Author Topic: Saat Teduh  (Read 61474 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

June 07, 2019, 01:38:38 PM
Reply #1920
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

 Kita Dipelihara-Nya
Posted on Kamis, 6 Juni, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Keluaran 37:10-29

Orang Kristen miskin simbol? Di gereja memang sangat minim ornamen, sehingga orang beralasan, ”Ah, tidak bisa khusyuk beribadah di gereja.” Namun, benarkah demikian? Apakah kita memang memerlukan ornamen untuk menyadari kenyataan bahwa kita dipelihara Allah?

Meja roti sajian adalah tempat menghidangkan roti sajian di atasnya. Roti sajian dalam bahasa Inggris disebut the bread of presence. Arti sederhananya adalah roti kehadiran (30). ”Kehadiran” di sini mengacu kepada kehadiran Allah yang mengundang umat Israel untuk ”bersantap bersama” dan menikmati kehadiran-Nya. Masyarakat dalam tradisi Timur Tengah memaknai bersantap bersama sebagai bentuk persekutuan. Prinsip ini juga yang berlaku ketika Allah ”makan bersama” umat-Nya.. Itu menandakan ikatan persekutuan antara Allah dan bangsa Israel sudah terjalin.

Kandil merupakan simbol pengingat umat Israel bahwa Allah adalah pemberi terang, yang memandu mereka keluar dari perbudakan di tanah Mesir. Allah menyertai mereka dengan tiang awan dan tiang api. Penyertaan itu terus hadir menolong bangsa Israel lolos dari kejaran orang-orang Mesir.

Mazbah pembakaran ukupan diletakkan persis di depan tirai ruang mahakudus. Itu melambangkan wewangian kurban persembahan kepada Tuhan akan naik ke surga. Jika wewangian ukupan masuk ke ruang mahakudus, artinya Tuhan menerima kurban persembahan.

Apa saja yang ada di ruang gereja masa kini? Ada salib, simbol Kristus, lilin, warna liturgis, Alkitab besar, kantong persembahan, mimbar, dan sebagainya. Benda-benda itu memang dapat menolong kita untuk merenungkan karya pemeliharaan Allah ketika kita berada di dalam gereja. Namun, tentu saja itu bukan menjadi hal yang terutama. Semua itu adalah alat bantu agar kita bisa fokus dalam merenungkan karya Allah dalam kehidupan kita. Alat bantu itu mengingatkan kita bahwa kita dipelihara-Nya.

Doa: Ya Allah, tolonglah kami agar memakai apa pun yang ada di sekitar kami untuk dapat merasakan karya pemeliharaan- Mu. [YNB]






Jangan Munafik
Posted on Kamis, 6 Juni, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Lukas 12: 1-12

Mengapa Tuhan Yesus meminta agar murid-murid-Nya waspada terhadap ragi atau kemunafikan orang Farisi? Tentu saja, tujuannya adalah agar mereka tidak meniru kemunafikan orang Farisi. Tuhan Yesus mengetahui bahwa murid-murid-Nya akan segera mengalami penganiayaan dari orang-orang Yahudi. Saat menghadapi penganiayaan, mereka terancam untuk jatuh ke dalam kemunafikan (12:4, 11, 12). Oleh karena itu, Tuhan Yesus mengingatkan mereka agar waspada saat mengalami penganiayaan.

Orang Farisi bersikap munafik dengan menampilkan kerohanian yang palsu di depan umum. Murid-murid Tuhan Yesus juga dapat bersikap munafik—menyangkal iman atau pura-pura menjadi orang yang kurang beriman—untuk menghindari penganiayaan. Tuhan Yesus tidak ingin murid-murid menjadi sama dengan orang-orang Farisi yang munafik karena beberapa hal:

Pertama, tidak ada sesuatu yang disembunyikan yang tidak akan diketahui (12:2-3). Kemunafikan dapat menipu orang untuk sesaat, tetapi lambat laun akan kelihatan aslinya.

Kedua, jangan takut kepada manusia, melainkan takutlah kepada Allah (12:4-5). Kemunafikan dilakukan karena manusia lebih takut kepada manusia lain, bukan kepada Allah yang mengetahui segala sesuatu dan dapat menyingkapkan kemunafikan serta menghukum siapa saja.

Ketiga, orang percaya berada dalam pemeliharaan Allah yang sempurna (12:6-7). Tidak ada yang dapat mencelakai kita tanpa seizin Tuhan.

Keempat, percaya kepada Tuhan berarti sungguh-sungguh percaya dalam hati dan berani mengakui dengan mulut kepada semua orang bahwa dirinya adalah orang percaya, termasuk saat menghadapi tantangan dan saat ditanya secara pribadi. Orang yang sungguh-sungguh beriman tidak akan pernah menyangkal imannya atau berpura-pura menjadi orang yang tidak beriman (12:8-10).

Kelima, waktu menghadapi penganiayaan, ROH KUDUS akan menolong memberikan hikmat bagaimana menghadapi penganiayaan dan memberi kemampuan untuk menanggungnya (12:11-12).

Bagaimana dengan kehidupan Anda? Apakah Anda masih sering bersikap munafik di depan orang agar Anda dapat diterima oleh dunia? Apakah Anda takut menunjukkan identitas Anda sebagai orang percaya karena Anda tidak berani menghadapikesukaran atau Anda takut ditolak? Kiranya ROH KUDUS menolong kita semua! [WY]



June 09, 2019, 04:52:48 PM
Reply #1921
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Karya ROH KUDUS
Posted on Sabtu, 8 Juni, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: 1 Korintus 12:1-11

Bacaan Alkitab hari ini bukan hanya semata-mata membicarakan tentang karunia Roh, melainkan karya ROH KUDUS secara umum di tengah jemaat. Apa saja yang dikerjakan oleh ROH KUDUS?

Pertama, karya ROH KUDUS yang utama adalah memberikan iman kepada setiap orang percaya untuk mengakui Yesus sebagai Tuhan (12: 2-3). Iman adalah karya ROH KUDUS, bukan sekadar upaya atau kesadaran manusia.

Kedua, ROH KUDUS mengerjakan bermacam-macam pelayanan di tengah jemaat. Rasul Paulus mengingatkan bahwa pelayanan, perbuatan ajaib, dan karunia, adalah berasal dari Allah dan bukan dari kehebatan manusia. Allah bekerja dengan bermacam-macam cara dan melibatkan bermacam-macam orang dengan memberikan bermacam-macam karunia. Kata karunia yang dipakai oleh Rasul Paulus adalah kata Charismata yang memiliki akar kata Charis yang artinya anugerah. Hal ini berarti bahwa karunia-karunia yang Allah berikan kepada orang percaya merupakan anugerah-Nya, bukan berasal dari kehebatan dan kemampuan diri sendiri. Oleh karena itu, jangan memegahkan diri (sombong) bila Anda memiliki karunia tertentu. Ada orang yang menganggap karunia yang ia miliki lebih besar atau lebih hebat daripada karunia yang dimiliki orang lain karena karunia itu membuat ia selalu diminta untuk tampil di depan umum. Di mata Tuhan, karunia apa pun—termasuk karunia yang tidak menonjol—tetap merupakan anugerah dan tidak boleh membuat orang yang memiliki karunia itu menjadi sombong karena merasa bahwa dirinya hebat, padahal semua karunia dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama (12:11).

Ketiga, ROH KUDUS mengerjakan bermacam-macam pelayanan dan memberikan karunia untuk membangun komunitas orang percaya. Karunia-karunia rohani itu diberikan oleh ROH KUDUS bukan untuk kepentingan diri sendiri, melainkan untuk membangun tubuh Kristus (gereja). Orang yang memuliakan dirinya melalui karunia rohani yang ia miliki adalah orang yang tidak sadar bahwa karunia itu merupakan anugerah Tuhan yang tidak boleh dinikmati sendiri, melainkan harus dipakai untuk melayani orang lain serta membuat orang lebih semakin bertumbuh dalam iman.



June 09, 2019, 04:53:44 PM
Reply #1922
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


Hidup Oleh Roh
Posted on Minggu, 9 Juni, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Galatia 5: 16-26

Mengapa banyak orang Kristen yang hidupnya tidak menghasilkan buah-buah pertobatan (perubahan karakter menjadi semakin serupa dengan Kristus)? Ada beberapa hal yang kemungkinan besar menjadi penyebab:

Pertama, orang itu adalah orang Kristen KTP (Kristen Tanpa Pertobatan). Ia belum sungguh-sungguh bertobat secara pribadi dan menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamatnya secara pribadi, sehingga ROH KUDUS belum tinggal di dalam hatinya. Bertobat dan dilahirkan kembali merupakan momen penting yang harus jelas terjadi pada diri setiap orang percaya, dan yang menjadi titik awal untuk mengalami penyucian dan perubahan oleh ROH KUDUS.

Kedua, banyak orang Kristen yang sangat mencintai dunia ini. Cinta kepada dunia membuat orang percaya mengabaikan hal-hal rohani, dan hal ini akan sangat menghambat perubahan hidupnya (1 Yohanes 2:15-17). Orang Kristen yang sangat mencintai dunia ini akan mendapati bahwa dirinya semakin lama semakin mirip dengan dunia, karena keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup menguasai kehidupannya. Kasihnya kepada Allah semakin lama akan semakin berkurang dan ia tidak akan dapat menghasilkan buah-buah Roh dalam kehidupannya sehari-hari.

Ketiga, ada orang Kristen yang menyalahgunakan kebebasan atau kemerdekaan dari hukum atau aturan (hukum Taurat) sebagai alasan pembenar untuk berbuat dosa (5: 13). Mereka memandang murah terhadap anugerah dan karya penebusan Yesus Kristus di kayu salib dengan hidup sesuka hati. Mereka merasa bahwa anugerah Tuhan sedemikian besarnya, sehingga mereka akan terus diampuni dan dibebaskan dari hukuman bila mereka berbuat dosa. Terhadap orang-orang yang bersikap demikian, Rasul Paulus mengatakan bahwa mereka tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah (5:21). Artinya, orang-orang semacam itu memang sejak semula tidak memperoleh bagian dalam Kerajaan Allah.

Orang Kristen yang hidup dipimpin oleh ROH KUDUS akan bergumul agar hidupnya semakin lama semakin mengasihi Tuhan dan semakin membenci dosa. Ia akan menyalibkan keinginan daging dengan segala hawa nafsunya. Pergumulan ini berlangsung terus sepanjang hidupnya sampai orang itu dipanggil Tuhan. [WY]





June 10, 2019, 01:18:00 PM
Reply #1923
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Hidup Oleh Roh
Posted on Minggu, 9 Juni, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Galatia 5: 16-26

Mengapa banyak orang Kristen yang hidupnya tidak menghasilkan buah-buah pertobatan (perubahan karakter menjadi semakin serupa dengan Kristus)? Ada beberapa hal yang kemungkinan besar menjadi penyebab:

Pertama, orang itu adalah orang Kristen KTP (Kristen Tanpa Pertobatan). Ia belum sungguh-sungguh bertobat secara pribadi dan menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamatnya secara pribadi, sehingga ROH KUDUS belum tinggal di dalam hatinya. Bertobat dan dilahirkan kembali merupakan momen penting yang harus jelas terjadi pada diri setiap orang percaya, dan yang menjadi titik awal untuk mengalami penyucian dan perubahan oleh ROH KUDUS.

Kedua, banyak orang Kristen yang sangat mencintai dunia ini. Cinta kepada dunia membuat orang percaya mengabaikan hal-hal rohani, dan hal ini akan sangat menghambat perubahan hidupnya (1 Yohanes 2:15-17). Orang Kristen yang sangat mencintai dunia ini akan mendapati bahwa dirinya semakin lama semakin mirip dengan dunia, karena keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup menguasai kehidupannya. Kasihnya kepada Allah semakin lama akan semakin berkurang dan ia tidak akan dapat menghasilkan buah-buah Roh dalam kehidupannya sehari-hari.

Ketiga, ada orang Kristen yang menyalahgunakan kebebasan atau kemerdekaan dari hukum atau aturan (hukum Taurat) sebagai alasan pembenar untuk berbuat dosa (5: 13). Mereka memandang murah terhadap anugerah dan karya penebusan Yesus Kristus di kayu salib dengan hidup sesuka hati. Mereka merasa bahwa anugerah Tuhan sedemikian besarnya, sehingga mereka akan terus diampuni dan dibebaskan dari hukuman bila mereka berbuat dosa. Terhadap orang-orang yang bersikap demikian, Rasul Paulus mengatakan bahwa mereka tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah (5:21). Artinya, orang-orang semacam itu memang sejak semula tidak memperoleh bagian dalam Kerajaan Allah.

Orang Kristen yang hidup dipimpin oleh ROH KUDUS akan bergumul agar hidupnya semakin lama semakin mengasihi Tuhan dan semakin membenci dosa. Ia akan menyalibkan keinginan daging dengan segala hawa nafsunya. Pergumulan ini berlangsung terus sepanjang hidupnya sampai orang itu dipanggil Tuhan. [WY]




June 11, 2019, 07:34:37 AM
Reply #1924
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Rendah Hati
Posted on Senin, 10 Juni, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 7:1-10

Semangat penjajahan bangsa Eropa bisa jadi mewariskan arogansi dalam Kekristenan. Misalnya, banyak orang Kristen mengaku sudah diselamatkan sehingga merasa lebih baik daripada orang lain. Semangat ini kian kental saat mereka membandingkan diri dengan orang yang belum percaya. Fenomena ini membuat kita bertanya-tanya, ”Apakah sikap seperti ini dibenarkan?”

Dalam nas ini, kita membaca kisah seorang perwira Romawi yang takut akan Allah dan sangat mengasihi orang Yahudi. Setidaknya, ini dibuktikannya ketika ia mau menanggung biaya pembangunan rumah Ibadat (4-6). Perwira ini juga sangat mengasihi hambanya. Ketika hambanya sakit, melalui tua-tua Yahudi, ia meminta agar Yesus datang untuk menyembuhkan (2-3).

Kejadian aneh pun muncul. Ketika Yesus sudah mendekat, perwira itu malah meminta sahabatnya menghalangi-Nya (6). Sekilas, perlakuan ini sungguh tidak sopan. Namun, alasan dari tindakan ini sangat mengharukan. Ia melakukan itu karena merasa tidak layak menerima dan menjamu Yesus. Mungkin, perwira itu merasa sangat berdosa sehingga tidak pantas menerima tamu semulia Yesus. Yesus mengagumi iman perwira ini (9). ”Iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai… di antara orang Israel, ” kata-Nya. Setelah orang-orang suruhan itu kembali ke rumah, mukjizat pun terjadi. Mereka mendapati bahwa hamba sang perwira telah sehat.

Kisah ini mengajarkan kita tentang cara bersikap terhadap sesama. Walau status sosial perwira itu hebat, namun ia tidak angkuh. Pertama, ia tetap mengasihi hambanya; kasihnya tidak dibangun berdasarkan status sosial dan ekonomi. Kedua, walaupun berjabatan perwira, ia tetap sadar diri di hadapan Yesus. Ia menunjukkan bahwa jabatan bukanlah elemen utama dalam memberi penghormatan.

Perwira ini memberi kita contoh tentang sikap rendah hati. Ia tidak pernah merasa lebih baik dari orang lain. Ia menghormati Yesus dan mengasihi sesamanya dengan tulus. Apakah kita memiliki sikap seperti perwira ini?

Doa: Tuhan, ajar kami untuk rendah hati. [JN]







Sebuah Kepastian
Posted on Senin, 10 Juni, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Yoel 2:28-32

Nabi Yoel menubuatkan tentang suatu hari. Hari itu disebut sebagai Hari Tuhan. Imajinasi kita agak sulit membayangkan keadaan pada hari itu karena Nabi Yoel melukiskan kondisi saat itu dengan kontradiksi yang tajam. Ia memberitakan kabar suka cita dan duka nestapa datang bersamaan.

Pada satu sisi, Yoel memberitakan kabar gembira. Ia mengatakan bahwa Allah akan mencurahkan Roh ke atas manusia (28). Roh itu akan memenuhi manusia tanpa memandang sekat usia dan gender. Strata sosial dipukul rata. Para hamba/budak akan mendapatkan juga curahan Roh itu (29). Yoel menubuatkan sebuah dunia yang penuh kesetaraan.

Namun pada sisi lain, Yoel juga menggambarkan sebuah kengerian tak terperikan. Darah, api, dan gumpalan asap menjadi corak pertama saat hari Tuhan itu tiba (30). Alam menunjukkan paras mengerikan. Matahari padam dan bulan berwarna merah darah (31).

Imajinasi kita mungkin sulit memahaminya. Para teolog berlomba-lomba menafsir nubuat ini. Namun, tak satu pun dari mereka mampu menawarkan jawaban yang memuaskan. Kita hanya disodorkan dengan ragam spekulasi. Hal ini lumrah karena Yoel menyampaikan nubuatnya dengan aneka simbol. Akibatnya, teks ini pun menjadi sangat multitafsir. Walaupun demikian, Yoel memberi kita satu pengharapan mutlak. Siapa pun yang berseru kepada TUHAN akan diselamatkan (32). Apa pun kondisi dan situasi yang terjadi kelak, Allah adalah panji keselamatan. Ini adalah kebenaran yang tak bisa diganggu gugat.

Petrus mengutip nubuat ucapan Nabi Yoel ini dalam khotbahnya pada hari Pentakosta. Di tengah cibiran dan ejekan yang mereka terima (Kis. 2:13), ia memberi harapan baru bagi jemaat mula-mula. Saat tantangan berat menghadang, tetaplah kita menjalaninya. Janji nubuat ini telah digenapi Allah karena ROH KUDUS telah turun dan sedia menolong kita yang berseru kepada-Nya.

Doa: Tuhan, walau badai kehidupan menerpa, terus pegang tangan kami. [RP]




June 11, 2019, 07:35:41 AM
Reply #1925
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16



Bukti Kehadiran Allah
Posted on Senin, 10 Juni, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Keluaran 40:34-38

Pernahkah kita mendengar seseorang berkata, ”Oh, saya merasakan kehadiran Allah.” Apa reaksi kita saat mendengarnya? Pernahkah kita bertanya, ”Bagaimana ia tahu bahwa Allah hadir? Apa sebenarnya indikatornya?”

Allah pernah berikrar bahwa Ia akan diam di tengah-tengah orang Israel (Kel. 29:45). Ketika Kemah Suci selesai dibangun, maka janji itu pun tergenapi. Kemuliaan Allah hadir dalam bentuk awan yang menutupi Kemah Suci (34-35).

Ada banyak jenis dewa yang juga berdiam di sekitar bangsa Israel. Namun, wujud kehadiran mereka selalu ditandai dengan kebekuan. Ada yang mengambil rupa sebagai patung, batu, pohon, dan sebagainya. Mereka semua diam dan tak berbuat apa-apa.

Ekspresi ini kontras dengan Allah umat Israel. Ia hadir dalam bentuk awan dan api. Ia bergerak. Gerakan-Nya pun bukan tanpa arah. Ia seperti menunjukkan arah ke mana orang Israel berjalan (36). Jika awan dan api itu bergerak, orang Israel pun turut serta (37). Cara Allah menyatakan diri sungguh unik, bukan?

Ada dua hal yang menarik untuk dipelajari. Pertama, kehadiran Allah di tengah umat ditandai dengan penyertaan-Nya. Ia memberi arahan dan petunjuk kepada umat. Kedua, kehadiran Allah dikenali ketika umat taat pada petunjuk itu.

Jadi, kehadiran-Nya tidak ditentukan oleh perasaan emosional belaka. Namun, ada gerak harmonis antara perintah Allah dan ketaatan umat. Indikator kuat bahwa Allah berdiam di tengah umat adalah ada aksi konkret yang terjadi. Sebuah tindakan hasil kolaborasi antara arahan Allah dan ketaatan umat.

Dalam konteks sekarang, bagaimana kita merasakan kehadiran Allah? Alkitab— adalah firman Allah—menjadi wujud kehadiran-Nya di tengah gereja. Dalam Alkitab, petunjuk dan arahan Allah jelas sebagai parameter aksi bagi kita; perintah, peringatan, janji-janji, ketetapan-ketetapan, dan jalan-jalan Allah jelas dapat kita ikuti dan imani. Kehadiran Allah dapat dialami jika gereja mau taat pada firman Allah.

Doa: Tuhan, kami mau taat pada firman-Mu sebagai bukti kehadiran-Mu. [RP]







Dengar dan Taat
Posted on Senin, 10 Juni, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Keluaran 39:32-43

Bahasa Inggris menerjemahkan kata ”taat” sebagai ”obey”. Kata ini berasal dari bahasa Latin, yaitu ”obedire”. Term ini tersusun dari dua kata, yaitu ob ’to’ (kata depan) dan audire ’listen/ mendengar’. Jadi, secara literal, ”obedire” artinya adalah mendengar.

Dari konsep etimologi ini, kita bisa menarik sebuah kesimpulan sederhana. Ternyata, ketaatan terkait erat dengan keaktifan mendengar. Seseorang bisa patuh jika ia memperhatikan perintah yang diberikan kepadanya. Ketaatan pertama kali muncul dari telinga yang terarah kepada si pemberi perintah.

Nas bacaan kita hari ini mengatakan bahwa Musa sudah selesai membangun Kemah Pertemuan (32). Ada banyak ornamen pelengkap dari Kemah itu (33-41). Itu semua terbuat dari berbagai jenis bahan baku, mulai dari emas, perak, dan tembaga.

Setelah pekerjaan itu rampung, Musa terlihat puas. Alkitab mencatat bahwa ia mengerjakan semua tepat seperti perintah Allah (42). Bahkan, Alkitab mengulang pernyataan ini dua kali pada ayat 43. Kemudian, nas ini ditutup dengan Musa memberkati bangsa Israel.

Presisi (ketepatan) menjadi kata kunci dalam menilai ketaatan. Musa taat dan teliti mengerjakan tugasnya. Setiap detail ukuran dan bentuk dari Kemah Pertemuan itu dikerjakannya persis seperti kemauan Tuhan.

Apa rahasia ketaatan Musa? Ketaatan itu bermula dari pendengarannya yang cermat pada suara Allah. Tanpa mendengar firman Allah terlebih dahulu, Musa pasti tidak tahu apa keinginan-Nya.

Kita hidup di era di mana kerja diglorifikasi secara berlebihan. Keadaan ini membentuk kesadaran kita seolah kerja adalah segalanya. Akibatnya, kita lupa pada satu fase penting sebelum badai kesibukan kerja melanda. Apa itu? Kita kerap lalai untuk mendengar firman Allah tentang apa yang harus dikerjakan. Padahal, tanpa tahu isi hati-Nya, semua pekerjaan kita adalah kesia-siaan belaka.

Doa: Tuhan, ajar kami agar mendengar firman-Mu dahulu sebelum bekerja. [RP]




June 11, 2019, 07:36:28 AM
Reply #1926
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

Saya Adalah Orang Berutang
Posted on Senin, 10 Juni, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Roma 1

Judul “Saya Adalah Orang Berutang” diambil dari judul buku otobiografi T.B. Simatupang. Salah satu kalimat yang menjadi prinsip hidupnya adalah, “Segala sesuatu adalah milik kita, tetapi pada akhirnya semua yang kita miliki adalah milik Tuhan. Sehingga, dalam cara yang kita memiliki segala sesuatu itu, kita membayar utang kita dengan melayani sesama kita dan dengan itu kita memuliakan nama Tuhan”. Dia benar-benar “membayar utang”-nya dengan setia berkarya dan melayani, baik saat masih aktif di militer, saat di pemerintahan, maupun saat di organisasi Kristen. Ia menjadi berkat bagi komunitasnya.

Paulus pun merasa berhutang, yaitu berhutang Injil, karena Kristus telah mengorbankan hidup-Nya untuk membayar dosanya dan membebaskannya dari penghakiman dan maut. Ada dua alasan mengapa utang Injil harus dibayar:

Pertama, perasaan berhutang kepada Kristus membuat ia merasa berhutang pada semua orang berdosa. Ia menulis, “Aku berhutang baik kepada orang Yunani, maupun kepada orang bukan Yunani, baik kepada orang terpelajar, maupun kepada orang tidak terpelajar” (1:14). Karena orang-orang yang Paulus sebutkan di atas sebenarnya tidak berkorban—apalagi mati—baginya, Paulus tidak wajib membayar utang kepada mereka. Akan tetapi, karena Kristus mengasihi dan mati bagi mereka juga, Paulus yang telah menerima kasih Kristus harus mengasihi mereka. Sebagai seorang rasul, Paulus harus memberitakan Injil kepada mereka (1:1).

Kedua, Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang percaya (1:16). Di satu sisi, Injil adalah Kabar Baik tentang perbuatan Allah untuk menyelamatkan orang yang percaya. Di sisi lain, Kabar Baik itu mengandung kekuatan Ilahi, sehingga setiap orang yang mendengar serta percaya kepada Injil, hidupnya akan berubah, dan orang itu akan diselamatkan karena imannya kepada Kristus.

Dunia, tempat Allah memanggil kita dan mempercayakan Injil-Nya, adalah dunia yang melawan Allah. Manusia memberontak dan menggantikan Allah dengan hal-hal semu (1:18-23), hidup dalam keinginan hati mereka yang tanpa Allah (1;24-25), hawa nafsu (1:26-27), pikiran-pikiran terkutuk (1:28-29), dan secara aktif mempromosikan kebejatan mereka kepada orang banyak (1:30-32). Ada kemendesakkan dalam memberitakan Injil dalam dunia yang seperti itu. Kita adalah orang yang berhutang Injil. Oleh karena itu, beritakanlah Injil kepada dunia. [Souw]




June 12, 2019, 07:49:46 AM
Reply #1927
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Mesias bagi Kaum Marginal
Posted on Selasa, 11 Juni, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 7:11-17

Media, dalam era kapitalisme ini, selalu mempropagandakan budaya konsumerisme dan terus menyuntikkan kesadaran palsu bahwa hasrat adalah kebutuhan. Akibatnya, kebanyakan kita menjalani hidup hanya untuk memuaskan nafsu. Kita menjadi egois dan tidak lagi peduli pada penderitaan orang lain. Apakah ini kehidupan yang sejati?

Injil Lukas ditulis ketika Romawi berkuasa. Struktur sosial kala itu sangat timpang. Ada orang-orang berkedudukan baik dan hidup berlimpah. Akan tetapi, ada juga rakyat jelata yang dipinggirkan dari realita sosial seperti para janda.

Pada zaman itu, menjadi janda adalah petaka. Status tersebut akan mendatangkan kesulitan bagi perempuan dalam menjalani hidupnya. Ia akan kesulitan mencari nafkah karena laki-laki yang berkewajiban menafkahi keluarga. Situasi demikianlah yang dihadapi si janda dalam nas ini.

Nasibnya kian nahas kala ia harus kehilangan anak laki- laki tunggalnya (11). Janda ini tenggelam dalam kesedihan, sampai-sampai ia tidak meminta pertolongan kepada Yesus. Bahkan, ia tidak menyadari kehadiran-Nya (12).

Melihat itu, Yesus pun tergerak oleh belas kasihan. Ia pun menghibur perempuan malang itu dan membangkitkan putranya dari kematian (13).

Dari kisah ini, kita melihat bahwa Yesus sangat memperhatikan orang-orang marginal. Dahulu, gereja mula- mula pun menghidupi semangat ini. Mereka meneladani sikap Yesus untuk melayani orang- orang tersisih.

Dalam era kapitalisme kini, mengikut Yesus bukanlah tugas mudah. Tren gaya hidup konsumtif menyeret kita untuk berfokus memuaskan hasrat semata. Akibatnya, kita lupa peduli kepada orang-orang marginal. Nas ini mengingatkan kita tentang perhatian Yesus dan gereja mula-mula terhadap orang-orang marginal. Sekalipun si janda tidak meminta tolong, namun Yesus memedulikannya. Bagaimanakah realitas gereja hari-hari ini? Apakah kita masih menaruh belas kasihan kepada mereka yang tertindas? Apakah kita masih meneladani Yesus yang penuh belas kasihan?

Doa: Tuhan, ajar kami mengasihi secara nyata. [JN]







Allah Tidak Memandang Bulu
Posted on Selasa, 11 Juni, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Roma 2

Kita sering mendengar ucapan seseorang yang mengatakan: “Hakim itu manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan dan dosa. Dalam kelemahannya, akhirnya ia menerima suap”. Hakim yang seharusnya berbuat adil akhirnya membalikkan fakta keadilan. Yang benar jadi salah dan yang salah jadi benar karena hakim menerima suap. Tentu tidak semua hakim menyimpang seperti itu. Namun, jangan menyamakan Allah dengan manusia. Dalam menghakimi, Allah mempunyai standar penghakiman yang adil.

Standar apa yang dipakai Allah untuk menghakimi manusia berdosa? Sebenarnya, standar penghakiman Allah itu hanya satu dan bersifat universal. Akan tetapi, dalam uraian di Roma 2, Rasul Paulus sengaja membuat pembedaan antara orang Yahudi dan non-Yahudi. Orang non-Yahudi yang berdosa tanpa mengenal hukum Taurat akan dihakimi tanpa hukum Taurat. Standar penghakiman Allah bagi mereka adalah pertimbangan hati nurani dan respons melalui agama atau kepercayaan.

Penghakiman Allah kepada mereka berdasarkan penyataan Ilahi yang mereka ketahui dan pahami. Suara hati dan perbuatan mereka menunjukkan iman mereka. Atas dasar itulah mereka dihakimi (2:5-10). Wahyu umum menjadi standar penghakiman Allah bagi mereka yang berada di luar hukum Taurat. Bagi orang Yahudi yang mengenal hukum Taurat, ketika mereka berdosa, mereka akan dihakimi berdasarkan hukum Taurat. Hukum Taurat merupakan wahyu khusus karena hokum Taurat diwahyukan Allah secara langsung kepada umat pilihan-Nya, Israel. Oleh karena itu, ketika mereka berdosa sehingga melanggar kekudusan Allah, mereka dihukum dengan standar yang telah mereka ketahui. Dengan demikian, tiap-tiap orang akan dihakimi secara adil. Dalam menghakimi, Allah tidak pandang bulu atau pilih kasih (2:11).

Sebagai orang percaya, suara hati kita akan memberontak saat kita berbuat dosa. Selain memiliki hati nurani sebagai pertimbangan baik dan buruk, kita juga memiliki Firman Tuhan yang mengoreksi segala dosa dan kesalahan kita. Kita harus mempunyai kepekaan yang dalam saat ditegur oleh firman-Nya, dan kita harus segera bertobat. Jangan menganggap sepi kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya, dan kelapangan hati-Nya (2:4). Jangan berbuat dosa lagi supaya kita tidak dihukum, sebab Allah tidak memandang bulu (Ulangan 10:17). [Souw]




June 13, 2019, 04:18:45 PM
Reply #1928
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Cara Hidup yang Berbeda
Posted on Rabu, 12 Juni, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. http://www.su-indonesia.org  –

Baca: Keluaran 39:1-31

Pernahkah Anda disindir sinis karena menjaga kesucian hidup? ”Ah, kamu sok suci!” begitu biasanya kata si penyindir. Sebagai orang Kristen, Allah memang menuntut agar kualitas hidup kita berbeda. Rasul Paulus suatu kali pernah mengingatkan agar kita jangan seperti dunia (Rm. 12:1-2). Lalu, apa hubungannya dengan pakaian para imam?

Sepanjang Alkitab, Allah hanya mengatur pakaian para imam. Dalam nas ini, kita melihat betapa detail baju itu diatur. Coraknya, bahannya, penutup dada, dan sebagainya ditentukan dengan teliti.

Apa maksud ini semua? Ini menunjukkan bahwa imam memiliki predikat dan tanggung jawab yang berbeda dari yang lain. Mereka bukan kelas masyarakat sembarangan. Hal ini tentu bisa kita terima dengan mudah jika melihat tugas mereka. Mereka adalah jembatan dalam relasi antara Allah yang kudus dan umat. Nyawa para menjadi taruhan ketika mereka menjalankan kewajiban ini.

Dalam Perjanjian Baru, setiap orang percaya adalah kaum imamat (1Ptr. 2:9). Sekarang, Gereja adalah jembatan antara Kristus dan dunia. Oleh karena itu, kita pun dituntut untuk mengenakan “pakaian” yang berbeda. Pakaian itu adalah kehidupan kita sebagai kitab yang terbuka (2Kor. 3:2). Cara hidup kita wajib berbeda dari dunia. Kita harus membawa terang Kristus dalam pergaulan, menjalankan profesi, dan semua aspek kehidupan lain.

Jadi, jika kita, sebagai umat Allah, pernah disindir karena kualitas hidup yang berbeda, janganlah bersedih. Sebaliknya, berbanggalah karena cara hidup kita sudah berbeda dengan dunia. Dengan menjalani hidup dengan cara Yesus, kita sedang mengajak dunia agar datang kepada Yesus. Kita sedang menjalankan peran sebagai imam.

Tugas ini memang sulit. Sukar rasanya mempertahankan kekudusan ketika lingkungan menganggap dosa adalah hal yang biasa. Nas hari ini semoga memberi kita kekuatan untuk mempertahankan hidup kudus walau dengan cucuran air mata.

Doa: Tuhan, beri kami kekuatan agar tetap menjaga kekudusan hidup. [RP]




June 14, 2019, 01:50:43 PM
Reply #1929
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Konsisten
Posted on Kamis, 13 Juni, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Keluaran 40:1-33

Ketika Yesus disalib, Ia pernah berkata, ”Sudah selesai.” (Yoh. 19:30). Bahasa Yunaninya adalah, ”Tetelestai.” Kata ini berakar dari ”telos” atau ”tello” yang berarti tujuan. Ketika Yesus mengucapkan kata ini, Ia sadar bahwa tugas-Nya sudah selesai. Tujuan yang ditetapkan Bapa sudah digenapi-Nya lewat peristiwa penyaliban. Ini menjadikan Ia berkenan di hadapan Bapa.

Allah pasti berkenan pada setiap orang yang mampu menyelesaikan tugas dari-Nya, termasuk Musa. Ia berhasil menyelesaikan tugas yang diembankan kepadanya. Musa sukses mengusahakan pembangunan Kemah Suci (33). Ia melaksanakan pekerjaan itu hingga tujuan Allah pun terpenuhi, yaitu membangun rumah bagi-Nya. Apalagi, Musa menjalankan perintah-Nya tanpa cacat sedikit pun.

Lewat Yesus dan Musa, kita belajar tentang konsistensi dalam mengerjakan panggilan. Ini bukan usaha mudah. Selain kesetiaan, seorang yang konsisten membutuhkan kekuatan iman agar tetap berdiri kokoh. Konsistensi membutuhkan kejernihan dalam melihat visi. Mental harus sekuat baja untuk menghadapi segala aral melintang.

Jika melihat segala syarat ini, rasa-rasanya kita mustahil dapat menjadi pribadi yang konsisten. Tantangannya terlalu banyak, bahkan seperti melampaui kekuatan kita sendiri. Namun, syukur kepada Allah, Ia tidak pernah membiarkan umat-Nya sendiri. Musa, misalnya, selalu ditemani Allah dalam mengerjakan panggilannya. Allah selalu menolong lewat firman-Nya dan menyediakan segala kebutuhannya. Artinya, jika kita bisa konsisten, itu pun karena pertolongan Allah semata. Semua adalah anugerah-Nya.

Tantangan untuk memenuhi panggilan dari hari ke hari kian berat. Faktor sosial, ekonomi, bahkan politik kadang memengaruhi konsistensi kita. Namun, kiranya hal ini tidak membuat kita luntur dan mundur dari panggilan. Sebaliknya, kita harus semakin giat mengerjakan panggilan-Nya serta memohon anugerah Allah senantiasa dilimpahkan.

Doa: Tuhan, tolong kami agar tetap konsisten dalam mengerjakan panggilan-Mu. [RP]







Abraham & Daud: Contoh Teladan Iman
Posted on Kamis, 13 Juni, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Roma 4

Adalah fakta bahwa menasihati dan mengajari orang jauh lebih mudah dibandingkan dengan menjadi teladan. Ketika kita menasihati orang lain, kita hanya membagikan nilai-nilai kebenaran melalui perkataan saja, sedangkan bila kita hendak menjadi teladan, kita secara langsung menjadi sang pelaku. Hal yang sama berlaku juga dalam kehidupan rohani. Lebih mudah mendorong orang lain untuk menjalankan disiplin rohani dibandingkan dengan memberi contoh bahwa kita sedang menjalankan apa yang kita katakan.

Roma pasal 4 menjelaskan bahwa Abraham dan Daud merupakan model bagi iman kita. Rasul Paulus memberikan beberapa argumen untuk menjelaskan bahwa Abraham dan Daud patut untuk diteladani.

Pertama, teladan iman Abraham. Abraham adalah bapa leluhur orang Yahudi yang sangat dihormati (4:1). Ia dibenarkan oleh Allah karena imannya, bukan karena perbuatannya (4:2-5, bandingkan dengan Kejadian 15:6). Pembenaran itu diberikan sebelum ia disunat (4:9-10). Responsnya terhadap janji Allah tentang banyaknya keturunan yang berasal dari dirinya, ditanggapi dengan beriman sepenuhnya kepada Allah. Ia percaya terhadap janji bahwa Allah akan mewujudkan janji-Nya untuk memberikan keturunan, sekalipun mereka berdua—Abraham dan Sara—telah lanjut usia, dan Sara mandul (4:20-22).

Kedua, teladan iman Daud. Sebagaimana Abraham, Daud pun dibenarkan karena imannya, bukan karena perbuatannya. Daud menyebut orang yang dibenarkan oleh Allah bukan berdasarkan perbuatannya sebagai orang yang berbahagia. Daud pernah jatuh dalam dosa, namun dia bersedia mengakui dosa-dosanya di hadapan Allah. Ia sadar bahwa hanya Allah saja yang dapat mengampuni dosa-dosanya (4:6-8).

Kedua tokoh Alkitab di atas telah mewariskan teladan bagi hidup bagi kita, yang mengajarkan bahwa kita bisa memperoleh pembenaran berdasarkan kasih karunia Allah, bukan dengan mengandalkan kekuatan diri sendiri. Walaupun memiliki kepercayaan diri itu tidak salah, kita harus menyadari bahwa kepercayaan terhadap diri sendiri bukanlah jaminan bahwa segala sesuatu yang kita inginkan pasti akan terwujud. Tempatkanlah iman Anda pada Allah yang berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan, bukan pada kekuatan diri atau kepercayaan terhadap diri sendiri. [Souw]



 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)