dan Ia berkata, “Aku tidak pernah mengenal kamu! … ” (7:23).

Apakah yang harus kita lakukan agar kita bisa diterima oleh Tuhan? Segala kesalehan kita hanya seperti kain kotor di mata Tuhan. Tidak ada yang dapat kita lakukan untuk layak mendapat perkenanan Tuhan. Akan tetapi, syukur kepada Allah! Allah tidak diam di Sorga melihat umat-Nya hidup menuju kehancuran. Allah tidak hanya mengutus para nabi-Nya, tetapi Ia sendiri datang ke dunia melalui Yesus Kristus untuk menyatakan cinta-Nya kepada kita. Yesus Kristus mati di kayu salib untuk menanggung murka Allah, sehingga kita bisa diterima Allah dan memuliakan Dia. Inilah yang paling membedakan Kekristenan dengan kepercayaan yang lain! Kepercayaan atau agama lain mendorong kita melakukan sesuatu—perbuatan baik atau amal—supaya kita dapat diterima oleh Allah. Akan tetapi, orang Kristen berbuat baik sebagai respons terhadap Allah yang sudah menerima dan mengasihi kita apa adanya. Salib adalah bukti dari kasih dan anugerah Allah dalam hidup kita. Apakah Anda masih terkagum-kagum akan salib Kristus saat ini? [FL]



March 02, 2019, 03:29:48 PM
Reply #1791
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22907
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Percaya terhadap Janji Allah
Posted on Sabtu, 2 Maret, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Kejadian 18:1-15

Dalam suatu karya sastra yang dikerjakan secara teliti, biasanya jarang terjadi pengulangan tema yang mirip dengan bagian sebelumnya, apalagi yang baru saja dibahas pada halaman sebelumnya, kecuali bila penulis hendak menekankan suatu hal penting yang wajib diperhatikan pembacanya. Demikian pula halnya dengan pasal 18:1-15 yang merupakan pengulangan terhadap janji Allah di pasal 17. Mengapa Allah mengulangi janji tersebut, padahal Abraham sendiri telah bersumpah setia melalui sunat? Ternyata sasaran utama Allah bukan Abraham, tetapi Sara.

Setelah menyampaikan sedikit latar belakang konteks, penulis menyampaikan inti pesan perikop ini, yaitu bahwa Tuhan berjanji untuk datang kembali pada tahun berikutnya guna menjumpai Abraham (18:10). Kala kunjungan itu terjadi, Abraham akan sudah memiliki keturunan sendiri dari istrinya, yaitu Sara. Hal itu terdengar mustahil terjadi mengingat bahwa Abraham sudah tua dan istrinya (Sara) sudah masuk masa menopause (berhenti haid). Tidak mengherankan bila Sara menertawakan ucapan Tuhan tersebut (18:12).

Sikap Sara sebenarnya wajar. Siapa pun—termasuk kita—bisa saja bersikap seperti Sara bila berada pada kondisi seperti itu. Melalui kondisi seperti itu, Tuhan memproses iman Abraham dan keluarganya. Bagi Tuhan, kesetiaan terhadap perjanjian-Nya (pasal 17) tidak cukup bila hanya diungkapkan dengan tanda sunat saja, melainkan harus disertai hati yang percaya pada kepastian janji Allah. Dalam Perjanjian Baru, Rasul Paulus memberi penilaian positif terhadap iman Abraham, yaitu bahwa Abraham percaya kepada Allah. Walaupun tubuhnya makin lemah, imannya tidak menjadi lemah. Ia tidak bimbang terhadap janji Allah. Ia yakin bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah dijanjikan kepadanya (Roma 4:18-21). Namun, ingatlah bahwa iman Abraham yang luar biasa itu telah melalui proses pergumulan yang tidak mudah.

Bagaimana dengan Anda? Bila Anda sudah mengaku percaya dan beriman kepada Yesus Kristus, apakah Anda sungguh-sungguh mengimani dan mengamini janji Allah, walaupun janji itu kadang-kadang terdengar mustahil secara nalar atau logika? Apakah Anda menilai janji Tuhan berdasarkan logika dan memilih untuk hanya memercayai hal-hal yang logis saja? Apakah Anda menunggu Allah membuktikan kebenaran janji-Nya sebelum Anda bisa mempercayai janji tersebut? [Sung]



March 03, 2019, 08:53:51 AM
Reply #1792
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22907
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Percaya terhadap Janji Allah
Posted on Sabtu, 2 Maret, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Kejadian 18:1-15

Dalam suatu karya sastra yang dikerjakan secara teliti, biasanya jarang terjadi pengulangan tema yang mirip dengan bagian sebelumnya, apalagi yang baru saja dibahas pada halaman sebelumnya, kecuali bila penulis hendak menekankan suatu hal penting yang wajib diperhatikan pembacanya. Demikian pula halnya dengan pasal 18:1-15 yang merupakan pengulangan terhadap janji Allah di pasal 17. Mengapa Allah mengulangi janji tersebut, padahal Abraham sendiri telah bersumpah setia melalui sunat? Ternyata sasaran utama Allah bukan Abraham, tetapi Sara.

Setelah menyampaikan sedikit latar belakang konteks, penulis menyampaikan inti pesan perikop ini, yaitu bahwa Tuhan berjanji untuk datang kembali pada tahun berikutnya guna menjumpai Abraham (18:10). Kala kunjungan itu terjadi, Abraham akan sudah memiliki keturunan sendiri dari istrinya, yaitu Sara. Hal itu terdengar mustahil terjadi mengingat bahwa Abraham sudah tua dan istrinya (Sara) sudah masuk masa menopause (berhenti haid). Tidak mengherankan bila Sara menertawakan ucapan Tuhan tersebut (18:12).

Sikap Sara sebenarnya wajar. Siapa pun—termasuk kita—bisa saja bersikap seperti Sara bila berada pada kondisi seperti itu. Melalui kondisi seperti itu, Tuhan memproses iman Abraham dan keluarganya. Bagi Tuhan, kesetiaan terhadap perjanjian-Nya (pasal 17) tidak cukup bila hanya diungkapkan dengan tanda sunat saja, melainkan harus disertai hati yang percaya pada kepastian janji Allah. Dalam Perjanjian Baru, Rasul Paulus memberi penilaian positif terhadap iman Abraham, yaitu bahwa Abraham percaya kepada Allah. Walaupun tubuhnya makin lemah, imannya tidak menjadi lemah. Ia tidak bimbang terhadap janji Allah. Ia yakin bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah dijanjikan kepadanya (Roma 4:18-21). Namun, ingatlah bahwa iman Abraham yang luar biasa itu telah melalui proses pergumulan yang tidak mudah.

Bagaimana dengan Anda? Bila Anda sudah mengaku percaya dan beriman kepada Yesus Kristus, apakah Anda sungguh-sungguh mengimani dan mengamini janji Allah, walaupun janji itu kadang-kadang terdengar mustahil secara nalar atau logika? Apakah Anda menilai janji Tuhan berdasarkan logika dan memilih untuk hanya memercayai hal-hal yang logis saja? Apakah Anda menunggu Allah membuktikan kebenaran janji-Nya sebelum Anda bisa mempercayai janji tersebut? [Sung]


March 04, 2019, 07:05:16 AM
Reply #1793
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22907
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Doa Sebagai Bentuk Percaya
Posted on Minggu, 3 Maret, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Kejadian 18:16-33

Perikop ini sangat menarik karena seolah-olah tidak berhubungan dengan perikop di atasnya yang berkisah tentang janji keturunan Abraham. Namun, sebenarnya tidaklah demikian. Perikop ini justru masih menceritakan tindakan Allah yang memproses iman Abraham untuk setia pada janji Allah!

Perikop ini dimulai dengan pernyataan Tuhan bahwa Ia akan memusnahkan seluruh penduduk Sodom dan Gomora yang sudah hidup sedemikian jahat di hadapan Allah dan layak menerima murka-Nya. Namun, secara mengejutkan, Allah kemudian membuka pintu untuk bernegosiasi dengan Abraham mengenai nasib orang Sodom dan Gomora, padahal sesungguhnya Abraham tidak memiliki kapasitas untuk mewakili mereka semua. Tindakan Allah tersebut harus kita pahami bukan untuk mengajar Abraham agar menjadi penguasa yang berhak memutuskan nasib penduduk Sodom dan Gomora, melainkan sebagai suatu proses latihan yang Allah berikan untuk melihat kompetensi Abraham sebagai bapa atau wakil umat pilihan Allah!

Pada titik inilah, Abraham mulai memahami bahwa sudah menjadi tugasnya untuk mewakili umat manusia di hadapan Tuhan untuk memohon pengampunan kepada Allah. Angka 50, 45, 40, 30, 20 dan terakhir 10 orang percaya yang menjadi titik negosiasi Abraham dengan Allah tersebut sesungguhnya bukan menjadi inti perhatian perikop ini. Akan tetapi, fokus utama perikop ini adalah tentang kesungguhan hati Abraham dalam mendoakan penduduk Sodom dan Gomora sebagai bukti ketaatan dan kepercayaannya terhadap janji Allah! Meskipun hasilnya tidak memuaskan, Tuhan tetap puas karena melalui peristiwa ini, Abraham semakin bertumbuh dan semakin siap melayani Allah!

Bagaimana dengan jemaat Tuhan di zaman ini? Sudahkah Anda menjalankan tugas Anda mewakili umat manusia, atau setidaknya keluarga Anda sendiri—dalam doa-doa Anda, atau Anda mengabaikan tugas tersebut dengan berdalih biarlah orang lain yang mengerjakan tugas tersebut? Ingatlah bahwa kesetiaan Anda dalam mendoakan orang lain merupakan bukti bahwa Anda mempercayai janji-janji Allah. Semoga kita semua dimampukan Tuhan untuk melaksanakan tugas yang mahapenting tersebut bagi kemuliaan Allah! [Sung]



March 06, 2019, 05:49:31 AM
Reply #1794
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22907
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Kesempatan dalam Kesempitan
Posted on Selasa, 5 Maret, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Kisah Para Rasul 24:1-27

Pada 1985 Warkop DKI pernah membuat film dengan judul “Kesempatan dalam Kesempitan”. Tentu saja, tulisan ini tidak akan membahas tentang film itu. Tetapi, judul film itulah yang menarik. Kesempatan dalam kesempitan seolah menggambarkan sebuah optimisme kala berhadapan dengan kesulitan. Frasa itu mengajak daya kreativitas bekerja walau di tengah situasi sulit.

Dalam konteks nas saat ini, Paulus akan menghadapi persidangan. Komplotan Imam Besar Ananias sangat serius menghadapi kasus ini. Mereka bersama seorang pengacara bernama Tertulus menghadap wali negeri, Feliks (1). Tertulus mulai melancarkan dakwaan. Ia menyamakan Paulus dengan penyakit sampar karena menimbulkan kekacauan di antara orang Yahudi (5). Bahkan, tuduhan paling serius adalah Paulus dituding mencoba melanggar kekudusan Bait Allah (6).

Wali negeri memberi kesempatan kepada Paulus untuk menyanggah (10). Paulus membantah semua tuduhan Tertulus. Ia mengaku sebagai orang yang percaya pada hukum Taurat dan hidup seturut Jalan Tuhan (14-16). Dia malah menantang siapa saja yang bisa membuktikan kejahatannya (20-21).

Oleh karena tidak didapati kejahatan serius, Paulus hanya dikenai hukuman ringan (23). Ia tetap dipenjara, tetapi sahabat-sahabatnya boleh melayaninya.

Walau tidak bebas, Paulus menggunakan kesempatan itu dengan baik. Momen itu dipakainya untuk memberitakan Injil Yesus Kristus kepada Feliks dan istrinya (24-25).

Orang yang bisa memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan hanyalah mereka yang fokus pada tujuan. Paulus sadar betul akan panggilannya. Ia di sana untuk Kristus. Kreativitasnya terus bekerja untuk menggenapi tugas panggilannya dalam situasi sulit sekalipun. Jadi tidak mengherankan, dalam situasi terjepit, Paulus tetap menyebarkan Injil Yesus Kristus.

Doa: Tuhan, tolong kami tetap fokus pada visi-Mu.Berikan kami hikmat untuk memanfaatkan setiap kesempatan bagi kemuliaan nama-Mu. [PUR]







Bersandar kepada Anugerah Tuhan
Posted on Selasa, 5 Maret, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Kejadian 20

Pada pembahasan Kejadian 19 kemarin, kita menemukan fakta kegagalan Lot untuk setia pada janji Allah, yang bahkan membawa pada kehancuran diri Lot dan keluarganya. Dengan demikian, mungkin sebagian orang sudah menarik kesimpulan bahwa Lot sudah terbukti kalah iman dari Abraham yang jauh lebih setia pada janji Tuhan. Benarkah demikian?

Pasal 20 seolah-olah merupakan perbandingan langsung (head to head) antara iman Lot (pasal 19) dengan iman Abraham, yang ditulis dalam konteks latar belakang yang hampir sama. Pasal 20 menceritakan cara Abraham menangani masalah yang mengancam keselamatan jiwanya. Apa saja yang ia lakukan?

Pertama, ia takut bahwa dirinya akan dibunuh oleh raja Abimelekh yang dikuatirkan akan merampas Sara, istri Abraham (sesuai dengan tradisi pada zaman dulu), padahal tidak ada indikasi terhadap adanya ancaman tersebut. Dengan kata lain, Abraham bersikap paranoid (terlalu curiga) terhadap masalah yang belum terjadi.

Kedua, karena paranoid, ia berupaya mengamankan diri lebih dulu dengan mengatakan bahwa Sara adalah saudaranya, bukan istrinya, sehingga akhirnya justru memicu tindakan Abimelekh yang hendak mengawini Sara dan mengakibatkan murka Tuhan. Sikap Abraham ini memalukan karena sebagai seorang suami, seharusnya ia melindungi istrinya dari ancaman, bukan malahan lari menyelamatkan diri.

Ketiga, tidak ada indikasi sedikit pun bahwa Abraham bertanya apakah Tuhan menghendaki ia pergi dan menetap di Gerar, dan tidak ada indikasi bahwa ia berdoa memohon perlindungan Tuhan, padahal Tuhan baru saja menjumpainya di pasal sebelumnya. Ini adalah teladan yang buruk dari Bapa semua orang beriman! Untunglah bahwa Tuhan langsung mengintervensi peluang terjadinya dosa perzinahan tersebut, sehingga tidak muncul masalah baru!

Apa yang terjadi pada diri Abraham seharusnya menjadi peringatan bagi kita semua, bahwa sesungguhnya tiada seorang manusia pun yang mampu setia untuk terus beriman pada Tuhan, bahkan Abraham pun tidak! Hanya melalui ketaatan dan kerelaan untuk berserah dan bersandar pada anugerah Tuhan saja yang bisa membuat kita tetap setia terhadap janji Tuhan! Kiranya Tuhan selalu mencurahkan anugerah-Nya pada kita semua untuk taat dan setia pada janji-Nya! [Sung]



March 07, 2019, 05:43:09 AM
Reply #1795
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22907
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Bukti Kesetiaan Tuhan (1)
Posted on Rabu, 6 Maret, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Kejadian 21

Berapa lamakah seorang ayah dapat memendam kemarahan terhadap anaknya? Jawabannya tentu bervariasi, tergantung dari sifat dan karakter sang ayah serta tingkat kesalahan sang anak. Namun, seorang ayah yang baik dan normal pasti tidak akan berlama-lama marah kepada anak tercintanya, karena kasih akan mendatangkan belas kasihan dan pengampunan .

Kira-kira demikianlah hal yang terjadi antara Tuhan dengan Abraham. Abraham telah mengecewakan Tuhan karena ketidaktaatannya dalam pasal 20. Namun, Tuhan—dengan cinta kasih-Nya—kembali menyayangi dan mengingat janji-Nya kepada Abraham, dengan cara melakukan mujizat pada diri Sara—istri Abraham. Dalam bacaan Alkitab hari ini, Sara didapati mengandung dan melahirkan anak—yaitu Ishak—yang sudah dinantikan oleh Abraham dan Sara selama puluhan tahun lamanya. Inilah bentuk tertinggi anugerah Allah pada diri Abraham, selain anugerah dalam wujud pilihan Allah kepadanya sebagai bapa semua orang beriman. Pemberian Ishak disebut sebagai “anugerah” karena pada saat itu, Abraham sama sekali tidak layak menerima pemberian Tuhan, bahkan lebih pantas menerima hukuman atas ketidaktaatannya. Tuhan mengajarkankepadanya bahwa janji-Nya tidak pernah salah dan tidak pernah terlambat, sekalipun objek anugerah-Nya tersebut sebenarnyatidak layak menerima pemberian Tuhan.

Kelahiran Ishak merupakan kisah tentang anugerah Tuhan yang luar biasa bagi bangsa Israel. Bangsa Israel termasuk dalam garis keturunan istri Abraham yang sah, yaitu Sara, bukan termasuk dalam garis keturunan Ismael yang termasuk dalam garisketurunan Hagar, pembantu Sara. Kenyataan ini sangatlah penting karena merupakan bentuk ungkapan penggenapan janji berkat Tuhan, yaitu bahwa keturunan Abraham akan begitu banyak seperti pasir di tepi pantai. Ingatlah bahwa jika Ishak tidak pernah dilahirkan, bangsa Israel tidak pernah ada di dunia ini!

Firman Tuhan hari ini mengajarkan kepada kita tentang begitu besarnya kasih karunia serta kesetiaan Tuhan terhadap semua anak-Nya. Apa pun dosa dan kesalahan kita, serta betapa pun tidak layaknya kita di hadapan Tuhan, Ia tetap setia pada janji-Nya dan Ia akan terus memberikan anugerah demi anugerah yang baru setiap hari bagi kita semua. Haleluya! [Sung]



March 08, 2019, 05:33:33 AM
Reply #1796
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22907
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Motivasi yang Benar
Posted on Kamis, 7 Maret, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Kisah Para Rasul 25:1-12

Seorang komedian Amerika Serikat, Jamie Kennedy, pernah berbicara perihal motivasi. Ia berkata, “Ini adalah era milenium, motif adalah sebuah kebetulan.” Cetusan ini bisa jadi adalah sebuah satire. Ia mungkin sedang menyindir kedangkalan cara berpikir masyarakat. Generasi sekarang adalah anak kandung “Mbah Google”. Hanya bermodal klik, kita punya semua jawaban atas setiap pertanyaan. Akibatnya, refleksi menjadi barang langka. Motif menjadi tidak penting dan tak usah dipikirkan. Padahal, motivasi sangat penting dalam kehidupan manusia. Motivasi akan melahirkan aksi dan mencetak jati diri kita.

Festus merupakan wali negeri baru pengganti Feliks. Sebagai pemimpin baru, ia ingin sekali mengambil hati orang Yahudi (9). Inilah alasannya ia tetap membiarkan Paulus tetap mendekam di penjara (Kis. 24:27). Festus menggunakan Paulus sebagai alat untuk menarik simpati orang Yahudi. Demi kepentingan politiknya, Festus rela menciderai nilai-nilai keadilan.

Hal yang sama juga tampak dengan imam-imam kepala dan orang-orang Yahudi. Mereka memiliki keinginan yang sangat besar untuk membunuh Paulus (3). Ambisi religius menggerakkan mereka untuk berniat jahat kepada Paulus.

Tindakan Festus dan orang-orang Yahudi dimotori oleh sebuah hasrat tertentu. Dalam penilaian moral, tindakan mereka itu adalah sebuah kekeliruan. Mereka mengingkari nilai-nilai luhur kemanusiaan dan keadilan. Hal ini tentu sangat kontras jika melihat sepak terjang Paulus. Ia hanya membela diri dari tuduhan palsu (10-11). Ia menjunjung tinggi nilai kejujuran saat menyatakan rela mati kalau terbukti bersalah.

Alkitab menegaskan bahwa orang percaya dilarang memiliki motivasi salah. Joyce Meyer suatu kali pernah berkata, “Motif mengungkapkan mengapa kita melakukan apa yang kita lakukan.” Artinya, motif berperan penting sebagai penentu identitas Kekristenan kita. Motif yang benar akan melahirkan tindakan yang benar juga.

Doa: Tuhan, tolong kami menjaga motivasi agar tetap murni dan bersih dalam setiap pergumulan yang Engkau percayakan. [PUR]







Ujian Untuk Abraham
Posted on Kamis, 7 Maret, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Kejadian 22

Bagi Abraham dan keluarga besarnya, kelahiran Ishak—sang “putra mahkota” yang dijanjikan Tuhan—kemungkinan dipahami sebagai semacam “pengakuan atau konfirmasi” Tuhan atas besarnya iman Abraham. Namun, pemahaman seperti itu kurang tepat!

Setiap berkat selalu disertai tanggung jawab. Berkat yang lebih besar akan mendatangkan tanggung jawab yang lebih besar pula. Demikianlah halnya yang terjadi dalam kehidupan Abraham. Baru saja mereka bersukacita atas kehadiran Ishak, sang putra mahkota, Allah langsung memberikan perintah pada Abraham untuk melakukan tugas yang sangat berat, yaitu ia harus mengurbankan anaknya tersebut! Situasi mencekam karena ternyata Tuhan Allah sudah menjelaskan hal tersebut sejak permulaan kepada Abraham (22:2)!

Apa yang Anda rasakan jika Anda dalam posisi sebagai Abraham? Pertimbangkanlah bahwa Tuhan Allah menyuruh Anda mengurbankan anak kesayangan Anda, yang baru Anda peroleh setelah Anda menunggu selama puluhan tahun! Sanggupkah Anda untuk tidak bersikap memberontak terhadap perintah Tuhan itu? Sikap Abraham luar biasa! Ujian demi ujian yang pernah ia lalui sebelumnya membuat ia menjadi dewasa secara rohani, karena tidak ada catatan sedikit pun tentang keberatan Abraham terhadap perintah Tuhan tersebut! Malahan, ia dengan tenang dan tanpa ragu sedikit pun segera mengikat Ishak, membaringkan tubuh Ishak yang berada dalam keadaan terikat di mezbah, dan ia siap menggorok leher anak kesayangannya tersebut, sebagai wujud ketaatannya kepada Tuhan.

Pada saat itulah, Abraham lulus dari ujian terakhirnya; Tuhan segera memerintahkan Abraham untuk menghentikan tindakannya, dan Tuhan menyediakan seekor domba jantan untuk menggantikan Ishak. Kemudian, Tuhan bersumpah untuk terus memberkati Abraham dan keturunannya karena ketaatan Abraham. Tindakan nyata Abraham yang berani setia tanpa membantah pada perintah Tuhan tersebut merupakan bukti nyata betapa teguh imannya pada Tuhan!

Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda telah lulus saat menghadapi ujian iman, yaitu ujian yang Tuhan maksudkan agar kerohanian kita bisa naik tingkat? Sudahkah Anda bertekad untuk tetap setia pada janji Tuhan? [Sung]




March 09, 2019, 05:26:35 AM
Reply #1797
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22907
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Bukti Kesetiaan Tuhan (2)
Posted on Jumat, 8 Maret, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Kejadian 23

Tanpa terasa keluarga Abraham kini sudah di ujung usia senja. Sang istri yang sangat dia cintai, Sara, akhirnya meninggal dunia di tanah Kanaan, suatu tanah asing yang bukan milik Abraham. Dalam tradisi bangsa-bangsa asing saat itu, merupakan masalah besar apabila seseorang menguburkan anggota keluarganya begitu saja tanpa membeli tanah pekuburan. Itulah latar belakang kisah yang dicatat dalam Kejadian 23 ini.

Selain memberi informasi tentang situasi adat bangsa Het saat itu, apa makna kisah tersebut bagi pembaca Alkitab pada masa kini?

Pertama, bagian ini khusus berbicara tentang anugerah Allah yang telah melembutkan hati para pemimpin bangsa Het, saat Abraham berbicara kepada mereka. Apa yang membuat seorang asing seperti Abraham dapat dengan mudah mendapat belas kasihan, dan bahkan penerimaan secara utuh, dari bangsa Het—bangsa yang tidak mengenal Yahweh-– jika bukan karena kemurahan Tuhan?

Kedua, Tuhan bukan saja telah melembutkan hati bangsa Het, namun Ia juga telah membukakan jalan bagi Abraham untuk membeli tanah dan gua tempat menguburkan Sara. Kejadian ini cukup unik karena keberhasilan Abraham membeli tanah tersebut jelas tidak jamak ditemukan. Bukan hanya status Abraham sebagai bangsa asing saja yang dapat menjadi persoalan, namun kenyataan bahwa ia bukan termasuk penyembah dewa lokal juga dapat menimbulkan penolakan, sama halnya dengan kesulitan yang muncul ketika seorang penyembah dewa Baal ingin membeli tanah di Yerusalem.

Ketiga, secara tidak langsung, Tuhan menegaskan janji-Nya kepada Abraham tentang tanah warisan. Walaupun saat itu Abraham hanya membeli sebidang tanah yang kecil, namun—di masa depan—bangsa Israel akan kembali ke sana dan menduduki seluruh Tanah Kanaan sebagai Tanah Perjanjian yang telah dijanjikan Tuhan.

Betapa luar biasanya bukti kesetiaan Tuhan pada janji-Nya! Saat kita merasakan kehilangan atau kemalangan pun, janji Tuhan tetap diwujudkan! Oleh karena itu, marilah kita tetap memandang kepada Tuhan dan percayalah bahwa Ia tidak akan pernah melupakan janji-Nya dalam setiap kesusahan yang sedang kita alami. [Sung]



March 10, 2019, 03:33:25 PM
Reply #1798
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22907
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Kebesaran Iman Abraham dan Kesetiaan Allah
Posted on Sabtu, 9 Maret, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Kejadian 24

Setelah peristiwa kehilangan Sara, Abraham memasuki babak baru dalam drama kehidupan keluarganya, yaitu ia harus mencarikan istri yang tepat untuk Ishak, anaknya. Catatan peristiwa ini sesungguhnya bukan hanya berbicara mengenai masalah roman atau ajang pencarian istri belaka, namun berbicara tentang dua figur penting, yaitu Abraham dan Tuhan!

Pelajaran penting apakah yang dapat kita pelajari dari kehidupan Abraham?

Pertama, kita dapat melihat keteguhan dan kesetiaan iman Abraham setelah berulangkali diproses oleh Tuhan: Abraham menolak untuk menikahkan Ishak—anaknya—dengan perempuan bangsa setempat (pilihan yang paling mudah), namun memilih untuk mengirim hambanya ke kota Nahor—kota tempat asal Abraham—guna mencari istri bagi Ishak (24:2-8). Perjalanan menuju ke sana tentu saja tidak mudah dan memerlukan waktu yang panjang, serta mengandung risiko besar. Oleh karena itu, keputusan Abraham tersebut harus dimaknai sebagai ungkapan kesetiaannya pada perjanjian dengan Tuhan!

Kedua, ia menyerahkan proses pemilihan calon istri Ishak tersebut pada pimpinan Tuhan. Bahkan, ia melarang Ishak untuk ikut pergi dan memilih sendiri karena Abraham ingin menyediakan ruang pada kedaulatan Allah untuk melakukan pemilihan. Tentu saja tindakan tersebut memerlukan iman yang besar!

Apakah peran Allah dalam cerita ini?

Pertama, kesetiaan Allah pada janji-Nya sendiri ditunjukkan dengan memudahkan perjalanan hamba Abraham ke kota Nahor. Bahkan, Allah mengizinkan sang hamba untuk menemukan perempuan yang tepat dengan cara yang diinginkan sang hamba itu sendiri!

Kedua, Allah berkarya secara luar biasa dalam peristiwa ini dengan cara meyakinkan Ribka untuk pergi serta meyakinkan keluarganya untuk mengizinkan Ribka ikut mengambil bagian dalam drama pemilihan Allah atas kaum Israel.

Kesetiaan Tuhan terhadap janji-Nya kepada Abraham telah terbukti dan Abraham telah memberikan teladan iman yang luar biasa. Semoga kisah ini menjadi sumber inspirasi dan sumber kekuatan bagi kita. Ingatlah bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan orang yang setia pada janji–Nya! Tuhan ingin agar umat-Nya selalu merespons janji yang telah Ia ucapkan. Apakah Anda telah merespons janji Allah? [Sung]




March 11, 2019, 12:37:44 PM
Reply #1799
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22907
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Akibat dari Ketidaksetiaan
Posted on Sunday, 10 March, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Kejadian 25:1-18

Dalam salah satu program tv Aircrash Investigation, dikisahkan sebuah peristiwa unik yang berawal dari masalah yang kelihatannya sepele, namun berakibat sangat fatal, yaitu jatuhnya sebuah pesawat yang menewaskan seluruh penumpang dan awaknya di suatu tempat di Amerika Selatan. Peristiwa sepele itu adalah ketidaktaatan petugas servis pesawat pada SOP yang berlaku tentang penggantian sebuah mur kecil di bagian ujung sayap pesawat. Mur yang kecil itu seharusnya diganti dengan yang baru. Namun, karena kebetulan hari itu stok habis, dan perlu waktu beberapa jam untuk mendatangkan stok baru, sang montir memutuskan untuk memakai satu mur kecil bekas yang ada di kotak peralatannya. Bagi kita, mungkin hal itu sangat sepele dan seharusnya tidak perlu dipermasalahkan. Namun, kenyataan sangat berbeda: mur kecil itu lepas, sehingga sayap pesawat tidak bisa dikendalikan, dan akhirnya pesawat jatuh.

Bagian Alkitab yang kita baca hari ini membicarakan tentang akibat ketidaksetiaan Abraham terhadap janji Tuhan, yaitu ketidaksetiaan dalam hal ia mengambil Ketura sebagai istrinya, padahal sebelumnya ia telah mendapat pengalaman pahit karena mengikuti saran Sara untuk mengambil Hagar menjadi istrinya (21:9-14). Bagi sebagian orang, hal tersebut merupakan hal kecil atau hal sepele dan merupakan urusan pribadi Abraham yang tidak perlu dipermasalahkan. Namun, akibat yang ditimbulkan sangat luar biasa. Dari Ketura, Abraham menjadi nenek moyang bangsa Asyur, Midian, dan sebagainya, yang di masa selanjutnya merupakan bangsa-bangsa yang menjadi musuh bebuyutan bangsa Israel. Seandainya Abraham taat dan setia berpegang pada janji Tuhan tentang keturunannya melalui rahim Sara, dan ia tidak mengambil perempuan lain untuk menjadi istrinya, maka sesungguhnya konflik dan pertikaian yang berlangsung selama berabad-abad hingga hari ini di Tanah Perjanjian tidak akan terjadi.

Banyak masalah dalam hidup kita yang muncul akibat ketidaksetiaan kita pada hal-hal yang kita anggap kecil dan sepele. Ternyata bahwa kompromi dalam hal-hal sepele bisa berakibat sangat fatal bagi diri kita sendiri maupun bagi anak cucu kita di masa depan. Ingatlah bahwa satu ketidaksetiaan kecil bisa menyeret kita pada ketidaksetiaan yang lebih besar, dan pada akhirnya membawa dampak serius yang amat merugikan. Waspadalah! Waspadalah! [Sung]


 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)