Author Topic: Saat Teduh  (Read 61475 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

May 30, 2019, 05:17:18 AM
Reply #1910
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

Tinggal di Dunia
Posted on Rabu, 29 Mei, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Yohanes 15:18-16:4a

Tuhan Yesus telah naik ke surga dan tinggal di sana bersama Allah Bapa. Akan tetapi, orang percaya masih harus tinggal di dunia ini untuk berkarya memuliakan Tuhan dan menjalankan misi Amanat Agung-Nya. Bagaimana seharusnya orang percaya menjalani kehidupan di dunia ini? Tuhan Yesus mengatakan bahwa dunia akan membenci kita sebagaimana dunia membenci Dia. Oleh karena itu, sebagai orang percaya, kita harus siap menghadapi tantangan apa pun. Kita harus senantiasa waspada agar tantangan apa pun yang kita hadapi di dunia ini tidak bisa membuat kita menjadi kecewa, apa lagi sampai membuat kita menolak Tuhan (16:1).

Mengapa dunia membenci kita? Ada beberapa penyebab:

Pertama, kita bukan dari dunia. Tuhan Yesus telah memilih kita untuk menjadi milik-Nya, sehingga kita bukan lagi milik dunia (15:19). Kata “dunia“ yang dipakai Yohanes menunjuk kepada suatu sistem yang terorganisasi di bawah kekuasaan Iblis yang berjuang melawan Allah dan Yesus Kristus. Dunia bukan semata-mata tempat tinggal, namun di dalamnya ada suatu sistem yang dikendalikan oleh Iblis yang terus berjuang melawan Allah. Banyak cara yang dipakai oleh Iblis untuk melawan Allah dan umat-Nya. Salah satu di antaranya adalah dengan menawarkan kenikmatan dan kemuliaan dunia. Tuhan Yesus dicobai dengan cara ini juga. Banyak orang percaya yang meninggalkan persekutuan maupun pelayanan karena ingin mendapatkan kenikmatan dan kemuliaan dari dunia. Ada orang Kristen yang—saat diajak untuk melayani Tuhan—mengatakan, “Saya mau mencari uang dulu selagi masih bisa dan masih ada kesempatan.” Seperti inilah hati yang lebih mengasihi dunia!

Kedua, Tuhan Yesus menyingkapkan dosa-dosa dunia (15:22). Dunia membenci Tuhan Yesus dan para pengikut-Nya, karena kekudusan hidup pengikut-pengikut Tuhan Yesus membuat dosa-dosa dunia terlihat jelas.

Ketiga, Kebencian dunia menggenapi nubuat Kitab Suci. Kebencian dunia kepada orang percaya menggenapi perkataan Kitab Suci bahwa mereka akan membenci Yesus Kristus tanpa alasan yang jelas (15:25). Kebencian seperti ini disebabkan karena perbuatan dunia yang jahat membuat mereka membenci perbuatan yang benar. (1 Yohanes 3:12-13).

Bagaimana dengan hidup Anda? Apakah Anda sudah hidup mengasihi Allah yang telah memilih Anda menjadi milik-Nya, atau sebaliknya, yaitu kita semakin mengasihi dunia ini? [WY]









May 31, 2019, 05:41:25 AM
Reply #1911
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Kuasa Orang Percaya
Posted on Kamis, 30 Mei, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Kisah Para Rasul 1: 6-11

Merupakan suatu kenyataan menyedihkan—yang bertolak belakang dengan harapan—bila seseorang memiliki sesuatu yang amat berharga, namun ia tidak menyadari dan tidak pernah memakai apa yang sebenarnya merupakan miliknya. Walaupun apa yang sebenarnya merupakan miliknya itu amat berharga, miliknya itu menjadi seperti tidak bernilai sama sekali bila sang pemilik tak pernah memanfaatkannya. Menjelang naik ke surga, Tuhan Yesus berjanji bahwa murid-murid-Nya akan menerima kuasa saat ROH KUDUS turun ke atas mereka (1:8). Sayangnya, banyak orang percaya yang sama sekali tidak menyadari bahwa mereka telah memiliki kuasa yang dijanjikan Tuhan Yesus itu. Banyak orang percaya yang merasa bahwa dirinya begitu lemah saat menghadapi kesulitan, tekanan, atau ujian dalam kehidupan. Banyak orang percaya yang merasa stress (dan bahkan akhirnya menjadi depresi) karena mereka merasa tidak memiliki kuasa untuk mengatasi pergumulan hidup. Bagaimana seseorang bisa menjadi saksi Tuhan jika ia tidak mampu mengatasi masalah dan persoalannya sendiri? Tuhan Yesus mengatakan bahwa saat ROH KUDUS tinggal di dalam hidup kita, kita menerima kuasa, kekuatan, atau kemampuan untuk mengatasi masalah dan selanjutnya menjadi saksi Tuhan di tengah dunia. Adanya kuasa ROH KUDUS dalam kehidupan orang percaya ini harus selalu diingat dan disadari oleh semua orang percaya.

Sekalipun demikian, harus digarisbawahi bahwa kuasa yang diberikan Tuhan bukanlah kuasa yang membuat kita bisa melakukan apa saja semau kita. Kuasa ROH KUDUS adalah kuasa yang melengkapi setiap orang percaya untuk memberitakan Injil serta menjadi saksi bagi Tuhan Yesus melalui kehidupannya. Jadi, kuasa seperti apakah yang dimaksud dalam Kisah Para Rasul 1:8 itu?

Pertama, kuasa ROH KUDUS untuk melakukan tanda dan mujizat. Dengan seizin Allah, orang percaya bisa melakukan mujizat saat memberitakan Injil. Rasul-rasul pun menyembuhkan orang sakit saat mereka memberitakan Injil.

Kedua, kuasa ROH KUDUS untuk mengusir roh jahat. Ingatlah bahwa ROH KUDUS di dalam diri kita lebih besar daripada roh-roh dunia ini (1 Yohanes 4:4).

Ketiga, kuasa untuk berdoa bagi pekerjaan Tuhan.

Keempat, kuasa untuk memberi bagi pekerjaan Tuhan (4:32-37).

Kelima, kuasa untuk menderita bagi Tuhan.

Jangan bimbang dan ragu untuk bersaksi memberitakan Injil. Tuhan telah memberi kuasa kepada kita untuk melakukannya! [WY]





June 01, 2019, 05:59:56 AM
Reply #1912
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Bersandar Pada ROH KUDUS
Posted on Jumat, 31 Mei, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Matius 26: 30-46

Bagaimanakah cara praktis untuk bersandar pada ROH KUDUS dalam kehidupan kita? Dalam bacaan Alkitab hari ini, Tuhan Yesus memberikan nasihat, “Berjaga-jagalah dan berdoalah .…” (26:41). Orang yang bersandar kepada ROH KUDUS dalam kehidupannya adalah orang yang senantiasa berjaga-jaga, waspada, dan tidak malas mendisiplin diri dalam hal-hal yang bersifat rohani. Ia terus-menerus berdoa. Ketekunan untuk terus-menerus berjaga-jaga dan berdoa membuat ia memiliki kepekaan terhadap dosa dalam kehidupan sehari-hari. Kepekaan terhadap dosa membuat hati orang seperti ini menjadi gelisah (tidak memiliki damai sejahtera) bila ia melakukan hal-hal yang tidak berkenan kepada Tuhan. Orang yang bersandar pada ROH KUDUS akan terus-menerus berdoa bukan hanya saat menghadapi masalah yang sulit, tetapi juga saat hidupnya dalam kondisi yang sangat baik (usahanya lancar, anak-anaknya berhasil, keluarganya rukun, pelayanannya berhasil, dan seterusnya). Sebaliknya, orang yang tidak sungguh-sungguh bersandar pada ROH KUDUS tidak akan merasa perlu untuk selalu berjaga-jaga dan hanya berdoa pada waktu merasa memerlukan pertolongan Tuhan atau saat memiliki banyak waktu luang.

Tuhan Yesus menasihati para murid (dan nasihat itu berlaku bagi kita juga), “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.” (26:41). Sayangnya, banyak orang tidak memahami tentang “kelemahan daging” ini. Saat Tuhan Yesus memperingatkan murid-muridnya bahwa iman mereka akan tergoncang, Petrus secara sembrono berkata,  “Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak.” (26: 33). Dia juga berkata, “Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau.” (26:35). Perkataan Petrus nampak sangat luar biasa dan meyakinkan, namun kenyataannya, kelemahan daging membuat Petrus dan murid-murid yang lain tidak mampu berjaga-jaga selama satu jam saja. Saat Tuhan Yesus ditangkap, Petrus menghunus pedang dan memotong telinga hamba Imam Besar. Selanjutnya, Petrus menyangkal Tuhan Yesus sebanyak tiga kali (26:51, 69-75). Janganlah bersandar pada daging atau kekuatan diri sendiri! Anda tidak akan mempu melawan pencobaan dari si jahat tanpa bersandar pada ROH KUDUS! [WY]





June 02, 2019, 02:51:05 PM
Reply #1913
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Penuh Dengan ROH KUDUS
Posted on Sabtu, 1 Juni, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Kisah Para Rasul 4: 23-31

Apakah yang menjadi tanda bahwa seseorang dipenuhi oleh ROH KUDUS? Ada orang yang mengatakan bahwa tanda dipenuhi oleh ROH KUDUS adalah kalau seseorang bisa berbahasa lidah. Benarkah demikian? Dalam bacaan Alkitab hari ini, dicatat bahwa orang-orang percaya penuh dengan ROH KUDUS setelah mereka berdoa bersama-sama. Penting untuk diperhatikan bahwa setelah mereka penuh dengan ROH KUDUS, mereka memberitakan firman Allah dengan berani (4:31). Dalam Alkitab, keadaan “penuh dengan ROH KUDUS” umumnya berkaitan dengan keberanian memberitakan firman Allah, bukan dengan berbahasa lidah atau berbahasa Roh.

Dalam ayat Alkitab yang lain (misalnya dalam 2:4), saat orang-orang percaya yang berkumpul untuk menantikan janji Tuhan itu dipenuhi oleh ROH KUDUS, mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain. Perlu diingat bahwa “bahasa-bahasa lain” yang disebut di sini bukanlah “bahasa lidah” (bahasa asing yang tidak dimengerti artinya) sebagaimana pemahaman yang umum, melainkan bahasa manusia yang digunakan di negeri asal para pendatang yang saat itu berkumpul di Yerusalem untuk merayakan hari raya Pentakosta Yahudi (2:8-11). Salah satu hal yang penting untuk diperhatikan dalam peristiwa ini adalah bahwa setelah mereka penuh dengan ROH KUDUS, mereka berkata-kata tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah (2:11). Ini selaras dengan penjelasan di atas, yaitu bahwa orang percaya yang dipenuhi oleh ROH KUDUS akan memberitakan firman Allah dengan berani.

Salah satu contoh lain yang meneguhkan penjelasan di atas adalah catatan tentang penangkapan Petrus dan Yohanes yang disebabkan karena mereka memberitakan tentang adanya kebangkitan orang mati di dalam Yesus Kristus (4:2-3). Saat mereka disidang, Petrus—yang penuh dengan ROH KUDUS—tetap berani memberitakan tentang Yesus Kristus (4:8-12). Setelah dilepaskan dari penjara, walaupun mereka telah diancam agar tidak berbicara lagi dalam nama Tuhan Yesus, Petrus dan Yohanes dengan berani mengatakan bahwa mereka tetap akan taat kepada Allah, bukan taat kepada manusia (4:19-20). Keberanian untuk tetap memberitakan Injil merupakan salah satu tanda utama bahwa seorang percaya dipenuhi oleh ROH KUDUS. [WY]



June 03, 2019, 06:03:59 AM
Reply #1914
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Satu Roh
Posted on Minggu, 2 Juni, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Kisah Para Rasul 2: 41-47

Apakah kunci kesatuan dan kesehatian orang-orang percaya pada abad pertama? Mereka bersatu dan bersehati karena mereka sungguh-sungguh hidup bergantung pada ROH KUDUS! Kesungguhan mereka terungkap dalam ketekunan nereka dalam mengikuti pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa (2:42). Dengan melakukan hal-hal tersebut, Roh Yang Satu itu mempersatukan mereka dan memberikan kesehatian kepada mereka. Kesehatian membuat Injil semakin tersebar dan banyak orang ingin bergabung. Kesatuan dan kesehatian di antara orang-orang percaya adalah hal yang sudah seharusnya terjadi, karena orang-orang percaya memiliki Roh yang sama, yaitu ROH KUDUS yang bekerja memimpin manusia untuk menjadi percaya kepada Yesus Kristus dan kemudian berdiam di dalam hati setiap orang percaya.

Namun, kenyataannya, kita menyaksikan banyak sekali terjadi perpecahan di antara orang percaya dan di dalam gereja. Ada anggota jemaat yang tidak mau berbicara atau bertegur sapa dengan anggota jemaat yang lain. Ada anggota jemaat yang suka menggosipkan sesama rekan pelayanan serta ada pula anggota jemaat yang menyimpan kesalahan dan dendam terhadap orang-orang tertentu di dalam gereja. Mengapa hal itu dapat terjadi? Kemungkinan besar, hal itu terjadi karena banyak orang Kristen yang masih hidup di dalam hawa nafsu dan mencintai dunia (bandingkan dengan Yakobus 4:1-4), tidak hidup bergantung pada ROH KUDUS. Tidak mengherankan bila kemudian timbul berbagai macam perselisihan dan perpecahan di dalam gereja. Semua orang ingin mengutamakan kepentingan dan kemauan diri sendiri, bukan mencari kehendak Tuhan. Muncul pula iri hati dan keinginan memegahkan diri sendiri yang berasal dari dunia, dari nafsu manusia, dan dari setan-setan (Yakobus 3:13-16).

Tuhan menginginkan agar para murid dan para pengikut-Nya hidup dalam kesatuan serta saling mengasihi (Yohanes 13:34-35). Hal ini bukan perkara mudah! Namun, kita dapat melakukannya (seperti orang percaya mula-mula) bila kita hidup bersandar pada ROH KUDUS dengan bertekun dalam pengajaran Firman Tuhan, bersekutu, serta berdoa bersama. [WY]





June 04, 2019, 02:48:31 PM
Reply #1915
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Tuhan yang Sempurna
Posted on Senin, 3 Juni, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Keluaran 38:1-20

Pernahkah Anda tersesat? Apa penyebabnya? Tentu pengalaman kita akan berbeda satu sama lain. Ada yang kesasar karena takut bertanya. Sementara yang lain tersasar justru karena salah mengikuti petunjuk.

Petunjuk sangat penting. Ia adalah sarana pembimbing kepada tujuan. Tugasnya mengarahkan kita pada target. Ia menjaga agar kita tetap fokus pada sasaran. Itu sebabnya petunjuk selalu berisi rambu- rambu. Tak jarang petunjuk memberi komando yang lugas dan terperinci. Semua itu untuk menjaga agar kita tetap ada di atas lintasan yang benar.

Oleh karena sifat tersebut, kadang kita pun sulit memahami petunjuk. Misalkan saja pada nas hari ini. Allah mengatur presisi ukuran mazbah (1). Ornamen lain, seperti, tanduk, perkakas, dan jala-jala tembaga pun diarahkan oleh-Nya (2-7). Sepanjang nas ini, kita akan membaca instruksi teknis tentang membuat mazbah dan pelataran.

Bagi yang bisa berimajinasi, nas ini tentu menarik untuk dibaca. Sebab, ia menawarkan fantasi arsitektur yang unik dan megah. Namun, bagaimana dengan mereka yang sukar membayangkannya? Kita kadang bertanya, ”Mengapa sih harus mengurus hal remeh begitu? Mengapa Allah harus rela ngurusin masalah sepele? Apakah, Allah kurang kerjaan?”

Ada dua prinsip penting sebagai jawaban pertanyaan di atas. Pertama, seperti sudah dikatakan sebelumnya, petunjuk bertugas untuk memastikan atau memandu agar kita tiba pada tujuan. Prinsip kedua, Allah itu sempurna. Ia adalah mulia, paling lengkap, dan utuh dalam semesta ini. Akibatnya, sedikit cacat adalah aib bagi-Nya.

Jika mengacu pada dua prinsip ini, semoga kita tiba pada pemahaman yang lebih maju. Tujuan manusia diciptakan adalah memuliakan Allah. Cara kita memuliakan-Nya, tentu, tidak bisa dilakukan sembarangan karena Ia sempurna. Semua mesti dilakukan sesuai kehendak-Nya. Itulah alasan mengapa Ia selalu mengarahkan umat-Nya dengan aturan yang rinci.

Doa: Tuhan, kami menyembah-Mu karena Engkau sempurna dan kudus. [RP]






Hatiku adalah Takhta Allah
Posted on Senin, 3 Juni, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Keluaran 37:1-9

PKJ (Pelengkap Kidung Jemaat) no. 198, ”Di Hatiku, Ya Yesus”, menggambarkan jika Yesus ada di dalam hati melalui sabda-Nya, hati kita akan tenang, hilang rasa khawatir, hidup dalam keberserahan, dan pasrah penuh. Karena ada Yesus di dalam hati, diri kita disucikan. Karena ada Yesus di dalam hati, maka kita menjadi milik-Nya.

Tabut Perjanjian merupakan komponen utama dari Kemah Suci. Tabut dan tutup pendamaiannya berhiaskan dua kerub emas (1-2, 6-7) yang melambangkan takhta Allah. Dalam penataan Kemah Suci, ruang mahakudus berisikan Tabut Perjanjian yang menggambarkan istana yang mulia bagi Allah. Ia duduk di atas takhta-Nya di ruang mahakudus dan memerintah sebagai raja atas umat Israel.

Tabut Perjanjian itu akan menjadi tempat penyimpanan dua loh batu. Kita semua tahu bahwa loh batu itu berisikan sepuluh firman Allah yang berguna untuk menata cara hidup orang Israel. Perintah Allah itu harus ditaati. Umat Israel tidak boleh menyimpang, dengan dalih apa pun, dari firman tersebut. Itu adalah kehendak Allah dan sekaligus menjadi prinsip moral bagi mereka. Artinya, Hukum Taurat merupakan hal paling mendasar dalam struktur sosial orang Israel. Sekali lagi, Tabut Perjanjian adalah istana dan takhta Allah sebagai bukti kehadiran-Nya di tengah-tengah kehidupan bangsa Israel.

Sekarang, bangunan fisik Kemah Suci sudah tidak ada. Hati kita adalah istana dan takhta Allah yang selalu diisi dengan sabda kebenaran-Nya. Hati kita harus selalu diperbarui agar dapat hidup sesuai dengan kehendak Allah. Itu sebabnya kita harus rutin dan rajin membaca firman Allah. Firman inilah nantinya yang akan menjaga hati kita tetap bersih dan diperkenan di hadapan Allah. Seberapa seriuskah kita menjaga hati kita? Mari kita hayati syair lagu PKJ 198 itu, ”Di hatiku, ya Yesus, Tuhan, bersabdalah, agar tenang hatiku dan hilang khawatirku.”

Doa: Tuhan, jadikanlah hati kami sebagai istana dan takhta- Mu. Biarlah hati kami selalu diperbaharui dengan kehendak- Mu. Ajarlah kami belajar untuk taat kepada-Mu. [YNB]


June 04, 2019, 02:49:19 PM
Reply #1916
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


Membangun yang Terbaik
Posted on Senin, 3 Juni, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Keluaran 36:8-38

Tidak ada gedung gereja yang dibangun dengan seadanya. Dari masa ke masa, gedung-gedung gereja dibangun semakin megah. Bangunan itu kerap menghabiskan biaya fantastis. Dana diupayakan dari berbagai macam kegiatan. Hingga akhirnya dana tercukupi, gereja tuntas dibangun, dan menjadi kebanggaan umat yang turut mendukung.

Kemah Suci dibangun pada zaman Musa. Ukurannya lumayan besar jika mengikuti pola yang sudah digambarkan (26). Pembangunan Kemah Suci ini harus berjalan dengan lancar dan hasilnya sesuai dengan target. Pola yang sudah diberikan oleh Allah diikuti secara saksama dan tidak menyimpang sama sekali mulai dari bentuk hingga bagian terkecilnya. Pola itu pasti yang terbaik sehingga tidak perlu diubah oleh manusia.

Dalam pembangunan Kemah Suci diperlukan kerja sama dari setiap umat yang terlibat. Semua bekerja sesuai dengan panggilan, keahlian, dan tugas masing-masing. Semua orang yang terlibat berkomitmen dan bersemangat membangun dalam kebersamaan. Artinya, harus ada kolaborasi harmonis di antara semua umat dalam membangun Kemah Suci.

Bagi umat Israel pembangunan Kemah Suci ini penting karena mereka percaya Allah akan tinggal di tengah- tengah umat-Nya. Kemah Suci merupakan lambang dari kehadiran Allah sekaligus sebagai tempat umat berbakti kepada-Nya karena Ia adalah pusat kehidupan umat Israel.

Lalu bagaimana dengan konteks kita saat ini? Pentingkah gedung gereja yang megah dan mewah? Pada dasarnya, hal terpenting adalah membangun diri kita. Pasalnya, kita adalah tempat di mana Allah hadir. Kita adalah Bait Allah. Tubuh kita adalah tempat Allah bertakhta, sehingga melalui kehidupan kita terpancar kemuliaan-Nya. Jadikanlah Ia sebagai pusat dari seluruh kehidupan kita karena inilah esensi utama dari Bait Allah yang sejati.

Doa: Tuhan Allah yang kekal, jadikanlah kehidupan kami sebagai tempat di mana Engkau selalu ada sehingga kemuliaan- Mu terus memancar dan nama- Mu dimuliakan. [YNB]






Tuhan Turut Bekerja
Posted on Senin, 3 Juni, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Markus 16:19-20

Setiap hari kita bisa bernafas, mengerjakan tugas-tugas, dan menikmati pemandangan indah. Kita juga bisa berkumpul dengan teman, saudara, keluarga, dan merasakan berbagai macam cita rasa masakan. Kita bisa berbakti kepada Tuhan serta menikmati setiap pemberian dan berkat-Nya. Syukur kepada Tuhan atas itu semua. Semuanya Tuhan pakai untuk kebaikan kita. Kita dibuat semakin mengerti kehendak dan rancangan-Nya. Ya, Tuhan turut bekerja.

Kristus terangkat ke surga (19). Peristiwa itu terjadi sesudah Ia berbicara tentang hal-hal yang perlu disampaikan-Nya kepada para murid. Ia terangkat dan disaksikan oleh para murid-Nya. Lalu, Ia duduk di sebelah kanan Allah karena telah menyelesaikan tugas-Nya.

Para murid-Nya melanjutkan tugas-Nya. Mereka awalnya ragu-ragu. Mereka bahkan belum mengerti apa makna dari peristiwa yang menimpa Guru mereka. Namun, setelah Yesus berbicara kepada mereka sebelum terangkat, mereka pun mengerti dan percaya.

Dengan penuh iman dan tanpa kenal lelah, para murid memberitakan Injil ke seluruh penjuru dunia (20). Allah menyertai mereka. Ia meneguhkan setiap perkataan firman yang mereka ajarkan lewat mukjizat. Ada banyak orang menjadi percaya kepada karya Yesus Kristus. Peristiwa demi peristiwa yang mereka alami membuat iman mereka semakin kuat. Hal itu berdampak pada semangat mereka memberitakan Injil tanpa takut dan gentar. Itulah bukti bahwa Tuhan turut bekerja.

Seperti para murid, terkadang kita pun ragu. Kita kadang meragukan-Nya sebagai Tuhan. Percayalah, Tuhan turut bekerja dan tidak akan membiarkan kita terus berada dalam keraguan. Ia akan menunjukkan diri-Nya dalam berbagai cara. Tuhan pasti membuktikan bahwa Ia terus-menerus bekerja dalam kehidupan kita. Ia adalah Tuhan yang Mahakuasa dan bisa diandalkan.

Doa: Tuhan, ampuni kami jika terkadang kami meragukan kuasa dan kedaulatan-Mu. Kami tahu bahwa Engkau turut bekerja dalam setiap kehidupan kami. [YNB]




June 04, 2019, 02:52:53 PM
Reply #1917
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
ROH KUDUS Penopang Gereja
Posted on Senin, 3 Juni, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Kisah Para Rasul 5: 1-11

Gereja berdiri oleh karya ROH KUDUS melalui pelayanan rasul-rasul. Orang-orang yang menerima Injil tentang Yesus Kristus pada hari Pentakosta dan kemudian dibaptis adalah jemaat pertama atau gereja pertama. ROH KUDUS membangun gereja, dan kemudian terus menopang gereja sampai hari ini.

Dalam bacaan Alkitab hari ini, kita mendapati dua orang anggota jemaat yang merupakan suami istri—yaitu Ananias dan Safira—yang mencoba untuk mendustai ROH KUDUS. Mereka menjual sebidang tanah milik mereka sendiri, lalu sebagian uang hasil penjualan tanah mereka simpan, tetapi mereka mengaku bahwa mereka mempersembahkan seluruh uang hasil penjualan tanah tersebut. Mengapa mereka berlaku seperti itu? Kemungkinan besar, mereka berdusta karena mereka ingin dipuji atau mendapat kemuliaan. Mereka hendak meniru Barnabas yang menjual ladangnya dan meletakkan uang hasil penjualan ladang itu ke depan kaki rasul-rasul (4:36-37). Pemberian semacam ini datang dari hati yang takut akan Tuhan dan yang sungguh-sungguh mengasihi Allah. Kemungkinan besar, pemberian Barnabas memotivasi Ananias dan Safira untuk memberi juga. Namun, Petrus mengatakan bahwa hati mereka dikuasai oleh Iblis, sehingga pada waktu memberi, mereka berdusta kepada rasul-rasul. Dengan mendustai rasul-rasul, berarti bahwa mereka juga berdusta kepada jemaat atau kepada gereja! Dusta Ananias dan Safira ini disebut oleh Petrus sebagai dusta terhadap ROH KUDUS atau dusta terhadap Allah sendiri!

Setelah mendengar perkataan Petrus, akibat yang terjadi tidak tanggung-tanggung. Ananias langsung mati rebah dan kemudian istrinya juga mengalami hal yang sama. Peristiwa ini amat mengejutkan. Di mata sebagian orang, perbuatan Ananias dan Safira mungkin “hanya” dianggap sebagai perbuatan berdusta yang sudah umum dilakukan. Namun, karena ROH KUDUS membangun gereja di atas dasar kebenaran Firman Tuhan, tidak boleh ada toleransi terhadap kebohongan atau dusta yang merupakan pekerjaan iblis. Ananias dan Safira mengalami hukuman yang demikian tragis sebagai peringatan bagi kita semua. Gereja dibangun oleh ROH KUDUS dan ROH KUDUS adalah Penopang gereja. Sebagai anggota jemaat, kita harus menghormati gereja sebagai lembaga yang dibangun oleh ROH KUDUS, dan kita harus mengasihi gereja sebagai ungkapan kasih kita kepada Tuhan! [WY]
.





June 05, 2019, 04:45:43 PM
Reply #1918
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Transparansi dan Akuntabilitas
Posted on Selasa, 4 Juni, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Keluaran 38:21-31

Korupsi sudah mewabah di Indonesia, bahkan sudah menjadi budaya dalam birokrasi. Tanpa suap, misalnya, urusan kita lamban selesai. Korupsi terjadi karena ketiadaan transparansi dan minimnya akuntabilitas. Transparansi artinya keterbukaan yang jelas. Sementara, akuntabilitas adalah perihal tanggung jawab pada kewajiban.

Kali ini, kita belajar dari pengalaman bangsa Israel. Allah memerintahkan mereka untuk mendirikan Kemah Suci. Tentu saja bangunan itu tidak turun dari langit. Semuanya dikerjakan manusia. Sudah pasti proyek itu membutuhkan dana. Emas, perak, tembaga, dan bahan baku lainnya digunakan dalam jumlah besar (24-31). Nas ini menuliskan dengan jelas setiap jumlah dan ukuran yang dipakai.

Pelajaran apa yang bisa kita petik? Sebagai pemimpin, Musa sangat transparan dalam pembukuan keuangan. Ia memaparkan semua angka dengan jelas. Ia juga menyebutkan siapa saja yang terlibat dalam proyek itu (21-23). Dengan demikian, kalaupun ada penyelewengan, siapa pun akan mudah melacak aliran dananya. Dalam hal ini, Musa menerapkan standar transparansi dan akuntabilitas dengan penuh integritas.

Secara keseluruhan, gereja tidak bisa kita katakan steril dari budaya korupsi. Kita bahkan pernah mendengar terjadi penyelewengan dana dalam sebuah lembaga gereja. Peristiwa ini mesti menjadi pembelajaran buat gereja. Semua orang yang terlibat dalam pelayanan di gereja wajib mawas diri. Kita harus berhati- hati terhadap godaan uang yang menggiurkan. Korupsi adalah persoalan semua lapisan masyarakat, termasuk gereja. Oleh karena itu, gereja harus terlibat aktif dalam memerangi budaya korupsi. Caranya dengan memulai dari diri sendiri untuk tidak korupsi. Ada baiknya kita meneladani prinsip yang dipegang Musa, yaitu transparansi dan akuntabilitas. Kita harus serius menerapkan ini dengan jiwa integritas hidup kudus dalam hidup berjemaat dan pribadi.

Doa: Tuhan, kiranya gereja berani untuk transparan dan bertanggung jawab dalam mengelola keuangan. [RP]








Karunia Rohani
Posted on Selasa, 4 Juni, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Kisah Para Rasul 8: 4-25

Untuk apakah Tuhan memberikan karunia rohani kepada orang percaya? Jelas bahwa karunia rohani itu dimaksudkan untuk membangun tubuh Kristus, untuk melayani sesama, dan untuk memuliakan Tuhan. Namun, pada praktiknya, karunia rohani justru sering membuat orang akhirnya tidak memuliakan Tuhan, tetapi memuliakan diri sendiri dan memuliakan oknum-oknum tertentu yang kelihatan sangat karismatik dan memiliki karunia untuk melakukan hal-hal yang menakjubkan.

Simon adalah seorang yang sangat terkenal di Samaria. Ia bisa melakukan sihir yang memukau banyak orang. Karena sering diikuti banyak orang dan dipuji-puji sebagai Kuasa Besar, ia merasa menjadi orang penting (8:9-11). Setelah mendengar berita Injil dan menjadi percaya, Simon dibaptis dan selalu mengikuti Filipus. Namun, ternyata hatinya belum sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan Yesus. Kemungkinan, ia sangat takjub saat menyaksikan tanda-tanda dan mujizat-mujizat yang dilakukan oleh ROH KUDUS dengan perantaraan Filipus (8:6). Setelah Petrus dan Yohanes tiba di Samaria dan menumpangkan tangan agar jemaat di Samaria menerima ROH KUDUS, motivasi Simon dalam mengikut Tuhan Yesus menjadi kelihatan jelas, yaitu bahwa Simon berharap agar ia bisa memiliki kuasa untuk memberikan ROH KUDUS kepada orang lain. Simon sampai menawarkan uang agar ia bisa memperoleh kuasa tersebut. Hati Simon bukan tertuju kepada Yesus Kristus, melainkan tertuju pada mujizat-mujizat dan karunia-karunia yang diberikan oleh ROH KUDUS kepada rasul-rasul. Simon ingin terkenal, dipuja, dan menjadi mulia dengan memiliki karunia-karunia rohani. Ia ingin menjadi seperti rasul-rasul yang kelihatan sangat berkarisma.

Banyak orang yang mengaku percaya, tetapi memiliki hati yang tidak lurus di hadapan Tuhan (8:21). Tuhan menganugerahkan karunia-karunia rohani, tetapi ada orang-orang yang tidak mau menggunakan karunia yang dimilikinya untuk melayani Tuhan. Ada pula orang yang menggunakan karunia yang dimilikinya untuk memuliakan diri sendiri atau agar mendapat pujian dan pengakuan dari anggota jemaat yang lain. Orang Kristen seharusnya meneladani Tuhan Yesus yang melayani sampai menjadi terhina. Semua karunia yang kita terima seharusnya membuat kita menjadi semakin rendah hati. [WY]



June 06, 2019, 11:35:42 AM
Reply #1919
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Rela Menderita
Posted on Rabu, 5 Juni, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Kisah Para Rasul 5: 26-42

Dari manakah datangnya kemampuan untuk menderita bagi pekerjaan Tuhan? Kemampuan itu datangnya bukan dari diri sendiri, melainkan dari ROH KUDUS. Orang percaya yang mengandalkan dirinya sendiri tidak akan mampu menghadapi penderitaan yang timbul saat melakukan pekerjaan Tuhan. Rasul-rasul harus menghadapi penganiayaan pada waktu mereka memberitakan Injil. Mereka ditangkap dan kemudian dipenjara (5:18). Setelah seorang malaikat melepaskan mereka dari penjara, mereka kembali memberitakan Firman Tuhan di Bait Allah (5:19-21). Selanjutnya, para pengawal kembali mengambil para rasul untuk disidang oleh Mahkamah Agama (5:26-27). Dalam sidang tersebut, para rasul ditegur karena mereka memberitakan tentang Yesus Kristus. Petrus, Yohanes, dan kemungkinan juga rasul-rasul yang lain, akhirnya dilepaskan setelah sidang Mahkamah Agama mendengar nasihat Gamaliel, seorang ahli Taurat yang sangat disegani. Namun, sebelum dilepaskan, mereka disesah terlebih dahulu dan mereka dilarang untuk mengajar dalam nama Yesus (5:28-40).

Respons dari rasul-rasul terhadap apa yang mereka terima adalah, “gembira karena dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus” (5:41). Respons semacam ini sangat tidak masuk akal mengingat bahwa menurut aturan hukum orang Yahudi, mereka disesah atau dihukum cambuk sebanyak 40 kurang satu pukulan. Hukuman ini bukan saja menyakitkan, tetapi juga memalukan, karena biasanya hukuman itu dilakukan di depan banyak orang agar menjadi peringatan bagi semua orang. Namun, rasul-rasul yang disesah itu menyadari bahwa tidak semua orang dianggap layak untuk mengalami penderitaan karena Nama Tuhan Yesus. Ada orang percaya yang tidak pernah mengalami penderitaan saat mengikut Yesus Kristus, namun ada yang mengalami banyak kesulitan dan penderitaan karena mengikut Tuhan Yesus. Bagaimana rasul-rasul dapat memahami semua ini? Tidak lain dan tidak bukan karena ROH KUDUS yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang taat kepada-Nya menerangi hati dan memberikan kesadaran kepada mereka (5:32). Bagaimana dengan Anda? Apakah selama mengikut Yesus Kristus dan melayani Dia, Anda menyadari bahwa kesempatan untuk membayar harga dan berkorban merupakan anugerah Allah? [WY]



 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)