Author Topic: Saat Teduh  (Read 61181 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

May 17, 2019, 05:57:27 AM
Reply #1890
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22855
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Pelataran dan Mazbah Kurban
Posted on Kamis, 16 Mei, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Keluaran 27:1-21

Kesucian Allah terlalu sempurna untuk dapat didekati manusia. Manusia tidak layak sama sekali menghampiri Allah. Manusia sama sekali tidak punya cara agar layak menghampiri hadirat-Nya. Allah sendirilah yang memberi diri-Nya agar umat dapat menghampiri-Nya.

Musa harus membuat mazbah (altar) berbentuk empat persegi bertanduk. Seluruh perkakasnya, yaitu kuali, sodok, bokor penyiraman, garpu, dan perbaraan semuanya terbuat dari tembaga. Di atas mazbah inilah semua kurban dipersembahkan kepada Allah (1-8).

Pada bagian luar Kemah Suci dibangun pelataran. Pada sisi selatan, utara, dan pintu masuk ke pelataran terdapat tirai-tirai linen halus. Warnanya sama dengan bagian dalam Kemah Suci. Tiang-tiang penyangganya terbuat dari tembaga (9-19).

Di pelataran inilah orang Israel menyerahkan semua kurban-kurban dengan perantaraan para imam. Hanya imam yang dapat memasuki ruang kudus. Sekali setahun, imam dapat masuk ke ruang mahakudus. Para imam juga harus selalu menyalakan lampu di dalam ruang kudus setiap sore hingga pagi (21-21).

Pelataran dan mazbah terletak di luar ruang mahakudus. Namun, bukan berarti fungsinya kecil. Justru, di pelataran inilah para imam memeriksa dosa umat Allah dan kurban-kurban yang akan dipersembahkan-Nya.

Sejatinya manusia tidak memiliki fasilitas dan kesempatan untuk menghampiri Allah, kecuali karena anugerah-Nya (Ef. 2:8-9). Allah sendiri yang merancang Kemah Suci dan yang menyediakan semua perkakasnya. Ia juga yang menyediakan para imam, sehingga memungkinkan umat Allah mendapat pengampunan dosa dari Allah.

Kita harus selalu bersyukur atas semua rancangan-Nya. Kita juga wajib menghargai karya keselamatan yang telah dikerjakan-Nya. Kita bisa membalas itu semua dengan berbakti kepada-Nya dengan sungguh-sungguh dalam kasih yang penuh.

Doa: Tuhan, mampukanlah kami untuk senantiasa hidup memuliakan Engkau. [RS]







Tabir Pemisah antara Allah dan Manusia
Posted on Kamis, 16 Mei, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Keluaran 26:1-37

Kekudusan Allah sempurna, sehingga manusia berdosa mustahil menghampiri-Nya. Artinya, dosa telah memisahkan manusia dari Allah dan hanya Allah yang dapat menyelamatkan manusia dari kematian kekal.

Kemah Suci dirancang Allah dalam tiga bagian, yaitu pelataran, ruang kudus, dan ruang mahakudus. Dua ruang terakhir dipisahkan oleh sebuah tabir besar (33) dan tebal. Tabir itu terbuat dari kain linen halus hasil gabungan dua tirai (rangkap lima). Warnanya ungu tua, ungu muda, dan kirmizi.

Pada tirai, ahli tenun membuat gambar kerubim (malaikat bersayap). Kedua rangkap tabir disatukan dengan kait-kait emas berdiri dengan tiang-tiang dan sosok-sosoknya (1-6). Atap kemah terbuat dari rangkaian sebelas tirai. Kemudian, kemah ditudungi dengan kulit domba jantan dan kulit lumba-lumba (7-14). Seluruh sisi Kemah Suci menggunakan papan- papan dengan salut emas dan beralas perak (15-29). Tabut perjanjian Allah dengan tutup pendamaian diletakkan di dalam ruang mahakudus. Sementara meja roti, kandil, dan meja ukupan di ruang kudus (34-35). Seluruh desain, ukuran, materi, ornamen, serta perlengkapan Kemah Suci harus dibuat sesuai petunjuk Tuhan.

Kemah Suci adalah tempat berdiamnya Allah di tengah umat Israel, walaupun sebenarnya Ia sendiri tidak membutuhkan tempat berdiam buatan tangan manusia (Kis. 17:24-25). Tabir pemisah antara ruang kudus dan ruang mahakudus adalah simbol terpisahnya manusia dengan Allah. Manusia tidak bisa melakukan apa pun agar semua dosanya dihapuskan.

Dalam kasih, Allah mau menghampiri manusia. Anugerah-Nya menebus dosa-dosa umat-Nya melalui pengorbanan Kristus di kayu salib. Ini sebabnya Allah dapat berdiam di tengah umat-Nya (Yoh. 1:14, 3:16; 1Kor. 6:19-20). Tabir pemisah antara kita dan Allah telah dihancurkan oleh pengorbanan Kristus (Mat. 27:50-51). Untuk itu, kita harus selalu bersyukur atas anugerah dan karya Allah tersebut.

Doa: Tuhan, terima kasih atas pengampunan-Mu dan kehadiran-Mu di dalam hidup kami. [RS]


May 17, 2019, 05:58:23 AM
Reply #1891
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22855
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Meja Roti dan Kandil Emas
Posted on Kamis, 16 Mei, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Keluaran 25:23-40

Setelah jatuh ke dalam dosa, manusia pun hidup terasing dari Tuhan. Sejak saat itu, manusia berjalan dalam kegelapan. Sekalipun demikian, Allah tidak meninggalkan dan tidak membiarkan manusia berjalan menuju kebinasaan. Ia dengan penuh kasih memberikan terang bagi umat-Nya. Ia tetap menjadi pemelihara seluruh umat pilihan-Nya.

Allah memerintahkan Musa untuk membuat meja roti sajian dan kandil. Musa harus membuatnya sesuai dengan rancangan Tuhan (23-30). Para imam wajib meletakkan roti sajian di atas meja itu (30). Roti itu mesti ditata dalam dua baris bersusun. Setiap sabat, roti tersebut harus diganti dengan yang baru. Mereka hanya boleh memakannya di dalam Kemah Suci (Im. 24:6-9). Selanjutnya, Musa juga harus membuat kandil beserta semua ornamennya. Semua itu harus dibuat dari satu talenta (34 kg) emas. Setiap sore hingga pagi, para imam harus menyalakan lampu agar menerangi kemah suci (31-30; Kel.. 27:20-21).

Meja roti sajian menggambarkan dua hal. Pertama, sebagai perjamuan Kristus, yang adalah roti hidup sejati (Yoh. 6:32-35). Kedua, merupakan gambaran pelayanan Yesus Kristus yang telah menjadi manusia (Yoh.1:14) dan berdiam di dunia (tabernakel). Kandil/lampu pun melambangkan dua hal. Pertama, Kristus sebagai terang bagi seluruh dunia. Kedua, Ia merupakan terang Allah yang kekal bagi umat-Nya (Yoh. 8:12; Why. 22:5). Allah menyatakan diri-Nya kepada manusia dengan penuh cinta kasih. Anugerah-Nya memelihara dan menyelamatkan kembali orang- orang yang dikasihi-Nya.

Kita perlu memahami betapa ajaib rencana keselamatan-Nya dan pemeliharaan kekal Allah bagi hidup orang-orang pilihan-Nya. Dengan pemahaman ini, kita bisa menaruh hormat, kagum, penuh syukur, dan menyembah-Nya dengan penuh sukacita. Kita harus senantiasa bersyukur dan berterima kasih atas kebaikan Allah sebab karya-Nya sempurna dalam hidup kita.

Doa: Tuhan, kami naikkan syukur kepada-Mu karena rencana kasih-Mu telah menyelamatkan hidup kami di dalam Yesus Kristus. [RS]







Merayakan Hari Pembebasan
Posted on Kamis, 16 Mei, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Keluaran 13

Peristiwa keluarnya bangsa Israel dari Tanah Mesir merupakan peristiwa yang amat penting bagi bangsa Israel. Pentingnya peristiwa itu bukan terletak pada perbedaan lokasi tempat tinggal, melainkan pada kebebasan beribadah kepada Allah (Perhatikan 3:12; 4:22-23; 7:16; 8:1,20; 9:13; 10:3,7,26; 13:5,8). Di Tanah Mesir, bangsa Israel—sebagai bangsa jajahan—harus mengikuti aturan-aturan yang diberlakukan oleh Firaun (penguasa Tanah Mesir). Setelah keluar dari Tanah Mesir, bangsa Israel bebas mengekspresikan ibadah mereka kepada TUHAN. Kebebasan beribadah itu tidak didapat dengan mudah. Mereka baru bisa meninggalkan Tanah Mesir setelah Allah—dengan tangan-Nya yang kuat—membunuh semua anak sulung bangsa Mesir, sehingga Firaun terpaksa melepaskan bangsa Israel dari penjajahan di Tanah Mesir.

Karena peristiwa pembebasan bangsa Israel dari perbudakan di Tanah Mesir itu amat penting, Allah menghendaki supaya peristiwa itu dirayakan setiap tahun. Perayaan tahunan yang disebut sebagai Perayaan “Paskah” itu mengingatkan bangsa Israel bahwa kebebasan beribadah yang mereka miliki merupakan hasil karya Allah. Perayaan tahunan itu sekaligus juga merupakan sarana untuk mendidik anak-anak bangsa Israel—yang lahir di kemudian hari—agar mereka memahami bahwa kebebasan beribadah yang mereka miliki merupakan hasil karya Allah yang telah membebaskan mereka dari penjajahan di Tanah Mesir dengan tangan-Nya yang kuat (13:8,14).

Bagi orang Kristen pada masa kini, Perayaan Paskah bukanlah perayaan untuk mengingat keluarnya bangsa Israel dari Tanah Mesir, melainkan perayaan untuk mengingat karya pembebasan dari dosa yang dikerjakan oleh Yesus Kristus melalui kematian-Nya di kayu salib. Mengingat karya pembebasan dari dosa yang dikerjakan oleh Yesus Kristus akan mengingatkan kita bahwa sudah semestinya bila kita hidup menjauhi dosa dan kita hidup untuk melakukan kehendak Allah. Bagi orang Kristen, peristiwa pembebasan dari dosa itu kita peringati secara berulang setiap kali kita merayakan Perjamuan Kudus, dan kita peringati secara khusus setiap tahun dalam wujud Perayaan Paskah. Bagi diri Anda, apakah perayaan Perjamuan Kudus dan Perayaan Paskah telah membawa dampak dalam kehidupan Anda berupa sikap menjauhi dosa dan hidup untuk melakukan kehendak Allah? [P







May 18, 2019, 06:02:21 AM
Reply #1892
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22855
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Allah Menyatakan Kemuliaan-Nya!
Posted on Jumat, 17 Mei, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Keluaran 14

Banyak orang salah sangka terhadap Allah. Karena Allah tidak dapat dilihat dengan mata, banyak orang membayangkan tentang Allah berdasarkan gambaran tentang apa yang dapat dilihat oleh mata. Hal itu menghasilkan gambaran yang salah tentang Allah. Walaupun Firaun dan seluruh bangsa Mesir telah menyaksikan perbuatan Allah yang dahsyat saat Allah membebaskan umat-Nya dengan menimpakan 10 tulah yang mengerikan, mereka masih tidak mengira bahwa Allah akan terus melindungi umat-Nya. Mereka mengira bahwa bangsa Israel telah tersesat dan menemui jalan buntu berupa lautan yang tak mungkin diseberangi. Dengan mengandalkan kekuatan pasukan yang bersenjata lengkap, Firaun hendak membawa kembali bangsa Israel ke Mesir. Akan tetapi, pada saat bangsa Israel menghadapi kondisi yang secara manusia merupakan jalan buntu, Allah menunjukkan kemuliaan-Nya. Allah bukanlah manusia! Manusia terbatas, tetapi Allah tidak terbatas. Secara manusiawi, keadaan yang dihadapi bangsa Israel merupakan jalan buntu. Akan tetapi, bagi Tuhan tidak ada yang mustahil! Dengan perantaraan angin timur yang keras, Allah menguakkan air laut, sehingga air laut menjadi seperti tembok di sebelah kanan dan sebelah kiri, dan Allah membuat dasar air laut menjadi tanah kering, sehingga bangsa Israel bisa melewati laut dengan selamat. Firaun beserta seluruh tentaranya terus mengejar dan mencoba mengikuti jejak bangsa Israel melewati dasar laut yang telah menjadi kering. Akan tetapi, Allah membuat air laut yang tadinya tertahan menyerupai tembok berbalik ke tempatnya dan menenggelamkan Firaun dan seluruh tentaranya!

Perbuatan Allah yang dahsyat itu memperlihatkan kepada bangsa Mesir dan bangsa Israel bahwa Allah itu mulia! Allah itu berbeda dengan manusia! Allah tidak dibatasi oleh keterbatasan manusia! Sayangnya, bukan hanya bangsa Mesir yang tidak menyadari kemuliaan Allah. Umat Allah pun sering beranggapan bahwa Allah memiliki keterbatasan seperti manusia. Bila Anda mengalami sakit berat yang secara manusiawi tak mungkin disembuhkan, apakah Anda berani mengharapkan kesembuhan dari Tuhan? Saat Anda menghadapi persoalan berat yang belum Anda temukan jalan keluarnya, beranikah Anda mengharapkan Allah menolong Anda? Bagaimana pandangan Anda tentang Allah? Beranikah Anda memercayai Allah dan menyandarkan hidup Anda kepada-Nya? [P]





May 19, 2019, 02:25:56 PM
Reply #1893
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22855
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Respons yang Beragam
Posted on Sabtu, 18 Mei, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Keluaran 15

Peristiwa bangsa Israel melintasi laut menghasilkan bermacam-macam respons. Musa bersama-sama dengan orang Israel mengungkapkan rasa syukur dan pujian mereka kepada Tuhan melalui nyanyian yang menceritakan peristiwa itu serta mengungkapkan keagungan Tuhan (15:1-18). Miryam—kakak Musa—memukul rebana dan menari-nari bersama-sama dengan para perempuan Israel sambil menyanyikan peristiwa itu (15:20-21). Peristiwa dahsyat itu membuat bangsa-bangsa yang tinggal di sekitar daerah itu—bangsa Edom, Moab, dan Kanaan—menjadi gemetar ketakutan (15:14-16). Peristiwa itu menyadarkan bangsa-bangsa di sekitar daerah itu bahwa Allah bangsa Israel adalah Allah yang mulia dan amat berkuasa, lebih berkuasa daripada ilah-ilah yang mereka sembah.

Sayangnya, respons terhadap kedahsyatan Allah Israel itu tidak membuat mereka beriman kepada Allah Israel. Bangsa-bangsa di sekitar Israel tetap menyembah ilah mereka dan bangsa Israel tetap belum bisa hidup bergantung pada TUHAN. Tidak lama sesudah peristiwa dahsyat itu terjadi, bangsa Israel tiba di Mara. Ternyata bahwa air di sana rasanya pahit sehingga tidak bisa diminum. Dalam kondisi seperti itu, mereka tidak mencari pertolongan Allah, melainkan bersungut-sungut kepada Musa yang mereka anggap telah menjerumuskan mereka ke dalam keadaan yang sulit. Setelah Musa berseru kepada TUHAN, TUHAN menunjukkan sepotong kayu, lalu Ia memerintahkan Musa untuk  melemparkan kayu itu ke dalam air, dan air yang semula terasa pahit itu berubah menjadi manis.

Bila kita bersikap jujur dan terbuka, kita pun pasti pernah mengalami pertolongan TUHAN. Sekalipun demikian, saat mengalami sakit atau menghadapi persoalan berat, tidak mudah bagi kita untuk tetap memercayai TUHAN dan bergantung kepada-Nya saja. Banyak orang percaya yang bersungut-sungut kepada TUHAN saat menghadapi masalah dalam kehidupan mereka. Saat menghadapi kesulitan keuangan, banyak orang percaya yang tidak mengingat bahwa Allah telah memelihara dan mencukupi kebutuhan hidup mereka selama bertahun-tahun. Akibatnya, mereka bersungut-sungut kepada TUHAN, padahal masalah yang mereka hadapi sebenarnya kecil dan tidak berarti bila dibandingkan dengan berkat TUHAN yang telah mereka terima secara berlimpah-limpah. Bagaimana dengan Anda? [P]




May 20, 2019, 07:10:54 AM
Reply #1894
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22855
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Percaya: Taat dan Bersandar
Posted on Minggu, 19 Mei, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Keluaran 16:1-17:7

Kata “percaya” mudah diucapkan, tetapi tidak mudah dilaksanakan. Masalahnya, kita sering menganggap kata “percaya” itu sebagai sekadar pengakuan intelektual, padahal kata “percaya” itu seharusnya mencakup seluruh aspek kepribadian kita. Kita perlu percaya secara intelektual, tetapi juga perlu memiliki gairah (perasaan) dan kemauan untuk melaksanakan (menerapkan) apa yang kita percayai. Saat melihat Allah bertindak menimpakan tulah kepada orang-orang Mesir serta membelah laut dan membuat mereka bisa melintasi laut seperti melintasi tanah kering, bangsa Israel pasti mempercayai kuasa dan kepedulian Allah terhadap diri mereka. Akan tetapi, kepercayaan intelektual itu belum menimbulkan gairah dan kemauan untuk menaati Allah. Oleh karena itu, saat menghadapi masalah fisik (lapar dan haus), mereka segera melupakan kuasa dan kepedulian Allah,sehingga mereka menujukan protes kepada Musa dan Harun yang menjadi pemimpin mereka. Perhatikan beberapa hal berikut ini:

Pertama, Allah menuntut agar umat-Nya menaati dan memercayai (bersandar kepada) Allah.

Kedua, Musa dan Harun memiliki kelemahan. Akan tetapi, sikap bangsa Israel terhadap Musa dan Harun yang mewakili Allah merupakan cermin dari sikap bangsa Israel terhadap Allah. Oleh karena itu, saat bangsa Israel bersungut-sungut terhadap Musa dan Harun, Musa mengatakan, “…. Bukan kepada kami sungut-sungut-Mu itu, tetapi kepada TUHAN.” (16:8). Menurut Musa, protes bangsa Israel terhadap kondisi yang mereka alami itu merupakan tindakan “mencobai TUHAN” (17:2).

Bacaan Alkitab hari ini merupakan peringatan bagi kita untuk memikirkan kembali sikap kita saat kita protes terhadap kondisi yang sedang kita alami. Sadarkah Anda bahwa kekesalan hati yang muncul saat Anda mengalami kekurangan uang atau saat Anda menderita sakit atau saat Anda mengalami kerugian atau mengalami kegagalan mencerminkan sikap hati yang tidak bisa memercayai pemeliharaan TUHAN? Apakah Allah tidak sanggup memelihara kehidupan Anda bila tidak ada uang di tangan Anda? Apakah Allah tidak sanggup menyembuhkan Anda saat Anda sakit? Apakah Allah tidak sanggup memberikan jalan keluar saat keadaan yang Anda hadapi terasa seperti suatu jalan buntu? Bersediakah Anda memercayai Allah: Menaati Dia dan bersandar kepada tangan-Nya yang kuat itu? [P]


May 21, 2019, 05:45:59 AM
Reply #1895
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22855
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Perjumpaan dengan Allah
Posted on Senin, 20 Mei, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Keluaran 29:38-46

Pertemuan dengan Allah adalah peristiwa istimewa dalam pengalaman manusia karena kita adalah manusia berdosa sehingga mustahil dapat bertemu dengan Dia yang Mahakudus. Hanya Allah sendiri yang merelakan diri-Nya hadir, berdiam, dan bersekutu bersama dengan umat-Nya. Semua dilakukan-Nya karena kasih dan anugerah-Nya

Allah memerintahkan Musa agar setiap pagi dan petang mempersembahkan kurban dari domba. Kurban itu harus diolah dengan tepung, minyak, dan anggur curahan. Itu semua akan menjadi persembahan kurban api-apian yang harum bagi TUHAN. Allah juga menetapkan agar upacara persembahan kurban itu tetap dilakukan secara turun-temurun (38-41).

Allah menyediakan Kemah Pertemuan sebagai tempat agar umat bertemu dengan-Nya. Pada momen perjumpaan itu, Allah akan menyatakan firman-Nya kepada Musa. Kekudusan dan kemuliaan Allah akan nyata ketika Ia bersekutu dengan umat-Nya (42-43). Allah telah menguduskan Kemah Pertemuan dan mazbah-Nya. Ia menetapkan Harun dan anak-anaknya menjadi imam Ia menguduskan semua itu agar dapat menjadi sarana bagi kehadiran-Nya (44). Allah akan berdiam di tengah-tengah Israel dan menjadi TUHAN Allah mereka. Tujuannya supaya mereka mengetahui dan mengenal TUHAN, yaitu Allah yang telah membawa mereka keluar dari tanah Mesir (45).

Allah menyatakan diri-Nya dengan penuh kasih. Kurban- kurban yang diberikan kepada Allah sesungguhnya tidak memadai untuk membayar dosa manusia (Mzm. 49:8-9). Kurban domba adalah kiasan yang merujuk pada kurban sesungguhnya, yaitu Yesus Kristus, Anak Domba Allah. Ia menghapus dosa dunia secara sempurna sehingga persekutuan antara Allah dan umat-Nya bisa terjadi (Yoh.1:29; Ibr. 9:9-14).

Bergaul dan bersekutu dengan Allah adalah kebutuhan utama bagi orang beriman dan kita harus memelihara relasi dan persekutuan tersebut setiap saat.

Doa: Tuhan, kami bersyukur sebab anugerah pengampunan- Mu membuat kami dapat bersekutu dengan-Mu. [RS]







Kurban Pendamaian dan Pengudusan
Posted on Senin, 20 Mei, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Keluaran 29:1-37

Allah ingin membawa umat-Nya untuk kembali bersekutu dengan-Nya. Oleh karena itu, Ia harus menguduskan mereka terlebih dahulu, sehingga manusia layak datang ke hadirat-Nya. Allah menuntut kekudusan dari para imam dan semua peralatan ibadah dalam kebaktian.

Allah memerintahkan Musa untuk menyembelih seekor lembu jantan dan dua ekor domba jantan. Dua jenis binatang ini harus tidak bercacat. Kemudian, ia juga harus menyediakan roti tidak beragi, roti bundar tidak beragi, dan roti tipis yang tidak dari tepung terbaik (1-10). Sedikit darah kurban lembu jantan dipercikkan pada tanduk-tanduk mazbah. Sisa darah kemudian dicurahkan ke bawah mazbah sebagai kurban penghapus dosa (10- 14). Sembelihan domba jantan merupakan kurban bakaran dan kurban api-apian untuk TUHAN (15-18). Sementara, darah domba jantan yang lain dipercikkan kepada imam serta pakaiannya sebagai penahbisan (19-22). Sementara roti, roti bundar yang berminyak, dan roti tipis dari dalam bakul berisi roti yang tidak beragi beserta dada dari domba jantan penahbisan Harun adalah persembahan unjukan di hadapan TUHAN (23-28). Pakaian Harun harus diturunkan kepada anaknya jika berakhir masa tugasnya (Bil. 20:25-26). Selama tujuh hari, Musa harus melakukan itu semua untuk pengudusan mazbah, pendamaian, serta penahbisan para imam (23-37).

Sebelum menjalankan perannya, para imam dan sarana ibadah harus kudus karena Allah adalah kudus. Tanpa kekudusan, tidak seorang pun layak melakukan sesuatu bagi-Nya (Ibr. 12:14). Yesus adalah Imam Besar yang menjadi kurban pengudusan sempurna bagi umat-Nya (Ibr. 10:19-21).

Kita harus sadar bahwa kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk memperoleh pengampunan dan keselamatan. Hanya anugerah Allah di dalam Yesus yang dapat menyelamatkan kita. Oleh karena itu, hendaklah kita hidup di dalam ketaatan dan kekudusan karena Allah menghendakinya (1Ptr. 1:15- 16). Hidup kudus adalah tanda bahwa kita adalah umat-Nya.

Doa: Tuhan, tolong kami hidup dalam kekudusan-Mu. [RS]



May 21, 2019, 05:47:20 AM
Reply #1896
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22855
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Pakaian Kudus Imam
Posted on Senin, 20 Mei, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Keluaran 28:1-43

Manusia berdosa mustahil menghampiri Allah yang kudus. Untuk dapat menghampiri umat-Nya, Allah harus menggunakan perantara. Perantaranya adalah para imam yang diurapi dan sudah dikuduskan untuk menjalankan kebaktian- kebaktian di Kemah Suci.

Untuk menjalankan ibadah, Musa harus membuat pakaian kudus dan atribut-atributnya. Misalnya, tutup dada, baju efod, gamis, kemeja beragi, serban dan ikat pinggang. Pakaian itu terbuat dari pintalan kain linen halus sewarna dengan tirai Kemah Suci. Pakaian ini akan dikenakan oleh Harun dan anak-anaknya (Nadab, Abihu, Eleazar, dan Itamar). Mereka juga akan memakai baju Efod. Tutup dada dengan dua permata krisopras pun akan ikut serta menghiasinya. Pada permata itu terukir nama para anak Israel (1-29). Selain itu ada dua batu lagi yang berwarna putih (Urim) dan berwarna hitam (Tumim). Keduanya dipakai sebagai pernyataan keputusan Allah (30). Para imam harus menggunakan kain gamis ungu serta serban. Tepi serban berhiaskan emas dengan tulisan, “Kudus bagi TUHAN”. Ada juga kemeja, ikat pinggang dan destar. Semuanya merupakan perhiasan kemuliaan Allah (30-40).

Harun dan anak- anaknya harus memakai pakaian kudus itu dalam menyelenggarakan kebaktian di Kemah Suci. Musa juga harus mengurapi, menahbiskan, dan menguduskan, sehingga mereka layak memegang jabatan imam bagi Allah (41-43).

Umat Israel bisa berelasi dengan Allah hanya melalui perantaraan para imam. Pakaian para imam dan seluruh atributnya pun harus kudus. Para imam harus diurapi Allah. Tanpa pakaian kudus, para imam tidak dapat melaksanakan ibadah di ruang kudus.

Peran imam ini merujuk kepada Imam yang sempurna, yaitu Yesus Kristus. Ia yang diurapi Allah telah mati di kayu salib (Ibr. 9:9-12) untuk kita. Dalam anugerah-Nya, kita diterima menjadi anak-Nya. Itu adalah sebuah hak istimewa, sehingga kita harus senantiasa memiliki rasa takut dan hormat akan kekudusan Tuhan dalam seluruh hidup kita.

Doa: Tuhan Yesus, terima kasih telah menjadi Imam bagi kami. [RS]








Tim Pemimpin
Posted on Senin, 20 Mei, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Keluaran 17:8-18:27

Walaupun Musa adalah pemimpin tertinggi bangsa Israel, dia memerlukan orang lain untuk membantunya melaksanakan tanggung jawab memimpin bangsa Israel. Bila dia melakukan segala sesuatu sendirian, dia akan menjadi sangat kelelahan karena yang harus dia kerjakan sangat banyak. Orang Israel yang menunggu giliran untuk menghadap Musa pun menjadi kelelahan karena antrian orang yang meminta penyelesaian masalah akan menjadi sangat panjang. Kesibukan Musa yang luar biasa itulah yang membuat Yitro—mertua Musa yang baru datang berkunjung—memberi saran agar Musa membentuk tim pemimpin yang akan membantunya menyelesaikan masalah-masalah yang muncul di antara bangsa Israel. Yitro menyarankan agar Musa membentuk tim kepemimpinan yang berjenjang (pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh orang, dan pemimpin sepuluh orang, 18:21). Para pemimpin tersebut bertugas untuk mengatasi masalah yang muncul di dalam kelompok orang-orang yang berada di bawah pengawasan mereka, dan mereka harus membawa masalah yang besar atau sulit dipecahkan kepada Musa. Dengan demikian, tugas Musa menjadi tidak terlalu berat.

Pentingnya tim sudah terlihat saat terjadi peperangan antara bangsa Israel dengan bangsa Amalek (17:8-16). Yosua bertugas sebagai panglima yang memimpin bangsa Israel dalam berperang melawan bangsa Amalek. Sementara itu, Musa mengawasi dari puncak bukit sambil memegang tongkat. Bila Musa mengangkat tongkatnya, bangsa Israel semakin kuat mendesak musuhnya. Sebaliknya, bila Musa menurunkan tongkatnya, bangsa Israel akan terdesak. Oleh karena itu, Harun dan Hur membantu Musa memegang tongkat. Jelaslah bahwa dalam hal ini, mengangkat tongkat merupakan ungkapan sikap berharap (bergantung) kepada pertolongan Allah.

Kisah yang kita baca dalam bacaan Alkitab hari ini menunjukkan bahwa dalam pelayanan rohani pun perlu dibentuk tim pemimpin. Pemimpin harus bersedia mendelegasikan tugasnya kepada para anggota tim tersebut. Sebaliknya, setiap anggota tim harus menyadari batas-batas tugas dan wewenangnya. Apakah Anda telah terbiasa untuk bekerja sama dalam sebuah tim? Saat Anda menjadi anggota tim, apakah Anda menyadari batas-batas tugas dan wewenang Anda? [P]










May 22, 2019, 05:53:28 AM
Reply #1897
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22855
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Doa adalah Komunikasi
Posted on Selasa, 21 Mei, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Keluaran 8:17-33

Dalam Kekristenan, doa bukan sekadar kata-kata yang diucapkan, melainkan suatu komunikasi. Sebagai suatu komunikasi, maka doa seorang Kristen bisa berisi berbagai hal, sesuai dengan kondisi yang dihadapi pada saat ia berdoa. Doa yang paling banyak dihafalkan orang Kristen, yaitu doa Bapa kami (Matius 6:9-13), mengungkapkan suatu pola doa yang mengingatkan orang Kristen untuk memasukkan unsur-unsur penting ke dalam doa yang mereka panjatkan. Salah satu unsur penting dalam doa adalah bahwa doa kepada Allah harus didasarkan pada hubungan antara diri kita (sebagai anak-anak Allah) dengan Allah (sebagai Bapa kita secara rohani). Hubungan “anak-Bapak” dalam doa itu mengharuskan kita untuk selalu menghargai Allah dan mengutamakan kehendak Allah dalam semua doa yang kita panjatkan.

Dalam bacaan Alkitab hari ini, jelas bahwa hubungan antara Allah dengan Abraham—sebagai orang yang dipilih Allah untuk menurunkan bangsa pilihan Allah (Israel) serta menjadi saluran berkat bagi semua bangsa—membuat Allah memutuskan untuk mengungkapkan rencana-Nya menghukum penduduk kota Sodom dan Gomora yang telah sangat berdosa itu (Kejadian 18:16-21). Terhadap rencana penghukuman Allah tersebut, Abraham melakukan tawar-menawar dengan Allah. Sebenarnya, jelas bahwa yang ada dalam hati dan pikiran Abraham adalah Lot—keponakannya yang tinggal di kota Sodom. Sayang bahwa Abraham tidak berani langsung membela Lot. Sekalipun demikian, kita bisa melihat—dalam pasal 19—bahwa permintaan Abraham membuat Lot dan keluarganya diselamatkan dari hukuman Tuhan.

Apakah tawar-menawar yang dilakukan oleh Abraham terhadap TUHAN bisa disebut sebagai doa? Ya! Doa tidak harus dilakukan dengan mata tertutup dan tangan dilipat! Doa adalah komunikasi kita dengan Tuhan! Doa adalah pengungkapan isi hati kita kepada Tuhan. Doa bisa dilakukan di ruang tertutup, tetapi bisa juga dilakukan di mana saja, termasuk di tempat kerja. Doa bisa dilakukan sebagai respons saat kita mendengar atau membaca berita. Doa bila dilakukan tepat saat kita sedang berhadapan dengan ancaman bahaya atau saat kita sedang mengerjakan sesuatu. Yang penting diingat, doa bukanlah paksaan kepada Tuhan. Kita tetap harus tunduk kepada kehendak dan keputusan Tuhan. Apakah Anda telah membiasakan diri untuk mengungkapkan isi hati Anda kepada Tuhan dalam doa? [P]



May 23, 2019, 05:48:35 AM
Reply #1898
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22855
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Beban Doa Muncul dari Hubungan
Posted on Rabu, 22 Mei, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Keluaran 33:11-19

Keakraban dengan Allah bukan hanya terlihat dalam relasi Abraham dengan Allah, tetapi juga dalam relasi tokoh-tokoh iman yang lain dalam Alkitab. Salah seorang tokoh iman yang menonjol dalam Alkitab adalah Henokh. Keakrabannya dengan Allah membuat Henokh langsung diangkat (ke sorga) oleh Allah, sehingga ia tidak mengalami kematian (Kejadian 5:22-24; Ibrani 11:5).

Dalam bacaan Alkitab hari ini, keakraban antara Musa dengan Allah terungkap melalui perkataan, “Dan TUHAN berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya.” (Keluaran 33:11a). Peristiwa yang terjadi saat Allah memakai Musa untuk memimpin bangsa Israel keluar dari Tanah Mesir—yaitu menimpakan 10 tulah terhadap bangsa Mesir—merupakan rangkaian mujizat paling dahsyat yang pernah dilakukan oleh seorang nabi Allah. Bagi Musa, relasi dengan Allah amat penting, sehingga Ia tidak bersedia melaksanakan tugas memimpin bangsa Israel bila TUHAN tidak mau berjalan bersama-sama umat-Nya (33:15-17). Di satu sisi, keakraban Musa dengan Allah ini membuat Musa menjadi seorang nabi yang istimewa, khususnya dalam hal membuat tanda dan mujizat (Ulangan 34:10-12). Di sisi lain, keakraban Musa dengan Allah membuat Musa membela bangsanya saat Allah hendak melenyapkan bangsa Israel yang terus-menerus bersikap memberontak dan tidak mau memercayai Allah (Bilangan 14:11-23). Dalam Perjanjian Baru, kasih kepada umat Allah yang dilandasi oleh keakraban dengan Allah ini juga terungkap dalam perkataan Rasul Paulus, “aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani.” (Roma 9:3).

Tanpa keakraban dengan Tuhan, kita hanya akan berdoa untuk hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan diri kita sendiri. Tanpa keakraban dengan Tuhan, kita tidak akan berjuang dalam doa. Keakraban dengan Tuhan memungkinkan kita untuk mengenal isi hati Tuhan. Selanjutnya, pengenalan terhadap isi hati Tuhan membuat kita memahami apa yang perlu kita doakan. Relasi yang baik dengan Tuhan membuat pokok doa kita menjadi lebih luas karena doa kita akan berkaitan dengan rencana Tuhan dan kepentingan umat Tuhan. Hal-hal apa saja yang menjadi pokok doa Anda? Apakah pokok doa Anda telah melampaui batas-batas kepentingan pribadi Anda? Apakah isi doa Anda telah dilandasi oleh hubungan Anda dengan Allah? [P]



May 24, 2019, 06:00:21 AM
Reply #1899
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22855
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Doa adalah Panggilan Seumur Hidup
Posted on Kamis, 23 Mei, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: 1 Samuel 12

Setelah Musa wafat, yang menjadi pemimpin nasional bangsa Israel adalah Yosua. Sayangnya, Yosua tidak menyiapkan pengganti. Oleh karena itu, setelah Yosua wafat, tidak ada pemimpin nasional. Kepemimpinan Israel dipegang oleh para hakim. Para hakim yang memimpin bangsa Israel hanya bisa memimpin satu atau beberapa suku saja, sampai tampil Samuel sebagai hakim dengan kepemimpinan kuat. Nampaknya, Samuel adalah satu-satunya hakim berskala nasional. Patut disesalkan bahwa Samuel—yang merupakan seorang hakim yang baik—tidak mampu mendidik anak-anaknya. Akibatnya, setelah Samuel menjadi tua, anak-anaknya tidak bisa mengganti posisinya sebagai hakim karena mereka memang tidak pantas menjadi hakim. Ketiadaan calon hakim yang bisa diharapkan menjadi pemimpin nasional serta pengaruh suku-suku bangsa di sekitar bangsa Israel, membuat mereka menuntut kehadiran seorang raja sebagai pemimpin nasional pengganti Samuel. Tuntutan itu membuat Samuel merasa ditolak oleh bangsanya sendiri.

Pada zaman ini, hampr semua jabatan bersifat sementara (jangka waktunya terbatas). Setelah turun dari jabatannya, banyak orang merasa bahwa diri menjadi tidak berarti. Jabatan pelayanan dalam gereja pun tidak terbebas dari kondisi seperti ini. Banyak orang amat bersemangat untuk berdoa dan memberitakan Injil saat memangku jabatan dalam pelayanan. Akan tetapi, setelah turun dari jabatannya, mereka berhenti berdoa dan berhenti memberitakan Injil. Kadang-kadang, alasan yang dipakai kelihatan “rohani”, yaitu untuk memberi kesempatan kepada orang lain. Akan tetapi, sesungguhnya, pelayanan doa adalah pelayanan yang tidak mengenal kata “pensiun”. Samuel mengatakan, “Mengenai aku, jauhlah dari padaku untuk berdosa kepada TUHAN dengan berhenti mendoakan kamu.” (12:23). Pelayanan doa adalah panggilan yang tidak dibatasi oleh usia dan jabatan.

Apakah Anda pernah menduduki jabatan pelayanan dalam gereja? Yakinkan Anda bahwa pelayanan doa adalah pelayanan yang amat penting yang seharusnya bisa dilakukan oleh setiap orang? Bila sekarang Anda sudah tidak (bisa) memiliki jabatan dalam pelayanan gereja, Anda tetap bisa melayani dalam pelayanan doa. Bila—sebagai seorang Kristen—Anda meyakini bahwa sumber kekuatan dalam pelayanan adalah kuasa yang berasal dari Allah, Anda tidak akan pernah berhenti melayani melalui doa. Apakah Anda masih tekun berdoa? [P]


 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)