Author Topic: Saat Teduh  (Read 62910 times)

0 Members and 3 Guests are viewing this topic.

June 15, 2019, 06:19:21 AM
Reply #1930
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Tindakan Kasih Terbesar
Posted on Jumat, 14 Juni, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Roma 5

Kasih Allah diberikan kepada kita bukan karena kita layak untuk menerima kasih itu. Kita dikasihi bukan karena kita telah berbuat baik, hidup saleh dan mengasihi Allah. Tidak ada sesuatu dalam diri kita yang dapat menggerakkan hati Allah untuk mengasihi kita. Allah mengasihi kita hanya karena inisiatif, kemauan, dan kehendak-Nya sendiri.Oleh karena itu, kasih Allah merupakan anugerah atau kasih karunia.

Ajaran tentang kasih karunia di atas didasari oleh tiga perkataan dalam Roma pasal 5, yaitu “ketika kita masih lemah” (5:6), “ketika kita masih berdosa” (5:8) dan “ketika kita masih seteru” (5:10). Tiga ayat tersebut menunjukkan bahwa kasih Allah diberikan kepada kita bukan karena kita layak untuk dikasihi. Tindakan kasih Allah yang terbesar itu ditunjukkan melalui beberapa bukti:

Pertama, kasih Allah membuat Allah memberi segala-galanya bagi kita. Kasih Allah diwujudkan melalui kematian Kristus. Kematian Kristus menunjukkan bahwa kasih Allah adalah kasih yang memberi tanpa menyisakan apa pun bagi diri-Nya sendiri.

Kedua, kasih Allah melepaskan kita dari murka Allah. Kematian Kristus merupakan keharusan untuk bisa mendatangkan pembenaran, keselamatan, dan pendamaian antara manusia dengan Allah (5:9, 10). Dosa manusia membangkitkan murka Allah, sehingga kita seharusnya dihukum mati. Akan tetapi, pengorbanan Kristus membalikkan keadaan.

Ketika kita beriman kepada Allah, murka Allah yang menyala-nyala itu ditimpakan kepada Kristus. Kematian Kristus meredakan murka Allah. Kristus menjadi korban pengganti yang membuat kita bisa berdamai dengan Allah. Ketiga, kasih Allah membuat kita menjadi milik Allah dan Allah menjadi milik kita. Hubungan antara kita dengan Allah bukan lagi hubungan antara orang berdosa dengan Allah yang murka, tetapi hubungan antara anak-anak Allah dengan Bapa Sorgawi.

Seseorang yang telah mengalami kasih Allah tidak akan bisa menemukan kepuasan dalam diri siapa pun dan dalam hal apa pun selain di dalam Kristus. Kasih Kristus yang sangat luar biasa membuat kita tidak akan berhenti melangkah maju, sampai kita bersama-sama dengan Kristus di sorga kelak. Alamilah terus kepuasan di dalam Kristus! Jagalah relasi dengan Allah melalui disiplin rohani berupa saat teduh pribadi, doa, membaca Firman Tuhan, beribadah, memberi persembahan, melayani, dan disiplin rohani yang lain. [Souw]




June 16, 2019, 04:54:50 AM
Reply #1931
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Hidup bagi Allah
Posted on Sabtu, 15 Juni, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Roma 6

Lebah adalah binatang yang unik. Dia menghasilkan madu yang manis di dalam sarangnya. Ternyata bahwa lebah mempunyai kekuatan, tetapi kekuatan itu sekaligus juga merupakan kelemahannya. Kekuatan lebah ada pada sengatnya yang ditakuti oleh manusia. Akan tetapi, setelah menyengat, ternyata sengatnya akan terlepas, dan tidak lama kemudian, lebah itu akan mati. Agar tetap hidup, lebah harus menjaga diri agar tidak mengeluarkan sengatnya. Hidup kita ibarat lebah. Bila kita mau tetap hidup bagi Allah, kita harus tetap tinggal di dalam Kristus, agar kita dapat tetap menghasilkan madu yang manis atau buah yang baik. Bila kita membiarkan dosa menguasai kita, sengat dosa akan membuat kita lemas dan mati secara rohani.

Melalui pasal ini, Rasul Paulus mendorong jemaat di kota Roma agar terus hidup bagi Allah. Untuk bisa hidup bagi Allah, ada dua syarat yang harus dipenuhi.

Pertama, mereka harus menyalibkan dosa. Artinya, mereka tidak boleh membiarkan dosa menguasai hidup mereka. Mereka tidak boleh menghambakan diri kepada dosa (6:6). Dengan sepenuh hati, mereka harus mematikan segala sesuatu yang menyakiti hati Allah, sehingga mereka tidak lagi menjadi hamba dosa.

Kedua, mereka harus menyerahkan seluruh anggota tubuh dan hidup mereka untuk dipakai Allah menjadi senjata kebenaran, bukan senjata kelaliman (6:12-14). Artinya, mereka harus berhenti menyerahkan anggota-anggota tubuh mereka kepada dosa. Sebaliknya, mereka harus memuliakan Allah dengan cara memakai anggota tubuh mereka untuk melakukan kebaikan, sehingga mereka menjadi berkat bagi sesama. Gaya hidup seperti inilah yang Kristus wariskan bagi orang percaya.

Sebagai anak-anak Allah, panggilan hidup kita adalah untuk menyenangkan hati Tuhan dan menjadi berkat bagi orang lain. Gunakanlah tangan Anda untuk menopang orang yang lemah. Bukalah mata dan telinga Anda untuk melihat dan mendengar kebutuhan di sekitar Anda. Bukalah mulut Anda untuk mendoakan dan memberkati, bukan mengutuk. Langkahkan kaki Anda untuk berjalan memberitakan kabar baik bagi mereka yang belum pernah mendengar berita Injil. Panjatkanlah doa kepada Tuhan, bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga untuk kepentingan orang lain. Dengan berbuat seperti itu, berarti bahwa kita telah bergaya hidup seperti Kristus. [Souw]



June 17, 2019, 05:36:32 AM
Reply #1932
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Pertempuran dalam Batin
Posted on Minggu, 16 Juni, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Roma 7

Roma pasal 7:13-26 merupakan sumber perdebatan teologis. Ada orang yang berpendapat bahwa yang dibicarakan menyangkut kondisi penulis sebelum percaya kepada Kristus, tetapi ada pula orang yang berkeyakinan bahwa yang dibicarakan adalah menyangkut kondisi penulis sesudah percaya kepada Kristus. Menurut Anda, pendapat manakah yang benar?

Ada tiga alasan yang menunjukkan bahwa pendapat kedua—yaitu bahwa penulis sudah percaya kepada Kristus—merupakan pendapat yang benar:

Pertama, secara terbuka dan jujur, penulis menceritakan pergumulan imannya. Dia tidak membicarakan kesalehan hidupnya dengan gambaran yang muluk-muluk. Hati dan kehendak penulis seperti terbagi dua, sehingga dia seperti manusia dengan dua natur (sifat bawaan), yaitu natur yang menyukai hukum-hukum Allah dan natur yang melawan hukum-hukum Allah. Apakah penyebab pergumulan seperti itu? Jelas bahwa penyebab pergumulan itu adalah dosa yang diam di dalam dirinya (7:20). Pengalaman seperti ini amat berbeda dengan pengalaman orang yang bisa berbuat dosa dengan tenang (menikmati dosa).

Kedua, saat menulis surat Roma, sang penulis—yaitu Rasul Paulus—sudah mengikut Tuhan Yesus selama kurang lebih 22 tahun. Ia bukan orang Kristen baru dan ia telah dipakai Tuhan dalam pemberitaan Injil. Ketika ia berkata: “Aku, manusia celaka” (7:24), dia membicarakan tentang pergumulan yang dialami umat Tuhan. Dalam dirinya ada musuh yang tidak mau takluk kepada kebenaran. Musuh dalam jiwanya selalu siap melawan segala usaha yang dia lakukan untuk berbuat kebajikan.

Ketiga, Rasul Paulus menyadari bahwa pergumulan yang dialami umat Tuhan itu tidak bisa diselesaikan hanya dengan melakukan perbuatan tertentu, sehingga dia bertanya, “Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” (7:24). Dia sendiri lalu menjawab, “Syukur kepada Allah! Oleh Yesus Kristus, Tuhan kita” (7:25). Jawaban ini jelas menunjukkan bahwa Tuhan Yesuslah yang bisa menolong dirinya.

Kita semua juga menghadapi peperangan batin yang sama dengan yang dihadapi oleh Rasul Paulus. Apakah kita ingin menang dalam peperangan batin ini? Bersandarlah kepada Tuhan Yesus,! Dia pasti akan menolong kita, sehingga kita akan bisa menang dalam konflik batin yang kita hadapi ini. [Souw]





June 18, 2019, 05:24:32 AM
Reply #1933
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Hidup Berdasarkan Pimpinan ROH KUDUS
Posted on Senin, 17 Juni, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Roma 8

Hukum gravitasi adalah hukum yang mengajarkan bahwa semua benda yang dilemparkan ke atas akan turun ke bumi. Hukum itu berlaku secara universal (di mana saja), asal masih di lingkungan bumi. Akan tetapi, ada hukum lain yang melampaui hukum gravitasi, yaitu hukum aerodinamika. Hukum ini membuat benda yang sangat berat—seperti pesawat terbang—mampu mengatasi hukum gravitasi, sehingga pesawat itu tetap terbang, tidak jatuh ke bumi.

Sebagaimana hukum aerodinamika mengalahkan hukum gravitasi, demikian pula hukum Roh mengatasi hukum dosa (Berdasarkan bahasa asli Alkitab, seharusnya kata “Roh” dalam 8:2 lebih tepat bila diterjemahkan menjadi “Hukum Roh”). Orang yang percaya kepada Kristus akan hidup dan tidak akan mati secara rohani oleh karena ROH KUDUS. Memberikan hidup. Di sini, Rasul Paulus membahas mengenai keadaan baru dari kehidupan orang-orang percaya yang hidupnya dipimpin oleh ROH KUDUS. Orang percaya yang memberi diri untuk dipimpin ROH KUDUS akan memikirkan keinginan Roh, bukan keinginan daging (8:5). Selanjutnya, orang percaya yang hidup menurut pimpinan ROH KUDUS akan hidup dalam damai sejahtera (8:6), dan hidupnya akan berkenan kepada Allah (bandingkan dengan 8:8). Saat kita diselamatkan oleh Kristus, kita bukan hanya mendapatkan pengampunan atas dosa-dosa kita saja, tetapi kita juga mendapatkan kuasa untuk mengatasi dosa. Kita yang berada di dalam Kristus telah dilepaskan dan dibebaskan dari kuasa dosa. Dosa tidak lagi menjadi tuan yang mengontrol kita. Walaupun dosa masih bisa menjatuhkan, menggoda, dan mencengkeram kita bila kita lengah, tetapi dosa bukan lagi menjadi tuan yang harus ditaati.

ROH KUDUS diberikan kepada kita karena kita lemah dan terbatas. Saat kita merasa kesepian, merasa paling terhina, merasa paling susah, atau merasa paling terbuang, kehadiran ROH KUDUS akan menguatkan, menolong, mendampingi, dan menghibur kita. Anugerah semacam ini sangat luar biasa! Ingatlah selalu bahwa manusia yang hina, terbatas, dan lemah ini didampingi oleh Roh Allah yang Mahadahsyat. Renungkanlah betapa dahsyatnya kuasa yang tersedia bagi kita agar kita bisa mengatasi dosa. Kehadiran ROH KUDUS dalam hidup kita menjamin dan memungkinkan kita untuk bisa mengalahkan dosa. Bersyukurlah untuk pendampingan ROH KUDUS ini! [Souw]




June 19, 2019, 05:50:07 AM
Reply #1934
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Dunia Tanpa Diskriminasi
Posted on Selasa, 18 Juni, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 8:1-3

Alkitab sering dituduh mendukung budaya patriarki, yaitu sebuah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama. Apakah anggapan ini bisa diterima? Apakah memang perempuan tidak mendapatkan tempat di dalam Alkitab?

Budaya patriarki juga merupakan konteks pelayanan Yesus. Tampaknya, Injil Lukas ingin menampik tuduhan di atas dengan memberi gambaran lain tentang relasi antara Yesus dan perempuan. Lukas memaparkan peran perempuan dalam pelayanan Yesus lebih banyak daripada tiga Injil lainnya. Misalnya, Lukas mencatat kisah kelahiran Yesus melalui seorang perempuan muda, yaitu Maria (Luk. 1:30-31).

Pada nas ini, Lukas kembali memperlihatkan bagaimana peran perempuan mendukung pelayanan Yesus, seperti Maria Magdalena, Yohana, Susana, dan banyak lagi yang tidak disebutkan namanya (2-3). Mereka berasal dari berbagai lapisan sosial. Yohana adalah istri dari bendahara Herodes. Ada juga perempuan yang pernah terusir dan terbuang dari masyarakat karena pernah dirasuki setan.

Nas ini mau menegaskan bahwa Injil adalah kabar baik bagi semua orang. Tidak peduli lapisan dan latar belakang sosial, Injil tetap akan memancarkan sukacitanya untuk merangkul setiap orang.

Dalam konteks kita sekarang, diskriminasi tampak menjadi pemandangan biasa. Misalnya, seseorang dihakimi karena pilihan politiknya atau hak seseorang dibatasi karena agama yang dianutnya. Fakta ini menunjukkan bahwa kita sudah terkoyak dan tak lagi menghargai nilai kemanusiaan. Apalagi kalau mengingat kapitalisme telah membelah kita berdasarkan kepemilikan modal dan uang, ketidakadilan kian terasa. Di tengah gambaran dunia inilah teladan Yesus kian relevan. Ia merangkul semua orang untuk bergembira bersama Allah. Dalam pemerintahan-Nya, semua orang akan merdeka dan setara dalam sebuah ikatan persaudaraan.

Doa: Tuhan, pakai kami menebas segala bentuk diskriminasi dengan pedang Injil- Mu sehingga dunia tahu bahwa Engkau mengasihinya.[JN]







Anugerah dan Dosa
Posted on Selasa, 18 Juni, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 7:36-50

Orang percaya adalah orang-orang yang mendapatkan anugerah pengampunan Kristus. Persoalannya, apakah kita sudah merespons anugerah ini dengan benar?

Yesus memuji perbuatan perempuan berdosa yang mempraktikkan kesalehan ”keramahtamahan” (45-46). Pemicu adegan ini adalah soal basuh-membasuh kaki tamu. Simon menjamu Yesus, tetapi tidak menyediakan air untuk membasuh kaki-Nya (44). Sampai akhirnya, seorang perempuan datang dan membasahi kaki Yesus dengan air matanya. Ia menyeka dengan rambutnya, mencium, dan meminyakinya dengan minyak wangi (38). Tindakan ini tentu tidak lazim dan ekstrem, sekalipun dalam budaya yang menghargai keramahtamahan. Lalu, mengapa Lukas perlu mencatat ini?

Lukas ingin mengontraskan sikap orang Farisi dan perempuan berdosa dalam merespons anugerah Allah. Orang Farisi merasa diri lebih baik dibandingkan perempuan ini (41-47). Sikap tersebut membuat mereka merasa tidak membutuhkan pengampunan.

Perempuan ini sebaliknya. Ia menyadari bahwa dosa- dosanya sangat besar sehingga membutuhkan pengampunan yang besar pula. Ketika menerima pengampunan itu, ia dapat merasakan anugerah Allah sungguh besar (47).

Gereja dan orang percaya seharusnya meneladani perempuan ini yang tetap bersikap rendah hati untuk terus melihat diri sebagai pendosa. Dengan begitu, kita terus dahaga untuk memohon pengampunan Allah yang besar.

Masalahnya, terkadang kita sudah puas karena membandingkan diri dengan orang lain. Kita menjadi tenang karena melihat kehidupan orang lain jauh lebih buruk dari diri sendiri. Padahal, ciri gereja/orang percaya seharusnya seperti perempuan berdosa yang menyadari keberdosaannya dan memerlukan anugerah Allah. Anugerah Allah akan menyadarkan betapa kita adalah manusia berdosa dan memerlukan pengampunan..

Doa: Tuhan, ajar kami menyadari dosa-dosa kami, sehingga dapat melihat anugerah-Mu. [JN]




June 19, 2019, 05:51:11 AM
Reply #1935
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16



Penolakan
Posted on Selasa, 18 Juni, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 7:18-35

Media sosial berdampak pada gaya hidup kita. Survei membuktikan, ada jutaan video dan swafoto diunggah ke internet per menit. Ini menunjukkan gejala apa? Tampaknya, internet berhasil membuat kita berkecenderungan berlomba-lomba untuk ingin dilihat, diterima, dan diakui keberadaannya. Hasrat ini dapat menyulitkan kita untuk memahami Yesus sebagai Mesias yang tertolak. Mengapa demikian?

Nas ini dimulai dari pertanyaan Yohanes Pembaptis tentang kemesiasan Yesus (18- 19). Di hadapan murid Yohanes, Yesus membenarkan bahwa Ia adalah Mesias (22). Pernyataan ini diikuti oleh pernyataan yang tak kalah pentingnya. Yesus mengatakan bahwa Yohanes adalah nabi besar. Akan tetapi, Yesus melanjutkan, orang yang percaya kepada-Nya jauh lebih besar daripada Yohanes (28). Besar berarti orang yang memiliki kuasa, pangkat, kemuliaan, keunggulan, dan nama.

Namun, Yesus juga memaparkan realitas utusan Allah yang tertolak pada zaman itu (30). Mereka menolak Yohanes yang tidak makan roti dan tidak minum anggur (33). Gaya hidup seperti ini kita kenal dengan istilah asketisme. Pada saat yang sama, mereka pun menolak Yesus yang makan dan minum anggur (34) bersama orang berdosa. Akan tetapi, sekalipun ditolak, orang- orang percaya adalah orang- orang besar. Yesus bahkan mengatakan bahwa mereka lebih besar dari Yohanes Pembaptis.

Firman Tuhan ini menunjukkan bahwa kita adalah orang besar. Bukan karena kita hebat, melainkan karena kepercayaan kepada Yesus Kristus. Namun di sisi lain, Alkitab pun mengatakan dunia akan menolak kita, seperti menolak Yesus. Peringatan ini bisa menjadi sumber kekuatan bagi kita agar tak usah terkejut lagi kalau ditolak karena bersaksi tentang Yesus. Jauh sebelum kita, para utusan Allah pun sudah mengalaminya terlebih dahulu. Bahkan, Yesus sendiri pun mengalami.

Doa: Tuhan, tolong kuatkan, hiburkan, dan teguhkan hati kami jika kami mengalami penolakan karena bersaksi tentang-Mu. [JN]







Kerinduan Yang Mendalam
Posted on Selasa, 18 Juni, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Roma 9:1-29

Rasul Paulus dipakai Tuhan untuk memberitakan Injil di kalangan bangsa non-Yahudi. Sekalipun demikian, ia memiliki kerinduan agar bangsanya dapat percaya kepada Kristus, sehingga mereka beroleh keselamatan. Oleh karena itu, ke mana pun ia pergi memberitakan Injil, ia selalu mencari tempat ibadah orang Yahudi agar dapat melayani di sana. Ia sadar bahwa bangsa Yahudi telah ditetapkan Allah untuk menjadi bangsa pilihan yang mewarisi perjanjian Allah. Mereka diberi hak istimewa untuk menjadi saksi Allah agar bangsa-bangsa lain memperoleh berkat dan percaya kepada Allah. Sayangnya, meskipun mendapat banyak keistimewaan, mereka tidak menghargai anugerah Allah yang terbesar: Mereka menolak, bahkan menyalibkan Tuhan Yesus.

Bacaan Alkitab hari ini memaparkan kesedihan hati Rasul Paulus atas kedegilan hati bangsa Yahudi. Dia memiliki kerinduan yang amat mendalam untuk memenangkan sebanyak mungkin orang Yahudi, bahkan ia rela terkutuk dan terpisah dari Kristus untuk keselamatan mereka (9:1-3). Ia rela berkorban apa saja bila hal itu dapat menyelamatkan mereka. Dalam Perjanjian Lama, kerinduan seperti ini mirip dengan kerinduan Musa yang rela binasa demi keselamatan bangsa Israel (Keluaran 32:31-32). Mengapa Rasul Paulus rela berkorban sedemikian rupa bagi keselamatan mereka? Ia rela berkorban karena ia menyayangi bangsa Israel yang telah mendapat banyak hak istimewa dari Allah. Melalui merekalah, Sang Mesias dilahirkan (9:4-5). Sangat disayangkan bahwa mereka justru malah menolak Sang Mesias itu. Mereka sombong dan malah menyalibkan Yesus Kristus. Apakah penolakan Israel terhadap Yesus Kristus menunjukkan bahwa Allah telah salah menetapkan mereka sebagai bangsa pilihan? Tentu saja tidak! Sekalipun mereka gagal memenuhi kerinduan hati Allah, Allah tetap mengasihi mereka. Allah memilih bukan berdasarkan pertimbangan baik atau jahatnya mereka, melainkan berdasarkan belas kasihan-Nya.

Apakah Anda memiliki kerinduan yang mendalam—seperti Rasul Paulus—untuk menjangkau mereka yang terhilang? Pernahkah Anda mendoakan seseorang atau sekelompok orang yang ingin Anda jangkau dengan berita Injil? Selain mendoakan, apakah Anda juga rindu untuk memberitakan Injil? Tanamkanlah kerinduan itu dalam hati Anda karena setiap hari banyak orang yang akan binasa dalam dosa mereka! [Souw]







June 20, 2019, 07:33:58 AM
Reply #1936
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Keseimbangan Rohani!
Posted on Rabu, 19 Juni, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Roma 9:30-10:15

Sikap ekstrem adalah sikap yang diungkapkan melalui tindakan yang melebihi batas kewajaran. Apakah sikap seperti itu sehat? Tentu saja tidak! Segala sesuatu yang melebihi batas kewajaran—walaupun nampak baik—akan menjadi tidak baik, bahkan merugikan. Contohnya, memakan makanan bergizi sangat baik untuk kesehatan, jika kita makan dalam porsi yang wajar dan seimbang. Sebaliknya, jika porsi makan kita melebihi batas kewajaran, akan muncul obesitas yang memunculkan gangguan kesehatan.

Paulus menyinggung sikap ekstrem bangsa Israel serta bangsa-bangsa lain dalam hal hubungan mereka dengan Allah (9:30-33). Bangsa Israel sungguh-sungguh giat bagi Allah, tetapi mereka tidak memiliki pengertian yang benar (10:2). Sikap ekstrem bangsa Israel adalah mengejar hukum yang mendatangkan kebenaran, namun mereka tidak sampai kepada hukum itu karena mereka mengejar hukum bukan berdasarkan iman, tetapi berdasarkan perbuatan. Akibatnya, mereka tersandung pada batu sandungan yang mereka buat sendiri (9:31-32). Mereka terlalu bersungguh-sungguh melakukan syariat Taurat, tetapi mereka mengabaikan berita Injil. Bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah juga berlaku ekstrem. Mereka sungguh-sungguh giat untuk “Allah” (10:2). Mereka beribadah kepada ilah mereka (patung, pohon, gunung, dan sebagainya) serta mempersembahkan korban untuk menyenangkan hati “Allah” mereka, tetapi mereka melakukan semuanya itu tanpa pengertian yang benar (dalam hal menyembah Allah). Baik terhadap orang Israel maupun terhadap orang non-Israel, Rasul Paulus memberi komentar yang sama, yaitu “Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya.” (10:4). Melalui iman kepada Kristus, mereka akan dibenarkan oleh pengorbanan-Nya.

Perlu keseimbangan antara pelayanan di gereja dan keluarga. Di satu pihak kita harus melayani karena kita mengasihi Tuhan dan jemaat-Nya. Tuhan sudah memperlengkapi kita dengan karunia-karunia yang Dia berikan agar kita dapat melayani-Nya. Di pihak lain, kita harus memperhatikan keluarga, agar kita tidak menjadi batu sandungan bagi anggota keluarga yang belum percaya. Sudahkah kita mempunyai keseimbangan dalam hal ini? [Souw]



June 21, 2019, 05:20:44 AM
Reply #1937
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Tersungkur di hadapan-Nya
Posted on Kamis, 20 Juni, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 8:40-56

Pernahkah kita mengalami tahun-tahun tak mudah dalam hidup? Pergumulan sepertinya tak kunjung berakhir atau penyakit menahun begitu menyiksa? Apa yang kita pikirkan saat mengalaminya? Duduk dalam penyesalan tiada henti atau tersungkur di hadapan Tuhan memohon belas kasihan?

Hari itu Yairus, seorang kepala rumah ibadat, datang tersungkur kepada Yesus. Ia memohon agar Yesus sudi datang ke rumahnya dan bersedia menyembuhkan putrinya yang sedang sakit dan hampir mati (41-42).

Dalam perjalanan ke rumah Yairus, Yesus didesak- desak orang banyak. Ia seperti merasakan seseorang menjamah jumbai jubah-Nya. Yesus bertanya, ”Siapa yang menjamah Aku?”(45). Merasa perbuatannya telah diketahui, seorang perempuan, penderita pendarahan selama dua belas tahun, tersungkur dan gemetar di hadapan Yesus (47).

Ternyata, Yesus memuji perempuan ini atas tindakannya. Yesus berkata kepadanya, ”Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat.” (48). Perempuan itu pun disembuhkan dan diselamatkan Yesus, begitu pun anak Yairus juga disembuhkan-Nya (54-55).

Apa kesamaan respons dari Yairus dan wanita perempuan itu? Mereka datang memohon kepada Yesus dengan tersungkur di hadapan-Nya. Bagi mereka, Tuhan adalah satu-satunya pengharapan kesembuhan. Tersungkur merupakan tindakan sangat memohon. Yesus adalah harapan terakhir karena tak ada lagi yang sanggup menyembuhkan mereka selain kuasa dan kasih Tuhan semata.

Kapan terakhir kali kita tersungkur, baik untuk menyatakan ucapan syukur atau mengharapkan belas kasihan, di hadapan Tuhan, Sang Penguasa hidup kita? Dalam kesukaran, penderitaan hidup, atau penyakit, tersungkur di hadapan Tuhan menyatakan iman kita. Dia adalah Allah harapan seluruh hidup kita.

Apa yang sedang Anda alami hari ini? Tersungkurlah di hadapan Yang Maha Kuasa!

Doa: Ya Tuhan, kami tersungkur di hadapan-Mu dan mengakui bahwa Engkaulah segalanya bagi kami. [SA]
 








Pulanglah ke Rumahmu!
Posted on Kamis, 20 Juni, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 8:26-39

Pernahkah kita begitu mengagumi seseorang karena jasanya telah mengubah hidup kita secara drastis? Apa respons kita? Kita pasti kagum kepadanya, bukan? Kita mungkin akan mendengar semua perkataannya dan selalu mengingatnya sepanjang hayat.

Hari itu sangat bersejarah bagi seorang laki-laki yang sudah lama kerasukan setan di Gerasa (26). Ia sudah lama tidak berpakaian dan tidak tinggal dalam rumah, tetapi di pekuburan (27). Roh dalam dirinya telah lama menyeret-nyeretnya. Ia bahkan tak mampu lagi mengendalikan diri karena setan menguasai tubuhnya (30). Oleh karena hal itu, ia terpaksa dirantai dan dibelenggu (29).

Saat bertemu Yesus, bukan orang itu yang berbicara, melainkan setan-setan yang telah mengambil alih tubuh dan kesadarannya. Si setan berkata pada Yesus, ”Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus Anak Allah Yang Maha Tinggi? Aku memohon kepada-Mu supaya Engkau jangan menyiksa aku, ”(28).

Yesus pun bertindak dengan memasukkan setan-setan itu ke kawanan babi. Tak lama berselang, sejumlah babi itu pun terjun dari tepi jurang ke dalam danau sehingga mati lemas (34). Yesus menyelamatkan jiwa dan tubuh lelaki itu.

Orang itu berterima kasih kepada Yesus. Kemudian, ia meminta supaya diperkenankan menyertai-Nya. Yesus berkata, ”Pulanglah ke rumahmu dan ceritakanlah segala sesuatu yang telah diperbuat Allahmu atasmu, ”(39).

Betapa bersyukurnya kita memiliki Tuhan yang penuh belas kasih dan berkuasa. Ia tahu bagaimana cara menolong saat kita dalam kondisi tak berdaya sekalipun. Bagi-Nya, menyelamatkan satu jiwa sungguh sangat berharga.

Kita, yang sudah menerima keselamatan dan perubahan hidup, diminta-Nya agar pulang ke rumah. Itu bisa diartikan bahwa perubahan hidup dimulai dari rumah sebab orang yang kita kasihi ada di rumah. Dengan demikian, belas kasih Tuhan tidak berhenti pada diri kita sendiri. Mari kita menceritakan perbuatan Tuhan di rumah.

Doa: Tuhan, ajar kami agar mau menceritakan perbuatan- Mu dalam keluarga supaya kami memuliakan nama-Mu. [SA]

June 21, 2019, 05:21:50 AM
Reply #1938
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


Di manakah Kepercayaanmu?
Posted on Kamis, 20 Juni, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 8:22-25

Apakah hidup Anda sedang terasa sulit? Apakah Anda sedang mengalami kebangkrutan atau kerugian finansial? Kondisi kesehatan Anda menurun drastis? Apakah relasi Anda dengan orang yang dikasihi sedang rusak? Atau, Anda mulai merasa kehilangan arah dan tujuan dalam kehidupan ini? Pendeknya, apakah Anda merasa dunia sedang gelap?

Dalam perahu, para murid pun menghadapi hal serupa. Tiba-tiba saja taufan turun dan air masuk ke dalam perahu. Mereka sedang berada dalam bahaya (23). Tak dapat dimungkiri, mereka pasti ketakutan. Mereka pun menjerit kepada Yesus, ”Guru, Guru, kita binasa!”

Tuhan tahu apa yang harus dilakukan untuk menolong. Ia menghardik amukan angin dan air itu. Sesaat kemudian, danau kembali teduh (24).

Akan tetapi, pertolongan-Nya tak sampai di situ. Ia tahu ada sesuatu dalam diri para murid yang perlu ditolong, yaitu kepercayaan kepada Tuhan yang hadir bersama mereka. Yesus bertanya kepada mereka, ”Di manakah kepercayaanmu?”(25). Untuk yang sekian kalinya, para murid diajak berpetualang untuk mengenal lebih mendalam tentang Sang Juru Selamat.

Tuhan mengajukan pertanyaan serupa kepada kita di saat sukar, ”Di manakah kepercayaanmu kepada-Ku?” Badai hidup pasti akan berlalu. Taufan masalah akan segera lenyap. Hidupmu akan baik-baik saja. Tuhan sanggup lakukan itu. Akan tetapi, badai di hatimu dan taufan yang memorak- porandakan pikiranmu juga ingin diredakan-Nya. Yesus ingin mata hati kita tertuju pada kehadiran-Nya di sepanjang kehidupan.

Tuhan selalu ada di saat hidup kita tenang atau pun di masa sulit. Telinga-Nya selalu siap mendengar jeritan kita saat meminta pertolongan-Nya. Namun, Tuhan lebih tertarik menyempurnakan hati kita. Ia ingin agar semakin hari kita kian mengenal-Nya sebagai sumber kehidupan kita.

Doa: Tuhan, tolonglah kami untuk belajar percaya kepada- Mu dalam setiap pergumulan. Ajar kami semakin mengenal- Mu kala menghadapi berbagai masalah. [SA]







Betapa Pentingnya Mendengar
Posted on Kamis, 20 Juni, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 8:19-21

Mendengar menjadi aspek penting dalam sebuah relasi. Saat seseorang bersedia mendengar, ia sudah menginvestasikan banyak hal di sana. Ia menyediakan waktu, membangun rasa hormat, terlebih lagi, ada hati untuk belajar memahami lawan bicara.

Yesus mengatakan, ”Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.” (21). Penekanannya, pendengar firman Allah adalah yang terdekat dengan Yesus. Menarik ketika Yesus memakai istilah ”ibu dan saudara” dalam menggambarkan kedekatan. Sejak terlahir ke dunia, kita akrab dengan kelembutan ibu dan keakraban bersama saudara. Artinya, keluarga inti adalah bagian terpenting, tak terlupakan, dan yang selalu ada bersama kita. Demikianlah Tuhan akan mengakui kita sebagai anggota keluarga inti jika mau mendengar dan melakukan firman-Nya.

Tuhan berulang kali menegaskan betapa pentingnya mendengar firman Allah. Para pendengar firman Allah digambarkan seperti tanah subur (Luk. 8:4-15). Mereka laksana pelita yang cahayanya dapat terlihat dan dinikmati oleh banyak orang (16-18). Tuhan pun memberikan tempat istimewa kepada mereka, yaitu diakui sebagai keluarga inti (19-21).

Ada banyak hal dalam hidup ini yang mengalihkan kita agar tidak mendengar Firman Tuhan, misalnya kesibukan. Kita diminta menyadari bahwa betapa rindunya Tuhan berbicara dengan kita. Bagaimana caranya agar kita mampu mendengar suara-Nya? Berdiam dirilah sejenak setiap hari dan ambil waktu untuk merenungkan Firman Tuhan.

Sebagai seorang Kristen, Tuhan adalah yang terutama. Oleh karena itulah, kita mesti memberi waktu mendengar firman-Nya dan melakukannya. Kita bisa mencoba melatih diri mendengar suara Tuhan— yang tak terlihat. Dengan ini, kita mungkin akan memiliki kemampuan mendengar sesama kita. Hingga akhirnya, kita akan mampu memahami perasaan dan kebutuhan orang lain.

Doa: Ya Tuhan, kami senantiasa mau mendengar dan melakukan firman-Mu. [SA]


June 21, 2019, 05:23:57 AM
Reply #1939
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

Gereja, di manakah Terangmu?
Posted on Kamis, 20 Juni, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 8:16-18

Kapitalisme ditandai dengan persaingan dan pasar bebas. Tampaknya, hal ini pun berimbas pada gereja. Untuk bertahan, gereja pun bersaing dan berlomba memuaskan jemaat agar banyak pengunjungnya. Mungkin terlintas di pikiran kita, ”Jangan-jangan gereja sedang digelapkan oleh dunia.”

Berita Injil (terang Yesus) adalah rahasia/misteri Kerajaan Allah dan tidak semua pendengar mudah memahaminya (10). Meskipun demikian, Yesus mau agar setiap orang percaya menyiarkan berita ini.

Hal ini diumpamakan dengan pelita. Pelita adalah benda penerang yang digunakan masyarakat pada zaman itu. Jika pelita ditutupi atau disembunyikan, rumah akan menjadi gelap. Akibatnya, ketika orang masuk, mereka akan kesulitan melihat apa yang ada dalam rumah.

Awalnya, jemaat mula- mula melangsungkan ibadah dalam rumah karena, mungkin, mereka takut karena mengalami penolakan dan aniaya. Ketakutan itu membuat mereka enggan untuk memberitakan Injil yang akhirnya menyembunyikan terang.

Tentu saja, Tuhan tidak mau gereja menyembunyikan terang itu. Ketika orang datang ke gereja, Tuhan ingin agar kegelapan dosa sirna dihalau terang Yesus. Sekalipun keadaan dunia sulit dan penuh penolakan, Tuhan ingin agar gereja tetap berani. Tuhan ingin agar gereja mengangkat pelita setinggi-tingginya. Gereja wajib meneladani Yesus. Walau di hadapan-Nya terbentang salib, Ia terus menyatakan terang dan menghalau kegelapan dunia.

Apakah kita sebagai gereja sudah mulai digelapkan oleh dunia? Apakah kita sudah menjadi sama seperti dunia ini?

Tugas utama gereja adalah menjadi terang dunia. Keadaan ini akan membuat terang akan selalu berperang dengan kegelapan dan akan mengusik zona nyaman kita. Terang akan membongkar semua tabiat buruk kita. Proses itu tidak nikmat. Namun, justru ini tugas utama kita sebagai gereja, yaitu membawa terang ke dunia.

Doa: Tuhan, tolonglah kami, sebagai gereja, berani memberitakan terang-Mu dalam kondisi apa pun supaya kegelapan sirna. [JN]







Teologi Semak Duri
Posted on Kamis, 20 Juni, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 8:4-15

Teologi kemakmuran sempat populer beberapa waktu lalu. Banyak gereja di Indonesia secara terang-terangan menganutnya. Ajaran ini memercayai jika kita mengikut Yesus, hidup kita akan makmur dan penuh kelimpahan. Teologi ini juga meyakini bahwa orang percaya tidak akan mengalami kesulitan atau kesukaran hidup.

Pada dasarnya, Injil tidak sepenuhnya berkata demikian. Ketika Firman Tuhan diberitakan, setiap orang merespons dengan cara yang berbeda. Kelompok pertama adalah orang-orang yang menolak Tuhan. Kelompok ini digambarkan sebagai †tanah pinggir jalan†dan †tanah yang berbatu-batu†(12-13). Benih yang jatuh pada kedua jenis tanah ini sama-sama tidak berakar dan tidak menghasilkan buah

Kelompok selanjutnya adalah mereka yang bertumbuh dan berbuah. Kelompok ini digambarkan dengan †tanah yang bersemak duri†dan “tanah yang baik†(14-15). Buah yang dihasilkan kedua tanah ini berbeda. Tanah yang bersemak duri menghasilkan buah yang tidak matang karena kekhawatiran, kekayaan, dan kenikmatan hidup datang menghimpitnya (semak duri).

Kekayaan adalah berkat Tuhan, namun fokus mengejarnya hanya akan menghambat pertumbuhan. Jadinya, harta bukan lagi berkat, tetapi telah berubah menjadi kutukan.

Tuhan ingin agar kita bertumbuh. Ia tidak mau harta dan kekayaan mengalihkan fokus pertumbuhan itu. Ia mau supaya kita memiliki hati yang mulia dan penuh kebajikan. Dengan demikian, kehidupan kita bisa menghasilkan buah kesetiaan dan ketekunan.

Namun, kita harus tetap seimbang. Kekristenan tidak anti pada kekayaan; juga tidak memuja kemiskinan. Kita hanya perlu menjaga hati. Jika hati banyak dipenuhi semak berduri, kita akan mudah diseret pada nafsu kekayaan dunia. Tuhan tidak ingin orientasi hidup kita terisap hanya untuk mengejar kekayaan. Oleh karena itulah, kita wajib meminta kekuatan dan anugerah-Nya agar mencabut semak duri jika tumbuh di hati kita.

Doa: Tuhan, potonglah semak duri di hati kami supaya kami dapat berbuah. [JN]






 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)