Author Topic: Saat Teduh  (Read 64329 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

May 25, 2019, 06:42:53 AM
Reply #1900
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23466
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Doa adalah Sumber Kekuatan
Posted on Sabtu, 25 Mei, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Matius 26:31-46

Untuk apa Tuhan Yesus datang ke dunia ini? Apakah Dia menyadari maksud kedatangan-Nya? Ya, Tuhan Yesus adalah Allah Sejati yang datang ke dunia ini dan menjadi Manusia Sejati untuk menebus dosa manusia. Tugas ini berat karena menebus dosa manusia berarti menanggung murka Allah terhadap manusia berdosa. Yang paling mengerikan bagi Tuhan Yesus bukanlah penderitaan fisik di kayu salib, melainkan penderitaan rohani karena ditinggalkan oleh Allah (Matius 27:46). Ketika Tuhan Yesus datang ke dunia ini, kesatuan-Nya dengan Allah Bapa di sorga tidak pernah hilang (Yohanes 10:30). Akan tetapi, saat Tuhan Yesus berada di kayu salib, Ia menempati posisi manusia berdosa yang sedang menerima hukuman Allah. Kengerian Tuhan Yesus menghadapi peristiwa tersebut terlihat jelas dalam bacaan Alkitab hari ini (Perhatikan Matius 26:38-39). Dalam Lukas 22:41-44, dijelaskan bahwa rasa ketakutan menghadapi murka Allah membuat peluh Tuhan Yesus menjadi tetesan darah (kondisi yang disebabkan karena stres berat).

Perhatikan bahwa untuk menghadapi tugas yang berat itu, persiapan Tuhan Yesus adalah bergumul dalam doa di Taman Getsemani. Kepada murid-murid-Nya, Tuhan Yesus berpesan, “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.” Sayangnya, para muridnya tidak bisa menguasai rasa mengantuk sehingga mereka semua tertidur (Matius 26:40, 43). Bagi Tuhan Yesus, doa adalah sumber kekuatan terpenting dalam menghadapi semua tantangan dalam kehidupan ini.

Apakah tujuan hidup Anda? Apakah hal terpenting yang ingin Anda lakukan dalam kehidupan Anda? Apakah tantangan terbesar yang Anda hadapi dalam kehidupan Anda? Apakah Anda harus bertanggung jawab untuk melakukan sesuatu yang Anda anggap sebagai di luar kemampuan Anda? Apa pun tujuan hidup Anda, apa pun tantangan yang Anda hadapi, dan apa pun tanggung jawab yang harus Anda pikul, hal terpenting yang harus Anda lakukan sebagai persiapan adalah bergumul dalam doa. Bila Anda telah bergumul dalam doa dan Anda percaya bahwa Allah berkenan dan menyertai Anda, Anda akan sanggup menghadapi tantangan apa pun dalam kehidupan Anda. Bersama dengan Rasul Paulus, marilah kita memegang keyakinan bahwa “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Filipi 4:13). [P]



May 26, 2019, 02:35:57 PM
Reply #1901
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23466
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Percaya kepada Tuhan, bukan Diri Sendiri
Posted on Jumat, 24 Mei, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Keluaran 31:1-11

Paul Harvey, seorang selebritas penyiar radio di AS, suatu kali berkata, “Saya belum pernah melihat sebuah monumen dibangun bagi orang pesimis.” Pesimis adalah sikap memandang rendah diri sendiri dan merasa tidak berdaya. Orang pesimis akan cenderung menarik diri dan memilih untuk menjadi makhluk tak terlihat, sehingga orang akan segera melupakannya. Tanpa disadari, dalam sikap pesimis itu, kita sedang meminggirkan Allah dari arena kehidupan. Rasa minder itu sebenarnya tumbuh dari benih kesombongan yang tak mau bergantung kepada Allah.

Dalam nas ini, Allah menunjuk Bezaleel bin Uri bin Hur untuk mengerjakan proyek pembangunan Kemah Pertemuan (2). Tugas ini tentu penting dan juga berat. Oleh karena itu, Allah memenuhi Bezaleel dengan Roh agar memiliki keahlian dan keterampilan (3). Bukan hanya itu, Allah pun menyediakan partner sebagai penolong, yaitu Aholiab bin Ahisamakh (6).

Allah tidak pernah sembarangan saat mengutus kita. Ia akan menugasi kita sesuai dengan kemampuan. Seandainya kita tidak punya kemampuan atau keterampilan, Ia sendiri yang akan memperlengkapi dan memampukan kita. Allah tidak akan pernah membiarkan kita sendirian. Inilah alasan mengapa kita jangan lagi minder sebab ada Allah yang menopang. Kita jangan mudah pesimis, tetapi harus optimis sebab Allah bersama kita. Kemantapan hati muncul bukan karena kita percaya pada kemampuan diri sendiri. Sebenarnya, fajar pengharapan terbit justru karena kita percaya kepada-Nya.

Allah adalah sumber pengetahuan dan kekuatan kita dalam menapaki jalan misteri kehidupan. Misteri memang selalu menawarkan rahasia. Biasanya, kita selalu akan takut pada sesuatu yang tidak diketahui. Jadi, rasa minder dan pesimis adalah wajar sekaligus manusiawi. Namun, nas hari ini mengingatkan agar kita jangan lagi pesimis karena kita percaya kepada Allah, bukan kepada diri sendiri.

Doa: Tuhan, mampukan kami lebih percaya kepada-Mu dibanding percaya kepada diri sendiri. [IG]







Komitmen pada Kekudusan
Posted on Jumat, 24 Mei, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Keluaran 30:17-38

Komitmen adalah sebuah bentuk keterikatan untuk melakukan sesuatu. Keterikatan mengasumsikan ada dua pihak yang saling bersepakat dan bersifat membatasi. Seseorang, karena komitmennya, harus rela mengurangi kebebasannya. Ia harus menahan diri terhadap apa saja yang bertentangan dengan komitmen itu. Inilah alasan mengapa berkomitmen, walau mudah dikatakan, tetapi sulit dilakukan.

Sebagai orang Kristen, kita sudah mengikatkan diri dengan Allah. Itu sebabnya dalam persekutuan bersama-Nya, kita pun terikat pada sebuah komitmen. Salah satunya yaitu berkomitmen menguduskan diri di hadapan Allah. Allah berfirman kepada Musa untuk membuat bejana (tempat air) pembasuhan yang harus diletakkan di antara Kemah Pertemuan dan mazbah (18). Apabila ingin masuk ke dalam Kemah Pertemuan, para imam mesti membasuh kaki dan tangannya terlebih dahulu di situ (19-20).

Secara simbolis, tindakan membasuh tangan serta kaki merupakan pembersihan diri dari dosa. Segala “kotoran” dari luar, tidak boleh hadir di dalam Kemah Pertemuan. Artinya, kekudusan adalah keharusan bagi para imam jika ingin bertemu Tuhan.

Tugas kita sebagai orang Kristen bukan sekadar percaya, lalu masuk surga. Allah juga menuntut agar kita hidup kudus. Untuk urusan ini, maka kita harus berkomitmen untuk masuk dalam pendidikan dan pengajaran-Nya.

Lalu, bagaimana caranya? Dalam bahasa Yunani, kudus memang berarti terpisah. Namun, itu tidak berarti kita terpisah dan mengasingkan diri dari dunia. Terpisah berarti ada perbedaan kualitas hidup antara umat tebusan dan yang bukan. Mengikuti nasihat Paulus, kekudusan dipentaskan lewat cara hidup yang berbeda dari dunia (Rm. 12:2).

Satu-satunya cara agar komitmen ini tetap membara adalah kita harus mengikatkan diri dengan Allah. Kita harus menjalin keintiman dengan-Nya. Tanpa ini, sekuat apa pun kita menjaga komitmen, akhirnya kita akan jatuh juga.

Doa: Tuhan, karuniakanlah kekudusan hidup menjadi komitmen kami.[IG]



May 26, 2019, 02:37:00 PM
Reply #1902
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23466
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Kita adalah Milik-Nya
Posted on Jumat, 24 Mei, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Keluaran 30:11-16

Terkadang, momen memberi persembahan di gereja kita gunakan menjadi ajang pamer kekayaan. Dengan rasa bangga yang berlebihan, orang kaya, sengaja memperlihatkan dirinya sebagai orang yang mampu memberi banyak persembahan. Berbanding terbalik dengan mereka yang miskin. Mereka malah minder, bahkan terkesan malu-malu kala menghantar persembahannya.

Nas ini, sedikit banyak, membicarakan perihal memberi persembahan. Allah memerintahkan Musa agar mengadakan sensus. Rakyat yang terdaftar harus mempersembahkan uang pendamaian karena nyawanya (12). Ada penafsir yang berpendapat bahwa uang pendamaian itu adalah bea Bait Allah di zaman Yesus (Mat. 17:24). Namun pastinya, uang itu menjadi persembahan khusus bagi Allah (13).

Allah mengatur kadar banyaknya persembahan, sehingga persembahan yang diberikan tidak berlebihan. Orang kaya tidak memberi terlalu banyak dan orang miskin tidak memberi terlalu sedikit (15). Dalam hal ini, Allah menginginkan keseimbangan dan ketulusan.

Dari nas ini kita bisa belajar, ternyata alat ukur persembahan bukan pada jumlahnya. Allah tidak butuh uang karena Ia adalah Pemilik segalanya sekaligus Pencipta alam semesta. Jadi, jangan pernah berpikir kalau Ia akan gembira ketika kita memberi banyak. Lalu, dengan cara apa Allah disenangkan lewat persembahan. Apakah dengan memberi lebih sedikit? Tentu saja tidak! Sekali lagi, nilai persembahan tidak diukur dari kuantitasnya.

Allah memang menyuruh orang Israel membayar uang pendamaian yang merupakan lambang bahwa mereka adalah milik Allah karena Ia telah menyelamatkan mereka dari perbudakan Mesir. Artinya, hidup mereka sepenuhnya sudah kepunyaan Allah. Jadi, motif utama memberi persembahan adalah kesadaran bahwa kita ini milik-Nya; totalitas hidup kita terarah hanya kepada-Nya. Kesadaran inilah yang menjadikan persembahan kita berkenan bagi-Nya.

Doa: Tuhan, ajar kami memberi dengan benar. [IG]







Doa Seumur Hidup
Posted on Jumat, 24 Mei, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Keluaran 30:1-10

Doa salah satu hal yang mungkin kerap kita lupakan. Masih ingatkah kita mengucap syukur atas hari yang baru pada saat ini? Kapan terakhir kali kita menaikkan syukur untuk nafas kehidupan yang diberikan Allah?

Doa, baik dengan atau tanpa kata-kata, merupakan tindakan untuk menghubungkan kita kepada Allah. Ini bukan tindakan untuk memaksa Allah agar selaras dengan keinginan kita, tetapi doa merupakan permohonan agar segala yang terjadi adalah sesuai kehendak-Nya.

Pada zaman Kitab Keluaran, orang membuat mazbah sebagai tempat pembakaran ukupan (1) yang ditaruh di depan tabir penutup hukum dan di depan tutup pendamaian di atas loh hukum. Di tempat itulah Allah menemui Harun, Imam Besar (6). Bisa saja kita menganalogikan momen ini sebagai doa karena peristiwa itu menciptakan perjumpaan antara manusia dan Allah.

Harun harus membakar ukupan setiap pagi-khususnya ketika sedang membersihkan lampu-lampu-dan saat senja tiba (7). Itu harus dilakukan di hadapan Allah turun-temurun. Tindakan membakar kurban dan ukupan dari pagi hingga senja tiba bisa kita ibaratkan sebagai doa. Dari sini, kita bisa menarik kesimpulan bahwa berdoa adalah tindakan terus- menerus tanpa mengenal waktu.

Ukupan yang tetap (8) juga bisa kita misalkan sebagai doa. Itu harus diwariskan turun-temurun. Komunikasi atau menjalin relasi bersama Allah harus diajarkan dari generasi ke generasi. Kita harus mengusahakan ini sehingga menjadi ukupan yang wangi di hadapan Allah.

Doa adalah elemen penting dalam formasi spiritualitas Kristen. Martin Luther, Bapak Reformasi Protestan, menempatkan doa sebagai nafas hidup semua orang percaya. Ia pernah mengatakan, “Menjadi seorang Kristen tanpa berdoa, sama mustahilnya hidup tanpa bernafas.” Doa seumpama oksigen yang membakar energi bagi tubuh rohani kita.

Doa: Tuhan, izinkan kami mengalami perjumpaan dengan-Mu dalam doa dan sudi mengajarkannya turun-temurun. [IG]






May 26, 2019, 02:37:44 PM
Reply #1903
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23466
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Doa Mengungkapkan Kebergantungan
Posted on Jumat, 24 Mei, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Daniel 6:1-11

Daniel adalah orang Yehuda (Kerajaan Israel Selatan) yang ikut dibawa sebagai tawanan ke Babel. Karena dia adalah orang muda yang pandai, dia direkrut untuk menjadi pejabat tinggi di Kerajaan Babel (pasal 1). Setelah Kerajaan Babel ditaklukkan oleh Kerajaan Persia, Daniel kembali diangkat menjadi pejabat tinggi, bahkan menjadi salah satu (yang paling disegani) dari tiga pejabat tinggi yang membawahi 120 wakil raja (6:2-4). Karena prestasi Daniel amat menonjol, para pejabat tinggi dan para wakil raja menjadi iri dan ingin menjatuhkan Daniel. Karena Daniel tidak pernah berbuat salah, akhirnya mereka menghasut Raja Darius untuk mengeluarkan surat perintah—yang berlaku selama 30 hari—yang isinya adalah larangan memohon (beribadah) kepada siapa pun selain kepada Raja Darius, dengan ancaman dilempar ke gua singa bagi pelanggar aturan. Sekalipun demikian, respons Daniel amat mengesankan, “Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya.” (6:11).

Mengapa Daniel tetap meneruskan kebiasaan berdoa walaupun menghadapi ancaman hukuman mati? Bagi Daniel, doa adalah bagian hidupnya. Melalui doa, dia menggantungkan seluruh hidupnya kepada Allah. Dia tidak takut terhadap ancaman apa pun karena hidupnya bergantung kepada Allah yang lebih berkuasa dari segala sesuatu. Doa justru merupakan sumber kekuatan dalam menghadapi ancaman apa pun. Walaupun sepanjang malam berada di gua singa, Allah telah mengutus malaikat-Nya untuk mengatupkan mulut singa-singa itu, sehingga Daniel sama sekali tidak terluka (6:23-24).

Marilah kita mengevaluasi diri kita sendiri: Saat menghadapi ancaman bahaya—musuh, penyakit, bencana alam, kekurangan uang, ancaman PHK, dan sebagainya—apakah kita berani untuk tetap hidup bergantung kepada Allah? Hal apa yang paling menakutkan bagi diri Anda? Saat Anda menghadapi sesuatu yang menakutkan, apakah Anda berani untuk tetap bergantung kepada Allah? Mana yang paling Anda andalkan: simpanan uang, posisi tinggi dalam pekerjaan, prestasi (kerja, studi), popularitas, dan hal-hal lain, atau Anda mengandalkan Allah? Apakah kehidupan doa Anda telah menunjukkan bahwa Anda memang hidup bergantung kepada Allah? [P]





May 27, 2019, 06:19:15 AM
Reply #1904
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23466
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Doa Didasarkan pada Firman Tuhan
Posted on Minggu, 26 Mei, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Yohanes 15:1-8

Apakah Allah selalu mengabulkan doa yang kita panjatkan kepada-Nya? Tidak! Allah bebas menentukan apa yang hendak Dia putuskan atau apa yang hendak Dia kerjakan. Manusia tidak bisa mengatur Allah! Kesalahpahaman terhadap janji Allah tentang pengabulan doa umumnya berkaitan dengan dua hal, yaitu bahwa janji Allah terikat dengan konteks dan bahwa janji Allah seringkali mengandung persyaratan yang harus dipenuhi lebih dulu. Sebelum kita menuntut terpenuhinya janji Allah, kita harus memperhatikan masalah konteks dan persyaratan itu. Dari sisi konteks, seringkali janji Allah berkaitan dengan misi yang harus dijalankan oleh si penerima janji. Sebagai contoh, janji penyertaan Tuhan Yesus (Matius 28:20b) diberikan dalam konteks misi menjadikan semua bangsa sebagai murid Kristus (Matius 28:19). Kita tidak bisa menuntut terpenuhinya janji penyertaan Kristus bila kita mengabaikan misi yang Dia tugaskan kepada murid-murid-Nya.

Janji pengabulan doa dalam Yohanes 15:7b—mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya—mengandung persyaratan bagi terpenuhinya janji tersebut, yaitu “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu” (Yohanes 15:7a). Menjalin relasi dengan Kristus (Jikalau kamu tinggal di dalam Aku) dan menyimpan Firman Tuhan di dalam hati (firman-Ku tinggal di dalam kamu) merupakan dua persyaratan penting yang menjamin pengabulan doa. Adanya Firman Tuhan di dalam hati kita akan membuat kita bisa menyesuaikan keinginan kita dengan kehendak Allah dan memungkinkan kita berdoa dengan iman, “Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya.” (1 Yohanes 5:14).

Tidak berdoa dan salah berdoa merupakan dua penyebab yang membuat kita gagal (Yakobus 4:2-3). Kita harus senantiasa menyadari bahwa sumber kesuksesan adalah kekuatan yang berasal dari Tuhan. Dengan berdoa kita menyatakan kebergantungan kita kepada Tuhan. Dengan mendasari doa kita pada Firman Tuhan, kita menaklukkan keinginan kita di bawah kehendak Tuhan. Apakah Anda telah membiasakan diri untuk bergumul mencari kehendak Tuhan melalui firman-Nya? Apakah Anda menganggap kehendak Tuhan sebagai lebih penting daripada keinginan Anda sendiri? Apakah doa Anda selalu didasarkan pada kehendak Allah bagi kehidupan Anda? [P]




May 28, 2019, 06:58:50 AM
Reply #1905
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23466
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Berdoa Bersama-sama
Posted on Senin, 27 Mei, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Matius 18:19-20; Kisah Para Rasul 2:42; 12:1-17

Berdoa bersama merupakan suatu pengalaman rohani yang penting bagi setiap orang Kristen. Hidup kita tidak selalu berjalan mulus. Yang lebih umum, hidup manusia justru penuh hambatan dan tantangan. Saat berhadapan dengan hambatan dan tantangan merupakan saat kita diingatkan bahwa kita tidak berdaya dan bahwa kita memerlukan dukungan Tuhan dan dukungan orang lain. Renungkanlah perkataan Tuhan Yesus kepada para murid-nya menjelang Dia ditangkap dan disalibkan, “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku.” (Matius 26:38). Saat menghadapi tantangan kematian di kayu salib, Tuhan Yesus pun membutuhkan dukungan! Oleh karena itu, saat para murid tertidur (tidak sanggup berjaga-jaga), kekecewaan Tuhan Yesus terungkap melalui perkataan, “Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?” (Matius 26:40). Teladan Tuhan Yesus bergumul dalam doa di Taman Getsemani itu ditiru oleh gereja mula-mula. Tekanan terhadap gereja membuat mereka sering berkumpul untuk berdoa (Kisah Para Rasul 2:42). Saat Rasul Petrus ditangkap dan dipenjarakan oleh Herodes, yang dilakukan oleh gereja mula-mula adalah mendoakan (secara bersama-sama) dengan tekun. Hasilnya: Tuhan mengutus malaikat-Nya untuk membebaskan Petrus (Kisah Para Rasul 12:1-17).

Banyak orang Kristen beranggapan bahwa doa pribadi lebih penting daripada doa bersama. Perbandingan semacam itu tidak tepat! Baik doa pribadi maupun doa bersama sama-sama penting! Perhatikanlah bahwa Tuhan Yesus menjanjikan berkat khusus bagi umat-Nya yang berkumpul bersama untuk berdoa, “Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” (Matius 18:19-20). Masalahnya, persekutuan doa sering merosot menjadi sekadar pertemuan besar tanpa kesehatian (kesepakatan) untuk berdoa bersama. Saat Anda berdoa bersama, apakah Anda sungguh-sungguh peduli terhadap pergumulan yang sedang dihadapi oleh orang-orang yang berdoabersama-sama dengan Anda? Renungkanlah apakah persekutuan doa di gereja Anda merupakan persekutuan yang dilandasi dan diwarnai oleh pergumulan bersama (Roma 15:30; Kolose 4:12)? [P]



May 29, 2019, 06:25:40 AM
Reply #1906
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23466
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Kesempatan Kedua
Posted on Selasa, 28 Mei, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Keluaran 34:1-35

Jika mendapatkan kesempatan kedua, kita pasti tidak akan menyia-nyiakannya. Pasalnya, itu sangat berharga karena kita diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan sebelumnya. Apalagi, jika yang memberikan kesempatan kedua itu adalah Allah, sukacita kita tentu akan melimpah.

Musa sangat mengerti hal ini. Musa kembali dipanggil Allah. Ia disuruh untuk membuat kembali pahatan dua loh batu yang sudah pecah (1). Alkitab menceritakan bahwa dua loh batu yang pertama telah pecah karena kemarahan Musa (Kel. 32:19). Lewat kesempatan kedua ini, Allah menunjukkan kasih dan sayang-Nya kepada Musa (6-7).

Musa menyadari betapa Allah itu murah hati dan penuh belas kasihan. Melalui seruannya, Allah menunjukkan bahwa Ia tidak akan menghukum siapa pun selama umat tidak menolak-Nya. Musa benar- benar mendapatkan kasih karunia di hadapan Allah. Ia memohon kiranya Allah senantiasa memimpin Israel karena mereka adalah milik-Nya (8-9). Kesempatan kedua yang diberikan kepada umat Israel melalui Musa tentulah tidak akan disia-siakan. Musa berjanji akan menjalani dengan penuh tanggung jawab dalam rasa hormat dan takut kepada Allah. Kesempatan kedua kepada umat Israel ini membuktikan bahwa Ia adalah Pemurah dan Pengasih.

Kita harus menyadari siapa kita di hadapan Allah. Kita adalah manusia berdosa yang pantas mendapat hukuman dari Allah. Sebagai pendosa, kehidupan kita selalu berujung pada kesia-siaan. Kita selalu berbuat dosa dan kesalahan di hadapan Allah. Ingatlah dan syukurilah senantiasa bahwa Ia, Allah kita, telah memberikan kesempatan kedua. Oleh sebab itu, jalanilah kehidupan dengan berserah kepada-Nya. Anugerah dan kemurahan Allah itu wajib kita syukuri dengan cara menjalani hidup yang bergantung kepada-Nya. Meniru Musa, kita juga dapat mengatakan kepada Allah, “Allah, aku ini adalah milik-Mu”.

Doa: Tuhan, kami bersyukur atas setiap kesempatan yang Engkau berikan. Lewat anugerah itu, ajar kami untuk terus memperbaiki diri agar diperkenan-Mu. [YNB]







Penyertaan Allah
Posted on Selasa, 28 Mei, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Keluaran 33:1-23

Murka Allah itu berbahaya. Setiap orang akan binasa jika amarah itu meluap. Allah mengatakan perihal ini kepada Musa (5). Tampaknya, rasa geram-Nya belum reda sejak peristiwa anak lembu tuangan. Allah mengatakan kepada Musa bahwa Ia tidak mau lagi berjalan di tengah umat-Nya (3). Ia akan mengutus malaikat sebagai pengganti (2). Bangsa Israel mendengar ancaman ini dengan rasa berkabung mendalam (4). Mereka tampak sangat ketakutan.

Musa datang dan ingin berbicara dengan Allah. Alkitab melukiskan relasi antara mereka sangat menarik. Musa berbicara kepada Allah seperti seorang berbicara kepada temannya (11). Musa mengajukan keberatan terhadap rencana Allah itu. Dengan berani dan rendah hati, Musa mengutarakan isi hatinya (15). “Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini, ” kata Musa.

Respons Musa sangat menarik. Ia tidak bisa berjalan tanpa Allah. Ia merasa tidak mampu kalau Allah tak ikut serta. Itu sebuah indikasi bahwa Musa sangat bergantung kepada- Nya. Tanpa Allah, Musa adalah manusia biasa yang lemah. Lebih baik Musa diam daripada harus melangkah tanpa Dia.

Dari pengalaman Musa, kita bisa belajar satu hal paling penting dalam kerangka formasi spiritual. Prinsip itu adalah betapa pentingnya penyertaan Allah dalam setiap aktivitas kita. Sebelum memulai pekerjaan apa pun, kita harus memastikan bahwa Allah beserta kita.

Jika ada sedikit keraguan bahwa Allah meninggalkan, kita layak meniru Musa, yaitu berdiam diri dan memohon agar Allah menyertai kita.

Kalau Allah enggan hadir dalam pekerjaan, itu mengindikasikan dua hal. Pertama, kita membuat Allah murka. Kedua, Allah tidak merestui pekerjaan itu. Untuk mendeteksi ini, kita pun harus meniru Musa juga, yaitu bergaul karib dengan-Nya. Kita harus akrab berbicara dengan Allah seperti berbicara kepada sahabat. Relasi yang akrab akan menajamkan kepekaan kita dalam mendengar suara-Nya.

Doa: Tuhan, aku ingin semakin akrab bergaul dengan- Mu sepanjang hidupku.. [RP]




May 29, 2019, 06:26:34 AM
Reply #1907
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23466
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Model Kepemimpinan
Posted on Selasa, 28 Mei, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Keluaran 32:1-35

Jabatan sebagai pemimpin bukanlah hal mudah. Posisi itu menuntut teladan sekaligus tanggung jawab. Krisis akan menguji kualitas dua aspek kepemimpinan ini. Tekanan dan situasi genting akan menyingkapkan wajah aslinya.

Musa dan Harun adalah tokoh penting dalam Alkitab. Bisa dikatakan, mereka adalah panutan dalam sejarah perjalanan Israel keluar dari Mesir. Namun dalam hal kepemimpinan, mereka berdua memiliki karakter yang berbeda. Kitab Keluaran merekam sebuah peristiwa yang menunjukkan kesenjangan kualitas itu.

Kisah ini cukup terkenal. Saat itu bangsa Israel sedang putus kesabaran kepada Musa (1). Mereka tampak kesal karena terlalu lama menunggunya turun dari gunung Sinai. Mereka pun menjadi hilang kepercayaan kepada Musa sebagai pemimpin.

Harun melihat reaksi itu. Ia pun menangkap aspirasi dari massa. Ia pun memutuskan untuk membuat anak lembu emas tuangan (4). Dengan sembrono, ia segera mengumumkan bahwa patung tersebut adalah Allah dan TUHAN (5). Perhatikan bahwa Alkitab tidak menulis dua kata ini dalam huruf kecil. Artinya, Harun sedang memanipulasi bangsa Israel. Ia memperkenalkan allah kepada mereka.

Tentu saja, Allah murka (7- 9). Ia berencana membinasakan umat itu dan membuat keturunan Musa menjadi bangsa besar (10). Herannya, Musa tidak tertarik dengan tawaran itu. Ia malah ingin melunakkan hati Allah agar membatalkan niat itu (11-13). Hingga akhirnya, Allah pun urung menjatuhkan malapetaka yang dirancangkan-Nya atas umat-Nya (14).

Lewat kisah ini, tampak dua potret kepemimpinan. Harun adalah pemimpin yang mudah memelintir prinsip karena tekanan umat. Bahkan, ia mempunyai kemampuan manipulatif yang berbahaya. Sementara, Musa adalah sosok yang mementingkan keselamatan umat daripada keuntungan diri sendiri. Ia seorang yang rendah hati dan tidak suka memegahkan diri. Model mana yang ingin dirajut dalam diri Anda?

Doa: Tuhan, tolong kami memimpin dengan baik. [IG]







Rekreasi
Posted on Selasa, 28 Mei, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Keluaran 31:12-18

Kita biasa mengartikan rekreasi sebagai waktu bersantai, berkumpul bersama keluarga dan orang-orang tercinta. Ada juga yang pergi ke pantai, gunung, atau pusat perbelanjaan.

Namun, sadarkah kita kalau istilah rekreasi berasal dari kata recreation? Kosakata ini muncul dari dua kata, yaitu re (kembali) dan creation (penciptaan). Secara kasar, rekreasi bisa berarti penciptaan kembali. Jadi, rekreasi tidak hanya dimaknai istirahat atau hiburan semata. Lebih jauh, dalam rekreasi ada permenungan tentang tatanan ciptaan. Ketika berekreasi, kita diajak mengagungkan alam semesta yang dijadikan-Nya dengan baik (Kej. 1:31).

Tuhan memerintahkan bangsa Israel untuk menguduskan hari Sabat (12- 13). Ia melarang setiap orang bekerja pada hari itu (14). Siapa yang melanggar akan dihukum mati. Bangsa Israel pun harus mewariskan perintah ini turun- temurun (13, 16).

Perhentian ini meneladani Allah. Ia bekerja selama enam hari dan beristirahat pada hari ketujuh. Perintah-Nya pun sama kepada umat-Nya. Orang Israel bisa bekerja selama enam hari, tetapi pada hari ketujuh mereka wajib berhenti. Mereka harus mengkhususkan hari itu untuk Allah (15). Perintah ini mesti dilakukan sampai selama- lamanya (17).

Perintah beristirahat pada hari ketujuh adalah sakral (kudus). Dalam konteks kita sekarang, di manakah letak kekudusannya? Apakah hanya datang beribadah ke gereja? Kemudian setelah pulang dari gereja, kita bersantai di depan televisi? Lalu, bagaimana kita menghayati kekudusan itu di depan televisi?

Hari istirahat yang kudus ini seharusnya kita gunakan untuk mengingat kembali betapa baik Allah menciptakan dunia. Pada hari itu, ucapan syukur harus diungkapkan kepada-Nya. Pada hari yang sama, kita pun harus mengingat bahwa dosa sudah merusak tatanan dunia. Kita pun diingatkan untuk membawa kabar keselamatan pada alam dan segala makhluk (Mrk. 16:15). Kita bertugas untuk menata ulang (recreation) tatanan ciptaan yang rusak.

Doa: Tuhan, ajar kami mampu menjadi penjaga tatanan ciptaan-Mu. [RP]






May 29, 2019, 06:27:12 AM
Reply #1908
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23466
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Berdoa Tanpa Henti
Posted on Selasa, 28 Mei, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: 1 Tesalonika 5:16-18; Nehemia 1

Bila doa mengungkapkan ketergantungan kita kepada Allah, berapa lama kita harus berdoa dalam sehari? Apakah kita harus berdoa 10 menit, 1/2 jam, 1 jam, 2 jam, atau 5 jam sehari? Apakah kita bergantung kepada Allah selama 5 jam sehari dan selebihnya kita tidak perlu bergantung kepada Allah? Tidak! Hidup kita harus bergantung kepada Allah tanpa batasan waktu! Oleh karena itu, nasihat Rasul Paulus adalah, “Tetaplah berdoa” (1 Tesalonika 5:17) tanpa batasan waktu. Tidak cukup bagi kita bila kita hanya menjadi orang yang saleh selama berada dalam gedung gereja, kemudian kita hidup menuruti keinginan diri sendiri setelah meninggalkan gedung gereja. Doa harus mencerminkan kehidupan yang bergantung sepenuhnya kepada Allah. Patut disayangkan bahwa banyak orang kelihatan saleh saat berdoa di dalam gereja, tetapi kehidupannya sama sekali tidak berkaitan dengan doa yang diucapkannya di dalam gereja..

Dalam Nehemia pasal 1, Nehemia mendengar kabar buruk tentang Yerusalem dan penduduknya. Kabar buruk itu membuat Nehemia menangis dan berkabung selama beberapa hari. Dia berpuasa dan berdoa siang dan malam bagi orang Israel (Nehemia 1:6). Ungkapan “siang dan malam” ini bukan berarti bahwa Nehemia tidak melakukan apa pun yang lain selain berdoa, melainkan berarti bahwa pergumulan Nehemia untuk mendoakan umat Tuhan itu bukan hanya berlangsung saat Nehemia “mengucapkan” doanya, melainkan berlangsung terus-menerus, bahkan tetap berlangsung saat dia tidur. Doa Nehemia ini amat kontras bila dibandingkan dengan orang yang berdoa, lalu segera melupakan doanya setelah doa itu selesai diucapkan.

Dalam gereja, kita memerlukan pejuang doa—seperti Epafras—yang bergumul dalam doa untuk kepentingan jemaat (Kolose 4:12). Ada banyak orang yang mau memberi waktu dan tenaga untuk berjuang bagi pelayanan yang dapat dilihat seperti pelayanan misi, sekolah minggu, atau pelayanan paduan suara. Akan tetapi, tidak banyak orang yang bersedia berjuang untuk melakukan pelayanan doa yang dilakukan tanpa henti. Nehemia berjuang dalam doa sampai akhirnya dia bisa menyaksikan hasil perjuangannya, yaitu dia diperkenankan untuk memimpin umat Tuhan yang sedang berada dalam pembuangan untuk kembali ke Yerusalem guna membangun kota Yerusalem. Apakah Anda bersedia memberi waktu, pikiran, dan tenaga untuk berjuang dalam doa? [P]




May 30, 2019, 05:16:35 AM
Reply #1909
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23466
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Karuniamu Bagiku Kuberikan Kepadamu
Posted on Rabu, 29 Mei, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Keluaran 35:30-36:7

Ada pepatah mengatakan, “Tak ada gading yang tak retak.” Tak ada manusia sempurna karena kesempurnaan hanyalah milik Tuhan. Semua kemampuan, kepandaian, dan keahlian khusus kita adalah anugerah-Nya semata. Namun, apabila kita tidak mengasah dan mengembangkannya, semua itu akan sia-sia. Itu hanya menjadi bakat terpendam karena jarang digunakan. Allah memberi dan kita menerima Maka, sebagai wujud tanggung jawab, kita wajib mengembangkan pemberian khusus dari Allah.

Dalam nas hari ini, Musa memperkenalkan Bezaleel dan Aholiab kepada umat Israel. Mereka adalah ahli-ahli bangunan pilihan Allah yang diurapi-Nya secara khusus (31- 35). Kedua orang itu dipenuhi Roh Allah dengan keahlian, pengertian, dan pengetahuan. Semua itu digunakan untuk pekerjaan mendirikan Kemah Suci dan membuat segala perabotan di dalamnya.

Bukan hanya itu saja, kemampuan tersebut juga harus disalurkan dengan mengajarkannya kepada orang lain, sehingga ada banyak orang bisa terlibat dalam pembangunan Kemah Suci. Artinya, keterampilan itu bukan hanya untuk mereka sendiri. Mereka juga mesti membagikan keahlian, kemampuan, dan kepandaiannya kepada orang lain.

Coba lihat pelayanan di sekitar kita. Tentu ada banyak pelayanan yang memerlukan dukungan anak-anak Allah. Allah telah memberikan anugerah kemampuan dan keahlian. Oleh karena itu, kita harus serius menggumuli apa dan di mana ladang pelayanan kita. Kemudian, kita mesti berkomitmen pada hasil pergumulan itu.

Sekarang, mari kita melihat diri sendiri? Apa kemampuan dan keahlian kita? Adakah talenta khusus yang Allah berikan kepada kita? Jika sudah menemukannya, jangan ragu untuk menggunakan dan mempersembahkannya demi pelayanan bagi Allah. Dengan segala kekurangan yang ada, Allah akan menyempurnakan pelayanan kita.

Doa: Tuhan, terima kasih untuk karunia-Mu, yaitu kemampuan dan keahlian yang telah Engkau berikan. Pakai dan perlengkapilah kami terus. [YNB]







Adakah Waktu Buat Tuhan?
Posted on Rabu, 29 Mei, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Keluaran 35:1-29

Zaman bergelora! Kita hidup dan tinggal di antara derasnya arus zaman: konsumerisme, materialisme, dan hedonisme. Globalisasi berdampak besar bagi gaya hidup dan perilaku kita. Kini, segalanya diukur dengan uang. Karena itu, kita menghabiskan banyak waktu untuk bekerja dan mencari uang. Situasi ini membuat kita berada pada tarikan antara bekerja dan hidup diperkenan Allah. Apakah kita masih bisa menyediakan waktu bagi Allah di tengah kesibukan?

Allah memberi prioritas yang mendasar saat umat Israel diberi kesempatan kedua. Umat Allah diminta untuk sungguh-sungguh menaati seruan ini dengan tekun. Allah tidak melarang umat Israel bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup. Dia memberi waktu enam hari untuk itu. Namun, ada waktu perhentian kudus bagi-Nya (2). Bahkan, ada tambahan yang mencolok dan agak “menakutkan” dalam aturan itu. Siapa saja melanggar waktu perhentian akan dihukum mati.

Apa maknanya? Allah mau supaya umat tidak sibuk dengan pekerjaan lalu melupakan-Nya. Ia menghendaki hanya satu hari dalam seminggu dikhususkan bagi-Nya.

Selain itu, umat Israel pun diundang untuk memberikan persembahan khusus kepada Allah (5). Persembahan ini disebut khusus karena akan dipakai dalam rangka mendirikan Kemah Suci. Mereka diundang untuk memberi bahan-bahan yang diperlukan. Laki-laki dan perempuan yang berkeahlian khusus diundang untuk mempersembahkan kemampuannya (10-29). Undangan ini tanpa paksaan (5-9). Namun dituntut kesungguhan, kerelaan, serta tanggung jawab untuk menaatinya.

Apakah kita bekerja keras bagai kuda seperti lagu Koes Plus “Ku Jemu”? Apakah kita punya waktu khusus bagi Allah? Apakah kita terlalu sibuk, lelah, kehabisan waktu, sehingga sudah tidak memungkinkan untuk membagi waktu? Allah hanya butuh “sedikit” waktu khusus dari waktu kita. Bersediakah kita memberi waktu dan kemampuan kita bagi-Nya?

Doa: Tuhan, di tengah kesibukan, tolonglah kami agar dapat menjaga relasi dengan- Mu. [YNB]



 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)