Author Topic: Saat Teduh  (Read 67345 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

May 09, 2019, 06:12:26 AM
Reply #1880
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24063
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Merespons Panggilan Allah
Posted on Rabu, 8 Mei, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Keluaran 3:15-4:31

saat Musa diperintahkan oleh Tuhan untuk kembali ke Tanah Mesir guna memimpin umat Israel keluar dari sana, ia telah berusia sekitar 80 tahun (Keluaran 7:7). Pada usia yang telah lanjut itu, ternyata bahwa kepribadian Musa telah berubah bila dibandingkan dengan kondisinya saat masih muda. Ia nampak menjadi lebih penakut bila dibandingkan  dengan saat masih tinggal di Mesir sekitar 40 tahun sebelumnya. Saat masih muda, Musa meyakini bahwa Allah akan memakai dirinya untukmenolong bangsa Israel (bandingkan dengan Kisah Para Rasul 7:23-25). Dengan mengandalkan kekuatan tangannya, ia berani membunuh seorang Mesir yang sedang menganiaya seorang Ibrani (Keluaran 2:11-12). Sikap kepahlawanan seperti itu sangat berbeda bila dibandingkan dengan sikap Musa dalam bacaan Alkitab hari ini. Saat Allah mengutus Musa untuk pergi ke Mesir, Allah memakai tongkat yang ada di tangan Musa sebagai perlengkapan bagi Musa. Walaupun tongkat itu sederhana dan tidak sebanding dengan perlengkapan senjata pasukan Mesir, tongkat itu merupakan alat yang hendak dipakai Allah Sang Penciptauntuk menunjukkan kuasa-Nya (4:2-9). Semestinya, Musa bisa pergi ke Mesir melaksanakan panggilan Tuhan dengan langkahringan. Namun, ternyata Musa menolak tugas yang Allah berikan kepadanya sampai tiga kali (4:1, 10, 13). Hal itu membuatAllah murka. Akhirnya, Musa tidak dapat mengelak lagi dan ia harus menjalankan panggilan Allah (4:14).

Saat berusia 80 tahun, Musa telah berkeluarga dan telah memiliki pekerjaan yang dapat ia nikmati. Nampak bahwa Musa enggan meninggalkan zona nyamannya. Selain itu, Musa tidak siap menerima penolakan dari orang-orang Israel. Agaknya pengalaman di Mesir sekitar 40 tahun sebelumnya (2:14) masih menimbulkan trauma. Jelaslah bahwa menyaksikan secara langsung kuasa yang ajaib dari Allah tidak membuat Musa menjadi taat untuk melakukan panggilan-Nya.

Setiap pengikut Kristus adalah rekan kerja Allah yang bertanggung jawab untuk memperbesar Kerajaan-Nya (1 Petrus 2:9). Saat melaksanakan tanggung jawab itu—seperti Musa—mungkin kita harus berhadapan dengan berbagai macam tantanganyang membuat kita harus keluar dari zona nyaman. Yang dituntut dari diri kita adalah kerelaan menundukkan diri dan menaatikehendak-Nya, kegigihan mengatasi segala tantangan, serta tekad untuk menyingkirkan keraguan. [ECW]



May 11, 2019, 07:43:28 AM
Reply #1881
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24063
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Jangan Merengek!
Posted on Jumat, 10 Mei, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Keluaran 23:20-23

Janji dan teguran Tuhan seperti dua sisi koin yang tak terpisahkan. Tuhan mengajar bangsa Israel agar percaya pada setiap janji-Nya. Janji itu nyata lewat penyertaan-Nya sepanjang perjalanan mereka keluar dari tanah Mesir. Allah mengirimkan malaikat-Nya guna melindungi mereka dari bahaya, sekalipun mereka melewati wilayah musuh.

Bangsa Israel dapat berjalan tanpa kekhawatiran. Keselamatan mereka terjamin sampai nantinya tiba di tempat yang telah Tuhan sediakan. Ia akan memelihara mereka dengan mengirimkan malaikat-Nya berjalan terlebih dahulu. Namun, Tuhan mengingatkan kalau janji-Nya bukanlah sembarang janji. Israel harus melakukan sesuatu untuk menerima janji itu. Ia menegur bangsa Israel supaya mendengarkan dan mematuhi setiap perintah-Nya. Salah satunya adalah agar tidak menyembah allah lain.

Tuhan tidak menginginkan umat-Nya menengadahkan tangan saja tanpa berusaha. Paulus menulis, “Jika seseorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan” (2Tes.3:10). Artinya, keinginan kita tercapai lewat bekerja dan berusaha. Ia sedang membangun mentalitas agar jangan mau terima enak saja. Ia ingin agar kita menanggalkan sikap kekanak-kanakan yang hanya bisa merengek kala menginginkan sesuatu.

Sering sekali, kita hanya ingin menagih janji Tuhan, tetapi mengabaikan perintah-Nya, malas berdoa, enggan menyembah-Nya, dan tidak hidup benar di hadapan-Nya. Anehnya, kita kerap merengek agar diberi hidup berkecukupan, kesehatan, pasangan hidup, dan deretan keinginan lainnya. Kita dengan egois mengharuskan Tuhan memenuhi semua keinginan itu.

Orang tua bijak akan mencukupi kebutuhan anak- anaknya, bukan keinginannya. Demikian juga Tuhan, yang adalah Bapa kita, sangat mengerti kebutuhan kita dan akan memberikan tepat pada waktu-Nya. Kalau mau menerima janji-Nya, maka kita juga wajib melakukan kehendak-Nya. Jangan menjadi anak-anak Tuhan yang suka merengek!

Doa: Tuhan, kami mau percaya pada janji-Mu. [SM]






Yakin Akan Kesetiaan Allah
Posted on Jumat, 10 Mei, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Keluaran 6:1-7:13

Nama—dalam teologi yang berdasarkan Alkitab—bukan sekadar sebuah panggilan yang tidak berarti, melainkan selalu mengandung makna tertentu. Sebutan “TUHAN” atau Yehova mengungkapkan tentang Allah yang mengikatkan diri ke dalam perjanjian dengan umat-Nya, dan Dia pasti menggenapi janji-Nya. Allah berfirman kepada Musa bahwa Dia telah menampakkan diri-Nya kepada leluhur Israel (Abraham, Ishak, dan Yakub), tetapi Dia belum memperkenalkan diri-Nya dengan nama TUHAN (6:2). Dengan menyatakan bahwa Dia adalah TUHAN, Allah bermaksud agar umat Israel mengenal-Nya sebagai Allah yang setia kepada perjanjian-Nya.

Saat mendengar apa yang Allah sampaikan melalui Musa, umat Israel yang sedang mengalami penindasan yang berat dari Firaun itu ternyata tidak mempercayai penuturan Musa (6:8). Paling tidak, ada tiga hal yang dapat membuat umat Israel tidak memercayai penggenapan janji Allah:

Pertama, Alkitab memberi kesaksian bahwa umat Israel cenderung meragukan kehadiran dan penyertaan Allah, padahal mereka telah menyaksikan berbagai mujizat yang berasal dari Allah (15:24, 16:2, 17:3, 7). Pada akhirnya, Allah menyebut bangsa Israel sebagai bangsa yang tegar tengkuk (32:9. Ulangan 9:13).

Kedua, setelah lebih dari 400 tahun menerima janji Allah, bangsa Israel—sampai zaman Musa—belum menerima penggenapan janji Allah itu. Hal itu membuat mereka sulit untuk meyakini bahwa Allah akan mewujudkan janji yang telah Ia ungkapkan kepada para bapa leluhur mereka.

Ketiga, bangsa Israel mengalami penderitaan yang berat, sehingga mereka meragukan kesetiaan Allah.

Kondisi orang Kristen pada saat ini berbeda dengan kondisi umat Israel saat itu. Saat ini, kita telah memperoleh berbagai bukti tentang kesetiaan Allah yang terungkap secara jelas melalui kesaksian Alkitab. Wujud kesetiaan Allah terlihat paling jelas pada karya Kristus. Kristus telah menggenapi janji Allah yang diungkapkan pertama kali dalam Kejadian 3:15, dan kemudian diungkapkan pula dalam berbagai nubuatan lain di Perjanjian Lama. Sekalipun kadang-kadang kita menghadapi situasi yang sulit, tetapi berbagai catatan dalam Alkitab seharusnya meyakinkan kita bahwa janji-Nya pasti akan digenapi, termasuk janji penyertaan-Nya (Matius 29:20). Janganlah kita menjadi orang yang tegar tengkuk, tetapi hendaklah kita terus belajar untuk menaati Allah. [ECW]






May 11, 2019, 07:45:05 AM
Reply #1882
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24063
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Rutinitas? Jangan!
Posted on Kamis, 9 Mei, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Keluaran 23:14-19

Rutinitas berasal dari kata rutin, yang berarti prosedur teratur dan tidak berubah-ubah. Kita pasti mengalaminya karena melakukan kegiatan berulang- ulang, seperti bangun tidur, mandi, belajar, atau bekerja. Lalu bagaimana dengan beribadah? Mungkin kita juga menganggapnya sebagai rutinitas biasa. Akhirnya, kita berkesimpulan bahwa yang penting beribadah dan melayani. Hingga pada satu titik, kita pun mengalami kejenuhan. Kalau sudah begitu, kita telah terperangkap dalam kebiasaan dan kehampaan rutinitas.

Allah memerintahkan Israel untuk mengadakan kebaktian dan perayaan bagi-Nya. Misalnya, hari raya roti tidak beragi, hari raya menuai, dan hari raya pengumpulan hasil. Dari semua perayaan itu, Allah tidak mengharapkan hal tersebut menjadi rutinitas semata. Allah menginginkan agar bangsa Israel mengingat pengorbanan yang telah dilakukan-Nya untuk mereka. Tujuh hari lamanya mereka harus makan roti tidak beragi untuk memperingati bagaimana Allah menyertai bangsa Israel keluar dari Mesir. Mereka harus menghadap ke Bait Allah tiga kali setahun dengan membawa persembahan terbaik. Ini untuk mengingatkan bahwa Allah adalah pemelihara kehidupan mereka.

Mari kita introspeksi. Apakah beribadah kepada Allah sekadar rutinitas atau kita memiliki kesungguhan hati datang kepada-Nya? Apakah kita tenggelam dalam lautan liturgi ibadah dan sudah melupakan maknanya?

Allah telah mengaruniakan Anak tunggal-Nya untuk menebus dosa dunia. Kita berharga di mata-Nya. Kita patut mensyukuri itu. Salah satu sarana untuk mengungkapkan rasa terima kasih kita adalah lewat ibadah. Oleh karena itu, ibadah harus kita jalani dengan sikap hati yang benar. Kita datang kepada-Nya bukan sekadar memenuhi rutinitas. Ucapan syukurlah yang menjadi motor utama aktivitas ibadah kita.

Doa: Tuhan, ajar kami untuk memiliki sikap yang benar ketika datang menyembah-Mu, mengingat anugerah keselamatan dari-Mu, dan pengorbanan yang telah Engkau lakukan. [SM]







Salam
Posted on Kamis, 9 Mei, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: 1 Korintus 16:19-24

Ada orang yang beranggapan bahwa memberikan salam tidaklah penting. Menurut mereka, ucapan salam adalah basa-basi belaka. Tidaklah mengherankan apabila ada saja orang yang enggan memberikan salam kepada orang lain. Apalagi, jika ia merasa kedudukannya lebih tinggi dibandingkan orang lain.

Bila kita perhatikan, seluruh surat Rasul Paulus selalu dibuka dan ditutup dengan salam. Ini bukan sekadar kebiasaan atau norma pergaulan semata. Paulus memiliki maksud tersendiri dalam setiap salamnya. Ia selalu menyelipkan doa dan nasihat bagi mereka yang disapanya lewat salam.

Bagi Rasul Paulus, salam bukan sekadar penutup setiap surat kirimannya. Dalam salam itu, Rasul Paulus ingin menunjukkan kedekatan yang hangat. Hal itu ia ekspresikan lewat ucapan dan cium kudus. Ini memang tradisi di Asia Barat Daya Kuno. Tradisi ini (cium kudus) dilakukan oleh mereka yang memang memiliki hubungan akrab. Kedekatan relasi ini jugalah sumber otoritas bagi Paulus untuk mengingatkan agar mereka sungguh-sungguh mengasihi Tuhan. Dari sini, Rasul Paulus menunjukkan bahwa salam, dalam pemahamannya, adalah doa.

Salam adalah sesuatu yang sangat penting. Lewat ucapan salam, sesungguhnya kita dapat menunjukkan kepedulian. Salam, bisa juga dikatakan, adalah tindakan kasih yang paling sederhana. Kita tidak membutuhkan terlalu banyak tenaga untuk memberi salam. Akan tetapi, lewat tindakan kecil ini, kita sebenarnya sedang menyebarkan kehangatan cinta kasih.

Oleh karena itulah, sebaiknya kita senantiasa menjadi orang yang selalu mengucapkan salam. Lewat nas ini, kita belajar bahwa salam bukan etika pergaulan semata. Lebih dari itu, salam juga bagian dari doa dan saluran cinta kasih. Lewat salam dalam tiap perjumpaan, kita menyematkan harapan kebaikan bagi mereka. Jalinan tali silaturahmi pun kian erat merekat. Salam merupakan kecupan kecil sebagai pewarna suasana dengan kehangatan cinta kepada sesama.

Doa: Tuhan, ajar kami untuk menyediakan waktu berdoa bagi kebaikan orang lain. [JCP]





May 11, 2019, 07:45:42 AM
Reply #1883
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24063
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Dampak Dosa Terhadap Manusia
Posted on Kamis, 9 Mei, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Keluaran 5

Musa dan Harun berkata di hadapan Firaun bahwa TUHAN, Allah Israel telah bersabda supaya Firaun membiarkan bangsa Israel untuk beribadah kepada-Nya (5:1, 3). Mendengarkan perkataan itu, Firaun menjawab bahwa ia tidak mengenal siapa TUHAN (5:2).

Pada zaman kuno, ada pemahaman bahwa bila suatu bangsa ditundukkan oleh bangsa lain, maka berarti bahwa dewa (atau tuhan) dari bangsa yang kalah telah dikalahkan oleh dewa bangsa yang menang. Oleh sebab itu, Firaun berpikir bahwa TUHAN, Allah Israel juga sudah ditaklukkan oleh berbagai dewa yang disembah bangsa Mesir. Oleh karena itu, Firaun berkata bahwa ia tidak perlu mendengarkan firman-Nya (5:2). Bahkan, kemudian Firaun semakin menindas bangsa Israel dengan semakin memperberat tugas mereka (5:7-18). Ketetapan Firaun tersebut sangat tidak berperikemanusiaan dan sesungguhnya sangat kejam. Firaun hanya memikirkan kepentingannya sendiri.

Bangsa Mesir menyembah banyak dewa, termasuk Firaun—Sang Raja Mesir—yang diyakini sebagai titisan dewa. Penyembahan semacam ini sebenarnya mencerminkan adanya kesadaran pada diri manusia tentang adanya Yang Ilahi dalam kehidupan (Roma 1:20). Oleh karena itu, dalam berbagai kebudayaan, selalu ada dewa atau tuhan yang disembah. Namun, manusia berdosa tidak dapat mengenal Allah yang sejati. Manusia berdosa menyembah berbagai macam ilah yang digambarkan sebagai menyerupai berbagai hewan maupun menyerupai manusia (Roma 1:23). Dosa yang mencemari manusia membuat manusia melakukan berbagai macam kejahatan terhadap sesamanya (Galatia 5:19-21, Kolose 3:8-9). Kekejian Firaun terhadap bangsa Israel mencerminkan karakteristik orang bebal yang tidak berseru kepada TUHAN dan suka melakukan kejahatan terhadap umat Allah (Mazmur 14:4).

Saat ini, masih banyak orang yang tidak mengenal Allah yang benar. Orang-orang semacam ini menyembah berbagai illah lain, termasuk meninggikan (mendewakan) dirinya sendiri. Banyak pula orang yang tega untuk berbuat jahat terhadap sesamanya. Marilah kita memberitakan Injil Yesus Kristus sekarang juga. Jumlah orang yang masih perlu mendengar berita tentang Injil Yesus Kristus masih sangat banyak. Hanya melalui berita Injil sajalah, manusia dapat mengalami perubahan yang sejati (Yehezkiel 36:26). [ECW]






May 12, 2019, 01:19:52 PM
Reply #1884
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24063
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Mencari Wajah Allah
Posted on Sabtu, 11 Mei, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Keluaran 24:12-18

Kita kerap berdoa atau menyanyikan lirik lagu rohani yang mengatakan, “… demi kemuliaan Tuhan.” Saking terbiasanya dengan istilah itu, tanpa sadar, paradigma yang salah pun terbangun. “Demi kemuliaan Tuhan” seolah berarti Ia ingin dipuji atau membutuhkan puji-pujian dari kita. Kita seperti menempatkan Tuhan sebagai pribadi yang haus pujian.

Ketika diperintahkan Tuhan menghadap ke gunung Sinai, Musa langsung bangkit dan berjalan tanpa keraguan, meskipun ia tahu bahwa tak ada yang dapat “melihat” Allah secara langsung. Keluaran 33:20 mencatat, “Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup.”

Namun, apa yang terjadi? Musa tidak langsung berjumpa dengan Allah. Kemuliaan Tuhan diam di atas gunung Sinai dan awan menutupinya selama enam hari. Selama itulah Musa sabar menunggu perintah Allah. Baru pada hari ke tujuh, Tuhan memanggil Musa lagi. Allah menampakkan kemuliaan-Nya kepada Musa. Kemuliaan itu muncul bukan karena Musa terlebih dahulu memuliakan Allah, namun Allah yang berinisiatif untuk menunjukkan kemuliaan-Nya. Itu semua terjadi karena Musa telah beroleh kasih karunia Allah.

Allah melayakkan Musa untuk menjumpai-Nya. Ia berdiam diri selama empat puluh hari empat puluh malam di gunung itu. Ia juga tidak makan roti dan minum air (Ul. 9:9). Ia memasukkan diri dalam keheningan untuk mendengarkan dan mengetahui kehendak Allah. Di sanalah ia menerima loh batu berisi firman yang telah dituliskan-Nya.

Ketika kita datang kepada Allah, Ia yang menyatakan diri-Nya. Ia melayakkan kita agar dapat menyembah-Nya. Siapakah kita sehingga layak untuk memuliakan Allah? Allah sendiri yang memberikan kasih karunia agar kita bisa memuliakan-Nya. Kita terhubung dengan-Nya lewat pengorbanan Yesus Kristus, Putra Tunggal-Nya karena anugerah. Hal ini perlu kita syukuri. Allah sangat baik telah memberi kesempatan kepada kita untuk terhubung dengan-Nya.

Doa : Tuhan, layakkan aku, biar kemuliaan-Mu nyata dalam hidupku. [SM]







Berbakti Hanya Kepada Allah
Posted on Sabtu, 11 Mei, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Keluaran 7:14-8:32

Dalam bacaan Alkitab kemarin, telah diungkapkan bahwa Allah ingin agar bangsa Israel mengenal-Nya sebagai TUHAN, atau sebagai Allah yang mengikatkan diri-Nya dengan umat-Nya dalam hubungan perjanjian (6:3). Melalui bacaan Alkitab hariini, kita mengetahui bahwa Allah menghendaki agar Firaun mengakui kuasa Allah atas Tanah Mesir (7:17, 8:22). Perlu dipahami bahwa bangsa Mesir menyembah banyak dewa, misalnya Hapi atau Apis (dewa Sungai Nil) dan Isis (dewi Sungai Nil).

Tulah pertama (7:14-25) dimaksudkan untuk menyatakan bahwa Allah lebih besar daripada dewa dan dewi Sungai Nil itu. Bangsa Mesir juga menyembah Heqet, dewi kelahiran yang digambarkan memiliki kepala berbentuk seekor katak.

Tulah kedua(8:1-15), yaitu katak yang memenuhi tanah Mesir ditujukan untuk menyingkapkan bahwa Allah lebih berkuasa daripada dewiHeqet. Bangsa Mesir juga menyembah Set, dewa badai di padang gurun.

Akan tetapi, melalui tulah ketiga (8:16-19), para ahli yang menjadi pegawai Firaun mengakui bahwa Allah ialah TUHAN yang sejati (8:19). Sekalipun demikian, Firaun tetap mengeraskan hati dan tidak mau mengakui kebesaran Allah. Geb atau Seb adalah dewa bumi yang dipuja oleh Bangsa Mesir.

Dewa inilah yang dinyatakan takluk di bawah kedaulatan Allah melalui tulah yang keempat (8:20-32).

Melalui keempat tulah yang pertama, Allah memperlihatkan kuasa-Nya yang besar yang mengungkapkan bahwa Dialah Allah sejati yang harus ditakuti oleh seluruh bumi. Di zaman Musa, Firaun dan seluruh penduduk Mesir memuja berbagai macam dewa. Akan tetapi, di zaman modern ini, illah yang disembah manusia berbeda. Misalnya, manusia yang menempatkan harta dan kedudukan sebagai yang paling utama (sehingga rela melakukan apa saja agar memperoleh harta atau kedudukan dengantidak memedulikan keberadaan Allah) telah membuat harta dan kedudukan sebagai ilah. Contoh lain, manusia yang menggunakan sains untuk menghakimi (bukan untuk lebih memahami) Alkitab juga telah menjadikan sains sebagai ilah.

Keempat tulah di Mesir merupakan sebuah kesaksian yang sangat berharga bahwa Allah sajalah yang semestinya disembah. Firaun mengalami kerugian yang besar karena ia mengeraskan hati. Perhatikanlah nasihat Tuhan Yesus agar kita menyembah dan berbakti hanya kepada Tuhan Allah saja (Matius 4:10). [ECW]




May 13, 2019, 07:07:30 AM
Reply #1885
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24063
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Jangan Keraskan Hatimu!
Posted on Minggu, 12 Mei, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Keluaran 9

Dalam kitab Keluaran, benar dikatakan bahwa TUHAN mengeraskan hati Firaun. Akan tetapi, hal itu bukan berarti bahwa inisiatif mengeraskan hati berasal dari Allah, sehingga sikap penolakan Firaun bisa dikatakan sebagai dipaksakan oleh Allah. Bila kita memperhatikan 9:7, 34, 35, jelas bahwa Firaun juga berkeras hati secara sadar. Dalam tulah yang kelima yang dijatuhkan Allah kepada bangsa Mesir (penyakit sampar yang mengakibatkan kematian ternak orang Mesir), Firaun telah mengutus orang untuk memeriksa Tanah Gosyen—tempat orang Israel berdiam, sehingga Firaun telah mengetahui dengan jelas bahwa penyakit sampar itu hanya menimpa ternak orang Mesir, tidak menimpa ternak orang Israel. Sekalipun telah jelas bagi Firaun bahwa dewa-dewi sembahan orang Mesir serta orang-orang pandai di Mesir tidak sanggup melawan rencana Allah Israel menimpakan penyakit sampar ke atas ternak orang Mesir, Firaun tetap berkeras hati melawan kehendak Allah (9:1-7). Tulah keenam (barah atau bisul yang menimpa manusia dan ternak) serta tulah ketujuh (hujan es yang mengakibatkan kematian hewan dan manusia yang berada di tempat terbuka) yang menimpa Tanah Mesir (dengan pengecualian tempat bangsa Israel berdiam) juga tidak dapat dilawan. Bila dikatakan dalam 9:12 bahwa TUHAN mengeraskan hati Firaun, hal ini haruslah diartikan sebagai Allah membiarkan Firaun tetap berkeras hati. Allah tidak lagi mengetuk hati Firaun karena Firaun telah menutup pintu hatinya terhadap teguran Allah.

Dalam hidup kita, mungkin saja Allah memberi peringatan kepada kita saat kita berbuat dosa. Bila ROH KUDUS menyadarkan Anda akan kesalahan Anda, janganlah mengeraskan hati! Bila Anda terus-menerus berkeras hati menolak teguran Allah, mungkin saja Allah akan membiarkan Anda mengalami kegagalan, penyakit, dan penderitaan sampai akhir hidup Anda. Bila Anda masih bisa menyadari kesalahan Anda, cepatlah datang mencari pengampunan yang tersedia di dalam Tuhan Yesus Kristus. Bila kita datang kepada-Nya, seberapa besar pun dosa kita, anugerah Allah tetap tersedia, dan kita bisa menerima pengampunan dosa karena Kristus telah mati untuk menebus dosa kita. Akan tetapi, bila kita menolak pekerjaan ROH KUDUS yang telah menyadarkan kita akan betapa berdosanya diri kita di hadapan Allah, tidak ada lagi pengampunan. Perbuatan baik kita tidak akan bisa menyelamatkan diri kita! [P]




May 14, 2019, 07:07:18 AM
Reply #1886
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24063
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Tanggalkanlah Keangkuhanmu!
Posted on Senin, 13 Mei, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Keluaran 10-11

Sekerasan hati Firaun itu keterlaluan! Tujuh tulah yang telah dijatuhkan Allah itu sudah membuat bangsa Mesir menjadisangat menderita. Orang-orang pandai di Mesir—dan bahkan dewa-dewi yang disembah oleh orang Mesir—tidak berdaya menghadapi tulah yang ditimpakan Allah ke atas diri bangsa Mesir.

Para pegawai Firaun (yang sudah merasa putus asa) meminta kepada Firaun agar bangsa Israel dibiarkan pergi agar mereka tidak terus tertimpa tulah. Akan tetapi, Firaun menolak. Bagi dia, membiarkan bangsa Israel meninggalkan Tanah Mesir berarti bahwa dia mengaku kalah terhadap serangan tulah yang ditimpakan oleh Allah Israel. Keangkuhannya membuat dia tidak mau merendahkan diri dengan mengaku kalah (bandingkan dengan 10:3). Dia tidak berdaya, tetapi dia tidak mau mengakui ketidakberdayaannya. Setelah tulah yang ke delapan dijatuhkan—yaitu tulah belalang yang memakan habis pohon-pohon di padang yang belum mati sesudah tertimpa hujan es (10:12)—Firaun pura-pura bertobat (10:16). Akan tetapi, setelah tulah berhenti, Firaun tetap tidak mengizinkan bangsa Israel meninggalkan Tanah Mesir, sehingga Tuhan membiarkan kondisi hati Firaun yang telah mengeras itu. (10:20). Karena hati Firaun telah mengeras, tulah yang kesembilan (gelap gulita selama tiga hari di seluruh Tanah Mesir, kecuali Gosyen—daerah tempat bangsa Israel berdiam) ditimpakan tanpa pemberitahuan lebih dulu. Hati Firaun terlalu angkuh sehingga hukuman apa pun yang ditimpakan Allah ke atas bangsa Mesir hanya membuat dia tersentak, pura-pura berubah sikap, tetapi selanjutnya tetap tidak rela melepaskan bangsa Israel.

Sepanjang zaman, ada orang-orang yang bersikap mengeraskan hati seperti Firaun. Orang semacam ini tidak memedulikan peringatan Allah. Mungkin saja orang semacam ini membaca Alkitab atau mendengarkan Firman Tuhan secara teratur, tetapi dia tidak mau diatur oleh Firman Tuhan. Dia memilih dan menentukan sendiri apa yang hendak dilakukannya. Dia berkeras melakukan apa yang ingin dia lakukan sekalipun dia sadar bahwa keputusannya itu melawan kehendak Tuhan. Orang seperti Firaun adalah orang yang terlalu angkuh sehingga tidak mau merendahkan diri untuk menyesuaikan cara hidupnya dengan kehendak Tuhan. Bila Anda pernah bersikap angkuh dan keras kepala seperti Firaun, bertobatlah segera selagi Allah masih memberi kesempatan! [P]







Kehadiran Allah
Posted on Senin, 13 Mei, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Keluaran 25:10-22

Sebagian orang punya anggapan bahwa kehadiran Allah harus disertai dengan fenomena spektakuler. Dampaknya, mereka menganggap tidak merasakan kehadiran-Nya saat beribadah jika situasinya tenang dan biasa saja. Mereka merasa kering dalam menjalani disiplin rohani karena melihat dan merasakan sensasi yang bombastis.

Allah memerintahkan umat-Nya di gunung Sinai, melalui Musa, untuk membuat Tabut Perjanjian. Bagaimana bentuk tabut itu? Apa saja yang harus ada di sana? Semua itu ditentukan oleh Allah (10-21).

Fungsi tabut adalah sebagai tempat loh batu pemberian Tuhan (16). Tabut ini juga menjadi tempat di mana Allah berkenan menemui umat-Nya. Pada saat pertemuan itu, Allah akan memberikan perintah kepada umat-Nya (22). Tabut Perjanjian bisa juga merupakan simbol perkenanan Allah untuk bertemu dan berbicara kepada umat-Nya. Jadi, kekuatannya bukan pada tabutnya, namun pada otoritas yang tidak terlihat di belakangnya, yaitu Allah. Perintah sekaligus ketetapan-Nya akan diwahyukan dalam persekutuan itu. Lewat semua sarana ini, Allah ingin menyapa umat-Nya. Ia rindu bergaul karib bersama bangsa pilihan-Nya itu.

Prinsip utamanya adalah kehadiran Allah ditandai dengan pemberitaan firman-Nya. Fenomena yang lain, pada dasarnya, bukanlah hal yang utama. Kita beribadah di gereja, membaca Alkitab, berdoa, dan sebagainya demi mengalami perjumpaan dengan-Nya secara pribadi. Dalam perjumpaan itu, Allah menginginkan kita mengenal-Nya. Ia ingin agar kita mengetahui keinginan-Nya. Ia rindu agar kita dekat dengan-Nya. Ia rindu supaya kita mengenal-Nya secara pribadi lewat firman dan perintah-Nya serta melakukan kehendak-Nya. Jadi, kehadiran Allah nyata jika kita mendengarkan firman-Nya dan tunduk pada kehendak-Nya. Dengan begini, kita bisa menyenangkan hati-Nya lewat ketaatan kepada-Nya. Allah akan dimuliakan melalui hidup kita terlebih kita menikmati perjumpaan dengan-Nya..

Doa: Tuhan, ajarlah kami menyatakan kehadiran-Mu dalam seluruh aspek kehidupan dengan penuh syukur. [SM]




May 14, 2019, 07:08:07 AM
Reply #1887
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24063
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Kontribusi Umat Allah
Posted on Senin, 13 Mei, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Keluaran 25:1-9

Persembahan merupakan bagian dari ibadah kita kepada Allah. Namun, sering kali kita memberi persembahan sesuai dengan keinginan kita, bukan karena kehendak-Nya. Kita fokus pada apa yang ingin kita berikan tanpa mendengarkan kemauan-Nya. Kejadian seperti ini akhirnya membuat orientasi memberi persembahan menjadi salah arah. Alhasil, Tuhan tidak dimuliakan dengan persembahan itu.

Allah memberikan perintah untuk memungut persembahan khusus dari orang Israel (2). Ia menyebutkan dengan rinci apa saja yang menjadi persembahan khusus itu (3-7). Persembahan tersebut adalah bahan-bahan untuk membangun Kemah Suci dan ornamen perabotannya. Tujuannya agar Kemah Suci berdiri tegak sehingga Allah bisa tinggal di tengah umat-Nya (9). Allah ingin semuanya harus sesuai dengan ketetapan-Nya.

Allah tidak memaksa umat-Nya memberikan persembahan khusus. Sebaliknya, Ia merindukan umat-Nya memberi dengan sukarela, bukan karena paksaan. Persembahan merupakan sumbangsih umat Allah sebagai bentuk ibadah kepada-Nya. Kontribusi itu dipersembahkan kepada Allah dan digunakan bagi kepentingan peribadahan kepada-Nya.

Kita sering kali memberikan persembahan seturut keinginan semata. Padahal, persembahan pun adalah inisiatif Allah. Sesungguhnya, persembahan bukan berbicara tentang pemberian kita, melainkan perihal ketaatan melakukan apa yang diperintahkan Allah. Saat memberikan persembahan, artinya kita tidak sedang memberikan apa yang kita miliki, tetapi, sekali lagi, memberi persembahan adalah perihal mematuhi perintah Allah.

Sudah seharusnya kita memberikan persembahan khusus kepada Allah. Namun, bukan sebagai keharusan atau ritual gerejawi, melainkan wujud relasi kita sebagai umat-Nya. Kita perlu mengingat bahwa keinginan Allah adalah agar Ia berdiam di tengah umat-Nya. Kita menyerahkan persembahan guna merealisasikan itu, bukan demi memamerkan diri sendiri di tengah jemaat.

Doa: Tuhan, beri kami kemampuan untuk menyatakan kehadiran-Mu melalui setiap persembahan kami. [SM]










May 15, 2019, 07:12:12 AM
Reply #1888
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24063
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Rencana Penyelamatan
Posted on Selasa, 14 Mei, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Keluaran 12:1-28

eluarnya bangsa Israel dari Tanah Mesir bukan ide mendadak, melainkan telah dipersiapkan dengan matang. Allah tahu bagaimana dan kapan Ia akan membawa umat Israel keluar dari Tanah Mesir. Allah tahu bahwa Firaun akan berkeras hati walaupun sembilan tulah telah menimpa bangsa Mesir. Allah tahu pula bahwa bangsa Israel akan dilepaskan setelah tulah kesepuluh—yaitu matinya semua anak sulung bangsa Mesir—ditimpakan. Untuk bekal bagi umat Israel dalam menempuhperjalanan jauh dari Tanah Mesir menuju Tanah Perjanjian (Kanaan), Allah merencanakan agar bangsa Israel meminta barang-barang berharga dari para tetangganya (bangsa Mesir), segera sesudah tulah kesepuluh ditimpakan (11:2; 12:35-36). Hal ini dimungkinkan karena tulah kesepuluh ini membuat bangsa Mesir amat resah. Bila bangsa Israel tetap tinggal di Mesir, mereka kuatir bahwa Allah Israel akan terus menimpakan tulah (hukuman) kepada bangsa Mesir. Oleh karena itu, mereka meminta agar bangsa Israel segera pergi meninggalkan Tanah Mesir. Dalam kondisi resah seperti itu, orang Mesir memberikan apa pun yang diminta orang Israel. Karena peristiwa keluarnya bangsa Israel dari Tanah Mesir memiliki makna rohani yang amat penting, disiapkanlah suatu perjamuan makan yang disebut Paskah yang dirancang untuk mengingatkan bangsa Israel bahwa pada malam mereka keluar dari Tanah Mesir, Allah telah menyelamatkan (membebaskan) mereka dari kematian yang menimpa semua anak sulung bangsa Mesir, baik manusia maupun hewan.

Terhadap bangsa Israel, Allah merancang pembebasan atau penyelamatan dari penjajahan secara fisik. Akan tetapi, terhadap kita semua—orang-orang berdosa—Allah merancang keselamatan atau pembebasan secara rohani (dari dosa) dengan mempersiapkan datangnya Yesus Kristus, Sang Mesias. Rencana penyelamatan ini bukan rencana mendadak di abad pertama, melainkan rencana yang telah ada sejak semula, sebelum dunia dijadikan (Efesus 1), diumumkan pertama kali segera setelah manusia jatuh ke dalam dosa (Kejadian 3:15), dan dipersiapkan selama berabad-abad melalui sejarah bangsa Israel (bandingkan dengan Lukas 24:25-27). Bila peristiwa Paskah yang berupa pembebasan secara fisik itu amat penting bagi orang Israel, terlebih lagi peristiwa Paskah yang menyelamatkan manusia berdosa amat penting bagi kita pada masa kini! [P]


May 16, 2019, 06:34:00 AM
Reply #1889
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24063
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Bayangan Keselamatan
Posted on Rabu, 15 Mei, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Keluaran 12:29-51

Kita perlu mencamkan bahwa Paskah pada zaman Musa berbeda dengan Paskah yang dirayakan orang Kristen pada masa kini. Pada malam sebelum bangsa Israel meninggalkan Tanah Mesir, Allah membunuh semua anak sulung bangsa Mesir. Orang Israel harus membubuhkan darah anak domba ke dua tiang pintu dan ambang atas. Adanya darah di sana akan membuat Allah “melewati” (Dalam bahasa Ibrani disebut ‘Pesach” dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai “Paskah”) rumah itu dan tidak membunuh anak sulung yang ada di rumah itu (12:12-13). Karena peristiwa “dilewatkannya” anak sulung Israel dari kematian yang menimpa anak sulung bangsa Mesir merupakan peristiwa penting dalam sejarah Israel, peristiwa itu tetap dirayakan setiap tahun oleh orang-orang Yahudi sampai sekarang. Paskah pada zaman Musa itu tidak diperingati oleh orang Kristen karena peringatan semacam itu tidak relevan bagi orang Kristen non-Yahudi. Bagi orang Kristen, Paskah pada zaman Musa itu dipandang sebagai “bayangan” dari apa yang dikerjakan oleh Kristus melalui kematian-Nya sebagai “Anak Domba Allah” di kayu salib (Yohanes 1:29; Ibrani 10:1). Sebagaimana Allah tidak membunuh anak sulung orang Israel karena darah anak domba yang dibubuhkan di tiang dan ambang atas pintu orang Israel, demikian pula Allah tidak akan menghukum orang yang percaya kepada pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib. Sebagaimana Allah—pada zaman Perjanjian Lama—memerintahkan agar bangsa Israel merayakan Paskah setiap tahun, demikian pula Kristus—dalam Perjanjian Baru—memerintahkan agar kematian-Nya untuk menebus dosa manusia diperingati (Lukas 22:19-20; 1 Korintus 11:23-26).

Bagi orang Yahudi, perayaan Paskah merupakan salah satu perayaan yang sangat penting. Pada hari raya Paskah, orang Yahudi dari tempat-tempat yang jauh pun harus berkumpul di Yerusalem untuk merayakan Paskah. Banyak orang Yahudi yang sampai saat ini tetap tidak mengerti (atau tidak memercayai) bahwa Paskah yang mereka rayakan hanyalah bayangan dari keselamatan sesungguhnya yang telah terwujud dalam diri Tuhan Yesus Kristus. Gereja Kristen saat ini pada umumnya selalu merayakan Paskah setiap tahun




 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)