Author Topic: Saat Teduh  (Read 61473 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

July 01, 2019, 05:47:22 AM
Reply #1950
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Kerja Sama Tim
Posted on Minggu, 30 Juni, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Roma 16

Rasul Paulus adalah seorang team player (seorang yang suka bekerja dalam tim). Dia bukanlah seorang yang single fighteratau one man show (orang yang lebih suka bekerja sendiri). Hal ini terlihat dari kehangatan sikap yang dia tujukan kepada rekan-rekan kerjanya dalam ucapan salam di bagian akhir suratnya kepada jemaat di Roma. Salam itu menunjukkan betapa berartinya pelayanan orang-orang itu bagi dirinya.

Selain menyebut nama Febe yang melayani jemaat di Kengkrea, Rasul Paulus memberi salam paling tidak kepada dua puluh enam orang yang menetap di Roma (16:1-15). Ia amat terkesan akan pengabdian mereka yang telah berjuang demi Injil Kristus. Ia menyebut nama mereka satu persatu, dan sebagian diberi keterangan. Mengenai Febe, ia meminta agar jemaat menyambut dan memberi bantuan yang diperlukan (16:1-2). Priskila dan Akwila disebut sebagai suami-istri yang telah mempertaruhkan nyawanya untuk Rasul Paulus (16:3-4). Epenetus adalah buah pertama dari daerah Asia untuk Kristus (16:5). Maria disebut telah bekerja keras untuk jemaat (16:6). Andronikus dan Yunias adalah dua orang yang pernah dipenjarakan bersama dengan Rasul Paulus (16:7). Nama-nama lainnya disebut tanpa keterangan (16:8-11, 14-16). Mungkin Trifena dan Trifosa adalah diaken-diaken wanita (16:12). Yang menarik, saat mengucapkan salam kepada Rufus, Rasul Paulus menyebut ibu dari Rufus yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri (16:13). Mengapa Rasul Paulus sampai menganggapnya demikian? Selama bertahun-tahun dalam pelayanan, Rasul Paulus menghadapi banyak kesulitan (2 Korintus 6:4-10). Kemungkinan, Rufus pernah membawa Rasul Paulus ke rumahnya, dan ibu dari Rufus memberikan kata-kata penghiburan, pakaian bersih, atau makanan yang bergizi.

Pelayanan yang baik adalah pelayanan yang dimulai dari dan bermuara pada orang, bukan program. Pelayanan yang berorientasi pada orang akan membuat kita terus bergumul, sampai orang yang kita layani memperlihatkan kerinduan untuk mengalami perjumpaan dengan Tuhan, bertumbuh di dalam firman dan doa. Oleh karena itu, dibutuhkan kerja sama dalam tim yang kokoh agar pelayanan kita menjadi berkat bagi jemaat yang kita layani. Apakah Anda sudah melayani dengan semangat untuk bekerja sama dalam tim? Bila Anda belum melayani dan ingin melayani, bergabunglah dalam tim pelayanan di gereja Anda! [Souw]



July 03, 2019, 06:33:14 AM
Reply #1951
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Mengatasi Masalah Tanpa Masalah
Posted on Selasa, 2 Juli, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 9:51-56

Mengatasi masalah tanpa masalah adalah keinginan setiap orang. Sayangnya, kita sering menciptakan masalah baru karena salah menangani masalah sebelumnya.

Kedua murid Yesus, Yohanes dan Yakobus, sangat marah ketika melihat orang Samaria tidak mau menerima Yesus. Mereka berkata kepada Yesus, “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” Ucapan mereka tidak menyatakan kewenangan Tuhan dalam menghukum, tetapi didorong oleh amarah sebab ditolak oleh orang Samaria. Mereka menganggapnya sebagai penghinaan kepada Yesus.

Teguran Yesus kepada kedua murid-Nya tidak berarti bahwa Ia menyetujui perbuatan orang Samaria yang menolak-Nya. Tetapi, dibalik sikap-Nya itu, Yesus memberikan teladan dalam mengatasi permasalahan. Kedua murid diajar untuk melihat realitas penolakan dan bertindak sebagai pengikut Yesus yang sabar-bersedia menjalani kesulitan. Ditolak, dihina, dan dibenci adalah hal-hal yang akan menjadi bagian penderitaan Yesus sebelum mati di salib. Para murid juga akan mengalaminya.

Yesus Kristus tidak pernah mengajar kita untuk membalas kejahatan dengan kejahatan. Sebaliknya, Yesus mengajarkan kesabaran, kasih, dan kebaikan kepada semua murid-Nya. Perbuatan jahat akan menuai hasilnya nanti. Sebab itu, matikanlah keinginan untuk membalas kejahatan dengan kejahatan.

Nas ini mengingatkan kita, sebagai orang percaya, untuk tidak gegabah dalam mengatasi masalah. Kita diajarkan untuk berhati-hati dalam menggumuli permasalahan, apalagi memakai kuasa rohani secara salah sebagai solusi dangkal mengatasi permasalahan. Gunakan hikmat Tuhan sebagai bukti bahwa kita mampu menempatkan diri secara tepat dan bijak sebagai orang percaya yang bersedia mengalami tantangan pelayanan dengan penuh sukacita tanpa menimbulkan masalah.

Doa: Ya Tuhan, berikanlah kami kesabaran, ketaatan, dan kesetiaan mengikut dan melayani-Mu agar banyak orang diselamatkan. [NR]







Merek
Posted on Selasa, 2 Juli, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 9:49-50

Merek adalah sebuah tanda. Ia seperti lambang dari pengusaha/produsen pada barang yang dihasilkan sebagai tanda pengenal. Merek itu eksklusif sehingga tidak bisa dipakai sembarangan karena ada hak paten yang melindunginya. Jika ingin menggunakannya, kita harus mendapatkan izin dan membayar sejumlah royalti terlebih dahulu.

Mungkin seperti ini yang ada dalam pikiran Yohanes. Ia mengira nama Yesus tidak dapat digunakan sembarang orang. Murid-murid menganggap nama Yesus sebagai ”merek”. Dugaan mereka, nama Yesus hanya dapat digunakan oleh pengikut-Nya. Itu sebabnya mereka mencegah orang lain mengusir nama setan dalam nama Yesus (49). Yohanes dengan bangga melapor kepada Yesus untuk melindungi ”merek”. Ia mungkin merasa sangat berjasa karena sudah melakukan itu.

Jawaban Yesus sangat menakjubkan. Ia mengatakan ”merek” itu bukan milik mereka saja. Semua orang yang percaya pada Yesus berhak atas ”merek” itu. Yesus mengatakan, ”Barang siapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu, ” (50).

Sebuah ironi terjadi dalam gereja-gereja kita sekarang. Di antara gereja kerap ada niat untuk saling menjatuhkan dan menjegal. Ada saja gereja meluncurkan klaim sebagai kelompok yang paling benar, sementara yang lain sesat. Ada juga gereja yang menuduh gereja yang lain tidak dipenuhi Roh, kecuali gerejanya.

Nas hari ini berbicara kepada kita bahwa sikap seperti itu salah. Alkitab mengajarkan siapa saja yang percaya kepada Yesus adalah sepihak dengan kita. Dalam kondisi seperti ini, kita perlu lagi mengingat syair lagu sekolah Minggu, ”Ku tak pandang dari gereja mana. Asal kau berdiri atas firman-Nya. Kala hatimu seperti hatiku, marilah kita bekerja sama.” Lagu ini mengajak kita, sebagai pengikut Yesus, agar jangan terpecah-belah. Kita adalah satu dalam baptisan, yaitu dalam nama Bapa, Anak, dan Roh. Kita sama-sama dibenarkan dan diselamatkan oleh darah Kristus. Kita pun memiliki satu tujuan, yaitu memuliakan Yesus Kristus.

Doa: Tuhan, sadarkan kami bahwa Engkau adalah milik seluruh bangsa. [SG]


.......



July 03, 2019, 06:34:17 AM
Reply #1952
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

Melayani dengan Tulus
Posted on Selasa, 2 Juli, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 9:46-48

Siapa yang tak mau menjadi orang besar? Dalam kehidupan sehari-hari, orang- orang demikian sangat dihormati dan disegani. Mereka sering mendapat prioritas dan diperlakukan istimewa. Akibatnya, kita sering melihat banyak orang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan status sebagai orang besar.

Mungkin, hal ini juga terjadi dalam kehidupan murid-murid. Suatu ketika, mereka bertengkar untuk menentukan siapakah yang terbesar (46).

Tentu saja Yesus mengetahui pikiran mereka. Kemudian, Yesus mengambil seorang anak kecil dan meletakkannya di samping-Nya (47). Setelah itu, Ia berkata, ”…yang menyambut anak kecil, ia menyambut Aku dan siapa menyambut Aku, ia menyambut Bapa yang mengutus Aku.” Yesus pun melanjutkan, ”Siapa yang terkecil di antara kamu dialah yang terbesar.” (48).

Dalam hal Kerajaan Allah, tidak dipersoalkan tentang siapa yang besar atau kecil. Persoalan utamanya adalah tentang melayani. Siapa yang melayani dengan tulus, ia menjadi yang terbesar. Janganlah bertengkar hanya untuk mendapatkan jabatan, tetapi fokuslah pada pelayanan yang tulus seperti menerima anak-anak. Tindakan ini memang bisa saja merepotkan, apalagi dengan asumsi bahwa anak kecil tidak akan bisa membalas semua pelayan kita. Akan tetapi, bagi Yesus justru melayani mereka dengan sukacita adalah syarat untuk menjadi yang terbesar.

Pelayanan dikerjakan bukan untuk mendapatkan kedudukan atau jabatan. Seharusnya, kita melayani demi memuliakan Allah. Inilah motivasi pelayan yang benar. Bagi Yesus, melayani mereka yang kecil dan terpinggirkan menjadi bukti bahwa kita adalah orang besar.

Sering kali kita menemui pelayan terjebak pada keinginan hanya melayani orang besar. Akibatnya, orang kecil menjadi terabaikan karena dianggap tidak signifikan. Sikap pelayanan seperti ini harus kita tinggalkan karena bertentangan dengan ajaran Yesus. Marilah kita merendahkan diri dan rela melayani orang-orang kecil.

Doa: Tuhan, mampukan kami melayani siapa saja dengan tulus, terlebih melayani mereka yang kecil. [SG]







Berjuang Memahami Firman-Mu
Posted on Selasa, 2 Juli, 2019 by saatteduh

– Santapan Harian Scripture Union Indonesia. www.su-indonesia.org  –

Baca: Lukas 9:43-45

Hukum rimba berkata, ”Siapa yang kuat dialah yang berkuasa.” Fenomena ini sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari sehingga mereka yang kuat kerap semena-mena terhadap yang lemah.

Herannya, prinsip itu sama sekali tidak berlaku untuk Yesus. Ia mempunyai kuasa Ilahi dan berkuasa mutlak atas seluruh isi bumi. Namun, Ia justru menyerahkan Diri-Nya kepada manusia yang lemah. Tentu saja akal sehat kita sulit menerimanya, tetapi inilah fakta!

Yesus turun dari gunung. Kemudian, Ia mengusir setan dan roh jahat dengan satu teguran keras. Melihat peristiwa itu, semua orang menjadi heran (43b). Pada saat itulah Ia berkata, ”Anak manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia.” (44). Yesus mengatakan ini untuk kedua kalinya.

Pernyataan ini sungguh tidak masuk akal bagi para murid-Nya. Mereka tidak mengerti makna dari pernyataan itu. Anehnya, tidak ada satu pun dari mereka yang berani bertanya (45). Kesannya, perkataan itu berlalu begitu saja.

Mereka tidak mengerti karena bagi mereka Yesus adalah Raja yang penuh kuasa karena mampu melakukan banyak mukjizat. Para murid mungkin berpikiran bahwa Yesus adalah calon raja penguasa Israel yang akan mengembalikan masa keemasan Israel seperti pada zaman Daud. Jadi, menurut mereka, tidak mungkin Yesus akan diserahkan ke dalam tangan manusia.

Yesus tahu isi hati murid-Nya. Ia pun membangunkan mereka dari mimpi tentang kerajaan duniawi. Harapan akan kerajaan duniawi membuat mereka tidak memahami maksud perkataan Yesus.

Pengharapan yang salah itulah yang membutakan pikiran mereka. Pengharapan sejati pengikut Yesus adalah kehidupan kekal di surga. Untuk itu, mari kita terus belajar memahami maksud Tuhan dengan mendengarkan firman-Nya. Firman inilah yang akan membentuk pengharapan sehingga kita tidak lagi salah menilai tentang maksud dan tujuan Tuhan bagi kita.

Doa: Tuhan, terangi akal dan hati kami agar mengerti maksud dari firman-Mu. [SG]



July 04, 2019, 06:07:50 AM
Reply #1953
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Hanya TUHAN Sajalah Allah
Posted on Rabu, 3 Juli, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Keluaran 20:1-3 (Hukum Pertama)

Sepuluh Hukum diawali dengan pernyataan, “Allah mengucapkan segala firman ini” (20:1). Sepuluh Hukum tersebut bukan dari Musa, melainkan dari Allah, Pencipta langit dan bumi. Oleh karena itu, sudah sepatutnyalah bila manusia mendengarkan dan mematuhinya. Pada hukum yang pertama, Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai TUHAN. Allah menegaskan bahwa Dia adalah Allah yang mengikat janji dengan umat-Nya, dan Dia setia kepada janji-Nya. Bukti kesetiaan Allah diperlihatkan melalui penegasan bahwa TUHAN Allah telah mengeluarkan umat Israel dari Tanah Mesir (20:2). Berdasarkan pada siapa diri-Nya dan apa yang telah Dia lakukan bagi umat-Nya, maka Allah memerintahkan agar umat Israel hanya menyembah kepada Dia saja.

Apabila kita mengamati secara cermat, jelas bahwa pada hukum pertama ini, Allah tidak mengucapkan kalimat yang meminta agar umat Israel menyembah kepada-Nya. Sekalipun demikian, melalui hukum supaya tidak ada allah atau dewa atau ilah lain dihadapan-Nya, kita disadarkan akan keinginan Allah agar tidak ada ilah atau berhala apa pun yang menghambat relasi antara Allah dengan umat-Nya. Oleh karena itu, jelas bahwa sebenarnya Allah menginginkan agar kita hanya menyembah kepada Dia saja. Bila kita menyembah Allah dengan sepenuh hati, sesungguhnya kita akan mendapatkan yang terbaik dalam kehidupan ini, seperti yang diungkapkan oleh Daud bahwa sukacita berlimpah-limpah dan kepuasan yang sejati berasal dari Allah (Mazmur 16:11). Perhatikan bahwa hukum pertama ini diberikan di tengah banyaknya dewa dan berhala yang disembah oleh bangsa-bangsa di sekitar Israel. Allah mengerti benar akan kemungkinan bahwa umat Israel dapat berpaling untuk menyembah ilah-ilah lain. Oleh karena itu, hukum pertama ini menggarisbawahi perlunya menyingkirkan ilah-ilah dalam kehidupan ini.

Allah yang membebaskan umat Israel dari Mesir ialah Allah Sang Pencipta yang melepaskan orang yang percaya kepada Kristus dari belenggu dosa. Dengan demikian, jangan ada ilah apa pun di zaman ini—diri sendiri, kuasa, uang, dan sebagainya—yang dapat menghalangi penyembahan dan pelayanan kita kepada-Nya. Marilah kita berkata seperti Asaf, “Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi.” (Mazmur 73:25) [ECW]


July 05, 2019, 07:48:32 AM
Reply #1954
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Allah adalah Roh: Tak Boleh Digambarkan
Posted on Kamis, 4 Juli, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Keluaran 20:4-6 (Hukum Kedua)

Dari dalam dirinya, setiap manusia menyadari akan adanya Sang Ilahi. Namun, karena manusia telah tercemar oleh dosa maka ia tidak dapat mengenal Allah yang sejati (Roma 1:18-21). Selain itu, setiap manusia lebih menyukai segala sesuatu yang konkrit dan pengalaman yang nyata dalam hidupnya daripada segala sesuatu yang tidak jelas (abstrak) atau tidak pasti. Di lain pihak, Allah itu tidak dapat dilihat secara kasat mata, dan berbagai konsep tentang Allah bersifat abstrak. Itulah sebabnya, manusia membuat patung, ukiran, dan berbagai figur (bentuk)—entah terbuat dari kayu, batu, perak, emas, maupun bahan lainnya—sebagai perwujudan dari Sang Ilahi, lalu menyembah berbagai buatan tangan itu (Roma 1:22-23). Dengan melakukan tindakan seperti itu, manusia jatuh ke dalam dosa penyembahan kepada ilah-ilah, sehingga perbuatan itu sangat dibenci oleh Allah (Roma 1:24-32). Allah tidak dapat diwakili atau digambarkan oleh buatan manusia dalam bentuk apa pun juga. Allah ingin agar kita mengenal dan menyembah Dia sebagaimana adanya, yaitu sebagai Roh (Yohanes 4:24).

Allah yang diberitakan dalam Alkitab adalah Pribadi yang Pencemburu. Sifat cemburu Allah sangat berbeda dengan sifat cemburu manusia. Manusia dapat cemburu terhadap sesuatu yang dimiliki oleh orang lain, padahal ia tidak berhak untuk mendapatkan apa yang menjadi objek rasa cemburunya. Sebagai contoh, seorang pegawai cemburu terhadap direktur perusahaan yang lebih memperhatikan rekan kerjanya. Sikap cemburu semacam ini salah karena sang pegawai tidak berhak menuntut agar sang atasan paling memperhatikan dirinya. Tidak demikian halnya dengan Allah. Dia berhak meminta kita mengasihi Dia saja dan menaati kehendak-Nya (20:5) karena Dia adalah Sang Pencipta segala sesuatu. Dialah yang telah membebaskan kita dari jerat dosa, dan tindakan-Nya itu membuktikan kesetiaan Allah pada janji-Nya (20:1-3). Sudah sewajarnya dan sepantasnya bila Allah memerintahkan kita untuk hanya mengasihi Dia dan mematuhi perintah-Nya. Tidak boleh ada bentuk-bentuk buatan tangan manusia yang mengalihkan penyembahan kita kepada Allah, meskipun benda yang kita sembah itu dianggap sebagai wakil dari keberadaan Allah. [ECW]


July 06, 2019, 05:16:45 AM
Reply #1955
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Kekudusan Nama Allah
Posted on Jumat, 5 Juli, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Keluaran 20:7 (Hukum Ketiga)

Hukum Allah yang ketiga menegaskan bahwa Allah serta merta akan memandang bersalah setiap orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan (20:7). Perlu diingat bahwa nama Allah menyatakan siapa Allah, bukan hanya sekadar panggilan atau sebutan. Nama Allah menyatakan keberadaan dan natur atau sifat Allah. Ketika Musa hendak diutus untuk pergi ke Mesir, ia berkata kepada Allah, “Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya? — apakah yang harus kujawab kepada mereka?” (3:13). Terhadap pertanyaan tersebut, Allah menjawab, “AKU adalah AKU” (3:14). Jawaban ini menyingkapkan keberadaan Allah yang kekal, tidak berubah, dan juga menyatakan bahwa Dia adalah sumber dari segala keberadaan yang lain. Karena nama Allah menyatakan siapa Allah sebenarnya, dalam Doa Bapa Kami, Yesus Kristus mengajar kita untuk mengatakan, “Dikuduskanlah nama-Mu” (Matius 6:9). Raja Daud—yang menyadari keagungan makna nama Allah—berkata, “Ya TUHAN, Tuhan kami, bertapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! Keagungan-Mu yang mengatasi langit dinyanyikan.” (Mazmur 8:2). Dengan demikian, Alkitab memperlihatkan kepada kita bahwa nama Allah itu menyingkapkan kekudusan dan kemuliaan-Nya.

Berdasarkan pengertian di atas, setidaknya ada tiga hal yang harus kita lakukan untuk mematuhi hukum ketiga itu:

Pertama, kita harus datang menyembah kepada-Nya dengan sebuah sikap hati dan kesadaran akan betapa kudus serta mulianya Allah. Adanya sikap hati dan kesadaran itu akan mempengaruhi sikap, pikiran, perkataan, dan perasaan saat kita sedang beribadah kepada-Nya.

Kedua, Rasul Paulus menuliskan bahwa karena umat Allah tidak mematuhi firman-Nya maka, “Nama Allah dihujat di antara bangsa-bangsa lain” (Roma 2:24). Sangat jelas bahwa perilaku umat Allah yang menaati firman-Nya akan menjaga kekudusan dan kemuliaan nama-Nya.

Ketiga, setiap janji yang diucapkan di dalam nama-Nya—janji saat baptis dewasa, pernikahan gerejawi, ikrar jabatan gerejawi, dan lainnya—harus dipenuhi. Ketika kita melanggar janji tersebut, maka kita telah melanggar kekudusan nama-Nya (Imamat 19:12). [ECW]



July 07, 2019, 04:22:28 PM
Reply #1956
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Kuduskan Hari Sabat
Posted on Sabtu, 6 Juli, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Keluaran 20:8-11 (Hukum Keempat)

Hukum keempat yang memerintahkan umat Allah untuk menguduskan hari Sabat didasarkan pada tindakan Allah sendiri yang memberkati dan menguduskan hari Sabat (20:11). Melalui teks kitab suci yang melandasi perenungan hari ini, kita mengetahui bahwa pola kerja Allah dalam penciptaan alam semesta dan seluruh isinya (Kejadian 1) adalah pola yang harus kita tiru.Alkitab mengungkapkan bahwa Allah menciptakan alam semesta dan seluruh isinya dalam enam hari, kemudian Allah berhenti mencipta di hari yang ketujuh (20:11). Berdasarkan pola tersebut di atas, manusia diharuskan bekerja selama enam hari, dan di hari yang ketujuh berhenti dari segala aktivitas pekerjaan, profesi, maupun rutinitas yang biasa dilakukan pada hari pertama hingga keenam (20:9-10). Manusia harus mengkhususkan hari ketujuh untuk beribadah kepada Allah, sebab Allah telah menetapkan hari ketujuh sebagai hari yang kudus dan mulia (Yesaya 58:13). Apabila manusia menyembah Allah pada hari itu, sesungguhnya manusia akan mendapatkan kepuasan yang sejati (Yesaya 58:13). Hari yang ketujuh adalah hari bagi manusia untuk memupuk kerohaniannya dan mendapatkan kesegaran serta kekuatan baru untuk menghadapi hari-hari selanjutnya, seperti yang Allah sendiri katakan, “maka engkau akan bersenang-senang karena TUHAN dan Aku akan membuat engkau melintasi puncak bukit-bukit di bumi dengan kendaraan kemenangan; Aku akan memberi makan engkau ….” (Yesaya 58:14).

Bagi orang Kristen, hukum keempat ini harus diingat dan dilakukan. Kristus berkata bahwa kita harus menuruti segala perintah-Nya (Yohanes 14:15). Kristus juga menegaskan bahwa Dia datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat, tetapi untuk menggenapinya (Matius 5:17). Oleh sebab itu, siapa saja yang meniadakan salah satu dari hukum Taurat akan dihukum oleh Allah (Matius 5:19). Pola dari hukum keempat itu adalah enam hari kerja dan satu hari istirahat yang dikhususkan untuk Allah(Keluaran 31:14-15). Dalam Perjanjian Baru, konsep hari Sabat (hari terakhir setiap minggu) sebagai waktu yang dikhususkan untuk beristirahat dan beribadah itu diganti menjadi hari Minggu (hari pertama) sebagai hari untuk beristirahat (dari pekerjaan rutin) dan untuk memupuk relasi yang dekat dengan Allah. Bagi rohaniwan Kristen, hari Minggu merupakan hari untuk melayani jemaat. Oleh karena itu, pada umumnya, rohaniwan Kristen beristirahat pada hari Senin (hari kedua). [ECW]



July 08, 2019, 06:38:22 AM
Reply #1957
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Hormat Kepada Orang Tua
Posted on Minggu, 7 Juli, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Keluaran 20:12 (Hukum Kelima)

Keluarga adalah lembaga pertama yang Allah dirikan saat Dia menciptakan alam semesta beserta seluruh isinya (Kejadian 1:26-28, 2:24). Melalui relasi antara ayah dan ibu dalam keluarga, lahirlah anak-anak yang semestinya dididik oleh orang tua untuk semakin mengenal Allah (Kejadian 1:28, 18:19, Ulangan 6:4-9). Dalam rencana dan kehendak Allah, kedudukan orang tua lebih tinggi daripada anak, sehingga anak menghormati orang tua (20:12). Perintah tersebut harus dilakukan untuk menjaga tatanan dalam keluarga seperti yang dikehendaki Allah.

Pada masa kini, ada anak yang menaruh hormat dengan semestinya, tetapi ada pula anak yang tidak peduli—bahkan bersikap buruk—terhadap orang tua yang sudah membesarkan mereka. Tak dapat disangkal bahwa banyak orang tua yang telah gagal dalam mengasuh dan mendidik anak yang telah dipercayakan kepada mereka. Ada orang tua yang membuat anaknya menyimpan kemarahan (Efesus 6:4), merasa sakit hati, takut, atau sangat gelisah (Kolose 3:21). Sikap orang tua yang seperti itu membuat anak sulit melakukan hukum kelima ini. Jelaslah bahwa ada keadaan saling mempengaruhi antara orang tua dengan anak. Anak yang tidak menyimpan rasa marah dan sakit hati terhadap orang tua akan lebih mampu menghormati serta mematuhi orang tuanya (20:12, Efesus 6:1). Sebaliknya, orang tua yang diperlakukan dengan hormat dan ditaati oleh anaknya akan lebih mudah membesarkan dan mendidik anak sesuai dengan Firman Tuhan.

Kondisi saling mempengaruhi di antara para pihak dalam keluarga tersirat dalam perkataan, “Rendahkan dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus,” (Efesus 5:21). Namun, jika dinamika relasi dalam keluarga hanya ditentukan oleh keadaan saling mempengaruhi, relasi dalam keluarga itu akan bersifat kondisional: anak hormat dan taat hanya bila orang tuanya tidak membangkitkan amarah dan tidak melukai hati. Sebaliknya, orang tua hanya akan mengasuh dan mendidik anak dengan benar bila anak itu menghormati dan menaati orang tua. Dinamika relasi yang kondisional ini tidak sesuai dengan makna “di dalam Kristus” yang mendasari relasi keluarga Kristen. Kristus mengasihi kita bukan karena kita mampu mematuhi firman-Nya. Kasih Kristus tidak kondisional! Walaupun orang tua telah melukai hati dan menimbulkan kemarahan, marilah kita tetap bersikap menghormati dan menaati mereka di dalam takut akan Kristus (Efesus 5:21). [ECW]



July 09, 2019, 05:39:26 AM
Reply #1958
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Jangan Membunuh
Posted on Senin, 8 Juli, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Keluaran 20:13 (Hukum Keenam)

Pada waktu menciptakan manusia, Allah berkata, “Baikah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita,” (Kejadian 1:26). Saat itu, ada diskusi di antara ketiga Pribadi Allah, tidak seperti saat Allah menjadikan ciptaan lainnya. Hal ini mengungkapkan bahwa manusia ialah makhluk yang istimewa dalam pandangan Allah. Alkitab mengungkapkan bahwa terjadinya manusia itu dahsyat dan ajaib, karena Allah yang menenun setiap orang (Mazmur 139:13, 14). Jadi, bukan hanya manusia pertama—Adam dan Hawa—saja yang diciptakan melalui kuasa serta karya Allah yang kreatif, tetapi semua manusia diciptakan oleh Allah itu sendiri. Sangatlah pantas bila dikatakan bahwa manusia adalah mahakarya dari Allah. Manusia—mahakarya Allah itu—disebut berharga dan mulia dalam pandangan Allah (Yesaya 43:4). Keberadaan manusia yang seperti itu membuat Allah melarang pembunuhan terhadap sesama manusia. Allah sangat membenci pembunuhan. Oleh karena itu, bila terjadi pembunuhan, Allah akan mengadili dan menghukum si pelaku (Kejadian 9:5, 6). Hukuman Allah yang paling mengerikan bukan yang ditujukan kepada tubuh jasmaniah, tetapi hukuman terhadap roh (Matius 10:28). Hukum keenam ini harus kita perhatikan: “Jangan membunuh!”

Banyak orang merasa bahwa dirinya telah memenuhi tuntutan Sepuluh Hukum Allah seperti orang kaya yang menemui Tuhan Yesus (Matius 19:16-20, Markus 10:17-20). Akan tetapi, Tuhan Yesus mengajarkan bahwa mengucapkan makian atauperkataan kasar, mengungkapkan amarah secara berlebihan, dan mendendam terhadap orang lain berada di level yang sama dengan membunuh sesama manusia (Matius 5;21-26). Tuhan Yesus datang untuk menggenapi hukum Taurat (Matius 5:17). Selain itu, Dia memberikan penafsiran yang memperkaya pengertian kita akan hukum-hukum Allah. Berdasarkan penilaian manusiawi, tindakan membunuh dipandang lebih bersalah dan lebih jahat daripada makian, umpatan, perkataan sarkastis, serta kebencian dalam hati., padahal standar Firman Tuhan jauh lebih tinggi daripada penilaian moral dan etis manusiawi. Tuhan tidak hanya menilai tindakan, perkataan, ekspresi emosi yang dapat dilihat orang lain, melainkan Dia menyelidiki apa yang ada dalam hati kita yang terdalam (1 Samuel 16:7). Perhatikanlah dengan saksama tindakan dan isi batin kita. Patuhilah hukum-hukum-Nya! [ECW]



July 10, 2019, 05:18:25 AM
Reply #1959
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://saatteduh.wordpress.com/2019/

Jangan Berzinah
Posted on Selasa, 9 Juli, 2019 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Harian Gereja Kristus Yesus –

Baca: Keluaran 20:14 (Hukum Ketujuh)

Kepada pria dan wanita yang telah diteguhkan dan diberkati ke dalam pernikahan, Allah memberikan berkat berupa hubungan badan. Melalui hubungan badan yang hanya diizinkan untuk dialami dalam pernikahan, relasi antara suami dan istri dapat dipupuk menjadi lebih erat serta lebih hangat. Hubungan intim antara suami dan istri juga merupakan sarana yang digunakan Allah untuk menciptakan anak-anak (Mazmur 139:13). Jadi, dalam pernikahan, Allah memberi kepercayaan besar kepada pria dan wanita. Dengan demikian, wajar bila berbagai macam hubungan seksual di antara pria dan wanita di luar pernikahan yang telah diteguhkan serta diberkati oleh Tuhan (perzinahan) merupakan dosa yang serius (Imamat 20:10-14, 17, 19-21). Selain perzinahan antar manusia, Alkitab juga menyebut hubungan seksual yang tidak wajar antara manusia dengan binatang sebagai perzinahan (Imamat 20:15-16). Perzinahan dibenci oleh Allah! Oleh karena itu, dalam sistem pemerintahan Allah (atau dikenal dengan istilah teokrasi) terhadap umat Israel dalam Perjanjian Lama, pelaku perzinahan diancam dengan hukuman yang berat (Imamat 20:10-21).

Allah yang maha kuasa mendirikan lembaga keluarga dengan maksud agar suami dan istri dapat saling membangun (Amsal 27:17). Bila Allah menganugerahkan anak dalam sebuah keluarga, maka keluarga yang utuh merupakan arena terbaik bagi orang tua untuk melaksanakan tugas memuridkan anak (Ulangan 6:4-9). Perzinahan akan merusak relasi suami istri dan akan menghalangi tujuan Allah bagi sebuah keluarga. Dosa perzinahan akan membangkitkan kemarahan pasangan si pelaku zinah serta berdampak buruk pada diri anak berupa munculnya kemarahan, kecemasan, perasaan takut, perasaan tidak percaya terhadap lembaga keluarga, bahkan bisa memunculkan keraguan terhadap kebaikan Tuhan. Bila kita mencintai anak, jangan berzinah!

Dalam Perjanjian Baru, Kristus memperluas pengertian kita tentang perzinahan, yaitu bahwa perzinahan bukan hanya tindakan secara fisik, melainkan bisa dilakukan di dalam batin atau dalam pikiran tanpa seorang pun tahu (Matius 5:27-28). Dosa perzinahan dalam pikiran ini juga dibenci Tuhan. Oleh sebab itu, kita bukan hanya harus menghindari perzinahan secara fisik, melainkan juga harus melepaskan diri dari ikatan pornografi dan masturbasi atau onani. [ECW]


 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)